UNIVERSITAS INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS INDONESIA"

Transkripsi

1 UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT DI PUSAT SISTEM INFORMASI DAN TEKNOLOGI KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN KARYA AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Teknologi Informasi AIRLANGGA AGUNG PERDANA FAKULTAS ILMU KOMPUTER PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI INFORMASI JAKARTA JANUARI 2014

2 ii

3 iii

4 iv

5 iv

6 ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Airlangga Agung Perdana : Magister Teknologi Informasi : Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Implementasi Knowledge Management Di Pusat Sistem Informasi Dan Teknologi Keuangan Kementerian Keuangan Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (PUSINTEK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai satuan kerja yang bertugas memberikan layanan teknologi informasi dan komunikasi baik secara teknis maupun non teknis kepada seluruh unit kerja di Kemenkeu. Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan prima, maka Pusintek membutuhkan sebuah pengelolaan pengetahuan dan pengalaman agar setiap pegawai diharapkan memiliki tingkat pengetahuan yang sama. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode memetakan Knowledge Management Critical Success Factor (KMCSF) dan infrastruktur ke dalam aspek Knowledge Management, kemudian dihitung level Knowledge Management Readiness. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Pusintek sudah berada pada level 4 (Receptive) yang berarti bahwa Pusintek telah siap dan mapan untuk menerapkan Knowledge Management. Kata kunci : Knowledge, Knowledge Management, Knowledge Managemenet Critical Success Factor vi

7 ABSTRACT Name Study Program Title : Airlangga Agung Perdana : Magister Teknologi Informasi : Readiness Level Analysis of Knowledge Management Implementation in Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan Kementerian Keuangan Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (PUSINTEK) Ministry of Finance is an unit which provides Information Technology and Communication services, either technically or non technically, to all other units in the Ministry of Finance. In order to sustain first-class treatment, it is necessary for PUSINTEK to acquire and implement Knowledge Management so that every employee has the same level of knowledge. Hence, the writer is doing research on the readiness level of knowledge management implementation in PUSINTEK, Ministry of Finance. This research is done to analyze the readiness of Pusintek in implementing Knowledge Management using the following method: by mapping Knowledge Management Critical Success Factor (KMCSF) and infrastructure into Knowledge Management aspects. The result of this research stated that Pusintek already at level of 4 (Receptive), which means that Pusintek has been prepared and established to implement Knowledge Management. Keys : Knowledge, Knowledge Management, Knowledge Managemenet Critical Success Factor vii

8 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... v ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR TABEL... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Batasan Penelitian Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Sistematika Penulisan... 4 BAB II LANDASAN TEORI Teori Knowledge dan Knowledge Management Definisi Knowledge Jenis Knowledge Knowledge Management Knowledge Management System Konsep Knowledge Knowledge Management Success Factor (KMCSF) KMCSF menurut Tiwana KMCSF menurut Skyrme KMCSF menurut Mamaghani et al KMCSF Stankosky dan Baldanza (2001) Infrastruktur Knowledge Management Aspek Knowledge Management Knowledge Management Readiness Penelitian Sebelumnya BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB IV PROFIL ORGANISASI Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek) Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Struktur Organisasi Bagian Tata Usaha Bidang Perencanaan dan Kebijkan TIK viii

9 4.4.3 Bidang Pengembangan Sistem Informasi Bidang Pengelolaan TIK Bidang Operasional TIK Kelompok Fungsional Pranata Komputer Tujuan Sasaran BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN Pemetaan Pertanyaan Kuisioner Teknik Analisis Data Profil Responden Uji Validitas dan Reabilitas Kuesioner Uji Validitas Uji Reabilitas Analisis Penelitian Analisis Aspek Abstract Analisis Aspek Soft Analisis Aspek Hard Analisis Penunjang Pembahasan BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix

10 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 SECI Model Gambar 2.2 Level KM Readiness Zaidiah (2011) Gambar 3.1 Metodologi Penelitian Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pusintek Gambar 4.2 Struktur Organisasi Bagian Tata Usaha Gambar 4.3 Struktur Organisasi Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK Gambar 4.4 Struktur Organisasi Bidang Pengembangan Sistem Informasi Gambar 4.5 Struktur Organisasi Bidang Pengelolaan TIK Gambar 4.6 Struktur Organisasi Bidang Operasional TIK Gambar 5.1 Demografi peserta kuesioner berdasarkan jenis kelamin Gambar 5.2 Demografi peserta kuesioner berdasarkan lama bekerja Gambar 5.3 Perolehan Dimensi pada Aspek Abstract Gambar 5.4 Perolehan Dimensi pada Aspek Soft Gambar 5.5 Perolehan Dimensi pada Aspek Hard x

11 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Aspek dari Knowledge Management Tabel 2.2 Karakteristik Readiness Level Gracianus (2011) Tabel 2.3 Pemetaan instrumen dimensi dan aspek KM Tabel 2.4 Perbandingan Penelitian dengan Penelitian Sebelumnya Tabel 5.1 Pemetaan Pertanyaan Kuisioner Tabel 5.2 Hasil perhitungan data kuesioner penelitian KM Readiness Tabel 5.3 Perhitungan Aspek Abstract Dimensi Pemahaman Mengenai Definisi dan Manfaat dari Knowledge Management Tabel 5.4 Sumber knowledge bagi Pusintek Tabel 5.5 Aktivitas penunjang bagi Pusintek Tabel 5.6 Keterlibatan posisi dalam sharing knowledge saat ini Tabel 5.7 Keterlibatan posisi dalam sharing knowledge yang akan datang xi

12 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Lampiran 2 Perhitungan Kuesioner Lampiran 3 Data Kuesioner untuk Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Lampiran 4 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas xii

13 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini membahas latar belakang masalah, perumusan masalah yang diselesaikan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan yang dipakai. Studi kasus karya akhir ini adalah Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek) Kementerian Keuangan (Kemenkeu). 1.1 Latar Belakang Pusintek merupakan sebuah satuan kerja di Kemenkeu yang bertugas memberikan pelayanan teknologi informasi dan komunikasi kepada seluruh satuan kerja yang ada di Kemenkeu. Pusintek terdiri dari empat bidang dan satu bagian, yaitu bidang Pengembangan Sistem Informasi (PSI), bidang Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK), bidang Perencanaan Kebijakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PKTIK), bidang Operasional Teknologi Informasi dan Komunikasi (OPTIK), dan Bagian Tata Usaha (TU) dan 5 kantor vertikal di Makassar, Surabaya, Medan, Semarang, dan Denpasar. Pegawai yang dimiliki saat ini oleh Pusintek sebanyak 290 pegawai. Jumlah tersebut terhitung cukup banyak untuk unit setingkat eselon II. Tingkat mutasi juga cukup tinggi di Pusintek, karena dengan adanya reformasi birokrasi mewajibkan adanya rotasi pegawai setiap tahun, baik rotasi antar eselon III maupun antar eselon II. Menurut data dari bagian Tata Usaha Pusintek, tahun 2010 terdapat 86 pegawai terkena rotasi, tahun 2011 terdapat 33 pegawai terkena rotasi, 2012 terdapat 37 pegawai terkena rotasi, dan 2013 terdapat 54 pegawai terkena rotasi, selain itu ditambah dengan adanya beberapa pegawai yang habis masa baktinya setiap tahunnya. Setiap pegawai memiliki keahlian dan pengetahuan di bidangnya masing-masing, dan ketika terjadi rotasi pegawai baru akan sangat sulit untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang baru karena ilmu dan kegiatan tidak terdokumentasi. Terlebih ketika ada pegawai yang pindah unit kerja, maka akan sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang pekerjaan yang telah dilakukannya, dengan kondisi tersebut maka sangat diperlukan 1

14 2 penerapan Knowledge Management (KM) di Pusintek agar pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki setiap pegawai dapat dikelola dan dibagikan keseluruh pegawai sehingga organisasi dapat belajar dengan cepat terhadap perubahan yang terjadi di organisasi, dan juga dapat tetap memantau siapa mengetahui apa (Elias M. Awad, 2007), sehingga ketika ada pergantian pegawai maka pegawai baru tersebut tidak mengalami kesulitan dalam memahami tugas di tempat yang baru dan juga pengetahuan tersebut tidak akan hilang. KM dirancang untuk menampung segala bentuk catatan yang dibuat oleh seluruh pegawai, baik bersifat ilmiah maupun non ilmiah. Menyadari akan pentingnya KM tersbut, Pusintek telah berusaha menerapkan sistem Knowledge Sharing yang sudah dimulai pada tahun 2012 dan hasilnya tidak berjalan sesuai harapan dikarenakan kurang adanya sosialisasi dan peraturan yang mewajibkan pengisian sistem Knowledge Sharing tersebut. Saat ini sistem Knowledge Sharing hanya dipakai oleh bagian Tata Usaha untuk menyimpan surat-surat dan sifatnya berubah menjadi seperti file sharing. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan lembaga telekomunikasi di Inggris (British Telecommunication PLC), sebesar 70% proyek KM dinyatakan gagal. Hal ini dikarenakan belum siapnya organisasi ketika mengimplementasikan KM. Kegagalan yang sering terjadi disebabkan karena penerapan sistem hanya berdasarkan teori-teori saja dan tidak mempertimbangkan keadaan organisasi (Lovina & Surendro, 2009). Agar KM yang diimplementasikan dapat berhasil, maka organisasi harus lebih dahulu melakukan pengukuran tingkat kesiapan organisasi dalam pengimplementasian KM secara detail. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan dalam implementasi KM yang sesuai dengan organisasi, sehingga ketika diimplementasikan KM akan bermanfaat bagi organisasi, dengan demikian maka penulis melakukan penelitian tentang kesiapan dari Pusintek untuk mengimplementasikan KM. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan masalah yang ada pada subbab sebelumnya, penulis merumuskan sebuah pertanyaan penelitian yaitu:

15 3 Sejauh mana tingkat kesiapan dari Pusintek dalam mengimplementasikan Knowledge Management?. 1.3 Batasan Penelitian Batasan penelitian yang dilakukan yaitu: 1. Penelitian hanya dilakukan di lingkup Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan Kementerian Keuangan, 2. Penelitian ini hanya melakukan pengukuran mengenai kesiapan dari implementasi Knowledge Management di Pusintek. 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengukur tingkat kesiapan Pusintek dalam mengimplementasikan Knowledge Management. 2. Memberikan rekomendasi untuk perbaikan kesiapan penerapan Knowledge Management, sehingga dapat membantu Pusintek dalam penerapan KMS. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut: a. Bagi Praktisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran knowledge management yang diimplementasikan di pemerintahan khususnya Pusintek Kemenkeu. b. Bagi Akademis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengukuran kesiapan organisasi dalam mengimplementasikan Knowledge Management. c. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan proses knowledge management di instansi pemerintahan khususnya Pusintek Kemenkeu. 1.6 Sistematika Penulisan Penulisan karya akhir ini dibagi dalam enam bab dengan tiap-tiap bab membahas sebagai berikut :

16 4 BAB I PENDAHULUAN Bagian awal penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. BAB II STUDI LITERATUR Bagian ini menjelaskan tentang dasar-dasar teori yang digunakan dalam penelitian ini. Meliputi teori knowledge management, knowledge management berbasiskan Teknologi Informasi, faktor-faktor yang mempengaruhi knowledge management serta penelitian sejenis. Referensi diambil dari berbagai buku, artikel dan jurnal yang terkait dengan knowledge management system. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bagian ini berisi penjelasan teknik/cara analisa yang digunakan oleh pneliti serta tahapan penelitian. BAB IV PROFIL ORGANISASI Bagian ini menjelaskan tentang profil organisasi dari Pusintek. Dijelaskan struktur organisasi, visi dan misi Pusintek. BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN Bagian ini menjelaskan analisa dari hasil penelitian dan juga dilakukan pembahasan hasil tersebut dan berserta langkah-langkah untuk perbaikan. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Bagian ini menjelaskan kesimpulan beserta saran yang dihasilkan dari analisa penelitian. Dan diharapkan dapat berguna bagi organisasi kedepannya.

17 BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menjelaskan tentang landasan teori yang digunakan dalam penelitian mengenai Knowledge Management (KM). Teori-teori yang digunakan adalah teori knowledge management readiness, teori KM berbasiskan TI, keselarasan antara strategi organisasi dan KM, serta faktor-faktor yang mempengaruhi KM. 2.1 Teori Knowledge dan Knowledge Management Definisi Knowledge Thomas Davenport dan Laurence (1998) mengatakan knowledge merupakan kombinasi dari pengalaman, nilai, informasi kontekstual, pandangan pakar, dan institusi yang memberikan suatu lingkungan dan kerangka untuk mengetahui dan menyatukan pengalaman baru dengan informasi. Knowledge menurut Tiwana (2001) adalah perpaduan / percampuran antara pengalaman, nilai, informasi lingkungan konstektual, wawasan para ahli, dan instuisi yang menyediakan lingkungan dan framework untuk mengevaluasi dan memasukkan pengalaman dan informasi yang baru. Knowledge adalah rangkaian informasi dengan pengambilan keputusan dan tindakan yang mengarah pada kegunaan dan tujuan (Fernandez, 2004). Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa knowledge adalah sebuah informasi yang dihasilkan dari penggabungan beberapa pengetahuan, informasi dan pengalaman sebelumnya yang telah diolah sehingga menjadi suatu informasi yang sangat berguna untuk organisasi Jenis Knowledge Knowledge dibagi menjadi dua jenis, yaitu Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge. Berikut penjelasannya: a. Tacit Knowledge Tacit Knowledge merupakan pengetahuan pribadi yang tersimpan di dalam diri seseorang dan relatif sulit untuk diterjemahkan. Tacit Knowledge 5

18 6 berbentuk pengetahuan know-how, pengalaman, skill, dan pemahaman. Biasanya dikembangkan berdasarkan pengalaman-pengalaman dari masing-masing individu dan akan sangat sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al., 2004). Pengalaman setiap individu akan berbeda-beda, tergantung situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Arti dari kata pengalaman sendiri menurut kamus besar bahasa indonesia adalah yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung, dsb). Sehingga tacit knowledge lebih cenderung berarti pengalaman yang diperoleh oleh masing-masing individu. b. Explicit Knowledge Explicit Knowledge merupakan pengetahuan yang berbetuk tulisan, baik berupa artikel, jurnal, buku dan lain-lain. Explicit Knowledge bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al., 2004). Penerapannya dalam bentuk tulisan atau dokumentasi, sehingga penerapannya lebih mudah karena informasi atau pengetahuan sudah dalam bentuk tulisan yang telah terdokumentasi Knowledge Management Menurut Amrit Tiwana (2001) pengelolaan knowledge perusahaan dalam menciptakan nilai bisnis (business value) dan menghasilkan keuntungan kompetitif yang berkesinambungan dengan mengoptimalkan proses penciptaan, pengkomunikasian, dan pengaplikasian semua knowledge yang dibutuhkan dalam rangka pencapaian tujuan bisnis. Secara harfiah, knowledge management adalah manajemen pengetahuan yang berarti usaha untuk mengelola, menganalisa, meningkatkan, dan membagikan pengertian dan pengalaman yang terbangun atas ppengetahuan, baik yang terwujud dalam bentuk individu atau yang melekat dalam proses dan aplikasi nyata suatu organisasi. Knowledge management bertujuan untuk meningkatkan cara menyalurkan data mentah ke bentuk informasi yang bermanfaat, hingga akhirnya menjadi pengetahuan.

19 7 Fernandez (2004) menggambarkan evolusi pengetahuan dalam SECI model, sebagai berikut: a. Socilization Adanya interaksi tidak resmi antara individu dengan individu lainnya dalam berbagai ide dan keahlian. b. Externalization Evolusi dari tacit menjadi explicit, yaitu proses kodifikasi. c. Combination Perubahan pengetahuan eksplisit dari satu bentuk ke bentuk lainnya. d. Internalization Proses kognitif individu dari pengetahuan yang telah dikodifikasi untuk menciptakan pengetahuan tacit dalam konteks tertentu Knowledge Management System Knowledge Management System (KMS) menurut Maier (2006), merupakan teknologi yang memungkinkan knowledge management untuk berjalan dengan efektif dan efisien. Fernanzdez (2004) mengataan bahwa KMS merupakan gabungan dari teknologi dan mekanisme yang dikembangkan untuk mendukung proses KM. Menurut Fernandez (2004), KMS dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu: a. Knowledge Discovery System Knowledge Discovery System merupakan proses membangun tacit atau explicit knowledge baru dari data dan informasi atau dari sintesis pengetahuan terdahulu. b. Knowledge Capture System Knowledge Capture System merupakan proses perbaikan salah satu dari explicit atau tacit knowledge yang melalui poeple, artifact, atau melalui organisasi. c. Knowledge Sharing System

20 8 Knowledge Sharing System merupakan proses dimana explicit atau tacit knowledge dapat dikomunikasikan dengan individu lainnya. Dapat dikelompokkan lagi menjadi: i. Database laporan insiden ii. Peringatan iii. Penerapan basis data yang baik iv. Hal yang dipelajari sistem v. Keahlian sistem pelacak d. Knowledge Application System Knowledge Application System merupakan proses penggunaan pengetahuan yang dipunyai oleh beberapa individu dengan individu lain tanpa mendapatkannya secara nyata atau mempelajari pengetahuan itu. e. Konsep Knowledge Penciptaan knowledge dicapai melalui pengenalan hubungan sinergi antara tacit knowledge dan explicit knowledge. Nonaka dan Takeuchi (1995) menggambarkan ada empat tahapan yang sering disebut dengan SECI, yaitu: Sosialisasi (Socialization), Ekternalisasi (Externalization), Kombinasi (Combination), dan Internalisasi (Internalization). Pada Gambar 2.1 dijelaskan bentuk model dari SECI. a. Sosialisasi (Tacit Tacit) Adalah proses perpindahan pengetahuan berbentuk tacit kepada individu lain, dapat melalui komunikasi langsung atau tidak langsung. Dapat juga diartikan sebuah proses pemindahan pengetahuan yang berupa tacit melalui komunikasi langsung antar individu. b. Eksternalisasi (Tacit Explicit) Adalah proses melakukan artikulasi pengetahuan tacit menjadi konsep yang explicit, atau dengan kata lain merubah pengetahuan yang ada di pikiran individu menjadi bentuk yang mudah

21 9 dimengerti, seperti bentuk tulisan. Atau dengan pengertian lain adalah sebuah usaha untuk mengubah pengetahuan atau pengalaman individu menjadi sebuah catatan atau dokumentasi, agar dapat dipelajari oleh individu lain dengan lebih mudah. c. Kombinasi (Explicit Explicit) Adalah proses yang akan melakukan penggabungan konsep untuk masuk menjadi pengetahuan baru sehingga mudah dimengerti oleh individu lain. Atau dengan pengertian lain adalah proses pemindahan pengetahuan melalui tulisan, artikel maupun dokumen. d. Internalisasi (Explicit Tacit) Adalah proses membuat pengetahuan explicit menjadi pengalaman tacit. Sebagai contoh adalah pengetahuan yang sudah terdokumentasi, akan diambil oleh individu lain agar dapat dimengerti oleh individu tersebut. Atau dengan pengertian lain adalah proses penterjemahan dari pengetahuan yang berbentuk tulisan menjadi pengetahuan yang dimengerti oleh individu sehingga dapat dimengerti oleh individu tersebut. Gambar 2.1 SECI Model

22 Knowledge Management Success Factor (KMCSF) KMCSF menurut Tiwana Menurut Tiwana (2000), hal-hal yang merupakan indikator untuk mengetahui Knowledge Readiness suatu organisasi atau perusahaan adalah: a. Scaning Imperative Adalah proses penyaringan hal-hal yang dianggap penting. Proses ini merupakan fasilitator pertama untuk kesuksesan KM. Untuk meninjau kesiapan organisasi dapat dimulai dengan tiga pertanyaan, yaitu: Apakah organisasi atau perusahaan mengerti fungsi dari tiap lingkungan kerjanya? Apakah organisasi mengumpulkan informasi dari luar organisasi atau perusahaan? Apakah ada kesadaran dalam internal organisasi atau perusahaan terhadap kompetitor? b. Shared Perceptiop of Performance Gaps Merupakan kegiatan saling berbagi dan memahami perbedaan tugas. Mengenal kerenggangan berarti memfokuskan KM dengan kata lain apakah individu dapat: Membandingkan antara perusahaannya dan perusahaan yang diinginkan Bagaimana respon para pelanggan Apakah kualitas servis pelanggan dibawah standar c. Corporate Culture Merupakan budaya perusahaan seperti apakah organisasi atau perusahaan memiliki infrastruktur yang menggunakan komputer. d. Knowledge Champions Seseorang atau kelompok yang memperjuangkan knowledge. Champions dapat didefinisikan sebagai pempimpin yang emiliki visi dan semua orang dalam perusahaan harus mendukungnya untuk perubahan, serta apakah ada Transfer of Knowledge. e. Stategic Alignment

23 11 Bisa juga disebut sebagai arah perusahaan yang strategis, yang merupakan upaya perusahaan dengan biaya seminimal mungkin untuk mencapai tujuannya. f. Begin with What ou Know Memulai dengan apa yang individu ketahui. Sebelum memutuskan melakukan sesuatu yang baru, maka evaluasi dulu diri sendiri KMCSF menurut David Skyrme Skyrme (1999) mengatakan ada 10 faktor yang menjadi kunci keberhasilan dalam penerapan KM, yaitu: a. Kepemimpinan Kepemimpinan pada knowledge management adalah tentang bagaimana kepimpinan pada sebuah organisasi dapat menerapkan visi misi organisasi dalam pekerjaannya. Kepemimpinan diperlukan oleh semua pihak, dan digunakan dalam pengelolaan aspek-aspek diluar knowledge seperti pegawai, sumber daya, teknologi, dan sebagainya. b. Budaya Budaya adalah salah satu faktor penting yang harus diperhatikan, karena penerapan knowledge management memerlukan budaya kerja yang mendukung proses pertukaran informasi antar individu, salah satunya dengan melakukan knowledge sharing. c. Proses Organisasi perlu memfasilitasi individu untuk melakukan transfer knowledge dan memudahkan individu untuk mengelola informasi tersebut. Proses pengelolaan informasi ini dibutuhkan secara terus menerus agar informasi-informasi yang diperoleh dapat berguna bagi organisasi. d. Explicit Knowledge Kualitas dari pengetahuan explicit pada sebuah organisasi berperngaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi tersebut, dikarenakan ketika sebuah organisasi memiliki dokumentasi yang

24 12 lengkap dan tertata maka akan memudahkan para pegawai dalam mempelajari informasi-informasi tersebut. e. Tacit Knowledge Tacit knowledge sangat sulit dikelola karena pengetahuan tersebut melekat pada diri individu masing-masing. Organisasi perlu membuat formula agar dapat mengelola pengetahuan tacit ini. f. Knowledge Hubs and Centers Knowledge center berfungsi sebagai tempat untuk pengumpulan seluruh informasi. Knowledge center dapat menjadi pusat informasi tentang pengetahuan. g. Pengukuran Pengukuran yang dilakukan terhadap aset knowledge, seperti aset sumber daya manusia, aset struktural, dan aset pelanggan. h. Eksploitasi Pemasaran Digunakan untuk mengeksploitasi pengetahuan secara eksternal. Diperlukan penggunaan pengetahuan dalam komunikasi secara internal maupin eksternal. i. Keahlian Pegawai Keahlian pegawai adalah soft infrastruktur dari sebuah organisasi. Bagian SDM berperan penting dalam mengelola dan mengerahkan keahlian para pegawai tersebut. j. Infrastruktur Teknologi Organisasi perlu menyiapkan infrastruktur secara baik untuk mendukung knowledge management. Infrastruktur tersebut dapat berupa koneksi intranet, internet KMCSF menurut Mamaghani et al Menurut Mamaghani et.al (2009), melakukan penelitian untuk melakukan pengestakan Knowledge Management Effective adn Critical Success Factor (KMECSF) dan beberapa literatur yang telah ada. Dari hasil penelitian itu dihasilkan 12 KMECSF, yaitu: a. Knowledge Strategy

25 13 b. Dukungan Manajemen Tingkat Atas c. Pengukuran Kinerja d. Struktur Organisasi e. Pembelajaran Organisasi f. Dukungan Finansial g. Budaya Organisasi h. Dukungan Motivasi i. Bekerja dengan Komunikasi dan Kelompok j. Infrastruktur Teknis k. Operasi yang terintegrasi l. Keamanan KMCSF Stankosky dan Baldanza (2001) Terdapat empat faktor, yaitu: a. Kepemimpinan b. Organisasi c. Teknologi d. Pembelajaran Organisasi 2.3 Infrastruktur Knowledge Management Menurut Fernandez (2004) infrastruktur terdiri dari lima komponen, yaitu: a. Budaya Organisasi Budaya adalah salah satu hal yang paling berpengaruh dalam penerapan KM di suatu organisasi. Budaya yang mendukung akan membuat sistem KM berhasil, karena setiap individu akan saling berpartisipasi dalam berbagi pengetahuan. Tetapi jika budaya organisasi tidak mendukung dan banyak yang retensi, maka akan sangat sulit penerapan KM disebuah organisasi. b. Struktur Organisasi Struktur organisasi juga berperan dalam sukses atau tidak penerapan KM disuatu organisasi. Dibutuhkan struktur organisasi yang tidak terlalu kaku, dalam artian antara atasan dan bawahan lebih mudah

26 14 dalam melakukan komunikasi dan interaksi. Dan sangat perlu juga struktur organisasi yang memungkinkan seringnya melakukan diskusi grup, sehingga memudahkan pertukaran informasi dan pengetahuan. c. Infrastruktur Teknologi Informasi Infrastruktur digunakan untuk mendukung sistem informasi yang dibutuhkan organisasi. Ada empat aspek yang harus digunakan dalam pertimbangan memilih infrastruktur TI yaitu sejauh mana infrastruktur itu dapat menjangkau (reach), seberapa detail informasi yang dapat dikomunikasikan (depth), seberapa banyak cara dalam berkomunikasi (rich), dan kemampuan dalam mengambil informais dari berbagai sumber (aggregation). d. Pengetahuan Umum Menunjukkan keahlian dalam memahami kategori dari pengetahuan dan aktivitasnya, serta prinsip organisasi yang mendukung komunikasi dan koordinasi. Pengetahuan ini didapat dari pengalaman sebuah organisasi secara keseluruhan dalam memahami setiap knowledge dan kegiatnnya. e. Lingkungan Fisik aspek yang memperhatikan lingkungan sekitar, seperti ruang pertemuan. Menurut Baccera-Fernandez, kegiatan knowledge management biasanya terjadi tidak dalam keadaan resmi, tetapi lebih banyak terjadi pada saat informal, seperti di kantin, kafe atau tempat lainnya. 2.4 Aspek Knowledge Management Menurut Holt (2000) aspek dalam KM terdiri dari 3 bagian, yaitu aspek teknis (Hard), aspek organisasi (soft), dan aspek ontological dan epistemological (abstract), penjelasan lebih detail dapat dilihat pada tabel 2.1.

27 15 Aspek Teknis (Hard) Tabel 2.1 Aspek dari Knowledge Management Aspek Organisasi (Soft) Aspek Ontological dan Epistemological (Abstrak) Aspek teknis tools KM Pembelajaran organisasi Definisi dari KM Evaluasi tools KM Business Intelligence Filosofis dan psikologis aspek-aspek KM dari pengetahuan Metodologi tools KM pemilihan Aspek budaya dari KM Taksonomi dari KM Kebutuhhan untuk pengembangan tools KM Struktur organisasi yang mendukung KM Epistemologi metodologi dari KM dan Proses dan tools untuk pengenalan pengetahuan Survey tools KM Multi-agent technology for knowledge delivery Best practice di KM Manajemen sumber daya dalam konteks KM Manajemen proyek dalam konteks KM Manajemen operasional dalam konteks KM Metode yang tepat untuk menyelidiki fenomena KM

28 Knowledge Management Readiness Mohamadi et al. (2009) mengatakan bahwa knowledge management readiness adalah kemampuan organisasi atau departemen atau kelompok kerja dalam mengadopsi, menggunakan dan memanfaatkan knowledge management. Kesiapan merupakan hal yang sangat penting bagi suatu organisasi sebelum organisasi tersebut merencanakan dan mempunyai inisiatif menerapkan Knowledge Management. Oleh karena itu sangat penting sebuah organisasi menilai tingkat kesiapan dalam menerapkan KM. Menurut Holt (2000) definisi umum yang ada di dalam literatur saat ini, menggunakan istilah kesiapan merupakan persyaratan yang diperlukan seseorang di dalam menghadapi perubahan organisasi. RAO (2005) dalam bukunya berjudul Knowledge Management Tools and Techniques mengklasifikasikan level kesiapan dari knowledge management menjadi lima level, yaitu: a. tidak siap, b. awal (menjelajahi knowledge management), c. siap (diterima), d. reseptif (advokasi dan pengukuran), dan e. optimal (institutionalized knowledge management) Zaidiah (2011) memaparkan bahwa penentuan level KM Readiness dilihat dari rata-rata presentase kesiapan suatu organisasi dalam menerapkan knowledge management. Presentasi kesiapan KM Readiness dihitung dari jumlah angka atau skor masing-maisng indikator Knowledge Management Success Factor (KMCSF) dibagi total keseluruhan bobot maksimal. Penentuan level tersebut dianalisis dengan menggunakan kuantitatif deskriptif dengan rumus: P = Sn / Sm x 100% Keterangan: P Sn Sm : Merupakan Presentase Level : Merupakan jumlah skor x bobot yang didapatkan : Merupakan total skor x bobot maksimal

29 17 Aspek yang dinilai dari data, kemudian ditabulasi dan diberi skor menggunakan skala penilaian kuantitatif deskriptif. Hasilnya dikonversi menjadi beberapa nilai yaitu : 0% - 20% = Tidak Siap 21% - 40% = Tahap Awal 41% - 60% = Siap 61% - 80% = Reseptif 81% - 100% = Optimal Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar % 20% 40% 60% 80% 100% Tidak Siap Tahap Awal Siap Reseptif Optimal Gambar 2.2 Level KM Readiness Zaidiah (2011) Karakteristik dari Readiness Level yang dijelaskan oleh Gracianus dapat dilihat pada tabel 2.2. LEVEL 1 (Not Ready) Tabel 2.2 Karakteristik Readiness Level Gracianus (2011) KESIAPAN 0 20% DEFINISI UMUM Level ini menunjukkan belum adanya pemahaman mengenai definisi dan manfaat knowledge management ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK Abstract Soft Pemahaman mengenai definisi dan manfaat dari knowledge management Inisiatif organisasi untuk menerapkan knowledge management Leadership Belum terlihat pemahaman individu di dalam organisasi terhadap knowledge management Organisasi tidak memiliki keinginan dalam menerapkan knowledge management Belum adanya upaya dari pimpinan untuk menerapkan knowledge management

30 18 LEVEL KESIAPAN DEFINISI UMUM ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK Struktur organisasi tidak Organization memungkinkan untuk membentuk tim atau kelompok kerja dari gabungan berbagai departemen dalam menyelesaikan pekerjaan Culture Budaya di dalam organisasi tidak mendukung dalam melakukan kegiatan knowledge management Processes Sudah terdapat individu yang menggalakkan knowledge 1 (Not 0 20% Level ini menunjukkan belum adanya pemahaman mengenai Soft Explicit Knowledge Measures management system Explicit Knowledge tidak terkelola dengan baik Tidak adanya pengakuan berupa penghargaan atau Ready) definisi dan manfaat knowledge management Exploitation/ Market Leverage penilaian saat membagi pengetahuan Knowledge di organisasi tidak memberikan peningkatan efisiensi People/ Skills Tidak adanya upaya organisasi dalam meningkatkan keahlian karyawan Knowledge Hub Tidak ada fasilitas untuk and Centers menyimpan dan mengambil knowledge di dalam Hard Technology organisasi Tidak ada infrastruktur dan Infrastructure dukungan teknologi untuk melakukan proses knowledge management

31 19 LEVEL 1 (Not Ready) 2 (Pre Liminary) KESIAPAN DEFINISI UMUM ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK 0 20% Hard Tidak tersedianya lingkungan Physical fisik untuk melakukan Environment kegiatan sharing knowledge Pemahaman Telah mengenal dan mengenai definisi mengetahui pemahaman dan manfaat dari dasar akan knowledge knowledge management Abstract management Inisiatif organisasi Organisasi sudah memiliki Level ini untuk menerapkan keinginan dalam menerapkan knowledge knowledge management menunjukka management n bahwa Leadership Sudah adanya keinginan dari sudah pimpinan dalam melakukan adanya perubahan dengan individu menerapkan knowledge maupun management proses dalam Organization Struktur organisasi sudah melakukan memungkinkan untuk 21 40% kegiatan membentuk tim kecil atau knowledge kelompok kerja dari management gabungan berbagai. Organisasi Soft departemen dalam juga sudah menyelesaikan pekerjaan mengetahui Culture Budaya di dalam organisasi pentingnya telah mulai mendukung kegiatan dalam melakukan knowledge knowledge management management Process Terdapat proses knowledge sharing, mencari knowledge Explicit Adanya usaha untuk Knowledge mengelola explicit knowledge Tacit Knowledge Kemampuan incividu berupa keahlian telah dapat digunakan dan bertambah

32 20 DEFINISI UMUM ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK Measures Terdapat usaha memberikan credit penghargaan dalam beberapa situasi kerja namun belum secara menyeluruh dilakukan Exploitation / Knowledge yang ada belum Market Leverage sepenuhnya memberikan peningkatan efisiensi proses 2 (Pre Liminary) 21 40% menunjukka n bahwa sudah adanya individu maupun proses dalam melakukan kegiatan knowledge management. Organisasi juga sudah mengetahui pentingnya kegiatan knowledge management Soft People/ Skills Learning Knowledge Hub and Centers Technology Infrastructure dalam organisasi Adanya upaya organisasi dalam meningkatkan keahlian karyawan secara perlahanlahan dan usaha mengelola data mengenai keahlian setiap individu Organisasi maupun individu di dalamnya mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan proses pembelajaran Fasilitas untuk menyimpan dan mengambil knowledge di dalam organisasi belum tersedia namun knowledge sudah didokumentasikan Dukungan teknologi seperti penggunaan ICT telah ada, Hard namun fasilitas atau intranet jaringan belum tersedia Physical Adanya fasilitas fisik untuk Environment berbagi knowledge, namun masih terbatas dan belum tersedia tempat untuk melakukan penelitian

33 21 LEVEL KESIAPAN DEFINISI UMUM ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK Pemahaman Mengenal dan mengetahui mengenai definisi dengan baik pemahaman dan manfaat dari akan knowledge management knowledge dan manfaat yang didapat Abstract management dari penerapan knowledge management Level ini menunjukkan individu di dalam organisasi telah melakukan Inisiatif organisasi untuk menerapkan knowledge management Leadership Organisasi memiliki keinginan dan dorongan yang kuat untuk menerapkan knowledge management Adanya upaya dari pimpinan melakukan perubaan dengan menerapkan knowledge kegiatan management 3 (Ready) 41-60% mendukung knowledge management dengan rutin. Organisasi juga telah mendukung kegiatan knowledge Soft Organization Culture Struktur organisasi sudah memungkinkan untuk membentuk tim atau kelompok kerja skala menengah dari berbagai departemen dalam menyelesaikan pekejaan Budaya di dalam organisasi management dan juga terdapat tempat untuk mendokument asikan knowledge Processes telah mendukung dalam melakukan kegiatan knowledge management Terdapat proses knowledge seperti knowledge sharing, mencari knowledge secara rutin dan berkelanjutan Explicit Adanya pengelolaan dengan Knowledge baik terhadap explicit knowledge dari individu maupun organisasi

34 22 LEVEL KESIAPAN DEFINISI UMUM ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK Tacit Knowledge Kemampuan individu berupa keahlian dan pengalaman telah bertambah dan beragam Measures Adanya kredit atau penghargaan dan penilaian terhadap individu yang Level ini menunjukkan individu di dalam organisasi telah melakukan Soft Exploitation/ Market Leverage People/ Skills berkontribusi pengetahuan Knowledge yang ada di dalam organisasi memberikan peningkatan efisiensi Adanya upaya organisasi dalam meningkatkan keahlian karyawan secara perlahan- kegiatan lahan dan usaha mengelola 3 (Ready) 41-60% mendukung knowledge management dengan rutin. Organisasi juga telah mendukung kegiatan knowledge Learning Knowledge Hub data mengenai keahlian karyawan setiap individu Organisasi maupun individu di dalamnya menunjukkan keinginan untuk melakukan proses pembelajaran dalam pekerjaan Fasilitas untuk menyimpan management dan juga terdapat tempat untuk mendokument asikan knowledge Hard and Centers Technology Infrastructure dan mengambil knowledge di dalam organisasi sudah tersedia sehingga knowledge sudah didokumentasikan di dalam database Dukungan teknologi seperti penggunaan ICT telah ada, termasuk fasilitas seperti internet atau intranet Physical Adanya fasilitas fisik berupa Environment ruang untuk berbagi knowledge dan adanya tempat penelitian tersendiri

35 23 LEVEL KESIAPAN DEFINISI UMUM ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK Pemahaman Adanya pemahaman yang mengenai definisi kuat dari definisi dan manfaat dan manfaat dari knowledge management serta knowledge organisasi mempunyai Abstract management inisiatif dalam penerapan Inisiatif organisasi knowledge management. untuk menerapkan Level ini menunjukkan bahwa knowledge management Leadership Setiap individu maupun 4 (Receptive) 61 80% knowledge management telah memberikan manfaat berupa efisiensi, serta adanya peningkatan kegiatankegiatan knowledge management dibanding level 3. Terdapat prosedur- Soft Organization Culture Processes Explicit Knowledge Tacit Knowledge Measures Exploitation/ Market Leverage People/ Skills Learning Knowledge Hub and Centers Technology Infrastructure organisasi mendukung secara penuh diterapkannya knowledge management, dimana setiap indicator dalam aspek soft telah dilakukan secara efektif dan memberikan efisiensi bagi organisasi. Penerapan knowledge management ini juga didukung dengan adanya aturan dan standar. Penerapan knowledge management sudah didukung dengan lingkungan fisik yang baik, fasilitas Database dan prosedur dalam dokumentasi Hard Physical Environment penyimpanan knowledge yang mapan serta dukungan infrastruktur berupa internet dan koneksi jaringan yang stabil. Kemudian juga adanya aturan dan standar yang mengatur fasilitas-fasilitas di atas.

36 24 LEVEL KESIAPAN DEFINISI UMUM ASPEK INDIKATOR KARAKTERISTIK 5 (Optimal) % Level paling atas ini menunjukkan bahwa organisasi telah mapan dalam menerapkan knowledge management, dimana organisasi dan individu yang ada telah mampu menjalankan knowledge management dalam situasi apapun sesuai prosedur yang telah ada. Abstract Soft Pemahaman mengenai definisi dan manfaat dari knowledge management Inisiatif organisasi untuk menerapkan knowledge management Leadership Organization Culture processes Explicit Knowledge Tacit Knowledge Measures Exploitation/ Market Leverage People/ Skills Organisasi telah memiliki kemampuan untuk menyesuaikan terhadap segala syarat yang telah ditentukan untuk mencapai knowledge management readiness. Setiap kegiatan atau pekerjaan di organisasi sudah mengandalkan knowledge management baik aspek abstract, soft maupun hard Hard Knowledge Hub and Centers Technology Infrastructure Physical Environment

37 Penelitian Sebelumnya Penelitian sebelumnya yang menjadi referensi penelitian ini adalah: 1. Zaidiah A., 2010, Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Implementasi Knowledge Management (KM Readiness). Studi Kasus: Institusi Pemerintahan, Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan Penelitian ini menggunakan metode pemetaan terhadap KMCSF David Skyrme dengan KMCSF dari Stanosky-Baldanza serta infrastruktur Knowledge Management dari Beccera-Fernandez, yang kemudian dipetakan ke dalam aspek KM dari Hlupic. Hasil dari penelitian ini menempatkan organisasi pada level 3 dari skala KM Readiness level yang terdiri dari 5 level (ready, preeliminary, ready, receptive, dan optimal). 2. Darojat R., 2012, Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Implementasi Knowledge Management (KM Readiness) Studi kasus : Instansi Pemerintahan, Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup. Penelitian yang dilakukan Darojat menggunakan metode pemetaan KMCSF Valmohammadi dengan KMCSF dari Mamaghani serta KMCSF Wong, yang kemudian dipetakan ke dalam aspek KM untuk kementerian dan dianalisis menggunakan model AHP dan Matrix. Hasil dari penelitian ini menempatkan organisasi pada level 3 dari skala KM Readiness level yang terdiri dari 5 level (not ready, preliminary, ready, receptive, dan optima). 3. Anwar K., 2012, Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Penerapan Knowledge Management Studi Kasus: Institusi Pendidikan, STIE BP. Penelitian Anwar menggunakan metode pemetaan KMCSF David Skyrme dengan KMCSF dari Stankosky-Baldanza serta Infrastruktur Knowledge Management dari Becca-Fernandez, yang kemudian dipetakan ke dalam aspek KM dari Hlupic. Hasil dari penelitian ini

38 26 menempatkan organisasi pada level 3 dari skala KM Readiness level yang terdiri dari 5 level (ready, preeliminary, ready, receptive, dan optimal). 4. Pandu A. S., 2012, Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Implementasi Knowledge Management (KM Readiness). Studi Kasus : Pusat Ilmu Komputer. Penelitian Pandu menggunakan metode pemetaan KMCSF David Skyrme dengan KMCSF dari Stankosky-Baldanza serta Infrastruktur Knowledge Management dari Becca-Fernandez, yang kemudian dipetakan ke dalam aspek KM dari Hlupic. Hasil dari penelitian ini menempatkan organisasi pada level 3 dari skala KM Readiness level yang terdiri dari 5 level (ready, preeliminary, ready, receptive, dan optimal). Pada penelitian ini dihasilkan sebuah kerangka penelitian yang akan menghasilkan pemetaan instrumen dimensi dan aspek KM. Pemetaan instrumen dimensi tersebut dapat dilihat pada tabel 2.3.

39 27 ASPEK PENELITIAN Abstract Tabel 2.3 Pemetaan instrumen dimensi dan aspek KM DIMENSI KMCSF Infrastruktur David Stankovsky KM Becca Skyrme et al Fernandez Pemahaman Leadership Leadership Organizational mengenai Culture definisi dan manfaat dari KM Inisiatif Culture Organization Organizational organisasi Structure untuk menerapkan KM Aspek KM Hlupic et al Aspek Abstract: 1. Pemahaman individu terhdap KM 2. Pemahaman terhadap peranan dan manfaat KM 3. Pemahaman terhadap dampak KM bagi suatu organisasi 4. Inisiatif untuk menerapkan KM Soft Leadership Processes Technology IT Infrastructure Aspek Soft: Organization Explici Organizationa Common 1. Aspek manusia, Knowledge l Learning Knowledge organisasi, budaya, Culture Tacit Knowledge Physical Environtment kepemimpinan 2. Pengembangan Processes Knowledge lingkungan untuk Hub and melakukan Centers knowledge sharing Explicit Measures 3. Pengaruh manajerial Knowledge sumber daya, dan Tacit Exploitation lingkungan Knowledge / Market Leverage Measures People / Skills Hard Exploitation / Market Leverage People / Skills Learning Knowledge Hub and Centers Technology Infrastructure Physical Environtment Technology Infrastructu re Aspek Hard: 1. Teknologi pengelola knowledge 2. Pengembangan infrastruktur untuk memperoleh informasi, pengelolaan data atau data warehouse dan fasilitas yang dapat menunjang KM

40 28 Penelitian Aspek Tempat Metodologi KM Readiness Level Tabel 2.4 Perbandingan Penelitian dengan Penelitian Sebelumnya Zaidiah A (2010) Instansi pemerintahan : Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan Pemetaan KMCSF David Skyrme, Stankosky- Baldanza, Infrastruktur KM Beccera- Fernandez. Dipetakan ke aspek KM dari Hlupic Madanmohan Rao (5 Level) Darojat R (2012) Instansi Pemerintahan : Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Pemetaan KMCSF Valmohammadi, mamaghani, Eong, Dipetakan ke dalam aspek KM Madanmohan Rao (5 Level) Teknik Kuisioner Focus Group Discussion dan kuisioner Tools Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen Penelitian Statistik Deskriptif Dilakukan uji validitas dan reabilitas instrumen penelitian AHP dan Matriks Tidak diketahui Anwar (2012) Institusi Pendidikan: STIE BP Pemetaan KMCSF David Skyrme, Stankosky- Baldanza, Infrastruktur KM Beccera- Fernandez. Dipetakan ke aspek KM dari Hlupic Madanmohan Rao (5 Level) Pandu (2012) Institusi Pendidikan: Pusilkom UI Pemetaan KMCSF David Skyrme, Stankosky- Baldanza, Infrastruktur KM Beccera- Fernandez. Dan aspek KM dari Hlupic ke dalam Aspek Penilaian KM (Abstract, Soft, Hard) Madanmohan Rao (5 Level) Penelitian ini Instansi pemerintahan: Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan Kementerian Keuangan Pemetaan KMCSF David Skyrme, Stankosky- Baldanza, Infrastruktur KM Beccera- Fernandez. Dan aspek KM dari Hlupic ke dalam Aspek Penilaian KM (Abstract, Soft, Hard) Madanmohan Rao (5 Level) Kuisioner Kuisioner Kuisioner dan Pengamatan Statistik Deskriptif dan IBM SPSS Statistic versi 16 Dilakukan uji validitas dan reabilitas instrumen penelitian Statistik Deskriptif dengan IBM Statistic versi 21 Dilakukan uji validitas dan reabilitas instrumen penelitian Statistik Deskriptif dengan IBM Statistic versi 22 Dilakukan uji validitas dan reabilitas instrumen penelitian Tabel 2.4 merupakan perbandingan dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan penelitian, penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan akan mengadopsi metodologi yang telah dilakukan oleh Pandu.

41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini membahas metodologi yang digunakan dalam melakukan penelitian. Tahapan-tahapan yang dijelaskan yaitu mengenai metodologi penelitian dan teknik pengumpulan data. Penelitian yang dilakukan menggambarkan mengenai pengukuran tingkat kesiapan organisasi Pusintek dalam mengimplementasikan Knowledge Management. Penelitian dilakukan dengan studi kasus, dengan demikian peneliti dapat mempelajari faktor-faktor yang ada di organisasi yang dapat mempengaruhi tingkat kesiapan implementasi KM dan mengamati apa yang harus dilakukan dan dikembangkan guna penelitian mendatang. Identifikasi dan perumusan masalah Kesimpulan dan Saran Studi Literatur Pengumpulan Data Penilaian Tingkat Kesiapan KM dan Pemberian Rekomendasi Uji Validitas dan Realiabilitas Kuisioner Gambar 3.1 Metodologi Penelitian Setiap tahapan diatas merupakan garis besar dari kegiatan penelitian ini dengan objek dan keluaran sebagai berikut: 1. Identifikasi dan Perumusan Masalah Pada tahap ini, dilakukan pengamatan kegiatan dan data di Pusintek dengan observasi, kemudian ditetapkan permasalahan yang diselesaikan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan Pusintek dalam penerapan KM. 2. Studi literatur 29

42 30 Pada tahap ini, dilakukan studi literatur mengenai teori-teori sebagai landasan teori dalam tahapan-tahapan berikutnya. Tujuannya adalah untuk memiliki gambaran teori-teori yang berlaku dalam KM dan cara pengukuran tingkat kesiapan KM dengan Knowledge Management Success Factor (KMCSF). Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada penelitian yang dilakukan oleh Pandu dimana terdapat pemetaaan KMCSF yang dapat dilihat pada tabel Pengumpulan Data Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data-data yang dibutuhkan baik data primer maupun sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber. a. Data primer diperoleh dari: i. Kuisioner Pada tahap ini dilakukan pembuatan kuisioner yang akan digunakan untuk kegiatan penelitian. Kuisioner dirancang berdasarkan dari kuisioner pada beberapa penelitian sebelumnya. Sebelum disebarkan, dilakukan validasi terlebih dahulu kepada perwakilan narasumber. Setelah kuisioner divalidasi, maka kuisioner siap untuk disebarkan. ii. Observasi Dengan melakukan pengamatan aktivitas terhadap obyek penelitian seperti mengamati kegiatan keseharian pegawai Pusintek. b. Data sekunder diperoleh dari: Meliputi struktur organisasi, infrastruktur TI, gambaran sistem yang ada. Data sekunder ini diperoleh dari: a. Studi dokumentasi Pada tahap ini bertujuan mencari dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk penelitian seperti company profile.

43 31 b. Akses internet Pada tahap ini dilakukan pencarian data penunjang melalui akses internet, baik berupa e-book, maupun jurnal-jurnal ilmiah. 4. Penilaian Tingkat Kesiapan KM dan Pemberian Rekomendasi Tahapan ini melakukan tabulasi dengan perhitungan kuantitatif dengan pemberian pembobotan, kemudian dilakukan analisis secara mendalam sesuai dengan knowledge management readiness level (Rao, 2005) yang telah dimodifikasi oleh penelitian Zaidiah (2010) dan Gracianus (2011). Kemudia akan dilakukan analisis menggunakan metode statistik deskriptif, dan akan ditentukan tingkat kesiapan KM dan juga menentukan rekomendasi perbaikan untuk Pusintek. 5. Kesimpulan dan Saran Pada tahap ini merupakan tahap akhir dalam penelitian ini. akan dibuat beberapa kesimpulan dari hasil penelitian dan juga saran yang diharapkan dapat berguna untuk pengembangan penelitian selanjutnya

44 BAB IV PROFIL ORGANISASI Pada bab ini dijelaskan pengenalan struktur organisasi, visi misi, tugas dan fungsi dari Pusitek. 4.1 Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek) Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek) dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 302/KMK.01/2004. KMK ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Presiden Nomor (Keppres) 35 Tahun 2004 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Keuangan (Kemenkeu); juga Keppres Nomor 36 Tahun 2004 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kemenkeu. Pusintek mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, pelaksanaan, pengkoordinasian, dan pelayanan serta pengembangan sistem informasi dan teknologi keuangan. Pusintek dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris Jenderal Kemenkeu. Pusintek dipimpin oleh seorang kepala pusat, berdasarkan KMK Nomor 428/KMK.01/UP.11/2004, tanggal 15 September Visi dan Misi Visi Pusintek yang dimiliki oleh Pusintek adalah: Menjadi penggerak utama penyelenggaraan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam rangka mewujudkan tercapainya pengelolaan keuangan dan kekayaan negara yang terpercaya dan akuntabel. Misi Pusintek yang dimiliki oleh Pusintek adalah: 1. Mewujudkan tata kelola TIK yang mengacu pada best practice, 2. Mewujudkan integrasi TIK Kementerian Keuangan yang handal, 3. Mewujudkan layanan TIK yang prima, 4. Mengembangkan kompentsi SDM di bidang TIK melalui pengelolaan jabatan fungsional Pranata Komputer. 32

45 Tugas dan Fungsi Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.01/2010 tanggal 11 Oktober 2010 Pusintek mempunyai tugas: Melaksanakan pengkoordinasian penyusunan rencana strategis, kebijakan, dan standarisasi TIK, pengembangan sistem informasi dan teknologi keuangan, pengelolaan operasional layanan TIK, dan pengelolaan Jabatan Fungsional Pranata Komputer sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pusintek dalam melakukan tugasnya menyelenggarakan fungsi: 1. Koordinasi penyusunan rencana strategis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), 2. koordinasi dan pembinaan pengembangan arsitektur TIK, 3. koordinasi penyusunan kebijakan dan standarisasi tata kelola TIK, 4. koordinasi pelaksanaan manajemen program, 5. pembinaan pelaksanaan kebijakan dan standarisasi tata kelola TIK dan manajemen risiko TIK, 6. pelayanan pengembangan sistem informasi, 7. koordinasi pertukaran data dan pengelolaan basis data, 8. pengelolaan operasional layanan TIK, 9. pembinaan Jabatan Fungsional Pranata Komputer, 10. pelaksanaan administrasi Pusat

46 Struktur Organisasi Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pusintek Gambar 4.1 menjelasakan tentang struktur organisasi dari Pusintek. Pusintek memiliki 4 bidang teknis yaitu Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK, Bidang Pengembangan Sistem Informasi, Bidang Pengelolaan TIK, dan Bidang Operasional TIK, dan 1 bagian administrasi yaitu Bagian Tata Usaha Bagian Tata Usaha Gambar 4.2 Struktur Organisasi Bagian Tata Usaha

47 35 Bagian Tata Usaha terdiri dari 3 Subbagian yaitu Subbagian Organisasi dan Kepegawaian, Subbagian Keuangan dan Subbagian Umum. Struktur organisasi Bagian Tata Usaha dapat dilihat pada gambar 4.2. Tugas dari Bagian Tata Usaha adalah : Memberikan pelayanan administratif kepada semua unit di lingkungan Pusat. Fungsi dari Bagian Tata Usaha: a. pelaksanaan analisis dan evaluasi jabatan, serta pengukuran beban kerja b. pelaksanaan urusan kepegawaian c. penyelenggaraaan urusan penyusunaan, pelaksanaan, dan pelaporan pertanggungjawaban anggaran dan perbendaharaan d. penyelenggaraaan urusan perencanaan, penatausahaan, dan pelaporan pertanggungjawaban BMN e. pelaksanaan urusan rumah tangga, perlengkapan, angkutan, perjalanan dinas, dan perjanjian/kontrak dengan mitra kerja f. pengelolaan keamanan ruangan g. pelaksanaan urusan tata usaha, organisasi dan tata laksana, keprotokolan, dokumentasi, dan kearsipan h. koordinasi penyusunan dan evaluasi prosedur standar operasi i. koordinasi penyusunan laporan kegiatan, dan akuntabilitas kinerja j. evaluasi pelaporan tindak lanjut hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional dan pengawasan masyarakat k. pengelolaan Jabatan Fungsional Pranata Komputer l. koordinasi pelaksanaan tugas di bidang teknologi informasi di daerah

48 Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK Gambar 4.3 Struktur Organisasi Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK terdiri dari 4 subbagian, yaitu Subbagian Perencanaan dan Arsitektur TIK, Subbidang Pengembangan Kebijakan TIK, Subbidang Manajemen Program, Subbidang Bina Kepatuhan dan Manajemen Risiko TIK. Struktur organisasi Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK dapat dilihat pada Gambar 4.3. Tugas dari Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK : Melakukan koordinasi penyusunan rencana strategis teknologi informasi dan komunikasi dan indikator kinerja utama, pengembangan dan pemutakhiran arsitektur teknologi informasi dan komunikasi, serta pengelolaan program teknologi informasi dan komunikasi, melakukan perumusan, diseminasi, sosialisasi, dan pembinaan pelaksanaan kebijakan dan standar tata kelola teknologi informasi dan komunikasi serta manajemen risiko teknologi informasi dan komunikasi.

49 37 Fungsi Bidang Perencanaan dan Kebijakan TIK : a. koordinasi penyusunan rencana strategis TIK dan indikator kinerja utama b. koordinasi pengembangan dan pemutakhiran arsitektur TIK c. koordinasi penyusunan, diseminasi, dan sosialisasi kebijakan dan standar tata kelola TIK d. pengkajian dan analisis dalam rangka seleksi dan prioritasi usulan program TIK serta memantau dan mengevaluasi pencapaian sasaran program TIK e. pembinaan pelaksanaan kebijakan dan standar tata kelola TIK f. pengembangan Manajemen Risiko TIK Bidang Pengembangan Sistem Informasi Gambar 4.4 Struktur Organisasi Bidang Pengembangan Sistem Informasi Bidang Pengembangan Sistem Informasi terdiri dari 4 subbidang, yaitu Subbidang Perancangan Aplikasi dan Basis Data, Subbidang Perancangan Jaringan, Subbidang Pengembangan Aplikasi dan Basis Data, dan Subbidang Pengembangan Jaringan. Struktur organisasi dapat dilihat pada gambar 4.4.

50 38 Tugas Pengembangan Sistem Informasi: Melaksanaan perancangan, pembangunan, pengembangan dan pengujian sistem aplikasi, basis data, dan jaringan. Fungsi Pengembangan Sistem Informasi: a. pengkajian dan perancangan sistem aplikasi, basis data, dan jaringan b. pembangunan dan pengembangan sistem aplikasi, basis data, dan jaringan c. pengujian sistem aplikasi, basis data, dan jaringan Bidang Pengelolaan TIK Gambar 4.5 Struktur Organisasi Bidang Pengelolaan TIK Bidang Pengelolaan TIK terdiri dari 4 subbidang, yaitu Subbidang Pengelolaan Jaringan, Subbidang Pengelolaan Aplikasi, Subbidang Pengelolaan Pertukaran Data dan Basis Data, dan Subbidang Pengeloaan Jaringan. Struktur orgnasasi dapat dilihat pada gambar 4.5.

51 39 Tugas Bidang Pengelolaan TIK: Melaksanaan pengelolaan tingkat layanan teknologi informasi dan komunikasi, aplikasi, basis data, dan jaringan Fungsi Bidang Pengelolaan TIK: a. pengelolaan tingkat layanan TIK terhadap ketersediaan dan kualitas b. pelaksanaan sosialisasi layanan TIK c. pengelolaan aplikasi, basis data, dan jaringan d. pengelolaan pertukaran data Bidang Operasional TIK Gambar 4.6 Struktur Organisasi Bidang Operasional TIK Bidang Operasional TIK terdiri dari 4 subbagian yaitu Subbidang Layanan Pengguna, Subbidang Dukungan Teknis, Subbidang Operasional Pusat Datam Subbidang Kepustakaan TIK. Struktur organisasi dapat dilihat pada gambar 4.6. Tugas Bidang Operasional TIK: Memberikan layanan teknologi informasi dan komunikasi dan dukungan teknis kepada pengguna, melakukan pengoperasian dan pengamanan fasilitas teknologi

52 40 informasi dan komunikasi pada Pusat Data dan Disaster Recovery Center, dan melakukan pengelolaan konfigurasi teknologi informasi dan komunikasi dan kepustakaan teknologi informasi dan komunikasi. Fungsi Bidang Operasional TIK : a. penyelenggaraan permintaaan dan perubahan layanan TIK b. penyediaan informasi, solusi, dan edukasi kepada pengguna layanan TIK c. pemberian dukungan dan penyelesaian permasalahan layanan TIK pada pengguna layanan TIK d. pengamanan fasilitas TIK pada Pusat Data dan Data Recovery Center e. pengelolaan rilis TIK f. pemantauan akurasi dan pengamanan konfigurasi TIK g. pengelolaan konfigurasi TIK dan kepustakaan TIK Kelompok Fungsional Pranata Komputer Kelompok Fungsional Pranata Komputer secara organisasi berada dibawah Kepala Pusintek. Kelompok Fungsional Pranata Komputer memiliki tugas melakukan hal-hal teknis. 4.5 Tujuan Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi yang telah ditetapkan dan merupakan hasil yang akan dicapai atau dihasilkan dalam kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun. Pada tahun 2013, tujuan dari misi yang dijalankan adalah: "Mewujudkan e-government di Departemen Keuangan" E-Government adalah penyelenggaraan pemerintahan berbasis elektronik (teknologi informasi) untuk meningkatkan kinerja pemerintah dalam hubungannya dengan masyarakat, komunitas bisnis, dan kelompok terkait lainnya menuju Good Governance (World Bank 2001).

53 Sasaran a. Terwujudnya sistem informasi keuangan yang terintegrasi b. Terwujudnya standar teknologi informasi c. Meningkatnya kualitas pegawai di bidang teknologi informasi

54 BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN Pada bab ini dibahas mengenai analisis data hasil penelitian, ada beberapa tahapan yang akan dilakukan untuk mendapatkan penilaian akhir mengenai tingkat kesiapan Pusintek dalam menerapkan Knowledge Management (KM). 5.1 Pemetaan Pertanyaan Kuisioner Sebelum menyebarkan kuisioner maka perlu dibuatkan beberapa pertanyaan yang disesuaikan dengan tabel 2.3. Pemetaan pertanyaan kuisioner berdasarkan aspek dan dimensi dapat dilihat pada tabel 5.1. ASPEK PENELITIAN Abstract Soft DIMENSI Pemahaman mengenai definisi dan manfaat dari KM Inisiatif organisasi untuk menerapkan KM Leadership Tabel 5.1 Pemetaan Pertanyaan Kuisioner PERTANYAAN 1. Saya mengetahui dan memahami dengan jelas definisi dan knowledge management. 2. Saya mengetahui dengan jelas perbedaan antara knowledge dan informasi. 3. Seluruh karyawan Pusintek mempunyai pandangan yang sama mengenai knowledge management. 4. Menurut saya knowledge asset di Pusintek ini merupakan hal yang sangat penting. 5. Menurut saya knowledge management sangat cocok diterapkan di Pusintek. 6. Melihat kondisi Pusintek saat ini, menurut saya Pusintek membutuhkan knowledge management. 7. Menurut saya knowledge management dapat meningkatkan performa Pusintek secara keseluruhan. 1. Saya mengetahui dan memahami tujuan utama dari knowledge management. 2. Menurut saya dengan adanya perencanaan dan visi, penerapan Knowledge Management System (KMS) dapat terintergrasi dengan proses bisnis yang dimiliki Pusintek. 3. Menurut saya harus ada inisiatif pada setiap individu untuk menerapkan knowledge management. 1. Pihak manajemen aktif dalam menggalakkan bahwa semua orang di lingkungan Pusintek dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan sesuai dengan porsinya masing-masing. 2. Pihak manajemen memberikan dukungan moral dan melakukan tindakan nyata untuk menerapkan dukungan kegiatan knowledge management. 3. Knowledge management menjadi tanggung jawab bersama antara pihak manajemen dan karyawan. 4. Ada dukungan dan komitmen dari pihak Pusintek dalam program management. 5. Pusintek mempunyai rencana pengembangan untuk memenuhi kebutuhan program knowledge management untuk masa yang akan datang. 42

55 43 Soft Organization Culture Processes Explicit Knowledge Tacit Knowledge Measures Exploitation / Market Leverage 1. Untuk membentuk suatu tim, dimungkinkan berisi orangorang dari berbagai macam departemen. 2. Dengan struktur organisasi yang ada sekarang, dimungkinkan karyawan untuk turut berperan serta dalam penerapan tujuan bersama. 3. Dengan knowledge sharing yang dilakukan memungkinkan sharing atau berbagai secara vertikal (up-hierarchy) (dengan pihak atasan dalam suatu departemen/ disiplin). 4. Chief Knowledge Officer (CKO) sangat dibutuhkan untuk penerapan knowledge management di Pusintek. (CKO adalah orang yang bertugas dalam menjalankan manajemen Pusintek secara baik dan benar). 1. Melakukan dokumentasi dan berbagi knowledge merupakan kegiatan rutin Pusintek. 2. Sosialisasi mengenai knowledge management gencar dilakukan di Pusintek. 3. Sosialisasi mengenai kebutuhan sikap yang diperlukan dalam knowledge management gencar dilakukan di Pusintek. 4. Sosialisasi mengenai knowledge sharing dan menggunakan knowledge yang dipunyai gencar dilakukan di Pusintek. 5. Saya dan rekan kerja akan dengan senang hati untuk bekerja sama bila terdapat rekan kerja yang membutuhkan informasi, saran, dan penjelasan apapun yang berhubungan dengan pekerjaan di Pusintek. 1. Pusintek mendukung karyawan yang melanjutkan studinya dengan tujuan menambah kemampuan. 2. Pelatihan-pelatihan yang selama ini didapatkan sesuai dengan kebutuhan saya. 3. Mudah untuk mendapatkan pelatihan-pelatihan yang disediakan oleh Pusintek yang sesuai dengan kebutuhan saya. 4. Penting bagi orang-orang yang mempunyai keahlian dan kemampuan khusus untuk mentransfer segala kemampuan dan keahliannya sebelum meninggalkan Pusintek. 5. Saya tidak mengalami kesulitan untuk melakukan presentasi dan mengajarkan keahlian yang saya miliki kepada orang lain. 6. Saya tidak mengalami kesulitan untuk mengajarkan kemampuan saya kepada orang lain. 1. Pendokumentasian dan pengarsipan best practice dilakukan di Pusintek. 2. Di Pusintek banyak best practice yang saya ketahui. 3. Sangat mudah untuk mendapatkan best practice di Pusintek. 4. Best practice di Pusintek ini dievaluasi dan dipelajari dengan baik. 1. Hanya sedikit orang yang menguasai skill yang dimiliki dan dibutuhkan oleh Pusintek. 1. Kompetensi merupakan salah satu aspek penilaian dari kinerja karyawan. 2. Terdapat pengukuran dan imbalan bagi karyawan yang telah melakukan kemajuan di lingkungan kerja. 3. Saya yakin bahwa knowledge yang dimiliki oleh Pusintek dapat membawa kemajuan bagi Pusintek. 1. Dengan pengetahuan (knowledge) yang dimiliki Pusintek maka permasalahan dalam pekerjaan mudah teratasi. 2. Bila menemui kendala maka saya akan dengan mudah mendapatkan bantuan dari tim yang mendukung untuk pemecahan masalah. Soft People / Skills 1. Terdapat database mengenai kompetensi semua karyawan

56 44 Hard Learning Knowledge Hub and Centers Technology Infrastructure Physical Environtment yang ada di Pusintek. 2. Terdapat kebijakan untuk mendatangkan narasumber dari lingkungan praktisi maupun akademisi untuk selalu melakukan update knowledge yang ada di Pusintek. 3. Pusintek membantu memberikan sebagian atau sepenuhnya dana bagi karyawan yang ingin melanjutkan studi. 1. Saya dan rekan kerja lainnya mempunyai komitmen untuk melakukan pengembangan secara terus-menerus dan rutin dalam memberikan ide-ide atau pengembangan baru dalam Pusintek. 2. Di dalam Pusintek terdapat waktu yang sifatnya bebas digunakan untuk mempelajari metode-metode kerja baru. 3. Pusintek mempunyai mekanisme dan kebijakan untuk melakukan benchmarking mengenai best practice yang dipunyai dengan pihak Pusintek lain. 1. Saat ini Pusintek memilih database tersendiri utnuk menyimpan knowledge yang dimiliki. 2. Terdapat mekanisme atau prosedur untuk menyimpan dan mengambil kembali pengetahuan (knowledge). 1. Saya terbiasa menggunakan untuk berbagi pengetahuan. 2. Menurut saya penggunaan intranet dan internet sangat mendukung dalam melakukan kegiatan belajar hal baru dan pelatihan. 3. Saya sangat senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan ICT (Information Communication Technology). 4. Saya terbiasa menggunakan ICT yang dipunyai Pusintek untuk memudahkan saya dalam bekerja. 5. Menurut saya ICT merupakan salah satu hal penting dan sebagai sarana untuk menjamin bahwa informasi yang kita dapatkan merupakan informasi yang tepat dan pada waktu yang tepat juga. 1. Saat ini Pusintek memiliki lembaga penelitian sendiri. 2. Pusintek memiliki tempat khusus untuk melakkan brainstorming, diskusi dan berbagi pengetahuan. 5.2 Teknik Analisis Data Langkah-langkah yang dibuat ditujukan untuk melakukan interpretasi data yang didapat dari kuesioner yang telah disebarkan antara lain: 1. Mengelompokkan data yang telah diperoleh dari hasil perhitungan jawaban responden ke dalam tabel sesuai dengan aspek KM yang terdiri dari aspek abstract, soft, dan hard. Setiap pilihan jawaban telah diberikan bobot yang besarnya telah dihitung menggunakan rumus penentuan level kesiapan Knowledge Management Readiness yang sudah tertera pada landasan teori dan kemudian dihitung untuk mendapatkan nilai rata-rata dari semua responden. Perhitungan ini dilakukan untuk setiap dimensi. Setelah mendapatkan nilai rata-rata

57 45 setiap dimensi dalam satu aspek, maka selanjutnya dihitung juga nilai rata-rata setiap aspek. 2. Setelah nilai rata-rata ketiga aspek telah diketahui, maka langkah selanjutnya adalah menghitung nilai rata-rata dari ketiga aspek tersebut. Nilai rata-rata tersebut yang nantinya merupakan nilai akhir yang digunakan dalam menentukan tingkat kesiapan KM. Hasil dari perhitungan jawaban responden yang dipetakan dalam tabel dapat dilihat pada tabel Langkah selanjutnya setelah hasil perhitungan didapatkan maka akan dilakukan analisis dan proses interpretasi data sebagai dasar dalam mengambil kesimpulan serta membuat saran-saran perbaikan. 4. Skala yang digunakan dalam penelitian pengukuran tingkat kesiapan KM adalah berdasarkan Knowledge Management Readiness Level menurut Manadmohan Rao (2005) yang telah dimodifikasi oleh Zaidiah (2010) dan Gracianus (2011), yang terdiri atas 5 tingkatan yaitu Not Ready (20%), Preliminary (40%), Ready (60%), Receptive (80%) dan Optimal (100%). 5.3 Profil Responden Responden yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh populasi Pusintek. Keseluruan kuisioner yang disebarkan sebanyak 175 buah kuesioner, didapatkan 168 buah kembali dengan terisi dan 7 sisanya tidak terisi. Demografi peserta kuisioner berdasarkan jenis kelamin : Gambar 5.1 Demografi peserta kuisioner berdasarkan jenis kelamin

58 46 Demografi peserta kuisioner berdasarkan lama bekerja: Gambar 5.2 Demografi peserta kuisioner berdasarkan lama bekerja 5.4 Uji Validitas dan Reabilitas Kuesioner Setelah kuisioner dikumpulkan dari para responden, maka dilakukan pengujian validitas dan reabilitas agar seluruh pertanyaan valid dan reliable. Pengujian dilakukan menggunakan software IBM SPSS Statistic versi Uji Validitas Uji validitas dilakukan untuk mengetahui seluruh instrumen pertanyaan sudah sesuai dengan tujuan penelitian atau tidak, dapat juga dilihat dari nilai korelasi lalu dibandingkan dengan tabel korelasi product moment unuk dk = n-1 = = 167 untuk alpha 5% adalah 0,151. Berdasarkan table hasil pengujian yang dapat dilihat pada Lampiran 4, semua pertanyaan mempunyai Corrected Item-Total Correlation diatas 0,151 sehingga semua pertanyaan atau pertanyaan kuisioner dinyatakan dapat menghasilkan data jawaban yang valid Detail dari uji validitas dan reabilitas dapat dilihat pada Lampiran 4.

59 Uji Reabilitas Hasil pengujian reabilitas sebagai berikut : Case Processing Summary N % Valid ,0 Cases Excluded a 0,0 Total ,0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items, Hasil pengujian reabilitas kuisioner ini mendapatkan nilai alpha sebesar 0,719. Untuk mengetahui apakah seluruh instrumen pertanyaan kuisioner sudah reliable atau tidak, dilihat pada nilai alpha yang kemudian dicocokkan dengan nilai tabel r product moment untuk jumlah responden sebanyak 168 orang yaitu ternyata nilai alpha sebesar 0,719 lebih besar dari r tabel (0,151) artinya semua pertanyaan pada kuisioner akan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya (signifikan / reliable). 5.5 Analisis Penelitian Pada penelitian ini, nilai yang menentukan kesiapan organisasi untuk menerapkan Knowledge Management (KM) merupakan nilai rata-rata dari keseluruhan pengukuran. Nilai tersebut didapatkan melalui perhitungan rata-rata dari nilai keseluruhan kesiapan aspek yang ada yaitu aspek abstract, aspek soft, dan aspek hard. Pengumpulan nilai didapatkan dari rumus yang telah dibahas di bab 2, yaitu rumus penentuan level. Nilai rata-rata kesiapan KM yang telah dihitung dari 168 orang responden Pusintek mendapatkan nilai sebesar 60,88% atau pada level 4 (Receptive), untuk detail dari presentase dapat dilihat pada tabel 5.2 di bawah. Berdasarkan Knowledge Management Readiness Level yang dijelaskan pada tabel 2.2, maka nilai tersebut menunjukkan Pusintek telah mencapai level Receptive atau berada di atas 60% sehingga sudah matang untuk menerapkan Knowledge

60 48 Management. Komposisi hasil analisis terdiri dari kesiapan aspek abstract sebesar 69,68%, aspek soft dengan kesiapan 56,69% dan aspek hard dengan tingkat kesiapan 56,27%. Lebih rincinya dijelaskan pada tabel 5.2. Tabel 5.2 Hasil perhitungan data kuesioner penelitian KM readiness ASPEK DIMENSI Abstract DIMENSI RATA- RATA KESIAPAN DIMENSI TINGKAT KESIAPAN ASPEK Pemahaman mengenai definisi dan 70,78 4 manfaat dari KM Inisiatif organisasi untuk 68,57 4 menerapkan KM Leadership 58,67 3 RATA- RATA KESIAPAN ASPEK 69,68 RATA-RATA KESIAPAN KESELURUHAN Organization 65,62 4 Culture 50,71 3 Process 65, ,88 Soft Explicit 49,82 3 Tacit 47, ,69 Measure 58,13 3 Exploitation 62,82 4 People 51,19 3 Learning 56,47 3 Knowledge 56,96 3 Hard Technology 71,60 4 Physical 40, ,27 Sebagai contoh akan dibahas pada aspek abstract dimensi Pemahaman mengenai definisi dan manfaat dari Knowledge Management, perhitungannya dapat dilihat pada tabel 5.3.

61 49 Tabel 5.3 Perhitungan Aspek Abstract Dimensi Pemahaman Mengenai Definisi dan Manfaat dari Knowledge Management Jumlah bobot Jumlah Aspek Abstract Responden Pemahaman mengenai definisi dan manfaat dari KM Item no 1 Item no 2 Item no 3 Item no 4 Item no 5 Item no 6 Item no Jumlah Nilai maksimal Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi 0,36 4,73 17,44 36,26 11, , Penjelasan lebih detail tentang perhitungan penilaian diseluruh dimensi dapat dilihat pada Lampiran 2. Pada bagian selanjutnya terdapat pembahasan penelitian yang lebih mendalam berdasarkan aspek abstract, aspek soft, aspek hard Analisis Aspek Abstract Aspek Abstract di Pusintek mendapatkan rata-rata kesiapan aspeknya sebenarnya sebesar 69,68%, nilai tersebut sudah terbilang cukup baik. Di aspek ini diukur dua dimesi yaitu nilai pemahaman mengenai definisi dan manfaat Knowledge Management memperoleh presentase 70,78% dan inisiatif organisasi untuk menerapkan Knowledge Management 68,57%. Kesiapan Knowledge Management secara keseluruhan dapat digolongkan ke level 4 yang berarti Pusintek telah

62 50 memiliki pemahaman yang kuat dansudah berinisiatif untuk menerapkan Knowledge Management. Diagram perolehan presentase untuk setiap dimensi pada aspek abstract ini ditampilkan pada gambar 5.3. Gambar 5.3 Perolehan dimensi pada aspek Abstract Analisis Aspek Soft Aspek Soft Pusintek memperoleh nilai rata-rata sebesar 56,69%, secara rata-rata keseluruhan aspek Soft di Pusintek berada di level 3, yang berarti Pusintek sudah siap menerapkan knowledge management. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan 10 dimensi yaitu Leadership, Organization, Culture, Process, Explicit Knowledge, Tacit Knowledge, Measure, Exploitation, People/Skills, dan Learning. Data hasil tabulasi kuisioner ini akan dianalisis berdasarkan tabel 2.2 Karakteristik Readiness Level. Gambaran presentase yang diperoleh untuk aspek soft dapat dilihat pada gambar 5.4.

63 51 Gambar 5.4 Perolehan dimensi pada aspek Soft Dimensi Leadership Pusintek memperoleh presentase sebesar 58,67% atau pada level 3 (Ready) yang berarti jajaran pimpinan di Pusintek mulai dari Kepala Pusat, Kepala Bidang, dan Kepala Subbidang sudah melakukan berbagai perubahan dengan menggunakan knowledge management yang mungkin belum disadarin oleh para pegawainya. Perolehan dimensi Organization yang dicapai oleh Pusintek mencapai 65,62% atau pada level 4 (Receptive), yang berarti bahwa baik individu maupun organisasi sudah mendukung penerapan knowledge management. Sebagai contoh yaitu di Pusintek sudah memungkinkan untuk membentuk anggota tim dari berbagai bagian/bidang untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Pada dimensi Culture, Pusintek memperoleh nilai presentase sebesar 50,71% atau pada level 3 (Ready), yang berarti bahwa budaya di lingkungan Pusintek telah mendukung penerapan knowledge management, dalam hal ini dapat dilihat dari sikap dan budaya pegawai yang sudah mau dengan senang hati bekerja sama bila terdapat ada rekan kerja yang membutuhkan informasi, saran dan penjelasan apapun yang berhubungan dengan pekerjaan. Kegiatan sosialisasi sudah mulai dilaksanakan rutin. Beberapa orang juga sudah mendokumentasi pekerjaannya, untuk budaya dalam berbagi pengetahuan juga sudah mulai diterapkan.

64 52 Pada dimensi Process atau pada level 4 (Receptive), Pusintek memperoleh 65,93%yang berarti telah dilakukannya sebuah proses dalam mendapatkan pengetahuan, seperti sharing knowledge dan telah dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Pusintek juga sangat mendukung para pegawainya yang ingin melanjutkan studinya dengan tujuan untuk menambah ilmu dan pengetahuan agar dapat mendukung dalam pekerjaannya di Pusintek. Selain itu, Pusintek juga setiap tahun sudah mengadakan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan minat para pegawainya. Beberapa pegawai juga sudah terbiasa membagi pengetahuan kepada rekan-rekan kerjanya karena para pegawai menyadari pentingnya berbagi pengetahuan antar pegawai. Dimensi ExplicitKnowledge di Pusintek mendapatkan nilai presentase sebesar 49,82% atau pada level 3 (Ready) yang berarti sudah terlihat adanya pengelolaan Explicit Knowledge dengan baik, dibuktikan dengan sudah ada pendokumentasian dan pengarsipan best practice dari berbagai kegiatan dan beberapa pegawai sudah mengetahui best practice yang digunakan untuk pekerjaan tertentu. Pada dimensi Tacit Knowledge, Pusintek mendapatkan nilai presentase sebesar 47,50% atau pada level 3 (Ready). Hal ini berarti bahwa beberapa individu sudah dapat menambah kemampuan dan keahlian secara terus menerus. Dimensi Measures Pusintek medapatkan nilai presentase 58,13% atau pada level 3 (Ready) yang berarti bahwa sudah ada penilaian dan penghargaan dalam penerapan knowledge management, seperti mulai melakukan penilai kinerja menggunakan Indikator Kinerja Utama (IKU) setiap semester, dan juga sudah mulai memberikan penghargaan bagi pegawai. Pegawai Pusintek juga sudah mulai meyakini bahwa perlunya knowledge untuk Pusintek. Pada dimensi Exploitation, Pusintek memperoleh nilai presentase sebesar 62,82% atau pada level 4 (Receptive) yang berarti Pusintek sudah memiliki knowledge yang berguna dalam pekerjaan. Beberapa pegawai juga sudah dapat memanfaatkan rekan-rekannya untuk meminta bantuan ketika menemui kendala dalam hal pekerjaan. Pada dimensi People / Skills, Pusintek mendapatkan nilai presentase sebesar 51,19% atau pada level 3 (Ready) yang berarti bahwa Pusintek telah berusaha mendukung para pegawainya yang ingin melanjutkan studi dan Pusintek juga

65 53 sudah mulai melakukan pengelolaan data pegawai beserta keahlian dari masingmasing pegawai. Pada dimensi Learning, Pusintek memperoleh nilai presentase sebesar 56,47% atau pada level 3 (Ready) yang berarti bahwa baik manajemen maupun para pegawai sudah mulai memiliki keinginan untuk melakukan proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan pegawai yang telah melakukan pengembangan diri dan mulai memberikan ide-ide untuk Pusintek Analisis Aspek Hard Aspek Hard adalah aspek terakhir yang dinilai dalam penentuan tingkat kesiapan Pusintek. Aspek ini mendapatkan nilai rata-rata 56,27%, secara rata-rata keseluruhan Pusintek berada di level 3 (Ready), yang berarti Pusintek sudah siap menerapkan KM. Aspek ini terdiri dari 3 dimensi, yaitu Knowledge Hub and Centers, Technology Infrastructure, dan Physical Environment. Dari data tabulasi kuisioner, perolehan hasil dapat dilihat didalam gambar 5.5. Gambar 5.5 Perolehan dimensi pada aspek Hard Pada dimensi Knowledge Hub and Centers, Pusintek memperoleh nilai presentase sebesar 56,96% atau pada level 3 (Ready). Pusintek sudah memilliki tempat untuk menampung seluruh knowledge yaitu sebuah aplikasi bernama Sistem Sharing Knowledge. Para pegawai dapat mencari atau melakukan sharing knowledge melalui aplikasi tersebut. Dimensi Technology Infrastructure, Pusintek memperoleh nilai presentase sebesar 71,60% atau pada level 4 (Receptive). Pada dimensi ini merupakan dimensi dengan nilai tertinggi dari aspek hard yang berarti bahwa dukungan infrastruktur

66 54 berupa koneksi internet maupun intranet sudah mendukung untuk penerapan KM. Sebagai contoh adalah penggunaan meail untuk pekerjaan dan sudah ada standar untuk penggunaan internet di Pusintek. Dimensi terakhir, yaitu Physical Environment yang mendapat nilai presentase sebesar 40,24% atau pada level 3 (Ready). Dimensi ini merupakan dimensi dengan nilai terendah dari seluruh dimensi yang diukur. Di Pusintek sendiri biasanya menggunakan ruang rapat untuk melakukan diskusi suatu masalah Analisis Penunjang Selain analisis yang mengukur tiga aspek seperti diatas, dilakukan juga analisis penunjang dengan harapan agar dapat memperkuat hasil kesimpulan yang dihasilkan dari analisis penelitian. Analisis ini dilakukan terhadap sarana-sarana dan sumber yang digunakan dalam mendapatkan knowledge, kegiatan penunjang bagi pekerjaan dan analisis terhadap beberapa pihak yang terlibat dalam kegiatan knowledge sharing pada saat ini dan masa yang akan datang. Analisis penunjang tersebut dibahas sebagai berikut: 1. Sumber untuk mendapatkan knowledge yang sering digunakan Pusintek. Perhitungan sumber knowledge untuk penelitian ini terdapat 14 sumber knowledge mulai dari perusahaan client, perusahaan sejenis sampai dengan sumber knowledge yang berupa internet. No Tabel 5.4 Sumber knowledge bagi Pusintek Nama Tidak Pernah Pernah Sering Jumlah Responden 1. Pusintek Client(Unit yang menggunakan jasa Pusintek) Aliansi Pusintek Sejenis (Bagian IT di Unit lain) Universitas Akademi Lembaga Penelitian Konsultan Webinar atau Workshop Online Buku dan literatur (maupun e- book) Seminar atau event tertentu DatabasePusintek Perpustakaan Praktisi Organisasi lainnya selain yang

67 55 disebutkan di atas 14. Media internet selain yang telah disebutkan di atas Presentase 24,41% 63,69% 11,90% 100% Berdasarkan tabel 5.4, maka dapat dilihat bahwa sumber knowledge yang paling sering dijadikan tempat untuk memperoleh knowledge yaitu Praktisi. Pusintek sering memanggil beberapa praktisi untuk melakukan transfer knowledge ke pegawai-pegawainya. Selain Praktisi, tempat yang paling sering dijadikan tempat untuk memperoleh knowledge adalah konsultan. Dikarenakan banyaknya konsultan yang Pusintek rekrut, sehingga pegawai-pegawainya dapat dengan mudah menyerap ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh para konsultan tersebut. 2. Kegiatan yang dilakukan pegawai Pusintek untuk mendapatkan sebuah knowledge. Pada bagian ini terdapat 16 kegiatan yang dapat menunjang para pegawai di Pusintek. Keseluruhan tabulasi data akhir kuisioner yang diperoleh untuk sub bagian aktivitas kegiatan yang dapat dilihat pada tabel 5.5.

68 56 Tabel 5.5 Aktivitas penunjang bagi Pusintek No Kegiatan Tidak Tahu Tidak Menunjang Menunjang Jumlah Responden 1. Terlibat dalam suatu project Melakukan diskusi Melakukan kunjungan ke perusahaan lain Bertukar informasi menggunakan Mengikuti seminar (maupun secara online) Berbagi file atau informasi melalui internet maupun intranet 7. Melakukan review hasil project meeting Membaca buku, publikasi, ataupun e-book Berbagai untuk pemecahan suatu masalah Mengikuti pelatihan atau kursus (maupun secara online) 11. Mencari tahu melalui orangorang di sekitar perusahaan Mengikuti sertifikasi Melakukan tim meeting Membaca best practice Mengikuti/ melanjutkan kuliah Menggunakan internet selain kegiatan yang telah disebutkan di atas TOTAL PERSENTASE 4,87 10,90 84,23 100% Dari tabel 5.5, dapat diketahui kegiatan yang paling mendukung dalam pekerjaan adalah bertukan informasi menggunakan dan juga mengikuti pelatihan atau kursus. Semua kegiatan di Pusintek sudah menggunakan sebagai media untuk menyampaikan sebuah pekerjaan antar pegawai. Selain itu, kegiatan paling menunjang selanjutnya adalah mengikuti pelatihan atau kursus, karena dengan mengikuti kursus-kursus maka pengetahuan para pegawai selalu berkembang. Setiap tahun Pusintek memberikan kesempatan para pegawainya untuk mengikuti kursus sebanyak tiga sampai lima judul

69 57 kursus sesuai dengan minat dari pegawai tersebut yang tentunya sesuai kebutuhan organisasi. Pada peringkat kedua adalah terlibat dalam suatu proyek dan berbagi file atau informasi dengan berbagai media, dengan terlibatnya para pegawai dalam suatu proyek, maka secara otomatis mereka akan mendapat pengetahuan baru dikarenakan proyek-proyek yang datang umumnya tidak selalu bertipe sama, sehingga semakin banyak pegawai mengikuti proyek tertentu maka pengetahuan mereka semakin tinggi. Di Pusintek sendiri sudah sering menggunakan sebuah file sharing untuk bertukar file atau informasi. 3. Keterlibatan pihak-pihak yang terkait knowledge sharing untuk saat ini. Ada 5 pihak yang dicantumkan dalam penelitian ini yang berpengaruh bagi kegiatan pengelolaan knowledge di Pusintek, diantaranya Kepala Pusat, Kepala Bidang, Kepala Subbidang, Pranata Komputer, dan Pelaksana. Kepala Pusat adalah Kepala dari Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek). Sedangkan Kepala Bidang adalah orang yang mengepalai bidang-bidang yang ada di Pusintek dan bertugas sebagai project manager untuk proyek yang di tugaskan untuk bidangnya. Kepala Subbidang adalah orang yang biasanya menjadi technical leader dari suatu proyek. Pranata Komputer dan Pelaksana adalah pegawai yang bertugas melaksanakan perkejaan langsung. Berdasarkan hasil sebaran kuesioner maka dilakukan perhitungan masing-masing jabatan dalam kegiatan knowledge sharing di Pusintek, hasilnya dapat dilihat pada tabel 5.6. No Tabel 5.6 Keterlibatan posisi dalam sharing knowledge saat ini Nama Tidak Tahu Tidak Terlibat Terlibat Jumlah Responden 1. Kepala Pusintek Kepala Bidang Kepala Subbidang/Subbagian Pelaksana Pranata Komputer TOTAL

70 58 PERSENTASE 14,05 22,14% 63,81% 100% Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa posisi yang paling sering melakukan sharing knowledge adalah Kepala Subbidang/Subbagian. hal ini dikarenakan kepala subbidang/subbagian lebih sering terlibat langsung dengan para bawahannya baik itu pranata komputer maupun pelaksana. Kepala subbagian/subbidang lebih sering membagi knowledge-nya agar para pegawainya dapat mengerjakan suatu pekerjaan secara cepat dan tepat. Secara persentase, sebesar 63,81% sudah menganggap terlibat dalam penerapan sharing knowledge, dan ada sebanyak 22,14% menyatakan kelima posisi diatas tidak terlibat dalam sharing knowledge. Sebesar 14,05% pegawai menganggap tidak tahu keterlibatan dati lima posisi diatas. 4. Keterlibatan pihak-pihak yang terkait knowledge sharing untuk masa yang akan datang. Ada 5 pihak yang terkait pada penelitian ini diantara Kepala Pusat, Kepala Bidang, Kepala Subbidang, Pranata Komputer, dan Pelaksana. Responden diberikan pandangan mengenai keterlibatan beberapa posisi tersebut dalam kegiatan sharing knowledge kedepannya. Maka diperoleh data yang dapat dilihat pada tabel 5.7. No Tabel 5.7 Keterlibatan posisi dalam sharing knowledge yang akan datang Nama Tidak Tahu Tidak Terlibat Terlibat Jumlah Responden 1. Kepala Pusintek Kepala Bidang Kepala Subbidang/Subbagian Pelaksana Pranata Komputer TOTAL PERSENTASE 2,62 5,83% 91,55% 100% Pada tabel 5.7 dapat disimpulkan bahwa keinginan para pegawai Pusintek agar para manajer dapat terlibat dalam kegiatan sharing knowledge kedepannya. Memang sudah seharusnya pihak manajemen lebih mendukung kegiatan tersebut agar kegiatan tersebut dapat

71 59 berjalan sukses. Selain pihak manajemen, penting juga seluruh pihak terlibat dalam kegiatan sharing knowledge ini, hal ini terlihat dari peningkatan penilaian dari 63,81% menjadi 91,55% untuk keterlibatan semua pihak dalam kegiatan sharing folder. Berdasarkan analisis penunjang yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pusintek sudah sesuai untuk berada pada level 4, dapat dilihat dengan besarnya jumlah pegawai yang terlibat dalam proses knowledge sharing yaitu sebesar 63,81% dan mereka telah menyadari beberapa kegiatan maupun sumber untuk mendapatkan pengetahuan guna mendukung penerapan knowledge management.

72 Pembahasan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada sub bab 5.5, maka dapat disimpulkan bahwa Pusintek sudah berada pada level 4 (Receptive) untuk menerapkan Knowledge Management (KM), dilihat dari besarnya dukungan yang cukup siap pada aspek Abstract, Soft dan Hard. Berdasarkan hasil analisa tersebut seharusnya Pusintek sudah siap dalam penerapan knowledge management, walaupun ada beberapa dimensi masih memiliki nilai yang masih kurang, seperti leadership, culture, explicit knowledge, tacit knowledge, measures, people/skills,learning, knowledge hub, dan physical environment. Perlu dilakukan perbaikan untuk meningkatkan nilai dari 9 dimensi diatas agar nilai secara keseluruhan dapat lebih siap untuk menerapkan knowledge management, berikut beberapa perbaikan yang akan mengacu pada tabel 2.2 Karakteristik Readiness Level yaitu: 1. Dimensi pertama yang perlu diperbaiki adalah Physical Environment dengan nilai presentase sebesar 40,24%. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan lingkungan fisik yang baik, fasilitas database dan penyimpanan knowledge yang mapan serta dukungan infrastruktur berupa internet dan koneksi jaringan yang stabil, misalkan dengan cara menyiapkan ruangan khusus untuk melakukan brainstorming, diskusi dan berbagi pengetahuan. 2. Dimensi kedua yang perlu diperbaiki adalah Tacit Knowledge yang memperoleh nilai presentase 47,50%. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM, misalkan dalam hal mendukung para pegawai untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuannya secara mandiri dan terus menerus. 3. Dimensi ketiga yang perlu diperbaiki adalah Explicit Knowledge yang mendapat nilai presentase sebesar 49,82%. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM, misalkan dengan meningkatkan usaha dalam mengelola Explicit Knowledge yang ada di Pusintek dengan efektif. Keadaan tersebut dapat dijabarkan dengan

73 61 meningkatkan proses pendokumentasian mengenai knowledge yang ada dan Pusintek dapat melakukan sosialisasi best practice secara rutin kepada para pegawai.pusintek juga harus membuat prosedur atau aturan mengenai pengarsipan best practice yang harus dilakukan secara rutin, dievaluasi dan dipelajari dengan baik. Untuk pengelolaan explicit knowledge ini para pimpinan dapat melihat hasil analisa penunjang yang telah dilakukan di Tabel 5.5, yang membahas aktivitas penunjang bagi para pegawai pusintek untuk mengembangkan explicit knowledge tersebut. 4. Dimensi keempat yang perlu diperbaiki adalah Culture yang mendapat nilai presentase sebesar 50,71%. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM, misalkan dengan mendukung sepenuhnya budaya yang berorientasi dengan kegiatan knowledge management seperti budaya berdiskusi, budaya untuk sharing knowledge dan meningkatkan berbagai budaya lainnya yang mampu mengangkat kebiasaan para pegawai Pusintek untuk saling berbagai pengetahuan satu sama lain dengan senang hati, baik memberikan informasi yang dibutuhkan, saran dan penjelasan apapun yang berhubungan dengan pekerjaan di perusahaan. Cara yang terakhir untuk meningkatkan dimensi Culture di Pusintek yaitu perlu dilakukannya sosialisasi mengenai knowledge management yang gencar oleh para pimpinan yang diikuti oleh seluruh pegawai. 5. Dimensi kelima yang perlu diperbaiki adalah People yang mendapat nilai presentase sebesar 51,19%. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM, seperti mendukung lebih lagi dalam meningkatkan keahlian pegawainya dengan memberikan bantuan untuk melanjutkan studi ataupun pelatihan yang mendukung pekerjaan. Pusintek juga harus memiliki database kompetensi karyawan yang berisi rincian keahlian pegawainya, proyek apa yang pernah dikerjakan dan prestasi apa saja yang pernah dicapai. Tujuannya adalah pada saat mendapatkan proyek, Pusintek mampu menempatkan orang-orang terbaiknya yang berkompeten dengan proyek tersebut. Sehingga nantinya proyek tersebut

74 62 dapat berjalan dengan tepat waktu. Pusintek harus mampu memberikan fasilitas seperti mendatangkan narasumber dari lingkungan praktisi, konsultan ataupun IT trainer untuk tujuan update knowledge. 6. Dimensi keenam yang perlu diperbaiki adalah Learning yang memperoleh nilai presentase sebesar 56,47%. Perbaiakan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM, seperti Pusintek memberikan fasilitas kepada pegawainya untuk dapat mengembangkan diri dan memberikan kesempatan para pegawainya untuk memberikan ide-ide yang mungkin akan berguna bagi kemajuan Pusintek. Pusintek perlu juga perlu memberikan waktu kepada para pegawainya untuk digunakan mempelajari metode-metode baru. Sehingga knowledge yang dimiliki oleh para pegawainya selalu ter-update. Berdasarkan analisis penunjang di tabel 5.4, terlihat bahwa beberapa sumber yang dapat dijadikan untuk mendapatkan knowledge. 7. Dimensi ketujuh yang perlu diperbaiki adalah Knowledge Hub and Centers, yang memperoleh nilai presentase sebesar 56,96%. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan lingkungan fisik yang baik, fasilitas database dan penyimpanan knowledge yang mapan serta dukungan infrastruktur berupa internet dan koneksi jaringan yang stabil dan adanya aturan dan standar yang mengatur fasilitas-fasilitas tersebut, seperti melakukan pendokumentasian semua knowledge maupun best practice dari proyek-proyek yang telah dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. Aplikasi dan database sudah ada di Pusintek, tetapi karena tidak adanya peraturan yang mewajibkan menggunakan aplikasi tersebut maka aplikasi tersebut tidak berjalan. Kegiatan ini akan efektif jika Pusintek mengeluarkan aturan resmi seperti Keputusan Menteri Keuangan (KMK) atau Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang khusus mengatur tata cara pendokumentasian segala kegiatan, dengan dikeluarkan peraturan resmi, maka pegawai akan merasa memiliki kewajiban untuk menerapkan knowledge management. Sebagai alternatif lain adalah dengan

75 63 memasukkan kegiatan dokumentasi menjadi IKU pegawai Pusintek, sehingga pegawai memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan tersebut 8. Dimensi kedelapan yang perlu diperbaiki adalah Measure yang memperoleh nilai presentase sebesar 58,13%. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM, seperti dengan meningkatkan kompentensi pegawai dan juga pemberian imbalan bagi pegawai yang berprestasi dilingkungan kerja. 9. Dimensi kesembilan yang perlu diperbaiki adalah Leadership yang mendapat nilai presentase sebesar 58,67%. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM, seperti dengan memberikan kesadaran kepada pihak manajemen tentang pentingnya knowledge management, sehingga mereka dapat memberikan perhatian lebih dalam hal penerapan knowledge management di lingkungan Pusintek, dan agar pihak manajemen dapat lebih memberikan dukungan kepada para pegawainya dalam hal penerapan knowledge management. Terbukti dari tabel 5.6 Keterlibatan posisi dalam sharing knowledge saat ini, terlihat bahwa pimpinan belum sepenuhnya terlibat dalam penerapan KM. Para pegawai juga sangat mengharapkan peran serta pimpinan untuk terlibat dalam penerapan KM di Pusintek, hal tersebut dapat dilihat di tabel 5.7 keterlibatan posisi dalam sharing knowledge yang akan datang.

76 64 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Hasil pengukuran tingkat kesiapan Pusintek dalam menerapkan Knowledge Management (KM) berada pada level 4 yaitu Receptive atau memiliki nilai diatas 60%. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pusintek telah siap dan matang untuk menerapkan KM. 2. Pusintek masih memiliki beberapa dimensi yang belum mencapai prosentase 60%. Dimensi tersebut antara lain leadership, culture, explicit knowledge, tacit knowledge, measures, people/skills, learning, knowledge hub, dan physical environment. Penulis memberikan rekomendasi perbaikan kesiapan penerapan Knowledge Management seperti untuk memperbaiki dimensi Leadership dapat dilakukan dengan menyiapkan setiap individu maupun organisasi untuk mendukung secara penuh diterapkannya KM seperti dengan memberikan kesadaran kepada pihak manajemen terhadap pentingnya penerapan KM. Penjelasan lebih detail dapat dilihat pada subbab Saran Setelah semua tahapan penelitian terselesaikan dan kemudian menentukan kesimpulan, maka diberikanlah saran-saran perbaikan yang harus dilakukan dengan tujuan mematangkan tingkat kesiapan implementasi Knowledge Management (KM) yang ada di Pusintek ataupun saran untuk penelitian selanjutnya yaitu: 1. Penelitian ini tidak membahas tentang pembuatan rancang model KM, sehingga diharapkan penelitian selanjutnya dapat membuat rancangan model KM yang tepat untuk diterapkan di Pusintek. 2. Penelitan selanjutnya diharapkan melakukan pengukuran tingkat kesiapan KM dengan menggunakan cara pengukuran yang lain seperti menggunakan AHP agar dapat dijadikan sebagai pembanding dari penelitian ini. 64

77 65 DAFTAR PUSTAKA Anwar, K (2012). Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Penerapan Knowledge Management. Karya Akhir Program Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia Awad, Elias, and Hasan Ghaziri (2007). Is there a future for knowledge management. Journal of Information Technology Management. Baldanza, Carolyn, and Michel A. Stankosky (1999). Knowledge Management: An evolution architecture toward enterprise engineering. Proceeding of International Council on System Engineering (INCOSE), Mid-Atlantic regional conference. Davenport, T. D & Prusak, L (1998). Working Knowledge, How Organizations Manage What They Know, Harvard Business School Press, Boston, MA. Fernandez-Beccera, et al (2004). Knowledge Management: Challenges, Solutions, and Technology, Prentice Hall. Holt, D. T. (2000). The measurement of readiness for instruments and suggestions for future research. Academy of Management. Toronto, Canada. Liebowitz, J (1999). Key ingridients to the success of anorganization s knowledge management strategy. Knowledge and Process Management, vol 6, pp Moffet et all (2003). An empirical analysis of knowledge management applications. Diakses tanggal 2 Oktober Mohammadi, Kavec, et al (2009). Organizationl Readiness Knowledge Management, International Journal Management, 5(1), 29-45, January-March Rao, Madanmohan (2004). Knowledge Management Tools and Technique: practitioners and experts evaluate KM solutions, Butterworth-Heinemann. Skyme, D. and Amidon, D. (1997). The knowledge agenda, Journal Knowledge Management, Vol.1 No.1, pp Sukomo, Pandu Arizona (2012). Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Implementasi Knowledge Management (KM READINESS) : Studi Kasus Pusat Ilmu Komputer. Karya Akhir Program Magister Teknologi Informasi. Tiwana, Amrit (2001). The Essential Guide to Knowledge Management. Practice Hall PTR

78 66 Valmohammadi, Changiz (2010). Identification and prioritization of critical success factor of knowledge management in Iranian SMEs: An experts view, Departement of Industrial Management, Faculty of Management and Accounting, Islamic Azad University, South Tehran. Zaidiah, Ati (2011). Analisis Tingkat Kesiapan Knowledge Management pada Sekretariat Badan Pendidikan dan Latihan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Karya Akhir Program Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia Univeristas Indonesia

79 67 LAMPIRAN Lampiran 1 : Kuisioner Penelitian MAGISTER TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS INDONESIA KUISIONER PENELITIAN Analisis Pengukuran Tingkat Kesiapan Implementasi Knowledge Management di Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan Kementerian keuangan *) Tukarkan Kuesioner yang telah anda isi dengan Souvenir yang telah disediakan, terima kasih atas bantuannya dalam mengisi kuisioner ini.

80 68 A. Berilah jawaban dari pertanyaan berikut sesuai pendapat Anda dengan member tanda (V) pada kolom jawaban yang tersedia. STS TS S SS SSS = Sangat Tidak Setuju = Tidak Setuju = Setuju = Sangat Setuju = Sangat Setuju Sekali NO PERTANYAAN 1. Saya mengetahui dan memahami dengan jelas definisi dan knowledge management. 2. Saya mengetahui dengan jelas perbedaan antara knowledge dan informasi 3. Seluruh karyawan Pusintek mempunyai pandangan yang sama mengenai knowledge management. 4. Menurut saya knowledge asset di Pusintek ini merupakan hal yang sangat penting. 5. Menurut saya knowledge management sangat cocok diterapkan di Pusintek 6. Melihat kondisi Pusintek saat ini, menurut saya Pusintek membutuhkan knowledge management. 7. Menurut saya knowledge management dapat meningkatkan performa Pusintek secara keseluruhan. 8. Saya mengetahui dan memahami tujuan utama dari knowledge management. 9. Menurut saya dengan adanya perencanaan dan visi, penerapan Knowledge Management System (KMS) dapat terintergrasi dengan proses bisnis yang dimiliki Pusintek. 10. Menurut saya harus ada inisiatif pada setiap individu untuk menerapkan knowledge management. 11. Pihak manajemen aktif dalam menggalakkan bahwa semua orang di lingkungan Pusintek dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan sesuai dengan porsinya masing-masing. 12. Pihak manajemen memberikan dukungan moral dan melakukan tindakan nyata untuk menerapkan dukungan kegiatan knowledge management. 13. Knowledge management menjadi tanggung jawab bersama antara pihak manajemen dan karyawan. 14. Ada dukungan dan komitmen dari pihak Pusintek dalam program management. 15. Pusintek mempunyai rencana pengembangan untuk memenuhi kebutuhan program knowledge management untuk masa yang akan datang. 16. Untuk membentuk suatu tim, dimungkinkan berisi orang-orang dari berbagai macam departemen. 17. Dengan struktur organisasi yang ada sekarang, JAWABAN STS TS S SS SSS

81 69 dimungkinkan karyawan untuk turut berperan serta dalam penerapan tujuan bersama. 18. Dengan knowledge sharing yang dilakukan memungkinkan sharing atau berbagai secara vertikal (up-hierarchy) (dengan pihak atasan dalam suatu departemen/ disiplin). 19. Chief Knowledge Officer (CKO) sangat dibutuhkan untuk penerapan knowledge management di Pusintek. (CKO adalah orang yang bertugas dalam menjalankan manajemen Pusintek secara baik dan benar). 20. Melakukan dokumentasi dan berbagi knowledge merupakan kegiatan rutin Pusintek. 21. Sosialisasi mengenai knowledge management gencar dilakukan di Pusintek. 22. Sosialisasi mengenai kebutuhan sikap yang diperlukan dalam knowledge management gencar dilakukan di Pusintek. 23. Sosialisasi mengenai knowledge sharing dan menggunakan knowledge yang dipunyai gencar dilakukan di Pusintek. 24. Saya dan rekan kerja akan dengan senang hati untuk bekerja sama bila terdapat rekan kerja yang membutuhkan informasi, saran, dan penjelasan apapun yang berhubungan dengan pekerjaan di Pusintek. 25. Pusintek mendukung karyawan yang melanjutkan studinya dengan tujuan menambah kemampuan. 26. Pelatihan-pelatihan yang selama ini didapatkan sesuai dengan kebutuhan saya. 27. Mudah untuk mendapatkan pelatihan-pelatihan yang disediakan oleh Pusintek yang sesuai dengan kebutuhan saya. 28. Penting bagi orang-orang yang mempunyai keahlian dan kemampuan khusus untuk mentransfer segala kemampuan dan keahliannya sebelum meninggalkan Pusintek. 29. Saya tidak mengalami kesulitan untuk melakukan presentasi dan mengajarkan keahlian yang saya miliki kepada orang lain. 30. Saya tidak mengalami kesulitan untuk mengajarkan kemampuan saya kepada orang lain. 31. Pendokumentasian dan pengarsipan best practice dilakukan di Pusintek. 32. Di Pusintek banyak best practice yang saya ketahui. 33. Sangat mudah untuk mendapatkan best practice di Pusintek. 34. Best practice di Pusintek ini dievaluasi dan dipelajari dengan baik. 35. Hanya sedikit orang yang menguasai skill yang dimiliki dan dibutuhkan oleh Pusintek.

82 Kompetensi merupakan salah satu aspek penilaian dari kinerja karyawan. 37. Terdapat pengukuran dan imbalan bagi karyawan yang telah melakukan kemajuan di lingkungan kerja. 38. Saya yakin bahwa knowledge yang dimiliki oleh Pusintek dapat membawa kemajuan bagi Pusintek. 39. Dengan pengetahuan (knowledge) yang dimiliki Pusintek maka permasalahan dalam pekerjaan mudah teratasi. 40. Bila menemui kendala maka saya akan dengan mudah mendapatkan bantuan dari tim yang mendukung untuk pemecahan masalah. 41. Terdapat database mengenai kompetensi semua karyawan yang ada di Pusintek. 42. Terdapat kebijakan untuk mendatangkan narasumber dari lingkungan praktisi maupun akademisi untuk selalu melakukan update knowledge yang ada di Pusintek. 43. Pusintek membantu memberikan sebagian atau sepenuhnya dana bagi karyawan yang ingin melanjutkan studi. 44. Saya dan rekan kerja lainnya mempunyai komitmen untuk melakukan pengembangan secara terusmenerus dan rutin dalam memberikan ide-ide atau pengembangan baru dalam Pusintek. 45. Di dalam Pusintek terdapat waktu yang sifatnya bebas digunakan untuk mempelajari metode-metode kerja baru. 46. Pusintek mempunyai mekanisme dan kebijakan untuk melakukan benchmarking mengenai best practice yang dipunyai dengan pihak Pusintek lain. 47. Saat ini Pusintek memilih database tersendiri utnuk menyimpan knowledge yang dimiliki. 48. Terdapat mekanisme atau prosedur untuk menyimpan dan mengambil kembali pengetahuan (knowledge). 49. Saya terbiasa menggunakan untuk berbagi pengetahuan. 50. Menurut saya penggunaan intranet dan internet sangat mendukung dalam melakukan kegiatan belajar hal baru dan pelatihan. 51. Saya sangat senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan ICT (Information Communication Technology). 52. Saya terbiasa menggunakan ICT yang dipunyai Pusintek untuk memudahkan saya dalam bekerja. 53. Menurut saya ICT merupakan salah satu hal penting dan sebagai sarana untuk menjamin bahwa informasi yang kita dapatkan merupakan informasi yang tepat dan pada waktu yang tepat juga. 54. Saat ini Pusintek memiliki lembaga penelitian sendiri. 55. Pusintek memiliki tempat khusus untuk melakkan

83 71 brainstorming, diskusi dan berbagi pengetahuan. B. Berilah jawaban dari pertanyaan berikut sesuai pendapat Anda dengan memberikan tanda centang (V) pada kolom jawaban yang tersedia. 1 = Tidak pernah 2 = Pernah 3 = Sering Frekuensi untuk menggunakan tempat/ sarana yang NO sering digunakan oleh pihak Pusintek untuk mendapatkan knowledge: 1. Pusintek Client( Unit yang menggunakan jasa Pusintek) 2. Aliansi Pusintek Sejenis (Bagian IT di Unit lain) 3. Universitas 4. Akademi 5. Lembaga Penelitian 6. Konsultan 7. Workshop online 8. Buku dan literatur (maupun e-book) 9. Seminar atau event tertentu 10. DatabasePusintek 11. Perpustakaan 12. Praktisi 13. Organisasi lainnya selain yang disebutkan diatas 14. Media internet selain yang telah disebutkan di atas C. Berilah jawaban dari pertanyaan berikut sesuai pendapat Anda dengan memberikan tanda centang (V) pada kolom jawaban yang tersedia. 0 = Tidak Tahu 1 = Tidak Menunjang 2 = Menunjang Menurut Anda dari kegiatan di bawah ini, manakah NO kegiatan yang dapat dilakukan untuk menunjang pekerjaan Anda? 1. Terlibat dalam suatu project 2. Melakukan diskusi 3. Melakukan kunjungan ke organisasi lain 4. Bertukar informasi menggunakan 5. Mengikuti seminar (maupun secara online) 6. Berbagi file atau informasi melalui internet maupun intranet 7. Melakukan review hasil project meeting 8. Membaca buku, publikasi, ataupun e-book 9. Diskusi untuk pemecahan suatu masalah 10. Mengikuti pelatihan atau kursus (maupun secara online) 11. Mencari tahu melalui orang-orang di sekitar Pusintek 12. Mengikuti sertifikasi 13. Melakukan tim meeting 1 2 3

84 Membaca best practice 15. Mengikuti/ melanjutkan kuliah 16. Menggunakan internet selain kegiatan yang telah disebutkan di atas D. Berilah jawaban dari pertanyaan berikut sesuai pendapat Anda dengan memberikan tanda centang (V) pada kolom jawaban yang tersedia. Keterlibatan posisi di bawah ini dalam kegiatan knowledge sharing untuk kondisi saat ini: NO Posisi Terkait Keterlibatan Tidak Tahu Tidak Terlibat Terlibat 1. Kepala Pusintek 2. Kepala Bidang / Bagian 3. Kepala Sub Bidang / Sub Bagian 4. Pelaksana 5. Pranata Komputer Keterlibatan posisi di bawah ini dalam kegiatan knowledge sharing untuk kondisi yang akan datang menurut harapan Anda: NO Posisi Terkait Keterlibatan Tidak Tahu Tidak Terlibat Terlibat 1. Kepala Pusintek 2. Kepala Bidang / Bagian 3. Kepala Sub Bidang / Sub Bagian 4. Pelaksana 5. Pranata Komputer

85 73 Lampiran 2 : Perhitungan Kuisioner 1. Abstract Pemahaman mengenai definisi dan manfaat dari KM Aspek Abstract A-1 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,36 4,73 17,44 36,26 11, , Abstract Inisiatif Organisasi untuk menerapkan KM Aspek Abstract A-2 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,04 2,14 31,90 27,14 7,35 100,00 68,57 100,00 Rata-rata dimensi abstract adalah = 69,68%

86 74 3. Soft Leadership Aspek Soft S-1 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,71 13,05 21,29 18,86 4,76 100,00 58,67 100,00 4. Soft Organization Aspek Soft S-2 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,32 5,48 26,34 29,16 4,32 100,00 65,62 100,00

87 75 5. Soft Culture Aspek Soft S-3 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,38 16,48 17,64 13,14 1,07 100,00 50,71 100,00 6. Soft Process Aspek Abstract S-4 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,42 4,00 30,54 24,13 6,84 100,00 65,93 100,00

88 76 7. Soft Explicit Knowledge Aspek Soft S-5 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,52 15,71 29,82 2,62 0,15 100,00 49,82 100,00 8. Soft Tacit Knowledge Aspek Soft Jumlah bobot Jumlah Responden S Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,26 16,19 28,57 0, ,00 47,50 100,00 9. Soft Measures Aspek Soft S-7 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Nilai maksimal

89 77 Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi ,19 8,57 29,17 19, ,00 58,13 100, Soft Exploitation Aspek Soft S-8 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,41 23,58 29,53 0,30 100,00 62,82 100, Soft Poeple Aspek Soft S-9 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,67 14,76 27,14 7, ,00 51,19 100,00

90 Soft Learning Aspek Soft S-10 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,67 8,81 31,55 10,48 3,96 100,00 56,47 100,00 Rata-rata dimensi soft adalah = 56,69% 13. Hard Knowledge Hub Aspek Hard H-1 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,37 9,88 27,14 18, ,00 56,96 100,00

91 Hard Technology Aspek Hard H-2 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,21 0, ,96 11,67 100,00 71,59 100, Hard Physical Aspek Hard H-3 Jumlah bobot Jumlah Responden Jumlah Jumlah x Bobot Rata-rata dimensi Nilai maksimal ,44 12,26 15, ,00 40,24 100,00 Rata-rata dimensi hard adalah = 56,50% Rata-rata dimensi keseluruhan adalah = 60,96%

92 Lampiran 3: Data Kuesioner untuk Uji Validitas dan Uji Reliabilitas No

93 81 No

94 82 No

95 83 No

96 84 No

97 85 No

98 86 No

99 87 Lampiran 4 : Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Tabel Uji Validitas dan Reabilitas Dengan IBM SPSS Statistic versi 22 Langkah-langkah pengujian : 1. Buat variabel soal (Q1 sampai dengan Q55), dengan tipe data numeric. 2. Masukkan data jawaban responden ke dalam masing-masing variabel soal 3. Lakukan Uji Reliabilitas ( Analyze Scale Reliability Analysis ) 4. Kemudian akan tampil seperti gambar di bawah ini: 1. Uji Reliabilitas Case Processing Summary N % Valid ,0 Cases Excluded a 0,0 Total ,0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Tabel r Product Moment Pada Sig.0,05 (Two Tail) N of Items,719 55

100 88 N r N r N r N r N r N r Untuk mengetahui apakah seluruh instrumen soal kuisioner sudah reliable atau tidak, dilihat pada nilai alpha = 0,719. Dicocokkan dengan nilai tabel r product moment adalah ternyata nilai alpha sebesar 0,719 lebih besar dari r tabel (0,151) artinya semua soal pada kuisioner akan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya (signifikan / reliable).

101 89 2. Uji Validitas Untuk mengetahui soal sudah valid atau tidak, dilihat nilai korelasi lalu dibandingkan dengan tabel korelasi product moment unuk dk = n-1 = = 167 untuk alpha 5% adalah 0,151. Item Statistics Mean Std. Deviation N Q1 3,3512, Q2 3,3631, Q3 2,3036, Q4 3,8512, Q5 4,0476, Q6 3,8631, Q7 3,9940, Q8 3,1190, Q9 3,3810, Q10 3,7857, Q11 2,7143 1, Q12 2,5357 1, Q13 3,5714, Q14 2,7857, Q15 3,0595, Q16 3,4702, Q17 3,1905, Q18 3,1429, Q19 3,3214, Q20 2,8274, Q21 1,9881, Q22 2,0536, Q23 2,0595, Q24 3,7500, Q25 3,5893, Q26 3,0893, Q27 2,8095, Q28 3,7857 1, Q29 3,1607, Q30 3,3452, Q31 2,7202, Q32 2,6429, Q33 2,2202, Q34 2,3810, Q35 2,3750, Q36 3,1369,

102 90 Q37 2,4702, Q38 3,1131, Q39 3,2262, Q40 3,0536, Q41 2,5833, Q42 2,7143, Q43 2,3810, Q44 3,2976, Q45 2,5952, Q46 2,5774, Q47 2,7738, Q48 2,9226, Q49 3,1845, Q50 3,5952, Q51 3,6667, Q52 3,6964, Q53 3,7560, Q54 1,7083, Q55 2,3155, Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Alpha if Item Item Deleted if Item Deleted Total Correlation Deleted Q1 166, ,479,251,853 Q2 166, ,835,245,853 Q3 166, ,644,269,852 Q4 165, ,344,245,853 Q5 166, ,860,278,852 Q6 165, ,223,257,852 Q7 165, ,205,301,852 Q8 166, ,145,220,853 Q9 166, ,313,357,851 Q10 165, ,996,220,853 Q11 165, ,666,379,850 Q12 166, ,310,313,851 Q13 165, ,184,327,851 Q14 166, ,853,367,851 Q15 166, ,906,232,853 Q16 166, ,341,325,851 Q17 165, ,239,366,851 Q18 165, ,592,229,853

103 91 Q19 165, ,828,220,853 Q20 166, ,346,342,851 Q21 167, ,293,270,852 Q22 167, ,962,326,851 Q23 167, ,768,329,851 Q24 165, ,666,379,850 Q25 165, ,764,176,854 Q26 165, ,525,226,853 Q27 166, ,254,275,852 Q28 166, ,640,252,853 Q29 166, ,213,224,853 Q30 166, ,391,203,853 Q31 166, ,784,356,851 Q32 166, ,892,251,853 Q33 167, ,508,289,852 Q34 167, ,406,319,852 Q35 166, ,134,353,851 Q36 166, ,823,242,853 Q37 165, ,239,366,851 Q38 166, ,875,319,851 Q39 166, ,394,325,851 Q40 166, ,836,388,850 Q41 166, ,555,271,852 Q42 166, ,560,328,851 Q43 167, ,634,185,854 Q44 166, ,993,288,852 Q45 166, ,199,353,851 Q46 166, ,002,304,852 Q47 166, ,472,177,854 Q48 166, ,700,189,854 Q49 166, ,038,217,853 Q50 166, ,499,350,851 Q51 165, ,665,324,851 Q52 165, ,666,379,850 Q53 165, ,239,366,851 Q54 166, ,692,338,851 Q55 165, ,718,277,852 Berdasarkan tabel diatas, semua pertanyaan mempunyai Corrected Item-Total Correlation diatas 0,151 sehingga semua pertanyaan atau soal kuisioner dinyatakan dapat menghasilkan data jawaban yang valid.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah Knowledge Management (KM) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1986, dalam konferensi manajemen Eropa yaitu APQC (American Productivity and Quality Center).

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Pengertian Knowledge Secara umum, terdapat dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit. Pengetahuan tacit adalah pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengetahuan atau knowledge merupakan sumber inovasi yang dibutuhkan oleh organisasi maupun perusahaan untuk bertahan dan berkembang [1], [2]. Supaya efektif dalam

Lebih terperinci

KNOWLEDGE MANAGEMENT PENGERTIAN DAN MANFAATNYA PADA ORGANISASI. Oleh :

KNOWLEDGE MANAGEMENT PENGERTIAN DAN MANFAATNYA PADA ORGANISASI. Oleh : KNOWLEDGE MANAGEMENT PENGERTIAN DAN MANFAATNYA PADA ORGANISASI Disusun sebagai tugas paper MK. Teori Organisasi dan Manajemen Pengetahuan (TOMP) pada Kelas E35-Bogor. 22-Januari 2011 Oleh : Hary Purnama

Lebih terperinci

Knowledge Management Solution untuk Divisi Operasional: Studi Kasus PT. XYZ

Knowledge Management Solution untuk Divisi Operasional: Studi Kasus PT. XYZ Knowledge Management Solution untuk Divisi Operasional: Studi Kasus PT. XYZ Dimas Setiawan 1, Dana Indra Sensuse 2 1,2 Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Kampus UI Depok Indonesia 1 [email protected]

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan penelitian ini, dapat diambil beberapa simpulan sesuai dengan permasalahan yang diteliti, sebagai berikut: Dukungan kebijakan

Lebih terperinci

EKSTERNALISASI KNOWLEDGE DI LABORATORIUM FAKULTAS REKAYASA INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM

EKSTERNALISASI KNOWLEDGE DI LABORATORIUM FAKULTAS REKAYASA INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM Hal IIB - 355 EKSTERNALISASI KNOWLEDGE DI LABORATORIUM FAKULTAS REKAYASA INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM Amelia Kurniawati 1, Luciana Andrawina 2, Firmansyah Wahyudiarto 3, Andy Surya Setiawan 4 Fakultas

Lebih terperinci

Dunamis Program Overview The Importance of Knowledge Transfer

Dunamis Program Overview The Importance of Knowledge Transfer Dunamis Program Overview The Importance of Knowledge Transfer Dunamis Organization Services Berdiri sejak tahun 1991, Dunamis merupakan mitra berlisensi dari FranklinCovey - sebuah organisasi global yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Laurence (Tiwana: 2002) knowledge didefinisikan sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Laurence (Tiwana: 2002) knowledge didefinisikan sebagai berikut : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Knowledge Knowledge bukan hanya pengetahuan, menurut Thomas Davenport dan Laurence (Tiwana: 2002) knowledge didefinisikan sebagai berikut : "Knowledge merupakan campuran dari

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Definisi Data, Informasi Dan Knowledge Management Organisasi harus memiliki sistem pengelolaan pengetahuan yang baik untuk menghasilkan knowledge yang berkualitas dan berguna

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Evaluasi rancangan..., Agung Kadarmanta, FE UI, 2009.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Evaluasi rancangan..., Agung Kadarmanta, FE UI, 2009. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap organisasi membutuhkan panduan agar perjalanannya terarah, seperti halnya suatu peta dalam satu perjalanan. Peta yang baik akan menuntun organisasi untuk mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi dengan sangat cepat. Di masa krisis yang melanda seperti saat ini, banyak

BAB I PENDAHULUAN. terjadi dengan sangat cepat. Di masa krisis yang melanda seperti saat ini, banyak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi ini terjadi dengan sangat cepat. Di masa krisis yang melanda seperti saat ini, banyak pihak

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS III.1 Interaksi Sosial sebagai Dasar Knowledge Management

BAB III ANALISIS III.1 Interaksi Sosial sebagai Dasar Knowledge Management BAB III ANALISIS Pada bab ini dipaparkan analisis yang dilakukan terhadap pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai proses KM. Analisis yang dilakukan adalah terkait dengan pemahaman bahwa KM didasari oleh

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA PERUSAHAAN PT. XYZ KARYA AKHIR NUGROHO

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA PERUSAHAAN PT. XYZ KARYA AKHIR NUGROHO UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA PERUSAHAAN PT. XYZ KARYA AKHIR NUGROHO 1006800522 FAKULTAS ILMU KOMPUTER PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan latar belakang masalah dalam pengaruh penerapan manajemen pengetahuan terhadap kinerja karyawan PT Semen Padang, perumusan masalah, tujuan, batasan masalah dan sistematika

Lebih terperinci

01/10/2010. Pertemuan 1. Process. People. Technology

01/10/2010. Pertemuan 1. Process. People. Technology Pertemuan 1 Manajemen pengetahuan organisasi (bukan individu) untuk menciptakan nilai bisnis (business value) dan menghasilkan keunggulan daya saing (competitive advantage) People Process Technology 1

Lebih terperinci

Bab III Analisis Faktor Knowledge Management

Bab III Analisis Faktor Knowledge Management Bab III Analisis Faktor Knowledge Management Bab III menjelaskan tahapan analisis faktor-faktor berpengaruh pada KM, yang ditujukan untuk mengidentifikasi komponen pembangun KMS sebagai landasan berpikir

Lebih terperinci

21/09/2011. Pertemuan 1

21/09/2011. Pertemuan 1 Pertemuan 1 Manajemen pengetahuan organisasi j p g g (bukan individu) untuk menciptakan nilai bisnis (business value) dan menghasilkan keunggulan daya saing (competitive advantage) 1 People Process Technology

Lebih terperinci

PERANCANGAN TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI PADA PROSES MANAJEMEN PROYEK TI MENGGUNAKAN COBIT 4.1 (STUDI KASUS PUSDATA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM)

PERANCANGAN TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI PADA PROSES MANAJEMEN PROYEK TI MENGGUNAKAN COBIT 4.1 (STUDI KASUS PUSDATA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM) PERANCANGAN TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI PADA PROSES MANAJEMEN PROYEK TI MENGGUNAKAN COBIT 4.1 (STUDI KASUS PUSDATA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM) Ingwang Diwang Katon 1 dan R. V. Hari Ginardi 2 Magister

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sebagian besar perusahaan termasuk perusahaan konsultan kontruksi bertujuan untuk tumbuh dan sukses dalam bisnis mereka. Pertumbuhan adalah aspek penting

Lebih terperinci

TUGAS KELOMPOK TECHNOLOGY MANAGEMENT AND VALUATION REVIEW: PERFORMANCE MEASUREMENT OF HIGHER EDUCATION INFORMATION SYSTEM USING IT BALANCED SCORECARD

TUGAS KELOMPOK TECHNOLOGY MANAGEMENT AND VALUATION REVIEW: PERFORMANCE MEASUREMENT OF HIGHER EDUCATION INFORMATION SYSTEM USING IT BALANCED SCORECARD TUGAS KELOMPOK TECHNOLOGY MANAGEMENT AND VALUATION REVIEW: PERFORMANCE MEASUREMENT OF HIGHER EDUCATION INFORMATION SYSTEM USING IT BALANCED SCORECARD Kelas : LMA3 Andy Gracia 1701498540 Junaidy 1701498534

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. KONDISI UMUM Kedudukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. KONDISI UMUM Kedudukan 0 BAB I PENDAHULUAN 1.1. KONDISI UMUM 1.1.1. Kedudukan Balai Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 52/PMK.1/2011 tanggal 22 Maret 2011 tentang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Data Menurut Parker (1993) data merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal datum atau data-item, kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata.

Lebih terperinci

Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sebelumnya

Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sebelumnya Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sebelumnya Penelitian ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Mahwish Waheed, dkk dari International Islamic University Pakistan tahun 2011. Dalam tulisan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PENCIPTAAN PENGETAHUAN MELALUI APLIKASI MODEL SECI

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PENCIPTAAN PENGETAHUAN MELALUI APLIKASI MODEL SECI BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PENCIPTAAN PENGETAHUAN MELALUI APLIKASI MODEL SECI A. Deskripsi Hasil Penelitian Hasil pengolahan data berdasarkan jawaban kuesioner dari 103 responden, diharapkan dapat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. UKM, pengangguran akibat angkatan kerja yang tidak terserap dalam dunia kerja

BAB 1 PENDAHULUAN. UKM, pengangguran akibat angkatan kerja yang tidak terserap dalam dunia kerja BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha Kecil Menengah (UKM) memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Dengan adanya sektor UKM, pengangguran akibat angkatan kerja

Lebih terperinci

KNOWLEDGE MANAGEMENT DALAM ORGANISASI BISNIS. Tugas Mata Kuliah. Teori Organisasi dan Manajemen Pengetahuan. Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc(CS) Oleh:

KNOWLEDGE MANAGEMENT DALAM ORGANISASI BISNIS. Tugas Mata Kuliah. Teori Organisasi dan Manajemen Pengetahuan. Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc(CS) Oleh: KNOWLEDGE MANAGEMENT DALAM ORGANISASI BISNIS Tugas Mata Kuliah Teori Organisasi dan Manajemen Pengetahuan Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc(CS) Oleh: Armiastho Adi Saputro P056100132.35E MAGISTER MANAJEMEN

Lebih terperinci

ANALISA DAMPAK KNOWLEDGE MANAGEMENT TERHADAP PERFORMA ORGANISASI STUDI KASUS PADA PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA

ANALISA DAMPAK KNOWLEDGE MANAGEMENT TERHADAP PERFORMA ORGANISASI STUDI KASUS PADA PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia, 2-4 Desember 2013 ANALISA DAMPAK KNOWLEDGE MANAGEMENT TERHADAP PERFORMA ORGANISASI STUDI KASUS PADA PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA Rida Indah Fariani Jurusan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT (KNOWLEDGE MANAGEMENT READINESS) DI DEPARTEMEN MICROSOFT OPERATION PT ASTRA GRAPHIA INFORMATION TECHNOLOGY KARYA AKHIR

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peran Departemen Keuangan sebagai lembaga negara yang berfungsi melaksanakan kebijakan fiskal sangatlah vital bagi terselenggaranya hampir semua aspek perekonomian

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISA PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT (KM READINESS) PADA PT. FAJAR HUTAMA MANDIRI KARYA AKHIR

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISA PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT (KM READINESS) PADA PT. FAJAR HUTAMA MANDIRI KARYA AKHIR UNIVERSITAS INDONESIA ANALISA PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT (KM READINESS) PADA PT. FAJAR HUTAMA MANDIRI KARYA AKHIR FREDDY SETIAWAN 1106121736 FAKULTAS ILMU KOMPUTER PROGRAM

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. antar perusahaan semakin meningkat, sehingga setiap perusahaan dituntut

I. PENDAHULUAN. antar perusahaan semakin meningkat, sehingga setiap perusahaan dituntut I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi saat ini, intensitas kompetisi dan persaingan ketat antar perusahaan semakin meningkat, sehingga setiap perusahaan dituntut meningkatkan kompetensinya

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua desa yaitu di Desa Tangkil dan Hambalang di Kecamatan Citereup, Kabupaten Bogor. Penelitian di kedua desa ini adalah

Lebih terperinci

MODEL PENERAPAN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK PENYUSUNAN TUGAS AKHIR BERBASIS TEKNOLOGI MOBILE MENGGUNAKAN J2ME (STUDI KASUS STMIK SUBANG)

MODEL PENERAPAN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK PENYUSUNAN TUGAS AKHIR BERBASIS TEKNOLOGI MOBILE MENGGUNAKAN J2ME (STUDI KASUS STMIK SUBANG) MODEL PENERAPAN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK PENYUSUNAN TUGAS AKHIR BERBASIS TEKNOLOGI MOBILE MENGGUNAKAN J2ME (STUDI KASUS STMIK SUBANG) Andreas Eko Wijaya Program Studi Teknik Informatika, STMIK

Lebih terperinci

2018, No Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 20

2018, No Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 20 No.154, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPAN-RB. Evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... xvii xix Xx I. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 5 1.3 Tujuan Penelitian... 6 1.4 Manfaat Penelitian... 7 1.5

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Knowledge Management System Pada point ini membahas mengenai landasan teori knowledge management system yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembuatan penulisan ini. 2.1.1.

Lebih terperinci

KNOWLEDGE MANAGEMENT. Model Knowledge Management. Pertemuan 3

KNOWLEDGE MANAGEMENT. Model Knowledge Management. Pertemuan 3 KNOWLEDGE MANAGEMENT Pertemuan 3 : Model Knowledge Management Pertemuan 3 Rani Puspita D, M.Kom Tujuan Pembelajaran Model KM Memahami kunci utama model teoritis knowledge management yang digunakan saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sedemikian pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang bagi proses akses, pengelolaan, dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ditinjau dari jenis datanya tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Ditinjau dari jenis datanya tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Ditinjau dari jenis datanya tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Penelitian deskriptif

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pengetahuan disimpan di dalam otak individu atau di-encode (diubah dalam

BAB II LANDASAN TEORI. Pengetahuan disimpan di dalam otak individu atau di-encode (diubah dalam 8 BAB II LANDASAN TEORI A. Knowledge Pengetahuan dalam Kusumadmo (2013), adalah penggunaan informasi dan data secara penuh yang dilengkapi dengan potensi ketrampilan, kompetensi, ide, intuisi, komitmen,

Lebih terperinci

Penilaian Knowledge Management System Readiness Di Perusahaan G Berdasarkan Faktor People, Process, Dan Technology

Penilaian Knowledge Management System Readiness Di Perusahaan G Berdasarkan Faktor People, Process, Dan Technology Penilaian Knowledge Management System Readiness Di Perusahaan G Berdasarkan Faktor People, Process, Dan Technology Nur Zahra Afifah 1) Dr. Luciana Andrawina 2) Amelia Kurniawati, ST., MT 3) Program Studi

Lebih terperinci

Bab I PENDAHULUAN. Alvin Toffler (1990) membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang

Bab I PENDAHULUAN. Alvin Toffler (1990) membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alvin Toffler (1990) membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang yaitu era pertanian, era industri dan era informasi. Dalam era pertanian, faktor yang menonjol

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang 1 Bab I Pendahuluan Dalam bab I ini akan dijelaskan latar belakang yang mendasari munculnya ide pembuatan rancangan IT Governance dengan mengacu pada kerangka kerja COBIT. Disamping itu akan dibahas juga

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Penelitian Penelitian kali ini ditujukan untuk membantu pihak manajemen Instalasi Farmasi Rumah Sakit Atma Jaya dalam membuat suatu rencana strategi yang lebih

Lebih terperinci

TINJAUAN JURNAL HUBUNGAN KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOR DAN INDIVIDUAL INNOVATION CAPABILITY

TINJAUAN JURNAL HUBUNGAN KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOR DAN INDIVIDUAL INNOVATION CAPABILITY TINJAUAN JURNAL HUBUNGAN KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOR DAN INDIVIDUAL INNOVATION CAPABILITY (Sumber : Hilmi Aulawi, Rajesri Govindaraju, Kadarsah Suryadi, Iman Sudirman) Fakultas Teknologi Industri, Program

Lebih terperinci

Knowledge Management & TI. Muhammad Firdaus

Knowledge Management & TI. Muhammad Firdaus Knowledge Management & TI Muhammad Firdaus Rationale Knowledge is key management challenge in 21 st century Unprecendented rate of information creation and sharing Knowledge is the key value added to goods

Lebih terperinci

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang ABSTRAK Arsitektur enterprise merupakan suatu upaya memandang

Lebih terperinci

TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA DIVISI TEKNOLOGI INFORMASI PT. X

TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA DIVISI TEKNOLOGI INFORMASI PT. X TINGKAT KESIAPAN IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA DIVISI TEKNOLOGI INFORMASI PT. X Dwi Atmodjo Wismono Prapto 1 dan Sumiati Hutagalung 2 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu organisasi dikatakan berhasil apabila visi, misi dan tujuannya tercapai. Untuk dapat mencapainya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perguruan Tinggi (PT) merupakan institusi yang memberikan pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perguruan Tinggi (PT) merupakan institusi yang memberikan pelayanan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perguruan Tinggi (PT) merupakan institusi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) masa depan yang bermutu dan berdayaguna.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN -33- BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini membahas mengenai metode yang digunakan dalam penelitian untuk pemecahan masalah. Pembahasan diuraikan dalam bentuk tahapan atau langkah studi yang dilakukan

Lebih terperinci

KNOWLEDGE MANAGEMENT. Strategi dan Pengukuran Knowledge Management. Rani Puspita D, M.Kom

KNOWLEDGE MANAGEMENT. Strategi dan Pengukuran Knowledge Management. Rani Puspita D, M.Kom KNOWLEDGE MANAGEMENT Strategi dan Pengukuran Knowledge Management Rani Puspita D, M.Kom Tujuan Pembelajaran Memahami lebih jelas mengenai strategi knowledge management. Memahami lebih detail dari mulai

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian Sumber: Data Hasil Pribadi Gambar 3.1 Flowchart MetodePenelitian 40 41 1 Penerjemahan Visi dan Misi ke dalam empat perspektif Analisis SWOT

Lebih terperinci

BAB PENDAHULUAN.. Latar Belakang Membangun kontrol internal yang kuat dalam Teknologi Informasi (TI) dapat membantu organisasi untuk meningkatkan pemahaman tentang TI di kalangan eksekutif, membuat keputusan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2018

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2018 PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2018 TENTANG PEDOMAN EVALUASI SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk R & D Center merupakan salah satu unit bisnis pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Pengelolaan unit bisnis yang ada di PT. Telekomunikasi

Lebih terperinci

REKOMENDASI PENGEMBANGAN IT GOVERNANCE

REKOMENDASI PENGEMBANGAN IT GOVERNANCE REKOMENDASI PENGEMBANGAN IT GOVERNANCE MENGGUNAKAN COBIT ( CONTROL OBJECTIVES FOR INFORMATION AND RELATED TECHNOLOGY ) VERSI 3.0 PADA INSTITUSI PENDIDIKAN Wahyuni Program Studi Sistem Informasi, Fakultas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL... i LEMBAR JUDUL DALAM... ii LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR... iii LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI TUGAS AKHIR... iv LEMBAR PERNYATAAN... v ABSTRAK... vii KATA PENGANTAR... x DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

Knowledge Conversion Pada Kegiatan Registrasi Praktikum Di Laboratorium Fakultas Rekayasa Industri IT Telkom Dengan Menggunakan Metode Seci

Knowledge Conversion Pada Kegiatan Registrasi Praktikum Di Laboratorium Fakultas Rekayasa Industri IT Telkom Dengan Menggunakan Metode Seci Knowledge Conversion Pada Kegiatan Registrasi Praktikum Di Laboratorium Fakultas Rekayasa Industri IT Telkom Dengan Menggunakan Metode Seci Fachmi Fachrudin 1) Amelia Kurniawati ST., MT. 2) Murahartawaty

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terus belajar (learning organization) yang mampu bertahan dan memenangkan

BAB I PENDAHULUAN. terus belajar (learning organization) yang mampu bertahan dan memenangkan -1- BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi yang ditunjang oleh perkembangan teknologi yang pesat, inovasi tiada henti, dan perkembangan pengetahuan menuntut perusahaanperusahaan bersaing

Lebih terperinci

AUDIT MANAJEMEN TEKNOLOGI INFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN COBIT 4.1 PADA SISTEM TRANSAKSI KEUANGAN

AUDIT MANAJEMEN TEKNOLOGI INFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN COBIT 4.1 PADA SISTEM TRANSAKSI KEUANGAN AUDIT MANAJEMEN TEKNOLOGI INFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN COBIT 4.1 PADA SISTEM TRANSAKSI KEUANGAN Munirul Ula, Muhammad Sadli Dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi informasi merupakan teknologi yang dapat digunakan untuk membantu manusia dalam memproses data untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat. Perkembangan teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan Teknologi Informasi (TI) saat ini telah mencakup berbagai bidang. Hal tersebut dapat dilihat bahwa Teknologi Informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Universitas Telkom (disingkat Tel-U) merupakan penggabungan dari empat institusi yang berada di bawah badan penyelenggara Telkom Foundation (TF), yaitu Telkom Engineering

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini adalah langkah demi langkah dalam penyusunan Tugas Akhir mulai dari tahap persiapan penelitian hingga pembuatan dokumentasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada penelitian ini ada 3 tahap yang dilewati yaitu: (1) tahap awal, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap akhir. Pada tahap awal dilakukan pengumpulan data yang diperlukan untuk

Lebih terperinci

BABI PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BABI PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BABI PENDAHULUAN Pemanfaatan teknologi informasi (TI) oleh instansi pemerintah merupakan langkah untuk mendukung terwujudnya pemerintahan yang sistematis. Hal tersebut menjadi salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Jumlah Mesin Bagian Online Produksi Key Facility

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Jumlah Mesin Bagian Online Produksi Key Facility BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Manufaktur merupakan suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan, dan tenaga kerja dalam suatu medium proses untuk mengubah bahan mentah menjadi barang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata-kata kunci: Balanced Scorecard, Perspektif Keuangan, Perspektif Pelanggan,

ABSTRAK. Kata-kata kunci: Balanced Scorecard, Perspektif Keuangan, Perspektif Pelanggan, ABSTRAK Pengukuran kinerja perusahaan menjadi hal yang sangat penting bagi manajemen untuk melakukan evaluasi terhadap performa perusahaan dan perencanaan tujuan di masa mendatang. Model pengukuran yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat serta ditunjang inovasi di berbagai bidang kehidupan. Setelah era efisiensi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 29 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Sektor UKM memiliki peran dan fungsi sangat strategik dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia, tetapi kredit perbankan untuk sektor ini dinilai masih

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-37PJ/2010 TENTANG : KEBIJAKAN TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT. Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap

LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT. Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap strategi di dalam perusahaan. Petunjuk Bobot : Berilah bobot antara 0-1 dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah PT United Tractors,Tbk perwakilan Bandung merupakan distributor peralatan berat terbesar dan terkemuka di Indonesia, menyediakan produk-produk dari merek ternama

Lebih terperinci

PENERAPAN IT BALANCED SCORECARD DALAM PERENCANAAN STRATEGIS SISTEM INFORMASI DI STIKI MALANG

PENERAPAN IT BALANCED SCORECARD DALAM PERENCANAAN STRATEGIS SISTEM INFORMASI DI STIKI MALANG PENERAPAN IT BALANCED SCORECARD DALAM PERENCANAAN STRATEGIS SISTEM INFORMASI DI STIKI MALANG Koko Wahyu Prasetyo Sekolah Tinggi Informatika & Komputer Indonesia (STIKI) Malang Email: [email protected]

Lebih terperinci

Bab IV Perancangan Arsitektur Knowledge Management System

Bab IV Perancangan Arsitektur Knowledge Management System Bab IV Perancangan Arsitektur Knowledge Management System Penulisan bab IV ini ditujukan untuk menjelaskan tahapan perancangan arsitektur KMS melalui studi kasus serta menjelaskan tahapan perumusan strategi

Lebih terperinci

ANALISA STRATEGIS SI/TI: MENILAI DAN MEMAHAMI KONDISI SAAT INI. Titien S. Sukamto

ANALISA STRATEGIS SI/TI: MENILAI DAN MEMAHAMI KONDISI SAAT INI. Titien S. Sukamto ANALISA STRATEGIS SI/TI: MENILAI DAN MEMAHAMI KONDISI SAAT INI Titien S. Sukamto Pengantar Dalam proses mencapai keselarasan dan dampaknya, diperlukan adanya pemahaman akan lingkungan bisnis dan teknologi,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kritis bagi kelangsungan kegiatan operasional dan beban keuangan

I. PENDAHULUAN. kritis bagi kelangsungan kegiatan operasional dan beban keuangan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jatuhnya nilai rupiah beberapa tahun belakangan ini menjadi hal kritis bagi kelangsungan kegiatan operasional dan beban keuangan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hal

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Balanced Scorecard, visi, misi, strategi, sistem manajemen strategis. viii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci: Balanced Scorecard, visi, misi, strategi, sistem manajemen strategis. viii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PERANCANGAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI SISTEM MANAJEMEN STRATEGIK DALAM PENCAPAIAN SASARAN STRATEGIK JANGKA PANJANG (STUDI KASUS PADA GREEN HOUSE PROPERTY BANDUNG) Sistem manajemen strategis telah

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di dua lokasi, yakni Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, khususnya di Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Agroforestry yang membawahi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menghadapi era globalisasi dan liberalisasi, terjadi berbagai perubahan di

BAB I PENDAHULUAN. Menghadapi era globalisasi dan liberalisasi, terjadi berbagai perubahan di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menghadapi era globalisasi dan liberalisasi, terjadi berbagai perubahan di dalam hampir semua aspek. Kelangsungan hidup organisasi sangat tergantung kepada kemampuan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat membantu individu maupun perusahaan agar arus informasi berjalan cepat, tepat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat membantu individu maupun perusahaan agar arus informasi berjalan cepat, tepat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan kecanggihan dunia teknologi yang ada saat ini, tuntutan akan arus informasi yang cepat dan akurat menjadi semakin tinggi. Teknologi Informasi (TI) sangat membantu

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengetahuan (Knowledge) Dalam konteks teknologi informasi, pengetahuan dibedakan dengan data dan informasi. Data adalah sekumpulan fakta, pengukuran-pengukuran yang kemudian akan

Lebih terperinci

2004. h. 194. 2 Robert B Denhardt, Theories of Public Organization (fifth edition), Belmont:,Thomson Wadworth, 2008, h. 190.

2004. h. 194. 2 Robert B Denhardt, Theories of Public Organization (fifth edition), Belmont:,Thomson Wadworth, 2008, h. 190. 1 ORGANISASI BERKINERJA TINGGI Pendahuluan Keberadaan dan kelangsungan hidup suatu organisasi ditentukan oleh konteksnya. Jika suatu organisasi tidak berhasil memenuhi kebutuhan konteksnya maka organisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sejarah Organisasi. Didirikan pada tahun 1987, PT Sigma Cipta Caraka

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sejarah Organisasi. Didirikan pada tahun 1987, PT Sigma Cipta Caraka BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Sejarah Organisasi Didirikan pada tahun 1987, PT Sigma Cipta Caraka (Telkomsigma) adalah perusahaan yang menyediakan end-to-end ICT Solutions. Memperkerjakan

Lebih terperinci

E-Government Capacity Check

E-Government Capacity Check EKOJI999 Nomor 146, 1 Februari 2013 E-Government Capacity Check oleh Prof. Richardus Eko Indrajit - [email protected] Artikel ini merupakan satu dari 999 bunga rampai pemikiran Prof. Richardus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN Pada Bab I ini secara umum berisi tentang paparan latar belakang diadakannya penelitian ini, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai respon dari perkembangan teknologi serta tuntutan masyarakat terhadap peningkatkan pelayanan, transparasi dan efektifitas, pemerintah mulai melakukan perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seorang pilot pesawat terbang jet modern sedang menerbangkan pesawatnya.

BAB I PENDAHULUAN. Seorang pilot pesawat terbang jet modern sedang menerbangkan pesawatnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Seorang pilot pesawat terbang jet modern sedang menerbangkan pesawatnya. Pada saat pesawat dalam keadaan terbang, asisten juniornya menanyakan mengapa hanya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Bab ini memberikan beberapa landasan teori, meliputi teori di bidang tata kelola TI, dan pengelolaan investasi TI yang digunakan dalam penelitian. 2.1 Definisi Sebelum lebih jauh,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kehadiran teknologi informasi pada zaman sekarang telah menjadi hal mutlak bagi siapapun. Teknologi informasi menghadirkan pilihan bagi setiap orang untuk dapat terhubung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upaya peningkatan kualitas layanan sebagai salah satu realisasi dari tata kelola pemerintahan yang baik (Good Corporate Governance) mensyaratkan penerapan tata kelola

Lebih terperinci

MODEL PENILAIAN KAPABILITAS PROSES OPTIMASI RESIKO TI BERDASARKAN COBIT 5

MODEL PENILAIAN KAPABILITAS PROSES OPTIMASI RESIKO TI BERDASARKAN COBIT 5 MODEL PENILAIAN KAPABILITAS PROSES OPTIMASI RESIKO TI BERDASARKAN COBIT 5 Rahmi Eka Putri Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknologi Informasi Universitas Andalas e-mail : [email protected] Abstrak

Lebih terperinci