KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN EKONOMI REGIONAL"

Transkripsi

1 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III Kantor Bank Indonesia Palembang

2 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-nya Kajian Ekonomi Regional Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III 2009 dapat dipublikasikan. Buku ini menyajikan berbagai informasi mengenai perkembangan beberapa indikator perekonomian daerah khususnya bidang moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan keuangan daerah, yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Bank Indonesia juga sebagai bahan informasi bagi pihak eksternal. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan data dan informasi yang diperlukan bagi penyusunan buku ini. Harapan kami, hubungan kerja sama yang baik selama ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan lagi pada masa yang akan datang. Kami juga mengharapkan masukan dari berbagai pihak guna lebih meningkatkan kualitas buku kajian ini sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan berkah dan karunia-nya serta kemudahan kepada kita semua dalam upaya menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan ekonomi regional khususnya dan pengembangan ekonomi nasional pada umumnya. Palembang, 2 November 2009 Ttd Endoong Abdul Gani Pemimpin

3 Daftar Isi Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank ii

4 Daftar Isi DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GRAFIK INDIKATOR EKONOMI i iii vii ix xiii RINGKASAN EKSEKUTIF 1 BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Tahunan 7 Suplemen 1 KONDISI USAHA SUMATERA SELATAN SEMAKIN MEMBAIK Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Triwulanan Perkembangan PDRB Dari Sisi Penggunaan Struktur Ekonomi Perkembangan Ekspor Impor Perkembangan Ekspor Perkembangan Impor 27 BAB II PERKEMBANGAN INFLASI PALEMBANG Inflasi Tahunan Inflasi Bulanan 33 Suplemen 2 SELAYANG PANDANG PRODUKSI BERAS DI PROPINSI SUMATERA SELATAN Pemantauan Harga oleh Bank Indonesia Palembang 43 Suplemen 3 KENAIKAN HARGA GULA DAN ASPEK DISTRIBUSI 47 iii

5 Daftar Isi BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Kondisi Umum Kelembagaan Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Penghimpunan DPK Penghimpunan DPK Menurut Kabupaten/Kota Penyaluran Kredit/Pembiayaan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kabupaten Penyaluran Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Perkembangan Suku Bunga Perbankan di Sumatera Selatan Perkembangan Suku Bunga Simpanan Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Perkembangan Spread Suku Bunga Kualitas Penyaluran Kredit/Pembiayaan Kelonggaran Tarik Risiko Likuiditas Perkembangan Bank Umum Syariah Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat 63 Suplemen 4 SERBA-SERBI KREDIT USAHA RAKYAT 65 BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH Realisasi APBD Potensi Realisasi APBD pada Akhir Tahun Suplemen 5 RINGKASAN QUICK SURVEY : FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT REALISASI BELANJA DAERAH 74 BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Perkembangan Kliring dan Real Time Gross Settlement (RTGS) Perkembangan Perkasan 84 iv

6 Daftar Isi 5.3. Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau 86 BAB VI PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Ketenagakerjaan Pengangguran Tingkat Kemiskinan Nilai Tukar Petani Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Latar Belakang Pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Program Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) di Daerah 98 Suplemen 6 INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN PALEMBANG DI TENGAH PENGUATAN PEMULIHAN EKONOMI 100 BAB VII OUTLOOK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH Pertumbuhan Ekonomi Inflasi Perbankan 109 DAFTAR ISTILAH v

7 Daftar Isi Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank vi

8 Daftar Tabel DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan Tahunan (yoy) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) 8 Tabel 1.2 Laju Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) 13 Tabel 1.3 Realisasi Luas Tanam (LT) dan Luas Panen (LP) Propinsi Sumatera Selatan (dalam Ha) 16 Tabel 1.4 Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun (%) 20 Tabel 1.5 Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun (%) 23 Tabel 1.6 Struktur Ekonomi Sektoral Propinsi Sumatera Selatan Tahun (Persen) 24 Tabel 1.7 Struktur Ekonomi Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Tahun (Persen) 24 Tabel 1.8 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi Sumatera Selatan (USD) 25 Tabel 1.9 Perkembangan Bulanan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi Sumatera Selatan (Juta USD) 25 Tabel 2.1 Statistika Deskriptif Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional, Januari 2003 September Tabel 3.1 Pertumbuhan DPK Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 52 Tabel 3.2 Perkembangan Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan (Rp Juta) 53 Tabel 3.3 Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 56 Tabel 3.4 Perkembangan Bank Umum Syariah di Sumatera Selatan (Rp Juta) 63 Tabel 4.1 APBD Sumsel Tahun 2008 & Tahun 2009 (Rp Miliar) 69 Tabel 4.2 APBD 2009 dan Realisasi APBD 2009 per Oktober Tabel 4.3 Potensi Realisasi Fiskal Semester II Tabel 5.1 Perputaran Cek dan Bilyet Giro Kosong Propinsi Sumatera Selatan 83 Tabel 5.2 Kegiatan Perkasan di Sumsel (Rp Miliar) 85 Tabel 5.3 Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau (Rp Miliar) 86 Tabel 6.1 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Februari Februari vii

9 Daftar Tabel Tabel 6.2 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan, Februari Februari Tabel 6.3 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan, Februari Februari Tabel 6.4 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumatera Selatan Tahun Tabel 6.5 Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2008 Maret Tabel 6.6 Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani di Sumatera Selatan 95 Tabel 6.7 Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Modal Petani 95 Tabel 6.8 IPM Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan 96 Tabel 6.9 Rekapitulasi TPKP Daerah dan Penyusunan SPKD 99 Tabel 7.1 Leading Economic Indicator Propinsi Sumsel Triwulan III Tabel 7.2 Proporsi Ekspor Sumatera Selatan dan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Tujuan Tahun Tabel 7.3 Prediksi Beberapa Indikator Perekonomian pada Triwulan IV viii

10 Daftar Grafik DAFTAR GRAFIK Grafik 1.1 PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 dengan Migas 7 Grafik 1.2 Perkembangan Jumlah Konsumsi BBM Propinsi Sumsel 12 Grafik 1.3 PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 dengan Migas 13 Grafik 1.4 Kontribusi Sektor Ekonomi ADHK 2000 Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III Grafik 1.5 Perkembangan Curah Hujan di Sumatera Selatan 14 Grafik 1.6 Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional 15 Grafik 1.7 Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional 15 Grafik 1.8 Perkembangan Konsumsi Semen 16 Grafik 1.9 Perkembangan Pendaftaran Kendaraan Bermotor 17 Grafik 1.10 Perkembangan Penumpang Angkutan Udara 18 Grafik 1.11 Perkembangan Penumpang Angkutan Laut Pelabuhan Boom Baru Propinsi Sumsel 18 Grafik 1.12 Perkembangan Penjualan LPG 19 Grafik 1.13 Perkembangan Konsumsi Listrik 19 Grafik 1.14 Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional 19 Grafik 1.15 Perkembangan Harga Minyak Bumi di Pasar Internasional 19 Grafik 1.16 Perkembangan Kegiatan Usaha 21 Grafik 1.17 Perkembangan Volume Pesanan berdasarkan Persepsi Pengusaha 22 Grafik 1.18 Struktur Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan 23 Grafik 1.19 Perkembangan Nilai Ekspor Propinsi Sumatera Selatan 26 Grafik 1.20 Perkembangan Volume Ekspor Propinsi Sumatera Selatan 26 Grafik 1.21 Perkembangan Ekspor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Tujuan 26 Grafik 1.22 Pangsa Ekspor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Tujuan Jun 09 - Agt Grafik 1.23 Perkembangan Nilai Impor Propinsi Sumatera Selatan 27 Grafik 1.24 Perkembangan Volume Impor Propinsi Sumatera Selatan 27 Grafik 1.25 Perkembangan Impor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Asal 28 ix

11 Daftar Grafik Grafik 1.26 Pangsa Impor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Asal Jun 09 - Agt Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Palembang 29 Grafik 2.2 Inflasi Tahunan (yoy) Kota Palembang per Kelompok Pengeluaran Triwulan III Grafik 2.3 Perkembangan Harga Komoditas Strategis (yoy) di Pasar Internasional 30 Grafik 2.4 Perkembangan Inflasi Tahunan per Kelompok Barang dan Jasa di Palembang 32 Grafik 2.5 Perbandingan Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional 33 Grafik 2.6 Perkembangan Inflasi Bulanan (mtm) Palembang 33 Grafik 2.7 Perkembangan Inflasi Bulanan Palembang per Kelompok Barang dan Jasa 34 Grafik 2.8 Inflasi Bulan September 2009 (mtm) per Sub Kelompok pada Kelompok Bahan Makanan di Palembang 35 Grafik 2.9 Event Analysis Inflasi Kota Palembang September September Grafik 2.10 Perbandingan Inflasi Bulanan dan Ekspektasi Harga Konsumen 3 Bulan YAD 36 Grafik 2.11 Perbandingan Inflasi Bulanan (mtm) Palembang dan Nasional 36 Grafik 2.12 Pergerakan Tingkat Harga Bulanan sesuai SPH 43 Grafik 2.13 Pergerakan Harga Beras di Pasar Cinde dan Pasar Lemabang (Rupiah/Kg) 44 Grafik 2.14 Pergerakan Harga Minyak Goreng di Pasar Cinde dan Pasar Lemabang (Rupiah/Kg) 44 Grafik 2.15 Pergerakan Harga Daging Sapi di Pasar Cinde dan Pasar Lemabang (Rupiah/Kg) 45 Grafik 2.16 Pergerakan Harga Emas di Pasar Cinde dan Pasar Lemabang (Rupiah/gram) 45 Grafik 2.17 Pergerakan Inflasi Bulanan dan Tingkat Harga sesuai SPH di Kota Palembang (Sep Sep 2009) 46 Grafik 3.1 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan 49 Grafik 3.2 Jumlah Kantor Bank dan ATM di Propinsi Sumatera Selatan 51 Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK Perbankan di Propinsi Sumatera Selatan 51 Grafik 3.4 Komposisi DPK Perbankan Triwulan III 2009 di Propinsi Sumatera Selatan 51 x

12 Daftar Grafik Grafik 3.5 Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III Grafik 3.6 Pertumbuhan Kredit Menurut Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan 55 Grafik 3.7 Pangsa Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III Grafik 3.8 Komposisi Penyaluran Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III 2009 Berdasarkan Wilayah 56 Grafik 3.9 Penyaluran Kredit UMKM Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Menurut Penggunaan 57 Grafik 3.10 Penyaluran Kredit UMKM berdasarkan Plafond Kredit 58 Grafik 3.11 Perkembangan Suku Bunga Simpanan Perbankan Sumatera Selatan 58 Grafik 3.12 Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Perbankan Sumatera Selatan 59 Grafik 3.13 Perkembangan Spread Suku Bunga Perbankan Sumatera Selatan 60 Grafik 3.14 Perkembangan NPL Perbankan Sumatera Selatan 60 Grafik 3.15 Komposisi NPL Menurut Sektor Ekonomi 61 Grafik 3.16 Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumatera Selatan 61 Grafik 3.17 Perkembangan Risiko Likuiditas Perbankan Sumatera Selatan 62 Grafik 3.18 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Bank Perkreditan Rakyat di Propinsi Sumatera Selatan 64 Grafik 4.1 Perbandingan Komponen Sisi Penerimaan APBD Sumsel 2009 (dalam Rp Miliar) 70 Grafik 4.2 Perbandingan Komponen Sisi Pengeluaran APBD Sumsel 2009 (dalam Rp Miliar) 70 Grafik 5.1 Perkembangan Kliring Sumsel 81 Grafik 5.2 Perkembangan RTGS Sumsel 82 Grafik 5.3 Perkembangan Perputaran Kliring dan Hari Kerja 83 Grafik 5.4 Perkembangan Bulanan Jumlah Perputaran Kliring Sumsel 84 Grafik 5.5 Perkembangan Jumlah Cek dan Bilyet Giro Kosong Sumsel 84 Grafik 5.6 Perkembangan Kegiatan Perkasan Sumsel Grafik 5.7 Perkembangan Penarikan Uang Lusuh oleh KBI Palembang 86 Grafik 5.8 Perkembangan Bulanan Kas Titipan Lubuk Linggau Tahun Grafik 6.1 Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini 92 Grafik 6.2 Indeks Harga yang diterima, Indeks Harga yang dibayar dan Nilai Tukar Petani 94 Grafik 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan 107 Grafik 7.2 Proyeksi Inflasi Tahunan Sumatera Selatan 109 xi

13 Daftar Grafik Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank xii

14 Indikator Ekonomi INDIKATOR EKONOMI A. INFLASI DAN PDRB xiii

15 Indikator Ekonomi B. PERBANKAN Lanjutan xiv

16 Indikator Ekonomi C. SISTEM PEMBAYARAN xv

17 Indikator Ekonomi Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank xvi

18 III/09 RINGKASAN EKSEKUTIF Kajian Ekonomi Regional Sumatera Selatan Abstraksi Perekonomian Sumatera Selatan pada triwulan III 2009 melanjutkan proses pemulihan. Dengan menetralisasi faktor musiman, pencapaian pertumbuhan ekonomi diperkirakan relatif konstan dibandingkan triwulan sebelumnya walaupun pertumbuhan tahunan sedikit bias dalam menunjukkan perkembangan perekonomian karena faktor teknikal. Inflasi telah mencapai titik terendahnya dan selanjutnya akan kembali mengalami peningkatan seiring pemulihan perekonomian secara global. Kinerja dunia perbankan membaik dengan derasnya capital inflow seiring kembalinya preferensi investor global untuk menanamkan modal ke emerging markets, tingginya perputaran uang menjelang hari raya, dan return yang tinggi pada kegiatan perdagangan dengan memanfaatkan lonjakan pasca krisis. Realisasi fiskal diperkirakan mulai terkucur lebih banyak pada periode ini, membentuk fondasi yang kokoh bagi perekonomian dari sisi domestik, dan secara gradual mensubstitusikan peran konsumsi masyarakat yang mulai melambat. Perkembangan sistem pembayaran juga mencatat adanya indikasi peningkatan transaksi tunai yang mengindikasikan meningkatnya transaksi ekonomi di kalangan grass-root menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pada triwulan IV 2009, proses pemulihan ekonomi diperkirakan akan berlangsung secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi secara tahunan akan mengalami peningkatan cukup tajam walaupun secara triwulanan akan sedikit terkontraksi karena faktor musiman. Motor pertumbuhan akan tercipta dari realisasi fiskal yang tinggi, dan diiringi oleh perbaikan harga komoditas baik migas maupun non migas. Faktor risiko di sisi pertumbuhan akan muncul melalui Rupiah yang cenderung terus terapresiasi hingga pertengahan tahun depan dan memberikan tekanan di sisi net ekspor, walaupun volatilitas jangka pendek tetap ada. Tekanan inflasi diprediksi meningkat seiring perbaikan permintaan dunia maupun meningkatnya permintaan domestik dari pemerintah dan swasta. Perbankan akan berusaha memperbaiki persentase NPL dengan mengucurkan kredit baru, dan terus memanfaatkan lonjakan harga pasca krisis sebagai kompensasi situasi yang kurang kondusif pada awal tahun. Frekuensi dan nilai transaksi tunai maupun non tunai diprediksi tidak mengalami banyak perubahan.

19 Ringkasan Eksekutif Pada triwulan III 2009 ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi berbagai negara di dunia pada umumnya direvisi menjadi lebih tinggi, salah satunya oleh IMF. Proses pemulihan pasca krisis finansial global pada tahun 2009 ini berlangsung lebih cepat dari perkiraan semula, walaupun masih terdapat sejumlah faktor risiko yang patut menjadi perhatian serius. Perkembangann kinerja perekonomian secara global ini kemudian jelas berpengaruh terhadap perekonomian Sumatera Selatan, yang merupakan perekonomian dengan keunggulan komparatif pada komoditas primernya. Melalui pertimbangann dengan menggunakann berbagai indikator, dapat disimpulkan bahwaa pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan mengalami sedikit peningkatan. Sesuai pola musiman, angka pertumbuhan ekonomi Sumateraa Selatan meningkat secara triwulanan, yang diperkirakan mencapai 5,73%. Sementara itu, angkaa pertumbuhan ekonomi secara tahunan mengalami sedikit penurunan, walaupun angka tersebut berpotensi sedikit bias karena adanya faktor teknikal. Pertumbuhan ekonomi triwulanan dengan seasonal adjustment menunjukkan indikasi yang berbeda, yaitu pemulihan ekonomi cenderung berlanjut secara meyakinkan pada triwulan III Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan KBI Palembang juga menunjukkan peningkatan Saldo Bersih Tertimbang dari 12,96% menjadi 13,06%, yang menunjukkan adanya sedikit percepatan peningkatan kegiatan usaha dibandingkan triwulan sebelumnya, dan menunjukkan prosess pemulihan ekonomi berlanjut pada triwulan III 2009 ini. Realisasi fiskal diperkirakan mulai mengucur secara signifikan dan mulai mensubstitusi peran konsumsi swasta dalam menopang permintaan domestik, bersamaan dengan mulai melambatnya pertumbuhan konsumsi swasta. Investasi mengalami percepatan pertumbuhan tahunan dan mampu memberikan momentum pertumbuhan perekonomian walaupun hanya memiliki proporsi yang kecil terhadap keseluruhan output. Di sisi hubungan dengan eksternal, peningkatan ekspor telah terjadi yang didorong oleh mulai pulihnya rencana produksi di negara-negara industri. Namun, nilai impor juga mengalami peningkatan disebabkan oleh meningkatnya pula permintaan barang impor baik dari masyarakat maupun untuk aktivitas produksi. Sehingga, nilai net ekspor hanya mengalami sedikit peningkatan. 2

20 Ringkasan Eksekutif Perkembangan sistem pembayaran menunjukkan adanya peningkatan transaksi tunai, namun transaksi non tunai justru mengalami penurunan. Hal ini secara implisit mengindikasikan adanya perkembangan aktivitas perekonomian secara khusus di kalangan grass-root, yang masih cukup dominan dalam penggunaan uang tunai. Selain itu, hal ini juga didorong oleh kebutuhan masyarakat akan uang tunai yang meningkat signifikan menyambut hari raya Idul Fitri, bersamaan dengan tingginya antusiasme masyarakat untuk memiliki pecahan uang kertas Rupiah yang baru, yang memiliki nominal Rp2.000,-. Inflasi terus menunjukkan penurunan dan mencapai titik terendahnya pada triwulan III Selain faktor teknikal, penurunan inflasi secara umum didorong oleh terjaganya pasokan barang dan jasa di dalam perekonomian. Penurunan harga BBM yang dilakukan pada akhir 2008 secara teknikal masih memberikan efek yang cukup dominan rendahnya besaran inflasi tahunan pada triwulan III 2009 karena menyebabkan harga-hargdibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Disamping itu, komitmen yang nyata dari Pemerintah Daerah terkait penurunan biaya sekolah formal di Sumatera Selatan juga memberikan dampak yang cukup nyata pada rendahnya inflasi kelompok pendidikan. Kelompok bahan makanan dan kelompok makanann jadi mengalami inflasi yang cukup masif pada triwulan III 2009 atau tepatnya pada bulan barang kelompok transportasi saat ini lebih rendah September 2009, yang murni disebabkan oleh permintaan siklikal masyarakat yang inelastis terhadap pendapatan pada saat lebaran. Kelompok sandang dan kelompok transportasi dan telekomunikasi mengalami peningkatan inflasi pula pada triwulan III 2009, yang disebabkan oleh permintaan domestik yang mengalami peningkatan untuk kelompok sandang, khususnya terkait perayaan Idul Fitri, dan harga BBM non subsidi yang telah sedikit meningkat sehubungan dengann kembali meningkatnya harga minyak dunia. Kinerja perbankan sampai dengan bulan Agustus 2009 menunjukkan perlambatan, kendati diperkirakan perkembangan pada bulan September 2009 akan memutarbalikkan arah perkembangan triwulanan yang ada menjadi jauh lebih baik sehubungan dengan meningkatnya transaksi keuangan secara signifikan menyambut Idul Fitri menyusul tingginya kebutuhan finansial masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hari raya dan dibagikannya Tunjangan Hari Raya. Sampai dengan bulan Agustus 2009, pertumbuhan DPK perbankan mengalami perlambatan yang dapat disebabkan oleh adanya instrumen investasi alternatif yang menarik dengan risiko rendah dan return tinggi. Penyaluran kredit meningkat seiring ekspektasi pemulihan perekonomian, peningkatan harga komoditas, dan kebutuhan konsumsi masyarakat dengan 3

21 Ringkasan Eksekutif peningkatan kredit tertinggi padaa kredit konsumsi dan investasi. Kendati demikian sampai bulan Agustus 2009 perbankan semakin memperbaiki fungsi intermediasi keuangannya ditinjau dari adanya peningkatan Loan to Deposit Ratio. Salah satu hal yang menarik di sisi perkembangan perbankan ini adalah adanya peningkatan proporsi kredit MKM secara berkelanjutan pada beberapa triwulan terakhir, bahkan perkembangan kredit MKM terlihat menopang perkembangan kredit perbankan secara keseluruhan yang mengalami momentum perlambatan. Pada triwulan IV 2009, proses pemulihan ekonomi diperkirakan akan berlangsung secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi secara tahunan akan mengalami peningkatan cukup tajam walaupun secara triwulanan akan sedikit terkontraksi karena faktor musiman. Motor pertumbuhan akan tercipta dari realisasi fiskal yang tinggi pada akhir tahun, dan dibarengi oleh perbaikan harga komoditas baik migas maupun non migas, yang juga meningkatkan konsumsi masyarakat karena pendapatan yang meningkat. Nilai ekspor diperkirakan akan sedikit mengalami peningkatan walaupun laju pertumbuhan triwulanan akan mengalami perlambatan. Di sisi lain, impor akan juga merangkak naik terdorong oleh mulai meningkatnya produksi dan optimisme masyarakat atas kondisi ekonomi di masa depan. Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan akan terjadi yang disebabkan oleh rentannya aksi profit taking pada instrumen hedging komoditas di pasar internasional pada kondisi pemulihan ekonomi yang menjanjikan return tinggi, dan secara implisit juga menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas yang terjadi mungkin hanya bersifat bullish. Hal ini memperlebar confidence bounds pada proyeksi ke depan. Karena itu, dari sisi permintaan, tekanan inflasi sampai dengan akhir tahun 2009 diprediksi akan meningkat seiring perbaikan permintaan dunia maupun meningkatnya permintaan domestik dari pemerintah dan swasta. Secara tahunan, besaran inflasi diperkirakan akan mengalami peningkatan, walaupun secara triwulanan mengalami diperkirakan mengalami sedikit penurunan. Faktor risiko muncul dari nilai Rupiah yang cenderung terus mengalami apresiasi yang dapat menyebabkan turunnya net ekspor karena berubahnya keunggulan relatif barang dalam negeri terhadap barang di luar negeri. Selain itu, terdapat faktor risiko yang dari sisi penawaran agregat yang dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan inflasi mengingat adanya tren semakin tingginya frekuensi bencana gempa bumi di Indonesia, khususnya di Sumatera dan Jawa. Gempa yang terjadi dapat menyebabkan berkurangnya kapasitass produksi, kerusakan infrastruktur dan sarana perhubungan, 4

22 Ringkasan Eksekutif sehingga dapat menghambat arus barang dan jasa lintas propinsi dan mengurangi aktivitas perekonomian secara umum. Kondisi perekonomian dunia yang melanjutkan proses pemulihannya dari krisis finansial global, mulai munculnya kekhawatiran akan sustainabilitas fiskal di negara-negara maju pada jangka menengah, tingginya ekspektasi imbal hasil di kawasan Asia, menyebabkan investasi pada emerging markets kembali menarik investor global, di luar volatilitas jangka pendek yang seringkali terjadi. Untuk Indonesia secara khusus, investasi dan arus dana akan masuk dengan didorong oleh baiknya indikator makroekonomi Indonesia dibandingkan negaraa lain secara umum, pemerintahan khususnya pejabat strategis perekonomian yang dinilai kredibel oleh dunia internasional dan investor, ditingkatkannya rating sovereign bonds indonesia oleh Moody s dari Ba3 ke Ba2, direvisinya outlook perekonomian Indonesia oleh Standardd and Poor s dari stabil menjadi positif. Masih besarnya potensi capital inflow tersebut akan semakin memberikan relaksasi pada perbankan dan memperbaiki penyaluran kredit. Selain itu, prospek bisnis ke depan semakin jelas pada periode ini dan memberikan kejelasan bagi kemampuan membayar kredit di masa depan. Karena itu, triwulan IV 2009 merupakan saat yang tepatt bagi perbankan untuk mengejar target penyaluran kreditnya pada tahun Dalam konteks regional, ekspektasi peningkatan harga komoditas dan mulai pulihnya produksi di negara-negara industri memperbaiki prospek bisnis di Sumatera Selatan. Sehingga, diperkirakan penyaluran kredit akan mengalami peningkatan dalam kisaran yang moderat. Namun di sisi lain, terdapat ekspektasi peningkatan suku bunga dalam waktu dekat yang disebabkan oleh ekspektasi semakin tingginya tekanan inflasi di tahun 2010 sehingga dapat menahan laju pertumbuhan kredit perbankan. Di samping itu, tingginya pertumbuhan kredit konsumsi dibandingkan kedua jenis kredit menurut penggunaan lainnyaa sejak krisis finansial global terjadi hingga saat ini patut mendapatkan perhatian serius, termasuk potensinya dalam meningkatkan Non Performing Loan dalam waktu yang tidak terlalu lama. 5

23 Ringkasan Eksekutif Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 6

24 Bab 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan diprediksi mengalami peningkatan secara triwulanan. Semakin pulihnya perekonomian Sumsel dipengaruhi terus membaiknya harga komoditas unggulan Sumsel di pasar internasional dan kenaikan konsumsi selama moment Idul Fitri Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Tahunan Laju pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada triwulan III 2009 diprediksi sebesar 3,62% (dengan migas). Laju pertumbuhan ekonomi tahunan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,97% (dengan migas), namun walaupun demikian pertumbuhan secara triwulanan mengalami perbaikan cukup signifikan. Grafik 1.1 PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 dengan Migas * Angka Sementara **Proyeksi Bank Indonesia Palembang Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah Secara nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Sumsel Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 pada triwulan III 2009 diperkirakan sebesar Rp15,78 triliun (dengan migas), sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan PDRB periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp15,23 triliun (Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000). Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi tahunan pada triwulan III 2009 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya terkonfirmasi oleh survei bisnis yang dilakukan Bank Indonesia Palembang, dimana secara umum permintaan domestik masih menurun dibanding tahun sebelumnya. Permintaan domestik tercatat mulai membaik sejak triwulan II 2009 dan terus menunjukkan kecenderungan peningkatan di semua sektor meskipun masih belum pulih seperti kondisi sebelum terjadinya krisis global.

25 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sementara itu, permintaan luar negeri juga mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, namun tanda-tanda peningkatan permintaan mulai terjadi sejak triwulan II 2009 dan terus berlanjut hingga kini. Membaiknya permintaan luar negeri tersebut terutama untuk komoditas karet yang diiringi dengan membaiknya harga jual menyebabkan dilonggarkannya kuota produksi mulai semester II 2009 hingga sebesar 100%. Triwulan III 2009 dapat dikatakan sebagai penegasan pemulihan perekonomian Sumsel yang ditandai dengan terus membaiknya harga beberapa komoditas unggulan di pasar Internasional dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan akan terjadi karena rentannya aksi profit taking pada instrumen hedging komoditas tersebut. Sementara itu, informasi yang dihimpun dari kalangan dunia usaha menyatakan bahwa di tengah semakin membaiknya kondisi usaha masih terdapat beberapa faktor yang dinilai kurang kondusif dalam pengembangan dunia usaha di Sumsel, antara lain: (i) infrastruktur jalan maupun pelabuhan, (ii) ketersediaan listrik, (iii) perijinan dan birokrasi, (iv) bahan baku, (v) kebijakan dan peraturan pemerintah, (vi) suku bunga pinjaman perbankan yang dinilai masih tinggi, (vii) pungutan liar (lihat Suplemen 1. Kondisi Usaha Sumatera Selatan Semakin Membaik). Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan Tahunan (yoy) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) Lapangan Usaha III IV I II* III** Pertanian Pertambanga n dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkuta n & Komunikasi Keu., Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa * Angka Sementara **Proyeksi Bank Indonesia Palembang Kinerja perekonomian sektoral triwulan III 2009 ditandai dengan pertumbuhan tahunan tertinggi pada sektor pengangkutan dan telekomunikasi yang tumbuh sebesar 12,43%, serta peningkatan kinerja sektor keuangan bangunan dan sektor Listrik, Air, dan Gas (LGA) Sektor pertanian dan sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan di Sumsel diperkirakan mengalami perlambatan yakni masing-masing menjadi sebesar 1,37% dan 0,10%. Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah 8

26 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Suplemen 1 KONDISI USAHA SUMATERA SELATAN SEMAKIN MEMBAIK* Berdasarkan informasi dari para pelaku usaha di Sumatera Selatan, sinyal membaiknya kondisi usaha yang mulai terlihat pada triwulan II 2009 secara umum menunjukkan arah yang semakin membaik pada triwulan III 2009 ini. Meskipun demikian kondisi tersebut belum sepenuhnya pulih sebagaimana kondisi sebelum terjadinya krisis global akhir tahun lalu. Di tengah kondisi semakin membaiknya kondisi usaha, di sisi lain masih terdapat beberapa faktor yang dinilai kurang kondusif dalam pengembangan dunia usaha antara lain : (i) infrastruktur jalan maupun pelabuhan, (ii) ketersediaan listrik, (iii) perijinan dan birokrasi, (iv) bahan baku, (v) kebijakan dan peraturan pemerintah, (vi) suku bunga pinjaman perbankan yang dinilai masih tinggi, serta (vii) pungutan liar. Secara umum, permintaan domestik masih lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Namun demikian, permintaan yang mulai membaik sejak triwulan II 2009 terus menunjukkan kecenderungan perbaikan di semua sektor. Pulihnya sektor bangunan ditandai dengan meningkatnya kinerja sektor properti yang pada awal tahun 2009 mengalami penurunan cukup signifikan, telah menunjukkan perbaikan dan diperkirakan akan memenuhi target yang telah ditetapkan pada tahun Sektor pertambangan dan penggalian pun menunjukkan tingkat permintaan domestik yang semakin membaik karena meningkatnya kebutuhan terutama untuk material bangunan seiring dengan meningkatnya realisasi proyek infrastruktur pada triwulan III Sementara itu, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR), secara umum mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya disebabkan oleh berkurangnya event-event yang diselenggarakan serta dampak tidak langsung dari krisis global yang menurunkan tingkat permintaan terhadap jasa perhotelan untuk kepentingan bisnis dan konsumsi. Namun demikian, dibanding triwulan sebelumnya, saat ini telah menunjukkan peningkatan dengan didukung oleh moment pergantian tahun ajaran sekolah, puasa dan lebaran yang meningkatkan konsumsi masyarakat. Sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta jasa-jasa, secara umum juga menunjukkan penurunan permintaan dibanding tahun sebelumnya. Meskipun demikian, masih terdapat pelaku usaha yang masih mengalami pertumbuhan permintaan domestik disebabkan oleh diversifikasi produk layanan yang ditawarkan kepada konsumen Secara umum, permintaan luar negeri juga mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya dengan tanda-tanda peningkatan permintaan yang terus membaik. Membaiknya permintaan luar negeri tersebut terutama untuk komoditas karet yang diiringi dengan membaiknya harga jual menyebabkan dilonggarkannya kuota produksi mulai semester II 2009 hingga 100%. Ke depan, diperkirakan permintaan luar negeri akan terus membaik terkait dengan semakin membaiknya perekonomian negara-negara yang terkena dampak krisis global yang selama ini menjadi negara tujuan ekspor dan adanya peluang pasar ekspor baru terutama untuk crumb rubber. *) Diperoleh dari hasil Business Survey yang merupakan kegiatan pemantauan kondisi usaha dengan mewawancarai langsung pelaku usaha 9

27 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Kapasitas utilitasi pelaku usaha bervariasi dan secara umum mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya sebagai dampak dari masih belum pulihnya tingkat permintaan, kendala bahan baku terkait dengan faktor musiman, maupun penghentian operasional. Ke depan, diperkirakan tingkat utilisasi akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan domestik maupun luar negeri. Meskipun kondisi bisnis belum pulih sebagaimana sebelum terjadinya krisis global, beberapa pelaku usaha berencana untuk tetap melakukan investasi di tahun 2009 baik melanjutkan investasi tahun sebelumnya maupun investasi baru. Investasi tersebut dalam bentuk perluasan lahan, penambahan jaringan kantor, penambahan armada, penambahan dan renovasi bangunan, serta penambahan peralatan dan mesin. Meskipun demikian, terdapat beberapa pelaku usaha yang tidak memiliki rencana untuk melakukan investasi paling tidak hingga satu tahun mendatang tergantung dengan situasi dan kondisi perekonomian ke depan. Kondisi jumlah tenaga kerja pada triwulan III 2009 secara umum relatif tetap dibanding tahun sebelumnya karena perusahaan tetap berupaya untuk tidak melakukan pengurangan tenaga kerja meskipun kondisi usaha belum pulih. Namun demikian terdapat beberapa perusahaan yang menyatakan terjadi pengurangan tenaga kerja karena menurunnya aktivitas yakni penutupan pabrik maupun penghentian operasional produksi.ke depan, mayoritas pelaku usaha menyatakan bahwa jumlah tenaga kerja masih akan relatif sama dengan tahun ini. Namun seiring dengan membaiknya perekonomian dan kondisi usaha, terdapat pelaku usaha yang berencana untuk melakukan penambahan tenaga kerja terkait dengan investasi yang akan dilakukan dan meningkatnya aktivitas usaha perusahaan. Secara umum biaya mengalami peningkatan pada kisaran yang bervariasi terutama pada biaya tenaga kerja yang mengacu pada ketentuan pengupahan daerah setempat serta biaya energi dan bahan baku. Meskipun demikian terdapat beberapa perusahaan yang justru mengalami penurunan biaya bahan baku karena menurunnya harga bahan baku di pasar dunia. Harga jual pada relatif sama dengan tahun sebelumnya, meskipun beberapa pelaku usaha menyatakan bahwa harga jual mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya terutama untuk komoditi ekspor dimana harganya berfluktuasi seiring dengan perkembangan harga di pasar dunia. Selain itu, penurunan harga juga dipengaruhi oleh menurunnya harga bahan baku yang sangat signifikan di pasar dunia maupun karena kondisi permintaan yang belum pulih, sehingga margin usaha secara umum relatif menurun dibanding tahun sebelumnya karena meningkatnya biaya operasional sementara penjualan dan harga jual secara umum masih relatif menurun. 10

28 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sektor pengangkutan dan komunikasi diprediksi masih tercatat sebagai sektor yang mengalami pertumbuhan tahunan yang paling tinggi pada triwulan III 2009 yakni sebesar 12,43%. Kinerja sub sektor telekomunikasi diprediksi memberi andil besar dalam mendorong peningkatan sektor ini dibandingkan tahun sebelumnya. Semakin banyaknya operator seluler yang menawarkan tarif murah dan semakin tingginya animo masyarakat dalam menggunakan produk telekomunikasi dibandingkan tahun sebelumnya menjadi salah satu penyebab signifikannya pertumbuhan sub sektor telekomunikasi. Sementara itu, sub sektor pengangkutan diprediksi tumbuh dalam kisaran 9,00% yang dipengaruhi oleh rata-rata curah hujan yang relatif lebih rendah dibandingkan kondisi pada tahun sebelumnya menyebabkan kinerja sub sektor ini dapat dikatakan relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi tahun lalu. Sektor jasa-jasa serta sektor bangunan masing-masing diprediksi tumbuh sebesar 9,61% dan 8,92%. Pertumbuhan di sektor jasa-jasa diprediksi lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya, yang disebabkan oleh masih lemahnya kondisi perekonomian secara umum dibandingkan tahun sebelumnya yang berdampak pada penurunan konsumsi jasa-jasa secara tahunan. Sub sektor bangunan teridentifikasi mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya (yoy) yang diperkirakan sebagai dampak dari cukup tingginya permintaan masyarakat terhadap properti dibanding tahun sebelumnya. Sektor keuangan, persewaan, dan jasa serta sektor listrik, gas dan air bersih (LGA) masing-masing diprediksi tumbuh sebesar 5,02% dan 4,63%. Pertumbuhan tahunan di sektor keuangan diprediksi lebih rendah dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya, sedangkan pertumbuhan sektor LGA diprediksi meningkat dibandingkan dengan kondisi pada triwulan sebelumnya yang diantaranya disebabkan semakin meratanya program konversi minyak tanah hingga ke pelosok Sumsel. Program konversi energi yang diluncurkan pertengahan tahun 2008 diprediksi menjadi pendorong konsumsi di sub sektor gas kota, yang mendorong kinerja sektor LGA secara keseluruhan. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) dirediksi tumbuh sebesar 3,04%. Pertumbuhan tahunan di sektor PHR tercatat melambat dibandingkan dengan kondisi pada triwulan sebelumnya, dimana kinerja sektor PHR pada triwulan II 2009 tercatat tumbuh sebesar 4,14%. Cukup tingginya kinerja tahunan sektor PHR pada triwulan III 2008 menyebabkan pertumbuhan pada triwulan ini secara matematis menjadi tidak optimal. 11

29 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik 1.2 Perkembangan Jumlah Konsumsi BBM Propinsi Sumsel Sektor pertambangan dan penggalian diprediksi mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 2,87%, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya tercatat sebesar 1,89%. Sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi diperkirakan cukup memberi andil dalam mendorong peningkatan sektor pertambangan seiring dengan terus menguatnya harga minyak bumi Sumber: Pertamina UPMS II Palembang pada triwulan ini dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari sub sektor pertambangan non migas, kapasitas produksi beberapa pertambangan besar di Sumatera Selatan dalam beberapa tahun terakhir ini tergolong stagnan. Namun walaupun demikian, dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan rencana beberapa industri besar yang berbahan baku pertambangan seperti industri semen berencana membangun pabrik baru. Sektor pertanian diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan. Sektor ini diprediksi mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 1,37%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang disebabkan karena pergeseran masa tanam sub sektor tanaman bahan makanan telah menyebabkan kinerja sub sektor tanaman bahan makanan lebih rendah apabila dibandingkan dengan kondisi pada tahun sebelumnya, apalagi pada triwulan sebelumnya kinerja sub sektor tanaman bahan makanan ini tumbuh kurang optimal yang disebabkan telah selesainya masa panen. Sub sektor tanaman bahan makanan dan sub sektor tanaman perkebunan diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan masing-masing dalam kisaran 3,00% dan 2,00%. Kondisi sektor industri pengolahan diperkirakan mengalami pertumbuhan tahunan paling rendah yakni sebesar 0,10% seiring dengan penurunan kinerja sektor pertanian yang terutama disebabkan oleh turunnya kinerja sub sektor industri pengolahan tanpa migas. 12

30 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional 1.2. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Triwulanan Secara triwulanan (qtq), pertumbuhan ekonomi Sumsel diyakini mengalami perbaikan setelah pada triwulan Grafik 1.3 PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000 dengan Migas sebelumnya tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 3,46% (qtq). Pertumbuhan ekonomi Sumsel secara triwulanan pada triwulan III 2009 diperkirakan mencapai 5,73%. Beberapa indikator ekonomi seperti jumlah pendaftaran kendaraan baru, perkembangan arus penumpang dan barang, konsumsi listrik, serta perkembangan konsumsi semen mengkonfirmasi hal tersebut. * Angka Sementara **Proyeksi Bank Indonesia Palembang Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah Tabel 1.2 Laju Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) Lapangan Usaha III IV I II* III** Pertanian (20.54) Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan (0.70) (4.70) (1.08) LGA 1.22 (1.33) Bangunan (1.44) PHR 6.01 (3.82) (0.85) Pengangkutan & Komunikasi Keu., Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa * Angka Sementara ** Proyeksi Bank Indonesia Palembang Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah Kinerja perekonomian secara triwulanan pada triwulan III 2009 ditandai dengan semakin membaiknya kinerja seluruh sektor ekonomi dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya, kecuali sektor jasa-jasa. Sektor pertanian diperkirakan mencatat pertumbuhan yang paling tinggi yakni sebesar 14,99%. Semakin membaiknya sektor pertanian sangat berdampak pada perbaikan kinerja sektor lainnya, terutama pada peningkatan kinerja sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang masing-masing mengalami pertumbuhan triwulanan sebesar 4,10% dan 4,89%. Sementara itu sektor keuangan, persewaan dan jasa perbankan diperkirakan 13

31 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional mengalami pertumbuhan triwulanan paling rendah yakni sebesar 0,90%. Namun walaupun demikian sektor tersebut tercatat masih mengalami perbaikan dibandingkan kondisi triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,39%. Dari segi kontribusinya, walaupun mengalami penurunan pangsa, sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan masih tetap merupakan penyumbang PDRB yang paling besar dengan pangsa sebesar 22,29% setelah pada triwulan sebelumnya tercatat memberi sumbangan sebesar 23,11. Sementara itu sektor pertanian dan sektor industri pengolahan masing-masing menyumbang 21,45% dan 16,63%. Grafik 1.4 Kontribusi Sektor Ekonomi ADHK 2000 Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III 2009 Kinerja ekonomi sektor pertanian diperkirakan mengalami pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 14,99%. Pertumbuhan triwulanan di sektor ini lebih baik dibandingkan dengan kondisi triwulan II 2009 yang mencatat pertumbuhan triwulanan sebesar 9,86%. Sub sektor perkebunan merupakan pendorong utama membaiknya kinerja sektor pertanian seiring terus membaiknya harga karet di pasar internasional. mili meter Grafik 1.5 Perkembangan Curah Hujan di Sumatera Selatan III IV I II III Rata rata Curah Hujan Rata rata Hari Hujan Sumber: Stasiun Klimatologi Kenten hari Laju pertumbuhan ekonomi sektor pertanian pada triwulan III 2009 tidak terlepas dari penguatan harga komoditas di pasar internasional maupun di tingkat petani dibandingkan triwulan sebelumnya walaupun disisi lain agak terkendala dengan kondisi cuaca yang kurang kondusif bagi optimalnya kinerja sektor pertanian, yang ditandai dengan menurunnya tingkat curah hujan maupun hari hujan. 14

32 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sub sektor tanaman perkebunan diperkirakan mengalami pertumbuhan triwulanan cukup tinggi yang disebabkan membaiknya permintaan pasar dunia. Namun dari sisi volume relatif lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang antara lain disebabkan pengaruh musim kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah menyebabkan produksi karet dan CPO menyusut sebesar 15% hingga 30%. Sementara itu, menurunnya produksi juga disebabkan karena tingginya harga pupuk sehingga petani kurang maksimal dalam merawat tanamannya. Rata-rata harga karet di pasar internasional pada triwulan ini mencapai USD cent 201,83/kg atau mengalami peningkatan sebesar 12,97% dibandingkan rata-rata harga pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar USDcent 178,67/kg. Sementara itu ratarata harga CPO dunia pada triwulan III 2009 tercatat sebesar USD642,84/metrik ton, menurun sebesar 10,50% dibandingkan dengan rata-rata harga pada triwulan sebelumnya. Grafik 1.6 Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional Grafik 1.7 Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional Sumber: Bloomberg Sumber: Bloomberg Kinerja sub sektor tanaman bahan makanan diperkirakan mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya, terutama dari sisi prodiktivitas. Beberapa upaya ekstensifikasi yang dilakukan dengan bantuan dinas terkait cukup mendorong peningkatan produktivitas meskipun luas tanam mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya. Menurut informasi dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sumsel diperoleh keterangan bahwa luas panen padi pada triwulan III 2009 tercatat mengalami peningkatan sebesar 33,13% (qtq) menjadi sekitar Ha. 15

33 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 1.3 Realisasi Luas Tanam (LT) dan Luas Panen (LP) Propinsi Sumatera Selatan (dalam Ha) Sumber : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan Kondisi sektor bangunan diprediksi relatif membaik dengan pertumbuhan triwulanan sebesar 5,33%, semakin membaik dari kondisi triwulan sebelumnya dimana sektor bangunan pada saat itu mencatat pertumbuhan triwulanan sebesar 3,58%. Membaiknya kondisi sektor bangunan seiring dengan realisasi proyek-proyek swasta yang lebih banyak terfokus pada pengembangan tempat hunian dan juga realisasi proyek pemerintah yang sudah mulai berjalan. Berdasarkan kegiatan survei bisnis diperoleh informasi bahwa permintaan perumahan Rumah Sederhana Sehat (RSH) maupun segmen rumah menengah ke atas tetap mengalami peningkatan. Suatu hal yang menggembirakan, Asosiasi Semen Indonesia mencatat terjadinya peningkatan penjualan semen sebesar 10,41% (qtq) pada triwulan ini, walaupun peningkatannya tidak sebesar pada triwulan sebelumnya. Grafik 1.8 Perkembangan Konsumsi Semen Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, diolah 16

34 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 4,89% yang disebabkan meningkatnya konsumsi masyarakat pada moment perayaan Hari Raya Idul Fitri dan juga pada beberapa event tahunan seperti Sriwijaya Expo. Berdasarkan survei yang dilakukan Bank Indonesia, pesanan mobil secara triwulanan diperkirakan mengalami peningkatan dalam kisaran 20%-40%. Hal tersebut juga terkonfirmasi dari data pendaftaran kendaraan baru yang diperoleh dari Dispenda Propinsi Sumatera Selatan. Data dari Dispenda menunjukkan bahwa pendaftaran mobil baru mengalami peningkatan sebesar 36,79% (qtq) sementara pendaftaran motor mengalami peningkatan sebesar 29,99% (qtq). Grafik 1.9 Perkembangan Pendaftaran Kendaraan Bermotor Sumber: Dispenda Prop. Sumatera Selatan Sementara itu dari sektor perhotelan, berdasarkan survei bisnis yang dilakukan diperoleh informasi bahwa penjualan sewa kamar mengalami sedikit penurunan pasca kegiatan pemilu dan juga pada masa bulan Ramadhan. Untuk mempertahankan profit, beberapa hotel gencar menggelar promo-promo kuliner buka puasa dan juga mengoptimalkan jasa penyewaan gedung/ruangan. Sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan masih mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya yakni sebesar 4,32%. Kinerja sub sektor komunikasi diprediksi sedikit mengalami percepatan pertumbuhan yakni menjadi sebesar 5% (qtq). Tarif komunikasi yang semakin murah serta terus digulirkannya promo-promo dari sejumlah operator seluler tetap cukup ampuh dalam menjaga kinerja sub sektor ini selain permintaan yang cukup tinggi pada moment Idul Fitri. Liburan Idul Fitri yang cukup panjang sedikit banyak telah mendorong pertumbuhan sub sektor transportasi. Data dari PT. Pelindo menunjukkan terjadinya peningkatan frekuensi pelayaran maupun jumlah penumpang kapal laut. Begitu pula dengan kondisi transportasi udara yang menurut informasi dari PT. Angkasa Pura II menunjukkan adanya peningkatan jumlah penumpang, baik penumpang domestik maupun internasional. 17

35 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik 1.10 Perkembangan Penumpang Angkutan Udara Grafik 1.11 Perkembangan Penumpang Angkutan Laut Pelabuhan Boom Baru Propinsi Sumsel Sumber : PT. Angkasa Pura II, diolah Sumber : PT. Pelindo Boom Baru, diolah Sektor Industri Pengolahan diperkirakan mengalami pertumbuhan triwulanan sebesar 4,10%. Berdasarkan hasil survei dunia usaha, kondisi sub sektor industri pengolahan non migas, khususnya crumb rubber terus mengalami peningkatan pertumbuhan terkait dengan membaiknya permintaan ekspor dan harga karet di pasar internasional yang kembali meningkat. Sektor jasa-jasa sebagai penunjang geliat perekonomian diperkirakan masih menyumbang pertumbuhan ekonomi Sumsel walaupun tidak sebesar triwulan sebelumnya. Sektor jasa-jasa diprediksi tumbuh sebesar 2,96%, mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Moment Idul Fitri yang jatuh pada triwulan ini diyakini menjadi pendorong pertumbuhan di sektor ini walaupun tidak sebesar dorongan moment pemilihan umum (pemilu), baik pemilu legislatif maupun pemilihan presiden yang jatuh pada triwulan sebelumnya. Sektor listrik, gas, dan air bersih (LGA) diperkirakan meningkat sebesar 2,07% (qtq) atau lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 1,75% (qtq). Peningkatan konsumsi LGA di bulan Ramadhan dan semakin lancarnya program konversi energi yang dilakukan pemerintah terus mendorong pertumbuhan di sub sektor gas kota. Sub sektor listrik pun cukup memberikan peran dalam mendorong sektor LGA yang terlihat dari meningkatnya konsumsi listrik secara total. 18

36 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik 1.12 Perkembangan Penjualan LPG Grafik 1.13 Perkembangan Konsumsi Listrik Sumber : PT. Pertamina UPMS II Sumber : PLN Sumbagsel Kinerja sektor pertambangan dan penggalian diprediksi sedikit mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yakni menjadi sebesar 1,99% (qtq). Kinerja sektor ini pada triwulan sebelumnya tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 0,84% (qtq). Terus membaiknya harga minyak mentah di pasar internasional sejak triwulan I 2009 telah membantu kinerja sektor pertambangan ditengah kondisi stagnasi kapasitas produksi yang dialami pelaku usaha di sektor tersebut. Sementara itu, terus harga batu bara di pasar internasional juga tercatat mengalami perbaikan setelah pada triwulan sebelumnya sempat merosot ke USD47,59/metrik ton. Kapasitas produksi beberapa pertambangan besar di Sumatera Selatan dalam beberapa tahun terakhir ini tergolong stagnan. Namun walaupun demikian, dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan rencana beberapa industri besar yang berbahan baku pertambangan seperti industri semen yang berencana akan membangun pabrik baru. Grafik 1.14 Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional Grafik 1.15 Perkembangan Harga Minyak Bumi di Pasar Internasional Sumber: Bloomberg Sumber: Bloomberg 19

37 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sektor keuangan, persewaan, dan jasa pada triwulan ini diprediksi menjadi sektor yang mengalami pertumbuhan ekonomi triwulanan yang paling rendah, yakni sebesar 0,90% (qtq). Walaupun demikian, pertumbuhan triwulanan sektor tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulanan pada triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,39% (qtq). Bergairahnya kondisi ekonomi secara umum pada triwulan ini diprediksi telah mendorong perbaikan kinerja sektor keuangan yang ditandai dengan peningkatan jumlah aset, penghimpunan dana, maupun penyaluran kredit/pembiayaan secara umum. Sementara itu, berdasarkan hasil survei bisnis di sub sektor persewaan diperoleh informasi bahwa selama triwulan ini telah terjadi peningkatan tingkat penyewaan gudang dalam kisaran 10% hingga 20%. 1.3 Perkembangan PDRB dari Sisi Penggunaan Pertumbuhan ekonomi secara tahunan (yoy) dari sisi penggunaan masih didominasi oleh konsumsi, terutama konsumsi rumah tangga walaupun ditengarai mengalami perlambatan. Pertumbuhan sektor konsumsi diprediksi sebesar 6,40% (yoy), mengalami perlambatan apabila dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan konsumsi pada triwulan sebelumnya yang mencapai 8,75% (yoy). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi swasta nirlaba masing-masing diperkirakan sebesar 6,58% dan 44,34%. Sementara itu konsumsi pemerintah diperkirakan mengalami pertumbuhan negatif sebesar 0,37% yang disebabkan realisasi belanja yang minim pada periode ini. Hasil quick survey Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Realisasi Belanja Daerah dan Optimalisasi Pemanfaatan Dana Pemerintah Daerah pada Perbankan Daerah yang dilakukan Bank Indonesia, diperoleh informasi salah satu penyebab rendahnya realisasi belanja disebabkan karena masalah birokrasi yang cukup menyita waktu. Tabel 1.4 Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun (%) * Angka Sementara ** Proyeksi Bank Indonesia Palembang Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah 20

38 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Dari sisi kegiatan perdagangan, ekspor diperkirakan turun sebesar 9,36%, sedikit membaik dibandingkan dengan kondisi pada triwulan sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar 10,89%. Sementara itu, impor masih mencatat pertumbuhan tahunan yakni sebesar 6,06%, mengalami perlambatan dibandingkan dengan kinerja tahunan pada triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 7,21%. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan ini lebih disebabkan karena meningkatnya harga komoditas unggulan di pasar Internasional. Kondisi tersebut terkonfirmasi dari survei kegiatan dunia usaha triwulan III 2009 yang dilakukan KBI Palembang menggambarkan kegiatan usaha yang dilakukan oleh para pelaku usaha di Sumsel mengalami peningkatan dibandingkan kondisi triwulan sebelumnya. Grafik 1.16 Perkembangan Kegiatan Usaha Sumber : SKDU KBI Palembang Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan III 2009 mengindikasikan terjadinya peningkatan kegiatan usaha dari persepsi kalangan dunia usaha dibanding triwulan sebelumnya yang tercermin dengan peningkatan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) 1 dari 12,96% menjadi 13,06%. 1 SBT adalah selisih antara jawaban meningkat (optimis) dengan jawaban menurun (pesimis) yang dikalikan dengan bobot masing-masing sektor ekonomi. 21

39 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara triwulanan (qtq), komponen yang mengalami pertumbuhan paling tinggi adalah investasi. Sementara itu komponen ekspor diperkirakan mengalami peningkatan pada kisaran 4%, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,22%. Melambatnya ekspor dibandingkan triwulan sebelumnya lebih banyak disebabkan karena faktor menurunnya volume ekspor secara keseluruhan. Meningkatnya harga komoditas primer di pasar internasional tidak cukup membantu perlambatan ekspor karena perkiraan turunnya volume ekspor yang cukup signifikan. Melambatnya volume ekspor secara umum terkonfirmasi dengan menurunnya nilai saldo bersih perkembangan volume pesanan pada Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan III 2009 menjadi sebesar 16,67%, di bawah angka saldo bersih perkembangan volume pesanan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 27,27%. Grafik 1.17 Perkembangan Volume Pesanan berdasarkan Persepsi Pengusaha Sumber : SKDU KBI Palembang Seiring dengan melemahnya volume pesanan, kapasitas produksi pada triwulan III juga tidak mengalami peningkatan. Peningkatan kapasitas terjadi di triwulan yang lalu sebesar 25%. Sedangkan untuk triwulan ini nilai saldo bersihnya adalah 0%. Hal ini terjadi diperkirakan karena peningkatan kapasitas produksi banyak dilakukan oleh pelaku usaha di triwulan lalu, sedangkan di triwulan ini kapasitas produksi tidak ditingkatkan lagi 22

40 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 1.5 Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun (%) * Angka Sementara ** Proyeksi Bank Indonesia Palembang Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan 1.4. Struktur Ekonomi Berdasarkan strukturnya, PDRB Sumsel masih ditopang oleh sektor primer yakni sektor pertanian serta sektor pertambangan dan penggalian dengan pangsa sebesar 43,74%. Pangsa sektor primer tersebut sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 42,83%. Peningkatan pangsa di sektor primer terutama didorong sektor pertanian dari sebesar 21,45% menjadi 22,27%. Sektor sekunder mengalami penurunan pangsa menjadi 24,85% dari triwulan sebelumnya yang sebesar 25,16%. Penurunan pangsa di sektor sekunder tersebut disebabkan oleh penurunan pangsa seluruh sub sektor komponen sektor sekunder, yakni sub sektor industri pengolahan, sub sektor LGA, dan sub sektor bangunan yang masing-masing mengalami penurunan pangsa sebesar 0,26%, 0,02% dan 0,03%. Grafik 1.18 Struktur Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah 23

41 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Tabel 1.6 Struktur Ekonomi Sektoral Propinsi Sumatera Selatan Tahun (Persen) * Angka Sementara ** Proyeksi Bank Indonesia Palembang Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Pangsa sektor tersier diperkirakan sedikit menurun dari sebesar 32,01% pada triwulan sebelumnya menjadi 31,41%. Hal tersebut disebabkan karena terjadinya penurunan pangsa dari seluruh sub sektor pada sektor ini. Dari sisi penggunaan, walaupun mengalami penurunan pangsa menjadi 69,82%, secara struktural konsumsi masih memperlihatkan peran yang dominan pada PDRB. Pada triwulan sebelumnya kontribusi komponen konsumsi tercatat sebesar 71,93%. Kontribusi konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 60,88%, mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan pangsa pada triwulan sebelumnya yang sebesar 62,73%. Sementara itu komponen eksternal yang merupakan selisih dari ekspor dan impor tercatat mengalami peningkatan menjadi sebesar 9,20% dari sebesar 8,30% pada triwulan sebelumnya. Tabel 1.7 Struktur Ekonomi Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Tahun (Persen) * Angka Sementara ** Proyeksi Bank Indonesia Palembang Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan 24

42 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional 1.5. Perkembangan Ekspor Impor Perkembangan Ekspor Nilai ekspor selama tiga bulan terakhir (Juni - Agustus 2009) tercatat sebesar USD398,92 juta, menurun sebesar 43,86% dibandingkan nilai ekspor pada periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang mencapai USD710,63 juta. Sementara itu dibanding periode triwulan sebelumnya (qtq), nilai ekspor tercatat meningkat sebesar 27,55 % dari sebesar USD312,76 juta. Berdasarkan komoditas, pangsa nilai ekspor terbesar dicatat oleh komoditas karet yakni dengan pangsa sebesar 65,53%. Tabel 1.8 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi Sumatera Selatan (USD) Sumber : DSM Bank Indonesia Nilai ekspor Sumsel tahun 2009 sampai dengan bulan Agustus 2009 (ytd) tercatat sebesar USD927,67 juta atau menurun sebesar 52,38% dibandingkan dengan posisi yang sama pada tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar USD1.948,08. Tabel 1.9 Perkembangan Bulanan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi Sumatera Selatan (Juta USD) Sumber : DSM Bank Indonesia Berdasarkan volume, ekspor pada periode (Juni - Agustus 2009) tercatat sebesar 678,56 ribu ton atau menurun sebesar 2,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 696,28 ribu ton atau meningkat sebesar 39,65% dari periode Maret - Mei 2009 (qtq) yang tercatat sebesar 485,91 ribu ton. 25

43 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sementara itu, volume ekspor Sumsel tahun 2009 sampai dengan bulan Agustus 2009 tercatat sebesar 1.532,11 ribu ton atau menurun sebesar 24,08% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 2.018,16 ribu ton. Grafik 1.19 Perkembangan Nilai Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Grafik 1.20 Perkembangan Volume Ekspor Propinsi Sumatera Selatan Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia Grafik 1.21 Perkembangan Ekspor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Tujuan Grafik 1.22 Pangsa Ekspor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Tujuan Jun 09-Agt 09 Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia 26

44 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Berdasarkan negara tujuan ekspor, negara Cina masih merupakan negara tujuan utama ekspor dengan pangsa sebesar 30,88%, diikuti oleh Amerika Serikat sebesar 12,67%, dan Malaysia dengan pangsa sebesar 5,75% Perkembangan Impor Realisasi impor periode triwulan ini tercatat sebesar USD69,61 juta, meningkat sebesar 25,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar USD55,59 juta. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya terjadi peningkatan nilai impor sebesar 21,20% dari sebesar USD57,44 juta. Peningkatan nilai impor secara triwulanan ini terkait dengan meningkatnya impor pupuk kimia dan mesin industri yang banyak digunakan dalam menunjang kegiatan sektor pertanian, sektor pertambangan, maupun industri pengolahan. Grafik 1.23 Perkembangan Nilai Impor Propinsi Sumatera Selatan Grafik 1.24 Perkembangan Volume Impor Propinsi Sumatera Selatan Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia Berdasarkan volume, impor pada periode saat ini tercatat sebesar 92,39 ribu ton atau mengalami peningkatan sebesar 42,80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 64,70 ribu ton. Apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq), volume impor tercatat mengalami peningkatan sebesar 59,19% dari sebesar 58,04 ribu ton. 27

45 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Berdasarkan negara asal, pangsa impor yang terbesar masih berasal dari negara Cina yakni sebesar 22,58%, kemudian disusul oleh negara Malaysia dengan pangsa sebesar 11,71%, dan negara Singapura dengan pangsa sebesar 4,30%. Grafik 1.25 Perkembangan Impor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Asal Grafik 1.26 Pangsa Impor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Asal Jun 09-Agt 09 Sumber : DSM Bank Indonesia Sumber : DSM Bank Indonesia 28

46 Bab 2 PERKEMBANGAN INFLASI PALEMBANG Inflasi tahunan telah menemukan titik balik, selanjutnya diperkirakan meningkat perlahan mengikuti proses pemulihan perekonomian. Lonjakan inflasi bulan September 2009 sangat tajam yang didorong oleh kenaikan konsumsi masyarakat sehubungan dengan bulan puasa dan lebaran Inflasi Tahunan Inflasi 1 tahunan kota Palembang pada triwulan III 2009 adalah sebesar 1,30% (yoy), atau menurun cukup drastis dibandingkan dengan inflasi triwulan sebelumnya yang tercatat 2,92% maupun inflasi triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 14,19%. Inflasi tahunan pada triwulan III 2009 tersebut diperkirakan telah mencapai titik terendah, untuk selanjutnya tekanan inflasi akan mengalami peningkatan seiring proses pemulihan perekonomian, ditandai dengan telah membaiknya harga komoditas internasional maupun faktor teknikal. Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Palembang Grafik 2.2 Inflasi Tahunan (yoy) Kota Palembang per Kelompok Pengeluaran Triwulan III 2009 Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Penurunan inflasi tersebut utamanya juga disebabkan oleh faktor teknikal, yakni pencapaian inflasi pada periode yang sama pada tahun lalu yang sudah tinggi. Selain itu, penurunan tersebut juga tidak terlepas dari cukupnya pasokan bahan-bahan pokok serta 1 Penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Indonesia sejak 1 Juli 2008 menggunakan tahun dasar 2007 (sebelumnya tahun dasar 2002) yang didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) Cakupan kota bertambah dari 45 kota menjadi 66 kota. Paket komoditas secara nasional naik dari 744 pada tahun 2002 menjadi 774 di tahun 2007, sementara paket komoditas untuk kota Palembang juga bertambah dari 314 komoditas menjadi 360 komoditas.

47 2. Perkembangan Inflasi Palembang penurunan pendapatan dan daya beli akibat krisiss keuangan global terutama kepada masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya pada usaha perkebunan khususnya karet dan kelapa sawit, yang kemudian memberikan efek multiplier kepada perekonomian secara luas. Sehingga dengan kondisi tersebut, bulan September diperkirakan akan menjadi titik balik, dimana padaa bulan-bulan ke depan inflasi akan berkecenderungan mengalami peningkatan. Grafik 2.3 Perkembangann Harga Komoditas Strategis (yoy) di Pasar Internasional Perkembangan Hargaa Terigu Perkembangan Harga Beras Sumber : Bloomberg, diolah Sumber : Bloomberg, diolah Perkembangan Harga Emas Perkembangan Harga Kedelai Sumber : Bloomberg, diolah Sumber : Bloomberg, diolah 30

48 2. Perkembangan Inflasi Palembang Sekalipun harga beberapa komoditas unggulan yang diekspor oleh Sumatera Selatan telah mengalami kenaikan, namun masih terdapat beberapa komoditas yang perkembangan harga secara tahunan masih mengalami penurunan. Penurunan tersebut juga menjadi salah satu faktor penekan laju inflasi. Dibandingkan dengann triwulan sebelumnya, harga beras di pasar internasional pada triwulan III 2009 mengalami peningkatan dari 490, 26 USD/metrik ton menjadi 499,71 USD/metrik ton, atau mengalami penurunan sebesar 1,93% (qtq). Sementara itu harga terigu dan hargaa kedelai masing-masing mengalami penurunan dari 5,63 USD/bushel menjadi 4,41 USD/bushel dan dari 11,24 USD/bushel menjadi 10,47 USD/bushel, atau masing-masing mengalami peningkatan sebesar 21,56% (qtq) dan 6,81% (qtq). Adapun hargaa emas mengalami peningkatan sebesar 4,19% (qtq) dari 922,26 USD/oz menjadi 960,91 USD/oz. Perkembanga an harga-harga komoditas tersebut di pasar internasional juga mempengaruhi perkembangan harga di Palembang. Berdasarkan kelompok barang, kelompok sandang mengalami inflasi tahunan tertinggi yaitu sebesar 7,55% %. Urutan kedua dan ketiga dicatat oleh barang kelompok makanan jadi serta kelompok bahan makanan yaitu masing-masing sebesar 7,13% dan 1,79% %. Sebaliknya, inflasi terendah terjadi pada kelompok bahan perumahan sebesar 0,97% %. Bahkan kelompok transportasi dan kelompok pendidikan tercatat mengalami deflasi, yakni masing-masingg sebesar 5,49% dan 0,87%. Berdasarkan hal tersebut, penurunan harga BBM yang dilakukan pada akhir 2008 secara teknikal masih memberikan efek yang cukup dominan terhadap pencapaian inflasi tahunan pada triwulan III Hal tersebut diperlihatkan oleh masih relatif rendahnya harga-harga jasa kelompok transportasi dibandingkan dengan periodee yang sama tahun lalu. Bila dibandingkan dengan triwulan II 2009, inflasi tahunan di sebagian besar kelompok mengalami penurunan. Kelompok barang yang mengalami penurunan inflasi tahunan paling dalam adalah kelompok pendidikan dari yang semula mengalami inflasi sebesar 5,61% pada triwulan II 2009 menjadi terdeflasi sebesar 0,87% pada triwulan III Hal tersebut terkait dengan adanya realisasi komitmen Pemerintah Daerah yang berimplikasi padaa penurunann biaya sekolah di Sumatera Selatan, baik untuk SD, SLTP maupun SLTA. 31

49 2. Perkembangan Inflasi Palembang Di sisi lain, dibandingkan dengann triwulan sebelumnya, kelompok sandang dan kelompokk transportasi dan telekomunikasi mengalami peningkatann inflasi, yang disebabkan oleh permintaann domestik yang mengalami peningkatann untuk kelompokk sandang, khususnya terkait perayaan Idul Fitri, dan harga BBM non subsidi yang telah sedikit meningkat sehubungan dengan meningkatnya harga minyak kembali dunia. Secara umum, inflasi tahunan berbagai kelompok barang pada triwulan III 2009 ini telah mencapai dasarnya, selanjutnyaa akan terjadi peningkatan inflasi secaraa gradual yang didorong oleh pemulihan perekonomian dan kenaikan permintaann barang dan jasa. Grafik 2.4 Perkembangan Inflasi Tahunan per Kelompok Barang dan Jasa di Palembang Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Inflasi tahunan kota Palembang hingga saat ini masih lebih fluktuatif dibandingkan nasional. Hal tersebut ditunjukkan oleh angka standar deviasi inflasi tahunan Palembang sebesar 4,64% sedangkan angka standar deviasi inflasi tahunan nasional sebesar 3,80% %. Rata-rata inflasi tahunan kota Palembang dan inflasi tahunan nasional pada periode Januari 2003 sampai dengan September 2009 masing-masing sebesar 10,03% dan 8,53% %, sehingga Kota Palembang masih memiliki kecenderungan tingkat inflasi lebih tinggi dari nasional dengan selisih rata-rata 1,51%. Inflasi tertinggi di kota Palembang selama rentang waktu Januari 2003 sampai dengan September 2009 adalah 21,81%, lebih tinggi dari nasional yang sebesar 18,38% %. Inflasi terendah di kota Palembang selama rentang waktu tersebut juga lebih rendah dari nasional, yaitu sebesar 1,06%. Dengan demikian, perubahan hargaa barang dan jasa secara umumm di kota Palembang lebih sensitif dipengaruhi oleh dinamika perekonomiann yang bersifat jangka pendek. Pada Triwulan III 2009 ini, inflasi tahunan Palembang berada jauh di bawah inflasi nasional, dimana inflasi Palembang dan nasional masing-masing sebesar 1,30% dan 2,83% (yoy). 32

50 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.5 Perbandingan Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional Tabel 2.1 Statistika Deskriptif Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional, Januari September 2009 Palembang Nasional Selisih Rata-rata Standar Deviasi Maksimum Minimum Sumber: BPS, diolah Sumber: Biro Pusat Statistik 2.2. Inflasi bulanan Kota Palembang pada bulan September 2009 tercatat mengalami inflasi secara bulanan sebesar 1,29% (mtm), mengalami peningkatan tajam dibandingkan bulan Agustus 2009 yang mengalami deflasi sebesar 0,14%. Konsumsi masyarakat mengalami peningkatan menyambut hari raya Idul Fitri, yang juga membuktikan bahwa konsumsi masyarakat yang temporer tersebut bersifat inelastis, karena terjadi disaat permintaan pada kondisi normal relatif rendah akibat pengaruh krisis Grafik 2.6 Perkembangann Inflasi Bulanann (mtm) Palembang Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan finansial global baik secara langsung maupun tidak langsung. Elastisitas permintaan yang rendah terhadap pendapatan pada bulan puasa dan Idul Fitri tersebut juga tercermin dari lebih tingginya inflasi bulan September 2009 dibandingkan inflasi bulan September 2008, yang hanyaa sebesar 1,05% (mtm). 33

51 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.7 Perkembangan Inflasi Bulanan Palembang per Kelompok Barang dan Jasa Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan Inflasi bulanan yang tertinggi pada bulan September 2009 terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi masing- masing sebesar 3,09% dan 2,03% %. Momen bulan puasa dan perayaan hari Idul Fitri menyebabkan terjadinya peningkatan harga yang tajam pada kedua jenis kelompok barang tersebut. Animo pembelian sandang yang juga terkait perayaan Idul Fitri tersebut juga menyebabkann meningkatnya harga kelompok sandang sebesar 1,28%. Peningkatan harga bulan September tahun ini secara umumm lebih tinggi dari bulan September tahun lalu. Yang sekali lagi menunjukkann konsumsi hari raya yang inelastis terhadap pendapatan dibandingkann konsumsi pada waktu- waktu yang lainnya. Kelompok transportasi juga mengalami sedikit lonjakan inflasi pada bulan September, terkait dengan permintaan transportasi yang meningkat menjelang libur Idul Fitri, serta peningkatan harga minyak yang terjadi di pasar internasional. Kelompok perumahan, kelompok kesehatan, dan kelompok pendidikan mengalami inflasi yang sangat rendah. Program rumah murah, mulai banyaknya rencana pembangunan apartemen oleh berbagai pengembang, dan kebijakan pemerintah daerah yang mengusahakan biaya kesehatan dan pendidikan menjadi lebih murah turut menjadi andil penting bagi rendahnya inflasi di sektor-sektor ini. 34

52 2. Perkembangan Inflasi Palembang Pada bulan September 2009, sub kelompok bumbu-bumbuan tercatat mengalami inflasi tertinggi di antara kelompok bahan makanan, yaitu sebesar 17,65%, disusul oleh sub kelompok bahan makanan lainnya serta sub kelompok daging dan hasil-hasilnya masing- masing sebesar 8,62% dan 5,89%. Sub kelompokk sayur-sayuran, sub kelompok ikan diawetkan, dan sub kelompok ikan segar juga mengalami inflasi yang relatif tinggi, yakni masing-masing sebesar 4,80% %, 3,99% dan 3,40%. Pada bulan September 2009 hanya satu sub kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi, yaitu sub kelompok telur, susu dan hasil-hasilnya sebesar 4,35%. Grafik 2.8 Inflasi Bulan September 2009 (mtm) per Sub Kelompok pada Kelompok Bahan Makanan di Palembang Sumber: BPS Propinsi Sumateraa Selatan Grafik 2.9 Event Analysiss Inflasi Kota Palembang September 2008 September 2009 Sumber: Diolah dari BPS Propinsi Sumatera Selatan 35

53 2. Perkembangan Inflasi Palembang Seperti biasanya, tingginya bobot kelompokk bahan makanan padaa perhitungan inflasi menyebabkan pergerakan inflasi umum secaraa bulanan mengikuti pola pergerakan hargaa kelompok bahan makanan. Secara umum inflasi kota Palembang memiliki pola pergerakan yang searah dengan inflasi nasional. Namun, data historis menunjukkan bahwa inflasi kota Palembang lebih fluktuatif dibandingkan dengan inflasi nasional. Pengaruh penurunan hargaa komoditas sekitar triwulan IV 2008 terlihat lebih sensitif menurunkan inflasi Palembang dibandingkan inflasi nasional. Sejak awal tahun 2009, Kota Palembang lebih sering mengalami deflasi bila dibandingkan dengan nasional, namun pada bulan April sampai Juni tahun 2009, Kota Palembang tercatat mengalami inflasi sedikit lebih tinggi dari nasional. Pada bulan Agustuss 2009, deflasi terjadi di Kota Palembang sehubungan dengan adanya penurunan biaya sekolah formal, dan padaa bulan September 2009, pengaruh lonjakan permintaan akibat bulan puasa dan Idul Fitri lebih sensitif mempengaruhi inflasi Kota Palembang dibandingka n nasional. Grafik 2.10 Perbandingan Inflasi Bulanan dan Ekspektasi Hargaa Konsumen 3 Bulan YAD Grafik 2.11 Perbandingan Inflasi Bulanan (mtm) Palembang dan Nasional Sumber: BPS dan Survei Konsumen BI Sumber: Badan Pusat Statistik Berdasarkan hasil survei konsumen yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia Palembang di Palembang, terdapat pergerakan yang searah dengan korelasi 0,41 antara laju inflasi bulanan atau laju inflasi bulanan pada bulan sebelumnya dengan jumlah konsumen yang memprediksikan kenaikan harga pada 3 bulan yang akan datang 36

54 2. Perkembangan Inflasi Palembang (ekspektasi hargaa t) dengan laju inflasi bulanan. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa masyarakat masih bersikap adaptif dalam pembentukann ekspektasinya. Namun, ekspektasi konsumen tiga bulan yang lalu terhadap harga saat ini (ekspektasi harga t-3) ternyata tidak signifikan dalam mempengaruhi inflasi saat ini, dengan korelasi sebesar minus 0,07. 37

55 2. Perkembangan Inflasi Palembang Suplemen 2 SELAYANG PANDANG PRODUKSI BERAS DI PROPINSI SUMATERAA SELATAN Produksi dan Konsumsi Sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, beras merupakan jenis komoditas yang kerapkali menyumbangkan nilai inflasi yang cukup besar dari tahun ke tahun. Pergerakan harga beras sedikit sajaa akan berpengaruh terhadap angka inflasi karena nilai konsumsinya yang besar. Ini merupakan hal yang wajar mengingat Indonesia saat ini masih tercatat sebagai negara pengkonsumsi beras tertinggi di dunia. Setiap tahun konsumsi beras per kapita masyarakat Indonesia mencapai 139 kg. Tingginya konsumsi beras tersebut mendorong pemerintah untuk melakukan diversifikasi konsumsi yang salah satunya dilakukan dengan rencana memperbarui Inpres perberasan yang mengarah ke diversifikasi pangan 2. Konsumsi per kapita beras seminggu adalah sebesar 1,74 kg per orang 3. Namun tren dan beberapa proyeksi mengindikasikan bahwa konsumsi per kapita beras terus menurun. Di si si lain karena perkembangan penduduk, konsumsi total tetap bergerak naik. Pada tahun 2003, FAO memproyeksikan konsumsi beras per kapita penduduk dunia sampai dengan 2030 adalah sekitar 65 kg. Penurunan konsumsi beras akan menaikkan konsumsi biji-bijian lain seperti jagung dan gandum 4. Permintaan beras dunia diproyeksikan akan tumbuh sebesar 1%, lebih rendah dari pertumbuhan era 90-an yang mencapai 1,7%. Produktivitas beras di Indonesia pada tahun 2010 diproyeksikan mencapai 3 ton per hektar sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas rata-rata dunia yang diproyeksikan mencapai 2,9 ton per hektar. Namun tingkat produktivitas beras di Indonesia tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkatt produktivitas beras di negara-negara Asia Tenggara yang diproyeksikan mencapai 3,4 ton per hektar pada tahun Apalagi jika dibandingkann dengan Australia yang tingkat produktivitasnya akan mencapai 7,1 ton per hektar 5. Di Sumatera Selatan areal sawah tercatat seluas hektar dengan jenis lahan terbesar adalah sawah lebak / polder yang mencapai 42,29% dengan luas hektar diikuti dengan sawah pasang surut yang mencapai 28,68% ( ) dari luas areal sawah. Sebagian besar lahan sawah tersebut masih ditanami untuk 1 kali panen dalam setahun, sehingga Pemrop. Sumatera Selatan saat ini sedang menggalakkan program P200 yaitu program penanaman padi 2 kali setahun. 2 / 3 Badan Pusat Statistik 4 Alias bi Abdillah, et. All, Estimate of Rice Consumption in Asian Countries and the World Towards 2050, Tottori University 5 FAO, Medium Terms Prospect For Agricultural Commodities, 38

56 2. Perkembangan Inflasi Palembang Tabel 1. Luas Areal Sawah Sumatera Selatan Tahun 2006 No. Tipologi Lahan 1. Irigasi 2. Tadah Hujan 3. Pasang Surut 4. Lebak/Polder JUMLAH 1 x Tanam (Ha) x Tanam (Ha) STD (Ha) Jumlah (Ha) % 12,71 16,32 28,68 42,29 100,00 Sumber : Dinas Pertanian Prop. Sumsel, 2008 Sentra penghasil beras di Prop. Sumatera Selatan menyebar di berbagai kabupaten. Berdasarkan dataa realisasi Januari-September 2009 dan proyeksi Oktober-Desember 2009, areal panen padi terluas di Sumatera Selatan berada di Kabupaten Banyuasinn dengan luas panenn mencapai ha atau 26,05% dari total luas tanam padi di Sumsel yang mencapai ha. Beberapa kabupaten lain juga memiliki areal panen yang cukup luas seperti Kab. OKU Timur (16,7%), Ogan Komering Ilir (15,38%), Musi Banyuasin (8,18%), dan Musi Rawas (7,96%). Grafik 1. Areal Panen Padi di Propinsi Sumatera Selatan 250, , , ,000 50,000 0 Sumber : Dinas Pertanian Prop. Sumsel Pergerakan Harga Beras Krisis ekonomi global saat ini akan menyebabkan harga komoditas pangan termasuk beras menjadi sangat fluktuatif. Apalagi stock to use beras dunia saat ini masih sangat rendah sehingga sangat sensitif terhadap perubahan hargaa 6. Namun di sisi lain, dampak krisis keuangan global akan mengakibatkan terjadinya penurunan permintaan terhadap beras 6 Hermanto Siregar, Perdagangan Beras Dunia Turun Ton, // ton 39

57 2. Perkembangan Inflasi Palembang sehingga diperkirakan perdagangan beras pada tahun 2009 akan turun menjadi 28,5 juta ton 7. Selain krisis ekonomi, isu lain yang membuat harga komoditas beras menjadi fluktuatif adalah isu lingkungan seperti pemanasan global (global warming) yang telah menyebabkan produksi turun hingga persen. Di tingkat konsumen, perkembangan harga beras sangat tergantung dari masa panen. Dari bulan Januari sampai dengann Mei 2008 harga beras rata-rata stabil yang kemudian mulai naik setelah bulan Juni atau Juli setelah masa panen dan memasuki musim kemarau. Harga beras akan cenderung turun setelah memasuki bulan Oktober atau Desember. Walaupun daerah Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah penghasil beras yang besar, namun karakteristik inflasi dari sisi komoditas beras tidak dapat terhindarkan, karena pola musiman menentukan pembentukan harga beras 8. Grafik 2. Pergerakan Harga Beras Tahun ,600 5,400 5,200 5,332 5,329 5,356 5,471 5,169 5,219 5,185 5,000 4,800 4,,909 4,915 4,918 4,953 4,896 4,600 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Sumber : BPS Sumsel, 2008 Berdasarkan dataa dari Pemprop. Sumatera Selatan, terlihat bahwa pada bulan Juli sampai dengan September harga beras cenderung naik walaupun angka produksi dan surplus beras di Prop. Sumatera Selatan menunjukkan persediaan yang cukup. Angka kebutuhan beras Prop. Sumatera Selatan pada tahun 2008 rata-rata adalah sebesar ton per bulan. Dari angkaa kebutuhan tersebut 83% ( ton) merupakan kebutuhan konsumsi masyarakat, 15% ( ton) untuk kebutuhan lainnya yang meliputi kebutuhan untuk cadangan / stok dan pakan, dan sisanya sebesar 2% (1.532 ton) untuk mencukupi kebutuhan industri pengolahan. Angka surplus menunjukkan jumlah produksi kumulatif dikurangi dengan kebutuhan beras per bulan. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran apabilaa penawaran memenuhi permintaan maka harga akan tetap dan jika penawaran melebihi permintaan makaa harga akan turun. Padaa grafik 4 terlihat bahwaa walaupun stok / surplus pada bulan Juli-Oktober tinggi tetapi harga beras cenderung naik. Sedangkan pada bulan Januari-Mei 7 Hermanto Siregar, Beras Internasional 2009 Turun Jadi 28,5 Juta Ton, ekspor-impor-fluktuatif-sensitif-produksi.htm 8 Penelitian BI Palembang dan BPS Sumsel, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi Kota Palembang,

58 2. Perkembangan Inflasi Palembang ketika produksi dan surplus rendah harga beras cenderung stabil rendah. Hal ini mengindikasikan adanya ekspektasi harga yang cenderung terjadi setiap tahun tanpa melihat besarnya stok beras yang ada. Grafik 3. Kebutuhan Beras Rata-Rata Prop. Sumsel Tahun 2008 Grafik 4. Pergerakan Produksi, Harga, dan Surplus Beras Prop. Sumatera Selatan Tahun 2008 Sumber : Sekretaris Daerah Prop. Sumsel Sumber : Sekretaris Daerah Prop. Sumsel Peningkatan Akses Permodalan Petani Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sesaat setelah panen, para petani akan segera menjual beras / padi kepadaa tengkulakk untuk membayar hutang-hutang mereka pada tengkulak yang biasanya digunakan untuk pembelian sarana produksi seperti pupuk dan pestisida. Ketergantungan kepada tengkulak terjadi karena lembaga keuangan khususnya perbankan masih enggan untuk memberikan kredit kepada petani terkait dengan berbagai permasalahan seperti identitas diri dan usaha, kendala jaminan baik ketidaktersediaan maupun legalitas agunan, serta masalah risiko usaha di bidang pertanian. Untuk menjembatani kebutuhan petani akan akses permodalan dari perbankan, pemerintah telah menetapkann 1 skim kredit program yaitu Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) yang bisa dimanfaatkan oleh para petani termasuk petani padi. KKPE merupakan kredit investasi dan atau modal kerja yang diberikan oleh bank pelaksana kepada petani/peternak melalui kelompokk tani atau koperasi. Bank pelaksanaa yang menyalurkan KKPE adalah BRI, BNI, Bank Mandiri, Bukopin, BCA, Bank Danamon, Bank Agroniaga, BII, Bank Niaga, dan beberapa BPD. Pola penyalurannya adalah executing dengan sumber dana 100% berasal dari perbankan. Maksimal kredit yang diberikan kepada petani padi dihitung berdasarkan kebutuhan kredit per ha yang ditetapkan sebesar Rp 4,985 juta. Tingkat sukuu bunga KKPE disesuaikan dengan suku bunga pasar dan untuk komoditas padi ditetapkan maksimal sebesar 6% di atas suku bunga penjaminan yang ditetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Untuk mengurangi beban bunga yang harus dibayar oleh petani, pemerintah memberikan subsidi suku bunga yang besarnya ditentukan oleh menteri teknis 41

59 2. Perkembangan Inflasi Palembang dalam hal ini Menteri Pertanian. Saat inii suku bunga yang harus dibayarkan oleh petani padi adalah sebesar 7% per tahun. Persyaratan untuk pengajuan KKPE antara lain adalah (i) petani pemilik atau petani penggarap dengan luas garapan yang dibiayai maksimal 4 ha, (ii) berumur minimal 21 tahun atau sudah menikah, (iii) merupakan anggota kelompok tani, dan (iv) bersedia mengikuti petunjuk PPL dan atau dinas terkait. Penyaluran kredit bisa disalurkan secara mandiri melalui kelompok tani maupun bekerja sama dengan mitra yang bisa berfungsi sebagai penjaminn pasar atau kredit (avalis). Skema penyaluran tersebut adalah sebagai berikut : Grafik 5. Skema Penyaluran Kredit Ketahanan Pangan dan Energi Beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian dalam penyaluran KKPE antara lain adalah sebagai berikut : 1. Penyaluran KKPE dilakukan dengann hati-hati dan tetap memperhatikan azas-azas perkreditan yang sehat (prudential banking). 2. Pencairan dana kredit harus disesuaikan dengan kebutuhan produktif petani dan dimonitoring dengan baik sehingga akan mencapai sasaran yang diharapkan. 3. Kelompok tani harus berperan aktif dalam mendorong anggotanya untuk memanfaatkan dana kredit dengan maksimal dan melakukan pembayaran angsuran sesuai dengan akad kredit yang telah disepakati. 4. Mitra usaha harus bisa menjamin kelancaran pemasaran hasil produksi dengan tingkat harga yang kompetitif dan saling menguntungkan. 5. Dinas terkaitt / PPL harus proaktif mendorong petani melakukan budidaya dengan teknik budidaya yang baik dan sesuai dengan iklim / musim tanam. 42

60 2. Perkembangan Inflasi Palembang 2.3. Pemantauann Harga oleh Bank Indonesia Palembang Dari hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan KBI Palembang secara mingguan secaraa umum dapat disimpulkan bahwa terjadi tendensi penurunan harga barang/komoditas sebesar 0,77% dibandingkan posisi triwulan sebelumnya. Seperti triwulan II 2009, tendensi perubahan harga yang rendah masih terjadi di triwulan III 2009, mengikuti masih rendahnya harga komoditas di pasar internasional dan masih cukup baiknya stok setelah panen, meskipun pada bulan September terjadi kenaikann harga cukup tajam. Secara bulanan, kecenderungan kenaikan harga komoditas hanya terjadi pada bulan September 2009 yakni untuk cabe merah, daging ayam, dan daging sapi. Pada bulan Juli dan Agustus 2009, harga-harga komoditas-komoditas tersebut cenderung tidak mengalami perubahan berarti. Grafik 2.12 Pergerakan Tingkat Harga Bulanan Sesuai SPH Sumber : SPH KBI Palembang Bila dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq), harga beras mengalami penurunan sebesar 0,17% di Pasar Cinde dan peningkatan sebesar 0,76% di Pasar Lemabang. Kemudian harga minyak goreng mengalami penurunan sebesar 2,06% di Pasar Cinde dan sebesar 3,65% di Pasar Lemabang. 43

61 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.13 Pergerakan Harga Beras di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Kg) Pasar Cinde Pasar Lemabang Sumber : SPH KBI Palembang Sumber : SPH KBI Palembang Grafik 2.14 Pergerakan Hargaa Minyak Goreng di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Kg) Pasar Cinde Pasar Lemabang Sumber : SPH KBI Palembang Sumber : SPH KBI Palembang Harga daging sapi mengalami peningkatan terus menerus pada triwulan III 2009, setelah sejak awal tahun sampai dengann akhir triwulan II 2009 tidak mengalami banyak perubahan. Harga daging sapi mengalami peningkatan secara triwulanan di Pasar Cinde dan Lemabang masing-masingg sebesar 9,77% dan 10,27%. 44

62 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.15 Pergerakan Harga Daging Sapi di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/kg) Pasar Cinde Pasar Lemabang Sumber : SPH KBI Palembang Sumber : SPH KBI Palembang Grafik 2.16 Pergerakan Harga Emas di Pasar Cinde dan Lemabang (Rupiah/Gram) Pasar Cinde Pasar Lemabang Sumber : SPH KBI Palembang Sumber : SPH KBI Palembang Hasil SPH juga menunjukkan sedikit kenaikan harga emas di Pasar Cinde dan Lemabang pada triwulan III 2009 masing-masing sebesar 0,30% dan 0,80%. Namun, kenaikan harga emas hanya terjadi padaa bulan September, setelah pada bulan Juli dan Agustus sedikit mengalami penurunan. 45

63 2. Perkembangan Inflasi Palembang Hasil SPH yang dilakukan oleh KBI Palembang secara independen di Kota Palembang menunjukkan pola pergerakan harga yang cukup konvergen dengan hasil survei inflasi yang dilakukan secara bulanan oleh BPS. Hal ini menunjukkan bahwa hasil SPH Kota Palembang dapat dijadikan sebagai salah satu petunjuk dalam memperkirakan perkembangan inflasi di kota Palembang. Grafik 2.17 Pergerakan Inflasi Bulanan dan Tingkat Harga Sesuai SPH di Kota Palembang (Sep 2008 Sep 2009) Keterangan : Data dan informasi diolah dari BPS Propinsi Sumateraa Selatan dan SPH Bank Indonesia Palembang 46

64 2. Perkembangan Inflasi Palembang Suplemen 3 KENAIKAN HARGA GULA DAN ASPEK DISTRIBUSI Gula merupakan salah satu barang kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Terdapat berbagai macam gula di Indonesia, namunn yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah gula yang berbahan dasarkan tebu, atau biasa disebut gula pasir. Pada grafik 1 dapat dilihat rantai distribusi gula di Indonesia dimana sejak November 2008 Bulog berperan didalamnya sebagai perantaraa antara produsen dan pedagang. Dengan adanya tata niaga gula ini, maka dimungkinkan gula dari produsen di Propinsi A dibeli oleh distributor di Propinsi B yang berbeda pulau dengan perantara Bulog Propinsi setempat dengann syarat minimal pembelian sebesar 100 ton. Tata niaga tersebut juga mengakibatkan harga gula saat ini ditentukan oleh harga pasar tanpaa ada intervensi dari pemerintah, dengan penetapan harga awal ditentukan oleh pihak produsen dengan mempertimbangkan harga gula di pasar internasional dan domestik. Harga jual yang ditetapkan merupakan Ex Work (EXW), yaitu harga pabrik belum termasuk biaya transportasi ke tempat pembeli. Sehingga biaya yang dikeluarkan pedagang besar meliputi biaya pembelian dan biaya transportasi. Setelah itu pedagang besar akan menjual ke pedagang kecil. Grafik 1. Rantai Distribusii Gula 47

65 2. Perkembangan Inflasi Palembang Pada saat bulan Ramadhan atau Tabel 1. bulan Agustus tahun 2009 terjadi Perkembangan Harga Gula di Berbagai Tingkat peningkatan harga gula baik di tingkat produsen maupun distributor. Pada tabel 1 dapat dilihat perkembangan harga gula di tingkat produsen, distributor, dan pengecer di Sumatera Selatan. Terdapat kenaikan yang cukup besar yaitu sekitar 20% pada produsen Grafik 2. dan pedagang besar, dan 4,39% Perkembangan Harga Gula di Pasar Internasional padaa konsumen akhir. Peningkatan ini terus terjadi di bulan September. diperkirakan Kenaikann akibat ini naiknya permintaan gula terkait dengan adanya Ramadahan dan Hari Raya Idul Fitri serta adanya peningkatan hargaa gula di pasar internasional (grafik 2). Peningkatan harga gula ini memberikan tekanan pada inflasi Kota Palembang melalui kelompok bahan makanan. 48

66 Bab 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Pertumbuhan kinerja perbankan mengalami perlambatan yang ditunjukkan oleh penurunan aset dan perhimpunan DPK. Penghimpunan DPK sedikit tertekan yang disebabkan oleh mulai terealisasinya berbagai proyek pemerintah, pembayaran ibadah haji, serta beralihnya dana masyarakat ke ORI dan instrumen yang berisiko lebih tinggi dengan memanfaatkan momentum pemulihan perekonomian global. Namun, DPK diprediksi akan mengalami peningkatan signifikan pada bulan September Kredit meningkat seiring ekspektasi pemulihan perekonomian, peningkatan harga komoditas, dan kebutuhan konsumsi masyarakat dengan peningkatan kredit tertinggi pada kredit konsumsi dan investasi. Suku bunga mulai menunjukkan tendensi penurunan salah satunya ditopang oleh kestabilan politik pasca Pemilihan Umum, baiknya kondisi makroekonomi, dan capital inflow yang memperlancar transmisi moneter Kondisi Umum Secara umum, kinerja perbankan di Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada triwulan III Grafik 3.1 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit 2009 (Agustus 2009) dari beberapa indikator Perbankan Propinsi Sumatera Selatan seperti total aset, penghimpunan dana dan penyaluran kredit/pembiayaan mengalami perlambatan yang signifikan, walaupun pada bulan September diprediksi akan terjadi kenaikan signifikan sehubungan dengan tingginya aktivitas ekonomi domestik menyambut hari raya Idul Fitri. Kenaikan tersebut diprediksi mampu membuat perkembangan kinerja perbankan secara triwulanan jauh membaik, dibandingkan perkembangan kinerja perbankan yang didasarkan data pada bulan Agustus Total aset perbankan Sumsel sedikit meningkat sebesar 1,91% dari triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (yoy), yaitu dari Rp35,64 triliun menjadi Rp36,32 triliun. Peningkatan aset perbankan secara tahunan ini terutama disebabkan meningkatnya jumlah

67 3. Perkembangan Perbankan Daerah penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Namun, secara triwulanan (qtq) total aset mengalami penurunan sebesar 2,69%. Penghimpunan DPK meningkat sebesar 7,82% (yoy) dari Rp26,54 triliun menjadi Rp28,62 triliun, namun secara triwulanan tercatat mengalami penurunan sebesar 1,95% (qtq). Peningkatan DPK terutama didominasi oleh peningkatann simpanan berjangka/deposito yang meningkat sebesar 16,54% (yoy). Penurunan DPK secara triwulanan ini sangat mungkin terjadi karena beberapa hal, seperti mulai terealisasinya berbagai proyek pemerintah, investasi di sektor riil seiring semakin cerahnya prospek bisnis ke depan, adanyaa penawarann ORI, serta investasi pada berbagai instrumen berisiko lebih tinggi yang memberikan peluang mencetak imbal hasil tinggi sejalan dengan bangkitnya kembali gairah perekonomia an nasional dan dunia. Secara nasional, ORI seri 006 yang diterbitkan mencapai Rp. 8,56 triliun. Penerbitan ORI seri 006 menggantikan seri 001 yang jatuh tempo di bulan Agustuss 2009, secara keseluruhan, dengan penggantian tersebut nilai penjualan seluruh seri ORI yang belum jatuh tempo mengalami peningkatan sebesar 16,21% (qtq). Penyaluran kredit/ pembiayaan mengalami peningkatan sebesar 12% (yoy) dari Rp21,97 triliun menjadi Rp24,60 triliun, atau meningkat sebesar 2,67% (qtq) menyusul semakin tingginya rencana produksi di negara-negaraa industri yang memberikan kejelasan bagi baiknya prospek bisnis di Sumatera Selatan. Penyaluran Kredit Mikro, Kecil, dan Menengah (MKM) secara tahunan (yoy) tercatat mengalami peningkatan sebesar 17,05% dari Rp14,30 triliun menjadi sebesar Rp16,73 triliun. Sementaraa itu, secara triwulanan (qtq), realisasi kredit MKMM mengalami peningkatan sebesar 4,47%. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi perbankan secara umum di Sumatera Selatan pada bulan Agustus Dengan perkembangan ini, maka proporsi kredit MKM terhadap total kredit perbankan mengalami peningkatan. Penurunan DPK yang dibarengi dengan peningkatan penyaluran kredit/pembiayaan telah menyebabkan peningkatan Loan to Deposit Ratio (LDR) dari 82,10% pada triwulan II 2009 menjadi 85,,97% pada triwulan III Kelembagaan Jumlah bank yang beroperasi di Propinsi Sumsel sampai dengan triwulan III 2009 berjumlah 54 bank dengann jumlah kantor bank sebanyak 468 kantor yang terdiri dari 4 Kantor 50

68 3. Perkembangan Perbankan Daerah Wilayah Bank Umum Konvensional, 1 Kantor Pusat Bank Pemerintah Daerah, 18 Kantor Pusat BPR/S, 60 Kantor Cabang Bank Umum Konvensional, 8 Kantor Cabang Bank Umumm Syariah dan 4 Kantor Cabang BPR/ /S, 281 Kantor Cabang Pembantu Bank Umum Konvensional, 27 Kantor Cabang Pembantu Bank Umum Syariah, serta 58 Kantor Kas Bank Umum, 3 Kantor Kas Bank Syariah dan 4 Kantor Kas BPR. Sementara itu jumlah Anjungann Tunai Mandiri (ATM) tercatat sebanyak 486 unit. Grafik 3.2 Jumlah Kantor Bank dan ATM di Propinsi Sumatera Selatan 3.3. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Penghimpunan DPK Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (yoy), DPK mengalami peningkatan sebesar 7,82%. Simpanan giro tercatat meningkat dari Rp5,31 triliun menjadi sebesar Rp5,45 triliun atau sebesar 2,65% %. Tabungann mengalami peningkatan sebesar 2,40% menjadi Rp11,42 triliun. Simpanan berjangka/deposito meningkat dari Rp10,07 triliun menjadi Rp11,74 triliun atau meningkat sebesar 16,54%. Secara triwulanan (qtq), penghimpunan DPK mengalami penurunan sebesar 1,95% yang dikontribusikan oleh penurunan simpanan giro dan tabungan masing-masing sebesar 4,81% dan 2,87% %. Namun di sisi lain, simpanan deposito masih mengalami peningkatan tipis sebesar 0,38% (qtq). Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK Perbankan di Propinsi Sumatera Selatan Grafik 3.4 Komposisi DPK Perbankan Triwulan III 2009 di Propinsi Sumatera Selatan 51

69 3. Perkembangan Perbankan Daerah Berdasarkan pangsa masing-masing komponen simpanan terhadap total DPK yang berhasil dihimpun, simpanan deposito masih tercatat dengan pangsa terbesar yaitu sebesar 41,03%, atau sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 40,07% %. Sementara itu simpanan tabungan dan giro masing-masing memiliki pangsa sebesar 39,92% dan 19,05% Penghimpunan DPK Menurut Kabupaten/Kota Saat ini sistem pelaporan bank yang dikelola Bank Indonesia Palembang masih mengelompokkan daerah berdasarkan 111 kabupaten/kota. Berdasarkan laju pertumbuhan secaraa tahunan (yoy), laju pertumbuhan penghimpunan DPK Lematang Ilir Ogan Tengah tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 47,54% atau dengan pangsa pertumbuhan tahunan cukup tinggi, yaitu 3,50%. Pada triwulan III 2009, Kota Palembang merupakan sumber utama pertumbuhan DPK secara tahunan dengan andil sebesar 5,39% %. Penghimpunan DPK di Kota Palembang tercatat tumbuh sebesar 7,70% dari sebesar Rp18,61 triliun menjadi sebesar Rp20,04 triliun. Sementara itu, wilayah yang paling mengalami perlambatan pertumbuhan DPK Sumatera Selatan secara tahunan adalah Lubuklinggau dengan andil sebesar minus 0,32% dan pertumbuhan sebesar minus 7,07%. Kabupaten/Kota Prabumulih Pagar Alam Lubuklinggau Baturaja Palembang Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Musi Banyuasin Musi Rawas Lematang Ilir Ogan Tengah Lahat Tabel 3.1 Pertumbuhan DPK Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 2008 III IV I 1,007,161 1,019,772 1,044, , , ,345 1,377,708 1,271,886 1,295, , , ,000 18,607,803 20,743,363 19,914, , , , , , , , , ,288 60,818 32,023 46,351 1,427,797 2,740,552 3,497, , , , II 1,064, ,412 1,335, ,261 19,994, , , ,047 47,489 2,559, ,871 III* 1,047, ,900 1,280, ,379 20,039, , , ,033 38,348 2,106, ,699 Lain halnya dengan pertumbuhan tahunan, kabupaten Lahat tercatat sebagai wilayah dengan peningkatan penghimpunan DPK terbesar secara triwulanan yakni meningkat sebesar 4,73%. Sementara itu, beberapa kota/kabupaten besar di Sumsel 52

70 3. Perkembangan Perbankan Daerah seperti Musi Rawas, Lematang Ilir Ogan Tengah, dan Pagar Alam mencatat penurunan DPK dibandingkan triwulan sebelumnya. DPK kabupaten Musi Rawas tercatat mengalami penurunan paling drastis yaitu sebesar 19,25%. Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah yang memberikan dorongann cukup besar di pertumbuhan tahunan justruu merupakan kabupaten yang paling menghambat pertumbuhan triwulanan dengan andil sebesar minus 1,30% %. Sedangkan wilayah yang berkontribusi terbesar sebagai penopang pertumbuhan triwulanan adalah Palembang dan Lahat, dengan andil masing-masing sebesar 0,16% dan 0,13% %. Berdasarkan pangsa, DPK Kota Palembang masih merupakan wilayah dengan pangsa terbesar yakni sebesar 70,03% dari total DPK Sumatera Selatan, sementara daerah yang mempunyai pangsa paling kecil adalah kabupaten Musi Rawas dengan pangsa sebesar 0,13% Penyaluran Kredit/Pembiayaan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral Laju pertumbuhan kredit/pembiayaan tercatat mengalami peningkatan sebesar 12,00% dari tahun sebelumnya (yoy) dari Rp21,,97 triliun menjadi Rp24,60 triliun. Peningkatan tertinggi terjadi pada kredit sektor pertambangan dan kredit sektor pertanian masing- masing sebesar 56,23% dan 36,82%. Tabel 3.2 Perkembangan Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan ( Rp Juta) Sektor Pertaniann Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Listrik, Gas dan Air Konstruksi Pengangkutan Jasa Dunia Usaha Jasa Sosial MLain-lain k III 2,841,815 IV 2,977,846 I 3,327,736 II 4,010,796 III* 3,888,, ,144 3,058, ,116 2,908, ,667 2,339, ,274 2,437, ,,371 2,418,,512 4,899,771 4,927,516 4,820,650 5,167,341 5,409,,504 3,741,299 3,381,526 3,402,417 3,476,588 3,519,, ,450 1,572, ,585 1,283, ,721 1,385, ,454 1,545, ,,749 1,647,, ,810 1,297, ,999 1,247, ,842 1,179, ,399 1,198, ,,227 1,256,, ,958 7,156, ,209 7,430, ,014 7,850, ,975 8,485, ,,400 8,947,,545 53

71 3. Perkembangan Perbankan Daerah Sektor yang berkontribusi terbesarr sebagai penghambat pertumbuhan kredit adalah sektor perindustrian dengan andil pertumbuhan sebesar minus 1,80%. Sedangkan secara triwulanan sektor yang berkontribusi terbesar dalam menghambat pertumbuhan kredit adalah sektor pertanian dengan andil sebesar minus 0,42%. Pertumbuhan kredit secara tahunan utamanya didorong oleh pertumbuhan kredit di sektor lain-lain dan sektor pertanian dengann andil masing-masing sebesar 7,96% dan 5,09%, dan secara triwulanan pertumbuhan kredit banyak didorong oleh sektor lain-lain dan sektor perdagangan masing- masing sebesar 1,,73% dan 0,,90%. Grafik 3.5 Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III 2009 Selain sektor lain-lain, sektor perdagangan memiliki pangsa terbesar dalam penyaluran kredit yaitu sebesar 19,24%. Urutan kedua dan ketiga ditempati oleh penyaluran kredit di sektor pertanian dan sektor jasa-jasa yaitu masing-masing 12,52%. Selain itu, penyaluran kredit di sektor perindustrian dan sektor konstruksi juga mempunyai pangsa yang cukup besar, yaitu masing-masing sebesar 8,60% dan 5,86% sebesar 13,83% dan. Ekspektasi kenaikan harga komoditas seiring dengan membaiknya optimisme perekonomian dunia dan munculnya prediksi semakin jelasnya proses pemulihan perekonomian dan produksi barang-barang industri memberikan peluang bagi perbankan untuk lebih meningkatkan kredit di sektor pertaniann dan pertambangan sebagai barang input dan energi demi kelancaran produksi Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Seluruh penyaluran kredit/pembiayaan menurut penggunaan mengalami peningkatan dibandingkan dengan periodee yang sama tahun sebelumnya (yoy). Kredit konsumsi tercatat mengalami peningkatan paling tinggi yakni sebesar 25,00% menjadi sebesar Rp8,94 triliun. Kredit investasi mencatat pertumbuhan sebesar 23,61%. Berbeda dengan komponen lainnya, kredit modal kerja mengalami penurunan sebesar 2,26%. 54

72 3. Perkembangan Perbankan Daerah Secara triwulanan (qtq), penyaluran kredit/pembiayaan untuk modal kerja tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,02%. Kredit konsumsi tercatat meningkat paling tinggi sebesar 5, 47% yang kemudian disusul oleh kredit konsumsi dengan peningkatan sebesar 3,27%. Peningkatan cukup tinggii terjadi padaa kredit konsumsi yang diyakini sangat erat kaitannya dengan dampak krisis global yang menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat dan sekaligus mendorong masyarakat untuk menambah kredit konsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan juga persiapan menyambut bulan puasa dan Idul Fitri. Grafik 3.6 Pertumbuhan Kredit Menurut Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan Grafik 3.7 Pangsa Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Propinsi Sumsel Triwulan III 2009 Dari segi komposisi, penyaluran kredit berdasarkan penggunaan masih didominasi oleh kredit modal kerja yakni sebesar 40,70%, kemudian diikuti kredit konsumsi yakni sebesar 36,35%, dan kredit investasi dengan pangsa sebesar 22,96%. Walaupun demikian, jika diperhatikan pula data triwulan sebelumnya, telah terjadi sedikit pergeseran dominasi dari kredit modal kerja kepadaa dua jenis kredit lainnya Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kabupaten Berdasarkan daerah penyaluran kredit, wilayah Baturaja dan wilayah Ogan Komering Ilir tercatat sebagai wilayah yang paling dominan mendorong penyaluran kredit/pembiayaan secaraa tahunan (yoy) yakni dengan andil pertumbuhan masing-masing sebesar 6,49% dan 6,66% %. Sementara itu, wilayah yang membatasi penyaluran kredit/pembiayaan adalah Palembang dengan andil pertumbuhan tahunan sebesar 0,54%. 55

73 3. Perkembangan Perbankan Daerah Secara triwulanan (qtq), wilayah Baturaja dan wilayah Palembang tercatat sebagai wilayah yang paling dominann mendorong penyalurann kredit/pembiayaan secara triwulanan (qtq) yakni dengan andil pertumbuhan masing-masing sebesar 0,54% dan 0,45% %. Sementara itu, kontribusi pertumbuhan terkecil disumbang oleh wilayah Pagar Alam dan Lubuklinggau dengan andil masing-masing sebesar 0, 11%. Wilayah Prabumulih Pagar Alam Lubuklinggau Baturaja Palembang Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Musi Banyuasin Musi Rawas Lematang Ilir Ogan Tengah Lahat lainnya Tabel 3.3 Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) III 869, , , ,782 13,188,073 1,144,495 1,218,853 1,818, ,916 1,203, , IV 892, , , ,732 13,015,238 1,152,827 1,211,991 1,894, ,449 1,276, , I 911, , , ,015 12,662,816 1,162,718 1,302,045 1,975, ,553 1,393, ,364 1,307 II 880, , , ,246 12,944,957 1,337,615 2,056,541 2,067, ,902 1,462, ,783 1,860 III* 909, , , ,178 13,055,086 1,386,765 2,148,742 2,153, ,940 1,499, ,573 2,620 Grafik 3.8 Komposisi Penyalurann Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III 2009 Berdasarkan Wilayah Menurut komposisinya, Wilayah Palembang tercatat mendominasi penyaluran kredit perbankan di Sumateraa Selatan, yaitu sebesar 53,07%. Kemudian disusul oleh Musi 56

74 3. Perkembangan Perbankan Daerah Banyuasin dan Ogan Komering Ilir yaitu masing-masing mempunyai pangsa sebesar 8,75% dan 8,73% Penyaluran Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Realisasi kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara tahunan (yoy) tercatat mengalami peningkatan sebesar 17,05% dari Rp14,30 triliun menjadi sebesar Rp16,73 triliun. Berdasarkan penggunaan, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh kredit konsumsi sebesar 24,65%. Kemudian diikuti oleh kredit modal kerja dan kredit investasi masing- masing sebesar 11,00% dan 4,35%. Sementara itu, secara triwulanan (qtq), realisasi kredit UMKM mengalami peningkatan sebesar 4,47% dibanding triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut dikontribusikan oleh ketiga jenis kredit menurut penggunaan. Kredit konsumsi, kredit investasi, dan kredit modal kerja mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,48%, 2,94%, dan 3,47%. Menurut pangsa penggunaan, kredit yang diberikan banyak digunakan untuk konsumsi dan modal kerja. Kredit konsumsi tercatatt sebesar Rp8,83 triliun atau dengan pangsa sebesar 52,75%, sementara kredit modal kerja tercatat sebesar Rp6,30 pangsa sebesar triliun atau dengan 37,64%. Selain itu, Grafik 3. 9 Penyaluran Kredit UMKM Perbankan Propinsi Sumatera Selatan Menurut Penggunaan kredit investasi tercatat sebesar Rp1,61 triliun atau dengan pangsa sebesar 9,61% %. Berdasarkan plafon kredit, realisasi penyaluran kredit usaha kecil masih mencatat pertumbuhan tertinggi baik secara tahunan maupun triwulanan. Secara tahunan (yoy), perkembangan realisasi penyaluran kredit usaha mikro (plafon sd. Rp50 juta), usaha kecil (plafon Rp51 juta s.d. Rp500 juta), dan usaha menengah (Rp501 juta s.d. Rp5 miliar) masing-masing tercatat sebesar 4,89%, 40,84%, dan 3,63%. Secara triwulanan (qtq), perkembangan realisasi penyaluran kredit usaha mikro, kredit usaha kecil, dan kredit usaha menengah masing-masing meningkat sebesar 0,63%, 8,44%, dan 3,28%. 57

75 3. Perkembangan Perbankan Daerah Menurut komposisinya, kredit kecil mempunyai pangsa tertinggi yaitu sebesar 41,91% dari keseluruhan kredit Mikro, Kecil, dan Menengah. Kemudian, kredit mikro dan kredit menengah masing-masing mempunyai pangsa sebesar 32,48% dan 25,61%. Berdasarkan pertumbuhannya yang masih tinggi, ke depan diprediksi pangsa penyaluran kredit kecil akan semakin besar. Grafik 3.10 Penyaluran Kredit UMKMM Menurut Plafond Kredit 3.5. Perkembangan Suku Bunga Perbankan di Sumatera Selatan Suku bunga perbankan yang terdiri dari suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman pada triwulan III 2009 tercatat mengalami pertumbuhan dengan arah yang sama, yaitu menurun. Menurunnya bunga simpanann dan suku bunga pinjaman tidak terlepas dari penurunan BI Rate secara gradual sejak Desember Perkembangan Suku Bunga Simpanan Suku bunga simpanan yang terdiri dari suku bunga simpanan yang berjangka waktu 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan, secara rata-rata mengalami penurunan bila dibandingkann dengan triwulan sebelumnya, walaupun masih pada taraf yang sangat terbatas. Grafik 3.11 Perkembangan Suku Bunga Simpanan Perbankan Sumatera Selatan Rata-rata suku bunga simpanan tercatat sebesar 8,74%, menurun apabila dibandingkan dengan tingkat suku bunga simpanan padaa triwulan sebelumnya (qtq) yang tercatat sebesar 8,89% maupun apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy), suku bunga simpanann tercatat jauh menurun dari tahun sebelumnya sebesar 12,91%. 58

76 3. Perkembangan Perbankan Daerah Bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, berdasarkan jangka waktu simpanan, jenis simpanan dengan jangka waktu 6 bulan dan 12 bulan tidak mengalami penurunan suku bunga, di saat jenis simpanan dengan jangka waktu 1 bulan, 3 bulan, dan 24 bulan mengalami penurunan. Penurunan suku bunga yang secara relatif paling drastis terjadi pada jenis simpanan dengan jangkaa waktu 3 bulan. Suku bunga simpanan yang tertinggi saat ini dicatat oleh suku bunga simpanan dengan jangka waktu 12 bulan, yakni sebesar 9,71% %. Sedangkan suku bunga simpanan yang memiliki rate paling rendah adalah dengan jangka waktu 1 bulan yakni sebesar 8,12% %. Hal ini menunjukkan adanya ekspektasi peningkatan suku bunga di masa depan, yaitu pada pertengahan tahun Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Perkembangan tingkat suku bunga pinjaman yang terdiri dari suku bunga kredit modal kerja, kredit investasi, maupun konsumsi, secaraa rata-rata mengalami peningkatan dibandingkan dengan periodee yang sama tahun sebelumnya (yoy), namun sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq). Rata-rata tingkat suku bunga pinjaman tercatat sebesar 15,41%,, menurun apabilaa dibandingkan dengann tingkat suku bunga pinjaman padaa triwulan sebelumnya (qtq) yang sebesar 15,93% namunn masih lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 14,96%. Berdasarkan penggunaan, suku bunga kredit yang tertinggi pada triwulan III 2009 adalah sukuu bunga kredit konsumsi, yaitu sebesar 15,99%. Sementara itu kredit investasi tercatat sebagai kredit dengan suku bunga terendah, yakni sebesar 14,85%. Grafik 3.12 Perkembangan Sukuu Bunga Pinjaman Perbankan Sumatera Selatan 59

77 3. Perkembangan Perbankan Daerah Perkembangan Spread Suku Bunga Grafik 3.13 Perkembangan Spread Suku Bunga Perbankan Sumatera Selatan Spread suku bunga perbankan, yaitu selisih antara suku bunga kredit dan suku bunga simpanan perbankan tercatat penurunan menjadi mengalami sedikit pada triwulan III ,67%. Hal ini mengindikasikan perbankan masih membutuhkan suku bunga yang tinggi pada suku bunga deposito untuk menjaga penghimpunan dana di perbankan tetap kompetitif Kualitas Penyaluran Kredit/Pembiayaan Tingkat Non-Performing Loan (NPL) grosss perbankan Sumatera Selatan pada triwulan III Grafik 3.14 Perkembangan NPL Perbankan Sumatera Selatan 2009 mencapai 2,81% %, meningkat dibandingkan kondisi tahun sebelumnya maupun triwulan sebelumnya. Sementara itu, NPL net (sudah memperhitungkan PPAP) pun tercatat mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat NPL net posisi triwulan III 2009 tercatat sebesar 1,00%, lebih rendah apabila dibandingkan tingkat NPL net triwulan sebelumnya. 60

78 3. Perkembangan Perbankan Daerah Dilihat dari sektor ekonominya, persentase NPL bersumber dari gross terbesar masih sektor perdagangan, hotel dan restoran yakni sebesar 38,48%,, meningkat dari triwulan sebelumnya yang mencapai 33,83%. Sektor pertaniann tercatat menyumbang NPL sebesar 15,27% dan sektor konstruksi tercatatt menyumbang NPL sebesar 17,86%. Berubahnya proporsi NPL di sektor sektor tersebut pada umumnya lebih bersifat temporer bergantungg pada faktor musiman permintaan barang dan jasaa pada masing-masing sektor. Grafik 3.15 Komposisi NPL menurut Sektor Ekonomi 3.7. Kelonggaran Tarik Dari LBU KBI Palembang diperoleh informasi bahwaa undisbursement loan (kredit yang belum ditarik oleh debitur) pada triwulan IIII 2009 tercatat sebesar Rp2,47 triliun atau 13,04% dari plafon kredit yang disetujui oleh perbankan, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,422 triliun atau 14,46%, namun menurun bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,57triliun atau 13,96%. Grafik 3.16 Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumatera Selatan 61

79 3. Perkembangan Perbankan Daerah 3.8. Risiko Likuiditas Risiko likuiditas bank umum di Propinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2009 tergolong Grafik 3.17 Perkembangan Risiko Likuiditas Perbankan Sumatera Selatan sangat likuid dengan besaran angka rasio likuiditas tersebut sebesar tercatat 121,05%. menurun Rasio jika dibandingkan dengan rasio likuiditas triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 127,91% %. Menurunnya rasio likuiditas merupakan dampak dari penurunann aktiva likuid < 1 bulan sebesar 4,56% (qtq) yang menjadi sebesar Rp30,01 triliun disertai dengan penurunan pasivaa likuid < 1 bulan sebesar 0,14% (qtq) menjadi sebesar Rp25,94 triliun Perkembangan Bank Umum Syariah Perkembangan bank umum Syariah dalam kurun satu tahun terakhir menunjukkan kinerja yang cukup baik. Total aset pada triwulan III 2009 (hingga Agustus 2009) tercatat sebesar Rp1.406,87 miliar, meningkat sebesar 36,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar Rp1.033,51 miliar. Namun demikian apabila apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) tercatat mengalami penurunan sebesar 1,13% %. Penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp913,56 miliar, meningkat cukup pesat sebesar 54,04% (yoy) atau 3,24% (qtq). Dana investasi tidak terikat mendominasi pangsa penghimpunan DPK yakni sebesar 90,33% atau sebesar Rp825,26 miliar yang terdiri dari komponen tabungan mudharabah sebesar Rp368,95 miliar (pangsa 40,39% dari total DPK) dan deposito mudharabah sebesar Rp456,32 (pangsa 49,95% dari total DPK). Berbeda dengan DPK, penyaluran pembiayaan hanya mengalami sedikit peningkatan sebesar 0,63% (yoy) atau 11,40% (qtq). Dari total penyalurann pembiayaan yang mencapai Rp953,78 miliar, piutang murabahah memiliki pangsa sebesar 59,92% dari total pembiayaan yang disalurkan. Pembiayaan mudharabah tercatat sebesar Rp232,54 62

80 3. Perkembangan Perbankan Daerah miliar atau memiliki pangsa sebesar 24,38% dan pembiayaan musyarakah tercatat sebesar Rp101,59 miliar atau memiliki pangsa sebesar 10,65% %. Sementara itu, piutang qardh dan piutang istishna pangsanya masih relatif kecil yakni masing-masing sebesar 4,84% dan 0,22% %. Tabel 3.4 Perkembangan Bank Umumm Syariah di Sumatera Selatan (Rp Juta) INDIKATOR Tw IIII Tw IV Tw I Tw II* Total Aset 1,033,505 1,157,639 1,136,5566 1,422,901 Dana Pihak Ketiga 1. Simpanan Wadiah - Giro Wadiah - Tabungan Wadiah 2. Dana Investasi tidak terikat - Tabungan Mudharabah - Deposito Mudharabah 593,064 57,580 48,7544 8, , , , , ,350 42, , , , , ,812 60,973 45,251 15, , , , ,855 61,758 42,750 19, , , ,771 Tw III* ,563 88, , Komposisi Pembiayaan 947, , , , ,775 - Piutang Murabahah 567, , , , Piutang Istishna 4,619 4,426 4,232 4, Piutang Qardh 32,108 35,172 45,696 43, Pembiayaan Mudharabah 274, , , , Pembiayaan Musyarakah 68,951 70,859 74,739 86, *) Data s.d Mei 2009 Pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang lebih kecil dibandingkan pertumbuhan penghimpunan DPK menyebabkan angkaa Finance to Deposit Ratio (FDR) meningkat dari sebesar 101,80% pada triwulan sebelumnya menjadi 104,40% Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di propinsi Sumatera Selatan secara umum menunjukkan perkembangan kinerja. Total aset Bank Perbankan mengalami peningkatan sebesar 16,40% (yoy) atau 5,81% (qtq) yang didorong oleh peningkatan DPK yang juga cukup tinggi, yakni sebesar 13,97% (yoy) atau 4,06% (qtq). 63

81 3. Perkembangan Perbankan Daerah Nilai kredit mengalami peningkatan sebesar 5,25% (qtq), namun secara tahunan masih menunjukkan penurunan sebesar 26,09% (yoy). Perubahan tersebut masih disebabkan oleh penurunan penyaluran kredit secaraa cukup drastis di awal tahun Kendati demikian, tingkat Non Performing Loan (NPL) pada BPR mengalami penurunann dari 8,13% menjadi 7,93%. Dengan perkembangan DPK dan penyaluran kredit tersebut, Loan to Deposit Ratio (LDR) pada BPR mengalami peningkatan dari 98,14% menjadi 99,27% %. Grafik 3.18 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Bank Perkreditan Rakyat di Propinsi Sumatera Selatan 64

82 3. Perkembangan Perbankan Daerah Suplemen 4 SERBA-SERBI KREDIT USAHA RAKYAT 1. Pengertian dan Tujuan Penyaluran Kredit Usaha Rakyat - Kredit Usaha Rakyat, yang selanjutnya disingkat KUR, adalah kredit/ pembiayaan kepada UMKM-K dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha produktif. - KUR adalah program yang dicanangkan oleh pemerintah namun sumber dananya berasal sepenuhnya dari dana bank. - Pemerintah memberikan penjaminan terhadap risiko KUR sebesar 70% sementara sisanya sebesar 30% ditanggung oleh bank pelaksana. Penjaminan KUR diberikan dalam rangka meningkatkan akses UMKM-ekonomi nasional - KUR disalurkan oleh 6 bank pelaksana yaitu Mandiri, BRI, BNI, Bukopin, BTN, dan Bank Syariah Mandiri pada sumber pembiayaan dalam rangka mendorong pertumbuhan (BSM) 2. Ketentuan KUR - Penyaluran KUR diatur oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 135/PMK. 05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan Kredit Usaha Rakyat yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 10/PMK.05/ Beberapa ketentuan yang dipersyaratkan oleh pemerintah dalam penyaluran KUR adalah sebagai berikut : a. UMKM-K yang dapat menerima fasilitas penjaminan adalah usaha produktif yang feasiblee namun belum bankable dengan ketentuan: 1) merupakan debitur baru yang belum pernah mendapat kredit/ pembiayaan dari perbankan yang dibuktikan dengann hasil Bank Indonesia Checking pada saat Permohonan Kredit/Pembiayaan diajukan dan/ atau belum pernah memperoleh fasilitas Kredit Program dari Pemerintah; 2) khusus untuk penutupan pembiayaan KUR antara tanggal Nota Kesepakatan Bersama (MoU) Penjaminan KUR dan sebelum addendum I (tanggal 9 Oktober 2007 s.d. 14 Mei 2008), maka fasilitass penjaminann dapat diberikan kepada debitur yang belum pernah mendapatkan pembiayaan kredit program lainnya; 3) KUR yang diperjanjikan antara Bank Pelaksana dengan UMKM-K yang bersangkutan. b. KUR disalurkan kepada UMKM-K untuk modal kerja dan investasi dengan ketentuan : 1) Untuk kredit sampai dengan Rp (lima juta rupiah), tingkat bunga kredit/margin pembiayaan yang dikenakan maksimal sebesar/setara 24% (dua puluh empat persen) efektif per tahun 65

83 3. Perkembangan Perbankan Daerah 2) Untuk kredit di atas Rp (lima juta rupiah) sampai dengan Rp (lima ratus juta rupiah), tingkat bunga kredit/margin pembiayaan yang dikenakan maksimal sebesar/setara 16% (enam belas persen) efektif per tahun. c. Bank Pelaksana memutuskan pemberian KUR berdasarkan penilaian terhadap kelayakan usaha sesuai dengann asas-asas perkreditan yang sehat, serta dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku. 3. Perkembangan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Berdasarkan data dari Kementrian Negara dan Koperasi (Kemennegkop) total plafon KUR yang telah disalurkan oleh perbankan nasional per Agustus 2009 mencapai Rp15,3 triliun. Untuk Propinsi Sumatera Selatan total penyaluran KUR mencapai Rp548,64 miliar sementara penyaluran KUR di Prop. Kep. Bangka Belitung mencapai Rp 46,99 miliar. Tingkat penyaluran KUR di Sumsel tumbuh lebih tinggi dibandingkan tingkat penyaluran KUR secaraa nasional. Dibandingkan posisi Desember 2008, tingkat penyaluran KUR secara nasional per Agustus 2009 naik 21,53% sementara penyaluran KUR di Sumsel tumbuh sebesar 42,76%. Sedangkan penyaluran KUR di Prop. Babel sampai dengan bulan Agustus 2009 tumbuh sebesar 22,41%. Meskipun perkembangan penyaluran KUR dari sis plafon menunjukkan peningkatan, namun outstanding secara nasional hanya mencapai 57% dari total plafon. Dengan perkataan lain masih terdapat kelonggaran tarik (termasuk kredit yang sudah diangsur) sebesar 43%. Kondisi tersebut juga berlaku di Propinsi Sumsel dan Propinsi Babel. Secara nasional, penyaluran KUR banyak diarahkan ke sektor perdagangan, restoran dan hotel yang mencapai 55% dari total penyaluran KUR diikuti dengan penyaluran ke sektor pertanian sebesar 27% dan sektor lain-lainn sebesar 9% %. Penyaluran KUR di Propinsi Sumatera Selatan dan Babel juga didominasi oleh sektor perdagangan, restoran, dan hotel yang mencapai 57%, diikuti sektor pertanian sebesar 35%. Penyaluran KUR ke sektor pertanian di Propinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran KUR nasional ke sektor tersebut. Penyaluran KUR ke sektor lain seperti sektor lain-lain dan asa-jasa dunia usaha juga cukup besar masing-masing mencapai 4% dan 3% %. Tingkat kredit bermasalah KUR secara nasional perlu mendapatkan perhatian karena telah mencapai 5,,82%, meningkat tajam jika dibandingkan dengan tingkat NPL pada bulan Desember 2008 yang hanya 0,19%. 66

84 3. Perkembangan Perbankan Daerah 4. Kendala Penyaluran KUR Dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai kendala yang timbul dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat. Berbagai kendala tersebut antara lain adalah sebagai berikut : 1. Adanya persepsi yang keliru di masyarakat bahwa KUR merupakan kredit yang dijamin sepenuhnya oleh pemerintah, bahkan banyak masyarakat yang berpendapat bahwa KUR merupakan bantuan dari pemerintah. Dalam kenyataannya KUR merupakan kredit yang sumber dananya sepenuhya berasal dari bank. Karena persepsi yang keliru tersebut, banyak debitur tidak memenuhi kewajiban membayar angsuran sampai dengan lunas sehingga menimbulkan kredit macet yang cukup tinggi. 2. Banyak masyarakat menganggap bahwa penyaluran KUR tanpa agunan selalu sebesar Rp5 juta rupiah. Padahal penyaluran KUR harus disesuaikan dengan kemampuan usaha agar debitur tidak terbebani dalam membayar angsuran. 3. Sesuai dengan ketentuan dari pemerintah yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangann No. 10 tahun 2009, KUR hanya bisa diberikan kepada calon debitur yang belum pernah mendapatkan kredit / pembiayaan dari perbankan yang dibuktikan dengan BI Checking. Dalam kenyataannya banyak calon debitur yang telah mendapatkan kredit / pembiayaan dari perbankan sehingga tidak bisa lagi dibiayai dengan fasilitas KUR. 4. Banyak calon debitur yang tidak bisa memenuhi persyaratan dari bank seperti identitas diri yang tidak lengkap maupun kondisi usaha yang belum layak untuk mendapatkan kredit. 5. Untuk beberapa bank, penyalurann KUR terkendala karena keterbatasan bank untuk menjangkau lokasi calon debitur yang relatif jauh sehingga penyebaran KUR masih belum merata dan terfokus di kota besar. 67

85 3. Perkembangan Perbankan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 68

86 Bab 4 PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH Realisasi belanja APBD hingga Oktober 2009 mencapai 43,68%, berpeluang sangat signifikan menjadi sumber pendorong pertumbuhan pada triwulan IV mendatang. Menurunnya pendapatan masyarakat dan perusahaan akibat dampak krisis di awal tahun telah menyebabkan rendahnya realisasi Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Realisasi APBD Berdasarkan laporan realisasi anggaran Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan per Oktober 2009, realisasi pendapatan mencapai Rp1.769,91 miliar, atau 65,83% dari anggaran perubahan tahun 2009 yang sebesar Rp2.617,01 miliar, sedangkan realisasi belanja hanya mencapai Rp1.287,33 miliar, atau 43,68% dari anggaran perubahan tahun 2009 yang sebesar Rp2.718,47 miliar. Angka realisasi belanja APBD tersebut terlihat belum cukup optimal, terpaut cukup jauh dibandingkan realisasi pada tahun Namun walaupun demikian, tercatat mengalami akselerasi peningkatan yang cukup tajam apabila dibandingkan dengan realisasi pada triwulan II 2009 yang hanya mencapai 18,11%. Tabel 4.1 APBD Sumsel Tahun 2008 & Tahun 2009 (Rp Miliar) TA TA Anggaran 2008 Realisasi % Anggaran 2009 Realisasi Juni 2009 % Anggaran Perubahan 2009 Realisasi Oktober 2009 % Penerimaan 2, , , , , , PAD 1, , , , Dana Perimbangan 1, , , , Lain-lain Belanja 2, , , , , Pembiayaan Surplus/Defisit Sumber : Biro Keuangan Propinsi Sumatera Selatan, diolah Sampai dengan bulan Oktober 2009, realisasi penerimaan secara nominal lebih tinggi dibandingkan realisasi pengeluaran. Bahkan realisasi belanja masih lebih rendah dibandingkan dengan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

87 4. Perkembangan Keuangan Daerah Pada sisi pendapatan, realisasi paling baik dicapai oleh komponen Lain-lain Pendapatan yang Sah, yaitu sebesar 81,67%. Namun demikian, pos tersebut secara keseluruhan hanya memberi pangsa sebesar 0,35% dari total pendapatan. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tercatat sebesar Rp807,84 miliar atau mencapai 68,82% dari target anggaran. Sementara itu realisasi dana perimbangan yang memegang peranan penting pada sisi pendapatan APBD, mengingat proporsinya pada pendapatan yang mencapai 56,00% tercatat baru terealisasi sebesar 63,39%. Pada dana perimbangan, realisasi paling tinggi dicatatkan oleh Dana Alokasi Umum (DAU) yang mencapai 83,33%. Sementara itu Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak tercatat terealisasi sebesar 53,25% atau mencapai Rp531,58 miliar. Rendahnya realisasi Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak telah diperkirakan pada triwulan sebelumnya mengingat kondisi perekonomian secara umum pada awal tahun yang terpengaruh krisis finansial global telah menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat dan laba perusahaansehingga sangat berpotensi untuk menghambat laju realisasi pendapatan dari pos tersebut. Grafik 4.1 Perbandingan Komponen Sisi Penerimaan APBD Sumsel 2009 (dalam Rp Miliar) Grafik 4.2 Perbandingan Komponen Sisi Pengeluaran APBD Sumsel (dalam Rp Miliar) Komponen PAD yang mencatat realisasi paling besar secara nominal adalah Pajak Daerah yaitu sebesar Rp695,85 miliar, dengan persentase realisasi sebesar 67,22% dari yang dianggarkan. Persentase realisasi terbaik pada pos PAD dicapai oleh Lain-lain PAD yang sah yakni sebesar 89,54%. 70

88 4. Perkembangan Keuangan Daerah Tabel 4.2 APBD 2009 dan Realisasi APBD 2009 per Oktober 2009 Sumber: Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan Pada sisi belanja, realisasi belanja tidak langsung lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja langsung. Realisasi belanja tidak langsung sampai periode laporan adalah sebesar Rp724,32 miliar atau mencapai 55,20% dari yang dianggarkan, sedangkan realisasi belanja langsung adalah sebesar Rp563,02 miliar atau 34,43% dari anggaran. Pada belanja langsung, realisasi pos belanja barang dan jasa baru mencapai 45,74%, namun angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan pos belanja lain pada belanja langsung. Realisasi belanja pegawai pada belanja langsung adalah 33,70%, sedangkan realisasi belanja modal pada belanja langsung menempati urutan terakhir, dengan realisasi sebesar 28,04% dari yang anggaran. Pada pos belanja tidak langsung, persentase realisasi belanja hibah tercatat paling tinggi yakni sebesar 83,37% dengan nominal sebesar Rp38,35 miliar. Sementara itu, pos yang menempati posisi kedua dan sekaligus yang tercatat sebagai pos dengan nominal realisasi tertinggi pada kelompok belanja langsung adalah belanja pegawai dengan realisasi sebesar Rp351,11 miliar atau dengan pangsa sebesar 74,20%. 71

89 4. Perkembangan Keuangan Daerah 4.2. Potensi Realisasi APBD pada Akhir Tahun 2009 Cukup rendahnya realisasi APBD sampai dengan bulan Oktober 2009 menyebabkan akan adanya potensi realisasi pemerintah yang tinggi pada triwulan IV Dengan kata lain, kondisi fiskal sampai dengan akhir tahun diprediksi semakin ekspansif, mengingat realisasi belanja pemerintah yang baru mencapai kisaran 40% dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai 82,91%. Tabel 4.3 Potensi Realisasi Fiskal Semester II 2009 Sumber: Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan Bila diasumsikan realisasi APBD sampai dengan akhir tahun 2009 terealisasi 100% maka potensi pendapatan pada triwulan IV dapat mencapai Rp918,89 miliar, sementara sama dengan realisasi pada tahun sebelumnya, maka realisasi pendapatan pada triwulan IV diperkirakan sebesar Rp779,07 miliar. Di sisi lain, belanja pemerintah akan meningkat tajam dalam kisaran Rp1.156,43 miliar. Potensi realisasi PAD akan mencapai Rp365,93 miliar, dengan penyumbang utamanya dari pajak daerah, sedangkan potensi realisasi Dana Perimbangan mencapai 72

90 4. Perkembangan Keuangan Daerah Rp551,23 miliar, dengan penyumbang terbesar Bagi Hasil Pajak/Non Pajak. Namun, mengingat terjadinya krisis finansial global yang berpengaruh terhadap perekonomian Sumatera Selatan tahun lalu, terdapat potensi bahwa realisasi Bagi Hasil Pajak/Non Pajak akan sedikit lebih rendah dari yang telah dianggarkan. Potensi realisasi Belanja Tidak Langsung adalah sebesar Rp587,76 miliar, yang utamanya disumbang oleh Belanja Bagi Hasil sebesar Rp306,37 miliar dan Belanja Pegawai sebesar Rp122,06 miliar. Walaupun tidak secara langsung memberikan stimulus pada perekonomian, namun pada akhirnya belanja tidak langsung berpengaruh kepada perekonomian Sumatera Selatan antara lain melalui pendapatan PNS, dan lain-lain. Pembayaran dan tender atas proyek-proyek pemerintah diperkirakan akan meningkat tajam pada triwulan IV 2009, dengan potensi realisasi belanja langsung, khususnya belanja barang dan jasa serta belanja modal yang meningkat sangat tajam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Secara nominal, potensi realisasi belanja langsung mencapai Rp1.072,39 miliar, dengan proporsi terbesar ditempati oleh belanja modal yang sebesar Rp506,28 miliar. 73

91 4. Perkembangan Keuangan Daerah Suplemen 5 RINGKASAN LAPORAN QUICK SURVEY: FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT REALISASI BELANJA DAERAH I. Tujuan Mengetahui pengelolaan keuangan pemerintah daerah dalam rangka mendukung perumusan kebijakan moneter dan perbankan Bank Indonesia. II. Profil Responden Responden Quick Survey ini diambil dari 11 kotamadya/kabupaten di 10 propinsi di Pulau Sumatera. Jumlah total responden Pengelola dan Pelaksana APBD adalah 42 responden dan setiap kotamadya/kabupaten terdiri dari 2 sampai dengan 7 responden. Sedangkan total responden perbankan daerah sebanyak 9 responden di 8 propinsi di Pulau Sumatera. III. Realisasi Belanja III.1 Penerimaan Daerah Proporsi Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi pengelola APBD yang membawahi kota/kabupaten dan propinsi masih belum cukup besar dari total penerimaan daerah. Dari hasil survey, sebagian besar atau 73% responden menyatakan bahwa komponen penerimaan daerah terbesar berasal dari Dana Perimbangan, sedangkan responden menyatakan bahwa penerimaan daerah terbesar berasal dari PAD adalah sebesar 27%. III.2 Realisasi Belanja Pemerintah Daerah Berdasarkan pengamatan dalam 2 tahun terakhir presentase realisasi belanja pemerintah daerah sampai dengan akhir tahun, sebagian besar pengelola dan pelaksana APBD mengungkapkan telah maksimal jika dibandingkan alokasi anggaran yang tersedia. Tabel 1. Pendapat Responden Mengenai Realisasi Belanja Daerah (%) Apakah Belanja Daerah Sudah Maksimal? Ya Tidak Pengelola APBD Pelaksana APBD Dari total responden pengelola dan pelaksana APBD, sebanyak 71,43% menyatakan telah maksimal dalam merealisasikan belanja daerah sampai akhir tahun, dan sebanyak 28,57% menyatakan tidak maksimal. 74

92 4. Perkembangan Keuangan Daerah III.3 Aspek yang Menjadi Kendala Realisasi Belanja Pemerintah Daerah Ada beberapa aspek yang dianggap sebagai kendala yang mengakibatkan rendahnya realisasi belanja pemerintah daerah. Jika dilihat dari grafik di atas, mayoritas pengelola dan pelaksana APBD yaitu sebanyak 37,5% menganggap aspek administrasi merupakan kendala dalam realisasi belanja pemerintah daerah. Aspek legal dan makro ekonomi dipilih oleh pengelola dan pelaksana APBD masing-masing sebanyak 25%. Sedangkan aspek politik dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap realiasi belanja daerah, karena hanya sebanyak 12,5% dan pelaksana APBD yang menganggap aspek tersebut sebagai suatu kendala dalam realisasi belanja daerah. Grafik 1. Aspek Penyebab Minimnya Realisasi Belanja Daerah a. Aspek Hukum Sebagian besar atau sebanyak 31% pengelola dan pelaksana APBD menyatakan bahwa peraturan yang sering berubah merupakan kendala dari aspek legal yang mengakibatkan rendahnya realisasi belanja daerah. Selain itu kendala yang berasal dari peraturan yang tumpang tindih juga dianggap sebagai kendala yang cukup mengakibatkan rendahnya realisasi. Kendala lain yang diungkapkan oleh pengelola dan pelaksana sebagai selain 4 (empat) hal tersebut di atas adalah mengenai proses pelelangan. Grafik 2. Penyebab Minimnya Realisasi Belanja Daerah dari Aspek Hukum 3% 31% 21% 21% 24% Peraturan Terlalu Banyak Peraturan Tumpah Tindih Peraturan Multi Tafsir Peraturan Sering Berubah Kendala Legal Lainnya b. Aspek Administrasi Jika dilihat dari aspek administrasi, pengelola dan pelaksana APBD sebagian besar mengungkapkan permasalahan terbatasnya SDM yang bersertifikasi pengadaan barang dan jasa sebagai kendala yang mengakibatkan rendahnya realisasi belanja daerah. Di samping kendala yang tersebut di atas, terdapat kendala lain seperti masalah pelaporan, proses penyusunan DPA oleh SKPD yang waktunya lama, DIPA baru siap ditandatangani akhir Maret, masalah proses pengadaan, dan kondisi geografis wilayah. 75

93 4. Perkembangan Keuangan Daerah Grafik 3. Penyebab Minimnya Realisasi Belanja Daerah dari Aspek Administrasi 13% 13% 9% Penyusunan Anggaran oleh SKPD yang Panjang 19% Pengajuan RAPBD Melewati Batas Waktu 20% 15% 11% Pengesahan RABPD Melewati Batas Waktu SDM yang Bersertifikasi Pengadaan Terbatas SDM yang Berminat sbg Anggota Tim Lelang Terbatas Terdapat Restrukturisasi Organisasi Kendala Administrasi Lainnya c. Aspek Makro Ekonomi Aspek makro ekonomi yang dianggap paling berpengaruh terhadap realisasi belanja daerah adalah inflasi dan harga BBM. Laju inflasi yang melonjak atau sulit diprediksi dan perubahan harga BBM oleh pemerintah dipilih oleh masing-masing 39% pengelola dan pelaksana APBD sebagai kendala dari aspek makro ekonomi. Sedangkan suku bunga yang cenderung meningkat tidak dianggap sebagai kendala dalam realisasi belanja daerah. 0% Grafik 4. Penyebab Minimnya Realisasi Belanja Daerah dari Aspek Makro Ekonomi 0% Kurs yang Bergejolak 39% 22% Inflasi yang Melonjak 39% Suku Bunga yang Meningkat Perubahan Harga BBM Kendala Makroekonomi Lainnya d. Aspek Politik Berdasarkan aspek politik, sebagian besar atau sebanyak 58% pengelola dan pelaksana APBD menyatakan bahwa agenda politik yang padat (seperti Pilkada dan Pilegda) sebagai kendala dalam realisasi belanja daerah. 8% Grafik 5. Penyebab Minimnya Realisasi Belanja Daerah dari Aspek Politik 25% 8% 59% Agenda Politik Daerah yang Padat Hubungan Eksekutif & Legislatif Kurang Harmonis Hubungan antar SKPD Kurang Harmonis Kendala Politik Lainnya 76

94 4. Perkembangan Keuangan Daerah III.4 Tingkat Realisasi Anggaran Belanja Tertinggi Berdasarkan pengamatan dalam 2 tahun terakhir oleh pengelola APBD, pos yang memiliki nilai nominal anggaran terbesar adalah administrasi umum. Sebanyak 53% pengelola APBD memilih pos adminstrasi umum sebagai pos dengan nilai nominal anggaran terbesar. Berbeda dengan pengelola APBD, pengamatan dalam 2 tahun terakhir oleh pelaksana APBD sebagian besar atau 81% pengelola APBD memilih belanja modal/pembangunan (belanja langsung investasi/menambah aktiva) sebagai pos yang memiliki nilai nominal anggaran terbesar. Tabel 2. Pendapat Responden Mengenai Anggaran Belanja Terbesar & Tingkat Realisasi Belanja Tertinggi (%) Pos Belanja dengan Anggaran Terbesar Pos Belanja dengan Tingkat Realisasi Tertinggi Administrasi Umum Operasi & Pemeliharaan Modal/ Pembangunan Administrasi Umum Operasi & Pemeliharaan Modal/ Pembangunan Pengelola APBD Pelaksana APBD IV. Infrastruktur Stimulus Fiskal Dalam rangka meredam dampak krisis global, Pemerintah Pusat mengambil langkah penyesuaian darurat di bidang fiskal atau yang dikenal dengan Program Stimulus Fiskal APBNP Untuk mencapai target yang lebih khusus yaitu menciptakan kesempatan kerja dan penanggulangan dampak PHK, langkah darurat difokuskan pada stimulus belanja negara untuk pembangunan infrastruktur padat karya di seluruh Indonesia dengan anggaran sebesar Rp12,2 triliun yang tersebar ke 12 Kementerian Negara/Lembaga (K/L). 5 KL penerima anggaran terbesar yaitu: Dep. PU (Rp6,6 triliun), Dep. Perhubungan (Rp2,2 triliun), Dep. Pertanian (Rp650 miliar), Dep, ESDM (Rp500 miliar), Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Rp400 miliar). Berikut ini adalah hasil survey mengenai program stimulus fiskal pada responden yang merupakan pengelola dan pelaksana APBD di Pemerintah Tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kotamadya di Pulau Sumatera: IV.1 Proyek Infrastruktur Stimulus Fiskal Sebagian besar atau sekitar 66% pengelola dan pelaksana APBD tidak mengetahui proyek infrastruktur stimulus fiskal di instansinya. Grafik 6. Pengetahuan Responden Terhadap Adanya Proyek Infrastruktur Stimulus Fiskal Proyek Infrastruktur Stimulus Fiskal 66% 34% Mengetahui Tidak Mengetahui 77

95 4. Perkembangan Keuangan Daerah Pengelola dan pelaksana APBD yang mengetahui adanya proyek infrastruktur stimulus fiskal di instansinya memperkirakan pada triwulan III 2009 akan terealisasi sekitar 60%-75%, dan di akhir tahun belanja stimulus fiskal tersebut akan terealisasi semuanya. Tabel 3. Pendapat Responden yang Mengetahui Adanya Proyek Infrastruktur Stimulus Fiskal Terhadap Pencapaian Realisasi Belanja Stimulus Fiskal Semester I-2009 Sep-09 Dec-09 Pengelola APBD Pelaksana APBD (%) IV.2 Efektivitas Proyek Infrastruktur Stimulus Fiskal Pengelola dan pelaksana APBD menilai proyek infrastruktur stimulus fiskal cukup efektif dalam mengatasi dampak krisis (menciptakan kesempatan kerja atau mengurangi PHK). Grafik 7. Pendapat Responden Terhadap Efektivitas Stimulus Fiskal dalam Mengatasi Dampak Krisis Sebagian besar (sebanyak 83%) pengelola dan pelaksana APBD menilai tidak terdapat kendala operasional dalam mengimplementasikan proyek infrastruktur stimulus fiskal APBN Grafik 8. Pendapat Responden Terhadap Adanya Kendala Operasional dalam Implementasi Proyek Infrastruktur Stimulus Fiskal Pengelola dan pelaksana APBD yang menilai terdapat kendala operasional dalam mengimplementasikan proyek infrastruktur stimulus fiskal APBN 2009 berpendapat bahwa kendala-kendala tersebut adalah mengenai proses pembebasan lahan yang berbelit-belit dan kendala lainnya seperti pengesahan anggaran yang terlambat. 78

96 4. Perkembangan Keuangan Daerah Grafik 9. Permasalahan/Kendala Operasional dalam Implementasi Proyek Infrastruktur Stimulus Fiskal 50% 50% Lokasi yang berubah Petunjuk Teknis Tidak Jelas Proses Pembebasan Tanah Berbelit Proses Tender Memakan Waktu Kendala lainnya V. Kelebihan Dana Dalam pengelolaan keuangan daerah, sebanyak 50% pengelola APBD menyatakan terdapat arus masuk penerimaaan daerah yang belum sempat dialokasikan/digunakan untuk belanja (kelebihan dana) pada semester I Grafik 10. Pendapat Responden Tentang Pertanyaan Adanya Penerimaan Daerah yang Belum Digunakan? Sebagian besar (sebanyak 33%) responden menyatakan bahwa penyebab timbulnya kelebihan dana tersebut adalah belanja administrasi yang belum terealisasi. Grafik 11. Penyebab Timbulnya Kelebihan Dana 7% 20% 13% 27% 33% Pola Transfer Dana Pusat & Belanja Tidak Sinkron Belanja Administrasi Belum Terealisir Belanja Operasi Belum Terealisir Belanja Modal Belum Terealisir Penyebab Kelebihan Dana Lainnya 79

97 4. Perkembangan Keuangan Daerah Sebagian besar atau sebanyak 75% pengelola dana/keuangan daerah, menempatkan kelebihan dana yang ada pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebagai upaya pemanfaatan kelebihan dana pemerintah daerah. Grafik 12. Penempatan Kelebihan Dana Pemerintah Daerah 25% 0% 75% BPD Selain BPD Dalam menempatkan kelebihan dana pemerintah daerah, pihak pengelola sangat memperhatikan masalah kepemilikan bank rekanan. Mayoritas responden (44%) lebih menyukai untuk menempatkan dananya di bank milik pemda. Sementara itu, sebanyak 19% responden lebih menyukai untuk menempatkan kelebihan dana pada bank yang memberikan keuntungan yang paling tinggi. Grafik 13. Kriteria Bank yang Dijadikan Tempat Penyimpanan Kelebihan Dana Pemerintah Daerah 12% 12% 13% Milik Pemda 44% Memberikan Keuntungan Tertinggi Memiliki Reputasi Nasional 19% Memiliki Jaringan Kantor yang Luas Kriteria Lainnya 80

98 Bab 5 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Perkembangan sistem pembayaran dari sisi aktivitas tunai menunjukkan adanya peningkatan. Namun walaupun demikian, secara net telah terjadi penurunan netoutflow pada kegiatan perkasan selama triwulan III Membaiknya harga komoditas primer pada bulan September cukup mendongkrak perekonomian yang berimbas pada meningkatnya transaksi keuangan tunai di tingkat petani Perkembangan Kliring dan Real Time Gross Settlement (RTGS) Perputaran kliring di Sumsel pada triwulan III 2009 menunjukkan sedikit penurunan dari segi jumlah warkat maupun nominal dibandingkan triwulan sebelumnya, begitupun apabila dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya masih tercatat lebih tinggi. Jumlah warkat yang dikliringkan tercatat sebanyak lembar dengan nominal sebesar Rp5,76 triliun. Volume warkat secara tahunan (yoy) menurun sebesar 11,72%, sedangkan secara nominal tercatat menurun sebesar 19,53% (yoy) dari sebesar Rp7,16 triliun. Grafik 5.1 Perkembangan Kliring Sumsel Perkembangan nilai Real Time Gross Settlement (RTGS) secara net menunjukkan penurunan secara tahunan maupun triwulanan. Nilai net RTGS tercatat sebesar Rp4,49 triliun atau menurun sebesar 22,24% secara tahunan (yoy) dan menurun sebesar 14,99% secara triwulanan (qtq). Sementara itu volume net RTGS tercatat mengalami peningkatan baik secara tahunan maupun triwulanan.

99 5. Perkembangan Sistem Pembayaran Grafik 5.2 Perkembangan RTGS Sumsel Membaiknya kondisi perekonomian secara triwulanan pada triwulan III 2009 teridentifikasi dari meningkatnya volume RTGS secara net dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu perputaran kliring dan nilai RTGS secara net yang dapat dijadikan indikator perekonomian dari transaksi ekonomi yang bersifat non tunai tercatat mengalami penurunan dibandingkan kondisi pada triwulan sebelumnya. Secara triwulanan (qtq) terjadi sedikit penurunan volume warkat kliring sebesar 5,45% dari sebanyak lembar dan berdasarkan nominal menurun sebesar 2,89% dari sebesar Rp5,93 triliun menjadi Rp5,76 triliun. Perkembangan RTGS secara net dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq) tercatat mengalami penurunan sebesar 14,99% dari sisi nilai, namun mengalami peningkatan sebesar 11,22% dari sisi volume. Menurunnya kegiatan kliring dan RTGS secara umum dibandingkan triwulan sebelumnya salah satunya diperkirakan sebagai akibat dari penurunan jumlah hari kerja. Jumlah hari kerja pada triwulan ini tercatat sebanyak 59 hari, lebih sedikit dibandingkan hari kerja pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 62 hari. Namun walaupun demikian, apabila dibandingkan dengan kondisi perkasan (aktivitas tunai) yang mengalami peningkatan, dapat diinterpretasikan bahwa transaksi tunai cukup berperan penting dalam membaiknya aktivitas perekonomian di wilayah Sumsel pada triwulan III Tingginya transaksi tunai sangat dimungkinkan terjadi ketika dunia usaha bertransaksi dengan pelaku ekonomi di pedesaan yang kurang memanfaatkan jasa perbankan. Sebagai salah satu indikasinya adalah menurunnya Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan, khususnya simpanan giro. 82

100 5. Perkembangan Sistem Pembayaran Grafik 5.3 Perkembangan Perputaran Kliring dan Hari Kerja Rp Triliun III IV I II III Hari Nominal Hari Kerja Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah terjadinya penurunan aktivitas pembayaran non tunai ternyata diiringi dengan peningkatan peredaran cek dan bilyet giro kosong. Perkembangan cek dan bilyet giro (BG) kosong mengalami peningkatan baik dari jumlah warkat maupun nominal. Cek dan bilyet giro (BG) kosong yang dikliringkan tercatat sebanyak lembar dengan nominal sebesar Rp83,68 miliar. Jumlah warkat cek/bg kosong tercatat meningkat sebesar 11,75% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) yakni dari sebanyak lembar, sedangkan dari sisi nominal tercatat meningkat sebesar 19,41% dari sebesar Rp70,08 miliar. Namun walaupun demikian, nominal cek/bg kosong tercatat mengalami penurunan dibandingkan kondisi pada tahun sebelumnya (yoy) yakni mengalami penurunan sebesar 0,83%. Sementara itu jumlah warkat tercatat mengalami peningkatan sebesar 11,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Tabel 5.1 Perputaran Cek dan Bilyet Giro Kosong Propinsi Sumatera Selatan Keterangan III IV I II III 1. Lembar Warkat 2,707 2,803 2,468 2,707 3, Nominal (Miliar Rp)

101 5. Perkembangan Sistem Pembayaran Grafik 5.4 Perkembangan Bulanan Jumlah Perputaran Kliring Sumsel Grafik 5.5 Perkembangan Jumlah Cek dan Bilyet Giro Kosong Sumsel Secara bulanan, aktivitas kliring yang paling tinggi selama triwulan III 2009 terjadi pada bulan Juli dengan jumlah warkat sebanyak lembar dengan nominal sebesar Rp2,02 triliun. Perputaran kliring terus mengalami penurunan dimana pada bulan Agustus tercatat sebanyak lembar dengan nilai sebesar Rp1,94 triliun, kemudian pada bulan September menurun lagi menjadi sebanyak lembar dengan nilai sebesar Rp1,80 triliun. Sementara itu, perkembangan bulanan cek dan bilyet giro kosong menunjukkan aktivitas perputaran warkat paling tinggi terjadi pada bulan September yakni sebanyak lembar senilai Rp30,83 miliar Perkembangan Perkasan Kegiatan perkasan di KBI Palembang pada triwulan III 2009 mencatat inflow sebesar Rp1,57 triliun, menurun sebesar 0,20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar Rp1,58 triliun. Apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq), menunjukkan peningkatan sebesar 36,71% dari sebesar Rp1,15 triliun. Pada periode yang sama, outflow tercatat sebesar Rp2,34 triliun, meningkat sebesar 7,61% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) dan tercatat mengalami peningkatan sebesar 17,04% apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq). 84

102 5. Perkembangan Sistem Pembayaran Dengan membandingkan angka inflow dan outflow maka diperoleh net-outflow selama triwulan III 2009 sebesar Rp0,77 triliun, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat mengalami net-outflow sebesar Rp0,60 triliun. Net-outflow yang terjadi pada triwulan ini sedikit mengalami penurunan dibandingkan kondisi triwulan sebelumnya yang mengalami net-outflow sebesar Rp0,85 triliun. Kondisi tersebut diperkirakan sangat dipengaruhi oleh peningkatan inflow yang cukup besar, dengan besaran peningkatan dua kali lipat lebih besar dibanding peningkatan outflow. Keterangan Tabel 5.2 Kegiatan Perkasan di Sumsel (Rp Miliar) III IV I II III Inflow 1, , , , , Outflow 2, , , , , Net Inflow (Net Outflow) Grafik 5.6 Terjadinya ouflow pada Perkembangan Kegiatan Perkasan Sumsel triwulan III 2009 dapat dijadikan salah satu indikator terus membaiknya aktivitas perekonomian dimana pada triwulan sebelumnya mengalami titik balik perbaikan ekonomi setelah pada triwulan IV 2008 dan triwulan I 2009 masih terkena imbas dari melemahnya kondisi perekonomian regional, baik dari sisi kondisi usaha maupun konsumsi masyarakat. Secara bulanan, net-outflow yang paling tinggi terjadi pada bulan September seiring dengan berada pada titik tertingginya harga komoditas karet (merupakan komoditas unggulan Sumsel) di pasar internasional yang mencapai USD 218,53 cent/kg. Harga karet tersebut merupakan yang paling tinggi sejak bulan November

103 5. Perkembangan Sistem Pembayaran Grafik 5.7 Melalui kegiatan perkasan, Perkembangan Penarikan Uang Lusuh oleh KBI Palembang dilakukan pula penarikan uang lusuh di KBI Palembang sebagai wujud dari clean money policy Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam kondisi layak edar. Secara triwulanan (qtq), uang lusuh yang ditarik tercatat meningkat sebesar 526,80%. Sedangkan secara tahunan tercatat mengalami penurunan sebesar 76,77% dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (yoy), yang sebesar Rp620,36 miliar. Menurut proporsinya terhadap inflow, persentase penarikan uang lusuh juga mengalami peningkatan dari sebesar 2,00% pada triwulan sebelumnya menjadi 9,16%. Secara nominal, uang lusuh yang ditarik dan dimusnahkan pada triwulan ini mencapai Rpp144,13 miliar Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau Selain kegiatan perkasan yang dilaksanakan di Kota Palembang, di Sumsel juga terdapat kegiatan kas titipan yang dilaksanakan di Kota Lubuk Linggau. Kas titipan tersebut dilaksanakan mulai tahun 2005 yang ditandai dengan penandatangan Nota Kesepahaman antara Bank Indonesia Palembang dengan PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Lubuk Linggau yang ditunjuk sebagai bank penyelenggara kas titipan. Pertimbangan penyelenggaraan kas titipan di Lubuk Linggau dilatarbelakangi oleh relatif tingginya kebutuhan terhadap uang tunai serta jarak yang cukup jauh dari Kota Palembang. Keterangan Tabel 5.3 Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau (Rp Miliar) III IV I II III Inflow Outflow Net Inflow (Net Outflow) (37.37) (45.35)

104 5. Perkembangan Sistem Pembayaran Perekonomian wilayah Lubuk Linggau pada triwulan ini diperkirakan mengalami sedikit perlambatan. Selain menurunnya aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan secara triwulanan, salah satu indikator yang menunjukkan perlambatan tersebut adalah terjadinya net-inflow pada kegiatan kas titipan di Lubuk Linggau. Pada triwulan III 2009 outflow di Lubuk Linggau tercatat sebesar Rp331,85 miliar atau meningkat sebesar 17,94% dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq). Sementara itu aktivitas inflow tercatat sebesar Rp336,99 miliar, meningkat sebesar 42,79% dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq). Sama halnya dengan kondisi perekonomian Sumatera Selatan secara umum, perbaikan aktivitas ekonomi dalam kurun waktu triwulan ini terutama terjadi pada bulan September Hal tersebut ditandai dengan terjadinya net-outflow yang cukup besar di Lubuk Linggau yakni mencapai Rp 33,74 miliar, sementara pada bulan Juli dan Agustus 2009 perkembangan kas titipan di Lubuk Linggau tercatat mengalami net-inflow masingmasing sebesar Rp37,21 miliar dan Rp1.68 miliar. Grafik 5.8 Perkembangan Bulanan Kas Titipan Lubuk Linggau Tahun

105 5. Perkembangan Sistem Pembayaran Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 88

106 Bab 6 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Perkembangan NTP dalam tiga bulan terakhir terlihat terus mengalami peningkatan walaupun masih dalam range yang terbatas. Program penanggulangan kemiskinan dilakukan juga oleh Bank Indonesia melalui berbagai program keuangan mikro (microfinance) bersama bank-bank pembangunan daerah (BPD) dan bank-bank perkreditan rakyat (BPR) Ketenagakerjaan Jumlah angkatan kerja di Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada bulan Februari 2009 mencapai orang, bertambah orang dibanding jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2008 sebesar orang atau bertambah orang dibanding bulan Februari 2008 sebesar orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Propinsi Sumsel pada bulan Februari 2009 mencapai orang, bertambah orang jika dibandingkan dengan keadaan pada bulan Agustus 2008 sebesar orang, atau bertambah sebesar orang jika dibandingkan dengan keadaan bulan Februari 2008 sebesar orang. Tabel 6.1 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Februari 2006 Februari 2009 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan

107 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Situasi ketenagakerjaan pada bulan Februari 2009 terhadap bulan Februari 2008, ditandai dengan meningkatnya jumlah pekerja secara absolut di hampir seluruh sektor, kecuali di sektor pertanian dan sektor konstruksi. Sektor jasa kemasyarakatan dan sektor perdagangan merupakan sektor yang mampu menyerap penambahan tenaga kerja terbanyak dibandingkan sektor-sektor lainnya, dimana selama periode Februari 2008 Februari 2009, terjadi penambahan pekerja di sektor jasa kemasyarakatan sebanyak orang dan pada sektor perdagangan terjadi penambahan pekerja sebanyak orang. Lebih dari sebagian penduduk atau sebesar 59,0% bekerja di sektor pertanian. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penduduk masih bertempat tinggal di daerah pedesaan yang mengandalkan hasil pertanian untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Dari tujuh pembedaan status pekerjaan yang terekam pada Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), dapat diidentifikasi 2 kelompok utama terkait kegiatan ekonomi formal dan informal. Kegiatan formal terdiri dari mereka yang berstatus berusaha dibantu buruh tetap dan buruh/karyawan. Sementara kelompok kegiatan informal umumnya adalah mereka yang berstatus di luar itu. Jika melihat status pekerjaan berdasarkan klasifikasi formal dan informal, maka pada bulan Februari 2009 lebih dari 75% tenaga kerja bekerja pada kegiatan informal. Tabel 6.2 Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan, Februari 2006 Februari 2009 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Dari orang yang bekerja, proporsi terbesar sebanyak 25,7% penduduk berstatus berusaha dibantu buruh tidah tetap/tidak dibayar dan proporsi terbesar kedua memperlihatkan bahwa status pekerjaan utama penduduk Sumsel adalah pekerja tak dibayar sebesar 23,6%. 90

108 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 6.2. Pengangguran Masalah pengangguran merupakan masalah yang melekat pada aspek ketenagakerjaan. Penduduk yang menganggur adalah penduduk yang sedang mencari pekerjaan ditambah penduduk yang sedang mempersiapkan usaha (tidak bekerja), yang mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja, serta yang tidak mungkin mendapatkan pekerjaan Berdasarkan data BPS Sumsel, jumlah pengangguran pada bulan Februari 2009 mengalami peningkatan sebesar orang dibandingkan dengan posisi bulan Agustus 2008 yaitu dari orang menjadi orang, dan mengalami peningkatan sebesar 180 orang jika dibandingkan dengan kondisi bulan Februari 2008 yang mencapai orang. Tabel 6.3 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan Februari Februari 2009 Kegiatan Utama Februari Februari Agustus Februari Agustus Februari 1 Penduduk Angkatan Kerja 3,372,170 3,390,645 3,372,332 3,454, Bekerja 2,964,160 3,037,885 3,057,518 3,162, Penganggur 408, , , , Bukan Angkatan Kerja 1,366,651 1,441,062 1,512,816 1,493, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) ,79 69,35 5 Tingkat Pengangguran terbuka (%) ,08 8,38 6 Total Setengah Pengangguran Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Tingkat pengangguran terbuka di Sumsel pada bulan Februari 2009 mencapai 8,38%, mengalami peningkatan dibandingkan kondisi pada bulan Agustus 2008 yang mencapai 8,08%. Akan tetapi dibandingkan dengan kondisi bulan Februari 2008 justru mengalami penurunan sebesar 0,07%. Total setengah pengangguran Sumsel pada bulan Februari 2009 sebesar orang atau dengan kata lain tingkat setengah pengangguran angkanya masih cukup tinggi yaitu 32,35%. Artinya dari setiap 100 angkatan kerja yang sudah bekerja, sebanyak 32 sampai 33 orang mempunyai jam kerja kurang dari 35 jam per minggu. Jika dibandingkan dengan kondisi setahun yang lalu (Februari 2008), tingkat setengah pengangguran Sumsel telah mengalami penurunan sebanyak 2,11%. 91

109 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Angka pengangguran pada Grafik 6.1 Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini bulan Februari 2009 yang mengalami peningkatan dibandingkan kondisi bulan Agustus 2008 dan mengalami penurunan dibandingkan kondisi tahun sebelumnya juga terkonfirmasi dari hasil Survei Konsumen yang dilakukan Bank Indonesia Palembang. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja pada triwulan I 2009 apabila dibandingkan dengan triwulan III 2008 dan terjadi peningkatan indeks ketersediaan kerja apabila dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya Tingkat Kemiskinan Berdasarkan data resmi BPS Propinsi Sumatera Selatan, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Propinsi Sumsel pada bulan Maret 2009 tercatat sebesar atau 16,28% dari jumlah penduduk Sumsel. Angka tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar 6,54% atau sebesar orang dari periode yang sama tahun sebelumnya (Maret 2008) yang tercatat sebesar jiwa. Tabel 6.4 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumatera Selatan Tahun Tahun Jumlah Penduduk Miskin (ribuan) Persentase ,9 15, ,0 17, ,9 23, ,1 22, ,3 21, ,3 20,92 Juli ,0 21,01 Juli ,9 20,99 Maret ,8 19,15 Maret ,61 17,73 Maret ,87 16,28 Sumber : Data BPS Propinsi Sumsel, diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 92

110 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada periode jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 464,9 ribu karena krisis ekonomi, yaitu dari ribu menjadi ribu. Persentase penduduk miskin mengalami peningkatan dari 17,04% menjadi 23,87% pada periode yang sama. Sementara itu, penurunan jumlah penduduk miskin pada satu tahun terakhir ini tidak terlepas dari program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah. BLT yang diberikan pemerintah secara signifikan telah mengangkat daya beli masyarakat kecil sehingga melampaui Garis Kemiskinan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita/bulan di bawah Garis Kemiskinan. Dalam satu tahun terakhir ini Garis Kemiskinan meningkat sebesar 8,11% dari Rp ,- per kapita/bulan menjadi Rp ,- per kapita/bulan. Berdasarkan pembagian kelompok kemiskinan perkotaan dan pedesaan, Garis Kemiskinan di perkotaan dalam setahun terakhir tercatat mengalami peningkatan sebesar 7,89% dari Rp per kapita/bulan menjadi Rp ,- per kapita/bulan. Sementara itu, Garis Kemiskinan di daerah pedesaaan mengalami kenaikan sebesar 8,29% pada periode yang sama, dari Rp ,- per kapita/bulan menjadi Rp ,- per kapita/bulan. Dari penurunan jumlah penduduk miskin di wilayah Sumsel, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat turun lebih tajam dibandingkan daerah pedesaan. Selama periode Maret 2008 hingga Maret 2009 jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat berkurang sekitar orang, sementara di daerah pedesaan tercatat berkurang sekitar orang. Daerah/Tahun Tabel 6.5 Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2008-Maret 2009 Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan) Jumlah Penduduk Miskin (ribuan) Persentase Perkotaan Maret ,70 18,87 Maret ,03 16,93 Perdesaan Maret ,91 17,01 Maret ,85 15,87 Kota+Desa Maret ,61 17,73 Maret ,87 16,28 Sumber : Data BPS Propinsi Sumsel, diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 93

111 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 6.4. Nilai Tukar Petani Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan daya beli petani. Perkembangan NTP dalam tiga bulan terakhir terlihat terus mengalami peningkatan walaupun masih dalam range yang terbatas. NTP pada triwulan III 2009 (hingga bulan Agustus 2009) tercatat sebesar 101,34. Peningkatan nilai tukar terutama disebabkan meningkatnya harga komoditas unggulan sehingga berdampak pada indeks harga yang diterima petani yang meningkat jauh lebih besar daripada pertumbuhan indeks harga yang dibayar petani. Indeks yang diterima petani meningkat menjadi 117,90 dari 114,80, sedangkan indeks yang dibayar petani mengalami peningkatan dari 115,90 menjadi 116,35. Grafik 6.2 Indeks Harga yang diterima, Indeks Harga yang dibayar dan Nilai Tukar Petani Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani mengalami peningkatan sebesar 0,47% dibanding triwulan sebelumnya (qtq) dari 116,41 menjadi 116,96. Rendahnya peningkatan Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani dikarenakan selama periode ini (Juli hingga Agustus 2009) tidak terdapat moment khusus yang berdampak besar bagi peningkatan konsumsi langsung di tingkat petani. Dari sisi perkembangan harga secara umum pun, inflasi Palembang secara triwulanan (qtq) pada bulan Agustus 2009 tercatat sebesar 0,28%. 94

112 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Tabel 6.6 Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani di Sumatera Selatan Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Biaya produksi dan penambahan modal petani secara rata-rata mengalami sedikit peningkatan, kecuali untuk obat dan pupuk. Hal tersebut tercermin dari kenaikan indeks biaya produksi dan penambahan modal dari sebesar 115,37 pada triwulan sebelumnya menjadi 115,48. Peningkatan biaya produksi yang paling tinggi terjadi pada komponen penambahan barang modal yang disebabkan antara lain mulai dilakukannya pembelian beberapa alat produksi menjelang musim tanam yang baru. Sementara itu, penurunan biaya komponen obat dan pupuk diperkirakan sebagai dampak dari bergesernya masa tanam terkait dengan kondisi cuaca yang masih belum kondusif. Tabel 6.7 Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Modal Petani Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan 6.5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah 95

113 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan sebuah wilayah adalah wilayah maju, wilayah berkembang atau wilayah terbelakang, serta untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Berdasarkan data terakhir yang diperoleh dari BPS Sumsel, 15 kabupaten dan kota yang berada di wilayah Sumsel tercatat memiliki IPM antara 65 hingga 74 pada tahun Kota Palembang sebagai ibu kota propinsi tercatat sebagai wilayah yang memiliki angka IPM paling tinggi yakni sebesar 74,30. Secara umum, wilayah perkotaan rata-rata memiliki IPM yang tinggi sebagaimana juga ditunjukkan oleh IPM kota Prabumulih dan Pagaralam yang menduduki peringkat dua dan tiga dengan IPM sebesar 71,70 dan 71,10. Secara garis besar tidak terdapat perubahan yang begitu signifikan antara peringkat IPM tahun 2005 dengan IPM Hanya terdapat beberapa kota yang mengalami penurunan maupun peningkatan ranking IPM. Kabupaten Empat Lawang yang merupakan daerah pemekaran baru tercatat memiliki angka IPM 66,60 atau menempati peringkat ke-14. Tabel 6.8 IPM Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan No Kabupaten/Kota Penduduk IKK PDRB/KAPITA IPM Juni 2005 Juni Palembang 1,338,793 1,369, ,299,536 21,610, Prabumulih 130, , ,527,589 14,029, Pagaralam 114, , ,220,869 6,869, OKU 255, , ,511,678 14,087, OKU Selatan 317, , ,325,679 5,222, Muara Enim 632, , ,480,019 20,485, OKI 626, , ,405,682 6,109, Musi Banyuasin 469, , ,012,743 39,159, Lahat 545, , ,674,760 10,130, Banyuasin 733, , ,966,130 9,280, Lubuklinggau 174, , ,597,214 7,286, Ogan Ilir 356, , ,567,214 6,118, OKU Timur 556, , ,685,796 5,433, Empat lawang ,890, Musi Rawas 474, , ,682,544 9,676, Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan Khusus untuk kota Palembang, Badan Pusat Statistik Kota Palembang mencatat terjadinya kenaikan IPM dari 74,94 (2007) menjadi 75,49 (2008) yang didorong oleh peningkatan angka harapan hidup dan pengeluaran perkapita masing-masing dari 70,43 dan 625,44 (2007) menjadi 70,66 dan 630,94 (2008). Sementara itu indeks angka melek huruf tercatat mengalami penurunan dari 98,63 menjadi 98,29. 96

114 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 6.6. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Latar Belakang Pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) adalah suatu tim yang dibentuk oleh pemerintah dengan tujuan untuk mempercepat pengurangan jumlah penduduk miskin di seluruh wilayah NKRI melalui koordinasi dan sinkronisasi penyusunan dan pelaksanaan penajaman kebijakan penanggulangan kemiskinan. Berdirinya TPKP dimulai sejak program penanggulangan kemiskinan pada tahun 1960-an dilakukan oleh pemerintah melalui strategi pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang tertuang dalam Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun (Penasbede). Namun program tersebut terhenti di tengah jalan akibat krisis politik tahun Program penanggulangan kemiskinan juga digulirkan melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) sejak era 1970-an yang akhirnya gagal akibat krisis ekonomi dan politik tahun Selanjutnya guna mengatasi dampak krisis lebih buruk, pemerintah mengeluarkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) pada tahun 1998 yang dikemudian disempurnakan dengan Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) pada tahun Untuk lebih mempertajam keberadaan Komite Penanggulangan Kemiskinan maka pada tanggal 10 September 2005 dikeluarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK). Keberadaan TKPK diharapkan melanjutkan dan memantapkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh KPK. TKPK mempunyai tugas untuk melakukan langkah-langkah konkret untuk mempercepat pengurangan jumlah penduduk miskin di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui koordinasi dan sinkronisasi penyusunan dan pelaksanaan penajaman kebijakan penanggulangan kemiskinan, melalui fungsi; a) koordinasi dan sinkronisasi penyusunan dan pelaksanaan penajaman kebijakan penanggulangan kemiskinan; b) pemantauan pelaksanaan penanggulangan kemiskinan sesuai karakteristik dan potensi di daerah dan kebijakan lanjutan yang ditetapkan daerah dalam rangka penanggulangan kemiskinan di daerah masing-masing. Anggota TKPK terdiri dari 12 Menteri Negara yang memimpin Departemen, 6 Menteri Negara yang tidak memimpin departemen, 1 pejabat setingkat Menteri dan 3 Kepala Badan yang memiliki bidang tugas yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan. 97

115 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Program penanggulangan kemiskinan yang pernah dilaksanakan antara lain P4K (Proyek Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil), KUBE (Kelompok Usaha Bersama), TPSP-KUD (Tempat Pelayanan Simpan Pinjam Koperasi Unit Desa), UEDSP (Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam), PKT (Pengembangan Kawasan Terpadu), IDT (Inpres Desa Tertinggal), P3DT (Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal), PPK (Program Pengembangan Kecamatan), P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan), PDMDKE (Pemberdayaan Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi, P2MPD (Proyek Pembangunan Masyarakat dan Pemerintah Daerah), dan program pembangunan sektoral telah berhasil memperkecil dampak krisis ekonomi dan mengurangi kemiskinan. Program penanggulangan kemiskinan dilakukan juga oleh Bank Indonesia melalui berbagai program keuangan mikro (microfinance) bersama bank-bank pembangunan daerah (BPD) dan bank-bank perkreditan rakyat (BPR) bekerja-sama dengan lembagalembaga keuangan milik masyarakat seperti Lembaga Dana dan Kredit Perdesaan (LDKP) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), yang salah satunya melalui Kesepakatan Bersama (Memorandum of Understanding) antara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat selaku Ketua Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Nomor 11/KEP/MENKO/KESRA/IV/2002 dan Nomor 4/2/KEP.GBI/2002 tentang Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Program Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) di Daerah Berbagai langkah telah dikembangkan secara nasional dan sedang ditindaklanjuti di daerah, diantaranya pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPKD), dan penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan (SPKD). Kebijakan-kebijakan telah digariskan seperti mendorong kemandirian dan diversifikasi pangan, revitalisasi pendidikan, pembangunan kesehatan, dan penganggaran yang pro-poor. Selama beberapa tahun telah dilakukan pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sangat perlu didayagunakan karena merupakan indikator outcomes atas hasil kinerja yang dilakukan pemerintah daerah. Juga, tujuan-tujuan pembangunan milenium (MDGs) sebagai komitmen internasional, merupakan ukuran-ukuran yang perlu diperhatikan untuk mencapai keberhasilan pembangunan manusia. 98

116 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Berikut ini data rekapitulasi pembentukan TKPK Daerah dan Penyusunan SPKD yang bersumber dari Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Departemen Dalam Negeri selaku Koordinator Pokja Kelembagaan TKPK: NO Tabel 6.9 Rekapitulasi TPKD Daerah dan Penyusunan SPKD PROPINSI PROPINSI KAB/KOTA JUMLAH TKPK/ TKPK/ KAB/ SPKD SPKD KPK KPK KOTA 1 Nanggroe Aceh Darussalam Sudah Belum Sumatera Utara Sudah Belum Sumatera Barat Sudah Belum Riau Sudah Belum Kepulauan Riau - Belum Jambi Sudah Sudah Sumatera Selatan Sudah Sudah Kep. Bangka Belitung Sudah Sudah Bengkulu Sudah Sudah Lampung Sudah Belum DKI Jakarta Sudah Belum Banten Sudah Belum Jawa Barat Sudah Sudah Jawa Tengah Sudah Belum D.I. Yogyakarta Sudah Sudah Jawa Timur Sudah Sudah Kalimantan Barat Sudah Belum Kalimantan Tengah Sudah Sudah Kalimantan Selatan Sudah Belum Kalimantan Timur Sudah Belum Sulawesi Utara Sudah Belum Sulawesi Tengah Sudah Belum Gorontalo Sudah Sudah Sulawesi Tenggara Sudah Sudah Sulawesi Selatan Sudah Belum Bali Sudah Sudah Nusa Tenggara Barat Sudah Belum Nusa Tenggara Timur Sudah Sudah Maluku Sudah Sudah Maluku Utara Sudah Sudah Papua Sudah Belum Irian Jaya Barat - Belum Sulawesi Barat - Belum 5-5 JUMLAH Sumber : Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Departemen Dalam Negeri 99

117 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Suplemen 6 INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN PALEMBANG DI TENGAH PENGUATAN PEMULIHAN EKONOMI I. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Selama Triwulan III Tingkat Keyakinan Konsumen Palembang selama triwulan III 2009 secara umum mengalami peningkatan dibanding dengan triwulan II Rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan III 2009 mencapai 125,06, yang menunjukkan kecenderungan terus meningkatnya optimisme setelah pada triwulan sebelumnya mencatatkan indeks rata-rata sebesar 103,87. Seiring dengan peningkatan rata-rata IKK, rata-rata Indeks Keyakinan Ekonomi Saat ini (IKESI) juga meningkat dan kembali masuk ke level optimis dengan capaian sebesar 112,11 setelah pada triwulan sebelumnya berada pada level pesimis dengan indeks sebesar 91,52. Demikian pula dengan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang meningkat dari sebesar 116,22 pada triwulan sebelumnya menjadi 138,00. Dibandingkan dengan indeks triwulan yang sama tahun 2008, IKK, IKESI dan IEK juga mengalami peningkatan. Hal tersebut mencerminkan keyakinan konsumen kota Palembang telah mulai membaik pada triwulan II 2009, menunjukkan kecenderungan terus meningkat tingkat optimismenya. Semakin membaiknya kondisi perekonomian, peningkatan harga komoditas primer di pasar internasional dan faktor musiman perayaan lebaran mendukung peningkatan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi pada triwulan ini. Grafik 1 IKK, IKESI, IEK periode Di tengah terus meningkatnya keyakinan konsumen selama triwulan III , beberapa hal yang menjadi concern bagi konsumen Palembang antara lain; tingkat penghasilan, ketersediaan tenaga kerja, perkiraan harga barang dan jasa baik kondisi untuk saat ini, maupun prediksi untuk periode 6 bulan mendatang (lihat grafik 2). 100

118 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Grafik 2 Pembentuk Keyakinan Konsumen periode Optimis ,67 147,67 138,67 115,67 114,67 Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu Ekspektasi penghasilan 6 bulan yad Indeks ,33 Ketersediaan lapangan kerja saat ini Ketersediaan lapangan kerja 6 bulan yad Pesimis Ketepatan waktu pembelian (konsumsi) barang tahan lama 0 Kondisi ekonomi 6 bulan yad Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sep II. Keyakinan Konsumen Secara umum IKK dalam periode triwulan III 2009 mengalami peningkatan. Pada bulan Juli tercatat sebesar 123,50, dengan IKESI dan IEK masing-masing 108,33 dan 138,67. Pada bulan Agustus mengalami peningkatan menjadi sebesar 123,89 dengan IKESI dan IEK masing-masing sebesar 110,44 dan 137,33. Sementara itu IKK pada bulan September tercatat sebesar 127,78 dengan IKESI dan IEK masing-masing sebesar 117,56 dan 138, Pendapat Responden terhadap Kondisi Ekonomi Menurut sebagian besar responden (sebesar 53,00%) kondisi ekonomi pada bulan Juli 2009 sama dibandingkan 6 bulan sebelumnya, begitu pun kondisi ekonomi pada bulan Agustus 2009 walaupun sedikit menurun persentasenya ke level 42,67% dan pada bulan September 2009 yang sebesar 46,33%. 2.2 Pendapat Responden terhadap Ketersediaan Lapangan Kerja Pada awal triwulan, sebagian 39,33% responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan kerja lebih buruk daripada kondisi 6 bulan yang lalu. Sementara itu pada bulan Agustus, mengalami penurunan menjadi 34,33%. Optimisme masyarakat terhadap kondisi ketersediaan lapangan kerja agak meningkat di akhir triwulan dengan meningkatnya persentase responden yang menyatakan ketersediaan lapangan kerja saat ini lebih baik menjadi sekitar 26,67%, setelah pada dua bulan sebelumnya masing-masing berada di level 26,00% dan 22,67%. 101

119 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 2.3 Pendapat Responden terhadap Penghasilan Sebanyak 46,33% atau 139 responden berpendapat bahwa penghasilan mereka relatif lebih baik bulan April 2009, sementara pada bulan Agustus sedikit menurun menjadi 46,00%. Di akhir periode triwulan III 2009 jumlah responden yang berpendapat bahwa pendapatan mereka lebih baik kembali menurun menjadi 43,00%. 2.4 Perkiraan Perkembangan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Mendatang Hampir sebagian besar responden berpendapat bahwa harga barang/jasa pada 3 bulan yang akan datang akan mengalami peningkatan. Hal tersebut tercermin dari persentase responden yang berada di kisaran 60% pada tiap periodenya. Pada bulan Juli tercatat sebesar 65,00%, kemudian menjadi sebesar 68,00% pada bulan Agustus dan ditutup dengan angka 68,67% pada bulan September III. Profil Responden 3.1 Profil Responden Bulan Juli 2009 Profil responden pada bulan Juli 2009 secara rinci dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Profil Responden Survei Konsumen Kota Palembang Periode Bulan Juli 2009 Pengeluaran per Bulan Profil Responden Rp 1juta- Rp3-5 >Rp 5 Total Rp3 Juta juta juta SMA Laki-Laki Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Jenis Kelamin Subtotal SMA Perempuan Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Subtotal SMA Total responden Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Total Responden

120 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 3.2 Profil Responden Bulan Agustus 2009 Profil responden pada bulan Agustus 2009 secara rinci dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2 Profil Responden Survei Konsumen Kota Palembang Periode Bulan Agustus 2009 Pengeluaran per Bulan Profil Responden Rp 1juta-Rp3 Juta Rp3-5 juta >Rp 5 juta Total SMA Laki-Laki Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Jenis Kelamin Subtotal SMA Perempuan Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Subtotal SMA Total responden Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Total Responden Profil Responden Bulan September 2009 Profil responden pada bulan September 2009 secara rinci dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Profil Responden Survei Konsumen Kota Palembang Periode Bulan September 2009 Pengeluaran per Bulan Profil Responden Rp 1juta-Rp3 Juta Rp3-5 juta >Rp 5 juta Total SMA Laki-Laki Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Jenis Kelamin Subtotal SMA Perempuan Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Subtotal SMA Total responden Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Akademi/D.III Sarjana/S Pasca Sarjana Total Responden

121 6. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank 104

122 Bab 7 OUTLOOK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH Laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami peningkatan pada triwulan berikutnya yang didorong oleh pulihnya perekonomian domestik dan internasional. Hal tersebut terlihat dari membaiknya optimisme pelaku ekonomi dan rumah tangga. Namun demikian perbaikan pertumbuhan ekonomi juga diprediksi disertai peningkatan laju inflasi. Perbankan diperkirakan lebih ekspansif sebagai respon dari semakin jelasnya prospek bisnis dan membaiknya sentimen investor Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi propinsi Sumatera Selatan masih tetap tergantung pada sektor primer yaitu terutama sektor pertanian dan industri pengolahan yang berbasis pada sumber daya alam. Pada triwulan IV diperkirakan kinerja sektor pertanian dan sektor pertambangan akan meningkat secara tahunan, yang disebabkan oleh permintaan dunia yang semakin meningkat sehubungan dengan berlanjutnya proses pemulihan perekonomian dunia. Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan akan terjadi yang disebabkan oleh rentannya aksi profit taking pada instrumen hedging komoditas di pasar internasional pada kondisi pemulihan ekonomi yang menjanjikan return tinggi. Hal ini memperlebar confidence bounds pada proyeksi ke depan. Sesuai dengan empirisnya, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan Grafik 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan triwulan IV 2009 diperkirakan akan mengalami kontraksi secara triwulanan. Berdasarkan data historis, kondisi ekonomi terkini, dan prediksi shock yang akan terjadi di masa depan, diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) pada triwulan IV 2009 akan berada pada kisaran 5,45 ± 0,5%. Sedangkan secara Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan triwulanan (qtq) pertumbuhan ekonomi *Hasil proyeksi KBI Palembang diperkirakan akan terkontraksi pada kisaran 3,56 ± 0,5%. Sehingga, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 3,92 ± 0,5%.

123 7. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Selain faktor musiman, angka proyeksi pertumbuhan ekonomi triwulanan didasarkan padaa beberapa faktor yakni realisasi belanja pemerintah daerah yang akan meningkat tajam pada akhir tahun, relatif tetapnya konsumsi masyarakat dibandingkan triwulan sebelumnya, membaiknya prospek investasi di negara berkembang termasuk Indonesia, serta permintaann dunia atas komoditas unggulan propinsi Sumatera Selatan yang mengalami peningkatan secara gradual. Aspek Kegiatan Usaha (umum) Volume produksi Nilai penjualan Kapasitas produksi Tenaga kerja Volume pesanan Harga jual Kondisi keuangan Akses kredit Situasii bisnis Pertumbuhan Sedikit Meningkat Meningkat Sedikit Meningkat Tetap Meningkat,melamba Meningkat,melamba Meningkat,melamba Meningkat, melambat Meningkat stabil Tabel 7.1 Leading Economic Indicator Propinsi Sumsel Triwulan III 2009 Penyebabb Pertumbuhan Ekspektasi triwulan Keterangan Ekspektasi mendatang Peningkatann pertumbuhan terjadi di seluruh sektor, kecuali sektor pertambangan yang menurut pelaku usaha masih mengalami perkembangan negatif. Pelaku usaha meningkatkann produksinya seiring permintaann yang meningkat. Membaiknya permintaan seiring meningkatnya konsumsi sehubungan dengan mulai pulihnya aktivitas perekonomian Peningkatann masif telah terjadi di triwulan lalu Meningkat (secara tahunan) Meningkat Meningkat Meningkat Meningkatnya realisasii fiskal Membaiknya harga komoditas primer Faktor musiman menurunkan pertumbuhan secara triwulanan meningkatnya permintaan, dan realisasi fiskal Harga beberapa komoditas mengalami sedikit peningkatan. Berlanjutnya ekspektasi pemulihan ekonomi Peningkatann telah terjadi di Tetap Bukan merupakan musim triwulan lalu, musim panenn panen telah berakhir Peningkatann telah terjadi di Meningkat Motif hedging menyambut triwulan lalu, musim panenn pemulihan ekonomi global, telah berakhir dan meningkatnya permintaan menyambut pemulihan ekonomi Peningkatann yang signifikann Sedikit Tren harga komoditas telah terjadi di triwulan lalu Meningkat meningkat mengikuti harga minyak, namun terdapat volatilitas jangka pendek Peningkatann permintaan dan Meningkat Meningkatnya nilai jual dan membaiknya harga jual laba perusahaan Membaiknya prospek bisniss Meningkat, Semakin jelasnya prospek ke depan melambat perekonomian, pemenuhan target kredit, namunn terdapat tekanan inflasi ke depan Semakin baiknya permintaan meningkat Potensi membaiknya dan prospek bisnis ke depan perekonomian domestik dan dunia, meningkatnya investasi dan pengeluaran pemerintah Sumber: SKDU KBI Palembang, Analisis Kelompok Kajian Ekonomi KBI Palembang 106

124 7. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan II 2009 yang dilakukan KBI Palembang, secara umum diperkirakan kegiatan usaha akan mengalami peningkatan berarti pada triwulan IV Secara tahunan, diekspektasikan bahwa peningkatan ini melebih peningkatan yang terjadi pada triwulan sebelumnya. Peningkatan diekspektasikan terjadi baik dari aspek volume produksi, nilai penjualan, kapasitas produksi, volume pesanan, kondisi keuangan, harga jual, dan situasi bisnis. Kinerja ekspor produk-produk unggulann Sumsel pada triwulan IV 2009 diperkirakan akan mengalami sedikit peningkatan secara tahunan yang disebabkan oleh) harga komoditas yang memiliki kecenderungan untuk meningkat berikut ekspektasi kenaikan hargaa komoditas tersebutt menyusul berlanjutnya pemulihan perekonomian dunia dan semakin pulihnya rencana produksi di negara-negara industri. Namun, peningkatan ekspor diprediksi akan terbatas karena beberapa hal, yaitu: (1) Nilai tukar Rupiah yang cenderung terus terapresiasi hingga pertengahan tahun dan menyebabkan barang ekspor Sumatera Selatan menjadi kurang kompetitif dibandingkan sebelumnya, (2) Kenaikan harga komoditas termasuk harga minyak di pasar dunia berpotensi bullish dan terbayangi aksi profit taking instrumen hedging seiring tingginya imbal hasil yang dihasilkan, sehingga menyebabkan lambatnya kenaikan harga dan tingginya volatilitas dalam jangka pendek. Pada triwulan IV 2009, tekanan dari sisi impor diprediksi akan mulai muncul, yang disebabkan oleh: (1) meningkatnya pendapatan masyarakat sehubungan dengan semakin baiknyaa harga komoditas unggulan, (2) rencana produksi dan realisasi fiskal yang diprediksi mengalami peningkatan, (3) adanya apresiasi Rupiah yang menyebabkan barang impor relatif lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya. Proyeksi pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor Sumatera Selatan untuk tahun 2009 masih sangat bervariasi. Di antara 7 negara tujuan ekspor terbesar, hanya dua negara yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan positif. Namun, salah satu negara tersebutt adalah Cina, yang merupakan tujuan dari 33,13% ekspor Sumatera Selatan untuk periode Januari Mei Selain itu, pada bulan Oktober 2009 IMF juga melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Cina untuk tahun 2009 dari 7,5% menjadi 8,5%. Hal ini mengindikasikan bahwa ekspor Sumatera Selatan akan cenderung meningkat dibandingkan yang diperkirakan semula, walaupun masih pada taraf yang terbatas. 107

125 7. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Tabel 7.2 Proporsi Ekspor Sumatera Selatan dan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Tujuan Tahun 2009 Negara Ekspor Sumsel Proyeksi Sebelumnya Proyeksi Terakhir AS Uni Eropa Cina India Jepang Malaysia Singapura 21,06 8,01 33,13 4,01 7,45 7,74 3,72-2,6-4,8 7,5 5,4-6,2-3,5* -10,0* -2,7-4,2 8,5 5,4-5,4-3,6-3,33 Proporsi nilai ekspor Sumatera Selatan pada negara tersebut, menggunakan data Nilai 1 Ekspor Berdasarkan Negara Tujuan periode Januari sampai dengan Mei 2009, Bank Indonesia 2 IMF World Economic Outlook Update, July IMF World Economic Outlook, October 2009 * IMF World Economic Outlook, April 2009 Selain itu, terdapat beberapaa hal yang dapat memberikan stimulus pada perekonomian melalui permintaan domestik, yaitu: (1) Adanya potensi realisasi fiskal secara signifikann di akhir tahun, (2) Berlangsungnya musimm panen yang menyerap tenaga kerja secara temporer, (3) relatif rendahnya tingkat inflasi dan apresiasi Rupiah yang dapat mempertahankan daya beli masyarakat. (4) Potensi berlanjutnya penyaluran kredit perbankan karena membaiknyaa prospek bisnis, pemenuhan target penyaluran kredit untuk tahun 2009, turunnya risiko pasar dan masuknya dana asing kembali ke emerging markets. (5) Adanya momen libur tahun baru yang dapat memicu konsumsi. Meskipun demikian, terdapat pula potensi yang patut diperhatikan karena dapat membuat pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari perkiraan, yaitu: (1) nilai tukar Rupiah yang berpotensi semakin terapresiasi sehingga menurunkan net ekspor. (2) Bencana gempa yang semakin sering terjadi di Sumatera dan Jawa sehingga berpotensi memperlambat arus barang dan jasa serta aktivitas perekonomian lintas propinsi Inflasi Inflasi tahunan diperkirakan akan mengalami peningkatan, yang didorong oleh besarnya nilai konsumsi masyarakat di akhir tahun, meningkatnya harga komoditas sejalan dengan pemulihan perekonomian dunia, dan kenaikan pengeluaran pemerintah yang tajam pada akhir tahun. Berdasarkan proyeksi dan dengan mempertimbangkan perkembangan harga serta determinan utama inflasi di Sumatera Selatan, maka diperkirakan inflasi tahunan (yoy) pada triwulan IV 2009 akan meningkat menjadi 2,25± ±0,5%, sedangkan inflasi triwulanan (qtq) diperkirakan akan melambat menjadi 0,65± ±1%. 108

126 7. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Perkembangan inflasi tahunan pada triwulan IV 2009 diperkirakan akan semakin meningkat dibanding triwulan III Namun inflasi triwulanan diperkirakan akan menurun. Faktor musiman di triwulan IV ini lebih rendah mendorong inflasi dibandingkan triwulan III Dari sisi perekonomian domestik, peningkatan tekanann inflasi tersebut utamanya disebabkan oleh realisasi fiskal yang masif pada triwulan IV 2009, membaiknya pendapatan masyarakat karena peningkatan harga komoditas, dan semakin jelasnya prospek perekonomian yang memicu konsumsi dan investasi. Dari sisi perekonomian global, kecenderungan meningkatnya harga komoditas dunia, meningkatnya optimisme perekonomian global, meningkatnyaa kepercayaan pasar, dan proses recovery yang semakin cepat dapat secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan tekanan inflasi. Selain itu, tekanan inflasi yang berasal dari perubahan biaya juga diperkirakan moderat yang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: ( 1) nilai tukar Rupiah yang terhadap USD cenderung maupun terapresiasi mata uang lainnya (2) Lonjakan harga minyak di pasar dunia yang berpotensi hanya bersifat bullish di sekitar USD70-90/barrel sebelum akhirnyaa mengalami sedikit penurunan. (3) Semakin seringnya gempa di Sumatera dan Jawa beberapa bulan terakhir dapat mengganggu kelancaran arus barang dan jasa lintas propinsi. Grafik 7.2 Proyeksi Inflasi Tahunan Sumatera Selatan Sumber: BPS Propinsi Sumateraa Selatan dan proyeksi KBI Palembang 7.3. Perbankan Berdasarkan kondisi perekonomian, diperkirakan kinerja perbankan pada triwulan III 2009 akan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan II 2009, baik dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga maupun penyaluran kredit. Kondisi perekonomian dunia yang melanjutkan proses pemulihannya dari krisis finansial global, mulai munculnya kekhawatiran akan sustainabilitas fiskal di negara- negara maju pada jangka menengah, tingginya ekspektasi imbal hasil di kawasan Asia, 109

127 7. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah dan ditingkatkannya rating sovereign bonds indonesia serta outlook perekonomian Indonesia oleh Moodys menyebabkan investasi pada emerging markets termasuk Indonesia kembali menarik investor global. Masih berlangsungnya capital inflow yang ditandai oleh terapresiasinya Rupiah terhadap Dollar AS, akan semakin memberikan relaksasi pada perbankan dan memperbaiki penyaluran kredit. Selain itu, prospek bisnis ke depan semakin jelas pada periode ini dan memberikan kejelasan bagi kemampuan membayar kredit di masa depan. Karena itu, triwulan IV 2009 merupakan saat yang tepat bagi perbankan untuk mengejar target penyaluran kreditnya pada tahun Dalam konteks regional, ekspektasi peningkatan harga komoditas dan mulai pulihnya produksi di negara-negara industri memperbaiki prospek bisnis di Sumatera Selatan. Namun di sisi lain, terdapat ekspektasi peningkatan suku bunga acuan dalam waktu dekat yang disebabkan oleh ekspektasi semakin tingginya tekanan inflasi di tahun Berdasarkan proyeksi teknikal dan judgment, diperkirakan pertumbuhan kredit padaa triwulan III 2009 akan berada di kisaran 2, 74% ± 1% (qtq). Hal ini diharapkan akan memberikan iklim yang kondusif bagi pengembangan sektor riil dari sisi pembiayaan bersamaan dengan berlanjutnya potensi perbaikan keadaan perekonomian dunia. Kemudian, berkaitan dengan pendapatan masyarakat yang dipengaruhi harga komoditas yang stabil atau mengalami sedikit peningkatan setelah mengalami penurunan drastis pada akhir tahun lalu, peningkatan persentase NPL (gross) bank umum diperkirakan akan berhenti dan persentase NPL gross akan relatif stabil pada kisaran 2,7-3,2% sepanjang triwulan IV Pencapaian Indonesia atas indikator-indikator makroekonomi sepanjang tahun 2009 yang relatif baik dan stabil dibandingkan negara-negaraa lainnya di kawasan Asia, tingkat suku bunga riil yang relatif tinggi, dan potensi recovery yang lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya dapat membuat penanaman modal di Indonesia cukup atraktif di mata investor asing. Namun, proporsi penanaman modal tersebut yang dalam jangka terhenti di sektor finansial tetap cukup tinggi sehubungan dengan masih rendahnya minat investasi secara jangka panjang. Peningkatan DPK yang akan terjadi diprediksi lebih cepat dari penyaluran kredit, sehingga menyebabkan peningkatan Loan to Deposit Ratio (LDR) pada perbankan. Namun, patut dicermati bahwa kondisi perekonomian dunia yang masih belum stabil dapat menyebabkan masuknya dana 110

128 7. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah asing akan seringkali terganggu aksi profit taking sehingga volatilitas jangka pendek cukup tinggi. Indikator Prediksi Ekspor Moderat Impor Moderat Pertumbuhan Moderat Inflasi Meningkat Pengangguran Moderat Investasi Moderat Konsumsi domestik Tinggi Kredit perbankan Moderat Tabel 7.3 Prediksi Beberapa Indikator Perekonomian pada Triwulan IV 2009 Faktor penyebab Harga komoditas dunia berpotensi meningkat walaupun masih rendah, namun Rupiah yang cenderung terapresiasi dapat membuat barang ekspor kurang kompetitif di pasar internasional. Pendapatan per kapita yang meningkat, dan nilai Rupiah yang relatif stabil, bahkan diprediksi terapresiasi. Harga komoditas dunia yang berpotensi meningkat seiring adanya potensi recovery, realisasi fiskal Ketersediaan stok yang masih aman, stabilnya nilai Rupiah, faktor teknikal Efisiensi produksi, potensi recovery perekonomian dunia Membaiknya outlook perekonomian Indonesia. Namun di sisi lain, frekuensi gempa yang semakin tinggi meningkatkan risiko investasi Realisasi pengeluaran pemerintah yang masif pada akhir tahun Target kredit 2009, prospek bisnis yang membaik, namun tekanan inflasi akan meningkat *Prediksi mempertimbangkan kondisi terkini, ekspektasi, dan karakteristik siklikal secara relatif terhadap keadaan normal 111

129 7. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Halaman ini sengaja dikosongkann This page is intentionally blank 112

130 DAFTAR ISTILAH Mtm Qtq Yoy Share Of Growth Investasi Sektor ekonomi dominan Migas Omzet Share effect Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Harga Konsumen (IHK) Indeks Kondisi Ekonomi Indeks Ekspektasi Konsumen Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan Indeks Pembangunan Manusia APBD Andil inflasi Bobot inflasi Ekspor Impor Month to month. Perbandingan antara data satu bulan dengan bulan sebelumnya Quarter to quarter perbandingan antara data satu triwulan dengan triwulan sebelumnya Year on year. Perbandingan antara data satu tahun dengan tahun sebelumnya Kontribusi suatu sektor ekonomi terhadap total pertumbuhan PDRB Kegiatan meningkatkan nilai tambah suatu kegiatan suatu kegiatan produksi melalui peningkatan modal Sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah besar sehingga mempunyai pengaruh dominan pada pembentukan PDRB secara keseluruhan Minyak dan Gas. Merupakan kelompok sektor industri yang mencakup industri minyak dan gas Nilai penjualan bruto yang diperoleh dari satu kali proses produksi Kontribusi pangsa sektor atau subsektor terhadap total PDRB Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi enam bulan mendatang. Dengan skala Sebuah indeks yang merupakan ukuran perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat pada suatu periode tertentu Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan skala Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap ekspektasi kondisi ekonomi saat ini, dengan skala Pendapatan yang diperoleh dari aktifitas ekonomi suatu daerah seperti hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah Sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi daerah. Ukuran kualitas pembangunan manusia, yang diukur melalui pencapaian rata-rata 3 hal kualitas hidup, yaitu pendidikan, kesehatan, daya beli Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPR, dan ditetapkan dengan peraturan daerah Sumbangan perkembangan harga suatu komoditas/kelompok barang/kota terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan Besaran yang menunjukan pengaruh suatu komoditas, terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan, yang diperhitungkan dengan melihat tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut Dalah keseluruhan barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. Seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil

131 PDRB atas dasar harga berlaku PDRB atas dasar harga konstan Bank Pemerintah Dana Pihak Ketiga (DPK) Loan to Deposits Ratio (LDR) Cash inflows Cash Outflows Net Cashflows Aktiva Produktif Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Kualitas Kredit Capital Adequacy Ratio (CAR) Financing to Deposit Ratio (FDR) Inflasi Kliring Kliring Debet Penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian Merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya Bank-bank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero) yaitu terdiri dari bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI Simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito Rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun Jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam periode tertentu Jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu Selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan Netcash inflows bila terjadi sebaliknya Penanaman atau penempatan yang dilakukan oleh bank dengan tujuan menghasilkan penghasilan/pendapatan bagi bank, seperti penyaluran kredit, penempatan pada antar bank, penanaman pada Sertifikat Bank Indonesia(SBI), dan surat-surat berharga lainnya. Pembobotan terhadap aktiva yang dimiliki oleh bamk berdasarkan risiko dari masingmasing aktiva. Semakin kecil risiko suatu aktiva, semakin kecil bobot risikonya. Misalnya kredit yang diberikan kepada pemerintah mempunyai bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit yang diberikan kepada perorangan Penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran bunga dan pokok. Kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu lancar, Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet Rasio antara modal (modal inti dan modalpelengkap) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus (persistent) Pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu Kegiatan kliring untuk transfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet seperti cek, bilyet giro, nota debet kepada penyelenggara kliring lokal (unit kerja di Bank Indonesia atau bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring lokal) dan hasil perhitungan akhir kliring debet dikirim ke Sistem Sentral Kliring (unit kerja yang menagani SKNBI di KP Bank Indonesia) untuk diperhitungkan secara nasional

132 Non Performing Loans/Financing (NPLs/Ls) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) Rasio Non Performing Loans/Financing (NPLs/Fs) Rasio Non Performing Loans (NPLs) NET Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI) Kredit atau pembiayaan yang termasuk dalam kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Suatu pencadangan untuk mengantisipasi kerugia yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya kredit yang diberikan oleh bank. Besaran PPAP ditentukan dari kualitas kredit. Semakin buruk kualitas kredit, semakin besar PPAP yang dibentuk, misalnya, PPAP untuk kredit yang tergolong Kurang Lancar adalah 15 % dari jumlah Kredit Kurang Lancar (setelah dikurangi agunan), sedangkan untuk kedit Macet, PPAP yang harus dibentuk adalah 100% dari totsl kredit macet (setelah dikurangi agunan) Rasio kredit/pembiayaan yang tergolong NPLs/Fs terhadap total kredit/pembiayaan. Rasio ini juga sering disebut rasio NPLs/Fs, gross. Semakin rendah rasio NPLs/Fs, semakin baik kondisi bank ybs. Rasio kredit yang tergolong NPLs, setelah dikurangi pembentukan penyisihan penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), terhadap total kredit Proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Sistem kliring bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

133 Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Sumatera Selatan Triwulan I - 2009 Kantor Bank Indonesia Palembang Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan I - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Kata Pengantar Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III - 2008 Kantor Bank Indonesia Palembang Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV - 2012 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Kata Pengantar Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan I - 2009 Kantor Bank Indonesia Palembang KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan I 2013 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN Transaksi sistem pembayaran tunai di Gorontalo pada triwulan I-2011 diwarnai oleh net inflow dan peningkatan persediaan uang layak edar. Sementara itu,

Lebih terperinci

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Di awal tahun 2009, imbas krisis finansial global terhadap perekonomian Kepulauan Riau dirasakan semakin intens. Laju pertumbuhan ekonomi memasuki zona negatif dengan

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Pada triwulan I 2012 pertumbuhan Kepulauan Riau mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,34% (yoy)

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Asesmen Ekonomi Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2013 mengalami pelemahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2012 tercatat sebesar 7,25%, mengalami perlambatan dibandingkan

Lebih terperinci

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Triwulan III 2015 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-nya (KEKR) Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan III

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH VISI Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan. MISI Mendukung

Lebih terperinci

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Perlambatan pertumbuhan Indonesia terus berlanjut, sementara ketidakpastian lingkungan eksternal semakin membatasi ruang bagi stimulus fiskal dan moneter

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Banten

Kajian Ekonomi Regional Banten Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan I - 2009 i Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan I - 2010 Kantor Bank Indonesia Palembang KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-nya

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.2 SISI PENAWARAN Di sisi penawaran, hampir keseluruhan sektor mengalami perlambatan. Dua sektor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2012 adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa mengingat

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan II-2010 diestimasi sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA AGUSTUS 2017 Vol. 3 No. 2 Triwulanan April - Jun 2017 (terbit Agustus 2017) Triwulan II 2017 ISSN 2460-490257 e-issn 2460-598212 KATA PENGANTAR RINGKASAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH Perbankan Aceh PERKEMBANGAN PERBANKAN DI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. ACEH TRIWULAN 4-2012 45 Perkembangan Perbankan Aceh Kinerja perbankan (Bank

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Ekonomi Pemulihan ekonomi Kepulauan Riau di kuartal akhir 2009 bergerak semakin intens dan diperkirakan tumbuh 2,47% (yoy). Angka pertumbuhan berakselerasi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV - 2010 Kantor Bank Indonesia Palembang 1. KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan -2012 Asesmen Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2012 tercatat 8,21% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2011 yang tercatat

Lebih terperinci

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo pada triwulan II-2013 tumbuh 7,74% (y.o.y) relatif lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,63% (y.o.y). Angka tersebut

Lebih terperinci

1. Tinjauan Umum

1. Tinjauan Umum 1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV - 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SUMATERA SELATAN

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-28 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 18 BANDUNG Telp : 22 423223 Fax : 22 4214326 Visi Bank Indonesia Menjadi

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 72/11/35/Th. X, 5 November 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN III-2012 Ekonomi Jawa Timur Triwulan III Tahun 2012 (y-on-y) mencapai 7,24 persen

Lebih terperinci

Publikasi ini dapat diakses secara online pada :

Publikasi ini dapat diakses secara online pada : i TRIWULAN III 2015 Edisi Triwulan III 2015 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51

Lebih terperinci

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2013 Secara triwulanan, PDRB Kalimantan Selatan triwulan IV-2013 menurun dibandingkan dengan triwulan III-2013 (q-to-q)

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT TRIWULAN-I 2013 halaman ini sengaja dikosongkan iv Triwulan I-2013 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Barat Daftar Isi KATA PENGANTAR... III DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 245 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 Tim Penulis

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Selatan Triwulan III - 2011 Kantor Bank Indonesia Banjarmasin Kata Pengantar KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

Lebih terperinci

Triwulan III Kajian Ekonomi Regional Banten

Triwulan III Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan III 212 Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan III 212 1 Triwulan III 212 Halaman ini sengaja dikosongkan 2 Triwulan III 212 KATA PENGANTAR Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH Ekonomi Aceh dengan migas pada triwulan II tahun 2013 tumbuh sebesar 3,89% (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,79% (yoy). Pertumbuhan

Lebih terperinci

Dari sisi permintaan (demmand side), perekonomian Kalimantan Selatan didorong permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga.

Dari sisi permintaan (demmand side), perekonomian Kalimantan Selatan didorong permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga. No. 064/11/63/Th.XVIII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN III-2014 Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan III-2014 tumbuh sebesar 6,19 persen, lebih lambat dibandingkan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Triwulan III 2004 185 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Tim Penulis Laporan Triwulanan III 2004, Bank Indonesia

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH No.51/11/12/Th.VII, 5 November 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI ACEH TRIWULAN III-2012 Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas pada triwulan III-2012 secara triwulanan (q-to-q)

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 58/08/35/Th. XII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. dan Struktur Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Ekonomi Jawa Timur Triwulan II - 2014 (y-on-y)

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pencerminan tingkat inflasi merupakan persentasi kecepatan naiknya harga-harga

BAB I PENDAHULUAN. Pencerminan tingkat inflasi merupakan persentasi kecepatan naiknya harga-harga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perekonomian suatu negara dapat ditinjau dari variabelvariabel makroekonomi yang mampu melihat perekonomian dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Variabelvariabel

Lebih terperinci

Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi...ii Daftar Tabel...iv Daftar Grafik... v Daftar Lampiran... vii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih

Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi...ii Daftar Tabel...iv Daftar Grafik... v Daftar Lampiran... vii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih Visi Bank Indonesia: Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014 No. 048/08/63/Th XVIII, 5Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II- tumbuh sebesar 12,95% dibanding triwulan sebelumnya (q to q) dan apabila

Lebih terperinci

Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)

Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen) BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th. XII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat Triwulan I - 29 Kantor Triwulan I-29 BANK INDONESIA PADANG KELOMPOK KAJIAN EKONOMI Jl. Jend. Sudirman No. 22 Padang Telp. 751-317 Fax. 751-27313 Penerbit

Lebih terperinci

Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung

Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung i Edisi Triwulan IV 2015 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51 Pangkalpinang No. Telp

Lebih terperinci

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 11/02/34/Th.XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN SEBESAR 5,40 PERSEN Kinerja perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama tahun

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-2009 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia

Lebih terperinci

4. Outlook Perekonomian

4. Outlook Perekonomian 4. Outlook Perekonomian Pada tahun 2007-2008, ekspansi perekonomian Indonesia diprakirakan terus berlanjut dengan dilandasi oleh stabilitas makroekonomi yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada 2007 diprakirakan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2010 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat Nya sehingga Kajian

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.2 SISI PENAWARAN Dinamika perkembangan sektoral pada triwulan III-2011 menunjukkan arah yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Keseluruhan sektor mengalami perlambatan yang cukup signifikan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN III-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN II-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Sumatera Selatan Triwulan II - 2008 Kantor Bank Indonesia Palembang Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 53/08/35/Th. X, 6 Agustus 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Semester I Tahun 2012 mencapai 7,20 persen Pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011 No. 06/08/62/Th. V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011 Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah triwulan I-II 2011 (cum to cum) sebesar 6,22%. Pertumbuhan tertinggi pada

Lebih terperinci

ii Triwulan I 2012

ii Triwulan I 2012 ii Triwulan I 2012 iii iv Triwulan I 2012 v vi Triwulan I 2012 vii viii Triwulan I 2012 ix Indikator 2010 2011 Total I II III IV Total I 2012 Ekonomi Makro Regional Produk Domestik Regional Bruto (%, yoy)

Lebih terperinci

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 Nomor. 02/ A/B.AN/VII/2007 Perkembangan Ekonomi Tahun 2007 Pada APBN 2007 Pemerintah telah menyampaikan indikator-indikator

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2010 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2010 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil Misi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN I-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja melalui penyediaan sejumlah dana pembangunan dan memajukan dunia usaha.

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil

Lebih terperinci

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran,Triwulan III - 2005 135 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2005 Tim Penulis

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 Januari 2013 Kinerja Ekonomi Daerah Cukup Kuat, Inflasi Daerah Terkendali Ditengah perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia

Lebih terperinci

Inflasi Bulanan Inflasi Tahunan Disagregasi Inflasi Non Fundamental Fundamental/Inti...

Inflasi Bulanan Inflasi Tahunan Disagregasi Inflasi Non Fundamental Fundamental/Inti... Daftar Isi Daftar Isi... i Daftar Tabel... iv Daftar Grafik... v Kata Pengantar... x Tabel Indikator Ekonomi Provinsi Lampung... xii Ringkasan Eksekutif... xv Bab 1 Perkembangan Ekonomi Makro Daerah...

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Triwulan II-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Penerbit : KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012 No.11/02/63/Th XVII, 5 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012 Perekonomian Kalimantan Selatan tahun 2012 tumbuh sebesar 5,73 persen, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor konstruksi

Lebih terperinci