KERAGAMAN MOLEKULER DALAM SUATU POPULASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KERAGAMAN MOLEKULER DALAM SUATU POPULASI"

Transkripsi

1 KERAGAMAN MOLEKULER DALAM SUATU POPULASI EKO HANDIWIRAWAN Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Jalan Raya Pajajaran Kav E-59, Bogor ABSTRAK Variasi di dalam populasi terjadi sebagai akibat adanya keragaman di antara individu yang menjadi anggota populasi, yaitu adanya perbedaan ciri-ciri mengenai suatu karakter atau beberapa karakter yang dimiliki oleh individu-individu di dalam populasi. Variasi di alam dipengaruhi oleh empat faktor dimana untuk membedakannya merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan dalam beberapa kasus malah tidak mungkin dilakukan. Keempat faktor tersebut adalah (1) Variasi yang meningkat sebagai hasil dari mutasi yang berulang, (2) Variasi yang meningkat karena adanya aliran gen dari populasi yang lain (migrasi), (3) Variasi yang meningkat karena proses stokastik seperti genetic drift, dan (4) Variasi yang bertahan di dalam populasi oleh adanya seleksi. Adanya ciri yang bervariasi bisa diidentifikasi secara visual dari kenampakan morfologi (fenotipe) maupun yang lebih dalam lagi adalah variasi secara molekuler yang berkaitan dengan variasi di dalam protein dan DNA. Beberapa metode telah dikembangkan untuk menduga variasi pada level protein atau DNA. Variasi genetik yang diukur pada level protein (variasi alelik) dengan cara elektroforesis dapat diduga dengan menggunakan proporsi lokus yang polimorfik dan heterosigositas per lokus. Lokus disebut polimorfik jika frekuensi alel umum sama dengan atau kurang dari 0,99. Polimorfisme DNA berdasarkan sekuen fragmen DNA dapat dihitung berdasarkan jumlah nukleotida yang polimorfik tiap nukleotida yang diuji. Informasi keragaman dari suatu populasi dengan populasi yang lain dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti seleksi, pendugaan hubungan kekerabatan, penentuan asal usul ataupun penggolongan suatu spesies dalam taksonomi dan lain-lain. Kata kunci: Variasi, molekuler, populasi PENDAHULUAN Variasi merupakan suatu fenomena umum yang terdapat pada suatu populasi. Variasi di dalam populasi terjadi sebagai akibat adanya keragaman di antara individu yang menjadi anggota populasi, yaitu adanya perbedaan ciriciri mengenai suatu karakter atau beberapa karakter yang dimiliki oleh individu-individu di dalam populasi. Variasi yang dimiliki suatu populasi dengan populasi yang lain bisa dan sering tidak sama. Ciri variasi dari suatu populasi dapat menjadi ciri tertentu populasi tersebut yang membedakan populasi tersebut dengan populasi yang lain dalam satu spesies. Keragaman dapat terjadi pada beberapa tingkat, yaitu keragaman di dalam individu, di antara individu di dalam populasi, atau di antara populasi di dalam satu spesies. Variasi juga bisa dikaitkan dengan taksonomi di mana penggolongan suatu organisme adalah berdasarkan banyaknya kesamaan yang dimiliki kelompok organisme dibandingkan dengan kelompok yang lain. Keragaman yang dimiliki suatu populasi juga tidak selalu sama dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi. Adanya ciri yang bervariasi bisa diidentifikasi secara visual dari kenampakan morfologi (fenotipe) maupun yang lebih dalam lagi adalah variasi secara molekuler yang berkaitan dengan variasi di dalam protein dan bahan genetik (DNA). Baik variasi di dalam DNA, protein dan fenotipe dari suatu individu telah diketahui sebenarnya berkaitan erat. Bahan genetik yang terdapat di dalam sel melalui transkripsi dan translasi diekspresikan informasinya dalam beberapa bentuk terutama rangkaian asam amino (polipeptida) yang mempunyai berbagai fungsi di dalam metabolisme tubuh. Sebagai akibat dari hasil metabolisme tersebut adalah fenotipe yang menjadi ciri dari individu tersebut. Besarnya variasi fenotipe (morfologi) yang terlihat tidak berarti menggambarkan besarnya variasi di dalam bahan genetik, karena variasi dalam fenotipe dipengaruhi juga oleh lingkungan. Di lain pihak variasi di dalam bahan genetik tidak selalu diekspresikan (muncul) dalam level fenotipe yang cukup 138

2 bervariasi (hidden variation) karena beberapa hal yaitu tidak semua bahan genetik diekspresikan, adanya regulator pengekspresian, dan beberapa variasi dalam sekuens nukleotida menghasilkan produk (protein) yang sama. Penentuan level identifikasi (morfologi, protein atau DNA) untuk menentukan variasi di dalam populasi perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dan seberapa besar level yang dipilih itu dapat menggambarkan variasi yang sebenarnya. Informasi keragaman dari suatu populasi dengan populasi yang lain dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti seleksi, pendugaan hubungan kekerabatan, penentuan asal usul ataupun penggolongan suatu spesies dalam taksonomi. Faktor-faktor yang mempengaruhi variasi Teori mengenai variasi telah dikemukakan oleh Lamarck yang mengemukakan bahwa adanya variasi di dalam suatu populasi adalah sebagai hasil dari adanya kekuatan yang menghasilkan variasi dan kekuatan yang memelihara variasi dan menyebabkan organisme beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya (RIDLEY, 1991). BEARDMORE (1983) mengemukakan bahwa variasi di alam dipengaruhi oleh empat faktor dimana untuk membedakannya merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan dalam beberapa kasus malah tidak mungkin dilakukan. Keempat faktor tersebut adalah: 1. Variasi yang meningkat sebagai hasil dari mutasi yang berulang, 2. Variasi yang meningkat karena adanya aliran gen dari populasi yang lain (migrasi), 3. Variasi yang meningkat karena proses stokastik seperti genetic drift, 4. Variasi yang bertahan di dalam populasi oleh adanya seleksi. Mutasi merupakan sumber yang utama bagi adanya variasi genetik (HARTL, 1988; HARTL dan CLARK, 1989). Mutasi akan memunculkan alel-alel baru atau merubah struktur genom dan akhirnya menghasilkan keragaman genetik. Mutasi pada tingkat molekuler terjadi dalam beberapa cara, yaitu: (1) hasil penggantian satu pasang nukleotida dengan nukleotida yang lain (substitusi basa), (2) hasil delesi atau duplikasi dari sekuen nukleotida, dan (3) hasil dari transposisi sekuen DNA dari satu lokasi ke lokasi lain di dalam genom organisme. Penggantian/substitusi satu nukleotida tidak selalu menghasilkan perubahan pada produk asam amino. Penggantian satu nukleotida yang menghasilkan kodon sinonimnya tidak menghasilkan perubahan pada produk asam amino (substitusi sinonim). Namun demikian penggantian satu nukleotida yang menghasilkan kodon nonsinonim dapat mengakibatkan perubahan asam amino yang dihasilkan dan jika posisi asam amino ini berperan penting dalam menentukan fungsi enzim maka dapat menurunkan atau merusak fungsi dari enzim tersebut dalam metabolisme sehingga menyebabkan gangguan pada tubuh, seperti yang terjadi pada anemia sickle cell, albinisme, fenilketonuria (HARTL dan CLARK, 1989). Di samping itu jika penggantian nonsinonim ini menyebabkan stop kodon maka akan merusak fungsi dari produk gen tersebut. Mutasi yang disebabkan delesi dan transposisi dapat berakibat bermacam-macam. Delesi berarti terhapusnya satu basa atau segmen DNA dari genom sedangkan transposisi adalah berpindahnya segmen DNA dari satu lokasi ke lokasi lain di dalam genom individu tersebut. Apabila delesi terjadi pada sebagian dari segmen suatu gen maka gen tersebut akan menghasilkan polipeptida (enzim) yang kemungkinan besar bisa tidak berfungsi sedangkan apabila seluruh segmen gen terhapus maka berarti gen tersebut hilang dari individu tersebut. Kejadian transposisi terjadi diketahui pada segmen yang disebut dengan elemen loncat (transposable genetic element) yang dapat dibedakan menjadi insertion sequence dan transposon, yang telah diamati pertama kali terjadi pada jagung dan juga teramati pada Drosophila (SUZUKI et al., 1989). Laju mutasi secara alami (mutasi spontan) adalah sangat rendah, berkisar 10-4 sampai 10-6 mutasi per gen per generasi. Pengaruh kumulatif dapat menjadi terasa selama periode yang panjang (HARTL dan CLARK,, 1989). Bila mutasi yang terjadi tidak bersifat letal dan diwariskan ke generasi berikutnya maka akan meningkatkan variasi di dalam populasi dengan merubah frekuensi gen. Populasi di alam hampir selalu mempunyai frekuensi alel yang berbeda di antara satu 139

3 daerah dengan daerah yang lain (HARTL dan CLARK, 1989). Migrasi sebagian atau keseluruhan suatu populasi ke populasi lain yang mempunyai frekuensi alel berbeda akan menghasilkan frekuensi gen populasi gabungan (mengubah variasi genetik populasi). Berdasarkan prinsip WAHLUND, populasi gabungan ini akan mempunyai frekuensi alel sama dengan rataan frekuensi alel dari kedua populasi dan penurunan genotipe yang homosigot (HARTL dan CLARK, 1989). Random genetic drift dapat merubah frekuensi gen (terutama pada populasi kecil), karena dalam pembentukan gamet atau pembuahan terjadi peristiwa pencuplikan secara random yang menyimpang dari frekuensi gen yang ada sehingga mengubah frekuensi gen pada generasi berikutnya. Mutasi spontan terjadi secara acak dan tidak dapat diperkirakan (unpredictable). Kejadian mutasi sehingga membentuk kombinasi gen baru menyediakan bahan mentah bagi seleksi alam (LI, 1976). Mutasi dan seleksi merupakan dua kekuatan utama yang menggerakkan evolusi. Mutasi yang terjadi ini harus diwariskan dan disukai oleh seleksi alam sehingga frekuensinya meningkat dari generasi ke generasi. Seleksi alam pada dasarnya menyesuaikan frekuensi gen, dan memantapkan gen yang menghasilkan adaptasi sehingga memberi kemampuan untuk mereproduksi gen lain. Jika mutasi yang terjadi tidak sesuai dengan lingkungan dan merupakan alel yang merugikan maka seleksi alam akan mencegah frekuensi gen tersebut meningkat di dalam populasi sehingga tetap berada dalam frekuensi yang sangat rendah (HEDRICK, 1985). Seleksi buatan melalui campur tangan manusia juga dapat meningkatkan frekuensi gen tertentu dan biasanya diiringi dengan sebisa mungkin menyediakan lingkungan yang cocok dengan kelompok hewan terseleksi. Variasi molekuler Informasi genetik yang terdapat di dalam gen struktural diekspresikan melalui proses transkripsi dan translasi sehingga menghasilkan asam amino yang terangkai menjadi polipeptida (protein) dengan berbagai fungsi dalam metabolisme tubuh. Jika digolongkan menurut fungsinya maka protein yang terbentuk tersebut terdiri dari enzim, hormon, protein toksin, antibodi, protein sistem transportasi, protein sistem konstraksi, protein penyimpan dan cadangan, dan protein penyangga struktur. Fenotipe dan proses metabolisme individu ditentukan oleh proteinprotein tersebut, sehingga adanya variasi yang nampak di dalam populasi adalah merupakan indikasi bervariasinya protein-protein yang dimiliki oleh individu-individu di dalam populasi. Dengan telah diketahui adanya hubungan gen dengan protein (satu gen satu rantai polipeptida) maka variasi yang terjadi sebenarnya adalah merupakan variasi alel yang ada di dalam populasi dan lebih jauh lagi merupakan variasi di dalam sekuen DNA yang dimiliki individu anggota populasi. Berdasarkan uraian sebelumnya maka pendugaan variasi secara molekuler di dalam populasi dapat dilakukan pada dua level molekul, yaitu level molekul protein atau level molekul DNA. Beberapa metode telah dikembangkan untuk menduga variasi pada level protein atau DNA. 1. Polimorfisme protein Satu jenis protein adalah representasi dari lokus yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan, dengan demikian jika suatu protein terdeteksi maka dapat diperkirakan gen yang dimiliki di dalam individu tersebut. Akan tetapi tidak mungkin untuk mempelajari semua (protein) lokus yang dimiliki oleh suatu individu karena tidak diketahui seberapa banyak protein (lokus) yang dimiliki oleh individu (AYALA dan KIGER, 1980). Jalan keluar terbaik yang dilakukan adalah mengambil sampel beberapa jenis enzim (protein) yang tidak bias dan representatif bagi populasi tersebut sehingga dapat menggambarkan variasi atau polimorfisme yang terdapat di dalam populasi. Pengamatan polimorfisme protein antara lain dapat dilihat dari polimorfisme enzim, protein jaringan, protein plasma, protein susu, golongan darah dan sebagainya. Metode umum yang dapat diterapkan untuk memperlihatkan polimorfisme sejumlah besar enzim adalah metode elektroforesis. Metode ini dapat menemukan perubahan dalam struktur molekul enzim yang mengakibatkan perubahan 140

4 muatan listrik molekul. Walaupun demikian HARRIS (1994) mengemukakan bahwa terdapat beberapa enzim yang memberikan perbedaan aktivitas biokimia menyolok di antara fenotipe tetapi tanpa disertai perbedaan mobilitas pada saat elektroforesis, seperti kolinesterase dan dopamin-β-hidroksilase. Meskipun teknik elektroforesis merupakan teknik umum dan paling kuat untuk menemukan varian alelik, namun taksiran jumlah macam alel dan banyaknya heterosigositas pada berbagai lokus yang diperoleh terkadang under estimate dari keadaan sesungguhnya. HARRIS (1994) mengemukakan beberapa hal mengapa bisa demikian, yaitu : a. Polimorfisme yang timbul akibat substitusi basa tunggal yang tidak menghasilkan perubahan asam amino (polimorfisme kodon sinonim) tidak akan dapat ditemukan dengan elektroforesis. b. Hanya sebagian mutan dengan penggantian asam amino tunggal ditemukan dalam elektroforesis. Di mana banyak penggantian asam amino tunggal ini tidak menyebabkan perubahan muatan listrik sehingga tidak akan menunjukkan perubahan mobilitas elektroforetik. c. Penggantian dua asam amino yang berbeda dalam suatu enzim dapat menghasilkan perubahan yang sama dalam mobilitas elektroforetik. d. Teknik elektroforesis mempunyai kekuatan yang sangat beraneka ragam sebagai pembeda enzim yang beraneka ragam dan masih terus dikembangkan. Teknik yang kurang mencukupi dapat menyebabkan varian sesungguhnya tidak ditemukan. e. Karena sebab lain yang agak kurang jelas. Diketahui alel mutan tertentu menyebabkan hilangnya atau berkurangnya aktivitas enzim sehingga pewarnaan yang dirancang tidak dapat menemukan aktivitas enzim yang diselidiki. Perbedaan-perbedaan biokimia yang diatur secara genetis yang lain adalah faktor antigen yang dibawa oleh sel darah merah dan ini umumnya disebut dengan golongan darah (WARWICK et al., 1990). Perbedaan ini pada awalnya karena adanya fenomena di mana percampuran suspensi sel darah merah yang berasal dari beberapa individu jika dicampur dengan serum darah dari beberapa individu lain akan mengakibatkan penggumpalan atau tidak terjadi penggumpalan (tidak terpengaruh). Tabel 1. Perkiraan jumlah faktor darah, cara penentuan yang dianjurkan, dan sistem fenotipik golongan darah yang dikenal pada beberapa hewan Spesies Perkiraan jumlah faktor darah Urutan pilihan cara penentuan Sistem fenotipik golongan darah yang diakui Sapi 80 Hanya hemolisis 12 sistem: A(10), B(500), C(70), FV(5), J/J-Oc(4), L(2), M(3), N(2), S/S-U(8), Z(3), R -S (3), T (2) Anjing 9 Aglutinasi Hemolisis (hanya A1) 9 faktor darah: A1, A2, B, C, D, E, F, G, dan Tr (masih harus digolongkan sistem fenotipiknya) Kuda 20 Hemolisis Aglutinasis 8 sistem: A(5), C(2), D(6), K(2), P(3), O(6), T(2), dan U(2) Babi 60 Aglutinasi + Hemolisis 15 sistem: A-O (A lokus 2; S lokus 2), B(2), C(2), D(2), E(13), F(3), G(2), H(6), I(2), FJ(3), K(5), L(6), M(9), N(3), dan O(2) Domba 50 Hemolisis Aglutinasi Aglutinasi (hanya untuk D) ( ) jumlah alel minimum 7 sistem : A(2), B(60), C(3), D(2), M(4), R-O(R lokus 2; I lokus 2), dan X-Z(2) 141

5 Selanjutnya diketahui bahwa penggumpalan tadi disebabkan pengikatan zat antigenik tertentu pada permukaan sel darah merah dengan antibodi khusus (imunoglobulin) yang terdapat di dalam serum. Dengan uji peggumpalan silang menggunakan sel darah merah dan sera dari individu sehat normal maka memungkinkan untuk menggolonggolongkan individu tersebut. Golongan darah hewan-hewan peternakan telah diketahui mengandung banyak jumlah faktor (antigen) yang berbeda dan jumlah alel yang banyak dalam banyak rangkaian alel ganda sehingga memungkinkan jumlah golongan darah yang sangat banyak di dalam suatu spesies (WARWICK et al., 1990) seperti terlihat pada Tabel Polimorfisme DNA Variasi genetik pada level DNA dapat ditemukan pada DNA inti atau DNA mitokondria dengan melihat variasi situs pemotongan atau dengan cara melakukan sekuen DNA. Cara yang pertama umumnya menggunakan enzim restriksi endonuklease (RE) (tipe II) yang mempunyai situs yang khas untuk melakukan pemotongan pada suatu sekuens DNA sedangkan cara kedua adalah mencari urutan basa sekuens DNA dengan menggunakan mesin sequencer DNA. Banyak enzim RE yang telah tersedia yang dapat digunakan untuk memotong DNA dengan panjang situs pengenalan antara 4 sampai 8 basa. DNA yang diinkubasi bersama enzim RE dalam suhu dan larutan buffer yang sesuai dengan kemampuan kerja optimal enzim, akan dipotong pada situs-situs yang dikenal oleh enzim RE sehingga sekuens DNA terpisah menjadi fragmen-fragmen DNA. Fragmen-fragmen DNA ini dapat diseparasi dengan proses elektroforesis gel sehingga akan nampak pita-pita fragmen yang dihasilkan sesuai hasil potongan enzim RE. Sekuen DNA pada individu yang berbeda akan bervariasi maka situs pemotongan dari enzim RE bisa ada atau tidak ada dalam sekuen DNA yang diuji, yang akan direfleksikan dengan ada atau tidak adanya pita-pita DNA pada gel elektroforesis. Dengan demikian pada pengujian dari beberapa individu akan diperoleh beberapa variasi situs pemotongan atau polimorfisme potongan DNA, sehingga metode ini dinamakan Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) (HARTL dan CLARK, 1989; PRIMROSE, 1995). Biasanya untuk memilih fragmen tertentu dan memperbanyak fragmen tersebut untuk kemudian dipotong dengan enzim metode ini dikombinasikan dengan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) sehingga dinamakan PCR-RFLP. Jika pita protein dari dua individu bermigrasi sama dalam elektroforesis protein atau pola fragmen restriksi dari gen terlihat sama, belum bisa dipastikan bahwa alel tersebut identik. Untuk itu perlu dilakukan sekuensing DNA sehingga diketahui sekuen fragmen DNA yang dimaksud dan hasilnya dapat bervariasi di antara individu yang diuji. Dalam proses sekuensing DNA diperlukan sejumlah kecil DNA target yang telah dipurifikasi. Ada dua metode utama untuk sekuensing DNA, yaitu metode Maxam-Gilbert dan metode Sanger Dideoxy Chain- Termination. Metode Sanger Dideoxy Chain- Termination lebih umum digunakan, lebih sederhana, lebih cepat dan lebih akurat (HARTL dan CLARK, 1989). Tiap metode menyangkut pembuatan serangkaian utas tunggal berlabel yang panjangnya bervariasi, dimulai dari salah satu ujung fragmen yang sedang disekuen. Elektroforesis utas-utas tersebut pada gel poliakrilamida memisahkan utas tersebut berdasarkan ukurannya, yang menghasilkan tangga pita berlabel, dengan tiap pita mewakili tersekuennya satu basa. Jika radioaktif digunakan dalam pelabelan, gel tersebut kemudian dikeringkan dan dilekatkan pada film x-ray yang akan mencatat keberadaan tiap pita pada autoradiograf yang dihasilkan. Fluorescen yang diaktifkan dengan sinar laser juga dapat digunakan sebagai pelabel. Sekali pita-pita tersebut telah divisualisasikan melalui kedua sistem pelabelan itu, sekuen basa pada fragmen dapat dibaca secara langsung dari tangga pita. Dengan metode Maxam-Gilbert dapat disekuen sekitar 250 basa sedangkan dengan metode Sanger dapat disekuen sekitar 1000 basa. Metode untuk menduga variasi Genom organisme tingkat tinggi mungkin memiliki sampai lokus struktural 142

6 (NEI, 1987). Untuk menentukan variabilitas secara pasti maka harus dipelajari seluruh lokus yang ada tersebut. Dalam praktek tidak mungkin untuk melakukan hal tersebut sehingga hanya diambil sampel proporsi kecil dari gen untuk memperkirakan variabilitas genetik yang ada. Lokus yang akan diuji untuk melihat variabilitas biasanya diambil secara random dan pilihan lokus biasanya berdasarkan kepada ketersediaan teknik pewarnaan untuk protein yang dikode. Hasil yang diperoleh dapat diandalkan jika lokus yang diuji per individu cukup besar akan tetapi jika lokus yang diuji relatif kecil maka jumlah individu yang diuji harus cukup besar. NEI (1987) mengemukakan jika lokus yang diuji 25 maka dianjurkan paling sedikit 20 atau 30 individu diuji untuk setiap lokusnya. Variasi genetik yang diukur pada level protein (variasi alelik) dengan cara elektroforesis dapat diduga dengan menggunakan proporsi lokus yang polimorfik dan heterosigositas per lokus. Lokus disebut polimorfik jika frekuensi alel umum sama dengan atau kurang dari 0,99. Ukuran ini kurang baik untuk mengukur variasi genetik seandainya ukuran sampel kecil (kurang dari 50) karena tidak merepresentasikan populasi, di samping itu jika jumlah lokus yang diuji kecil maka porporsi lokus polimorfik dapat memberikan sampling error yang besar dan menjadi tak bermanfaat (NEI, 1987). Ukuran yang lebih tepat untuk menduga variasi genetik adalah rataan heterosigositas. Rumus pendugaan heterosigositas (H) adalah: H = 1 - m 2 x i i=1 di mana: x i = frekuensi alel ke-i pada sebuah lokus; m = jumlah alel Data dari hasil pemotongan enzim RE terhadap sekuen DNA dari beberapa individu di dalam populasi yang diukur variasi genetiknya juga dapat dihitung polimorfisme dan heterosigositasnya dengan rumus Proporsi nukleotida polimorfik (P nuc ) dan Heterosigositas per nukleotida (H nuc ). Rumus Proporsi nukleotida polimorfik (P nuc ) dan Heterosigositas per nukleotida (H nuc ) (HARTL dan CLARK, 1989) adalah sebagai berikut: P nuc = c n ( m k ) jc nc c H nuc 2 i = jc( n 1) di mana: n = jumlah molekul DNA homolog; m = jumlah situs pemotongan (situs di mana pemotongan terjadi pada setidaktidaknya 1 molekul dalam sampel); c i = jumlah molekul di dalam sampel yang dipotong (i = 1, 2, 3,..., m) k = jumlah situs pemotongan yang tidak ada dalam sekurang-kurangnya 1 anggota sampel; j = jumlah nukleotida di dalam situs restriksi (biasanya 4-8); Polimorfisme DNA berdasarkan sekuen fragmen DNA dapat dihitung berdasarkan jumlah nukleotida yang polimorfik tiap nukleotida yang diuji (NEI, 1987). Rumus yang digunakan adalah : P n = S n mt di mana: S n = jumlah lokasi polimorfik per sekuen; m T = total jumlah nukleotida yang diuji Penggunaan informasi variasi Salah satu tujuan utama populasi genetik adalah untuk menggambarkan sejumlah variasi genetik di dalam populasi. Banyak studi tentang variasi genetik di dalam populasi dilakukan dengan manfaat yang besar, pengetahuan tentang informasi variasi genetik di dalam populasi sekurang-kurangnya memberikan manfaat seperti berikut: a. Beberapa studi telah menunjukkan adanya variasi genetik pada resistensi inang (host) terhadap beberapa penyakit. NICHOLAS (1987) mereview hal tersebut di mana terdapat variasi genetik resistensi penyakit Marek pada ayam, resistensi penyakit neonatal scours pada babi, resistensi cacing dan blowflies pada domba, resistensi kutu (tick) pada sapi. Dengan demikian memungkinkan melakukan seleksi terhadap kelompok ternak yang 143

7 resistensi terhadap suatu penyakit sehingga dapat mengurangi biaya produksi. b. Variasi genetik di dalam sub populasi dapat digunakan untuk menduga hubungan kekerabatan (hubungan filogenetis) di antara sub populasi yang lain sehingga dapat mengungkap sejarah berpisahnya kedua subpopulasi (NEI, 1987; WARWICK et al., 1990). c. Penentuan asal usul suatu populasi dapat diperkirakan dengan adanya informasi variasi genetik dan waktu divergensi (terpisahnya) di antara subpopulasi (spesies) yang lain (NEI, 1987; WARWICK et al., 1990). d. Studi variasi genetik menggunakan teknik biologi molekuler pada suatu spesies memungkinkan revisi kembali penggolongan spesies dalam taksonomi klasik (yang berdasarkan perbandingan morfologi, anatomi dan embriologi) (HARTL dan CLARK, 1989). KESIMPULAN Studi tentang variasi genetik di dalam genetika populasi berkembang seiring dengan perkembangan dari teknik-teknik atau metodemetode baru dalam mendeteksi adanya variasi. Varian-varian baru terkadang ditemukan setelah ditemukannya teknik atau metode yang lebih baru yang pada studi sebelumnya ditemukan tidak polimorfik. Obyek dalam studi variasi genetik sedemikian besar sehingga dalam studi ini perlu diperhatikan bahwa jumlah individu dan lokus yang diuji harus cukup besar sehingga hasil yang diperoleh dapat representatif untuk menduga variasi genetik di dalam populasi. Variasi molekuler dapat dilihat berdasarkan polimorfisme protein atau DNA. Hasil studi variasi genetik secara molekuler dapat melengkapi informasi/ pengetahuan yang telah ditemukan melalui disiplin/pendekatan lain sehingga dapat mengungkap lebih jelas dinamika variasi di dalam populasi. Informasi keragaman dari suatu populasi dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti seleksi, pendugaan hubungan kekerabatan, penentuan asal usul ataupun penggolongan suatu spesies dalam taksonomi dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA AYALA, F. J. and J. A. KIGER JR Modern Genetics. The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. California. BEARDMORE, J. A Extinction, Survival, and Genetic Variation. In: Genetics and Conservation. C. M. SCHONEWALD-COX, S. M. CHAMBERS, B. MACBRYDE, and W.L. THOMAS (Editor). The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. London. HARRIS, H Dasar-dasar Genetika Biokemis Manusia. Edisi Ketiga. Diterjemahkan A. S. M. SOFRO. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. HARTL, D. L A Primer of Population Genetics. 2nd ed. Sinauer Associates, Inc. Sunderland, Massachusetts. HARTL, D. L. and A. G. CLARK Principles of Population Genetics. 2nd ed. Sinauer Associates, Inc. Sunderland, Massachusetts. HEDRICK, P. W Genetics of Populations. Jones and Bartlett Publishers, Inc. Boston. LI, C. C First Course in Population Genetics. The Boxwood Press. Pacific Grove. California. NEI, M Molecular Evolutionary Genetics. Columbia University Press. New York. NICHOLAS, F. W Veterinary Genetics. Oxford University Press Inc. New York. PRIMROSE, S. B Principles of Genome Analysis : A Guide to Mapping and Sequencing DNA from Different Organisms. Blackwell Science Ltd. Oxford. RIDLEY, M Masalah-masalah Evolusi. Diterjemahkan A. F. SAIFUDDIN. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. SUZUKI, D. T., A. J. F. GRIFFITHS, J. H. MILLER, and R. C. LEWONTIN An Introduction to Genetic Analysis. 4th ed. W. H. FREEMAN and Company. New York. WARWICK, E. J., J. M. ASTUTI, dan W. HARDJOSUBROTO Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 144

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Calpastatin (CAST MspI) Amplifikasi fragmen gen calpastatin (CAST MspI) pada setiap bangsa sapi dilakukan dengan menggunakan mesin thermal cycler (AB Bio System) pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen FSHR Alu-1 Amplifikasi fragmen gen FSHR Alu-1 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan dengan kondisi annealing 60 C selama 45 detik dan diperoleh produk

Lebih terperinci

Gambar 5. Hasil Amplifikasi Gen Calpastatin pada Gel Agarose 1,5%.

Gambar 5. Hasil Amplifikasi Gen Calpastatin pada Gel Agarose 1,5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Calpastatin (CAST AluI) Amplifikasi fragmen gen CAST AluI dilakukan dengan menggunakan mesin PCR dengan kondisi annealing 60 0 C selama 45 detik, dan diperoleh produk

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM S I L A B U S

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM S I L A B U S UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM S I L A B U S JURUSAN : Biologi MATA KULIAH : Biologi Molekuler 1.1. Nama Mata Kuliah : Biologi Molekuler 1.2. Kode Mata Kuliah :

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Kalimantan Tengah

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Kalimantan Tengah TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Kalimantan Tengah Berdasarkan aspek pewilayahan Kalimantan Tengah mempunyai potensi besar untuk pengembangan peternakan dilihat dari luas lahan 153.564 km 2 yang terdiri atas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam meningkatkan nilai

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam meningkatkan nilai 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam meningkatkan nilai ekonomi untuk budidaya sapi pedaging. Sapi Pesisir dan sapi Simmental merupakan salah satu jenis

Lebih terperinci

BIO306. Prinsip Bioteknologi

BIO306. Prinsip Bioteknologi BIO306 Prinsip Bioteknologi KULIAH 7. PUSTAKA GENOM DAN ANALISIS JENIS DNA Konstruksi Pustaka DNA Pustaka gen merupakan sumber utama isolasi gen spesifik atau fragmen gen. Koleksi klon rekombinan dari

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang paling banyak terdapat di Amerika Serikat, sekitar 80-90% dari seluruh sapi perah yang berada di sana.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI 1 GENETIKA DASAR 1

DAFTAR ISI 1 GENETIKA DASAR 1 DAFTAR ISI 1 GENETIKA DASAR 1 Kromosom Meiosis Dan Mitosis Biokimia Sifat Keturunan Apakah Gen Itu? Regulasi Gen Mutasi Gen, Alel, dan Lokus Pewarisan Sederhana atau Mendel Keterpautan (Linkage) Inaktivasi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3 HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3 Amplifikasi gen Pit1 exon 3 pada sapi FH yang berasal dari BIB Lembang, BBIB Singosari, BPPT Cikole,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. dikenal dengan sebutan sapi kacang atau sapi kacangan, sapi pekidulan, sapi

PENDAHULUAN. dikenal dengan sebutan sapi kacang atau sapi kacangan, sapi pekidulan, sapi I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi Pasundan merupakan sapi lokal di Jawa Barat yang diresmikan pada tahun 2014 oleh Menteri pertanian (mentan), sebagai rumpun baru berdasarkan SK Nomor 1051/kpts/SR.120/10/2014.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan sebagai salah satu sumber protein hewani mengandung semua jenis asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh manusia (Suhartini dan Nur 2005 dalam Granada 2011),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan hasil perikanan yang beranekaragam, sehingga mendatangkan devisa negara yang cukup besar terutama dari

Lebih terperinci

Paramita Cahyaningrum Kuswandi* FMIPA UNY 2012

Paramita Cahyaningrum Kuswandi* FMIPA UNY 2012 MK. GENETIKA (BIOLOGI SEM 4) Kuswandi* FMIPA UNY 2012 Email *: [email protected] 2 1. From Mendel to DNA 2. The double helix 3. Genomics 4. The impact of genetic engineering 5. Model organisms 6. The

Lebih terperinci

STRUKTUR GENETIK POPULASI

STRUKTUR GENETIK POPULASI STRUKTUR GENETIK POPULASI Genetika Populasi Secara umum keprihatinan genetik tersebut konstitusi genetik organisme dan hukum yang mengatur transmisi turun-temurun ini informasi dari satu generasi ke generasi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen GH Exon 4 Amplifikasi gen GH exon 4 pada kambing Peranakan Etawah (PE), Saanen dan PESA (Persilangan PE-Saanen) diperoleh panjang fragmen 200 bp (Gambar 8). M 1 2 3

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. divisualisasikan padaa gel agarose seperti terlihat pada Gambar 4.1. Ukuran pita

HASIL DAN PEMBAHASAN. divisualisasikan padaa gel agarose seperti terlihat pada Gambar 4.1. Ukuran pita IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Amplifikasi Gen Mx Amplifikasi gen Mx telah berhasil dilakukan. Hasil amplifikasi gen Mx divisualisasikan padaa gel agarose seperti terlihat pada Gambar 4.1. Ukuran pita yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen GH Exon 2

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen GH Exon 2 HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen GH Exon 2 Gen GH exon 2 pada ternak kambing PE, Saanen, dan persilangannya (PESA) berhasil diamplifikasi menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Pasangan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Usaha peternakan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam secara umum telah dilakukan secara turun temurun meskipun dalam jumlah kecil skala rumah tangga, namun usaha tersebut telah

Lebih terperinci

DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN

DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN Darda Efendi, Ph.D Nurul Khumaida, Ph.D Sintho W. Ardie, Ph.D Departemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta, IPB 2013 Marka = tanda Marka (marka biologi) adalah sesuatu/penanda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar belakang. orang yang sudah meninggal, kegunaan golongan darah lebih tertuju pada

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar belakang. orang yang sudah meninggal, kegunaan golongan darah lebih tertuju pada 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar belakang Golongan darah sistem ABO yang selanjutnya disebut golongan darah merupakan salah satu indikator identitas seseorang. Pada orang hidup, golongan darah sering digunakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Management of Farm Animal Genetic Resources. Tujuannya untuk melindungi dan

I. PENDAHULUAN. Management of Farm Animal Genetic Resources. Tujuannya untuk melindungi dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perserikatan Bangsa Bangsa telah mendirikan FAO Global Strategy for the Management of Farm Animal Genetic Resources. Tujuannya untuk melindungi dan mengatur pemanfaatan

Lebih terperinci

ANALISIS SIDIK DNA (DNA Fingerprinting) RFLP (Restriction Fragmen Length Polymorphism)

ANALISIS SIDIK DNA (DNA Fingerprinting) RFLP (Restriction Fragmen Length Polymorphism) ANALISIS SIDIK DNA (DNA Fingerprinting) RFLP (Restriction Fragmen Length Polymorphism) Laurencius Sihotang I. Tujuan Mempelajari cara teknik RFLP(Restriction Fragmen Length Polymorphism) Menganalisis pola

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Hormon Pertumbuhan (GH) Amplifikasi gen hormon pertumbuhan pada sapi FH yang berasal dari BIB Lembang, BBIB Singosari, dan BET Cipelang; serta sapi pedaging (sebagai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sumber :

TINJAUAN PUSTAKA. Sumber : TINJAUAN PUSTAKA Sapi Friesian Holstein Sapi Friesian Holstein merupakan bangsa sapi perah yang banyak terdapat di Amerika Serikat dengan jumlah sekitar 80-90% dari seluruh sapi perah yang ada. Sapi ini

Lebih terperinci

Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc.

Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc. BIO210 Mikrobiologi Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc. Kuliah 10. GENETIKA MIKROBA Genetika Kajian tentang hereditas: 1. Pemindahan/pewarisan sifat dari orang tua ke anak. 2. Ekspresi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Indonesia TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki banyak bangsa sapi dan hewan-hewan lainnya. Salah satu jenis sapi yang terdapat di Indonesia adalah

Lebih terperinci

KATAPENGANTAR. Pekanbaru, Desember2008. Penulis

KATAPENGANTAR. Pekanbaru, Desember2008. Penulis KATAPENGANTAR Fuji syukut ke Hadirat Allah SWT. berkat rahmat dan izin-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang beijudul "Skrining Bakteri Vibrio sp Penyebab Penyakit Udang Berbasis Teknik Sekuens

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Variasi pada jengger ayam

Gambar 1.1. Variasi pada jengger ayam Uraian Materi Variasi Genetik Terdapat variasi di antara individu-individu di dalam suatu populasi. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan genetis. Mutasi dapat meningkatkan frekuensi alel pada individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hemoglobinopati adalah kelainan pada sintesis hemoglobin atau variasi

BAB I PENDAHULUAN. Hemoglobinopati adalah kelainan pada sintesis hemoglobin atau variasi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hemoglobinopati adalah kelainan pada sintesis hemoglobin atau variasi struktur hemoglobin yang menyebabkan fungsi eritrosit menjadi tidak normal dan berumur pendek.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jenis kelamin menjadi salah satu studi genetik yang menarik pada tanaman

I. PENDAHULUAN. Jenis kelamin menjadi salah satu studi genetik yang menarik pada tanaman I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jenis kelamin menjadi salah satu studi genetik yang menarik pada tanaman dioecious. Jenis kelamin betina menjamin keberlangsungan hidup suatu individu, dan juga penting

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Materi Sapi Perah FH

MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Materi Sapi Perah FH 62 MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama sembilan bulan, yaitu dari bulan Oktober 2009 sampai dengan Juni 2010. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler,

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan disajikan hasil dan pembahasan berdasarkan langkah-langkah penelitian yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya dalam empat bagian yang meliputi; sampel mtdna,

Lebih terperinci

TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA

TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA Oleh: Gregorius Widodo Adhi Prasetyo A2A015009 KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik yang dikenal saat ini adalah hasil penjinakan itik liar (Anas Boscha atau

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik yang dikenal saat ini adalah hasil penjinakan itik liar (Anas Boscha atau PENGANTAR Latar Belakang Itik yang dikenal saat ini adalah hasil penjinakan itik liar (Anas Boscha atau Wild Mallard). Proses penjinakan telah terjadi berabad-abad yang lalu dan di Asia Tenggara merupakan

Lebih terperinci

ABSTRAK Polimorfisme suatu lokus pada suatu populasi penting diketahui untuk dapat melihat keadaan dari suatu populasi dalam keadaan aman atau

ABSTRAK Polimorfisme suatu lokus pada suatu populasi penting diketahui untuk dapat melihat keadaan dari suatu populasi dalam keadaan aman atau ABSTRAK Polimorfisme suatu lokus pada suatu populasi penting diketahui untuk dapat melihat keadaan dari suatu populasi dalam keadaan aman atau terancam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Virus Hepatitis B Gibbon Regio Pre-S1 Amplifikasi Virus Hepatitis B Regio Pre-S1 Hasil amplifikasi dari 9 sampel DNA owa jawa yang telah berstatus serologis positif terhadap antigen

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mahoni dan mimba. Hasil seleksi primer yang dilakukan terhadap 13 primer spesifik dari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mahoni dan mimba. Hasil seleksi primer yang dilakukan terhadap 13 primer spesifik dari BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Amplifikasi silang jenis Mindi Amplifikasi DNA merupakan proses penggandaan DNA dimana basa penyusun DNA direplikasi dengan bantuan primer. Primer merupakan potongan rantai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. murni yang masih sedikit dan wawasan peternak masih sangat minim dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. murni yang masih sedikit dan wawasan peternak masih sangat minim dalam 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Lokal Ayam lokal di Indonesia telah lama dikembangkan oleh masyarakat Indonesia dan biasanya sering disebut dengan ayam buras. Ayam buras di Indonesia memiliki perkembangan

Lebih terperinci

II. TELAAH PUSTAKA. 6. Warna buah Buah masak fisiologis berwarna kuning (Sumber : diolah dari berbagai sumber dalam Halawane et al.

II. TELAAH PUSTAKA. 6. Warna buah Buah masak fisiologis berwarna kuning (Sumber : diolah dari berbagai sumber dalam Halawane et al. 4 II. TELAAH PUSTAKA Jabon (Neolamarckia sp.) merupakan tanaman yang tumbuh di daerah beriklim muson tropika seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Jabon juga ditemukan tumbuh di Sri Lanka,

Lebih terperinci

Bimbingan Olimpiade SMA. Paramita Cahyaningrum Kuswandi ( FMIPA UNY 2012

Bimbingan Olimpiade SMA. Paramita Cahyaningrum Kuswandi (  FMIPA UNY 2012 Bimbingan Olimpiade SMA Paramita Cahyaningrum Kuswandi (email : [email protected]) FMIPA UNY 2012 Genetika : ilmu yang memperlajari tentang pewarisan sifat (hereditas = heredity) Ilmu genetika mulai berkembang

Lebih terperinci

Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Ria Maria

Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Ria Maria Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Ria Maria Ria Maria (G34090088), Achmad Farajallah, Maria Ulfah. 2012. Karakterisasi Single Nucleotide Polymorphism Gen CAST pada Ras Ayam Lokal. Makalah Kolokium

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. masyarakat terhadap konsumsi susu semakin meningkat sehingga menjadikan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. masyarakat terhadap konsumsi susu semakin meningkat sehingga menjadikan PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor peternakan memegang peran yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama pada ternak penghasil susu yaitu sapi perah. Menurut Direktorat Budidaya Ternak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging

Lebih terperinci

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA SILABI Fakultas : FMIPA Program studi : Biologi Mata Kuliah / Kode : Genetika Molekuler / SBG 252 Jumlah SKS : Teori = 2 ; Praktek = 0 Semester : Gasal (5) Mata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rantai globin, yaitu gen HBA yang menyandi α-globin atau gen HBB yang

BAB I PENDAHULUAN. rantai globin, yaitu gen HBA yang menyandi α-globin atau gen HBB yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Thalassemia merupakan kelainan genetik dengan pola pewarisan autosomal resesif yang disebabkan karena adanya mutasi pada gen penyandi rantai globin, yaitu gen HBA yang

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler, Bagian Pemuliaan dan Genetika Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Profil RAPD Keanekaragaman profil RAPD meliputi jumlah fragmen dan ukuran fragmen DNA. Hasil amplifikasi dengan menggunakan tiga primer (OPA-2, OPC- 2, dan OPC-5)

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tersebar luas di Daratan Asia Tenggara, Lempeng Sunda, Kepulauan Filipina, dan daerah Wallacea Selatan. Monyet ekor panjang di Indonesia

Lebih terperinci

ANALISIS KERAGAMAN GENETIK MUTAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) HASIL PERLAKUAN MUTAGEN KOLKISIN BERDASARKAN PENANDA MOLEKULER RAPD

ANALISIS KERAGAMAN GENETIK MUTAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) HASIL PERLAKUAN MUTAGEN KOLKISIN BERDASARKAN PENANDA MOLEKULER RAPD ANALISIS KERAGAMAN GENETIK MUTAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) HASIL PERLAKUAN MUTAGEN KOLKISIN BERDASARKAN PENANDA MOLEKULER RAPD Herdiyana Fitriani Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP

Lebih terperinci

PENGENALAN BIOINFORMATIKA

PENGENALAN BIOINFORMATIKA PS-S1 Jurusan Biologi, FMIPA, UNEJ (2017) PENGENALAN BIOINFORMATIKA Oleh: Syubbanul Wathon, S.Si., M.Si. Pokok Bahasan Sejarah Bioinformatika Istilah-istilah biologi Pangkalan data Tools Bioinformatika

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. banteng liar. Para ahli meyakini bahwa penjinakan tersebut telah dilakukan sejak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. banteng liar. Para ahli meyakini bahwa penjinakan tersebut telah dilakukan sejak BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Sapi Bali Sapi bali (Bos Sondaicus) adalah sapi asli Indonesia hasil domestikasi banteng liar. Para ahli meyakini bahwa penjinakan tersebut telah dilakukan sejak

Lebih terperinci

BAB VIII PEMBAHASAN UMUM

BAB VIII PEMBAHASAN UMUM BAB VIII PEMBAHASAN UMUM Pengembangan tanaman pisang di Indonesia masih terus berlangsung walaupun menghadapi beberapa kendala baik kendala teknis maupun non teknis. Kendala non teknis berupa makin berkurangnya

Lebih terperinci

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA SILABI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA SILABI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA SILABI FRM/FMIPA/063-01 18 Februari 2011 Fakultas : FMIPA Program studi : Biologi Mata Kuliah / Kode : Genetika Molekuler / SBG 252 Jumlah SKS : Teori = 2 ;

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN M

III. HASIL DAN PEMBAHASAN M III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil 3.1.1. Profil RAPD Keragaman profil penanda DNA meliputi jumlah dan ukuran fragmen DNA. Hasil amplifikasi dengan menggunakan primer OPA-02, OPC-02, OPC-05 selengkapnya

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105) PENGENALAN MUTAN. Tanggal praktikum : 12 September 2014 Tangga pengumpulan : 19 September 2014

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105) PENGENALAN MUTAN. Tanggal praktikum : 12 September 2014 Tangga pengumpulan : 19 September 2014 LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105) PENGENALAN MUTAN Tanggal praktikum : 12 September 2014 Tangga pengumpulan : 19 September 2014 disusun oleh: Jessica Esther 10613067 Kelompok 5 Asisten: Mia Audina (10611026)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Daerah D-loop M B1 B2 B3 M1 M2 P1 P2 (-)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Daerah D-loop M B1 B2 B3 M1 M2 P1 P2 (-) HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Daerah D-loop Amplifikasi daerah D-loop DNA mitokondria (mtdna) pada sampel DNA sapi Bali, Madura, Pesisir, Aceh, dan PO dilakukan dengan menggunakan mesin PCR Applied

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Suprijatna dkk. (2005) mengemukakan taksonomi ayam kampung adalah

TINJAUAN PUSTAKA. Suprijatna dkk. (2005) mengemukakan taksonomi ayam kampung adalah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum tentang Ayam Kampung Suprijatna dkk. (2005) mengemukakan taksonomi ayam kampung adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia, Phylum : Chordata, Subphylum : Vertebrata,

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Variasi Gen COI dan Gen COII S. incertulas di Jawa dan Bali

PEMBAHASAN Variasi Gen COI dan Gen COII S. incertulas di Jawa dan Bali 41 PEMBAHASAN Variasi Gen COI dan Gen COII S. incertulas di Jawa dan Bali Sekuen individu S. incertulas untuk masing-masing gen COI dan gen COII dapat dikelompokkan menjadi haplotipe umum dan haplotipe-haplotipe

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DNA Mitokondria Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga sistem organ. Dalam sel mengandung materi genetik yang terdiri dari DNA dan RNA. Molekul

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi. Tabel 1. Jumah Sampel Darah Ternak Sapi Indonesia Ternak n Asal Sapi Bali 2 4

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi. Tabel 1. Jumah Sampel Darah Ternak Sapi Indonesia Ternak n Asal Sapi Bali 2 4 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetika Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. penelitian ini

Lebih terperinci

Universitas Gadjah Mada

Universitas Gadjah Mada Nama Mata Kuliah Kode/SKS Prasyarat Status Mata Kuliah : Dasar-Dasar Genetika : PNB 2101/3 SKS : Biologi Umum : Wajib Fakultas Deskripsi Singkat Mata Kuliah Mata kuliah Dasar-Dasar Genetika mempelajari

Lebih terperinci

menggunakan program MEGA versi

menggunakan program MEGA versi DAFTAR ISI COVER... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERSEMBAHAN... iii PRAKATA... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR LAMPIRAN... x INTISARI... xi ABSTRACT... xii PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Domba lokal merupakan salah satu ternak yang ada di Indonesia, telah

TINJAUAN PUSTAKA. Domba lokal merupakan salah satu ternak yang ada di Indonesia, telah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Domba Lokal Indonesia Domba lokal merupakan salah satu ternak yang ada di Indonesia, telah beradaptasi dengan iklim tropis dan beranak sepanjang tahun. Domba lokal ekor tipis

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sumber Daya Genetik Ternak Lokal

TINJAUAN PUSTAKA Sumber Daya Genetik Ternak Lokal TINJAUAN PUSTAKA Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Keanekaragaman ternak sapi di Indonesia terbentuk dari sumber daya genetik ternak asli dan impor. Impor ternak sapi Ongole (Bos indicus) atau Zebu yang

Lebih terperinci

I. PENGENALAN NATIONAL CENTRE FOR BIOTECHNOLOGY INFORMATION (NCBI)

I. PENGENALAN NATIONAL CENTRE FOR BIOTECHNOLOGY INFORMATION (NCBI) I. PENGENALAN NATIONAL CENTRE FOR BIOTECHNOLOGY INFORMATION (NCBI) A. PENDAHULUAN NCBI (National Centre for Biotechnology Information) merupakan suatu institusi yang menyediakan sumber informasi terkait

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 29 3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian meliputi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores, Laut Banda, Teluk Tolo, Laut Maluku dan Teluk Tomini (Gambar

Lebih terperinci

BAB XII. REAKSI POLIMERISASI BERANTAI

BAB XII. REAKSI POLIMERISASI BERANTAI BAB XII. REAKSI POLIMERISASI BERANTAI Di dalam Bab XII ini akan dibahas pengertian dan kegunaan teknik Reaksi Polimerisasi Berantai atau Polymerase Chain Reaction (PCR) serta komponen-komponen dan tahapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Maskoki memiliki keindahan dan daya tarik tersendiri karena bentuk dan ukuran tubuhnya serta keindahan pada variasi warna dan corak yang beragam (Perkasa & Abdullah

Lebih terperinci

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MIPA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1. Fakultas / Program Studi : FMIPA / Biologi 2. Mata Kuliah / Kode : Genetika Molekuler / SBG 252 3. Jumlah SKS : Teori = 2

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 1. Sampel Darah Sapi Perah dan Sapi Pedaging yang Digunakan No. Bangsa Sapi Jenis Kelamin

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 1. Sampel Darah Sapi Perah dan Sapi Pedaging yang Digunakan No. Bangsa Sapi Jenis Kelamin MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berlangsung

Lebih terperinci

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS MEDAN AREA FAKULTAS PERTANIAN

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS MEDAN AREA FAKULTAS PERTANIAN KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS MEDAN AREA FAKULTAS PERTANIAN RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER SEMESTER GANJIL T.A. 2016/2017 MATA KULIAH SEMESTER : GENETIKA : III (GANJIL)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan Cyprinid salah satu yang populer diantaranya adalah ikan mas atau common carp (Cyprinus carpio) merupakan ikan air tawar yang bernilai ekonomis penting dan cukup

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagi sel tersebut. Disebut sebagai penghasil energi bagi sel karena dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagi sel tersebut. Disebut sebagai penghasil energi bagi sel karena dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mitokondria Mitokondria merupakan salah satu organel yang mempunyai peranan penting dalam sel berkaitan dengan kemampuannya dalam menghasilkan energi bagi sel tersebut. Disebut

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Ternak domba sampai saat ini pengusahaannya masih didominasi oleh peternakan rakyat dengan skala usaha kecil dan sistem pemeliharaannya masih bersifat tradisional. Perkiraan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Itik Lokal

TINJAUAN PUSTAKA Itik Lokal TINJAUAN PUSTAKA Itik Lokal Itik adalah jenis unggas air yang tergolong dalam ordo Anseriformes, family Anatidae, genus Anas dan termasuk spesies Anas javanica.proses domestikasi membentuk beberapa variasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menarik untuk dipelajari, terutama dari aspek genetika dan nilai ekonomi. Melon

BAB I PENDAHULUAN. menarik untuk dipelajari, terutama dari aspek genetika dan nilai ekonomi. Melon 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Melon merupakan salah satu tumbuhan dikotil diploid (2n = 2x = 24) yang menarik untuk dipelajari, terutama dari aspek genetika dan nilai ekonomi. Melon merupakan produk

Lebih terperinci

ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI

ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI 1 ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI PENDAHULUAN Polimerase Chain Reaction (PCR) PCR adalah suatu reaksi invitro untuk menggandakan jumlah molekul DNA pada target tertentu

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Friesian Holstein

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Friesian Holstein TINJAUAN PUSTAKA Sapi Friesian Holstein Sapi memiliki peran utama dalam evolusi kebudayaan manusia dan penting dalam segi ekonomi. Semua ternak sapi saat ini diperkirakan telah di domestikasi dari Bos

Lebih terperinci

EVOLUSI. Pengertian evolusi - Bukti adanya evolusi - Mekanisme evolusi

EVOLUSI. Pengertian evolusi - Bukti adanya evolusi - Mekanisme evolusi EVOLUSI Pengertian evolusi - Bukti adanya evolusi - Mekanisme evolusi TEORI ASAL USUL KEHIDUPAN TEORI ABIOGENESIS MENYATAKAN BAHWA MAKHLUK HIDUP BERASAL DARI BENDA TAK HIDUP, TEORI BIOGENESIS MENYATAKAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR...... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT... PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang...

Lebih terperinci

Identifikasi mikroba secara molekuler dengan metode NCBI (National Center for Biotechnology Information)

Identifikasi mikroba secara molekuler dengan metode NCBI (National Center for Biotechnology Information) Identifikasi mikroba secara molekuler dengan metode NCBI (National Center for Biotechnology Information) Identifikasi bakteri pada saat ini masih dilakukan secara konvensional melalui studi morfologi dan

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan Dalam bab ini akan dipaparkan hasil dari tahap-tahap penelitian yang telah dilakukan. Melalui tahapan tersebut diperoleh urutan nukleotida sampel yang positif diabetes dan sampel

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Elaeidobius kamerunicus Faust. (Coleoptera : Curculionidae) Kumbang ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yakni

TINJAUAN PUSTAKA. Elaeidobius kamerunicus Faust. (Coleoptera : Curculionidae) Kumbang ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yakni TINJAUAN PUSTAKA Elaeidobius kamerunicus Faust. (Coleoptera : Curculionidae) Kumbang ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yakni siklus hidupnya terdiri dari telur larva pupa imago. E. kamerunicus

Lebih terperinci

Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase

Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase Teresa Liliana Wargasetia Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Pendahuluan Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase

Lebih terperinci

Ukuran Populasi Efektif Parameter dasar dari populasi biologis adalah jumlah populasi sensus, N, diartikan sebagai jumlah keseluruhan individu dari

Ukuran Populasi Efektif Parameter dasar dari populasi biologis adalah jumlah populasi sensus, N, diartikan sebagai jumlah keseluruhan individu dari Ukuran Populasi Efektif Parameter dasar dari populasi biologis adalah jumlah populasi sensus, N, diartikan sebagai jumlah keseluruhan individu dari sebuah populasi. Namun jika dilihat dari perspektif populasi

Lebih terperinci

ANALISIS PROTEIN DARAH KERBAU LOKAL (Bubalus bubalis) DI WILAYAH MALANG DAN BANGKALAN SEBAGAI STUDI AWAL PENINGKATAN MUTU GENETIK

ANALISIS PROTEIN DARAH KERBAU LOKAL (Bubalus bubalis) DI WILAYAH MALANG DAN BANGKALAN SEBAGAI STUDI AWAL PENINGKATAN MUTU GENETIK ANALISIS PROTEIN DARAH KERBAU LOKAL (Bubalus bubalis) DI WILAYAH MALANG DAN BANGKALAN SEBAGAI STUDI AWAL PENINGKATAN MUTU GENETIK Dian Sofi Anisa, Moh. Amin, Umie Lestari Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbesar di seluruh dunia. Nenek moyang ikan mas diduga berasal dari Laut Kaspia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbesar di seluruh dunia. Nenek moyang ikan mas diduga berasal dari Laut Kaspia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan mas merupakan salah satu ikan dengan penyebaran dan domestikasi terbesar di seluruh dunia. Nenek moyang ikan mas diduga berasal dari Laut Kaspia dan dari lokai

Lebih terperinci

KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2009/2010

KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2009/2010 Mata Pelajaran : Biologi Kelas/Program : XII/IPA Semester : 1 KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2009/2010 Standar Kompetensi Kompetensi dasar Uraian Materi Indikator

Lebih terperinci

M A T E R I G E N E T I K

M A T E R I G E N E T I K M A T E R I G E N E T I K Tujuan Pembelajaran: Mendiskripsikan struktur heliks ganda DNA, sifat dan fungsinya. Mendiskripsikan struktur, sifat dan fungsi RNA. Mendiskripsikan hubungan antara DNA, gen dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Famili Columbidae merupakan kelompok burung dengan ciri umum tubuh

BAB I PENDAHULUAN. Famili Columbidae merupakan kelompok burung dengan ciri umum tubuh 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Famili Columbidae merupakan kelompok burung dengan ciri umum tubuh kokoh, leher pendek, paruh ramping dan cere berdaging. Distribusi burung Famili Columbidae tersebar

Lebih terperinci

Kasus Penderita Diabetes

Kasus Penderita Diabetes Kasus Penderita Diabetes Recombinant Human Insulin Marlia Singgih Wibowo School of Pharmacy ITB Sejak Banting & Best menemukan hormon Insulin pada tahun 1921, pasien diabetes yang mengalami peningkatan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober Amplifikasi gen Growth

MATERI DAN METODE. Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober Amplifikasi gen Growth III. MATERI DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Pengambilan sampel darah domba dilakukan di Kecamatan Koto Tengah Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober 2012. Amplifikasi gen Growth Hormone menggunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. DNA Genom

HASIL DAN PEMBAHASAN. DNA Genom IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Isolasi DNA Metode isolasi dilakukan untuk memisahkan DNA dari komponen sel yang lain (Ilhak dan Arslan, 2007). Metode isolasi ini sesuai dengan protokol yang diberikan oleh

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Fenotipe morfometrik Karakteristik morfometrik ikan nilem meliputi 21 fenotipe yang diukur pada populasi ikan nilem hijau (tetua) dan keturunannya dari hasil perkawinan

Lebih terperinci

PRAKATA. Alhamdulillah syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah swt., atas

PRAKATA. Alhamdulillah syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah swt., atas PRAKATA Alhamdulillah syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah swt., atas segala nikmat dan karunia-nya, penulisan Tugas Akhir dengan judul Keragaman Genetik Abalon (Haliotis asinina) Selat Lombok

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati utama di

PENDAHULUAN. Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati utama di 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati utama di Indonesia, dan memegang peranan penting diantaranya iklim, tenaga kerja, dan kesediaan lahan yang masih cukup

Lebih terperinci

Pengertian TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN. Cloning DNA. Proses rekayasa genetik pada prokariot. Pemuliaan tanaman konvensional: TeknologiDNA rekombinan:

Pengertian TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN. Cloning DNA. Proses rekayasa genetik pada prokariot. Pemuliaan tanaman konvensional: TeknologiDNA rekombinan: Materi Kuliah Bioteknologi Pertanian Prodi Agroteknologi Pertemuan Ke 9-10 TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN Ir. Sri Sumarsih, MP. Email: [email protected] Weblog: Sumarsih07.wordpress.com Website: agriculture.upnyk.ac.id

Lebih terperinci