I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
|
|
|
- Liana Widjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran adalah kegiatan inti institusi pendidikan dan sangat berpengaruh pada mutu pendidikan secara keseluruhan. Berbagai metode telah dikembangkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan mengoptimalkan fungsi sumber daya pendukungnya. Salah satu isu yang cukup penting di perguruan tinggi adalah kehadiran e-learning untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan mengandalkan kemampuannya yang dapat digunakan dari manapun, di manapun, dan kapanpun. Sama seperti teknologi yang lain, e- learning seharusnya mampu menjadi inti penggerak proses belajar dan pembelajaran agar efektif dan efisien, bukan sekedar menciptakan kegiatan pembelajaran. Namun ternyata e-learning memiliki pengaruh yang rendah pada hasil, khususnya pada hasil pembelajaran kelompok (Hattie, 2007). Sebaliknya metode tatap muka pun belum cukup untuk menciptakan sebuah proses pembelajaran kelompok yang efektif dan efisien karena hanya terbatas di kelas. Kombinasi antara model tatap muka dengan e-learning dianggap sebagai cara yang terbaik (Moodie and Kunz, 2005), model ini lebih dikenal sebagai model campuran atau blended learning. Pada umumnya, model campuran mengandung dua unsur: pembelajaran sebagai proses tranformasi pengetahuan di kelas dan e-learning sebagai alat belajar/pembelajaran di luar kelas. Tetapi model campuran pun masih belum optimal karena belum menciptakan kegiatan belajar dan pembelajaran yang fokus pada usaha mencapai ketuntasan. Jika proses pembelajaran yang menjadi tolok ukur, maka bagaimana membawa mahasiswa mencapai kondisi tuntas sesuai tujuan pembelajaran sebenarnya memiliki kemiripan dengan proses bagaimana sistem kendali umpan balik mampu membawa mesin bekerja pada kondisi yang diinginkan. Timbul pertanyaan yang cukup menarik untuk dijawab, bagaimana cara menggunakan sistem kendali umpan balik yang biasanya digunakan pada mesin untuk diterapkan pada proses pembelajaran campuran sehingga mampu 1
2 2 membentuk pembelajaran yang ideal?. Pembelajaran dikatakan ideal apabila mampu membentuk suatu proses belajar yang dapat membawa seluruh mahasiswa mencapai ketuntasan (tujuan pembelajaran). Pembelajaran ideal dapat dicapai jika dijalankan antara satu dosen satu mahasiswa (pembelajaran privat), waktunya mencukupi, ditunjang peralatan yang mencukupi, serta menggunakan cara-cara yang tepat (Bloom, 1968). Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan besar mahasiswa dapat mencapai ketuntasan karena dosen sangat mengerti apa yang harus dilakukan jika mahasiswanya mengalami kesulitan. Selain pembelajaran, dosen juga mampu menciptakan sebuah proses belajar. Tetapi saat ini di perguruan tinggi, pada umumnya, seorang dosen menangani mahasiswa yang banyak. Dosen memiliki keleluasaan untuk mengajar dengan sebaik-baiknya, tetapi waktu untuk mengawasi dan membantu menyelesaikan kesulitan belajar setiap mahasiswa terbatas. Terlebih lagi, kecepatan belajar, gaya belajar, dan jenis kesulitan belajar setiap mahasiswa juga sangat beragam. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan kemungkinan mahasiswa mencapai ketuntasan kecil karena semakin jauh dengan karakteristik pembelajaran privat. Ada persoalan mendasar dalam pencapaian kentuntasan pada pembelajaran kelompok yaitu adanya keterbatasan memberi perhatian dan memberi perlakuan yang tepat untuk setiap mahasiswa. Ada keterkaitan erat antara pencapaian ketuntasan dengan proses belajar dan metode pembelajaran yang digunakan. Model-model pembelajaran kelompok terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Filosofi pembelajaran kelompok yang fokus pada ketuntasan adalah Mastery Learning (ML), yaitu sebuah filosofi pembelajaran yang menggunakan keyakinan bahwa semua mahasiswa dapat mencapai ketuntasan jika mereka diberi waktu belajar yang cukup dan cara pembelajaran yang tepat (Ozden, 2008). Pada tahun 1984, Bloom melakukan meta-analysis untuk membandingkan antara model privat (1 guru 1 siswa), model ML (1 guru 30 siswa), dan model tatap muka (1 guru 30 siswa). Dari penelitian tersebut diperoleh hasil (Gambar 1): sebanyak 98% siswa pada model konvensional memperoleh nilai di bawah rata-rata nilai model privat. Sebanyak
3 3 84% siswa pada model tatap muka memiliki skor dibawah rata-rata skor siswa pada model ML. Perbedaan simpangan baku rata-rata antara model privat dibandingkan dengan model tatap muka kelompok sebesar 2,0, selanjutnya kondisi ini lebih dikenal dengan Bloom s 2- sigma problem (Gambar 1.1). Frekuensi Privat Mastery Learning Tatap muka 84% 98% Skor * Perbandingan dosen - mahasiswa 2σ Gambar 1.1 Masalah 2 σ Bloom (Bloom, 1984) Analisis lebih lanjut dalam mengukur tingkat keberhasilan model pembelajaran dapat dilakukan dengan mencari selisih rata-rata post-test antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol kemudian dibagi dengan rata-rata standar deviasinya, cara ini dikenal dengan istilah effect size. Nilai effect size terletak antara 0 hingga 3 (Coe, 2002), dengan interprestasi: < 0,27 perpengaruh rendah 0,27 0,59 berpengaruh sedang, 0,6-1,44 berpengaruh tinggi, dan > 1,44 berpengaruh tinggi sekali (Hattie, 2012). Bloom menyimpulkan nilai effect size pada pembelajaran privat rata-rata adalah 2,0, sedangkan ML pada pembelajaran kelompok, dengan 1 guru 30 siswa, rata-rata memiliki effect size 1,0.
4 4 Penelitian-penelitan bidang ML berikutnya dilakukan dengan tujuan untuk menjawab tantangan Bloom, yaitu menemukan model pembelajaran kelompok yang mendekati kemampuan pembelajaran privat. Prinsip dasar pengembangan model-model baru adalah memberi perlakukan pada beberapa variabel belajar atau pembelajaran yang dianggap paling berpengaruh pada ketuntasan (Guskey, 2010). Lebih lanjut dijelaskan, aktivitas terpenting dalam ML pada pembelajaran kelompok adalah melakukan assessment kemudian dilanjutkan dengan evaluasi untuk perbaikan proses pembelajaran. Aktivitas tersebut dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Tujuan inovasi model-model pembelajaran yang baru adalah untuk mengatasi masalah 2-sigma atau memperoleh hasil yang mendekati pembelajaran privat. Intinya adalah menemukan model pembelajaran kelompok yang dapat meningkatkan sebanyak-banyaknya mahasiswa yang mencapai ketuntasan mendekati model privat. Bloom (1984) menyarankan agar modelmodel baru dibangun dengan mengkombinasi beberapa metoda untuk mempertinggi effect size tetapi dengan syarat tidak memberi beban tambahan yang berlebihan pada dosen dan mahasiswa karena dikawatirkan dapat memicu persoalan baru di luar konteks pendidikan. Konsep ML mengandung dua unsur penting yaitu tujuan belajar dan cara mencapainya. Block (1971) kemudian diperkuat oleh Clark dkk. (1983), mereka menyarankan, dalam menggunakan prinsip ML perlu untuk: (a) merencanakan dan melaksanakan instruksional secara baik, (b) memberikan waktu yang cukup bagi setiap mahasiswa, dan (c) memonitor secara berkesinambungan, dan (d) memberi perlakuan segera jika ditemukan masalah. Konsep ML yang cukup penting dikemukakan oleh Guskey dan Piggot pada tahun 1988; bagian penting dari ML adalah balikan, perbaikan, dan proses pengayaan. Kemudian, Guskey pada tahun 2010 merangkum prinsip-prinsip yang digunakan ML untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu: Assesment dilakukan sebelum pembelajaran dimulai. Mengulang pembelajaran bila diperlukan.
5 5 Diadakan pemantauan berkelanjutan melalui tes formatif untuk perbaikan pembelajaran. Melakukan assesment melalui tes formatif. Memberi pengayaan bagi mahasiswa yang mencapai ketuntasan lebih awal. Prinsip-prinsip ML telah memberikan cara bagaimana pembelajaran harus dilaksanakan agar sebanyak mungkin mahasiswa yang mencapai ketuntasan, tetapi belum ditemukan prinsip bagaimana ML diterapkan pada pembelajaran di perguruan tinggi yang memiliki rasio dosen:mahasiswa rendah dan waktu belajar dibatasi (sistem Satuan Kredit Semester atau SKS). Salah satu permasalahan pada ML adalah waktu belajar yang dibutuhkan lebih panjang serta model pembelajaran menjadi lebih beragam bila dibandingkan dengan metode tatap muka. Pada saat konsep dasar ML disusun, tantangan dosen tidak seperti saat ini, dosen mengelola mahasiswa yang banyak dengan beragam karakteristik dan latar belakang. Saat ini mahasiswa memiliki gaya belajar yang jauh berbeda, karena multimedia sangat kuat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku belajar mahasiswa. Penerapan ML membutuhkan perubahan budaya dan gaya belajar; hal ini tidak mudah bagi perguruan tinggi yang menggunakan sistem SKS, masih mempertahankan model tatap muka, dan memiliki rasio dosen:mahasiswa yang kecil; penerapan ML pada kondisi seperti ini rata-rata effect size hanya 0,5 (Hattie, 2003). Untuk menaikkan kembali effect size pada ML, perlu dirancang sebuah model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran kelompok tetapi memiliki karakteristik pembelajaran privat. Model pembelajaran yang dimaksud dirancang menggunakan prinsip-prinsip Mastery Learning (ML) yang menggunakan teknologi agar mampu menjangkau mahasiswa yang banyak dan penanganannya dapat bersifat individual. Salah satunya dengan menggunakan e- learning seperti yang dilakukan oleh Kazu (2005), Ozden (2008), dan Liu dan Yang (2011).
6 6 Menurut prinsip-prinsip ML, untuk mencapai ketuntasan perlu adanya upaya membuat mahasiswa secara terus-menerus aktif belajar dan terbantu hingga mencapai ketuntasan. Selain itu, perlu ada upaya untuk mendorong dosen agar lebih berperan untuk mengawasi, mendeteksi masalah, dan memberi perlakuan yang efektif dan efisien pada ranah individual atau kelompok. Dalam bidang keteknikan, dikenal sistem pengendalian umpan balik untuk mengendalikan sebuah proses atau mesin. Proses pengendalian dimulai dengan mengukur variabel keluaran proses kemudian dibandingkan dengan nilai variabel yang diinginkan (set point), jika hasil perbandingan dianggap belum sesuai (terdapat error) maka alat pengendali akan melakukan tindakan koreksi dengan mengubah variabel proses agar error berkurang. Proses ini dilakukan terus-menerus sedemikian rupa sehingga error menjadi cukup kecil dan dapat dikatakan mencapai kestabilan. Mekanisme pengendalian ini bekerja secara otomatis. Dapat diamati, antara prinsip ML dan pengendalian umpan balik terlihat ada kemiripan dalam hal samasama mengukur dan memperbaiki proses untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan cara sebaik dan secepat mungkin. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, penerapan ML pada pembelajaran dengan mahasiswa banyak harus mendekati sifat pembelajaran privat, sifat pembelajaran seperti ini bisa didekati jika dibantu teknologi dan ada prinsip pengendalian prosesnya. Oleh sebab itu, model e-learning yang baru perlu dirancang agar prinsip ML dapat dilaksanakan sekaligus diperbaiki dengan mengadaptasi prinsip sistem pengendalian umpan balik pada bidang keteknikan. Adaptasi ini diperlukan untuk membentuk proses pengendalian belajar sehingga terjadi siklus perbaikan terus-menerus yang meliputi: pengukuran hasil proses belajar, menemukan masalah belajar, melakukan evaluasi, dan memberi perlakuan yang tepat. Siklus belajar ini harus dirancang agar dapat bekerja secara otomatis mirip pada pengendalian mesin. Prinsip pengendalian belajar ini terwujud jika dapat memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki e-leaning dan mengoptimalkan peran dosen.
7 7 B. Identifikasi Masalah Pada kurikulum yang mengacu pada sistem SKS, antara mahasiswa yang memiliki kemampuan lebih diberi alokasi waktu belajar yang sama dengan mahasiswa yang berkemampuan kurang, hal ini tidak sesuai dengan prinsipprinsip ML; model pembelajaran harus mengakomodasi kebutuhan waktu belajar bagi setiap mahasiswa. Model tatap muka juga masih mendominasi sehingga perlakuan pada setiap mahasiswa seragam, padahal kecepatan belajar tidak sama; pembelajaran pada ML harus bersifat individual. Interaksi mahasiswa dan dosen terbatas hanya di kelas sehingga kegiatan yang dilakukan oleh dosen moyoritas hanya mengajar, mengadakan tes, dan memberi nilai. Merujuk pada prinsipprinsip ML, dalam kondisi tersebut peran dosen dapat dikatakan belum optimal. Selain itu, ML menuntut perhatian pada setiap mahasiswa, padahal kecenderungan saat ini rasio dosen terhadap mahasiswa rendah; peran dosen menjadi semakin tidak optimal karena intensitas interaksi individual antara dosen dan mahasiswa juga rendah. Dalam kondisi seperti ini implementasi ML tidak sempurna sehingga effect size hanya 0,5 (Hattie, 2012). Hasil ini lebih kecil bila dibandingkan dengan effect size yang pernah dicapai 1,0 (Bloom, 1984). Upaya meningkatkan effect size ini dapat dilakukan dengan menerapkan model belajar dan alat yang tepat untuk memastikan bahwa proses personalisasi dalam belajar yang mengakomodasi kemampuan, gaya belajar, kebutuhan waktu belajar, perlakuan dosen terhadap mahasiswa, yang semua itu berbeda bagi masing-masing mahasiswa (sangat bersifat individual), setidaknya tetap bisa mengantarkan setiap mahasiswa mencapai ketuntasan belajar atau mendekati hasil model pembelajaran privat. Salah satu alat pembelajaran yang memiliki potensi untuk mengatasi masalah ini adalah e-learning, karena dikembangkan untuk menyediakan fasilitas pembelajaran individual sekaligus untuk mengatasi semakin rendahnya rasio dosen-mahasiswa (Mitrovic, 2002). Alat e-learning yang berbasis internet yang memegang peranan penting dalam pendidikan adalah Learning Management System (LMS), seperti
8 8 diungkapkan oleh Pulichino (2005). Tetapi, penelitian dengan tema LMS kebanyakan melihat hanya dari sisi teknologinya, antara lain: personalisasi pengguna, kapasitas akses, standarisasi, interaksi, rancangan tampilan, sistem pelaporan, pencatatan kegiatan, assessment tools, persyaratan bisnis, dan persyaratan teknologi. Menurut Sampson (2009), penelitan bidang LMS diarahkan pada analisis kebutuhan bisnis (46%), integrasi konten (37%), serta cara integrasi dengan sistem lain (36%). Secara ringkas dapat dinyatakan pengembangan LMS secara khusus belum menyentuh pada ranah paling mendasar yaitu proses belajar dan pembelajaran untuk mencapai ketuntasan. Bahkan sudah diketahui, penggunaan media e-learning untuk pembelajaran melalui cara-cara semacam grup diskusi memiliki effect size hanya 0,42 (Lee, 2013). Dari penjelasan di atas, ada dua persoalan mendasar yang harus dipecahkan dalam penelitian ini karena model yang akan dikembangkan menggunakan konsep ML yang didukung oleh e-learning untuk model belajar kelompok dengan rasio dosen-mahasiswa kecil dan menggunakan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Dua persoalan mendasar tersebut adalah ML belum mampu memberi effect size yang memenuhi harapan dan e-learning pun belum mampu memberi effect size yang tinggi. Kedua model ini terbukti belum dapat meningkatkan jumlah mahasiswa yang mencapai ketuntasan dibanding model tatap muka. Kombinasi ML dan e-learning yang didukung dengan prinsip pengendalian proses belajar yang mengadaptasi pengendalian umpan balik inilah yang menarik untuk diteliti; masing-masing memiliki kelebihan dan berpotensi untuk disinergikan sehingga mampu menaikkan effect size setinggi mungkin hingga menyamai pembelajaran privat, atau minimalnya 1,0 (melebihi model ML 1 guru 30 siswa). C. Perumusan dan Batasan Masalah Dapat dirangkum, masalah utama yang mendasari penelitian ini adalah: 1. Dalam pembelajaran yang menggunakan sistem SKS, prinsip keleluasaan waktu belajar pada ML tidak dapat dijalankan dengan baik karena waktunya dibatasi satu semester.
9 9 2. Dalam pembelajaran yang didominasi model tatap muka semua mahasiswa diperlakukan sama, sehingga prinsip pembelajaran individual pada ML tidak dapat dilaksanakan secara sempurna. 3. Dosen mengalami kesulitan memberi perhatian dan perlakuan individual jika menangani mahasiswa yang banyak. 4. Penerapan ML pada pembelajaran kelompok dengan perbandingan dosenmahasiswa kecil memiliki effect size hanya 0,5. 5. Peggunaan e-learning belum menjangkau ranah proses pembelajaran untuk mencapai ketuntasan dan diketahui memiliki effect size hanya 0,42. Masalah-masalah tersebut di atas dicoba untuk diselesaikan dengan model e-learning yang menerapkan sistem pengendalian umpan balik yang umum digunakan pada mesin atau proses. Penerapan teknik pengendalian umpan balik pada pengendalian perilaku belajar ini membawa implikasi timbulnya permasalahan di luar bidang keteknikan, karena disebabkan aplikasinya pada manusia yang memiliki karakteristik sangat berbeda dengan mesin atau proses. Respon manusia terhadap berbagai perlakuan belajar belum pernah dimodelkan, sehingga perlu dibuat model matematisnya terlebih dahulu agar dapat dirancang teknik pengendaliannya. Model pembelajaran dan faktor-faktor yang berpengaruh pada ketuntasan belajar bervariasi, sehingga pemodelan hanya akan didasarkan pada perilaku manusia terhadap pembelajaran tertentu atau faktor tertentu yang dianggap paling berpengaruh pada proses belajar. Selain itu, e-learning memiliki aspek teknologi dan aspek pendidikan. Meskipun dalam penelitian ini model e- learning dirancang menggunakan pendekatan teknologi dan pendidikan, tetapi aspek teknologi pada e-learning sudah dianggap cukup baik sehingga penelitian hanya mencakup variabel-variabel yang dianggap paling berpengaruh pada proses belajar. Hasil rancangan perlu diuji melalui eksperimen untuk mengetahui keberhasilan dan keterlaksanaannya. Model disebut berhasil bila memiliki effect size minimal 1,0 (berbeda secara signifikan) dan disebut terlaksana apabila
10 10 variabel-variabel proses yang dikendalikan pada eksperimen terbukti berpengaruh sangat kuat pada pencapaian ketuntasan. D. Keaslian Penelitian 1. Penelitian Terdahulu Dalam hal pembelajaran tuntas, Guskey dan Gates (1986) serta Davis (1995) telah melakukan meta-analysis yang berisi 27 studi pembelajaran tuntas pada lima bidang: prestasi siswa, retensi siswa, variabel waktu, sikap siswa, dan peran guru. Mereka menemukan bahwa ada hasil prestasi yang sangat positif atas penggunaan konsep ML, meskipun hasilnya sangat bervariasi. Tetapi, mereka belum membahas strategi penerapan e-learning untuk ML sehingga mampu membawa sebanyak-banyaknya mahasiswa yang mencapai ketuntasan secara efektif. Penelitian bidang e-learning mayoritas diarahkan pada pengembangan konten, strategi, teknologi dan perangkat, analisis kebutuhan, proses inisiasi, dan komponen pendukung (Pulichino, 2006). Tidak banyak penelitian ML yang terkait dengan langsung dengan e-learning. Salah satu penelitian penggunaan ML pada e- learing pernah dilakukan oleh Liu (2008) yang membuktikan bahwa implementasi ML sangat membutuhkan keberadaan sarana e-learning karena dapat meringankan aktifitas belajar dan pembelajaran. Namun, bagaimana fasilitas e-learning dioptimalkan dan ditempatkan pada ML secara tepat belum pernah diteliti. Penggunaan konsep umpan balik dalam pembelajaran pernah ditulis oleh Fleming dan Leavi (1993), dijelaskan bahwa balikan hasil belajar dapat dirancang dalam bentuk pesan yang bersifat instruksional. Pesan atau balikan dirancang agar dapat memotivasi mahasiswa untuk meningkatkan aktifitas belajarnya, sebenarnya cara ini sesuai dengan hasil penelitian Hattie (2003) yang menyimpulkan bahwa balikan yang memotivasi merupakan variabel paling berpengaruh pada keberhasilan belajar. Tetapi, ML tidak bisa hanya mengadalkan pada balikan saja. Cara-cara yang lebih maju menggunakan e-learning untuk ML pernah dilakukan oleh Norris, dkk. (2004). Tujuan pokok penelitian mereka untuk
11 11 mendapatkan data, mengolah data, dan memberikan hasil evaluasi belajar yang dapat dilakukan secepat mungkin, menggunakan Excel dan Visual basic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem masih perlu diperbaiki, karena penggunaan Excel memiliki banyak keterbatasan pada kecepatan pengelolaan. Bagaimana ringkasan hasil evaluasi harus disajikan agar dosen mudah menemukan masalah belajar belum diteliti. Penelitian yang dilakukan oleh Brown, dkk (2006) juga melibatkan teknologi, dalam penelitian ini berhasil ditunjukkan beberapa variabel pembelajaran yang dapat dikaitkan dengan e-learning melalui tes formatif, antara lain: kinerja pembelajaran, kinerja mahasiswa, sikap mahasiswa terhadap metode instruksi, kemampuan memecahkan masalah, tingkat keterlibatan, retensi, tingkat keberhasilan, dan tingkat kegagalan. Tetapi jika diteliti lebih dalam, latar belakang dua penelitian ini lebih banyak pada unsur teknologinya, tetapi belum mengarah pada sebuah metode bagaimana model e-learning untuk mampu membawa mahasiswa mencapai ketuntasan. 2. Rancangan model e-learning penelitian Menurut Guskey (1987) bagian terpenting ML adalah pengawasan dan perbaikan. Implementasi ML tidak sempurna jika model pengajaran masih mendominasi dan tidak ada metode pencapaian ketuntasan yang baik. Dari alasan inilah, e-learning ini dirancang untuk menyempurnakan implementasi ML pada pembelajaran kelompok dengan mengadaptasi model pengendalian umpan balik. Adaptasi diperlukan untuk melaksanakan kegiatan pengukuran-penilaian-evalusiperbaikan pada proses belajar hingga menjangkau ranah individual; dengan cara ini akan lebih banyak mahasiswa yang mencapai ketuntasan secara efektif dan efisien melalui kegiatan belajar mandiri di luar kelas. E-learning memiliki unsur teknologi dan unsur pendidikan. Unsur teknologi yang digunakan meliputi: alat pengelolaan pembelajaran di kelas, dan alat tutorial di luar kelas (online) yang dapat membimbing dan mengakomodasi kecepatan belajar setiap mahasiswa; unsur pendidikan meliputi desain instruksional untuk membentuk prinsip pengendalian umpan balik pada kegiatan
12 12 belajar dan pembelajaran. Model e-learning ini didesain menggunakan pendekatan teknologi dan pendidikan. 3. Spesifikasi model yang dirancang Ciri khusus model e-learning yang dikembangkan terletak pada adaptasi pengendalian umpan balik yang umum digunakan pada sistem keteknikan. Adaptasi yang dimaksud terletak pada penggunaan karakteristik perbaikan proses belajar yang terus-menerus untuk mengurangi masalah belajar sehingga mahasiswa mencapai ketuntasan secara cepat namun berkesan. Adaptasi ini melengkapi kegiatan pembelajaran dengan proses belajar untuk menuju ketuntasan secara bertahap dan berjenjang melalui cara-cara yang efektif dan efisien. Model pengendalian belajar seperti ini belum pernah diteliti. Ada dua masalah belajar yang dianggap cukup penting untuk diukur dan diperbaiki secara terus-menerus karena memiliki pengaruh paling besar pada upaya mencapai ketuntasan kognitif, yaitu motivasi dan pemahaman materi. Ciri lain dalam model ini, fungsi dosen yang harus mampu memahami situasi belajar mahasiswa untuk memperbaiki kinerja pembelajaran. Demikian pula dengan mahasiswa, melalui fasilitas belajar terbimbing komputer harus berupaya mencapai ketuntasan pada bagian topik tertentu sebelum berpindah ke topik berikutnya. Jika mahasiswa diketahui memiliki masalah belajar, maka dosen akan segera memilih cara yang tepat untuk mengurangi masalah belajar; jika mahasiswa kurang bersemangat maka tugas dosen adalah memotivasi dan jika mahasiswa kurang faham maka tugas dosen adalah memberi penjelasan ulang. Cara pengelolaan dan perbaikan proses belajar seperti ini belum pernah diteliti. E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat praktis Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rekomendasi bagi kalangan penyelanggara perguruaan tinggi di Indonesia yang menghendaki inovasi pembelajaran menggunakan e-learning yang mengutamakan pencapaian
13 13 ketuntasan. Model ini untuk mengoptimalkan fungsi e-learning untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang mencapai ketuntasan. Model e-learning menggunakan pengendalian umpan balik ini merupakan upaya menyempurnakan model pembelajaran tuntas pada pembelajaran kelompok dengan rasio dosen-mahasiswa kecil, waktunya dibatasi, dan masih menggunakan model tatap muka yang sebenarnya masih menjadi inti proses pendidikan pergurun tinggi hingga saat ini. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini memberi manfaat yang besar dalam dunia pendidikan terutama untuk perguruan tinggi Indonesia sehingga mampu meningkatkan jumlah mahasiswa yang mencapai ketuntasan; semakin banyak mahasiswa yang mencapai ketuntasan berarti penyelenggaraan pendidikan semakin bermutu. 2. Manfaat secara keilmuan Model ini merupakan awal penerapan prinsip pengendalian umpan balik pada pembelajaran yang bertujuan untuk mewujudkan prinsip-prinsip ML. Konsep dasar yang akan digunakan adalah dengan meletakkan proses belajar yang terprogram, terpantau, teruakur, dan diperbaiki secara terus-menerus (seperti pengendalian umpan balik pada mesin) sehingga setiap mahasiswa dapat mencapai kondisi tuntas secara efektif dan efisien. F. Tujuan Penelitian Penerapan sistem kendali umpan balik pada proses belajar dirancang agar terbentuk siklus pengukuran-penilaian-evaluasi-perbaikan secara terus-menerus dan otomatis dengan memberi perlakuan yang tepat pada saat diperlukan. Model semacam ini belum pernah dibuat sebelumnya, sehingga model perlu diuji melalui eksperimen untuk melihat keberhasilan dan keterlaksanaannya. Pengujian keberhasilan digunakan untuk mengetahui seberapa besar effect size yang dicapai dan uji keterlaksanaan dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabelvariabel yang berpengaruh pada keberhasilan. Jika diketahui bahwa variabelvariabel yang diteliti terbukti berpengaruh kuat pada keberhasilan, maka berarti
14 14 karakteristiknya diketahui; jika karakteristik diketahui maka sangat membantu untuk pengembangan model pada peneltian berikutnya. Penggunaan model pengendalian umpan balik harus memperhatikan karakteristik obyek yang dikendalikan. Dalam model ini obyek pengendaliannya adalah manusia yang melakukan proses belajar terbantu e-learning dan pembelajaran tatap muka. Tuntutan terbentuknya siklus perbaikan proses belajar yang terus-menerus rentan dengan timbulnya rasa bosan dan keterbatasan kemampuan kognitif sebagai sifat alami manusia. Dengan demikian, karakteristik belajar manusia perlu dimodelkan terlebih dahulu agar model pengendalian belajar dengan e-learning dapat dianalisis, diteliti, dan dikembangkan secara lebih sempurna. Dari penjelasan di atas, dapat ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut: 1. Membuat model fisis karakteristik belajar manusia untuk menyusun model e-learning hasil adaptasi pengendalian umpan balik sehingga dapat dilakukan analisis, perancangan, dan pengendalian. 2. Membuat model penelitian untuk model e-learning yang diuji, sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel proses yang diprediksi mempengaruhi keberhasilan dan keterlaksanaan. 3. Menguji keberhasilan dan keterlaksanaan model e-learning melalui eksperimen pada mata kuliah yang dijalankan menggunakan konsep ML dengan sistem SKS, masih mempertahankan model tatap muka, dan rasio dosen-mahasiswa kecil. 4. Menjelaskan variabel-variabel yang berpengaruh pada keberhasilan model e-learning untuk pengembangan lebih lanjut. Jika pada tahap-tahap tersebut di atas model e-learning terbukti berhasil dan terlaksana, maka dapat disimpulkan bahwa rancangan e-learning mampu menyempurnakan model ML yang diterapkan pada sistem SKS, masih mempertahankan model tatap muka, dan rasio dosen-mahasiswa kecil.
RANCANGAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN GAMMA FEEDBACK LEARNING MODEL (GFLM)
RANCANGAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN GAMMA FEEDBACK LEARNING MODEL (GFLM) Dwijoko Purbohadi 1* 1 Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jl. Lingkar Selatan Tamantirto
BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-4: Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ
BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-4: Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ SEAMEO SEAMOLEC Jakarta - INDONESIA 2012 Pendahuluan Dalam topik ini akan diuraikan evaluasi hasil belajar
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. 1. Terdapat pengaruh blended learning berbasis edmodo terhadap hasil belajar
101 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh blended learning berbasis edmodo
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah suatu sistem pendidikan yang ditandai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah suatu sistem pendidikan yang ditandai dengan karakteristik, salah satunya adalah keterpisahannya antara individu yang belajar
BAB II KAJIAN PUSTAKA
7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Konseptual 1. Metode Peer Learning (Teman Sebaya) Menurut (Miller et al.,1994), peer learning merupakan metode pembelajaran yang sangat tepat digunakan pada peserta
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menganalisis merupakan bagian penting dalam kemampuan berfikir tingkat tinggi, hal ini disebabkan karena jika siswa sudah memiliki kemampuan berfikir analitis,
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Media internet sebagai sumber belajar efektif dalam meningkatkan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Media internet sebagai sumber belajar efektif dalam meningkatkan motivasi
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING STAD
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING STAD PADA MATA KULIAH GEOGRAFI SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2006A DI JURUSAN GEOGRAFI-FIS-UNESA Sri Murtini *) Abstrak : Model pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN. dengan teknik tes dan non-tes. Dalam teknik tes misalnya pemberian beberapa
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penilaian pembelajaran perlu dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan yang mencakup penilaian terhadap proses belajar dan penilaian terhadap hasil belajar.
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa
DAFTAR ISI. Pemanfaatan Model Blended Learning Berbasis Online Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Kurikulum Dan Pembelajaran
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i UCAPAN TERIMA KASIH... ii ABSTRAK... iv ABSTRACT... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...
BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari, oleh siswa dimulai dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pada jenjang
P - 63 KEMANDIRIAN BELAJAR DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
P - 63 KEMANDIRIAN BELAJAR DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA Risnanosanti Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMB Email : [email protected] Abstrak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Peningkatan mutu pendidikan merupakan masalah serius di negara-negara berkembang terutama di Indonesia. Menurut Sanjaya (2010), salah satu masalah yang dihadapi
PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KEGIATAN SISWA TERSTRUKTUR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 POL-UT KABUPATEN TAKALAR
JPF Volume I Nomor 3 ISSN: 2302-8939 219 PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KEGIATAN SISWA TERSTRUKTUR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 POL-UT KABUPATEN TAKALAR Sri Kundi Jurusan Pendidikan
II. TINJAUAN PUSTAKA. perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Membuka Dan Menutup Pelajaran Guru sangat memerlukan keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Keterampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan sikap mental
1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah
1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam e-learning terutama yang berbasis web, terdapat dua konsep belajar yang berbeda, yaitu Virtual Learning Environment (VLE) dan Personal Learning Environment
BAB I PENDAHULUAN. Pada abad 21 ini perkembangan teknologi informasi sudah. berkembang secara pesat, begitu juga dengan dunia pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada abad 21 ini perkembangan teknologi informasi sudah berkembang secara pesat, begitu juga dengan dunia pendidikan yang harus mempersiapkan peserta didik
I. PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif. luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan dan mampu
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.
I. PENDAHULUAN. menguasai informasi dan pengetahuan. Dengan demikian diperlukan suatu. tersebut membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis, logis,
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut seseorang untuk dapat menguasai informasi dan pengetahuan. Dengan demikian diperlukan suatu kemampuan memperoleh, memilih
BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II.
BAB III ANALISIS Sesuai dengan permasalahan yang diangkat pada Tugas Akhir ini, maka dilakukan analisis pada beberapa hal sebagai berikut: 1. Analisis komunitas belajar. 2. Analisis penerapan prinsip psikologis
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
15 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Model Penelitian Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom Action research,
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Maahas Pada Materi Gaya Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbantu Media Video
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Maahas Pada Materi Gaya Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbantu Media Video Taufik Nur Akbar Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu-ilmu dasar (basic science) yang perlu diberikan pada siswa. Hal ini tak lepas dari
BAB I PENDAHULUAN. ruangan kelas, dengan kondisi dimana guru atau pengajar mengajar di depan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum kegiatan belajar mengajar harus dilakukan hanya dalam ruangan kelas, dengan kondisi dimana guru atau pengajar mengajar di depan kelas sambil sesekali
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Peranan regulasi dari pemerintah atau departemen terkait dalam mendukung realisasinya e-learning dalam proses pendidikan di tanah air tersirat dalam Undang-undang
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN METAKOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X KEP 3 SMK NEGERI 1 AMLAPURA
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN METAKOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X KEP 3 SMK NEGERI 1 AMLAPURA Oleh I Wayan Puja Astawa (email: [email protected]
II. TINJAUAN PUSTAKA. Rosenberg (dalam Surjono, 2009: 3), mendefinisikan e-learning sebagai
II. TINJAUAN PUSTAKA A. E-learning Rosenberg (dalam Surjono, 2009: 3), mendefinisikan e-learning sebagai pemanfaatan teknologi internet untuk mendistribusikan materi pembelajaran, sehingga siswa dapat
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA POKOK BAHASAN SISTEM PENCERNAAN MAKANAN KELAS XI IPA MAN SUKOHARJO SKRIPSI
STANDAR PROSES PROGRAM S1 PGSD IKATAN DINAS BERASRAMA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
STANDAR PROSES PROGRAM S1 PGSD IKATAN DINAS BERASRAMA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN A. Rasional Standar proses proses pembelajaran merupakan acuan penyelenggaraan serta bentuk akuntabilitas perguruan tinggi
BAB II LANDASAN TEORI. Metode pembelajaran adalah suatu teknik penyajian yang dipilih dan
BAB II LANDASAN TEORI A. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran adalah suatu teknik penyajian yang dipilih dan diterapkan seiring dengan pemanfaatan media dan sumber belajar (Prawiradilaga, 2008). Menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar secara aktif dalam mengembangkan kreativitas berfikirnya. Tujuan pokok
BAB I PENDAHULUAN. Untuk mewujudkan upaya tersebut, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31. Ayat (3) mengamanatkan agar pemerintah mengusahakan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan Pemerintah Negara Indonesia salah satunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan upaya tersebut, Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang IPA merupakan pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal) dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen (Carin dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ASEP MUNIR HIDAYAT, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan sebuah inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Sebagai inti dari kegiatan pendidikan, proses pembelajaran adalah
BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan dari pembentukan Negara RI adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini tentunya menuntut adanya penyelenggaraan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Visi pendidikan sains di Indonesia mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pemahaman tentang sains dan teknologi melalui pengembangan keterampilan berpikir, dan
BAB III METODE PENELITIAN
26 BAB III METODE PENELITIAN 3.. Jenis, Lokasi, Waktu, dan Subyek Penelitian 3... Jenis Penelitian Jenis penelitian yang peneliti gunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini mengadopsi metode penelitian kuasi eksperimen yang menurut Panggabean (1996) merupakan eksperimen dimana variabel-variabel yang
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
155 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat ditarik simpulan sebagai berikut. 1. Terdapat hubungan langsung positif yang signifikan kecerdasan dengan pengetahuan
I. PENDAHULUAN. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan dan kesejahteraan bangsa ditentukan oleh
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan dan kesejahteraan bangsa ditentukan oleh kemampuannya dalam mengembangkan serta memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Bahan Ajar 2.1.1 Pengertian Bahan Ajar Hamdani (2011:218) mengemukakan beberapa pengertian tentang bahan ajar, yaitu sebagai berikut: a. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran matematika membutuhkan sejumlah kemampuan. Seperti dinyatakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006) bahwa untuk menguasai
Modul Pelatihan PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR KEMDIKBUD. Kegiatan Belajar 1. Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi Pendidikan. IKA KURNIAWATI, M.
Modul Pelatihan PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR KEMDIKBUD Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi Pendidikan Kegiatan Belajar 1 IKA KURNIAWATI, M.Pd Modul Pelatihan 7 PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR KB 1 KONSEP,
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. Simpulan hasil penelitian model pembelajaran proyek berbasis lingkungan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan Simpulan hasil penelitian model pembelajaran proyek berbasis lingkungan perkembangan untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah pada anak TK,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Observasi Awal Sebelum melakukan tindakan pada siklus I, peneliti melakukan observasi awal di kelas IX MTs Ma arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas. Pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kegiatan pembelajaran yang berkualitas dan evaluasi diharapkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan pembelajaran yang berkualitas dan evaluasi diharapkan dikelola dan dilaksanakan dengan baik dan berarti. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil
I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-orang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peradaban kehidupan di era globalisasi semakin berkembang dan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal tersebut telah dirasakan oleh seluruh umat manusia,
EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE KASUS MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO-VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA
345 EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE KASUS MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO-VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA Woro Sumarni, Soeprodjo, Krida Puji Rahayu Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang Kampus
BAB I PENDAHULUAN. mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan juga proses membimbing
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan berasal dari kata didik, yaitu memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan juga proses membimbing manusia dari kegelapan,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi dan era globalisasi yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di dunia yang terbuka,
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Penalaran Matematis Shadiq (Depdiknas, 2009) menyatakan bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir untuk menarik kesimpulan dalam rangka membuat suatu pernyataan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan. Pendidikan yang tertata dengan baik dapat menciptakan generasi yang berkualitas, cerdas, adaptif,
II. KAJIAN PUSTAKA. Efektivitas dalam bahasa Indonesia merujuk pada kata dasar efektif yang diartikan
II. KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Efektivitas Pembelajaran Efektivitas dalam bahasa Indonesia merujuk pada kata dasar efektif yang diartikan ada efeknya, akibatnya, pengaruhnya, kesannya, atau
BAB II LANDASAN TEORI. A. Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika
BAB II LANDASAN TEORI A. Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika Pengertian pembelajaran sebagaimana tercantum dalam UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah suatu proses interaksi
BAB V PEMBAHASAN. A. Perencanaan Metode Drill dalam Pembelajaran Al-Qur an Hadits pada. Kelas IV di MI Al-Karim Gondang Nganjuk dan MI Miftahul Jannah
BAB V PEMBAHASAN A. Perencanaan Metode Drill dalam Pembelajaran Al-Qur an Hadits pada Kelas IV di MI Al-Karim Gondang Nganjuk dan MI Miftahul Jannah Kedungglugu Gondang Nganjuk Berdasarkan hasil penelitian
BAB II KAJIAN TEORITIS. mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Atmodiwiryo,2000:5). Selanjutnya
6 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Konsep Dasar Pengelolaan Pembelajaran. Pada dasarnya pengelolaan diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian semua sumber daya untuk
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C DENGAN RAHMAT TUHAN
TINJAUAN MATA KULIAH...
iii Daftar Isi TINJAUAN MATA KULIAH... xi MODUL 1: KONSEP DASAR ORGANISASI 1.1 Pentingnya Mempelajari Organisasi... 1.3 Latihan... 1.12 Rangkuman... 1.12 Tes Formatif 1..... 1.12 Lingkup Organisasi, Perubahan
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses untuk mendewasakan manusia yang bertujuan untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah proses untuk mendewasakan manusia yang bertujuan untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia yang menjadi tolok ukur keberhasilan suatu
BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (action research) yang
27 BAB III PROSEDUR PENELITIAN.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (action research) yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran membaca teks berita siswa
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI. Bab ini dimulai dengan sajian simpulan hasil penelitian. Selanjutnya, berdasarkan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI Bab ini dimulai dengan sajian simpulan hasil penelitian. Selanjutnya, berdasarkan simpulan penelitian disajikan beberapa sumbangan teoretis sebagai implikasi
BAB I PENDAHULUAN. kritis, kreatif dan mampu bersaing menghadapi tantangan di era globalisasi nantinya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru merupakan pemegang peran utama dalam proses pembelajaran karena guru mempunyai peranan penting dalam keberhasilan siswa menerima dan menguasai pelajaran
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
216 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pemaparan mengenai kesimpulan pada bagian ini dirumuskan sesuai dengan pertanyaan penelitian yang terdapat pada bab satu yang diuraian sebagai
Mahasiswa mampu. Tes DASAR. Modul: 1 6 PENILAIAN. menjelaskan hakikat. Suryanto, DALAM. penilaian, asesmen, Adi. (2009).
SILABUS Nama Mata Kuliah/Kode Mata Kuliah : Evaluasi Pembelajaran di SD (PDGK 4301) Program : PGSD Nama Lengkap Penulis : Iding Tarsidi, Drs., M. Pd. Instansi Asal : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Syifa ur Rokhmah. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Negeri Malang
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA SISWA KELAS XI IPS 2 MAN MOJOKERTO KABUPATEN MOJOKERTO Syifa ur Rokhmah Jurusan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektif adalah akibatnya atau pengaruhnya.
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektif adalah akibatnya atau pengaruhnya. Efektivitas merupakan standar atau taraf tercapainya suatu
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF Team Assisted Individualization (TAI) YANG DISERTAI PENYUSUNAN PETA KONSEP PADA PROSES PEMBELAJARAN BIOTEKNOLOGI TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA SKRIPSI OLEH: LATIF
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini akan mencari sejauh mana keterlaksanaan penerapan model pembelajaran
I. PENDAHULUAN. Untuk lebih jelasnya pembahasan tiap sub bab akan diuraikan sebagai berikut.
I. PENDAHULUAN Pembahasan dalam bab ini akan difokuskan pada beberapa sub bab yang berupa latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan adanya era globalisasi, pelaksanaan pembelajaran saat ini perlu didukung dengan adanya media pembelajaran yang berbasis teknologi. Media berbasis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
7 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beberapa institusi yang memanfaatkan sistem informasi berbasis komputer selama bertahun-tahun sudah pasti memiliki jumlah data yang cukup besar pula. Data yang dihasilkan
mengembangkan seluruh aspek pribadi peserta didik secara utuh.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan. Oleh karena itu, Pendidikan yang mampu mendukung
14. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
KOMPETENSI INTI 14. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri. PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN Saat ini komputer
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MULTI MEDIA SEKOLAH TINGGI MULTI MEDIA YOGYAKARTA 2015 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan secara umum mempunyai suatu arti suatu proses usaha
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan secara umum mempunyai suatu arti suatu proses usaha dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan, sehingga menjadi
BAB II KAJIAN TEORITIK. sebagai proses dimana pelajar menemukan kombinasi aturan-aturan yang
BAB II KAJIAN TEORITIK A. Kemampuan Pemecahan Masalah Menurut Nasution (2010), memecahkan masalah dapat dipandang sebagai proses dimana pelajar menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajarinya
BAB I PENDAHULUAN. paradigma yang lama atau cara-cara berpikir tradisional. Dalam dunia pendidikan,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kegiatan belajar mengajar di sekolah merupakan kegiatan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan merupakan media yang sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sampai saat ini persoalan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai upaya
E-LEARNING Pengembangan Model Pembelajaran Pada Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)
ii E-LEARNING Pengembangan Model Pembelajaran Pada Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Dr. DWIJOKO PURBOHADI iii E-LEARNING Pengembangan Model Pembelajaran Pada Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Dr. DWIJOKO PURBOHADI
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan
BAB I PENDAHULUAN. mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peranan guru terhadap keberhasilan pengajaran, sangat dominan. Hal ini tampak pada sebagian rincian tugas dan tanggung jawab para guru dalam pelaksanaan pengajaran.
I. PENDAHULUAN. mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Undang-Undang Nomor 20 Tahun. Berdasarkan hal itu pemerintah terus berupaya mewujudkan kualitas
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
