Bab ii Kajian Pustaka 5
|
|
|
- Sukarno Susanto Hardja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Bab II Kajian Pustaka Teori Mesin Turbin Gas Prinsip Kerja Mesin Turbin Gas pada Sistem Propulsi Pesawat Udara Jenis-Jenis Mesin Turbin Gas pada Pesawat Udara Mekanika Elastis Linier Elastisitas Linier Elastisitas 3-Dimensi Metode Elemen Hingga Pendahuluan Analisis Elemen Hingga Energi Potensial Minimal Faktor Konsentrasi Tegangan Pendahuluan Konsentrasi Tegangan Akibat Beban Aksial Konsentrasi Tegangan Akibat Beban Puntir Konsentrasi Tegangan Akibat Beban Momen Lentur Gambar 2. 1 Siklus Brayton Ideal [10]... 7 Gambar 2. 2 Mesin Propulsi Pesawat Udara [12]... 7 Gambar 2. 3 Skema Mesin Turbojet [10]... 8 Gambar 2. 4 Penggunaan Mesin OLYMPUS 593 pada pesawat Vulcan XA903 [10]... 9 Gambar 2. 5 Skema Mesin Turbofan [10] Gambar 2. 6 Mesin CFM56 pada pesawat Boeing [10] Gambar 2. 7 Skema Mesin Turboprop [10] Gambar 2. 8 Mesin Allison T56 pada Pesawat hercules C130 [10] Gambar 2.9 Benda kontinum pada koordinat kartesius Gambar Permodelan Suatu Benda menggunakan Metode Elemen Hingga Gambar Model Elemen 3 Dimensi Gambar Fenomena Konsentrasi Tegangan pada Pelat Datar yang Diberi Beban Aksial [14] Gambar Distribusi Tegangan pada Pelat Berlubang dan Pelat dengan edge notch yang Terkena Beban Aksial [4] Gambar Penentuan K pada kasus pembebanan aksial pada pelat datar dengan lubang di tengah (kiri) dan pelat datar yang memiliki fillet di tepi (kanan) [4] Gambar Distribusi Tegangan Geser pada Kasus Silinder yang memiliki 2 penampang berdiameter tidak sama [4] Gambar Penentuan K pada kasus pembebanan puntir pada silinder yang memiliki 2 penampang berdiameter tidak sama [4] Gambar Penentuan K pada kasus pembebanan momen lentur pada batang lentur dengan penampang yang berbeda [4] Bab ii Kajian Pustaka 5
2 Bab II Kajian Pustaka Pada bab ini akan diuraikan teori mesin gas turbin, teori mekanika elastis linier, teori metode elemen hingga, dan faktor konsentrasi tegangan. 2.1 Teori Mesin Turbin Gas Mesin Turbin Gas adalah mesin yang membangkitkan energi dari aliran udara yang dibakar untuk memutar turbin. Mesin ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu kompresor di bagian depan, turbin di bagian belakang, dan ruang bakar di antara keduanya. Poros kompresor dihubungkan dengan poros turbin melalui sebuah poros penghubung. Energi dilepaskan ketika udara mampat dicampur dengan bahan bakar kemudian dibakar di dalam ruang bakar. Gas hasil pembakaran tersebut dialirkan ke arah sudusudu turbin yang kemudian menjadi energi mekanik untuk memutar turbin. Putaran turbin ini menggerakkan kompresor di bagian depan untuk menghisap udara luar ke dalam mesin. Operasi dari ketiga komponen ini membentuk suatu siklus yang disebut siklus Brayton. Mesin turbin gas digunakan untuk membangkitkan energi di beberapa alat seperti: pesawat terbang, kapal, kereta api, dan pembangkit tenaga listrik Prinsip Kerja Turbin gas dapat dijelaskan secara termodinamika dengan siklus Brayton. Pada siklus ini, udara dikompresi secara isentropik, dibakar pada tekanan konstan, dan diekspansi melalui turbin secara isentropik kembali ke tekanan awal. Pada prakteknya, adanya friksi dan turbulensi aliran udara menyebabkan beberapa hal sebagai berikut: a) kompresi non-isentropik, menyebabkan daya yang dibutuhkan untuk proses menaikkan tekanan lebih besar b) pressure loss pada ruang bakar, menyebabkan tekanan udara yang masuk ke dalam turbin lebih rendah dari keadaan ideal Bab ii Kajian Pustaka 6
3 c) ekspansi non-isentropik, menyebabkan energi yang diserap turbin lebih rendah untuk perubahan tekanan yang sama. Secara keseluruhan kondisi non-isentropik ini menyebabkan daya keluaran mesin lebih rendah daripada kondisi ideal Gambar 2. 1 Siklus Brayton Ideal [10] Mesin Turbin Gas pada Sistem Propulsi Pesawat Udara Mesin turbin gas digunakan untuk membangkitkan gaya dorong pada pesawat udara. Mekanisme pembangkitkan gaya dorong dapat dijelaskan melalui gambar 2.2 di bawah ini C a Gambar 2. 2 Mesin Propulsi Pesawat Udara [12] C j Sebagaimana dapat dilihat pada skema mesin propulsi pesawat udara pada gambar 2.2, udara memasuki bagian intake mesin dengan kecepatan C a dengan arah berlawanan terhadap kecepatan pesawat udara, dan power unit mengakselerasi aliran udara tersebut hingga keluar mesin dengan kecepatan jet C j. Power Unit merupakan satu kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen penyusun mesin turbin gas seperti kompresor, ruang bakar dan turbin. Untuk menyederhanakan perhitungan, massa aliran udara m diasumsikan konstan dan massa aliran bahan bakar diabaikan. Besarnya gaya dorong F yang dihasilkan adalah F = mc & ( C) (2.1) m& C j disebut gross momentum thrust sedangkan m& Ca disebut intake momentum drag. j a Bab ii Kajian Pustaka 7
4 Gas pembuangan mesin tidak diekspansi sepenuhnya sehingga tekanan udara gas buang ini p j lebih tinggi daripada tekanan udara atmosfer p a. Akibatnya terjadi perbedaan tekanan antara bagian depan (intake) mesin dengan bagian belakangnya. Perbedaan tekanan ini akan menjadi tambahan gaya dorong bila dikalikan dengan area exit dari mesin. Besarnya gaya dorong total mesin merupakan penjumlahan dari gaya dorong akibat perubahan momentum dengan gaya dorong akibat perbedaan tekanan. F = mc & ( C) + A( p p) (2.2) j a j j a Efisiensi propulsi η p dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara energi propulsi yang digunakan atau daya dorong (FC a ) dengan jumlah daya dorong tersebut ditambah energi kineik yang tidak terpakai oleh jet, m& (Cj-C a ) 2 /2. mc & ( C C ) 2 η p = = (2.3) m& C C C C C C C a j a 2 [ a( j a) + ( j a) /2] 1 + ( j / a) Dari persamaan (2.1)dan (2.2) dapat dilihat bahwa: a) F akan maksimum jika C a =0, tetapi nilai η p akan menjadi nol b) η p akan maksimum jika C j /C a = 1, tetapi nilai F akan menjadi nol Dari dua hal di atas dapat disimpulkan bahwa meskipun harga C j harus lebih besar daripada C a, nilai perbedaan diantara keduanya seharusnya tidak terlalu besar Jenis-Jenis Mesin Turbin Gas pada Pesawat Udara Terdapat tiga jenis mesin turbin gas yang biasa digunakan pada pesawat udara, yaitu: a. Mesin Turbojet Mesin turbojet adalah mesin turbin gas yang pertama kali digunakan pada pesawat udara. Konfigurasi mesin ini terdiri dari kompresor, ruang bakar, turbin serta dilengkapi dengan difuser di depan kompresor dan nozzle di belakang turbin. Konfigurasi ini lebih sederhana dibandingkan dengan jenis mesin turbin gas yang lain. Konfigurasi mesin turbojet dapat dilihat pada gambar 2.3 di bawah ini. Gambar 2. 3 Skema Mesin Turbojet [10] Bab ii Kajian Pustaka 8
5 Mesin turbojet dipakai sebagai sistem propulsi pada pesawat-pesawat berkecepatan sangat tinggi karena mesin ini memiliki luas permukaan depan yang relatif kecil dan kecepatan semburan gas (jet) yang sangat tinggi. Sebagian besar energi dari mesin ini digunakan untuk menghasilkan semburan gas berkecepatan tinggi yang membangkitkan gaya dorong. Permasalahan yang muncul pada penggunaan mesin ini adalah kebisingan. Tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin turbojet dapat mencapai 125dB pada saat pesawat take off (skala 0-140dB), atau 15 db dibawah ambang sakit pendengaran manusia. Oleh karena itu, mesin turbojet digunakan pada pesawat tempur pasca perang dunia kedua dan jarang digunakan pada pesawat transport komersial berkecepatan tinggi. Contoh mesin-mesin turbojet antara lain: J33 dan J55 produksi Allison, J85 dan J79 produksi General Electric, OLYMPUS 593 produksi Roll Royce dan SNECMA, J58 produksi Pratt & Whitney. Penggunaan Mesin turbojet dapat dilihat pada gambar 2.4 di bawah ini. Gambar 2. 4 Penggunaan Mesin OLYMPUS 593 pada pesawat Vulcan XA903 [10] b. Mesin Turbofan Mesin turbofan adalah mesin turbojet yang dilengkapi dengan kipas (fan) yang diputar oleh turbin melalui suatu poros. Fan pada mesin ini berfungsi sebagai low pressure compressor yang menghisap aliran udara luar. Setelah melewati fan, aliran udara yang masuk akan dibagi menjadi dua, yaitu aliran udara panas dan aliran udara dingin. Aliran udara panas berfungsi sebagai fluida kerja yang akan dialirkan menuju kompressor, ruang bakar, turbin, dan disemburkan keluar mesin melalui nozzle. Aliran udara dingin dilewatkan melalui saluran di luar kompresor, ruang bakar dan turbin untuk mendinginkan mesin dan membangkitkan gaya dorong. Bab ii Kajian Pustaka 9
6 Perbandingan massa aliran udara dingin ( m& cold ( )pada mesin turbofan dinyatakan dalam By Pass Ratio (B). m& hot ) dengan massa aliran udara panas m B = & m& Skema mesin turbofan dapat dilihat pada gambar 2.5 di bawah ini cold hot (2.4) Gambar 2. 5 Skema Mesin Turbofan [10] Penggunaan fan menurunkan efisiensi kerja jet sebagai pembangkit gaya dorong. Namun hal ini berdampak pada penurunan tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh semburan jet. Oleh karena itu mesin ini menjadi pilihan utama pesawat komersial berkecepatan high subsonic yang sangat memperhatikan kenyamanan penumpang. Contoh mesin turbofan adalah CFM56 buatan General Electric, JT9D buatan Pratt&Whitney, Trent series buatan Roll Royce. Penggunaan mesin turbofan pada pesawat udara dapat dilihat pada gambar 2.6 di bawah ini. Gambar 2. 6 Mesin CFM56 pada pesawat Boeing [10] c. Mesin Turboprop Mesin turboprop adalah mesin turbin gas yang gaya dorongnya dihasilkan oleh putaran propeller. Sebagian energi yang dihasilkan oleh turbin ditransfer dalam Bab ii Kajian Pustaka 10
7 bentuk energi mekanik untuk memutar poros yang dihubungkan pada suatu roda gigi, untuk memutar poros propleller tersebut. Skema mesin turbofan dapat dilihat pada gambar 2.7 di bawah ini Gambar 2. 7 Skema Mesin Turboprop [10] Mesin turboprop banyak digunakan oleh pesawat transport jarak pendek seperti N250, CN235, C130 Hercules seperti gambar 2.8 di bawah ini. Gambar 2. 8 Mesin Allison T56 pada Pesawat hercules C130 [10] 2.2 Mekanika Elastis Linier Elastisitas Linier Elastisitas adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari sifat dari benda elastis. Suatu benda dikatakan elastis apabila benda tersebut mengalami deformasi ketika mendapatkan tegangan, dan benda akan kembali ke bentuk semula apabila tegangan tersebut dihilangkan. Besarnya deformasi akibat tegangan disebut regangan. Elastisitas linier memodelkan sifat mekanik dari suatu benda solid dengan menggunakan asumsi deformasi kecil. Nilai deformasi yang terjadi dianggap berbanding linier terhadap besarnya tegangan yang terjadi pada benda. Hubungan antara Bab ii Kajian Pustaka 11
8 tegangan dengan regangan pada kasus elastis linier dapat dirumuskan dengan menggunakan hukum Hooke di bawah ini: σ = Eε (2.5) Dimana σ adalah tegangan yang dialami benda, ε adalah regangan, dan E adalah modulus Elastisitas Elastisitas 3-Dimensi Elastisitas 3 Dimensi merupakan salah satu metode yang digunakan dalam menganalisis struktur yang memiliki perilaku elastis linier. Terdapat 15 persamaan diferensial yang harus dipecahkan untuk mendapatkan nilai tegangan pada setiap titik dalam suatu struktur sembarang. Kelima belas persamaan tersebut dikategorikan dalam 3 kelompok yaitu persamaan kesetimbangan, kompatibilitas, dan teganga- regangan. a. Persamaan Kesetimbangan Persamaan kesetimbangan diturunkan dari prinsip konservasi momentum linier yang diaplikasikan pada suatu benda kontinum. Persamaan tersebut direpresentasikan dalam koordinat kartesius seperti dapat dilihat pada gambar 2.9 di bawah ini: σ z σ z + dz dxdy z dx σ x dydz dz σ y dxdz σ y σ y + dy dxdz y x z σ x σ x + dx dydz x y σ z dxdy dy F x = 0 F = y 0 Fz = 0 Gambar 2.9 Benda kontinum pada koordinat kartesius Bab ii Kajian Pustaka 12
9 σ τ x yx τzx Fx x y z = 0 τxy σ y τzy Fy x y z = 0 τ τ xz yz σ z Fz x y z = 0 (2.6) σ i adalah tegangan normal dalam arah-i, τ ij adalah tegangan geser yang terjadi pada permukaan i yang memiliki arah-j, dan F i merupakan body force pada arah-i. b. Persamaan Kompatibilitas Persamaan kompatibilitas dapat dijelaskan pada persamaan 2.7 sebagai berikut: u ε x = x v ε y = y w ε z = z u v γ xy = + y x v w γ yz = + z y (2.7) γ zx w u = + x z ε i adalah regangan normal pada arah i, γ ij adalah regangan geser pada bidang ij. Sedangkan u,v,dan w adalah besarnya deformasi pada arah x, y, dan z. c. Persamaan regangan-perpindahan Persamaan ini merupakan hubungan antara perubahan deformasi pada arah i terhadap arah j. Persamaan ini dapat dijabarkan sebagai berikut: 1 ε x = [ σx υ ( σ y + σz)] E 1 ε y = [ σ y υ ( σx + σz)] E 1 ε z = [ σz υ ( σx + σ y)] E Bab ii Kajian Pustaka 13
10 γ γ γ xy yz xz τ = G τ yz = G τ xz = G xy (2.8) Dimana E adalah modulus elastisitas, G adalah modulus geser, dan υ adalah Poisson Ratio. Kelima belas persamaan di atas dapat diselesaikan secara simultan untuk menganalisis struktur solid 3 dimensi. [10] 2.3 Metode Elemen Hingga Pendahuluan Metode elemen hingga adalah metode numerik yang digunakan untuk memprediksi respon-respon sistem teknik yang mengalami kasus-kasus tertentu. Pada awal perkembangannya, metode elemen hingga dirancang untuk mendapatkan respon tegangan pada struktur, tetapi saat ini metode elemen hingga telah dikembangkan untuk berbagai respon teknik lainnya seperti medan tekanan, kecepatan aliran, distribusi temperatur, atau perpindahan panas. Pada dasarnya metoda elemen hingga mencari solusi dari perpindahan, kecepatan dan temperatur. Metoda elemen hingga menggunakan pendekatan secara numerik untuk memperoleh suatu solusi dari bentuk geometri yang sederhana sampai yang rumit. Akurasi yang didapatkan tergantung kepada model yang dibuat. Metoda elemen hingga memecahkan masalah struktur yang memiliki geometri yang rumit dengan pendekatan diskrit, yaitu membagi-bagi geometri model menjadi elemenelemen sederhana seperti tampak pada gambar 2.10 di bawah ini. Gambar Permodelan Suatu Benda menggunakan Metode Elemen Hingga Bab ii Kajian Pustaka 14
11 Tiap ujung dari elemen tersebut memiliki nodal yang terhubung satu sama lain dengan nodal dari elemen-elemen lainnya. Setiap nodal memiliki suatu parameter yang memiliki nilai tertentu seperti perpindahan untuk kasus struktur, tekanan untuk kasus fluida, atau temperatur untuk kasus perpindahan panas. Dari nilai kuantitas tersebut dapat diturunkan persamaan-pesamaan yang diikuti dengan perhitungan numerik untuk mendapatkan solusi yang ingin dicari. Metode ini sangat bermanfaat dan membantu mempercepat proses perhitungann pada kasus-kasus yang menggunakan banyak pesamaan. Beberapa perusahaan di dunia telah mengembangakan perangkat lunak untuk menyelesaikan kasus-kasus dengan menggunakan metode elemen hingga. Beberapa perangkat lunak yang sering digunakan untuk membantu pemecahan masalah metode elemen hingga antara lain MSC PATRAN, MSC NASTRAN, ABAQUS, ANSYS, Elfini Solver, dsb Analisis Elemen Hingga Seperti pada konsep yang telah dijelaskan pada bagian 2.3.1, bahwa pemecahan solusi metoda elemen hingga, yaitu dengan menggunakan elemen-elemen untuk memodelkan struktur keseluruhan. Persamaan umum yang digunakan untuk menggambarkan kuantitas nodal-nodal elemen tersebut adalah: { f } = [ k]{ d} (2.9) Dengan {f} adalah gaya-gaya yang bekerja pada nodal-nodal, {d} adalah perpindahan pada nodal dan [k] adalah matriks kekauan elemen [k]. Terdapat tiga metoda yang digunakan untuk menurunkan persamaan elemen, yaitu: a. Metoda Persamaan Langsung atau Direct Equilibrium Method Pada metoda ini, matriks kekakuan elemen dan persamaan elemen didapatkan dengan menurunkan persamaan kesetimbangan pada setiap nodal untuk mendapatkan hubungan gaya dan perpindahan nodal. Metoda ini mudah digunakan pada model-model yang sederhana, dengan jumlah elemen yang sedikit. Akan sangat sulit menggunakan metoda ini pada geometri yang cukup rumit, dengan jumlah nodal yang sangat banyak. Oleh sebab itu metoda ini tidak digunakan untuk jumlah elemen yang banyak. b. Metoda Weighted Residual Metoda ini digunakan apabila variasi perumusan atau fungsi tidak didefinisikan secara jelas. Metoda Galerkin merupakan metoda yang menggunakan metoda ini. Bab ii Kajian Pustaka 15
12 c. Metoda Energi Metoda energi merupakan metoda yang cukup banyak digunakan. Terdapat tiga jenis metoda energi dalam analisis elemen hingga, yaitu: - Virtual Work - Prinsip variasi - Teorema Castigliano Dari tiga metoda energi di atas, yang paling sering digunakan adalah prinsip variasi, yaitu prinsip dari Energi Potensial Minimal (EPM).[3] Energi Potensial Minimal Pendekatan energi potensial minimal merupakan metoda yang lebih mudah untuk diadaptasi pada konfigurasi-konfigurasi yang cukup rumit, seperti elemen plane strain/stress, elemen axisymetric, elemen plate bending, elemen shell, dan elemen solid. Energi potensial minimal menggunakan fungsi variasi, yaitu fungsi dari fungsi lain. f(x,y) merupakan fungsi dari dua variabel x dan y, dan π merupakan fungsi dari f. π = π ( x, y) (2.10) Pada permasalahan struktur, total energi potensial pada struktur tersebut adalah π p yang dapat dituliskan sebagai fungsi dari variable perpindahan π p =π(d 1,d 2,d 3,,d n ). Subskrip n menunjukkan derajat kebebasan benda. Total energi potensial dapat didefinisikan seperti pada pesamaan 2.11 di bawah ini π p = energi strain + energi potensial π p = U + W (2.11) Dimana U adalah energi potrensial karena gaya dalam yang menyebabkan timbulnya strain, sementara W adalah energi potensial karena gaya luar yang menyebabkan timbulnya deformasi pada benda. Persamaan kesetimbangan akan terpenuhi jika nilai energi potensial adalah konstan. Persamaan tersebut akan stabil jika nilai statis adalah minimal, dimana perubahan energi potensial total terhadap perubahan perpindahan adalah nol. Bab ii Kajian Pustaka 16
13 dπ p w T = 0 dx f z dv z dv u f x dv f y dv v V P i S y x u=0 Gambar Model Elemen 3 Dimensi Dari gambar 2.11 dapat diturunkkan energi strain total dan energi potensial karena gaya luar sebagai berikut; Dari persamaan di atas maka nilai π p adalah 1 T U = σ εdv 2 v (2.12) = T T W u fdv u TdS u T i Pi V S i 1 T T T T π p = σ εdv u fdv u TdS uip 2 (2.13) i V V S i dimana u = [ u, v, w ] T ; deformasi titik x u i = [ u, v, w ] T i ; deformasi pada nodal i f = [f x,f y, f z ] T, gaya terdistribusi tiap satuan volume T = [T x, T y, T z ] T, gaya tiap satuan luas P i = [P x, P y, P z ] T, gaya pada nodal i σ = [σ x, σ y, σ z, τ yz, τ xz, τ x y ] ε = [ε x, ε y, ε z, γ yz, γ xz, γ x y ] Bab ii Kajian Pustaka 17
14 2.4 Faktor Konsentrasi Tegangan Pendahuluan Konsentrasi tegangan adalah fenomena peningkatan nilai tegangan pada lokasi tertentu dari suatu benda. Suatu benda yang memiliki geometri merata memiliki kecenderungan untuk dapat mendistribusikan gaya ke seluruh area benda tersebut. Apabila geometri benda tersebut mengalami perubahan secara mendadak, maka nilai tegangan di sekitar penambahan atau pengurangan geometri tersebut akan mengalami peningkatan. Jadi penyebab konsentrasi tegangan adalah adanya diskontinuitas geometri pada suatu benda yang mengalami tegangan. Diskontinuitas geometri yang seringkali ada pada suatu benda misalnya sudut-sudut tajam, keretakan, lubang, dan lain sebagainya. Gambar Fenomena Konsentrasi Tegangan pada Pelat Datar yang Diberi Beban Aksial [14] Parameter yang digunakan dalam mengukur suatu konsentrasi tegangan adalah Faktor Konsentrasi Tegangan (K t ). Faktor konsentrasi tegangan adalah perbandingan antara nilai tegangan maksimum (σ max ) yang terjadi pada benda yang mengalami konsentrasi tegangan dengan nilai tegangan rata-rata benda (σ nom ). K σ max t = (2.14) σ nom Konsentrasi Tegangan Akibat Beban Aksial Secara umum nilai tegangan yang terjadi pada suatu benda berpenampang seragam yang mengalami beban aksial dapat dirumuskan dengan persamaan di bawah ini: F σ = (2.15) A Dimana σ adalah tegangan normal, F adalah gaya aksial, dan A adalah luas penampang benda. Distribusi tegangan yang terjadi bersifat seragam. Bab ii Kajian Pustaka 18
15 Namun pada kasus benda berlubang, distribusi tegangan yang terjadi tidak uniform. Distribusi tegangan akan mengalami perubahan dimana nilai tegangan di daerah tepi lubang mengalami peningkatan. Nilai tegangan maksimum terjadi pada tepi lubang. Gambar Distribusi Tegangan pada Pelat Berlubang dan Pelat dengan edge notch yang Terkena Beban Aksial [4] Distribusi tegangan yang terjadi dapat dihitung secara analitis dengan menggunakan teori elastisitas linear ataupun secara numerik dengan menggunakan metode elemen hingga. Namun hal yang terpenting adalah mengetahui nilai tegangan maksimum (σ max ) yang terjadi pada tepi lubang. Karena apabila peningkatan yang terjadi menyebabkan nilai tegangan melampui kekuatan material, maka benda akan mengalami kegagalan. Faktor konsentrasi tegangan yang terjadi pada kasus pembebanan aksial dirumuskan seperti pada persamaan K σ max t = (2.16) σ nom Dimana σ max adalah tegangan normal maksimal yang terjadi dan σ nom adalah tegangan rata-rata pada penampang benda. Untuk kasus mekanika elastis linear, faktor konsentrasi tegangan merupakan fungsi dari geometri benda yang dibebani. Gambar 2.14 menunjukkan harga faktor konsentrasi tegangan pada pelat berlubang dan pelat yang memiliki radius fillet. Bab ii Kajian Pustaka 19
16 Gambar Penentuan K pada kasus pembebanan aksial pada pelat datar dengan lubang di tengah (kiri) dan pelat datar yang memiliki fillet di tepi (kanan) [4] Konsentrasi Tegangan Akibat Beban Puntir Tegangan geser yang terjadi di suatu titik pada silinder yang mengalami beban puntir dapat dirumuskan sebagai berikut T ρ τ = (2.17) I p Dimana τ adalah tegangan geser yang terjadi, T adalah besarnya torsi puntiran yang diberikan, ρ adalah jarak titik terhadap sumbu puntir, dan I p adalah inersia puntir dari silinder. Distribusi tegangan yang terjadi adalah fungsi linier terhadap jarak titik dari sumbu putaran. Apabila terjadi perubahan diameter penampang silinder, maka distribusi tegangan geser yang dialami silinder akan mengalami perubahan. Pada daerah di sekitar perubahan diameter, distribusi tegangan geser yang terjadi tidak linier. Fenomena ini dapat dijelaskan pada gambar 2.15 berikut ini. Gambar Distribusi Tegangan Geser pada Kasus Silinder yang memiliki 2 penampang berdiameter tidak sama [4] Nilai tegangan geser maksimum (τ max ) terjadi pada daerah ujung peralihan penampang silinder yang berdiameter terkecil. Nilai faktor konsentrasi tegangan merupakan fungsi Bab ii Kajian Pustaka 20
17 pangkat tiga dari diameter penampang silinder terkecil (d). Untuk kasus-kasus mekanika elastis linier, nilai faktor konsentrasi tegangan dapat ditentukan melalui referensi yang terdapat pada gambar 2.16 di bawah ini. Gambar Penentuan K pada kasus pembebanan puntir pada silinder yang memiliki 2 penampang berdiameter tidak sama [4] Konsentrasi Tegangan Akibat Beban Momen Lentur Tegangan aksial yang terjadi akibat beban momen lentur di suatu titik pada batang berpenampang seragam dapat dirumuskan dengan persamaan 2.18 berikut ini My σ = (2.18) I Dimana s adalah tegangan aksial, M adalah besarnya momen lentur, y adalah jarak vertikal suatu titik dari sumbu netral, dan I adalah inersia penampang batang. Faktor konsentrasi tegangan pada kasus batang lentur didefinisikan dalam persamaan berikut ini K K σ max =, σ nom = σ nom 2 td = σ max 6M 6M 2 td (2.19) Dimana σ nom adalah tegangan maksimum nominal pada penampang yang mengalami pengurangan geometri berdasarkan perhitungan dengan menggunakan persamaan Penentuan nilai faktor konsentrasi tegangan pada dua buah kasus batang lentur yang memiliki diskontinuitas geometri dapat dilihat pada gambar 2.17 berikut ini. Bab ii Kajian Pustaka 21
18 Gambar Penentuan K pada kasus pembebanan momen lentur pada batang lentur dengan penampang yang berbeda [4] Bab ii Kajian Pustaka 22
Analisis Numerik Bilah Kipas Mesin Turbofan TAY Menggunakan Metode Elemen Hingga
Analisis Numerik Bilah Kipas Mesin Turbofan TAY650-15 Menggunakan Metode Elemen Hingga Tugas Akhir Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Sarjana Oleh: Puji Setyo Nugroho 13603017 Pembimbing:
Bab I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang
Bab I Pendahuluan... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan Penelitian... 4 1.3 Pembatasan Masalah... 4 1.4 Metoda Penelitian... 4 1.5 Sistematika Penulisan... 5 Gambar 1. 1 Mesin Turbofan TAY650-15 [10]...
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hai teman-teman penerbangan, pada halaman ini saya akan berbagi pengetahuan mengenai engine atau mesin yang digunakan pada pesawat terbang, yaitu CFM56 5A. Kita
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. struktur atas dan struktur bawah dan berfungsi untuk menyalurkan beban dari kolom
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konstruksi Baseplate ( Pelat Dasar ) Pelat dasar merupakan pelat baja yang berperan sebagai penghubung antara struktur atas dan struktur bawah dan berfungsi untuk menyalurkan
Bab IV Analisis. 4.1 Uji Konvergensi
Bab IV Analisis... 37 4.1 Uji Konvergensi... 37 4.1.1 Pendahuluan... 37 4.1.2 Uji Konvergensi pada model tanpa cacat... 37 4.1.3 Uji Konvergensi pada model cacat... 39 4.2 Analisis Tegangan Bilah Kipas...
BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]
BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Elemen Hingga Analisa kekuatan sebuah struktur telah menjadi bagian penting dalam alur kerja pengembangan desain dan produk. Pada awalnya analisa kekuatan dilakukan dengan
BAB I PENDAHULUAN. alas pada kapal, body pada mobil, atau kendaraan semacamnya, merupakan contoh dari beberapa struktur pelat. Pelat-pelat tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur pelat sering dijumpai sebagai dinding penyelubung rangka. Selubung atau cangkang dari pesawat terbang, dinding dan alas pada kapal, body pada mobil, atau kendaraan
ANALISIS FAKTOR KONSENTRASI TEGANGAN PELAT BERLUBANG PADA KONDISI BEBAN TARIK DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
TUGAS AKHIR ANALISIS FAKTOR KONSENTRASI TEGANGAN PELAT BERLUBANG PADA KONDISI BEBAN TARIK DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Bab III Model Numerik Bilah Kipas 22
Bab III Model Numerik Bilah Kipas... 23 3.1 Deskripsi Umum... 23 3.2 Konfigurasi Bilah Kipas... 24 3.2.1 Dimensi Komponen... 24 3.2.2 Konfigurasi Pemasangan Bilah Kipas... 24 3.2.3 Material Bilah Turbin...
BAB II DASAR TEORI Pendahuluan. 2.2 Turbin [6,7,]
BAB II DASAR TEORI 2.1. Pendahuluan Bab ini membahas tentang teori yang digunakan sebagai dasar simulasi serta analisis. Bagian pertama dimulasi dengan teori tentang turbin uap aksial tipe impuls dan reaksi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Konsep Elemen Hingga BAB II TINJAUAN PUSTAKA Struktur dalam istilah teknik sipil adalah rangkaian elemen-elemen yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Elemen adalah susunan materi yang mempunyai
Bab II Ruang Bakar. Bab II Ruang Bakar
Bab II Ruang Bakar Sebelum berangkat menuju pelaksanaan eksperimen dalam laboratorium, perlu dilakukan sejumlah persiapan pra-eksperimen yang secara langsung maupun tidak langsung dapat dijadikan pedoman
ANALISIS PERFORMA ENGINE TURBOFAN PESAWAT BOEING
ANALISIS PERFORMA ENGINE TURBOFAN PESAWAT BOEING 737-300 Sri Mulyani Jurusan Teknik PenerbanganSTT Adisutjipto Yogyakarta Jl. Janti Blok R- Lanud Adi-Yogyakarta [email protected] ABSTRAK Jenis mesin
ANALISA BALOK SILANG DENGAN GRID ELEMEN PADA STRUKTUR JEMBATAN BAJA
ANALISA BALOK SILANG DENGAN GRID ELEMEN PADA STRUKTUR JEMBATAN BAJA Tugas Akhir Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi Syarat untuk menempuh ujian sarjana Teknik Sipil Disusun oleh: SURYADI
Bab 5 Puntiran. Gambar 5.1. Contoh batang yang mengalami puntiran
Bab 5 Puntiran 5.1 Pendahuluan Pada bab ini akan dibahas mengenai kekuatan dan kekakuan batang lurus yang dibebani puntiran (torsi). Puntiran dapat terjadi secara murni atau bersamaan dengan beban aksial,
l l Bab 2 Sifat Bahan, Batang yang Menerima Beban Axial
Bab 2 Sifat Bahan, Batang yang Menerima Beban Axial 2.1. Umum Akibat beban luar, struktur akan memberikan respons yang dapat berupa reaksi perletakan tegangan dan regangan maupun terjadinya perubahan bentuk.
ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3
ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3 Afdhal Kurniawan Mainil (1) (1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Bengkulu ABSTRACT This study focused on the performance analysis of a turbofan engine
Respect, Professionalism, & Entrepreneurship. Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 205. Torsi. Pertemuan - 7
Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 05 SKS : 3 SKS Torsi Pertemuan - 7 TIU : Mahasiswa dapat menghitung besar tegangan dan regangan yang terjadi pada suatu penampang TIK : Mahasiswa dapat menghitung
DINAMIKA FLUIDA II. Makalah Mekanika Fluida KELOMPOK 8: YONATHAN SUROSO RISKY MAHADJURA SWIT SIMBOLON
Makalah Mekanika Fluida KELOMPOK 8: YONATHAN SUROSO 12300041 RISKY MAHADJURA 12304716 SWIT SIMBOLON 12300379 Jurusan Fisika Universitas Negeri Manado Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program
BAB II TEORI DASAR. unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan menjadi. efisien dalam operasionalnya.
BAB II TEORI DASAR 2.1 Hydraulic Excavator Secara Umum. 2.1.1 Definisi Hydraulic Excavator. Excavator adalah alat berat yang digunakan untuk operasi loading dan unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya,
ANALISIS UNTUK MENENTUKAN FAKTOR KONSENTRASI TEGANGAN DENGAN EKSPERIMENTAL DAN METODE ELEMEN HINGGA
No.33 Vol. Thn.XVII April 00 ISSN : 0854-847 ANALISIS UNTUK MENENTUKAN FAKTOR KONSENTRASI TEGANGAN DENGAN EKSPERIMENTAL DAN METODE ELEMEN HINGGA NUSYIRWAN Lab. Konstruksi Mesin Jurusan Teknik Mesin Universitas
BAB II Dasar Teori. Gambar 2. 1 Turbin Gas [12]
BAB II Dasar Teori 2.1 Turbin Gas Turbin gas adalah motor bakar yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: kompresor, ruang bakar, dan turbin (gambar 2.1). Sistem ini dapat berfungsi sebagai pembangkit
d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek
DAFTAR NOTASI A g = Luas bruto penampang (mm 2 ) A n = Luas bersih penampang (mm 2 ) A tp = Luas penampang tiang pancang (mm 2 ) A l =Luas total tulangan longitudinal yang menahan torsi (mm 2 ) A s = Luas
Gambar 2.1 Bagian-bagian mesin press BTPTP [9]
BAB II DASAR TEORI MESIN PRESS BTPTP, KARAKTERISTIK BTPTP DAN METODE ELEMEN HINGGA 2.1 Mesin press BTPTP Pada dasarnya prinsip kerja mesin press BTPTP sama dengan mesin press batako pada umumnya dipasaran
Hukum Hooke. Diktat Kuliah 4 Mekanika Bahan. Ir. Elisabeth Yuniarti, MT
Hukum Hooke Diktat Kuliah 4 Mekanika Bahan Ir. lisabeth Yuniarti, MT Hubungan Tegangan dan Regangan (Stress-Strain Relationship) Untuk merancang struktur yang dapat berfungsi dengan baik, maka kita memerlukan
PENGARUH BYPASS RATIO OVERALL PRESSURE RATIO, DAN TURBINE INLET TEMPERATURE TERHADAP SFC PADA GAS-TURBINE ENGINE
PENGARUH BYPASS RATIO OVERALL PRESSURE RATIO, DAN TURBINE INLET TEMPERATURE TERHADAP SFC PADA GAS-TURBINE ENGINE Muhamad Jalu Purnomo Jurusan Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Jalan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. karbon, baja paduan rendah mutu tinggi, dan baja paduan. Sifat-sifat mekanik dari
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA II.1. Material baja Baja yang akan digunakan dalam struktur dapat diklasifikasikan menjadi baja karbon, baja paduan rendah mutu tinggi, dan baja paduan. Sifat-sifat mekanik dari
Bab IV Analisis dan Pengujian
Bab IV Analisis dan Pengujian 4.1 Analisis Simulasi Aliran pada Profil Airfoil Simulasi aliran pada profil airfoil dimaskudkan untuk mencari nilai rasio lift/drag terhadap sudut pitch. Simulasi ini tidak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kompresor merupakan suatu komponen utama dalam sebuah instalasi turbin gas. Sistem utama sebuah instalasi turbin gas pembangkit tenaga listrik, terdiri dari empat komponen utama,
BAB II LANDASAN TEORI CORE WALL
BAB II LANDASAN TEORI CORE WALL.1. Karakterisitik Bentuk dan Letak Core Wall Struktur core wall yang bisa dijumpai dalam aplikasi konstruksi bangunan tinggi dewasa ini ada bermacam-macam. Antara lain adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
28 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Material Beton II.1.1 Definisi Material Beton Beton adalah suatu campuran antara semen, air, agregat halus seperti pasir dan agregat kasar seperti batu pecah dan kerikil.
LENDUTAN (Deflection)
ENDUTAN (Deflection). Pendahuluan Dalam perancangan atau analisis balok, tegangan yang terjadi dapat ditentukan dari sifat penampang dan beban-beban luar. Pada prinsipnya tegangan pada balok akibat beban
Udara. Bahan Bakar. Generator Kopel Kompresor Turbin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cara Kerja Instalasi Turbin Gas Instalasi turbin gas merupakan suatu kesatuan unit instalasi yang bekerja berkesinambungan dalam rangka membangkitkan tenaga listrik. Instalasi
PUNTIRAN. A. pengertian
PUNTIRAN A. pengertian Puntiran adalah suatu pembebanan yang penting. Sebagai contoh, kekuatan puntir menjadi permasalahan pada poros-poros, karena elemen deformasi plastik secara teori adalah slip (geseran)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Turbin gas adalah suatu unit turbin dengan menggunakan gas sebagai fluida kerjanya. Sebenarnya turbin gas merupakan komponen dari suatu sistem pembangkit. Sistem turbin gas paling
Tujuan Pembelajaran:
P.O.R.O.S Tujuan Pembelajaran: 1. Mahasiswa dapat memahami pengertian poros dan fungsinya 2. Mahasiswa dapat memahami macam-macam poros 3. Mahasiswa dapat memahami hal-hal penting dalam merancang poros
PROGRAM ANALISIS GRID PELAT LANTAI MENGGUNAKAN ELEMEN HINGGA DENGAN MATLAB VERSUS SAP2000
PROGRAM ANALISIS GRID PELAT LANTAI MENGGUNAKAN ELEMEN HINGGA DENGAN MATLAB VERSUS SAP2000 Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan melengkapi syarat untuk menempuh Ujian Sarjana Teknik Sipil (Studi Literatur)
BAB IV TEGANGAN, REGANGAN, DAN DEFLEKSI
BAB IV TEGANGAN, REGANGAN, DAN DEFLEKSI 4.1. Tegangan Salah satu masalah fundamental dalam mechanical engineering adalah menentukan pengaruh beban pada komponen mesin atau peralatan. Hal ini sangat essensial
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA II.1 Umum dan Latar Belakang Kolom merupakan batang tekan tegak yang bekerja untuk menahan balok-balok loteng, rangka atap, lintasan crane dalam bangunan pabrik dan sebagainya yang
BAB III LANDASAN TEORI. Menurut McComac dan Nelson dalam bukunya yang berjudul Structural
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Kolom Pendek Menurut McComac dan Nelson dalam bukunya yang berjudul Structural Steel Design LRFD Method yang berdasarkan dari AISC Manual, persamaan kekuatan kolom pendek didasarkan
BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dan pembangunan sarana prasarana fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal tersebut menjadi mungkin
BAB II METODE ELEMEN HINGGA PADA STRUKTUR. 2.1 Jenis - Jenis Struktur pada Bangunan Teknik Sipil
BAB II METODE ELEMEN HINGGA PADA STRUKTUR 2.1 Jenis - Jenis Struktur pada Bangunan Teknik Sipil Struktur 1D (satu dimensi) adalah suatu idealisasi dari bentuk struktur yang sebenarnya dimana struktur dianggap
PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER
TUGAS SARJANA MESIN FLUIDA PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER OLEH NAMA : ERWIN JUNAISIR NIM : 020401047 DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Aku berbakti pada Bangsaku,,,,karena Negaraku berjasa padaku. Pengertian Turbocharger
Pengertian Turbocharger Turbocharger merupakan sebuah peralatan, untuk menambah jumlah udara yang masuk kedalam slinder dengan memanfaatkan energi gas buang. Turbocharger merupakan perlatan untuk mengubah
BAB III PEMODELAN SISTEM POROS-ROTOR
BAB III PEMODELAN SISTEM POROS-ROTOR 3.1 Pendahuluan Pemodelan sistem poros-rotor telah dikembangkan oleh beberapa peneliti. Adam [2] telah menggunakan formulasi Jeffcot rotor dalam pemodelan sistem poros-rotor,
BAB I PENDAHULUAN. analisa elastis dan plastis. Pada analisa elastis, diasumsikan bahwa ketika struktur
BAB I PENDAHUUAN 1.1. atar Belakang Masalah Dalam perencanaan struktur dapat dilakukan dengan dua cara yaitu analisa elastis dan plastis. Pada analisa elastis, diasumsikan bahwa ketika struktur dibebani
PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA
TUGAS AKHIR PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA Disusun : JOKO BROTO WALUYO NIM : D.200.92.0069 NIRM : 04.6.106.03030.50130 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
ANALISA KEKUATAN CRANKSHAFT DUA-SILINDER KAPASITAS 650 CC DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SIDANG TUGAS AKHIR: ANALISA KEKUATAN CRANKSHAFT DUA-SILINDER KAPASITAS 650 CC DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Termodinamika 2.1.1 Siklus Termodinamika Siklus termodinamika adalah serangkaian proses termodinamika mentransfer panas dan kerja dalam berbagai keadaan tekanan, temperatur,
Pengantar Oseanografi V
Pengantar Oseanografi V Hidro : cairan Dinamik : gerakan Hidrodinamika : studi tentang mekanika fluida yang secara teoritis berdasarkan konsep massa elemen fluida or ilmu yg berhubungan dengan gerak liquid
Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).
Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Pertemuan ke Capaian Pembelajaran Topik (pokok, subpokok bahasan, alokasi waktu) Teks Presentasi Media Ajar Gambar Audio/Video Soal-tugas Web Metode Evaluasi
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Dasar Rotating Disk
BAB II DASAR TEORI.1 Konsep Dasar Rotating Disk Rotating disk adalah istilah lain dari piringan bertingkat yang mempunyai kemampuan untuk berputar. Namun dalam aplikasinya, penggunaan elemen ini dapat
.1. Kekuatan Bahan BAB ANALISIS TEGANGAN DAN REGANGAN Suatu sistem struktur yang menanggung beban luar (external forces) akan menyebabkan timbulnya gaya dalam (internal forces) pada elemen-elemen penyusun
BAB I PENDAHULUAN. yang demikian kompleks, metode eksak akan sulit digunakan. Kompleksitas
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Pada saat ini, pesatnya perkembangan teknologi telah memunculkan berbagai jenis struktur pelat yang cukup rumit misalnya pada struktur jembatan, pesawat terbang, bangunan,
PRINSIP KERJA GAS TURBIN ENGINE TURBOFAN
PRINSIP KERJA GAS TURBIN ENGINE TURBOFAN DISUSUN OLEH : NAMA : IRWANSYAH NIM : 16050032 KELAS : TP A SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI ADISUCIPTO TEKNIK PENERBANGAN 2017 A. PENGERTIAN MESIN TURBO FAN Mesin turbofan
SifatPenampangMaterial (Section Properties)
SifatPenampangMaterial (Section Properties) Mekanika Kekuatan Material STTM, 2013 TitikPusatMassa Q x : first moment of area darielemena terhadap sumbu x LuasA darisebuahelemen pada bidang xy Q y : first
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 1.1 Turbin Air Turbin air adalah turbin dengan media kerja air. Secara umum, turbin adalah alat mekanik yang terdiri dari poros dan sudu-sudu. Sudu tetap atau stationary blade, tidak
ANALISIS CANTILEVER BEAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOLUSI NUMERIK TUGAS KULIAH
ANALISIS CANTILEVER BEAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOLUSI NUMERIK TUGAS KULIAH Disusun sebagai salah satu syarat untuk lulus kuliah MS 4011 Metode Elemen Hingga Oleh Wisnu Ikbar Wiranto 13111074 Ridho
DEFORMASI BALOK SEDERHANA
TKS 4008 Analisis Struktur I TM. IX : DEFORMASI BALOK SEDERHANA Dr.Eng. Achfas Zacoeb, ST., MT. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Pendahuluan Pada prinsipnya tegangan pada balok
ANALISA STRUKTUR PELAT DUA ARAH TANPA BALOK (FLAT SLAB)
ANALISA STRUKTUR PELAT DUA ARAH TANPA BALOK (FLAT SLAB) Tugas Akhir Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi Syarat untuk menempuh ujian sarjana Teknik Sipil Disusun oleh: JAKA PRAMANA KABAN
BAB III METODE KAJIAN
24 BAB III METODE KAJIAN 3.1 Persiapan Memasuki tahap persiapan ini disusun hal-hal penting yang harus dilakukan dalam rangka penulisan tugas akhir ini. Adapun tahap persiapan ini meliputi hal-hal sebagai
Bab 3 (3.1) Universitas Gadjah Mada
Bab 3 Sifat Penampang Datar 3.1. Umum Didalam mekanika bahan, diperlukan operasi-operasi yang melihatkan sifatsifat geometrik penampang batang yang berupa permukaan datar. Sebagai contoh, untuk mengetahui
BAB V Pengujian dan Analisis Mesin Turbojet Olympus
BAB V Pengujian dan Analisis Mesin Turbojet Olympus Pada bab ini akan dibahas mengenai pengujian serta analisis hasil pengujian yang dilakukan. Validasi dilakukan dengan membandingkan hasil pengujian terhadap
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Angin Angin adalah gerakan udara yang terjadi di atas permukaan bumi. Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara, ketinggian dan temperatur. Semakin besar
Bab 6 Defleksi Elastik Balok
Bab 6 Defleksi Elastik Balok 6.1. Pendahuluan Dalam perancangan atau analisis balok, tegangan yang terjadi dapat diteritukan dan sifat penampang dan beban-beban luar. Untuk mendapatkan sifat-sifat penampang
Pertemuan IV II. Torsi
Pertemuan V. orsi.1 Definisi orsi orsi mengandung arti untir yang terjadi ada batang lurus aabila dibebani momen (torsi) yang cendrung menghasilkan rotasi terhada sumbu longitudinal batang, contoh memutar
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Pembangkit Listrik Tenaga Gas
BAB II DASAR TEORI. rinsip embangkit Listrik Tenaga Gas embangkit listrik tenaga gas adalah pembangkit yang memanfaatkan gas (campuran udara dan bahan bakar) hasil dari pembakaran bahan bakar minyak (BBM)
I.1 Latar Belakang I-1
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Berbagai jenis struktur, seperti terowongan, struktur atap stadion, struktur lepas pantai, maupun jembatan banyak dibentuk dengan menggunakan struktur shell silindris.
Tegangan Dalam Balok
Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 05 SKS : SKS Tegangan Dalam Balok Pertemuan 9, 0, TIU : Mahasiswa dapat menghitung tegangan yang timbul pada elemen balok akibat momen lentur, gaya normal, gaya
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin spin coating adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan ke poros hollow melalui pulley dan v-belt untuk mendapatkan
BAB II DASAR-DASAR DESAIN BETON BERTULANG. Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan
BAB II DASAR-DASAR DESAIN BETON BERTULANG. Umum Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan membuat suatu campuran yang mempunyai proporsi tertentudari semen, pasir, dan koral
Terjemahan ZAT PADAT. Kristal padat
Terjemahan ZAT PADAT Zat padat adalah sebuah objek yang cenderung mempertahankan bentuknya ketika gaya luar mempengaruhinya. Karena kepadatannya itu, bahan padat digunakan dalam bangunan yang semua strukturnya
Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN
Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN Sifat mekanika bahan Hubungan antara respons atau deformasi bahan terhadap beban yang bekerja Berkaitan dengan kekuatan, kekerasan, keuletan dan kekakuan Tegangan Intensitas
ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3
ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3 Afdhal Kurniawan Mainil (1) (1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Bengkulu ABSTRACT This study focused on the performance analysis of a turbofan engine
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Termodinamika 2.1.1 Siklus Termodinamika Siklus termodinamika adalah serangkaian proses termodinamika mentransfer panas dan kerja dalam berbagai keadaan tekanan, temperatur,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lab. Mekanika Struktur Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung untuk mensimulasikan kemampuan tangki toroidal penampang
SOAL TRY OUT FISIKA 2
SOAL TRY OUT FISIKA 2 1. Dua benda bermassa m 1 dan m 2 berjarak r satu sama lain. Bila jarak r diubah-ubah maka grafik yang menyatakan hubungan gaya interaksi kedua benda adalah A. B. C. D. E. 2. Sebuah
Gambar 2.1 Bagian-bagian mesin press BTPTP[3]
BAB II DASAR TEORI MESIN PRESS BTPTP, KARAKTERISTIK BTPTP DAN FINITE ELEMEN METHOD 2.1 Mesin Press BTPTP Pada dasarnya prinsip kerja mesin press BTPTP sama dengan mesin press batako pada umumnya dipasaran
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Berkembangnya kemajuan teknologi bangunan bangunan tinggi disebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Berkembangnya kemajuan teknologi bangunan bangunan tinggi disebabkan oleh kebutuhan ruang yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Semakin tinggi suatu bangunan, aksi gaya
STUDI ANALISIS PEMODELAN BENDA UJI BALOK BETON UNTUK MENENTUKAN KUAT LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE KOMPUTER
STUDI ANALISIS PEMODELAN BENDA UJI BALOK BETON UNTUK MENENTUKAN KUAT LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE KOMPUTER KOMARA SETIAWAN NRP. 0421042 Pembimbing : Anang Kristanto, ST., MT. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN
Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT
Pembebanan Batang Secara Aksial Suatu batang dengan luas penampang konstan, dibebani melalui kedua ujungnya dengan sepasang gaya linier i dengan arah saling berlawanan yang berimpit i pada sumbu longitudinal
ANALISA STRUKTUR PORTAL RUANG TIGA LANTAI DENGAN METODE KEKAKUAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS HERY SANUKRI MUNTE
ANALISA STRUKTUR PORTAL RUANG TIGA LANTAI DENGAN METODE KEKAKUAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR HERY SANUKRI MUNTE 06 0404 008 BIDANG STUDI STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
BAB 3 MODEL ELEMEN HINGGA
BAB 3 MODEL ELEMEN HINGGA Bab 3 Model Elemen Hingga Pemodelan numerik tumbukan tabung bujursangkar dilakukan dengan menggunakan LS-Dyna. Perangkat lunak ini biasa digunakan untuk mensimulasikan peristiwa-peristiwa
FISIKA XI SMA 3
FISIKA XI SMA 3 Magelang @iammovic Standar Kompetensi: Menerapkan konsep dan prinsip mekanika klasik sistem kontinu dalam menyelesaikan masalah Kompetensi Dasar: Merumuskan hubungan antara konsep torsi,
Diktat-elmes-agustinus purna irawan-tm.ft.untar BAB 2 BEBAN, TEGANGAN DAN FAKTOR KEAMANAN
Diktat-elmes-agustinus purna irawan-tm.ft.untar BAB 2 BEBAN, TEGANGAN DAN AKTOR KEAMANAN Beban merupakan muatan yang diterima oleh suatu struktur/konstruksi/komponen yang harus diperhitungkan sedemikian
Bab III Aliran Putar
Bab III Aliran Putar Ada banyak jenis aliran fluida dalam dunia teknik, dimana komponen rotasi dari nilai rata-rata deformasi memberikan kontribusi lebih besar terhadap pola aliran yang terjadi. Memperhatikan
III. METODE PENELITIAN
33 III. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan dalam penelitian, sehingga pelaksanaan dan hasil penelitian bisa untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penelitian ini menggunakan
Pada bab ini, akan dibahas mengenai landasan teori yang berkaitan dengan analisa untuk mengetahui kerja maksimum pada reach stacker.
BAB II KAJIAN PUSTAKA Sebagaimana diketahui bahwa pada saat ini perkembangan teknologi begitu pesat yang umumnya muatan pada pelabuhan sudah dikemas dalam bentuk unitisasi sehingga penangananya dibutuhkan
ANALISA P Collapse PADA GABLE FRAME DENGAN INERSIA YANG BERBEDA MENGGUNAKAN PLASTISITAS PENGEMBANGAN DARI FINITE ELEMENT METHOD
ANALISA P Collapse PADA GABLE FRAME DENGAN INERSIA YANG BERBEDA MENGGUNAKAN PLASTISITAS PENGEMBANGAN DARI FINITE ELEMENT METHOD Tugas Akhir Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi Syarat untuk
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Pada perancangan suatu kontruksi hendaknya mempunyai suatu konsep perencanaan. Untuk itu konsep perencanaan ini akan membahas dasar-dasar teori
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian rangka
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian rangka Rangka adalah struktur datar yang terdiri dari sejumlah batang-batang yang disambung-sambung satu dengan yang lain pada ujungnya, sehingga membentuk suatu rangka
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Teori garis leleh ini dikemukakan oleh A.Ingerslev (1921-1923) kemudian dikembangkan oleh K.W. Johansen (1940). Teori garis leleh ini popular dipakai di daerah asalnya yaitu daerah
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Poros Poros merupakan suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang bulat, dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley, flywheel, engkol,
Dosen Pembimbing: 1. Tavio, ST, MS, Ph.D 2. Bambang Piscesa, ST, MT
PENGEMBANGAN PERANGKAT UNAK MENGGUNAKAN METODE EEMEN HINGGA UNTUK PERANCANGAN TORSI DAN GESER TERKOMBINASI PADA BAOK BETON BERTUANG Oleh: DIAR FAJAR GOSANA 317 1 17 Dosen Pembimbing: 1. Tavio, ST, MS,
ANALISIS PERFORMA ENGINE TURBOFAN PESAWAT BOEING
ANALISIS PERFORMA ENGINE TURBOFAN PESAWAT BOEING 737-300 Sri Mulyani Jurusan Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Jl. Janti Blok R Lanud Adisutjipto Yogyakarta [email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Perencanaan Interior 2. Perencanaan Gedung 3. Perencanaan Kapal
BAB 1 PENDAHULUAN Perencanaan Merencana, berarti merumuskan suatu rancangan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Pada mulanya, suatu kebutuhan tertentu mungkin dengan mudah dapat diutarakan secara jelas,
Materi. Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika
Penggerak Mula Materi Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika Motor Bakar (Combustion Engine) Alat yang mengubah energi kimia yang ada pada bahan bakar menjadi energi mekanis
BAB IV PEMBAHASAN Analisis Tekanan Isi Pipa
BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini akan dilakukan analisis studi kasus pada pipa penyalur yang dipendam di bawah tanah (onshore pipeline) yang telah mengalami upheaval buckling. Dari analisis ini nantinya
ENERGI POTENSIAL. dapat dimunculkan dan diubah sepenuhnya menjadi tenaga kinetik. Tenaga
ENERGI POTENSIAL 1. Pendahuluan Energi potensial merupakan suatu bentuk energi yang tersimpan, yang dapat dimunculkan dan diubah sepenuhnya menjadi tenaga kinetik. Tenaga potensial tidak dapat dikaitkan
