HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 19 HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. Identifikasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. dilakukan melalui pembuatan preparat ulas darah dengan menggunakan pewarnaan Giemsa. Diagnosis ditetapkan dengan ditemukannya parasit pada pemeriksaan ulas darah. Spesies Babesia sp. yang sering ditemukan menginfeksi anjing adalah Babesia canis dan Babesia gibsoni. Keduanya merupakan protozoa yang hidup intraeritrosit (intrasitoplasmik) (Stockham dan Scott 2002), sedangkan Haemobartonella sp. (pada anjing yaitu Haemobartonella canis) hidup epieritrositik (Weiss dan Wardrop 2010). Parasit Babesia sp. yang ditemukan berupa merozoit di dalam sitoplasma, sedangkan Haemobartonella sp. berupa rantai (kelompok) dan organisme individu pada permukaan eritrosit. Merozoit aktif membelah yang ditemukan pada preparat ulas darah merupakan bentuk aktif Babesia sp., sedangkan bentuk tidak aktif ditandai dengan sitoplasma maupun inti yang menghilang (Wulansari 2002). Gambar 6 Identifikasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. serta morfologi eritrosit: sferosit sebagai tanda adanya anemia yang diperantarai kekebalan Babesia sp.; Haemobartonella sp.; sferosit

2 20 Hasil pengamatan pada preparat ulas darah yang disajikan pada Gambar 6 menunjukkan bahwa selain ditemukannya Babesia sp. dan Haemobartonella sp., ditemukan pula bentuk sferosit (Spherocyte) pada preparat ulas. Sferosit merupakan salah satu bentuk eritrosit yang abnormal, yang bisa ditemukan pada anemia hemolitik yang diperntarai kekebalan. Menurut Weiss dan Wardrop (2010), adanya sferosit mengindikasikan adanya anemia hemolitik yang diperantarai sistem imun (Immune Mediated Hemolytic Anaemia/IMHA). Persentase Eritrosit Berparasit Tabel 1 dan Gambar 7 memperlihatkan persentase eritrosit ber parasit pada semua kelompok ras anjing yag terinfeksi Babesia sp dan Haemobartonella sp. kronis. Hasil pengamatan memperlihatkan persentase eritrosit berparasit pada masing-masing ras anjing yang terinfeksi Babesia sp. berkisar antara % (Belgian Malinois), % (Golden Retriever), % (Labrador Retriever), % (German Shepherd) dan % (Rottweiler). Persentase eritrosit terinfeksi Babesia sp. paling tinggi dijumpai pada anjing dengan ras Belgian Malinois, diikuti berturut-turut oleh anjing ras Golden Retriever, Labrador Retriever, German Shepherd, dan Rottweiler. Persentase eritrosit terinfeksi Haemobartonella sp. berturut-turut berkisar antara % (Belgian Malinois), % (Golden Retriever), % (Labrador Retriever), % (German Shepherd) dan % (Rottweiler). Persentase eritrosit terinfeksi Haemobartonella sp. paling tinggi dijumpai pada kelompok anjing dengan ras Belgian Malinois, diikuti berturutturut oleh kelompok anjing ras Labrador Retriever, German Shepherd, dan Rottweiler (Tabel 1). Tidak ada perbedaan yang nyata pada persentase eritrosit berparasit Babesia sp. dan Haemobartonella sp. Diantara kelima kelompok ras anjing tersebut (P>0.05), kecuali persentase eritrosit terinfeksi Haemobartonella sp. antara kelompok anjing ras Belgian Malinois dan Rottweiler (P<0.05). Tabel 1 Persentase eritrosit berparasit pada kelima kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis Infeksi (%) Ras Anjing Babesia sp. 0.8±0.56 ab 0.6±0.35 a 0.48±0.29 ab 0.3±0.09 a 0.29±0.18 a Haemobartonella sp. 1.0±1.0 b 0.5±0.2 ab 0.60±0.25 ab 0.5±0.3 ab 0.44±0.21 a German Shepherd, : Rottweiler; a, b, ab Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (p < 0.05) Persentase eritrosit ber parasit Babesia sp. dan Haemobartonella sp. menunjukkan derajat infeksi dari kedua agen patogen tersebut. Persentase eritrosit berparasit atau tingkat parasitemia diperoleh dengan cara menghitung banyaknya eritrosit yang terinfeksi parasit dalam 1000 eritrosit. Tingkat parasitemia bisa digunakan untuk melihat tingkat keparahan penyakit (Sunaga et al. 2002).

3 21 Destruksi eritrosit pada babesiosis terjadi karena parasit memperbanyak diri (multiplication) di dalam eritrosit tersebut. Namun demikian, banyaknya eritrosit yang lisis belum tentu proporsional dengan tingkat parasitemia yang terjadi. Tingkat keparahan anemia yang ditimbulkan pada babesiosis tidak selalu sebanding dengan derajat parasitemia (Solihah 2013). Tabel 1 menunjukkan rata-rata persentase eritrosit berparasit Babesia sp. dan Haemobartonella sp. 1 % pada semua kelompok ras anjing dalam penelitian ini. Tingkat parasitemia pada penelitian ini termasuk rendah. Tingkat parasitemia yang besarnya 1 % menunjukkan bahwa kelima kelompok ras anjing pada penelitian ini mengalami infeksi dalam tingkat ringan. Menurut Ndungu et al. (2005), tingkat parasitemia atau derajat infeksi dikategorikan berdasarkan persentase eritrosit berparasit yang didapatkan, yaitu derajat infeksi ringan (persentase parasitemia <1%), derajat infeksi sedang (persentase parasitemia 1-5%), dan derajat infeksi berat (persentase parasitemia > 5%). 3 Persentase eritrosit berparasit (%) B_ B_ B_ B_ B_ H_ H_ H_ H_ H_ Gambar 7 Persentase eritrosit berparasit (%) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis B: infeksi Babesia sp.; H: infeksi Haemobartonella sp. Ras: : Belgian Malinois; : Golden Retriever; : Labrador Retriever; : German Shepherd; : Rottweiler Tabel 1 dan Gambar 7 menunjukkan bahwa semua kelompok ras anjing memiliki derajat infeksi terhadap Babesia sp. dan Haemobartonella sp. 1 % (derajat infeksi ringan). Derajat infeksi biasanya sangat berkaitan dengan gejala klinis yang muncul. Derajat infeksi Babesia sp. yang sedang sampai tinggi memiliki pengaruh lebih buruk terhadap gambaran darah dan manifestasi klinis yang dihasilkan sehingga lebih tampak gejalanya (Birkenheuer et al. 2003). Temuan klinis yang diperoleh pada penelitian ini tidak memperlihatkan adanya gejala babesiosis seperti demam. Gejala kekuningan teramati, masing-

4 22 masing pada satu ekor anjing kelompok ras Belgian Malinois dan German Shepherd. Hal ini diduga karena tingkat parasitemia yang terjadi rendah yaitu 1%, dan infeksinya yang bersifat kronis. Babesia sp. (intraeritrositik) dan Haemobartonella sp. (epieritrositik) merupakan parasit yang memiliki kemampuan memunculkan gejala klinis sangat beragam. Infeksi pada hewan diduga carrier (pembawa), meskipun diberikan terapi antibiotik, parasitemia dapat berulang pada saat hewan mengalami stres atau penurunan daya tahan tubuh (Weiss dan Wardrop 2010). Organisme Babesia sp. dapat menyebabkan anemia hemolitik akut pada anjing yang mengalami imunosupresi, splenektomi atau bersamaan dengan infeksi yang lain (infeksi kombinasi). Pada hewan sehat yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp., infeksi akan berkembang menjadi tipe kronis, dimana infeksinya asimptomatik dan sporadik disertai dengan derajat parasitemia yang rendah (Weiss dan Wardrop 2010). Infeksi Babesia sp. yang bersifat kronis akan menyebabkan hewan dalam kondisi premunisi, yaitu keseimbangan yang terjadi antara respon imun hewan yang terinfeksi dengan kemampuan parasit untuk memunculkan gejala klinis (Mandell et al. 2010; Wulansari 2002). Keadaan premunisi terjadi saat respon imun mampu menekan pertumbuhan parasit, mencegah hiperparasitemia, menurunkan kepadatan parasit, dan menekan patogenitas parasit sehingga tidak sampai menimbulkan gejala (asimptomatis) (MacDonald 2001; Kurtzhals et al. 1998). Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat parasitemia diantaranya adalah faktor patogenitas spesies agen penyebab, splenektomi dan terdapatnya kombinasi infeksi dengan agen patogen yang lain. Infeksi tunggal oleh Babesia sp. kronis memiliki derajat infeksi ringan. Namun demikian, jika terdapat kombinasi dengan infeksi parasit darah lainnya akan menambah keparahan infeksi, karena tubuh mengalami infeksi ganda (Weiss dan Wrdrop 2010). Jika infeksi Babesia sp. terjadi bersamaan dengan parasit yang lain dan terjadi saling mempengaruhi antar parasit, tingkat parasitemia yang ringan dapat memicu timbulnya gejala klinis (Birkenheuer et al. 2003). Keadaan Umum dan Temuan Klinis Bobot badan semua kelompok ras anjing yang secara alami terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis dapat dilihat pada Tabel 2. Kelompok anjing ras Belgian Malinois memiliki bobot badan berkisar antara kg, masih dalam kisaran nilai normal ( kg) menurut Morgan (2008). Kelompok anjing ras Golden Retriever memiliki bobot badan ( kg) dibawah kisaran nilai normal menurut Grandjean (2006) yaitu kg. Bobot badan kelompok anjing ras Labrador Retriever, German Shepherd dan Rottweiler berturut-turut berkisar antara kg (normal kg); kg (normal kg); dan kg (normal kg). Penurunan bobot badan pada hampir semua kelompok ras anjing diduga diakibatkan oleh anemia akibat infeksi oleh Babesia sp. dan Haemobartonella sp, dimana nutrisi tidak dapat dihantarkan dengan baik ke seluruh jaringan. Nutrisi

5 23 beserta oksigen diedarkan ke seluruh tubuh melalui darah. Kekurangan darah mengakibatkan transport terhambat sampai ke jaringan (Price dan Wilson 2006). Tabel 2 memperlihatkan temperatur tubuh, frekuensi nafas, dan frekuensi denyut jantung pada kelima kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis. Secara umum, temperatur tubuh semua kelompok ras anjing masih dalam kisaran nilai normal menurut Morgan (2008) dan tidak ada perbedaan temperatur tubuh yang nyata antar kelompok ras anjing (P>0.05). Tabel 2. Hasil pemeriksaan keadaan umum semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis Keadaan Umum Nilai Normal* Kelompok Ras Anjing BB (kg) 24.75± ± ± ± ±6.24 ** T ( o C) ±0.82 a 38.93±0.31 a 38.57±0.73 a 38.57±0.55 a 38.86±0.56 a RR (x/menit) ±5.16 a 20.00±4.00 a 25.33±16.91 a 33.33±10.63 a 24.00±15.49 a HR (x/menit) ±59.45 a 57.33±26.63 a 76.67±47.69 a ±55.51 a 94.67±57.55 a BB: bobot badan, T: temperatur, RR: frekuensi nafas, HR: frekuensi denyut jantung; : Belgian Malinois, : Golden Retriever, : Labrador Retriever, : German Shepherd, : Rottweiler; *Morgan (2008); **Nilai normal bobot badan (kg) masing-masing ras anjing Frekuensi nafas kelompok anjing ras Belgian Malinois (13-23 kali/menit) dan Golden Retriever (16-24 kali/menit) yang secara alami terinfeksi kombinasi Haemobartonella sp. dengan Babesia sp. memiliki kisaran nilai normal menurut Morgan (2008) yaitu kali/menit. Kelompok anjing ras Labrador Retriever, German Shepherd dan Rottweiler berturut-turut memiliki frekuensi nafas antara 8 42 kali/menit; kali/menit; dan 9-33 kali/menit). Ketiga kelompok ras anjing ini memiliki frekuensi nafas yang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan nilai normal. Tidak ada perbedaan frekuensi nafas antar kelompok ras anjing (P>0.05). Secara umum, frekuensi denyut jantung pada semua kelompok ras anjing masih berada dalam kisaran normal (Tabel 2), kecuali pada kelompok anjing ras Golden Retriever (kisaran antara kali/menit) yang memiliki frekuensi denyut jantung cenderung lebih rendah dari nilai normal. Tidak ada perbedaan pada frekuensi denyut jantung diantara kelima kelompok ras anjing tersebut (P>0.05). Temuan Klinis Temuan klinis yang didapatkan dari hasil pemeriksaan fisik dan selama observasi pada kelima kelompok ras anjing dapat dilihat pada Tabel 3. Temuan klinis pada semua kelompok ras anjing pada penelitian ini bervariasi, meliputi membrane mukosa anemis, konjungtiva dan sklera hiperemi, aritmia, splenomegali, infestasi ektoparasit dan diare berdarah. Temuan klinis lainnya

6 24 adalah ptechie (kelompok anjing ras Belgian Malinois dan Rottweiler); batuk (kelompok anjing ras Golden Retriever); dyspnoe, hepatomegali dan epistaksis (kelompok anjing ras Belgian Malinois, German Shepherd dan Rottweiler), aritmia bradikardia (semua kelompok ras anjing), takhikardia (semua kelompok ras anjing kecuali kelompok anjing ras Golden Retriever); kesakitan pada saat palpasi ginjal (kelompok anjing ras Golden Retriever); dan vomitus (kelompok anjing ras Belgian Malinois, Labrador Retriever dan Rottweiler). Tabel 3. Temuan klinis yang ditemukan selama pemeriksaan fisik dan observasi pada kelima kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis Temuan Klinis % ntotal (n: 28) Membran mukosa Anemis Membran mukosa Ikterus Konjungtiva hiperemi Ptechie Aritmia Bradikardia Takhikardia Splenomegali Hepatomegali Ginjal: sakit Epistaxis (O) Batuk Dispnoe Ektoparasit Vomitus (O) Diare berdarah (O) Data ditampilkan secara kulaitatif dalam bentuk persentase; O: observasi; : Belgian Malinois, : Golden Retriever, : Labrador Retriever, : German Shepherd, : Rottweiler Temuan klinis yang muncul merupakan manifestasi klinis dari anemia dan trombositopenia yang berdampak pada organ lain (Tabel 3). Penelitian Cardoso et al. (2010) menunjukkan bahwa gejala klinis yang muncul pada infeksi Babesia sp. kombinasi dengan infeksi oleh Anaplasma, Leishmania, Erlichia, dan Hepatozoon, berupa letargi, urin kemerahan, hipertermia, anoreksia, membran mukosa anemis, hipotermia, ikterus, muntah, kesakitan abdominal, ataksia, discharge uterus, batuk, ptechi pada gusi, dan discharge mata. Hasil penelitian Simões et al. (2011) menunjukkan bahwa babesiosis pada anjing dapat bersifat subklinis sampai fatal tergantung patogenitas spesies agen dan juga kepekaan individu inang yang dipengaruhi oleh umur, status imun dan infeksi. Manifestasi klinis babesiosis berupa letargi, anoreksia, selaput lendir anemis, hipertermia, hemoglobinuria dan splenomegali. Temuan klini berupa ikterus dilaporkan terjadi pada anjing ras Labrador Retriever yang didiagnosis

7 25 babesiosis (Yadav et al. 2011). Manifestasi klinis trombositopenia dapat berupa echymosis, ptechie, epistaksis, pendarahan saluran cerna (feses diare-berdarah), perdarahan saluran kemih dan kelamin serta pendarahan sistem saraf pusat (Price dan Wilson 2006). Parameter Hematologi Rataan jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, nilai hematokrit, indeks eritrosit, jumlah trombosit, jumlah leukosit total, jumlah neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp.kronis disajikan pada Tabel 3 dan Gambar Hampir semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. memperlihatkan jumlah eritrosit (Gambar 8) yang cenderung dibawah nilai normal menurut Morgan (2008). Jumlah eritrosit terendah ditemukan pada kelompok anjing ras Belgian Malinois (berkisar antara x 10 6 /µl), diikuti berturut-turut oleh kelompok anjing ras Labrador Retriever (berkisar antara x 10 6 /µl), Golden Retriever (berkisar antara x 10 6 /µl), Rottweiler (berkisar antara x 10 6 /µl) dan German Shepherd (berkisar antara x 10 6 /µl). Konsentrasi hemoglobin (Gambar 9) memperlihatkan gambaran yang sama dengan jumlah eritrosit, dimana konsentrasi hemoglobin cenderung berada dibawah nilai normal pada semua kelompok ras anjing. Konsentrasi hemoglobin terendah terdapat pada kelompok anjing ras Belgian Malinois, diikuti berturutturut kelompok anjing ras Golden Retriever (berkisar antara x g/dl), Rottweiler (berkisar antara x g/dl), Labrador Retriever (berkisar antara x g/dl), dan German Shepherd (berkisar antara x g/dl). Demikian pula dengan nilai hematokrit (Gambar 10), dimana semua kelompok ras anjing memiliki nilai yang cenderung berada dibawah nilai normal. Nilai hematokrit paling rendah terdapat pada kelompok anjing ras Belgian Malinois (berkisar antara %), diikuti berturut-turut kelompok anjing ras Labrador Retriever (berkisar antara %), Golden Retriever (berkisar antara %), Rottweiler (berkisar antara %), dan German Shepherd (berkisar antara %). Rendahnya jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin dan nilai hematokrit mengindikasikan adanya anemia (Brockus dan Andreasen 2003). Anemia bisa disebabkan oleh salah satu dari tiga mekanisme berikut, yaitu hilang darah (misalnya perdarahan), meningkatnya destruksi eritrosit (oleh proses hemolisis), dan menurunnya produksi eritrosit (Price dan Wilson 2006). Anemia yang terjadi pada semua kelompok ras anjing pada penelitian ini diduga diakibatkan oleh meningkatnya destruksi eritrosit (anemia hemolitik).

8 26 Tabel 4 Nilai parameter hematologi pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis Parameter Nilai Normal* Ras Anjing Eritrosit (x10 6 /µl) ±1.88 a 4.43±0.93 ab 4.17±0.90 ab 5.20±0.54 b 4.79±0.73 ab Hb (g/dl) ±3.39 a 10.40±1.71 a 11.40±2.40 a 12.98±1.37 a 11.29±1.79 a Hct (%) ±13.07 a 29.67±4.04 a 27.5±7.04 a 34.83±4.71 a 32.11±7.03 a Indeks eritrosit NN (100 %) NN (100 %) NN (83.33 %) MiN (16.67 %) NN (100 %) NN (100 %) Trombosit (x10 3 /µl) ±84.73 a ±29.01 a 55.5±44.24 a ±44.24 a ±11.33 a Leukosit (x10 3 /µl) ±7.81 a 10.83±3.99 a 13.85±7.12 a 16.70±24.06 a 13.06±4.23 a Limfosit (%) 12 30** ±27.6 a 52.33± a 45.50±23.81 a 26.33±12.71 a 32.67±24.10 a Monosit (%) 3 10** 4.25±2.50 a 5.33±2.52 a 3.50±2.07 a 5.33±2.94 a 3.67±1.58 a Segmen (%) 60 70** 61.50±17.29 a 38.00±23.07 a 44.17±19.34 a 63.67±12.26 a 58.33±21.89 a Band (%)) 0 4** 1.50±0.58 a 3.33±2.31 a 2.50±1.52 a 3.50±1.22 a 4.00±1.96 a Eosinofil (%) 2 10** 0.75±0.96 a 1.00±1.73 a 0.50±0.55 a 0.67±0.82 a 1.11±1.05 a Basofil (%) 0 1** 0.00±0.00 a 0.33±0.58 a 0.33±0.52 a 0.50±0.55 a 0.22±0.44 a Limfosit (x10 3 /µl) ** 2.48±2.73 a 4.95±1.79 a 6.62±5.15 a 4.46±2.26 a 4.95±4.67 a Monosit (x10 3 /µl) ** 0.31±0.21 a 0.64±0.52 a 0.58±0.63 a 0.94±0.62 a 0.49±0.29 a Segmen (x10 3 /µl) ** 6.66±7.29 a 5.23±4.16 a 6.06±4.09 a 9.4±3.36 a 6.88±2.09 a Batang (x10 3 /µl) ** 0.12±0.08 a 0.32±0.15 a 0.35±0.36 a 0.53±0.35 a 0.41±0.39 a Eosinofil (x10 3 /µl) ** 0.12±0.19 a 0.15±0.27 a 0.06±0.08 a 0.11±0.12 a 0.14±0.12 a Basofil (x10 3 /µl) ** 0.00±0.00 a 0.03±0.05 a 0.06±0.09 a 0.09±0.1 a 0.04±0.08 a Hb: hemoglobin, Hct: hematokrit, MCV: Mean Corpuscular Volume; MCHC: Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration; NN: normositik normokromik; MiN: mikrositik normokromik; Lim: limfosit, Mon: Monosit, Segmen: neutrofil segmen; Band: neutrofil muda, Bas: basofil; : Belgian Malinois, : Golden Retriever, : Labrador Retriever, : German Shepherd, : Rottweiler; *Morgan (2008); **Tilley dan Smith (2011)

9 27 Anemia hemolitik merupakan anemia yang muncul akibat destruksi eritrosit oleh Babesia sp dan Haemobartonella sp.. Infeksi oleh dua agen parasit darah tersebut akan mengakibatkan eritrosit mengalami kerusakan sehingga terjadi proses destruksi. (Price dan Wilson 2006; Macfarlane et al. 2000). Destruksi sel darah merah diduga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu perusakan mekanis sel darah merah oleh adanya multiplikasi parasit, eritrolisis berperantaraan kekebalan yang tergantung komplemen dan opsonisasi eritrosit oleh sistem monosit-fagosit. Selain itu, adanya fagositosis eritrosit yang tidak spesifik oleh makrofag yang menjadi aktif, adanya senyawa haemolitik pada serum hewan yang terinfeksi babesia, dan adanya produksi antibodi anti eritrosit, ikut berkontribusi terhadap munculnya keadaan anemia pada babesiosis (Weiss dan Wardrop 2010; Stockham dan Scott 2002). 7 6 Eritrosit (x 1 juta/µl) Gambar 8 Rata-rata jumlah eritrosit (x10 6 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimum eritrosit menurut Morgan (2008) Hasil pengamatan pada penelitian ini memperlihatkan munculnya anemia pada hampir semua kelompok ras anjing, walaupun derajat infeksi (tingkat parasitemia) semua kelompok ras anjing pada penelitian ini termasuk kategori ringan ( 1%). Tabel 4 memperlihatkan kelompok anjing ras Belgian Malinois merupakan kelompok ras anjing dengan jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit yang paling rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa keparahan anemia pada anjing penderita babesiosis tidak selalu sebanding dengan derajat parasitemia. Hal ini diduga karena jumlah eritrosit yang rusak lebih banyak dibandingkan dengan eritrosit berparasit yang hilang dari sirkulasi. Eritrosit yang tidak ber parasit pun rusak oleh adanya infeksi tersebut, karena makrofag juga memfagosit berbagai eritrosit yang tidak berparasit (Weiss dan Wardrop 2010).

10 28 Gambar 9 Rata-rata konsentrasi hemoglobin (g/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Morgan (2008) Hematokrit (%) Gambar 10 Rata-rata nilai hematokrit (%) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Morgan (2008)

11 Infeksi kombinasi agen patogen oleh Babesia sp. dan Haemobartonella sp., sama-sama dapat menyebabkan terjadinya destruksi eritrosit, dimana keduanya ikut berkontribusi terhadap munculnya anemia pada hampir semua kelompok ras anjing, terutama kelompok anjing ras Belgian Malinois. Menurut Grandjean (2006), anjing German Shepherd merupakan anjing yang sangat peka terhadap infeksi penyakit. Dalam penelitian ini kelompok ras anjing yang menunjukkan kepekaan adalah kelompok anjing ras Belgian Malinois, dimana anjing ras ini disebut juga sebagai Belgian Shepherd (Grandjean 2006). Pembelahan merozoit yang tidak terbendung secara terus-menerus mengakibatkan eritrosit-eritrosit lain di sekitar eritrosit berparasit juga ikut terinfeksi. Eritrosit-eritrosit yang terinfeksi oleh parasit ini mengalami destruksi/pemecahan (Gardiner et al. 2002). Daya hidup eritrosit normal pada anjing adalah hari, namun dengan adanya infeksi ini menyebabkan pemendekan umur eritrosit menjadi hari (Sibuea et al. 2009), sehingga banyak eritrosit akibat infeksi parasit ini didestruksi lebih cepat dari umur normalnya (Weiss dan Wardrop 2010; Colville dan Bassert 2002). Tabel 4 memperlihatkan indeks eritrosit pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis. Indeks eritrosit digunakan untuk menentukan jenis anemia berdasarkan morfologi, yang didasarkan pada ukuran dan intensitas warna eritrosit. Hasil penghitungan indeks eritrosit pada kelima kelompok ras anjing menunjukkan adanya dua jenis anemia, yaitu anemia normositik normokromik dan mikrositik normokromik. Jenis anemia normositik normokromik ditemukan pada semua anjing (100%) pada empat kelompok anjing ras Belgian Malinois, Golden Retriever, Rottweiler, dan German Shepherd dan pada 83.33% anjing kelompok ras Labrador Retriever. Sedangkan jenis anemia mikrositik normokromik ditemukan pada % anjing kelompok ras Labrador Retriever. Hasil pengamatan jenis anemia yang berupa anemia normositik normokromik pada penelitian ini sama dengan laporan Shah et al. (2011) dan Furlanello et al. (2005). Penelitian lain menunjukkan adanya anemia mikrositik hipokromik (Niwethpathomwat et al 2006), normositik hipokromik dan makrositik hipokromik pada anjing yang terinfeksi Babesia sp (Simões et al. 2011). Tabel 4 dan Gambar 11 menunjukkan rata-rata jumlah trombosit pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis. Jumlah trombosit pada semua kelompok ras anjing cenderung berada dibawah nilai normal menurut Morgan (2008) yang berkisar antara x10 3 /µl, dengan urutan jumlah trombosit terendah ditemukan pada kelompok anjing ras Labrador Retriever (berkisar antara x10 3 /µl), Belgian Malinois (berkisar antara x10 3 /µl), Golden Retriever (berkisar antara x10 3 /µl), German Shepherd (berkisar antara x10 3 /µl), dan Rottweiler (berkisar antara x10 3 /µl). Menurut Stockham dan Scott (2002), penurunan jumlah trombosit dalam sirkulasi darah (trombositopenia) dapat diakibatkan oleh penurunan produksi trombosit oleh sumsum tulang, distribusi tidak normal (trombosit terperangkap dalam limpa yang membesar), pengenceran serta peningkatan destruksi (penghancuran) trombosit. 29

12 30 Trombositopenia, yang ditemukan pada anjing yang terinfeksi Babesia sp., dapat terjadi karena kerusakan berperantara kekebalan dan adanya peningkatan penimbunan trombosit yang terjadi secara abnormal dalam limpa. Selain itu trombositopenia juga terjadi akibat adanya penurunan jumlah trombosit yang bersirkulasi akibat penurunan produksi trombosit. Penurunan produksi trombosit terjadi pada infeksi virus, riketsia dan neoplasia (Weiss dan Wardrop 2010). Terjadinya trombositopenia pada anjing penderita babesiosis juga dilaporkan oleh Simões et al. (2011), Shah et al. (2011), Furlanello et al. (2005) serta Makinde dan Bobade (1994) Trombosit (x 1000/µL) Gambar 11 Rata Rata-rata jumlah trombosit (/µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Morgan (2008) Destruksi trombosit yang dimediasi sistem imun berkontribusi terhadap trombositopenia pada anjing yang mengalami babesiosis, leishmaniasis dan histoplasmosis. Riketsia dapat menyebabkan trombositopenia, namun patogenesisnya belum diketahui. Beberapa mekanisme yang berkontribusi pada munculnya trombositopenia diduga karena adanya destruksi trombosit yang dimediasi imun, kerusakan langsung trombosit, defisit produksi trombosit dan komplikasi sekunder DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) (Weiss dan Wardrop 2010). Trombositopenia dapat menyebabkan echymosis dan ptechie, epistaksis, pendarahan saluran cerna (feses diare-berdarah), perdarahan saluran kemih dan kelamin serta pendarahan sistem saraf pusat (Price dan Wilson 2006). Rata-rata jumlah leukosit total pada semua kelompok ras anjing dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 12. Tampak bahwa semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis memiliki jumlah leukosit total yang masih dalam kisaran normal menurut Tilley dan Smith

13 31 (2011). Kelompok anjing ras Belgian Malinois terlihat memiliki rata-rata jumlah leukosit total melebihi batas normal bawah, sedangkan kelompok anjing ras German Shepherd terlihat memiliki rata-rata jumlah leukosit total melebihi batas atas nilai normal. Gambaran rata-rata jumlah leukosit total pada Gambar 12 menunjukkan bahwa kelompok anjing ras Belgian Malinois memiliki rata-rata jumlah leukosit total paling rendah diantara kelompok ras anjing lainnya. Menurut Weiss dan Wardrop (2010), jumlah leukosit total menunjukkan respon pertahanan individu terhadap adanya infeksi. Rata-rata hitung jenis leukosit pada semua kelompok ras anjing bisa dilihat pada Tabel 4 dan Gambar Persentase limfosit (Tabel 4 dan Gambar 13) pada kelompok anjing ras Retriever (Golden, Labrador) dan Rottweiller berturut-turut 52.33± %; 45.50±23.81 %, dan 32.67±24.10 %. Persentase limfosit pada ketiga kelompok ras anjing tersebut cenderung berada diatas nilai range normal menurut Tilley dan Smith (2011) yang berkisar antara % Leukosit (x1000/µl) Gambar 12 Rata-rata jumlah leukosit total (x10 3 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal dan minimal menurut Morgan (2008) Penelitian yang dilakukan Shah et al. (2011) menunjukkan bahwa jumlah leukosit total dan diferensial leukosit pada kasus infeksi alami babesiosis tidak spesifik menunjukkan perubahan. Namun demikian, penelitian yang dilakukan oleh Latimer dan Prasse (2003) menunjukkan adanya limfositopenia, dimana kemungkinan diakibatkan oleh infeksi kombinasi babesiosis dengan infeksi virus.

14 32 15 Limfosit (x1000/µl) Gambar 13 Rata-rata jumlah limfosit (x10 3 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Tilley dan Smith (2011) Kecenderungan tingginya persentase limfosit (dibandingkan dengan nilai range normal) ketiga kelompok ras anjing (Golden Retriever, Labrador Retriever dan Rottweiller) pada penelitian ini diduga disebabkan oleh adanya infeksi kombinasi babesiosis dan haemobartonellosis yang sudah kronis. Menurut Stockham dan Scott (2002), peningkatan jumlah limfosit dapat diakibatkan oleh adanya peradangan atau infeksi kronis (misalnya akibat infeksi bakteri, riketsia, fungi, virus dan parasit darah terutama Babesia dan Theileria), obat-obatan, neoplasia dan hipoadrenokortisism.

15 Monosit (x1000/µl) Gambar 14 Rata Rata-rata jumlah monosit (x10 3 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal Tilley dan Smith (2011) 20 Neutrofil segmen (x1000/µl) Gambar 15 Rata-rata jumlah neutofil segmen (x10 3 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal dan minimal menurut Tilley dan Smith (2011)

16 34 Gambar 14 menunjukkan bahwa kelompok anjing ras Belgian Malinois cenderung memiliki persentase monosit lebih rendah dibandingkan dengan kelompok ras anjing lainnya. Kelompok anjing ras German Shepherd cenderung memiliki persentase monosit lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok ras anjing lainnya, meskipun rata-rata data pada hampir semua kelompok ras anjing terlihat masih berada dalam batas normal menurut Tilley dan Smith (2011). Tabel 4 dan Gambar 15 memperlihatkan rata-rata jumlah neutrofil segmen pada semua kelompok ras anjing. Rata-rata jumlah neutrofil segmen masih berada dalam kisaran nilai normal menurut Tilley dan Smith (2011). Tabel 4 memperlihatkan pula rata-rata persentase neutrofil segmen pada semua kelompok ras anjing. Persentase neutrofil pada kelompok anjing ras Retriever (Golden, Labrador) dan Rottweiller berturut-turut 38.00±23.07 %, 44.17±19.34 %, dan 58.33±21.89 %. Persentase neutrofil pada ketiga kelompok ras tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan dengan nilai range normal menurut Tilley dan Smith (2011), yang berkisar antara %. Tabel 4 dan Gambar 16 menunjukkan rata-rata jumlah neutrofil band pada semua kelompok ras anjing. Jumlah neutrofil paling tinggi dimiliki oleh kelompok anjing ras German Shepherd, dan rata-rata paling rendah terdapat pada kelompok anjing ras Belgian Malinois. Tabel 4 memperlihatkan, persentase neutrofil batang pada kelompok anjing ras German Shepherd menunjukkan adanya kecenderungan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai normal menurut Tilley dan Smith (2011). 2.0 Neutrofil batang (x1000/µl) Gambar 16 Rata-rata jumlah neutrofil batang (x10 3 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Tilley dan Smith (2011)

17 Eosinofil (x1000/µl) Gambar 17 Rata-rata jumlah eosinofil (x10 3 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Tilley dan Smith (2011) Basofil (x1000/µl) Gambar 18 Rata-rata jumlah basofil (x10 3 /µl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Tilley dan Smith (2011)

18 36 Tabel 4 dan Gambar 17 menunjukkan rata-rata jumlah eosinofil pada semua kelompok ras anjing yang masih berada dalam range normal menurut Tilley dan Smith (2011). Konfirmasi menggunakan Gambar 17 memperlihatkan sebagian besar rata-rata data nilai eosinofil masing-masing individu pada semua kelompok ras anjing masuk dalam batas normal, selebihnya berada di bawah batas nilai normal. Rata-rata jumlah basofil pada semua kelompok ras anjing (Tabel 4 dan Gambar 18) masih berada dalam batas nilai normal menurut Tilley dan Smith (2011). Gambar 18 memperlihatkan sebagian besar rata-rata data masing-masing individu pada semua kelompok ras terdapat pada area nilai normal, namun terdapat sebagian kecil data pada kelompok anjing ras German Shepherd dan Labrador Retriever yang berada diatas nilai normal. Parameter Kimia Darah Tabel 5 dan Gambar memperlihatkan rataan parameter kimia darah pada kelima kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis. Tabel 5 dan Gambar 19 memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan aktivitas enzim AST dibandingkan dengan nilai normal menurut Morgan (2008) pada semua kelompok ras anjing, dengan nilai tertinggi dimiliki oleh German Shepherd. Menurut Stockham dan Scott (2002), peningkatan aktivitas enzim AST dapat terjadi karena hasil dari inflamasi, hipoksia akibat anemia, toksikan dan trauma. Hemolisis juga diduga meningkatkan aktivitas enzim AST, dari ringan sampai sedang (Stockham dan Scott 2002). Aktivitas enzim ALT pada kelompok anjing ras German Shepherd yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 20. Tampak bahwa aktivitas enzim ALT juga cenderung mengalami peningkatan. Menurut Stockam dan Scott (2002), peningkatan aktivitas enzim ALT dapat diakibatkan oleh adanya kerusakan hepatosit, otot skeletal dan pemberian glukokortikoid.

19 37 Tabel 5 Rata-rata parameter kimia darah pada kelima kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis Parameter Nilai Kelompok Ras Anjing Normal* AST (IU/L) ±13.40 a 55.67±5.13 a 53.67±8.07 a 92.17± a 56.56±22.17 a ALT (IU/L) ±4.50 a 55.67±5.13 a 53.67±8.07 a 85.83±88.43 a 57.67±22.17 a Total protein (g/dl) ±1.53 a 8.13±2.32 a 7.92±1.37 a 8.42±1.34 a 9.31±1.39 a Bilirubin total (mg/dl) ±1.85 a 0.83±0.38 a 0.72±0.17 a 0.85±0.21 a 0.68±0.20 a Bil conjugate (mg/dl) ±1.85 a 0.71±0.32 a 0.35±0.20 a 0.48±0.13 a 0.35±0.16 a Bil unconjugate (mg/dl) ±0.28 a 0.12±0.76 a 0.36±0.31 a 0.30±0.12 a 0.40±0.17 a Ureum (mg/dl) ±1.88 a 101.0±55.51 b 51.83±37.17 a 51.67±14.24 a 55.67±15.76 a Kreatinin (mg/dl) ** 1.15±0.17 ab 1.50±0.61 b 1.13±0.25 ab 1.13±0.14 ab 1.08±0.19 a po 2 (mmhg) 40 60** 34.50±5.97 a 34.33±4.62 a 34.67±14.24 a 38.33±10.05 a 30.67±7.66 a so 2 (%) 90*** 67.25±10.31 a 66.67±11.85 a 59.67±22.07 a 70.0±14.46 a 58.89±15.27 a ph ±0.02 b 7.41±0.03 ab 7.38±0.03 a 7.41±0.03 ab 7.41±0.03 b pco 2 (mmhg) ±3.37 a 32.87±2.36 a 34.33±4.87 a 31.7±3.85 a 31.97±4.63 a HCO 3 - (meq/l) ±1.79 a 20.93±2.57 a 20.08±2.19 a 20.17±1.75 a 20.63±2.09 a Natrium (meq/dl) ±2.22 a 145.0±4.00 a 145.0±2.00 a ±2.34 a ±2.12 a Kalium (meq/dl) ±0.28 a 4.37±0.12 b 3.93±0.29 a 4.33±0.26 c 4.43±0.30 b AST: aspartate transaminase, ALT: alanine transaminase, Bil: bilirubin; po 2 : tekanan oksigen; so 2 : saturasi oksigen; : Belgian Malinois, : Golden Retriever, : Labrador Retriever, : German Shepherd, : Rottweiler; a Huruf superscript yang sama pada kolom yang berbeda menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (p>0.05); a, b, ab Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0.05); *Morgan (2008); **Tilley dan Smith (2011); ***Stockham dan Scott (2002)

20 38 Tabel 5 dan Gambar 21 memperlihatkan tingginya konsentrasi total protein diatas nilai range normal yang terjadi pada semua kelompok ras anjing, dengan konsentrasi tertinggi ditemukan pada kelompok anjing ras Rottweiller. Menurut Stockham dan Scott (2002), peningkatan konsentrasi total protein dalam sirkulasi darah (hiperproteinemia) dapat disebabkan oleh adanya hemokonsentrsi dan peningkatan sintesis protein akibat inflamasi. Inflamasi yang menyebabkan hiperproteinemia bisa diakibatkan oleh penyakit infeksius (oleh protozoa, riketsia, bakteri, virus, dan fungi) dan penyakit non infeksius (penyakit yang dimediasi sistem imun, nekrosis dan neoplasia). Destruksi eritrosit menyebabkan pemecahan hemoglobin menjadi heme dan globin. Globin tersusun dari protein, dimana pemecahan hemoglobin berlebihan menghasilkan globin berlebihan (Kaneko et al. 1997), sehingga akan terdeteksi sebagai adanya peningkatan total protein plasma. Hiperproteinemia juga diduga bisa disebabkan oleh peningkatan immunoglobulin, komplemen serta faktor koagulasi darah (misalnya fibrin) sebagai respon adanya inflamasi akibat infeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. (Stockham dan Scott 2002). Rata-rata konsentrasi bilirubin total, bilirubin conjugated, dan bilirubin unconjugated pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 22. Secara umum terjadi peningkatan konsentrasi bilirubin total disertai juga dengan peningkatan konsentrasi bilirubin conjugated pada kelima kelompok ras anjing AST (IU/L) Gambar 19 Rata-rata aktivitas AST (IU/L) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008)

21 ALT (IU/L) Gambar 20 Rata-rata aktivitas ALT (IU/L) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008) Total protein (g/dl) Gambar 21 Rata-rata konsentrasi total protein (g/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008)

22 Bilirubin total (mg/dl) Gambar 22 Rata-rata konsentrasi bilirubin total (mg/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008) 5 4 Bilirubin conjugate (mg/dl) Gambar 23 Rata-rata konsentrasi bilirubin conjugated (mg/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008)

23 Bilirubin unconjugate (mg/dl) Gambar 24 Rata-rata konsentrasi bilirubin unconjugated (mg/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008) Kelompok anjing ras Belgian Malinois memiliki konsentrasi bilirubin total, bilirubin conjugated, dan bilirubin unconjugated yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok ras anjing lainnya dalam penelitian ini, sedangkan kelompok anjing ras Rottweiler memiliki konsentrasi paling rendah (Tabel 5 dan Gambar 22-24). Laporan Yadav et al. (2011) menunjukkan terjadinya peningkatan konsentrasi bilirubin dalam sirkulasi darah (hiperbilirubinemia) pada anjing penderita babesiosis. Penyakit hemolitik, yang meningkatkan laju destruksi eritrosit, merupakan penyebab pembentukan bilirubin yang berlebihan dan yang paling sering menyebabkan ikterus hemolitik. Konjugasi dan transfer pigmen empedu berlangsung normal, tetapi suplai bilirubin tak terkonjugasi melampaui kemampuan hati dalam melakukan konjugasi. Hal ini mengakibatkan peningkatan konsentrasi bilirubin tak terkonjugasi dalam darah (Price dan Wilson 2006). Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi disebabkan oleh mekanisme pembentukan bilirubin yang berlebihan, gangguan pengambilan (uptake) bilirubin tak terkonjugasi oleh hati dan gangguan konjugasi bilirubin. Hiperbilirubinemia terkonjugasi disebabkan oleh penurunan ekskresi bilirubin terkonjugasi dalam empedu akibat faktor intrahepatik dan ekstrahepatik yang bersifat fungsional atau disebabkan oleh obstruksi mekanis. Jika suplai bilirubin unconjugated melampaui batas normal dan hati mampu melakukan konjugasi dengan baik, namun terjadi gangguan dalam transfer pigmen empedu akan mengakibatkan peningkatan kadar bilirubin conjugated dalam darah (Price dan Wilson 2006).

24 42 Kelima kelompok ras anjing dalam penelitian ini mengalami peningkatan konsentrasi bilirubin total di atas batas atas nilai normal (terutama pada kelompok anjing ras Belgian Malinois). Hiperbilirubinemia ini disebabkan oleh peningkatan konsentrasi bilirubin conjugated hingga 9.36 kali (Belgian Malinois) dan kali pada keempat kelompok ras anjing lainnya. Rata-rata konsentrasi ureum dan kreatinin (mg/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar Tampak adanya peningkatan konsentrasi ureum pada seluruh individu pada semua kelompok ras anjing, dengan konsentrasi tertinggi dimiliki oleh kelompok anjing ras Golden Retriever (kisaran mg/dl). Peningkatan konsentrasi ureum dalam sirkulasi darah diistilahkan sebagai azotemia (Stockham dan Scott 2002). Studi menggunakan 58 anjing yang terinfeksi Babesia sp., 36 % mengalami azotemia dan 22 % diantaranya mati dengan azotemia (Simões et al. 2011). Konsentrasi ureum pada semua kelompok ras anjing cenderung mengalami peningkatan diikuti dengan konsentrasi kreatinin yang berada mendekati batas atas nilai normal (Tabel 5 dan Gambar 25-26). Konsentrasi ureum tertinggi diikuti dengan tingginya konsentrasi kreatinin diatas nilai range normal terlihat pada kelompok anjing ras Golden Retriever. Konsentrasi kreatinin (Gambar 26) cenderung tinggi pada kelompok anjing ras Golden Retriever (kisaran mg/dl) diikuti oleh kelompok anjing ras Labrador Retriever, sedangkan kelompok anjing ras lainnya pada penelitian ini memiliki konsentrasi kreatinin pada batas atas nilai normal menurut Tilley dan Smith (2011) Ureum (mg/dl) Gambar 25 Rata-rata konsentrasi ureum (mg/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008)

25 Kreatinin (mg/dl) Gambar 26 Rata-rata konsentrasi kreatinin (mg/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008) Destruksi eritrosit besar-besaran mengakibatkan banyak hemoglobin bebas dilepaskan ke dalam plasma. Haptoglobin dan hemopektin akan mengikat dan menggiringnya ke sistem retikuloendotelial untuk dibersihkan. Pada kondisi hemolisis berat, konsentrasi haptoglobin maupun hemopektin menurun sehingga hemoglobin bebas berlebihan dalam darah. Hemoglobin dapat melewati glomerulus ginjal hingga terjadi hemoglobinuria (Price dan Wilson 2006, Macfarlane et al. 2000). Hemoglobin bebas dan bilirubin conjugated berlebihan dalam darah membuat filtrasi glomerular bekerja berlebihan. Filtrasi glomerular yang bekerja berlebihan dalam kondisi hipoksia menyebabkan peningkatan kadar ureum (azotemia) (Stockham dan Scott 2002). Pada penelitian ini, terjadi peningkatan konsentrasi ureum (lebih dari dua kali lipat) pada semua kelompok ras anjing. Peningkatan konsentrasi ureum pada penelitian ini disertai pula dengan kecenderungan meningkatnya konsentrasi kreatinin darah (pada konsentrasi normal atas) pada semua kelompok ras anjing. Tabel 5 dan Gambar memperlihatkan nilai po 2 dan so 2 pada semua kelompok ras anjing. Tampak bahwa rata-rata po 2 dan so 2 mengalami penurunan pada semua kelompok ras anjing pada penelitian ini (Tabel 5). Konfirmasi melalui sebaran data individu pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Gambar 27 (po 2 ) dan Gambar 28 (so 2 ). Kelompok anjing ras German Shepherd memiliki rata-rata po 2 paling tinggi dibandingkan dengan kelompok anjing ras lainnya (Tabel 5). Namun demikian, terlihat pada Gambar 26 bahwa sebagian sebaran data pada kelompok anjing ras German Shepherd berada di bawah nilai normal menurut Tilley dan Smith (2011). Kelompok anjing ras Rottweiller yang memiliki rata-rata po 2 paling rendah dibandingkan dengan kelompok ras anjing lainnya

26 44 (Tabel 5), terlihat memiliki rentang nilai yang tidak berbeda jauh dengan kelompok ras anjing lainnya dalam penelitian ini (Gambar 27) po2 (mmhg) Gambar 27 Rata-rata nilai po 2 (mmhg) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Tilley dan Smith (2011) Gambar 28 memberikan informasi bahwa hampir seluruh data individu pada semua kelompok ras anjing pada penelitian ini memiliki nilai so 2 di bawah normal. Kelompok anjing ras German Shepherd memiliki rata-rata so 2 paling tinggi dibandingkan dengan kelompok anjing ras lainnya (Tabel 5). Terlihat pada Gambar 28 bahwa seluruh sebaran data pada kelompok ras anjing berada di bawah nilai normal menurut Stockham dan Scott (2002). Kelompok anjing ras Rottweiller yang memiliki rata-rata so 2 paling rendah (Tabel 5), terlihat memiliki rentang nilai yang tidak berbeda dengan kelompok anjing ras lainnya (Gambar 28). Kelima kelompok ras anjing memiliki nilai po 2 dan so 2 dibawah normal (Tabel 5). Nilai po 2 yang rendah dinyatakan dengan istilah hipoksemia dan seringkali ada hubungannya dengan hipoksia atau oksigenasi jaringan yang tidak memadai. Makin cepat timbulnya hipoksemia, maka semakin berat kelainan jaringan yang diderita (Price dan Wilson 2006).

27 so2 (%) Gambar 28 Rata-rata nilai so 2 (%) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Tilley dan Smith (2011) ph Gambar 29 Rata-rata ph darah pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal menurut Morgan (2008)

28 46 Rata-rata ph darah pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 29. Nilai ph darah tertinggi (dan lebih tinggi dibandingkan nilai normal) dimiliki oleh kelompok anjing ras Belgian Malinois, sedangkan kelompok ras anjing lainnya memiliki nilai ph darah yang masih dalam kisaran normal (Tabel 5). Konfirmasi pada Gambar 29 menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan ph darah juga terjadi pada sebagian data pada kelompok ras lainnya kecuali kelompok anjing ras Labrador Retriever. Tabel 5 dan Gambar 30 menunjukkan rata-rata nilai pco 2 pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis. Semua kelompok ras anjing pada penelitian ini memiliki nilai pco 2 dan konsentrasi HCO 3 - dalam kisaran normal (Tabel 5). Gambar 30 menunjukkan bahwa terdapat sebagian kecil sebaran data yang menunjukkan adanya nilai pco 2 di bawah nilai normal, yang terjadi pada hampir semua kelompok ras anjing kecuali kelompok anjing ras Golden Retriever. Gambar 31 menunjukkan bahwa sebaran konsentrasi HCO 3 - berada pada kisaran nilai normal. Namun demikian, terdapat sebagian kecil data pada kelompok anjing ras Rottweiller yang menunjukkan konsentrasii HCO 3 - di bawah nilai normal pco2 (mmhg) Gambar 30 Rata-rata nilai pco 2 (mmhg) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Morgan (2008) Destruksi eritrosit yang menyebabkan penguraian hemoglobin berdampak pada oksigenisasi jaringan. Hemoglobin adalah molekul protein dalam eritrosit yang membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh dan karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru. Hemoglobin terdiri dari empat molekul protein (rantai globulin) yang terhubung bersama-sama. Hemoglobin dewasa normal mengandung 2 rantai alfa globulin dan 2 rantai beta globulin. Heme adalah

29 47 kompleks yang dibentuk dari porfirin dan 1 atom besi fero. Masing-masing dari ke-4 ataom besi dapat mengikat satu molekul O 2 secara reversibel. Atom besi tetap berada dalam bentuk fero, sehingga reaksi pengikatan O 2 merupakan suatu reaksi oksigenasi, bukan reaksi oksidasi. Sarana yang menyebabkan oksigen terikat pada hemoglobin adalah jika sudah terdapat molekul oksigen lain pada tetramer yang sama. Jika oksigen sudah ada, pengikatan oksigen berikutnya akan berlangsung lebih mudah. Disamping mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan perifer, hemoglobin memperlancar pengangkutan karbon dioksida (CO 2 ) dari jaringan ke dalam paru-paru untuk diekspirasikan. Hemoglobin dapat langsung mengikat CO 2 jika oksigen dilepaskan dan sekitar 15% CO 2 yang dibawa di dalam darah diangkut langsung pada molekul hemoglobin. Hemoglobin mengikat 2 proton untuk setiap kehilangan 4 molekul oksigen (Kaneko et al. 1997) HCO3- (meq/l) Gambar 31 Rata-rata konsentrasi HCO 3 (meq/l) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Morgan (2008) Hipoksemia dan hipoksia akan mempengaruhi keseimbangan kurva disosiasi hemoglobin. Kadar po 2 dan so 2 yang rendah mengakibatkan kurva disosiasi hemoglobin bergeser ke kanan (Gambar 32). Faktor yang menyebabkan pergeseran kurva ke kanan adalah peningkatan 2,3 difosfogliserol (2,3-DPG), yaitu fosfat organik dalam eritrosit yang mengikat hemoglobin dan mengurangi afinitas hemoglobin terhadap O 2. Pada anemia hipoksia kronik, 2,3-DPG eritrosit meningkat. Dalam jaringan perifer, defisiensi oksigen meningkatkan akumulasi 2,3-DPG, akibatnya semakin banyak zat ini yang berikatan dengan hemoglobin sehingga afinitas hemoglobin dalam mengikat oksigen berkurang (Kaneko et al. 1997).

30 48 Hipoksemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah atau saturasi oksigen dibawah nilai normal. Hipoksemia dibedakan menjadi ringan, sedang dan berat berdasarkan nilai tekanan oksigen dan saturasinya yaitu: ringan (po mmhg dan SaO 2 > 90%; sedang (PO mmhg, SO %); dan berat (jika PO 2 < 40 mmhg dan SO 2 < 75 %). Dari kategori tersebut, kelima kelompok ras anjing masuk ke dalam kategori hipoksemia berat. Keadaan hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi yang bertujuan untuk mempertahankan supaya oksigenasi ke jaringan memadai. Bila tekanan oksigen menurun, kendali nafas akan meningkat, sehingga tekanan oksigen darah meningkat dan sebaliknya tekanan karbondioksida (pco 2 ) menurun. Jaringan vaskuler yang mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi, juga terjadi takhikardia sebagai kompensasi yang akan meningkatkan volume jantung sehingga oksigenasi jaringan dapat diperbaiki (Astowo 2005). Gambar 32 Kurva disosiasi hemoglobin (Hb-O 2 ) pada emua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis Hipoksia adalah kekurangan oksigen ditingkat jaringan. Istilah ini lebih tepat dibandingkan dengan anoksia, sebab jarang dijumpai keadaan dimana benarbenar tidak ada oksigen tertinggal dalam jaringan. Hipoksia anemik yaitu apabila oksigen darah arteri normal tetapi mengalami denervasi. Sewaktu istirahat, hipoksia akibat anemia tidaklah berat, karena terdapat peningkatan kadar 2,3-DPG di dalam eritrosit, kecuali apabila defisiensi hemoglobin sangat besar. Meskipun demikian, penderita anemia akan mengalami kesulitan cukup besar sewaktu melakukan latihan fisik karena adanya keterbatasan kemampuan meningkatkan pengangkutan oksigen ke jaringan aktif (Astowo 2005). Hal ini diduga yang

31 49 menyebabkan anjing-anjing working dogs mudah mengalami kelelahan sewaktu mendapatkan latihan fisik. Hipoksia dapat terjadi bersamaan dengan hipoksemia. Keadaan ini terjadi selama proses mekanisme overventilasi respiratori (Price dan Wilson 2006). Meskipun kemampuan transport O 2 oleh hemoglobin menurun jika kurva bergeser ke kanan, namun kemampuan hemoglobin untuk melepas O 2 ke jaringan dipermudah (Efek Bohr). Oleh karena itu, pada kondisi anemia dan hipoksemia kronik, pergeseran kurva ke kanan merupakan proses kompensasi. Pergeseran kurva ke kanan menggambarkan adanya peningkatan metabolisme sel dan peningkatan kebutuhan O 2. Selain itu juga merupakan proses adaptasi dan menyebabkan lebih banyak O 2 yang dilepaskan ke jaringan dari aliran darah. Nilai po 2 yang rendah dinyatakan dengan istilah hipoksemia dan seringkali ada hubungannya dengan hipoksia atau oksigenasi jaringan yang tidak memadai (Price dan Wilson 2006)). Hipoksemia tidak selalu disertai dengan hipoksia jaringan. Makin cepat timbulnya hipoksemia, semakin berat kelainan jaringan yang diderita (Price dan Wilson 2006). Kadar oksigen yang rendah pada individu yang mempunyai trombus pada pembuluh darah (terutama jantung) akan menyebabkan jantung mengalami penurunan suplai oksigen yang berat yang akan menyebabkan jantung mengalami iskemia (kekurangan oksigen) bahkan sampai terjadinya infark (kematian jaringan). Penelitian oleh Syam (2012) membuktikan bahwa kondisi hipoksia sistemik kronik dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati, ginjal, jantung, dan lambung. Hal ini diduga yang terjadi pada anjing pada penelitian ini, dimana beberapa ekor anjing mati secara tiba-tiba setelah selesai penelitian. Ratarata konsentrasi natrium/sodium pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 33. Konsentrasi natrium pada semua kelompok ras anjing masih berada pada kisaran nilai normal dan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar kelompok ras anjing (P>0.05). Kelompok anjing ras Belgian Malinois memiliki konsentrasi natrium paling tinggi, diikuti berturut-turut oleh kelompok anjing ras Rottweiler, Golden Retriever, Labrador Retriever, dan German Shepherd. Gambar 33 menunjukkan bahwa sebagian besar sebaran data konsentrasi natrium berada pada kisaran nilai normal. Terdapat sebagian kecil data pada kelompok anjing ras Golden Retriever yang memiliki konsentrasi natrium cenderung di bawah nilai normal. Konsentrasi kalium/potasium tertinggi dimiliki oleh kelompok anjing ras German Shepherd, namun demikian masih berada dalam kisaran nilai normal. Terdapat perbedaan konsentrasi kalium yang nyata dengan kelompok ras anjing lainnya (P>0.05). Konsentrasi kalium pada kelompok anjing ras Labrador Retriever dan Belgian Malinois (Tabel 5 dan Gambar 34) berada dibawah kisaran nilai normal.

32 Natrium (meq/dl) Gambar 33 Rata-rata konsentrasi natrium (meq/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai maksimal dan minimal menurut Morgan (2008) Kalium (meq/dl) Gambar 34 Rata-rata konsentrasi kalium (meq/dl) pada semua kelompok ras anjing yang terinfeksi kombinasi Babesia sp. dan Haemobartonella sp. kronis German Shepherd, : Rottweiler; nilai minimal menurut Morgan (2008)

33 51 Sistem renin-angiotensin-aldosteron adalah mekanisme yang sangat penting dalam pengaturan volume cairan ekstraselular dan ekskresi natrium oleh ginjal. Aldosteron adalah hormon yang disekresikan oleh daerah glomerulosa korteks adrenal. Produksi aldosteron dirangsang oleh refleks yang diatur oleh baroreseptor yang terdapat pada arteriol aferen ginjal. Penurunan volume sirkulasi dideteksi oleh baroreseptor yang mengakibatkan sel-sel jukstaglomerular ginjal memproduksi renin. Renin bekerja sebagai enzim yang melepaskan angiotensin I dari protein plasma angiotensinogen. Angiotensin I diubah menjadi angiotensin II pada paru. Angiotensin II merangsang korteks adrenal untuk mensekresikan aldosteron. Aldosteron bekerja pada duktus koligentes ginjal yang mengakibatkan retensi natrium (dan air) dan vasokonstriksi otot polos arteriol (Price dan Wilson 2006). Aldosteron merupakan mekanisme pengendali utama bagi sekresi kalium pada nefron distal ginjal. Peningkatan sekresi aldosteron menyebabkan reabsorpsi natrium (dan air) dan ekskresi kalium. Rangsangan utama bagi sekresi aldosteron adalah penurunan volume cairan tubuh atau penurunan kalium serum. Sekresi kalium juga dipengaruhi oleh status asam basa dan kecepatan aliran di tubulus distal. Pada keadaan alkalosis yang disertai kekurangan ion H +, tubulus akan menukar natrium dengan kalium demi mempertahankan ion H +. Kompensasi pernafasan berupa peningkatan pco 2 melalui hipoventilasi, akan tetapi tingkat hipoventilasi terbatas karena pernafasan terus berjalan oleh dorongan hipoksia, sebab derajat hipoventilasi dan kenaikan pco 2 dibatasi oleh kebutuhan oksigen (Price dan Wilson 2006). Alkalemia dapat disebabkan oleh pergerakan H + dari ekstraselular ke intraselular akibat hipokalemia dan hipovolemia (Stockham dan Scott 2002). Hipokalemia dapat terjadi karena adanya alkalosis, peningkatan aktifitas insulin, anoreksia, muntah, diare dan gagal ginjal. Alkalosis mengakibatkan pergerakan K + dari ekstraselular ke intraselular ketika terjadi perpindahan H +. Muntah dan diare juga dapat menyebabkan tubuh kehilangan K + (Stockham dan Scott 2002). K + banyak terdapat di dalam sel eritrosit, sedangkan Na + banyak terdapat di luar sel, dimana kedua ion ini dikontrol oleh channel Na-K ATPase. Adanya destruksi eritrosit membuat K + ikut keluar dari sel. Pada penelitian ini, penurunan jumlah eritrosit akibat destruksi dalam jumlah tertentu memperlihatkan gambaran hipokalemia, terlihat pada kelompok anjing ras Belgian Malinois dan Labrador Retriever, sedangkan kelompok ras anjing lainnya masih dapat mengkompensasi adanya pengeluaran kalium dari dalam sel. Ginjal sangat berpengaruh dalam proses perpindahan ion-ion ini. Jika ginjal mengalami penurunan fungsi akibat hipoksia dan berbagai macam manifestasi klinis yang diakibatkan oleh Babesia sp. dan Haemobartonella sp., maka proses kompensasi ion-ion tersebut juga terganggu (Price dan Wilson 2006).

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 8 HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Parasitemia Menurut Ndungu et al. (2005), tingkat parasitemia diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat ringan (mild reaction), tingkat sedang (severe reaction),

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hematologi Hasil pemeriksaan hematologi disajikan dalam bentuk rataan±simpangan baku (Tabel 1). Hasil pemeriksaan hematologi individual (Tabel 5) dapat dilihat pada lampiran dan dibandingkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Anjing (Canis familiaris)

TINJAUAN PUSTAKA. Anjing (Canis familiaris) 5 TINJAUAN PUSTAKA Anjing (Canis familiaris) Anjing merupakan salah satu hewan yang banyak dipelihara karena mempunyai hubungan erat dengan manusia. Beberapa tujuan dari pemeliharaan anjing antara lain

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga pada bulan Desember 2012 - Februari 2013. Jumlah sampel yang diambil

Lebih terperinci

PROFIL HEMATOLOGI DAN KIMIA DARAH ANJING YANG TERINFEKSI KOMBINASI LENI MAYLINA

PROFIL HEMATOLOGI DAN KIMIA DARAH ANJING YANG TERINFEKSI KOMBINASI LENI MAYLINA PROFIL HEMATOLOGI DAN KIMIA DARAH ANJING YANG TERINFEKSI KOMBINASI Babesia sp. DAN Haemobartonella sp. KRONIS LENI MAYLINA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Berdasarkan Morfologi

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Berdasarkan Morfologi 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Berdasarkan Morfologi Berdasarkan hasil identifikasi preparat ulas darah anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok, ditemukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Eritrosit (Sel Darah Merah) Profil parameter eritrosit yang meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit kucing kampung (Felis domestica) ditampilkan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil perhitungan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, MCV, MCH, dan MCHC pada kerbau lumpur betina yang diperoleh dari rata-rata empat kerbau setiap

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi dan Persentase Parasit Darah Hasil pengamatan preparat ulas darah pada enam ekor kuda yang berada di Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR FKH IPB) dapat dilihat sebagai berikut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anemia Anemia adalah penurunan jumlah normal eritrosit, konsentrasi hemoglobin, atau hematokrit. Anemia merupakan kondisi yang sangat umum dan sering merupakan komplikasi dari

Lebih terperinci

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung 16 HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung memiliki kelainan hematologi pada tingkat ringan berupa anemia, neutrofilia, eosinofilia,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Eritrosit, Hemoglobin, Hematokrit dan Indeks Eritrosit Jumlah eritrosit dalam darah dipengaruhi jumlah darah pada saat fetus, perbedaan umur, perbedaan jenis kelamin, pengaruh parturisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran darah berupa jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit sapi perah FH umur satu sampai dua belas bulan ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3 Gambaran Eritrosit

Lebih terperinci

GDS (datang) : 50 mg/dl. Creatinin : 7,75 mg/dl. 1. Apa diagnosis banding saudara? 2. Pemeriksaan apa yang anda usulkan? Jawab :

GDS (datang) : 50 mg/dl. Creatinin : 7,75 mg/dl. 1. Apa diagnosis banding saudara? 2. Pemeriksaan apa yang anda usulkan? Jawab : Seorang laki laki 54 tahun datang ke RS dengan keluhan kaki dan seluruh tubuh lemas. Penderita juga merasa berdebar-debar, keluar keringat dingin (+) di seluruh tubuh dan sulit diajak berkomunikasi. Sesak

Lebih terperinci

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS.

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS. PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS. Praktikum IDK 1 dan Biologi, 2009 Tuti Nuraini, SKp., M.Biomed. 1 TUJUAN Mengetahui asal sel-sel

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat yang tidak berbahaya maupun yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat yang tidak berbahaya maupun yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah suatu kondisi di mana kualitas udara menjadi rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat yang tidak berbahaya maupun yang membahayakan kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA)

BAB 1 PENDAHULUAN. Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA) merupakan salah satu penyakit di bidang hematologi yang terjadi akibat reaksi autoimun. AIHA termasuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 26 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 MCV (Mean Corpuscular Volume) Nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) menunjukkan volume rata-rata dan ukuran eritrosit. Nilai normal termasuk ke dalam normositik, nilai di bawah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kerbau lumpur betina, diperoleh jumlah rataan dan simpangan baku dari total leukosit, masing-masing jenis leukosit, serta rasio neutrofil/limfosit

Lebih terperinci

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE ANFIS HEMATOLOGI Darah Tempat produksi darah (sumsum tulang dan nodus limpa) DARAH Merupakan medium transport tubuh 7-10% BB normal Pada orang dewasa + 5 liter Keadaan

Lebih terperinci

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS KD 3.8. Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah 23 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, persentase hematokrit, MCV, MCH dan MCHC ayam broiler dengan perlakuan

Lebih terperinci

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH)

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) FUNGSI SISTEM IMUN: Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya kesehatan transfusi darah adalah upaya kesehatan berupa penggunaan darah bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan. Sebelum dilakukan transfusi darah

Lebih terperinci

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Conducted by: Jusuf R. Sofjan,dr,MARS 2/17/2016 1 Darah adalah jaringan cair

Lebih terperinci

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya SISTEM SIRKULASI Kompetensi Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya Suatu sistem yang memungkinkan pengangkutan berbagai bahan dari satu tempat ke tempat lain di dalam tubuh organisme Sistem

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dengue dan ditandai empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dengue dan ditandai empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DBD (Demam Berdarah Dengue) DBD adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh empat serotype virus Dengue dan ditandai empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi

Lebih terperinci

Indek Eritrosit (MCV, MCH, & MCHC)

Indek Eritrosit (MCV, MCH, & MCHC) Indek (MCV, MCH, & MCHC) Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk melihat bagaimana respon

Lebih terperinci

Metabolisme Bilirubin di Hati 1. Pembentukan bilirubin Langkah oksidase pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan enzim heme

Metabolisme Bilirubin di Hati 1. Pembentukan bilirubin Langkah oksidase pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan enzim heme Metabolisme Bilirubin di Hati 1. Pembentukan bilirubin Langkah oksidase pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan enzim heme oksigenase yaitu enzim yang sebagian besar terdapat dalam

Lebih terperinci

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Plasma (40%-50%) Lekosit Eritrosit sebelum sesudah sentrifusi Fungsi utama eritrosit:

Lebih terperinci

SISTEM PEREDARAN DARAH

SISTEM PEREDARAN DARAH SISTEM PEREDARAN DARAH Tujuan Pembelajaran Menjelaskan komponen-komponen darah manusia Menjelaskan fungsi darah pada manusia Menjelaskan prinsip dasar-dasar penggolongan darah Menjelaskan golongan darah

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. yang telah memenuhi jumlah minimal sampel sebanyak Derajat klinis dibagi menjadi 4 kategori.

BAB V PEMBAHASAN. yang telah memenuhi jumlah minimal sampel sebanyak Derajat klinis dibagi menjadi 4 kategori. digilib.uns.ac.id BAB V PEMBAHASAN Setelah dilakukan penelitian di RSUD Dr. Moewardi telah didapatkan data-data penelitian yang disajikan dalam tabel pada Bab IV. Pada penelitian ini didapatkan sampel

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Parasitemia Hasil penelitian menunjukan bahwa semua rute inokulasi baik melalui membran korioalantois maupun kantung alantois dapat menginfeksi semua telur tertunas (TET). Namun terdapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Ayam petelur adalah ayam yang mempunyai sifat unggul dalam produksi telur atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur yaitu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 28 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Tingkat Energi Protein Ransum Berbeda Terhadap Total Protein Darah Ayam KUB Rataan total protein darah ayam kampung unggul Balitbangnak (KUB) pada penelitian ini

Lebih terperinci

PROFIL ERITROSIT ANJING YANG TERINFEKSI KRONIS Babesia sp. CHANIFATUS SOLIHAH

PROFIL ERITROSIT ANJING YANG TERINFEKSI KRONIS Babesia sp. CHANIFATUS SOLIHAH PROFIL ERITROSIT ANJING YANG TERINFEKSI KRONIS Babesia sp. CHANIFATUS SOLIHAH FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN

Lebih terperinci

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Plasma (40%-50%) Lekosit Eritrosit sebelum sesudah sentrifusi Eritrosit Fungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyebab intrakorpuskuler (Abdoerrachman et al., 2007). dibutuhkan untuk fungsi hemoglobin yang normal. Pada Thalassemia α terjadi

BAB I PENDAHULUAN. penyebab intrakorpuskuler (Abdoerrachman et al., 2007). dibutuhkan untuk fungsi hemoglobin yang normal. Pada Thalassemia α terjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Thalassemia adalah suatu penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan dari kedua orangtua kepada anak-anaknya secara resesif yang disebabkan karena kelainan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dimana 75% berasal dari penghancuran eritrosit dan 25% berasal dari

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dimana 75% berasal dari penghancuran eritrosit dan 25% berasal dari BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Metabolisme Bilirubin Bilirubin adalah pigmen kristal berbentuk jingga ikterus yang merupakan bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasi-reduksi.

Lebih terperinci

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI 1 BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI TUGAS I Disusun untuk memenuhi tugas praktikum brosing artikel dari internet HaloSehat.com Editor SHOBIBA TURROHMAH NIM: G0C015075 PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN FAKULTAS

Lebih terperinci

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez. Author : Liza Novita, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.tk GLOMERULONEFRITIS AKUT DEFINISI Glomerulonefritis Akut (Glomerulonefritis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah LeukositTotal Leukosit merupakan unit darah yang aktif dari sistem pertahanan tubuh dalam menghadapi serangan agen-agen patogen, zat racun, dan menyingkirkan sel-sel rusak

Lebih terperinci

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI [email protected] Apakah imunologi itu? Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem imun. Sistem imun dipunyai oleh berbagai organisme, namun pada tulisan ini sistem

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol

PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol 30 PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol Sel somatik merupakan kumpulan sel yang terdiri atas kelompok sel leukosit dan runtuhan sel epitel. Sel somatik dapat ditemukan dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Itik Peking Itik Peking merupakan itik tipe pedaging yang termasuk dalam kategori unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem pemeliharaan itik Peking

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total Data hasil penghitungan jumlah leukosit total, diferensial leukosit, dan rasio neutrofil/limfosit (N/L) pada empat ekor kerbau lumpur betina yang dihitung

Lebih terperinci

- - SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA - - dlp5darah

- - SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA - - dlp5darah - - SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA - - Modul ini singkron dengan Aplikasi Android, Download melalui Play Store di HP Kamu, ketik di pencarian dlp5darah Jika Kamu kesulitan, Tanyakan ke tentor bagaimana

Lebih terperinci

SISTEM IMUN. Pengantar Biopsikologi KUL VII

SISTEM IMUN. Pengantar Biopsikologi KUL VII SISTEM IMUN Pengantar Biopsikologi KUL VII SISTEM KEKEBALAN TUBUH Imunologi : Ilmu yang mempelajari cara tubuh melindungi diri dari gangguan fisik, kimiawi, dan biologis. . SISTEM IMUN INNATE : Respon

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Total Leukosit Pada Tikus Putih Leukosit atau disebut dengan sel darah putih merupakan sel darah yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh dan merespon kekebalan tubuh

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Metabolisme bilirubin meliputi sintesis, transportasi, intake dan konjugasi serta

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Metabolisme bilirubin meliputi sintesis, transportasi, intake dan konjugasi serta BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Metabolisme Bilirubin Metabolisme bilirubin meliputi sintesis, transportasi, intake dan konjugasi serta ekskresi. Bilirubin merupakan katabolisme dari heme pada sistem retikuloendotelial.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 10 kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa zat warna lalu dikeringkan. Selanjutnya, DPX mountant diteteskan pada preparat ulas darah tersebut, ditutup dengan cover glass dan didiamkan

Lebih terperinci

BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai hubungan antara jumlah trombosit dengan kejadian pada pasien DBD (DSS) anak ini dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Bantul pada tanggal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. DARAH Darah adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga mensuplai jaringan tubuh dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu keadaan klinis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu keadaan klinis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversible dengan etiologi yang beragam. Setiap penyakit yang terjadi

Lebih terperinci

PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI)

PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI) PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI) Pembicara/ Fasilitator: DR. Dr. Dedi Rachmadi, SpA(K), M.Kes Tanggal 15-16 JUNI 2013 Continuing Professional

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Dalam. 3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini telah dilakukan di

Lebih terperinci

Laporan Praktikum V Darah dan Peredaran

Laporan Praktikum V Darah dan Peredaran Laporan Praktikum V Darah dan Peredaran Nama : Cokhy Indira Fasha NIM : 10699044 Kelompok : 4 Tanggal Praktikum : 11 September 2001 Tanggal Laporan : 19 September 2001 Asisten : Astania Departemen Biologi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah di Indonesia. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah di Indonesia. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Cacing Tambang Pada umumnya prevalensi cacing tambang berkisar 30 50 % di perbagai daerah di Indonesia. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan seperti di

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutritute dalam bentuk. variabel tertentu ( Istiany, 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutritute dalam bentuk. variabel tertentu ( Istiany, 2013). BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Status Gizi a. Definisi Status Gizi Staus gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutritute dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini disebabkan oleh demam dimana terdapat kenaikan suhu

Lebih terperinci

INTERPRETASI HASIL LABORATORIUM DISTEMPER ANJING

INTERPRETASI HASIL LABORATORIUM DISTEMPER ANJING PATOLOGI KLINIK VETERINER INTERPRETASI HASIL LABORATORIUM DISTEMPER ANJING OLEH: Drh. Anak Agung Sagung Kendran, M.Kes. LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK VETERINER FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam ras tipe pedaging yang umumnya dipanen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam ras tipe pedaging yang umumnya dipanen 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler merupakan ayam ras tipe pedaging yang umumnya dipanen pada umur sekitar 4-5 minggu dengan bobot badan antara 1,2-1,9 kg/ekor yang bertujuan sebagai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. genetis ayam, makanan ternak, ketepatan manajemen pemeliharaan, dan

TINJAUAN PUSTAKA. genetis ayam, makanan ternak, ketepatan manajemen pemeliharaan, dan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kepadatan Ayam Petelur Fase Grower Ayam petelur adalah ayam yang efisien sebagai penghasil telur (Wiharto, 2002). Keberhasilan pengelolaan usaha ayam ras petelur sangat ditentukan

Lebih terperinci

Kelainan darah pada Lupus eritematosus sistemik

Kelainan darah pada Lupus eritematosus sistemik Kelainan darah pada Lupus eritematosus sistemik Amaylia Oehadian Sub Bagian Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Kelainan darah pada lupus Komponen darah Kelainan

Lebih terperinci

Tabel 3 Tingkat prevalensi kecacingan pada ikan maskoki (Carassius auratus) di Bogor

Tabel 3 Tingkat prevalensi kecacingan pada ikan maskoki (Carassius auratus) di Bogor HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Pemeliharaan Ikan Maskoki (Carassius auratus) Pengambilan sampel ikan maskoki dilakukan di tiga tempat berbeda di daerah bogor, yaitu Pasar Anyar Bogor Tengah, Batu Tulis Bogor

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. dan Penyakit Kandungan dan Ilmu Patologi Klinik. Penelitian telah dilaksanakan di bagian Instalasi Rekam Medis RSUP Dr.

BAB IV METODE PENELITIAN. dan Penyakit Kandungan dan Ilmu Patologi Klinik. Penelitian telah dilaksanakan di bagian Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini termasuk dalam lingkup penelitian bidang Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dan Ilmu Patologi Klinik. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lebih terperinci

ANEMIA HEMOLITIK. A. Definisi Anemia yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan destruksi eritrosit.

ANEMIA HEMOLITIK. A. Definisi Anemia yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan destruksi eritrosit. ANEMIA HEMOLITIK PENGANTAR A. Definisi Anemia yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan destruksi eritrosit. B. Etiologi 1. Defek eritrosit intristik : defek membran, kelainan metabolisme eritrosit, kelainan

Lebih terperinci

Review Sistem Hematology

Review Sistem Hematology Nama : rp, S.Kp., MNS. NIP : 19720826 200212 1 002 Departemen : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar Mata Kuliah : Kep. Medikal Bedah Topik : Pengkajian Sistem Hematologi 1 Review Sistem Hematology Ikhsanuddin

Lebih terperinci

Makalah Sistem Hematologi

Makalah Sistem Hematologi Makalah Sistem Hematologi TUGAS I untuk menyelesaikan tugas browsing informasi ilmiah Disusun Oleh: IBNU NAJIB NIM. G1C015004 PROGRAM DIPLOMA IV ANALISI KESEHATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kehamilan Resiko Tinggi 1. Definisi Kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang memiliki resiko meninggalnya bayi, ibu atau melahirkan bayi yang cacat atau terjadi komplikasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa plasma

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa plasma BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Darah 1. Pengertian darah Dalam system sirkulasi darah merupakan bagian penting yaitu dalam transport oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa

Lebih terperinci

Tabel 1 Nilai (rataan ± SD) PBBH, FEC, dan gambaran darah domba selama masa infeksi Parameter Amatan Domba

Tabel 1 Nilai (rataan ± SD) PBBH, FEC, dan gambaran darah domba selama masa infeksi Parameter Amatan Domba 3 Diferensiasi SDP dilakukan berbasis preparat ulas darah total. Darah diulas di preparat kemudian difiksasi dengan metanol selama 2 menit. Preparat ulas darah diwarnai menggunakan pewarna giemsa selama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. makhluk hidup. Sel eritrosit termasuk sel yang terbanyak di dalam tubuh manusia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. makhluk hidup. Sel eritrosit termasuk sel yang terbanyak di dalam tubuh manusia. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sel-sel darah 1. Sel darah merah (eritrosit) Sel darah merah atau eritrosit adalah sel yang sangat penting untuk makhluk hidup. Sel eritrosit termasuk sel yang terbanyak di dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 P a g e

BAB I PENDAHULUAN. 1 P a g e BAB I PENDAHULUAN Anemia adalah kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Tingkat normal dari hemoglobin umumnya berbeda pada laki-laki dan wanita-wanita. Untuk laki-laki,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. diberi Fructooligosaccharide (FOS) pada level berbeda dapat dilihat pada Tabel 5.

HASIL DAN PEMBAHASAN. diberi Fructooligosaccharide (FOS) pada level berbeda dapat dilihat pada Tabel 5. 50 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kadar Hemoglobin Itik Cihateup Data hasil pengamatan kadar hemoglobin itik cihateup fase grower yang diberi Fructooligosaccharide (FOS) pada level berbeda dapat dilihat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kucing Karakteristik Kucing

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kucing Karakteristik Kucing 3 TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kucing Kucing kampung (Felis domestica) termasuk dalam ordo karnivora (pemakan daging). Fowler (1993) mengklasifikasikan kucing kampung (Felis domestica) sebagai berikut: kingdom

Lebih terperinci

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI PERHITUNGAN JUMLAH ERITROSIT DARAH

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI PERHITUNGAN JUMLAH ERITROSIT DARAH LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI PERHITUNGAN JUMLAH ERITROSIT DARAH Dosen Pengampu: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes Disusun Oleh : Nama: Sofyan Dwi Nugroho NIM : 16708251021 Prodi : Pendidikana IPA PRODI

Lebih terperinci

5 Sistem. Peredaran Darah. Bab. Di dalam tubuh makhluk hidup terdapat suatu sistem yang berfungsi untuk mengedarkan makanan dan O 2

5 Sistem. Peredaran Darah. Bab. Di dalam tubuh makhluk hidup terdapat suatu sistem yang berfungsi untuk mengedarkan makanan dan O 2 Bab 5 Sistem Peredaran Darah Sumber: Encarta 2005 Arteri Vena Gambar 5.1 Sistem peredaran darah pada manusia Peta Konsep Di dalam tubuh makhluk hidup terdapat suatu sistem yang berfungsi untuk mengedarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Retensio Plasenta 1. Definisi Retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir 30 menit setelah bayi lahir pada manajemen aktif kala tiga. 1 2. Patologi Penyebab retensio plasenta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta

BAB I PENDAHULUAN. Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta mengobati dan mencegah penyakit pada manusia maupun hewan (Koga, 2010). Pada saat ini banyak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang 26 IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi fisiologis ternak dapat diketahui melalui pengamatan nilai hematologi ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang mengandung butir-butir

Lebih terperinci

Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang

Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang Mekanisme Pertahanan Tubuh Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Darah Darah dalam tubuh berfungsi untuk mensuplai oksigen ke seluruh jaringan tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi (sistem

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sepsis adalah suatu kumpulan gejala inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sepsis adalah suatu kumpulan gejala inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sepsis dan Gagal Sistem Organ Multipel Sepsis adalah suatu kumpulan gejala inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome / SIRS) yang disebabkan oleh infeksi,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total

HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh (Guyton 2008). Kondisi tubuh dan lingkungan yang berubah setiap saat akan mengakibatkan perubahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji tantang virus AI H5N1 pada dosis 10 4.0 EID 50 /0,1 ml per ekor secara intranasal menunjukkan bahwa virus ini menyebabkan mortalitas pada ayam sebagai hewan coba

Lebih terperinci

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 6. SISTEM TRANSPORTASI PADA MANUSIALATIHAN SOAL

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 6. SISTEM TRANSPORTASI PADA MANUSIALATIHAN SOAL SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 6. SISTEM TRANSPORTASI PADA MANUSIALATIHAN SOAL 1. Penyakit keturunan di mana penderitanya mengalami gangguan dalam pembekuan darah disebut... Leukopeni Leukositosis Anemia Hemofilia

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Penurunan jumlah ookista dalam feses merupakan salah satu indikator bahwa zat yang diberikan dapat berfungsi sebagai koksidiostat. Rataan jumlah ookista pada feses ayam berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh kuman TBC ( Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman. lainnya seprti ginjal, tulang dan usus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh kuman TBC ( Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman. lainnya seprti ginjal, tulang dan usus. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tuberkulosis 1. Definisi Tuberkulosis Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC ( Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman tuberkulosis

Lebih terperinci

Mata Kuliah : Kep. Medikal Bedah Topik : Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Hematologi; Anemia

Mata Kuliah : Kep. Medikal Bedah Topik : Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Hematologi; Anemia Nama : Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : 19720826 200212 1 002 Departemen : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar Mata Kuliah : Kep. Medikal Bedah Topik : Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan

Lebih terperinci

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan Copyright 2009

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan Copyright 2009 BAB IV Darah Darah berfungsi sebagai : 1. Alat transport O 2 dari paruparu diangkut keseluruh tubuh. CO 2 diangkut dari seluruh tubuh ke paruparu. Sari makanan diangkut dari jonjot usus ke seluruh jaringan

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Sintasan Sintasan pada penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yakni setelah 30 hari perlakuan sinbiotik dan setelah uji tantang dengan IMNV selama 12 hari. Nilai

Lebih terperinci

Gambar 1 Rata-rata Jumlah Sel Darah Putih Ikan Lele Dumbo Setiap Minggu

Gambar 1 Rata-rata Jumlah Sel Darah Putih Ikan Lele Dumbo Setiap Minggu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Jumlah Sel Darah Putih (Leukosit) Ikan Lele Dumbo Pada penelitian ini dihitung jumlah sel darah putih ikan lele dumbo untuk mengetahui pengaruh vitamin dalam meningkatkan

Lebih terperinci

Anemia Megaloblastik. Haryson Tondy Winoto, dr.,msi.med.,sp.a Bag. Anak FK-UWK Surabaya

Anemia Megaloblastik. Haryson Tondy Winoto, dr.,msi.med.,sp.a Bag. Anak FK-UWK Surabaya Anemia Megaloblastik Haryson Tondy Winoto, dr.,msi.med.,sp.a Bag. Anak FK-UWK Surabaya Anemia Megaloblastik Anemia megaloblastik : anemia makrositik yang ditandai peningkatan ukuran sel darah merah yang

Lebih terperinci

Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik

Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik Latar Belakang Masalah Gagal ginjal kronik merupakan keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversibel yang berasal dari

Lebih terperinci

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Jumlah Leukosit Data perhitungan terhadap jumlah leukosit pada tikus yang diberikan dari perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 6. Rata-rata leukosit pada tikus dari perlakuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan

Lebih terperinci

STORYBOARD SISTEM PEREDARAN DARAH

STORYBOARD SISTEM PEREDARAN DARAH STORYBOARD SISTEM PEREDARAN DARAH Mata Kuliah : Pengembangan Media Pembelajaran Pokok Bahasan : Sistem Peredaran Darah Sasaran : Pemahaman siswa akan materi sistem peredaran darah menjadi lebih baik. Kompetensi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dinamakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transpor berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dinamakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transpor berbagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Darah Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berbeda dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh

Lebih terperinci