JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
|
|
|
- Ida Setiawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 8, Nomor 1, April 2012 AN APPROACH TO THE MANAGEMENT OF MUD CRAB Scylla serrata THROUGH THE REPRODUCTIVE STATUS OF MUD CRAB AND SOCIO-ECONOMY AND INSTITUTIONAL ASPECTS OF THE FISHERMEN AT PELITA JAYA, WEST SERAM DISTRICT ANALISIS EKONOMI TERHADAP EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI DESA TAWIRI STRATEGI PENGELOLAAN BIVALVIA DI PERAIRAN PANTAI WAITATIRI BERDASARKAN TINGKAT PEMANFAATAN DAMPAK TOKSISITAS SUB KRONIS LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) TERHADAP RESPONS HEMATOLOGI DAN PERTUMBUHAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) GROWTH AND MOULTING OF CRAYFISH TINGKAT PEMANFAATAN DAYA DUKUNG BIOMASSA STOK IKAN TERI MERAH (Encrasicholina heteroloba) DI TELUK AMBON DALAM KOMPOSISI DAN KEPADATAN SAMPAH ANORGANIK PADA BEBERAPA SUNGAI DI TELUK AMBON JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON TRITON Vol. 8 No. 1 Hlm Ambon, April 2012 ISSN
2 Jurnal TRITON Volume 8, Nomor 1, April 2012, hal TINGKAT PEMANFAATAN DAYA DUKUNG BIOMASSA STOK IKAN TERI MERAH (Encrasicholina heteroloba) DI TELUK AMBON DALAM (Utilization Level of Stock Biomass Capacity of Shorthead Anchovy (Encrasicholina heteroloba) in Inner Ambon Bay) O. T. S. Ongkers Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Jl. Mr. Chr. Soplanit, Poka-Ambon ABSTRACT : Study on utilization level of biomass capacity of shorhead anchovy (Encrasicholina heteroloba) in Inner Ambon bay were to identify and to evaluate the potency capacity of biomass, recruitment and growth as well as level of stock biomass utilization of shorthead anchovy (Encrasicholina heteroloba) in Inner Ambon Bay. A year sampling with beach seine and lift net was conducted at three sites of Inner Ambon bay i.e. the front site (zone I), the middle site (Zone II) and the back site (zone III), in order to examine stock distribution as well as fishing intensity and catch in both full and halfmoon. The results showed that capacity of biomass in zone I, II and III reached a maximum level in east monsoon and subsequently declined in transition II of monsoon, and relatively stable in west monsoon and transition I. It was indicated that utilization level of beach seine and lift net at zones I, II and III had not exceeded capacity of stock biomass. Keywords : Utilization level, biomass capacity, shorthead anchovy PENDAHULUAN Perairan Teluk Ambon Dalam (TAD) seluas 12.1 km 2 merupakan perairan semi tertutup (semi-enclosed bay), yang masih berhubungan dengan perairan Teluk Ambon Luar (TAL) melalui ambang (sill). Usaha perikanan tangkap di perairan TAD telah lama dilakukan dengan target ikan pelagis kecil, besar dan demersal. Salah satu dari target pelagis kecil yaitu ikan teri sebagai ikan umpan hidup bagi usaha perikanan tangkap cakalang. Sumberdaya ikan teri di perairan TAD terdiri atas 3 jenis yaitu Encrasicholina heteroloba, Stolephorus indicus, dan S. buccaneeri (Sumadhiharga, 1992). Usaha perikanan tangkap ikan teri merah (E. heteroloba) sangat penting untuk menghasilkan ikan umpan hidup yang diperlukan dalam kegiatan operasional usaha perikanan tangkap ikan cakalang. Perikanan ikan umpan di TAD berperan untuk menghasilkan produksi mantap
3 52 Tingkat Pemanfaatan Daya Dukung Biomassa Stok atau meningkat kerena ikan umpan menjadi faktor penentu usaha perikanan dalam menunjang perikanan cakalang (skip jack pole and liner fisheries) disamping sebagai konsumsi lokal. Jika tidak ada ikan umpan maka berimplikasi terhadap armada perikanan cakalang di Ambon akan mengalami kendala. Hasil tangkapan ikan umpan sebagian besar digunakan sebagai ikan umpan hidup dan sebagian kecil dipasarkan di pasar lokal. Semula usaha perikanan tangkap ikan teri merah di TAD menggunakan alat tangkap jaring pantai (beach seine), baru pada tahun 1980-an ini menggunakan alat tangkap bagan (lift net). Kedua alat tangkap tersebut dilengkapi dengan sarana lampu petromaks sehingga sangat efektif namun tidak selektif menangkap ikan umpan yang tertarik pada sinar lampu. Ikan teri merah (ITM) merupakan bagian dari komposisi hasil tangkapan ikan umpan. Bahwa Teluk Ambon merupakan kawasan pengembangan perikanan, dimana biomassa stok berkembang tergantung pada daya dukung pembentukan stok yang pada musim tertentu (musim timur) mempunyai hasil tinggi dan sebaliknya rendah (Wouthuyzen et al, 1984). Daya dukung pembentukan biomassa stok ITM di TAD tergantung pada pembentukan biomassa rekrutmen dan biomassa pertumbuhan. Kemudian biomassa stok yang terbentuk dimanfaatkan sesuai dengan seberapa besar biomassa yang terjadi di TAD agar keberlanjutan biomassa lestari. Sehubungan dengan hal tersebut maka dipertimbangkan perlu dilakukan suatu penelitian mengenai pemanfaatan daya dukung biomassa stok untuk dijadikan data dasar dalam pengelolaan sumberdaya ikan teri merah (E. heteroloba) di perairan TAD. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi tingkat pemanfaatan daya dukung pembentukan biomassa rekrutmen dan pertumbuhan dari stok ikan teri merah (E. heteroloba) di perairan Teluk Ambon Dalam. Manfaat penelitian ini yaitu untuk mendapatkan data mengenai seberapa besar hasil pemanfaatan sumber daya untuk dijadikan dasar perumusan konsep pengelolaan ikan teri merah. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Perairan Teluk Ambon Dalam (TAD), Pulau Ambon, Propinsi Maluku mulai dari Agustus 2005 sampai dengan Juli Berdasarkan bentuk hidromorfologi perairan TAD secara longitudinal dengan dua sumber pemasukan massa air dari Hulu dan dari Teluk Ambon Luar (TAL), beban masukan antropogenik dan kegiatan operasional penangkapan ikan, maka perairan TAD sebagai daerah penelitian dibedakan dalam tiga zona (Gambar 1), yaitu: Zona I, merupakan bagian hilir perairan TAD seluas sekitar 0.63 km 2 yang terletak dekat ambang sepanjang 74.5 m. Zona II, merupakan bagian utama perairan TAD seluas 9.76 km 2 terletak antara zona I dan zona hulu. Zona III, merupakan bagian hulu perairan TAD seluas 1.74 km 2 terletak antara muara sungai Waitonahitu dan Zona II. Metode penelitian ini menggunakan survey post facto terhadap distribusi dan produksi biomassa ikan teri merah di perairan TAD. Contoh ikan ditangkap dengan menggunakan alat standar, yaitu jaring pantai dengan dilengkapi lampu petromaks. Distribusi dan produksi biomassa stok ITM mewakili musim barat (Desember Februari), peralihan I (Maret-Mei), timur (Juni-Agustus) dan
4 Jurnal TRITON Volume 8, Nomor 1, April 2012, hal peralihan II (September-Nopember) maka penelitian dilakukan selama 12 bulan. Setiap bulan pengambilan contoh dilakukan dua kali mewakili periode bulan gelap dan terang. Setiap pengambilan contoh dilakukan dua kali pengulangan untuk dijadikan dasar konversi hasil dari periode terang menjadi gelap sebagai satuan stok (bulan ke 1&2). Variabel yang diukur atau dipantau meliputi jumlah dan bobot serta fekunditas. Variabel kerja yang diamati tentang kelimpahan dan biomassa stok menyangkut: densitas kelimpahan dan biomassa stok (Ongkers, 2012) dalam menentukan: Gambar 1. Peta lokasi penelitian a). Kemampuan Rekrut Stok per hari (KRS) di tentukan atas dasar rumus: 1 KRS = IMG x Fe x HR x S x.(1) DT Keterangan: KRS = Kemampuan Rekrut Stok (individu/1 000 m 3 ), IMG= Induk Matang Gonad pada tingkat V ( individu/1 000 m 3 ), Fe adalah rataan fekunditas (butir telur/individu), HR = Hatching rate (daya tetas ) telur ikan jenis teri (bay anchovy, Anchoa mitchilli) dari hasil penelitian penelitian Cowan dan Houde (1993) pada kondisi Laboratorium adalah 0.9. DT (Development Time, waktu perkembangan larva) untuk jenis anchovy (Dulcic, 1979) adalah 14 hari, Presentase survival (S) setelah penetasan dari fase telur menjadi larva jenis teri (anchovy) adalah 40% (Palomera and Lleonart, 1989). b). Biomassa Rekrutmen setiap interval waktu (BR) ditentukan atas dasar rumus sebagai berikut: BR = KRS x W x IWP...(2) Keterangan: BR=Biomassa Rekrutmen (gr/1000 m 3 ), KRS= Kemampuan Rekrutmen Stok, W = Rataan bobot ikan pertama kali tertangkap. c). Total Biomassa Rekrutmen setiap interval waktu (TBR) ditentukan atas dasar rumus sebagai berikut: TBR = BR x VRD...(3) Keterangan: TBR= Total Biomassa Rekrutmen (dalam ton setiap interval waktu), VRD=Volume Ruang Distribusi (luas areal setiap zona dikali ketebalan kelompok ikan). d). Produktivitas Pertumbuhan Biomassa Per hari (P) ditentukan atas dasar rumus sebagai berikut:
5 54 Tingkat Pemanfaatan Daya Dukung Biomassa Stok P = G. B...(4) Keterangan: Ricker (1931) in Beverton dan Holt (1957) menyatakan bahwa: P adalah Produktivitas (gr/1 000 m 3 /hari), G adalah Koefisien pertumbuhan sesaat dan B adalah Rataan biomassa (gr). Nilai G ditentukan dari nilai persamaan G1 atau G2 yang didapatkan dari persaman Ricker (1975): Apabila g>z maka G1 = e g-z 1.. (5) Apabila jika g<z maka G2 = 1- e g-z. (6) Simbol g adalah koefisien pertumbuhan sesaat dan z adalah koefisien mortalitas sesaat. Jika tidak terdapat mortalitas penangkapan, maka z merupakan mortalitas alami. Kedua Koefisien g dan z didapat dari : ln w2 ln w1 g =...(7) t (ln N1 ln N2) z = (8) t Keterangan: w 1, w2 adalah rataan berat ikan pada t1 dan t2 (gram), sedangkan N1 dan N2 adalah jumlah ikan pada waktu t1 dan t2 (jumlah individu), dan t adalah interval waktu pengambilan contoh. e). Produksi Pertumbuhan Biomassa (BP) setiap interval waktu ditentukan atas dasar persamaan: BP = P x IWP...(9) Keterangan: BP = Produksi Pertumbuhan Biomassa dalam (gr/1000 m 3 ), P= Produktivitas Pertumbuhan Biomassa per hari (gr/1 000 m 3 /hari) dari produktivitas per hari, IWP = Interval Waktu Pantau (15 hari). f). Total Pertumbuhan Biomassa (TPB) ditentukan atas dasar persamaan: TPB = VRD x P/1000 m 3...(10) Keterangan: TPB = Total Pertumbuhan Biomassa (kg/hari), VRD =Volume Ruang Distribusi (luas areal setiap zona dikali ketebalan kelompok ikan), P= Produktivitas Pertumbuhan Biomassa pe hari g). Daya Dukung Pembentukan Biomassa setiap interval waktu hari (DD) ditentukan atas dasar persamaan sebagai berikut: DD= ( BR BP)....(11) Keterangan: DD = Daya Dukung Pembentukan Biomassa setiap interval waktu (gr/1 000 m 3 ), BR = Biomassa Rekrutmen (gr/1000 m 3 ), (BP = Produksi Pertumbuhan Biomassa (gr/1 000 m 3 ) HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Daya Dukung di Zona I, II dan III Daya dukung stok adalah kemampuan suatu stok dalam menghasilkan biomassa rekrutmen (BR) dan biomassa pertumbuhan (BP) selama interval waktu tertentu, dalam penelitian ini ditetapkan 15 hari. Total biomassa atau daya dukung biomassa yang dihasilkan (DD) secara terpisah dan atau bersama sama dengan keberadaan biomassa stok awal (B 1 ) dapat dimanfaatkan atau dieksploitasi dengan
6 Jurnal TRITON Volume 8, Nomor 1, April 2012, hal menggunakan jaring pantai (beach seine) dan bagan (lift net) di Teluk Ambon Dalam. Total hasil tangkapan (T) ikan teri merah (ITM) selama interval waktu merupakan perpaduan antara hasil tangkapan jaring pantai (HP) dan hasil tangkapan bagan (HB). Tingkat pemanfaatan biomassa dapat dibedakan terhadap daya dukung (DD) yaitu T/DD. Apabila T<DD maka keberadaan stok (KST) positif atau mantap dan meningkat, sedangkan sebaliknya T>DD maka kemantapan stok negatif (menurun). a. Zona I. Daya dukung pembentukan biomassa ditentukan oleh kinerja tingkat keragaan rendah, sedang, dan tinggi dari perpaduan antara pembentukan biomassa rekrutmen dan biomassa pertumbuhan di zona I. Berdasarkan matriks perpaduan biomassa rekrutmen dan biomassa pertumbuhan, didapatkan sekuensi periode daya dukung di zona I (Lampiran 1). Daya dukung pembentukan biomassa (BR+BP) di zona I berkisar antara 6.16 ton sampai ton (Gambar 2). Daya dukung pembentukan biomassa mengalami perubahan secara musiman yaitu pada musim peralihan II (September 1&2 sampai Nopember 1&2), daya dukung pembentukan biomassa menurun dari ton menjadi ton. Antara Desember (1&2) sampai dengan Mei (1&2) daya dukung pembentukan biomassa berfluktuasi mantap berkisar antara 5.54 ton sampai ton. Musim timur (Juni 1&2, Juli 1&2 dan Agustus 2) meningkat dari ton mencapai maksimum, yaitu ton. Bulan 1 dan 2 menunjukkan pengambilan contoh pada 15 hari pertama dan kedua dari bulan tersebut. Daya Dukung (DD) dan Tingkat Pemanfaatan (T) di Zona I 60 Biomassa (Ton) DD T 0 T1 T2T3 T4 T5T6 T7 T8T9 T10 T11 T12 T13 T14 T15 T16 T17 T18 T19 T20 T21 T22 Waktu (Periode) Gambar 2. Daya Dukung dan Tingkat Pemanfaatan di Zona I Pemanfaatan daya dukung pembentukan biomassa ITM di zona I dilakukan dengan 1 unit jaring pantai dan 2 unit bagan. Total hasil tangkapan (T) ikan teri merah (ITM) merupakan perpaduan antara hasil tangkapan jaring pantai (HP) dan bagan (HB) yang terlampir pada Lampiran 1). Keberadaan stok (KST) berkisar antara 8.61 ton sampai ton. Secara sekuensial, total hasil tangkapan di zona I (Gambar 2 ) berkisar antara 0.32 ton 7.07 ton. Tingkat pemanfaatan daya dukung biomassa (T/DD) secara musiman mengalami perubahan sebagai berikut: pada
7 56 Tingkat Pemanfaatan Daya Dukung Biomassa Stok waktu daya dukung biomassa menurun atau pada musim peralihan II (September 1&2 sampai dengan Nopember 1&2 dimana angka 1 dan 2 merupakan tanggal sampling bulan gelap 1 dan ke 2), T/DD berkisar antara Pada waktu berfluktuasi mantap (Desember 1&2 Mei 1&2), T/DD berkisar antara , dan pada waktu tinggi atau pada musim timur (Juni 1&2 sampai Agustus 2), T/DD antara Musim timur merupakan puncak kelimpahan (Wouthuyzen dkk, 1984; Sumadhiharga dkk, 1992, dan Ongkers, 2012). Berdasarkan uraian tersebut diperoleh: 1) tingkat pemanfaatannya di zona I berubah secara tak menentu antara melampaui dan tidak melampaui, 2) pemanfaatan daya dukung biomassa tidak melampui daya dukung. Ketersisaan biomassa stok yang belum dimanfaatkan melebihi daya dukung biomassa stok menjadikan biomassa ikan teri merah tidak akan habis, yang mana selalu diisi dengan eliminasi negatif biomassa (masuknya biomassa ke suatu zona tertentu, Ongkers, 2012). b. Zona II Daya dukung pembentukan biomassa ditentukan oleh kinerja tingkat keragaan rendah, sedang, dan tinggi dari perpaduan antara pembentukan biomassa rekrutmen dan biomassa pertumbuhan di zona II (Lampiran 2). Berdasarkan matriks perpaduan biomassa rekrutmen dan biomassa pertumbuhan, didapatkan sekuensi periode daya dukung di zona II yang terlihat pada Gambar 3. Daya dukung pembentukan biomassa (BR+BP) di zona II berkisar antara ton sampai ton. Daya dukung pembentukan biomassa mengalami perubahan secara musiman yaitu pada musim peralihan II (September 1&2 sampai Nopember 1&2) daya dukung pembentukan biomassa menurun dari ton menjadi ton. Antara Desember sampai Mei daya dukung pembentukan biomassa berfluktuasi mantap berkisar antara ton sampai ton. Musim timur (Juni 1&2, Juli 1&2 dan Agustus 2) meningkat dari ton mencapai maksimum, yaitu ton. Pemanfaatan daya dukung pembentukan biomassa ITM di zona II dilakukan dengan 3 unit jaring pantai dan 3 unit bagan. Total hasil tangkapan (T) ikan teri merah (ITM) merupakan perpaduan antara hasil tangkapan jaring pantai (HP) dan bagan (HB) yang terlampir pada Lampiran 2). Keberadaan Stok (KST) berkisar antara ton sampai ton. Secara sekuensial, total hasil tangkapan di zona II (Gambar 3) berkisar antara ton sampai ton. Tingkat pemanfaatan daya dukung biomassa (T/DD) secara musiman mengalami perubahan sebagai berikut: pada waktu daya dukung biomassa menurun atau pada musim peralihan II, yaitu September (1&2)-Nopember (1&2), T/DD berkisar antara Pada waktu berfluktuasi mantap (Desember 1&2 sampai dengan Mei 1&2), T/DD berkisar antara , dan pada waktu tinggi atau pada musim timur (Juni 1&2 sampai dengan Agustus 2), T/DD berkisar antara
8 Jurnal TRITON Volume 8, Nomor 1, April 2012, hal Daya Dukung (DD) dan Tingkat Pemanfaatan (T) di Zona II Biomassa (Ton) T1 T2T3 T4 T5T6 T7 T8T9 T11 T12 T13 T14 T15 T16 T17 T18 T19 T20 T21 T22 T10 DD T Waktu (Periode) Gambar 3. Daya Dukung dan Tingkat Pemanfaatan di Zona II Berdasarkan uraian tersebut diperoleh: 1) tingkat pemanfaatannya di zona II berubah secara tak menentu antara melampaui dan tidak melampaui, 2) Pemanfaatan daya dukung biomassa tidak melampui daya dukung. Ketersisaan biomassa stok yang belum dimanfaatkan melebihi daya dukung biomassa stok menjadikan biomassa ikan teri merah tidak akan habis, yang mana selalu diisi dengan eliminasi negatif biomassa (masuknya biomassa ke suatu zona tertentu, Ongkers, 2012). c. Zona III Daya dukung pembentukan biomassa ditentukan oleh kinerja tingkat keragaan rendah, sedang, dan tinggi dari perpaduan antara pembentukan biomassa rekrutmen dan biomassa pertumbuhan di zona III (Lampiran 3). Dari matriks perpaduan biomassa rekrutmen dan biomassa pertumbuhan, didapatkan sekuensi periode daya dukung di zona III yang terlampir pada Gambar 4. Daya dukung pembentukan biomassa (BR+BP) di zona III berkisar antara ton sampai ton. Daya dukung pembentukan biomassa mengalami perubahan secara musiman (Gambar 4.) yaitu pada musim peralihan II (September 1&2 sampai Nopember 1&2), daya dukung pembentukan biomassa menurun dari ton menjadi ton. Antara Desember (1&2) sampai Mei (1&2) daya dukung pembentukan biomassa berfluktuasi mantap berkisar antara ton sampai ton. Musim timur (Juni 1&2, Juli 1&2 dan Agustus 2) meningkat dari ton mencapai maksimum, yaitu ton. Pemanfaatan daya dukung pembentukan biomassa ITM di zona III dilakukan hanya dengan 2 unit jaring pantai. Total hasil tangkapan (T) ikan teri merah (ITM) merupakan hasil tangkapan jaring pantai (HP) terlampir pada Lampiran 3). Keberadaan Stok (KST) berkisar antara ton sampai ton. Secara sekuensial, total hasil tangkapan di zona III (Gambar 4.) berkisar antara 1.13 ton sampai ton. Tingkat pemanfaatan daya dukung biomassa (T/DD) secara musiman mengalami perubahan sebagai berikut, yaitu pada waktu daya dukung biomassa menurun atau pada musim peralihan II (September 1&2 sampai dengan Nopember 1&2), T/DD berkisar antara Pada waktu daya dukung berfluktuasi mantap (Desember 1&2 sampai dengan Mei 1&2), T/DD berkisar antara , dan pada waktu tinggi atau pada musim timur (Juni 1&2 sampai dengan Agustus 2), T/DD hanya mencapai antara
9 58 Tingkat Pemanfaatan Daya Dukung Biomassa Stok Daya Dukung (DD) dan Tingkat Pemanfaatan (T) di Zona III 300 Biomassa (Ton) DD T 0 T1 T2T3 T4 T5T6 T7 T8T9 T10 T11 T12 T13 T14 T15 T16 T17 T18 T19 T20 T21 T22 T23 Waktu (Periode) Gambar 4. Daya Dukung dan Tingkat Pemanfaatan di Zona III Sebagian stok awal ikut tertangkap (digunakan) sehingga stok potensial menurun. Rasio (T/(DD) bernilai sangat kecil mengindikasikan bahwa akan terjadi eksploitasi biomassa awal atau B 1. Berdasarkan uraian tersebut diperoleh : 1) tingkat pemanfaatannya di zona III berubah secara tak menentu antara melampaui dan tidak melampaui, 2) Pemanfaatan daya dukung biomassa tidak melampui daya dukung. Ketersisaan biomassa stok yang belum dimanfaatkan melebihi daya dukung biomassa stok menjadikan biomassa ikan teri merah tidak akan habis, yang mana selalu diisi dengan eliminasi negatif biomassa (masuknya biomassa ke suatu zona tertentu, Ongkers, 2012). KESIMPULAN Berdasarkan hasil potensi dan tingkat pemanfaatan daya dukung pada zona I, II dan III, dapat dinyatakan bahwa : 1. Daya dukung pembentukan biomassa di zona I, II dan III serupa yaitu mengalami perubahan musiman dimana meningkat pada musim timur dan menurun pada musim peralihan II, selanjutnya berfluktuasi mantap pada musim barat dan peralihan I, kemudian yang sesuai dengan proses keberhasilan rekrutmen dan pertumbuhan 2. Tingkat pemanfaatan daya dukung biomassa di zona I, II dan III ternyata tidak melampui daya dukung stok. DAFTAR PUSTAKA Beverton, R.J.H., and Holt, S.J On The Dynamics of Exploited Fish Population. Fishery Investigations Series II. Vol XIX. London. Chapman, D.W Production, pp In Methods for the Assessment of Fish Production in Fresh Waters (W Ricker, editor). IBP Handbook #3. Blackwell Scientific Publisher, Oxford, UK. Cowan, J.H., and J.E.D Edward Growth and Survival of Bay Anchovy Anchoa mitchilli Larvae in Mesocosm Enclosures. Mar. Ecol. Prog. Vol 68: Dulcic, J Growth of Anchovy, Engraulis encrasicoiles (R), Larvae in The Northern Adriatic Sea. Fish Res:
10 Jurnal TRITON Volume 8, Nomor 1, April 2012, hal Ongkers, O.T.S Hubungan Antara Daya Dukung Pembentukan Biomassa dan Tingkat Pemanfaatan Stok Ikan Teri Merah (Encrasicholina heteroloba) di Teluk Ambon Dalam. Disertasi. Bogor : Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 240 hal. Palomera, I., and J. Lleonart Field Mortality Estimates of Anchovy Larvae, Engraulis encrasicolous, in The North-Western Mediteranean. J.Fish Biol Vol 35: Pemerintah Daerah Kota Madya Ambon dan Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Data dan Informasi Sumberdaya Perikanan Kota Ambon dan Kepulauan Lucipara. Ambon. Ricker, W. E Computation and Interpretation of Biological Statistics of Fish Population. BullFish. Res. Board Can. (191);382 hal. Sumadhiharga, O. K Anchovy Fisheries and Ecology With Special Reference to The Reproductive Biology of Stolephorus spp, in Ambon Bay. A Thesis submitted in fulfilllment of the requirement for the degree to Doctor of Phylosophy. University of Tokyo. 154 hal Syahailatua, A Komunitas Fauna Ikan yang Tertangkap Dengan Jaring Pantai dan Bagan di Ambon Dalam: Oseanologi Di Indonesia. 31: Tarigan Z., dan D. Sapulete Perubahan musiman suhu air laut di Teluk Ambon Bagian Dalam. Teluk Ambon: Biologi, Perikanan, Oseanografi, dan Geologi, Balitbang Sumberdaya Laut. Puslitbang Osenologi LIPI Ambon. I: Wouthuyzen, S., Suwartana, A., dan Sumadhiharga, O. K Studi Dinamika Populasi Ikan Puri Merah Stolephorus heterolobus (Ruppel) dan Kaitannya Dengan Perikanan Umpan di Teluk Ambon Bagian Dalam. Oseanologi Di Indonesia.18:1-20.
11 60 Tingkat Pemanfaatan Daya Dukung Biomassa Stok Lampiran 1. Matriks Antara Daya Dukung Pembentukan Biomassa dengan Hasil Pemanfaatan Stok Selama 15 Hari di Zona I T Lampiran 2. T1 (<3.04) T2 ( ) T3 >4.19 D1 (<12.84) n=10 (43%) D 1=10.34 ton T 1=1.73 ton KST =8.61 ton November (17) Desember (16), Januari(3&15), Februari (2&13), Maret (2&14), April (2)Juni (2) n =4(17%) D 1=8.37 ton T 3 =6.85 ton KST =1.52 ton September (19), Oktober (4&8), Nopember (3) DD D2 ( ) n=3(13%) D 2 =15.05 ton T 1=1.72 ton KST = ton Desember (2) Mei (2&16). n=1(4%) D 2 =14.63 ton T 2 =3.35 ton KST = ton April (13) D3 (>12.84) n =5(22%) D 3 =28.92 ton T 3 =6.00 ton KST =22.92 ton Juni (11), Juli (1&11). Agustus (20), dan September (6) Keterangan: D= Daya Dukung Stok, T= Tingkat Pemanfaatan Stok, D1= Daya dukung stok rendah, D2= Daya dukung stok sedang,dan D3 = Daya dukung stok tinggi, T1= Tingkat pemanfaatan rendah, T2== Tingkat pemanfaatan sedang dan T3== Tingkat pemanfaatan tinggi. T Matriks antara Daya Dukung Pembentukan Biomassa dengan Hasil Pemanfaatan Stok Selama 15 Hari di zona II T1 (<45.83) T2 ( ) T3 (>62.94) D1 (<131.29) n=7 (30%) D 1=70.19 ton T 1=27.75 ton KST = ton Desember (16), Januari (3&15), Februari (2&3), Maret (14), April (2) n=3 (13%) D 1=85.27 ton T 2 = ton KST = ton Nopember (17), Desember (2), Mei (2) n =3(13%) D 1=60.79 ton T 3 =89.36 ton KST = ton Maret (2),April (13) Mei (16) DD D2 ( ) n=1(4%) D 2 = ton T 1=24.68 ton KST = ton Oktober(4) D3 (>178.52) n =3(13%) D 3 = ton T 1=24.70 ton KST = ton Agustus (20), September (6&19), Oktober (18), Nopember (1) n =1(4%) D 3 = ton T 2 = ton KST = ton Juni (2) n =3(13%) D 3 = ton T 3 = ton KST = ton Juni (11), Juli (1&11). Keterangan: DD= Daya Dukung Stok, T= Tingkat Pemanfaatan Stok, D1= Daya Dukung stok rendah, D2= Daya dukung stok sedang,dan D3 = Daya dukung stok tinggi, T1= Tingkat pemanfaatan rendah, T2== Tingkat pemanfaatan sedang dan T3== Tingkat pemanfaatan tinggi.
12 Jurnal TRITON Volume 8, Nomor 1, April 2012, hal Lampiran 3. Matriks antara Daya Dukung Pembentukan Biomassa dengan Hasil Pemanfaatan Stok Selama 15 Hari di Zona III T T1 (<13.05) T2 ( ) T3 (>25.73) D1 (<64.48) n=11 (47%) D 1= ton T 1=3.82 ton KST =28.94 ton September (19), Oktober (4,18), Nopember (3,17) Desember (2) Maret (2), Mei (2&16) n=1 (4%) D 1=34.32 ton T 2 =14.69 ton KST = ton April (2) DD D2 ( ) n=1(4%) D 2 = ton T 1= 2.77 ton KST= ton Januari (3)) n=1(4%) D 2 = ton T 2 = ton KST= ton September (6) n =2(9%) D 2 =72.28 ton T 3 =31.58 ton KST = ton Maret (14) Juli (1) D3 (>92.49) n =2 (9%) D 3 = ton T 1=5.63 ton KST= ton Februari (13),April (13) n =1 (4%) D 3 = ton T 2 =18.58 ton KST= ton Januari (15) N = 4 (17%) D 3 = ton T 3 =69.21 ton KST= ton Juni (2&11), Juli (11), Agustus(20) Keterangan: DD= Daya Dukung Stok. T= tingkat Pemanfaatan Stok. D1= Daya dukung stok rendah. D2= Daya dukung stok sedang.dan D3 = Daya dukung stok tinggi. T1= Tingkat pemanfaatan rendah. T2== Tingkat pemanfaatan sedang dan T3== Tingkat pemanfaatan tinggi.
KETERKAITAN ANTARA DAYA DUKUNG PEMBENTUKAN BIOMASSA DAN TINGKAT PEMANFAATAN STOK IKAN TERI MERAH (Encrasicholina heteroloba) DI TELUK AMBON DALAM
KETERKAITAN ANTARA DAYA DUKUNG PEMBENTUKAN BIOMASSA DAN TINGKAT PEMANFAATAN STOK IKAN TERI MERAH (Encrasicholina heteroloba) DI TELUK AMBON DALAM Relationship Between Capacity of Growth Biomass and Exploitation
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 8, Nomor 1, April 2012 AN APPROACH TO THE MANAGEMENT OF MUD CRAB Scylla serrata THROUGH THE REPRODUCTIVE STATUS OF MUD CRAB AND SOCIO-ECONOMY AND INSTITUTIONAL
HUBUNGAN ANTARA DAYA DUKUNG PEMBENTUKAN BIOMASSA DAN TINGKAT PEMANFAATAN STOK IKAN TERI MERAH (Encrasicholina heteroloba) DI TELUK AMBON DALAM
HUBUNGAN ANTARA DAYA DUKUNG PEMBENTUKAN BIOMASSA DAN TINGKAT PEMANFAATAN STOK IKAN TERI MERAH (Encrasicholina heteroloba) DI TELUK AMBON DALAM ONG TONNY SAMUEL ONGKERS SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tipologi Perairan Teluk Ambon Dalam Hidromorfologi Oseanografi
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tipologi Perairan Teluk Ambon Dalam 2.1.1 Hidromorfologi Perairan Teluk Ambon Dalam (TAD) terletak pada 128 0 07 42-128 0 16 04 BT dan 03 0 39 47 LS - 03 0 45 50 dengan luas 12.3
1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah laut Indonesia terdiri dari perairan teritorial seluas 0,3 juta km 2, perairan laut Nusantara seluas 2,8 juta km 2 dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 8, Nomor 1, April 2012 AN APPROACH TO THE MANAGEMENT OF MUD CRAB Scylla serrata THROUGH THE REPRODUCTIVE STATUS OF MUD CRAB AND SOCIO-ECONOMY AND INSTITUTIONAL
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 8, Nomor 1, April 2012 AN APPROACH TO THE MANAGEMENT OF MUD CRAB Scylla serrata THROUGH THE REPRODUCTIVE STATUS OF MUD CRAB AND SOCIO-ECONOMY AND INSTITUTIONAL
DAFTAR PUSTAKA. Balakrishman Eggs and early larvae Trissoles sp (Engraaulida: Pisces). Marine Biol 2:
DAFTAR PUSTAKA Agoes, Etty R, 1999. Kebijakan Pengelolaan Kekayaan Alam Laut Secara Berkelanjutan: Suatu Tinjauan Yuridis. Dalam Firsty Husbani, Ed, Demokratisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Prosiding
POLA DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM
POLA DISTRIBSI SH DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELK AMBON DALAM PENDAHLAN Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume, Nomor, April 00 VALUASI EKONOMI WISATA SANTAI BEACH DAN PENGARUHNYA DI DESA LATUHALAT KECAMATAN NUSANIWE STRUKTUR MORFOLOGIS KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain)
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laut dan sumberdaya alam yang dikandungnya dipahami secara luas sebagai suatu sistem yang memberikan nilai guna bagi kehidupan manusia. Sebagai sumber kehidupan, potensi
APPLICATION HYPERTEXT MARKUP LANGUAGE TO DESIGN ANCHOVY (Stolephorus spp) FISHERIES SYSTEM INFORMATION IN THE GULF OF BONE
APLIKASI HYPERTEXT MARKUP LANGUAGE UNTUK MENDESAIN SISTEM INFORMASI PERIKANAN TERI (Stolephorus spp) DI TELUK BONE APPLICATION HYPERTEXT MARKUP LANGUAGE TO DESIGN ANCHOVY (Stolephorus spp) FISHERIES SYSTEM
c----. Lemuru Gambar 1. Perkembangan Total Produksi Ikan Laut dan Ikan Lemuru di Indonesia. Sumber: ~tatistik Perikanan Indonesia.
Latar Belakanq Indonesia adalah negara maritim, lebih dari 70% dari luas wilayahnya, seluas 3,l juta km2, terdiri dari laut. Setelah deklarasi Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) pada tanggal 21 Maret
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU Scylla paramamosain Estampador DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG.
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU Scylla paramamosain Estampador DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG Oleh: Fetro Dola Samsu 1, Ramadhan Sumarmin 2, Armein Lusi,
JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman Online di :
JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman 73-80 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/maquares ASPEK REPRODUKSI IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
30 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi perairan Teluk Jakarta Teluk Jakarta terletak di utara kota Jakarta dengan luas teluk 285 km 2, dengan garis pantai sepanjang 33 km, dan rata-rata kedalaman
PRODUKTIVITAS PERIKANAN TUNA LONGLINE DI BENOA (STUDI KASUS: PT. PERIKANAN NUSANTARA)
Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 3, No. 2, November 2012 Hal: 135-140 PRODUKTIVITAS PERIKANAN TUNA LONGLINE DI BENOA (STUDI KASUS: PT. PERIKANAN NUSANTARA) Tuna Lingline Fisheries Productivity in Benoa
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi umum perairan selat sunda Selat Sunda merupakan selat yang membujur dari arah Timur Laut menuju Barat Daya di ujung Barat Pulau Jawa atau Ujung Selatan
DINAMIKA POPULASI IKAN
DINAMIKA POPULASI IKAN - Stock Assessment - Pemanfaatan SDI - Manajemen SDI berkelanjutan Oleh Tim MK DINPOPKAN Kuliah Dinapopkan FPIK Sem Ganjil 2014/2015 DINAMIKA POPULASI IKAN (DINAPOPKAN) MK PRASARAT:
PARAMETER POPULASI DAN ASPEK REPRODUKSI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) DI PERAIRAN REMBANG, JAWA TENGAH
PARAMETER POPULASI DAN ASPEK REPRODUKSI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) DI PERAIRAN REMBANG, JAWA TENGAH 1,2) Urip Rahmani 1, Imam Hanafi 2, Suwarso 3 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas
PENDUGAAN BEBERAPA PARAMETER DINAMIKA POPULASI IKAN LAYANG (Decapterus macrosoma, BLEEKER 1841) DI PERAIRAN TELUK BONE, SULAWESI SELATAN
PENDUGAAN BEBERAPA PARAMETER DINAMIKA POPULASI IKAN LAYANG (Decapterus macrosoma, BLEEKER 1841) DI PERAIRAN TELUK BONE, SULAWESI SELATAN Estimation of Population dynamics paramaters of Mackarel fish (Decapterus
Sp.) DI PERAIRAN TIMUR SULAWESI TENGGARA
PENENTUAN MUSIM PENANGKAPAN IKAN LAYANG (Decapterus Sp.) DI PERAIRAN TIMUR SULAWESI TENGGARA DETERMINATION OF FISHING CATCHING SEASON (Decapterus Sp.) IN EAST WATERS OF SOUTHEAST SULAWESI Eddy Hamka 1),
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepiting bakau (Scylla spp.) tergolong dalam famili Portunidae dari suku Brachyura. Kepiting bakau hidup di hampir seluruh perairan pantai terutama pada pantai yang ditumbuhi
Analisis Penentuan Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L.) di Perairan Sangihe Sulawesi Utara
Analisis Penentuan Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L.) di Perairan Sangihe Sulawesi tara 1 Marline S. Paendong, 2 John Socrates Kekenusa, 3 Winsy Ch. D. Weku 1 Jurusan Matematika, FMIPA,
4 HASIL. Gambar 4 Produksi tahunan hasil tangkapan ikan lemuru tahun
Cacth (ton) 46 4 HASIL 4.1 Hasil Tangkapan (Catch) Ikan Lemuru Jumlah dan nilai produksi tahunan hasil tangkapan ikan lemuru yang didaratkan di PPP Muncar dari tahun 24 28 dapat dilihat pada Gambar 4 dan
ANALISIS KECENDERUNGAN PRODUKSI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN LAUT HALMAHERA TAHUN Adrian A. Boleu & Darius Arkwright
ANALISIS KECENDERUNGAN PRODUKSI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN LAUT HALMAHERA TAHUN 2007 2008 Adrian A. Boleu & Darius Arkwright Abstract Small pelagic fishing effort made bythe fishermen in North Halmahera
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Pemerintah Aceh yang memiliki potensi sumberdaya ikan. Jumlah sumberdaya ikan diperkirakan sebesar 11.131 ton terdiri
METODE PENELITIAN. Gambar 7 Lokasi penelitian di perairan dangkal Semak Daun.
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Perairan Semak Daun, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (KAKS) Daerah Khusus bukota Jakarta
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Kajian tentang konsep kapasitas penangkapan ikan berikut metoda pengukurannya sudah menjadi isu penting pada upaya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. The Code of
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove merupakan ekosistem pesisir yang terdapat di sepanjang pantai tropis dan sub tropis atau muara sungai. Ekosistem ini didominasi oleh berbagai jenis
I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan industri bioteknologi kelautan merupakan asset yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,
POTENSI BERKELANJUTAN SUMBER DAYA IKAN PELAGIS BESAR DI KABUPATEN MALUKU TENGAH
Bimafika, 2010, 2, 141-147 1 POTENSI BERKELANJUTAN SUMBER DAYA IKAN PELAGIS BESAR DI KABUPATEN MALUKU TENGAH Achmad Zaky Masabessy * FPIK Unidar Ambon ABSTRACT Maluku Tengah marine water has fish resources,
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Pesisir Teluk Jakarta terletak di Pantai Utara Jakarta dibatasi oleh garis bujur 106⁰33 00 BT hingga 107⁰03 00 BT dan garis lintang 5⁰48
PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sejak tahun 2004 di perairan Semak Daun, Kepulauan Seribu, mulai digalakkan sea farming. Sea farming adalah sistem pemanfaatan ekosistem perairan laut berbasis marikultur dengan
Mortalitas Ledhyane Ika Harlyan
MK. DINAMIKA POPULASI Mortalitas Ledhyane Ika Harlyan Dept. of Fisheries and Marine Resources Management Fisheries Faculty, Brawijaya University LAJU KEMATIAN Z = Total M = Alami F = Penangkapan Tanggung
PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus) DI DANAU SIDENRENG KABUPATEN SIDRAP Nuraeni L. Rapi 1) dan Mesalina Tri Hidayani 2)
PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IAN TAWES (Barbonymus gonionotus) DI DANAU SIDENRENG ABUPATEN SIDRAP Nuraeni L. Rapi 1) dan Mesalina Tri Hidayani 2) 1) Program Studi Budidaya Perairan STITE Balik Diwa Makassar
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan nasional mempunyai peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di masa mendatang, serta mempunyai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan tangkap memiliki peran penting dalam penyediaan pangan, kesempatan kerja, perdagangan dan kesejahteraan serta rekreasi bagi sebagian penduduk Indonesia (Noviyanti
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Mentawai adalah kabupaten termuda di Propinsi Sumatera Barat yang dibentuk berdasarkan Undang-undang No.49 Tahun 1999. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau
Seminar Nasional Tahunan X Hasil Penelitian Kelautan dan Perikanan, 31 Agustus 2013
POTENSI KEPITING BAKAU DI WILAYAH PERAIRAN SEKITAR TAMBAK DESA MOJO KAB PEMALANG pms-12 Arthur Muhammad Farhaby 1 * Johannes Hutabarat 2 Djoko Suprapto 2 dan Jusup Suprijanto 2 1 Mahasiswa Program Double
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi perikanan Indonesia diestimasi sekitar 6,4 juta ton per tahun, dengan tingkat pemanfaatan pada tahun 2005 telah mencapai 4,408 juta ton, dan tahun 2006 tercatat
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya ikan merupakan sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) dan berdasarkan habitatnya di laut secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 7, Nomor 2, Oktober 2011 MINAWISATA BAHARI KARAMBA PEMBESARAN IKAN DI PULAU- PULAU KECIL BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DAN DAYA DUKUNG (KASUS PULAU DULLAH KOTA TUAL
MODEL PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN NELAYAN DI KABUPATEN PANGKEP
Jurnal Galung Tropika, 5 (3) Desember 2016, hlmn. 203-209 ISSN Online 2407-6279 ISSN Cetak 2302-4178 MODEL PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN NELAYAN DI KABUPATEN PANGKEP Crab
Aspek Biologi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) Sebagai Landasan Pengelolaan Teknologi Penangkapan Ikan di Kabupaten Kendal
Aspek Biologi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) Sebagai Landasan Pengelolaan Teknologi Penangkapan Ikan di Kabupaten Kendal Nadia Adlina 1, *, Herry Boesono 2, Aristi Dian Purnama Fitri 2 1
ANALISIS POTENSI KEPITING BAKAU (Scylla spp) DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Bimafika, 2010, 2, 114-121 ANALISIS POTENSI KEPITING BAKAU (Scylla spp) DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Tahir Tuasikal*) Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Darussalam Ambon Diterima 15-04-10;
PRODUKTIVITAS ARMADA PENANGKAPAN DAN POTENSI PRODUKSI PERIKANAN UDANG DI LAUT ARAFURA
PRODUKTIVITAS ARMADA PENANGKAPAN DAN POTENSI PRODUKSI PERIKANAN UDANG DI LAUT ARAFURA FISHING FLEET PRODUCTIVITY AND POTENTIAL PRODUCTION OF SHRIMP FISHERY IN THE ARAFURA SEA ABSTRAK Purwanto Anggota Komisi
PENENTUAN PEMBERIAN PAKAN DAN UKURAN BENIH SAAT TEBAR PADA PEMBESARAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DI KERAMBA JARING APUNG (KJA)
739 Penentuan pemberian pakan dan ukuran benih... (Ketut Suwirya) PENENTUAN PEMBERIAN PAKAN DAN UKURAN BENIH SAAT TEBAR PADA PEMBESARAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DI KERAMBA JARING APUNG
V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI
V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI Perairan Selat Bali merupakan perairan yang menghubungkan Laut Flores dan Selat Madura di Utara dan Samudera Hindia di Selatan. Mulut selat sebelah Utara sangat sempit
Jurnal LPPM Bidang Sains dan Teknologi Volume 4 Nomor 2 November 2017
PENANGKAPAN IKAN UMPAN HIDUP UNTUK PERIKANAN POLE AND LINE DIKELURAHAN MAWALI KECAMATAN BITUNG SELATAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI, PEMASARAN DAN KEUANGAN Lefrand Manoppo 1) Meta S. Sompie 2) 1,2 Fakultas
HUBUNGAN BOBOT PANJANG IKAN TUNA MADIDIHANG Thunnus albacares DARI PERAIRAN MAJENE SELAT MAKASSAR SULAWESI BARAT Wayan Kantun 1 dan Ali Yahya 2
HUBUNGAN BOBOT PANJANG IKAN TUNA MADIDIHANG Thunnus albacares DARI PERAIRAN MAJENE SELAT MAKASSAR SULAWESI BARAT Wayan Kantun 1 dan Ali Yahya 2 1) Sekolah Tinggi Teknologi Kelautan Balik Diwa 2) Politeknik
5 HASIL 5.1 Kandungan Klorofil-a di Perairan Sibolga
29 5 HASIL 5.1 Kandungan Klorofil-a di Perairan Sibolga Kandungan klorofil-a setiap bulannya pada tahun 2006-2010 dapat dilihat pada Lampiran 3, konsentrasi klorofil-a di perairan berkisar 0,26 sampai
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG SS Oleh: Ennike Gusti Rahmi 1), Ramadhan Sumarmin 2), Armein Lusi
Ex-situ observation & analysis: catch effort data survey for stock assessment -SCHAEFER AND FOX-
CpUE Ex-situ observation & analysis: catch effort data survey for stock assessment -SCHAEFER AND FOX- By. Ledhyane Ika Harlyan 0.400 0.350 0.300 0.250 0.200 0.150 0.100 0.050 0.000 Schaefer y = -0.000011x
PENGARUH PERIODE HARI BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN DAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN BAGAN TANCAP DI KABUPATEN SERANG TESIS JAE WON LEE
PENGARUH PERIODE HARI BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN DAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN BAGAN TANCAP DI KABUPATEN SERANG TESIS JAE WON LEE SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 PERNYATAAN
1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan nilai produksi ikan lemuru Indonesia, tahun Tahun
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan lemuru merupakan salah satu komoditas perikanan yang cukup penting. Berdasarkan data statistik perikanan Indonesia tercatat bahwa volume tangkapan produksi ikan lemuru
LUNAR MOON PHASE TERHADAP TANGKAPAN PERSATUAN UPAYA IKAN KEMBUNG (Rastrelliger spp, Bleeker, 1851) DI PULAU DAMAR, KEPULAUAN SERIBU
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 14,1 (29) : 7-8 LUNAR MOON PHASE TERHADAP TANGKAPAN PERSATUAN UPAYA IKAN KEMBUNG (Rastrelliger spp, Bleeker, 1851) DI PULAU DAMAR, KEPULAUAN SERIBU Yonvitner, K.A. Aziz, N.A
PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP HASIL TAGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN KOTA BENGKULU
PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP HASIL TAGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN KOTA BENGKULU Zulkhasyni Fakultas Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu ABSTRAK Perairan Laut Bengkulu merupakan
4. GAMBARAN UMUM WILAYAH
4. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1. Letak Geografis Kabupaten Sukabumi yang beribukota Palabuhanratu termasuk kedalam wilayah administrasi propinsi Jawa Barat. Wilayah yang seluas 4.128 Km 2, berbatasan dengan
KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR
KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 0 I. PENDAHULUAN
POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN DI SELATAN JAWA TIMUR
POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN DI SELATAN JAWA TIMUR Nurul Rosana, Viv Djanat Prasita Jurusan Perikanan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Universitas Hang
Sriati Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor UBR
Jurnal Akuatika Volume II Nomor 2/September 2011 ISSN 0853-2523 KAJIAN BIO-EKONOMI SUMBERDAYA IKAN KAKAP MERAH YANG DIDARATKAN DI PANTAI SELATAN TASIKMALAYA, JAWA BARAT Sriati Fakultas Perikanan dan Ilmu
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bahan industri. Salah satu sumberdaya tersebut adalah
Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung Jawab) Prof. Dr. Zahrial Coto
1 2003 O.T.S.Ongkers Posted, 7 November 2003 Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor November 2003 Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penangkapan ikan merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan sejumlah hasil tangkapan, yaitu berbagai jenis ikan untuk memenuhi permintaan sebagai sumber
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan bahan pangan dan gizi yang lebih baik, permintaan ikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Permintaan ikan
Study Catches of Decpterus Fish (Decapterus Sp) With The Arrested Purse Seine in Samudera Fishing Port (Pps) Lampulo
Studi Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus Sp) Dengan Alat Tangkap Pukat Cincin (Purse Seine) Yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (Pps) Lampulo Study Catches of Decpterus Fish (Decapterus
Sumber daya ikan terubuk (Clupeidae: Tenualosa sp.) di perairan Pantai Pemangkat, Kalimantan Barat
Abstrak Sumber daya ikan terubuk (Clupeidae: Tenualosa sp.) di perairan Pantai Pemangkat, Kalimantan Barat Suwarso Balai Penelitian Perikanan Laut, Jakarta Jl. Muara Baru Jujung, Komple Pelabuhan Samudera
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 8, Nomor 2, Oktober 2012 KOMPOSISI KIMIA DAN PEMANFAATAN CACING LAUT SIA SIA YANG DIKONSUMSI MASYARAKAT DI PULAU NUSALAUT MALUKU TENGAH AKURASI METODE KRIGING
JURNAL PEMANFAATAN SUBERDAYA PERIKANAN
JURNAL PEMANFAATAN SUBERDAYA PERIKANAN Vol. 4 No. 1 Hal. 1-54 Ambon, Mei 2015 ISSN. 2085-5109 POTENSI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN TONGKOL (Auxis thazard) DI PERAIRAN KABUPATEN MALUKU TENGGARA The Potential
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang dan asosiasi biota penghuninya secara biologi, sosial ekonomi, keilmuan dan keindahan, nilainya telah diakui secara luas (Smith 1978; Salm & Kenchington
Penangkapan Tuna dan Cakalang... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.)
Penangkapan Tuna dan... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.) PENANGKAPAN TUNA DAN CAKALANG DENGAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP PANCING ULUR (HAND LINE) YANG BERBASIS DI PANGKALAN PENDARATAN
PENDAHULUAN. Common property & open acces. Ekonomis & Ekologis Penting. Dieksploitasi tanpa batas
30 mm 60 mm PENDAHULUAN Ekonomis & Ekologis Penting R. kanagurta (kembung lelaki) ~ Genus Rastrelliger spp. produksi tertinggi di Provinsi Banten, 4.856,7 ton pada tahun 2013, menurun 2.5% dari tahun 2010-2013
Catch per unit effort (CPUE) periode lima tahunan perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap 2(1): 1-8, Juni 2015 ISSN 2337-4306 Catch per unit effort (CPUE) periode lima tahunan perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung Catch per unit effort
spesies yaitu ikan kembung lelaki atau banyar (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma)(sujastani 1974).
7 spesies yaitu ikan kembung lelaki atau banyar (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma)(sujastani 1974). Ikan kembung lelaki terdiri atas ikan-ikan jantan dan betina, dengan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi perairan Teluk Jakarta Teluk Jakarta, terletak di sebelah utara kota Jakarta, dengan luas teluk 285 km 2, dengan garis pantai sepanjang 33 km, dan rata-rata
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 4.2 Keadaan Umum Perikanan di Sulawesi Utara
58 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Provinsi Sulawesi Utara Provinsi Sulawesi Utara dengan ibu kota Manado terletak antara 0 15 5 34 Lintang Utara dan antara 123 07 127 10 Bujur Timur,
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 13, Nomor, Oktober 17 KARAKTERISTIK FISIK-KIMIA BULU BABI Diadema setosum DARI BEBERAPA PERAIRAN PULAU AMBON TATA KELOLA PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Partisipatif Daerah Penangkapan Ikan kurisi dapat ditangkap dengan menggunakan alat tangkap cantrang dan jaring rampus. Kapal dengan alat tangkap cantrang memiliki
KAJIAN STOK IKAN PELAGIS KECIL DENGAN ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE DI PERAIRAN LEMPASING, LAMPUNG. Riena F. Telussa
KAJIAN STOK IKAN PELAGIS KECIL DENGAN ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE DI PERAIRAN LEMPASING, LAMPUNG Riena F. Telussa 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Satya Negara Indonesia Abstract Pelagic
RINGKASAN. Cumi-curni merupakan salah satu sumberdaya ikan yang bernilai ekonomis.
RINGKASAN SRI TURN1 HARTATI. Fluktuasi Musiman Hasil Tangkapan Cumi - Cumi (Loliginidae) di Perairan Selat Alas, NTB, dengan Komisi Pembimbing Wisnu Gunarso (Ketua), H. Ayodhyoa dan Subhat Nurhakim (Anggota).
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Perairan Teluk Jakarta merupakan sebuah teluk di perairan Laut Jawa yang terletak di sebelah utara provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Terletak
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Simping adalah kelompok moluska laut (bivalvia) yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan tersebut di antaranya sebagai sumber makanan, maupun bahan baku
7. PEMBAHASAN UMUM 7.1 Dinamika Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil
7. PEMBAHASAN UMUM 7.1 Dinamika Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil Terdapat 3 komponen utama dalam kegiatan penangkapan ikan, yaitu 1) teknologi (sumberdaya manusia dan armada), 2) sumberdaya ikan, 3)
7 KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN TELUK BONE
7 KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN TELUK BONE 7.1 Pendahuluan Menurut Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang perikanan bahwa pengelolaan perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Umum PPP Labuan, Banten Wilayah Kabupaten Pandeglang secara geografis terletak antara 6 0 21-7 0 10 Lintang Selatan dan 104 0 48-106 0 11 Bujur Barat dengan luas
POTENSI UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis) DI KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH. Abstrak
POTENSI UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis) DI KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH Oleh : Mustofa Niti Suparjo Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
ABSTRACT. Key word : bio-economic analysis, lemuru resources, bali strait, purse seine, resource rent tax, user fee
ABSTRACT ANDAN HAMDANI. Analysis of Management and Assessment User Fee on Utilization of Lemuru Resources In Bali Strait. Under direction of MOCH PRIHATNA SOBARI and WAWAN OKTARIZA Lemuru resources in
2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Ikan kuniran (Upeneus moluccensis).
5 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Kuniran 2.1.1 Klasifikasi Ikan Kuniran Upeneus moluccensis, Bleeker 1855 Dalam kaitan dengan keperluan pengkajian stok sumberdaya ikan, kemampuan untuk mengidentifikasi spesies
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah daratan 1,9 juta km 2 dan wilayah laut 5,8 juta km 2 dan panjang garis pantai 81.290 km, Indonesia memiliki potensi sumber
FISHING GEAR PERFORMANCE ON SKIPJACK TUNA IN BONE BAY DISTRICT LUWU
FISHING GEAR PERFORMANCE ON SKIPJACK TUNA IN BONE BAY DISTRICT LUWU Akmaluddin 1, Najamuddin 2 dan Musbir 3 1 Universitas Muhammdiyah Makassar 2,3 Universitas Hasanuddin e-mail : [email protected]
VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi
VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN Hasil analisis LGP sebagai solusi permasalahan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Organ reproduksi Jenis kelamin ikan ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap gonad ikan dan selanjutnya ditentukan tingkat kematangan gonad pada tiap-tiap
BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya laut baik hayati maupun non hayati, sehingga hal ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ditinjau dari luas wilayah laut, perairan Maluku memiliki berbagai sumberdaya laut baik hayati maupun non hayati, sehingga hal ini memungkinkan untuk dapat merangsang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perikanan pantai di Indonesia merupakan salah satu bagian dari sistem perikanan secara umum yang berkontribusi cukup besar dalam produksi perikanan selain dari perikanan
PENDAHULUAN. Malaysia, ZEE Indonesia India, di sebalah barat berbatasan dengan Kab. Pidie-
PENDAHULUAN Latar Belakang Wilayah Pengelolaan Perikanan 571 meliputi wilayah perairan Selat Malaka dan Laut Andaman. Secara administrasi WPP 571 di sebelah utara berbatasan dengan batas terluar ZEE Indonesia
