UNIVERSITAS INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS INDONESIA"

Transkripsi

1 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALANKESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE 16 JANUARI 27 JANUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ARY ANDRIANI, S. Farm ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012

2 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE 16 JANUARI 27 JANUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker ARY ANDRIANI, S. Farm ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 ii

3 HALAMAN PENGESAHAN Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diajukan oleh : Nama : Ary Andriani, S.Farm. NPM : Program Studi : Apoteker - Departemen Farmasi FMIPA UI Judul Laporan : Laporan Praktek Kerja Apoteker di Direktorat Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Periode Januari 2012 Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Pengujian dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Studi Apoteker Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,. DEWAN PENGUJI Pembimbing 1 : Drs. M. Taufik S, M.M., Apt. (...) Pembimbing 2 : Prof. Dr. Endang Hanani, M,Si, Apt.(...) Penguji :... (...) Penguji :... (...) Penguji :... (...) Ditetapkan di : Depok Tanggal : iii

4 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Angkatan LXXIV, yang diselenggarakan pada tanggal 16 Januari 27 Januari 2012 di Direktorat Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kegiatan PKPA dan penyusunan laporan PKPA merupakan bagian dari kegiatan perkuliahan program pendidikan profesi apoteker dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Setelah mengikuti kegiatan PKPA, diharapkan apoteker yang lulus nantinya dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki kepada masyarakat pada saat memasuki dunia kerja. Dalam pelaksanaan kegiatan PKPA ini penulis tak luput mendapat bajyak bantuan, bimbingan, dan saran-saran dari bberbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. Dra. Maura Linda Sitanggang, PhD selaku Direktur Jenderal Bina kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2. Dr. Setiawan Soeparan, MPH. selaku Direktur Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, atas pengarahannya selama pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker. 3. Drs. M. Taufik S, Apt, MM selaku Kepala Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama pelaksanaan Praktek Kerja Porfesi Apoteker. 4. Ibu Endah Sri Suharti selaku Kepala Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama pelaksanaan Praktek Kerja Porfesi Apoteker. 5. Ibu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S, Apt. selaku Ketua Departemen Farmasi FMIPA. iv

5 6. Bapak Dr. Harmita, Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA. 7. Ibu Prof. Dr. Endang Hanani, M.Si., Apt. Selaku pembimbing dari Departemen Farmasi FMIPA yang telah memberikan pengerahan dan bimbingan selama penulisan laporan PKPA. 8. Seluruh staf Departemen Farmasi FMIPA dan Seluruh staf Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. 9. Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan laporan ini. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang penulis peroleh selama menjalani Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dapat memberikan manfat bagi rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang membutuhkan. Depok, Juni 2012 Penulis v

6 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN UMUM Tinjauan Umum Kementerian Kesehatan... 3 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Tugas Pokok dan Fungsi Tujuan Sasaran Strategi Intervensi Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Sumber Daya Manusia BAB 4 PEMBAHASAN Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan BAB 5 PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR ACUAN LAMPIRAN vi

7 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Tabel Sumber Daya Manusia (SDM) Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan vii

8 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Lampiran 3. Struktur Organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Lampiran 4. Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Lampiran 5. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian Lampiran 6. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan Lampiran 7. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian viii Universitas

9 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Dalam hal ini pemerintah bertanggung jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. Tanggung jawab tersebut dikhususkan pada pelayanan publik. Terkait dengan sumber daya di bidang kesehatan, pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat agar memperoleh derajat kesehatan yang setinggitingginya (Depkes RI, 2009). Dalam mewujudkan penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat maka Departemen Kesehatan membentuk Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada tahun Kemudian pada tahun 2010 Menteri Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan memiliki satu Sekretariat Direktorat Jenderal dan empat direktorat. Salah satu diantara direktorat tersebut adalah Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan yang menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan secara merata dan terjangkau oleh masyarakat pada pelayanan kesehatan dasar (Kementerian Kesehatan, 2010b). Untuk menjamin ketersediaan dan terjangkaunya obat dan perbekalan kesehatan maka diperlukan sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang profesional salah satunya adalah apoteker. Apoteker merupakan tenaga kefarmasian yang memiliki kompetensi dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian yang dalam hal ini berkaitan dengan penyediaan sediaan farmasi (Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang 1

10 2 Pekerjaan Kefarmasian). Mengingat pentingnya peran apoteker dalam menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan, maka calon apoteker perlu melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan sehingga calon apoteker memperoleh gambaran mengenai peran apoteker sebagai pembuat kebijakan dalam menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan bagi masyarakat yang ditetapkan dan diterapkan di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, terutama di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. 1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan bertujuan agar calon apoteker : 1. Memahami tugas pokok dan fungsi dari Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2. Memahami ruang lingkup kerja, tugas pokok, dan fungsi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. 3. Mengetahui kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan pada tahun Mengetahui peran apoteker sebagai pembuat kebijakan dalam menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan bagi masyarakat yang ditetapkan dan diterapkan di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, terutama di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.

11 BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1 Kementerian Kesehatan sebagai berikut. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mempunyai visi dan misi Visi dan Misi (Kementerian Kesehatan, 2011) Visi Visi Kementerian Kesehatan adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan Misi Misi Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani. 2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan. 3. Menjamin ketersediaan dam pemerataan sumber daya kesehatan. 4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik Kedudukan, Tugas dan Fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) Kementerian Kesehatan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian Kesehatan dipimpin oleh Menteri Kesehatan. Kementerian Kesehatan mempunyai tugas membantu menyelenggarakan urusan di bidang kesehatan dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan fungsi: 1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan; 2. Pengelolaan barang milik/ kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan; 3

12 4 3. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Kesehatan; 4. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Kesehatan di daerah; dan 5. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional Nilai-Nilai (Kementerian Kesehatan, 2011) Kementerian Kesehatan memiliki nilai-nilai yang merupakan satu keseluruhan dalam melaksanakan program-program yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan. Nilai-nilai tersebut yaitu pro rakyat, inklusif, responsif, efektif, dan bersih Rencana Strategis (Kementerian Kesehatan, 2011) Untuk mewujudkan visi Kementerian Kesehatan periode tahun dan sesuai dengan misi yang telah ditetapkan, maka pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan strategi sebagai berikut: 1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerjasama nasional dan global; 2. Meningkatkan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu, pelayanan, dan berkeadilan, serta berbasis bukti, dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif; 3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional; 4. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia kesehatan yang merata dan bermutu; 5. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan; dan 6. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdayaguna, dan berhasil guna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab.

13 Struktur Organisasi (Kementerian Kesehatan, 2010b) Kementerian Kesehatan yang dipimpin oleh Menteri Kesehatan terdiri atas (Lampiran 1) : 1. Sekretariat Jenderal; 2. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan; 3. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 4. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak; 5. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan; 6. Inspektorat Jenderal; 7. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 8. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan; 9. Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi; 10. Staf Ahli Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat; 11. Staf Ahli Bidang Perlindungan Faktor Risiko Kesehatan; 12. Staf Ahli Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi; 13. Staf Ahli Bidang Mediko Legal; 14. Pusat Data dan Informasi; 15. Pusat Kerja Sama Luar Negeri; 16. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan; 17. Pusat pembiayaan dan Jaminan Kesehatan; 18. Pusat Komunikasi Publik; 19. Pusat Promosi Kesehatan; 20. Pusat Inteligensia Kesehatan; dan 21. Pusat Kesehatan Haji. 2.2 Tinjauan Tentang Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tugas dan Fungsi (Kementerian Kesehatan, 2010b) Tugas Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan kefarmasiaan dan alat kesehatan.

14 Fungsi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyelenggarakan fungsi: 1. Perumusan kebijakan di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan; 2. Pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan; 3. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan; 4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan; dan 5. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tujuan (Kementerian Kesehatan, 2011) 1. Terjaminnya ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan; 2. Terlindunginya masyarakat dari penggunaan obat dan perbekalan kesehatan yang tidak memenuhi standar mutu, keamanan, dan kerasionalan; dan 3. Meningkatnya mutu pelayanan farmasi komunitas dan farmasi rumah sakit dalam kerangka pelayanan kesehatan komprehensif yang didukung oleh tenaga farmasi yang profesional Sasaran dan Indikator (Kementerian Kesehatan, 2011) Sasaran hasil program kefarmasian dan alat kesehatan adalah meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh masyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100% Kegiatan (Kementerian Kesehatan, 2011) Untuk mencapai sasaran tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan meliputi: 1. Peningkatan ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan;

15 7 2. Peningkatan produksi dan distribusi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga; 3. Peningkatan pelayanan kefarmasian; dan 4. Peningkatan produksi dan distribusi kefarmasian Struktur Organisasi (Kementerian Kesehatan, 2010b) Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dipimpin oleh Direktur Jenderal yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan terdiri (Lampiran 2) : Sekretariat Direktorat Jenderal 1. Tugas dan Fungsi Sekretariat Direktorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis administrasi kepada semua unsur di lingkungan Direktorat Jenderal. Dalam melaksanakan tugas, Sekretariat Direktorat Jenderal menyelenggarakan fungsi : a. Koordinasi dan penyusunan rencana, program, anggaran; b. Pengelolaan data dan informasi; c. Penyiapan urusan hukum, penataan organisasi, jabatan fungsional dan hubungan masyarakat; d. Pengelolaan urusan keuangan; e. Pelaksanaan urusan kepegawaian, tata persuratan, kearsipan, gaji, rumah tangga, dan perlengkapan; dan f. Evaluasi dan penyusunan laporan 2. Struktur Organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal terdiri dari (Lampiran 3) : a. Bagian Program dan Informasi; b. Bagian Hukum, Organisasi, dan Hubungan Masyarakat; c. Bagian Keuangan; d. Bagian Kepegawaian dan Umum; dan e. Kelompok Jabatan Fungsional.

16 Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan 1. Tugas dan Fungsi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; d. Pemberian bimbingan teknis di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; e. Penyiapan pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; dan f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 2. Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri dari (Lampiran 4) : a. Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat; b. Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan;

17 9 c. Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; d. Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; e. Subbagian Tata Usaha; dan f. Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian 1. Tugas dan Fungsi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pelayanan kefarmasian. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional; b. Pelaksanaan kegiatan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional; c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang standardisasi,farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional; d. Pemberian bimbingan teknis di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional; e. Penyiapan pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik dan penggunaan obat rasional; dan f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 2. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian terdiri dari (Lampiran 5) : a. Subdirektorat Standardisasi; b. Subdirektorat Farmasi Komunitas; c. Subdirektorat Farmasi Klinik;

18 10 d. Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional; e. Subbagian Tata Usaha; dan f. Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan 1. Tugas dan Fungsi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang produksi dan distribusi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga.dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga; b. Pelaksanaan kegiatan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga; c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga; d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga; e. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga; dan f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 2. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan terdiri dari (Lampiran 6) : a. Subdirektorat Penilaian Alat Kesehatan; b. Subdirektorat Penilaian Produk Diagnostik Invitro dan Perbekalan Kesehatan

19 11 Rumah Tangga; c. Subdirektorat Inspeksi Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga; d. Subdirektorat Standardisasi dan Sertifikasi; e. Subbagian Tata Usaha; dan f. Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian 1. Tugas dan Fungsi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian menyelenggarakan fungsi: a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian; b. Pelaksanaan kegiatan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian; c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang produksi dan distribusi kefarmasian; d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis, pengendalian, kajian dan analisis di bidang produksi dan distribusi kefarmasian; e. Pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian; f. Pelaksanaan perizinan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian; dan g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 2. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian terdiri dari (Lampiran 7) : a. Subdirektorat Produksi dan Distribusi Obat dan Obat Tradisional; b. Subdirektorat Produksi Kosmetika dan Makanan;

20 12 c. Subdirektorat Produksi dan Distribusi Narkotika, Psikotropika, Prekusor dan Sediaan Farmasi Khusus; d. Subdirektorat Kemandirian Obat dan Bahan Baku Obat; e. Subbagian Tata Usaha; dan f. Kelompok Jabatan Fungsional

21 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN 3.1 Tugas Pokok dan Fungsi Tugas Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan yaitu melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan. Dalam melaksanakan tugasnya Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : 1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; 2. Pelaksanaan kegiatan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; 3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; 4. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang analisis dan Standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan, dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; 5. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; dan 6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga direktorat. 13

22 Tujuan Tujuan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan adalah penyediaan obat dan perbekalan kesehatan di sektor publik yang lengkap, jumlah cukup, dan mudah diperoleh setiap saat dengan harga terjangkau dan kualitas terjamin, serta menjamin ketersediaan, pemerataan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan. Dengan mewujudkan suatu pedoman, standar, norma, kriteria, dan prosedur di bidang penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar, sesuai peraturan yang berlaku. 3.3 Sasaran Sasaran hasil Program Obat Publik dan Pebekalan Kesehatan adalah meningkatnya ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan dasar. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%, persentase penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan sebesar 80%, dan persentase instalasi farmasi Kab/Kota sesuai standar sebesar 80%. 3.4 Strategi Intervensi Dalam rangka mencapai sasaran, maka Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan memiliki strategi dalam menjalankan kebijakannya antara lain : a. Meningkatkan cakupan dan kuantitas pelayanan dengan beberapa strategi yang dijalankan, antara lain: 1. Ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan mencakup jenis, jumlah cukup dan mudah diperoleh setiap saat, harga terjangkau dan kualitas terjamin; dan 2. Manajemen logistik obat dan perbekalan kesehatan. b. Membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, dinas/instansi lintas sektor dan perguruan tinggi profesi terkait dalam hal : 1. Perumusan kebijakan di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan di unit pelayanan kesehatan dasar.

23 15 2. Perumusan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur dalam hal pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; dan 3. Melaksanakan advokasi dalam rangka terwujudnya kebijakan, program atau proyek atau kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasarannya. 3.5 Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri dari : 1. Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat; 2. Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; 3. Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; 4. Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; 5. Subbagian Tata Usaha; dan 6. Kelompok Jabatan Fungsional Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan teknis, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang analisis dan Standardisasi harga obat Tugas dan Fungsi Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat menyelenggarakan fungsi : 1. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat; 2. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang analisis dan standardisasi harga obat; 3. Penyiapan bahan bimbingan teknis di bidang analisis dan standardisasi harga obat; dan 4. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat.

24 Struktur Organisasi Subdit Analisis dan Standardisasi Harga Obat Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat terdiri atas : a. Seksi Analisis Harga Obat Seksi Analisis Harga Obat mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan analisis, kajian, dan pemantauan harga obat. b. Seksi Standardisasi Harga Obat Seksi Standardisasi Harga Obat mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria harga obat Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan teknis, pengendalian, pemantauan dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan Tugas dan Fungsi Subdit Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : 1. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan; 2. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan; 3. Penyiapan bahan bimbingan teknis dan pengendalian di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan; dan 4. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan.

25 Struktur Organisasi Subdit Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas : a. Seksi Perencanaan Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Perencanaan Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perencanaan penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Seksi Pemantauan Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Pemantauan Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, pengendalian, pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta bimbingan teknis, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan Tugas dan Fungsi Subdit Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : 1. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; 2. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; 3. Penyiapan bahan bimbingan teknis dan pengendalian di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; dan

26 18 4. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan Struktur Organisasi Subdit Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas : a. Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Seksi Bimbingan dan Pengendalian Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Bimbingan dan Pengendalian Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, pengendalian, pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, bimbingan teknis, pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang program obat publik dan perbekalan kesehatan Tugas dan Fungsi Subdit Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Dalam melaksanakan tugasnya, Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan bahan pemantauan pelaksanaan kebijakan di bidang program obat publik dan perbekalan kesehatan; dan b. Penyiapan bahan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang program obat publik dan perbekalan kesehatan.

27 Struktur Organisasi Subdit Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas : a. Seksi Pemantauan Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Pemantauan Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pemantauan pelaksanaan program obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Seksi Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan evaluasi pelaksanaan program obat publik dan perbekalan kesehatan Subbagian Tata Usaha Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Tugas subbagian ini adalah melakukan urusan Tata Usaha dan rumah tangga Direktorat. Uraian tugas subbagian ini adalah sebagai berikut : 1. Melakukan penyiapan rancangan kegiatan Subbagian Tata Usaha berdasarkan rencana jangka panjang, menengah, dan pendek sesuai program dan referensi terkait; 2. Melakukan penyiapan rancangan rencana pelaksanaan kegiatan Subbagian Tata Usaha berdasarkan rencana tahunan; 3. Membimbing pelaksanaan tugas/kegiatan Subbagian Tata Usaha dengan memberi petunjuk dan membagi tugas agar pelaksanaan tugas/kegiatan dapat berjalan dengan lancar, tepat waktu, dan tepat guna; 4. Melakukan manajemen layanan ketatausahaan dan kerumahtanggaan dengan cara merencanakan, mengatur, dan mengevaluasi sumber daya yang ada di lingkungan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan agar pelaksanaan program/kegiatan sesuai dengan rencana; 5. Melakukan penyiapan rancangan usulan kebutuhan tenaga dan kebutuhan diklat pegawai di lingkungan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan

28 20 Kesehatan berdasarkan kebutuhan pelaksanaan program serta masukan dari unit kerja di lingkungan Direktorat; 6. Melakukan penyiapan rancangan usulan kebutuhan peralatan/ perlengkapan/fasilitas kerja di lingkungan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dan kebutuhan biaya pemeliharaannya berdasarkan kebutuhan pelaksanaan program serta masukan dari unit kerja di lingkungan Direktorat; 7. Melakukan penyiapan rancangan usulan kenaikan pangkat, Kejadian Luar Biasa (KLB), pemindahan, pemberhentian dan pensiun/cuti dan lain-lain di lingkungan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dengan cara menelaah/mengolah bahan/data kepegawaian yang ada dan usulan dari pegawai yang bersangkutan; 8. Melaporkan secara berkala pelaksanaan kegiatan layanan ketatausahaan dan kerumahtanggaan baik lisan maupun tertulis kepada Direktur Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dengan cara menyusun laporan sesuai dengan hasil pelaksanaan kegiatan; dan 9. Melakukan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka kelancaran pelaksanaan tugas. 3.6 Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia yang terdapat pada Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan berjumlah 34 orang dengan perincian sebagai berikut

29 21 Tabel 3.1 Sumber Daya Manusia (SDM) Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Organisasi Jumlah SDM Direktur Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan 1 Subdirektorat Analisis Obat dan Standardisasi Harga Obat 5 Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan 7 Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan 7 Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik Publik dan Perbekalan Kesehatan 6 Subbagian Tata Usaha 9 Total 35

30 BAB 4 PEMBAHASAN Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1144/MENKES/PER/III/2010, kementerian kesehatan RI terdiri dari Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan dipimpin oleh Direktur Jenderal yang membawahi empat direktorat yaitu Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan, dan Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah berupa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang menetapkan bahwa tujuan dari pelayanan kefarmasian adalah tersedianya obat dan perbekalan kesehatan yang bermutu, bermanfaat, terjangkau untuk meningkatkan derajat kesehatan setinggi-tingginya. Hal tersebut diwujudkan oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dalam sebuah misi yaitu terjaminnya ketersediaan, kemerataan, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010) Tugas Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1144/MENKES/PER/III/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan adalah melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan. Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri dari empat subdirektorat yaitu subdirektorat analisis dan standardisasi harga obat, subdirektorat penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan, subdirektorat pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, subdirektorat pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. Pembagian tersebut 22 Universitas indonesia

31 23 dilakukan untuk dapat menjalani tugas dan fungsi secara maksimal agar tujuan tercapai Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat dalam melaksanakan tugasnya dibagi menjadi dua seksi, yaitu Seksi Analisis Harga Obat dan Seksi Standardisasi Harga Obat. Seksi analisa harga obat bertugas untuk menganalisa harga yang ada di pasaran. Sedangkan seksi standardisasi harga obat bertugas untuk membuat kebijakan-kebijakan terkait penentuan harga obat. Output utama dari subdirektorat ini adalah Surat Keputusan Harga Obat yang dikeluarkan tiap tahun baik berupa SK Harga Eceran tertinggi (HET), SK Harga Obat untuk Pengadaan Pemerintah, dan SK Harga Vaksin dan Serum. Pengendalian harga obat dilakukan agar harga obat yang beredar di masyarakat bersifat rasional. Harga obat yang rasional diartikan sebagai harga yang terjangkau oleh masyarakat dan masih menguntungkan bagi pihak produsen. Harga obat yang dikendalikan adalah harga obat generik, baik untuk pengadaan pemerintah, maupun untuk masyarakat secara langsung melalui penjualan di apotek. Harga obat generik perlu ditetapkan karena obat generik termasuk komoditas yang berhubungan dengan hajat hidup masyarakat terutama untuk pelayanan kesehatan dasar sehingga keterjangkauannya oleh masyarakat menjadi sangat penting. Penetapan harga obat generik dilakukan oleh Menteri Kesehatan berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi Harga Obat yang bersifat independen. Tim ini dibentuk oleh Menteri Kesehatan dan beranggotakan pihak-pihak yang berasal dari perguruan tinggi (universitas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), praktisi kesehatan dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Perumusan rekomendasi harga obat generik tersebut dilakukan dengan pendekatan struktur harga obat dan kelayakan harga dalam kondisi nyata Indonesia. Penetapan harga pada tiap daerah dapat berbeda-beda sesuai dengan penggolongan regional yang dipengaruhi oleh jarak.

32 Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat ini dibagi menjadi dua seksi yaitu seksi Perencanaan Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dan Seksi Pemantauan Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Perencanaan Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Perencanaan merupakan salah satu tahap yang menentukan dalam proses penyediaan dan pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan. Perencanaan yang tepat mengenai jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan dapat mempelancar pelaksanaan PKD di masyarakat. Tujuan perencanaan penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan adalah tersedianya obat dan perbekalan kesehatan dengan jenis dan jumlah yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan PKD dengan mutu obat yang terjamin dan obat dapat diperoleh pada saat diperlukan. Perencanaan obat dan perbekalan kesehatan di Kabupaten/Kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Terpadu di Kabupaten/Kota yang dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati/Walikota. Tim ini akan melakukan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi antar instansi yang terkait dengan masalah obat di setiap Kabupaten/Kota. Perencanaan dilakukan dengan sistem dari bawah ke atas (bottom-up), yaitu data kebutuhan diperoleh dari data pemakaian oleh Puskesmas setiap bulan yang kemudian direkapitulasi menjadi suatu rencana kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan selama satu tahun. Dalam melakukan perencanaan, Puskesmas akan menyerahkan data pemakaian obat dengan menggunakan LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat). Selanjutnya, Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota merekapitulasi dan menganalisa kebutuhan obat Puskesmas diwilayah kerjanya dan melaporkannya ke Dinas Kesehatan Propinsi setiap tiga bulan sekali. Selanjutnya, Dinas Kesehatan Propinsi membuat laporan ke Direktorat Obat Publik Dan Perbekalan Kesehatan. Ketepatan dan kebenaran data di Puskesmas akan memengaruhi ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan secara keseluruhan di Kabupaten/Kota. Proses perencanaan obat dan perbekalan kesehatan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: (1) proses kompilasi, (2) proses perhitungan kebutuhan, (3) proses proyeksi kebutuhan, (4) proses penyesuaian rencana pengadaan. Proses

33 25 kompilasi dilakukan dengan mengisi Formulir Kompilasi Pemakaian Obat (IFK- 1) dari masing-masing jenis obat untuk seluruh Puskesmas. Data pemakaian obat di Puskesmas diperoleh dari LPLPO dan pola penyakit. Tahap proses perhitungan kebutuhan obat yang dilakukan dengan metode konsumsi dan metode morbiditas. Melalui metode konsumsi, kebutuhan dilihat dari data pemakaian obat beberapa tahun sebelumnya. Untuk memperoleh data yang mendekati ketepatan, maka perlu dilakukan analisa trend (regresi linear) pemakaian obat tiga tahun sebelumnya atau lebih. Sedangkan melalui metode morbiditas, kebutuhan dilihat dari pola penyakit dengan memerhatikan perkembangan pola penyakit dan lead time. Perhitungan morbiditas diperoleh dari pengisian formulir IFK-2. Tahap proses proyeksi kebutuhan obat dilakukan dengan membuat rancangan stok akhir untuk periode yang akan datang dan menghitung rancangan kebutuhan obat untuk tahun yang akan datang dengan mengisi Lembar Kerja Perencanaan Pengadaan Obat menggunakan formulir IFK-3. Kemudian untuk tahap proses penyesuaian rencana, pengadaan obat harus mempertimbangkan dana yang tersedia. Apabila dana tidak mencukupi, perlu dilakukan analisa kebutuhan sesuai anggaran dengan menggunakan metode analisa ABC dan seleksi obat dengan menggunakan metode analisa VEN. Pembiayaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) dibiayai melalaui berbagai sumber anggaran. Anggaran untuk pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan di unit PKD berasal dari APBN, APBD I, Dana Alokasi Umum (DAU)/APBD II, dan sumber-sumber lain, seperti Asuransi Kesehatan (ASKES). Sebelum tahun 2010, pengadaan obat berasal dari pusat (APBN) berupa obat dan perbekalan kesehatan yang didistribusikan ke tiap Kabupaten/Kota dan berasal dari APBD dan Dana Alokasi Umum (DAU) berupa dana untuk pembelian atau pengadaan obat. Setelah tahun 2010, pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan dari pusat dialihkan dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diserahkan ke Kabupaten/Kota. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk melaksanakan otonomi daerah dan agar Kabupaten/Kota lebih mandiri dalam melakukan pengadaan obat. Namun, tidak semua Kabupaten/Kota memperoleh DAK. Alokasi DAK bergantung pada kemampuan finansial dan pendapatan kabupaten/kota. Daerah yang tidak

34 26 mendapatkan DAK, pengadaan obatnya berasal dari APBD. DAK yang diberikan oleh pemerintah pusat hanya sebagai bantuan, sumber anggaran utama kabupaten/kota dalam melakukan pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan adalah APBD II. Saat ini pemerintah pusat hanya bertindak sebagai pengelola stok pengaman obat publik dan perbekalan kesehatan nasional. Stok pengaman nasional merupakan cadangan obat milik pemerintah pusat untuk memenuhi permintaan obat yang sebelumnya tidak direncanakan seperti pada saat kejadian luar biasa (KLB) suatu penyakit, bencana alam dan untuk memenuhi kekurangan kebutuhan obat pada Kabupaten/Kota, termasuk Kabupaten/Kota yang baru terbentuk. Pengadaan stok pengaman dilakukan satu tahun sekali oleh Kementerian Kesehatan RI. Obat-obat yang termasuk dalam stok pengaman, meliputi obat untuk PKD, seperti obat-obat golongan analgetikantipiretik, antasida, antidiare, antibiotik, obat batuk, obat luka, dan obat kulit; obat-obat program seperti obat TB Paru, obat filariasis, obat penyakit kelamin, obat Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), obat perbaikan gizi dan obat polio; obat-obat yang digunakan pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB), termasuk juga obat-obat yang diperlukan pada saat terjadi bencana (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010). Agar kegiatan dalam perencanaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan, dalam hal ini ditetapkan jadwal kegiatan yang disajikan dalam Rencana Kerja Operasional untuk perencanaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan di Kabupaten/Kota yang dimulai dari persiapan perencanaan, pelaksanaan perencanaan dan pengendalian perencanaan yang dilanjutkan dengan penyusunan rencana kerja operasional untuk pengadaan juga dimulai dari persiapan pengadaan, pelaksanaan pengadaan dengan menggunakan formulir IFK-4. Pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan dilaksanakan sesuai Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintah antara pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota dan Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang/ jasa Instansi pemerintah melalui lelang, pemilihan langsung, penunjukan langsung (untuk pengadaan skala kecil, telah dilakukan lelang ulang,

35 27 pengadaan yang sifatnya mendesak, penyediaan barang/jasa tunggal) dan swakelola. Pengadaan yang dilakukan oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dilakukan melalui proses lelang. Hal ini bertujuan untuk memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan juga diharapkan akan memperoleh penawaran harga yang lebih bersaing. Dalam pengadaan obat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar memperoleh kualitas dan kuantitas yang baik, seperti kriteria obat dan perbekalan kesehatan, metode pengadaan, persyaratan pemasok, penentuan waktu kedatangan obat, penerimaan dan pemeriksaan obat, dan pemantauan status pesanan. Pada kriteria umum, dilakukan pemeriksaan admistratif obat sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Sedangkan pada kriteria mutu obat dilakukan pemeriksaan organoleptik oleh Apoteker penanggung jawab Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota. Persyaratan pemasok dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas obat. Waktu pengadaan dan kedatangan obat ditetapkan berdasarkan hasil analisis data sisa stok, jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir tahun anggaran, ratarata pemakaian, dan waktu tunggu/lead time. Berdasarkan hasil analisis dapat diperoleh profil pemakaian obat, penetapan waktu pesan, dan waktu kedatangan obat. Penerimaan dan pemeriksaan obat harus sesuai dengan jenis dan jumlah serta sesuai dengan dokumen yang menyertainya. Selama proses pengadaan perlu dilakukan pemantauan status pesanan untuk mempercepat pengiriman sehingga efisiensi dapat ditingkatkan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2008) Pemantauan Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Pemantauan ketersediaan harus dilakukan agar memperoleh ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang bermutu, bermanfaat, dan terjangkau untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pemantauan ketersediaan obat dilakukan menggunakan aplikasi software Sistem Informasi Obat dengan sistem bottom up. Data penerimaan dan pengeluaran obat dikirimkan oleh pihak Puskesmas ke Instalasi Farmasi kabupaten/kota setiap tiga bulan sekali. Kemudian Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota meneruskannya ke Pemerintah Pusat. Pemantauan ketersediaan dilakukan berdasarkan obat indikator. Obat indikator tersebut dipilih berdasarkan kesepakatan dari pertemuan nasional

36 28 dan biasanya merupakan obat dari sepuluh penyakit terbanyak atau obat yang banyak digunakan. Penggunaan software Sistem Informasi Obat digunakan agar diperoleh pengawasan secara real time. Namun cara ini memiliki kendala dalam pelaksanaannya, yaitu diperlukan SDM yang terlatih dalam menggunakannya dan adanya kemungkinan rusaknya software yang disebabkan oleh virus. Selain itu software Sistem Informasi Obat tersebut tidak dapat digunakan sebagai parameter dalam melakukan perencanaan obat di periode-periode berikutnya. Keputusan dalam perencanaan penyediaan obat dan perbekalan kesehatan tetap berdasarkan perencanaan yang matang dengan melihat berbagai aspek seperti pola penggunaan sebelumnya baik melalui metode konsumsi maupun metode morbiditas dan melihat anggaran yang tersedia Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dalam melaksanakan tugasnya dibagi menjadi dua seksi, yaitu Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dan Seksi Bimbingan dan Pengendalian Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta bimbingan teknis, evaluasi, pengendalian, pemantauan dan penyusunan laporan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan (Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, 2010). Tugas tersebut dilaksanakan untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu tersedianya obat dan perbekalan kesehatan yang memiliki kualitas yang tetap baik selama proses pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan hingga sampai kepada masyarakat pada unit PKD. Pada tahun 2011 Subdirektorat Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan memiliki program untuk melakukan harmonisasi pengadaan obat di Tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten /Kota. Harmonisasi ini diperlukan untuk mensinergiskan obat program dengan PKD pada pelayanan kesehatan dasar. Obat PKD adalah obat-obat untuk pelayanan kesehatan dasar yang termasuk dalam obat DOEN

37 29 (Daftar Obat Esensial Nasional) dan obat program adalah obat yang disediakan untuk program kesehatan khusus yang diadakan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan seperti TBC, malaria, dan AIDS. Dalam kedua jenis obat ini sering ditemui beberapa obat program termasuk dalam obat PKD seperti amoksisilin. Hal ini dapat menjadi masalah karena dapat terjadi pemesanan ganda. Oleh karena itu diperlukan harmonisasi pengadaan obat. Hambatan yang dialami saat pelaksanaan pengelolaan adalah sulitnya menyatukan pemahaman mengenai pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan melalui satu pintu, hal ini disebabkan karena belum adanya pedoman pendistribusian khusus obat publik dan perbekalan kesehatan. Berdasarkan hal tersebut maka mulai dibuat rancangan pedoman pendistribusian obat yang baik. Pedoman distribusi yang akan disusun diharapkan dapat menjaga mutu dan stabilitas obat. Selain itu pedoman tersebut harus bersifat applicable yaitu mudah dipahami dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi lapangan karena proses distribusi dilakukan oleh pihak ketiga yaitu pihak penyedia jasa pengantaran. Program yang direncanakan untuk tahun 2012 adalah memperbaiki pedoman pemusnahan, distribusi, perencanaan yang terpadu, buffer stock, dan pedoman instalasi farmasi yang lebih bertenaga. Terdapat beberapa tantangan yang dapat menghambat terlaksananya program di tahun 2012 antara lain tidak semua pihak menyetujui konsep yang dibuat, dalam membuat peraturan harus mudah diikuti, serta pencatatan dan pelaporan agar obat tersebut tepat penggunaan. Agar pedoman yang telah disusun dapat dilaksanakan sampai di tingkat dasar, maka dibutuhkan sosialisasi pedoman berupa pelatihan yang melalui jaur dari atas ke bawah (Top Down) yaitu dari pemerintah pusat memberikan pelatihan ke tingkat propinsi, kemudian pelatihan berlanjut ke tingkat kabupaten/kota, dan sampai ke tingkat PKD atau Puskesmas dalam bentuk mini loka karya. Evaluasi dilakukan tiap tahun oleh subdirektorat pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan. Hal yang dievaluasi adalah pelaksanaan kebijakan yang tertuang dalam pedoman-pedoman yang berkaitan dengan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan. Evaluasi dilakukan dengan melihat apakah pedomanpedoman telah diterapkan dengan baik dan kendala-kendala apa saja yang

38 30 mempersulit penerapan pedoman serta bagaimana cara mengatasinya. Dalam mengatasi masalah yang terjadi di lapangan saat penerapan kebijakan adalah dengan menambah kebijakan baru atau mengganti kebijakan yang tidak bisa diterapkan dengan kebijakan baru yang lebih bisa diterapkan sesuai dengan kondisi lapangan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Proram Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Tugas utama dari Subdirektorat ini adalah memantau dan mengevaluasi apakah kegiatan dan program Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan yang dilakukan dapat mendukung pencapaian sasaran. Tiga indikator penilaian adalah persentase ketersediaan vaksin, persentase penggunaan generik, dan instalasi farmasi daerah yang sesuai standar. Target yang ditetapkan untuk tahun 2014 adalah persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%, persentase penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan sebesar 80%, dan persentase instalasi farmasi kab/kota sesuai standar sebesar 80%. Berdasarkan indikator evaluasi, Pada tahun 2011, kinerja yang diperlihatkan cukup baik. Hal ini dilihat dari ketersediaan obat dan vaksin mencapai lebih dari 85% dan penggunaan obat generik di atas 65%. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan akan diperoleh output berupa profil pencapaian indikator berdasarkan pengambilan data secara bottom up. Pengambilan data dilakukan dari struktur terendah kemudian di rekapitulasi ke sektor diatasnya. Data dari Instalasi Farmasi Kabupaten /Kota disampaikan melalui format laporan pemantauan, kemudian di laporkan setiap dua bulan sekali secara berjenjang ke Dinas Kesehatan Propinsi atau secara langsung ke Pusat. Idealnya pemantauan dan evaluasi dilakukan setiap tiga bulan (triwulan) untuk mengetahui dinamika logistik di Instalasi Farmasi. Namun, saat ini kegiatan tersebut dilakukan setiap satu tahun sekali. Pemantauan dan evalausi ini baru dapat dilaksanakan di tiga kabupaten/kota tiap provinsi di Indonesia. Hal ini dikarenakan minimnya anggaran untuk pelaksanaan pemantauan dan evaluasi (Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, 2010). Instalasi Farmasi

39 31 Kabupaten/Kota yang dikunjungi adalah Instalasi Farmasi yang belum pernah dikunjungi pada tahun sebelumnya dan faktor kemanan atau kemudahan transportasi untuk mencapai lokasi. Untuk proses pemantauan dan evaluasi harus didukung dengan ketersediaan dana yang dibutuhkan dan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya, sehingga proses pemantauan dan evaluasi tersebut dapat berlangsung dengan baik, efektif, dan efisien (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006). Apabila hasil pemantauan dan evaluasi menunjukkan kinerja yang buruk, maka pemerintah pusat akan memberikan bimbingan teknis agar dapat memperbaiki kinerjanya menjadi lebih baik dalam menjalankan kegiatan atau program Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.

40 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada bagian Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Dalam mewujudkan penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan melakukan perumusan dan pelaksanaan kebijakan; penyusunan norma, standard, prosedur, dan kriteria; pemberian bimbingan teknis; dan evaluasi di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. 2. Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan melakukan tugas pokok dan fungsinya yang dilakukan secara sinergis melalui empat subdirektorat untuk menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan secara merata dan terjangkau oleh masyarakat, terutama pada Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD). Tiga indikator penilaian kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan antara lain persentase ketersediaan vaksin, persentase penggunaan generik, dan instalasi farmasi daerah yang sesuai standar. 3. Berdasarkan indikator evaluasi, Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan memperlihatkan kinerja yang baik pada tahun Hal ini dilihat dari ketersediaan obat dan vaksin mencapai lebih dari 85% dan penggunaan obat generik di atas 65%. 4. Apoteker memiliki peran sebagai pembuat kebijakan terkait penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat dengan cara menggunakan ilmu kefarmasian yang dimiliki dalam menetapkan konsep norma, standar, prosedur dan kriteria untuk mewujudkan penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. 32

41 Saran Saran yang dapat diberikan dari kesimpulan di atas adalah sebagai berikut: 1. Rencana pembuatan pedoman-pedoman pelaksanaan teknis PKD pada tahun 2012 sebaiknya segera dilaksanakan dan kemudian disosialisasikan serta diterapkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas PKD di berbagai daerah di Indonesia. 2. Mahasiswa sebaiknya dilibatkan secara langsung dalam teknis pelaksanaan kerja di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.

42 DAFTAR ACUAN Departemen Kesehatan RI Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1121/MENKES/SK/XII/2008 tentang Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Departemen Kesehatan RI Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia No. 36 tentang Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Departemen Kesehatan RI Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1810/ MENKES/SK/XII/2010 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun Anggaran Jakarta : Departemen Kesehatan RI Departemen Kesehatan RI Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Pedoman Supervisi dan Evaluasi Obat dan Perbekalan Kesehatan. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. (2010). Laporan hasil Manajemen Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Instansi pemerintah Tahun Jakarta : Departemen Kesehatan RI Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 021/MENKES/SK/2011 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun Jakarta : Kementerian Kesehatan RI 34

43 LAMPIRAN

44 35 Lampiran 1. Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan STAF AHLI MENTERI KESEHATAN INSPEKTORAT JENDERAL SEKRETARIAT JENDERAL INSPEKTORAT SEKRETARIAT ITJEN BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN BIRO KEPEGAWAIAN BIRO KEUANGAN DAN BARANG MILIK NEGARA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI BIRO UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL BINA GIZI DAN KESEHATAN IBU DAN ANAK DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN SEKRETARIAT DITJEN SEKRETARIAT DITJEN SEKRETARIAT DITJEN SEKRETARIAT DITJEN DIREKTORAT DIREKTORAT DIREKTORAT DIREKTORAT BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SDM KESEHATAN SEKRETARIAT BADAN SEKRETARIAT BADAN PUSAT PUSAT PUSAT DATA DAN INFORMASI PUSAT KERJASAMA LUAR NEGERI PUSAT PENGANGGULANAGAN KRISIS KESEHATAN PUSAT PEMBAERDAYAAN DAN JAMINAN KESEHATAN PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK PUSAT PROMOSI KESEHATAN PUSAT INTELIGENSIA KESEHATAN PUSAT KESEHATAN HAJI

45 36 Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESAHATAN SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN Lampiran 3. Struktur Organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL BAGIAN PROGRAM DAN INFORMASI BAGIAN HUKUM, ORGANISASI, DAN HUBUNGAN MASYARAKAT BAGIAN KEUANGAN SUBBAGIAN KEPEGAWAIAN DAN UMUM SUBBAGIAN PROGRAM SUBBAGIAN HUKUM SUBBAGIAN ANGGARAN BAGIAN KEPEGAWAIAN SUBBAGIAN DATA DAN INFORMASI SUBBAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN SUBBAGIAN ORGANISASI SUBBAGIAN HUBUNGAN MASYARAKAT SUBBAGIAN PERBENDAHARAAN SUBBAGIAN VERIFIKASI DAN AKUNTANSI SUBBAGIAN TATA USAHA DAN GAJI SUBBAGIAN RUMAH TANGGA KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

46 37 Lampiran 4. Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT ANALISIS DAN STANDARDISASI HARGA OBAT SUBDIT PENYEDIAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SUBDIT PENGELOLAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SUBDIT PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SEKSI ANALISIS HARGA OBAT SEKSI PERENCANAAN PENYEDIAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SEKSI STANDARDISASI PENGELOLAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SEKSI PEMANTAUAN PROGRAM OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SEKSI STANDARDISASI HARGA OBAT SEKSI PEMANTAUAN KETERSEDIAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SEKSI BIMBINGAN DAN PENGENDALIAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SEKSI EVALUASI PROGRAM OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL Lampiran 5. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT STANDARDISASI SUBDIT FARMASI KOMUNITAS SUBDIT FARMASI KLINIK SUBDIT PENGGUNAAN OBAT RASIONAL SEKSI STANDARDISASI PELAYANAN KEFARMASIAN SEKSI PELAYANAN FARMASI KOMUNITAS SEKSI PELAYANAN FARMASI KLINIK SEKSI PROMOSI PENGGUNAAN OBAT RASIONAL SEKSI STANDARDISASI PENGGUNAAN OBAT RASIONAL SEKSI PEMANTAUAN DAN EVALUASI FARMASI KOMUNITAS SEKSI PEMANTAUAN DAN EVALUASI FARMASI KLINIK SEKSI PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEGGUNAAN OBAT RASIONAL KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

47 38 Lampiran 6. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PENILAIAN ALAT KESEHATAN SEKSI ALAT KESEHATAN ELEKTROMEDIK SEKSI ALAT KESEHATAN NONELEKTROMEDIK SUBDIT PENILAIAN PRODUK DIAGNOSTIK INVITRO DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA SEKSI PRODUK DIAGNOSTIK INVITRO SEKSI PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA SUBDIT INSPEKSI ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA SEKSI INSPEKSI PRODUK SEKSI INSPEKSI SARANA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI SUBDIT STANDARDISASI DAN SERTIFIKASI SEKSI STANDARDISASI PRODUK SEKSI STANDARDISASI DAN SERTIFIKASI PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KELOMPOK JABATAN FUNSIONAL Lampiran 7. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan distribusi kefarmasian DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PRODUKSI DAN DISTRIBUSI OBAT DAN OBAT TRADISIONAL SUBDIT PRODUKSI KOSMETIKA DAN MAKANAN SUBDIT PRODUKSI DAN DISTRIBUSI NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA, PREKURSOR, DAN SEDIAAN FARMASI KHUSUS SUBDIT KEMANDIRIAN OBAT DAN BAHAN BAKU OBAT SEKSI STANDARDISASI PRODUKSI DAN DISTRIBUSI SEKSI PERIZINAN SARANA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI SEKSI STANDARDISASI PRODUKSI KOSMETIKA DAN MAKANAN SEKSI PERIZINAN SARANA PRODUKSI KOSMETIKA SEKSI NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA, PREKURSOR FARMASI SEKSI SEDIAAN FARMASI KHUSUS SEKSI ANALISIS OBAT DAN BAHAN BAKU OBAT SEKSI KERJA SAMA KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

48 UNIVERSITAS INDONESIA RANCANGAN PEDOMAN PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ARY ANDRIANI, S.Farm ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012

49 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... Halaman BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pemusnahan Farmasi Tim Pengelolaan Limbah Farmasi Kebutuhan Pengelolaan Limbah Farmasi Pengelolaan Limbah Farmasi Metode Pemusnahan Metode Pemusnahan Sediaan Padat BAB 3 PEMBAHASAN BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR ACUAN LAMPIRAN i ii iii iv v ii

50 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Skema mekanisme pengumpulan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan pada situasi rutin di kabupaten/kota... 9 Gambar 2.2. Skema mekanisme pengumpulan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan pada situasi rutin di propinsi... 9 iii

51 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Metode pembuangan limbah sediaan farmasi Tabel 2.2. Pemusnahan obat antineoplastik Tabel 2.3. Ringkasan metode pemusnahan sediaan farmasi padat Tabel 3.1. Pemusnahan obat berdasarkan golongan iv

52 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Rancangan pedoman pemusnahan sediaan farmasi padat v

53 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia baik ditingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota maupun di pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas), terkadang mengalami kerusakan seperti kedaluarsa atau rusak akibat dari pengiriman maupun penyimpanan yang tidak benar (Depkes, 2007). Sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan tersebut tidak dapat digunakan lagi dalam pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Untuk menghindari penyalahgunaan, maka harus dilakukan pembuangan atau pemusnahan sesegera mungkin. Pembuangan atau pemusnahan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang sudah tidak layak digunakan ini sering menimbulkan masalah. Beberapa risiko yang mungkin ditimbulkan oleh metode pembuangan atau pemusnahan yang tidak benar antara lain: limbah sediaan farmasi dengan metode pembuangan yang tidak tepat dapat mencemari persediaan air atau mata air yang digunakan masyarakat atau satwa sekitar; limbah sediaan farmasi dapat sampai ke tangan pemulung dan anak-anak; atau sediaan farmasi dalam kemasan asli setelah pemilahan akan menimbulkan risiko pencurian dan penjualan kembali ke masyarakat (Wisyastuti, 2005). Selain itu masyarakat dapat terpapar oleh sediaan farmasi secara inhalasi (terhirup), tertelan, atau melalui kulit. Paparan ini dapat memengaruhi kesehatan seperti menyebabkan infeksi, kanker, dan mengganggu kesehatan. Selain itu memengaruhi ekosistem, hewan, dan tumbuh-tumbuhan (Depkes, 2007) Berdasarkan kemungkinan risiko membahayakan yang dapat ditimbulkan akibat pembuangan atau pemusnahan sediaan farmasi yang tidak benar maka perlu diketahui cara pemusnahan limbah sediaan farmasi yang baik, benar, dan aman. 1

54 2 1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui cara dan proses pemusnahan limbah sediaan farmasi padat yang baik, benar, dan aman serta mengetahui peran dan tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat dalam melakukan pemusnahan limbah sediaan farmasi.

55 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemusnahan Sediaan Farmasi Pemusnahan sediaan farmasi telah diatur dalam peraturan pemerintah (PP) Republik Indonesia nomor 72 tahun 1998 tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan pada bab X. Selain sediaan farmasi, dalam PP tersebut juga diatur mengenai pemusnahan alat kesehatan. Pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan terhadap sediaan yang: (1) diproduksi tanpa memenuhi persyaratan yang berlaku; (2) telah kadaluwarsa; (3) tidak memenuhi syarat untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan; (4) dicabut izin edaranya; (5) berhubungan dengan tindak pidana di bidang sediaan farmasi dan alat kesehatan (PP Republik Indonesia (72/98), 1998). Pemusnahan dilaksanakan oleh badan usaha yang memproduksi dan/atau mengedarkan sediaan farmasi dan alat kesehatan, dan/atau orang yang bertanggung jawab atas sarana kesehatan dan/atau Pemerintah. Sedangkan untuk pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang berhubungan dengan tindak pidana di bidang sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pelaksanaannya, pemusnahan harus memerhatikan dampak terhadap kesehatan manusia serta upaya pelestarian lingkungan hidup. 2.2 Tim Pengelolaan Limbah Farmasi (Depkes RI, 2007) Dalam pengelolaan limbah farmasi terdapat tim yang dibentuk untuk menangani limbah tersebut. Tim ini melibatkan antar lintas program dan sektoral yang terdiri atas personalia yang kompeten dalam bidangnya dan memiliki komitmen terhadap pekerjaan tersebut. Tim ini dibentuk melalui surat keputusan yang ditandatangani oleh kepala dinas kesehatan provinsi/ kabupaten/ kota. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kejelasan tugas dan fungsi serta mendapatkan dukungan baik dari pemegang kebijakan maupun pihak luar sehingga proses 3

56 4 pemusnahan dapat dilaksanakan sesuai yang diharapkan. Adapun tim pengelolaan limbah farmasi adalah sebagai berikut: a. Tingkat propinsi ketua : kepala subdinas kefarmasian wakil ketua : unsur balai POM sekretaris : kepala seksi kefarmasian anggota : 1. Unsur instalasi farmasi provinsi 2. Unsur balai POM 3. Unsur promosi kesehatan 4. Unsur subdinas kesehatan lingkungan 5. Unsur Bapedalda 6. Dinas pemukiman dan perkotaan 7. Ikatan apoteker indonesia b. Tingkat kabupaten/kota ketua : kepala bidang farmasi wakil ketua : kepala instalasi farmasi sekretaris : kepala seksi farmasi anggota : 1. Unsur instalasi farmasi 2. Unsur instalasi farmasi rumah sakit 3. Unsur penyehatan lingkungan 4. Unsur pelayanan kesehatan masyarakat 5. Unsur P2P 6. Unsur Bapedalda 2.3 Kebutuhan Pengelolaan Limbah Farmasi (Depkes RI, 2007) Kebutuhan pengelolaan limbah farmasi mencakup kebutuhan teknis dan kebutuhan manajerial. Kebutuhan teknis terdiri atas: (1) mempersiapkan perencanaan, pemilahan, identifikasi, pengelompokan, dan penandaan limbah farmasi; (2) menentukan cara pemilihan obat yang rusak, pengumpulan, penempatan limbah, penanganan, transportasi, dan pemusnahan limbah yang baik dan benar berdasarkan katagori limbah. Sedangkan kebutuhan manajerial terdiri

57 5 atas tenaga terlatih yang terlibat dan bertanggung jawab untuk mengelola limbah secara efektif dan efisien. 2.4 Pengelolaan Limbah Farmasi Limbah farmasi merupakan limbah yang mengandung bahan farmasi mencakup produk farmasi, obat-obatan, vaksin, dan serum yang sudah kadaluwarsa, tidak digunakan, tumpah, dan terkontaminasi yang tidak diperlukan lagi dan harus dibuang dengan tepat (Depkes RI, 2007). Cakupan limbah farmasi adalah: (1) obat yang sudah Kadaluwarsa; (2) sediaan sirup, krim, salep, dan tetes mata/ telinga yang sudah tidak tersegel lagi (baik kadaluwarsa maupun tidak); (3) obat yang rusak karena terjadi perubahan warna, bentuk, atau bau; (4) obat yang tidak dibutuhkan di tempat lokasi bencana; (5) obat yang rusak karena terputusnya rantai dingin (misalnya vaksin, insulin, hormon dan lainnya); (6) tablet yang gompal, jika belum kadaluwarsa, maka obat tersebut dapat digunakan hanya bila wadahnya masih tersegel, masih ada label yang jelas maupun masih di dalam kemasan blister (Depkes RI, 2007; Widiastuti, 2005). Limbah farmasi juga mencakup barang yang akan dibuang setelah digunakan untuk menangani produk farmasi, seperti botol atau kotak yang berisi residu, sarung tangan, masker, selang penghubung, dan ampul obat (Depkes RI, 2007) Pemilahan Pemilahan limbah farmasi merupakan langkah awal dari suatu pengelolaan limbah sediaan farmasi (Depkes, 2007). Tujuan pemilahan adalah memisahkan limbah farmasi ke dalam kategori-kategori yang memerlukan metode pembuangan yang berbeda (Widyastuti, 2005). Setelah dikelompokkan, limbah farmasi ditampung dalam wadah yang diberi label khusus (Depkes, 2007) dan dengan informasi yang jelas (Widyastuti, 2005). Informasi yang tercantum dalam label tersebut antara lain memuat: (1) nama obat/perbekalan kesehatan, (2) kekuatan obat/perbekalan kesehatan, (3) jenis satuan obat/perbekalan kesehatan, (4) tanggal Kadaluwarsa obat/perbekalan kesehatan (5), kode obat/perbekalan kesehatan, (6) jumlah berat obat/perbekalan kesehatan (kg/cm 3 ) (Depkes RI, 2007).

58 6 Wadah yang digunakan harus dapat mengurangi dampak yang akan ditimbulkan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan seperti kantong plastik atau kontainer yang terbuat dari kaleng (Depkes, 2007). Wadah lain yang dapat digunakan antara lain drum baja atau kontainer seperti kotak kayu yang kokoh. Wadah yang digunakan untuk setiap kategori limbah harus berbeda (Widyastuti, 2005). Wadah hanya diisi tiga per empat kapasitas wadah. Kegiatan ini biasanya dilakukan di pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas). Untuk instalasi farmasi kabupaten/kota, limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan dalam jumlah besar dikelompokan dan diberi label sesuai jenis limbah yang dihasilkan kemudian ditempatkan di ruangan khusus dan dikunci (Depkes RI, 2007). Kemudian wadah disimpan di ruang yang aman dan sebaiknya terpisah agar tidak tertukar dengan perbekalan yang masih terpakai, sampai akhirnya pembuangan dilakukan (Widyastuti, 2005). Pemilahan mencakup pembagian perbekalan farmasi ke dalam kategori yang masih dapat digunakan dan yang harus dibuang. Proses pemilihan meliputi: a. Identifikasi masing-masing item; b. Buat keputusan apakah perbekalan farmasi masih dapat digunakan; c. Jika dapat digunakan, biarkan dalam kemasannya; d. Jika tidak dapat digunakan, buat keputusan mengenai metode optimal pembuangan dan pemilahan yang sesuai; e. Biarkan kemasan dan kotak tetap utuh sampai mencapai ke lokasi, sebelum pembuangan akhir atau pengangkutan ke institusi yang akan menggunakannya (Widyastuti, 2005). Dalam melakukan pemilahan, pekerja harus dibekali dengan perlengkapan pelindung, bekerja di bawah pengawasan langsung seorang apoteker, dan menerima pelatihan mengenai kriteria pemilahan dan risiko kesehatan serta keselamatan kerja. (Widyastuti, 2005). Pemilahan limbah farmasi dapat dilakukan berdasarkan kategori limbah, yaitu: (1) katagori obat khusus meliputi: anti infeksi, narkotik dan psikotropik, neoplastik, anti kanker dan sitotoksik, antiseptik dan desinfektan. (2) katagori obat biasa meliputi: analgetik antipiretik, vitamin, pengganti cairan tubuh, kardioterapi,

59 7 dan sebagainya. (3) katagori alat kesehatan habis pakai (disposable) meliputi: benda tajam (spuit, infus set, surgical blade, abbocath, needle), bukan benda tajam (kapas, kasa, perban, plester). (4) kategori bentuk sediaan meliputi: padat (tablet, kaplet, kapsul, serbuk), setengah padat (salep, krim, suppositoria), cair (sirup, suspensi, cairan infus), cairan injeksi (ampul, vial, vaksin), aerosol (Depkes, 2007). Pemilahan obat lebih lanjut dapat dipilah ke dalam beberapa kategori berdasarkan kandungan dosisnya (Widyastuti, 2005). Pemisahan dapat juga dilakukan berdasarkan: (1) Materi non-farmasi yang masih dapat digunakan, (2) materi non-farmasi yang tidak dapat digunakan, (3) materi non-farmasi yang memiliki potensi bahaya, (4) bahan kimia, (5) perbekalan farmasi yang tidak dapat digunakan, (6) obat yang memerlukan perhatian khusus (Widyastuti, 2005). Materi non-farmasi yang masih dapat digunakan seperti peralatan medis, tempat tidur, kursi roda, perban, pakaian, perangkat laboratorium, dan sebagainya, dapat dimanfaatkan oleh institusi bersangkutan atau fasilitas lain, didaur ulang, dibongkar untuk diambil suku cadangnya, atau dibuang ke landfill (Widyastuti, 2005). Materi nonfarmasi yang tidak dapat digunakan seperti limbah kertas, kain, materi kemasan, pakaian, pembalut, dan barang dari kayu, misalnya palet, dapat didaur ulang, dibakar, atau dibuang layaknya limbah biasa ke landfill. Benda plastik, logam, maupun kaca yang dapat digunakan kembali (perangkat gelas dapat diberikan ke laboratorium, benda mekanis diberikan ke penjual barang bekas), didaur ulang jika fasilitas tersedia, atau dibuang ke landfill. Semua materi non-farmasi yang memiliki potensi bahaya seperti bahan kimia, larutan pembersih, baterai, dan minyak bekas harus ditangani secara terpisah oleh tenaga ahli limbah berbahaya. Limbah tersebut tidak boleh ditangani oleh tim perbekalan farmasi kecuali diinstruksikan demikian dan memerlukan pelabelan dan penyimpanan yang terpisah dan jelas sampai pembuangannya (Widyastuti, 2005). Bahan kimia seperti asam, basa, reagen, bahan kimia mengandung fenol yang digunakan untuk membersihkan lantai, disenfektan, dan sebagainya jika terdapat dalam jumlah yang besar, maka dapat dibagikan ke pengguna potensial, seperti rumah sakit, universitas, atau laboratorium sekolah (Widyastuti, 2005).

60 8 Beberapa obat yang memerlukan perhatian khusus dalam pembuangannya antara lain (1) zat-zat yang diawasi seperti narkotika dan zat psikotropika; (2) obat-obatan antiinfeksi; (3) antineoplastik; (4) obat-obatan sitotoksik antikanker, obat-obatan toksik; (5) antiseptik dan desinfektan (Widyastuti, 2005) Pengumpulan Pengumpulan limbah farmasi merupakan suatu kegiatan menempatkan hasil limbah yang sudah disimpan dalam wadah yang berasal dari tempat penghasil limbah ke dalam suatu ruangan atau tempat khusus. Ruang atau tempat harus berada di dalam wilayah instansi layanan kesehatan atau unit pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan dan terpisah dari ruang pelayanan. Ruang atau tempat pengumpulan harus memiliki lantai yang kokoh, ventilasi yang cukup, mudah dijangkau oleh petugas yang menangani limbah, dan mudah untuk dibersihkan atau didesinfeksi. Ruangan tersebut harus terkunci dan ditangani oleh satu orang tenaga yang terlatih untuk menangani limbah sediaan farmasi sehingga tidak ada orang yang dengan mudah dapat keluar atau masuk ruangan. Agar proses pengumpulan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan dapat berjalan dengan baik, perlu suatu mekanisme pengumpulan. Mekanisme ini perlu dibuat agar proses pengumpulan limbah lebih terkoordinasi sehingga dapat mengurangi terpaparnya limbah tersebut dengan manusia dan lingkungan (Depkes RI, 2007).

61 9 PUSKESMAS PEMBANTU POS KESEHATAN PENGUMPULAN PUSKESMAS PENGUMPULAN PEMILAHAN INSTALASI FARMASI KAB/KOTA PEMUSNAHAN PELAPORAN DINKES PROPINSI Gambar 2.1. Skema mekanisme pengumpulan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan pada situasi rutin di kabupaten/ kota PROGRAM POS KESEHATAN PENGUMPULAN DINKES PROPINSI PENGUMPULAN PEMILAHAN INSTALASI FARMASI KAB/KOTA PEMUSNAHAN PELAPORAN KEMENKES RI Gambar 2.2. Skema mekanisme pengumpulan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan pada situasi rutin di propinsi Pencatatan dan Pelaporan Barang yang akan Dimusnahkan (Depkes RI, 2007) Pencatatan dan pelaporan data obat dan perbekalan kesehatan merupakan rangkaian kegiatan dari pengelolaan limbah sediaan farmasi. Tujuan pencatatan dan pelaporan adalah agar tersedia data mengenai obat yang akan dimusnahkan,

62 10 untuk menjaga ketertiban dalam penatausahaan obat dan perbekalan kesehatan, dan sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan. Kegiatan pencatatan dan pelaporan yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) menyusun daftar obat dan perbekalan kesehatan yang akan dimusnahkan beserta alasan; (2) melaporkan kepada atasan mengenai obat dan perbekalan kesehatan yang akan dimusnahkan; (3) membentuk panitia pemeriksaan obat dan perbekalan kesehatan (Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota); (4) membuat berita acara hasil pemeriksaan obat dan perbekalan kesehatan obat dan perbekalan kesehatan oleh panitia pemeriksa; (5) melaporkan hasil pemeriksaan kepada yang berwenang; (6) melaksanakan pemusnahan setelah ada keputusan dari yang berwenang. Pencatatan limbah sediaan farmasi dilakukan dengan cara menginventarisir obat dan perbekalan kesehatan yang masih tersisa. Inventarisasi dilakukan untuk melihat jumlah limbah yang dihasilkan sehingga dapat menghitung jumlah obat yang akan dimusnahkan dan memperkirakan biaya yang diperlukan untuk melakukan pemusnahan. Inventarisasi dilakukan dengan menggunakan suatu formulir yang didalamnya memuat: (1) nama obat/perbekalan kesehatan; (2) nama generik; (3) satuan obat/perbekalan kesehatan; (4) jumlah obat/perbekalan kesehatan; (5) pabrikan obat/perbekalan kesehatan; (6) kelas terapi; (7) tanggal kadaluwarsa; dan (8) kondisi obat/perbekalan kesehatan. Setelah melakukan inventarisasi obat dan perbekalan kesehatan yang akan dimusnahkan, Kepala Instalasi Farmasi melaporkan hasilnya ke Kepala Dinas Kesehatan setempat. Pada formulir berita acara pemeriksaan memuat judul formulir berita acara pemeriksaan dan kolom-kolom formulir berisi informasi yang dibutuhkan. Pada bagian judul formulir berita acara pemeriksaan diisi dengan: (1) nama, tempat instansi pengelola obat kabupaten/kota; (2) hari, tanggal, bulan dan tahun pelaksanaan pemeriksaan; (3) nama anggota panitia; (4) jabatan anggota panitia; (5) nomor dan tanggal surat penunjukkan panitia pemeriksaan. Sedangkan pada kolom-kolom formulir berisi: (1) nama/jenis obat dan perbekalan kesehatan; (2) satuan kemasan obat dan perbekalan kesehatan; (3) harga satuan kemasan obat dan perbekalan kesehatan; (4) jumlah obat dan

63 11 perbekalan kesehatan dengan angka; (5) jumlah obat dan perbekalan kesehatan dengan huruf (6) kondisi obat dan perbekalan kesehatan; (7) kepala instalasi farmasi propinsi/kabupaten/kota; (8) nama panitia pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan; (9) pejabat dinas kesehatan propinsi/kabupaten/kota sebagai mengetahui (Depkes RI, 2007) Kegiatan pelaporan ditujukan kepada penentu kebijakan untuk dilakukan segera langkah-langkah pemusnahan. Panitia pemeriksaan obat dan perbekalan kesehatan membuat laporan rangkap empat untuk: (1) asli dikirim kepada Kepala Dinas Kesehatan propinsi/kabupaten/kota; (2) tindasan 1 dikirim kepada Kepala Pemerintah Daerah; (3) tindasan 2 dikirim kepada Badan Pengawas Daerah Setempat; (4) tindasan 3 dikirim kepada Kepala Instalasi Farmasi propinsi/kabupaten/kota Pemusnahan Kendala dalam pendanaan untuk pembuangan limbah perbekalan farmasi mendesak dibentuknya metode dan manajemen yang cost effective. Cara utama untuk mencapainya adalah dengan melakukan pemilahan materi untuk meminimalkan kebutuhan akan metode pembuangan yang rumit atau mahal (Widyastuti, 2005). Pelaporan pemusnahan limbah farmasi dilakukan oleh tim pengelolaan limbah farmasi dengan menggunakan lembar berita acara pemusnahan limbah farmasi. Berita acara pemusnahan ditujukan ke Menteri dan ditandatangani oleh penanggung jawab pelaksanan dan saksi pemusnahan limbah farmasi. Laporan yang akan diserahkan sekurang-kurangnya memuat keterangan: (1) waktu dan tempat pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; (2) jumlah dan jenis sediaan farmasi dan alat kesehatan; (3) nama penanggung jawab pelaksana pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; (4) nama satu orang saksi dalam pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan (PP Republik Indonesia (72/98), 1998).

64 Metode Pemusnahan Pengembalian kepada Donatur atau Pabrik Pembuat (Widyastuti, 2005) Bila memungkinkan limbah sediaan farmasi dikembalikan secara langsung baik kepada pendonor atau pabrik. Hal ini dilakukan terutama pada obat yang menimbulkan masalah untuk pembuangannya misalnya antineoplastik. Pendonor dapat berbentuk negara, LSM, badan-badan dunia atau pabrik. Untuk sumbangan yang tidak diinginkan dan tidak dibutuhkan, terutama yang akan melewati atau mendekati batas kedualuarsanya dapat dikembalikan ke pihak pendonor Pemendaman di dalam tanah/landfill (Widyastuti, 2005) Cara ini dilakukan dengan menempatkan limbah langsung ke lokasi pembuangan di tanah tanpa pengolahan atau persiapan sebelumnya. Cara ini juga merupakan metode paling lama dan paling banyak dilakukan untuk jenis obat padat seperti tablet, kaplet, serbuk, dan kapsul. Ada tiga cara yang diketahui: a Tempat Pembuangan Terbuka Tidak Terencana dan Tidak Terkendali (Widyastuti, 2005) Tempat pembuangan terbuka dan tidak terencana merupakan metode pembuangan di tanah yang lazim dijumpai di negara berkembang. Cara ini tidak boleh dilakukan dan tidak direkomendasikan karena tidak dapat melindungi lingkungan setempat, kecuali sebagai pilihan terakhir. Limbah dibuang setelah diimobilisasi melalui enkapsulasi dan inertisasi. Jika tidak dapat diimobilisasikan, limbah farmasi yang tidak diolah harus segera ditutup dengan lapisan tebal limbah perkotaan guna mencegah pemulungan. Apabila lokasi jaraknya cukup dekat dari badan air, maka dapat menyebabkan pencemaran, dengan kemungkinan terburuk adalah risiko terkontaminasinya air minum. b Landfill Terencana (Widyastuti, 2005) Landfill terencana memiliki beberapa karakteristik yang dapat mencegah bocornya zat kimia ke badan air. Pembuangan limbah farmasi terimobilisasi ke landfill semacam itu lebih baik daripada pembuangan langsung.

65 13 c Sanitary Landfill Sangat Terencana (Widyastuti, 2005) Lokasi landfill yang dibangun dan digunakan dengan benar memberikan cara pembuangan yang relatif aman untuk limbah padat perkotaan, termasuk limbah farmasi. Prioritas utama adalah melindungi lingkungan aquifer. Landfill yang benar terdiri atas lubang kosong yang jauh dari badan-badan air dan lokasinya berada di atas permukaan air. Limbah yang dihasilkan setiap hari dipadatkan dan ditutup dengan lapisan tanah untuk mempertahankan kondisi saniter. Istilah sanitary landfill yang aman mengacu pada lokasi dengan letak, konstruksi dan pengelolaan yang adekuat. Peningkatan mutu lokasi pembuangan limbah yang terkendali agar sesuai dengan standar yang berlaku harus diperhitungkan, dan hal ini juga direkomendasikan oleh WHO Enkapsulasi (Widyastuti, 2005) Enkapsulasi (penyegelan limbah) merupakan cara pembuangan dengan menjadikan limbah farmasi ke dalam bentuk padat dalam drum plasik atau baja. Sebelum digunakan drum harus dibersihkan dan tidak berisi materi berbahaya atau yang mudah meledak. Sekitar 75% kapasitas drum berisi limbah farmasi padat atau semipadat. Jika 75% kapasitas drum telah terisi, campuran batu kapur, semen dan air dengan perbandingan 15: 15: 5 dimasukkan sampai drum terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya. Terkadang diperlukan air dalam jumlah banyak untuk mendapatkan konsistensi cairan yang tepat. Penutup drum kemudian dikembalikan ke posisi semula dan dirapatkan, biasanya melalui pengelasan. Drum tersegel tersebut harus diletakkan di lapisan dasar landfill dan ditutup dengan limbah padat baru perkotaan Inertisasi Inertisasi adalah bentuk lain enkapsulasi dan metode ini memerlukan pelepasan materi, kertas, kardus, dan plastik kemasan dari limbah farmasi (Widyastuti, 2005). Cara ini sangat sesuai untuk sediaan farmasi dan untuk abu insinerasi yang mengandung logam berkadar tinggi (Depkes, 2007). Limbah yang sudah dipisahkan dari kemasan kemudian dihancurkan atau digiling dan campuran air, semen, dan batu kapur ditambahkan dalam hancuran limbah itu untuk

66 14 membentuk pasta yang homogen. Kemudian campuran tersebut dituang perlahanlahan ke dalam limbah perkotaan. Proses ini relatif murah dan dapat dilakukan dengan peralatan sederhana. Perlindungan pekerja dalam bentuk pakaian dan masker pelindung diperlukan karena adanya risiko debu berbahaya. Perkiraan rasio berdasarkan berat, yaitu limbah farmasi (65%), batu kapur (15%), semen (15%), dan air (5% atau lebih untuk membentuk konsistensi cairan yang tepat) (Widyastuti, 2005) Pembuangan ke saluran air Obat sebelum dibuang ke saluran air terlebih dahulu diencerkan dengan sejumlah air (Depkes RI, 2007). Sebgai contoh, beberapa limbah farmasi cair seperti sirup dan cairan intravena (IV), dapat diencerkan dengan air dan dibuang ke dalam saluran pembuangan air kotor dalam jumlah kecil selama periode waktu tertentu tanpa menimbulkan dampak yang serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Badan air berarus deras juga dapat digunakan untuk membuang sejumlah kecil limbah farmasi atau antiseptik yang telah diencerkan. Bantuan ahli hidrogeologi atau ahli perencanaan kebersihan mungkin diperlukan dalam situasi saluran pembuangan air limbah yang buruk (Widyastuti, 2005). Namun cara ini tidak berlaku untuk zat-zat yang bersifat sitotoksik, serum, vaksin dan hormon (Depkes RI, 2007) Pembakaran dalam kontainer terbuka (Widyastuti, 2005) Limbah farmasi tidak boleh dihancurkan melalui pembakaran bersuhu rendah dalam kontainer terbuka karena polutan toksik dapat terlepas ke udara. Kemasan kertas dan kardus, jika tidak didaur ulang, dapat dibakar. Namun plastik polivinyl chlorida (PVC) tidak boleh dibakar. Walaupun pembakaran limbah farmasi bukan metode yang dianjurkan, namun metode ini sering digunakan. Dengan begitu, sangat ditekankan bahwa hanya limbah farmasi dalam jumlah yang sedikit yang boleh dihancurkan dengan cara ini.

67 Insinerasi suhu sedang (Widyastuti, 2005) Pada banyak negara, belum ada insinerator bilik ganda bersuhu tinggi yang didesain untuk menangani lebih dari 1% senyawa terhalogenasi. Insinerator semacam itu harus memenuhi standar ketat pengendalian emisi, seperti yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Namun, yang tersedia kemungkinan hanya tungku dan insinerator bersuhu sedang. Dalam keadaan darurat, otoritas yang bertanggung jawab mungkin memandang pengolahan limbah farmasi padat dengan menggunakan insinerator bilik ganda yang beroperasi pada suhu minimum 850 o C merupakan langkah yang tepat, dengan waktu tunggu pembakaran sedikitnya dua detik pada bilik kedua. Banyak insinerator tua untuk limbah padat perkotaan merupakan insinerator bersuhu sedang dan pemanfaatan fasilitas ini dianjurkan sebagai langkah sementara, dibandingkan pilihan lain yang kurang aman, misalnya pembungan yang tidak adekuat ke landfill. Jika yang dipilih adalah insinerasi dengan suhu sedang, limbah farmasi harus diencerkan dengan limbah perkotaan dalam jumlah besar, sekitar 1:1000. Insinerator semacam ini tidak didesain untuk membakar senyawa terhalogenasi dengan aman. Namun, kandungan halogen yang sangat rendah pada kebanyakan limbah farmasi memungkinkan adanya pengabaian terhadap kandungan halogen dalam gas pembakaran Insinerasi suhu tinggi oleh pabrik industri (Widyastuti, 2005) Industri yang menggunakan teknologi suhu tinggi, seperti pabrik semen, pembangkit listrik bertenaga batubara, atau pabrik peleburan logam biasanya mempunyai tungku yang beroperasi pada suhu di atas 850 o C, memiliki waktu tunggu pembakaran yang lama, dan membuang gas pembakaran melalui cerobong yang tinggi, terkadang pada ketinggian yang sangat tinggi. Dengan demikian, pemanfaatan pabrik industri merupakan alternatif yang murah dan terjangkau. Pabrik semen sangat sesuai untuk penghancuran limbah farmasi kadaluwarsa. Selama pembakaran, suhu bahan mentah semen akan mencapai 1450 o C, sementara suhu gas pembakaran mencapai 2000 o C. Waktu tunggu gas pada suhu tinggi itu adalah beberapa detik. Dalam kondisi seperti itu, semua komponen organik limbah secara efektif terurai. Beberapa produk pembakaran yang

68 16 kemungkinan berbahaya dan beracun diserap ke dalam produk arang atau dialirkan ke dalam peralatan penukar panas. Limbah farmasi yang dimasukkan ke dalam tungku sebaiknya hanya sebagian kecil dari volume bahan bakar yang dibutuhkan. Berdasarkan aturan yang berlaku, limbah farmasi yang dimasukkan sebaiknya tidak lebih dari 5% bahan bakar dalam setiap kali pengisian bahan bakar. Pabrik semen biasanya menghasilkan meterik ton semen per hari sehingga limbah farmasi dalam jumlah cukup besar dapat dihancurkan dalam waktu yang singkat. Kemasan perbekalan farmasi mungkin perlu dibuka atau perbekalan itu harus digiling untuk menghindari penyumbatan saat pengisian bahan bakar Dekomposisi kimia (Widyastuti, 2005) Jika insinerator yang tepat tidak tersedia, teknik penguraian kimia dapat digunakan sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuatnya yang dilanjutkan dengan pembuangan ke landfill. Metode ini tidak dianjurkan tanpa tenaga ahli kimia. Upaya menonaktifkan bahan kimia memang membutuhkan waktu yang lama dan bahan kimia untuk pengolahan ini harus selalu tersedia. Metode ini praktis untuk menghancurkan sejumlah kecil obat antineoplastik. Namun, untuk skala besar, misalnya lebih dari 50 kg antineoplastik, metode ini tidak praktis karena memerlukan proses dekomposisi berulang kali.

69 17 Tabel 2.1. Metode pembuagan limbah sediaan farmasi Metode pembuangan Tipe perbekalan farmasi Keterangan Pengembalian ke donatur atau perusahaan pengiriman lintas negara untuk pembuangan Semua sisa perbekalan farmasi terutama antineoplastik Biasanya tidak praktis, prosedur lintas negara biasanya menghabiskan waktu Insinerasi suhu tinggi dengan jumlah suhu jauh di atas 1200 o C Insinerasi suhu sedang dengan insinerator bilik ganda pada suhu minimum 850 o C. Insinerasi pabrik semen Imobilisasi Enkapsulasilimbah Inertisasi Landfill sangat terencana Landfill terencana Tempat pembuangan terbuka tak terencana dan tak terkendali Saluran pembuangan air limbah Badan air berarus deras Pembakaran dalam kontainer terbuka Dekomposisi kimia Limbah padat, semi-padat, bubuk, antineoplastik, zat yang diawasi Jika tidak ada insinerator suhu tinggi, limbah padat, semi padat, bubuk. Zat yang diawasi Limbah semi padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang diawasi. Limbah padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang diawasi. Limbah padat, semi padat, dan bubuk tak diolah dalam jumlah terbatas. Pembuangan limbah farmasi dianjurkan melalui imobilisasi. Plastik PVC. Limbah padat, semi padat, dan bubuk, sebaiknya setelah imobolisasi. Plastik PVC. Sebagai pilihan terakhir pembuangan limbah padat, semi padat, tak diolah-harus segera ditutupi dengan limbah perkotaan. Lebih baik dilakukan imobilisasi limbah padat, semipadat, bubuk. Cairan encer, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil desinfektan (dibawah penyeliaan) Cairan encer, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil desinfektan (di bawah penyeliaan). Sebagai pilihan terakhir, kemasan, kertas, kardus. Tidak dianjurkan kecuali tenaga ahli kimia dan bahan kimianya tersedia. Mahal terutama untuk insinerator dengan tujuan khusus. Pemanfaatan pabrik yang ada mungkin lebih praktis. Antineoplastik paling baik dibakar pada suhu tinggi. Tidak untuk mengolah zat yang diawasi. Tidak dianjurkan untuk aneopastik, berikut desinfektan dan antiseptik tak diencerkan. Tidak dianjurkan untuk antineoplastik, berikut desinfektan dan antiseptik tak diencerkan. Tidak sesuai untuk plastik PVC atau perbekalan farmasi. Tidak praktis untuk jumlah diatas 50 kg.

70 Metode Pemusnahan Sediaan Padat (WHO, 1999) Metode pemusnahan yang direkomendasikan adalah pengembalian produk ke pabrik pembuat atau insinerasi. Jika kedua cara tersebut tidak memungkinkan maka dapat dilakukan imobilisasi dengan cara enkapsulasi dan inertisasi sebelum limbah dibuang ke landfill. Obat antiinfeksi dan antineoplastik dienkapsukasi untuk menghambat pelepasan materi-materi obat ke lingkungan. Proses imobilisasi harus di bawah pengawasan apoteker atau penegak hukum, bergantung dengan regulasi daerah yang berlaku. Sediaan padat dan serbuk harus dipisahkan dari kemasan sekunder namun masih dalam kemasan primernya kemudian diletakkan ke dalam plastik atau drum baja untuk dilakukan metode enkapsulasi. Pemisahan dengan kemasan sekunder adalah sebagai berikut: tablet dan kapsul masih dalam blister plastik atau aluminimum, dan botol; tablet dan tablet effervescent masih dalam tube; dan serbuk dalam sachet atau botol. Tujuan dari pemisahan kemasan luar adalah untuk mengurangi volume pembuangan. Limbah sediaan farmasi kemudiaan dilapisi dengan limbah perkotaan. Kemasan luar dimusnahkan dengan cara daur ulang atau pembakaran. Sediaan farmasi dalam jumlah banyak harus dicek oleh apoteker untuk memastikan bahwa sediaan tersebut terpisah dari antiinfeksi, antineoplastik, dan obat dengan pengawasan khusus. Ketiga jenis sediaan tersebut memerlukan perlakuan khusus dalam pemusnahannya. Satu jenis obat dalam jumlah besar harus dicampur dengan jenis obat lain dalam satu drum baja. Hal ini untuk menghindari adanya konsentrasi besar satu jenis obat dalam satu drum baja. Obat antiinfeksi tidak boleh dibuang dalam bentuk yang belum diolah. Umumnya obat ini bersifat tidak stabil dan lebih baik diinsinerasi. Jika tidak memungkinkan diinsinerasi, obat ini dimusnahkan dengan enkapsulasi atau inertisasai. Obat dengan pengawasan khusus harus dimusnahkan dibawah pengawasan apoteker atau polisi, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Obat ini harus diubah dalam bentuk yang tidak dapat digunakan dengan cara enkapsulasi atau inertisasi kemudian dicampur dengan limbah padat perkotaan di landfill, atau dilakukan insinerasi.

71 19 Obat antineoplastik atau obat kanker memiliki kemampuan dalam membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup. Jika obat ini dibuang ke lingkungan, akan menimbulkan efek serius seperti memengaruhi proses reproduksi beberapa bentuk kehidupan. Obat antineoplastik harus dipisahkan dari sediaan farmasi lain dan disimpan terpisah dalam kontainer berdinding keras yang bersih dan sudah ditandai. Idealnya obat antineoplastik dikemas secara aman dan dikembalikan ke pemasok untuk dimusnahakan. Jika pilihan tersebut tidak tersedia, maka obat antineoplastik dimusnahkan dalam insinerator berbilik dua dengan suhu tinggi, setidaknya 1200 o C pada ruangan kedua dan dilengkapi dengan fasilitas pembersih udara/gas. Jika ruangan kedua tidak bersuhu tinggi, maka materi-materi obat antineoplastik yang telah terdegradasi akan dilepaskan dari cerobong asap. Ruang pembakaran kedua memastikan materi obat antioneoplastik telah terinsinerasi secara sempurna. Obat antineoplastik tidak boleh dibuang ke landfill kecuali telah dilakukan enkapsulasi atau inertisasi. Dalam penanganannya, obat ini tidak boleh dipisahkan dari kemasannya dan hanya dapat dibuang ke sistem pembuangan jika sudah di dekomposisi. Untuk drum obat antineoplastik, 50% kapasitas diisi dengan obat dan sisanya diisi dengan campuran kapur, semen, dan air dengan perbandingan berat 15:15:5. Jumlah air yang lebih banyak terkadang dibutuhkan untuk memperoleh konsistensi yang diinginkan. Kemudian drum disegel dengan cara pengelasan. Kondisi ini menyebabkan limbah diisolasi dengan aman. Kemudian drum diletakkan di landfill yang telah dilapisi dengan lapisan impermeabel dari tanah liat. Tabel 2.2. Pemusnahan obat antineoplastik Metode pemusnahan Yang dapat dilakukan Metode pemusnahan yang tidak dapat dilakukan 1. Pengembalian ke pemasok 2. Insinerasi suhu tinggi 3. Enkapsulasi 1. Insinerasi suhu sedang dan rendah 2. Pembuangan ke saluran pembuangan atau badan air 3. Pembuangan langsung ke landfill

72 20 Tabel 2.3 Ringkasan metode pemusnahan sediaan farmasi padat Kategori Metode Pemusnahan Keterangan Tidak lebih dari 1% limbah Padat Landfill sediaan farmasi dalam bentuk tidak diolah bersama limbah perkotaan dibuang ke landfill Serbuk Inertisasi Insinerasi suhu sedang atau tinggi (insinerator semen) Obat antiinfeksi enkapsulasi inertisasi Insinerasi suhu sedang atau tinggi (insinerator semen) Kembalikan ke pemasok Tidak boleh dibuang ke landfill kecuali dienkapsulasi Enkapsulasi Tidak dibuang ke saluran pembuangan air Obat antineoplastik Tidak boleh diinsinerasi pada inertisasi suhu sedang Insinerasi tinggi (insinerator semen) (dekomposisi kimia) Enkapsulasi Tidak boleh dibuang ke landfill kecuali dienkapsulasi Obat yang diawasi Inertisasi Insinerasi suhu sedang atau tinggi (insinerator semen) Plastik PVC dan gelas Landfill Tidak boleh dibakar di daerah terbuka Kertas dan kertas karton/dus Daur ulang, pembakaran, landfill

73 BAB 3 PEMBAHASAN Pedoman pemusnahan persediaan farmasi disusun agar diperoleh suatu pedoman melakukan pemusnahan yang baik, benar, dan aman. Pemusnahan sediaan farmasi dilakukan pada produk yang: (1) diproduksi tanpa memenuhi persyaratan yang berlaku; (2) telah kadaluwarsa; (3) tidak memenuhi syarat untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan; (4) dicabut izin edaranya; (5) berhubungan dengan tindak pidana di bidang sediaan farmasi dan alat kesehatan (PP Republik Indonesia (72/98), 1998). Acara pemusnahan sediaan farmasi melibatkan banyak pihak, diantaranya instansi layanan kesehatan seperti pos kesehatan, Puskesmas, Puskesmas Pembantu; instalasi farmasi kabupaten/kota; dinas kesehatan kabupaten/kota; dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Oleh karena itu, juga dibutuhkan pedoman yang menjelaskan peran dan tanggung jawab masingmasing pihak agar acara pemusnahan sediaan farmasi terkoordinir dengan baik. Pemusnahan diawali dengan melaporkan sediaan farmasi yang akan dimusnahkan oleh Kepala Instalasi Farmasi kepada Kepala Dinas Kesehatan setempat. Kemudian tim pengelola limbah farmasi dibentuk dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Tim pengelolaan limbah farmasi pada tingkat Kabupaten/Kota terdiri dari ketua yang merupakan kepala bidang farmasi, wakil ketua yang dipegang oleh kepala instalasi farmasi, sekretaris yang dipegang oleh kepala seksi farmasi, serta anggota yang berasal dari unsur instalasi farmasi, instalasi farmasi rumah sakit, penyehatan lingkungan, pelayanan kesehatan masyarakat, P2P, dan Bapedalda. Tim ini akan melakukan pemeriksaan limbah farmasi yang akan dimusnahkan. Hasil pemeriksaan dilaporkan melalui berita acara pemeriksaan. Pada formulir berita acara pemeriksaan memuat: (1) bagian judul formulir berita acara pemeriksaan; dan (2) kolom-kolom formulir berisi informasi yang dibutuhkan. Pada bagian judul formulir berita acara pemeriksaan diisi dengan: (1) nama, tempat instansi pengelola obat kabupaten/kota; (2) hari, tanggal, bulan dan tahun 21

74 22 pelaksanaan pemeriksaan; (3) nama anggota panitia; (4) jabatan anggota panitia; (5) nomor dan tanggal surat penunjukkan panitia pemeriksaan. Sedangkan pada kolom-kolom formulir berisi: (1) nama/jenis obat dan perbekalan kesehatan; (2) satuan kemasan obat dan perbekalan kesehatan; (3) harga satuan kemasan obat dan perbekalan kesehatan; (4) jumlah obat dan perbekalan kesehatan dengan angka; (5) jumlah obat dan perbekalan kesehatan dengan huruf (6) kondisi obat dan perbekalan kesehatan; (7) kepala instalasi farmasi propinsi/kabupaten/kota; (8) nama panitia pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan; (9) pejabat dinas kesehatan propinsi/kabupaten/kota sebagai mengetahui (Depkes RI, 2007). Hasil pemeriksaan kemudian dilaporkan oleh panitia pemeriksaan obat dengan membuat berita acara hasil pemeriksaan limbah farmasi. Laporan dibuat empat rangkap untuk: (1) asli dikirim kepada Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota; (2) tindasan 1 dikirim kepada Kepala Pemerintah Daerah; (3) tindasan 2 dikirim kepada Badan Pengawas Daerah Setempat; (4) tindasan 3 dikirim kepada Kepala Instalasi Farmasi kabupaten/kota.setelah disetujui, pemusnahan dapat segera dilakukan (Depkes RI, 2007). Metode pemusnahan yang akan digunakan bergantung pada jenis sediaan dan kategori obat. Hal ini dilakukan untuk dapat menjamin terlindunginya masyarakat dan lingkungan sekitar dari risiko pencemaran limbah farmasi (Widyastuti, 2005). Oleh karena itu harus dilakukan pemilahan dan penandaan/pelabelan sediaan farmasi berdasarkan jenis sediaan dan kategori obat. Pemilahan limbah farmasi padat dilakukan dengan cara memisahkan sediaan padat seperti tablet, kaplet, kapsul dan serbuk dipisahkan dari bentuk sediaan lain. Setelah sediaan padat dipisahkan dari bentuk sediaan lain, selanjutnya dipisahkan menurut kategori obat, yaitu obat biasa, obat antiinfeksi, obat yang diawasi, dan obat antineoplastik. Obat-obat yang telah dipilah dipisahkan dari kemasan sekunder, tapi masih di dalam kemasan primer. Kemasan primer yang dimaksud adalah blister, botol, tube, dan sachet (WHO, 1999). Langkah selanjutnya adalah obat-obat tersebut ditampung dalam wadah dan diberi label khusus (Depkes, 2007) dengan informasi yang jelas (Widyastuti, 2005). Informasi yang tercantum dalam label tersebut antara lain memuat: (1) nama obat, (2) kekuatan obat, (3) jenis satuan

75 23 obat, (4) tanggal kadaluwarsa obat (5), kode obat, (6) jumlah berat obat (kg/cm3) (Depkes RI, 2007). Untuk mempermudah pengenalan jenis limbah dapat digunakan wadah dengan warna yang berbeda-beda untuk setiap jenis limbah. Pengumpulan limbah farmasi merupakan suatu kegiatan untuk menempatkan hasil limbah yang sudah disimpan di dalam wadah yang berasal dari tempat penghasil limbah ke dalam suatu ruangan atau tempat khusus. Ruang atau tempat harus berada di dalam wilayah instansi layanan kesehatan atau unit pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan. Agar proses pengumpulan dapat berjalan dengan baik dibutuhkan suatu mekanisme pengumpulan. Mekanisme ini perlu dibuat agar proses pengumpulan lebih terkoordinasi sehingga dapat mengurangi terpaparnya limbah tersebut dengan manusia dan lingkungan (Depkes RI, 2007). Pengumpulan limbah farmasi di instalasi farmasi kabupaten/kota dilakukan secara bertahap. Berawal dari instansi pelayanan kesehatan seperti puskesmas pembantu dan pos kesehatan menyalurkan limbah farmasinya ke puskesmas yang kemudian akan diteruskan ke instalasi farmasi kabupaten/kota. Proses pemusnahan dilakukan di instalasi farmasi kabupaten/kota dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Propinsi. Secara umum, pemusnahan limbah farmasi dilakukan dengan cara landfill yang sebelumnya dilakukan imobilisasi dengan cara enkapsulasi atau inertisasi. Namun, untuk limbah farmasi berupa obat antiinfeksi, obat yang diawasi, dan obat antineoplastik dilakukan pemusnahan dengan cara khusus seperti insinerasi atau dekomposisi kimia. Landfill merupakan pembuangan akhir dari pemusnahan limbah farmasi. Landfill yang benar adalah berupa lubang kosong yang jauh dari badan-badan air dan lokasinya berada di atas permukaan air. Persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari pencemaran lingkungan dengan kemungkinan terburuk adalah pencemaran air (Widyastuti, 2005). Enkapsulasi atau disebut juga dengan penyegelan limbah merupakan cara pembuangan dengan menjadikan limbah farmasi ke dalam bentuk padat dalam drum plasik atau baja. Sekitar 75% kapasitas drum diisi limbah farmasi. Jika 75% kapasitas drum telah terisi, campuran batu kapur, semen dan air dengan

76 24 perbandingan 15: 15: 5 dimasukkan sampai drum terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya. Kemudian drum ditutup dengan rapat dan dilas. Drum tersegel tersebut harus diletakkan di lapisan dasar landfill dan ditutup dengan limbah padat baru perkotaan. Sedangkan Inertisasi merupakan bentuk lain dari enkapsulasi. Inertisasi dilakukan dengan cara menghancurkan dan menggiling limbah farmasi dan campuran air, semen, dan batu kapur ditambahkan dalam hancuran limbah itu untuk membentuk pasta yang homogen. Kemudian campuran tersebut dituang perlahan-lahan ke dalam limbah perkotaan. Proses ini relatif murah dan dapat dilakukan dengan peralatan sederhana. Perkiraan rasio berdasarkan berat, yaitu limbah farmasi (65%), batu kapur (15%), semen (15%), dan air (5% atau lebih untuk membentuk konsistensi cairan yang tepat) (Widyastuti, 2005). Pembuangan limbah farmasi selain obat yang diawasi, obat antiinfeksi, dan obat antineoplastik dapat dimusnahkan dengan metode landfill dengan persyaratan tidak lebih dari 1% limbah farmasi dalam bentuk tidak diolah bersama limbah perkotaan dibuang ke landfill. Namun, sebelum dibuang ke landfill, limbah farmasi ini harus diimobilisasi dengan cara enkapsulasi atau inertisasi. Obat berbentuk serbuk dapat dimusnahkan dengan cara inertisasi atau insinerasi dengan suhu sedang atau tinggi. Untuk limbah farmasi yang memiliki toksisitas rendah atau tidak toksik dapat dimusnahkan dengan cara dilarutkan/diencerkan dengan sejumlah air kemudian dibuang ke saluran pembuangan (WHO, 1999). Obat antiinfeksi tidak boleh dibuang dalam bentuk yang belum diolah. Pilihan utama metode pemusnahan obat ini adalah insinerasi dengan suhu sedang atau tinggi kemudian dibuang ke landfill. Jika tidak memungkinkan dilakukan insinerasi, obat antiinfeksi diubah dalam bentuk tidak aktifnya dengan cara dekomposisi kimia. Hasil dekomposisi kimia selanjutnya dienkapsulasi atau diinertisasi lalu dibuang ke landfill (WHO, 1999). Obat yang diawasi harus dimusnahkan dibawah pengawasan apoteker atau polisi, sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pilihan utama metode pemusnahan obat ini adalah dengan dienkapsulasi atau diinertisasi kemudian dibuang ke landfill. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan insinerasi suhu sedang atau tinggi kemudian dibuang ke landfill (WHO, 1999).

77 25 Obat antineoplastik idealnya dikemas secara aman dan dikembalikan ke pemasok untuk dimusnahakan. Jika pilihan tersebut tidak tersedia, maka obat antineoplastik dimusnahkan dengan insinerasi suhu tinggi. Insenerator memiliki dua bilik dengan bilik kedua bersuhu tinggi, setidaknya 1200 o C, dan dilengkapi dengan fasilitas pembersih udara/gas. Jika bilik kedua tidak bersuhu tinggi, maka materi-materi obat antineoplastik yang telah terdegradasi akan dilepaskan dari cerobong asap. Selain itu, hal ini untuk memastikan materi obat antioneoplastik telah terinsinerasi secara sempurna. Berbeda dengan jenis obat lainnya, sebelum dibuang ke landfill limbah obat antineoplastik hasil insinerasi harus diimobilisasi dengan enkapsulasi atau inertisasi. Untuk drum obat antineoplastik, 50% kapasitas diisi dengan obat dan sisanya diisi dengan campuran kapur, semen, dan air dengan perbandingan berat 15:15:5. Kemudian drum diletakkan di landfill yang telah dilapisi dengan lapisan impermeabel dari tanah liat. Penanganan obat ini tidak boleh dipisahkan dari kemasannya dan hanya dapat dibuang ke sistem pembuangan jika sudah di dekomposisi (WHO, 1999). Pelaporan pemusnahan limbah farmasi dilakukan oleh tim pengelolaan limbah farmasi dengan menggunakan lembar berita acara pemusnahan limbah farmasi. Berita acara pemusnahan ditujukan ke Menteri dan ditandatangani oleh penanggung jawab pelaksanan dan saksi pemusnahan limbah farmasi. Laporan yang akan diserahkan sekurang-kurangnya memuat keterangan: (1) waktu dan tempat pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; (2) jumlah dan jenis sediaan farmasi dan alat kesehatan; (3) nama penanggung jawab pelaksana pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; (4) nama satu orang saksi dalam pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan

78 26 Tabel 3.1 Pemusnahan obat berdasarkan golongan Golongan Obat Metode Pemusnahan Obat selain obat yang diawasi, antineoplastik, atau antiinfeksi enkapsulasi inertisasi landfill Obat yang diawasi Dekomposisi kimia Enkapsulasi/ inertisasi landfill Insinerasi Insinerasi Obat antiinfeksi landfill Dekomposisi kimia Enkapsulasi/ inertisasi Kembali ke produsen Dimusnahkan produsen Obat antineoplastik Insinerasi suhu tinggi Enkapsulasi/ inertisasi landfill Catatan: landfill dilapisi lapisan impermeabel dari tanah liat Kemasan plastik PVC dan gelas Kemasan kertas dan kertas kardus Landfill Daur ulang Pembakaran landfill

79 BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Pedoman pemusnahan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang menyeluruh diperlukan sebagai arahan untuk melakukan pemusnahan yang baik, benar, dan aman sehingga menjamin terlindunginya masyarakat dan lingkungan sekitar dari risiko pencemaran limbah sediaan farmasi. Untuk mencapati tujuan tersebut, metode pemusnahan yang digunakan harus sesuai dengan jenis sediaan dan kategori obat yang dimusnahkan. Proses pemusnahan limbah sediaan farmasi secara menyeluruh yaitu: (1) Pelaporan sediaan farmasi yang akan dimusnahkan; (2) pembentukan tim pengelola limbah sediaan farmasi; (3) pemeriksaan limbah sediaan farmasi yang akan dimusnahkan; (4) pemilahan dan penandaan limbah sediaan farmasi sesuai dengan jenis sediaan dan kategori obat; (5) pemusnahan limbah sediaan farmasi dengan cara yang sesuai; (6) pelaporan dan pencatatan acara pemusnahan limbah sediaan farmasi. Pemusnahan limbah sediaan farmasi melibatkan banyak pihak sehingga penjelasan mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dibutuhkan agar acara pemusnahan sediaan farmasi terkoordinir dengan baik Saran Pedoman mengenai pemusnahan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang menyeluruh belum tersedia. Sehingga pedoman pemusnahan limbah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan harus segera disusun, didistribusikan, dan disosialisasikan ke seluruh instalasi farmasi daerah agar pemusnahan limbah sediaan farmasi dapat dilakukan dengan baik, benar, dan aman serta terkoordinasi dengan baik. 27

80 DAFTAR ACUAN Departemen Kesehatan RI. (2007). Materi Pelatihan Pengelolaan Obat di Kabupaten/Kota. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) Nomor 72 Tahun 1998 (72/98) tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. (1998). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) Nomor 72 Tahun 1998 (72/98) tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. Jakarta Widyastuti, Palupi (Ed.). (2005). Panduan Pembuangan Limbah Perbekalan Farmasi. Jakara: EGC World Health Organization. (1999). Guidelines for Save Disposal of Unwated Pharmaceuticals in and after Emergencies. World Health Organization 28

81 LAMPIRAN

82 29 Lampiran 1. Rancangan pedoman pemusnahan sediaan farmasi padat RANCANGAN PEDOMAN PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Disusun oleh : RANCANGAN PEDOMAN Halaman 1 dari 7 PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Diperiksa oleh Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Disetujui oleh Status Prosedur Nomor... Baru Pengganti Mengganti Nomor... Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal... Tanggal berlaku Tujuan Rancangan pedoman ini disusun untuk membuat suatu pedoman pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang sudah tidak layak digunakan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat dengan cara yang benar untuk melindungi masyarakat dan lingkungan terhadap risiko yang ditimbulkan. 2. Ruang Lingkup Pemusnahan berlaku bagi semua produk sediaan farmasi padat dengan kriteria sebagai berikut: (1) diproduksi tanpa memenuhi persyaratan yang berlaku; (2) telah kadaluwarsa; (3) tidak memenuhi syarat untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan (4) dicabut izin edaranya; (5) berhubungan dengan tindak pidana di bidang sediaan farmasi dan alat kesehatan. 3. Tanggung Jawab 3.1 Kepala Instalasi Farmasi melakukan inventarisasi limbah farmasi yang akan dimusnahkan dan melaporkannya ke Kepala Dinas Kesehatan setempat. 3.2 Kepala Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota menetapkan tim pengelolaan limbah farmasi dengan mengeluarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 3.3 Tim pengelola limbah farmasi melakukan pemeriksaan limbah farmasi yang akan dimusnahkan dan melaporkannya dalam berita acara hasil pemeriksaan sebanyak 4 rangkap. 3.4 Tim pengelola limbah farmasi mengkoordinir pelaksanaan pemusnahan dan melaporkannya dalam berita acara pemusnahan setelah melakukan pemusnahan.

83 30 DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Disusun oleh : RANCANGAN PEDOMAN Halaman 2 dari 7 PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Diperiksa oleh Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Disetujui oleh Status Prosedur Nomor... Baru Pengganti Mengganti Nomor... Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal... Tanggal berlaku Alat dan Bahan 4.1 Plastik bersegel untuk mengemas obat-obat yang sudah dipilah sesuai dengan bentuk sediaan dan kategori obat. 4.2 Kontainer sebagai wadah penyimpanan obat-obat yang telah dikemas. 4.3 Label untuk menandai kontainer dengan informasi limbah farmasi. 4.4 Sarana transportasi untuk menyalurkan limbah farmasi ke tempat distributor atau pemasok, tempat pengumpulan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota, tempat pembuangan/landfill, atau tempat insinerasi di pabrik semen. 4.5 Drum logam atau plastik sebagai wadah akhir untuk pemusnahan dengan metode enkapsulasi atau inertisasi. 4.6 Kapur, semen, dan air sebagai campuran dalam metode pemusnahan enkapsulasi dan inertisasi 5. Prosedur 5.1 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dilakukan pembentukan tim pengelolaan limbah farmasi tingkat Kabupaten/Kota yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Tingkat kabupaten/kota ketua : kepala bidang farmasi wakil ketua : kepala instalasi farmasi sekretaris : kepala seksi farmasi anggota : 1. Unsur instalasi farmasi 2. Unsur instalasi farmasi rumah sakit 3. Unsur penyehatan lingkungan 4. Unsur pelayanan kesehatan masyarakat 5. Unsur P2P 6. Unsur Bapedalda

84 31 DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Disusun oleh : RANCANGAN PEDOMAN Halaman 3 dari 7 PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Diperiksa oleh Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Disetujui oleh Status Prosedur Nomor... Baru Pengganti Mengganti Nomor... Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal... Tanggal berlaku Melakukan pemilahan dan penandaan/pelabelan sediaan farmasi Yang akan dimusnahkan Sediaan padat seperti tablet, kaplet, kapsul dan serbuk dipisahkan dari bentuk sediaan lain Sediaan padat yang telah dipisahkan kemudian dipilah bedasarkan kategori obat: obat biasa, obat antiinfeksi, obat yang diawasi, dan obat antineoplastik Obat-obat yang telah dipilah dipisahkan dari kemasan sekunder, tapi masih di dalam kemasan primer tablet dan kapsul dalam blister plastik atau alumunium foil dipisahkan dari kemasan terluar tapi tidak dipisahkan dari blisternya; tablet dan kapsul dalam botol harus dipisahkan dari kemasan luarnya tidak dipisahkan dari botolnya; tablet dan tablet effervescent dalam tube dipisahkan dari kemasan luarnya tidak dipisahkan dari tubenya; serbuk dalam sachet atau botol dipisahkan dari kemasan luarnya tapi tidak dipisahkan dari sachet atau botolnya dikemas dalam plastik bersegel dan disimpan dalam satu wadah/kontainer kemudian diberi label. Label mencakup informasi: (1) nama obat, (2) kekuatan obat, (3) jenis satuan obat, (4) tanggal kedaluarsa obat (5) kode obat (6) jumlah berat obat (kg/cm3) 5.3. Limbah farmasi dikumpulkan ke dalam suatu ruangan atau tempat khusus yang berada di dalam wilayah instansi layanan kesehatan atau unit pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan.

85 32 DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Disusun oleh : RANCANGAN PEDOMAN Halaman 4 dari 7 PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Diperiksa oleh Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Disetujui oleh Status Prosedur Nomor... Baru Pengganti Mengganti Nomor... Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal... Tanggal berlaku Kepala Instalasi Farmasi melakukan inventarisasi limbah farmasi yang akan dimusnahkan dan melaporkannya ke Kepala Dinas Kesehatan Setempat Inventarisasi dilakukan dengan menggunakan suatu formulir yang didalamnya memuat: (1) nama obat/perbekalan kesehatan; (2) nama generik; (3) satuan obat/perbekalan kesehatan; (4) jumlah obat/perbekalan kesehatan; (5) pabrikan obat/perbekalan kesehatan; (6) kelas terapi; (7) tanggal kadaluwarsa; (8) kondisi obat/perbekalan kesehatan Tim pengelolaan limbah farmasi melakukan pemeriksaan limbah farmasi yang akan dimusnahkan 5.6. Hasil pemeriksaan kemudian dilaporkan kepada pihak yang berwenang dengan membuat berita acara hasil pemeriksaan limbah farmasi 5.7. Melakukan pemusnahan dengan cara yang sesuai dengan sediaan farmasi yang dimusnahkan setelah ada keputusan dari yang berwenang Limbah farmasi yang memiliki toksisitas rendah atau tidak toksik dapat dimusnahkan dengan cara dilarutkan/diencerkan dengan sejumlah air kemudian dibuang ke saluran pembuangan Obat biasa berbentuk serbuk dapat dimusnahkan dengan cara inertisasi atau insinerasi dengan suhu sedang atau tinggi Obat selain obat yang diawasi, obat antiinfeksi, dan obat antineoplasitk dapat dimusnahkan dengan metode landfill. Dengan persyaratan tidak lebih dari 1% limbah farmasi dalam bentuk tidak diolah bersama limbah perkotaan dibuang ke landfill. Namun, sebelum dibuang ke landfil limbah farmasi harus diimobilisasi dengan cara enkapsulasi atau inertisasi.

86 33 DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Disusun oleh : RANCANGAN PEDOMAN Halaman 5 dari 7 PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Diperiksa oleh Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Disetujui oleh Status Prosedur Nomor... Baru Pengganti Mengganti Nomor... Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal... Tanggal berlaku Obat yang diawasi harus dimusnahkan dibawah pengawasan apoteker atau polisi, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pilihan utama metode pemusnahan obat ini adalah dengan enkapsulasi atau inertisasi kemudian dibuang ke landfill. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan insinerasi suhu sedang atau tinggi kemudian dibuang ke landfill Obat antiinfeksi dimusnahkan dengan metode insinerasi dengan suhu sedang atau tinggi kemudian dibuang ke landfill. Jika tidak memungkinkan dilakukan insinerasi, obat antiinfeksi diubah dalam bentuk tidak aktifnya dengan cara dekomposisi kimia. Hasil dekomposisi kimia selanjutnya dienkapsulasi atau diinertisasi lalu dibuang ke landfill Obat antineoplastik Dikemas secara aman dan dikembalikan ke pemasok untuk dimusnahakan. Jika pilihan tersebut tidak tersedia, maka obat antineoplastik dimusnahkan dengan insinerasi suhu tinggi. sebelum dibuang ke landfill limbah obat antineoplastik hasil insinerasi harus diimobilisasi dengan enkapsulasi atau inertisasi. Untuk drum obat antineoplastik, 50% kapasitas diisi dengan obat dan sisanya diisi dengan campuran kapur, semen, dan air dengan perbandingan berat 15:15:5. landfill yang telah dilapisi dengan lapisan impermeabel dari tanah liat. Penanganan obat ini tidak boleh dipisahkan dari kemasannya. 6. Prosedur Khusus 6.1. Pembuangan ke landfill Landfill yang benar adalah berupa lubang kosong yang jauh dari badan-badan air dan lokasinya berada di atas permukaan air. Sebelum dibuang ke landfill limbah farmasi harus diimobilisasi dengan cara enkapsulasi atau inertisasi Enkapsulasi Limbah farmasi disegel di dalam drum terbuat dari plastik atau baja. Sekitar 75% kapasitas drum diisi limbah farmasi. Jika 75% kapasitas drum telah terisi, campuran batu kapur, semen dan air dengan perbandingan 15: 15: 5 dimasukkan sampai drum terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya. Kemudian drum ditutup dengan rapat dan dilas. Drum tersegel tersebut harus diletakkan di lapisan dasar landfill dan ditutup dengan limbah padat baru perkotaan.

87 34 DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Disusun oleh : RANCANGAN PEDOMAN Halaman 6 dari 7 PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Diperiksa oleh Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Disetujui oleh Status Prosedur Nomor... Baru Pengganti Mengganti Nomor... Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal... Tanggal berlaku Inertisasi Limbah farmasi harus dilepaskan dari kemasan. Limbah yang sudah dipisahkan dari kemasan kemudian dihancurkan atau digiling dan campuran air, semen, dan batu kapur ditambahkan dalam hancuran limbah itu untuk membentuk pasta yang homogen. Kemudian campuran tersebut dituang perlahan-lahan ke dalam limbah perkotaan. Perbandingan yang bisa digunakan dalam proses inertisasi adalah sebagai berikut: limbah farmasi (65%), batu kapur (15%), semen (15%), dan air (5% atau lebih untuk membentuk konsistensi cairan yang tepat). 7. Pelaporan 7.1 Pelaporan pemeriksaan limbah farmasi Pelaporan pemeriksaan limbah farmasi dilakukan oleh tim pengelolaan limbah farmasi dengan menggunakan lembar berita acara pemeriksaan limbah farmasi Pada formulir berita acara pemeriksaan memuat bagian judul formulir berita acara pemeriksaan dan kolom-kolom formulir berisi informasi yang dibutuhkan. Pada bagian judul formulir berita acara pemeriksaan diisi dengan: (1) nama, tempat instansi pengelola obat kabupaten/kota; (2) hari, tanggal, bulan dan tahun pelaksanaan pemeriksaan; (3) nama anggota panitia; (4) jabatan anggota panitia; (5) nomor dan tanggal surat penunjukkan panitia pemeriksaan. Pada kolom-kolom formulir berisi: (1) nama/jenis obat dan perbekalan kesehatan; (2) satuan kemasan obat dan perbekalan kesehatan; (3) harga satuan kemasan obat dan perbekalan kesehatan; (4) jumlah obat dan perbekalan kesehatan dengan angka; (5) jumlah obat dan perbekalan kesehatan dengan huruf (6) kondisi obat dan perbekalan kesehatan; (7) kepala instalasi farmasi kabupaten/kota; (8) nama panitia pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan; (9) pejabat dinas kesehatan kabupaten/kota sebagai mengetahui

88 35 DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Disusun oleh : RANCANGAN PEDOMAN Halaman 7 dari 7 PEMUSNAHAN SEDIAAN FARMASI PADAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Diperiksa oleh Seksi Standardisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Disetujui oleh Status Prosedur Nomor... Baru Pengganti Mengganti Nomor... Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal... Tanggal berlaku Berita acara pemeriksaan dibuat 4 rangkap yang ditujukan untuk: a. Asli dikirim kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota b. Kopi 1 dikirim kepada Kepala Pemerintahan Daerah c. Kopi 2 dikirim kepada Badan Pengawas Daerah Setempat d. Kopi 3 dikirim kepada Kepala Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota 7.2 Pelaporan pemusnahan limbah farmasi Pelaporan pemusnahan limbah farmasi dilakukan oleh tim pengelolaan limbah farmasi dengan menggunakan lembar berita acara pemusnahan limbah farmasi. Berita acara pemusnahan ditujukan ke Menteri dan ditandatangani oleh penanggung jawab pelaksanan dan saksi pemusnahan limbah farmasi. Laporan yang akan diserahkan sekurang-kurangnya memuat keterangan: (1) waktu dan tempat pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; (2) jumlah dan jenis sediaan farmasi dan alat kesehatan; (3) nama penanggung jawab pelaksana pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; (4) nama satu orang saksi dalam pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan 8. Dokumen Rujukan 8.1 Guidelines for Safe Disposal of Unwated Pharmaceuticals in and after Emergencies, World Health Organization, Materi Pelatihan Pengelolaan Obat di Kabupaten/Kota, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Panduan Pembuangan Limbah Perbekalan Farmasi, Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 72 tahun 1998 tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DITJEN BINFAR DAN ALKES KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA JL. H.R. RASUNA SAID

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANITA HASAN,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANATRIA KHOLIYAH,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Anita Karlina, S.Farm.

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. YUDHO PRABOWO, S.Farm ANGKATAN LXXIII

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. YUDHO PRABOWO, S.Farm ANGKATAN LXXIII UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja. No.585, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1144/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

Lebih terperinci

UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. APRILYA TRI SUSATI, S.Farm AGKATA LXXVI

UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. APRILYA TRI SUSATI, S.Farm AGKATA LXXVI UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BIA PRODUKSI DA DISTRIBUSI KEFARMASIA DIREKTORAT JEDERAL BIA KEFARMASIA DA ALAT KESEHATA KEMETERIA KESEHATA REPUBLIK IDOESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA MENTENG HUIS JALAN CIKINI RAYA NO. 2 JAKARTA PUSAT PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan.

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan. Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan. Dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan kementerian kesehatan republik indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005

PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005 PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005 DENGAN KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/XI/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KESEHATAN MENTERI

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORATT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Diharapkan Laporan Tahunan ini bermanfaat bagi pengembangan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan.

Diharapkan Laporan Tahunan ini bermanfaat bagi pengembangan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan. KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT dan atas berkat dan karunianya Buku Laporan Tahunan Pelaksanaan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1. Kebijakan Obat dan Pelayanan Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1. Kebijakan Obat dan Pelayanan Kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1. Kebijakan Obat dan Pelayanan Kesehatan Menurut Kemenkes RI (2006), Obat adalah bahan atau paduan bahanbahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyedilidki

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN N0M0R : 02001/SK/KBPOM TENTANG

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN N0M0R : 02001/SK/KBPOM TENTANG KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN N0M0R : 02001/SK/KBPOM TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : bahwa sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 17 /PER/M.KOMINFO/10/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN, BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN SUSUNAN ORGANISASI TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KLATEN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN 1. Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan; 2. Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi; 3. Staf Ahli Bidang Desentralisasi Kesehatan; dan 4. Staf Ahli Bidang Hukum Kesehatan STAF AHLI STRUKTUR

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2017 TENTANG BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2017 TENTANG BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2017 TENTANG BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pengawasan Obat dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang penting dan menjadi hak semua orang. Kesehatan yang dimaksud tidak hanya sekedar sehat secara fisik atau jasmani, tetapi juga secara mental,

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN 1. Staf Ahli Bid. Teknologi Kesehatan dan Globalisasi; 2. Staf Ahli Bid. Pembiayaan & Pemberdayaan Masyarakat; 3. Staf Ahli Bid. Perlindungan Faktor Resiko Kesehatan; 4. Staf Ahli Bid Peningkatan Kapasitas

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

PERAN APOTEKER DI DALAM PENGELOLAAN OBAT DAN ALKES DI INSTALASI FARMASI PROVINSI, KABUPATEN/ KOTA. Hardiah Djuliani

PERAN APOTEKER DI DALAM PENGELOLAAN OBAT DAN ALKES DI INSTALASI FARMASI PROVINSI, KABUPATEN/ KOTA. Hardiah Djuliani PERAN APOTEKER DI DALAM PENGELOLAAN OBAT DAN ALKES DI INSTALASI FARMASI PROVINSI, KABUPATEN/ KOTA. Hardiah Djuliani LANDASAN HUKUM UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan PP 51 Th. 2009 tentang pekerjaan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN 2.1. Sejarah Organisasi Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN UNTUK PELAYANAN KESEHATAN DASAR

PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN UNTUK PELAYANAN KESEHATAN DASAR LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 1121/MENKES/SK/XII/2008 TANGGAL : 1 DESEMBER 2008 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN UNTUK PELAYANAN KESEHATAN DASAR I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Rapat Koordinasi Nasional Palu, 31 Maret 2015 Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

- 1 - PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI - 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG

Lebih terperinci

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 86 / HUK / 2010 TENTANG

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 86 / HUK / 2010 TENTANG MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 86 / HUK / 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang :

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.186, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESRA. Pencarian. Pertolongan. Badan. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83 TAHUN 2016 TENTANG BADAN NASIONAL PENCARIAN DAN PERTOLONGAN

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN PURBALINGGA

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 31 TAHUN : 2004 SERI : D NOMOR : 4

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 31 TAHUN : 2004 SERI : D NOMOR : 4 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 31 TAHUN : 2004 SERI : D NOMOR : 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 20 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN

Lebih terperinci

2 MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. BAB I KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Kementerian K

2 MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. BAB I KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Kementerian K LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.111, 2015 ADMINISTRASI. Pemerintahan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG

Lebih terperinci

nasional. Dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 dinyatakan bahwa

nasional. Dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 dinyatakan bahwa 73 I.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk

Lebih terperinci

KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS) Kepmenkes No 189/Menkes/SK/III/2006

KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS) Kepmenkes No 189/Menkes/SK/III/2006 KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS) Kepmenkes No 189/Menkes/SK/III/2006 Oleh : Drs. Richard Panjaitan, Apt., SKM DISAMPAIKAN PADA WORKSHOP KETERSEDIAAN, KETERJANGKAUAN DAN PEMERATAAN OBAT ESENSIAL GENERIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN SALINAN NOMOR 26/2016 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

Lebih terperinci