BAB 4 PEMBAHASAN MASALAH DAN ANALISA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 PEMBAHASAN MASALAH DAN ANALISA"

Transkripsi

1 BAB 4 PEMBAHASAN MASALAH DAN ANALISA 4.1 Pengumpulan Data Data Komponen PT. Marino Pelita Indonesia memproduksi sepatu militer dalam 2 jenis yaitu jenis PDL (Pakaian Dinas Lapangan) dan PDH (Pakaian Dinas Harian). Pembuatan sepatu militer melibatkan cukup banyak komponen penyusun yang secara garis besar dapat digolongkan menjadi 8 jenis bahan yaitu kulit, kain drill, kain keras, leather coat, hak kayu, karet sol, mata ayam, dan tali sepatu. Beberapa bahan tersebut dirinci lagi menurut bagian-bagiannya. Agar tidak menimbulkan kerancuan, maka yang ditampilkan di sini adalah untuk sebuah sepatu saja (bukan sepasang) karena untuk sepatu pasangannya memiliki kesamaan dengan uraian tersebut. Tabel 4.1 Komponen Penyusun Sebuah Sepatu Nama Komponen Jumlah Kulit bagian tumit 1 Kulit bagian jari 1 Kulit bagian samping kiri 1 Kulit bagian samping kanan 1 Kulit bagian atas 1 Kulit bagian belakang 1 Kulit bagian depan kiri 1 Kulit bagian depan kanan 1 Kulit bagian depan dalam 1 Kulit bagian alas 1 Kain drill bagian tumit 1

2 42 Tabel 4.1 Komponen Penyusun Sebuah Sepatu (lanjutan) Nama Komponen Jumlah Kain drill bagian jari 1 Kain drill bagian samping kiri 1 Kain drill bagian samping kanan 1 Kain drill bagian atas 1 Kain drill bagian depan dalam 1 Kain keras bagian jari 1 Kain keras bagian tumit 1 Leather coat bagian alas 1 Kayu pengisi sol bagian tumit 1 Karet sol 1 Mata ayam PDL : 16, PDH : 10 Tali sepatu 1 PDL = Pakaian Dinas Lapangan PDH = Pakaian Dinas Harian Sumber : PT. Marino Pelita Indonesia Data Urutan Operasi Perakitan Hal yang mutlak diperlukan untuk melakukan kegiatan penyeimbangan lini yaitu adanya data urut-urutan operasi perakitan serta waktu prosesnya sehingga dapat diketahui precedence constraints yang tidak boleh dilanggar serta alokasi waktu untuk tiap-tiap task. Operasi untuk merakit sepatu jenis PDL dan PDH adalah sama, namun ada perbedaan waktu di beberapa task di mana jenis PDH memerlukan waktu lebih sedikit mengingat bentuk produknya juga lebih kecil dibandingkan PDL untuk ukuran yang sama. Hal ini mengakibatkan total waktu proses untuk kedua jenis produk juga berbeda. Untuk melakukan line balancing, waktu proses ini tidak bisa langsung digunakan melainkan harus diolah terlebih dahulu dengan menggunakan penyesuaian dan kelonggaran sehingga didapatkan waktu baku.

3 43 Tabel 4.2 Urutan Operasi Perakitan Sebuah Sepatu Task No Precedence Activity Deskripsi Operasi 1 - Menyatukan kulit bagian tumit dan kain drill bagian tumit menjadi subassembly Menyatukan kulit bagian samping kiri dan kain drill bagian samping kiri menjadi subassembly Menyatukan kulit bagian samping kanan dan kain drill bagian samping kanan menjadi subassembly Menyatukan kulit bagian atas dan kain drill bagian atas menjadi subassembly Menyatukan kulit bagian depan dalam dan kain drill bagian depan dalam menjadi subassembly Menyatukan kulit bagian jari dan kain drill bagian jari menjadi subassembly Menyatukan kulit bagian alas dan leather coat bagian alas menjadi subassembly Mengisikan kayu ke sol karet menjadi subassembly Menyatukan subassembly 1 dan kulit bagian belakang menjadi assembly , 9 Menyatukan subassembly 2 dan assembly 1 menjadi assembly , 10 Menyatukan subassembly 3 dan assembly 2 menjadi assembly , 11 Menyatukan subassembly 4 dan assembly 3 menjadi assembly Menyatukan assembly 4 dan kulit bagian depan kiri menjadi assembly Menyatukan assembly 5 dan kulit bagian depan kanan menjadi assembly , 14 Menyatukan subassembly 5 dan assembly 6 menjadi assembly , 15 Menyatukan subassembly 6 dan assembly 7 menjadi assembly 8. Waktu Proses Untuk PDL Waktu Proses Untuk PDH

4 44 Task No Tabel 4.2 Urutan Operasi Perakitan Sebuah Sepatu (lanjutan) Precedence Activity Deskripsi Operasi Waktu Proses Untuk PDL Waktu Proses Untuk PDH Memasang mata ayam ke assembly menjadi assembly Menyisipkan kain keras bagian tumit ke assembly 9 menjadi assembly Menyisipkan kain keras bagian jari ke assembly 10 menjadi assembly , 19 Menyatukan subassembly 7 dan assembly menjadi assembly Menghaluskan bagian alas assembly Memberikan lem pada alas assembly , 22 Menyatukan subassembly 8 dan assembly menjadi assembly Merapikan assembly Memasang tali sepatu ke assembly menjadi produk akhir sepatu Menyemir sepatu PDL = Pakaian Dinas Lapangan PDH = Pakaian Dinas Harian Sumber : PT. Marino Pelita Indonesia Data Kapasitas Produksi Harian Untuk 1 Lini Untuk menentukan Cycle Time (CT) teoritis yang nantinya akan digunakan dalam perhitungan line balancing, diperlukan data kapasitas produksi harian per lini. Adapun kapasitas produksi per hari untuk 1 lini produksi di PT. Marino Pelita Indonesia adalah 35 pasang sepatu. Jumlah ini sama baik untuk sepatu jenis PDL

5 45 maupun PDH. 1 lini produksi tersebut dipecah menjadi dua bagian yaitu lini kiri dan kanan yang masing-masing akan mengerjakan operasi perakitan untuk sebuah sepatu. 4.2 Pengolahan Data Assembly Chart Untuk Produk Sepatu Karena pembahasan dalam skripsi ini akan dititikberatkan pada lini perakitan, maka dibuatlah Assembly Chart (AC) sehingga dari sini dapat dilihat sekilas bagaimana urut-urutan komponen dirakit hingga menjadi produk jadi yang dihasilkan PT. Marino Pelita Indonesia yaitu sepatu militer. Menurut Apple (1990, p ), AC adalah gambaran grafis dari urut-urutan aliran komponen dan rakitan bagian ke dalam rakitan suatu produk. Akan terlihat bahwa AC menunjukkan cara yang mudah dipahami tentang : - Komponen-komponen yang membentuk produk. - Bagaimana komponen-komponen ini bergabung bersama. - Komponen yang menjadi bagian suatu rakitan bagian. - Aliran komponen ke dalam sebuah rakitan. - Keterkaitan antara komponen dengan rakitan bagian. - Gambaran menyeluruh dari proses rakitan. - Urutan waktu komponen bergabung bersama. - Suatu gambaran awal dari pola aliran bahan.

6 46 Nama Objek : Sepatu Militer Dipetakan Oleh : Priscilla Selly Tanggal Dipetakan : 19 April 2007 Assembly Chart Sekarang Usulan KT Kulit bagian tumit SA 1 DT KB Kain drill bagian tumit Kulit bagian belakang A 1 KSKI DSKI Kulit bagian samping kiri Kain drill bagian samping kiri SA 2 A 2 KSKA DSKA Kulit bagian samping kanan Kain drill bagian samping kanan SA 3 A 3 KAT Kulit bagian atas SA 4 DAT Kain drill bagian atas A 4 KDKI Kulit bagian depan kiri A 5 KDKA Kulit bagian depan kanan A 6 KDD DDD Kulit bagian depan dalam Kain drill bagian depan dalam SA 5 A 7 KJ Kulit bagian jari SA 6 DJ Kain drill bagian jari A 8 MA Mata ayam A 9 KET Kain keras bagian tumit A 10 KEJ Kain keras bagian jari A 11 KAL LC Kulit bagian alas Leather coat SA 7 A 12 KY Kayu hak sol SA 8 KS Karet sol A 13 TS Tali sepatu A 14 Gambar 4.1 Assembly Chart Sebuah Sepatu

7 Penyeimbangan Lini Perakitan Untuk Produk Sepatu Jenis PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Struktur Produk Untuk memperlihatkan rangkaian struktur semua komponen yang digunakan untuk memproduksi sepatu militer jenis PDL maka dibuatlah struktur produk yang berupa suatu jaringan untuk menggambarkan hubungan induk (parent product) hingga ke komponen-komponennya. Struktur produk didefinisikan sebagai cara komponen-komponen itu bergabung ke dalam suatu produk selama proses manufakturing. Struktur produk tipikal akan menunjukkan bahan baku yang dikonversi ke dalam komponen-komponen fabrikasi, kemudian komponen-komponen itu bergabung bersama untuk membuat subassemblies, kemudian subassemblies bergabung bersama membuat assemblies, dan seterusnya sampai produk akhir. Struktur produk sering ditampilkan dalam bentuk gambar. (Gaspersz, 2001, p148). Cara memetakan struktur produk yang digunakan dalam skripsi ini adalah secara explosion, artinya urutan dimulai dari induk (produk akhir) pada level nol sampai komponen pada level paling bawah. Untuk struktur produk sepatu PDL terdapat 16 level keseluruhan yaitu dari level 0 sampai level 15. Masing-masing komponen mempunyai kuantitas yang sama yaitu 1 buah, kecuali untuk komponen mata ayam, berkode MA dengan nomor 35, kuantitasnya adalah 16 buah.

8 48 Nama Objek : Sepatu Militer PDL Dipetakan Oleh : Priscilla Selly Tanggal Dipetakan : 19 April 2007 Cara Pemetaan : Explosion Struktur Produk Sekarang Usulan Sepatu A A12 SA TS A11 SA7 KY KS A10 KEJ KAL LC.4 5 A KET.5 6 A MA A SA A6 SA5 KJ DJ A5 KDKA KDD DDD.9 10 A KDKI A SA A2 SA3 KAT DAT A SA2 KSKA 23 1 DSKA SA1 KB KSKI DSKI KT DT 1.15 Gambar 4.2 Struktur Produk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Kode-kode yang tercantum dalam struktur produk di atas akan diuraikan artinya pada Bill Of Material.

9 Bill Of Material (BOM) Untuk menjelaskan gambar struktur produk di atas maka dibuatlah Bill Of Material (BOM) sehingga dapat diketahui arti kode singkatan yang digunakan. BOM adalah suatu daftar komponen, deskripsi, dan jumlah yang dibutuhkan untuk membuat suatu unit produksi. (Heizer dan Render, 2005, p579). Tabel 4.3 Bill Of Material (BOM) Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) No Komponen Level Deskripsi Kode Jumlah BOM UOM 1 1 Assembly 13 A13 1 Each 2.2 Assembly 12 A12 1 Each 3..3 Assembly 11 A11 1 Each 4 4 Assembly 10 A10 1 Each 5.5 Assembly 9 A9 1 Each 6..6 Assembly 8 A8 1 Each 7 7 Assembly 7 A7 1 Each 8.8 Assembly 6 A6 1 Each 9..9 Assembly 5 A5 1 Each Assembly 4 A4 1 Each Assembly 3 A3 1 Each Assembly 2 A2 1 Each Assembly 1 A1 1 Each Subassembly 1 SA1 1 Each Kulit bagian tumit KT 1 Each Kain drill bagian tumit DT 1 Each Kulit bagian belakang KB 1 Each Subassembly 2 SA2 1 Each Kulit bagian samping kiri KSKI 1 Each Kain drill bagian samping DSKI 1 Each kiri Subassembly 3 SA3 1 Each Kulit bagian samping KSKA 1 Each kanan Kain drill bagian samping DSKA 1 Each kanan Subassembly 4 SA4 1 Each Kulit bagian atas KAT 1 Each

10 50 No Komponen Tabel 4.3 Bill Of Material (BOM) Sebuah Sepatu PDL (lanjutan) Level Deskripsi Kode Jumlah BOM UOM Kain drill bagian atas DAT 1 Each Kulit bagian depan kiri KDKI 1 Each Kulit bagian depan kanan KDKA 1 Each 29.8 Subassembly 5 SA5 1 Each Kulit bagian depan dalam KDD 1 Each Kain drill bagian depan DDD 1 Each dalam 32 7 Subassembly 6 SA6 1 Each 33.8 Kulit bagian jari KJ 1 Each 34.8 Kain drill bagian jari DJ 1 Each Mata ayam MA 16 Each 36.5 Kain keras bagian tumit KET 1 Each 37 4 Kain keras bagian jari KEJ 1 Each Subassembly 7 SA7 1 Each 39 4 Kulit bagian alas KAL 1 Each 40 4 Leather coat bagian alas LC 1 Each 41.2 Subassembly 8 SA8 1 Each Kayu pengisi sol bagian KY 1 Each tumit Karet sol KS 1 Each 44 1 Tali sepatu TS 1 Each Evaluasi Kinerja Lini Perakitan Perhitungan Penyesuaian Dengan Metode Objektif Dalam praktek operasi perakitan yang sebenarnya di lapangan, terkadang ada halhal yang mempengaruhi kecepatan kerja yang berakibat terlalu singkat atau terlalu lamanya waktu penyelesaian pekerjaan. Agar waktu tersebut menjadi wajar, maka harus dinormalkan dengan melakukan penyesuaian. Metode penyesuaian yang

11 51 digunakan dalam skripsi ini adalah metode objektif. Penyesuaian dilakukan berdasarkan kecepatan kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan yang dilakukan operator. Tabel 4.4 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 1-6, 9-16 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Konstan dan K 4 dekat 5 Peralatan : Perlu kontrol dan penanganan P 2 6 Berat beban (kg) : 0.45 (tangan) B-1 2 Jumlah 9 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.09 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Keterangan : Task 1-6 dan 9-16 mempunyai nilai penyesuaian yang sama karena pada dasarnya kegiatan pada task-task ini adalah sama yaitu menjahit. Anggota badan yang aktif dipakai untuk kegiatan menjahit adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Mesin jahit dijalankan dengan menginjak dinamo di bawah kaki. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan konstan dan dekat karena operator harus teliti agar alur jahitannya rapi sehingga pandangan ke objek harus secara konstan dan cermat. Peralatan yang digunakan adalah mesin jahit di mana kontrol untuk menjalankannya perlu ditangani oleh operator. Berat beban kulit dan kain drill yang membentuk badan sepatu paling maksimal adalah 0.45 kg.

12 52 Masing-masing nilai penyesuaian untuk seluruh keadaan tersebut dijumlahkan, lalu dibagi dengan 100, dan ditambahkan dengan 1. Dengan demikian diperoleh suatu angka yang akan menjadi nilai P2 yang akan digunakan untuk proses perhitungan penyesuaian selanjutnya. Tabel 4.5 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 7, No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Cukup dekat J 2 5 Peralatan : Dapat ditangani dengan mudah N 0 6 Berat beban (kg) : 0.45 (tangan) B-1 2 Jumlah 5 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.05 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Keterangan : Task 7 dan merupakan kegiatan proses open sehingga diberikan nilai penyesuaian yang sama untuk keempatnya. Anggota badan yang aktif dipakai untuk proses open adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan cukup dekat ke objek. Peralatan yang digunakan adalah peralatan manual seperti cetakan sepatu dari kayu serta lem sehingga mudah ditangani. Berat beban kulit, kain drill, kain keras, dan leather coat yang membentuk badan sepatu paling maksimal adalah 0.45 kg.

13 53 Tabel 4.6 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 8 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Cukup dekat J 2 5 Peralatan : Dapat ditangani dengan mudah N 0 6 Berat beban (kg) : 0.45 (tangan) B-1 2 Jumlah 5 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.05 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Keterangan : Task 8 merupakan kegiatan mengisikan potongan kayu ke bagian tumit dari sol karet. Anggota badan yang aktif dipakai adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan cukup dekat ke objek. Tidak ada peralatan khusus yang digunakan sehingga dianggap mudah ditangani. Berat beban kayu dan karet yang membentuk sol sepatu paling maksimal adalah 0.45 kg. Tabel 4.7 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 17 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Lengan bawah, pergelangan C 2 tangan dan jari 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Konstan dan dekat K 4

14 54 Tabel 4.7 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 17 (lanjutan) No Keadaan Lambang Penyesuaian 5 Peralatan : Dengan sedikit kontrol O 1 6 Berat beban (kg) : 0.45 (tangan) B-1 2 Jumlah 9 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.09 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Task 17 merupakan kegiatan memasang mata ayam ke badan sepatu. Anggota badan yang aktif dipakai adalah lengan bawah, pergelangan tangan, dan jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan konstan dan dekat ke objek karena operator harus memperhatikan jarak pelubangan dan pemasangan mata ayam agar teratur dan rapi. Peralatan yang digunakan adalah alat pelubang yang sekaligus dapat memasang mata ayam sehingga harus ditangani dengan sedikit kontrol dari operator. Berat beban kulit dan kain drill yang membentuk badan sepatu paling maksimal adalah 0.45 kg. Tabel 4.8 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 21 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Cukup dekat J 2 5 Peralatan : Dapat ditangani dengan mudah N 0 6 Berat beban (kg) : 0.45 (tangan) B-1 2 Jumlah 5 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.05 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p

15 55 Keterangan : Task 21 merupakan kegiatan menghaluskan alas badan sepatu dengan menggunakan amplas. Anggota badan yang aktif dipakai adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan cukup dekat ke objek. Peralatan yang digunakan mudah ditangani. Berat beban kulit, kain drill, kain keras, dan leather coat yang membentuk badan sepatu paling maksimal adalah 0.45 kg. Tabel 4.9 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 22 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Cukup dekat J 2 5 Peralatan : Dapat ditangani dengan mudah N 0 6 Berat beban (kg) : 0.45 (tangan) B-1 2 Jumlah 5 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.05 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Keterangan : Task 22 merupakan kegiatan memberikan lem pada bagian alas badan sepatu. Anggota badan yang aktif dipakai adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan cukup dekat ke objek. Peralatan

16 56 yang digunakan mudah ditangani. Berat beban kulit, kain drill, kain keras, dan leather coat yang membentuk badan sepatu paling maksimal adalah 0.45 kg. Tabel 4.10 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 24 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Cukup dekat J 2 5 Peralatan : Dengan sedikit kontrol O 1 6 Berat beban (kg) : 0.90 (tangan) B-2 5 Jumlah 9 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.09 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Keterangan : Task 24 merupakan kegiatan merapikan sepatu dengan menggunakan alat untuk finishing. Anggota badan yang aktif dipakai adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan cukup dekat ke objek. Peralatan yang digunakan adalah alat yang dapat menghasilkan panas untuk merapikan sepatu (misalnya membersihkan benang-benang yang tercerabut, merapikan potongan kulit yang sedikit melebihi pola, dan sebagainya) sehingga memerlukan sedikit kontrol operator. Berat beban sepatu paling maksimal adalah 0.90 kg.

17 57 Tabel 4.11 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 25 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Cukup dekat J 2 5 Peralatan : Dapat ditangani dengan mudah N 0 6 Berat beban (kg) : 0.90 (tangan) B-2 5 Jumlah 8 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.08 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Task 25 merupakan kegiatan memasang tali sepatu. Anggota badan yang aktif dipakai adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan cukup dekat ke objek. Tidak ada peralatan khusus yang digunakan sehingga dianggap mudah ditangani operator. Berat beban sepatu paling maksimal adalah 0.90 kg. Tabel 4.12 Perhitungan Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Task 26 No Keadaan Lambang Penyesuaian 1 Anggota terpakai : Pergelangan tangan dan jari B 1 2 Pedal kaki : Tanpa pedal, atau 1 pedal dengan F 0 sumbu di bawah kaki 3 Penggunaan tangan : Kedua tangan saling bantu H 0 atau bergantian 4 Koordinasi mata dengan tangan : Cukup dekat J 2 5 Peralatan : Dapat ditangani dengan mudah N 0 6 Berat beban (kg) : 0.90 (tangan) B-2 5 Jumlah 8 P2 = (1 + (Jumlah/100)) 1.08 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p

18 58 Keterangan : Task 26 merupakan kegiatan menyemir sepatu agar mengkilap. Anggota badan yang aktif dipakai adalah pergelangan tangan sampai ke jari. Tidak ada pedal kaki yang digunakan. Tangan kiri dan kanan saling membantu dalam melakukan pekerjaan. Koordinasi mata dan tangan cukup dekat ke objek. Peralatan mudah ditangani operator. Berat beban sepatu paling maksimal adalah 0.90 kg. Faktor penyesuaian P1 (kecepatan kerja) untuk seluruh task diberikan nilai yang sama yaitu P1 = 1 (operator bekerja secara normal atau wajar). Nilai ini diberikan dengan alasan operator cukup berpengalaman pada saat bekerja, melaksanakannya tanpa usaha-usaha yang berlebihan sepanjang hari kerja, menguasai cara kerja yang ditetapkan, dan menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaannya. Di samping itu, para operator di PT. Marino Pelita Indonesia terlihat mampu saling menyesuaikan ritme kerja masing-masing dengan ritme kerja rekannya sehingga mereka bekerja dengan irama kecepatan yang kompak dan wajar, tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Setelah nilai penyesuaian P1 dan P2 ditentukan maka di bawah ini akan diringkas mengenai perhitungan faktor penyesuaian secara keseluruhan. Tabel 4.13 Faktor Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Seluruh Task No Task ke P1 P2 Penyesuaian Total (P = P1 x P2) 1 1-9, x 1.09 = , x 1.05 = x 1.05 = 1.05

19 59 Tabel 4.13 Faktor Penyesuaian dengan Metode Objektif untuk Seluruh Task (lanjutan) No Task ke P1 P2 Penyesuaian Total (P = P1 x P2) x 1.09 = x 1.05 = x 1.05 = x 1.09 = x 1.08 = x 1.08 = 1.08 Untuk task 23, operasi secara penuh dilakukan oleh mesin sehingga waktu kerjanya langsung dianggap sebagai waktu normal (tidak perlu ditambahkan faktor penyesuaian). Nilai penyesuaian yang diperoleh untuk semua task berlaku untuk produk PDL (Pakaian Dinas Lapangan) dan PDH (Pakaian Dinas Harian) sehingga pada pembahasan produk PDH tidak perlu lagi dilakukan perhitungan penyesuaian Perhitungan Kelonggaran Untuk mendapatkan waktu baku, perlu ditambahkan suatu persentase kelonggaran terhadap waktu normal. Hal ini dilakukan untuk memberikan semacam toleransi waktu bagi operator karena cara manusia bekerja dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti sikap kerja, gerakan kerja, keadaan lingkungan tempat kerja, dsb. Kelonggaran ini mutlak perlu karena jika tidak diberikan maka para operator tidak akan dapat bekerja dengan baik bahkan hampir dapat dipastikan produktivitasnya menurun.

20 60 Tabel 4.14 Perhitungan Kelonggaran Berdasarkan Faktor-faktor yang Berpengaruh Faktor Kelonggaran (%) A. Tenaga yang Dikeluarkan 1. Dapat diabaikan 1.0 B. Sikap Kerja 1. Duduk 0 C. Gerakan Kerja 1. Normal 0 D. Kelelahan Mata 2. Pandangan yang hampir terus menerus 6.0 E. Keadaan Temperatur Tempat Kerja 5. Tinggi 5.0 F. Keadaan Atmosfer 2. Cukup 0.5 G. Keadaan Lingkungan yang Baik 5. Jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kualitas 0.5 H. Kelonggaran untuk Kebutuhan Pribadi 2. Wanita 2.0 Total Kelonggaran (k) 15.0 Sumber : Teknik Tata Cara Kerja, Sutalaksana, p Keterangan : A. Tenaga yang dikeluarkan : Dapat diabaikan. Operator bekerja di meja, duduk, di mana pekerjaan cenderung lebih menuntut ketrampilan tangan daripada pengeluaran tenaga fisik. B. Sikap kerja : Duduk Operator bekerja sambil duduk di mana posisi kerja tidak mengikat. Operator dapat memilih posisi kerja yang nyaman sambil tetap memperhatikan batasanbatasannya agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. C. Gerakan kerja : Normal

21 61 Tidak ada ketentuan-ketentuan khusus yang membatasi gerakan anggota badan. Anggota badan yang paling banyak bergerak adalah tangan. D. Kelelahan mata : Pandangan yang hampir terus-menerus Operator harus melihat komponen-komponen yang sedang dirakit secara cermat dan teliti agar tidak terjadi banyak kesalahan. Pencahayaan di area produksi kurang memadai. E. Keadaan temperatur tempat kerja : Tinggi Temperatur cukup panas yaitu ºC. F. Keadaan atmosfer : Cukup Ventilasi untuk siklus udara kurang memadai karena tidak adanya cukup jendela untuk mengakses area luar sehingga ruang lantai produksi mengeluarkan bau lembab yang agak mengganggu jika terhirup dalam waktu lama. Ditambah lagi adanya bahan-bahan seperti leather coat dan karet juga kadang menimbulkan bau kurang sedap jika masih dalam lembaran-lembaran besar. G. Keadaan lingkungan yang baik : Jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kualitas Kondisi lingkungan kerja di perusahaan belum dapat dikatakan ergonomis. Dalam kondisi kerja yang cukup memprihatinkan, para pekerja akan cepat mengalami lelah fisik dan cenderung banyak membuat kesalahan dalam melakukan pekerjaannya. H. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi : Wanita

22 62 Operator perakitan terdiri dari pria dan wanita sehingga untuk kelonggaran dipakai faktor untuk wanita karena memerlukan persentase kelonggaran yang lebih besar daripada pria sehingga pria tinggal mengikuti besarnya kelonggaran untuk faktor ini. Nilai kelonggaran berlaku untuk produk PDL (Pakaian Dinas Lapangan) dan PDH (Pakaian Dinas Harian) sehingga pada pembahasan produk PDH tidak perlu lagi dilakukan perhitungan kelonggaran Perhitungan Waktu Baku Untuk mendapatkan waktu baku untuk penyelesaian suatu operasi kerja, waktu proses harus ditambahkan dengan penyesuaian yang telah dihitung sebelumnya sehingga diperoleh waktu normal. Selanjutnya, waktu normal harus ditambahkan dengan kelonggaran yang juga telah dihitung sebelumnya sehingga diperoleh waktu baku. Contoh perhitungan waktu baku untuk task 1 dan 2 adalah sebagai berikut : Task no 1 Waktu proses = 50 detik / 60 = 0.83 menit Wn = Waktu proses (menit) x Penyesuaian = 0.83 x 1.09 = 0.90 menit Wb= Wn x 100% 100% %kelonggaran = 0.90 x 100% = 1.06 menit 100% 15%

23 63 Task no 2 Waktu proses = 1 menit + (10 detik / 60) = 1.17 menit Wn = Waktu proses (menit) x Penyesuaian = 1.17 x 1.09 = 1.28 menit Wb= Wn x = 1.28 x 100% 100% %kelonggaran 100% = 1.51 menit 100% 15% Keterangan : Untuk selanjutnya, Wb akan disebut dengan istilah Ti. Hasil perhitungan waktu baku selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Task no Tabel 4.15 Perhitungan Waktu Baku Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Waktu proses Waktu proses (menit) Lapangan) Penyesuaian Kelonggaran Waktu Normal (Wn) Waktu Baku (Wb) % % % % % % % % % % % % % %

24 64 Task no Tabel 4.15 Perhitungan Waktu Baku Untuk Sebuah Sepatu PDL (lanjutan) Waktu proses Waktu proses (menit) Penyesuaian Kelonggaran Waktu Normal (Wn) Waktu Baku (Wb) % % % % % % % % % % % % Total Precedence Diagram Precedence diagram merupakan gambaran secara grafis dari urutan operasi kerja serta ketergantungan pada operasi kerja lainnya yang tujuannya untuk memudahkan pengontrolan dan perencanaan kegiatan yang terkait di dalamnya. Dengan membuat diagram ini maka dapat diketahui hubungan saling ketergantungan di mana ada beberapa task yang tidak dapat dikerjakan jika task pendahulunya belum diselesaikan. Precedence diagram menggunakan beberapa tanda spesifik yang masing-masing memiliki arti dan manfaat yang berbeda. Simbol lingkaran dengan huruf atau nomor di dalamnya berguna untuk mempermudah identifikasi dari suatu proses operasi. Tanda panah menunjukkan ketergantungan dan urutan proses operasi. Dalam hal ini,

25 65 operasi yang berada pada pangkal panah berarti mendahului operasi yang ada pada ujung panah. Angka di atas simbol lingkaran adalah waktu standar yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap operasi, yaitu waktu baku yang diperoleh dengan mengolah waktu proses dengan menggunakan penyesuaian dan kelonggaran. Waktu baku tersebut dinyatakan dalam satuan menit. Precedence diagram untuk produk PDL terdiri dari 26 buah lingkaran sesuai banyaknya jenis kegiatan untuk merakitnya Diagram 4.1 Precedence Diagram Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan)

26 Lini Perakitan Lama Lini perakitan lama di PT. Marino Pelita Indonesia terdiri dari 12 Work Station (WS) yang mencakup 26 task dengan total waktu menit untuk produk jenis PDL. Yang akan dihitung untuk masing-masing WS adalah Station Time (STi) yang merupakan total waktu operasi (Ti) pada suatu WS, Idle Time (IT) yang merupakan lamanya waktu menganggur di suatu WS, serta Station Efficiency (SE) yang merupakan ukuran efisiensi di suatu WS. Contoh perhitungan untuk WS I dan V adalah sebagai berikut : WS I n STi = Ti i= 1 = = 7.50 menit IT = CT STi = = 4.37 menit STi 7.50 SE = 100 % = 100% = 63.18% CT WS V n STi = Ti i= 1 = = 1.54 menit IT = CT STi = = menit STi 1.54 SE = 100 % = 100% = 12.97% CT Hasil perhitungan untuk WS selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

27 67 Tabel 4.16 Lini Perakitan Lama untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) I % II (CT) % III % IV % V % VI % VII % VIII % IX % X % XI % XII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 42.16% ( k CT )

28 68 k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 57.84% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Line Balancing Sebelum melakukan perhitungan metode line balancing, terlebih dahulu akan dihitung cycle time (CT) dan banyaknya stasiun kerja minimal (k min ) untuk 1 lini perakitan. Jam kerja efektif per hari di PT. Marino Pelita Indonesia adalah 8 jam (jam , dipotong istirahat selama 1 jam), namum jam kerja efektif untuk lini perakitan hanya ± 7 jam. Sisanya digunakan untuk mengeluarkan bahan-bahan dari storage, menunggu output lini fabrikasi yang akan menjadi input lini perakitan, set up mesin molding sebelum mulai dioperasikan, inspeksi, Quality Control, packing untuk output lini perakitan, mengangkut produk jadi ke warehouse, dan antisipasi jika terjadi halhal yang menyebabkan terjadinya gangguan minor pada proses produksi (misalnya breakdown ringan yang dapat diperbaiki dalam waktu singkat). Dengan demikian jam kerja efektif per hari untuk lini perakitan hanya ± 87,5 % dari total jam kerja efektif per hari. Kapasitas produksi per hari untuk 1 lini produksi adalah 35 pasang sepatu. Jumlah ini sama baik untuk sepatu jenis PDL maupun PDH.

29 69 Dari keterangan di atas dapat dihitung CT dan k min untuk usulan lini perakitan yang baru sebagai berikut : CT = (jam kerja efektif per hari x 60 menit) / kapasitas produksi per hari 7 60 = = 12menit 35 k min = n Ti = = = WS CT 12 i Dari hasil tersebut maka alokasi task di tiap WS lini perakitan usulan tidak boleh melebihi 12 menit. Banyaknya stasiun kerja tidak boleh kurang dari 6 buah WS Aturan Largest Candidate Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, terlebih dahulu harus diurutkan waktu operasi mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil. Untuk jenis PDL, waktu terbesar terdapat pada task 23 yaitu sebesar menit sehingga diletakkan pada urutan pertama. Demikian seterusnya hingga terakhir adalah task 8 dengan waktu terkecil yaitu 0.21 menit. Untuk menugaskan task-task ke dalam WS, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, dari tabel pengurutan waktu operasi dapat dilihat task mana yang memiliki waktu terbesar. Periksa apakah task tersebut memenuhi precedence constraints. Jika ya, tugaskan. Jika tidak, telusuri lagi dari atas, task manakah yang dapat ditugaskan. Lakukan prosedur tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi.

30 70 Tabel 4.17 Pengurutan Waktu Operasi (Ti) Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Rank Task no Ti Rank Task no Ti Rank Task no Ti Setelah dilakukan pengurutan waktu operasi, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = = 6.03 menit IT = CT STi = = 5.97 menit STi 6.03 SE = 100 % = 100% = 50.25% CT WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.81 menit

31 71 STi SE = 100 % = 100% = 84.92% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.18 Line Balancing Dengan Aturan Largest Candidate Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) I (CT) % II % III % IV % V % VI % VII % Total

32 72 Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 71.49% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 28.51% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Ranked Positional Weights (RPW) atau Metode Helgesson Birnie Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, terlebih dahulu harus diurutkan bobot posisi mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil. Bobot posisi diperoleh dengan menjumlahkan waktu operasi untuk suatu task dengan waktu operasi task-task yang mengikutinya. Untuk jenis PDL, bobot posisi terbesar terdapat pada task 1 yaitu sebesar sehingga diletakkan pada urutan pertama. Demikian seterusnya hingga terakhir adalah task 26 dengan bobot terkecil yaitu Untuk menugaskan task-task ke dalam WS, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, dari tabel pengurutan bobot posisi dapat dilihat task mana yang memiliki bobot terbesar. Periksa apakah task tersebut memenuhi precedence constraints. Jika ya, tugaskan. Jika tidak, telusuri lagi dari atas, task manakah yang

33 73 dapat ditugaskan. Lakukan prosedur tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi. Tabel 4.19 Pengurutan Bobot Posisi Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Rank Task no Bobot Posisi Rank Task no Bobot Posisi Setelah dilakukan pengurutan bobot posisi, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS IV dan VII adalah sebagai berikut : WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.80 menit STi SE = 100 % = 100% = 84.99% CT 11.99

34 74 WS VII n STi = Ti i= 1 = = 5.42 menit IT = CT STi = = 6.57 menit STi 5.42 SE = 100 % = 100% = 45.20% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.20 Line Balancing Dengan Metode Ranked Positional Weights Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Work Station (WS) I II Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) (CT) % %

35 75 Tabel 4.20 Line Balancing Dengan Metode Ranked Positional Weights Untuk Sebuah Sepatu PDL (lanjutan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) III % IV % V % VI % VII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 71.55% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 28.45% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Kilbridge Wester Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, task-task pada precedence diagram harus dikelompokkan terlebih dahulu ke dalam kolom-kolom. Apabila ada task yang dapat ditempatkan pada lebih dari 1 kolom maka diletakkan

36 76 pada semua kolom yang mungkin. Untuk tiap kolom, prioritaskan task dengan waktu operasi terbesar. Sebagai misal, untuk produk PDL, kolom I ditempati task 1-8, namun yang mendapat prioritas utama untuk ditugaskan adalah task 7 karena memiliki waktu terbesar yaitu 5.46 menit. Penugasan ke dalam WS dimulai dari kolom paling kiri. Tugaskan task dengan cara tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII XVIII XIX Diagram 4.2 Pembagian Task ke Dalam Kolom Menurut Metode Kilbridge Wester Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan)

37 77 Tabel 4.21 Pengelompokan Task Berdasarkan Kolom Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Kolom Task no Kolom Task no I 7, 2, 3, 5, 6, 1, 4, 8 XI 7, 18, 8 II 7, 2, 3, 5, 6, 4, 9, 8 XII 7, 19, 8 III 7, 10, 3, 5, 6, 4, 8 XIII 20, 8 IV 7, 11, 5, 6, 4, 8 XIV 21, 8 V 7, 5, 6, 12, 8 XV 22, 8 VI 7, 13, 5, 6, 8 XVI 23 VII 7, 14, 5, 6, 8 XVII 24 VIII 7, 15, 6, 8 XVIII 25 IX 7, 16, 8 XIX 26 X 7, 17, 8 Setelah dilakukan pengelompokan task ke dalam kolom, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = = 6.03 menit IT = CT STi = = 5.97 menit STi 6.03 SE = 100 % = 100% = 50.25% CT WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.81 menit

38 78 STi SE = 100 % = 100% = 84.92% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.22 Line Balancing Dengan Metode Kilbridge Wester Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) I (CT) % II % III % IV % V % VI % VII % Total

39 79 Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 71.49% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 28.51% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Moodie Young Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, terlebih dahulu harus dibuat suatu matriks kegiatan pendahulu (P) dan pengikut (F) di mana banyaknya kolom untuk masing-masing kegiatan P atau F disesuaikan dengan precedence diagram. Untuk produk PDL hanya ada 2 percabangan task sehingga kolom P dan F dibagi menjadi 2. Apabila tidak ada task pendahulu maupun pengikut maka disimbolkan dengan angka nol, sebaliknya jika ada maka disimbolkan dengan nomor task yang bersangkutan. Untuk penugasan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, dari tabel matriks P dan F, pilih yang nilai P-nya nol semua. Jika ada lebih dari 1 task yang nilai P-nya nol semua maka pilih task dengan waktu terbesar. Lanjutkan task yang telah dipilih ke task pengikutnya. Apabila ada task pengikut yang salah satu task pendahulunya belum ditugaskan maka kembali menelusuri task yang nilai P-nya nol

40 80 semua. Lakukan prosedur tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi. Tabel 4.23 Matriks Kegiatan Pendahulu dan Pengikut Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Task no Matriks Kegiatan Pendahulu (P) Ti Matriks Kegiatan Pengikut (F) Setelah dilakukan pembuatan matriks kegiatan pendahulu dan pengikut, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time

41 81 (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = = 6.03 menit IT = CT STi = = 5.97 menit STi 6.03 SE = 100 % = 100% = 50.25% CT WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.81 menit STi SE = 100 % = 100% = 84.92% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.24 Line Balancing Dengan Metode Moodie Young Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Work Station (WS) I Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) (CT) %

42 82 Tabel 4.24 Line Balancing Dengan Metode Moodie Young Untuk Sebuah Sepatu PDL (lanjutan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) II % III % IV % V % VI % VII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 71.49% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 28.51% ( k CT ) ( )

43 83 SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Region Approach Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, task-task pada precedence diagram harus dikelompokkan terlebih dahulu ke dalam region-region. Usahakan untuk menempatkan task ke ujung paling kanan sebisa mungkin. Task yang berada pada region paling kiri mendapat prioritas utama untuk ditugaskan, lalu dilanjutkan ke kanan. Apabila ada region yang berisi lebih dari 1 task, prioritaskan task dengan waktu operasi terbesar. Sebagai misal, untuk produk PDL, region II ditempati task 2 dan 9, yang mendapat prioritas utama untuk ditugaskan adalah task 2 karena memiliki waktu yang lebih besar yaitu 1.51 menit, sementara task 9 waktunya hanya 0.65 menit. Tugaskan task dengan cara tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi. Dengan demikian metode ini berusaha membebankan terlebih dahulu pada task yang memiliki tanggung jawab keterdahuluan yang besar, serta memperhatikan besarnya waktu operasi sehingga task dengan waktu lama mendapat prioritas penugasan dibandingkan task yang waktunya lebih sebentar dalam region yang sama selama precedence constraint masih terpenuhi. Untuk produk PDL, precedence diagram-nya dibagi ke dalam 19 region.

44 I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII XVIII XIX Diagram 4.3 Pembagian Task ke Dalam Region Menurut Metode Region Approach Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Tabel 4.25 Pengelompokan Task Berdasarkan Region Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Region Task no Ti Region Task no Ti I IX II X XI III XII IV XIII XIV V XV VI VII XVI XVII VIII XVIII XIX

45 85 Setelah dilakukan pengelompokan task ke dalam region, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS IV dan VII adalah sebagai berikut : WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.80 menit STi SE = 100 % = 100% = 84.99% CT WS VII n STi = Ti i= 1 = = 5.42 menit IT = CT STi = = 6.57 menit STi 5.42 SE = 100 % = 100% = 45.20% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.26 Line Balancing Dengan Metode Region Approach Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Work Station (WS) I Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) (CT) %

46 86 Tabel 4.26 Line Balancing Dengan Metode Region Approach Untuk Sebuah Sepatu PDL (lanjutan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) II % III % IV % V % VI % VII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 71.55% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 28.45% ( k CT ) ( )

47 87 SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Pemilihan Hasil Metode Line Balancing Dari 5 metode yang digunakan dalam line balancing untuk produk sepatu jenis PDL (Pakaian Dinas Lapangan), ternyata hanya menghasilkan 2 macam pemecahan. Aturan Largest Candidate, metode Kilbridge Wester, dan Moodie Young memberikan hasil yang sama (selanjutnya akan disebut hasil I). Metode Ranked Positional Weights dan Region Approach memberikan hasil yang sama (selanjutnya akan disebut hasil II). Hasil-hasil tersebut akan dirangkum sebagai berikut : Tabel 4.27 Ringkasan Hasil Metode Line Balancing Untuk Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Hasil Jumlah Work Station (WS) Cycle Time (menit) Line Efficiency Balance Delay Total Idle Time (menit) Smoothness Index Hasil I (WS I) % % Hasil II (WS I) % % Kedua hasil tersebut memberikan jumlah Work Station (WS) yang sama yaitu sebanyak 7 WS. Nilai Line Efficiency (LE) dan Balance Delay (BD) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan karena Cycle Time (CT) hanya berbeda 0.01 menit atau 0.6 detik di mana CT untuk kedua hasil juga sama-sama terletak pada WS I sebagai WS dengan waktu terlama. Hasil II memberikan LE lebih tinggi hanya sebesar 0.06 % sehingga ukuran-ukuran ini kurang bisa dijadikan patokan pemilihan hasil. Total Idle Time (IT) juga tidak banyak berbeda. Hasil I mempunyai IT lebih

48 88 besar sebanyak 0.07 menit atau 4.2 detik. Smoothness Index (SI) hasil I lebih baik daripada hasil II dengan selisih Hal ini disebabkan waktu-waktu idle hasil I terdistribusi lebih merata ke WS-WS yang ada walaupun sebenarnya total IT-nya lebih besar dari hasil II. Sebaliknya hasil II mempunyai SI lebih buruk daripada hasil I karena IT di WS III lebih besar dari hasil I dengan perbedaan cukup banyak, apalagi setelah dikuadratkan. Dengan demikian kelancaran relatif hasil I lebih baik dibandingkan hasil II. Tabel 4.28 Ringkasan Hasil Alokasi Task Untuk Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Hasil WS I WS II WS III WS IV WS V WS VI WS VII Hasil I 1-3, 5-7 4, Hasil II 1-4, , 8, WS = Work Station Di samping melihat ukuran-ukuran yang nilainya telah dirangkum di atas, untuk menentukan hasil mana yang akan dipilih, sebaiknya juga dilihat alokasi task untuk tiap WS. Perbedaan alokasi task pada hasil I dan II terletak pada WS I, II, III, sedangkan untuk WS IV VII adalah sama. Pada hasil I, task 16 ditugaskan pada WS III, padahal task ini dikerjakan dengan bantuan mesin jahit sehingga jika hasil ini diterapkan maka kurang menguntungkan bagi perusahaan karena pada lini perakitan lama, perusahaan hanya mempunyai 2 WS jahit. Jika pada WS III masih ada task jahit artinya perusahaan harus menambah 1 mesin jahit lagi sehingga total ada 3 mesin jahit untuk lini tersebut. Meskipun mesin jahit adalah mesin skala kecil yang masih memungkinkan untuk ditambah (tidak seperti mesin molding yang merupakan

49 89 mesin berat yang tidak memungkinkan untuk ditambah kecuali jika perusahaan ingin memperbesar kapasitas produksi atau menambah jumlah lini), tapi demi alasan ekonomis hal ini sedapat mungkin dihindari kecuali jika tidak ada alternatif lain. Hasil II memberikan alokasi task yang lebih baik yaitu proses-proses jahit ditugaskan pada WS I dan II saja seperti pada lini perakitan lama. Dengan melihat ukuran-ukuran LE, BD, SI, total IT yang tidak menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok untuk kedua hasil tersebut, maka yang dijadikan dasar pemilihan hasil adalah alokasi task seperti yang telah diuraikan di atas. Dengan demikian hasil yang dipilih adalah hasil II sebagai pemecahan dari metode Ranked Positional Weights dan Region Approach Penyeimbangan Lini Perakitan Untuk Produk Sepatu Jenis PDH (Pakaian Dinas Harian) Struktur Produk Seperti produk jenis PDL, untuk pembahasan produk jenis PDH ini pun akan diawali dengan pembuatan struktur produk yang ditampilkan dalam bentuk gambar. Secara garis besar struktur produk PDH adalah sama dengan PDL, yaitu terdiri dari 16 level keseluruhan yaitu dari level 0 sampai level 15. Perbedaan terletak pada kuantitas komponen nomor 35, dengan kode MA yaitu mata ayam. Untuk PDH, kuantitasnya lebih sedikit daripada PDL yaitu hanya 10 buah. Jenis-jenis material penyusun produk PDH pun sama dengan PDL.

50 90 Nama Objek : Sepatu Militer PDH Dipetakan Oleh : Priscilla Selly Tanggal Dipetakan : 19 April 2007 Cara Pemetaan : Explosion Struktur Produk Sekarang Usulan Sepatu A A12 SA TS A11 SA7 KY KS A10 KEJ KAL LC.4 5 A KET.5 6 A MA A SA A6 SA5 KJ DJ A5 KDKA KDD DDD.9 10 A KDKI A SA A2 SA3 KAT DAT A SA2 KSKA 23 1 DSKA SA1 KB KSKI DSKI KT DT 1.15 Gambar 4.3 Struktur Produk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Kode-kode yang tercantum dalam struktur produk di atas akan diuraikan artinya pada Bill Of Material.

51 Bill Of Material (BOM) Kode-kode yang tercantum pada struktur produk akan diuraikan artinya dalam Bill Of Material (BOM). Unsur-unsur yang terdapat pada struktur produk dijabarkan dalam bentuk daftar tabel sehingga dapat lebih jelas. Tabel 4.29 Bill Of Material (BOM) Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) No Komponen Level Deskripsi Kode Jumlah BOM UOM 1 1 Assembly 13 A13 1 Each 2.2 Assembly 12 A12 1 Each 3..3 Assembly 11 A11 1 Each 4 4 Assembly 10 A10 1 Each 5.5 Assembly 9 A9 1 Each 6..6 Assembly 8 A8 1 Each 7 7 Assembly 7 A7 1 Each 8.8 Assembly 6 A6 1 Each 9..9 Assembly 5 A5 1 Each Assembly 4 A4 1 Each Assembly 3 A3 1 Each Assembly 2 A2 1 Each Assembly 1 A1 1 Each Subassembly 1 SA1 1 Each Kulit bagian tumit KT 1 Each Kain drill bagian tumit DT 1 Each Kulit bagian belakang KB 1 Each Subassembly 2 SA2 1 Each Kulit bagian samping kiri KSKI 1 Each Kain drill bagian samping DSKI 1 Each kiri Subassembly 3 SA3 1 Each Kulit bagian samping KSKA 1 Each kanan Kain drill bagian samping DSKA 1 Each kanan Subassembly 4 SA4 1 Each Kulit bagian atas KAT 1 Each Kain drill bagian atas DAT 1 Each

52 92 No Komponen Tabel 4.29 Bill Of Material (BOM) Sebuah Sepatu PDH (lanjutan) Level Deskripsi Kode Jumlah BOM UOM Kulit bagian depan kiri KDKI 1 Each Kulit bagian depan kanan KDKA 1 Each 29.8 Subassembly 5 SA5 1 Each Kulit bagian depan dalam KDD 1 Each Kain drill bagian depan DDD 1 Each dalam 32 7 Subassembly 6 SA6 1 Each 33.8 Kulit bagian jari KJ 1 Each 34.8 Kain drill bagian jari DJ 1 Each Mata ayam MA 10 Each 36.5 Kain keras bagian tumit KET 1 Each 37 4 Kain keras bagian jari KEJ 1 Each Subassembly 7 SA7 1 Each 39 4 Kulit bagian alas KAL 1 Each 40 4 Leather coat bagian alas LC 1 Each 41.2 Subassembly 8 SA8 1 Each Kayu pengisi sol bagian KY 1 Each tumit Karet sol KS 1 Each 44 1 Tali sepatu TS 1 Each Perhitungan Waktu Baku Waktu proses keseluruhan untuk produk PDH lebih singkat daripada PDL. Sebelum dipakai untuk perhitungan keseimbangan lini, data waktu proses terlebih dahulu akan diolah dengan menggunakan penyesuaian dan kelonggaran yang telah dihitung sebelumnya pada bagian PDL agar diperoleh waktu normal dan akhirnya waktu baku untuk tiap-tiap task. Contoh perhitungan waktu baku untuk task 15 dan 17 adalah sebagai berikut :

53 93 Task no 15 Waktu proses = 55 detik / 60 = 0.92 menit Wn = Waktu proses (menit) x Penyesuaian = 0.92 x 1.09 = 1.00 menit Wb= Wn x = 1.00 x 100% 100% %kelonggaran 100% = 1.18 menit 100% 15% Task no 17 Waktu proses = 1 menit + (15 detik / 60) = 1.25 menit Wn = Waktu proses (menit) x Penyesuaian = 1.25 x 1.09 = 1.36 menit Wb= Wn x = 1.36 x 100% 100% %kelonggaran 100% = 1.60 menit 100% 15% Hasil perhitungan waktu baku selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Task no Tabel 4.30 Perhitungan Waktu Baku Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Waktu proses Waktu proses (menit) Harian) Penyesuaian Kelonggaran Waktu Normal (Wn) Waktu Baku (Wb) % % %

54 94 Task no Tabel 4.30 Perhitungan Waktu Baku Untuk Sebuah Sepatu PDH (lanjutan) Waktu proses Waktu proses (menit) Penyesuaian Kelonggaran Waktu Normal (Wn) Waktu Baku (Wb) % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % Total Precedence Diagram Bentuk precedence diagram untuk produk PDH sama persis dengan PDL karena urutan kegiatan operasi perakitannya juga sama. Yang membedakan adalah waktu untuk beberapa task lebih singkat daripada PDL.

55 Diagram 4.4 Precedence Diagram Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Lini Perakitan Lama Sama seperti produk PDL, lini perakitan lama di PT. Marino Pelita Indonesia untuk produk PDH terdiri dari 12 Work Station (WS) yang mencakup 26 task di mana alokasi task di tiap WS juga sama. Yang berbeda adalah total waktunya yaitu menit untuk produk jenis PDH. Yang akan dihitung untuk masing-masing WS adalah Station Time (STi) yang merupakan total waktu operasi (Ti) pada suatu WS, Idle Time (IT) yang merupakan lamanya waktu menganggur di suatu WS, serta Station

56 96 Efficiency (SE) yang merupakan ukuran efisiensi di suatu WS. Contoh perhitungan untuk WS I dan V adalah sebagai berikut : WS I n STi = Ti i= 1 = = 6.82 menit IT = CT STi = = 4.36 menit STi 6.82 SE = 100 % = 100% = 61.00% CT WS V n STi = Ti i= 1 = = 1.54 menit IT = CT STi = = 9.64 menit STi 1.54 SE = 100 % = 100% = 13.77% CT Hasil perhitungan untuk WS selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.31 Lini Perakitan Lama Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Work Station (WS) I II Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) % %

57 97 Work Station (WS) Tabel 4.31 Lini Perakitan Lama Untuk Sebuah Sepatu PDH (lanjutan) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) III % IV % Station Efficiency (SE) V % VI % VII % VIII % IX % X (CT) % XI % XII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 42.19% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 57.81% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = 25.82

58 Line Balancing Sebelum melakukan perhitungan metode line balancing, terlebih dahulu akan dihitung cycle time (CT) dan banyaknya stasiun kerja minimal (k min ) untuk 1 lini perakitan. CT = (jam kerja efektif per hari x 60 menit) / kapasitas produksi per hari 7 60 = = 12menit 35 k min = n i=1 CT Ti = = WS 12 Dari hasil tersebut maka alokasi task di tiap WS lini perakitan usulan tidak boleh melebihi 12 menit. Banyaknya stasiun kerja tidak boleh kurang dari 5 buah WS Aturan Largest Candidate Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, terlebih dahulu harus diurutkan waktu operasi mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil. Untuk jenis PDH, waktu terbesar terdapat pada task 23 yaitu sebesar menit sehingga diletakkan pada urutan pertama. Demikian seterusnya hingga terakhir adalah task 8 dengan waktu terkecil yaitu 0.21 menit. Waktu terbesar dan terkecil adalah sama dengan PDL, tetapi urutan waktu yang lainnya terdapat sedikit perbedaan. Cara penugasan task-task ke dalam WS sama dengan yang telah diuraikan pada pembahasan produk PDL.

59 99 Tabel 4.32 Pengurutan Waktu Operasi (Ti) Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Rank Task no Ti Rank Task no Ti Rank Task no Ti Setelah dilakukan pengurutan waktu operasi, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = = 3.14 menit IT = CT STi = = 8.83 menit STi 3.14 SE = 100 % = 100% = 26.23% CT WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.78 menit

60 100 STi SE = 100 % = 100% = 85.13% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.33 Line Balancing Dengan Aturan Largest Candidate Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) I (CT) % II % III % IV % V % VI % VII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) :

61 101 k STi i = LE = 100% = 100% = 67.55% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 32.45% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Ranked Positional Weights (RPW) atau Metode Helgesson Birnie Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, terlebih dahulu harus diurutkan bobot posisi mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil. Bobot posisi diperoleh dengan menjumlahkan waktu operasi untuk suatu task dengan waktu operasi task-task yang mengikutinya. Untuk jenis PDH, bobot posisi terbesar terdapat pada task 1 yaitu sebesar sehingga diletakkan pada urutan pertama. Demikian seterusnya hingga terakhir adalah task 26 dengan bobot terkecil yaitu Untuk menugaskan task-task ke dalam WS, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, dari tabel pengurutan bobot posisi dapat dilihat task mana yang memiliki bobot terbesar. Periksa apakah task tersebut memenuhi precedence constraints. Jika ya, tugaskan. Jika tidak, telusuri lagi dari atas, task manakah yang dapat ditugaskan. Lakukan prosedur tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi.

62 102 Tabel 4.34 Pengurutan Bobot Posisi untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Rank Task no Bobot Posisi Rank Task no Bobot Posisi Setelah dilakukan pengurutan bobot posisi, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan STi, IT, SE yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = = 3.14 menit IT = CT STi = = 8.80 menit STi 3.14 SE = 100 % = 100% = 26.30% CT WS IV n STi = Ti = = menit i= 1

63 103 IT = CT STi = = 1.75 menit STi SE = 100 % = 100% = 85.34% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.35 Line Balancing Dengan Metode Ranked Positional Weights Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) I (CT) % II % III % IV % V % VI % VII % Total

64 104 Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 67.72% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 32.28% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Kilbridge Wester Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, task-task pada precedence diagram harus dikelompokkan terlebih dahulu ke dalam kolom-kolom. Apabila ada task yang dapat ditempatkan pada lebih dari 1 kolom maka diletakkan pada semua kolom yang mungkin. Untuk tiap kolom, prioritaskan task dengan waktu operasi terbesar. Sebagai misal, untuk produk PDH, kolom I ditempati task 1-8, namun yang mendapat prioritas utama untuk ditugaskan adalah task 7 karena memiliki waktu terbesar yaitu 5.46 menit. Penugasan ke dalam WS dimulai dari kolom paling kiri. Tugaskan task dengan cara tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi. Seperti produk PDL, precedence diagram untuk produk PDH juga dibagi ke dalam 19 kolom.

65 I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII XVIII XIX Diagram 4.5 Pembagian Task ke Dalam Kolom Menurut Metode Kilbridge Wester Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Tabel 4.36 Pengelompokan Task Berdasarkan Kolom Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Kolom Task no Kolom Task no I 7, 2, 3, 6, 1, 5, 4, 8 XI 7, 18, 8 II 7, 2, 3, 6, 5, 4, 9, 8 XII 7, 19, 8 III 7, 10, 3, 6, 5, 4, 8 XIII 20, 8 IV 7, 11, 6, 5, 4, 8 XIV 21, 8 V 7, 6, 5, 12, 8 XV 22, 8 VI 7, 13, 6, 5, 8 XVI 23 VII 7, 14, 6, 5, 8 XVII 24 VIII 7, 6, 15, 8 XVIII 25 IX 7, 16, 8 XIX 26 X 7, 17, 8

66 106 Setelah dilakukan pengelompokan task ke dalam kolom, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = = 3.14 menit IT = CT STi = = 8.62 menit STi 3.14 SE = 100 % = 100% = 26.70% CT WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.57 menit STi SE = 100 % = 100% = 86.65% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.37 Line Balancing Dengan Metode Kilbridge Wester Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Work Station (WS) I Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) %

67 107 Tabel 4.37 Line Balancing Dengan Metode Kilbridge Wester Untuk Sebuah Sepatu PDH (lanjutan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) II (CT) % III % IV % V % VI % VII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 68.76% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 31.24% ( k CT ) ( )

68 108 SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Moodie Young Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, terlebih dahulu harus dibuat suatu matriks kegiatan pendahulu (P) dan pengikut (F) di mana banyaknya kolom untuk masing-masing kegiatan P atau F disesuaikan dengan precedence diagram. Untuk produk PDH juga sama seperti PDL yaitu hanya ada 2 percabangan task sehingga kolom P dan F dibagi menjadi 2. Cara penugasan task-task ke dalam WS sama dengan yang telah diuraikan pada pembahasan produk PDL. Tabel 4.38 Matriks Kegiatan Pendahulu dan Pengikut Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Task no Matriks Kegiatan Pendahulu (P) Ti Matriks Kegiatan Pengikut (F)

69 109 Tabel 4.38 Matriks Kegiatan Pendahulu dan Pengikut Untuk Sebuah Sepatu PDH (lanjutan) Task no Matriks Kegiatan Pendahulu (P) Ti Matriks Kegiatan Pengikut (F) Setelah dilakukan pembuatan matriks kegiatan pendahulu dan pengikut, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = = 3.14 menit IT = CT STi = = 8.83 menit STi 3.14 SE = 100 % = 100% = 26.23% CT WS IV n STi = Ti = = menit i= 1

70 110 IT = CT STi = = 1.78 menit STi SE = 100 % = 100% = 85.13% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.39 Line Balancing Dengan Metode Moodie Young Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) I (CT) % II % III % IV % V % VI % VII % Total

71 111 Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 67.55% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 32.45% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Metode Region Approach Sebelum melakukan penyeimbangan lini dengan metode ini, task-task pada precedence diagram harus dikelompokkan terlebih dahulu ke dalam region-region. Usahakan untuk menempatkan task ke ujung paling kanan sebisa mungkin. Task yang berada pada region paling kiri mendapat prioritas utama untuk ditugaskan, lalu dilanjutkan ke kanan. Apabila ada region yang berisi lebih dari 1 task, prioritaskan task dengan waktu operasi terbesar. Sebagai misal, untuk produk PDH, region II ditempati task 2 dan 9, yang mendapat prioritas utama untuk ditugaskan adalah task 2 karena memiliki waktu yang lebih besar yaitu 1.28 menit, sementara task 9 waktunya hanya 0.65 menit. Tugaskan task dengan cara tersebut sampai Station Time (STi) sama dengan atau mendekati Cycle Time (CT) teoritis, tapi tidak boleh melebihi. Dengan demikian metode ini berusaha membebankan terlebih dahulu pada task yang memiliki tanggung jawab keterdahuluan yang besar, serta memperhatikan

72 112 besarnya waktu operasi sehingga task dengan waktu lama mendapat prioritas penugasan dibandingkan task yang waktunya lebih sebentar dalam region yang sama selama precedence constraint masih terpenuhi. Seperti pada produk PDL, untuk produk PDH precedence diagram-nya juga dibagi ke dalam 19 region I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII XVIII XIX Diagram 4.6 Pembagian Task ke Dalam Region Menurut Metode Region Approach Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian)

73 113 Tabel 4.40 Pengelompokan Task Berdasarkan Region Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Region Task no Ti Region Task no Ti I IX II X XI III XII IV XIII XIV V XV VI VII XVI XVII VIII XVIII XIX Setelah dilakukan pengelompokan task ke dalam region, barulah line balancing dapat dilaksanakan. Contoh perhitungan Station Time (STi), Idle Time (IT), Station Efficiency (SE) yang diperoleh setelah line balancing dilakukan untuk WS III dan IV adalah sebagai berikut : WS III n STi = Ti i= 1 = 5.46 menit IT = CT STi = = 6.48 menit STi 5.46 SE = 100 % = 100% = 45.73% CT 11.94

74 114 WS IV n STi = Ti i= 1 = = menit IT = CT STi = = 1.75 menit STi SE = 100 % = 100% = 85.34% CT Hasil line balancing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.41 Line Balancing Dengan Metode Region Approach Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) I (CT) % II % III %

75 115 Tabel 4.41 Line Balancing Dengan Metode Region Approach Untuk Sebuah Sepatu PDH (lanjutan) Work Station (WS) Task no Ti (menit) STi (menit) Idle Time (IT) Station Efficiency (SE) IV % V % VI % VII % Total Perhitungan Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), Smoothness Index (SI) : k STi i = LE = 100% = 100% = 67.72% ( k CT ) k ( k CT ) STi i = 1 ( ) BD = 100% = 100% = 32.28% ( k CT ) ( ) SI = k i= 1 ( CT STi) = ( ) = = Pemilihan Hasil Metode Line Balancing Dari 5 metode yang digunakan dalam line balancing untuk produk sepatu jenis PDH (Pakaian Dinas Harian), ternyata menghasilkan 4 macam pemecahan. Aturan Largest Candidate dan metode Moodie Young memberikan hasil I. Metode Ranked Positional Weights memberikan hasil II. Metode Kibridge Wester memberikan hasil

76 116 III. Metode Region Approach memberikan hasil IV. Hasil-hasil tersebut akan dirangkum sebagai berikut : Tabel 4.42 Ringkasan Hasil Metode Line Balancing Untuk Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Hasil Jumlah Work Station (WS) Cycle Time (menit) Line Efficiency Balance Delay Total Idle Time (menit) Smoothness Index Hasil I (WS I) % % Hasil II (WS I) % % Hasil III (WS II) % % Hasil IV (WS I) % % Keempat hasil tersebut memberikan jumlah Work Station (WS) yang sama yaitu sebanyak 7 WS. Dari ukuran-ukuran di atas, langsung terlihat bahwa hasil I adalah yang terburuk untuk semua ukuran sehingga jika dilihat dari aspek nilai-nilai ukuran tersebut, maka hasil I dapat dikeluarkan dari pertimbangan perbandingan hasil. Hasil II dan IV mempunyai nilai yang mirip, hanya saja nilai Smoothness Index (SI) hasil IV lebih baik dari hasil II sehingga hasil IV lah yang selanjutnya akan dibandingkan dengan hasil III. Hasil III memberikan nilai paling baik dibandingkan semua hasil, kecuali untuk nilai SI. Nilai Line Efficiency (LE) adalah yang tertinggi yaitu sebesar %, dengan selisih 1.04 % dari hasil IV. Hal ini disebabkan hasil III mempunyai Cycle Time (CT) terkecil daripada hasil IV dengan selisih 0.18 menit atau 10.8 detik. Berbeda dengan hasil-hasil lain di mana CT terletak pada WS I, CT pada hasil III terletak pada WS II sebagai WS dengan waktu terlama. Karena nilai LE dan Balance Delay (BD) selalu berpasangan, maka secara otomatis nilai BD hasil III adalah yang

77 117 terbaik pula. Hasil III mempunyai total Idle Time (IT) terkecil, tetapi IT pada WS III untuk hasil III lebih besar dibandingkan IT pada WS III untuk hasil IV dengan selisih cukup banyak, apalagi setelah dikuadratkan. Oleh karena itu SI hasil III lebih buruk daripada hasil IV. Tabel 4.43 Ringkasan Hasil Alokasi Task Untuk Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Hasil WS I WS II WS III WS IV WS V WS VI WS VII Hasil I 1-3, 5-7, 9 4, 8, Hasil II 1-5, , Hasil III 1-3, 5-8 4, Hasil IV 1-5, , 8, WS = Work Station Selain ditinjau dari nilai-nilai ukuran di atas, pemilihan hasil juga ditentukan oleh tinjauan alokasi task untuk tiap-tiap WS. Dalam hal ini harus diperhatikan pula alokasi task untuk lini perakitan usulan untuk produk PDL (Pakaian Dinas Lapangan). Dari hasil metode line balancing untuk produk PDL dan PDH, semuanya memberikan hasil pembagian lini ke dalam 7 WS. Hal ini tentunya akan memudahkan implementasinya, apalagi alokasi task untuk WS IV VII adalah sama. Untuk itu akan dicari hasil pemecahan yang memberikan alokasi task yang sedapat mungkin sama untuk kedua produk agar operator yang ditugaskan pada masingmasing WS tidak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri untuk produksi jenis yang berbeda. Jika terdapat perbedaan mencolok dalam alokasi task untuk kedua produk ini maka akan menyulitkan perusahaan dan penerapannya menjadi tidak feasible.

78 118 Dalam penyusunan skripsi ini, pemilihan hasil metode line balancing untuk kedua produk (PDL dan PDH) dilakukan secara bersamaan agar dapat dibandingkan mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing hasil serta kemudahan implementasinya. Pada bagian pembahasan PDL telah disebutkan bahwa hasil metode line balancing yang dipilih untuk produk PDL adalah hasil II di mana WS III berisi task 7. Untuk produk PDH, alokasi task untuk hasil I IV hanya berbeda pada WS I, II, III, sedangkan pada WS IV VII tidak ada perbedaan. Namun hasil I, II, III mengalokasikan task 17, 18, 19 pada WS III, dan hanya hasil IV yang mengalokasikan task 7 pada WS III. Apabila terjadi perbedaan task yang signifikan seperti ini maka operator yang menangani WS III akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dengan task yang biasa dikerjakannya pada lini perakitan PDL. Operator harus mengganti kerutinan kerjanya secara total serta menyesuaikan diri dengan jenis task dan waktu operasi yang baru. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka diputuskan untuk memilih hasil IV sebagai pemecahan dari metode Region Approach. Meskipun dari segi nilai Line Efficiency (LE), Balance Delay (BD), dan total Idle Time (IT) lebih buruk dari hasil III, tetapi hasil IV unggul dalam nilai Smoothness Index (SI) serta kemudahan implementasi ditinjau dari alokasi task di masing-masing WS. Setelah dilakukan pemilihan hasil metode yang dirasa paling feasible untuk diimplementasikan bagi masing-masing jenis produk (PDL dan PDH), maka langkah selanjutnya adalah membandingkannya dengan lini lama dan melihat apakah konsep

79 119 pembaruan tersebut dapat benar-benar memberikan perbaikan bagi lini perakitan perusahaan. 4.3 Analisa Hasil Analisa Perbandingan Performance Lini Perakitan Lama dan Usulan Hasil line balancing yang telah dipilih sebelumnya akan dibandingkan dengan lini perakitan lama. Untuk memudahkan, di bawah ini disajikan gambar susunan Work Station (WS) pada lini lama dan usulan. Lini lama hanya terdiri dari satu gambar karena alokasi task untuk produk PDL maupun PDH adalah sama. Sedangkan lini usulan terdiri dari 2 gambar karena terdapat sedikit perbedaan untuk alokasi task untuk PDL dan PDH. I 1,2,3, 4,5,6 II 9,10,11,12, 13,14,15,16 III 17 V 18,19 VI 20 VII 21 IX 22 X 23 XI 24 XII 25,26 IV 7 VIII 8 Gambar 4.4 Susunan Work Station Pada Lini Perakitan Lama I 1,2,3,4.9, 10,11,12,13 II 5,6,8,14,15, 16,17,18,19 IV 20,21 V 22 VI 23 VII 24,25,26 III 7 Gambar 4.5 Susunan Work Station Pada Lini Perakitan Usulan Untuk Sebuah Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan)

80 120 I 1,2,3,4.5,9, 10,11,12,13 II 6,8,14,15, 16,17,18,19 IV 20,21 V 22 VI 23 VII 24,25,26 III 7 Gambar 4.6 Susunan Work Station Pada Lini Perakitan Usulan Untuk Sebuah Sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) Ukuran-ukuran yang akan dijadikan patokan untuk membandingkan performance lini lama dan usulan akan dirangkum dalam tabel berikut dan disertai dengan penjelasan masing-masing. Lini Perakitan Jumlah Work Station Tabel 4.44 Performance Lini Perakitan Lama dan Usulan WS Terlama Cycle Time (menit) Total Idle Time (menit) Line Efficiency Balance Delay Smoothness Index Lama PDL 12 WS II % % Lama PDH 12 WS X % % Usulan PDL 7 WS I % % Usulan PDH 7 WS I % % PDL = Pakaian Dinas Lapangan PDH = Pakaian Dinas Harian 1. Jumlah Work Station (WS) Lini perakitan lama terdiri dari 12 WS dengan susunan task yang sama persis untuk produk PDL dan PDH. Terbentuknya WS yang begitu banyak disebabkan perusahaan menerapkan spesialisasi task. Task yang berbeda jenis (dalam cara pengerjaan maupun alat bantu) dikelompokkan dalam WS yang berbeda. Walaupun hal ini akan memudahkan operator dalam melaksanakan pekerjaannya tetapi

81 121 menyebabkan jumlah WS membengkak dan efisiensi menurun. Pada lini perakitan usulan yang terbentuk dengan menerapkan metode line balancing, ternyata jumlah WS dapat dirampingkan menjadi 7 WS saja karena ada beberapa task yang dapat digabungkan ke dalam 1 WS tanpa melebihi cycle time teoritis dan precedence constraint. Dengan demikian efisiensi lini perakitannya meningkat. Tapi tentunya ada konsekuensi yang harus dihadapi perusahaan yang berkaitan dengan pudarnya batasbatas spesialisasi task yang tegas seperti pada lini perakitan lama. Permasalahan ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya. 2. Work Station (WS) Terlama Total waktu operasi untuk produk PDL dan PDH berbeda dengan selisih 3.45 menit atau 3 menit 27 detik di mana perakitan PDH lebih cepat. Ada beberapa task dalam perakitan PDH yang memerlukan waktu lebih sedikit dibandingkan PDL yaitu pada task 2, 3, 5, 10, 11, 13, 14, 15, 17, 25, 26. Akibatnya, pada lini lama, Cycle Time (CT) yang merupakan waktu stasiun terlama terjadi pada WS yang berbeda. Untuk PDL, CT terjadi pada WS II yang berisi task Untuk PDH, WS II ini mengalami penurunan waktu yang cukup banyak karena task-task yang mengalami penurunan waktu operasi kebanyakan berada di WS II.sehingga CT untuk PDH tidak terjadi pada WS II melainkan berpindah ke WS X. Pada lini usulan, susunan task untuk PDL dan PDH sedikit berbeda tetapi CT untuk keduanya sama-sama terjadi pada WS I. Perbedaan susunan task terletak pada

82 122 task 5. Untuk PDL, task 5 tidak termasuk WS I sehingga WS I hanya berisi 9 task (task 1-4, 9-13), sementara untuk PDH, WS I berisi 10 task, 9 task sama dengan PDL dan ditambah dengan task Cycle Time (CT) Berdasarkan perhitungan teoritis, CT yang diizinkan untuk lini perakitan PDL maupun PDH adalah 12 menit. Pada prakteknya di lini perakitan lama, CT yang ada tidak melebihi 12 menit sehingga perusahaan dapat menyelesaikan operasi perakitan untuk memenuhi jumlah output yang ditargetkan tanpa harus melebihi jam kerja efektif. Untuk lini perakitan lama PDL, CT adalah sebesar menit. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, untuk lini perakitan lama PDH, Station Time (ST) untuk WS II berkurang sehingga CT bergeser ke WS X yaitu sebesar menit. Dari hasil metode line balancing diperoleh lini perakitan usulan PDL yang memiliki CT sebesar menit. CT ini paling mendekati CT teoritis, sedangkan untuk PDH, CT adalah sebesar menit. Di sini terlihat bahwa CT lini usulan mengalami peningkatan dibandingkan lini lama (untuk PDL selisihnya 12,6 detik, untuk PDH selisihnya 45,6 detik). Hal ini disebabkan karena pada dasarnya metodemetode heuristik line balancing berusaha memaksimalkan pemakaian slot ST yang tersedia hingga sama dengan atau mendekati CT teoritis. Oleh karena itu CT untuk lini usulan hanya berselisih sangat sedikit dengan CT teoritis.

83 Total Idle Time (IT) Pada lini perakitan lama tampak bahwa status idle sangat buruk yaitu mencapai 1 jam lebih. PDL memiliki total IT sebesar menit, PDH sebesar menit. Ini adalah salah satu akibat dari pengalokasian task ke WS secara tidak efisien. Station IT yang paling mencolok sama-sama terjadi pada WS VIII karena hanya berisi 1 task (task 8) yang sebetulnya sangat singkat waktu operasinya. Station IT pada WS VIII untuk PDL lebih buruk daripada PDH (PDL = menit, PDH = menit). Kondisi ini dicoba diperbaiki pada lini usulan. Hasilnya total IT untuk PDL dapat dikurangi sebanyak menit atau hampir 1 jam hingga menjadi menit saja. Untuk PDH, total IT dapat dikurangi sebanyak menit hingga menjadi menit saja. Station IT terbesar sama-sama terjadi pada WS V yang hanya berisi 1 task (task 22) tetapi tidak mungkin digabungkan dengan task lain karena terbentur limit waktu dan precedence constraint. Station IT terbesar untuk PDL adalah sebesar 7.87 menit, untuk PDH sebesar 7.82 menit, keduanya tidak terpaut jauh. Penurunan total IT secara drastis ini diharapkan dapat lebih menguntungkan perusahaan karena perusahaan selama ini menggaji beberapa pegawai yang waktu menganggurnya cukup banyak. Di samping itu waktu idle yang terlalu lama dapat mengganggu ritme kerja individu karena adanya selang waktu yang cukup lama antara pengerjaan satu dengan berikutnya. 5. Line Efficiency (LE)

84 124 Ketidakefisienan lini perakitan lama tercermin dalam nilai LE yang bahkan tidak mencapai 50 %. Nilai LE untuk PDL dan PDH berselisih sangat kecil yaitu PDH lebih baik 0.03 % dibandingkan PDL. Setelah dilakukan perbaikan dengan metode line balancing menghasilkan peningkatan yang cukup baik. Nilai LE untuk PDL meningkat sebanyak % yaitu dari % menjadi %, sementara untuk PDH meningkat sebanyak % yaitu dari % menjadi %. Membicarakan LE tentu tidak terlepas dari Station Efficiency (SE). SE lini lama sangat buruk pada WS VIII di mana untuk PDL nilainya hanya 1.77 % dan untuk PDH sebesar 1.88 %. Nilai SE terendah ini berusaha diperbaiki pada lini usulan sehingga meningkat menjadi %, terjadi pada WS V untuk PDL, dan %, terjadi pada WS V untuk PDH. Nilai SE terendah yang masih di atas 30 % ini diharapkan dapat membuat performance lini perakitan keseluruhan tidak terlalu buruk seperti pada lini lama. Sebenarnya nilai LE baru ini pun masih cukup jauh dari kondisi sempurna (LE = 100 %) tetapi hal ini wajar jika melihat urut-urutan operasi perakitan untuk produk sepatu di PT. Marino Pelita Indonesia mempunyai precedence constraint yang cukup ketat. Task yang dapat dikerjakan dengan saling mendahului hanyalah task 1-8, sedangkan task 9-26 harus saling menunggu sampai operasi pendahulunya selesai dikerjakan. Hal ini tentunya menyulitkan penggabungan task ke dalam 1 WS meskipun slot ST masih tersisa. Di lain pihak ada pula task dengan waktu operasi cukup lama sehingga jika digabung dengan task lain yang memenuhi precedence

85 125 constraint akan menyebabkan ST melampaui CT teoritis. Selain itu perlu diingat bahwa metode-metode yang digunakan di sini adalah heuristik yang tidak menjamin dihasilkannya solusi optimal sehingga tidak menutup kemungkinan adanya hasil lain yang optimal dan memberikan nilai LE lebih baik daripada usulan ini. 6. Balance Delay (BD) Nilai BD selalu berpasangan dengan LE sehingga jika efisiensi rendah maka berarti pula delay-nya tinggi. Untuk lini lama, nilai BD bahkan lebih tinggi dari LE yang menyebabkan kinerja lini perakitan tidak efisien dan banyak terjadi delay. Untuk kedua produk, nilai BD tidak terpaut jauh yaitu PDH lebih baik 0.03 % dibandingkan PDL. Nilai BD untuk PDL berkurang sebanyak % yaitu dari % menjadi %, sedangkan untuk PDH berkurang sebanyak % yaitu dari % menjadi %. Besarnya selisih ini sama persis dengan selisih nilai LE, sehingga performance lini perakitan keseluruhan sebenarnya sudah dapat diketahui hanya dengan melihat salah satu nilai LE atau BD saja. Nilai Station Delay juga dapat dihitung dengan cara membagi Station Idle Time dengan CT lalu dikalikan 100 %, atau mengurangkan 100 % dengan nilai SE. Tetapi dalam skripsi ini perhitungan persentase delay di tiap WS tidak ditampilkan karena sudah tercermin dari SE. Yang ditampilkan hanya nilai BD lini keseluruhan untuk memudahkan dalam menilai performance-nya.

86 Smoothness Index (SI) SI untuk kondisi perfect balance adalah nol sehingga makin kecil SI berarti kelancaran relatif lini perakitan makin baik. SI pada lini lama menunjukkan nilai yang cukup besar yaitu untuk PDL sebesar dan untuk PDH sebesar Setelah terbentuk lini usulan, nilai SI untuk PDL dapat dikurangi sebesar hingga menjadi 12.32, dan untuk PDH dapat dikurangi sebesar hingga menjadi Nilai SI lini usulan dapat jauh berkurang dibandingkan lini lama karena selain ITnya berkurang drastis, IT ini juga terdistribusi secara lebih merata di setiap WS, dalam arti tidak ada IT yang terakumulasi berlebihan pada 1 WS sehingga menyebabkan nilai kuadratnya menjadi sangat besar. Dengan menurunnya nilai SI maka diharapkan hasil penyeimbangan lini perakitan untuk PDL maupun PDH akan memiliki kelancaran yang semakin baik Perencanaan Kegiatan Untuk Mendukung Implementasi Lini Perakitan Usulan Perencanaan Worker Assignment Untuk Lini Perakitan Usulan Dari hasil metode line balancing diperoleh lini usulan yang lebih ramping daripada lini lama di mana yang tadinya terdiri dari 12 Work Station (WS) dapat dikurangi menjadi 7 WS saja. Sejalan dengan itu perusahaan harus menentukan operator mana saja yang akan tetap dipertahankan dan mana yang tidak diperkerjakan

87 127 lagi di lini usulan. Hal ini harus dilakukan melalui beberapa pertimbangan cermat. Oleh karena itu pada bagian ini akan diusulkan suatu perencanaan worker assignment yang baru. Tabel 4.45 Worker Assignment Pada Lini Perakitan Lama Work Station Task Operator Waktu (PDL) Waktu (PDH) I 1-6 O II 9-16 O III 17 O IV 7 O V O VI 20 O VII 21 O VIII 8 O IX 22 O X 23 O XI 24 O XII O PDL = Pakaian Dinas Lapangan PDH = Pakaian Dinas Harian Tabel 4.46 Perencanaan Worker Assignment Untuk Lini Perakitan Usulan WS Task Operator Waktu (PDL) Waktu (PDH) I PDL : 1-4, 9-13, PDH : 1-5, 9-13 O II PDL : 5, 6, 8, 14-19, PDH : 6, 8, O III 7 O IV O V 22 O VI 23 O VII O PDL = Pakaian Dinas Lapangan PDH = Pakaian Dinas Harian WS = Work Station

88 128 Keterangan : Operator dengan nomor kode sama adalah orang yang sama. Misal O10 yang menangani WS X pada lini lama adalah sama dengan O10 yang menangani WS VI pada lini usulan. Operator 1 (O1) tetap ditempatkan pada WS I namun pekerjaannya tidak seringan pada lini lama karena biasanya ia hanya menangani 6 task sedangkan pada lini usulan ia harus mengerjakan 9 task untuk PDL dan 10 task untuk PDH. Untuk mengerjakan task 1-5 seharusnya tidak ada masalah karena sama dengan lini lama. Tetapi O1 harus mempelajari cara mengerjakan task Hal ini tidak terlalu sulit karena pada intinya task-task ini juga masih merupakan proses penjahitan, hanya bedanya jika task 1-5 adalah melapisi kulit dengan kain, task 9-13 adalah menggabungkan bagianbagian yang akan membentuk badan sepatu. Meskipun kuantitas task untuk perakitan PDH lebih banyak tetapi batas waktu untuk WS I untuk PDL dan PDH hampir sama karena lamanya waktu operasi untuk beberapa task di perakitan PDH lebih sebentar dibandingkan PDL. Operator yang ditugaskan di WS I dituntut cekatan, terampil, rajin, konsisten, mampu memelihara ritme kerja agar teratur, dan bagus performance kerjanya karena WS I adalah WS kritis di mana terjadi Cycle Time (CT) sehingga merupakan WS terlama. Jika O1 tidak mampu bekerja sesuai target waktu yang telah ditetapkan (melebihi batas waktu) maka keseluruhan lini perakitan juga akan mengalami keterlambatan.

89 129 Jika operator pada WS I mempunyai tanggung jawab yang berat karena merupakan WS terlama, maka operator yang ditugaskan pada WS II juga mempunyai tanggung jawab yang tidak kalah berat, lebih disebabkan adanya variasi jenis task yang dialokasikan pada WS II. Untuk PDL, WS II berisi 9 task dengan Station Time (ST) yang hampir mendekati CT. Sedangkan task di WS II untuk PDH ada 8 dan memerlukan waktu yang lebih sedikit dibandingkan PDL. Operator yang ditempatkan di WS II setidaknya harus menguasai 4 jenis pekerjaan yang berbeda, namun yang utama dan relatif sulit dipelajari adalah menjahit. Oleh karena itu operator dari WS II lini lama lah yang dipakai untuk WS II lini usulan karena operator ini telah menguasai skill jahit dan sudah berpengalaman sebelumnya. Pertimbangan ini menyebabkan tersingkirnya O3 (task 17), O5 (task 18-19), dan O8 (task 8) dari daftar kandidat operator WS II lini usulan karena akan membutuhkan waktu lebih lama jika harus mempelajari dan membiasakan diri dengan pekerjaan menjahit. Untuk task tidak ada masalah karena telah pula ditangani O2 pada lini lama. Task 5 (khusus PDL) dan task 6 juga tidak terlalu sulit karena masih merupakan pekerjaan menjahit (melapisi kulit dengan kain). Task 8 (mengisikan hak kayu ke sol karet) mudah dipelajari karena hanya merupakan pekerjaan ringan, membutuhkan sedikit waktu, tidak menuntut skill khusus, serta tidak menggunakan alat bantu. Task (menyisipkan kain keras ke bagian jari dan tumit) juga tidak sulit untuk dikuasai karena tidak memerlukan skill khusus maupun alat bantu. Yang

90 130 terpenting adalah hasilnya harus baik dan rapi. Task baru yang cukup sulit dipelajari adalah task 17 (memasang mata ayam) karena operator harus mengetahui cara pengoperasian alat pelubang. Khusus untuk PDH, task ini lebih ringan daripada PDL karena PDH hanya memerlukan 10 buah mata ayam untuk sebuah sepatu, sedangkan PDL memerlukan 16 buah mata ayam untuk sebuah sepatu. Operator di WS II juga dituntut untuk mempunyai kriteria performance kerja yang sama dengan operator di WS I. Bahkan mungkin pada awal masa implementasi lini usulan, O2 mempunyai beban yang lebih berat daripada O1 karena belum terbiasa dengan adanya variasi jenis task yang harus ditangani. WS IV pada lini usulan yang berisi task diserahkan pada O6 dan bukan O7 dengan pertimbangan task 20 lebih sulit serta menuntut skill dan pengalaman dibandingkan task 21. Pada task 20 inilah sepatu mulai tampak mana yang kiri dan mana yang kanan. Dalam task ini, operator dituntut bekerja dengan baik dan rapi agar bagian badan dan alas sepatu dapat menyatu dengan baik, tidak ada kulit yang terjepit ataupun bergelombang, dsb. Sedangkan task 21 relatif mudah dikuasai karena hanya bertugas menghaluskan bagian alas sebelum diberi lem. WS VII pada lini usulan yang berisi task diserahkan pada O11 walaupun sebenarnya O12 sudah menguasai 2 task (25-26) tetapi tingkat kesulitannya lebih rendah dibandingkan task 24 karena task 24 melibatkan penggunaan handtool untuk finishing. Apabila belum menguasai skill dan belum berpengalaman, pekerjaan ini cukup sulit dilakukan apalagi untuk PDH yang menggunakan kulit polos di mana jika

91 131 finishing kurang sempurna maka akan langsung terlihat cacatnya, sementara untuk PDL masih agak tertutup bintik-bintik karena menggunakan kulit jeruk. Dengan demikian O11 harus mempelajari task Kedua task ini cukup mudah karena dilakukan secara manual, hanya perlu cekatan dan kerapian. Untuk WS III, V, VI tidak ada masalah karena masih tetap ditangani oleh operator yang mengerjakan task yang sama dengan lini lama, hanya nomor WS-nya yang berubah Perencanaan Pengerjaan Operasi Perakitan Untuk Lini Usulan Lini perakitan lama di PT. Marino Pelita Indonesia disusun dengan menekankan pada spesialisasi task yang harus ditangani untuk setiap Work Station (WS). Akibatnya lini terbagi menjadi banyak WS yang sebetulnya masih dapat dipadatkan lagi. Itulah yang terjadi pada lini perakitan usulan. Banyaknya WS dirampingkan dari 12 menjadi 7. Konsekuensinya, tidak setiap WS berisi task-task dengan jenis yang sama. Ada beberapa WS yang berisi task yang bervariasi jenisnya. Apabila perusahaan tidak mengantisipasi perubahan ini, dikhawatirkan keseluruhan operasi perakitan di lini usulan tidak dapat berjalan dengan baik dan lancar. Oleh karena itu sebelum memasuki sesi produksi yang sebenarnya dengan menggunakan lini usulan, ada baiknya perusahaan mengadakan semacam sesi pra-produksi (percobaan implementasi lini usulan) untuk membiasakan operator terhadap jenis task baru

92 132 (jika ada), batas waktu stasiun untuk masing-masing WS, ritme kerja baru, layout baru, dsb. Critical point di lini usulan terletak pada WS I dan II karena sebelumnya pada lini lama WS ini sudah terspesialisasi untuk pekerjaan menjahit, sedangkan pada lini usulan WS I masih mencakup task menjahit tapi lebih bervariasi, dan WS II mencakup 4 jenis task. Sebelum dibahas tentang cara penyesuaian terhadap batas waktu yang baru, terlebih dahulu akan dibahas mengenai bagaimana cara menyesuaikan dengan scope task yang bervariasi. Perusahaan sebaiknya mengadakan semacam sesi pelatihan untuk operatoroperator yang ditugaskan pada WS I, II, IV, VII karena mereka harus menghadapi beberapa task yang tidak mereka tangani pada lini lama. Perhatian khusus diberikan kepada operator yang ditugaskan pada WS II karena ia harus bertanggung jawab terhadap 8-9 task di mana 4 task di antaranya tergolong task baru baginya. Setelah mereka menguasai cara-cara mengerjakan task baru tersebut, langkah selanjutnya adalah mencoba melaksanakan pekerjaan yang telah ditugaskan untuk masing-masing WS berdasarkan batas waktu stasiun yang telah ditentukan. Foreman akan mengukur waktu dan bertindak sebagai pengawas yang mengingatkan kapan batas waktu akan berakhir. Perhatian khusus diberikan kepada operator yang ditugaskan di WS I karena merupakan WS dengan waktu terlama yang jika pekerjaannya terlambat maka akan menimbulkan chain reaction ke WS-WS selanjutnya. Operator di WS II juga harus diberi perhatian mengingat mereka baru

93 133 saja menguasai task-task baru dan jika belum terbiasa mungkin akan sedikit mengalami kesulitan untuk catch up dengan batas waktu stasiunnya. Pelatihan untuk menyesuaikan diri dengan batas waktu ini dilakukan untuk 2 sesi produksi yaitu untuk PDL dan PDH, tapi cukup dilakukan untuk operator yang ditugaskan pada WS yang mempunyai susunan task dan batas waktu stasiun yang berbeda antara PDL dan PDH yaitu WS I, II, VII. Untuk menyesuaikan diri dengan batas waktu stasiun yang baru ini seharusnya tidak terlalu sulit dilakukan karena waktu-waktu operasi yang diajukan dalam lini usulan di dalamnya sudah diperhitungkan faktor penyesuaian dan kelonggaran sehingga bukan hanya waktu proses murni, melainkan sudah diberikan toleransi kelebihan waktu. Persoalan yang harus dihadapi berikutnya adalah line pacing. Sebenarnya persoalan ini sudah ada sejak lini lama, disebabkan perusahaan menggunakan manual work transport di mana benda kerja dioper secara manual dari 1 operator ke operator berikutnya (tidak menggunakan mechanical work transport / conveyor). Akibatnya terjadi kondisi no pacing di mana tiap-tiap operator bekerja sesuai ritme masingmasing. Namun persoalan line pacing ini tidak pernah mencuat secara signifikan (tidak membuat perusahaan merasa harus mengubah kondisi no pacing tersebut). Hal ini disebabkan para pekerja lini perakitan mampu memelihara ritme kerja masingmasing dan menyesuaikan dengan ritme kerja sesama rekan operator sehingga mereka dapat bekerja secara kompak dan wajar. Tidak ada operator yang bekerja terlalu cepat atau terlalu lambat. Para operator berusaha mencapai suatu ritme kerja

94 134 tertentu berdasarkan kepentingan bersama dan tentu saja di bawah pengawasan foreman yang cukup tegas dalam memberikan teguran / peringatan apabila ada operator yang bekerja tidak sesuai ritme kerja bersama. Hal yang menguntungkan bagi perusahaan ini diharapkan dapat terjadi pula di lini usulan. Tetapi perlu juga dilakukan sesi percobaan untuk mendapatkan line pacing yang sesuai dengan alokasi task dan batas waktu yang baru. Di sini semua operator harus menjalani sesi tersebut, tidak ada perkecualian seperti pada sesi-sesi percobaan sebelumnya. Dengan demikian sesi ini dilakukan sudah seperti sesi produksi yang sebenarnya. Untuk membantu memberikan semacam rambu-rambu bagi line pacing, ada 2 poin yang dapat digunakan. Pertama adalah task 23 di WS VI yang merupakan task molding di mana sepasang sepatu diproses secara bersamaan di 1 mesin. Oleh karena itu jika ritme kerja tidak teratur maka sepatu bagian kiri dan kanan tidak dapat tiba secara bersamaan di WS ini. Padahal seharusnya kalaupun tidak dapat tiba di waktu yang sama tapi setidaknya selang waktunya hanya sebentar. Apabila ketidaksesuaian ini terjadi maka perusahaan harus membenahi line pacing dengan mengkoordinasi ulang para operator dan membiasakan / melatih mereka dengan ritme kerja tertentu yang dapat diikuti semua operator. Setelah keluar dari WS molding maka rambu berikutnya adalah saat produk jadi telah dihasilkan dan bersiap masuk ke sesi Quality Control (untuk sampel yang terpilih) atau langsung ke sesi packing. Apabila produk jadi sepatu kiri dan kanan

95 135 tidak keluar secara bersamaan dalam selang waktu cukup lama, maka line pacing perlu dibenahi, khususnya untuk WS VII. Yang perlu diingat adalah bahwa line pacing ini bukanlah suatu pertandingan kecepatan, melainkan bagaimana para operator dapat menyelesaikan task tanpa melewati batas waktu yang telah ditentukan serta menyamakan / menyesuaikan ritme kerja dengan sesama rekan sehingga tercipta suatu ritme kerja yang kompak dan wajar. Pada masa awal dioperasikannya lini usulan, mungkin beberapa operator masih menemui kesulitan-kesulitan berkaitan dengan hal-hal yang telah diuraikan di atas, namun dengan semakin seringnya melakukan operasi perakitan diharapkan para operator akan semakin terampil dan berpengalaman. Mengenai berapa lama sesi-sesi percobaan ini perlu dilakukan, sepenuhnya diserahkan pada kebijakan perusahaan. Ada beberapa pertimbangan yang terlibat misalnya aspek biaya, tingkat kemampuan operator dalam menguasai hal-hal baru, dsb. Sesi percobaan ini menuntut para foreman agar proaktif dalam memberikan pengarahan, bantuan, menjaga kedisiplinan, dengan diawasi oleh kepala pabrik yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan yang berlangsung di lantai produksi. Satu hal lagi yang akan diusulkan dalam kaitannya dengan operasi perakitan adalah mengenai material handling. Seperti yang telah disinggung di atas, perusahaan tidak memiliki conveyor sehingga material handling dilaksanakan secara manual.

96 136 Pada lini lama, operator di suatu WS harus mengoper benda kerja keluaran dari WSnya ke WS berikutnya, tidak peduli apakah waktu stasiun di WS-nya lebih lama daripada WS tujuan. Untuk lini usulan hal ini akan diperbaiki. Adanya idle time di tiap WS tidak dapat dihindari. Oleh karena itu idle time ini coba dimanfaatkan untuk melakukan material handling, dalam arti operator WS yang waktunya lebih sebentar dibandingkan WS asal ataupun WS tujuan harus mengambil atau mengantar benda kerja. Dengan demikian pelaksanaan material handling tidak memerlukan alokasi waktu khusus karena menggunakan idle time yang terjadi. Operator yang bertugas melakukan material handling diutamakan yang mempunyai idle time besar. Tabel 4.47 Perencanaan Pelaksanaan Perpindahan Material (Material Handling) Untuk Lini Perakitan Usulan WS Asal WS Tujuan Operator Pelaksana Keterangan I II O2 Operator 2 mengambil benda kerja dari WS I II IV O6 (untuk PDL) Operator 6 mengambil benda kerja hasil task 19 dari WS II II IV O2 (untuk PDH) Operator 2 mengantar benda kerja hasil task 19 ke WS IV III IV O4 Operator 4 mengantar benda kerja ke WS IV IV V O9 Operator 9 mengambil benda kerja dari WS IV II VI O10 Operator 10 mengambil benda kerja hasil task 8 dari WS II V VI O9 Operator 9 mengantar benda kerja ke WS VI VI VII O11 Operator 11 mengambil benda kerja dari WS VI PDL = Pakaian Dinas Lapangan PDH = Pakaian Dinas Harian WS = Work Station

97 137 Keterangan : Operator 2 (O2) bertugas mengambil benda kerja dari WS I karena di WS I tidak ada idle time. Selanjutnya terjadi perbedaan antara produksi PDL dan PDH untuk material handling dari WS II ke WS IV. Untuk PDL, O6 lah yang bertugas mengambil benda kerja hasil task 19 dari WS II karena Station Time (ST)-nya lebih kecil. Sedangkan untuk PDH adalah sebaliknya, O2 bertugas mengantar benda kerja hasil task 19 ke WS IV. O4 bertugas mengantar benda kerja ke WS IV. Setelah benda kerja dari WS III dan benda kerja hasil task 19 dari WS II terkumpul barulah WS IV dapat melaksanakan operasi perakitan. Lalu O9 bertugas mengambil benda kerja dari WS IV. Seperti halnya WS IV, WS VI juga memerlukan input benda kerja dari 2 WS yaitu WS II dan WS V. O10 bertugas mengambil benda kerja hasil task 8 dari WS II. Hal ini berlaku untuk PDL dan PDH meskipun ST untuk PDH di WS II lebih kecil dari WS VI tetapi hal ini tidak menjadi masalah karena O10 sudah dapat mengambil benda kerja hasil task 8 sementara benda kerja hasil WS V belum sampai ke WS VI (jadi task 8 selesai lebih dulu daripada task 22 sehingga dapat diambil lebih awal). Kemudian O9 mengantar benda kerja ke WS VI dan proses perakitan di WS VI dapat dilakukan. Untuk perakitan sepasang sepatu hanya ada 1 WS VI sementara WS-WS yang lain ada 2, masing-masing untuk sebuah sepatu (kiri / kanan). Oleh karena itu O10 harus mengambil hasil task 8 dari WS II sebanyak 2 kali yaitu dari WS II lini kiri dan kanan. O9 dari WS V lini kiri dan kanan mengantar benda kerja ke WS VI

98 138 yang sama. Demikian pula O11 dari WS VII lini kiri dan kanan mengambil benda kerja dari WS VI yang sama. Terakhir, O11 mengerjakan task-task finishing dan selesailah operasi perakitan untuk kemudian dilanjutkan ke sesi QC (untuk sampel terpilih) atau langsung ke sesi packing Perencanaan Tata Letak Lantai Produksi Untuk Lini Perakitan Usulan Tata letak lantai produksi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan suatu perusahaan. Karena para pelaku produksi biasanya harus hidup dengan layout dalam waktu lama, maka setiap kesalahan dalam penentuan layout akan menimbulkan kerugian biaya yang sangat tinggi. Kesalahan-kesalahan seharusnya hanya boleh terjadi pada saat melakukan perencanaan, jauh sebelum pergerakan fisik dan peralatan dilakukan. (Turner, Mize, Case, Nazemetz, 2000, p123). Untuk memudahkan implementasi lini usulan maka akan direncanakan pula suatu perbaikan tata letak lantai produksi terutama pada spot-spot yang terkait langsung dengan lini perakitan. Perubahan yang akan dilakukan tidak terlalu banyak mengingat bahwa mengubah tata letak yang sudah dipakai selama bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah, di samping itu perubahan yang terlalu drastis akan menyebabkan perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak kecil jumlahnya untuk merenovasi tata letak lantai produksi. Oleh karena itu perubahan hanya akan dilakukan pada spot-spot yang masih memungkinkan untuk dipindahkan lokasinya.

99 M 18 M Legenda: 1. Kantor 2. Storage karet 3. Storage kulit 4. Tempat QC kulit 5. Mesin potong 6. Tempat potong manual 7. Mesin seset 8. Tempat potong kayu 9. Mesin jahit 10. Tempat mata ayam 11. Tempat open 12. Rak 13. Tempat amplas 14. Meja 15. Tempat mengelem 16. Mesin molding 17. Tempat finishing 18. Tempat QC & packing 19. Meja peletakan 20. Rak barang defect 21. Kantor 22. Bengkel maintenance 23. Warehouse Gambar 4.7 Tata Letak Lantai Produksi Pada Lini Perakitan Lama

100 140 Yang pasti tidak akan dipindahkan letaknya adalah mesin molding karena merupakan mesin besar dan berat, serta mesin jahit karena biarpun ukurannya cukup handy untuk dipindah tetapi kuantitasnya cukup banyak sehingga kurang bijaksana jika harus memindahkan semuanya. Dengan demikian letak kedua mesin tersebut dijadikan patokan bagi kemudahan dan kelancaran perpindahan material di lini usulan. WS I dan II pada lini lama berada pada lokasi mesin jahit (lajur kiri untuk WS I, lajur kanan untuk WS II), demikian pula pada lini usulan. Hanya bedanya, WS II selain berisi task jahit juga berisi task-task lain. Untuk WS II pada lini usulan, task 8, 18, 19 dapat dikerjakan di tempat jahit itu sendiri sehingga tidak memerlukan suatu lokasi khusus. Sebagai perbandingan, pada lini lama, task 8 dikerjakan sambil duduk di lantai dekat mesin molding, task dikerjakan di tempat open, sehingga tasktask ini tidak membutuhkan tempat khusus karena tidak menggunakan alat bantu. Task 17 memerlukan alat bantu berupa alat pelubang / pemasang mata ayam. Untuk itu, tempat alat pelubang diubah letaknya pada lini usulan sehingga terletak berdampingan dengan deretan mesin jahit di sisi kanan secara membujur. Hal ini bertujuan agar operator 2 dapat mengerjakan task 17 tanpa harus berpindah jauh dari tempat kerja semula. WS III pada lini usulan yang berisi task 7 (sama dengan WS IV pada lini lama) tidak berubah lokasi pengerjaannya dengan lini lama yaitu di tempat open. Perbedaan terletak pada lajur yang digunakan. Pada lini lama, lajur kiri tempat open separuhnya

101 141 digunakan untuk task 7 (WS IV) dan separuhnya lagi digunakan untuk task (WS V), lajur kanan sepenuhnya digunakan untuk task 20 (WS VI). Pada lini usulan, peletakan lajur ini akan dibalik sehingga lajur kiri digunakan untuk task (WS IV) agar lebih dekat dengan WS II dan WS V, lajur kanan digunakan untuk task 7 (WS III). WS IV pada lini usulan yang berisi task 20 dan 21 dikerjakan pada tempat open sehingga tempat amplas yang ada pada tata letak lini lama dihilangkan. Perbedaan ini disebabkan pada lini lama terjadi pemisahan task 20 dan 21 ke dalam 2 WS (WS VI dan VII) sehingga lokasinya juga dipisah. Tetapi karena pada lini usulan kedua task ini dikerjakan oleh 1 operator maka dapat dikerjakan di tempat yang sama. Untuk WS V pada lini usulan, lokasi tempat mengelem harus sedikit digeser sehingga berada tidak terlalu jauh dari tempat open maupun mesin molding. Lokasi WS VI pada lini usulan (atau WS X pada lini lama) tidak mengalami perubahan. Lokasi WS VII pada lini usulan juga tidak diubah letaknya. Hanya bedanya WS VII berisi task yang dikerjakan 1 operator sedangkan pada lini lama dipecah menjadi 2 WS yaitu WS XI untuk task 24 dan WS XII untuk task Dengan adanya sedikit perbaikan tata letak ini diharapkan akan dapat mendukung implementasi lini perakitan usulan terutama yang berkaitan dengan jarak perpindahan material. Untuk lebih jelasnya, tata letak yang direncanakan untuk lini usulan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

102 M 18 M Legenda: 1. Kantor 2. Storage karet 3. Storage kulit 4. Tempat QC kulit 5. Mesin potong 6. Tempat potong manual 7. Mesin seset 8. Tempat potong kayu 9. Mesin jahit 10. Tempat mata ayam 11. Tempat open 12. Rak Meja 15. Tempat mengelem 16. Mesin molding 17. Tempat finishing 18. Tempat QC & packing 19. Meja peletakan 20. Rak barang defect 21. Kantor 22. Bengkel maintenance 23. Warehouse Gambar 4.8 Perencanaan Tata Letak Lantai Produksi Untuk Lini Perakitan Usulan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengantar Menurut Baroto (2002, p192), aliran proses produksi suatu departemen ke departemen yang lainnya membutuhkan waktu proses produk tersebut. Apabila terjadi hambatan atau

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Diagram Alir Observasi lapangan Identifikasi masalah Pengumpulan data : 1. Data komponen. 2. Data operasi perakitan secara urut. 3. Data waktu untuk menyelesaikan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 STUDI KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE-METODE HEURISTIK SERTA PERENCANAAN KEGIATAN

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Optimasi adalah persoalan yang sangat penting untuk diterapkan dalam segala sistem maupun organisasi. Dengan optimalisasi pada sebuah sistem

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Efektifitas 2.1.1. Pengertian Efektifitas Pengertian efektifitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut

Lebih terperinci

BAB VI LINE BALANCING

BAB VI LINE BALANCING BAB VI LINE BALANCING 6.1. Landasan Teori Line Balancing Menurut Gaspersz (2004), line balancing merupakan penyeimbangan penugasan elemen-elemen tugas dari suatu assembly line ke work stations untuk meminimumkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Studi Gerak dan Waktu ( Barnes h.257 ) Studi Gerak dan Waktu merupakan suatu ilmu yang terdiri dari teknik-teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 20 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Teknik Pengukuran Data Waktu Jam Henti Di dalam penelitian ini, pengukuran waktu setiap proses operasi sangat dibutuhkan dalam penentuan waktu baku setiap

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 41 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Observasi Lapangan Identifikasi Masalah Studi Kepustakaan Pengambilan Data Waktu Siklus Pengujian Waktu Siklus : 1. Uji Keseragaman Data 2. Uji Kenormalan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Line Balancing Keseimbangan lini produksi bermula dari lini produksi massal, dimana dalam proses produksinya harus dibagikan pada seluruh operator sehingga beban kerja

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Line Balancing Line balancing merupakan penyeimbangan penugasan elemen-elemen tugas dari suatu assembly line ke work stations untuk meminimumkan banyaknya work station

Lebih terperinci

BAB VI LINE BALANCING

BAB VI LINE BALANCING BAB VI LINE BALANCING 6.1 Landasan Teori Keseimbangan lini perakitan (line balancing) merupakan suatu metode penugasan pekerjaan ke dalam stasiun kerja-stasiun kerja yang saling berkaitan dalam satu lini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan juga hasil sampingannya, seperti limbah, informasi, dan sebagainya.

BAB I PENDAHULUAN. dan juga hasil sampingannya, seperti limbah, informasi, dan sebagainya. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya, sistem produksi terdiri dari elemen input, proses dan elemen output. Input produksi ini dapat berupa bahan baku, mesin, tenaga kerja, modal

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pembebanan Pembebanan (loading) dapat diartikan pekerjaan yang diberikan kepada mesin atau operator. Pembebanan menyangkut jadwal waktu kerja operator dalam kurun waktu satu hari

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Umum Perusahaan 4.1.1 Profil Perusahaan PT. Carvil Abadi adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur pembuatan sepatu dan sandal yang mulai berdiri pada bulan

Lebih terperinci

pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem

pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem 24 pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik. Pengertian dari waktu baku yang normal,wajar, dan terbaik dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa waktu baku

Lebih terperinci

METODE REGION APPROACH UNTUK KESEIMBANGAN LINTASAN

METODE REGION APPROACH UNTUK KESEIMBANGAN LINTASAN Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 5, No. 03(2016), hal 205 212. METODE REGION APPROACH UNTUK KESEIMBANGAN LINTASAN Maria Pitriani Miki, Helmi, Fransiskus Fran INTISARI Lintasan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Keseimbangan Lini Keseimbangan lini merupakan suatu metode penugasan sejumlah pekerjaan ke dalam stasiun kerja yang saling berkaitan dalam satu lini produksi sehingga

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Peta Kerja Peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Lewat peta-peta ini kita bisa melihat semua langkah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. manajemen pemasaran, dan manajemen keuangan. Berikut ini merupakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. manajemen pemasaran, dan manajemen keuangan. Berikut ini merupakan BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Manajemen Operasi 2.1.1 Pengertian Manajemen Operasi Manajemen operasi merupakan salah satu fungsi bisnis yang sangat berperan penting dalam

Lebih terperinci

PERBAIKAN LINI FINISHING DRIVE CHAIN AHM OEM PADA PT FEDERAL SUPERIOR CHAIN MANUFACTURING DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI DAN METHODS TIME MEASUREMENT

PERBAIKAN LINI FINISHING DRIVE CHAIN AHM OEM PADA PT FEDERAL SUPERIOR CHAIN MANUFACTURING DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI DAN METHODS TIME MEASUREMENT Jurnal Teknik dan Ilmu Komputer PERBAIKAN LINI FINISHING DRIVE CHAIN AHM OEM PADA PT FEDERAL SUPERIOR CHAIN MANUFACTURING DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI DAN METHODS TIME MEASUREMENT Lina Gozali *, Lamto

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Definisi Line Balancing Line Balancing merupakan metode penugasan sejumlah pekerjaan ke dalam stasiun-stasiun kerja yang saling berkaitan/berhubungan dalam suatu lintasan atau

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN LINI PRODUKSI PADA PT PAI

KESEIMBANGAN LINI PRODUKSI PADA PT PAI KESEIMBANGAN LINI PRODUKSI PADA PT PAI Citra Palada Staf Produksi Industri Manufaktur, PT ASTRA DAIHATSU MOTOR HEAD OFFICE Jln. Gaya Motor III No. 5, Sunter II, Jakarta 14350 [email protected] ABSTRACT

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 60 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah : 1. Data Kapasitas Produksi Adapun kapasitas produksi reguler perhari untuk satu lini produksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 8 BAB II LANDASAN TEORI Keseimbangan lini produksi bermula dari lini produksi masal, dimana tugas-tugas yang dikerjakan dalam proses harus dibagi kepada seluruh operator agar beban kerja dari para operator

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Time and Motion Study Time and motion study adalah suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh seorang operator (yang memiliki skill rata-rata dan terlatih) baik

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada dasarnya pengumpulan data yang dilakukan pada lantai produksi trolly

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada dasarnya pengumpulan data yang dilakukan pada lantai produksi trolly BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Ekstrasi Hasil Pengumpulan Data Pada dasarnya pengumpulan data yang dilakukan pada lantai produksi trolly adalah digunakan untuk pengukuran waktu dimana pengukuran waktu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Studi Gerak dan Waktu Studi gerak dan waktu terdiri atas dua elemen penting, yaitu studi waktu dan studi gerakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Studi Gerak dan Waktu Studi gerak dan waktu terdiri atas dua elemen penting, yaitu studi waktu dan studi gerakan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Gerak dan Waktu Studi gerak dan waktu terdiri atas dua elemen penting, yaitu studi waktu dan studi gerakan. 2.1.1. Studi Waktu Menurut Wignjosoebroto (2008), pengukuran

Lebih terperinci

Analisa Keseimbangan Lintasan Dengan Menggunakan Metode Helgeson-Birnie (Ranked Positional Weight) Studi Kasus PT. D

Analisa Keseimbangan Lintasan Dengan Menggunakan Metode Helgeson-Birnie (Ranked Positional Weight) Studi Kasus PT. D Analisa Keseimbangan Lintasan Dengan Menggunakan Metode Helgeson-Birnie (Ranked Positional Weight) Studi Kasus PT. D Adi Kristianto Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sarjanawiyata

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. jadi, yang dimana persediaan ini tentu saja sangatlah perlu untuk selalu. kapasitas produksi yang ditetapkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. jadi, yang dimana persediaan ini tentu saja sangatlah perlu untuk selalu. kapasitas produksi yang ditetapkan. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum, persediaan adalah segala sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan konsumen pada suatu perusahaan. Persediaan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

DAFTAR ISI DAFTAR ISI ABSTRAK ABSTRAK Perkembangan industri manufaktur dan tingkat persaingan yang ada saat ini menimbulkan permasalahan yang kompleks. Salah satu permasalahan yang paling penting dalam suatu industri manufaktur

Lebih terperinci

PENENTUAN JUMLAH TENAGA KERJA DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI PADA DIVISI PLASTIC PAINTING PT. XYZ

PENENTUAN JUMLAH TENAGA KERJA DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI PADA DIVISI PLASTIC PAINTING PT. XYZ PENENTUAN JUMLAH TENAGA KERJA DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI PADA DIVISI PLASTIC PAINTING PT. XYZ Lina Gozali, Andres dan Feriyatis Program Studi Teknik Industri Universitas Tarumanagara e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

MENINGKATKAN EFISIENSI LINTASAN KERJA MENGGUNAKAN METODE RPW DAN KILLBRIDGE-WESTERN

MENINGKATKAN EFISIENSI LINTASAN KERJA MENGGUNAKAN METODE RPW DAN KILLBRIDGE-WESTERN 2017 Firman Ardiansyah E, Latif Helmy 16 MENINGKATKAN EFISIENSI LINTASAN KERJA MENGGUNAKAN METODE RPW DAN KILLBRIDGE-WESTERN Firman Ardiansyah Ekoanindiyo *, Latif Helmy * * Program Studi Teknik Industri

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT. Tenda Trijaya Indonesia merupakan salah satu perusahaan tenda yang terpercaya kualitasnya. Perusahaan ini menjadi pemasok ke departemen sosial, perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, bahkan

Lebih terperinci

ANALISIS METODE MOODIE YOUNG DALAM MENENTUKAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI

ANALISIS METODE MOODIE YOUNG DALAM MENENTUKAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 5, No. 03(2016), hal 229-238 ANALISIS METODE MOODIE YOUNG DALAM MENENTUKAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI Dwi Yuli Handayani, Bayu Prihandono,

Lebih terperinci

BAB VII SIMULASI CONVEYOR

BAB VII SIMULASI CONVEYOR BAB VII SIMULASI CONVEYOR VII. Pembahasan Simulasi Conveyor Conveyor merupakan peralatan yang digunakan untuk memindahkan material secara kontinyu dengan jalur yang tetap. Keterangan yang menjelaskan suatu

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknik Pengukuran Kerja Pengukuran kerja adalah metoda penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Teknik pengukuran

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Produksi Proses produksi adalah serangkaian aktifitas yang diperlukan untuk mengolah ataupun merubah sutu kumpulan masukan (input) menjadi sejumlah keluaran (output) yang

Lebih terperinci

ANALISIS ASSEMBLY LINE BALANCING PRODUK HEAD LAMP TYPE K59A DENGAN PENDEKATAN METODE HELGESON-BIRNIE Studi Kasus PT. Indonesia Stanley electric

ANALISIS ASSEMBLY LINE BALANCING PRODUK HEAD LAMP TYPE K59A DENGAN PENDEKATAN METODE HELGESON-BIRNIE Studi Kasus PT. Indonesia Stanley electric ANALISIS ASSEMBLY LINE BALANCING PRODUK HEAD LAMP TYPE K59A DENGAN PENDEKATAN METODE HELGESON-BIRNIE Studi Kasus PT. Indonesia Stanley electric Abstrak Heru Saptono 1),Alif Wardani 2) JurusanTeknikMesin,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA USULAN PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL UNTUK PRODUKSI SEPATU MILITER DI PT. MARINO PELITA INDONESIA

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA USULAN PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL UNTUK PRODUKSI SEPATU MILITER DI PT. MARINO PELITA INDONESIA UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 USULAN PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL UNTUK PRODUKSI SEPATU MILITER DI PT. MARINO PELITA INDONESIA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Keseimbangan lini produksi bermula dari lini produksi masal, dimana tugastugas yang dikerjakan dalam proses harus dibagi kepada seluruh operator agar beban kerja dari operator merata.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Cara Kerja Pada laporan skripsi ini penelitian cara kerja menggunakan metode penelitian yang dilakukan melalui operation process chart. Dan dalam perhitungan untuk

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT. X adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan tas. Ada 7 tipe tas yang diproduksi, yaitu tipe Cerier, Day Pack (Tas Punggung), Shoulder Bag (Tas Selendang), Hip Bag (Tas Pinggang),

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Line Balancing Line Balancing adalah serangkaian stasiun kerja (mesin dan peralatan) yang dipergunakan untuk pembuatan produk. Line Balancing (Lintasan Perakitan) biasanya

Lebih terperinci

MINIMALISASI BOTTLENECK PROSES PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINE BALANCING

MINIMALISASI BOTTLENECK PROSES PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINE BALANCING MINIMALISASI BOTTLENECK PROSES PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINE BALANCING Yayan Indrawan, Ni Luh Putu Hariastuti Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya [email protected]

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam melakukan penelitian diperlukan adanya tahapan-tahapan yang jelas agar penelitian yang dilakukan terarah, tahapan ini disusun ringkas dalam sebuah metodologi penelitian.

Lebih terperinci

ANALISIS PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN EFISIENSI KERJA DENGAN PENERAPAN KAIZEN (Studi Kasus pada PT Beiersdorf Indonesia PC Malang)

ANALISIS PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN EFISIENSI KERJA DENGAN PENERAPAN KAIZEN (Studi Kasus pada PT Beiersdorf Indonesia PC Malang) ANALISIS PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN EFISIENSI KERJA DENGAN PENERAPAN KAIZEN (Studi Kasus pada PT Beiersdorf Indonesia PC Malang) ANALYSIS OF PRODUCTIVITY AND WORK EFFICIENCY IMPROVEMENT WITH KAIZEN

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFISIENSI STASIUN KERJA DENGAN PENDEKATAN REGION LINE BALANCING ( STUDI KASUS DI PT. TRIANGLE MOTORINDO )

PENINGKATAN EFISIENSI STASIUN KERJA DENGAN PENDEKATAN REGION LINE BALANCING ( STUDI KASUS DI PT. TRIANGLE MOTORINDO ) PENINGKATAN EFISIENSI STASIUN KERJA DENGAN PENDEKATAN REGION LINE BALANCING ( STUDI KASUS DI PT. TRIANGLE MOTORINDO ) Haryo Santoso ) Abstrak Ketidakseimbangan alokasi elemen-elemen kerja pada Lintasan

Lebih terperinci

BAB 6 USULAN DAN ANALISIS

BAB 6 USULAN DAN ANALISIS BAB 6 USULAN DAN ANALISIS 6.1 Stasiun Kerja Usulan Berikut merupakan nama-nama stasiun kerja usulan yang digunakan untuk memproduksi toy Nxxxx. Pada usulan ini terdapat 27 stasiun kerja, berikut merupakan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Proses Produksi 3.1.1 Pengertian Proses Produksi Proses adalah cara, metoda dan teknik bagaimana sumber yang tersedia (tenaga kerja, mesin, bahan baku dan sarana pendukung) yang

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1. Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Di dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi perusahaan, maka sebelumnya harus dilakukan pengamatan dan penelitian

Lebih terperinci

Vincent Nataprawira, Kartika Suhada Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha

Vincent Nataprawira, Kartika Suhada Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha Perbaikan Lintasan Produksi dalam Upaya Mencapai Target Produksi dengan Menggunakan Metode Rank Positional Weight, Region Approach dan Algoritma Genetika (Studi Kasus di CV Surya Advertising and T-Shirt,

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL Kondisi Keseimbangan Lintasan Produksi Aktual

BAB V ANALISA HASIL Kondisi Keseimbangan Lintasan Produksi Aktual BAB V ANALISA HASIL 5.1. Kondisi Keseimbangan Lintasan Produksi Aktual Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, kondisi aktual saat ini tidak seimbang penyebab utama terjadinya ketidak seimbangan lintasan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. rupa sehingga tidak ada waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia sehingga dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. rupa sehingga tidak ada waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia sehingga dapat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Efisien dalam dunia industri berarti memanfaatkan sumber daya sedemikian rupa sehingga tidak ada waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia sehingga dapat menghasilkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Line Balancing Line Balancing adalah suatu analisis yang mencoba melakukan suatu perhitungan keseimbangan hasil produksi dengan membagi beban antar proses secara berimbang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT INKABA adalah perusahaan yang bergerak di bidang produksi produk berbahan dasar karet. Perusahaan menerapkan sistem produksi mass production dan job order. Engine mounting adalah salah satu

Lebih terperinci

Daftar Isi. Lembar Pengesahan... Kata Pengantar... Abstrak...

Daftar Isi. Lembar Pengesahan... Kata Pengantar... Abstrak... Daftar Isi Lembar Pengesahan... Kata Pengantar... Abstrak... Daftar Isi Daftar Gambar... Daftar Tabel... Daftar lampiran.. Bab 1 Pendahuluan... 1.1. Latar Belakang Masalah... 1.2. Identifikasi Masalah..

Lebih terperinci

BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL

BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL 2.1 Landasan Teori Operation Process Chart (OPC) adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku yang meliputi urutan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokkan kedalam beberapa pusatpusat

BAB I PENDAHULUAN. massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokkan kedalam beberapa pusatpusat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Keseimbangan lintasan perakitan berhubungan erat dengan produksi massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokkan kedalam beberapa pusatpusat kerja,

Lebih terperinci

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 33 BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Menurut Jay Heizers & Barry Randers, untuk menetapkan optimasi suatu layout dibutuhkan tata letak yang telah mencapai efisiensi serta

Lebih terperinci

Penerapan Metode Line Balancing Produk Tall Boy Cleopatra dan Aplikasinya pada Tata Letak Mesin PT. Funisia Perkasa

Penerapan Metode Line Balancing Produk Tall Boy Cleopatra dan Aplikasinya pada Tata Letak Mesin PT. Funisia Perkasa Universitas Bina Nusantara Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester genap tahun 2006/2007 Penerapan Metode Line Balancing Produk Tall Boy Cleopatra dan Aplikasinya pada Tata Letak Mesin PT.

Lebih terperinci

ANALISIS KESEIMBANGAN LINTASAN LINE PRODUKSI DRIVE ASSY DI PT. JIDECO INDONESIA

ANALISIS KESEIMBANGAN LINTASAN LINE PRODUKSI DRIVE ASSY DI PT. JIDECO INDONESIA ANALISIS KESEIMBANGAN LINTASAN LINE PRODUKSI DRIVE ASSY DI PT. JIDECO INDONESIA Sutarjo, ST. Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana Purwakarta Email : [email protected] Risris Nurjaman, MT. Dosen Universitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perencanaan produksi yang tepat dalam sebuah industri manufaktur

BAB 1 PENDAHULUAN. Perencanaan produksi yang tepat dalam sebuah industri manufaktur 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perencanaan produksi yang tepat dalam sebuah industri manufaktur merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan apabila perusahaan ingin menerapkan proses produksi secara

Lebih terperinci

Universitas Bina Nusantara. Jurusan Teknik Industri Skripsi Sarjana Teknik Industri Semester Genap tahun 2006/2007

Universitas Bina Nusantara. Jurusan Teknik Industri Skripsi Sarjana Teknik Industri Semester Genap tahun 2006/2007 Universitas Bina Nusantara Jurusan Teknik Industri Skripsi Sarjana Teknik Industri Semester Genap tahun 2006/2007 Optimalisasi Proses Produksi Dengan Usulan Lini Keseimbangan Pada CV. Teluk Harapan Alexander

Lebih terperinci

ANALISIS KESEIMBANGAN LINI PADA LINTASAN TRANSMISI MF06 DENGAN PENERAPAN METODE RANKED POSITIONAL WEIGHT

ANALISIS KESEIMBANGAN LINI PADA LINTASAN TRANSMISI MF06 DENGAN PENERAPAN METODE RANKED POSITIONAL WEIGHT ANALISIS KESEIMBANGAN LINI PADA LINTASAN TRANSMISI MF06 DENGAN PENERAPAN METODE RANKED POSITIONAL WEIGHT Disusun oleh: Nama : Rizki Ari Sandi Npm : 36412550 Jurusan : Teknik Industri Dosen Pembimbing :

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK CV SURYA ADVERTISING & T SHIRT merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri garment. Jenis produk yang diproduksi perusahaan meliputi kemeja lengan panjang, kemeja lengan pendek, kaos

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan industri manufaktur yang begitu pesat menuntut perusahaan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan industri manufaktur yang begitu pesat menuntut perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan industri manufaktur yang begitu pesat menuntut perusahaan untuk terus bertahan dan berkembang. Perusahaan yang mampu bertahan dan berkembang dengan baik

Lebih terperinci

LINE BALANCING DENGAN METODE RANKED POSITION WEIGHT ( RPW)

LINE BALANCING DENGAN METODE RANKED POSITION WEIGHT ( RPW) LINE BALANCING DENGAN METODE RANKED POSITION WEIGHT ( RPW) Ita purnamasari, Atikha Sidhi Cahyana Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [email protected], [email protected] ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Keseimbangan Lini

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Keseimbangan Lini BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Keseimbangan Lini engolahan data Gambar 4.1 Skema Metodologi Penelitian 79 A Perancangan Keseimbangan Lini Metode

Lebih terperinci

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT Multi Garmenjaya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri garment. Penulis melakukan pengamatan pada lini produksi produk celana jeans yang diproduksi secara mass production. Masalah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati pekerja dan mencatat waktu kerjanya baik setiap elemen maupun siklus dengan menggunakan alat-alat yang diperlukan.

Lebih terperinci

PENENTUAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE HELGESON-BIRNIE

PENENTUAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE HELGESON-BIRNIE Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 5, No. 03(2016), hal 239-248 PENENTUAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE HELGESON-BIRNIE Puji Astuti Saputri, Shantika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Setiap pekerjaan pasti memiliki suatu sistem kerja tertentu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sistem kerja memiliki peranan penting dalam menyelesaikan pekerjaan.

Lebih terperinci

Perbaikan Lintasan CU dengan Metode Line Balancing

Perbaikan Lintasan CU dengan Metode Line Balancing Erwanto, et al / Perbaikan Lintasan CU dengan Metode Line Balancing / Jurnal Titra, Vol.5, No 2, Juli 2017, pp. 387-392 Perbaikan Lintasan CU dengan Metode Line Balancing Intan Mei Erwanto 1, Prayonne

Lebih terperinci

ANALISIS LINE BALANCING PADA LINI PERAKITAN HANDLE SWITCH DI PT. X

ANALISIS LINE BALANCING PADA LINI PERAKITAN HANDLE SWITCH DI PT. X Profesionalisme Akuntan Menuju Sustainable Business Practice PROCEEDINGS ANALISIS LINE BALANCING PADA LINI PERAKITAN HANDLE SWITCH DI PT. X Didit Damur Rochman, Wiring Respati Caparina. Program Studi Teknik

Lebih terperinci

BAB II OPC, APC, STRUKTUR PRODUK, DAN BOM

BAB II OPC, APC, STRUKTUR PRODUK, DAN BOM II-13 BAB II OPC, APC, STRUKTUR PRODUK, DAN BOM 2.1 Landasan Teori Peta proses operasi adalah peta kerja yang yang mencoba menggambarkan urutan kerja dengan jalan membagi pekerjaan tersebut menjadi elemen-elemen

Lebih terperinci

Seminar Nasional IENACO ISSN PENGELOMPOKAN STASIUN KERJA UNTUK MENYEIMBANGKAN BEBAN KERJA DENGAN METODE LINE BALANCING

Seminar Nasional IENACO ISSN PENGELOMPOKAN STASIUN KERJA UNTUK MENYEIMBANGKAN BEBAN KERJA DENGAN METODE LINE BALANCING PENGELOMPOKAN STASIUN KERJA UNTUK MENYEIMBANGKAN BEBAN KERJA DENGAN METODE LINE BALANCING Joko Susetyo, Imam Sodikin, Adityo Nugroho Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 12 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Studi Gerak dan Waktu (Barnes h. 257) Studi gerak dan waktu merupakan suatu ilmu yang terdiri dari teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan rancangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di era globalisasi, hampir semua perusahaan yang bergerak di bidang industri pakaian dihadapkan pada suatu masalah, yaitu adanya tingkat persaingan yang semakin

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI LINE REAR AXLE ASSY DENGAN METODE LINE BALANCING DI PT. XYZ

MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI LINE REAR AXLE ASSY DENGAN METODE LINE BALANCING DI PT. XYZ MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI LINE REAR AXLE ASSY DENGAN METODE LINE BALANCING DI PT. XYZ Margono Sugeng 1) dan Ari Setyawan 2) Program Studi Teknik Industri, Institut Sains dan Teknologi Nasional email:

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI. pengukuran kerja ( work measurement ) yang meliputi teknik-teknik pengukuran waktu

BAB 3 LANDASAN TEORI. pengukuran kerja ( work measurement ) yang meliputi teknik-teknik pengukuran waktu BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1 Pengukuran Waktu Untuk mengukur kebaikan suatu sistem kerja diperlukan prinsip-prinsip pengukuran kerja ( work measurement ) yang meliputi teknik-teknik pengukuran waktu psikologis

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Flowchart Metodologi Penelitian adalah langkah-langkah yang dibuat untuk memudahkan Pemecahkan suatu masalah dalam sebuah Penelitian. Berikut ini adalah Flow Chart Pemecahan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran yang menjadi landasan dalam penyusunan dan penyelesaian masalah dalam pembuatan laporan skripsi ini adalah sebagai berikut

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian kerja dalam kaitannya dengan upaya peningkatan produktifitas. Analisa dan penelitian kerja adalah suatu aktifitas yang ditujukan untuk mempelajari prinsip-prinsip atau

Lebih terperinci

PENYEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI DENGAN METODE HEURISTIK (STUDI KASUS PT XYZ MAKASSAR)

PENYEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI DENGAN METODE HEURISTIK (STUDI KASUS PT XYZ MAKASSAR) PENYEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI DENGAN METODE HEURISTIK (STUDI KASUS PT XYZ MAKASSAR) Saiful, Mulyadi, DAN Tri Muhadi Rahman Program Studi Teknik Industri, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data gerakan kerja dilakukan dengan cara merekam proses perakitan resleting polyester dengan handycam / kamera video. Setelah itu data

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Penelitian cara kerja atau yang dikenal juga dengan nama methods analysis merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan metode kerja yang akan dipilih untuk melakukan suatu pekerjaan.

Lebih terperinci

Analisis Kebutuhan Man Power dan Line Balancing Jalur Supply Body 3 D01N PT. Astra Daihatsu Motor Karawang Assembly Plant (KAP)

Analisis Kebutuhan Man Power dan Line Balancing Jalur Supply Body 3 D01N PT. Astra Daihatsu Motor Karawang Assembly Plant (KAP) Analisis Kebutuhan Man Power dan Line Balancing Jalur Supply Body 3 D01N PT. Astra Daihatsu Motor Karawang Assembly Plant (KAP) Umi marfuah 1), Cholis Nur Alfiat 2) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Praktikum Sistem Produksi ATA 2014/2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Praktikum Sistem Produksi ATA 2014/2015 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktifitas produksi yang terjadi pada sebuah perusahaan tidak hanya terbatas pada hal yang berkaitan dengan menghasilkan produk saja, namun kegiatan tersebut erat kaitannya

Lebih terperinci

BAB 4 PEMBAHASAN HASIL

BAB 4 PEMBAHASAN HASIL BAB 4 PEMBAHASAN HASIL 4.1 Profil Perusahaan 4.1.1 Sejarah Perusahaan PT. Asia Dwimitra Industri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri manufaktur yang berdiri sejak tahun 2008 dan berlokasi

Lebih terperinci

Perbaikan Tata Letak Fasilitas dengan Mempertimbangkan Keseimbangan Lintasan (Studi Kasus)

Perbaikan Tata Letak Fasilitas dengan Mempertimbangkan Keseimbangan Lintasan (Studi Kasus) Perbaikan Tata Letak Fasilitas dengan Mempertimbangkan Keseimbangan Lintasan (Studi Kasus) Priscilla Gandasutisna 1, Tanti Octavia 2 Abstract: PT. X is a job-order plastic packaging industry using line

Lebih terperinci

BAB II STUDI LITERATUR

BAB II STUDI LITERATUR BAB II STUDI LITERATUR 2.1. Assembling Line Balancing Lini produksi adalah penempatan area-area kerja dimana operasi-operasi diatur secara berturut-turut dan material bergerak secara kontinu melalui operasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Kerja Pengukuran kerja yang dimaksudkan adalah pengukuran waktu kerja (time study) yaitu suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh seorang operator

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Produksi dan Proses Produksi 2.1.1 Pengertian Produksi Dari beberapa ahli mendifinisikan tentang produksi, antara lain 1. Pengertian produksi adalah suatu proses pengubahan

Lebih terperinci

Tabel Uji Keseragaman Data Pada Work Center Pengukuran dan Pemotongan

Tabel Uji Keseragaman Data Pada Work Center Pengukuran dan Pemotongan Uji Keseragaman Data Tabel Uji Keseragaman Data Pada Work Center Pengukuran dan Pemotongan Pengamatan (Menit) No Kegiatan Rata rata sigma (Xirata)^2 S BKA BKB Keterangan 1 Plat MS di ukur, digambar dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan produksi dan operasi merupakan kegiatan yang paling pokok

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan produksi dan operasi merupakan kegiatan yang paling pokok BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keseimbangan Lintasan berkaitan dengan bagaimana operasi yang ditunjuk pada stasiun kerja dapat dioptimalkan melalui menyeimbangkan kegiatan yang ditugaskan

Lebih terperinci

Perbaikan Keseimbangan Lintasan di Lini Produksi ECOSS Perusahaan Heat Exchanger

Perbaikan Keseimbangan Lintasan di Lini Produksi ECOSS Perusahaan Heat Exchanger Perbaikan Keseimbangan Lintasan di Lini Produksi ECOSS Perusahaan Heat Exchanger Ardityo Irawan 1 Abstract: PT XYZ is one of the company that produce heat exchanger in Indonesia. The Company developing

Lebih terperinci