UNIVERSITAS INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS INDONESIA"

Transkripsi

1

2 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA MENTENG HUIS JALAN CIKINI RAYA NO. 2 JAKARTA PUSAT PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker DIANA YUSNITA, S. Farm ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER-DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 ii

3 HALA}IAN PENGESAIIAN Laporan Praktek Kerja Profesi ini diajukan oleh : Nama NPM Program Studi Judul Laporan Diana Yusnita" S. Farm. 1,106t24643 Program Profesi Apoteker - Departeme,n Funrasi FMIPA UI Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma Me,nteng Huis Jalan Cikini RayaNo 2 Jakarta Pusat Periode 13 Februari -22Maret20l2 Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima' sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Studi Apoteker, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,. DEWAI\I PENGUJI Pembimbing I Yani Sriandaryani, S.Si., Apt. ( Pembimbing II Penguji I Dr. Harmita Apt. (......) )r Harrnrta, ry Penguji II Penguji III h. ftmarrla Malitt, ilts, Aft (... Dr4 talida \MUostutr,ryt Ditetapkan di Tanggal Depok )Lq &rrtr 1,t1- ilt

4 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat, rahmat, dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dan menyusun laporan ini tepat waktu. Dalam ruang yang terbatas ini, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat kepada : 1. Dr. Yahdiana Harahap, M.S. selaku Ketua Departemen Farmasi FMIPA UI. 2. Dr. Harmita, Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker, Departemen Farmasi, FMIPA UI. 3. Dr. Berna Elya, M.Si. Apt. yang telah bersedia meluangkan waku dan tenaga untuk membimbing kami dalam menyusun laporan ini. 4. Dra. Sri Indrawaty, M. Kes., selaku Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 5. Dra. Engko Sosialine Magdalene, Apt., selaku Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian. 6. Ibu Helsy Pahlemy, S.Si., Apt., selaku Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Farmasi Klinik dan Ibu Sri Bintang Lestari, M.Si, Apt., selaku Kepala Seksi Pelayanan Farmasi Klinik. 7. dr. Zorni Fadia selaku Kepala Subdirektorat Standardisasi; Dra. Hj. Fatimah, Umar, Apt., MM. selaku Kepala Subdirektorat Farmasi Klinik; Dra. Hidayati Mas ud, Apt. selaku Kepala Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional; dan Desko Irianto, S.H. selaku Kepala Subbagian Tata Usaha Bina Pelayanan Kefarmasian yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama praktik kerja profesi dan penyusunan laporan ini. 8. Seluruh staf Direktorat Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan atas pengarahan, keramahan, dan kesediaan untuk membimbing selama praktik kerja profesi dan penyusunan laporan ini. 9. Seluruh staf pengajar dan tata usaha program Profesi Apoteker Departemen Farmasi, FMIPA UI. 10. Seluruh rekan seperjuangan Apoteker UI angkatan LXXIV yang telah banyak membantu sehingga terwujudnya laporan ini. Penulis menyadari bahwa iv

5 penyusunan laporan PKPA ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis dengan senang hati menerima segala kritik dan saran demi perbaikan di masa yang akan datang. Tidak ada yang penulis harapkan selain sebuah keinginan agar laporan PKPA ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu farmasi pada khususnya. Penulis 2012 v

6 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR LAMPIRAN... ii iii v vii ix BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2. TINJAUAN UMUM Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Dasar Hukum Visi dan Misi Nilai - nilai Struktur Organisasi Fungsi Strategi Kewenangan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Sejarah Visi dan Misi Tugas Pokok dan Fungsi Tujuan Tujuan Umum Tujuan Khusus Sasaran Sasaran Umum Sasaran Khusus Kebijakan Struktur Organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tugas Fungsi Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Tugas Fungsi Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian Tugas Fungsi Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan Tugas vi

7 2.6.2 Fungsi Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Tugas Fungsi Struktur Organisasi BAB 3. TINJAUAN KHUSUS Tugas dan Fungsi Sasaran Kebijakan Struktur Organisasi Subdirektorat Standardisasi Subdirektorat Farmasi Komunitas Subdirektorat Farmasi Klinik Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional Kegiatan Subdirektorat Standardisasi Subdirektorat Farmasi Komunitas Subdirektorat Farmasi Klinik Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional BAB 4. PELAKSANAAN DAN PENGAMATAN BAB 5. PEMBAHASAN BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR REFERENSI vii

8 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6 Lampiran 7. Halaman Struktur Organisasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Struktur Organisasi Setditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian Struktur Organisasi Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian viii

9 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional di mana sasarannya adalah terciptanya lingkungan hidup yang bermutu dan optimal bagi setiap penduduk dan derajat kesehatan yang juga optimal. Kesehatan merupakan hal penting bagi kehidupan, tetapi saat ini masyarakat masih beranggapan bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab pemerintah dalam hal ini tenaga kesehatan antara lain dokter, apoteker dan perawat. Masyarakat juga beranggapan bahwa yang berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan hanyalah dokter dan perawat sedangkan peran Apoteker dalam memberikan pelayanan kefarmasian masih belum nyata dan maksimal dirasakan oleh masyarakat. Terwujudnya pelayanan kefarmasian yang ideal di Indonesia harus diperjuangkan oleh berbagai pihak. Pemerintah sebagai regulator dan pelaksana kebijakan, mendorong peningkatan peran Apoteker dalam pelayanan kesehatan dengan mencanangkan perubahan paradigma dari pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada obat (drug oriented) menjadi orientasi kepada pasien (patient oriented), dengan berdasarkan pada asas Pharmaceutical Care, yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi Apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Ditjen Binfar dan Alkes) mempunyai tanggung jawab mensinergiskan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) dengan pelayanan medik dan pelayanan keperawatan melalui penyusunan kebijakan dan pedomanpedoman yang dapat dipergunakan di seluruh sarana pelayanan kesehatan di Indonesia agar terwujud visi Kementerian Kesehatan Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan. Untuk mencapai visi tersebut diperlukan adanya suatu pembekalan bagi para calon apoteker mengenai tugas dan fungsi apoteker dalam regulasi terkait bidang kefarmasian, sehingga tercipta peranan aktif dari para calon apoteker dalam 1

10 2 pencapaian visi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, diselenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sebagai lembaga pemerintahan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membekali calon apoteker dengan cara memperkenalkan program pemerintah dalam meningkatkan peran apoteker di masyarakat agar tercapai peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Praktek Kerja Profesi Apoteker di bidang pemerintahan juga sangat diperlukan agar calon apoteker dapat mengetahui, mempelajari dan memahami kebijakan-kebijakan, penyusunan standard, norma, pedoman, kriteria, prosedur, dan bimbingan teknis serta evaluasi di bidang pelayanan farmasi komunitas dan klinik. 1.2 Tujuan Tujuan dilaksanakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Kementerian Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian sebagai berikut : a. Memahami struktur organisasi, tugas, dan fungsi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. b. Memahami struktur organisasi, tugas, dan fungsi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. c. Memahami peran seorang apoteker dalam Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. d. Memahami peran seorang apoteker dalam Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian.

11 BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merupakan badan pelaksana pemerintah di bidang kesehatan, dipimpin oleh Menteri Kesehatan yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden (Kementerian Kesehatan, 2010b). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009, nama Kementerian Kesehatan digunakan untuk mengganti nama sebelumnya yaitu Departemen Kesehatan (Peraturan Presiden No. 47/2009). Tugas Kementerian Kesehatan adalah menyelenggarakan urusan di bidang kesehatan dalam pemerintahan untuk membantu Presiden (Kementerian Kesehatan, 2010b). Kementerian Kesehatan dan lembaga yang dibawahinya menggunakan logo Bakti Husada. Pengertian dari logo tersebut adalah pengabdian dalam upaya kesehatan paripurna (Dinas Kesehatan Tebing Tinggi, 2009) Dasar Hukum a. Peraturan Presiden RI No. 47 tahun 2009 nomor 144 tentang pembentukan dan organisasi kementerian negara. b. Peraturan Presiden RI No. 24 tahun 2010 tentang kedudukan, tugas dan fungsi kementerian negara serta susunan organisasi, tugas dan fungsi eselon I kementerian negara. c. Peraturan Menteri Kesehatan RI no.1144/menkes/per/viii/2010 tentang organisasi dan tata kerja kementerian kesehatan Visi dan Misi Kemenkes RI periode memiliki visi Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan (Kementerian Kesehatan, 2010b). Untuk mencapai visinya maka Kementerian Kesehatan menetapkan misi sebagai berikut (Kementerian Kesehatan, 2010b) : a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani. b. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan. 3

12 4 c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. d. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik Nilai-Nilai Untuk mewujudkan visi dan misi yang telah dirumuskan maka nilai-nilai yang diyakini dan dijunjung tinggi oleh Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut (Kementerian Kesehatan, 2010a) : a. Prorakyat Kementerian kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan menghasilkan yang terbaik untuk rakyat. Hal tersebut dimaksudkan agar tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah salah satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi. b. Inklusif Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak karena pembangunan kesehatan tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Oleh sebab itu, seluruh komponen masyarakat (meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat, pengusaha, masyarakat madani, dan masyarakat bawah) harus ikut berpartisipasi secara aktif. c. Responsif Program kesehatan yang dirancang Kementerian Kesehatan harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan rakyat. Kementerian Kesehatan harus tanggap dalam mengatasi permasalahan di daerah, disesuaikan dengan situasi kondisi setempat, sosial budaya dan kondisi geografis. Faktor-faktor tersebut menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang berbeda-beda sehingga penanganan yang diberikan dapat berbeda pula. d. Efektif Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan, dan bersifat efisien. e. Bersih Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), transparan, dan akuntabel.

13 Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan memiliki susunan organisasi yang menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Struktur organisasi Kementerian Kesehatan terdiri atas (Kementerian Kesehatan, 2010b) : a. Sekretariat Jenderal. b. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan. c. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. d. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. e. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. f. Inspektorat Jenderal. g. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. h. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. i. Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi. j. Staf Ahli Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat. k. Staf Ahli Bidang Perlindungan Faktor Risiko Kesehatan. l. Staf Ahli Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi. m. Staf Ahli Bidang Mediko Legal. n. Pusat Data dan Informasi. o. Pusat Kerja Sama Luar Negeri. p. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan. q. Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. r. Pusat Komunikasi Publik. s. Pusat Promosi Kesehatan. t. Pusat Inteligensia Kesehatan. u. Pusat Kesehatan Haji. Bagan struktur organisasi Kementerian Kesehatan dapat dilihat pada Lampiran Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan. b. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Kesehatan.

14 6 d. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Kesehatan di daerah. e. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional Strategi Untuk mewujudkan visi Kementerian Kesehatan periode tahun dan sesuai dengan misi yang telah ditetapkan maka pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan strategi sebagai berikut (Kementerian Kesehatan, 2010a): a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta, dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global. b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu, dan berkeadilan, serta berbasis bukti dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif. c. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional. d. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu. e. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. f. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdaya guna, dan berhasil guna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab Kewenangan Kementerian Kesehatan mempunyai kewenangan (Kementerian Kesehatan, 2010b) : a. Penetapan kebijakan nasional di bidang kesehatan untuk mendukung pembangunan secara makro. b. Penetapan pedoman untuk menentukan standar pelayanan minimal yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten/kota di bidang kesehatan. c. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidang kesehatan. d. Penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidang kesehatan.

15 7 e. Pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervisi di bidang kesehatan. f. Pengaturan penerapan perjanjian atau persetujuan internasional yang disahkan atas nama negara di bidang kesehatan. g. Penetapan standar pemberian izin oleh daerah di bidang kesehatan. h. Penanggulangan wabah dan bencana berskala nasional. i. Penetapan kebijakan sistem informasi nasional di bidang kesehatan. j. Penetapan persyaratan kualifikasi usaha jasa di bidang kesehatan. k. Penyelesaian perselisihan antar propinsi di bidang kesehatan. l. Penetapan kebijakan pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka kematian ibu, bayi, dan anak. m. Penetapan kebijakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat. n. Penetapan pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. o. Penetapan pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan. p. Penetapan pedoman penapisan, pengembangan, penerapan teknologi kesehatan, dan standar etika penelitian kesehatan. q. Penetapan standar nilai gizi dan pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi. r. Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan. s. Surveilans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah, penyakit menular, dan kejadian luar biasa. t. Penyediaan obat esensial tertentu dan obat untuk pelayanan kesehatan dasar sangat esensial (buffer stock nasional). u. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku, yaitu penempatan dan pemindahan tenaga kesehatan tertentu, serta pemberian izin dan pembinaan produksi dan distribusi alat kesehatan. 2.2 Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Sejarah Sebelum dibentuk Badan Pengawasan Obat dan Makanan, pengawasan peredaran obat dan makanan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan yang terdapat dalam struktur Kementerian Kesehatan. Dengan dikeluarkan Keputusan Presiden No.103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintahan

16 8 Non Departemen, dibentuklah Badan Pengawasan Obat dan Makanan yang bertugas untuk melakukan pengawasan obat dan makanan secara mandiri. Sementara itu, tanggung jawab mengenai perumusan serta pelaksanaan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dengan membentuk Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Ditjen Yanfar dan Alkes). Sejalan dengan perubahan yang terjadi pada berbagai bidang pemerintahan maka Kementerian Kesehatan memperbarui susunan organisasinya melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1575/Menkes/PER/XI/2005. Dalam peraturan tersebut, Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan berubah menjadi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Ditjen Binfar dan Alkes). Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. Pada tahun 2010, susunan organisasi Kementerian Kesehatan diperbarui dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan Visi dan Misi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai visi Ketersediaan, Keterjangkauan dan Pemerataan Pelayanan Farmasi dan Alat Kesehatan Menuju Masyarakat yang Mandiri Untuk Hidup Sehat dengan misi Menjamin Pelayanan Kefarmasian yang Bermutu. (Kementerian Kesehatan, 2010b) Tugas Pokok dan Fungsi Tugas pokok Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan Standardisasi teknis di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2010b). Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan melaksanakan tugas dan menyelenggarakan fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) : a. Perumusan kebijakan di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. b. Pelaksanaan kebijakan bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. c. Penyusunan NSPK dibidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan.

17 9 d. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. e. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tujuan Tujuan Umum Tujuan umum Ditjen Binfar dan Alkes adalah menjamin ketersediaan, pemerataan, mutu, keterjangkauan obat, dan perbekalan kesehatan termasuk obat tradisional, perbekalan kesehatan rumah tangga, dan kosmetika (Kementerian Kesehatan, 2010b) Tujuan Khusus Tujuan khusus dari Ditjen Binfar dan Alkes antara lain (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Terbinanya penggunaan obat yang rasional. b. Terbinanya pelayanan farmasi komunitas dan klinik. c. Tersedianya obat publik. d. Tersusunnya standar, norma, dan pedoman. e. Terjaminnya ketersediaan, keterjangkauan dan pemerataan obat dan alat kesehatan dengan diterapkannya konsepsi obat esensial nasional serta meningkatnya mutu, efisiensi, dan efektivitas pelayanan kefarmasian Sasaran Sasaran Umum Sasaran umum Ditjen Binfar dan Alkes adalah semakin baiknya pembinaan dalam bidang penggunaan obat rasional, pelayanan farmasi komunitas dan klinik, obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pembinaan produksi dan distribusi alat kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2010b).

18 Sasaran Khusus Sasaran khusus Ditjen Binfar dan Alkes antara lain (Kementerian Kesehatan, 2010b) : a. Ketersediaan obat esensial-generik di sarana pelayanan kesehatan menjadi 95%. b. Anggaran untuk obat esensial-generik di sekitar publik setara dengan 2 US$/kapita/tahun Kebijakan Kebijakan yang dimiliki oleh Ditjen Binfar dan Alkes antara lain (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Meningkatkan kualitas sarana pelayanan kefarmasian sampai tingkat desa. b. Meningkatkan kualitas sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan. c. Meningkatkan penyediaan obat dan perbekalan kesehatan khususnya di sektor publik yang lengkap jenis, jumlah cukup dan mudah diperoleh setiap saat dengan harga terjangkau dan kualitas terjamin. d. Melaksanakan perizinan dalam rangka perlindungan terhadap penggunaan obat dan perbekalan kesehatan yang tidak memenuhi standar mutu, keamanan, dan kemanfaatan. e. Menyelenggarakan pelayanan farmasi yang berkualitas melalui penerapan jabatan fungsional apoteker dan asisten apoteker serta pelaksanaan pendidikan berkelanjutan. f. Menyelenggarakan pembinaan, advokasi, dan promosi penggunaan obat rasional. g. Meningkatkan pelaksanaan harmonisasi standar bidang kefarmasian dan alat kesehatan dengan standar regional maupun internasional Struktur Organisasi Ditjen Binfar dan Alkes dipimpin oleh Direktur Jenderal. Direjtur Jenderal merupakan pelaksana yang bertanggung jawab langsung terhadap Menteri Kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2010b). Struktur Ditjen Binfar dan Alkes terdiri atas (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Sekretariat Direktorat Jenderal b. Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan c. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian

19 11 d. Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan e. Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian. Bagan struktur organisasi dapat dilihat di Lampiran Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tugas Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan memiliki tugas untuk melaksanakan pelayanan teknis administrasi kepada semua unsur di lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes (Kementerian Kesehatan, 2010b) Fungsi Fungsi Sekretariat Ditjen Binfar dan Alkes terdiri dari (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Koordinasi dan penyusunan rencana, program dan anggaran. b. Pengelolaan data dan informasi. c. Penyiapan urusan hukum, penataan organisasi, jabatan fungsional dan hubungan masyarakat. d. Pengelolaan urusan keuangan. e. Pelaksanaan urusan kepegawaian, tata persuratan, kearsipan gaji, rumah tangga dan perlengkapan. f. Evaluasi dan penyusunan laporan.

20 Struktur Organisasi Sekretariat Ditjen Binfar dan Alkes terdiri atas (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Bagian Program dan Informasi. b. Bagian Hukum, Organisasi, dan Hubungan Masyarakat. c. Bagian Keuangan. d. Bagian Kepegawaian dan Umum. e. Kelompok Jabatan Fungsional. Bagan struktur organisasi dapat dilihat di Lampiran Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Tugas Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK), serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2010b) Fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. c. Penyiapan penyusunan NSPK di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan, dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan, dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. e. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan

21 13 kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga direktorat Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat. b. Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. c. Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. d. Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional. Bagan struktur organisasi dapat dilihat di Lampiran Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian Tugas Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan NSPK serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pelayanan kefarmasian (Kementerian Kesehatan, 2010b) Fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional. c. Penyiapan penyusunan NSPK di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional. d. Pemberian bimbingan teknis di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional. e. Pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional.

22 14 f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian terdiri atas (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Subdirektorat Standardisasi. b. Subdirektorat Farmasi Komunitas. c. Subdirektorat Farmasi Klinik. d. Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional. Bagan struktur organisasi dapat dilihat di Lampiran Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan Tugas Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan NSPK serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang produksi dan distribusi alat kesehatan serta perbekalan kesehatan rumah tangga (Kementerian Kesehatan, 2010b).

23 Fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. c. Penyusunan NSPK di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. e. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan terdiri atas (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Subdirektorat Penilaian Alat Kesehatan. b. Subdirektorat Penilaian Produk Diagnostik Invitro dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga. c. Subdirektorat Inspeksi Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga. d. Subdirektorat Standardisasi dan Sertifikasi. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional. Bagan struktur organisasi dapat dilihat di Lampiran 6. Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Tugas Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan NSPK, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang produksi dan distribusi kefarmasian (Kementerian Kesehatan, 2010b).

24 Fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. c. Penyiapan penyusunan NSPK di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis, pengendalian, kajian dan analisis di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. e. Pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. f. Pelaksanaan perizinan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian terdiri atas (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Subdirektorat Produksi dan Distribusi Obat dan Obat Tradisional. b. Subdirektorat Produksi Kosmetika dan Makanan. c. Subdirektorat Produksi dan Distribusi Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Sediaan Farmasi Khusus. d. Subdirektorat Kemandirian Obat dan Bahan Baku Obat. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional. Bagan struktur organisasi dapat dilihat di Lampiran 7.

25 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian adalah Direktorat baru dalam Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan yang merupakan gabungan dari Direktorat Farmasi Klinik dan Direktorat Penggunaan Obat Rasional. Dasar hukum perubahan struktur organisasi tersebut adalah Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan yang merupakan perubahan dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 (Kementerian Kesehatan, 2010b; Kementerian Kesehatan, 2005). Dalam peraturan tersebut diatur tugas, fungsi, visi, misi, tujuan, dan sasaran Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. 3.1 Tugas dan Fungsi Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 pasal 568, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan NSPK serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pelayanan kefarmasian. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 568, Direktorat Pelayanan Kefarmasian menyelengarakan fungsi: a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. c. Penyiapan penyusunan NSPK di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. e. Pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 17

26 Sasaran Kebijakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian memiliki Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Sasaran hasil program yang tersusun dalam RENSTRA Kementerian Kesehatan adalah meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh masyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian adalah meningkatkan penggunaan obat rasional melalui pelayanan kefarmasian yang berkualitas untuk tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal. Indikator dari pencapaian sasaran tersebut meliputi: a. Persentase penggunaan obat generik di fasilitas kesehatan sebesar 80%. b. Persentase Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pemerintah yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar sebesar 45%. c. Persentase Puskesmas Perawatan yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar sebesar 15%. d. Persentase penggunaan obat rasional di sarana pelayanan kesehatan sebesar 70%. 3.3 Struktur Organisasi Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1144/MENKES/PER/VII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan terdiri atas: a. Subdirektorat Standardisasi. b. Subdirektorat Farmasi Komunitas. c. Subdirektorat Farmasi Klinik. d. Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional. Tiap subdirektorat dan subbagian dipimpin oleh seorang kepala subdirektorat dan kepala subbagian untuk bagian Tata Usaha. Setiap subdirektorat memiliki dua seksi, seperti Subdirektorat Standardisasi yang memiliki Seksi Standardisasi Pelayanan Kefarmasian dan Seksi Standardisasi Penggunaan Obat Rasional.

27 21 Kemudian, Subdirektorat Farmasi Komunitas terdiri atas Seksi Pelayanan Farmasi Komunitas dan Seksi Pemantauan dan Evaluasi Farmasi Komunitas. Subdirektorat Farmasi Klinik memiliki seksi Pelayanan Farmasi Klinik dan Seksi Pemantauan dan Evaluasi Farmasi Klinik. Serta yang terakhir Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional yang terdiri atas Seksi Promosi Penggunaan Obat Rasional dan Seksi Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Obat Rasional. Lebih lanjut, tiap subdirektorat tersebut membawahi empat staf untuk melaksanakan tugas dan fungsinya Subdirektorat Standardisasi Subdirektorat Standardisasi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan NSPK di bidang pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Subdirektorat Standardisasi menyelenggarakan fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional. b. Penyiapan bahan penyusunan NSPK di bidang pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional. c. Penyiapan bahan evaluasi dan penyusunan laporan di bidang pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional.

28 22 Subdirektorat Standardisasi terdiri atas: a. Seksi Standardisasi Pelayanan Kefarmasian Seksi Standardisasi Pelayanan Kefarmasian mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan NSPK di bidang pelayanan kefarmasian. b. Seksi Standardisasi Penggunaan Obat Rasional Seksi Standardisasi Penggunaan Obat Rasional mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan NSPK di bidang penggunaan obat rasional Subdirektorat Farmasi Komunitas Subdirektorat Farmasi Komunitas mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan NSPK serta bimbingan teknis, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang farmasi komunitas. Dalam melaksanakan tugas tersebut Subdirektorat Farmasi Komunitas menyelenggarakan fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) : a. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang farmasi komunitas. b. Penyiapan bahan NSPK di bidang farmasi komunitas. c. Penyiapan bahan bimbingan teknis di bidang farmasi komunitas. d. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang farmasi komunitas. Subdirektorat Farmasi Komunitas terdiri atas: a. Seksi pelayanan Farmasi Komunitas Seksi pelayanan Farmasi Komunitas mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan NSPK di bidang farmasi komunitas.

29 23 b. Seksi Pemantauan dan Evaluasi Farmasi Komunitas Seksi Pemantauan dan Evaluasi Farmasi Komunitas mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang farmasi komunitas Subdirektorat Farmasi Klinik Subdirektorat Farmasi Klinik mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan NSPK serta bimbingan teknis, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang farmasi klinik. Dalam melaksanakan tugas tersebut Subdirektorat Farmasi Klinik menyelenggarakan fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b): a. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang farmasi klinik. b. Penyiapan bahan penyusunan NSPK di bidang farmasi klinik. c. Penyiapan bahan bimbingan teknis di bidang farmasi klinik. d. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang farmasi klinik. Subdirektorat Farmasi Klinik terdiri atas: a. Seksi Pelayanan Farmasi Klinik Seksi pelayanan Farmasi Klinik mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan NSPK di bidang farmasi klinik. b. Seksi Pemantauan dan Evaluasi Farmasi Klinik Seksi Pemantauan dan Evaluasi Farmasi Klinik mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang farmasi klinik Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan NSPK serta bimbingan teknis, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang farmasi klinik. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional menyelenggarakan fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b):

30 24 a. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penggunaan obat rasional. b. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penggunaan obat rasional. c. Penyiapan bahan bimbingan teknis di bidang penggunaan obat rasional. d. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang penggunaan obat rasional. Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional terdiri atas: a. Seksi Promosi Penggunaan Obat Rasional Seksi Promosi Penggunaan Obat Rasional mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan NSPK di bidang penggunaan obat rasional. b. Seksi Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Obat Rasional Seksi Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Obat Rasional tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang penggunaan obat rasional. 3.4 Kegiatan Subdirektorat Standardisasi Subdirektorat Standardisasi memiliki kegiatan sebagai berikut : a. Penyusunan draft formularium Jaminan Kesehatan Masyarakat. b. Penyusunan draft formularium Haji. c. Penyusunan daftar obat esensial nasional (DOEN). d. Revisi pedoman pengobatan dasar di puskesmas. e. Penyusunan pedoman pengendalian antibiotik. f. Penyusunan pedoman pelayanan obat rasional berbasis Farmakoekonomi. g. Penyusunan standar pelayanan farmasi di puskesmas. h. Penyusunan rancangan kebijakan peresepan elektronik. i. Penyusunan petunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis (juklak/juknis) penerapan pekerjaan kefarmasian bidang komunitas dan rumah sakit. j. Pembuatan audiovisual cara penggunaan obat yang benar Subdirektorat Farmasi Komunitas Subdirektorat Farmasi Komunitas memiliki kegiatan sebagai berikut :

31 25 a. Pilot project pelaksanaan pelayanan farmasi di puskesmas. b. Monitoring dan evaluasi pilot project pelaksanaan pelayanan farmasi di puskesmas (5 propinsi). c. Total peningkatan mutu pelayanan kefarmasian di puskesmas untuk dinas kesehatan (dinkes) propinsi di Bandung. d. Total peningkatan mutu pelayanan kefarmasian di puskesmas untuk dinkes kabupaten/kota di Bali. e. Sosialisasi pekerjaan/praktik kefarmasian sesuai Good Pharmaceutical Practices (GPP) untuk dinkes propinsi/kabupaten/kota. f. Advokasi penerapan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun g. Pertemuan pembahasan kerjasama antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan Panitia Terapi Farmasi (PTF) dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kefarmasian Subdirektorat Farmasi Klinik Subdirektorat Farmasi Klinik memiliki kegiatan sebagai berikut : a. Penyusunan pedoman penilaian pelayanan farmasi di rumah sakit. b. Penyusunan pedoman visite. c. Penyusunan pedoman interpretasi data klinik. d. Pembuatan audiovisual untuk advokasi tentang pelaksanaan pelayanan farmasi klinik di rumah sakit. e. Pengembangan pilot project pelayanan kefarmasian menjadi pusat pelayanan untuk penyakit tertentu (Mataram). f. Pertemuan dengan manajemen rumah sakit dan instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) dalam rangka pemantapan pusat pembelajaran pelayanan farmasi klinik untuk penyakit tertentu. g. Advokasi dan sosialisasi pelayanan farmasi klinik di rumah sakit. h. Pembekalan pelayanan farmasi klinik di rumah sakit. i. Penyusunan pedoman pemantauan terapi antibiotik. j. Pembekalan sumber daya manusia IFRS dalam rangka pelayanan rumah sakit berstandar internasional Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional

32 26 Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional (POR) memiliki kegiatan sebagai berikut : a. Penggerakan POR di wilayah timur (Sulawesi Tengah dan Gorontalo). b. Penggerakan POR di wilayah barat (Nanggroe Aceh Darussalam dan Bangka Belitung). c. Penggerakan POR di wilayah tengah (Kalimantan Barat, DKI Jakarta dan Banten). d. Evaluasi penggerakan POR di wilayah timur (Sulawesi Tenggara dan Gorontalo). e. Evaluasi penggerakan POR di wilayah barat (Nanggroe Aceh Darussalam dan Bangka Belitung). f. Evaluasi penggerakan POR di wilayah tengah (Kalimantan Barat, DKI Jakarta dan Banten). g. Penyebaran informasi POR dan obat generik (OG). h. Advokasi konsep POR ke dalam kurikulum pendidikan fakultas kedokteran dan farmasi. i. Konsinyasi dan sosialisasi kebijakan penggunaan obat rasional.

33 BAB 4 PELAKSANAAN DAN PENGAMATAN Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) UI angkatan LXXIV di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dilaksanakan pada tanggal Januari Hari pertama kegiatan PKPA diawali dengan acara perkenalan antara pihak Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dengan pihak program profesi apoteker UI. Acara perkenalan yang disertai pengantar umum tersebut dilaksanakan pada pukul WIB di ruang 803 A, yaitu ruang rapat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Pihak Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan diwakili oleh Bapak Kamit Waluyo, SH. selaku perwakilan dari sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Pihak program profesi apoteker terdiri dari mahasiswa peserta PKPA yang didampingi oleh Bapak Harmita selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UI. Peserta PKPA diberikan pembekalan untuk dapat menjalankan tugas selama berlangsungnya kegiatan PKPA di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Materi yang diberikan pada pembekalan ini berupa penjelasan mengenai Organisasi dan Tata Kementerian Kesehatan oleh Bapak Kamit Waluyo, SH. Selaku Kepala Subbagian Kepegawaian. Dalam pembekalan tersebut, peserta PKPA mendapat penjelasan tentang visi, misi, kedudukan, tugas, dan fungsi serta susunan organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan yang berlaku sejak Pada pelaksanaan PKPA ini, peserta dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan direktorat yang dibawahi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, yaitu Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan, dan Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian. Tiap kelompok terdiri dari orang. Kelompok peserta PKPA yang ditempatkan di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian dibimbing oleh Bapak Mantiza Perdana H.K, S.Farm., Apt. selaku perwakilan dari Tata Usaha Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Dalam kunjungan ini, peserta PKPA diperkenalkan dengan beberapa Kepala Subdirektorat dan staf Direktorat Bina 26

34 28 Pelayanan Kefarmasian karena sebagian Kepala Subdirektorat dan staf tidak ada di tempat (tugas dinas). Selanjutnya, peserta PKPA mendapatkan pengarahan dari Ibu Dra. Hj. Fatimah Umar, MM. mengenai visi, misi, struktur organisasi, tugas, fungsi, dan sejarah serta kegiatan secara umum yang telah dilakukan oleh Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Kegiatan PKPA dilanjutkan dengan pemberian materi oleh tiap subdirektorat yang ada di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Penjelasan materi subdirektorat Farmasi Klinik diberikan oleh Ibu Sri Bintang Lestari, S.Si., Apt. selaku Kepala Seksi Pelayanan Kefarmasian Klinik. Materi subdirektorat Farmasi Komunitas diberikan oleh Ibu Dra. Dara Amelia, MM. selaku Kepala Seksi Pelayanan Kefarmasian Komunitas. Materi subdirektorat Standardisasi diberikan oleh Ibu Erie Gusnellyanti, S.Si., Apt. selaku Kepala Seksi Standardisasi. Materi subdirektorat Penggunaan Obat Rasional diberikan oleh Ibu Dra. Hidayati Mas ud, MM. selaku Kepala Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional. Selanjutnya, peserta PKPA dibagi menjadi empat kelompok sesuai subdirektorat yang ada di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Kelompok I mendapatkan tugas khusus yang berkaitan dengan Subdirektorat Farmasi Klinik mengenai evaluasi penggunaan obat antibiotik, Reaksi obat tidak diinginkan (ROTD) jantung, ROTD kulit, ROTD hati, dan ROTD ginjal. Kelompok II mendapatkan tugas khusus yang berkaitan Subdirektorat Farmasi Komunitas mengenai Training of Trainee (TOT) Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, peraturan Menteri Kesehatan tentang apotek, dan perbandingan sistem pelayanan di primary health care di beberapa negara Asia Tenggara. Kelompok III mendapatkan tugas khusus yang berkaitan dengan Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional mengenai analisis sistem monitoring dan evaluasi penggunaan obat rasional dari indikator peresepan, pelayanan, dan strategi promosi. Kelompok IV mendapatkan tugas khusus yang berkaitan dengan Subdirektorat Standardisasi mengenai penyusunan standar pelayanan kefarmasian di klinik dan di apotek, pengkajian buku pedoman penggunaan obat opioid dalam penatalaksanaan nyeri, dan formularium nasional di Indonesia. Kegiatan PKPA di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian berlangsung selama dua pekan. Dalam pekan pertama, peserta PKPA diberikan kesempatan untuk menyelesaikan laporan umum kegiatan PKPA. Peserta PKPA mendapatkan informasi mengenai kegiatan yang dilakukan di setiap subdirektorat di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Pada pekan kedua, peserta PKPA diberikan kesempatan

35 29 untuk berdiskusi dengan pembimbing dalam penyelesaian tugas khusus yang diberikan oleh subdirektorat. Pada minggu kedua, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tugas khusus yang diberikan oleh masing-masing subdirektorat. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan pembimbing dari tugas khusus tersebut. Selama diskusi, mahasiswa memperoleh pengarahan dan bimbingan dengan baik sehingga tugas khusus tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Penyusunan laporan umum dan tugas khusus dilakukan dengan melihat berbagai literatur berupa buku-buku dan peraturan pemerintah yang disediakan di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Literatur tersebut sangat membantu dalam penyusunan laporan dan tugas khusus. Pada hari jumat minggu kedua, mahasiswa melakukan presentasi mengenai tugas khusus yang telah dikerjakan.

36 30 BAB 5 PEMBAHASAN Direktorat Bina Kefarmasian dan Alat kesehatan adalah salah satu domain unit utama dari Kementerian Kesehatan yang merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang kefarmasian dan alat kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan terdiri dari empat Direktorat yang mempunyai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian merupakan gabungan dari Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik dengan Direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional yang dibentuk sesuai Permenkes No tahun Direktorat ini terdiri dari 37 orang personil (14 struktural dan 23 staf). Jabatan struktural terdiri dari seorang Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian, seorang Kepala Subbagian Tata Usaha dan dua staf honorer, masing-masing Subdirektorat dikepalai oleh seorang Kepala Subdirektorat yang membawahi dua kepala seksi dan staf. Jam operasional dimulai pukul hingga WIB dari dari senin hingga jumat. Staf berasal dari latar belakang pendidikan yang beragam, yakni apoteker, tenaga farmasi, dokter, manajemen, dan hukum. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian memfokuskan tugas dan fungsinya pada praktek kefarmasian tidak hanya di komunitas, tetapi juga meliputi praktek kefarmasian di klinik, kebijakan mengenai standarisasi, serta pembinaan dalam penggunaan obat secara rasional. Yang dimaksud dengan komunitas adalah semua sarana kesehatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat (community). Sarana-sarana kesehatan tersebut antara lain adalah rumah sakit, apotek, toko obat, dan puskesmas. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan standard, norma, pedoman, kriteria, prosedur dan bimbingan teknis serta penyiapan evaluasi di bidang pelayanan farmasi pada rumah sakit, apotek, toko obat, dan puskesmas. (Kementerian Kesehatan, 2010). Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian terdiri dari empat Subdirektorat, yaitu Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional, Subdirektorat Farmasi klinik, Subdirektorat Farmasi Komunitas, dan Subdirektorat Standardisasi masing membawahi seksi-seksi yang ada. Adanya seksi-seksi tersebut dimaksudkan agar

37 31 program yang akan dilaksanakan terencana dengan baik dan komprehensif. Hal tersebut terlihat dari tugas masing-masing seksi yang saling mendukung satu sama lain (Kementerian Kesehatan, 2010). Salah satu arah kebijakan Kementrian Kesehatan adalah terwujudnya peningkatan pelayanan di bidang kefarmasian melalui program-program Direktorat Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian memiliki fokus dalam pelayanan klinik dan komunitas. Salah satu tugas Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian yaitu penyusunan NSPK dan pedoman di bidang pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional. Di bidang pelayanan kefarmasian, NSPK yang telah disusun pada tahun adalah berupa kebijakan dan standar, yaitu PP Nomor 51 Tahun 2009 (tentang pekerjaan kefarmasian), SK Menteri Kesehatan RI Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004 (Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit), SK Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 (Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek), Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 889/MENKES/PER/V/2011 (Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian); Pedoman yang telah dibuat yaitu Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, Pedoman Penggunaan Obat Bebas & Bebas Terbatas, Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian di Sarana Kesehatan, Pedoman Pelayanan Informasi Obat, Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Pasien Geriatri, Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Ibu Hamil dan Menyusui, Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care), Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk ODHA; dan Buku Saku Pharmaceutical Care yaitu Pharmaceutical Care untuk Penyakit DM, Pharmaceutical Care untuk Penyakit TB, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi, dan Pharmaceutical Care untuk Pasien Flu Burung. Subdit Standardisasi menyusun standar dan pedoman sebagai acuan dalam melaksanakan pelayanan farmasi klinik dan komunitas, sehingga mewujudkan pengobatan yang rasional. Program Subdit Standardisasi pada tahun 2011 adalah menyelesaikan kebijakan peresepan elektronik yang saat ini sedang diperluas untuk dijadikan peraturan tentang resep. Selain kebijakan tentang resep, juga dirumuskan Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB) dan Standar Pelayanan

38 32 Kefarmasian di Puskemas yang sedang mengalami revisi (saat ini sedang dalam tahap diskusi dengan Bina Upaya Kesehatan). Penyusunan NSPK merupakan hasil pemikiran banyak pihak. Tim penyusun melakukan studi literatur dan membuat draft, kemudian akan didiskusikan dengan berbagai pihak terkait, baik staf ahli, akademisi, dan pihak terkait lainnya. Draft yang telah melalui proses revisi dan finalisasi diajukan ke Menteri Kesehatan atau Direktorat Jenderal untuk disahkan dalam bentuk Surat Keputusan Menteri (SK) dan Permenkes. Selanjutnya, dilakukan proses sosialisasi kepada masyarakat. Subdit POR melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, bimbingan teknis, pengendalian, pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang penggunaan obat rasional. Pada bidang penggunaan obat rasional, NSPK yang telah tersedia adalah kebijakan yaitu SK Menteri Kesehatan RI Nomor 068/MENKES/SK/VIII/2006 tentang Pencantuman Nama Generik pada Label Obat, SK Menteri Kesehatan RI Nomor 069/MENKES/SK/VIII/ 2006 tentang Pencantuman Harga Eceran Tertinggi pada Label Obat, SK Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/MENKES/068 /I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, SK Menteri Kesehatan RI No. HK.03.01/MENKES/159 /I/2010 tentang Pedoman Pelaksanaan dan Pengawasan Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah; pedoman DOEN, Formularium Jamkesmas, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas, Pedoman Penggunaan Obat Opioid dalam Penatalaksanaan Nyeri; Modul yang dibuat yaitu Modul Pelatihan POR, Modul Pelatihan Teknis POR untuk Perawat; Modul I Pemilihan obat yang benar bagi Tenaga Kesehatan, Modul II Pemilihan obat yang benar bagi Kader Kesehatan. Tantangan yang dihadapi terkait dengan penerapan NSPK yang telah ditetapkan adalah mengenai penyediaan NSPK dalam bentuk buku dan pendistribusian kepada pengguna, peningkatan sosialisasi kepada supplier (industri) dan user/prescriber di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, peningkatan kesadaran & komitmen pengambil kebijakan di daerah melalui advokasi, peningkatan implementasi di sektor publik, maupun sektor swasta, peningkatan inovasi, sesuai kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran dan farmasi. Terkait dengan penggunaan obat rasional, Subdit POR melakukan promosi penggunaan obat rasional melalui media, kerjasama dan kemitraan, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi. Salah satu fokus promosi adalah informasi tentang

39 33 penggunaan obat generik yang dilakukan dengan berbagai cara yaitu program cara Belajar Ibu Aktif (CBIA) yang berdasarkan pada kenyataan bahwa seorang ibu menjadi penentu utama perilaku penggunaan obat di rumah tangga. Selain itu, terdapat program Monitoring-Training Planing (MTP), dan lomba membuat poster obat generik. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan membina kader-kader disetiap puskesmas di daerah sebagai wujud usaha pendekatan pemerintah kepada masyarakat. Promosi penggunaan obat rasional dilaksanakan secara gencar sebagai antisipasi penanggulangan kesadaran masyarakat yang rendah terhadap penggunaan obat rasional. Penggunaan obat tidak rasional dapat berakibat buruk bagi kesehatan masyarakat dan apabila tidak ditanggulangi dapat mempengarui generasi yang akan datang. Dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan program yang berkaitan dengan POR maka dilakukan monitoring atau pemantauan penggunaan obat yang rasional. Empat parameter yang dinilai dalam pemantauan dan evaluasi POR adalah proses pengobatan (Penerapan Standard Operating Procedure), penggunaan standar pengobatan, ketepatan diagnosis, ketepatan pemilihan intervensi pengobatan. World Health Organization (WHO) menetapkan tiga indikator untuk penilaian POR yaitu indikator resep, pelayanan, dan fasilitas. Pemerintah menetapkan indikator untuk keberhasilan POR di rumah sakit berdasarkan Persentase Rumah Sakit Propinsi yang menggunakan Formularium Rumah Sakit yang direvisi secara berkala, persentase penggunaan antibiotik pada bedah bersih, persentase penggunaan obat generik, persentase penggunaan obat esensial, rerata jumlah item obat dalam tiap resep. sedangkan indikator POR untuk puskesmas adalah persentase penggunaan antibiotik pada ISPA nonpneumonia dan diare nonspesifik, persentase penggunaan suntikan (mialgia), jumlah item obat per resep, persentase peresepan generik. Direktorat Pelayanan Kefarmasian menetapkan penggunaan obat rasional di puskesmas dikatakan 100% jika persentase penggunaan antibiotik pada ISPA nonpneumonia (20%), persentase penggunaan antibiotik pada diare nonspesifik (8%), persentase penggunaan injeksi pada mialgia (1%), rata-rata item obat per lembar resep (2,6). Pada kenyataannya walaupun target kinerja POR tercapai, yaitu lebih dari 40%. Namun, persentase penggunaan antibiotik pada ISPA nonpneumonia dan diare nonspesifik jauh lebih tinggi dari toleransi. Nilai POR tercapai melebihi target karena angka pemakaian injeksi pada mialgia rendah sehingga menutupi nilai kedua

40 34 indikator lainnya. Hal ini menjadi tantangan bagi Direktorat Pelayanan Kefarmasian untuk melakukan upaya lebih baik lagi dalam melakukan promosi dan pembinaan terkait dengan penggunaan obat yang rasional. Penggunaan obat rasional (POR) tidak dapat dipisahkan dari Pelayanan Farmasi Klinik dan Komunitas karena tercapainya POR merupakan hasil dari kualitas pelayanan Farmasi Klinik dan Komunitas yang baik. Subdit Farmasi Klinik melakukan upaya peningkatan pelayanan farmasi klinik, melalui program seperti advokasi kepada manajemen rumah sakit, training atau pelatihan untuk apoteker dan tenaga kefarmasian tentang pelayanan farmasi klinik, penyusunan NSPK, dan program lain yang dapat meningkatkan kompetensi tenaga kefarmasian. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2012 adalah penyusunan pedoman pelayanan kefarmasian terkait reaksi obat yang tidak diinginkan, penyusunan pedoman evaluasi penggunaan obat, peningkatan kemampuan SDM Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dalam rangka akreditasi rumah sakit, workshop tentang penggunaan antibiotik di rumah sakit, pembekalan SDM farmasi dalam rangka pelayanan farmasi klinik dirumah sakit, pengembangan joint training antara apoteker, dokter, perawat dan tenaga teknis kefarmasian, dan training of trainners (TOT) pelayanan kefarmasian diruang ICU. Kementerian Kesehatan RI khususnya Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan memilih dan menetapkan sistem akreditasi yan mengacu pada Join Commission International (JCI), dilengkapi dengan program Millenium Development Goals (MDGs) dan standar-standar yang berlaku di Kementerian Kesehatan. Oleh sebab itu, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian melaksanakan pertemuan peningkatan kemampuan SDM Instalasi Farmasi Rumah Sakit dalam rangka menyongsong akreditasi rumah sakit versi Tenaga kefarmasian diharapkan mengetahui kelompok standar akrediasi rumah sakit versi 2012 sehingga mampu mempersiapkan komponen dalam rangka akreditasi tersebut. Kegiatan dilakukan melalui tatap muka dan diskusi kelompok. Upaya lainnya yang menjadi fokus untuk meningkatkan pelayanan farmasi klinik adalah evaluasi penggunaan obat (EPO). EPO merupakan metode untuk meningkatkan kinerja yang fokus pada evaluasi dan peningkatan proses penggunaan obat untuk mencapai outcome yang optimal. Saat ini sebagian rumah sakit di Indonesia belum melakukan pelayanan farmasi klinik seperti yang diharapkan. Oleh sebab itu, Subdit Farmasi Klinik merumuskan kebijakan mengenai pedoman evaluasi

41 35 penggunaan obat di rumah sakit disamping pedoman pelayanan kefarmasian terkait reaksi obat yang tidak diinginkan. Peningkatan pelayanan farmasi klinik juga diimbangi dengan pelayanan farmasi komunitas yang dilakukan oleh Subdit Farmasi Komunitas melalui perumusan NSPK yang berkaitan dengan farmasi komunitas, Advokasi kepala stakeholder, promosi, monitoring dan penbinaan puskesmas dan apotek serta toko obat. Peningkatan pelayanan farmasi komunitas juga sedang menggalakan pelayanan home care bagi pasien dengan kondisi khusus seperti pada penyakit kronik, sehingga farmasi lebih dikenal oleh masyarakat luas. Dari serangkaian program yang telah dan akan dilakukan oleh Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, terlihat bahwa fokus kegiatan Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian adalah pada edukasi untuk masyarakat dan apoteker serta peningkatan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah sakit, apotek, toko obat, dan puskesmas yang didasari oleh konsep Pharmaceutical Care. Untuk menunjang kompetensi apoteker dalam memberikan pelayanan kefarmasian yang bermutu, hendaknya tenaga profesi apoteker diberikan lebih banyak pembekalan. Sebagai badan yang menyusun regulasi bagi Apoteker dalam pemberian pelayanan kefarmasian yang bermutu, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh anggota Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian untuk selalu meng-update pengetahuan dan meningkatkan keterampilan mereka di bidang kefarmasian. Untuk itulah diperlukan adanya suatu pendidikan berkelanjutan bagi staf Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian dan Klinik serta upaya untuk memperluas cakrawala mereka, misalnya dengan mengadakan studi banding ke negara lain atau dengan memberikan beasiswa kepada staf Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subdirektorat dalam Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian sudah mendukung indikator pencapaian pelayanan kesehatan yang optimal. Hal yang perlu dijaga adalah kesinambungan antara kegiatan promosi dan ketersediaan NSPK maupun obat generik serta obat esensial di sarana pelayanan kesehatan. Jika NSPK atau obat tersebut tidak tersedia, maka pelayanan kesehatan yang diberikan tidak dapat dilakukan sesuai dengan standar. Kegiatan yang perlu digiatkan kembali adalah kegiatan promosi untuk kalangan masyarakat umum. Paradigma yang perlu diubah bukan hanya paradigma tenaga kesehatan tetapi masyarakat umum untuk menunjang penggunaan obat yang rasional. Selama ini,

42 36 masyarakat belum banyak tersentuh oleh promosi yang gencar terkait penggunaan obat rasional dan peran apoteker. Promosi yang dilakukan dapat bekerja sama dengan pihak lain seperti dinas kesehatan propinsi/kabupaten/kota, IAI, dan universitas. Cara-cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan sosialisasi NSPK adalah : a. Seminar bertingkat dari pusat ke daerah Untuk sosialisasi NSPK dapat dilakukan dengan cara seminar bertingkat. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian melaksanakan seminar tentang NSPK untuk dinas kesehatan propinsi. Selanjutnya, dinas kesehatan propinsi melanjutkan ke dinas kabupaten/kota yang dilanjutkan kembali hingga ke puskesmas. Pelaksanaan seminar yang dilakukan dilaporkan ke Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Dalam pelaksanaannya, seminar tidak hanya memberi muatan tentang NSPK tetapi juga tentang motivasi untuk menjalankan profesi sebagaimana mestinya. b. Program Apoteker Beraksi Cara lain yang dapat ditempuh adalah dengan membuat program Apoteker Beraksi. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian melakukan pembinaan terhadap sejumlah apoteker yang baru lulus. Apoteker tersebut dibina tentang NSPK dan cara menjalankan keprofesian yang baik selama beberapa waktu. Setelah itu, apoteker tersebut ditempatkan di propinsi seluruh Indonesia. Apoteker tersebut diberikan tanggung jawab serta wewenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terkait NSPK. Tenaga apoteker tersebut tidak berstatus tenaga pegawai negeri sipil tetapi sebagai tenaga yang dikontrak oleh Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. Masa kerja apoteker tersebut selama satu tahun. Setelah itu, dapat dilakukan evaluasi untuk peningkatan pelayanan kefarmasian pada tahun selanjutnya. c. Kerja sama dengan IAI Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian dapat melakukan kerja sama dengan IAI sebagai organisasi profesi apoteker. IAI dapat berperan sebagai pelaksana yang memperbanyak NSPK untuk disosialisasikan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau tenaga apoteker. Sumber pendanaannya dapat berasal dari pemerintah pusat, dana IAI, dan kerja sama IAI dengan percetakan/pihak swasta lainnya. d. Kerja sama dengan universitas Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian dapat memberikan buku dan CD terkait NSPK pada pihak perpustakaan universitas terutama fakultas farmasi. Selanjutnya, dilakukan himbauan agar mahasiswa dapat berperan aktif untuk

43 37 menyebarkan NSPK tersebut melalui kegiatan organisasi kemahasiswaannya. Media penyebarannya dapat berupa leaflet, newsletter, buletin atau bentuk lainnya.

44 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan a. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan merupakan bagian dari Kementerian Kesehatan RI yang bertugas dalam merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. b. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian merupakan salah satu direktorat dari Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI yang bertugas dalam penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan NSPK serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pelayanan kefarmasian. c. Peran Apoteker di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, yaitu menyelenggarakan program kerja yang sesuai dengan kompetensinya untuk mewujudkan visi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Ketersediaan, Keterjangkauan dan Pemerataan Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menuju Masyarakat Mandiri dalam Hidup Sehat. d. Peran Apoteker di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan yaitu menyelenggarakan program kerja yang sesuai dengan kompetensinya untuk mewujudkan visi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia periode Masyarakat Sehat Yang Mandiri Dan Berkeadilan. 6.2 Saran a. Sebaiknya kegiatan PKPA di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dilaksanakan dengan waktu yang lebih lama agar peserta mendapat bekal pengetahuan yang lebih mendalam. b. Sebaiknya penempatan peserta PKPA sesuai dengan peminatan studi yang diambil, misalnya di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang lebih berfokus pada bidang pelayanan farmasi, ditempatkan peserta PKPA yang memiliki peminatan di bidang yang sama, yaitu peminatan pelayanan. 38

45 39

46 DAFTAR REFERENSI Dinas Kesehatan Tebing Tinggi. (2009). Profil Kesehatan Kota Tebing Tinggi Tahun Kementerian Kesehatan. (2005). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1575/Menkes/PER/XI/2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan. (2010a). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan. (2010b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1144/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Presiden RI No. 47 tahun 2009 nomor 144 tentang pembentukan dan organisasi kementerian negara. 40

47 LAMPIRAN

48 41 Lampiran 1. Struktur Organisasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

49 Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIRE PRO D KEF

50 Lampiran 3. Struktur Organisasi Setditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan SEKRETARIS DITJEN BINFAR & ALKES KABAG PROGRAM DAN INFORMASI KABAG KEPEGAWAIAN DAN UMUM KABAG HUKUM, ORGANISASI, DAN HUMAS KAB KEUA KASUBBAG PROGRAM KASUBBAG KEPEGAWAIAN KASUBBAG HUKUM KAS KASUBBAG DATIN KASUBBAG TU & GAJI KASUBBAG ORGANISASI K A KASUBBAG EVAPOR KASUBBAG RT KASUBBAG HUMAS PER

51 Lampiran 4. Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan DIREKTUR BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PENYEDIAAN SUBDIT PENGELOLAAN SUBDIT PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM SUBDIT ANA DAN STANDARIS HARGA OB SEKSI PERENCANAAN SEKSI STANDARISASI PENGELOLAAN OBAT SEKSI PEMANATAUAN PROGRAM OBAT PUBLIK SEKSI A HARG SEKSI PEMANTAUAN SEKSI BIMBINGAN PENGENDALIAN SEKSI EVALUASI PROGRAM OBAT SE STAND

52 Lampiran 5. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN Dra. Engko Sosialine Magdalene, Apt., M.Biomed SUBBAGIAN TU Desko Irianto, SH SUBDIT FARMASI KLINIK Dra. Fatimah U., Apt., MM SUBDIT FARMASI KOMUNITAS SUBDIT PENGGUNAAN OBAT RASIONAL Dra. Hidayati M., Apt., MM SUBDIT STANDARI dr. Zorni Fa SEKSI PELAYANAN FARMASI KLINIK Sri Bintang L., Apt., M.Si. SEKSI PELAYANAN FARMASI KOMUNITAS Dra. Dara A. Apt., MM SEKSI PROMOSI POR Dra. Vita Piola H., Apt. S STAN Dra. Ar SEKSI PEMANTAUAN & EVALUASI SEKSI PEMANTAUAN & SEKSI PEMANTAUAN & S STAN

53 Lampiran 6. Struktur Organisasi Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN SUBBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PENILAIAN ALAT KESEHATAN SUBDIT PENIALAIAN PRODUK DR & PKRT SUBDIT INSPEKSI ALKES & PKRT SUBDIT STANDARISASI & SERTIFIKASI SEKSI ALKES ELEKTROMEDIK SEKSI PRODUK DR SEKSI INPEKSI PRODUK SEKSI STAND PRODU SEKSI ALKES SEKSI PRODUK PKRT SEKSI INSPEKSI SARANA PRODUKSI SEKSI STAND

54 Lampiran 7. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian DIREKTUR BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PRODIS OBAT & OBAT TRADISIONAL SUBDIT PRODIS KOSMETIK & MAKANAN SUBDIT PRODIS NARKOTIKA SUBD KEMANDI OBAT & SEKSI STANDARISASI PRODIS SEKSI STANDARISASI PRODIS KOSMETIK & MAKANAN SEKSI NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA SEKS OBA SEKSI PERIZINAN SARANA PRODIS SEKSI PERIZINAN SARANA PRODUKSI KOSMETIK SEKSI SEDIAAN FARMASI KHUSUS KER

55 UNIVERSITAS INDONESIA TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE JANUARI 2012 EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DIANA YUSNITA, S. Farm ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 i

56 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... v BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Evaluasi Penggunaan Obat Definisi dan Tujuan EPO Istilah Dalam EPO Antibiotik Penggunaan Antibiotik Penggunaan Antibiotik Secara Rasional Penggunaan Antibiotik Secara Irasional Resistensi Prinsip Penggunaan Antibiotik Evaluasi Penggunaan Antibiotik Kuantitas Penggunaan Antibiotik Sejarah Sistem ATC/DDD Organisasi Yang Bertanggungjawab Terhadap ATC/DDD Sistem Klasifikasi ATC Kualitas Penggunaan Antibiotik BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN Waktu dan Tempat Pengkajian Metode Pengkajian BAB 4 PEMBAHASAN Evaluasi Kuantitatif Penggunaan Antibiotik Klasifikasi ATC DDD (Daily Defined Dosed) Penggunaan&Penyalahgunaan Sistem ATC/DDD Perhitungan Konsumsi Antibiotik Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik Tipe Terapi Antibiotik Parameter Hasil Penulisan Resep Kategori Penilaian Algoritma Gyssens ii

57 Hasil Pasien Hasil Mikrobiologi BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA iii

58 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Kode ATC Klasifikasi Metformin Tabel 2.2 Kode ATC Sediaan Prednisolon Tabel 4.1 Klasifikasi ATC untuk Antibiotik Tabel 4.2 Klasifikasi Tipe Terapi Antibiotik dan Definisinya Tabel 4.3 Kategori Penilaian Algoritma Gyssens Tabel 4.4 Indikator Hasil Pasien Dalam Studi Intervensi iv

59 DAFTAR GAMBAR Gambar 4.1 Algoritma Evaluasi Terapi Antibiotik v

60 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu masalah penting yang dihadapi unit pelayanan kesehatan adalah rasionalitas penggunaan obat. WHO mendefinisikan penggunaan obat rasional saat pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dengan dosis yang sesuai, dan rentang waktu yang sesuai, dengan harga terendah. Penggunaan obat rasional membutuhkan pendekatan individual pada pasien. Keberhasilan terapi obat tergantung pada kemampuan dokter mendiagnosis masalah kesehatan utama, memilih dosis yang tepat, bentuk sediaan dan rute administrasi yang tepat, mengidentifikasi kemungkinan efek samping dan interaksi obat, dan mencegah terapi duplikasi, serta kemampuan farmasis menyiapkan obat dan perawat memberikan obat pada pasien. Salah satu mekanisme untuk menjamin ketepatan peresepan dan penggunaan obat adalah dengan melakukan evaluasi penggunaan obat (EPO). Evaluasi penggunaan obat khususnya antibiotik merupakan salah satu bentuk tanggung jawab farmasis di lingkungan rumah sakit dalam rangka mempromosikan penggunaan antibiotik yang rasional. Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan di dunia terkait dengan banyaknya kejadian infeksi bakteri. Lebih dari seperempat anggaran rumah sakit dikeluarkan untuk biaya penggunaan antibiotik (WHO, 2006). Di negara maju 13-37% dari seluruh penderita yang dirawat di rumah sakit mendapatkan antibiotik baik secara tunggal maupun kombinasi, sedangkan di negara berkembang 30-80% penderita yang dirawat di rumah sakit mendapat antibiotik. Dampak negatif yang paling bahaya dari penggunaan antibiotik secara tidak rasional adalah muncul dan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Hal ini mengakibatkan pengobatan menjadi tidak efektif, peningkatan morbiditas maupun mortalitas pasien dan meningkatnya biaya perawatan kesehatan. Dampak tersebut harus ditanggulangi bersama dengan cara yang efektif, antara lain dengan menggunakan antibiotik secara rasional, melakukan intervensi untuk mengoptimalkan 1

61 2 penggunaan antibiotik dan melakukan monitoring serta evaluasi penggunaan antibiotik terutama di rumah sakit yang merupakan tempat paling banyak ditemukan penggunaan antibiotik. WHO telah merekomendasikan kepada institusi pendidikan kedokteran dan farmasi untuk melakukan kajian mengenai rasionalitas resep yang berisi antibiotik. Rasionalitas penggunaan antibiotik dapat dikaji secara kuantitas dan kualitas, yaitu dengan melihat jenis, jumlah, dosis, cara pemberian antibiotik dan lain-lain. Di Indonesia sendiri sudah dilakukan kajian tentang rasionalitas ini, tetapi data yang dilaporkan masih sedikit dan belum ada standardisasi secara nasional. 1.2 Tujuan Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji metode yang digunakan untuk evaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif.

62 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) Definisi dan Tujuan EPO EPO adalah suatu program jamininan mutu penggunaan obat di suatu rumah sakit. Jadi, EPO adalah suatu proses jaminan mutu yang sah di rumah sakit, yang terstruktur, dilakukan terus-menerus yang ditujukan untuk memastikan bahwa obat digunakan secara tepat, aman, dan efektif. EPO dilakukan oleh suatu tim yang anggotanya terdiri atas staf medik dan apoteker, serta staf lain yang dianggap perlu dan relevan. Suatu program EPO yang berhasil memerlukan perencanaan, koordinasi, dan keterlibatan staf medik terutama dalam penetapan kriteria penggunaan suatu obat tertentu yang akan dievaluasi. Standar penggunaan obat itu digunakan oleh tim sebagai acuan guna menetapkan ketepatan atau ketidaktepatan penggunaan obat tersebut. Pengembangan atau penetapan kriteria penggunaan obat memerlukan waktu yang lama, persetujuan staf medik terhadap kriteria penggunaan harus diperoleh sebelum melaksanakan studi EPO tersebut. Oleh karena itu, dokter spesialis perlu dikonsultasikan dan merupakan bagian dari pengembangan kriteria tersebut. Oleh karena itu, apoteker pelayanan informasi obat, melalui petunjuk Panitia Farmasi dan Terapi (PFT), dapat memainkan peranan vital dalam pengembangan kriteria penggunaan obat tersebut, dengan melakukan pengkajian awal pustaka, mengorganisasikan suatu pendekatan multidisiplin dan bertindak sebagai katalisator untuk keterlibatan staf medik. Standar/kriteria penggunaan obat harus mereflesikan standar praktik medik, harus mutakhir, berbasis pustaka dan merupakan pantulan dari pengalaman staf medik. Keterlibatan apoteker pelayanan informasi obat dapat mencakup pengembangan atau perbaikan kriteria dan berpartisipasi dalam pengumpulan serta analisis data. Tujuan dari Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) ini adalah: a. Mendapatkan gambaran keadaan saat ini atas pola penggunaan. b. Membandingkan pola penggunaan obat pada periode waktu tertentu. 3

63 4 c. Memberikan masukan untuk perbaikan penggunaan obat. d. Memastikan terapi obat telah memenuhi standar perawatan. e. Mencegah masalah terkait obat. f. Mengevaluasi efektivitas terapi obat Istilah Dalam EPO Kriteria adalah parameter yang telah ditentukan sebelumnya tentang peresepan dan penggunaan obat dan digunakan dalam program EPO untuk membandingkan dengan kenyataannya. Kriteria sebaiknya disusun atau diseleksi oleh tenaga kesehatan profesional. Ambang batas adalah persentase, yang besarnya ditetapkan oleh komite EPO, yang menandakan titik dimana terjadi masalah terapi obat. Sebagai contoh, ambang 95% berarti komite EPO menentukan bahwa terjadi masalah bila kurang dari 95% data terkumpul untuk suatu kriteria menunjukkan kepatuhan/kesesuaian. EPO secara prospektif adalah evaluasi yang melibatkan perbandingan obat yang dipesan dengan kriteria sebelum pasien menerima obat. Jenis evaluasi ini ideal karena bersifat poten preventif, dan karena intervensi terpusat pada individu pasien. EPO secara konkuren adalah evaluasi yang melibatkan evaluasi obat yang dipesan selama terapi. Evaluasi jenis ini ideal karena penyesuaian terapi obat mungkin diperlukan berdasarkan perkembangan diagnosis dan tes laboratorium. EPO secara retrospektif adalah evaluasi yang melibatkan evaluasi obat yang telah diresepkan dan digunakan. Evaluasi tipe ini paling mudah dan murah, namun tidak memungkinkan dilakukan intervensi untuk memperbaiki terapi yang telah diterima pasien yang digunakan sebagai objek penelitian. Intervensi adalah aktivitas yang diseleksi oleh komite EPO untuk mengoreksi masalah terapi obat yang teridenfikasi selama monitor dan evaluasi EPO.

64 5 2.2 Antibiotik Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau membasmi mikroba lain. Obat pembasmi mikroba harus memiliki sifat toksisitas selektif, artinya bersifat sangat toksik terhadap mikroba tetapi relatif tidak toksik terhadap hospes (Farmakologi dan Terapi, 2005) Penggunaan Antibiotik Berdasarkan tujuan pengunaannya, antibiotik dibedakan menjadi antibiotik terapi dan antibiotik profilaksis. Antibiotik terapi digunakan pada penderita yang mengalami infeksi, penggunaannya dapat bersifat empiris atau definitif. Penggunaan antibiotik secara empirik adalah pemberian antibiotik pada kasus infeksi yang belum diketahui jenis bakterinya. Penggunaan antibiotik diutamakan menggunakan antibiotik dengan spektrum sesempit mungkin, untuk terapi infeksi bakteri yang telah diketahui identitasnya. Keuntungan penggunaan antibiotik spektrum sempit adalah lebih efisien dalam pengobatan, mencegah terbunuhnya bakteri lain yang diperlukan tubuh dan mengurangi timbulnya multi resisten. Terapi definitif dilakukan bila jenis mikroorganisme beserta pola kepekaanya telah diketahui berdasarkan hasil kultur dan uji sensitivitas. Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan pada jaringan atau cairan tubuh yang diduga kuat akan terkena infeksi Penggunaan Antibiotik Secara Rasional Penggunaan antibiotik secara rasional diartikan sebagai pemberian antibiotik yang tepat indikasi, tepat penderita, tepat obat, tepat dosis dan waspada terhadap efek samping obat. Untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional, penggunaan antibiotik pada unit pelayanan kesehatan selain harus disesuaikan dengan pedoman pengobatan juga sangat dipengaruh oleh pengelolaan obat.

65 Penggunaan Antibiotik Secara Irasional Terjadinya penggunaan antibiotik yang irasional telah diamati sejak lama. Laporan dari suatu rumah sakit di Amerika pada tahun 1977 mengungkapkan bahwa 34% dari seluruh penderita yang dirawat mendapat terapi antibiotik. Dari jumlah ini 64% tidak mempunyai indikasi atau tidak diberikan dengan dosis yang tepat. Menurut Kunin penggunaan antibiotik yang kurang rasional di rumah sakit paling sering muncul dalam bentuk : a. Pemberian antibiotik tanpa ada infeksi. b. Pilihan antibiotik yang kurang tepat. c. Dosis berlebihan. d. Dosis kurang. e. Pemberian terlalu lama. f. Tidak menggunakan antibiotik yang efektif dan murah Resistensi Dampak negatif terburuk akibat penggunaan antibiotik yang kurang rasional adalah munculnya masalah resistensi terutama resistensi bakteri terhadap banyak obat (multidrug-resistance). Hal ini mengakibatkan pengobatan menjadi tidak efektif, terjadi peningkatan morbiditas maupun mortalitas pasien dan meningkatnya biaya pengobatan Prinsip Penggunaan Antibiotik Terapi antibiotik merupakan terapi kausal untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Keputusan untuk memberikan antibiotik pada penderita, harus didasarkan pada hal-hal berikut ini : a. Memastikan apakah keluhan dan gejala yang dialami penderita disebabkan oleh suatu infeksi. b. Bakteri yang paling sering menjadi penyebab penyakit tertentu. c. Terapi antibiotik untuk bakteri tersebut memungkinkan atau tidak.

66 7 d. Apakah diperlukan antibiotik untuk melawan infeksi tersebut. e. Antibiotik yang harus dipilih dan cara pemberiannya. f. Cara menentukan dosis dan lama pemberian berdasarkan pada farmakokinetik dan farmakodinamik obat tersebut. g. Tindak lanjut terhadap penderita, penderita harus dievaluasi apakah ada perbaikan atau tidak dan dilihat adakah komplikasi. 2.3 Evaluasi Penggunaan Antibiotik Penilaian mengenai rasionalitas penggunaan antibiotik memuat dua aspek penting untuk dievaluasi, yaitu aspek kuantitas dan kualitas. Aspek kuantitas menilai jumlah antibiotik yang digunakan dan ketepatan jenis antibiotik yang dipilih, sedangkan aspek kualitas mencakup lama pemberian antibiotik Kuantitas Penggunaan Antibiotik Kuantitas penggunaan antibiotik dapat diukur dengan pendekatan retrospektif atau prospektif. Pendekatan retrospektif dilakukan setelah penderita pulang dengan melihat catatan medik. Sedangkan pendekatan prospektif dilakukan dengan setiap hari menanyakan langsung pada penderita antibiotik apa yang telah diminum hari sebelumnya, tanpa melihat catatan medik. Validasi pengukuran kuantitas penggunaan antibiotik menjadi optimal dengan memadukan kedua metode tersebut. Untuk memperoleh data yang standar dan dapat dibandingkan di tempat lain maka WHO merekomendasikan pengukuran kuantitas penggunaan antibiotik dengan Defined Daily Doses (DDD) / 100 pasien. DDD menyatakan rata-rata dosis pemeliharaan yang dianjurkan untuk suatu obat per hari yang digunakan atas indikasi pada orang dewasa. Penilaian kuantitas antibiotik dilakukan dengan menghitung dosis maksimum dan dosis minimum tiap antibiotik. Dosis maksimum adalah dosis yang diberikan oleh dokter pada resep, sedangkan dosis minimum adalah dosis yang benar-benar sampai kepada pasien yang diberikan oleh perawat.

67 Sejarah Sistem Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) Penelitian tentang pemanfaatan obat merupakan bidang yang menarik perhatian sejak tahun 1960an. Perintis pertama adalah 2 orang konsultan WHO untuk pusat regional Eropa, Engel dan Siderius (Konsumsi obat-obatan: Laporan penelitian Pusat Regional WHO untuk Eropa, 1968). Laporan tersebut memuat konsumsi obat di 6 negara di Eropa selama periode menunjukkan perbedaan yang besar dalam pemanfaatan obat di beberapa populasi. Pembahasan tentang penelitian tersebut dilanjutkan pada simposium di Oslo 1969 yang berjudul Konsumsi Obat-obatan, diadakan oleh kantor regional WHO untuk Eropa. Dalam simposium ini disepakati dibutuhkannya sistem klasifikasi konsumsi obat secara internasional. Pada simposium ini dibentuk Drug Utilization Research Group (DURG) dengan tanggung jawab mengembangkan metode internasional untuk penelitian pemanfaatan obat, dengan memodifikasi dan memperluas sistem klasifikasi European Pharmaceutical Market Research Association (EphMRA), para peneliti dari Norwegia mengembangkan sistem yang dikenal dengan klasifikasi Anatomical Therapeutic Chemical (ATC). Untuk mengatasi perbedaan dalam pengukuran secara tradisional, ditetapkan Defined Daily Dose (DDD) atau dosis harian yang ditetapkan Organisasi yang Bertanggungjawab Terhadap Sistem ATC/DDD a. Pusat Kolaborasi WHO untuk Metodologi Statistik Obat Tahun 1996 WHO menyadari kebutuhan untuk mengembangkan penggunaan sistem ATC/DDD secara internasional, sehingga dibuat pusat kolaborasi yang langsung berada di WHO pusat di Jenewa. Hal ini dipandang penting untuk memungkinkan integrasi dan akses terhadap penelitian pemanfaatan obat secara internasional terutama oleh negara berkembang. Akses terhadap informasi yang valid dan standar dalam penggunaan obat bermanfaat untuk audit pola penggunaan obat, identifikasi masalah berkaitan dengan obat dan pendidikan.

68 9 b. Kelompok Kerja Internasional WHO untuk Metodologi Statistik Obat Tahun 1996, divisi manajemen dan kebijakan WHO mendirikan kelompok kerja internasional untuk metodologi statistik obat. Kelompok kerja terdiri dari 12 anggota dari panel penasihat ahli untuk evaluasi obat. Anggota dipilih oleh WHO pusat yang terdiri dari para profesional di bidang farmakologi klinik, kedokteran klinik, kesehatan publik internasional, pemanfaatan obat dan regulasi obat. Anggota kelompok kerja internasional mewakili pengguna sistem ATC/DDD dari berbagai negara. c. Tujuan sistem ATC/DDD Sistem ATC/DDD digunakan dalam penelitian obat untuk mengukur konsumsi penggunaan obat, sehingga dapat meningkatkan kualitas penggunaan obat. Salah satu komponen sistem ini adalah presentasi dan perbandingan data statistik konsumsi obat secara internasional dan tingkat lainnya. Tanggung jawab pusat kolaborasi dan kelompok kerja internasional adalah mempertahankan kestabilan sistem ATC/DDD untuk mempelajari perkembangan konsumsi obat Sistem Klasifikasi ATC a. Struktur dan Penamaan Dalam sistem klasifikasi ATC, zat aktif dibagi dalam kelompok yang berbeda sesuai dengan efek terapi pada organ atau sistem, sifat farmakologi dan kimia. Obat-obatan diklasifikasikan dalam 5 tingkatan kelompok. Tingkat pertama terdiri dari 14 kelompok utama, tingkat kedua merupakan subkelompok berdasarkan sifat farmakologi atau terapi, ketiga dan keempat merupakan subkelompok berdasarkan sifat kimia/farmakologi/terapi, dan yang terakhir merupakan subkelompok berdasarkan senyawa kimia. Klasifikasi lengkap dari metformin digambarkan sebagai kode yang dapat dilihat pada tabel

69 10 Tabel 2.1 Kode ATC Klasifikasi Metformin Kode A A10 A10B A10BA A10BA02 Keterangan Saluran pencernaan dan metabolisme (Tingkat pertama) Obat-obatan yang digunakan untuk diabetes (Tingkat kedua, subkelompok terapi) Obat-obatan untuk menurunkan glukosa darah, kecuali insulin (Tingkat ketiga, subkelompok sifat farmakologi) Biguanida (Tingkat keempat, subkelompok sifat kimia) Metformin (Tingkat kelima, senyawa kimia) Penamaan tingkat ATC yang lebih banyak digunakan adalah International nonproprietary names (INN). Ketika INN tidak digunakan, yang dipilih adalah USAN (United States Adopted Name) atau BAN (British Approved Name). Daftar istilah obat berdasarkan efek farmakologi dan terapi, digunakan juga untuk penamaan tingkat ATC. b. Prinsip pengelompokkan (Klasifikasi) Produk obat dikelompokkan berdasarkan efek terapi bahan aktif utama, pada prinsipnya hanya ada 1 kode untuk setiap rute administrasi obat (sediaan farmasi dengan bahan aktif dan kekuatan yang sama akan memiliki kode ATC yang sama). Sediaan farmasi dapat memiliki 2 atau lebih kode ATC bila memiliki 2 atau lebih kekuatan obat atau rute administrasi untuk terapi yang berbeda, contohnya prednisolon. Tabel 2.2 Kode ATC sediaan prednisolon Kode ATC Fungsi Sediaan Bentuk Sediaan C05AA04 Antihemoragik topikal Supositoria D07AA03 Preparat kulit Krim, losion R01AD02 Dekongestan Spray atau drop

70 11 c. Klasifikasi Produk Kombinasi Produk kombinasi yang mengandung 2 atau lebih bahan aktif yang memiliki kode tingkat keempat yang sama, diklasifikasikan menggunakan kode yang berbeda pada tingkat kelima, diberi kode 20 atau 30. Contoh: N01BB02 Lidokain N01BB04 Prilokain N01BB20 Kombinasi (lidokain dan prilokain) Produk kombinasi yang mengandung 2 atau lebih bahan aktif yang memiliki kode tingkat keempat yang tidak sama, diberi kode 50. Contoh: R06AA02 Difenhidramin R06AA52 Difenhidramin, kombinasi Produk kombinasi yang mengandung obat psikoleptik, yang tidak diklasifikasikan dibawah N05 yaitu psikoleptik atau N06 yaitu Psikoanaleptik, diklasifikasikan menggunakan tingkat kelima yang diberi kode 70-an. Contoh: N02BA71 Kombinasi asam salisilat dengan psikoleptik Kualitas Penggunaan Antibiotik Kualitas penggunaan antibiotik dapat dinilai dengan melihat catatan medik. Hal-hal yang harus dinilai antara lain ada tidaknya indikasi, dosis, lama pemberian, pilihan jenis dan sebagainya. Penilaian dilakukan dengan menggunakan alur penilaian dan klasifikasi / kategori dari Gyssens dkk.

71 BAB 3 METODE PENGKAJIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian Pengkajian dilakukan pada tanggal 16 Januari 27 Januari 2012 yang bertempat di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 3.2 Metode Pengkajian Metode yang digunakan dalam pengkajian mengenai evaluasi penggunaan obat adalah melalui penelusuran literatur (studi pustaka). Pustaka yang digunakan untuk menyusun kajian bersumber dari : a. Buku Antibiotic Policies Theory and Practice b. Buku Farmakologi dan Terapi c. Buku farmasi rumah sakit teori dan penerapan d. Publikasi WHO Introduction to Drug Utilization Research e. Pedoman WHO ATC classification and DDD assignment f. Berbagai literatur dari internet dan pustaka lainnya 12

72 BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Evaluasi Kuantitatif Penggunaan Antibiotik Peningkatan penggunaan antibiotik berkolerasi dengan tingkat resistensi bakteri yang terjadi, karenanya dibutuhkan data kuantitatif untuk mengukur konsumsi antibiotik. Pengukuran antibiotik secara kuantitatif dilakukan menggunakan sistem klasifikasi ATC-DDD Klasifikasi ATC Dalam sistem klasifikasi ATC, zat aktif dibagi dalam kelompok yang berbeda sesuai dengan efek terapi pada organ atau sistem, sifat farmakolog dan kimia. Obat-obatan diklasifikasikan dalam 5 tingkatan kelompok. Sistem klasifikasi ATC mengelompokkan obat-obatan menjadi 14 kelompok yaitu A, B, C, D, G, H, J, L, M, N, P, R, S, V. Sistem ini memiliki kelemahan dimana suatu golongan obat dapat berada pada kelas yang berbeda, sebagai contoh, kelas J merupakan anti infeksi untuk penggunaan sistemik, dan kelas J01 adalah antibakteri untuk penggunaan sistemik. Detail subkelas dari J01 dapat dilihat pada Tabel 4.1. Penggunaan sistem klasifikasi ATC cenderung hanya menggunakan antibiotik kelas J01. Hal ini tidak menggambarkan total konsumsi, karena beberapa antibiotik telah ditempatkan diluar kelas J01, contohnya antibiotik (termasuk vankomisin) untuk gangguan gastrointestinal ditempatkan di kelompok ATC A07A, dan derivatif nitroimidazol untuk terapi karena protozoa berada dalam kelompok ATC P01AB. 13

73 14 Tabel 4.1 Klasifikasi ATC untuk Antibiotik J01A J01B J01C J01D J01E J01F J01G J01M J01R J01X Kode ATC J01CA J01CE J01CF J01CG J01CR J01DA J01DF J01DH J01EA J01EB J01EC J01ED J01EE J01FA J01FF J01FG J01GA J01GB J01MA J01MB J01XA J01XB J01XC J01XD J01XE J01XX J01CG J01CR Golongan Antibiotik Tetrasiklin Amfenikol Beta Laktam, Penisilin Penisilin spektrum luas Beta-laktamase sensitif penisilin Beta-laktamase resisten penisilin Penghambat beta-laktamase Kombinasi penisilin, termasuk penghambat betalaktamase Gol. Beta laktam lainnya Sefalosporin dan substansi yang terkait Monobaktam Carbapenem Sulfonamida dan Trimetoprim Trimetoprim dan turunannya Sulfonamida kerja pendek Sulfonamida kerja menengah Sulfonamida kerja panjang Kombinasi sulfonamida dan trimetoprim, termasuk turunannya Makrolida, Linkosamida dan Streptogramin Makrolida Linkosamida Streptogramin Aminoglikosida Streptomisin Aminoglikosida lainnya Kuinolon Florokuinolon Kuinolon lainnya Kombinasi antibakteri Antibakteri lainnya Glikopeptida Polimiksin Antibakteri steroid Turunan Imidazole Turunan Nitrofuran Antibakteri lainnya Beta-laktamase inhibitor Kombinasi penisilin, termasuk beta-laktamase inhibitor

74 DDD (Defined Daily Dose) a. Definisi DDD didefinisikan sebagai dosis pemeliharaan rata-rata per hari yang diindikasikan untuk pasien dewasa. DDD hanya digunakan untuk obat-obatan yang telah memiliki kode ATC. DDD merupakan unit pengukuran dan tidak selalu mencerminkan dosis harian yang direkomendasikan atau dosis yang diresepkan. Dosis individual atau kelompok pasien tertentu biasanya berbeda dari DDD, karena didasarkan pada kondisi indivisual (usia dan berat badan) serta pertimbangan farmakokinetik. Data konsumsi obat yang digambarkan dalam DDD hanya memberikan perkiraan kasar dan bukan gambaran penggunaan yang aktual dan tepat. DDD tidak ditetapkan untuk sediaan topikal, serum, vaksin, anti neoplastik, anestesi umum dan lokal, dan zat kontras. Untuk produk kombinasi prinsipnya adalah menghitung dosis kombinasi sebagai dosis harian, terlepas dari jumlah zat aktif yang ada didalamnya. Jika pasien mengkonsumsi 2 sediaan tunggal dalam waktu yang bersamaan, DDD dihitung secara terpisah untuk masing-masing sediaan. DDD sediaan kombinasi akan lebih rendah, karena 2 zat aktif dikonsumsi dalam 1 waktu. Contoh 1, terapi menggunakan 2 sediaan yang mengandung masingmasing 1 zat aktif : A: Tablet yang mengandung zat X 20 mg (DDD = 20 mg) B: Tablets yang mengandung zat Y 25 mg (DDD = 25 mg) Konsumsi 1 tablet A ditambah 1 tablet B dihitung sebagai 2 DDD. Contoh 2, terapi menggunakan produk kombinasi dengan 2 bahan aktif : C : Tablet yang mengandung zat X 20 mg dan zat Y 12,5 mg. DDD untuk produk kombinasi ini adalah 1 UD = 1 tablet (1 DDD). b. Prinsip Dasar Penetapan DDD Prinsip dasarnya adalah hanya 1 DDD yang ditetapkan per rute administrasi dalam kode ATC. DDD untuk sediaan tunggal didasarkan pada monoterapi. DDD suatu poduk obat pada umumnya tidak akan ditetapkan sebelum produk tersebut disetujui dan dipasarkan setidaknya di 1 negara. Sediaan farmasi yang diindikasikan untuk penyakit langka dengan dosis individual, kelompok kerja

75 16 WHO memutuskan utuk tidak menetapkan DDD sediaan tersebut. DDD untuk sediaan herbal tidak dimasukkan dalam indeks ATC Penggunaan dan Penyalahgunaan Sistem ATC/DDD a. DDD/1000 Penduduk/Hari Angka konsumsi obat direpresentasikan dalam DDD/1000 penduduk/hari. Data penjualan atau peresepan yang digambarkan dalam DDD/1000 penduduk/hari dapat memberikan perkiraan kasar dari proporsi penduduk dalam suatu wilayah tertentu yang diterapi menggunakan obat-obatan. Sebagai contoh, angka 10 DDD/1000 penduduk/hari menunjukkan bahwa 1% dari populasi ratarata mendapat terapi obat setiap harinya. b. DDD/100 Tempat Tidur Untuk dirumah sakit digambarkan dalam DDD/100 tempat tidur/hari. Sebagai contoh 70 DDD/100 tempat tidur menunjukkan 70% pasien rawat inap menerima DDD setiap harinya. DDD/100 tempat tidur digunakan untuk perbandingan kualitas rumah sakit. c. DDD/Penduduk/Tahun Antiinfeksi atau obat-obatan yang digunakan dalam durasi yang singkat, gambaran DDD/penduduk/tahun akan memberikan perkiraan jumlah rata-rata hari dimana penduduknya mendapat terapi obat. Contoh, 5 DDD/penduduk/tahun menunjukkan konsumsi obat setiap penduduk adalah 5 hari selama 1 tahun. d. Prescribed Daily Dose (PDD) PDD atau dosis harian yang ditentukan didefinisikan sebagai dosis rata-rata yang diresepkan yang ditetapkan berdasarkan representasi data sampel dari resepresep. PDD ditentukan dari studi resep dan catatan medis. PDD akan memberikan gambaran jumlah rata-rata konsumsi obat yang diresepkan dalam sehari. PDD pada kenyataannya beberapa tidak diracik dan tidak semua diambil oleh pasien. Desain studi khusus dibutuhkan untuk mengukur data konsumsi obat pasien secara aktual.

76 17 e. Terapi Ganda dan Terapi Semu-Ganda Klasifikasi ATC dapat digunakan untuk skrining terapi ganda dan semuganda. Terapi ganda didefinisikan sebagai penggunaan 2 obat yang identik sama secara bersamaan, contohnya penggunaan diazepam yang berbeda merk. Terapi semu-ganda yaitu penggunaan 2 obat dengan zat aktif yang berbeda namun memiliki efek farmakodinamik yang sama secara bersamaan, contohnya penggunaan diazepam ditambah oxazepam. Skrining diperlukan untuk menghindari terapi yang tidak perlu, yang dapat meningkatkan efek samping Perhitungan Konsumsi Antibiotik ABC Calc (Monnet, 2003) adalah perangkat lunak untuk perhitungan konsumsi antibiotik yang menggunakan sistem ATC-DDD yang digambarkan dalam DDD/100 tempat tidur. Perhitungan nilai DDD menggunakan ABC Calc adalah sebagai berikut : (4.1) Tempat tidur yang digunakan selama periode tertentu dihitung dengan cara: (4.2) Jika tempat tidur yang digunakan adalah 85% maka indeks inap adalah 0,85. Sebagai contoh, jika sebuah rumah sakit memiliki 1200 tempat tidur dan tempat tidur yang digunakan adalah 85% dalam 1 tahun (365 hari), maka jumlah tempat tidur yang digunakan pada tahun tersebut adalah : 1200 x 0,85 x 365 = Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik Tipe Terapi Antibiotik Terapi menggunakan antibiotik berbeda dengan farmakoterapi obat-obatan lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik pasien, pilihan obat dan juga sifat dari infeksi serta mikroorganisme penyebab infeksi. Terdapat

77 18 hubungan yang komplek antara inang, bakteri patogen dan agen anti infeksi. Penggunaan antibiotik yang rasional didasarkan pada pemahaman tentang aspek-aspek penyakit menular, berupa daya tahan tubuh pasien, identifikasi mikroba, virulensi, kerentanan mikroorganisme, serta sifat farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik. Untuk menjamin efikasi dari penggunaan antibiotik dalam jangka panjang, penggunaan antibiotik secara rasional harus dimaksimalkan dan menghindari terjadinya konsumsi antibiotik yang berlebihan. Penggunaan antibiotik secara rasional dan benar dapat mempersingkat durasi terapi. Terapi yang maksimal ialah efikasi maksimum dikombinasikan dengan toksisitas minimum untuk pasien, biaya yang rasional serta perkembangan resistensi mikroba yang minimum. Antibiotik digunakan dalam 3 situasi pada fasilitas kesehatan (Tabel 4.2). Kualitas terapi empiris dan profilaksis antibiotik sebagian besar ditentukan oleh ketersediaan data pengawasan dan data resistensi mikroba, dan dari resep-resep didaerah infeksi serta data organisme penyebabnya. Tabel 4.2 Klasifikasi Tipe Terapi Antibiotik dan Definisinya Tipe Terapi Definisi Empiris Penggunaan antibiotik untuk terapi infeksi yang belum diketahui mikroorganisme penyebabnya serta belum diketahui sensitifitas antibiotik terhadap mikroorganisme tersebut. Definitif Penggunaan antibiotik yang ditargetkan untuk mikroorganisme spesifik yang menyebabkan infeksi aktif atau laten Profilaksis Penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi yang mungkin terjadi Parameter Hasil Penulisan Resep a. Definisi Secara tradisional, pengukuran kualitas dilakukan dengna cara menganalisis secara mendalam catatan medis pasien. Evaluasi penggunaan antibiotik didefinisikan sebagai analisis kesesuaian resep individu. Metode ini membutuhkan sumberdaya yang banyak, namun dapat menilai segala aspek

78 19 terapi, selain itu evaluasi proses dapat digunakan sebagai sarana pendidikan. Hasil evaluasi dapat dijadikan umpan balik untuk meningkatkan peresepan. b. Kriteria Evaluasi kualitas peresepan antibiotik dengan cara audit, secara tradisional menggunakan kriteria yang dikembangkan oleh Kunin pada tahun Dahulu klasifikasi dibuat oleh badan otoritas yang melakukan evaluasi terhadap penyakit infeksi menular. Penggunaan antibiotik dikategorikan sebagai tepat, kemungkinan tepat, tidak tepat karena ada alternatif obat yang lebih murah, adaptasi dosis yang dibutuhkan, dan tidak tepat sama sekali. c. Algoritma Evaluasi dengan kriteria Kunin telah dikembangkan oleh beberapa penulis, salah satunya adalah algoritma Gyssens (Gambar 4.1). Algoritma ini memungkinkan evaluasi setiap parameter penting yang berhubungan dengan peresepan obat antibiotik. Sejak tahun 1996, algoritma ini telah dimodifikasi dengan memasukkan lebih banyak kriteria. Untuk mendapatkan evaluasi yang lengkap, serangkaian pertanyaan harus ditanyakan dalam urutan yang tetap sehingga tidak ada parameter penting yang tertinggal. Pemanfaatn algoritma ini digunakan oleh para ahli untuk membuat kategori evaluasi resep individu. Resep dapat tergolong tidak tepat karena alasan yang berbeda pada saat yang bersamaan. Selama proses evaluasi, algoritma dibaca dari atas ke bawah untuk mengevaluasi parameter yang berkaitan dengan hasil proses. Kategori penilaian algoritma Gyssens dapat dilihat pada tabel 4.3.

79 20 Tabel 4.3 Kategori Penilaian Algoritma Gyssens Kategori I II A II B II C III A III B IV A IV B IV C IV D V VI Keterangan Penggunaan antibiotik tepat / rasional Tidak rasional karena dosis yang tidak tepat Tidak rasional karena dosis interval yang tidak tepat Tidak rasional karena rute pemberian yang salah Pemberian antibiotik terlalu lama Pemberian antibiotik terlalu singkat Ada antibbiotik lain yang lebih efektif Ada antibiotik lain yang kurang toksik Ada antibiotik lain yang lebih murah Ada antibiotik lain yang spektrumnya lebih sempit Tidak ada indikasi penggunaan antibiotik Data tidak lengkap / tidak dapat dievaluasi

80 21 Mulai T Data Cukup VI Stop Y Indikasi AB T V Stop Y Alternatif yang lebih efektif T Y IVa Alternatif yang lebih tidak toxic T Y IVb Alternatif yang lebih murah T Y IVc Alternatif spektrum yang lebih sempit T Y IVd Durasi terlalu lama T Y IIIa Durasi terlalu singkat Y IIIb T Dosis Benar Y Interval benar Y Rute Benar T T T IIa IIb IIc Y Bukan katergori II-IV I [Sumber: Antibiotic Policies Theory and Practice, 2005 ] Gambar 4.1 Algoritma Evaluasi Terapi Antibiotik

81 Kategori Penilaian Algoritma Gyssens a. Kategori I : Apakah waktu pemberian benar Pemberian antibiotik sebagai profilaksiis sebelum operasi optimal dilakukan 30 menit sebelum induksi anastesi. Administrasi 2 jam sebelum induksi anastesi juga dianggap tepat. Pemberian antibiotik yang terlambat dapat mempengaruhi tingkat mortalitas, dalam sebuah studi terhadap pasien lansia dengan pneumonia, mortalitas kurang dari 30 hari terjadi ketika pemberian antibiotik dilakukan 8 jam setelah pasien masuk rumah sakit (Meehan dkk., 1997). Antibiotik yang diberikan terlalu cepat contohnya adalah pemberian sebelum hasil kultur bakteri keluar. b. Kategori II : Apakah dosis benar Dosis antibiotik harus dihitung untuk mencapai konsentrasi optimal dalam hubungannya dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) obat terhadap bakteri patogen. Terapi optimal membutuhkan konsentrasi diatas MIC.Frekuensi dosis yang optimal bergantung pada waktu paruh dan mekanisme kerja obat. Administrasi secara parenteral digunakan dalam terapi empirik pasien dengan infeksi yang serius, gangguan gastrointestinal, dan obat yang mengalami penurunan bioavaibilitas. Dalam prakteknya, faktor budaya sering kali mempengaruhi pemilihan rute administrasi. Keparahan infeksi dibebrapa rumah sakit di Eropa kemungkinan sebanding. Di Inggris 60% pasien rumah sakit di terapi menggunakan antibiotik oral, namun di Italia, 80% pasien diterapi menggunakan injeksi intramuskular (Halls, 1993). Tujuan penggunaan antibiotik secara oral adalah untuk mencapai konsentrasi serum yang cukup. Perpindahan dari sediaan parenteral ke oral hanya optimal ketika terapi oral terbatas kepada obat dengan bioavaibilitan yang baik. Frekuensi pemberian obat yang lebih sedikit, akan meningkatkan kepatuhan pasien. Pemberian antibiotik dengan dosis dua kali sehari harus memiliki waktu paruh paling tidak 1 jam. Sayangnya, beberapa antibiotik yang poten, memiliki toksisitas yang rendah dan biaya yang rendah seperti gerenasi pertama sefalosporin, siprofloxasin, dan flukonazol telah dikonsumsi secara berlebihan selama beberapa tahun.

82 23 c. Kategori III : Apakah durasi terapi tepat Suatu studi tentang penggunaan antibiotik sebagai profilaksis sebelum operasi menunjukkan bahwa dosis tunggal sudah cukup untuk prosedur tersebut. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik sebagai profilaksis terjadi karena penggunaan yang berkepanjangan (Gould dan Jappy, 1996; Gyssens dkk., 1996; Moss dkk., 1981; Parret dkk., 1993; Van Kasteren dkk., 2003). Profesional kesehatan kurang mengetahui informasi berdasarkan bukti ilmiah tentang durasi terapi antibiotik, bahkan durasi terapi penyakit infeksi seringkali berdasarkan tradisi, terdapat pula perbedaan budaya. Sebuah laporan di Eropa, menyatakan durasi terpendek terapi antibiotik adalah di Inggris (8 hari) dan yang terlama adalah di Perancis (12 hari). Penggunaan antibiotik terlalu pendek memerlukan perhatian khusus. Terjadi terapi dengan durasi singkat pada terapi penyakit kandidiasis esofagus dan kandidiasis sistemik sebanyak 40-60% (Natsch dkk., 2001). d. Kategori IV Pada pasien yang parah, terapi dimulai dengan ketidakpastian tentang mikroorganisme penyebab dan sensitifitasnya terhadap antibiotik. Terapi empiris menggunakan antibiotik spektrum luas dan dosis besar atau kombinasi antibiotik sering digunakan untuk pasien ini. Pemilihan antibiotik yang rasional bisa terjadi hanya bila dokter memiliki pengetahuan tentang organisme yang mungkin menyebabkan infeksi dan pola resistensi mikroba. Sejak bakteri menjadi semakin resisten, terapi empirik menggunakan antibiotik spektrum luas diperlukan. Terapi standar untuk bakterimia telah dikembangkan oleh IDSA (Society of Infectious Diseases of America) untuk memastikan penggunaan antibiotik yang tepat sesuai dengan kerentanan mikroorganisme yang telah diisolasi. Implementasi standar ini telah menjadi rujukan di beberapa negara. Mayoritas antibiotik dieliminasi di ginjal. Obat-obatan dengan indeks terapi sempit seperti aminoglikosida, penyesuaian dosis dibutuhkan untuk pasien gagal ginjal. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa penggunaan obat dengan dosis sekali sehari memiliki kemungkinan efek nefrotoksisitas yang lebih rendah pada orang dengan ginjal yang normal (Rybak dkk., 1999). Beberapa penulis telah menganalisis potensi toksisitas penggunaan aminoglikosida. Kegagalan terapi

83 24 karena tidak memantau konsentrasi serum atau penyesuaian dosis telah dilaporkan (Dunagan dkk., 1989; Gyssens dkk., 1997; dkk., 1989). Biaya terapi menggunakan antibiotik digunakan sebagai indikator kualitatif. Antibiotik oral memiliki biaya yang lebih rendah daripada sediaan parenteralnya. Penggunaan obat lama (bukan sediaan baru), pengurangan frekuensi pemberian obat secara parenteral, injeksi bolus daripada infus, dan menghindari penggunaan obat yang memerlukan monitoring konsentrasi dalam serum, dapat mengendalikan biaya pengobatan (Gyssens dkk., 1991). Penggunaan antibiotik spektrum luas secara berkepanjangan memiliki konsekuensi ekologis. Penggantian antibiotik menggunakan antibiotik lain dengan spektrum yang berdekatan, tetapi aktif melawan mikroorganisme yang diisolasi, merupakan strategi klasik yang digunakan konsultan penyakit infeksi. Tujuan stategi ini adalah untuk menghindari terapi menggunakan antibiotik spektrum luas yang tidak diperlukan. Beberapa bakteri patogen masih rentan terhadap antibiotik spektrum sempit, contohnya streptokokus terhadap penisilin (Macris dkk., 1998). e. Kategori V : Apakah gambaran klinik sesuai dengan infeksi dan apakah ada indikasi yang butuh terapi menggunakan antibiotik Infeksi yang parah sering diawali dengan demam. Disisi lain, demam tidak selalu terjadi akibat infeksi. Pengetahuan tentang penyakit infeksi dan fasilitas mikrobiologi yang baik dapat membantu penulis resep untuk membedakan antara pasien yang membutuhkan antibiotik dengan yang tidak. Penggunaan antibiotik yang berlebihan merupakan masalah yang telah lama ada terutama sebagai profilaksis untuk operasi. Peresepan antibiotik yang tidak tepat dilaporkan terjadi 40 75% selama 15 tahun di Amerika Serikat. Terapi empiris untuk pasien yang diduga menderita pneumonia nosokomial, sering mengarah ke konsumsi yang berlebihan karena kriteria diagnostik yang kurang (Singh dkk., 2000). f. Kategori VI : Apakah Cukup data untuk kategorisasi Jika informasi mengenai terapi tidak cukup, evaluasi tidak dapat dilakukan. Dalam audit yang disebutkan dalam literatur Antibiotic Policies Theory and Practice, 4% resep profilaksis dan 10% resep dengan antibiotik sebagai terapi,

84 25 tidak dapat dievaluasi karena data pada rekam medik tidak mencukupi. Data yang cukup atau tidak akan mempengaruhi kualitas evaluasi Hasil Pasien Evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif salah satunya dengan menerapkan intervensi, dengan mengukur efek dari intervensi terhadap pasien dan mikroorganisme penyebab infeksi. Dalam studi intervensi indikator hasil pasien tertera pada tabel 4.4. Beberapa penyakit tidak memerlukan pengobatan dengan menggunakan antibiotik, contohnya pada kasus diare. Data status diare di Indonesia pada tahun 2009 yang dikeluarkan oleh kementrian kesehatan menyebutkan, terjadi kasus pemberian antibiotik sebanyak 100% di provinsi Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penggunaan antibiotik yang tidak rasional, yang masuk kedalam kategori V dari kategori Gyssens, yaitu pemberian antibiotik tanpa indikasi. Tabel 4.4 Indikator Hasil Pasien Dalam Studi Intervensi Indikator Mortalitas yang terkait dengan infeksi (30 hari) Lama tinggal di rumah sakit (LOS) Perpanjangan rawat inap terkait infeksi Lama tinggal di ruang rawat intensif Pendaftaran kembali/masuk untuk pasien non-rawat jalan (12 minggu) Tingkat infeksi nosokomial Kesembuhan (atau kekambuhan yang berkurang ) Efek samping (Alergi dan toksisitas) Hasil Mikrobiologi Faktor resiko penyebab berkembangnya resistensi antibiotik belum diteliti dengan baik dan langkah-langkah pengendalian infeksi seringkali tidak terdokumentasi dengan baik. Kebanyakan studi yang diterbitkan melakukan penelitian pada bangsal atau rumah sakit dengan konsumsi antibiotik yang tinggi, yang berakibat rumah sakit memiliki resistensi terhadap selektif strain bakteri

85 26 tertentu. Kebijakan penggunaan antibiotik ditujukan untuk menghilangkan strain yang resisten tersebut.

86 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN Penggunaan antibiotik secara kuantitatif di evaluasi menggunakan sistem klasifikasi ATC/DDD dari WHO, sehingga jumlah konsumsi obat dapat dihitung. Penggunaan sistem klasifikasi ATC/DDD di bidang farmasi klinik (Rumah Sakit) digambarkan dalam DDD/100 tempat tidur. Penggunaan antibiotik secara kualitatif di evaluasi menggunakan algoritma Gyssens. Dengan memanfaatkan algoritma ini para ahli dapat membuat kategori evaluasi resep individu, sehingga rasionalitas penggunaan antibiotik dapat diketahui. Selama proses evaluasi, algoritma dibaca dari atas ke bawah untuk mengevaluasi parameter yang berkaitan dengan hasil proses. 5.2 SARAN Evaluasi penggunaan antibiotik merupakan suatu evaluasi yang rumit, karena antibiotik terdiri dari banyak golongan yang memiliki mekanisme berbedabeda. Evaluasi di rumah sakit membutuhkan sumberdaya manusia yang handal serta biaya yang banyak, sehingga dibutuhkan penambahan personil terutama farmasis untuk memantau dan ikut mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik. Selain itu dibutuhkan pula penelitian dan penelusuran pustaka yang lebih detail untuk dapat menyusun pedoman atau informasi tentang evaluasi penggunaan antibiotik. 27

87 DAFTAR PUSTAKA Gyssens, Inge C., 2005, Audits for Monitoring the Quality of Antimicrobial Prescriptions in : Antibiotic Policies Theory and Practice, Plenum Publishers: New York, MacKenzie, Fiona M., 2005, Quantitative Measurement of Antibiotic Use in : Antibiotic Policies Theory and Practice, Plenum Publishers: New York, Moore, Thomas et al., 1997, Guideline for Implementing Drug Utilization Review Programs In Hospitals, Russia Rational Pharmaceutical Management Project : Moskow. Siregar, Charles J.P., 2004, Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 224 Staf Pengajar Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran, 200, Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Gaya Baru : Jakarta, World Health Organization, 2003, Introduction to Drug Utilization Research, WHO Publication: Oslo, World Health Organization, 2012, Guidelines for ATC classification and DDD assignment 15th edition, WHO Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology: Oslo 28

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DITJEN BINFAR DAN ALKES KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA JL. H.R. RASUNA SAID

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN) Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 50 BOGOR

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. APRILYA TRI SUSATI, S.Farm AGKATA LXXVI

UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. APRILYA TRI SUSATI, S.Farm AGKATA LXXVI UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BIA PRODUKSI DA DISTRIBUSI KEFARMASIA DIREKTORAT JEDERAL BIA KEFARMASIA DA ALAT KESEHATA KEMETERIA KESEHATA REPUBLIK IDOESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. YUDHO PRABOWO, S.Farm ANGKATAN LXXIII

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. YUDHO PRABOWO, S.Farm ANGKATAN LXXIII UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALANKESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Diharapkan Laporan Tahunan ini bermanfaat bagi pengembangan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan.

Diharapkan Laporan Tahunan ini bermanfaat bagi pengembangan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan. KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT dan atas berkat dan karunianya Buku Laporan Tahunan Pelaksanaan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Lebih terperinci

Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan RANCANGAN REVISI PP 38/2007 DAN NSPK DI LINGKUNGAN DITJEN BINFAR DAN ALKES Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan DISAMPAIKAN PADA SEMILOKA REVISI PP38/2007 DAN NSPK : IMPLIKASINYA TERHADAP

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan.

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan. Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan. Dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan kementerian kesehatan republik indonesia

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN 1. Staf Ahli Bid. Teknologi Kesehatan dan Globalisasi; 2. Staf Ahli Bid. Pembiayaan & Pemberdayaan Masyarakat; 3. Staf Ahli Bid. Perlindungan Faktor Resiko Kesehatan; 4. Staf Ahli Bid Peningkatan Kapasitas

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORATT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja. No.585, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1144/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/497/2016 TENTANG PANITIA PENYELENGGARA PERINGATAN HARI KESEHATAN NASIONAL KE-52 TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Anita Karlina, S.Farm.

Lebih terperinci

WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PASURUAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

Rencana Kerja Tahunan Tahun 2016

Rencana Kerja Tahunan Tahun 2016 Rencana Kerja Tahunan Tahun 2016 DIREKTORAT PELAYANAN KEFARMASIAN Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan KEMENTERIAN KESEHATAN RI KATA PENGANTAR Kami memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Rapat Koordinasi Nasional Palu, 31 Maret 2015 Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005

PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005 PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005 DENGAN KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN PERIODE 17 MARET 28 MARET 2014

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN SALINAN NOMOR 26/2016 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANITA HASAN,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI APOTEK SAFA DI PT. TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA, TBK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANATRIA KHOLIYAH,

Lebih terperinci

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Rapat Koordinasi Nasional Padang, 16 Maret 2015 Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/XI/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KESEHATAN MENTERI

Lebih terperinci

WALIKOTA PANGKALPINANG

WALIKOTA PANGKALPINANG WALIKOTA PANGKALPINANG Menimbang PERATURAN WALIKOTA PANGKALPINANG NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH KOTA PANGKALPINANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PANGKALPINANG,

Lebih terperinci

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN INDUK

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN INDUK SURAT PENGESAHAN NOMOR SP DIPA--0/AG/2014 DS 0221-0435-5800-5575 A. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. UU No. 23 Tahun

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2009 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS) Kepmenkes No 189/Menkes/SK/III/2006

KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS) Kepmenkes No 189/Menkes/SK/III/2006 KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS) Kepmenkes No 189/Menkes/SK/III/2006 Oleh : Drs. Richard Panjaitan, Apt., SKM DISAMPAIKAN PADA WORKSHOP KETERSEDIAAN, KETERJANGKAUAN DAN PEMERATAAN OBAT ESENSIAL GENERIK

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 17 /PER/M.KOMINFO/10/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

WALIKOTA PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN WALIKOTA PASURUAN NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG

WALIKOTA PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN WALIKOTA PASURUAN NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG WALIKOTA PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN WALIKOTA PASURUAN NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA PASURUAN NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS

Lebih terperinci

TATA HUBUNGAN KERJA DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR: TAHUN 2009

TATA HUBUNGAN KERJA DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR: TAHUN 2009 RANCANGAN TATA HUBUNGAN KERJA DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR: TAHUN 2009 DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan setiap umat manusia karena aktivitasnya dapat terhambat apabila kondisi kesehatan tidak baik.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan merupakan visi dari Kementerian Kesehatan RI dan telah dirumuskan dalam UU RI No. 36 tahun 2009

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Bagian Kedua Kepala Dinas Pasal 159 (1) Kepala Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a, mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerinta

Bagian Kedua Kepala Dinas Pasal 159 (1) Kepala Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a, mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerinta BAB IX DINAS KESEHATAN Bagian Kesatu Susunan Organisasi Pasal 158 Susunan Organisasi Dinas Kesehatan, terdiri dari: a. Kepala Dinas; b. Sekretaris, membawahkan: 1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; 2. Sub

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang penting dan menjadi hak semua orang. Kesehatan yang dimaksud tidak hanya sekedar sehat secara fisik atau jasmani, tetapi juga secara mental,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/MENKES/SK/IV/2013 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/MENKES/SK/IV/2013 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/MENKES/SK/IV/2013 TENTANG PANITIA KERJA PEMERINTAH PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENGAWASAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN PERBEKALAN

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT

Lebih terperinci