Perikanan Non Konsumsi Indonesia, Punya Potensi Besar

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Perikanan Non Konsumsi Indonesia, Punya Potensi Besar"

Transkripsi

1 Perikanan Non Konsumsi Indonesia, Punya Potensi Besar Politikindonesia - Produksi kelautan dan perikanan konsumsi saat ini masih jauh lebih banyak dimanfaatkan daripada produk nonkonsumsi. Padahal potensi produk nonkonsumsi, seperti ikan hias dan karang hias tak kalah menariknya. Perlu ada upaya serius dalam mengembangkan sektor ini. Kepala Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kelautan dan Perikanan (KP) Suseno mengatakan Indonesia memang dikenal dengan kekayaan ikan hiasnya yang melimpah. Karena sekitar 70 persen keanekaragaman ikan hias di dunia bisa ditemukan di Indonesia. "Perdagangan ikan hias di Indonesia pada tahun 2012 mencapai US$58 juta dan total perdagangan hias di dunia saat ini mencapai US$5 milyar," katanya kepada politikindonesia.comusai acara pertemuan BPSDM KP dan Direktorat Jenderal (Dirjet) Perikanan Budidaya dengan Dewan Ikan Hias Indonesia di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Rabu (18/09). Dijelaskan, selain ikan hias melimpah, Indonesia saat ini juga menjadi pengekspor karang hias terbesar di dunia. Sebagian besar, karang hias asal Indonesia diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat. Setelah Indonesia, negara Fiji juga merupakan negara kedua terbesar pengekspor karang hias di dunia. "Karang hias yang diekspor umumnya merupakan hasil transplantasi dan alam. Bahkan, saat ini Indonesia mampu memproduksi karang hias ramah lingkungan. Untuk negara tujuan ekspor terbesar berasal dari Amerika Serikat. Karang hias yang dijual, dihitung per pieces," ujarnya. Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebyakto menambahkan salah satu usaha pihaknya untuk mengembangkan ikan hias baik air tawar dan air laut diwujudkan melalui pengembangan kawasan Minapolitan ikan hias pada tahun 2011 di Blitar, Jawa Timur. "Kami terus berupaya membangun dan menciptakan iklim yang baik dengan pendekatan penguatan sistem akuabisnis secara terpadu dari hulu hingga hilir, termasuk menciptakan polapola kemitraan," kata Slamet. Menurutnya, jumlah spesies ikan hias air tawar di Indonesia lebih dari 450 sepesias dari total spesies ikan hias air tawar di dunia. Sedangkan jumlah ikan hias air laut Indonesia, jumlahnya lebih dari 700 jenis yang sebagian besar hanya terdapat di Indonesia. "Dengan keanekaragaman spesies ikan hias Indonesia, apabila ditangani secara serius oleh semua pihak, maka Indonesia akan mampu menjadi eksportir ikan hias terbesar di dunia. Hal itu bisa dilakukan dengan promosi melalui kontes dan lomba ikan hias," tegasnya. Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Asosiasi Koral Kerang dan Ikan Hias Indonesia (OKKII) Indra Wijaya menjelaskan, saat ini Indonesia memproduksi 49 jenis karang transplantasi dan alam jumlahnya relatif dibatasi. Ukuran maksimal yang boleh diekspor berkisar 25 cm. "Selama ini yang kita jual adalah keindahan karangnya. Jadi harus diambil dengan kehati-hatian. Ukuran maksimum 25 cm. Produknya bisa bentuk akuarium," tuturnya. Dipaparkan, karang alam lebih mudah dihasilkan daripada karang transplantasi. Diproyeksi produksi karang Indonesia mencapai 1 juta pieces di tahun Sementara produksi terumbu karang di dunia diperkirakan mencapai 284,300 kilometer persegi (km2). "Saat ini, wilayah Indonesia mempunyai sekitar 18 persen terumbu karang dunia dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia yang terdiri dari jenis ikan, 590 jenis karang batu. Sekitar 55 persen karang hias dunia terdapat di Indonesia, Filiphina, Australia Utara dan Kepulauan Pasifik," ucap Indra. Saat ini, lanjut Indra, luas terumbu karang Indonesia mencapai km2 yang tersebar di wilayah Indonesia bagian tengah, Sulawesi, Bali dan Lombok. Sebagian besar, terumbu karang di Indonesia dimanfaatkan untuk sumber makanandengan protein tinggi, obat-obatan, bahan bangunan dan sumber penghasilan. "Dengan luasnya terumbu karang itu telah memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 miliar/tahun. Sedangkan, nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai US$61,9 miliar/tahun," pungkasnya. (eva/rin/kap)

2 Potensi Produk Non-Konsumsi Perlu Peningkatan Kapasitas SDM Indonesia JAKARTA- Pemerintah perlu mensinergikan pengembangan kapasitas pembudidaya produk kelautan dan perikanan non-konsumsi. Pasalnya, produk kelautan dan perikanan konsumsi saat ini masih jauh lebih banyak dimanfaatkan dari pada produk non-konsumsi. Padahal, potensi produk non-konsumsi pun tidak kalah menariknya. Karena itu perlu ada upaya serius dalam pengembangannya, jelas Kepala BPSDM KP, Suseno dalam pertemuan dengan Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI), di Jakarta, Rabu (18/9). Hadir pada pertemuan tersebut para stake holder terkait seperti Conservation International (CI), Coral Triangle Center (CTC), dan Asosiasi Koral Kerang dan Ikan Hias Indonesia. Padahal lanjut Suseno, perdagangan ikan hias Indonesia pada tahun 2012 mencapai US $ 58 juta dan total perdagangan ikan hias dunia saat ini mencapai US$ 5 miliar. Untuk itulah diperlukan peningkatkan kapasitas SDM Indonesia di bidang budidaya produk kelautan dan perikanan nonkonsumsi, misalnya dengan menyelenggarakan kegiatan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan. Senada dengan itu, Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebyakto mengatakan, perlu adanya kesatuan visi dan misi antara pemerintah, asosiasi dan stake holder ikan hias dalam mendukung industrialisasi ikan hias. Ia menyebutkan, salah satu upaya KKP dalam mengembangkan ikan hias air tawar maupun air laut yaitu melalui pengembangan kawasan minapolitan ikan hias pada tahun 2011 di Blitar, Jawa Timur. Menurut dia, dengan jumlah species ikan tawar sebanyak lebih dari 450 species dari total species ikan tawar di dunia dan untuk ikan hias air laut Indonesia memiliki lebih dari 700 jenis species yang sebagian besar hanya terdapat di Indonesia. Potensi tersebut apabila ditangani secara serius antara pemerintah dan seluruh stake holders ikan hias Indonesia, maka Indonesia akan mampu menjadi eksportir terbesar di dunia, tandas Slamet. (rp)

3 KKP: Thailand Ingin Belajar Budidaya Ikan Hias Jakarta, (Analisa). Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPSDM KKP) Suseno Sukoyono menyatakan, Thailand ingin belajar cara untuk budidaya ikan hias laut dari Indonesia. Kami telah menerima kunjungan delegasi Thailand. Mereka ingin belajar budidaya ikan hias air laut dari Indonesia, kata Suseno dalam acara Sinergitas Pengembangan Kapasitas Pembudidaya Ikan Hias di KKP, Jakarta, Rabu. Menurut Suseno, di Indonesia terdapat banyak pembudidaya ikan hias laut yang ahli meski sekitar 90 persen dari budidaya ikan hias merupakan ikan yang berasal dari air tawar. Namun Indonesia untuk kondisi saat ini masih perlu memperhatikan sejumlah persoalan seperti keadaan kesehatan dan kondisi lingkungan kawasan perairannya. Ia mengingatkan, Indonesia dikenal dengan kekayaan ikan hias yang melimpah antara lain karena 70 persen keanekaragaman ikan hias dunia ditemukan di Indonesia. Berdasarkan data KKP, perdagangan ikan hias Indonesia pada 2012 mencapai 58 juta dolar AS dan total perdagangan ikan hias dunia saat ini mencapai 5 miliar dolar. Karena itu, lanjutnya, guna meningkatkan kapasitas SDM Indonesia di bidang perikanan nonkonsumsi, BPSDM menyelenggarakan kegiatan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan. Pendidikan diberikan secara formal kepada peserta didik Program Studi Perikanan Budidaya di satuan-satuan pendidikan KKP di berbagai daerah di Indonesia, kata Kepala BPSDM KKP. Ia juga mengatakan, pelatihan diberikan pula kepada masyarakat pembudidaya melalui Badai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan dan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan se- Indonesia. Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, pengembangan budidaya ikan hias di Indonesia membutuhkan adanya sinergi antara pemerintah dan beragam pemangku kepentingan. Perlu adanya kesatuan visi dan misi antara pemerintah, asosiasi, dan pemangku kepentingan ikan hias dalam mendukung industrialisasi ikan hias sekaligus menggalang komitmen untuk menyusun strategi nasional, katanya. Slamet memaparkan, upaya KKP sendiri dalam mengembangkan ikan hias, baik air tawar maupun air laut, diwujudkan melalui pengembangan kawasan Minapolitan ikan hias di Blitar, Jawa Timur sejak Ia juga mengemukakan, Indonesia memiliki 450 spesies ikan hias air tawar dan lebih dari 700 spesies ikan hias air laut yang sebagian besar hanya terdapat di Indonesia. Potensi ini apabila ditangani secara serius akan mampu menjadikan Indonesia eksportir terbesar di dunia, katanya.(ant)

4 KKP: Thailand Ingin Belajar Budidaya Ikan Hias Jakarta (Antara) - Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPSDM KKP) Suseno Sukoyono menyatakan, Thailand ingin belajar cara untuk budidaya ikan hias laut dari Indonesia. "Kami telah menerima kunjungan delegasi Thailand. Mereka ingin belajar budidaya ikan hias air laut dari Indonesia," kata Suseno dalam acara "Sinergitas Pengembangan Kapasitas Pembudidaya Ikan Hias" di KKP, Jakarta, Rabu. Menurut Suseno, di Indonesia terdapat banyak pembudidaya ikan hias laut yang ahli meski sekitar 90 persen dari budidaya ikan hias merupakan ikan yang berasal dari air tawar. Namun Indonesia untuk kondisi saat ini masih perlu memperhatikan sejumlah persoalan seperti keadaan kesehatan dan kondisi lingkungan kawasan perairannya. Ia mengingatkan, Indonesia dikenal dengan kekayaan ikan hias yang melimpah antara lain karena 70 persen keanekaragaman ikan hias dunia ditemukan di Indonesia. Berdasarkan data KKP, perdagangan ikan hias Indonesia pada 2012 mencapai 58 juta dolar AS dan total perdagangan ikan hias dunia saat ini mencapai 5 miliar dolar. Karena itu, lanjutnya, guna meningkatkan kapasitas SDM Indonesia di bidang perikanan nonkonsumsi, BPSDM menyelenggarakan kegiatan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan. "Pendidikan diberikan secara formal kepada peserta didik Program Studi Perikanan Budidaya di satuan-satuan pendidikan KKP di berbagai daerah di Indonesia," kata Kepala BPSDM KKP. Ia juga mengatakan, pelatihan diberikan pula kepada masyarakat pembudidaya melalui Badai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan dan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan se- Indonesia. Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, pengembangan budidaya ikan hias di Indonesia membutuhkan adanya sinergi antara pemerintah dan beragam pemangku kepentingan. "Perlu adanya kesatuan visi dan misi antara pemerintah, asosiasi, dan pemangku kepentingan ikan hias dalam mendukung industrialisasi ikan hias sekaligus menggalang komitmen untuk menyusun strategi nasional," katanya. Slamet memaparkan, upaya KKP sendiri dalam mengembangkan ikan hias, baik air tawar maupun air laut, diwujudkan melalui pengembangan kawasan Minapolitan ikan hias di Blitar, Jawa Timur sejak Ia juga mengemukakan, Indonesia memiliki 450 spesies ikan hias air tawar dan lebih dari 700 spesies ikan hias air laut yang sebagian besar hanya terdapat di Indonesia. "Potensi ini apabila ditangani secara serius akan mampu menjadikan Indonesia eksportir terbesar di dunia," katanya.(rr)

5 BUDI DAYA IKAN HIAS Thailand Ingin Belajar JAKARTA (Suara Karya): Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPSDM KKP) Suseno Sukoyono, di Jakarta, Rabu (18/9), mengemukakan, Thailand ingin belajar cara untuk budi daya ikan hias laut dari Indonesia. Hal itu, dikatakannya, usai menerima kunjungan delegasi dari negara Gajah Putih tersebut. "Kami telah menerima kunjungan delegasi Thailand. Mereka ingin belajar budi daya ikan hias air laut dari Indonesia," ujarnya menegaskan, di sela-sela acara "Sinergitas Pengembangan Kapasitas Pembudidaya Ikan Hias" di kantor KKP. Dijelaskannya lebih lanjut, di Indonesia terdapat banyak pembudidaya ikan hias laut yang ahli. Walau diakuinya, meski sekitar 90 persen dari budi daya ikan hias merupakan ikan yang berasal dari air tawar. Di sisi lain, dikatakan Suseno, Indonesia untuk kondisi saat ini, masih perlu memperhatikan sejumlah persoalan. Seperti keadaan kesehatan dan kondisi lingkungan kawasan perairannya. Dia juga mengingatkan, Indonesia dikenal dengan kekayaan ikan hias yang melimpah. Tak heran, ujarnya, kalau 70 persen keanekaragaman ikan hias dunia ditemukan di Indonesia. Berdasarkan data KKP, perdagangan ikan hias Indonesia pada 2012 mencapai 58 juta dolar AS dan total perdagangan ikan hias dunia saat ini mencapai 5 miliar dolar. Karena itu, lanjutnya, guna meningkatkan kapasitas SDM Indonesia di bidang perikanan nonkonsumsi, BPSDM menyelenggarakan kegiatan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan. "Pendidikan diberikan secara formal kepada peserta didik Program Studi Perikanan Budidaya di satuan-satuan pendidikan KKP di berbagai daerah di Indonesia," tutur Kepala BPSDM KKP itu. Dia mengatakan, pelatihan diberikan pula kepada masyarakat pembudidaya melalui Badai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan dan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan se-indonesia. Di bagian lain, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, pengembangan budi daya ikan hias di Indonesia membutuhkan adanya sinergi antara pemerintah dan beragam pemangku kepentingan. "Perlu adanya kesatuan visi dan misi antara pemerintah, asosiasi, dan pemangku kepentingan ikan hias dalam mendukung industrialisasi ikan hias sekaligus menggalang komitmen untuk menyusun strategi nasional," jelas dia. Slamet memaparkan, upaya KKP sendiri dalam mengembangkan ikan hias, baik air tawar maupun air laut, diwujudkan melalui pengembangan kawasan Minapolitan ikan hias di Blitar, Jawa Timur sejak Dia juga mengemukakan, Indonesia memiliki 450 spesies ikan hias air tawar dan lebih dari 700 spesies ikan hias air laut yang sebagian besar hanya terdapat di Indonesia. (Bayu)

6 Produk Non-Konsumsi Juga Menarik Dikembangkan Jakarta - Selama ini produk kelautan dan perikanan masih didominasi oleh produk konsumsi. Padahal produk non-konsumsi mempunyai potensi yang besar untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu, perlu optimalisasi pemanfaatan produk kelautan dan perikanan tersebut untuk mendongkrak ekspor yang lebih tinggi lagi produk non-konsumsi. Saat ini pemanfaatan produk kelautan dan perikanan masih didominasi oleh ikan konsumsi, padahal produk non-konsumsi tidak kalah menarik jika dikembangkan, kata Suseno Sukoyono, Kepala BPSDM Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam acara Sinergitas Pengembangan Kapasitas Pembudidaya Ikan Hias, di kantor KKP, Jakarta, Rabu (18/9)). Sejauh ini presentasi ekspor ikan konsumsi dan non-konsumsi masih sangat jauh. Total ekspor ikan konsumsi mencapai U$ 4,8 milliar. Sedangkan untuk yang non konsumsi hanya 10%-nya saja, pada hal jika dikembangkan lagi nilai ekspornya akan jauh meningkat. Ekspor ikan konsumsi dan non konsumsi presentasinya masih sangat jauh. Untuk itu, perlu adanya pengembangan untuk lebih meningkatkan produksi non konsumsi, imbuhnya. Padahal, sambung Suseno, untuk uang non-konsumsi seperti ikan hias saja 70% keanekarahaman ikan hias dunia dapat ditemukan di Indonesia. Maka dari itu, produksinya harus lebih digenjot lagi guna meningkatkan produksi ikan hias nasional. Potensi ikan hias di Indonesia sangat besar, jika lebih dimanfaatkan lagi tentu akan menambah profitabilitas yang lebih kedepannya, ujarnya. Karena memang dilihat dari perdagangan ikan hias, dari tiap tahunnya mengalami peningkatan yang fantastis. Lihat saja, pada tahun 2012 perdagangan ikan hias Indonesia U$ 58 juta, dan tahun 2013 sampai dengan saat ini perdagangan ikan hias sudah U$ 5 miliar. Market terbesar saat ini Amerika dan Eropa. Dan kami terus membangun networking dengan negara-negara lain. Jika terus dikembangkan, bukannya tidak mungkin market kita akan lebih luas lagi, ungkapnya. Untuk budidaya ikan hias sendiri sejauh ini 90% ikan tawar. Padahal ikan hias laut punya potensi besar juga. Maka dari itu, lagi terus kita kembangkan budidaya ikan hias lautnya. Karena memang banyak negara-negara lain yang ingin belajar budidaya ikan hias laut nasional. Budidaya ikan hias laut Indonesia sudah sangat bagus, maka dari itu banyak negara lain ingin belajar budidaya ikan hias laut pada negara kita, seperti Thailand, bebernya. Bukan hanya ikan hias, pemanfaatan produk laut yang tidak kalah menarik yaitu terumbu karang. Saat ini terumbu karang di diunia ada sekitar 284,300 km2, dan Indonesia memiliki sekitar km2 yang sebagian besar di Indonesia tengah. Indonesia mempunyai wilayah terumbu karang yang sangat luas, dan saat ini menjadi negara terbesar untuk ekspor terumbu karang, ungkapanya. Karena memang untuk saat ini terumbu karang di Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sekitar U$ 1,6 miliar pertahunnya. Dan nilai seluruh pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai sekitar U$ 61,9 milyar pertahun. Padahala sejauh ini pemanfaatan terumbu karang hanya untuk akuarium saja. Padahal terumbu karang bisa

7 dimanfaatkan untuk yang lainnya seperti bahan bangunan. Jika pemanaatannya lebih ditingkatkan lagi, pasti nilai keuntungannya akan lebih bertambah, tegasnya. Disamping Ikan hias dan terumbu karang, contoh lain dari produk non konsumsi adalah mutiara. Dan saat ini Indonesia masih menjadi pemasok mutiara terbesar dunia. Saat ini Indonesia menjadi pemasok terbesar mutiara dunia yaitu sekitar 43 % bersaing dengan Australia, Philipina, Myanmar, dan Malaysia, tukasnya. Dukungan Penuh Saat ini dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pemanfaatan dan budidaya produksi perikanan dan kelautan nonkonsumsi. Saat ini kami sangat mendukung adanya pengembangan budidaya produksi laut nonkonsumsi, kata Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP. Dan yang terpenting disini adalah bagaimana para pembudidaya non konsumsi bisa melakukan kegiatan posistif, dan kegiatan alternatif, sehingga bisa menemukan alternatif sesuatu yang dilakukan lama bisa dikerjakan dengan cepat. Tentu saja dengan penambahan Sumber Daya Manusia yang berkualitas bisa lebih banyak. Dengan memberikan pelatihan-pelatihan dan memberikan sertifikat kepada para pelaku dan pengusaha budidaya produk kelautan nonkonsumsi, uajrnya. Apalagi pada tahun 2015 nanati kita akan menuju pasara bebas Asia. Maka dari itu kita harus ada sertifikasi untuk bisa bersaing untuk berkompetisi dengan pasar global. Saat ini kita sedanga fokus pada sustainable harves agar kita mampu menuju persaingan pasar bebas Asia nanti, tutupnya.

8 Waspada Masuknya Ikan Dari Asing JAKARTA-Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) memperingatkan bahwa ancaman ikan invasif yang masuk dari luar akan mengancam populasi serta berdampak pada penurunan produksi ikan lokal. DIHI mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat dan daerah, melakukan upaya preventif. Demikian dikatakan, Sekretaris Jenderal DIHI Soeyatno menanggapi maraknya pemberitaan mengenai spesies ikan invasif karnivora khususnya aligator dan piranha. Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 17 Tahun 2009, sebanyak 11 jenis ikan piranha masuk dalam 30 spesies ikan yang dilarang masuk Indonesia. "Pelarangan itu wajar, karena spesies-spesies tersebut membahayakan kelestarian sumber daya ikan, lingkungan, dan manusia," kata dia dalam acara "Sinergitas Pengembangan Kapasitas Pembudidaya Ikan Hias" di Jakarta, Rabu (18/9). Seperti diberitakan bahwa Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo menegaskan invasi atau masuknya ikan asing akan menggerus populasi ikan lokal sehingga harus dikembangkan strategi nasional pelestarian perikanan. "Pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa pengenalan ikan asing yang invasif terbukti dapat mendesak populasi ikan asli yang ada," kata Sharif. Menurut Sharif, hal tersebut karena penguasaan ikan asing terhadap lingkungan perairan akan menekan populasi dan bahkan memusnahkan ikan asli serta menyebarkan penyakit ikan dan hama baru. Ia mencontohkan, pengenalan ikan redbreast sunfish ke beberapa danau di Italia dan ikan salmon trutta ke perairan Selandia Baru juga mengakibatkan berkurangnya populasi ikan lokal secara drastis. "Penurunan populasi merupakan proses awal menuju kepunahan species tertentu yang mengakibatkan penurunan keanekaragaman hayati yang berakhir dengan terbentuknya komunitas ikan yang homogen, yang didominasi oleh ikan asing," katanya. Secara terpisah, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPSDM KKP), Suseno Sukoyono menyatakan, Thailand ingin belajar cara untuk budidaya ikan hias laut dari Indonesia. "Kami telah menerima kunjungan delegasi Thailand. Mereka ingin belajar budidaya ikan hias air laut dari Indonesia," kata dia. Menurut Suseno, di Indonesia terdapat banyak pembudidaya ikan hias laut yang ahli meski sekitar 90 persen dari budidaya ikan hias merupakan ikan yang berasal dari air tawar. Namun Indonesia untuk kondisi saat ini masih perlu memperhatikan sejumlah persoalan seperti keadaan kesehatan dan kondisi lingkungan kawasan perairannya. Ia mengingatkan, Indonesia dikenal dengan kekayaan ikan hias yang melimpah antara lain karena 70 persen keanekaragaman ikan hias dunia ditemukan di Indonesia. mza/ant/e-3

9 Target Ekspor Ikan Hias US$70 Juta Bisnis.com, JAKARTA - Ekspor ikan hias Indonesia ditargetkan dapat mencapai US$70 juta atau naik 20% dari realisasi tahun lalu yang mencapai US$58 juta. Direktur Eksekutif Asosiasi Koral Kerang dan Ikan Hias Indonesia (AKKII) Indra Wijaya menuturkan ekspor ikan hias pada 2012 mencapai US$58 juta. "Tahun ini dan tahun depan mungkin naik 20% menjadi sekitar US$70 juta," ujarnya di Kementerian Keluatan dan Perikanan, Senin (2/9/2013). Indra memaparkan pangsa pasar ekspor ikan hias Indonesia terbesar adalah Amerika Serikat. Adapun pasar terbesar kedua ditempati oleh Uni Eropa. Ikan hias Indonesia juga telah dipasarkan ke kawasan Asia Tenggara, terutama Singapura dan Malaysia. Sayangnya, lantaran teknologi dan akses pasar yang lebih memadai, produk ikan hias dari Indonesia justru dimanfaatkan untuk direekspor oleh Singapura. "Singapura itu eksportir ikan hias terbesar, kita noomor 9, sedangkan Thailand itu nomor 5," tuturnya. Indra menambahkan saat ini ekspor ikan hias tengah menghadapi tantangan terkait wacana kebijakan di pasar Uni Eropa. "Saya dengar Uni Eropa itu pada 2014 hanya mau menerima ikan hias hasil budidaya, makanya Indonesia harus siap-siap," kata Indra. Meski demikian, Indra optimistis eksportir ikan hias di Indonesia mempu memenuhi ketentuan baru tersebut. Pasalnya, mayoritas produk coral dan ikan hias ekspor merupakan hasil budidaya. Suseno Sukoyono, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) KKP, menuturkan di konteks ikan hias, Thailand merupakan salah satu pesaing Indonesia. "Ikan hias mereka 90% budidaya air tawar, kurang dari 10% yang budidaya air laut. Mereka datang untuk belajar budidaya ikan hias air laut karena kita lebih maju soal ini," tuturnya dalam kunjungan delegasi Thailand. Indonesia, imbuhnya, harus merapatkan barisan dan meningkatkan kapasitas SDM agar pengembangan budidaya ikan hias tidak tersalip negara lain.

10 Target Ekspor Ikan Hias Bisa 1,1 Miliar Ekor JAKARTA Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) optimis ekspor ikan hias Indonesia Tahun 2013 akan melebihi dari target yang ditetapkan, yaitu 1,1 miliar ekor. Kami optimis bila mengacu pada realisasi ekspor ikan hias 2 tahun sebelumnya, yang selalu lebih tinggi dari target yang ditetapkan. Apalagi produksi ikan hias Indonesia pun semakin meningkat, tutur Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebiyakto dalam diskusi Perikanan non Konsumsi, di Jakarta, Rabu (18/9). Pada 2011 target ekspor ikan hias Indonesia sebesar 700 juta ekor tapi realisasi mencapai 945,3 juta ekor. Sedangkan tahun 2012, target 850 juta, produksinya mencapai 1,3 miliar ekor. Jumlah tersebut, terdiri dari ikan hias air laut dan air tawar. Dengan komposisi 20 persen hasil ekspor merupakan ikan hias air laut seperti angel fish, black devil, mandarin fish. Sedangkan ikan air tawar yang paling banyak diminati yaitu arwana. Menurutnya, meskipun ikan hias Indonesia terbilang mahal, namun tetap banyak diminati oleh para kolektor ikan hias. Pasar ekspor terbesar ikan hias Indonesia

11

12

13

14

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KERJASAMA BADAN PENGEMBANGAN SDM KP DENGAN ASOSIASI BUDIDAYA MUTIARA INDONESIA

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KERJASAMA BADAN PENGEMBANGAN SDM KP DENGAN ASOSIASI BUDIDAYA MUTIARA INDONESIA PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KERJASAMA BADAN PENGEMBANGAN SDM KP DENGAN ASOSIASI BUDIDAYA MUTIARA INDONESIA www.satunews.com Festival Mutiara Indonesia, 2-6 Oktober 2013 JAKARTA- Kementerian Kelautan dan

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA FORUM PENDIDIKAN MENENGAH KELAUTAN DAN PERIKANAN TANGGAL 2-4 OKTOBER 2013

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA FORUM PENDIDIKAN MENENGAH KELAUTAN DAN PERIKANAN TANGGAL 2-4 OKTOBER 2013 PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA FORUM PENDIDIKAN MENENGAH KELAUTAN DAN PERIKANAN TANGGAL 2-4 OKTOBER 2013 Perlu SDM Berkualitas Wujudkan Pembangunan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA PERTEMUAN PEMBAHASAN PERUBAHAN IKLIM DENGAN CLIMATE PARLIEMENT

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA PERTEMUAN PEMBAHASAN PERUBAHAN IKLIM DENGAN CLIMATE PARLIEMENT PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA PERTEMUAN PEMBAHASAN PERUBAHAN IKLIM DENGAN CLIMATE PARLIEMENT Saatnya Beralih pada Energi Terbarukan Politikindonesia - Selama ini, penggunaan energi masih didominasi oleh bahan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN BISNIS DAN DAYA SAING IKAN HIAS INDONESIA. Peluang Bisnis Masyarakat Urban

PERKEMBANGAN BISNIS DAN DAYA SAING IKAN HIAS INDONESIA. Peluang Bisnis Masyarakat Urban PERKEMBANGAN BISNIS DAN DAYA SAING IKAN HIAS INDONESIA Peluang Bisnis Masyarakat Urban OLEH : SUHANA DOSEN MATA KULIAH EKONOMI POLITIK SUMBERDAYA ALAM, PROGRAM STUDI EKONOMI DAN LINGKUNGAN IPB PENELITI

Lebih terperinci

2015/06/08 07:12 WIB - Kategori : Artikel Penyuluhan PENTINGNYA SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERIKANAN DI ERA MEA 2015

2015/06/08 07:12 WIB - Kategori : Artikel Penyuluhan PENTINGNYA SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERIKANAN DI ERA MEA 2015 2015/06/08 07:12 WIB - Kategori : Artikel Penyuluhan PENTINGNYA SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERIKANAN DI ERA MEA 2015 TEMANGGUNG (8/6/2015) www.pusluh.kkp.go.id Profesionalisme SDM Perikanan khususnya

Lebih terperinci

Sharif Cicip Ajak Mahasiswa Wirausaha Perikanan

Sharif Cicip Ajak Mahasiswa Wirausaha Perikanan http://www.politikindonesia.com Sharif Cicip Ajak Mahasiswa Wirausaha Perikanan Politikindonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, mengajak para mahasiswa untuk menjadi pewirausaha

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KULIAH UMUM MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN DI UNIVERSITAS VETERAN NASIONAL JAKARTA

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KULIAH UMUM MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN DI UNIVERSITAS VETERAN NASIONAL JAKARTA PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KULIAH UMUM MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN DI UNIVERSITAS VETERAN NASIONAL JAKARTA www.antaranews.com Blue Economy Kembangkan Inovasi Untuk Kesejahteraan Jakarta, 24 September

Lebih terperinci

KKP: Unair Pelopori "Blue Economy"

KKP: Unair Pelopori Blue Economy www.antarajatim.com KKP: Unair Pelopori "Blue Economy" Surabaya (Antara Jatim) - Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr Suseno Sukoyono, menilai

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA GELAR PELATIHAN NASIONAL 2013 BALAI SUDIRMAN, JAKARTA

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA GELAR PELATIHAN NASIONAL 2013 BALAI SUDIRMAN, JAKARTA PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA GELAR PELATIHAN NASIONAL 2013 BALAI SUDIRMAN, JAKARTA KKP Selenggarakan Gelar Pelatihan Nasional Kelautan dan Perikanan Jakarta, 13/11 (ANTARA) - Pertumbuhan perusahaan sebagai

Lebih terperinci

Menteri KKP Salurkan Bantuan untuk Penyuluh Indramayu

Menteri KKP Salurkan Bantuan untuk Penyuluh Indramayu http://www.jurnas.com Menteri KKP Salurkan Bantuan untuk Penyuluh Indramayu Jurnas.com KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berusaha untuk mendukung segala upaya pengembangan industri kelautan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia terletak pada wilayah segitiga terumbu karang (coral reef triangle) dunia. Posisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu

Lebih terperinci

Rakernis BPSDM KP dihadiri oleh 162 orang peserta. Bertindak sebagai narasumber antara

Rakernis BPSDM KP dihadiri oleh 162 orang peserta. Bertindak sebagai narasumber antara http:/ //www.kilasfoto.com Targetkan kurangi kemiskinan dipesisir Bandung,kilasfoto.com - Dalam rangka menajamkan hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan

Lebih terperinci

Publikasi Media Pada Kegiatan KKP Kerjasama Dengan Kabupaten Bone

Publikasi Media Pada Kegiatan KKP Kerjasama Dengan Kabupaten Bone Publikasi Media Pada Kegiatan KKP Kerjasama Dengan Kabupaten Bone Media Online www.aktual.co.id Bupati Bone Sambut Baik Kerjasama dengan KKP Jakarta, Aktual.co Kementerian Kelautan dan Perikanan menandatangani

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA WISUDA SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA ANGKATAN XLV TAHUN AJARAN 2013

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA WISUDA SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA ANGKATAN XLV TAHUN AJARAN 2013 PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA WISUDA SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA ANGKATAN XLV TAHUN AJARAN 2013 www.antaranews.com Sekolah tinggi perikanan Indonesia diakui internasional Jakarta (ANTARA News) - Menteri

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan

Lebih terperinci

: Arief Budiman Npm : Fakultas : Ekonomi Jurusan : Manajemen Dosen Pemb : Sri Kurniasih Agustin, SE., MM

: Arief Budiman Npm : Fakultas : Ekonomi Jurusan : Manajemen Dosen Pemb : Sri Kurniasih Agustin, SE., MM ANALISIS ANALISIS STRATEGI DAYA SAING IKAN HIAS INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL STRATEGI DAYA SAING IKAN HIAS INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Nama : Arief Budiman Npm : 1910703 Fakultas : Ekonomi Jurusan

Lebih terperinci

KKP Tingkatkan Peran Penyuluh Perikanan

KKP Tingkatkan Peran Penyuluh Perikanan www.inilah.com KKP Tingkatkan Peran Penyuluh Perikanan INILAH.COM, Jakarta - Dalam mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan, Kementerian KKP bersinergi tingkatkan peran penyuluh perikanan. Kementerian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi informasi dan sistem informasi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat di era globalisasi saat ini. Teknologi informasi dan sistem informasi telah

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KUNJUNGAN MENTERI PETERNAKAN DAN PERIKANAN SUDAN KE STP JAKARTA

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KUNJUNGAN MENTERI PETERNAKAN DAN PERIKANAN SUDAN KE STP JAKARTA PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA KUNJUNGAN MENTERI PETERNAKAN DAN PERIKANAN SUDAN KE STP JAKARTA www.antaranews.com Kunjungan Menteri Peternakan dan Perikanan Sudan SUDAN MINATI BUDIDAYA PERIKANAN INDONESIA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di

I. PENDAHULUAN. dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama ini pasokan ikan dunia termasuk Indonesia sebagian besar berasal dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di sejumlah negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. komparatif karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beraneka ragam serta dapat

BAB I PENDAHULUAN. komparatif karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beraneka ragam serta dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber daya kelautan berperan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional untuk meningkatkan penerimaan devisa, lapangan kerja dan pendapatan penduduk.

Lebih terperinci

PENGERTIAN EKONOMI POLITIK

PENGERTIAN EKONOMI POLITIK PENGERTIAN EKONOMI POLITIK CAPORASO DAN LEVINE, 1992 :31 INTERELASI DIANTARA ASPEK, PROSES DAN INSTITUSI POLITIK DENGAN KEGIATAN EKONOMI (PRODUKSI, INVESTASI, PENCIPTAAN HARGA, PERDAGANGAN, KONSUMSI DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama pasca krisis ekonomi global tahun 2008 yang melanda dunia, perekonomian dunia mengalami berbagai penurunan ekspor non migas. Beberapa negara di dunia membatasi

Lebih terperinci

KETAHANAN PANGAN: KKP Bekali Aparatur Daerah Dengan Pelatihan Perikanan

KETAHANAN PANGAN: KKP Bekali Aparatur Daerah Dengan Pelatihan Perikanan http://www.bisnis.com KETAHANAN PANGAN: KKP Bekali Aparatur Daerah Dengan Pelatihan Perikanan BISNIS.COM, JAKARTA--Kementerian Kelautan dan Perikanan memberi pelatihan budidaya perikanan dan pengolahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. industri tercepat dan terbesar yang menggerakkan perekonomian. Menurut World

BAB I PENDAHULUAN. industri tercepat dan terbesar yang menggerakkan perekonomian. Menurut World BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Selama beberapa dekade terakhir, pariwisata telah mengalami perkembangan dan perubahan yang membuat pariwisata menjadi salah satu industri tercepat dan terbesar

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Kenaikan Rata-rata *) Produksi

1 PENDAHULUAN. Kenaikan Rata-rata *) Produksi 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan dan industri yang bergerak dibidang perikanan memiliki potensi yang tinggi untuk menghasilkan devisa bagi negara. Hal tersebut didukung dengan luas laut Indonesia

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA KERJASAMA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN BADAN PUSAT STATISTIK

PUBLIKASI MEDIA KERJASAMA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN BADAN PUSAT STATISTIK PUBLIKASI MEDIA KERJASAMA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN BADAN PUSAT STATISTIK MEDIA ON-LINE http://www.surabaya.tribunnews.com KKP-BPS Garap Pendataan Garam Nasional SURYA Online, SURABAYA-Kementerian

Lebih terperinci

KKP Gelar FGD Implementasi Blue Economy di Bali

KKP Gelar FGD Implementasi Blue Economy di Bali www.inilah.com KKP Gelar FGD Implementasi Blue Economy di Bali inilah.com/agus Priatna INILAH.COM, Nusa Dua Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) lanjutan implementasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.32/Men/2010 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan

I. PENDAHULUAN. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.32/Men/2010 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan I. PENDAHULUAN Latar Belakang Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah pertama-tama perlu mengenali

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Agustus 2014, neraca perdagangan Thailand dengan

Lebih terperinci

DRAFT REKOMENDASI KEBIJAKAN

DRAFT REKOMENDASI KEBIJAKAN DRAFT REKOMENDASI KEBIJAKAN JUDUL REKOMENDASI Strategi Optimalisasi Unsur Unsur Positif Lokal untuk Mendukung Penerapan Prinsip Prinsip Blue Economy di Wilayah Coral Triangle SASARAN REKOMENDASI Kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara di dalam perdagangan internasional. Dalam era perdagangan bebas saat ini, daya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN , , , , ,4 10,13

I. PENDAHULUAN , , , , ,4 10,13 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan yang mencapai 5,8 juta km 2 dan garis pantai sepanjang 81.000 km. Hal ini membuat Indonesia memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khatulistiwa karena keanekaragaman hayati dan agroekosistem Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. khatulistiwa karena keanekaragaman hayati dan agroekosistem Indonesia 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.1. Latar Belakang Objek Indonesia adalah negara maritim yang dikatakan sebagai zamrud khatulistiwa karena keanekaragaman hayati dan agroekosistem Indonesia memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha perkebunan merupakan usaha yang berperan penting bagi perekonomian nasional, antara lain sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi petani, sumber

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas terdiri dari

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas terdiri dari I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas terdiri dari beberapa pulau besar antara lain Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Indonesia memiliki pulau dengan jumlah lebih dari 13.000 pulau yang tersebar dari Sabang sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar yang ada di wilayah Asia Tenggara.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar yang ada di wilayah Asia Tenggara. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan sektor kelautan Indonesia yang cukup signifikan dan Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas yang dikelilingi oleh perairan dan Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber daya hewan

Lebih terperinci

Indonesia Negeri Kaya Minyak dan Gas?

Indonesia Negeri Kaya Minyak dan Gas? MIKHAEL GEWATI Indonesia Negeri Kaya Minyak dan Gas? Kompas.com - 30/05/2017, 15:17 WIB Aktivitas hulu migas di lepas pantai (Dok SKK Migas ) KOMPAS.com Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 128/KEPMEN-KP/2015 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 128/KEPMEN-KP/2015 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 128/KEPMEN-KP/2015 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN SATUAN KERJA LINGKUP PUSAT KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 127/KEPMEN-KP/2015 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 127/KEPMEN-KP/2015 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 127/KEPMEN-KP/2015 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN SATUAN KERJA LINGKUP PUSAT KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN

Lebih terperinci

PROGRAM DAN KEGIATAN DANA DEKONSENTRASI TAHUN 2016

PROGRAM DAN KEGIATAN DANA DEKONSENTRASI TAHUN 2016 PROGRAM DAN KEGIATAN DANA DEKONSENTRASI TAHUN 2016 MARGARETHA BUNGA (KEPALA BIDANG KETENAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN) DISAMPAIKAN PADA RAPAT SINKRONISASI KELEMBAGAAN PENYULUHAN DAN

Lebih terperinci

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA PELATIHAN INTERNASIONAL KAWASAN KONSERVASI BAGI NEGARA NEGARA ASIA PASIFIK

PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA PELATIHAN INTERNASIONAL KAWASAN KONSERVASI BAGI NEGARA NEGARA ASIA PASIFIK PUBLIKASI MEDIA PADA ACARA PELATIHAN INTERNASIONAL KAWASAN KONSERVASI BAGI NEGARA NEGARA ASIA PASIFIK www.koran-jakarta.com Sektor Kelautan RI Dukung Kerja Sama Kelautan Asia- PasifikISTIMEWA TEGAL - Indonesia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini merupakan agenda utama negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengesankan dalam hal total kunjungan turis internasional. Jumlah kunjungan

BAB I PENDAHULUAN. mengesankan dalam hal total kunjungan turis internasional. Jumlah kunjungan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1.1.1 Perkembangan Industri Pariwisata Dunia Industri pariwisata dunia pada tahun 2015 mengalami perkembangan yang mengesankan dalam hal total kunjungan turis internasional.

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DIREKTORAT KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT

DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DIREKTORAT KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DIREKTORAT KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT POTENSI SUMBER DAYA HAYATI KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA 17.480

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38/PERMEN-KP/2013 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERIKANAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38/PERMEN-KP/2013 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERIKANAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38/PERMEN-KP/2013 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

DUKUNGAN PENYULUHAN TERHADAP PENGEMBANGAN IKAN HIAS

DUKUNGAN PENYULUHAN TERHADAP PENGEMBANGAN IKAN HIAS DUKUNGAN PENYULUHAN TERHADAP PENGEMBANGAN IKAN HIAS Disampaikan pada acara Pertemuan BPSDM KP dengan Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) Jakarta, 7 April 2014 PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Sumberdaya yang digunakan dalam pembangunan ekonomi harus dimiliki atau

1. PENDAHULUAN Sumberdaya yang digunakan dalam pembangunan ekonomi harus dimiliki atau 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Arah pembangunan ekonohi nasional-sesuai dengan amanat konstitusi pasal 33 UUD 45 adalah pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan. Sumberdaya yang digunakan dalam pembangunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, di mana perekonomian dunia semakin terintegrasi. Kebijakan proteksi, seperi tarif, subsidi, kuota dan bentuk-bentuk hambatan lain, yang

Lebih terperinci

STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG INVESTASI

STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG INVESTASI KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG INVESTASI Amalia Adininggar Widyasanti Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama

Lebih terperinci

Penguatan Minapolitan dan Merebut Perikanan Selatan Jawa

Penguatan Minapolitan dan Merebut Perikanan Selatan Jawa Penguatan Minapolitan dan Merebut Perikanan Selatan Jawa Oleh: Akhmad Solihin Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor Selatan Jawa yang menghadap Samudera Hindia adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perikanan. Luas wilayah laut Indonesia sangat luas yaitu sekitar 7,9 juta km 2 dan

BAB I PENDAHULUAN. perikanan. Luas wilayah laut Indonesia sangat luas yaitu sekitar 7,9 juta km 2 dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai Negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi yang besar di sektor perikanan. Luas wilayah laut Indonesia sangat luas yaitu sekitar 7,9 juta km 2 dan memiliki

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL 2015

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL 2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 48/05/Th. XVIII, 15 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR APRIL MENCAPAI US$13,08 MILIAR Nilai ekspor Indonesia April mencapai US$13,08

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Sambutan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad Dimyati pada acara ulang tahun

I. PENDAHULUAN. 1 Sambutan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad Dimyati pada acara ulang tahun I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Buah merupakan salah satu komoditas pangan penting yang perlu dikonsumsi manusia dalam rangka memenuhi pola makan yang seimbang. Keteraturan mengonsumsi buah dapat menjaga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada umumnya masyarakat hanya mengetahui bahwa lobster merupakan udang besar yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada umumnya masyarakat hanya mengetahui bahwa lobster merupakan udang besar yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya masyarakat hanya mengetahui bahwa lobster merupakan udang besar yang berasal dari laut. Namun sebenarnya ada juga lobster yang hidup di habitat air tawar

Lebih terperinci

2014/05/04 10:09 WIB - Kategori : Warta Penyuluhan, Artikel Penyuluhan GERAKAN BANGGA PENYULUH PERIKANAN

2014/05/04 10:09 WIB - Kategori : Warta Penyuluhan, Artikel Penyuluhan GERAKAN BANGGA PENYULUH PERIKANAN 2014/05/04 10:09 WIB - Kategori : Warta Penyuluhan, Artikel Penyuluhan GERAKAN BANGGA PENYULUH PERIKANAN KEBUMEN (4/5/2014) www.pusluh.kkp.go.id Dalam upaya mendorong optimalisasi pemanfaatan sumber daya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor pertanian secara potensial mampu memberikan kontribusi

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ekosistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Lada atau pepper (Piper nigrum L) disebut juga dengan merica, merupakan jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah menjadi

Lebih terperinci

Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama di Bidang Perdagangan dan Pembangunan Infrastruktur Rabu, 23 November 2016

Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama di Bidang Perdagangan dan Pembangunan Infrastruktur Rabu, 23 November 2016 Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama di Bidang Perdagangan dan Pembangunan Infrastruktur Rabu, 23 November 2016 Pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda semakin memperkukuh kemitraan di antara keduanya.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/KEPMEN-KP/2014 TENTANG JEJARING PAKAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/KEPMEN-KP/2014 TENTANG JEJARING PAKAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/KEPMEN-KP/2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ekosistem

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Luas Lautan Indonesia Total Indonesia s Waters a. Luas Laut Teritorial b. Luas Zona Ekonomi Eksklusif c.

I PENDAHULUAN. Luas Lautan Indonesia Total Indonesia s Waters a. Luas Laut Teritorial b. Luas Zona Ekonomi Eksklusif c. I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai sekitar 104.000 km serta memiliki 17.504 pulau. Wilayah laut Indonesia membentang luas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar. Panjang garis pantai Indonesia mencapai 104.000 km dengan jumlah

Lebih terperinci

Contents

Contents Contents Kinerja industri pengolahan non-migas sepanjang tahun 2017 diprediksi mampu tumbuh positif sebagai kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah teritorial Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir dan laut kaya akan sumber daya alam. Sumber daya alam ini berpotensi untuk dimanfaatkan bagi

Lebih terperinci

KEYNOTE SPEECH DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN TERTIB NIAGA DISAMPAIKAN PADA ACARA SEMINAR SAFETY DAN HALAL SEMARANG, 2 JUNI 2016

KEYNOTE SPEECH DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN TERTIB NIAGA DISAMPAIKAN PADA ACARA SEMINAR SAFETY DAN HALAL SEMARANG, 2 JUNI 2016 KEYNOTE SPEECH DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN TERTIB NIAGA DISAMPAIKAN PADA ACARA SEMINAR SAFETY DAN HALAL SEMARANG, 2 JUNI 2016 Yth. Ketua Rektor UNDIP; Yth. Dr. Widayat, Ketua konsorsium;

Lebih terperinci

LESTARI BRIEF EKOWISATA INDONESIA: PERJALANAN DAN TANTANGAN USAID LESTARI PENGANTAR. Penulis: Suhardi Suryadi Editor: Erlinda Ekaputri

LESTARI BRIEF EKOWISATA INDONESIA: PERJALANAN DAN TANTANGAN USAID LESTARI PENGANTAR. Penulis: Suhardi Suryadi Editor: Erlinda Ekaputri LESTARI BRIEF LESTARI Brief No. 06 I 29 September 2016 USAID LESTARI EKOWISATA INDONESIA: PERJALANAN DAN TANTANGAN Penulis: Suhardi Suryadi Editor: Erlinda Ekaputri PENGANTAR Menurut Organisasi Pariwisata

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan sumberdaya perikanan sebagai sumber mata pencaharian utama yang semakin tinggi mempengaruhi model pengelolaan perikanan yang sudah harus mempertimbangkan prediksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki luas daerah perairan seluas 5.800.000 km2, dimana angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah perairan tersebut wajar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa

I. PENDAHULUAN. Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa Indonesia. Pada kurun tahun 1993-2006, industri TPT menyumbangkan 19.59 persen dari perolehan devisa

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas laut mencapai 5,8 juta km 2 dan panjang garis pantai mencapai 95.181 km, serta jumlah pulau sebanyak 17.504 pulau (KKP 2009).

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 20 1.1 Latar Belakang Pembangunan kelautan dan perikanan saat ini menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan mempertimbangkan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 39/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 39/KEPMEN-KP/2016 TENTANG 1 KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN ANGGARAN 2016 DENGAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di dunia,

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di dunia, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di dunia, dengan 17.504 buah pulau dan garis pantai mencapai 104.000 km. Total luas laut Indonesia adalah

Lebih terperinci

V. ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS HALAL MIHAS

V. ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS HALAL MIHAS V. ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS HALAL MIHAS 93 5.1. Perkembangan Umum MIHAS Pada bab ini dijelaskan perkembangan bisnis halal yang ditampilkan pada pameran bisnis halal Malaysia International Halal Showcase

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/KEPMEN-KP/2016 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN ANGGARAN 2016 DENGAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011 BADAN PUSAT STATISTIK No.21/04/Th.XIV, 1 April PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR FEBRUARI MENCAPAI US$14,40 MILIAR Nilai ekspor Indonesia mencapai US$14,40

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGUATAN SDM KP DALAM UU DESA SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT

KEBIJAKAN PENGUATAN SDM KP DALAM UU DESA SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT KEBIJAKAN PENGUATAN SDM KP DALAM UU DESA SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT Dr. SUSENO SUKOYONO (KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA KP - KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN) Disampaikan pada

Lebih terperinci

KAWASAN LUMBUNG IKAN NASIONAL MALUKU AKAN DI KEMBANGAKAN

KAWASAN LUMBUNG IKAN NASIONAL MALUKU AKAN DI KEMBANGAKAN KAWASAN LUMBUNG IKAN NASIONAL MALUKU AKAN DI KEMBANGAKAN Sejak digelarnya Sail Banda 2010, Pemerintah telah menetapkan Maluku sebagai lumbung ikan nasional. Maluku memiliki potensi produksi ikan tangkap

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ekosistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan investasi atau penanaman modal merupakan salah satu kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan investasi atau penanaman modal merupakan salah satu kegiatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan investasi atau penanaman modal merupakan salah satu kegiatan pembangunan karena investasi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Era

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan

Lebih terperinci

Survey Bisnis Keluarga 2014 Indonesia

Survey Bisnis Keluarga 2014 Indonesia www.pwc.com/id Survey Bisnis Keluarga 2014 Indonesia November 2014 Terima kasih.. Atas partisipasi dalam survey dan kehadirannya Agenda Latar belakang Family business survey 2014 Sekilas temuan utama Gambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan

BAB I PENDAHULUAN. internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekspor merupakan salah satu bagian penting dalam perdagangan internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan sebagai total penjualan barang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Ekspor, Impor, dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Menurut Sub Sektor, 2014 Ekspor Impor Neraca

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Ekspor, Impor, dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Menurut Sub Sektor, 2014 Ekspor Impor Neraca I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dan beraneka ragam. Hal ini tampak pada sektor pertanian yang meliputi komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,

Lebih terperinci

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula.

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula. V. EKONOMI GULA 5.1. Ekonomi Gula Dunia 5.1.1. Produksi dan Konsumsi Gula Dunia Peningkatan jumlah penduduk dunia berimplikasi pada peningkatan kebutuhan terhadap bahan pokok. Salah satunya kebutuhan pangan

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H14104016 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/KEPMEN-KP/SJ/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/KEPMEN-KP/SJ/2017 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/KEPMEN-KP/SJ/2017 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN ANGGARAN 2017 DENGAN

Lebih terperinci

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. A. Sejarah Ringkas PT. Agung Sumatera Samudera Abadi

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. A. Sejarah Ringkas PT. Agung Sumatera Samudera Abadi BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Ringkas PT. Agung Sumatera Samudera Abadi PT. Agung Sumatera Samudera Abadi secara legalitas berdiri pada tanggal 25 Januari 1997 sesuai dengan akta pendirian perseroan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG LARANGAN PENGAMBILAN KARANG LAUT DI WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai. meningkatkan perekonomian adalah kelapa sawit. Gambar 1.

BAB I PENDAHULUAN. pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai. meningkatkan perekonomian adalah kelapa sawit. Gambar 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang berpotensi pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai wilayah dan kondisi tanahnya yang

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Produk Domestik Bruto atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun *** (Milyar Rupiah)

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Produk Domestik Bruto atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun *** (Milyar Rupiah) I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia telah dikenal sebagai negara maritim dan agraris. Indonesia disebut negara maritim karena lautan mendominasi wilayah negara Indonesia. Lautan tersebut memberikan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA MOR 13/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PROGRAM LEGISLASI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

Kota, Negara Tanggal, 2013

Kota, Negara Tanggal, 2013 Legalitas Pengeksporan Hasil Hasil--Hasil Hutan ke negara--negara Uni Eropa negara Eropa,, Australia dan Amerika Serikat Kota, Negara Tanggal, 2013 Gambaran Umum Acara Hari Ini Perkenalan dan Sambutan

Lebih terperinci