01. Pengantar: Konteks Kemunculan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "01. Pengantar: Konteks Kemunculan"

Transkripsi

1 01. Pengantar: Konteks Kemunculan KEMUNCULAN KEPRIHATINAN SOSIAL GEREJA Ensiklik Paus Fransiskus yang terbaru berjudul Laudato si (24 Mei 2015) mengungkapkan keprihatinan Paus atas persoalan lingkungan hidup yang semakin rusak. Dalam ensiklik tersebut, Paus memaparkan analisa mengenai mengapa kerusakan alam terus berlangsung, dan bahkan menjadi semakin parah. Salah satu tanggapan di forum internasional terhadap ensiklik Paus ini cenderung skeptik dan negatif: Paus tidak perlu campur tangan dalam persoalan lingkungan hidup! Kita tahu, persoalan lingkungan hidup telah menjadi isu politis yang ditunggangi kepentingan ekonomis. Di balik persoalan ekologis, ada kelompok kepentingan (interest groups) yang bermain, misalnya perusahaan-perusahaan multinasional. Mereka ini berpendapat bahwa persoalan ini bukanlah wilayah urusan Paus. Paus tidak punya kompetensi dalam isu seperti ini, pikir mereka. Di dalam lingkup Gereja Katolik, entah secara lokal, nasional, maupun internasional, persoalan lingkungan hidup adalah salah satu dari sekian banyak isu sosial yang mendapat perhatian sejak lama. Selain krisis ekologis, dibicarakan mengenai persoalan kemiskinan, ketidakadilan, demokrasi, bahkan narkoba (bdk. Surat Gembala atau Nota Pastoral dari KWI 2013). Singkatnya, persoalan kemasyarakatan (khususnya di Indonesia) telah menjadi bagian dari pergulatan iman (orang Katolik di Indonesia). Orang beriman bertanya mengenai tatanan hidup bersama dalam suatu masyarakat. Maka kita mengenal apa yang biasa disebut Ajaran Sosial Gereja (ASG). Tapi kapan sebetulnya isu-isu sosial atau pertanyaan mengenai a good societal life muncul dalam ajaran resmi Gereja? Bagaimana ceritanya, sehingga Gereja mengarahkan perhatiannya pada isu-isu sosial? Sebelum Paus Leo XIII menulis ensiklik Rerum novarum (RN) pada tahun 1891, di dalam ajaran resmi terdapat sedikit sekali gagasan yang bisa diidentifikasi sebagai pemikiran-pemikiran sosial/mengenai masyarakat; bahkan praktis tidak ada yang namanya ajaran sosial (social doctrine/social teaching). Struktur politik dipandang sebagai sesuatu yang diterima begitu saja. Situasi sosial dan ekonomi di mana suatu masyarakat hidup jarang sekali dilihat sebagai keprihatinan dan kepedulian para pemimpin Gereja. Namun di lingkup orang Katolik, sudah lama berkembang gagasan-gagasan mengenai persoalan-persoalan sosial (social thoughts). Apa yang kini kita sebut sebagai ASG itu muncul dari suatu kemendesakan pastoral yang dialami Gereja di Eropa pada abad ke-19. Kelompok masyarakat pekerja (buruh) meningkat secara kuantitatif akibat revolusi industri. Namun kualitas hidup mereka terpuruk lantaran kondisi hidup dan pekerjaan yang jauh dari memadai (jam kerja lama, gaji rendah, rumah sempit, kurang gizi, dst.). Penderitaan para pekerja menuntut pertolongan. Masyarakat Eropa pada abad ke-19 telah mewarisi salah satu keutamaan kristiani, yakni mempraktekkan cintakasih. Tapi rupanya cara mewujudkan cintakasih di abad ini tidak lagi cocok dengan masalah zamannya. Sejak dulu memang sudah ada kemiskinan, dan orang-orang kristiani yang baik telah berusaha menjalankan nasihat Injil: Ketika Aku lapar, engkau memberi Aku makan (Mat 25:31dst). Namun kali ini (dengan revolusi industri, kapitalisme modern, dan liberalisme ekonomi), kemiskinan yang merebak sudah lain sekali jenisnya dari kemiskinan di zaman sebelumnya. Kemiskinan dan penderitaan ini bersifat kolektif. Di sinilah muncul kesadaran bahwa pertolongan yang dapat diusahakan orang beriman tidak dapat hanya menjangkau pribadi per pribadi dari kelompok pekerja itu. Bentuk bantuannya pun disadari tidak cukup hanya dengan sumbangan 1

2 karitatif kepada pribadi per pribadi. Tindakan karitatif individual, betatapun indahnya, tidak lagi akan mampu mengobati penyakit yang diderita. Penderitaan kelas pekerja menjadikan orang beriman sadar: Memang ketidakadilan sosial dalam pengertian etis ada sungguh-sungguh; kemiskinan yang tidak disebabkan oleh kesalahan pribadi (misalnya karena kemalasan), melainkan oleh strukturstruktur yang ada di masyarakat. Struktur-struktur tersebut dapat digunakan untuk menindas suatu kelompok tertentu dalam masyarakat. Akhirnya disadari bahwa anjuran-anjuran maupun perintah-perintah moral (yang tradisional) tidak lagi memadai untuk memberikan orientasi etis bagi orang beriman di dalam urusan ekonomi atau urusan kemasyarakatan yang lain. Akhirnya ajaran sosial berkembang untuk menanamkan kesadaran pada diri orang beriman akan tanggungajawabnya dalam persoalan-persoalan kemasyarakatan. Pada tahun 1891, untuk menanggapi persoalan eksploitasi yang dialami oleh para pekerja industri, Paus Leo XIII menyerukan perubahan-perubahan besar dalam tatanan sosio-ekonomi. Ini adalah seruan untuk keadilan dalam tata ekonomi. Secara keras Paus mengusulkan intervensi terhadap suatu sistem yang telah mengizinkan sejumlah kecil orang kaya dapat meletakkan beban kerja berat atas sejumlah besar massa orang miskin (pekerja/buruh). Sedikit banyak pada zaman itu kekuasaan politik dipandang sebagai kekuasaan yang diberikan oleh Allah (divine rights of the kings). Dalam situasi seperti ini, perubahan masyarakat yang mengarah kepada keadilan dan kesejahteraan bersama sulit diwujudkan. Memang Paus Leo XIII tidak mampu memberikan jawaban yang lengkap dan koheren atas semua persoalan yang timbul akibat revolusi industri. Namun setidaknya, ia telah mengawali suatu proses dalam Gereja, di mana orang beriman memikirkan pertanyaan: bagaimana membentuk suatu peradaban/masyarakat yang baik. Sejak RN, paus-paus menerbitkan ensiklik-ensiklik dalam rangka menanggapi isu-isu sosial dengan kacamata Injil. Berikut daftarnya: Leo XIII 1891 Rerum novarum Mengenai masalah kaum buruh Pius XI 1931 Quadragesimo anno Mengenai pembaruan masyarakat, ulangtahun RN ke-40 Yohanes XXIII 1961 Mater et magistra Mengenai perkembangan sosial dan pembangunan masyarakat dalam terang iman kristiani 1963 Pacem in terris Mengenai perdamaian antara bangsa-bangsa dalam kebenaran, keadilan, kasih dan kemerdekaan Paulus VI 1967 Populorum progressio Mengenai perkembangan bangsa-bangsa 1971 Octogesima adveniens Peringatan ulangtahun RN ke-80 Yoh. Paulus II 1981 Laborem exercens Mengenai kerja manusia 1987 Sollicitudo rei socialis Peringatan ulangtahun PP ke Centesimus annus Peringatan ulangtahun RN ke-100 Benediktus XVI 2009 Caritas in veritate Mengenai kemajuan global dan proses menuju terwujudnya common good Fransiskus 2015 Laudato si Mengenai kepedulian merawat bumi sebagai rumah bersama Selain tertuang dalam ensiklik-ensiklik sosial para paus ini, ajaran Gereja mengenai persoalanpersoalan kemasyarakatan dirumuskan dalam aneka dokumen, baik yang diterbitkan oleh paus, atau yang merupakan hasil dari Konsili Vatikan II, juga yang dihasilkan oleh federasi konferensi waligereja tertentu. Jadi, memang istilah Ajaran Sosial Gereja mengacu pada dokumen yang dikeluarkan oleh hirarki Gereja Katolik. Namun sebetulnya tidak ada ajaran sosial yang dibakukan (kanon) karena ajaran sosial Katolik mencakup lebih luas daripada ensiklik-ensiklik itu (namun belum 2

3 tentu suatu ensiklik merupakan ensiklik sosial). Maka pentinglah mengetahui pula ajaran sosial gereja pada Gaudium et spes (KV II, 1965), Deklarasi Medellín (hasil konferensi para uskup Amerika Latin di dalam sidang umum mereka yang kedua di tahun 1968), Evangelii nuntiandi (anjuran apostolis Paus Paulus VI mengenai evangelisasi) atau yang cukup baru: Evangelii gaudium (anjuran apostolis Paus Fransiskus). Kendati tidak dikenal luas oleh dunia, Gereja Indonesia juga pernah menerbitkan dokumen-dokumen yang bicara mengenai isu-isu sosial. Di sini dapat disebut misalnya Nota Pastoral 2003, 2004, dan 2005 (ketiganya bicara mengenai keadilan sosial dari perspektif politik, budaya, dan ekonomi) atau Nota Pastoral 2013 mengenai keutuhan ciptaan, dan Nota Pastoral 2014 yang mengangkat persoalan sosial penyalahgunaan narkoba. KETERLIBATAN GEREJA DI SANA DAN DI SINI Rerum novarum bolehlah disebut sebagai tonggak keterlibatan sosial, namun sama sekali bukan awalan. Sebab, gerakan sosial di antara orang-orang Katolik sudah mulai sebelum Paus Leo XIII menerbitkan RN. Saat itu Gereja berhadapan dengan negara modern/masyarakat sekulir. Karena industrialisasi, kelas pekerja menjadi semakin banyak. Penemuan mesin uap memungkinkan barangbarang diproduksi secara massal. Banyak orang Katolik yang adalah buruh baru pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan. Dengan perpindahan orang ke kota (urbanisasi), mulailah sistem ekonomi pasar. Sayangnya saat itu belum ada undang-undang mengenai upah minimal, pembatasan jam kerja, hak untuk berorganisasi, perlindungan kerja, apalagi asuransi. Sementara itu, di banyak tempat khususnya Inggris yang amat terkena dampak Revolusi Industri berkembanglah daerah-daerah kumum (slums) yang menjadi tempat tinggal kaum pekerja dan keluarganya. i Di lingkup intelektual, beredarlah gagasan dan pendekatan yang saling bertabrakan. Sebagian orang Katolik sering memandang kapitalisme ekonomi yang memandang manusia (para pekerja) hanya sebagai faktor produksi, merupakan ekses dari Pencerahan (Enlightenment). Liberalisme ekonomi seakan menghalalkan cara untuk mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya (misalnya dengan menekan ongkos tenaga kerja). Di sisi lain, ada sebagian orang Katolik yang membangkitkan gagasan nostalgia dan romantisme dari zaman Abad Pertengahan. Zaman Medieval dipandang sebagai zaman keemasan hidup manusia dan puncak cita-cita Kristen: semua orang Kristen sebagai pribadi sosial bersatu pada dalam suatu masyarakat organis. Para raja dan penguasa menjalankan kewajiban mereka kepada Allah dan kepada Hukum Kodrat: mereka pembela orang miskin, yatimpiatu, dan janda. Namun akibat Reformasi (Luther) dan Enlightenment, tatanan dunia itu menjadi berubah secara signifikan. Di lain pihak, ada tanggapan lain terhadap kemiskinan dan penderitaan para buruh: sosialisme. Karl Marx ( ) mencita-citakan suatu masyarakat tanpa kelas. Unsur materialisme dan corak revolusioner (plus anti-iman) dari gagasan Marx ini ditolak orang-orang Katolik. Cita-cita Pencerahan dan sosialisme adalah dua kutub yang saling bertentangan. Sedangkan pendekatan Katolik berusaha mencari jalan tengah. Namun bagaimanapun juga sosialisme telah merangsang timbulnya gerakan sosial katolik. Dan tentu saja gerakan ini menimbulkan kecurigaan dari kalangan orang Katolik sendiri. Namun demikian, gaung pergerakan ini tetap memberi dampak tersendiri. Frédéric Ozanam ( ; telah diangkat menjadi beato oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 22 Agustus 1997) misalnya, mendirikan Serikat Santo Vincentius (SSV) pada tahun Gerakan ini berhasil mengusulkan persetujuan untuk mogok (bagi para buruh). Inilah permulaan sederhana dari gerakan sosial Katolik modern. Perlu diketahui, gerakan Ozanam ini muncul di Prancis yang belum lama tercabik-cabik oleh Revolusi Prancis (1789) yang mengakibatkan antiklerikalisme dan sekularisasi. Sekularisasi juga 3

4 melanda wilayah Eropa yang lain, misalnya di Jerman, di bawah Otto von Bismarck. Gereja mau tidak mau menghadapi kesulitan ketika mau ikut bicara mengenai persoalan sosial. Mereka yang anti-gereja/klerus berpendapat bahwa usaha untuk menganalisis dan membedah persoalan sosial bukan domain Gereja. Bagaimana dengan di kepulauan Indonesia? Mula permulaan abad ke-19 kepulauan Hindia-Belanda/Timur (East Indies) berada secara resmi di bawah Kerajaan Belanda (sebelumnya di bawah kongsi dagang VOC yang gulung tikar pada tanggal 31 Desember 1799). Seorang gubernur jenderal, Johannes van den Bosch diangkat menjadi wakil ratu Belanda di Hindia-Timur. Kerajaan Belanda mengambil alih seluruh aset VOC sekaligus hutang-hutang yang cukup besar. Masih ditambah dengan perlawanan-perlawanan penduduk pribumi, terutama karena Perang Diponegoro ( ), Kerajaan Belanda harus mengeluarkan uang amat banyak sehingga bagi Van den Bosch yang menjadi gubernur jenderal dari , kebijakan ekonomi adalah prioritas. Di sinilah dimulai kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel). Bagi Kerajaan Belanda, kepulauan Hindia-Timur ini adalah aset penting yang menyediakan bahan baku mentah bagi industrinya sekaligus tenaga kerja murah meriah. Di tahun 1834, Hindia Belanda telah menghasilkan keuntungan amat besar, sekitar 10 juta gulden. Sebelumnya, hutang yang ditanggung sejumlah 175 juta gulden. Kebijakan cultuurstelsel di Pulau Jawa pada zaman itu semakin memperjelas struktur kelas, suatu kasta sosial berdasarkan warna kulit. Setelah kebijakan Van den Bosch, berkembanglah firma-firma perorangan yang membuka perkebunan-perkebunan, khususnya di Sumatera dan Jawa. Di kasta teratas terdapat orang-orang Belanda yang bekerja sebagai pegawai pada lembaga administrasi kolonial, atau para pemilik perkebunan. Di bawahnya terdapat orang-orang Tionghoa atau orang Eropa yang lain. Mereka ini bekerja sebagai pedagang atau mandor di perkebunan. Sedangkan di strata paling bawah terdapat orang-orang pribumi yang bekerja sebagai kuli, pembantu rumah tangga, petani kecil (dkl. tenaga kerja murah). Orang-orang ningrat dan aristokrat tergolong berstatus sosial tinggi. Pada tahun 1870, kaum ekonomi liberal telah berhasil mengubah peta perekonomian di Hindia Belanda. Pada akhir abad ke-19, kelompok Katolik di Negeri Belanda pelan-pelan mempunyai pengaruh kuat. Mereka lalu mengusulkan nilai-nilai kristiani ke dalam agenda dan kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda. Pengaruh mereka ini nantinya menghasilkan kebijakan baru yang disebut Politik Etis, yang gagasan awalnya muncul berkat tulisan Ch. Van Deventer yang berjudul Hutang Budi. Tujuan dari politik ini adalah perbaikan kualitas hidup orang-orang pribumi dengan mengupayakan sarana kesehatan dan pendidikan, serta melibatkan mereka dalam pengambilan kebijakan. Dalam situasi zaman semacam ini, Rm. Frans van Lith SJ ( ) datang ke Jawa sebagai misionaris. Dalam kisah mengenai upayanya mendirikan sekolah bagi orang Jawa, kita akan menemukan usaha mengangkat martabat manusia (pribumi) yang dikaburkan oleh struktur masyarakat hirarkis. Selama struktur sosial semacam ini berlangsung, selalu ada kelompok tertindas. Masyarakat Jawa sendiri sudah diwarnai kuat oleh suasana hirarkis. Dengan pelaksanaan Politik Etis, orang Jawa tidak hanya dibelenggu oleh hirarki sosial, melainkan juga oleh mentalitas paternalisme. Pemerintah Kolonial memandang dirinya sebagai seorang bapak yang harus mendidik dan mengatur (mendisiplinkan) anak-anaknya, yakni rakyat negeri jajahannya (perselisihan antara Rm. Van Lith dan rekan se-ordonya, Rm. Hoevenaars SJ, sedikit banyak menampilkan suasana zaman ini). Upaya misi Rm. Van Lith pada zaman itu menunjukkan betapa sejarah misi di Tanah Jawa amat berkaitan erat dengan persoalan-persoalan sosial. Gerak ini nantinya diteruskan oleh Rm. Prennthaler SJ di Kalibawang, Kulon Progo. 4

5 Masih dalam periode yang sama dengan Rm. Van Lith, di sebelah selatan kota Yogyakarta konon ada kisah mengenai upaya penerapan ASG dalam pabrik gula di Gondanglipura yang dimiliki oleh Schmutzer bersaudara (yang juga mendirikan Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran). ii REFLEKSI: BAGAIMANA GEREJA BER-TEOLOGI MORAL SOSIAL? Ungkapan terlibat (dalam persoalan-persoalan kemasyarakatan ) tampaknya sudah jamak diucapkan oleh banyak orang kristiani, terutama Katolik. Namun tidak bisa dipungkiri, banyak orang (termasuk orang Katolik juga) yang mempertanyakan keterlibatan itu. Gereja Katolik toh bukan partai politik atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). demikian alasan yang dimunculkan oleh mereka. Ini pula alasan mereka yang mengkritik Paus dengan Laudato si -nya: Sudahlah, Gereja dan Paus tak perlu ikut campur urusan duniawi ini Beberapa pihak menilai bahwa Paus Fransiskus terlalu memandang negatif pada ekonomi pasar bebas. iii Kendati pendapat-pendapat Paus memunculkan pertanyaan di kalangan para ahli, namun Laudato si merupakan wujud kesaksian iman (witness), dan bukan pernyataan politis. Ensiklik sosial dan dokumen-dokumen ASG lainnya tidak dimaksudkan sebagai analisa ilmiah yang komprehensif, melainkan untuk menegaskan iman Kristiani. Lantas, di mana sebetulnya letak wewenang Gereja untuk bicara mengenai persoalan-persoalan sosial? Untuk menjawab hal ini, mari kita merefleksikan sejarah kemunculan pemikiran-pemikiran sosial di atas. Pertama, pada masa itu (Eropa di abad ke-19) terjadi perubahan dalam eklesiologi. Gereja yang awalnya merupakan bagian dari institusi feodal berhadapan dengan monarki modern (cikal bakal negara modern) dengan otoritas yang kurang lebih tersentralistis. Feodalisme bergeser ke pinggir, digantikan oleh kapitalisme. Paham ekonomi mengubah wajah masyarakat yang memunculkan persoalan-persoalan sosial baru. Di dalam pergumulan sosial seperti ini, Injil diwartakan dalam keterlibatan yang sosial (lih. Contoh gerakan Ozanam). Kedua, Revolusi Prancis menandai berakhirnya sistem feodalisme di Eropa. Moment tersebut menjadi bukti bahwa ternyata orang mampu mengubah masyarakat dengan cara menciptakan lembagalembaga politik, ekonomi, dan sosial. Dengan melihat Revolusi Prancis dan Revolusi Indrustri, orang menjadi sadar akan persoalan-persoalan sosial. Kesadaran sosial berubah seiring dengan terjadinya perubahan sosial. Ketiga, orang (Kristiani) menjadi sadar bahwa perubahan masyarakat dan segala strukturnya tidak dapat terjadi tanpa perubahan dari dalam. Maksudnya, tanpa upaya orang Kristiani membarui kehidupan menggereja, tak dapat diharapkan adanya perubahan dalam masyarakat luas. Dalam kuliah kita yang berjudul Teologi Moral Sosial, kita akan mempelajari ajaran sosial Gereja yang terumuskan dalam ensiklik-ensiklik para paus dan dokumen-dokumen yang lain. Kita akan belajar, bagaimana kita menemukan nilai-nilai entah lokal atau universal yang mampu membangkitkan aktivitas sosial itu. Jadi, ada empat pokok bahasan dalam setiap pembahasan dokumen: pemikiran dan pendirian yang dipegang oleh Gereja konteks historis penulisan pendalaman tematik peluang untuk aktivitas sosial (demi penghayatan iman) 5

6 i Hidup di zaman Revolusi Indrustri misalnya digambarkan demikian: ii Kisah singkatnya dapat dibaca pada: K. Steenbrink, Catholics in Indonesia (Leiden: KITLV, 2007), iii Lih. misalnya Samuel Gregg, Laudato Si : Well Intentioned, Economically Flawed, The American Spectators, 6

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dan latar belakang ajaran sosial Gereja; 2. menjelaskan dengan kata-katanya sendiri sejarah singkat

Lebih terperinci

BAB V GEREJA DAN DUNIA

BAB V GEREJA DAN DUNIA 1 BAB V GEREJA DAN DUNIA STANDAR KOMPETENSI Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan ber-gereja sesuai dengan

Lebih terperinci

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana PASTORAL DIALOGAL Erik Wahju Tjahjana Pendahuluan Konsili Vatikan II yang dijiwai oleh semangat aggiornamento 1 merupakan momentum yang telah menghantar Gereja Katolik memasuki Abad Pencerahan di mana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perhatian yang khusus. Perjuangan dalam pergerakan kebangsaan Indonesia

I. PENDAHULUAN. perhatian yang khusus. Perjuangan dalam pergerakan kebangsaan Indonesia 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Abad ke 20 bukan hanya menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia, akan tetapi dalam hal gerakan-gerakan anti penjajahan yang bermunculan di masa ini menarik perhatian

Lebih terperinci

Pendidikan Agama. Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Modul ke: 12Fakultas Psikologi

Pendidikan Agama. Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Modul ke: 12Fakultas Psikologi Pendidikan Agama Modul ke: 12Fakultas Psikologi Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Program Studi Psikologi Oleh : Drs. Sugeng Baskoro, M.M Sejarah Konsili Vatikan II Konsili

Lebih terperinci

Ajaran Sosial Gereja tentang Orang Miskin Norbertus Jegalus

Ajaran Sosial Gereja tentang Orang Miskin Norbertus Jegalus Ajaran Sosial Gereja tentang Orang Miskin Norbertus Jegalus Pendahuluan Tahun ini kita merayakan secara khusus sebagai Tahun Injil Orang Miskin. Ini sangat sesuai dengan ajakan Paus Fransikus agar kita

Lebih terperinci

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan 3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan legal? 6. Sebutkan sasaran yang dikritik Nabi Amos! 7.

Lebih terperinci

Inklusi Sosial: Dapatkah Kitab Suci

Inklusi Sosial: Dapatkah Kitab Suci Refleksi Bulanan No. 1 Maret 2017 Dimensi sosial evangelisasi: Praktek Yesus dalam cinta kasih inklusif kepada semua, Doktrin Sosial Gereja dan Sejarah SSpS dalam inklusi sosial Oleh Sr. Mary John Kudiyiruppi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Gereja adalah persekutuan umat beriman yang percaya kepada Kristus. Sebagai sebuah persekutuan iman, umat beriman senantiasa mengungkapkan dan mengekspresikan

Lebih terperinci

A J A R A N S O S I A L G E R E J A D A L A M P E R S P E K T I F P E R E M P U A N

A J A R A N S O S I A L G E R E J A D A L A M P E R S P E K T I F P E R E M P U A N 1 A J A R A N S O S I A L G E R E J A D A L A M P E R S P E K T I F P E R E M P U A N DAFTAR ISI / JALAN PIKIRAN: BAGIAN I ; PERSPEKTIF PEREMPUAN BAGIAN II: AJARAN SOSIAL GEREJA BAGIAN III: KESIMPULAN

Lebih terperinci

PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA

PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA TUJUAN KHUSUS PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dunia; 2. menjelaskan pandangan Gereja tentang dunia; 3. menjelaskan arti dari Konstitusi

Lebih terperinci

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Warta 22 November 2015 Tahun VI - No.47 KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV (sambungan minggu lalu) Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Anglia 9.

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Indonesia merupakan negara di wilayah Asia secara geografis yang diwarnai oleh dua kenyataan, yaitu kemajemukan agama dan kebudayaan, serta situasi kemiskinan

Lebih terperinci

DISKURSUS, Volume 14, Nomor 2, Oktober 2015:

DISKURSUS, Volume 14, Nomor 2, Oktober 2015: DISKURSUS, Volume 14, Nomor 2, Oktober 2015: 307-315 311 Karim Schelkens, John A. Dick, Jürgen Mettepenningen Aggiornamento?, Catholicism from Gregory XVI to Benedict XVI, Leiden/Boston: Brill, 2013, vi+247

Lebih terperinci

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi.

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi. BAB XII Modul ke: 13 MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Fakultas MKCU Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. www.mercubuana.ac.id Program Studi Psikologi MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Terima Kasih A. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Daftar lsi. 1. GEREJA BERDIALOG HISTORISITAS h. Pidato Penutupan KV II oleh Paulus VI c. Deklarasi Akhir KV II...

Daftar lsi. 1. GEREJA BERDIALOG HISTORISITAS h. Pidato Penutupan KV II oleh Paulus VI c. Deklarasi Akhir KV II... Daftar lsi GQ@ro Pengantar... Daftar lsi...',...,...,... vii ix 1. GEREJA BERDIALOG... 1 a. Gereja Abdi... 1 b. Berdialog... 3 c. Khazanah Studi... 8 2. HISTORISITAS... 13 a. Mula-mula Sikap Positif...

Lebih terperinci

GEREJA DAN DUNIA. 2. Manusia Menyangkut manusia, da abeberapa hal perlu diperhatikan, antara lain: a. Martabat Manusia

GEREJA DAN DUNIA. 2. Manusia Menyangkut manusia, da abeberapa hal perlu diperhatikan, antara lain: a. Martabat Manusia GEREJA DAN DUNIA TUJUAN KHUSUS PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dunia; 2. menjelaskan pandangan Gereja tentang dunia; 3. menjelaskan arti dari Konstitusi Gaudium et Spes,

Lebih terperinci

66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)

66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) 66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan

Lebih terperinci

Pola Tuhan Bagi Para Pekerja

Pola Tuhan Bagi Para Pekerja Pola Tuhan Bagi Para Pekerja Kim mempelajari alasan-alasan bagi perkumpulan orang percaya dalam gereja yang mula-mula. Ia melihat adanya bermacam-macam keperluan yang mempersatukan mereka - keperluan akan

Lebih terperinci

05. Persoalan Buruh dan Hubungan Kerja

05. Persoalan Buruh dan Hubungan Kerja 05. Persoalan Buruh dan Hubungan Kerja Setelah kita meninggalkan gelanggang sejarah latar belakang munculnya gerakan dan pemikiran sosial di dalam Gereja Katolik di bab pertama, kini kita masuk ke dalam

Lebih terperinci

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA A. KOMPETENSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan

Lebih terperinci

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN DALAM KONSTITUSI KITA Kita mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah-masalah keadilan, damai dan keutuhan ciptaan.para suster didorong untuk aktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beberapa tahap ketika kekristenan mulai berkembang tanah air Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. beberapa tahap ketika kekristenan mulai berkembang tanah air Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perjalanan agama Kristen masuk ke Indonesia memang panjang. Ada beberapa tahap ketika kekristenan mulai berkembang tanah air Indonesia. Agama Kristen memang bukan agama

Lebih terperinci

KISI-KISI SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER 1

KISI-KISI SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER 1 KISI-KISI PENILAIAN AKHIR SEMESTER 1 Nama Sekolah : SMA Islam Al-Azhar BSD Alokasi Waktu : 90 menit Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia Jumlah Soal : 50 Kelas / Semester : XI / Ganjil Bentuk Soal : Pilihan

Lebih terperinci

MODUL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XI SEMESTER GENAP

MODUL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XI SEMESTER GENAP MODUL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011/2012 1 Pendidikan Agama Katolik Untuk SMA/ SMK Kelas XI Hantaran Gagasan dan rancangan pendidikan yang dikembangkan pemerintah sekarang

Lebih terperinci

MODUL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016. Keterlibatan Gereja dalam Membangun Dunia yang Damai dan Sejahtera

MODUL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016. Keterlibatan Gereja dalam Membangun Dunia yang Damai dan Sejahtera MODUL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016 BAB V : GEREJA DAN DUNIA Pelajaran 11. Pelajaran 12. Pelajaran 13. Gereja dan Dunia Ajaran Sosial Gereja Keterlibatan Gereja

Lebih terperinci

Gereja di dalam Dunia Dewasa Ini

Gereja di dalam Dunia Dewasa Ini ix U Pengantar ndang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan

Lebih terperinci

Misiologi David Bosch

Misiologi David Bosch Misiologi David Bosch Definisi Sementara Misi. 1. Iman Kristen bersifat misioner, atau menyangkali dirinya sendiri. Berpegang pada suatu penyingkapan yang besar dari kebenaran puncak yang dipercayai penting

Lebih terperinci

PELAJARAN 15 PERJUANGAN MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

PELAJARAN 15 PERJUANGAN MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA PELAJARAN 15 PERJUANGAN MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menyebutkan bentuk-bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia; 2. menganalisis

Lebih terperinci

Sosialisme Indonesia

Sosialisme Indonesia Sosialisme Indonesia http://sinarharapan.co/news/read/140819049/sosialisme-indonesia 19 Agustus 2014 12:50 Ivan Hadar* OPINI Sosialisme-kerakyatan bisa diterapkan di Indonesia. Terpilihnya Jokowi sebagai

Lebih terperinci

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 SURAT GEMBALA PRAPASKA 2014 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 Allah Peduli dan kita menjadi perpanjangan Tangan Kasih-Nya untuk Melayani Saudari-saudaraku yang terkasih,

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Dalam bagian ini, akan di buat kesimpulan dari pembahasan bab 1 sampai. dengan bab 4 serta saran-saran. 5.1.

BAB V PENUTUP. Dalam bagian ini, akan di buat kesimpulan dari pembahasan bab 1 sampai. dengan bab 4 serta saran-saran. 5.1. BAB V PENUTUP Dalam bagian ini, akan di buat kesimpulan dari pembahasan bab 1 sampai dengan bab 4 serta saran-saran. 5.1. Kesimpulan Teologi pluralisme agama memang simpatik karena ingin membangun teologi

Lebih terperinci

Kebaktian Paskah Lebih dari Para Pemenang. Roma 8: Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kebaktian Paskah Lebih dari Para Pemenang. Roma 8: Pdt. Andi Halim, S.Th. Kebaktian Paskah Lebih dari Para Pemenang Roma 8:31-39 Pdt. Andi Halim, S.Th. Umumnya saat mendengar kata pemenang kita berpikir itu adalah orang yang hebat, yang berprestasi, dan yang luar biasa. Inilah

Lebih terperinci

Menakar Nawa Cita Jokowi-JK dalam Terang Ajaran Sosial Gereja. Oleh: Bonifasius Falakhi (PMKRI 2013)

Menakar Nawa Cita Jokowi-JK dalam Terang Ajaran Sosial Gereja. Oleh: Bonifasius Falakhi (PMKRI 2013) Menakar Nawa Cita Jokowi-JK dalam Terang Ajaran Sosial Gereja Oleh: Bonifasius Falakhi (PMKRI 2013) Pendahuluan Pada saat maju dalam pemilihan presiden dan wapres yang lalu, pasangan capres Jokowi- JK

Lebih terperinci

UKDW BAB I. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

UKDW BAB I. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG BAB I. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Teologi merupakan suatu usaha atau kegiatan untuk mencermati kehadiran Tuhan Allah di mana Allah menyatakan diri-nya di dalam kehidupan serta tanggapan manusia akan

Lebih terperinci

MENDENGARKAN HATI NURANI

MENDENGARKAN HATI NURANI Mengejawantahkan Keputusan Kongres Nomor Kep-IX / Kongres XIX /2013 tentang Partisipasi Dalam Partai Politik dan Pemilu Wanita Katolik Republik Indonesia MENDENGARKAN HATI NURANI Ibu-ibu segenap Anggota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nasionalisme adalah suatu konsep dimana suatu bangsa merasa memiliki suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes (Chavan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda antara tahun 1830 hingga akhir abad ke-19 dinamakan Culturstelsel (Tanam Paksa).

Lebih terperinci

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar.

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar. Tiga Gelombang Demokrasi Demokrasi modern ditandai dengan adanya perubahan pada bidang politik (perubahan dalam hubungan kekuasaan) dan bidang ekonomi (perubahan hubungan dalam perdagangan). Ciriciri utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut mengantarkan orang untuk terbuka terhadap kebutuhan-kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. tersebut mengantarkan orang untuk terbuka terhadap kebutuhan-kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Pendidikan akan membawa perubahan sikap, perilaku, nilai-nilai

Lebih terperinci

EVANGELISASI BARU. Rohani, Desember 2012, hal Paul Suparno, S.J.

EVANGELISASI BARU. Rohani, Desember 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 EVANGELISASI BARU Rohani, Desember 2012, hal 25-28 Paul Suparno, S.J. Suster Budayanita waktu mengajar agama pada beberapa orang tua yang ingin menjadi Katolik, sering meneguhkan bahwa mereka itu sebenarnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan 11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan pustaka Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan dijadikan topik penelitian. Dimana dalam tinjauan pustaka akan dicari teori atau konsep-konsep

Lebih terperinci

Studi Perbandingan Katolik Roma (5) API PENYUCIAN

Studi Perbandingan Katolik Roma (5) API PENYUCIAN API PENYUCIAN "Gereja mempercayai adanya Api Penyucian, bukan sebagai suatu tempat tersendiri yang lain daripada surga maupun neraka. Api Penyucian diterima sebagai orang meninggal yang belum layak menikmati

Lebih terperinci

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J.

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. Isi singkat 1. Semangat mistik 2. Semangat kenabian 3. Spiritualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Abad XX merupakan sebuah zaman baru dalam politik kolonial yang dengan diberlakukannya politik etis. Politik etis merupakan politis balas budi Kolonial dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pada saat ini, bangsa Indonesia dilanda dan masih berada di tengah-tengah krisis yang menyeluruh, krisis multidimensi. Kita dilanda oleh krisis politik,

Lebih terperinci

PROGRAM PENGUATAN PRAKARSA FILANTROPI Riset dan Sosialisasi Kedermawanan Sosial di Lingkungan Gereja Katolik. Laporan Penelitian

PROGRAM PENGUATAN PRAKARSA FILANTROPI Riset dan Sosialisasi Kedermawanan Sosial di Lingkungan Gereja Katolik. Laporan Penelitian PROGRAM PENGUATAN PRAKARSA FILANTROPI Riset dan Sosialisasi Kedermawanan Sosial di Lingkungan Gereja Katolik Laporan Penelitian Pola Interaksi Kedermawanan Sosial Kelompok Parokial dan Kategorial Keuskupan

Lebih terperinci

PEDOMAN PRAKTIKUM.

PEDOMAN PRAKTIKUM. PEDOMAN PRAKTIKUM 1 PENGEMBANGAN SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SEJARAH Oleh : SUPARDI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Landasan Teori 1. Transportasi Kereta Api Transportasi merupakan dasar untuk pembangunan ekonomi dan perkembangan masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Hidup Menggereja Kontekstual, (Yogyakarta : 2001), p. 28.

BAB 1 PENDAHULUAN. Hidup Menggereja Kontekstual, (Yogyakarta : 2001), p. 28. BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 PERMASALAHAN 1. 1. 1 Latar Belakang Permasalahan Di Indonesia, pada umumnya konteks yang sekarang ini sedang dihadapi adalah konteks kemiskinan yang parah dan keberagaman agama.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keuskupan Surabaya. Menurut pernyataannya, jaman sekarang umat di

BAB I PENDAHULUAN. Keuskupan Surabaya. Menurut pernyataannya, jaman sekarang umat di BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu keprihatinan gereja pada jaman sekarang ini adalah pragmatisme. 1 Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono 2 pun juga beberapa kali menyatakan keprihatinan ini.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 14 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Benedict Anderson (2000) seorang Indonesianis yang diakui secara luas sebagai pakar sejarah Indonesia abad ke-20, mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat biasa adalah mahkluk yang lemah, harus di lindungi laki-laki,

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat biasa adalah mahkluk yang lemah, harus di lindungi laki-laki, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perempuan adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang sederajat dengan laki-laki hanya saja terdapat perbedaan fisik dan kodrat. Sebagai sesama manusia, laki laki dan perempuan

Lebih terperinci

KOLONIALISME DAN IMPERIALISME

KOLONIALISME DAN IMPERIALISME KOLONIALISME DAN IMPERIALISME Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga

Lebih terperinci

SOSIOLOGI PENDIDIKAN

SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL KONFLIK TOKOH PEMIKIR ANTARA LAIN: 1. KARL MARX (1818-1883) 5. JURGEN HABERMAS 2. HEGEL 6. ANTONIO GRAMSCI 3. MAX HORKHEIMER (1895-1973) 7. HERBERT

Lebih terperinci

66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)

66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) 66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan

Lebih terperinci

Sukacita atas belas kasih Allah

Sukacita atas belas kasih Allah Sukacita atas belas kasih Allah Kehadiran gereja hendaknya menampakkan belas kasih Allah baik melalui paroki, komunitas, kelompok asosiasi dan gerakan lainnya; atau dengan kata lain kehadiran orang Kristen

Lebih terperinci

BAB 1 Pendahuluan. 1 NN, Badan Geologi Pastikan Penyebab Gempa di Yogyakarta, ANTARA News,

BAB 1 Pendahuluan.  1 NN, Badan Geologi Pastikan Penyebab Gempa di Yogyakarta, ANTARA News, 1 BAB 1 Pendahuluan 1. 1. Latar Belakang Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter pada kedalaman 17,1 km dengan lokasi pusat gempa terletak di dekat pantai pada koordinat

Lebih terperinci

Revolusi Industri: Latar Belakang, Proses Revolusi, & Dampaknya

Revolusi Industri: Latar Belakang, Proses Revolusi, & Dampaknya Revolusi Industri: Latar Belakang, Proses Revolusi, & Dampaknya Didiek Prasetya M.Sn Revolusi Industri ~ Revolusi bisa diartikan sebagai perubahan secara cepat atau perubahan yang cukup mendasar dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Siang itu sekitar pukul 11.00 di saat anak-anak seusianya sibuk belajar dan bermain di sekolah, Sarminto (13) warga Dukuh Bono, Desa Jiwan, Kecamatan Karang nongko

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. pembahasan tentang mengkritisi implementasi Ensiklik Evangelium Vitae

BAB IV PENUTUP. pembahasan tentang mengkritisi implementasi Ensiklik Evangelium Vitae BAB IV PENUTUP A. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian melalui studi kepustakaan dan pembahasan tentang mengkritisi implementasi Ensiklik Evangelium Vitae sebagai pedoman bioetika bagi tenaga kesehatan

Lebih terperinci

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 1 KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 Pontianak, 16 Januari 2016 Paul Suparno, S.J 2. Abstrak Keluarga mempunyai peran penting dalam menumbuhkan bibit panggilan, mengembangkan, dan menyertai dalam perjalanan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian mengenai permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi atau berinteraksi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi atau berinteraksi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Interaksi sosial memainkan peran dalam masyarakat individu atau kelompok. Interaksi diperlukan untuk berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, masyarakat membutuhkan

Lebih terperinci

BAB 9: SOSIOLOGI MODERNISASI. PROGRAM PERSIAPAN SBMPTN BIMBINGAN ALUMNI UI. e. Kemakmuran masyarakat luas

BAB 9: SOSIOLOGI MODERNISASI.  PROGRAM PERSIAPAN SBMPTN BIMBINGAN ALUMNI UI. e. Kemakmuran masyarakat luas 1. Makna modernisasi di bidang ekonomi a. Penggunaan sistem ekonomi liberal seperti negara-negara Eropa b. Proses industrialisasi yang dapat menggantikan sistem ekonomi pertanian c. Pelaksanaan sistem

Lebih terperinci

Latar Belakang Gereja Waldensis

Latar Belakang Gereja Waldensis Gereja Waldensis Pernahkan Anda mengenal sebutan Gereja Waldensis? Pasti ada yang pernah mendengar dan ada pula yang belum pernah mendengar. Gereja Waldensis ini secara umum merupakan persekutuan dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Elfa Michellia Karima, 2013 Kehidupan Nyai Di Jawa Barat Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.

BAB I PENDAHULUAN. Elfa Michellia Karima, 2013 Kehidupan Nyai Di Jawa Barat Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian Pribumi sangat tergantung pada politik yang dijalankan oleh pemerintah kolonial. Sebagai negara jajahan yang berfungsi sebagai daerah eksploitasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meneruskan perjuangan bangsa dibina melalui dunia pendidikan. Dunia pendidikan sangat erat

BAB I PENDAHULUAN. meneruskan perjuangan bangsa dibina melalui dunia pendidikan. Dunia pendidikan sangat erat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan hal yang dapat membangun bangsa dan menjadikan bangsa besar. Hal itu menekankan pendidikan sebagai prioritas untuk diperhatikan, anak bangsa yang akan meneruskan

Lebih terperinci

DALAM PERUBAHAN GLOBAL

DALAM PERUBAHAN GLOBAL PERADABAN ISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PERAN KEPEMIMPINAN POLITIK DALAM PERUBAHAN GLOBAL Oleh Nurcholish Madjid Masyarakat manusia dalam berbagai bentuk kesatuannya seperti komunitas, umat,

Lebih terperinci

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KELUARGA KATOLIK YANG BERKESADARAN HUKUM DAN MORAL, MENGHARGAI SESAMA ALAM CIPTAAN

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KELUARGA KATOLIK YANG BERKESADARAN HUKUM DAN MORAL, MENGHARGAI SESAMA ALAM CIPTAAN SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KELUARGA KATOLIK YANG BERKESADARAN HUKUM DAN MORAL, MENGHARGAI SESAMA ALAM CIPTAAN Disampaikan sebagai pengganti khotbah dalam Perayaan Ekaristi Minggu Biasa VI tanggal 10-11

Lebih terperinci

BAB IV. Pandangan jemaat GPIB Bukit Harapan Surabaya tentang diakonia

BAB IV. Pandangan jemaat GPIB Bukit Harapan Surabaya tentang diakonia BAB IV Pandangan jemaat GPIB Bukit Harapan Surabaya tentang diakonia 4.1. Diakonia sebagai perwujudan Hukum Kasih Gereja dapat dikatakan sebagai gereja apabila dia sudah dapat menjalankan fungsinya, yaitu

Lebih terperinci

Pijar-Pijar Gagasan Soekarno

Pijar-Pijar Gagasan Soekarno Peringatan Hari Lahir Pancasila - 01 Juni 2015 11:20 wib Pijar-Pijar Gagasan Soekarno Faisal Ismail, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta PADA sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN. Kebijakan pemerintahan Francisco..., Fadhil Patra Dwi Gumala, FISIP UI, Universitas Indonesia

BAB IV KESIMPULAN. Kebijakan pemerintahan Francisco..., Fadhil Patra Dwi Gumala, FISIP UI, Universitas Indonesia 68 BAB IV KESIMPULAN Pasca berakhirnya perang saudara di Spanyol pada tahun 1939, Francisco Franco langsung menyatakan dirinya sebagai El Claudilo atau pemimpin yang menggunakan kekuasaannya dengan menerapkan

Lebih terperinci

Konflik Politik Karl Marx

Konflik Politik Karl Marx Konflik Politik Karl Marx SOSIALISME MARX (MARXISME) Diantara sekian banyak pakar sosialis, pandangan Karl Heindrich Marx (1818-1883) dianggap paling berpengaruh. Teori-teorinya tidak hanya didasarkan

Lebih terperinci

Modul ke: Pancasila. Pancasila sebagai Ideologi Negara. Fakultas MKCU. Finy F. Basarah, M.Si. Program Studi MKCU

Modul ke: Pancasila. Pancasila sebagai Ideologi Negara. Fakultas MKCU. Finy F. Basarah, M.Si. Program Studi MKCU Modul ke: Pancasila Pancasila sebagai Ideologi Negara Fakultas MKCU Finy F. Basarah, M.Si Program Studi MKCU Pancasila sebagai Ideologi Negara Pancasila Abstract: Pancasila sebagai Ideologi, dan ideologi

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Marhaenisme merupakan salah satu paham yang pernah ada dan berkembang di Indonesia. Paham ini merupakan gagasan pemikiran dari Soekarno yang menjadi tonggak

Lebih terperinci

2

2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Hukum adalah pembatasan kebebasan setiap orang demi kebebasan semua orang... Kaidah hukum mengarahkan diri hanya pada perbuatanperbuatan lahiriah. Jadi. saya berbuat sesuai dengan

Lebih terperinci

5. Materi sejarah berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

5. Materi sejarah berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. 13. Mata Pelajaran Sejarah Untuk Paket C Program IPS A. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat di masa lampau

Lebih terperinci

Saudara-saudari yang dikasihi Yesus Kristus.

Saudara-saudari yang dikasihi Yesus Kristus. Introitus : Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak- anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA NEGARA DAN GEREJA: IMPLIKASINYA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AGAMA DAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN 1

HUBUNGAN ANTARA NEGARA DAN GEREJA: IMPLIKASINYA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AGAMA DAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN 1 HUBUNGAN ANTARA NEGARA DAN GEREJA: IMPLIKASINYA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AGAMA DAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN 1 Norbertus Jegalus Abstract Should we show our obedience more to the state or to the

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia, agama Kristen dapat dikatakan sebagai agama yang paling luas tersebar

BAB I PENDAHULUAN. manusia, agama Kristen dapat dikatakan sebagai agama yang paling luas tersebar BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Ada banyak agama di dunia ini, dari semua agama yang dianut oleh manusia, agama Kristen dapat dikatakan sebagai agama yang paling luas tersebar di muka

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

dari periode yang awal sampai pada periode-periode berikutnya?. Perkembangan terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk yang

dari periode yang awal sampai pada periode-periode berikutnya?. Perkembangan terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk yang PERIODISASI SEJARAH Apakah yang disebut dengan periodisasi? Pertanyaan tersebut kita kembalikan pada penjelasan sebelumnya bahwa sejarah adalah studi tentang kehidupan manusia dalam konteks waktu. Untuk

Lebih terperinci

Bacaan diambil dari Kitab Nabi Yesaya:

Bacaan diambil dari Kitab Nabi Yesaya: 1 Tahun A Hari Minggu Adven I LITURGI SABDA Bacaan Pertama Yes. 2 : 1-5 Tuhan menghimpun semua bangsa dalam Kerajaan Allah yang damai abadi. Bacaan diambil dari Kitab Nabi Yesaya: Inilah Firman yang dinyatakan

Lebih terperinci

EKSISTENSI PANCASILA DALAM KONTEKS MODERN DAN GLOBAL PASCA REFORMASI

EKSISTENSI PANCASILA DALAM KONTEKS MODERN DAN GLOBAL PASCA REFORMASI EKSISTENSI PANCASILA DALAM KONTEKS MODERN DAN GLOBAL PASCA REFORMASI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA NAMA : FELIX PRASTYO NIM : 11.12.6219 KELOMPOK : J PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Nurhidayatina, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Nurhidayatina, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Blokade ekonomi adalah perang ekonomi yang pernah diterapkan oleh Napoleon Bonaparte di Eropa pada saat memerintah Prancis tahun 1806-. Penulis ingin mengetahui

Lebih terperinci

BAB IV PEMAHAMAN TENTANG PERSEMBAHAN

BAB IV PEMAHAMAN TENTANG PERSEMBAHAN BAB IV PEMAHAMAN TENTANG PERSEMBAHAN Persembahan identik secara formal dengan memberikan sesuatu untuk Tuhan. Berkaitan dengan itu, maka dari penelitian dalam bab tiga, dapat disimpulkan bahwa, pemahaman

Lebih terperinci

BAGIAN III--TEOLOGI YAKOBUS. l. Dia menamakan dirinya " hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus"-- l:l

BAGIAN III--TEOLOGI YAKOBUS. l. Dia menamakan dirinya  hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus-- l:l 1 BAGIAN III--TEOLOGI YAKOBUS PENDAHULUAN A. Penulis. l. Dia menamakan dirinya " hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus"-- l:l 2. Empat orang yang bernama "Yakobus " disebutkan dalam Perjanjian Baru: a. Yakobus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Anastasia Jessica Putri Larasati

BAB I PENDAHULUAN. Anastasia Jessica Putri Larasati BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Pengadaan Proyek Paus Benediktus XVI dalam pidatonya pada Hari Penutupan Orang Muda Sedunia (World Youth Day) yang diselenggarakan di Sidney pada 20 Juli 2006 mengingatkan

Lebih terperinci

SISTEM TANAM PAKSA. Oleh: Taat Wulandari

SISTEM TANAM PAKSA. Oleh: Taat Wulandari SISTEM TANAM PAKSA Oleh: Taat Wulandari E-mail: taat_wulandari@uny.ac.id TOKOH-TOKOH PENENTANG TANAM PAKSA 1. Eduard Douwes Dekker (1820 1887) Ia mengarang sebuah buku yang berjudul Max Havelaar (lelang

Lebih terperinci

SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH

SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH l Edisi 048, Februari 2012 P r o j e c t SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH i t a i g k a a n D Sulfikar Amir Edisi 048, Februari 2012 1 Edisi 048, Februari 2012 Sains, Islam, dan Revolusi Ilmiah Tulisan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. hasil penelitian sebagai jawaban dari tujuan penelitian adalah: (1887) dan Kota Raja di Aceh (1881)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. hasil penelitian sebagai jawaban dari tujuan penelitian adalah: (1887) dan Kota Raja di Aceh (1881) BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang berhasil dirangkum oleh penulis berdasarkan hasil penelitian sebagai jawaban dari tujuan penelitian adalah: 1. Penyebaran agama Katolik di

Lebih terperinci

1. Oleh: 2. Taat Wulandari 3.

1. Oleh: 2. Taat Wulandari 3. 1. Oleh: 2. Taat Wulandari 3. E-mail: taat_wulandari@uny.ac.id Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah

Lebih terperinci

BAB VII PENGHARGAAN TERHADAP HIDUP MANUSIA

BAB VII PENGHARGAAN TERHADAP HIDUP MANUSIA BAB VII PENGHARGAAN TERHADAP HIDUP MANUSIA 1 A. KEKERASAN DAN BUDAYA KASIH MATERI AGAMA KATOLIK XI 1 STANDAR KOMPETENSI 2 Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh

Lebih terperinci

PERADABAN EROPA MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI

PERADABAN EROPA MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI FISIP HI UNJANI CIMAHI 2011 PERADABAN EROPA MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI Revolusi Industri / Inggris Revolusi Perancis Revolusi Bolshevik / Rusia 2 INDUSTRI TERJADI PADA ABAD 18 DAN 19 TEPATNYA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat, memacu orang untuk semakin meningkatkan intensitas aktifitas dan kegiatannya. Tingginya intensitas

Lebih terperinci

Pertanyaan Alkitabiah Pertanyaan Bagaimanakah Orang Yang Percaya Akan Kristus Bisa Bersatu?

Pertanyaan Alkitabiah Pertanyaan Bagaimanakah Orang Yang Percaya Akan Kristus Bisa Bersatu? Pertanyaan Alkitabiah Pertanyaan 21-23 Bagaimanakah Orang Yang Percaya Akan Kristus Bisa Bersatu? Orang-orang yang percaya kepada Kristus terpecah-belah menjadi ratusan gereja. Merek agama Kristen sama

Lebih terperinci

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014)

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) (Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) Para Ibu/Bapak, Suster/Bruder/Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang yang terkasih dalam Kristus, 1. Bersama dengan

Lebih terperinci

Pendekatan Historis Struktural

Pendekatan Historis Struktural Teori modernisasi ternyata mempunyai banyak kelemahan sehingga timbul sebuah alternatif teori yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Kegagalan modernisasi membawa kenajuan bagi negara dunia ketiga

Lebih terperinci

PENGUASAAN TANAH DAN STRUKTUR SOSIAL DI PEDESAAN JAWA

PENGUASAAN TANAH DAN STRUKTUR SOSIAL DI PEDESAAN JAWA PENGUASAAN TANAH DAN STRUKTUR SOSIAL DI PEDESAAN JAWA Indonesia lahir sebagai sebuah negara republik kesatuan setelah Perang Dunia II berakhir. Masalah utama yang dihadapai setelah berakhirnya Perang Dunia

Lebih terperinci