BAB III PEMODELAN DENGAN METODE VOLUME HINGGA
|
|
|
- Yohanes Setiabudi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III PEMODELAN DENGAN METODE VOLUME HINGGA 3.1. Pendahuluan Pemodelan yang dibangun menggunakan kode komputer digunakan untuk melakukan perhitungan matematis dengan memasukkan varibel-variabel yang telah ditentukan yaitu sebagai berikut: a. Ketinggian film input dan output adalah 1 µm. Sedangkan ketinggian fluida masuk didapatkan sesuai dengan gap ratio yang akan ditentukan (hi = gap ratio x ho). b. Panjang kontak sliding di bantalan adalah 0 mm. c. Kecepatan permukaan yang bergerak adalah sebesar 1 m/s. d. Viskositas fluida 0,001 Pa.s e. Tekanan atmosfer m f. Konstanta slip yang digunakan adalah 0,0. Nilai ini mengacu pada percobaan Pa. s yang dilakukan oleh Choo, dkk. (007). Pada percobaan tersebut didapatkan panjang slip sebesar 0 µm. Sehingga didapatkan nilai konstanta slip sebagai berikut: g. Memvariasikan area slip di bagian inlet d = 0, d = 0,5; d = 0,5; dan d = 0,75. h. Semua hasil yang didapat ditunjukkan dengan parameter tak berdimensi yaitu tekanan tak berdimensi. Pengubahan menjadi parameter tak berdimensi dilakukan sebagai berikut: ph P = o (3.1) μu Lx 1 x X = (3.) Lx 9
2 30 i. Panjang slip dan tanpa slip adalah sama yaitu setengah dari panjang kontak, yaitu untuk slip 0,5 dari panjang kontak dan tanpa slip adalah 0,5 dari panjang kontak. j. Pergerakan area slip T s dan area tanpa slip T a dari Lx = 0 sampai Lx = 1 Beberapa kasus seperti dalam Tabel 3.1 menjadi konsentrasi penelitian yang akan diamati: Tabel 3.1. Kasus-kasus penelitian NO KASUS PENELITIAN 1 Permukaan smooth dengan slip Permukaan smooth dengan slip dan menggunakan kavitasi model half-sommerfeld 3 Kekasaran permukaan bertektur rectangular dengan slip 4 Kekasaran permukaan bertektur rectangular dengan slip dan menggunakan kavitasi model half-sommerfeld 5 Kekasaran permukaan bertektur sinusoidal dengan slip 6 Kekasaran permukaan bertektur sinusoidal dengan slip dan menggunakan kavitasi model half-sommerfeld 7 Single-grooved slider 3.. Kasus I Permukaan smooth dengan slip Diskripsi masalah Langkah penting untuk membangun persamaan aliran fluida di dalam kontak terlubrikasi yang mana terjadi kontak sliding dan salah satu permukaannya terjadi slip adalah memodelkan kontak sliding dengan infinite width slider bearing yaitu lebar bantalan diasumsikan tak hingga, sehingga gradien kecepatan fluida dan tekanan hanya berpengaruh pada arah x. Dan slider bearing dimodelkan dalam inclined pad bearing yang sederhana seperti pada Gambar 3.1, dimana dua permukaan membentuk parallel gap. Pada bearing ini ketebalan film atau ketinggian fluida h memisahkan dua permukaan. Ketinggian fluida ini merupakan fungsi linier dari x (Persamaan 3.3). Permukaan atas dilabelkan sebagai permukaan 1 yang merupakan permukaan yang
3 31 diam. Sedangkan permukaan bawah dilabelkan dengan permukaan adalah permukaan tanpa slip dan bergerak dengan kecepatan U 1 (Wu, 006). ( ) h x = h i ( ) hi ho x L x (3.3) La Permukaan 1 Fluid film Permukaan Gambar 3.1 Skematik infinite width slider bearing dengan mixed slip surface U 1 Suatu kontak terlubrikasi heterogen dari slip/tanpa slip atau mixed slip surface diaplikasikan pada permukaan 1 yang merupakan permukaan diam. Pada sisi inlet mempunyai ketinggian film sebesar h i dan pada sisi outlet ketinggiann film adalah h o. Pada permukaan tersebut keadaan yang direkayasa adalah aliran fluida mengalami slip kemudian keluar pada daerah tanpaa slip terhadap permukaan 1. Slip terjadi sepanjang area Ls dan selanjutnya meninggalkan area slip untuk memasuki area tanpa slip sepanjang area Lx setelah digunakan oleh areaa slip. Dengan asumsi bahwa tidak ada tekanan padaa kondisi batas (x = 0 dan x = Lx). Untuk kasus smooth dengann slip ini dimodelkan dengan Navier slip condition, sehingga dapat dikatakan bahwa kecepatan slip berbanding lurus dengan tegangan geser pada permukaan batas fluid-solid. Untuk kecepatan arah x kondisi batas sebagai berikut: z = 0, z = h, u= U 1 u u = αμ z (3.4) (3.5)
4 3 Konstanta α disebut sebagai koefisien slip dan bernilai selalu positif. Jika koefisien slip sama dengan nol maka kondisi batas di atas menjadi kasus tanpa slip. Dengan mengaplikasikan persamaan kesetimbangan gaya sebelumnya yaitu Persamaan (.7) sebagai berikut ini: p u = μ x z (3.6) Langkah pertama adalah mengintegralkan Persamaan (3.6) di atas sebanyak dua kali terhadap z untuk mendapatkan persamaan kecepatan. 1 p μ x u = z + C1z+ U1 (3.7) ( 0) 1 u z = = U = C (3.8) u 1 p u( z = h) = αμ = h + Ch+ U z μ x 1 p u Ch= h αμ + U μ x z (3.9) (3.10) u 1 p sedangkan untuk komponen = h + C z μ x 1 sehingga persamaannya menjadi: h p αμ U1 C1 = 1+ μ x h+ αμ h+ αμ (3.11) Dengan memasukkan koefisien ke dalam persamaan kecepatan: 1 p h p αμ U μ x μ x h+ αμ h+ αμ 1 u = z + 1+ z+ U1 (3.1) Kecepatan ini digunakan untuk menghitung debit aliran yaitu sebagai berikut:
5 33 q x x = 0 (3.13) q h p 3αμ Uh 1 x = udz = αμ 0 αμ (3.14) x h+ h+ αμ Ketika dimasukkan ke dalam persamaan kontinuitas, persamaan Reynolds yang telah dimodifikasi didapatkan: 3 h p 3αμ αμ 1+ = 6Uh 1 1+ x μ x h+ αμ x h+ αμ (3.15) Persamaan Reynolds modifikasi, Persamaan (3.15) ini merupakan persamaan umum untuk sistem fluid lubrication pada infinite width slider bearing Diskretisasi persamaan umum Sebuah formulasi control volume digunakan dalam diskretisasi persamaan umum. Untuk kasus infinite width slider bearing, control volume diasumsikan sebagai kasus 1 Dimensi. Karena gradien P terhadap arah y dan z sama dengan nol, dengan kata lain variabel tidak bergantung terhadap arah y dan z. Dalam hal ini, panjang grid tiap control volume adalah seragam, yaitu sepanjang Δx. Control volume digambarkan sebagai berikut: Gambar 3. Control volume nodal P pada infinite width slider bearing (Versteg, 1995)
6 34 Persamaan umum sesuai dengan Persamaan (3.15) diintegralkan seluruh control volume. CV p 3αμ αμ x x h+ x h+ (3.16) 3 h 1+ dv = 6U1μ h 1+ dv αμ αμ CV e e p K dx = 6U 1μ ( C) dx x x x w (3.17) w Dimana K dan C adalah variabel untuk menyederhanakan Persamaan (3.17) dan didefinisikan sebagai berikut: 3 3αμ K = h 1+ h + αμ αμ C = h 1+ h + αμ (3.18) (3.19) Sehingga integral persamaan umum menjadi: p p K K = 6U μ C C ( ) ( ) 1 e w x e x w p p p p K K = 3U μ C C Δx Δx ( ) ( ) E P P W e w 1 E W P E W ( K + K ) = K + K + 3U μ ( C) ( C) e w e w 1 W E (3.0) (3.1) p p p Δx Δx Δ x (3.) appp = aepe + awpw + Sc (3.3) a E K K K E = E P E Δ x KE + KP K = (3.4) a W K K K W = W P W Δ x KW + KP K = (3.5)
7 35 ap = ae + aw ( ) ( ) S = 3U μ C C c 1 W E (3.6) (3.7) Karena nilai K merupakan fungsi dari x, maka untuk menjaga kontinuitas nilai K dari batas permukaan control volume dievaluasi berdasarkan harmonic mean (Pantankar, 1980). Persamaan 3.3 tersebut merupakan persamaan diskretisasi yang dapat dipakai pada tiap control volume untuk kasus infinite width slider bearing Kasus II Permukaan smooth dengan slip dan menggunakan kavitasi model half-sommerfeld Konfiguransi dari skematik infinite width slider bearing dengan mixed slip surface yang telah dibangun pada kasus pertama, dibangun kembali pada kasus yang kedua. Dalam kasus kedua ini dilakukan rekayasa penambahan terjadinya kavitasi pada permukaan smooth dengan slip yang mengalami kontak terlubrikasi. Model kavitasi yang digunakan adalah model half-sommerfeld yang mengandung penyelesaian persamaan Reynolds dengan batasanya. Hanya saja pada model half-sommerfeld ini mengganti tekanan yang bernilai negatif dengan nol untuk menunjukan terjadinya kavitasi. Hal ini merupakan asumsi bahwa pada saat kontak terlubrikasi jika tekanannya nol maka saat itu terjadi kavitasi. Untuk menunjukan penggantian tekanan yang bernilai negatif dapat memanfaatkan persamaan berikuti ini: Jika P 0 maka P = 0 (3.8) Untuk merekayasa terjadinya kavitasi pada kontak terlubrikasi ini menggunakan kontak heterogen slip/tanpa slip yang divariasikan pada permukaan 1 yang diam seperti pada kasus pertama. Sedangkan permukaan bawah dilabelkan dengan permukaan adalah permukaan tanpa slip dan bergerak dengan kecepatan U 1 seperti yang terlihat pada Gambar 3.1. Variabel-variabel yang digunakan untuk membuat pemodelan pada kasus yang kedua ini sama dengan kasus pertama. Area slip T S divariasikan yaitu pada
8 36 lokasi d = 0; d = 0,5; d = 0,5 dan d = 0,75, sehingga dalam kasus yang kedua ini mempunyai kesamaan kondisi dengan kasus pertama Kasus III Kekasaran permukaan bertekstur rectangular dengan slip Rekayasa pemberian kekasaran permukaan berupa permukaan bertekstur grooved shape yang berbentuk rectangular. Permukaan kontak dimodelkan dengan infinite width slider bearing. Ketebalan fluida masuk sama dengan ketebalan fluida keluar, sehingga slider bearing dimodelkan dengan parallel pad bearing. Ilustrasi dari kekasaran permukaan bertektur rectangular dapat dilihat pada Gambar 3.3, dengan kedalaman dimple 1, panjang dimple 100 dan panjang cell 00. l c l D h D h F Gambar 3.3 Bentuk satu cell kekasaran permukaan Bilangan Reynolds yang digunakan sebesar 1, dimple aspect ratio sebesar 10, densitas tekstur yang dijaga konstan sebesar 0.5 dan S dijaga konstan sebesar 1.0. Jarak penempatan area slip T S pada permukaan 1 yang merupakan permukaan yang diam divariasikan yaitu pada d = 0; d = 0,5; d = 0,5 dan d = 0,75. Variabel-variabel yang digunakan untuk membuat pemodelan pada kasus yang ketiga ini sama dengan kasus pertama dan kedua.
9 Kasus IV Kekasaran permukaan bertekstur rectangular dengan slip dan menggunakan kavitasi model half-sommerfeld Konfiguransi dari skematik infinite width slider bearing dengan mixed slip surface yang telah dibangun pada kasus ketiga, dibangun kembali pada kasus yang keempat. Dalam kasus keempat ini dilakukan rekayasa penambahan terjadinya kavitasi pada permukaan kasar bertekstur rectangular dengan slip yang mengalami kontak terlubrikasi. Model kavitasi yang digunakan adalah model half-sommerfeld yang mengandung penyelesaian persamaan Reynolds dengan batasanya. Hanya saja pada model half-sommerfeld ini mengganti tekanan yang bernilai negatif dengan nol untuk menunjukan terjadinya kavitasi Kasus V Kekasaran permukaan bertekstur sinusoidal dengan slip Kekasaran permukaan diaplikasikan pada permukaan 1 yang diam sedangkan untuk permukaan yang halus bergerak dengan kecepatan U 1. Rekayasa pemberian kekasaran permukaan berupa permukaan bertekstur grooved shape berbentuk sinusoidal dengan persamaan: ( π λ) y= asin x/ (3.9) Dimana y dan x adalah koordinat masing-masing arah y dan arah x, a adalah amplitude gelombang sinusoidal yang menunjukkan tinggi rendahnya interval gelombang sinusoidal, λ adalah panjang gelombang sinusoidal. Lx Permukaan 1 λ h a Permukaan Gambar 3.4 Pemodelan kekasaran permukaan bertekstur sinusoidal U 1
10 38 Persamaan pemodelan gelombang sinusoidal tersebut diambil dari persamaan pemodelan yang telah dilakukan oleh Phuoc Huynh (005) yang meneliti slider bearing dengan berbagai kondisi kerutan. Permukaan kontak terlubrikasi dimodelkan dengan infinite width slider bearing. Permukaan kasar bertekstur sinusoidal yang diberikan pada permukaan yang diam direkayasa dengan mengalami slip. Ketebalan fluida masuk sama dengan ketebalan fluida keluar, sehingga slider bearing dimodelkan dengan parallel pad bearing, seperti Gambar 3.4. Pada permukaan atas merupakan permukaan diam dan permukaannya dibuat kasar sepanjang Lr. Penurunan persamaan mengikuti kasus ketiga, sedangkan besarnya amplitudo sama dengan ketebalan dimple pada kasus ketiga. Untuk panjang gelombang besarnya adalah dua kali panjang dimple sebagai asumsi bahwa naik turunnya dimple sama dengan panjang gelombang sinusoidal Kasus VI Kekasaran permukaan bertekstur sinusoidal dengan slip dan menggunakan kavitasi model half-sommerfeld Konfiguransi dari skematik infinite width slider bearing dengan mixed slip surface yang telah dibangun pada kasus kelima, dibangun kembali pada kasus yang keenam. Dalam kasus keenam ini dilakukan rekayasa penambahan terjadinya kavitasi pada permukaan kasar bertekstur sinusoidal dengan slip yang mengalami kontak terlubrikasi. Model kavitasi yang digunakan adalah model half-sommerfeld yang mengandung penyelesaian persamaan Reynolds dengan batasanya Kasus VII Single-Grooved Slider Konfiguransi dari skematik infinite width slider bearing yang telah dibangun pada kasus pertama, dibangun kembali pada kasus yang ketujuh. Permukaan 1 yang merupakan permukaan yang diam dan mengalami kontak heterogen slip/tanpa slip. Sedangkan permukaan bergerak dengan kecepatan U. Geometri single-grooved dalam kondisi full film dengan dengan x s adalah panjang area slip 0,5 dari L atau panjang bantalan/pad yaitu sepanjang 10 mm dan x g adalah panjang grooved 0,5 dari panjang bantalan/pad yaitu sepanjang 5 mm, untuk yang 5 mm sisa panjang bantalan
11 39 dikondisikan smooth dan mempunyai sifat tanpa slip, sedangkan untuk kedalaman dari grooved adalah 5 μm Dalam kasus single-grooved ini dilakukan rekayasa variasi koefisien slip tak berdimensi (A) yaitu A = 0,01; A = 0,1, dan A = 1. Ls Lx x g La Permukaan 1 z h Fluid film x Permukaan U 1 Gambar 3.5 Geometri single-grooved slider bearing 3.9. Menentukan grid Proses transformasi persamaan diferensial menjadi operasi matematika yang lebih sederhana memerlukan proses diskritisasi. Pada proses diskritisasi persamaan diferensial parsial harus diterjemahkan menjadi analogi numerisnya sehingga dapat dikalkulasi oleh komputer. Secara visual, diskritisasi ditampilkan dalam bentuk grid yang memiliki luas atau volume yang terhingga. Grid memiliki titik-titik dalam ruang yang ditempati fluida dimana tiap titik-titik nodal tersebut mempunyai control volume Permukaan smooth Kasus permukaan smooth dengan geometri parallel gap mempunyai ketinggian fluid film yang sama dan mengakibatkan banyaknya grid yang diaplikasikan pada fluid film tidak berpengaruh secara signifikan pada distribusi tekanan yang dihasilkan. Hal ini telah dicoba dengan mengaplikasikan 100 grid dan divariasikan sampai 1000 grid. Oleh sebab itu ditentukan 1000 grid untuk mendiskritisasi fluid film untuk slider bearing dengan permukaan smooth.
12 Permukaan bertekstur rectangular Kasus permukaan bertekstur rectangular dengan geometri parallel gap mempunyai ketinggian fluid film yang berbeda sepanjang bantalan. Untuk itu diperlukan jumlah grid yang sesuai agar dapat mewakili ketebalan fluid film sepanjang bantalan. Oleh sebab itu diaplikasikan berbagai jumlah grid sampai menghasilkan distribusi tekanan maksimal dan penambahan jumlah grid tersebut tidak lagi mengakibatkan perubahan distribusi tekanan yang signifikan. 0,14 0,1 0,1 P 0,08 0,06 0,04 0,0 GRID 4000 GRID 3000 GRID 000 GRID , 0,4 0,6 0,8 1 X Gambar 3.6 Distribusi tekanan dengan variasi grid untuk permukaan rectangular Pada Gambar 3.6 menunjukan bahwa dengan mengaplikasikan jumlah grid 1000, didapatkan distribusi tekanan maksimum 0,11, sedangkan dengan menambahkan aplikasi jumlah grid 000, terjadi peningkatan distribusi tekanan maksimum mencapai 0,15. Pada saat penambahan aplikasi jumlah grid 3000 dan grid 4000, distribusi tekanan maksimum tidak terjadi perubahan yang signifikan dan dapat dianggap tidak terjadi perubahan. Dengan demikian untuk penelitian infinite width slider bearing selanjutnya, pada permukaan bertekstur rectangular akan diaplikasikan jumlah grid 000.
13 Permukaan bertekstur sinusoidal Kasus permukaan bertekstur sinusoidal dengan geometri parallel gap mempunyai ketinggian fluid film yang berbeda sepanjang bantalan. Untuk itu diperlukan jumlah grid yang sesuai agar dapat mewakili ketebalan fluid film sepanjang bantalan. Oleh sebab itu diaplikasikan berbagai jumlah grid sampai menghasilkan distribusi tekanan maksimal dan tidak mengakibatkan perubahan distribusi tekanan yang signifikan. 0,5 0, P 0,15 0,1 0, , 0,4 0,6 0,8 1 X GRID 5000 GRID 1000 GRID 500 GRID 300 GRID 00 GRID 100 Gambar 3.7 Distribusi tekanan dengan variasi grid untuk permukaan sinusoidal Pada Gambar 3.7 menunjukan bahwa dengan mengaplikasikan jumlah grid 100, didapatkan distribusi tekanan maksimum 0,18, kemudian dengan menambahkan aplikasi jumlah grid 00, distribusi tekanan maksimum tidak terjadi perubahan yang signifikan bahkan dapat dikatakan distribusi tekanannya tetap. Pada saat penambahan aplikasi jumlah grid 300 dan grid 500, terjadi peningkatan distribusi tekanan maksimum dimana pada kedua grid tersebut mempunyai nilai yang sama sebesar 0,19. Kemudian dilakukan penambahan aplikasi jumlah grid 1000 dan terjadi perubahan yang kecil dimana distribusi tekanan menjadi 0,. Pada saat jumlah grid ditingkatkan menjadi 5000, tidak terjadi perubahan distribusi tekanan yang signifikan sehingga untuk penelitian infinite
14 4 width slider bearing selanjutnya, pada permukaan bertekstur sinusoidal akan diaplikasikan jumlah grid Permukaan single-groove Kasus permukaan single-groove dengan geometri parallel gap mempunyai ketinggian fluid film yang berbeda pada bagian groove. Untuk itu diperlukan jumlah grid yang sesuai agar dapat mewakili ketebalan fluid film pada bagian groove bantalan. Oleh sebab itu diaplikasikan berbagai jumlah grid sampai menghasilkan distribusi tekanan maksimal dan tidak mengakibatkan perubahan distribusi tekanan yang signifikan. 0,4 0,35 P 0,3 0,5 0, 0,15 0,1 0, , 0,4 0,6 0,8 1 GRID 5000 GRID 1000 GRID 500 GRID 300 GRID 00 GRID 100 X Gambar 3.8 Distribusi tekanan dengan variasi grid untuk permukaan single-groove Pada Gambar 3.8 menunjukan bahwa dengan mengaplikasikan jumlah grid 100, didapatkan distribusi tekanan maksimum pada bagiam groove 0,31 sampai 0.34, kemudian dengan menambahkan aplikasi jumlah grid dari grid 00, grid 300, grid 500, grid 1000 dan grid 5000, distribusi tekanan maksimum yang terjadi tidak terdapat perubahan yang signifikan bahkan dapat dikatakan distribusi tekanannya tetap, sehingga
15 43 untuk penelitian infinite width slider bearing selanjutnya, pada permukaan singlegroove akan diaplikasikan jumlah grid 1000.
ANALISA PENGARUH PERMUKAAN SLIP DAN BERTEKSTUR SINUSOIDAL TERHADAP DISTRIBUSI TEKANAN PADA SLIDER BEARING
ANALISA PENGARUH PERMUKAAN SLIP DAN BERTEKSTUR SINUSOIDAL TERHADAP DISTRIBUSI TEKANAN PADA SLIDER BEARING M.D. Surindra, M. Tauviqirrahman, Jamari dan Berkah, F.T.K. Jurusan Teknik Mesin, Universitas Diponegoro
BAB III PEMODELAN DENGAN METODE VOLUME HINGGA
A III PEMODELAN DENGAN METODE VOLUME HINGGA 3.1 Teori Dasar Metode Volume Hingga Computational fluid dnamic atau CFD merupakan ilmu ang mempelajari tentang analisa aliran fluida, perpindahan panas dan
BAB III PEMODELAN DENGAN METODE VOLUME HINGGA
BAB III PEMODELAN DENGAN METODE VOLUME HINGGA 3.1 Teori Dasar Metode Volume Hingga Computational fluid dynamic atau CFD merupakan ilmu yang mempelajari tentang analisa aliran fluida, perpindaan panas dan
TUGAS AKHIR ANALISIS PENGARUH PERMUKAAN SLIP TEXTURE TERHADAP PERFORMANSI PELUMASAN PADA KONTAK SLIDING MENGGUNAKAN METODE VOLUME HINGGA
TUGAS AKHIR ANALISIS PENGARUH PERMUKAAN SLIP TEXTURE TERHADAP PERFORMANSI PELUMASAN PADA KONTAK SLIDING MENGGUNAKAN METODE VOLUME HINGGA Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Kesarjanaan Strata
UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISIS PENGARUH KEKASARAN PERMUKAAN DAN SLIP TERHADAP PERFORMANSI PELUMASAN JOURNAL BEARING MENGGUNAKAN METODE VOLUME HINGGA
UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISIS PENGARUH KEKASARAN PERMUKAAN DAN SLIP TERHADAP PERFORMANSI PELUMASAN JOURNAL BEARING MENGGUNAKAN METODE VOLUME HINGGA TUGAS AKHIR BAYU KURNIAWAN L2E 007 021 FAKULTAS TEKNIK
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pendahuluan
BAB II DASAR TEORI.1 Pendahuluan Gesekan memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari walaupun kita tidak pernah memikirkannya tentang itu. Sebagai contoh, gesekan memberikan dukungan ketika kita
ANALISA PENGARUH VARIASI POLA SLIP HETEROGEN PADA PELUMASAN HIDRODINAMIK DENGAN KONDISI KAVITASI
ANALISA PENGARUH VARIASI POLA SLIP HETEROGEN PADA PELUMASAN HIDRODINAMIK DENGAN KONDISI KAVITASI K. R. Widodo, M. Tauviqirrahman, Jamari dan J.D. Setiawan Magister Teknik Mesin, Universitas Diponegoro
Pengaruh Pemodelan Kavitasi untuk Analisis Kontak Terlubrikasi dengan Slip Dinding
Pengaruh Pemodelan Kavitasi untuk Analisis Kontak Terlubrikasi dengan Slip Dinding K. R. Widodo 1, M. Tauviqirrahman, 1, Jamari 1 1) Jurusan Teknik Mesin, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedharto, UNDIP
UNIVERSITAS DIPONEGORO OPTIMASI DAERAH SLIP PADA PERMUKAAN BERTEKSTUR PADA PELUMASAN MEMS (MICRO ELECTRO MECHANICAL SYSTEMS) TUGAS SARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO OPTIMASI DAERAH SLIP PADA PERMUKAAN BERTEKSTUR PADA PELUMASAN MEMS (MICRO ELECTRO MECHANICAL SYSTEMS) TUGAS SARJANA ALI ZULFIKAR L2E 006 007 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Thrust bearing [2]
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam suatu peralatan perkakas/mesin dapat dipastikan bahwa terdapat komponen yang bergerak, baik dalam gerakan linear maupun gerakan angular. Gerakan relatif antar
Bab II Model Lapisan Fluida Viskos Tipis Akibat Gaya Gravitasi
Bab II Model Lapisan Fluida Viskos Tipis Akibat Gaya Gravitasi II.1 Gambaran Umum Model Pada bab ini, kita akan merumuskan model matematika dari masalah ketidakstabilan lapisan fluida tipis yang bergerak
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Salah satu contoh MEMS: accelerometer silikon untuk aplikasi sensor pada otomotif [2]
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang MEMS (Micro Electro Mechanical System) merupakan gabungan dari komponen-komponen elektrik dan mekanik yang membentuk sebuah sistem dengan menggunakan teknologi laser.
BAB II DASAR TEORI. Aliran hele shaw..., Azwar Effendy, FT UI, 2008
BAB II DASAR TEORI 2.1 KLASIFIKASI ALIRAN FLUIDA Secara umum fluida dikenal memiliki kecenderungan untuk bergerak atau mengalir. Sangat sulit untuk mengekang fluida agar tidak bergerak, tegangan geser
BAB III. TEORI DASAR. benda adalah sebanding dengan massa kedua benda tersebut dan berbanding
14 BAB III. TEORI DASAR 3.1. Prinsip Dasar Metode Gayaberat 3.1.1. Teori Gayaberat Newton Teori gayaberat didasarkan oleh hukum Newton tentang gravitasi. Hukum gravitasi Newton yang menyatakan bahwa gaya
BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Jenis bearing: (a) sliding contact bearing (b) roller contact bearing [8]
BAB II DASAR TEORI 2.1 Tipe Journal Bearing Bearing secara umum bisa diartikan sebagai bantalan yang digunakan untuk menopang elemen berputar lainnya. Secara umum ada dua macam jenis bearing seperti pada
APLIKASI SLIP UNTUK MENGURANGI GESEKAN PADA BANTALAN
APLIKASI SLIP UNTUK MENGURANGI GESEKAN PADA BANTALAN M. Tauviqirrahman, 1,) R. Ismail, 1) Jamari, 2) dan D.J. Schipper 1) 1) Laboratory for Surface Technology and Tribology, Faculty of Engineering Technology,
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA.1 Pendahuluan Gesekan mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari walaupun kita tidak pernah memikirkan tentang itu. Sebagai contoh, gesekan memberikan dukungan kepada ban
BAB 2. Landasan Teori. 2.1 Persamaan Dasar
BAB 2 Landasan Teori Objek yang diamati pada permasalahan ini adalah lapisan fluida tipis, yaitu akan dilihat perubahan ketebalan dari lapisan fluida tipis tersebut dengan adanya penambahan surfaktan ke
Kestabilan Aliran Fluida Viskos Tipis pada Bidang Inklinasi
1 Jurnal Matematika, Statistika, & Komputasi Vol 5 No 1, 1-9, Juli 2008 Kestabilan Aliran Fluida Viskos Tipis pada Bidang Inklinasi Sri Sulasteri Jurusan Pend. Matematika UIN Alauddin Makassar Jalan Sultan
Gambar 2.1 Kereta celtic dan bearing kayu yang digunakanpada kereta celtic [23]
BAB II DASAR TEORI 2.1 Bearing Bearing (bantalan) adalah elemen mesin yang menumpu poros yang mempunyai beban, sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secara halus, aman, dan mempunyai
Bab 2 TEORI DASAR. 2.1 Model Aliran Panas
Bab 2 TEORI DASAR 2.1 Model Aliran Panas Perpindahan panas adalah energi yang dipindahkan karena adanya perbedaan temperatur. Terdapat tiga cara atau metode bagiamana panas dipindahkan: Konduksi Konduksi
BAB II LANDASAN TEORI. bisa mengalami perubahan bentuk secara kontinyu atau terus-menerus bila terkena
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Mekanika Fluida Mekanika fluida adalah subdisiplin dari mekanika kontinyu yang mempelajari tentang fluida (dapat berupa cairan dan gas). Fluida sendiri merupakan zat yang bisa
Analisis Kestabilan Aliran Fluida Viskos Tipis pada Model Slip di Bawah Pengaruh Gaya Gravitasi
Vol. 14, No. 1, 69-76, Juli 017 Analisis Kestabilan Aliran Fluida Viskos Tipis pada Model Slip di Bawah Pengaruh Gaya Gravitasi Sri Sulasteri Abstrak Hal yang selalu menjadi perhatian dalam lapisan fluida
BAB V PERAMBATAN GELOMBANG OPTIK PADA MEDIUM NONLINIER KERR
A V PERAMATAN GELOMANG OPTIK PADA MEDIUM NONLINIER KERR 5.. Pendahuluan erkas (beam) optik yang merambat pada medium linier mempunyai kecenderungan untuk menyebar karena adanya efek difraksi; lihat Gambar
3.1 Analisis Dimensional persamaan Navier Stokes
Bab 3 Model Matematika Pada bab ini akan dibahas mengenai proses dalam pembuatan model. Analisis dimensional serta pendekatan lubrikasi kita gunakan terhadap persamaan-persamaan dasar (Navier Stokes) serta
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Gesekan
5 BAB II DASAR TEORI 2.1 Gesekan Ketika dua benda saling bersinggungan satu dengan yang lainnya, apabila diamati pergerakannya seperti dilawan oleh suatu gaya. Fenomena ini adalah gesekan (friction); sedangkan
STUDI NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN BODI PENGGANGGU TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELINTASI SILINDER UTAMA
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1 STUDI NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN BODI PENGGANGGU TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELINTASI SILINDER UTAMA Studi Kasus: Pengaruh penambahan
III PEMBAHASAN. (3.3) disubstitusikan ke dalam sistem koordinat silinder yang ditinjau pada persamaan (2.4), maka diperoleh
III PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dibahas penggunaan metode perturbasi homotopi untuk menyelesaikan suatu masalah taklinear. Metode ini digunakan untuk menyelesaikan model Sisko dalam masalah aliran
BAB III ANALISA KONDISI FLUIDA DAN PROSEDUR SIMULASI
BAB III ANALISA KONDISI FLUIDA DAN PROSEDUR SIMULASI 3.1 KONDISI ALIRAN FLUIDA Sebelum melakukan simulasi, didefinisikan terlebih dahulu kondisi aliran yang akan dipergunakan. Asumsi dasar yang dipakai
SIMULASI NUMERIK UJI EKSPERIMENTAL PROFIL ALIRAN SALURAN MULTI BELOKAN DENGAN VARIASI SUDU PENGARAH
SIMULASI NUMERIK UJI EKSPERIMENTAL PROFIL ALIRAN SALURAN MULTI BELOKAN DENGAN VARIASI SUDU PENGARAH Syukran 1* dan Muh. Haiyum 2 1,2 Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe Jl. Banda Aceh-Medan
BAB III PEMODELAN KONTAK BERPELUMAS DAN PERHITUNGAN KEAUSAN
18 BAB III PEMODELAN KONTAK BERPELUMAS DAN PERHITUNGAN KEAUSAN 3.1 Pemodelan keausan Pelumasan dan keausan biasanya dibahas dan dipelajari secara terpisah. Meskipun demikian, pelumasan dan keausan dapat
BAB II RUNNING-IN PADA KONTAK ROLLING SLIDING
6 BAB II RUNNING-IN PADA KONTAK ROLLING SLIDING 2.1 Pengertian running-in Ketika dua permukaan diberi pembebanan untuk pertama kalinya dan terjadi gerak relatif antar permukaan, terjadi perubahan kondisi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Dasar Fluida Dalam buku yang berjudul Fundamental of Fluid Mechanics karya Bruce R. Munson, Donald F. Young, Theodore H. Okiishi, dan Wade W. Huebsch, fluida didefinisikan sebagai
STUDI PERFORMANSI TEXTURED BEARING DENGAN PELUMAS NON-NEWTONIAN DENGAN MEMPERTIMBANGKAN SLIP DAN KAVITASI
Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi STUDI PERFORMANSI TEXTURED BEARING DENGAN PELUMAS NON-NEWTONIAN DENGAN MEMPERTIMBANGKAN SLIP DAN KAVITASI *M. Tauviqirrahman, B.
Mekanika Fluida II. Karakteristik Saluran dan Hukum Dasar Hidrolika
Mekanika Fluida II Karakteristik Saluran dan Hukum Dasar Hidrolika 1 Geometri Saluran 1.Kedalaman (y) - depth 2.Ketinggian di atas datum (z) - stage 3.Luas penampang A (area cross section area) 4.Keliling
BAB 3 METODOLOGI. 40 Universitas Indonesia
BAB 3 METODOLOGI 3.1. Hipotesa Untuk mencapai tujuan dari studi pengembangan model matematis sel tunam membran pertukaran proton, diperolehnya karakteristik reaktan di dalam kanal distribusi terhadap kinerja
Kuliah 07 Persamaan Diferensial Ordinari Problem Kondisi Batas (PDOPKB)
Kuliah 07 Persamaan Diferensial Ordinari Problem Kondisi Batas (PDOPKB) Persamaan diferensial satu variabel bebas (ordinari) orde dua disebut juga sebagai Problem Kondisi Batas. Hal ini disebabkan persamaan
1 BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN
1 BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN Pada bab ini akan dibahas pengaruh dasar laut tak rata terhadap perambatan gelombang permukaan secara analitik. Pengaruh dasar tak rata ini akan ditinjau melalui simpangan
BAB II TEORI ALIRAN PANAS 7 BAB II TEORI ALIRAN PANAS. benda. Panas akan mengalir dari benda yang bertemperatur tinggi ke benda yang
BAB II TEORI ALIRAN PANAS 7 BAB II TEORI ALIRAN PANAS 2.1 Konsep Dasar Perpindahan Panas Perpindahan panas dapat terjadi karena adanya beda temperatur antara dua bagian benda. Panas akan mengalir dari
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Harmonisa Arus Di Gedung Direktorat TIK UPI Sebelum Dipasang Filter
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Harmonisa Arus Di Gedung Direktorat TIK UPI Sebelum Dipasang Filter Dengan asumsi bahwa kelistrikan di Gedung Direktorat TIK UPI seimbang maka dalam penggambaran bentuk
BAB III PEMBAHASAN. dengan menggunakan penyelesaian analitik dan penyelesaian numerikdengan. motode beda hingga. Berikut ini penjelasan lebih lanjut.
BAB III PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas tentang penurunan model persamaan gelombang satu dimensi. Setelah itu akan ditentukan persamaan gelombang satu dimensi dengan menggunakan penyelesaian analitik
Simulasi Model Gelombang Pasang Surut dengan Metode Beda Hingga
J. Math. and Its Appl. ISSN: 1829-605X Vol. 2, No. 2, Nov 2005, 93 101 Simulasi Model Gelombang Pasang Surut dengan Metode Beda Hingga Lukman Hanafi, Danang Indrajaya Jurusan Matematika FMIPA ITS Kampus
INFORMASI PENTING. m e = 9, kg Besar muatan electron. Massa electron. e = 1, C Bilangan Avogadro
PETUNJUK UMUM 1. Tuliskan NAMA dan ID peserta di setiap lembar jawaban dan lembar kerja. 2. Tuliskan jawaban akhir di kotak yang disediakan untuk di lembar Jawaban. Lembar kerja dapat digunakan untuk melakukan
HIDRODINAMIKA BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kinematika adalah tinjauan gerak partikel zat cair tanpa memperhatikan gaya yang menyebabkan gerak tersebut. Kinematika mempelajari kecepatan disetiap titik dalam medan
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Persamaan Kontinuitas dan Persamaan Gerak
BAB II DASAR TEORI Ada beberapa teori yang berkaitan dengan konsep-konsep umum mengenai aliran fluida. Beberapa akan dibahas pada bab ini. Diantaranya adalah hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan momentum.
DAFTAR PUSTAKA. 1. Vance, J. M., Rotordynamics of Turbomachinery, John Willey & Sons, 1988.
DAFTAR PUSTAKA 1. Vance, J. M., Rotordynamics of Turbomachinery, John Willey & Sons, 1988.. Adams, M., Nonlinear Dynamics of Multibearing Flexible Rotors, Journal Sound and Vibration, Volume 71, No 1,
KARAKTERISTIK ZAT CAIR Pendahuluan Aliran laminer Bilangan Reynold Aliran Turbulen Hukum Tahanan Gesek Aliran Laminer Dalam Pipa
KARAKTERISTIK ZAT CAIR Pendahuluan Aliran laminer Bilangan Reynold Aliran Turbulen Hukum Tahanan Gesek Aliran Laminer Dalam Pipa ALIRAN STEDY MELALUI SISTEM PIPA Persamaan kontinuitas Persamaan Bernoulli
Pemodelan Matematika dan Metode Numerik
Bab 3 Pemodelan Matematika dan Metode Numerik 3.1 Model Keadaan Tunak Model keadaan tunak hanya tergantung pada jarak saja. Oleh karena itu, distribusi temperatur gas sepanjang pipa sebagai fungsi dari
Solusi Numerik Persamaan Gelombang Dua Dimensi Menggunakan Metode Alternating Direction Implicit
Vol. 11, No. 2, 105-114, Januari 2015 Solusi Numerik Persamaan Gelombang Dua Dimensi Menggunakan Metode Alternating Direction Implicit Rezki Setiawan Bachrun *,Khaeruddin **,Andi Galsan Mahie *** Abstrak
BAB 3 MODEL ELEMEN HINGGA
BAB 3 MODEL ELEMEN HINGGA Bab 3 Model Elemen Hingga Pemodelan numerik tumbukan tabung bujursangkar dilakukan dengan menggunakan LS-Dyna. Perangkat lunak ini biasa digunakan untuk mensimulasikan peristiwa-peristiwa
BAB IV KAJIAN CFD PADA PROSES ALIRAN FLUIDA
BAB IV KAJIAN CFD PADA PROSES ALIRAN FLUIDA IV. KAJIAN CFD PADA PROSES ALIRAN FLUIDA 4.1. Penelitian Sebelumna Computational Fluid Dnamics (CFD) merupakan program computer perangkat lunak untuk memprediksi
IRVAN DARMAWAN X
OPTIMASI DESAIN PEMBAGI ALIRAN UDARA DAN ANALISIS ALIRAN UDARA MELALUI PEMBAGI ALIRAN UDARA SERTA INTEGRASI KEDALAM SISTEM INTEGRATED CIRCULAR HOVERCRAFT PROTO X-1 SKRIPSI Oleh IRVAN DARMAWAN 04 04 02
BAB-4. METODE PENELITIAN
BAB-4. METODE PENELITIAN 4.1. Bahan Penelitian Untuk keperluan kalibrasi dan verifikasi model numerik yang dibuat, dibutuhkan data-data tentang pola penyebaran polutan dalam air. Ada beberapa peneliti
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan secara komputasional dengan melakukan analisis difraksi menggunakan perhitungan numerik. Merupakan salah satu metode dalam perkembangan ilmu komputasi
1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah
BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan pertumbuhan kebutuhan dan intensifikasi penggunaan air, masalah kualitas air menjadi faktor yang penting dalam pengembangan sumberdaya air di berbagai belahan bumi. Walaupun
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menjelaskan cara penyelesaian soal dengan
Bab 4 DINDING SINUSOIDAL SEBAGAI REFLEKTOR GELOMBANG
Bab 4 DINDING SINUSOIDAL SEBAGAI REFLEKTOR GELOMBANG Pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai dasar laut sinusoidal sebagai reflektor gelombang. Persamaan yang digunakan untuk memodelkan masalah dasar
Bab VI Hasil dan Analisis
Bab VI Hasil dan Analisis Dalam bab ini akan disampaikan data-data hasil eksperimen yang telah dilakukan di dalam laboratorium termodinamika PRI ITB, dan juga hasil pengolahan data-data tersebut yang diberikan
KALKULUS MULTIVARIABEL II
Pada Bidang Bentuk Vektor dari KALKULUS MULTIVARIABEL II (Minggu ke-9) Andradi Jurusan Matematika FMIPA UGM Yogyakarta, Indonesia Pada Bidang Bentuk Vektor dari 1 Definisi Daerah Sederhana x 2 Pada Bidang
perpindahan, kita peroleh persamaan differensial berikut :
1.1 Pengertian Persamaan Differensial Banyak sekali masalah terapan (dalam ilmu teknik, ilmu fisika, biologi, kimia, sosial, dan lain-lain), yang telah dirumuskan dengan model matematika dalam bentuk persamaan
Rumus bilangan Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:
Dalam mekanika fluida, bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vsρ) terhadap gaya viskos (μ/l) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan
BAB II ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA. beberapa sifat yang dapat digunakan untuk mengetahui berbagai parameter pada
BAB II ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA.1 Sifat-Sifat Fluida Fluida merupakan suatu zat yang berupa cairan dan gas. Fluida memiliki beberapa sifat yang dapat digunakan untuk mengetahui berbagai parameter pada
3. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April Oktober 2011 meliputi
3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April Oktober 2011 meliputi penyusunan basis data, pemodelan dan simulasi pola sebaran suhu air buangan
Simulasi Perpindahan Panas pada Lapisan Tengah Pelat Menggunakan Metode Elemen Hingga
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (2015) 2337-3520 (2301-928X Print) A-13 Simulasi Perpindahan Panas pada Lapisan Tengah Pelat Menggunakan Metode Elemen Hingga Vimala Rachmawati dan Kamiran Jurusan
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: ( Print) B-192
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-192 Studi Numerik Pengaruh Baffle Inclination pada Alat Penukar Kalor Tipe Shell and Tube terhadap Aliran Fluida dan Perpindahan
Bab III Model Proses Deformasi Benang Viscoelastis Linear di Lingkungan Fluida Newton
Bab III Model Proses Deformasi Benang Viscoelastis Linear di Lingkungan Fluida Newton III.1 Stress dan Strain Salah satu hal yang penting dalam pengkonstruksian model proses deformasi suatu fluida adalah
BAB III RANCANG BANGUNG MBG
BAB III RANCANG BANGUNG MBG Peralatan uji MBG dibuat sebagai waterloop (siklus tertutup) dan menggunakan pompa sebagai penggerak fluida, dengan harapan meminimalisasi faktor udara luar yang masuk ke dalam
Analisis Model Fluida Casson untuk Aliran Darah dalam Stenosis Arteri
Analisis Model Fluida Casson untuk Aliran Darah dalam Stenosis Arteri Riri Jonuarti* dan Freddy Haryanto Diterima 21 Mei 2011, direvisi 15 Juni 2011, diterbitkan 2 Agustus 2011 Abstrak Beberapa peneliti
Aliran Fluida. Konsep Dasar
Aliran Fluida Aliran fluida dapat diaktegorikan:. Aliran laminar Aliran dengan fluida yang bergerak dalam lapisan lapisan, atau lamina lamina dengan satu lapisan meluncur secara lancar. Dalam aliran laminar
BAB IV PERANCANGAN SISTEM PERPIPAAN AIR UNTUK PENYIRAMAN TANAMAN KEBUN VERTIKAL
BAB IV PERANCANGAN SISTEM PERPIPAAN AIR UNTUK PENYIRAMAN TANAMAN KEBUN VERTIKAL 4.1 Kondisi perancangan Tahap awal perancangan sistem perpipaan air untuk penyiraman kebun vertikal yaitu menentukan kondisi
MAKALAH KOMPUTASI NUMERIK
MAKALAH KOMPUTASI NUMERIK ANALISA ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA SIRKULAR DAN PIPA SPIRAL UNTUK INSTALASI SALURAN AIR DI RUMAH DENGAN SOFTWARE CFD Oleh : MARIO RADITYO PRARTONO 1306481972 DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
IV. PENDEKATAN DESAIN
IV. PENDEKATAN DESAIN A. Kriteria Desain Alat pengupas kulit ari kacang tanah ini dirancang untuk memudahkan pengupasan kulit ari kacang tanah. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa proses pengupasan
Rheologi. Rini Yulianingsih
Rheologi Rini Yulianingsih Sifat-sifat rheologi didefinisikan sebagai sifat mekanik yang menghasilkan deformasi dan aliran bahan yang disebabkan karena adanya stress Klasifikasi Rheologi 1 ALIRAN BAHAN
ROTASI Vol. 17, No. 1, Januari 2015:
Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi ANALISIS CFD HIDRODINAMIKA SLIDER BEARING DENGAN PERMUKAAN HETERO SLIP/NO-SLIP DENGAN/TANPA RECESS *M. Tauviqirrahman a, S. Hermawan
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. curah hujan ini sangat penting untuk perencanaan seperti debit banjir rencana.
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH A. Intensitas Curah Hujan Menurut Joesron (1987: IV-4), Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada suatu kurun waktu. Analisa intensitas
Gambar 2.1.(a) Geometri elektroda commit to Gambar user 2.1.(b) Model Elemen Hingga ( Sumber : Yeung dan Thornton, 1999 )
digilib.uns.ac.id BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Resistance Spot Welding (RSW) atau Las Titik Tahanan Listrik adalah suatu cara pengelasan dimana permukaan plat yang disambung ditekankan satu
LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA KONTAK MULTIPLE ASPERITY-TO-ASPERITY MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA KONTAK MULTIPLE ASPERITY-TO-ASPERITY MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas dan Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Disusun oleh: TITI PANCA
MATERI 4 MATEMATIKA TEKNIK 1 DERET FOURIER
MATERI 4 MATEMATIKA TEKNIK 1 DERET FOURIER 1 Deret Fourier 2 Tujuan : 1. Dapat merepresentasikan seluruh fungsi periodik dalam bentuk deret Fourier. 2. Dapat memetakan Cosinus Fourier, Sinus Fourier, Fourier
MEKANIKA FLUIDA DI SUSUN OLEH : ADE IRMA
MEKANIKA FLUIDA DI SUSUN OLEH : ADE IRMA 13321070 4 Konsep Dasar Mekanika Fluida Fluida adalah zat yang berdeformasi terus menerus selama dipengaruhi oleh suatutegangan geser.mekanika fluida disiplin ilmu
1. (25 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan
. (5 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan dengan H). Kecepatan awal horizontal bola adalah v 0 dan
ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA TERTUTUP
MAKALAH MEKANIKA FLUIDA ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA TERTUTUP Disusun Oleh: Nama : Juventus Victor HS NPM : 3331090796 Jurusan Dosen : Teknik Mesin-Reguler B : Yusvardi Yusuf, ST.,MT JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS
8. FLUIDA. Materi Kuliah. Staf Pengajar Fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya
8. FLUIDA Staf Pengajar Fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Tegangan Permukaan Viskositas Fluida Mengalir Kontinuitas Persamaan Bernouli Materi Kuliah 1 Tegangan Permukaan Gaya tarik
DAFTAR NOTASI. A : sebuah konstanta, pada Persamaan (5.1)
DAFTAR NOTASI A : sebuah konstanta, pada Persamaan (5.1) a c a m1 / 3 a m /k s B : Koefisien-koefisien yang membentuk elemen matrik tridiagonal dan dapat diselesaikan dengan metode eliminasi Gauss : amplitudo
BAB III TEORI DASAR (3.1-1) dimana F : Gaya antara dua partikel bermassa m 1 dan m 2. r : jarak antara dua partikel
BAB III TEORI DASAR 3.1 PRINSIP DASAR GRAVITASI 3.1.1 Hukum Newton Prinsip dasar yang digunakan dalam metoda gayaberat ini adalah hukum Newton yang menyatakan bahwa gaya tarik menarik dua titik massa m
BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN HASIL EKSPERIMEN
BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN HASIL EKSPERIMEN 4.1 Data Penelitian Pada metode ini, udara digunakan sebagai fluida kerja, dengan spesifikasi sebagai berikut: Asumsi aliran steady dan incompressible. Temperatur
BAB III PERANCANGAN ANTENA ARRAY FRACTAL MIKROSTRIP
BAB III PERANCANGAN ANTENA ARRAY FRACTAL MIKROSTRIP 3.1. Pendahuluan Pada penelitian ini akan dirancang dan analisa antena mikrostrip array fractal dengan teknik pencatuan secara tidak langsung yaitu menggunakan
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA Untuk mendapatkan koefisien gesek dari saluran pipa berpenampang persegi, nilai penurunan tekanan (pressure loss), kekasaran pipa dan beberapa variabel
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Hukum Kekekalan Massa Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov- Lavoiser adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan
Kajian Pola Aliran Berayun dalam Kolom Bersekat
105 Deny Supriharti dan Amir usin / Jurnal Teknologi Proses 5(2) Juli 2006: 100 104 Jurnal Teknologi Proses Media Publikasi Karya Ilmiah Teknik Kimia 5(2) Juli 2006: 105 111 ISSN 1412-7814 Kajian Pola
TEKNOLOGI AEROSOL Gerak Brown & Difusi. Prof. Heru Setyawan, Jurusan Teknik Kimia FTI - ITS
TEKNOLOGI AEROSOL Gerak Brown & Difusi Prof. Heru Setyawan, Jurusan Teknik Kimia FTI - ITS Koefisien Difusi Gerak Brown: gerak berkelak-kelok tak beraturan partikel aerosol dalam udara diam yang disebabkan
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Fluida
BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi Fluida Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah jauh, gaya antarmolekul
HIDROLIKA SALURAN TERTUTUP -PUKULAN AIR (WATER HAMMER)- SEBRIAN MIRDEKLIS BESELLY PUTRA TEKNIK PENGAIRAN
HIDROLIKA SALURAN TERTUTUP -PUKULAN AIR (WATER HAMMER)- SEBRIAN MIRDEKLIS BESELLY PUTRA TEKNIK PENGAIRAN UMUM Pukulan air/ water hammer adalah fenomena hidraulik pada suatu pipa akibat adanya penutupan
