Menakar Nawa Cita Jokowi-JK dalam Terang Ajaran Sosial Gereja. Oleh: Bonifasius Falakhi (PMKRI 2013)

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Menakar Nawa Cita Jokowi-JK dalam Terang Ajaran Sosial Gereja. Oleh: Bonifasius Falakhi (PMKRI 2013)"

Transkripsi

1 Menakar Nawa Cita Jokowi-JK dalam Terang Ajaran Sosial Gereja Oleh: Bonifasius Falakhi (PMKRI 2013) Pendahuluan Pada saat maju dalam pemilihan presiden dan wapres yang lalu, pasangan capres Jokowi- JK mengusung visi misi yang kurang lebih adalah konsep Trisakti Soekarno. Dengan visi misi itu, pasangan Jokowi-JK berhasil meyakinkan rakyat Indonesia untuk memilih mereka sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia Dalam visi misi itu, terdapat sembilan program nyata yang dinamakan Nawa Cita. Itulah janji - ditandai dengan kata akan di setiap poin yang ditawarkan. Sosialisasi visi dan misi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden selama masa kampanye dimaksudkan untuk menunjukkan kepada rakyat apa yang hendak dilakukan oleh sepasang calon kalau mereka diberi kekuasaan dan mandat sebagai presiden dan wakil presiden. Melalui program nyata tersebut, rakyat Indonesia berharap martabatnya lebih dimuliakan dan lebih sejahtera daripada selumnya. Kini, Jokowi-JK telah secara resmi menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Dengan demikian mereka mendapatkan legitimasi untuk menjalankan roda pemerintahan yang diharapkan sesuai/sejalan dengan apa yang mereka janjikan. Kita sebagai warga masyarakat khusunya sebagai organisasi yang berusaha di lapangan kemasyarakatan/kenegaraan - tidak cukup hanya berharap Jokowi-JK dapat memenuhi janjinya. Lebih dari itu, kita diharapkan untuk bisa mengawal, mengawasi, mengkritisi, dan mengingatkan pelaksanaan dari Nawa Cita tersebut. Untuk dapat bersikap dengan tepat, tentunya kita mesti mengetahui secara mendalam substansi dari Nawa Cita itu sendiri. Sehingga dengan demikian legitimasi kekuasaan Jokowi-JK semakin dikuatkan untuk dipergunakan demi kepentingan umum dan kesejahteraan sosial. Ajaran Sosial Gereja sebagai Pisau Kritik Sebagai anggotapmkri yang berjuang untuk Gereja dan Tanah Air, arah dan dasar spiritualitas dan perjuangan kita adalah Ajaran Sosial Gereja (ASG). ASG merupakan dokumen Gereja hasil konsili (rapat para Uskup) atau pemikiran Paus (ensiklik) sebagai

2 wujud komitmen Gereja atas permasalahan sosial umat manusia. ASG menurut Sollicitudo Rei Socialis (ensiklik tentang Keprihatinan Sosial bagi perayaan tahun ke-20 Populorum progressio) merupakan seperangkat: o Asas untuk refleksi; o Tolok ukur untuk penilain; o Petunjuk pelaksanaan untuk bertindak yang bertujuan untuk memajukan sebuah humanisme Sebagai pejuang Gereja hendaknya menyadari bahwa keterlibatan kita dalam perjuangan sosial mau tidak mau adalah keterlibatan praksis, tidak cukup dengan hanya beretorika (dalam Mater et Magistra disebutkan bahwa orang-orang Katolik harus mendapat pendidikan dan menjadi dewasa dalam Ajara Sosial Gereja baik dalam tingkah laku sosial maupun ekonomi). Keterlibatan secara praksis tersebut harus selalu berpatokan pada nilai-nilai yang merupakan sendi utama ASG yaitu: 1. Hak dan Kewajiban Asasi Manusia. Hak tersebut adalah hak untuk hidup, hak atas nilai-nilai moral dan budaya, hak untuk beragama/berkepercayaan, hak-hak ekonomis, hak berorganisasi dan berserikat, hak imigrasi dan emigrasi, hak-hak politik; 2. Kepentingan/kesejahteraan/kemaslahatan umum, yakni kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan setiap orang atau kelompok mencapai kesempurnaan secara optimal dan relatif mudah; 3. Preferential option for the poor, yakni sikap pengutamaan dan solider terhadap kaum miskin; 4. Keadilan sosial merupakan inti dari ASG yakni keadilan yang pelaksanaannya tergantung dari struktur proses-proses ekonomis, politis, sosial, budaya, dan ideologis dalam masyarakat. 1 Berikut sepuluh dokumen utama yang memuat ASG Gereja Katolik yang secara eksklusif membahas keadilan dan perdamaian: 2 1. Kondis Kerja - Rerum Novarum (Ensiklik Paus Leo XIII, tahun 1891); 1 Frans Magnis Suseno, Etika Politik, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hal Michael J. Schultheis SJ dan Ed P. DeBerri SJ, Pokok Pokok Ajaran Sosial Gereja, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1987, hal. 37.

3 2. Pembangunan Kembali Tatanan Sosial Quadragesimo Anno (Ensiklik Paus Pius XI, tahun 1931); 3. Orang Kristiani dan Kemajuan Sosial Mater et Magistra (Ensiklik Paus Yohanes XXIII, tahun 1961); 4. Perdamaian di Dunia Pacem in Terris (Ensiklik Paus Yohannes XXIII, tahun 1963); 5. Konstitus Pastoral Gereja di Dunia Modern Gaudium et Spes (Konsili Vatikan II, tahun 1965); 6. Perkembangan Bangsa-Bangsa Populorum Progressio (Ensiklik Paus Paulus VI, tahun 1967); 7. Panggilan untuk Bertindak Octogesima Adveniens (Surat Apostolik Paus Paulus VI, tahun 1971); 8. Keadilan di Dunia (Pernyataan Sinode Para Uskup, tahun 1971); 9. Pewartaan Injil di dalam Dunia Modern Evangelii Nuntiandi (Surat Apostolik Paus Paulus VI, tahun 1971); 10. Makna Kerja Manusia Laborem Exercens (Ensiklik Paus Yohanes Paulus II, 1981). Berikut ini, cakupan pembahasan hanya untuk poin 1 dan 2 dari Nawa Cita. Hal itu disebabkan lingkup Nawa Cita yang sangat luas mencakup hampir semua sektor. Selain itu juga menyesuaikan dengan kebutuhan untuk diskusi internal PMKRI Cabang Bandung yang memang bermaksud mengkaji Nawa Cita secara parsial. Mengingat luasnya cakupan Nawa Cita tersebut, maka lebih tepat apabila didalami dengan pendekatan multi/interdidipliner. Artinya, dapat dikaji dari berbagai disiplin/bidang ilmu. Pembahasan cita pertama dan kedua berikut lebih menekankan pada aspek rasionalitas yang memang terkesan abstrak dengan berpatokan pada ASG. Makna 1. Pertama-tama harus dilihat sebagai jawaban konkrit atas salah satu problema dasar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini yakni adanya ancaman nyata terhadap kewibawaan negara akibat lemahnya atau bahkan mungkin absennya negara dalam memberikan rasa aman bagi warganya. Perlindungan terhadap segenap warga negara merupakan tujuan negara Indonesia sebagaimana tercantum dalam alinea 4

4 Pembukaan UUD Dalam konteks tujuan ini, negara hadir dengan menawarkan kesejahteraan 2. Karena itu menjadi janji dari presiden dan wakil presiden terpilih untuk mengarahkan pemerintahannya kembali pada tujuan bernegara tersebut. 3. Merupakan cetak biru atau landasan dalam pembuatan kebijakan yang meliputi penetapan tujuan dan sasaran, penyusunan strategi, pelaksanaan program dan fokus kegiatan serta langkah-langkah atau implementasi yang harus dilaksanakan oleh pemerintahan Jokowi-JK ke depan. Cita Pertama: Tugas Dasariah Negara Cita pertama dan kedua Nawa Cita merupakan prioritas utama Jokowi-JK untuk menegakkan kedaulatan dalam politik. Hal itu merupakan penjabaran dari kosep Trisakti poin pertama. Wujudnya adalah membangun demokrasi politik yang berdasarkan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Hal ini lebih menekankan pada fungsi dari perangkat pemerintahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perangkat pemerintahan (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) adalah tonggak utama dalam mencapai tujuan bernegara. Cita pertama bicara soal apa yang seharusnya dilakukan oleh perangkat negara, sedangkan cita kedua bicara soal bagaimana seharusnya perangkat negara tersebut bertindak untuk mewujudkan cita pertama dan apa yang Jokowi-JK janjikan di beberapa cita berikutnya. Cita atau agenda prioritas pertama dalam Nawa Cita adalah: Menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga Negara. Agenda ini menjadi prioritas Jokowi-JK sehingga ditempatkan di urutan pertama. Hal itu dapat dilihat sebagai hasil refleksi dari keadaan dimana negara tidak berdaya memberikan memberikan rasa aman bagi segenap warga negara; seperti membiarkan pelanggaran HAM; lemah dalam penegakan hukum; dan tidak berdaya dalam mengelola konflik sosial. Selain itu juga adalah karena kehadiran negara selama ini hanya dirasakan oleh segelintir elit/negarawan belaka.

5 Hal tersebut merupakan pengingkaran terhadap tujuan bernegara. Dalam konstitusi kita jelas dikatakan bahwa tujuan negara Indonesia adalah: 1. Di lingkup nasional: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; dan mencerdaskan kehidupan bangsa. 2. Di lingkup global: melaksanakan ketertiban dunia. Pokok dari empat tujuan bernegara tersebut bertumpu pada usaha memajukan kesejahteraan umum untuk menunjang tercapainya kesejahteraan anggota masyarakat. Negara dengan alat kekuasaan politiknya hendak meningkatkan kesejahteraan umum. Menurut Frans Magnis Suseno dalam bukunya Etika Politik, kesejahteraan umum dirumuskan sebagai: 3 1. Keseluruhan prasyarat-prasyarat sosial yang memungkinkan atau memudahkan manusia untuk mengembangkan semua nilainya. 2. Jumlah semua kondisi sosial yang diperlukan agar masing-masing individu, keluargakeluarga, dan kelompok-kelompok masyarakat dapat mencapai keutuhan atau perkembangan mereka dengan leibh utuh dan cepat. Ukuran kesejahteraan adalah apabila orang merasa bebas dari lapar, takut, tertindas, tidak adil. Sejahtera juga apabila orang merasa aman, tenteram, bebas mengaktualisasi dirinya sendiri. Untuk mencapai prasyarat dan kondisi tersebut, negara hadir dalam bentuk tatanan hukum yang menjadi dasar kebijaksanaan-kebijaksanaan konkrit yang mau diambil (enam poin konkrit pelaksanaan cita pertama). Melalui hukum negara harus memajukan kepentingan umum dalam kerangka kesamaan, kebebasan dan solidaritas masyarakatnya. Ketiganya disempurnakan oleh prisnsip kemanfaatan, dimana kehadiran negara harus bermanfaat karena untuk itulah negara dibentuk. Kehadiran negara dalam bentuk tatanan hukum dan perangkat kebijakan bertujuan untuk menjamin tatanan sosial secara optimal. Kelemahan Jika dibaca sepintas, agenda priorirtas pertama terkesan sangat konkrit dan reliable, namun bukan berarti sudah sempurna. Terutama apabila kita melihatnya dari perspektif ASG, ada 3 Supra note 1, hal 314.

6 beberapa hal yang memungkinkan untuk dikritik. Pertama, hadirnya negara untuk meningkatkan kesejahteraan sosial sebagai tujuan umum cita pertama ini bukanlah tanpa batas. Negara hanya dapat mengusahakan prasyarat-prasyarat dan kondisi-kondisi yang memungkinkan anggota masyarakat sejahtera. Harus disadari bahwa negara tdak langsung dapat menciptakan kesejahteraan seseorang. Tindakan negara untuk membuat anggota masyarakat menjadi sejatera, pada titik itu negara jatuh dalam totalitarisme. 4 Seseorang misalnya bisa sejahtera apabila ia dapat bekerja keras sesuai kemampuannya. Tetapi, ia tidak dapat melakukannya apabila struktur ekonomi dalam negaranya bersifat eksploitis. Dalam hal kesejahteraan, Rerum Novarum memandang: - Kesejahteraan Umum merupakan tujuan negara, tetapi semua warga negara memiliki hak berpartisipasi dalam kehidupan negara. - Negara membantu terwujudnya kesejahteraan umum. - Bila perlu ikut campur tangan untuk mencegah kerugian-kerugian yang mengancam keselamatan pribadi dan kesejahteraan umum. Selain itu Quadragesimo Anno melihat bahwa Penguasa sipil: merumuskan peranannya yang positif untuk menegakkan hukum dan tatanan sosial mengusahakan kesejahteraan umum Pacem in Terris lebih jauh memberi batasan hubungan antara individu dan pejabat negara dalam negara. Dokumen tersebut menetapkan ciri-ciri dari kesejahteraan umum yaitu: a. Pribadi harus dihargai; b. Semua warga negara ambil bagian dalam kesejahteraan umum; c. Perhatian yang lebih harus diberikan kepada masyarakat yang kurang beruntung; d. Negara harus memperkembangkan kesejahteraan jasmani dan rohani para warga negara. 4 Menurut Frans Magnis Suseno, totalitalitarisme adalah bentuk keras dari gejala abad ini dimana bidang kehidupan politik, sosial, dan budaya harus terpusat dalam tangan negara dan diatur secara seragam. Kekuasaan negara harus menyeluruh. Dalam totalitarisme, perbedaan lingkungan dan hak hidup antara individu, masyarakat dan negara harus dihapus. Negara hanya mengiyakkan kondisi sosial yang homogen dan menegasi kondisi yang heterogen (Lih. Frans Magnis Suseno, Etika Politik, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hal. 310)

7 Dari hal tersebut telihat bahwa ASG mengakui adanya andil warga negara dalam mengusahakan kesejahteraannya (ciri kesejahteraan umum huruf b). Hal inilah yang disebut prinsip subsidiaritas yaitu aktivitas yang dapat dilaksanakan instansi paling bawah biar tetap dilaksanakan oleh instansi-instansi itu (Quadragesimo Anno). Frans Magnis Suseno membuat lebih terang makna prinsip subsidiaritas dalam Quadragesimo Anno sebagai berikut: Masyarakat atau lembaga yang lebih tinggi kedudukannya (negara) harus memberi bantuan kepada anggota-anggotanya atau lembaga yang lebih terbatas sejauh mereka sendiri tidak dapat menyelesaikan tugas mereka secara memuaskan. Sedangkan apa yang bisa dikerjakan secara memuaskan oleh satuan-satuan masyarakat. 5 Prinsip ini berdasar pada penghormatan terhadap martabat manusia yang berakal budi, bebas, dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Maka supaya negara tidak jatuh dalam totalitarisme, prinsip ini harus diperhatikan. Memang tidak bisa dioperasionalkan karena sifatnya etis, tetapi prinsip ini menentukan tugas dan pelaksanaan fungsi negara dalam masyarakat. Sepanjang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi negara di cita selanjutnya, maka prinsip ini mesti selalu diperhatikan. Kedua, besarnya anggaran bagi pertahanan dalam rangka tugas perlindungan negara perlu dipertanyakan urgensinya. Apakah memang benar-benar mendesak ataukah hanya untuk menunjukkan arogansi kekuatan militer kepada negara lain? Mengenai hal tersebut, Mater et Magistra berpandangan: - ketidakseimbangan dunia disebabkan oleh terlalu banyak uang yang dibelanjakan demi gengsi nasional dan persenjataan; - kerjasama internasional: karena kecurigaan timbul kegagalan dalam mencapai kesepakatan hukum dan keadilan. Usaha mempersenjatai diri adalah pertanda rasa curiga itu. Lebih jauh Pacem in Terris, melihat pembangnan industri persenjataan sebagai: - Karena persenjataan modern, manusia ada dalam situasi kritis; 5 Supra note 1, hal. 308

8 - Dibutuhkan evaluasi perang akibat persenjataan baru; - Lomba senjata bukanlah cara untuk menciptakan perdamaian; tetapi pada kenyataannya hanya mendukung peperangan; - Perkembangan persenjataan menginjak martabat kaum miskin. Usaha negara untuk memberikan rasa aman kepada warganya bisa dilakuakan dengan caracara preventif dengan intensi mengusahakan perdamaian. Menganggarkan secara berlebihan belanja pertahanan adalah suatu pemborosan apabila anggaran untuk itu lebih besar dibandingkan dengan anggaran sektor lain yang lebih urgent sifatnya. Wajib dipertanyakan proporsionalitas antara anggaran belanja militer dengan anggaran untuk program pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Ketiga, Pembangunan institusi POLRI sebagai penjaga keamanan dan ketertiban hanya sebatas pembangunan institusional/kelembagaan. Agenda untuk itu belum menyentuh penguatan dan penjelasan fungsi POLRI bagi masyarakat. Membuat POLRI semakin secara institusional dan struktural, tanpa refungsionalisasi hanya akan mereduksi kebebasan berekspresi warga negara. POLRI juga akan tetap bahkan semakin represif jika pengawasannya kurang. Kehadiran POLRI selama ini hanya dirasakan apabila terjadi masalah (kuratif). Seharusnya, fungsi yang paling penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban adalah fungsi preventif dari POLRI. Selanjutnya, agenda mengenai pembangunan POLRI belum menjawa tantangan penegakan HAM. Dirasakan bahwa dalam melaksanakan tugasnya, anggota POLRI sulit menghindari pelanggaran HAM. Hal ini banyak dilakukan oleh oknum POLRI pada saat penyidikan tanpa memperhatikan hak-hak tersangka. Mengenai hal itu, Paus Yohane Paulus II berkata: Pada tahap investigasi, aturan harus diperhatikan dengan seksama bahwa praktik siksaan fisik dilarang, meskipun perkara tersebut berkaitan dengan perkara berat : Murid-murid Kristus menolak secara spontan penggunaan sarana yang tidak pernah dapat dibenarkan dan melecehkan pribadi manusia baik yang tersiksa maupun penyiksa. 6 6 Amanat pada Komite Internasional Palang Merah (L Osservatore Romano)

9 Pengawasan yang selama ini dilakukan oleh Kompolnas dalam Nawa Cita akan diperluas degan membentuk Kompolda. Namun, pengawasan yang dilakukan oleh lembaga tersebut hanya sebatas pada memberikan pertimbangan kepada presiden mengenai pengangkatan pemberhentian. Selain itu, Menerima saran dan keluhan masyarakat mengenai kinerja kepolisian dan menyampaikan kepada Presiden. Keluhan adalah pengaduan masyarakat yang menyangkut penyalahgunaan wewenang dugaan korupsi pelayanan yang buruk, perlakuan diskriminasi, dan penggunaan diskresi yang keliru. Jika hanya sebatas itu maka fungsi pengawasan Kompolnas sangatlah lemah karena tidak bisa memberikan tindakan langsung kepada anggota POLRI yang menyeleweng. Hendaknya pemerintah baru juga menyadari bahwa tingginya angka kejahatan yang memberangus kesejahteraan umum berbanding lurus dengan tingginya angka kemiskinan dan ketidakadilan. Hal ini diafirmasi oleh Populorum Progressio dengan berpandangan: dengan situasi ketidak adilan, jalan menuju kekeerasan merupakan godaan besar. Artinya, usaha untuk menekan angka kejahatan adalah dengan meningkatkan kesejahteraan seperti telah diulas di atas. Ini merupakan bentuk preventif mencegah kejahatan. Cita Kedua Cita kedua adalah bagaimana seharusnya negara melaksanakan tugas dan fungsinya. Cita kedua berbunyi: Membuat pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya Dalam konteks internasional gagasan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah resolusi dari The Council of the EuropeanCommunity yang membahas Human Rights, Democracy and Development. Di dalam resolusi itu disebutkan, diperlukan beberapa prasyarat lain untuk dapat mewujudkan sustainable development (pembangunan berkelanjutan), yaitu mendorong penghormatan atas hak asasi manusia,mempromosikan nilai demokrasi, dan mewujudkan good governance. Dalam konteks Indonesia, agenda ini pada titik tertentu dapat dipahami sebagai perwujudan kedaulatan rakyat. Hal ini terhadi karena legitimasi yang diperoleh pelaksana tugas

10 pemerintahan berasal dari rakyat. Artinya, wewenang untuk memerintah orang lain harus berdasarkan atau sesuai dengan tatanan masyarakat. Setiap orang berhak untuk turut serta dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut seluruh masyarakat. Tata kelola pemerintahan yang baik juga harus dipahami bagaimana masyarakat memberikan kepercayaan kepada pemerintah sehingga mampu menyelenggarakan pemerintahan yang tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang. Tata kelola pemerintahan yang baik adalah sistem dimana pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan berjalan dengan baik. Artinya, semua unsur dalam pemerintahan dapat bergerak secara sinergis, tidak saling berbenturan, memperoleh dukungan dari rakyat serta terbebas dari gerakan-gerakan anarkis yang bisa menghambat proses dan laju pembangunan. Tata kelola pemerintahan yang baik adalah jawaban atas dua masalah besar dalam proses pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Masalah tersebut yaitu korupsi dan birokrasi yang berbelit-belit. Selain itu, merupakan tuntutan gerakan globalisasi yang mensyaratkan penghormatan prinsip-prinsip demokrasi. UNDP (1997) mengemukakan bahwa karakteristik atau prinsip yang harus dianut dandikembangkan dalam praktik penyelenggaraan kepemerintahan yang baik, meliputi : a. Partipasi (participation). Setiap orang atau warga masyarakat, baik laki-lakimaupun perempuan, memiliki hak suara yang sama dalam proses pengambilankeputusan, baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan, sesuai dengankepentingan dan aspirasinya masing-masing; b. Aturan Hukum (rule of law). Kerangka aturan hukum dan perundang-undanganharus berkeadilan, ditegakkan, dan dipatuhi secara utuh, terutama aturan hukumtentang hak asasi manusia; c. Transparansi (transparency). Transparansi harus dibangun dalam kerangkakebebasan aliran informasi; d. Daya Tanggap (responsiveness). Setiap institusi dan prosesnya harus diarahkanpada upaya untuk melayani berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders); e. Berorientasi Konsensus (consensus orientation). Pemerintahan yang baik akan bertindak sebagai penengah bagi berbagai kepentingan yang berbeda untuk mencapai

11 konsesus atau kesempatan yang terbaik bagi kepentingan masing- masing pihak, dan jika dimungkinkan juga dapat diberlakukan terhadap berbagaikebijakan dan prosedur yang akan ditetapkan pemerintah; f. Berkeadilan (equity). Pemerintahan yang baik akan memberi kesempatan yang baik terhadap laki-laki maupun perempuan dalam upaya mereka untuk meningkatkan dan memelihara kualitas hidupnya; g. Efektif dan efisien (effectivieness and efficiency). Setiap proses keiatan dankelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuaidengan kebutuhan melalui pemanfaatan berbagai sumber-sumber yang tersediadengan sebaik-baiknya; h. Akuntabilitas (accountability). Para pengambil keputusan dalam organisasi sektorpublik, swasta, dan masyarakat madani memiliki pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada publik (masyarakat umum), sebagaimana halnya kepada para pemangku kepentingan (stakeholders); i. Visi Strategis (strategic holders). Para pemimpin dan masyarakat memilikiperspektif yang luas dan jangka panjang tentang penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, bersamaan dengan dirasakannya kebutuhanuntuk pembangunan tersebut. Dalam tataran teknis, keterbukaan (transparency) adalah unsur utama dan pertama Tata Kelola Pemerintahan yang Baik. Dengan hal itu, memungkinkan setiap warga negara mengawasi dan menilai pelaksanaan pemerintahan. Berkaitan dengan hal itu, pada saat debat capres-cawapres yang lalu, Jokowi berjanji akan mewajibkan instansi pemerintah pusat dan daerah membuat laporan kinerja serta membuka akses informasi publik seperti diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Kelemahan Pertama. Ketidakstabilan politik, penegakan hukum yang belum benar-benar mantap, dan masih rendahnya kepercayaan masyarakat kepada pejabat dan aparat publik, tentunya akan

12 mengurangi efektivitas implementasi UU KIP. Hal ini akan berpengaruh buruk bagi implementasi Tata Kelola Pemerintahan yang baik. Kedua, menjunjung tinggi prinsip efektivitas dengan menggabungkan beberapa instansi dalam satu atap akan menimbulkan ego sektoral dari orang yang bekerja di dalamnya yang tidak mau digabung. Hal ini akan berpengaruh negatif terhadap kinerja instiusinya sebagai pelayan publik. Ketiga, instansi yang bergerak di bidang reformasi birokrasi masih jamak. Hal ini menimbulkan konflik kewenangan dari instansi tersebut. Saat ini, instansi tersebut adalah Kemenpan-RB, Badan Kepegawaian Negara, dan Komisi Aparatur Sipil Negara. Pada titik tertentu, konflik yang terjadi akan tetap melanggengkan birokrasi yang buruk. ASG tidak banyak memberikan pandangan atas pengelolaan pemerintahan, namun dari penelusuran terdapat beberapa hal yang berkaitan, di antaranya: 1. Pacem in Terris, mengatakan bahwa tugas pejabat negara adalah: a. Memberikan perhatian yang utama untuk menjamin kesejahteraan umum b. Fungsi negara: mengkoordinasikan hubungan-hubungan sosial dengan cara memungkinkan rakyat untuk melaksanakan hak dan kewajiban mereka dengan damai c. Prasyarat bagi pemerintah yang baik: - Piagam HAM - Perundang-undangan tertulis - Hubungan-hubungan yang diperintah dan yang memerintah dalam rangka hakhak dan kewajiban. 2. Imabuan Apostolik Paus Yohanes Paulus II Christifideles Laici, mengatakan: a. Mereka yang memikul tanggung jawab politik tidak boleh melupakan atau meremehkan matra etis prinsip keterwakilan yang diungkapkan lewat imperatif bahwa setiap orang ambil bagian pada nasib rakyat dan berjuang untuk menemukan solusi bagi setiap persoalan sosial itu. Di sini otoritas yang bertanggung jawab berarti otoritas yang dijalankan dengan bantuan kebajikan yang mengutamakan praktik kekuasaan dalam semangat pelayanan (kesabaran, kerendahan hati, kesederhanaan, cinta kasih, kesediaan untuk membagi); otoritas seperti ini dijalankan oleh

13 pribadipribadi yang dalam tindakannya mampu menjadikan kesejahteraan umum sebagai tujuan, dan bukan popularitas atau keuntungan pribadi. b. Lembaga-lembaga itu menjadi lebih rumit lagi dalam organisasi mereka dan menganggap diri bisa mengatur setiap bidang yang ada. Pada akhirnya proyekproyek semacam itu kehilangan daya gunanya sebagai akibat fungsionalisme yang tidak mengenai orang tertentu, birokrasi yang berlebih-lebihan, kepentingankepentingan pribadi yang tidak adil serta lepasnya kesadaran akan kewajiban secara terlalu gampang dan tergeneralisasi. 845 Peran orang-orang yang bekerja pada administrasi publik tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang apersonal dan birokratis, tetapi sebagai bantuan yang diberikan dalam semangat pelayanan bagi warga masyarakat. 3. Paus Yohanes Paulus II dalam Amanat Hari Perdamaian Sedunia, mengatakan: Baik pada tatanan nasional, regional maupun komunal birokrasi publik sebagai alat negara bertujuan untuk melayani warga negara: Sebagai pelayan bagi warga masyarakat, negara merupakan pengelola harta kekayaan rakyat yang harus digunakan demi kesejahteraan umum 4. Kepada warga negara, Octogesima Adveniesn, mengatakan: Kegiatan politis bagi masyarakat demokratis merupakan hal yang sejalan dengan panggilan manusia secara menyeluruh. Manusia tidak dapat lagi menyandarkan diri hanya pada kegiatan ekonomis. penutup Ketika muncul pertanyaan sebagai sinyak kegalauan tentang bagaimana menyikapi pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Jokowi, sikap kita jelas yaitu tidak cukup hanya berharap Jokowi-JK dapat memenuhi janjinya. Lebih dari itu, kita diharapkan untuk bisa mengawal, mengawasi, mengkritisi, dan mengingatkan pelaksanaan dari Nawa Cita tersebut. Untuk dapat bersikap dengan tepat, tentunya kita mesti mengetahui secara mendalam substansi dari Nawa Cita itu sendiri. Sehingga dengan demikian legitimasi kekuasaan Jokowi-JK semakin dikuatkan untuk dipergunakan demi kepentingan umum dan kesejahteraan sosial. Patokan kita jelas yaitu Ajaran Sosial Gereja. Berikut cara-cara yang ditawarkan oleh Mater

14 et Magistra untuk menerapkan Ajaran Sosial Gereja dan mendadi tugas kita sebagai kaum awam: 1. Meneliti dan mengamati (observasi) fennomena-fenomena sosial yang terjadi. Hal ini membutuhkan kepekaan dan kemampuan kita untuk membaca tanda-tanda zaman (dibahas di diskusi selanjutnya); 2. Mengevaluasi fenomena-fenomena tersebut dalam hubungannya dengan Ajaran sosial Gereja (menilai); 3. Membuat keputusan untuk bertindak (aksi). --- Selamat Berdiskusi ---

Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan Modul ke: 14 Dosen Fakultas Fakultas Ilmu Komunikasi Pendidikan Kewarganegaraan Berisi tentang Good Governance : Sukarno B N, S.Kom, M.Kom Program Studi Hubungan Masyarakat http://www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sesuai dengan UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah selanjutnya

BAB 1 PENDAHULUAN. sesuai dengan UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah selanjutnya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kinerja instansi pemerintah kini menjadi sorotan dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap penyelenggaraan administrasi publik. Masyarakat sering

Lebih terperinci

Good Governance: Mengelola Pemerintahan dengan Baik

Good Governance: Mengelola Pemerintahan dengan Baik Good Governance: Mengelola Pemerintahan dengan Baik KOSKIP, KAJIAN RUTIN - Sejak lahir seorang manusia pasti berinteraksi dengan berbagai kegiatan pemerintahan hingga ia mati. Pemerintahan merupakan wujud

Lebih terperinci

Title? Author Riendra Primadina. Details [emo:10] apa ya yang di maksud dengan nilai instrumental? [emo:4] Modified Tue, 09 Nov :10:06 GMT

Title? Author Riendra Primadina. Details [emo:10] apa ya yang di maksud dengan nilai instrumental? [emo:4] Modified Tue, 09 Nov :10:06 GMT Title? Author Riendra Primadina Details [emo:10] apa ya yang di maksud dengan nilai instrumental? [emo:4] Modified Tue, 09 Nov 2010 14:10:06 GMT Author Comment Hafizhan Lutfan Ali Comments Jawaban nya...

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. informasi dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. Kemampuan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. informasi dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. Kemampuan tersebut 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Era Globalisasi, yang ditandai antara lain dengan adanya percepatan arus informasi menuntut adanya sumber daya manusia yang mampu menganalisa informasi dan

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PENGADILAN AGAMA TUAL TUAL, PEBRUARI 2012 Halaman 1 dari 14 halaman Renstra PA. Tual P a g e KATA PENGANTAR Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NKRI) tahun 1945

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terlalu dominan. Sesuai konsep government, negara merupakan institusi publik

BAB I PENDAHULUAN. terlalu dominan. Sesuai konsep government, negara merupakan institusi publik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konsep governance dikembangkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap konsep government yang terlalu meletakkan negara (pemerintah) dalam posisi yang terlalu dominan. Sesuai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui implementasi desentralisasi dan otonomi daerah sebagai salah satu realita

I. PENDAHULUAN. melalui implementasi desentralisasi dan otonomi daerah sebagai salah satu realita I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatkan peranan publik ataupun pembangunan, dapat dikembangkan melalui implementasi desentralisasi dan otonomi daerah sebagai salah satu realita yang kompleks namun

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

PENJELASAN ATAS UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK PENJELASAN ATAS UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK I. UMUM Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 F disebutkan bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keamanan dalam negeri

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. publik. Pemahaman mengenai good governance berbeda-beda, namun sebagian

BAB 1 PENDAHULUAN. publik. Pemahaman mengenai good governance berbeda-beda, namun sebagian 15 BAB 1 PENDAHULUAN 1.7 Latar Belakang Masalah Konsep good governance muncul karena adanya ketidakpuasan pada kinerja pemerintahan yang selama ini dipercaya sebagai penyelenggara urusan publik. Pemahaman

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MATERI AUDIENSI DAN DIALOG DENGAN FINALIS CERDAS CERMAT PANCASILA, UUD NEGARA RI TAHUN 1945, NKRI, BHINNEKA TUNGGAL IKA, DAN KETETAPAN MPR Dr. H. Marzuki Alie

Lebih terperinci

KEWARGANEGARAAN. Modul ke: GOOD GOVERNANCE. Fakultas FEB. Syahlan A. Sume. Program Studi MANAJEMEN.

KEWARGANEGARAAN. Modul ke: GOOD GOVERNANCE. Fakultas FEB. Syahlan A. Sume. Program Studi MANAJEMEN. KEWARGANEGARAAN Modul ke: GOOD GOVERNANCE by Fakultas FEB Syahlan A. Sume Program Studi MANAJEMEN www.mercubuana.ac.id Pokok Bahasan : 1. Pengertian, Konsep dan Karakteristik Good Governance. 2. Prinsip-prinsip

Lebih terperinci

Anggaran Dasar. Konsil Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia [INDONESIAN NGO COUNCIL) MUKADIMAH

Anggaran Dasar. Konsil Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia [INDONESIAN NGO COUNCIL) MUKADIMAH Anggaran Dasar Konsil Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia [INDONESIAN NGO COUNCIL) MUKADIMAH Bahwa kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat adalah salah satu hak asasi manusia yang sangat

Lebih terperinci

RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA INDONESIA TAHUN

RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA INDONESIA TAHUN LAMPIRAN I KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TANGGAL 11 MEI 2004 RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA INDONESIA TAHUN 2004 2009 I. Mukadimah 1. Sesungguhnya Hak Asasi Manusia

Lebih terperinci

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4 1 TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4 DISUSUN OLEH: NAMA NIM PRODI : IIN SATYA NASTITI : E1M013017 : PENDIDIKAN KIMIA (III-A) S-1 PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM

Lebih terperinci

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH Deklarasi Hak dan Kewajiban Individu, Kelompok dan Badan-badan Masyarakat untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar yang Diakui secara Universal Diadopsi oleh resolusi Majelis

Lebih terperinci

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA Modul ke: PANCASILA PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA Fakultas 10FEB Melisa Arisanty. S.I.Kom, M.Si Program Studi MANAJEMEN PANCASILA SEBAGAI ETIKA BERNEGARA Standar Kompetensi : Pancasila sebagai Sistem

Lebih terperinci

KOMISI YUDISIAL BARU DAN PENATAAN SISTEM INFRA-STRUKTUR ETIKA BERBANGSA DAN BERNEGARA. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1.

KOMISI YUDISIAL BARU DAN PENATAAN SISTEM INFRA-STRUKTUR ETIKA BERBANGSA DAN BERNEGARA. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1. KOMISI YUDISIAL BARU DAN PENATAAN SISTEM INFRA-STRUKTUR ETIKA BERBANGSA DAN BERNEGARA Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1. A. PERKEMBANGAN KONTEMPORER SISTEM ETIKA PUBLIK Dewasa ini, sistem etika memperoleh

Lebih terperinci

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

PENERAPAN GOOD GOVERNANCE DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Suatu Studi pada Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro)

PENERAPAN GOOD GOVERNANCE DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Suatu Studi pada Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro) PENERAPAN GOOD GOVERNANCE DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Suatu Studi pada Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro) Oleh MELANI DWIYANTI SELAMAT Abstraksi Berkembangnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumarto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 1-2

BAB I PENDAHULUAN. Sumarto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 1-2 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penelitian Governance disini diartikan sebagai mekanisme, praktik, dan tata cara pemerintah dan warga mengatur sumber daya serta memecahkan masalahmasalah publik. Dalam

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No. 5343 PERTAHANAN. Industri. Kelembagaan. Penyelenggaraan. Pengelolaan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 183) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

BAB 11 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN

BAB 11 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN BAB 11 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA Hak asasi merupakan hak yang bersifat dasar dan pokok. Pemenuhan hak asasi manusia merupakan suatu keharusan agar warga negara

Lebih terperinci

2017, No Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 23, Tambahan Lembaran Neg

2017, No Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 23, Tambahan Lembaran Neg No.1748, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DKPP. Kode Etik dan Pedoman Perilaku. PERATURAN DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG KODE ETIK DAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MELAWI NOMOR 12 TAHUN 2011 T E N T A N G KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATEN

Lebih terperinci

- 1 - BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI

- 1 - BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI - 1 - LAMPIRAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL TAHUN 2015-2019. BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI

Lebih terperinci

POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012

POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012 POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012 UNTUK PENCERAHAN DAN SOLUSI PERMASALAHAN BANGSA Muhammadiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen bangsa. Oleh karena itu, Muhammadiyah sangat peduli atas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kerangka Teoritis 2.1.1 Pemerintahan Daerah Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menyatakan bahwa, Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan berapapun bantuan yang diberikan kepada negara-negara berkembang, pasti habis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan berapapun bantuan yang diberikan kepada negara-negara berkembang, pasti habis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paradigma good governance muncul sekitar tahun 1990 atau akhir 1980-an. Paradigma tersebut muncul karena adanya anggapan dari Bank Dunia bahwa apapun dan berapapun bantuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA

PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA (Makalah Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas MK Pendidikan Pancasila) Dosen : Abidarin Rosidi, Dr, M.Ma. Disusun Oleh: Nama : WIJIYANTO

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2015 TANGGAL 22 JUNI 2015 RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA TAHUN BAB I

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2015 TANGGAL 22 JUNI 2015 RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA TAHUN BAB I LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2015 TANGGAL 22 JUNI 2015 RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA TAHUN 2015-2019 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Komitmen Negara Republik

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: UU 28-1997 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 2, 2002 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

GOOD GOVERNANCE. Udjiani Hatiningrum, SH.M Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi Akuntansi Manajemen

GOOD GOVERNANCE. Udjiani Hatiningrum, SH.M Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi Akuntansi Manajemen GOOD GOVERNANCE Modul ke: 14 Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Program Studi Akuntansi Manajemen 1. Pengertian Good Governance dan Latar Belakangnya. 2. Prinsip dan Konsepsi Good Governance. 3. Karakteristik

Lebih terperinci

PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1

PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1 --------- MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Oleh: Moh. Mahfud MD 2 Hukum dan Pemerintahan dalam Kehidupan Bernegara Di era modern, negara sebagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teknologi informasi dipercaya sebagai kunci utama dalam sistem informasi manajemen. Teknologi informasi ialah seperangkat alat yang sangat penting untuk bekerja

Lebih terperinci

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU No.547, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DPR-RI. Kode Etik. PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

LAPORAN SINGKAT PANJA RUU APARATUR SIPIL NEGARA KOMISI II DPR RI

LAPORAN SINGKAT PANJA RUU APARATUR SIPIL NEGARA KOMISI II DPR RI TERBATAS (Untuk Kalangan Sendiri) LAPORAN SINGKAT PANJA RUU APARATUR SIPIL NEGARA KOMISI II DPR RI (Bidang Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kepemiluan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga 22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Implementasi Implementasi adalah proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga dimaksudkan menyediakan sarana

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 120 Undangundang

Lebih terperinci

*40931 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 32 TAHUN 2004 (32/2004) TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA

*40931 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 32 TAHUN 2004 (32/2004) TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA Copyright (C) 2000 BPHN PP 32/2004, PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA *40931 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 32 TAHUN 2004 (32/2004) TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PRESIDEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh negara, telah terjadi pula perkembangan penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB V GEREJA DAN DUNIA

BAB V GEREJA DAN DUNIA 1 BAB V GEREJA DAN DUNIA STANDAR KOMPETENSI Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan ber-gereja sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Development is not a static concept. It is continuously changing. Atau bisa

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) UNIT PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PPID RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK Melayani Informasi, Memajukan Negeri 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu prasyarat penting dalam

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI DAN TUJUAN PEMERINTAHAN KABUPATEN SOLOK TAHUN

BAB V VISI, MISI DAN TUJUAN PEMERINTAHAN KABUPATEN SOLOK TAHUN BAB V VISI, MISI DAN TUJUAN PEMERINTAHAN KABUPATEN SOLOK TAHUN 2011-2015 5.1. Visi Paradigma pembangunan moderen yang dipandang paling efektif dan dikembangkan di banyak kawasan untuk merebut peluang dan

Lebih terperinci

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA. Modul ke: 06Teknik. Fakultas. Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi MKCU

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA. Modul ke: 06Teknik. Fakultas. Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi MKCU Modul ke: HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA Fakultas 06Teknik Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi MKCU A. PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN Hak adalah kekuasaan seseorang untuk melakukan sesuatu untuk melakukan

Lebih terperinci

MENDENGARKAN HATI NURANI

MENDENGARKAN HATI NURANI Mengejawantahkan Keputusan Kongres Nomor Kep-IX / Kongres XIX /2013 tentang Partisipasi Dalam Partai Politik dan Pemilu Wanita Katolik Republik Indonesia MENDENGARKAN HATI NURANI Ibu-ibu segenap Anggota

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI

BAB IV VISI DAN MISI BAB IV VISI DAN MISI A. DASAR FILOSOFIS Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah memerlukan satu filosofi pembangunan yang memiliki cakrawala yang luas dan mampu menjadi pedoman bagi daerah untuk

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.906, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA. Pemilu. Penyelenggara Kode Etik. PERATURAN BERSAMA KOMISI PEMILIHAN UMUM, BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM, DAN DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA

Lebih terperinci

1.1. Kondisi Umum Potensi dan Permasalahan 5 DAFTAR ISI. Hal BAB II VISI, MISI DAN TUJUAN Visi Misi

1.1. Kondisi Umum Potensi dan Permasalahan 5 DAFTAR ISI. Hal BAB II VISI, MISI DAN TUJUAN Visi Misi KATA PENGANTAR Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, perencanaan strategik merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampu menjawab tuntutan lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di berbagai bidang memerlukan tenaga yang berkualitas, yaitu manusia yang dapat. kualitas sumber daya manusia yang tinggi pula..

BAB I PENDAHULUAN. di berbagai bidang memerlukan tenaga yang berkualitas, yaitu manusia yang dapat. kualitas sumber daya manusia yang tinggi pula.. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kehidupan di era globalisasi dan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat di berbagai bidang memerlukan tenaga yang berkualitas, yaitu manusia yang dapat bersaing

Lebih terperinci

PELAYANAN INFORMASI PUBLIK

PELAYANAN INFORMASI PUBLIK KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA UNIT PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PPID RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Salah satu prasyarat penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. media yang didesain secara khusus mampu menyebarkan informasi kepada

BAB I PENDAHULUAN. media yang didesain secara khusus mampu menyebarkan informasi kepada 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Media massa adalah istilah yang digunakan sampai sekarang untuk jenis media yang didesain secara khusus mampu menyebarkan informasi kepada masyarakat secara luas.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. demi stabilitas keamanan dan ketertiban, sehingga tidak ada lagi larangan. tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang mencakup:

BAB I PENDAHULUAN. demi stabilitas keamanan dan ketertiban, sehingga tidak ada lagi larangan. tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang mencakup: 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (untuk selanjutnya disebut dengan UUD 1945) secara tegas menyebutkan negara Indonesia adalah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BERSAMA KOMISI PEMILIHAN UMUM, BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM, DAN DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2012 NOMOR 11 TAHUN 2012 NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG KODE ETIK PENYELENGGARA

Lebih terperinci

Pemerintah Baru, Masalah Lama Kamis, 04 September :12 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 04 September :49

Pemerintah Baru, Masalah Lama Kamis, 04 September :12 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 04 September :49 Pada 21 Agustus 2014 Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak seluruh permohonan dan gugatan pihak Prabowo-Hatta, baik gugatan mengenai rekapitulasi suara oleh KPU maupun gugatan menyangkut pelanggaran pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI SKPD Analisis Isu-isu strategis dalam perencanaan pembangunan selama 5 (lima) tahun periode

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

BAB III PEMBANGUNAN BIDANG POLITIK

BAB III PEMBANGUNAN BIDANG POLITIK BAB III PEMBANGUNAN BIDANG POLITIK A. KONDISI UMUM Setelah melalui lima tahun masa kerja parlemen dan pemerintahan demokratis hasil Pemilu 1999, secara umum dapat dikatakan bahwa proses demokratisasi telah

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA Disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tanggal 9 Desember 1998 M U K A D I M A H MAJELIS Umum, Menegaskan kembalimakna penting dari ketaatan terhadap

Lebih terperinci

PEDOMAN TENTANG PERANAN PARA JAKSA. Disahkan oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedelapan. Tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakukan terhadap

PEDOMAN TENTANG PERANAN PARA JAKSA. Disahkan oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedelapan. Tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakukan terhadap PEDOMAN TENTANG PERANAN PARA JAKSA Disahkan oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa Kedelapan Tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakukan terhadap Pelaku Kejahatan Havana, Kuba, 27 Agustus sampai 7 September

Lebih terperinci

Anggaran Dasar KONSIL Lembaga Swadaya Masyarakat INDONESIA (Konsil LSM Indonesia) [INDONESIAN NGO COUNSILINC) MUKADIMAH

Anggaran Dasar KONSIL Lembaga Swadaya Masyarakat INDONESIA (Konsil LSM Indonesia) [INDONESIAN NGO COUNSILINC) MUKADIMAH Anggaran Dasar KONSIL Lembaga Swadaya Masyarakat INDONESIA (Konsil LSM Indonesia) [INDONESIAN NGO COUNSILINC) MUKADIMAH Bahwa kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat adalah salah satu

Lebih terperinci

REKONSTRUKSI KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG, MAHKAMAH KONSTITUSI DAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA. Oleh: Antikowati, S.H.,M.H.

REKONSTRUKSI KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG, MAHKAMAH KONSTITUSI DAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA. Oleh: Antikowati, S.H.,M.H. 1 REKONSTRUKSI KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG, MAHKAMAH KONSTITUSI DAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA Oleh: Antikowati, S.H.,M.H. 1 ABSTRAK Undang-Undang Dasar 1945 (pasca amandemen) tidak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. selaku pejabat publik dengan masyarakat. Dan komunikasi tersebut akan berjalan

BAB 1 PENDAHULUAN. selaku pejabat publik dengan masyarakat. Dan komunikasi tersebut akan berjalan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Informasi adalah kebutuhan pokok bagi setiap manusia untuk dapat mengembangkan hidupnya baik secara politik, hukum, ekonomi, dan sosial budaya serta keamanan dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pelayanan kepada masyarakat

Lebih terperinci

PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Suatu Studi pada Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro) Oleh MELANI DWIYANTI SELAMAT Abstraksi Berkembangnya

Lebih terperinci

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan 3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan legal? 6. Sebutkan sasaran yang dikritik Nabi Amos! 7.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 120 Undang-undang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 7 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 7 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 7 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang: a. bahwa Badan Permusyaratan Desa merupakan perwujudan

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR KOMNAS PEREMPUAN PENGESAHAN: 11 FEBRUARI 2014

ANGGARAN DASAR KOMNAS PEREMPUAN PENGESAHAN: 11 FEBRUARI 2014 ANGGARAN DASAR KOMNAS PEREMPUAN PENGESAHAN: 11 FEBRUARI 2014 PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya hak-hak asasi dan kebebasan-kebebasan fundamental manusia melekat pada setiap orang tanpa kecuali, tidak dapat

Lebih terperinci

Tujuan pendirian Negara Indonesia tertuang dalam Pembukaan UUD 1945:

Tujuan pendirian Negara Indonesia tertuang dalam Pembukaan UUD 1945: Jakarta 14 Mei 2013 Tujuan pendirian Negara Indonesia tertuang dalam Pembukaan UUD 1945: a. Pertama, dimensi internal dimana Negara Indonesia didirikan dengan tujuan untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia

Lebih terperinci

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dan latar belakang ajaran sosial Gereja; 2. menjelaskan dengan kata-katanya sendiri sejarah singkat

Lebih terperinci

MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL

MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL Resolusi disahkan oleh konsensus* dalam Sidang IPU ke-128 (Quito, 27 Maret 2013) Sidang ke-128 Inter-Parliamentary

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pelanggaran hak asasi manusia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pelanggaran hak asasi

Lebih terperinci

proses perjalanan sejarah arah pembangunan demokrasi apakah penyelenggaranya berjalan sesuai dengan kehendak rakyat, atau tidak

proses perjalanan sejarah arah pembangunan demokrasi apakah penyelenggaranya berjalan sesuai dengan kehendak rakyat, atau tidak Disampaikan pada Seminar Nasional dengan Tema: Mencari Format Pemilihan Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Yang Demokratis Dalam Rangka Terwujudnya Persatuan Dan Kesatuan Berdasarkan UUD 1945 di Fakultas

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN TIM PENGAWAS INTELIJEN NEGARA SEBAGAI AMANAT UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA

PEMBENTUKAN TIM PENGAWAS INTELIJEN NEGARA SEBAGAI AMANAT UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA PEMBENTUKAN TIM PENGAWAS INTELIJEN NEGARA SEBAGAI AMANAT UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA Oleh: Yeni Handayani * Naskah diterima : 24 September 2014; disetujui : 13 Oktober 2014

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 23 TAHUN 2009 TENTANG PENGAWASAN

Lebih terperinci

HAK ASASI MANUSIA dalam UUD Negara RI tahun Dr.Hj. Hesti

HAK ASASI MANUSIA dalam UUD Negara RI tahun Dr.Hj. Hesti HAK ASASI MANUSIA dalam UUD Negara RI tahun 1945 Dr.Hj. Hesti HAK ASASI MANUSIA NASIONAL INTERNASIONAL LOKAL / DAERAH INTERNASIONAL dalam konteks pergaulan antar bangsa (Internasional) Penghargaan dan

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR TAHUN 2014 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR TAHUN 2014 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR TAHUN 2014 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, Menimbang :a. bahwa sesuai dengan Pasal 65 ayat (2)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mampu memberikan informasi keuangan kepada publik, Dewan Perwakilan. rakyat Daerah (DPRD), dan pihak-pihak yang menjadi stakeholder

BAB I PENDAHULUAN. mampu memberikan informasi keuangan kepada publik, Dewan Perwakilan. rakyat Daerah (DPRD), dan pihak-pihak yang menjadi stakeholder BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Implikasi otonomi daerah terhadap akuntansi sektor publik adalah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah daerah dituntut untuk mampu memberikan informasi

Lebih terperinci

Penghormatan dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia

Penghormatan dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia XVIII Penghormatan dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia Pasal 1 ayat (3) Bab I, Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945, menegaskan kembali: Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Artinya, Negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sistem tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) yang ditandai

BAB I PENDAHULUAN. sistem tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) yang ditandai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Reformasi di Indonesia yang masih berlangsung hingga sekarang telah menghasilkan berbagai perubahan khususnya dalam hal tata kelola pemerintahan. Salah satu

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BERSATU MENGATASI KRISIS BANGKIT MEMBANGUN BANGSA

BERSATU MENGATASI KRISIS BANGKIT MEMBANGUN BANGSA BERSATU MENGATASI KRISIS BANGKIT MEMBANGUN BANGSA Oleh : PROF. DR. 1 TERIMA KASIH ATAS UNDANGAN UNTUK MENGIKUTI TEMU NASIONAL ORMAS KARYA KEKARYAAN GAGASAN TENTANG UPAYA MENGATASI KRISIS DAN KEBIJAKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan. kebijakan yang ditetapkan. (BPPK Depkeu, 2014 )

BAB I PENDAHULUAN. dan kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan. kebijakan yang ditetapkan. (BPPK Depkeu, 2014 ) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kinerja Instansi Pemerintah merupakan gambaran mengenai pencapaian sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi dan strategi

Lebih terperinci

TERWUJUDNYA MASYARAKAT SELOMARTANI YANG AGAMIS SEJAHTERA BERBUDAYA DAN MANDIRI DENGAN KETAHANAN PANGAN PADA TAHUN 2021

TERWUJUDNYA MASYARAKAT SELOMARTANI YANG AGAMIS SEJAHTERA BERBUDAYA DAN MANDIRI DENGAN KETAHANAN PANGAN PADA TAHUN 2021 VISI TERWUJUDNYA MASYARAKAT SELOMARTANI YANG AGAMIS SEJAHTERA BERBUDAYA DAN MANDIRI DENGAN KETAHANAN PANGAN PADA TAHUN 2021 MISI 1 Menigkatkan kerukunan keharmonisan kehidupan masyarakan dalam melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH NOMOR : 5 TAHUN 2016 TENTANG : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2016-2021. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Lebih terperinci

2 global sebagai sarana peningkatan kemampuan ekonomi bangsa Indonesia. Untuk melindungi kepentingan negara dalam menghadapi era globalisasi tersebut

2 global sebagai sarana peningkatan kemampuan ekonomi bangsa Indonesia. Untuk melindungi kepentingan negara dalam menghadapi era globalisasi tersebut TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI PERDAGANGAN. Standardisasi. Penilaian Kesesuaian Perumusan. Pemberlakuan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 216) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. good governance. Good governance merupakan salah satu alat reformasi yang

BAB I PENDAHULUAN. good governance. Good governance merupakan salah satu alat reformasi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Semakin maraknya tindakan korupsi di lingkungan pemerintahan, pemerintah dituntut untuk melakukan reformasi birokrasi dan menerapkan prinsip good governance.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi telah membawa perubahan terhadap sistem politik, sosial,

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi telah membawa perubahan terhadap sistem politik, sosial, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Reformasi telah membawa perubahan terhadap sistem politik, sosial, kemasyarakatan serta ekonomi sehingga menimbulkan tuntutan yang beragam terhadap pengelolaan

Lebih terperinci

PELAJARAN 15 PERJUANGAN MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

PELAJARAN 15 PERJUANGAN MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA PELAJARAN 15 PERJUANGAN MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menyebutkan bentuk-bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia; 2. menganalisis

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR-ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN DASAR-ANGGARAN RUMAH TANGGA ANGGARAN DASAR-ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN SOLIDARITAS PEREMPUAN UNTUK KEMANUSIAAN DAN HAK ASASI MANUSIA (SPEK HAM) 2013-2017 Jl. Srikoyo No. 14 Rt 01 Rw 04 Karangasem Laweyan Surakarta Jawa Tengah 57145

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER NOMOR 1 TAHUN 2017 tentang KODE ETIK KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER NOMOR 1 TAHUN 2017 tentang KODE ETIK KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER NOMOR 1 TAHUN 2017 tentang KODE ETIK KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

LAMPIRAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PERTIMBANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMILIHAN ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Lebih terperinci