DEFORMASI OBYEK TIGA DIMENSI DENGAN METODE LAPLACIAN
|
|
|
- Ade Pranata
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DEFORMASI OBYEK TIGA DIMENSI DENGAN METODE LAPLACIAN Rizky Yuniar Hakkun (1), Mochammad Hariadi (2), 1) Pasca Sarjana JCM Jurusan Game Technology Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya 60111, [email protected] 2) Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya 60111, [email protected] Abstrak - Penelitian ini mengajukan sebuah konsep deformasi obyek tiga dimensi yang mengacu pada fenomena alam di dunia nyata khususnya yang berhubungan dengan benda elastis. Penelitian tentang elastisitas benda telah banyak dilakukan para peneliti di bidang fisika dan matematika. Koordinat diferensial merupakan konsep representasi diferensial obyek pada ruang Euclidean. Laplacian merupakan salah satu operator dalam koordinat diferensial, yang menyimpan informasi detail lokal dari permukaan. Obyek diubah kedalam koordinat diferensial. Transformasi, seperti rotasi dan translasi, dilakukan pada koordinat diferensial permukaan, tidak pada koordinat Cartesian. Sehingga dibutuhkan rekonstruksi dari koordinat diferensial agar kembali ke koordinat Cartesian. Hasil percobaan menunjukkan rekonstruksi mesh dari koordinat diferensial membutuhkan penambahan minimal satu vertek jangkar stasioner pada pemecahan sistem persamaan linearnya. Penelitian menunjukkan bahwa pemilihan jangkar stasioner 6% - 15% ROI dapat menghasilkan rekonstruksi yang baik. Semakin besar vertek dalam mesh, proses pemecahan sistem linear juga akan semakin lama. Kata Kunci : Deformasi, laplacian, mesh, geometri, animasi. 1. PENDAHULUAN Fenomena benda yang bersifat elastis menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti khususnya di bidang grafika komputer. Benda elastis banyak sekali sering dijumpai di kehidupan nyata misalnya karet, pegas sampai benda padat seperti besi pun memiliki elastisitas. Suatu benda dinyatakan elastis jika benda tersebut berubah bentuk (deform) ketika diberikan sebuah gaya kepadanya dan kembali ke bentuk semula ketika gaya tersebut hilang. Beberapa peneliti telah menhasilkan beberapa formulasi mengenai benda elastis yang bisa digunakan sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya di berbagai bidang, seperti grafika komputer untuk mensimulasikan benda lentur pada komputer. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana mendeformasi obyek 3 dimensi dari data vertek diberikan. Tahapan permasalahan yang harus diselesaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Merepresentasikan obyek mesh 3 dimensi dalam representasi koordinat diferensial. Merekonstruksi obyek 3 dimensi dari representasi koordinat diferensial ke koordinat Cartesian Mentrasnsformasi representasi koordinat diferensial bentuk 3 dimensi dengan menggunakan vertek kendali yang diberikan. Merekonstruksi representasi koordinat diferensial obyek 3 dimensi mesh yang terdeformasi. 2. LANDASAN TEORI 2.1. Representasi Koordinat Diferensial Matrik Laplacian (Cvetkovi,1998) dari sebuah graph G, dimana =(,) graph tak berarah, tak berbobot tanpa loop atau edge multiple dari satu vertek ke vertek lain, adalah sekumpulan vertek = dan sekumpulan edge E, merupakan matriks simetris dengan satu baris dan kolom tiap node didefinisikan dengan L = D A. dimana D = diag(,,, ) merupakan matrik derajat (Babic,2002), yaitu matriks diagonal yang dibentuk dari derajat vertek dan A adalah matrik berdekatan (adjacency). Derajat suatu vertek graph dalam graph G adalah jumlah edge graph yang menyentuh v. Derajat vertek minimum dalam suatu graph dinotasikan dalam (), sedangkan derajat vertek maksimum dinotasikan dalam () (Skiena,1990). 1
2 Sorkine (Sorkine,2006) pada penelitiannya mendefinisikan tentang koordinat diferensial (coordinates), operator Laplacian yang bersesusaian dan menjelaskan kerangka bangun kembali permukaan. Definisi koordinat diferensial yang dijelaskan merupakan koordinaat pada R 3. Misal =(,,) merupakan mesh triangle dengan n vertices dimana V merupakan kumpulan vertices (titik), E merupakan kumpulan edge (tepi) dan F merupakan kumpulan faces (muka). Setiap vertex merupakan koordinat Cartesian yang didefinisikan oleh =(,, ). Koordinat diferensial atau -coordinates dari merupakan perbedaan antara koordinat absolut dengan pusat massa dari titik tersebut dengan titik tetangga terdekatnya dalam mesh. Berikut adalah persamaan diferensial titik : = (), (), () = () (1) dimana () = { (, } dan = () merupakan jumlah tetangga terdekat dari i (derajat i). Transformasi vektor koordinat absolut Cartesian ke vektor koordinat diferensial dapat ditampilkan dalam bentuk matriks. Jika A merupakan matriks bersesuaian pada mesh, maka : 1 (, = 0 otherwise (2) dan jika D merupakan matriks diagonal sedemikian rupa sehingga =. Sehingga transformasi matriks koordinat absolute ke koordinat relatif adalah : = (3) Kemudian matriks L diubah dalam bentuk versi simetris yang didefinisikan dengan = =,, = ( ) = 1,(, (4) 0, otherwise Sehingga = (), = () dan = (), dimana x merupakan n-vektor yang berisi koordinat absolut x dari semua vertices, begitu pula y dan z. Gambar 2 merupakan contoh mesh dan matriks asosiasinya. Fiedler (Fiedler,1973) mendefinisikan bahwa matriks atau () yang dijelaskan sebelumnya disebut sebagai Laplacian graph dari mesh. Gambar 1. Vektor koordinat diferensial pada vertex yang mirip dengan karakteristik bentuk lokal permukaan. Kemudian vektor koordinat diferensial dapat ditulis sebagai berikut : = ( ) () (5) Penjumlahan diatas merupakan diskritisasi dari integral curvilinear : ( )(), dimana merupakan permukaan kurva tertutup sederhana sekitar v i dan adalah panjang dari. Telah diketahui dalam geometri diferensial bahwa : lim ( )() ( ) (6) dimana ( ) adalah curvature rerata dari dan adalah normal permukaan Rekonstruksi Permukaan -Coordinates Setiap kali melakukan manipulasi pada -coordinates, langkah terakhir yang akan dilakukan adalah memrekonstruksi permukaan dari mesh. Dengan kata lain yang harus dilakukan adalah mengembalikan mesh yang telah berubah menjadi -coordinates tersebut ke koordinat Cartesian Proses pengembalian dari -coordinates ke koordinat Cartesian tidak bisa langsung dilakukan. Laplacian matriks (L atau ) yang dihasilkan dari (4) tidak bisa langsung digunakan untuk mentransformasikan koordinat diferensial ke koordinat global karena matriks Laplacian tersebut adalah singular dan rank(l) adalah n-1. Pengembalian koordinat global dari koordinat diferensial membutuhkan pemecahan sistem linear full-rank Maka dibutuhkan penambahan constrain pada matriks L dan. =, (7) sehingga sistem linear menjadi : () = (8) : Sistem yang dibuat menjadi full-rank sehingga memiliki solusi unik secara least-square (9) Solusi least-square persaman diatas dapat diekspresikan dalam bentuk matriks persegi ( + ) sebagai berikut : =( ) (10) 2 3. METODE PENELITIAN Secara garis besar langkah-langkah dalam penelitian ini mulai proses pengumpulan referensi, perancangan data masukan obyek 3 dimensi sampai rekonstruksi
3 obyek 3 dimensi dapat digambarkan dalam bentuk blok diagram seperti pada gambar berikut ini : Transformasi (translasi atau rotasi) dilakukan pada koordinat diferensial, kemudian dilakukan rekonstruksi kembali untuk menghasilkan koordinat Cartesian yang terdeformasi. 4. PENGUJIAN DAN ANALISA 4.1. Uji dan Analisa Representasi -Coordinates Pengujian dilakukan menggunakan obyek Kubus sederhana untuk memperlihatkan proses representasi koordinat diferensial, rekonstruksi dan deformasi. Gambar 2. Diagram Alur Penelitian Pada bagian representasi koordinat diferensial, proses pertama merupakan pembentukan vektor V yang berisi vertek obyek tiga dimensi data masukan. Proses selanjutnya adalah pembentuk matriks derajat dan adjacency dari vertek dan facet obyek. Matriks Laplacian selanjutnya dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan L = D A. Representasi koordinat diferensial dihasilkan dengan dot product matriks Laplacian L dan V pada masing masing komponen x, y dan z. Pada bagian deformasi dan rekonstruksi, proses yang dilakukan pertama adalah penentuan jangkar stationer (soft constraint) yang akan ditambahkan pada matrik L dan. Proses rekonstruksi dapat langsung dilakukan. Pada proses deformasi terlebih dahulu dilakukan pemilihan area pengeditan (region of interest) dan vertek kendali. Gambar 4. Kubus 8 vertek dan 12 facet Vektor yang dihasilkan sebagai berikut : Gambar 5. Vektor komponen x, y dan z Matriks adjacency didapatkan sebagai berikut : Gambar 6. Matrik Adjacency Matrik diagonal derajat adjacency dari vertek sebagai berikut : Gambar 7. Matrik Degree of Adjacency Gambar 3. ROI, titik merah adalah soft constraint, vertek kendali (titik kuning) dan vertek yang berubah sesuai vertek kendali (titik hijau) ROI digunakan untuk membagi mesh menjadi dua submesh, grup mesh yang akan berubah sesuai dengan perubahan vertek kendali dan grup mesh yang tetap dan tidak diikutkan dalam proses deformasi. 3 Matriks Laplacian didapatkan dengan menggunakah persamaan L = D A. Gambar 8. Matriks Laplacian Kubus
4 Maka koordinat diferensial masing masing titik didapatkan sebagai berikut : Gambar 9. Koordinat Diferensial 4.2. Uji dan Analisa Rekonstruksi -Coordinates Proses rekonstruksi koordinat diferensial membutuhkan penambahan minimal satu jangkar stasioner pada matriks L dan vektor. Berikut ini adalah tabel penambahan satu, dua dan tiga vertek sebagai jangkar stasioner pada rekonstruksi koordinat diferensial tanpa transformasi. Tabel 1. Data hasil rekonstruksi tanpa adanya transformasi Gambar 10. Hasil rekonstruksi pada transformasi koordinat diferensial Tabel 2. Data hasil rekonstruksi pada t x = -1 dan satu jangkar v 7 Tabel 3. Data hasil rekonstruksi pada t x = -1.5, t y = - 1.5, t z = -1 dan satu jangkar v 7 Tabel 4. Data hasil rekonstruksi pada t x = -1 dan dua jangkar v 7, v 8 Terlihat tidak ada perbedaan hasil rekonstruksi mesh dengan koordinat asal. Pemilihan satu atau lebih vertek konstrain tidak mengubah hasil rekonstruksi permukaan mesh terhadap koordinat asal Uji dan Analisa Deformasi -Coordinates Pada uji berikut dilakukan proses translasi berturut turut yang dilakukan pada koordinat diferensial dengan t x = -1 dan satu jangkar v 7 (Gambar 10(a)), t x = -1.5, t y = -1.5, t z = -1 dan satu jangkar v 7 (Gambar 10(b)), t x = -1 dan dua jangkar v 7, v 8 (Gambar 10(c)) serta t x = -1.5, t y = -1.5, t z = -1 dan dua jangkar v 7, v 8 (Gambar 10(d)). Tabel 5. Data hasil rekonstruksi pada t x = -1.5, t y = - 1.5, t z = -1 dan dua jangkar v 7, v 8 Pada tabel 2 sampai table 5 terlihat perubahan koordinat Cartesian ketika koordinat diferensial yang terdeformasi direkonstruksi kembali. Soft constraint (warna hijau) dipaksa untuk tidak banyak berubah ketika deformasi terjadi. 4
5 4.4. Uji dan Analisa ROI pada mesh kompleks untuk menghasilkan rekonstruksi yang baik. Gambar 10 menunjukkan hasil pemilihan jangkar berturut turut dari kiri atas ke kanan bawah 4.6. Uji dan Analisa transformasi rotasi Gambar 11. ROI diberikan disekitar hidung dan mulut. Vertek kendali pada hidung Pada pengujian berikut diberikan proses pemilihan ROI pada suatu area mesh tertentu. Contoh gambar 11 menunjukkan pemilihan ROI disekitar hidung dan mulut, dan vertek kendali berada pada hidung. Diberikan translasi searah sumbu x dengan t x = 0.03 (Gambar 11(a)) dan t x = 0.06 (Gambar 11(b)). Terlihat hasil deformasi halus, dan pemberian jangkar (titik merah) membuat transisi antara submesh pengeditan dan submesh tetap menjadi halus Uji dan Analisa pemilihan Jangkar Stasioner Pada pembahasan ini akan diperlihatkan pemilihan jangkar stasioner dalam proses pengeditan. Pemilihan jangkar stasioner berikut berturut - turut dilakukan pada mesh silinder dengan jumlah vertek 930. Gambar 11. Transformasi seragam pada ROI (a) Koordinat Cartesian (b) Koordinat Diferensial Pada gambar 11 transformasi seragam dilakukan pada seluruh ROI dan soft konstrain ditambahkan sebagai pembatas deformasi. Gambar 11(a) merupakan transformasi pada vertek koordinat Cartesian. Bentuk geometri berubah dan terdapat penempatan transformasi vertek yang tidak baik antara konstrain (titik merah) dan ROI. Sedangkan gambar 11(b) transformasi yang dihasilkan menjadi halus, karena transformasi dilakukan pada level detail mesh (yaitu koordinat diferensial). Gambar 10. Hasil rekonstruksi dengan pemilihan jumlah jangkar yang berbeda Percobaan dilakukan dengan pemilihan vertek pada bagian bawah sekeliling mesh. Pemilihan dimulai dari 30 vertek (3.225%), 60 vertek (6.45%), 90 vertek (9.67%), 120 vertek (12.9%), 150 vertek (16.13%) dan 180 vertek (19.35%). Dari penelitian, pemilihan vertek sebagai jangkar pada rentang 6% sampai 15% Gambar 12. Obyek dibengkokan dalam beberapa pilihan derajat. Proses deformasi dapat dilakukan dengan mentransformasikan vertek kendali dengan variasi rotasi. Gambar 12 merupakan contoh proses transformasi rotasi (pada sumbu z) berturut turut sebesar 15 derajat, 30 derajat, 45 derajat, 60 derajat, 75 derajat dan 90 derajat. Hasil rekonstruksi setelah 5
6 transformasi terlihat baik pada transformasi rotasi yang kecil. Semakin besar derajat rotasi yang diberikan maka semakin tidak sesuai yang diharapkan. Gambar 13. Obyek dipilin mengikuti derajat putar tertentu Variasi transformasi pada koordinat diferensial yang lain dapat dilihat pada gambar 13. Terlihat bahwa koordinat diferensial dapat ditransformasikan pada sumbu yang berbeda beda. Pada contoh gambar tersebut obyek 3 dimensi seakan terpilin mengikuti arah putar tertentu 4.7. Uji dan Analisa Waktu Rekonstruksi Peneliti menggunakan sistem operasi Windws 7 dengan spesifikasi komputer Pentium 4 centrino duo, 4 GB memori, 120 GB hard disk dan Nvidia GeForce sebagai penampil grafis dalam ujicobanya. Percobaan menggunakan perangkat lunak Matlab dengan bantuan library TAUCS sebagai pustaka untuk pemecahan sistem linier pada matriks sparse berukuran besar Berikut adalah tabel waktu faktorisasi dan rekonstruksi terhadap jumlah vertek. Tabel 6. Tabel waktu faktorisasi dan pemecahan linier Tabel 6 menunjukkan perbandingan proses faktorisasi terhadap jumlah vertek dan facet yang ada pada mesh. Terlihat bahwa semakin besar jumlah vertek maka waktu komputasi juga bertambah lama 5. KESIMPULAN DAN PENGEMBANGAN Penelitian mengenai deformasi dengan metode Laplacian ini menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Representasi koordinat diferensial dapat ditransformasikan untuk mendapatkan obyek tiga dimensi yang terubah Proses rekonstruksi melibatkan sistem pemecahan persamaan linier dengan penambahan soft constraint pada matrik Laplacian dan penambahan posisi jangkar stationer pada sisi sebelah kanan sistem persamaan linier. 3. Proses pemilihan jangkar stationer dalam rekonstruksi akan menghasilkan mesh yang baik dengan perbandingan antara 6% - 15% terhadap jumlah vertek dalam ROI. 4. Proses rekonstruksi memakan waktu yang lama pada mesh dengan jumlah vertek yang besar, sehingga dibutuhkan perangkat komputasi yang cukup dan komputasi pemecahan sistem persamaan linear yang efisien Untuk pengembangan pada penelitian selanjutnya disarankan hal hal berikut : 1. Menggunakan transformasi yang tepat untuk menangani sudut rotasi yang besar, sehingga hasil deformasi menjadi lebih baik. 2. Proses transformasi bisa menggunakan transformasi non uniform pada tiap verteknya DAFTAR PUSTAKA Babi, D., Klein, D. J., Lukovits, I., Nikoli, S. dan Trinajsti, N. (2002), "Resistance-Distance Matrix: A Computational Algorithm and Its Applications." Int. J. Quant. Chem. 60, pp Carmo, do M. P., (1976), Differential Geometry of Curves and Surfaces, Prentice-Hall Cvetkovi, D. M., Doob, M. dan Sachs, H. (1998) Spectra of Graphs: Theory and Applications, 3rd rev. enl. Ed. New York: Wiley. Fiedler, M. (1973), Algebraic Connectivity of Graphs, Czech Math. Journal, 23, pp Godsil, C., dan Royle, G. (2001). Algebraic Graph Theory, Springer. Skiena, S. (1990), Implementing Discrete Mathematics: Combinatorics and Graph Theory with Mathematica, Reading, MA. Addison-Wesley Sorkine O.,Y. Lipman, D. Cohen-Or, M. Alexa, C.Rossl, H.-P. Seidel, (2004), Laplacian surface editing. In Proceedings of the Eurographics/ACM SIGGRAPH Symposium on Geometry processing, ACM Press, pp Sorkine O., (2006), Differential representations for mesh processing. Computer Graphics Forum 25, 4 (2006), pp
DEFORMASI OBYEK TIGA DIMENSI DENGAN METODE LAPLACIAN
DEFORMASI OBYEK TIGA DIMENSI DENGAN METODE LAPLACIAN Nama mahasiswa : Rizky Yuniar Hakkun NRP : 2208205724 Dosen Pembimbing : Moch.Hariadi, S.T., M.Sc., Ph.D. Bidang Studi JCM Game Tech - Jurusan Teknik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Objek tiga dimensi merupakan salah satu komponen multimedia yang memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Objek tiga dimensi dibentuk oleh sekumpulan
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dalam penyajian data menggunakan bentuk grafik. Grafik sering juga disebut sebagai diagram, bagan, maupun chart. Pada
Simulasi Perpindahan Panas pada Lapisan Tengah Pelat Menggunakan Metode Elemen Hingga
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (2015) 2337-3520 (2301-928X Print) A-13 Simulasi Perpindahan Panas pada Lapisan Tengah Pelat Menggunakan Metode Elemen Hingga Vimala Rachmawati dan Kamiran Jurusan
Transformasi Geometri Sederhana. Farah Zakiyah Rahmanti 2014
Transformasi Geometri Sederhana Farah Zakiyah Rahmanti 2014 Grafika Komputer TRANSFORMASI 2D Transformasi Dasar Pada Aplikasi Grafika diperlukan perubahan bentuk, ukuran dan posisi suatu gambar yang disebut
PAGI. SOAL PILIHAN GANDA : No
PAGI SOAL PILIHAN GANDA : No. 1 35. 1. Salah satu contoh aplikasi Grafika Komputer adalah Virtual Reality. Yang dimaksud Virtual Reality adalah: a. lingkungan virtual seperti yang ada di dunia internet
5. Representasi Matrix
5. Representasi Matrix Oleh : Ade Nurhopipah Pokok Bahasan : 1. Matrix Ketetanggaan 2. Walk Pada Graph dan Digraph 3. Matrix Insidensi Sumber : Aldous, Joan M.,Wilson, Robin J. 2004. Graph and Applications.
KARAKTERISASI ALJABAR PADA GRAF BIPARTIT. Soleha, Dian W. Setyawati Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
KARAKTERISASI ALJABAR PADA GRAF BIPARTIT Soleha, Dian W. Setyawati Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya ABSTRAK. Pada artikel ini dibahas penggunaan teknik aljabar linier untuk mempelajari graf
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Citra adalah suatu representasi, kemiripan, atau imitasi dari suatu objek atau benda. Citra dapat dikelompokkan menjadi citra tampak dan citra tak tampak.
UJI KINERJA FACE RECOGNITION MENGGUNAKAN EIGENFACES
1 Uji Kinerja Face Recognition Menggunakan Eigenfaces UJI KINERJA FACE RECOGNITION MENGGUNAKAN EIGENFACES ABDUL AZIS ABDILLAH 1 1STKIP Surya, Tangerang, Banten, [email protected] Abstrak. Pada paper
PEMANFAATAN METODE ADJACENCY MATRIX UNTUK OPTIMASI RUTE JALAN BERBASIS WEB
Jurnal Komputer dan Informatika (KOMPUTA) 59 PEMANFAATAN METODE ADJACENCY MATRIX UNTUK OPTIMASI RUTE JALAN BERBASIS WEB Deni Ramdan 1, Galih Hermawan 2 1,2 Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik
REKONSTRUKSI PERMUKAAN TIGA DIMENSI AREA POINT CLOUDS DENGAN ALGORITMA TRIANGULASI DELAUNAY
PROGRAM MAGISTER BIDANG KEAHLIAN JARINGAN CERDAS MULTIMEDIA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 25 Januari 2010 Taufiqurrahman NRP. 2208 205
Transformasi Geometri Sederhana
Transformasi Geometri Sederhana Transformasi Dasar Pada Aplikasi Grafika diperlukan perubahan bentuk, ukuran dan posisi suatu gambar yang disebut dengan manipulasi. Perubahan gambar dengan mengubah koordinat
Aplikasi Teori Graf dalam Permainan Instant Insanity
Aplikasi Teori Graf dalam Permainan Instant Insanity Aurelia 13512099 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia
Pemanfaatan Graf dalam Skema Subdivisi Permukaan Bangun Dimensi Tiga
Pemanfaatan Graf dalam Skema Subdivisi Permukaan Bangun Dimensi Tiga Muhammad Reifiza 13514103 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
SIFAT-SIFAT GRAF DALAM ALJABAR LINIER DAN PENGGUNAANNYA DALAM SAGE
J. Math. and Its Appl. ISSN: 829-605X Vol. 8, No. 2, November 20, 33 42 SIFAT-SIFAT GRAF DALAM ALJABAR LINIER DAN PENGGUNAANNYA DALAM SAGE Soleha Jurusan Matematika, FMIPA ITS Surabaya seha [email protected]
PEMBANGKITAN SEGITIGA SIERPINSKI DENGAN TRANSFORMASI AFFINE BERBASIS BEBERAPA BENDA GEOMETRIS
Prosiding Seminar Nasional Matematika, Universitas Jember, 19 November 2014 365 PEMBANGKITAN SEGITIGA SIERPINSKI DENGAN TRANSFORMASI AFFINE BERBASIS BEBERAPA BENDA GEOMETRIS KOSALA DWIDJA PURNOMO 1 1 Jurusan
PENGGUNAAN FITUR ANGULAR INVARIANT UNTUK REGISTRASI OBYEK 3D
PENGGUNAAN FITUR ANGULAR INVARIANT UNTUK REGISTRASI OBYEK 3D Robby Hartanto Wiyono 2206 100 174 Jurusan Teknik Elektro FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS, Keputih-Sukolilo, Surabaya-60111,
KONTROL OPTIMAL UNTUK DISTRIBUSI TEMPERATUR DENGAN PENDEKATAN BEDA HINGGA
KONTROL OPTIMAL UNTUK DISTRIBUSI TEMPERATUR DENGAN PENDEKATAN BEDA HINGGA Nama Mahasiswa : Asri Budi Hastuti NRP : 1205 100 006 Dosen Pembimbing : Drs. Kamiran, M.Si. Abstrak Kontrol optimal temperatur
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB LANDASAN TEORI. Teori Graf Teori graf merupakan pokok bahasan yang sudah tua usianya namun memiliki banyak terapan sampai saat ini. Graf digunakan untuk merepresentasikan objek-objek diskrit dan hubungan
SILABUS PENGALAMAN BELAJAR ALOKASI WAKTU
SILABUS Mata Pelajaran : Matematika Satuan Pendidikan : SMA Ungguan BPPT Darus Sholah Jember kelas : XII IPA Semester : Ganjil Jumlah Pertemuan : 44 x 35 menit (22 pertemuan) STANDAR 1. Menggunakan konsep
BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Vektor
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Vektor Ada beberapa besaran fisis yang cukup hanya dinyatakan dengan suatu angka dan satuan yang menyatakan besarnya saja. Ada juga besaran fisis yang tidak
Matriks Sebagai Representasi Orientasi Objek 3D
Matriks Sebagai Representasi Orientasi Objek 3D Cendhika Imantoro - 13514037 Program Studi Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia
BAB II Tinjauan Pustaka
BAB II Tinjauan Pustaka Pada bab ini dibahas mengenai konsep-konsep yang mendasari ekstraksi unsur jalan pada citra inderaja. Uraian mengenai konsep tersebut dimulai dari ekstraksi jalan, deteksi tepi,
KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL ( KKM ) MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS XII ( 3 ) SEMESTER I
KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL ( KKM ) MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS XII ( 3 ) SEMESTER I KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL ( KKM ) MATA PELAJARAN: MATEMATIKA Sekolah : SMA/MA... Kelas / : XII Semester : I (SATU)
REKONSTRUKSI PERMUKAAN TIGA DIMENSI AREA POINT CLOUDS DENGAN ALGORITMA TRIANGULASI DELAUNAY
REKONSTRUKSI PERMUKAAN TIGA DIMENSI AREA POINT CLOUDS DENGAN ALGORITMA TRIANGULASI DELAUNAY Taufiqurrahman 1), Mochammad Hariadi, ST., M.Sc., Ph.D. 2) 1)Pasca Sarjana JCM (Game Technology) Jurusan Teknik
Representasi Objek Gambar Dengan Quad Tree
Representasi Objek Gambar Dengan Quad Tree Edwin Wijaya - 13513040 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia
SPREADSHEET EXCEL UNTUK PEMBELAJARAN KONSTRUKSI GEOMETRI TEKNIK OPERASI SIMULTAN MENGGUNAKAN FORMULA ARRAY
Proceedings of he 4 th International Conference on eacher Education; Join Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8- November SPREADSHEE EXCEL UNUK PEMBELAJARAN KONSRUKSI GEOMERI EKNIK OPERASI SIMULAN
Operasi-operasi Dasar Pengolahan Citra Digital
Operasi-operasi Dasar Pengolahan Citra Digital Pendahuluan Citra digital direpresentasikan dengan matriks. Operasi pada citra digital pada dasarnya adalah memanipulasi elemen- elemen matriks. Elemen matriks
Sistem Pendeteksi Gambar Termanipulasi Menggunakan Metode SIFT
Sistem Pendeteksi Gambar Termanipulasi Menggunakan Metode SIFT Regina Lionnie 1, Mudrik Alaydrus 2 Program Studi Magister Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana, Jakarta 1 [email protected],
PAKET 1 1. Nilai dari adalah... A. 1 B. 2 C. 3 D. 4 E. 16
1 LATIHAN UJIAN NASIONAL 2016 SMK NEGERI 2 WONOGIRI PAKET 1 1. Nilai dari adalah... 1 2 3 4 16 2. Nilai dari adalah. 3 2 1-2 -3 3. Jika 7 log 3 = p,maka 27 log 49 adalah 4. Koordinat titik balik fungsi
DASAR DASAR PENGGUNAAN SAP2000
Halaman 1 dari Bab 1 Bab 1 DASAR DASAR PENGGUNAAN SAP2000 1. KEMAMPUAN SAP2000 Program SAP merupakan salah satu software yang telah dikenal luas dalam dunia teknik sipil, terutama dalam bidang analisis
ANALISIS SIMULASI ELEMEN HINGGA KEKUATAN CRANE HOOK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS SUMBER TERBUKA
ANALISIS SIMULASI ELEMEN HINGGA KEKUATAN CRANE HOOK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS SUMBER TERBUKA SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik GUNAWAN NIM.
PENENTUAN LOKASI SMA NEGERI MENGGUNAKAN DIAGRAM VORONOI BERBOBOT DI KOTA DENPASAR
E-Jurnal Matematika Vol. 2, No.2, Mei 2013, 27-31 ISSN: 2303-1751 PENENTUAN LOKASI SMA NEGERI MENGGUNAKAN DIAGRAM VORONOI BERBOBOT DI KOTA DENPASAR MELINDA HERMANTO 1, TJOKORDA BAGUS OKA 2, I PUTU EKA
Representasi Graph Isomorfisme. sub-bab 8.3
Representasi Graph Isomorfisme sub-bab 8.3 Representasi graph:. Adjacency list. Adjacency matrix 3. Incidence matrix Contoh: undirected graph Adjacency list : tiap vertex v :, 3, di-link dengan 3:,, 5
Penerapan Pemodelan Matematika untuk Visualisasi 3D Perpustakaan Universitas Mercu Buana
Penerapan Pemodelan Matematika untuk Visualisasi 3D Perpustakaan Universitas Mercu Buana Walid Dulhak 1, Abdusy Syarif 2 dan, Tri Daryanto 3 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tegak, perlu diketahui tentang materi-materi sebagai berikut.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebelum pembahasan mengenai irisan bidang datar dengan tabung lingkaran tegak, perlu diketahui tentang materi-materi sebagai berikut. A. Matriks Matriks adalah himpunan skalar (bilangan
SOLUSI PREDIKSI SOAL MATEMATIKA UN 2015 TUGAS KELOMPOK 1 SATUAN PENDIDIKAN
SOLUSI PREDIKSI SOAL MATEMATIKA UN 0 TUGAS KELOMPOK SATUAN PENDIDIKAN MATA PELAJARAN PROGRAM BANYAK SOAL WAKTU : SMA : MATEMATIKA : IPA : 0 BUTIR : 0 MENIT. Diketahui premis-prmis berikut: Premis : Jika
ANALISIS STRUKTUR METODE MATRIX. Pertemuan ke-3 SISTEM RANGKA BATANG (PLANE TRUSS)
ANALISIS STRUKTUR METODE MATRIX Pertemuan ke-3 SISTEM RANGKA BATANG (PLANE TRUSS) Sistem koordinat global lokal elemen lokal global Struktur merupakan gabungan dari banyak elemen yang bekerja sebagai satu
SIFAT NILAI EIGEN MATRIKS ANTI ADJACENCY DARI GRAF SIMETRIK
Faktor Exacta 10 (2): 154-161, 2017 SIFAT NILAI EIGEN MATRIKS ANTI ADJACENCY DARI GRAF SIMETRIK NONI SELVIA [email protected] Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik,Matematika dan Ilmu Pengetahuan
BILANGAN KROMATIK LOKASI UNTUK GRAF POHON n-ary LENGKAP
Jurnal Matematika UNAND Vol. VI No. 1 Hal. 90 96 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND BILANGAN KROMATIK LOKASI UNTUK GRAF POHON n-ary LENGKAP AFIFAH DWI PUTRI, NARWEN Program Studi Matematika,
MATEMATIKA. Sesi TRANSFORMASI 2 CONTOH SOAL A. ROTASI
MATEMATIKA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 14 Sesi NGAN TRANSFORMASI A. ROTASI Rotasi adalah memindahkan posisi suatu titik (, y) dengan cara dirotasikan pada titik tertentu sebesar sudut tertentu.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan pemrosesan data untuk sistem pengenalan gender pada skripsi ini, meliputi cropping dan resizing ukuran citra, konversi citra
Program Studi Teknik Mesin S1
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : MATEMATIKA TEKNIK 2 KODE/SKS : IT042227 / 2 SKS Pertemuan Pokok Bahasan dan TIU 1 Pendahuluan Mahasiswa mengerti tentang mata kuliah Matematika Teknik 2 : bahan ajar,
BILANGAN KROMATIK LOKASI DARI GRAF ULAT
Jurnal Matematika UNAND Vol. 5 No. 1 Hal. 1 6 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND BILANGAN KROMATIK LOKASI DARI GRAF ULAT AIDILLA DARMAWAHYUNI, NARWEN Program Studi Matematika, Fakultas Matematika
PEMETAAN STANDAR ISI (SK-KD)
PEMETAAN STANDAR ISI (SK-KD) MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS/SEMESTER : XII IPA / 1 SK KD THP INDIKATOR THP MATERI PEMBELAJARAN RUANG LINGKUP *) 1 2 3 4 5 6 ALOKASI WKT 1. Menggunakan konsep integral
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan PCA, kemudian penelitian yang menggunakan algoritma Fuzzy C-
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Studi Pendahuluan Sebelumnya telah ada penelitian tentang sistem pengenalan wajah 2D menggunakan PCA, kemudian penelitian yang menggunakan algoritma Fuzzy C- Means dan jaringan
BAB 4 MODEL RUANG KEADAAN (STATE SPACE)
BAB 4 MODEL RUANG KEADAAN (STATE SPACE) KOMPETENSI Kemampuan untuk menjelaskan pengertian tentang state space, menentukan nisbah alih hubungannya dengan persamaan ruang keadaan dan Mengembangkan analisis
SEGMENTASI CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA WATERSHED DAN LOWPASS FILTER SEBAGAI PROSES AWAL ( November, 2013 )
SEGMENTASI CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA WATERSHED DAN LOWPASS FILTER SEBAGAI PROSES AWAL ( November, 2013 ) Pramuda Akariusta Cahyan, Muhammad Aswin, Ir., MT., Ali Mustofa, ST., MT. Jurusan
Penerapan Scene Graph dalam Pemodelan Tiga Dimensi
Penerapan Scene Graph dalam Pemodelan Tiga Dimensi Prisyafandiafif Charifa (13509081) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10
SISTEM KONTROL GERAK SEDERHANA PADA ROBOT PENGHINDAR HALANGAN BERBASIS KAMERA DAN PENGOLAHAN CITRA
SISTEM KONTROL GERAK SEDERHANA PADA ROBOT PENGHINDAR HALANGAN BERBASIS KAMERA DAN PENGOLAHAN CITRA Dirvi Eko Juliando Sudirman 1) 1) Teknik Komputer Kontrol Politeknik Negeri Madiun Jl Serayu No. 84, Madiun,
Menurut Ming-Hsuan, Kriegman dan Ahuja (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah sistem pengenalan wajah dapat digolongkan sebagai berikut:
BAB 2 LANDASAN TEORI Bab ini akan menjelaskan berbagai landasan teori yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini dan menguraikan hasil studi literatur yang telah dilakukan penulis. Bab ini terbagi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI.. Definisi Graf Secara matematis, graf G didefinisikan sebagai pasangan himpunan (V,E) ditulis dengan notasi G = (V, E), yang dalam hal ini: V = himpunan tidak-kosong dari simpul-simpul
TINJAUAN PUSTAKA Analisis Biplot Biasa
TINJAUAN PUSTAKA Analisis Biplot Biasa Analisis biplot merupakan suatu upaya untuk memberikan peragaan grafik dari matriks data dalam suatu plot dengan menumpangtindihkan vektor-vektor dalam ruang berdimensi
Gambar 15 Contoh pembagian citra di dalam sistem segmentasi.
dalam contoh ini variance bernilai 2000 I p I t 2 = (200-150) 2 + (150-180) 2 + (250-120) I p I t 2 = 28400. D p (t) = exp(-28400/2*2000) D p (t) = 8.251 x 10-4. Untuk bobot t-link {p, t} dengan p merupakan
Pengertian. Transformasi geometric transformation. koordinat dari objek Transformasi dasar: Translasi Rotasi Penskalaan
Pengertian Transformasi geometric transformation Transformasi = mengubah deskripsi koordinat dari objek Transformasi dasar: Translasi Rotasi Penskalaan Translasi Mengubah posisi objek: perpindahan lurus
SILABUS. tentu. Menentukan integral tentu dengan menggunakan sifat-sifat integral. Menyelesaikan masalah
SILABUS Nama Sekolah : SMA PGRI 1 AMLAPURA Mata Pelajaran : MATEMATIKA Kelas/Program : XII / IPA Semester : 1 STANDAR KOMPETENSI: 1. Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah. KOMPETENSI DASAR
ANIMASI GERAKAN EXAGGERATION PUKULAN TINJU BERBASIS PENDEKATAN KURVA BEZIER
ANIMASI GERAKAN EXAGGERATION PUKULAN TINJU BERBASIS PENDEKATAN KURVA BEZIER Aidil Primasetya 1, Surya Sumpeno 2, Moch. Hariadi 3 1 Pasca Sarjana Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri Institut
MASALAH VEKTOR EIGEN MATRIKS INVERS MONGE DI ALJABAR MAX-PLUS
MASALAH VEKTOR EIGEN MATRIKS INVERS MONGE DI ALJABAR MAX-PLUS Farida Suwaibah, Subiono, Mahmud Yunus Jurusan Matematika FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya,, e-mail: [email protected]
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI UNTUK MENDESAIN KARTU UCAPAN
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI UNTUK MENDESAIN KARTU UCAPAN Rudy Adipranata 1, Liliana 2, Gunawan Iteh Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto
Aplikasi Metode Meshless Local Petrov- Galerkin (MLPG) Pada Permasalahan Sedimentasi Model Sungai Shazy Shabayek BY SOFWAN HADI
Aplikasi Metode Meshless Local Petrov- Galerkin (MLPG) Pada Permasalahan Sedimentasi Model Sungai Shazy Shabayek BY SOFWAN HADI Latar Belakang Sungai merupakan tempat untuk mengalirkan air menuju ke laut
UJIAN SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DINAS PENDIDIKAN KOTA BEKASI TAHUN PELAJARAN 2013/2014 LEMBAR SOAL
UJIAN SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DINAS PENDIDIKAN KOTA BEKASI TAHUN PELAJARAN / LEMBAR SOAL Mata Pelajaran : Matematika Jenjang : SMA/MA Program Studi : IPA Hari/Tanggal : 9 Maret Jam : PETUNJUK
Gambar 4.1 Macam-macam Komponen dengan Bentuk Kompleks
BAB 4 HASIL DA A ALISA Banyak komponen mesin yang memiliki bentuk yang cukup kompleks. Setiap komponen tersebut bisa jadi memiliki CBV, permukaan yang berkontur dan fitur-fitur lainnya. Untuk bagian implementasi
BAB II METODE KEKAKUAN
BAB II METODE KEKAKUAN.. Pendahuluan Dalam pertemuan ini anda akan mempelajari pengertian metode kekakuan, rumus umum dan derajat ketidak tentuan kinematis atau Degree Of Freedom (DOF). Dengan mengetahui
BESARAN VEKTOR. Gb. 1.1 Vektor dan vektor
BAB 1 BESARAN VEKTOR Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan definisi vektor, dan representasinya dalam sistem koordinat cartesius 2. Menjumlahkan vektor secara grafis dan dengan vektor komponen 3. Melakukan
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ANDALAS FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) Mata Kuliah Matematika Teknik
Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks
Vol. 8, No.1, 1-11, Juli 2011 Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks Nur Erawati, Azmimy Basis Panrita Abstrak Teorema Cayley-Hamilton menyatakan bahwa setiap matriks bujur sangkar memenuhi persamaan
OPTIMASI PENCAPAIAN TARGET PADA SIMULASI PERENCANAAN JALUR ROBOT BERGERAK DI LINGKUNGAN DINAMIS
OPTIMASI PENCAPAIAN TARGET PADA SIMULASI PERENCANAAN JALUR ROBOT BERGERAK DI LINGKUNGAN DINAMIS Yisti Vita Via Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Pemanfaatan Directed Acyclic Graph untuk Merepresentasikan Hubungan Antar Data dalam Basis Data
Pemanfaatan Directed Acyclic Graph untuk Merepresentasikan Hubungan Antar Data dalam Basis Data Winson Waisakurnia (13512071) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut
MENGGAMBAR GRAFIK DENGAN MICROSOFT MATHEMATICS 4.0 1
MENGGAMBAR GRAFIK DENGAN MICROSOFT MATHEMATICS 4.0 1 Oleh Kuswari Hernawati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY [email protected] PENDAHULUAN Microsoft Mathematics adalah program edukasi, yang dibuat
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ANDALAS FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) Mata Kuliah Matematika Teknik I Dosen Heru Dibyo Laksono
BAB III PROSEDUR DAN METODOLOGI
BAB III PROSEDUR DAN METODOLOGI 3.1 Analisis Masalah Dewasa ini keberadaan robot sebagai mesin yang menggantikan manusia dalam melakukan berbagai pekerjaan semakin diperlukan. Oleh karena itu robot dituntut
Spektrum Graf Konjugasi dan Komplemen Graf Konjugasi dari Grup Dihedral
Spektrum Graf Konjugasi dan Komplemen Graf Konjugasi dari Grup Dihedral Abdussakir Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jalan Gajayano 50 Malang, telp (0341) 551354, fax (0341) 572533
PENGOLAHAN CITRA RADIOGRAF PERIAPIKAL PADA DETEKSI PENYAKIT PULPITIS MENGGUNAKAN METODE ADAPTIVE REGION GROWING APPROACH
PENGOLAHAN CITRA RADIOGRAF PERIAPIKAL PADA DETEKSI PENYAKIT PULPITIS MENGGUNAKAN METODE ADAPTIVE REGION GROWING APPROACH Rikko Ismail Hardianzah 1), Bambang Hidayat 2), Suhardjo 3) 1),2) Fakultas Teknik
Implementasi Pencocokan String Tidak Eksak dengan Algoritma Program Dinamis
Implementasi Pencocokan String Tidak Eksak dengan Algoritma Program Dinamis Samudra Harapan Bekti 13508075 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung,
Gambar 2.1 Sumbu-sumbu pada mesin NC [9]
2 PMSI MULTI IS D SISTM CM 2.1 Pemesinan C Multi xis Proses pemesinan dengan teknologi NC (numerical control) telah dikenal luas pemakaiannya pada saat ini. lectronics Industries ssociation (I) mendefinisikan
BAB 6 METODE PENGUJIAN
BAB 6 METODE PENGUJIAN Metode pengujian adalah cara atau teknik untuk menguji perangkat lunak, mempunyai mekanisme untuk menentukan data uji yang dapat menguji perangkat lunak secara lengkap dan mempunyai
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan pemrosesan data untuk sistem pendeteksi senyum pada skripsi ini, meliputi metode Viola Jones, konversi citra RGB ke grayscale,
BAB III METODE OPTIMASI MATLAB
BAB III METODE OPTIMASI MATLAB 3.1 Langkah Optimasi Dalam membuat desain optimasi digunakan program MATLAB, suatu bahasa pemrograman perhitungan yang melibatkan operasi matematika elemen, matrik, optimasi,
BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]
BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Elemen Hingga Analisa kekuatan sebuah struktur telah menjadi bagian penting dalam alur kerja pengembangan desain dan produk. Pada awalnya analisa kekuatan dilakukan dengan
Pemodelan Distribusi Suhu pada Tanur Carbolite STF 15/180/301 dengan Metode Elemen Hingga
Pemodelan Distribusi Suhu pada Tanur Carbolite STF 15/180/301 dengan Metode Elemen Hingga Wafha Fardiah 1), Joko Sampurno 1), Irfana Diah Faryuni 1), Apriansyah 1) 1) Program Studi Fisika Fakultas Matematika
Aplikasi Pewarnaan Graf Pada Pengaturan Warna Lampu Lalu Lintas
Aplikasi Pewarnaan Graf Pada Pengaturan Warna Lampu Lalu Lintas Andreas Dwi Nugroho (13511051) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
MA Analisis dan Aljabar Teori=4 Praktikum=0 II (angka. 17 Juli
INSTITUT TEKNOLOGI KALIMANTAN JURUSAN MATEMATIKA DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROGRAM STUDI MATEMATIKA SILABUS MATA KULIAH KODE Rumpun MK BOBOT (sks) SEMESTER Tgl Penyusunan Aljabar Linear ELementer MA Analisis
Esther Wibowo
Esther Wibowo [email protected] Topik Hari Ini Dasar Transformasi Translation Pemindahan, Penggeseran Scaling Perubahan Ukuran Shear Distorsi? Rotation Pemutaran Representasi Matriks Transformasi
Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru (28293), Indonesia
MEMBANDINGKAN ALGORITMA D SATUR DENGAN ALGORITMA VERTEX MERGE DALAM PEWARNAAN GRAF TAK BERARAH Daratun Nasihin 1 Endang Lily 2, M. D. H. Gamal 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Matematika Jurusan Matematika
LANDASAN TEORI. Bab Konsep Dasar Graf. Definisi Graf
Bab 2 LANDASAN TEORI 2.1. Konsep Dasar Graf Definisi Graf Suatu graf G terdiri atas himpunan yang tidak kosong dari elemen elemen yang disebut titik atau simpul (vertex), dan suatu daftar pasangan vertex
Aplikasi Matriks Circulant Untuk Menentukan Nilai Eigen Dari Graf Sikel (Cn)
Aplikasi Matriks Circulant Untuk Menentukan Nilai Eigen Dari Graf Sikel (Cn) T 24 Siti Rahmah Nurshiami dan Triyani Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal soedirman, Purwokerto
ENHANCED K-SVD ALGORITHM for IMAGE DENOISING
ENHANCED K-SVD ALGORITHM for IMAGE DENOISING Edwin Junius, Reza Alfiansyah, Endra,Universitas Bina Nusantara, [email protected], [email protected], ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membuat
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Algoritma Algoritma adalah teknik penyusunan langkah-langkah penyelesaian masalah dalam bentuk kalimat dengan jumlah kata terbatas tetapi tersusun secara logis dan sitematis
TRANSFORMASI GEOMETRI ROTASI BERBANTUAN SOFTWARE GEOGEBRA
ISSN : 2460 7797 e-issn : 2614 8234 Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/fbc Email : [email protected] Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika TRANSFORMASI GEOMETRI ROTASI BERBANTUAN SOFTWARE GEOGEBRA
MATEMATIKA INFORMATIKA 2 TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS GUNADARMA FENI ANDRIANI
MATEMATIKA INFORMATIKA 2 TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS GUNADARMA FENI ANDRIANI SAP (1) Buku : Suryadi H.S. 1991, Pengantar Aljabar dan Geometri analitik Vektor Definisi, Notasi, dan Operasi Vektor Susunan
SOLUSI NON NEGATIF PARSIAL SISTEM PERSAMAAN DIFERENSIAL LINIER ORDE SATU
SOLUSI NON NEGATIF PARSIAL SISTEM PERSAMAAN DIFERENSIAL LINIER ORDE SATU Muhafzan Jurusan Matematika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas Kampus Unand Limau Manis Pag 25163 email:
a. Hubungan Gerak Melingkar dan Gerak Lurus Kedudukan benda ditentukan berdasarkan sudut θ dan jari jari r lintasannya Gambar 1
. Pengantar a. Hubungan Gerak Melingkar dan Gerak Lurus Gerak melingkar adalah gerak benda yang lintasannya berbentuk lingkaran dengan jari jari r Kedudukan benda ditentukan berdasarkan sudut θ dan jari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Graf (Graph) Graf G didefinisikan sebagai pasangan himpunan (V, E) yang dinotasikan dalam bentuk G = {V(G), E(G)}, dimana V(G) adalah himpunan vertex (simpul) yang tidak kosong
PENGANTAR 3D. 3 Dimensi - Pengantar 1
PENGANTAR 3D 3 Dimensi - Pengantar 1 2 Dimensi dan 3 DIMENSI Apa yang membedakan 2 dimensi dengan 3 dimensi? 2 Dimensi : Tinggi dan Lebar 3 Dimensi : Tinggi, Lebar dan Kedalaman Kedalaman adalah jarak
Ilustrasi Penggunaan Quaternion untuk Penanggulangan Gimbal Lock
Ilustrasi Penggunaan Quaternion untuk Penanggulangan Gimbal Lock Nikolas Wangsaputra / 13514048 1 Program Studi Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah
BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan pertumbuhan kebutuhan dan intensifikasi penggunaan air, masalah kualitas air menjadi faktor yang penting dalam pengembangan sumberdaya air di berbagai belahan bumi. Walaupun
Empat Metode Pembobotan Sistem Persamaan Linier Pada Variabel atau Komponen Wajah Pada Sistem Pengenalan Wajah
Empat Metode Pembobotan Sistem Persamaan Linier Pada Variabel atau Komponen Wajah Pada Sistem Pengenalan Wajah Emi Listika Zen Jurusan Teknik Informatika Universitas Gunadarma Jl. Margonda Raya 100 Pondok
