BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Composite Structural Armor (CSA) Composite structural armor (CSA) yaitu material multi-fungsional yang memiliki performansi balistik (ballistic performance), kekakuan, dan kekuatan tinggi dengan berat yang minimum [12]. Material CSA terdiri dari multi lapisan (multilayered) yang terdiri dari komposit polimer, karet, dan keramik struktural yang disusun sedemikian rupa sehingga memiliki performansi yang optimum. Secara garis besar, material-material yang disusun untuk membentuk CSA terdiri dari material muka (facing) dan material backing. Material muka memiliki fungsi sebagai penyerap energi kinetik peluru untuk pertama kalinya peluru mengenai sistem proteksi, sedangkan material backing memiliki fungsi sebagai peredam energi kinetik peluru yang tersisa yang memberikan efek trauma bagi pengguna [1]. Berikut gambar II.1 contoh dari konstruksi CSA. Gambar II.1. Contoh konstruksi dari composite structural armor (CSA) [12]. 4

2 II.2 Karakterisitik Keramik Struktural untuk Armor Facing Kemampuan balistik suatu keramik struktural tergantung dari sifat mekanik dan fisiknya [1], diantaranya yaitu: Massa jenis dan porositas, kekerasan, fracture toughness, modulus elastisitas, sonic velocity, dan kekuatan lentur. Masingmasing sifat tidak memiliki hubungan langsung dengan kemampuan balistik dari suatu keramik, dikarenakan mekanisme retakan yang terjadi akibat beban balistik peluru menghantam keramik dipengaruhi oleh variasi tegangan yang rumit dan terjadi dalam waktu yang singkat. Mekanisme penjalaran retakan pada keramik akibat beban balistik yang terjadi dipengaruhi dari morfologi struktur mikro keramik. Keramik struktural yang sesuai untuk digunakan sebagai armor facing harus memiliki persyaratan sifat mekanik dan fisik sebagai berikut [1] : 1. Memiliki kekerasan, H V10 diatas Kg/mm 2. Hal ini didasarkan dari standar NATO untuk peluru dengan kaliber 7,62 mm dengan inti proyektil baja memiliki kekerasan, H V Kg/mm 2. Sedangkan untuk peluru dengan kaliber 14,5 mm inti proyektil tungsten carbide, memiliki kekerasan, H V Kg/mm Perbandingan yang seimbang antara kekerasan dan fracture toughness. Hal ini didasarkan pada material yang memiliki kekerasan tinggi akan memiliki fracture toughness yang rendah dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, perbandingan yang seimbang antara kekerasan dan fracture toughness harus dibahas secara komprehensif dengan hasil pengujian balistik (uji tembak). 3. Memiliki nilai sonic velocity yang tinggi. Disyaratkan, sonic velocity dari keramik struktural alumina yang digunakan sebagai armor facing diatas m/detik. Sonic velocity merupakan besaran yang menunjukkan kemampuan dari keramik struktural untuk mendisipasi energi. Morfologi struktur mikro berupa proses densifikasi dan pengurangan closed porosity akan mempengaruhi besar dari sonic velocity. 5

3 4. Modulus elastisitas yang disyaratkan untuk keramik struktural alumina yang digunakan sebagai armor facing harus memiliki nilai diatas 325 GPa (biasanya GPa tergantung persentase alumina). 5. Kekuatan lentur dari keramik harus memiliki nilai yang tinggi. Hal ini didasarkan rumitnya kondisi tegangan yang terjadi ketika mekanisme retakan terjadi. Untuk keramik struktural alumina, kekuatan bending harus diatas 250 MPa. II.3 Sintering Sintering adalah proses perlakuan termal untuk menghasilkan ikatan antar partikel sehingga koheren dimana struktur padat yang terbentuk didominasi oleh mekanisme perpindahan massa yang terjadi pada skala atomik [1]. Transport massa berupa gerakan atomik yang menghilangkan energi permukaan serbuk. Energi permukaan serbuk berbanding lurus dengan luas permukaanya. Karenanya partikel halus, dengan luas spesifik (specific area) yang tinggi, memiliki energi permukaan yang lebih tinggi dan sintering terjadi lebih cepat. Batas butir memiliki tingkat mobilitas atom yang tinggi karena memiliki tingkat energi yang tinggi. Model sintering yang dipelajari saat ini memiliki asumsi dimana kondisi awal sebelum sintering serbuk yang digunakan berbentuk bulat dan berukuran sama (monosize sphere). Pada teori sintering juga digunakan asumsi isotermal. Namun pada kenyataannya, proses sintering dimulai dengan kondisi awal serbuk berbentuk iregular dengan distribusi ukuran yang bervariatif serta serbuk telah dikompaksi terlebih dahulu. Pada proses kompaksi, serbuk dipadatkan, mengurangi porositas yang besar, dan memperbesar kontak area antar partikel. Sebagian besar ikatan antar partikel yang terbentuk saat sintering terjadi ketika temperatur sintering mencapai temperatur maksimum, sedangkan model isotermal yang diasumsikan pada kebanyakan model sintering jarang mencapai temperatur maksimum. Pada tahapan akhir sintering, serbuk yang kompak dihasilkan dari suatu kondisi yang dinamik dimana, gradien yang terjadi diakibatkan tegangan termal (thermal stress) dan 6

4 interaksi serbuk kompak dengan atmosfer. Pada banyak kasus, gradien seperti ini memiliki pengaruh yang signifikan dalam proses sintering. Gambar II.2. Skema model sintering monosized sphere [4] Secara umum, mekanisme difusi yang terjadi meliputi difusi pada permukaan, difusi sepanjang batas butir, atau melalui latis kristal (crystal lattice). Dengan kata lain, difusi lebih cepat pada daerah yang susunan atomnya makin acak, sebab memiliki tingkat energi yang tinggi. Difusi diaktifasi oleh panas. Artinya, difusi membutuhkan energi dengan tingkat tertentu. Pergerakan tersebut bergantung pada energi yang cukup untuk atom berpindah dari posisinya kepada suatu kekosongan (vacant site). Hubungan antara populasi dari kekosongan dengan jumlah atom yang memiliki cukup energi untuk berpindah kepada kekosongan tersebut, dijelaskan oleh persamaan Arhenius [6] : 7

5 N Q = exp No RT dimana : N/No = Rasio antara situs-situs kekosongan atau atom yang telah aktif dengan keseluruhan atom Q = Energi aktivasi R = Konstanta gas ideal T = Temperatur absolut II.3.1 Sintering Fasa Padat (Solid State Sintering) Proses sintering fasa padat memiliki beberapa kandidat mekanisme transport yang dapat dibagi menjadi dua kelas, yaitu: transport permukaan dan transport ruah. Transport permukaan tidak menyebabkan densifikasi, sedangkan transport ruah menyebabkan densifikasi. Beberapa kandidat mekanisme transport untuk proses sintering fasa padat adalah: difusi permukaan, difusi volum, transport uap dari permukaan padat, difusi batas butir, aliran viskos, dan aliran plastis. Tiga mekanisme pertama termasuk dalam kelas transport permukaan. Gambar II.3. Dua kandidat mekanisme transport massa pada sintering fasa padat [4] 8

6 1. Difusi permukaan Permukaan dari material kristalin tidaklah rata, tapi terdiri dari cacat-cacat seperti ledges, kinks, dan adatoms. Gambar II.4 ini dapat menjelaskan cacatcacat pada permukaan material kristalin dengan lebih baik. Gambar II.4. Skema dari permukaan bebas partikel [4] Difusi permukaan terjadi dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pelepasan sebuah atom dari tempat semulanya. Biasanya terjadi pada kink. Kedua adalah, pergerakan acak atom yang lepas sebelumnya sepanjang permukaan material kristalin. Tahapan terakhir adalah pengikatan kembali atom pada tempat yang tersedia di permukaan material kristalin. Tempat yang tersedia biasanya adalah kink. Difusi permukaan memiliki energi aktivasi yang lebih rendah dibanding dengan mekanisme yang lain. 2. Difusi volum Difusi volum disebut juga difusi latis (lattice diffusion), yaitu difusi yang melibatkan pergerakan kekosongan (vacancies) melalui sebuah struktur kristalin. Tiga faktor yang dominan terhadap kecepatan difusi ini adalah temperatur, komposisi, dan tekanan. Ada tiga jalur yang diambil oleh kekosongan pada difusi volum, yaitu : 9

7 Gambar II.5. Difusi volum [4] 1). Adhesi volum Kekosongan bergerak dari permukaan neck area melalui interior partikel menuju permukaan partikel. Hasilnya adalah deposisi massa pada permukaan neck area. Pada adhesi volum tidak terjadi densifikasi atau penyusutan. 2). Densifikasi difusi volum Aliran kekosongan dari permukaan neck area menuju batas butir antar partikel. Jalur ini menyebabkan densifikasi dan penyusutan. 3). Penghilangan kekosongan melalui proses dislocation climb. 3. Transport uap dari permukaan padat Transport uap sepanjang permukaan porositas dan kemudian terjadi perpindahan posisi atom akibat kondensasi dari uap tersebut pada permukaan partikel. Peristiwa evaporasi-kondensasi ini tidak menyebabkan densifikasi. 4. Difusi batas butir Batas butir adalah salah satu jenis cacat volum. Batas butir memiliki tingkat energi yang tinggi. Tingkat energi ini mengakibatkan aliran massa dapat terjadi dengan energi aktivasi yang besarnya berada diantara energi aktivasi untuk difusi permukaan dan difusi volum. Pengaruh dari mekanisme ini terhadap mekanisme difusi secara keseluruhan, tergantung pada ukuran butir per unit volum. 10

8 5. Aliran viskos Aliran vikos terjadi akibat viskositas dari material yang meningkat akibat mencapai temperatur yang tinggi. Aliran plastis berhubungan erat dengan peristiwa dislocation glide. II.3.2 Tahapan Proses Sintering Fasa Padat Tahapan yang terjadi pada sintering fasa padat adalah sebagai berikut [4] : 1. Tahapan awal (Initial stage) Terjadi pada tahap awal pemanasan, ditandai oleh pembentukan dan pertumbuhan neck antar partikel yang cepat. Rasio leher terhadap partikel atau neck size ratio biasanya dibawah 0,3 dan penyusutan yang terjadi kurang dari 3 %. Luas permukaan serbuk masih sebesar 50 % dari luas permukaan awal. Porositas masih berhubungan (interconnected). 2. Tahapan tengah (Intermediate stage) Porositas menjadi halus dan memiliki karakteristik interconnected serta berbentuk silinder. Densitas pada tahap ini adalah sekitar % dari densitas teoritis. Pertumbuhan butir terjadi di akhir tahap ini, sehingga butir menjadi lebih besar dibandingkan dengan besar partikel awal. 3. Tahapan akhir (Final stage) Pada tahap ini bentuk porositas menjadi bulat (spherical) dan tertutup sehingga tidak efektif dalam mencegah pertumbuhan. Porositas yang berada pada batas butir akan terseret oleh pergerakan batas butir sehingga menyebabkan densifikasi, sedangkan porositas yang telah tertutup tidak berkontribusi terhadap densifikasi. Total porositas kurang dari 8 % dan pertumbuhan butir menjadi sangat cepat. 11

9 Gambar II.6. Mekanisme pengecilan porositas pada setiap tahapan sintering [4]. II.4 Mekanisme Reduksi Permukaan Bebas Partikel Ikatan antar partikel akan meningkatkan kekuatan dan menurunkan energi sistem. Secara termodinamika, ikatan antar partikel akan menurunkan energi permukaan dengan mereduksi permukaan bebas partikel. Ada dua mekanisme dalam proses reduksi permukaan bebas partikel yaitu: 1. Reduksi permukaan bebas partikel dengan meningkatkan ukuran rata-rata partikel akan memiliki kecenderungan untuk terjadi proses pengkasaran butir (coarsening). 2. Reduksi permukaan bebas dengan mengurangi antarmuka padat/uap (solid/vapor interface) dan menciptakan area batas butir (grain boundary area) diikuti dengan dengan pertumbuhan butir akan memiliki kecenderungan untuk terjadi proses densifikasi. Pada proses sintering, kedua mekanisme diatas saling berkompetisi. Jika proses skala atomik cenderung untuk terjadi proses densifikasi, maka porositas akan mengecil dan serbuk yang kompak akan menyusut (shrinkage). Sedangkan jika kecenderungan yang terjadi adalah proses pengkasaran, maka, baik porositas maupun butir akan mengalami pertumbuhan dan bertambah besar seiring meningkatnya waktu. 12

10 Gambar II.7. Dua mekanisme proses reduksi permukaan bebas partikel (a) Proses densifikasi; (b) Proses pengkasaran butir [3]. Proses pengkasaran tidak akan memberikan efek densifikasi disebabkan atomatom yang berdifusi ialah atom-atom yang berada dibagian permukaan partikel saja sedangkan atom-atom yang berada ditengah-tengah tidak dapat bergerak bersama dikarenakan beberapa mekanisme yang terjadi. Sebagai akibatnya, mekanisme transport uap dari permukaan padat, difusi permukaan, dan difusi latis dari permukaan ke neck area tidak dapat memberikan efek densifikasi. Proses densifikasi terjadi ketika atom-atom yang berdifusi ialah atom-atom yang berada di batas butir atau daerah diantara dua partikel serbuk dan yang mengalami reduksi area ialah neck area atau porositas. Jadi satu-satunya mekanisme perpindahan massa yang akan memberikan efek densifikasi ialah difusi batas butir atau difusi ruah dari batas butir menuju neck area. II.5 Sintering Fasa Padat Pencampuran Serbuk Berbeda Pada proses sintering fasa padat pencampuran serbuk berbeda, terdapat dua faktor yang mempengaruhi hasil dari sintering campuran serbuk, yaitu faktor fisik dan faktor kimiawi. Faktor fisik terdiri dari ukuran partikel, bentuk partikel, komposisi, homogenitas, dan green density. Sebagai contoh, campuran akan memiliki packing density yang tinggi ketika terdapat gradasi ukuran partikel yang 13

11 besar pada green body. Sedangkan faktor kimiawi tergantung dari interaksi secara kimiawi dari serbuk yang dicampur. Pencampuran serbuk dimana serbuk yang satu lebih banyak dari serbuk yang lain, maka serbuk tersebut sebagai matriks (base) dan serbuk dengan jumlah yang lebih sedikit disebut sebagai aditif (additive) Gambar II.8. Komposisi material yang mungkin terbentuk dalam proses pencampuran serbuk yang berbeda tergantung dari kelarutan matriks (base) dan aditif (additive) [4]. Pada gambar II.8 dapat dilihat empat kemungkinan yang terjadi pada proses sintering fasa padat pencampuran serbuk berbeda, yaitu : 1. Homogenize, Pencampuran dari serbuk yang berbeda akan menghasilkan komposisi kimia yang baru ketika matriks dan aditif (additive), masing-masing memiliki kelarutan yang tinggi. 2. Enhanced, Pencampuran serbuk akan menghasilkan fasa kedua ketika matriks memiliki kelarutan yang tinggi terhadap aditif. 3. Swelling, Pencampuran serbuk yang berbeda akan menghasilkan material padat yang memiliki karakteristik porositas yang tinggi ketika aditif memiliki kelarutan yang tinggi terhadap matriks. 14

12 4. Composite, Pencampuran serbuk menghasilkan material yang tidak ada interaksi antara matriks dan aditif dikarenakan tingkat kelarutan yang rendah baik matriks terhadap aditif maupun sebaliknya. II.6 Peningkatan Derajat Sintering (Enhanced Sintering) Peningkatan derajat sintering merupakan metode dalam sintering yang merubah kinetika ataupun driving force melalui mekanisme pengontrolan aliran massa yang terjadi. Efek yang diharapkan dalam metode ini ialah untuk mereduksi waktu dan temperatur sintering. Pada metode ini, pembahasan difokuskan pada dua pokok bahasan, yaitu: Sintering fasa padat teraktivasi (activated solid-state sintering) dan pengontrolan struktur mikro. II.6.1 Sintering Fasa Padat Teraktivasi (Activated solid-state sintering) Sintering fasa padat teraktivasi merupakan salah satu metode dalam proses sintering untuk menurunkan energi aktivasi dengan cara mengontrol spesi-spesi yang berdifusi. Metode ini mampu menurunkan temperatur sintering dan waktu sintering serta mampu memperbaiki sifat mekanik material. Material dengan temperatur leleh yang tinggi akan memiliki temperatur sintering yang tinggi. Jika material ini mengalami proses sintering dengan cara dicampur fasa yang memiliki temperatur sintering yang rendah, maka laju difusi bisa lebih cepat. Sintering fasa padat teraktivasi terjadi ketika material dengan temperatur leleh yang tinggi larut kedalam fasa yang memiliki temperatur yang rendah sehingga tercipta jalan pintas untuk terjadinya proses sintering. Aktivator atau aditif (additive) harus memiliki ukuran partikel yang kecil dan terdispersi secara merata agar proses sintering fasa padat teraktivasi terjadi dengan homogen. Ada beberapa kriteria suatu material bisa menjadi aktivator, yaitu: 1. Membentuk fasa dengan temperatur leleh yang rendah selama sintering. 2. Aktivator memiliki kelarutan yang tinggi bagi matriksnya (base) dan aktivator memiliki kelarutan yang rendah terhadap matriksnya. Kinetika yang terjadi pada proses sintering fasa padat teraktivasi bergantung dari laju difusi yang terjadi disaat melintasi aktivator. Peningkatan densifikasi selama sintering akan meningkatkan sifat mekanik dari material. Peningkatan 15

13 densifikasi juga diikuti dengan susut (shrinkage) pada material. Susut L/L o yang terjadi dirumuskan sebagai berikut: dimana Ω adalah volum atom, δ adalah lebar dari fasa kedua dari aktivator, g adalah faktor geometri, C adalah kelarutan matriks (base) terhadap aktivator, γ SV energi solid-vapor, D A adalah difusitas base ke aktivator, D adalah ukuran partikel, k adalah konstanta Boltzmann, dan T adalah temperatur absolut. II.6.2 Pengontrolan Struktur Mikro Pengontrolan struktur mikro dilakukan dengan cara menambahkan aditif (additive) yang mampu menahan pertumbuhan butir. Pertumbuhan butir (grain growth) akan menurunkan sifat mekanik dari material. Oleh karena itu, proses pengontrolan struktur mikro lebih ditekankan pada pengontrolan pertumbuhan butir, sehingga sifat mekanik dapat meningkat. II.7 Zirconia-Toughened Alumina (ZTA) Zirconia-Toughened Alumina merupakan material komposit dimana alumina sebagai matriks diperkuat (reinforced) oleh partikel zirkonia berukuran kecil (particulate). Penambahan zirconia pada alumina mampu meningkatkan fracture toughness dari alumina. ZTA memiliki komposisi zirkonia 10-20% vol [5]. Mekanisme peningkatan fracture toughness oleh partikel zirkonia berukuran kecil yang terdispersi dalam matriks alumina disebut dengan istilah transformation toughening. Pada temperatur diatas 1170 C-2370 C, zirkonia memiliki fasa stabil tetragonal. Pada tempertaur kamar, fasa yang stabil ialah monoclinic. Perubahan fasa dari tetragonal ke monoclinic diikuti peningkatan volum sebesar 3 %. Peningkatan volum sebesar 3 % ini akan menyebabkan microcrack pada matriks alumina. Untuk menghindari microcrack, maka zirkonia ditambah 8 mol% (2.77 wt%) MgO atau 8 mol% (3.81 wt%) CaO atau 3-4 mol% ( wt%) Y 2 O 3 untuk menstabilkan fasa tetragonal pada temperatur kamar sehingga perubahan volum yang terjadi dapat dihindari. Fasa tetragonal yang terbentuk disebut fasa metastabil. 16

14 Mekanisme peningkatan fracture toughness dari matriks alumina terjadi ketika retakan menjalar, energi tertinggi dari retakan berada didepan retakan (crack tip). Energi ini cukup untuk mengubah fasa metastabil tetragonal bertransformasi menjadi fasa monoclinic. Perubahan fasa yang terjadi diikuti oleh peningkatan volum sebesar 3 %. Peningkatan volum yang terjadi mengakibatkan tegangan tekan disekitar retakan. Tegangan tekan inilah yang mengakibatkan retakan dapat dihentikan atau artinya, fracture toughness dari material mengalami peningkatan. Perubahan fasa ini disebut athermal transformation, dimana perubahan fasa yang terjadi tidak bergantung temperatur dan waktu. Skema dari mekanisme penguatan oleh fasa metastabil tetragonal dapat dilihat pada gambar II.9. Gambar II.9. Mekanisme penguatan pada matriks alumina oleh fasa metastabil tetragonal [3]. Efek tegangan tekan yang terjadi ialah mereduksi intensitas tegangan (stress intensity) pada crack tip, K tip dengan direduksi oleh shielding factor, K s. Berikut kondisi persamaan yang terjadi. K tip = K a - K s (2.1) kemudian shielding factor dapat didefinisikan oleh persamaan berikut. 17

15 Ks = A YV f ε T w 1/2 (2.2) dimana, V f adalah fraksi volum fasa yang bertransformasi, w adalah area fasa bertransformasi (gambar 2.7), A adalah faktor dimensi dari crack tip, ε T regangan akibat transformasi fasa. Retakan akan terjadi ketika K tip = K IC dari matriks tanpa shielding factor, K s. Kehadiran shielding factor, K s sesuai persamaan 2.1 mampu mengurangi intensitas tegangangan (stress intensity) dari K tip. 18

BAB IV ANALISIS & HASIL PERCOBAAN

BAB IV ANALISIS & HASIL PERCOBAAN BAB IV ANALISIS & HASIL PERCOBAAN IV.1 Karakterisasi Serbuk Alumina Hasil Milling Menggunakan SEM Proses milling ditujukan untuk menghaluskan serbuk sehingga diperoleh gradasi ukuran partikel yang tinggi

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

BAB III PROSEDUR PENELITIAN BAB III PROSEDUR PENELITIAN III.1 Umum Penelitian yang dilakukan adalah penelitian berskala laboratorium untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi aditif (additive) yang efektif dalam pembuatan keramik

Lebih terperinci

METALURGI SERBUK. By : Nurun Nayiroh

METALURGI SERBUK. By : Nurun Nayiroh METALURGI SERBUK By : Nurun Nayiroh Metalurgi serbuk adalah metode yang terus dikembangkan dari proses manufaktur yang dapat mencapai bentuk komponen akhir dengan mencampurkan serbuk secara bersamaan dan

Lebih terperinci

STUDI PENAMBAHAN MgO SAMPAI 2 % MOL TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK KERAMIK KOMPOSIT Al 2 O 3 ZrO 2

STUDI PENAMBAHAN MgO SAMPAI 2 % MOL TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK KERAMIK KOMPOSIT Al 2 O 3 ZrO 2 STUDI PENAMBAHAN MgO SAMPAI 2 % MOL TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK KERAMIK KOMPOSIT Al 2 O 3 ZrO 2 Meilinda Nurbanasari Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Nasional, Bandung Dani Gustaman

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Serbuk Awal Membran Keramik Material utama dalam penelitian ini adalah serbuk zirkonium silikat (ZrSiO 4 ) yang sudah ditapis dengan ayakan 400 mesh sehingga diharapkan

Lebih terperinci

PEMBUATAN ALUMINIUM BUSA MELALUI PROSES SINTER DAN PELARUTAN SKRIPSI

PEMBUATAN ALUMINIUM BUSA MELALUI PROSES SINTER DAN PELARUTAN SKRIPSI PEMBUATAN ALUMINIUM BUSA MELALUI PROSES SINTER DAN PELARUTAN SKRIPSI Oleh AHMAD EFFENDI 04 04 04 004 6 DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA GENAP 2007/2008 PEMBUATAN

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. BAB IV Pembahasan 69

BAB IV PEMBAHASAN. BAB IV Pembahasan 69 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 ANALISA STRUKTUR MIKRO BAJA SETELAH HARDENING DAN TEMPERING Struktur mikro yang dihasilkan setelah proses hardening akan menentukan sifat-sifat mekanis baja perkakas, terutama kekerasan

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Karakterisasi Awal Serbuk ZrSiO 4 dan ZrO 2 Serbuk ZrSiO 4 dan ZrO 2 sebagai bahan utama membran merupakan hasil pengolahan mineral pasir zirkon. Kedua serbuk tersebut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer. 10 dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sintesis paduan CoCrMo Pada proses preparasi telah dihasilkan empat sampel serbuk paduan CoCrMo dengan komposisi

Lebih terperinci

SINTESIS & KARAKTERISASI KERAMIK STRUKTURAL ALUMINA PADA SINTERING TEMPERATUR RENDAH UNTUK APLIKASI ARMOR FACING TUGAS AKHIR SARJANA

SINTESIS & KARAKTERISASI KERAMIK STRUKTURAL ALUMINA PADA SINTERING TEMPERATUR RENDAH UNTUK APLIKASI ARMOR FACING TUGAS AKHIR SARJANA SINTESIS & KARAKTERISASI KERAMIK STRUKTURAL ALUMINA PADA SINTERING TEMPERATUR RENDAH UNTUK APLIKASI ARMOR FACING TUGAS AKHIR SARJANA Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Akademik dalam Menempuh Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan industri dan teknologi saat ini khususnya industri logam dan konstruksi, semakin hari semakin memacu arah pemikiran manusia untuk lebih meningkatkan kemampuan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Foto Mikro dan Morfologi Hasil Pengelasan Difusi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Foto Mikro dan Morfologi Hasil Pengelasan Difusi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian sambungan logam tak sejenis antara Baja SS400 dan Aluminium AA5083 menggunakan proses pengelasan difusi ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh ketebalan lapisan

Lebih terperinci

VARIASI TEKANAN KOMPAKSI TEHADAP DENSITAS DAN KEKERASAN PADA KOMPOSIT

VARIASI TEKANAN KOMPAKSI TEHADAP DENSITAS DAN KEKERASAN PADA KOMPOSIT PENGARUH KOMPOSISI DAN VARIASI TEKANAN KOMPAKSI TEHADAP DENSITAS DAN KEKERASAN PADA KOMPOSIT - UNTUK PROYEKTIL PELURU DENGAN PROSES METALURGI SERBUK Oleh: Gita Novian Hermana 2710100077 Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Unjuk Kerja Pervaporasi Unjuk kerja pemisahan dengan pervaporasi dapat dilihat dari nilai fluks dan selektivitas pemisahan. Membran yang digunakan adalah membran selulosa

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Pembagian Komposit Berdasarkan Jenis Penguat [2]

Gambar 2.1 Pembagian Komposit Berdasarkan Jenis Penguat [2] BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Komposit Material komposit adalah material yang terdiri dari dua atau lebih fasa yang berbeda baik secara fisika ataupun kimia dan memiliki karakteristik yang lebih unggul dari masing-masing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Produk keramik adalah suatu produk industri yang sangat penting dan berkembang pesat pada masa sekarang ini. Hal ini disebabkan oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

SINTESIS KERAMIK Al 2 TiO 5 DENSITAS TINGGI DENGAN ADITIF MgO

SINTESIS KERAMIK Al 2 TiO 5 DENSITAS TINGGI DENGAN ADITIF MgO SINTESIS KERAMIK Al 2 TiO 5 DENSITAS TINGGI DENGAN ADITIF MgO Disampaikan oleh: Kurmidi [1106 100 051] Dosen Pembimbing Drs. Suminar Pratapa, M.Sc.,Ph.D. Sidang Tugas Akhir (J 102) Komponen Otomotif :

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagaimana yang telah dipaparkan pada latar belakang, material nano seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting katalis yang berfungsi sebagai

Lebih terperinci

BAB II STUDI LITERATUR

BAB II STUDI LITERATUR BAB II STUDI LITERATUR II.1 LOGAM BUSA II.1.1 Definisi Logam Busa Logam busa atau yang dikenal dengan istilah Metal Foam merupakan suatu Advance Material yang memiliki struktur berongga pada material logam

Lebih terperinci

Materi #7 TIN107 Material Teknik 2013 FASA TRANSFORMASI

Materi #7 TIN107 Material Teknik 2013 FASA TRANSFORMASI #7 FASA TRANSFORMASI Pendahuluan Kekuatan tarik komposisi paduan Fe-C eutectoid dapat bervariasi antara 700-2000 MPa tergantung pada proses perlakuan panas yang diterapkan. Sifat mekanis yang diinginkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat yang Digunakan Alat yang akan digunakan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah banyak dibangun di beberapa negara di

BAB I PENDAHULUAN. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah banyak dibangun di beberapa negara di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah banyak dibangun di beberapa negara di dunia, yang menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang besar. PLTN

Lebih terperinci

Kekuatan tarik komposisi paduan Fe-C eutectoid dapat bervariasi antara MPa tergantung pada proses perlakuan panas yang diterapkan.

Kekuatan tarik komposisi paduan Fe-C eutectoid dapat bervariasi antara MPa tergantung pada proses perlakuan panas yang diterapkan. Fasa Transformasi Pendahuluan Kekuatan tarik komposisi paduan Fe-C eutectoid dapat bervariasi antara 700-2000 MPa tergantung pada proses perlakuan panas yang diterapkan. Sifat mekanis yang diinginkan dari

Lebih terperinci

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB II TINJUAN PUSTAKA BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 KOMPOSIT Komposit merupakan salah satu jenis material baru yang terus-menerus dikembangkan. sebagai material baru, komposit diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi berbagai

Lebih terperinci

DIFFUSION MODEL APPROACH FOR THE EVALUATION OF THE EFFECT OF GRAIN SIZE ON SINTERING PROCESS OF TILE CERAMICS

DIFFUSION MODEL APPROACH FOR THE EVALUATION OF THE EFFECT OF GRAIN SIZE ON SINTERING PROCESS OF TILE CERAMICS 7 DIFFUSION MODEL APPROACH FOR THE EVALUATION OF THE EFFECT OF GRAIN SIZE ON SINTERING PROCESS OF TILE CERAMICS Hartono Notopuro *, Achmad Mu it *, Dedy Hidayat *, M. Rachimoellah *, Ali Altway *, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu pemanfaatan tenaga nuklir dalam bidang energi adalah

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu pemanfaatan tenaga nuklir dalam bidang energi adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Salah satu pemanfaatan tenaga nuklir dalam bidang energi adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Seiring dengan pemanfaatan PLTN terdapat kecenderungan penumpukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Preparasi 4.1.1 Sol Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan ZrOCl 2. 8H 2 O dengan perbandingan mol 1:4:6 (Ikeda, et al. 1986) dicampurkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN 4.1. KARAKTERISTIK SERBUK 4.1.1. Serbuk Fe-50at.%Al Gambar 4.1. Hasil Uji XRD serbuk Fe-50at.%Al Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa secara keseluruhan

Lebih terperinci

BAB II STUDI LITERATUR

BAB II STUDI LITERATUR BAB II STUDI LITERATUR 2.1 Mekanisme Penguatan pada Material Logam Mekanisme penguatan pada material logam merupakan hubungan antara pergerakan dislokasi dan sifat mekanik dari logam. Kemampuan suatu material

Lebih terperinci

Oleh : Ridwan Sunarya Pembimbing : Dr. Widyastuti S.Si, M.Si Ir. Lilis Mariani, M.Eng. (LAPAN)

Oleh : Ridwan Sunarya Pembimbing : Dr. Widyastuti S.Si, M.Si Ir. Lilis Mariani, M.Eng. (LAPAN) Pengaruh rasio pencampuran Al 2 O 3 SiO 2 sebagai pelapis pada baja 4340 terhadap sifat thermal dan daya rekat dengan metode Flame Spray untuk aplikasi nozel roket Oleh : Ridwan Sunarya. - 2709100081 Pembimbing

Lebih terperinci

BAB VI TRANSFORMASI FASE PADA LOGAM

BAB VI TRANSFORMASI FASE PADA LOGAM BAB VI TRANSFORMASI FASE PADA LOGAM Sebagian besar transformasi bahan padat tidak terjadi terus menerus sebab ada hambatan yang menghalangi jalannya reaksi dan bergantung terhadap waktu. Contoh : umumnya

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN Variasi kecepatan stiring 800 rpm, variasi temperatur sintering 700, 800, 900 C Variasi temperatur 700 C = struktur kristal tetragonal, fase nya anatase, no PDF 01-086-1156,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) (b) (c) (d) Gambar 4.1 Tampak Visual Hasil Rheomix Formula : (a) 1, (b) 2, (c) 3, (d) 4

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) (b) (c) (d) Gambar 4.1 Tampak Visual Hasil Rheomix Formula : (a) 1, (b) 2, (c) 3, (d) 4 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Preparasi Sampel Pada proses preparasi sampel terdapat tiga tahapan utama, yaitu proses rheomix, crushing, dan juga pembentukan spesimen. Dari hasil pencampuran dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beton merupakan bahan bangunan yang sering digunakan dalam membuat suatu komponen struktur seperti plat, balok dan kolom. Hal ini dikarenakan beton lebih mudah dalam

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU SINTER TERHADAP DENSITAS PELET UO 2 DARI BERBAGAI UKURAN SERBUK

PENGARUH WAKTU SINTER TERHADAP DENSITAS PELET UO 2 DARI BERBAGAI UKURAN SERBUK PENGARUH WAKTU SINTER TERHADAP DENSITAS PELET UO 2 DARI BERBAGAI UKURAN SERBUK Taufik Usman, Maradu Sibarani, Tata Terbit Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir, BATAN, Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang,

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Kimia Analitik, Program Studi Kimia FMIPA ITB sejak September 2007 sampai Juni 2008. III.1 Alat dan Bahan Peralatan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR-

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BATAN Bandung meliputi beberapa tahap yaitu tahap preparasi serbuk, tahap sintesis dan tahap analisis. Meakanisme

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kekakuan, ketahan terhadap korosi dan lain-lain, sehingga mengurangi. konsumsi bahan kimia maupun gangguan lingkungan hidup.

I. PENDAHULUAN. kekakuan, ketahan terhadap korosi dan lain-lain, sehingga mengurangi. konsumsi bahan kimia maupun gangguan lingkungan hidup. I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Komposit merupakan salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan untuk pembuatan kampas rem. Dalam perkembangan teknologi komposit mengalami kemajuan yang sangat pesat

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakterisasi hidroksiapatit Dari hasil analisis menggunakan FESEM terlihat bahwa struktur partikel HA berbentuk flat dan cenderung menyebar dengan ukuran antara 100 400

Lebih terperinci

Uji Kekerasan Sintesis Sintesis BCP HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Bahan Dasar

Uji Kekerasan Sintesis Sintesis BCP HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Bahan Dasar dilapisi bahan konduktif terlebih dahulu agar tidak terjadi akumulasi muatan listrik pada permukaan scaffold. Bahan konduktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah karbon. Permukaan scaffold diperbesar

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Laporan Tugas Akhir

BAB V PEMBAHASAN. Laporan Tugas Akhir BAB V PEMBAHASAN Berdasarkan analisa data dapat dilakukan pembahasan sebagai berikut: Pada fraksi volume filler 0% memiliki kekuatan tarik paling rendah dikarenakan tidak adanya filler sebagai penguat

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 DIAGRAM ALIR PENELITIAN Penimbangan Serbuk Alumunium (Al), Grafit (C), dan Tembaga (Cu) Pencampuran Serbuk Al dengan 1%Vf C dan 0,5%Vf Cu Kompaksi 300 bar Green Compact

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1) Sudaryatno Sudirham ing Utari Mengenal Sifat-Sifat Material (1) 15-2 Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1) BAB 15 Difusi Difusi adalah peristiwa di mana terjadi tranfer materi melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan perumahan menyebabkan kebutuhan akan bahan bangunan meningkat hal ini karena dalam pembangunan tersebut membutuhkan bahan-bahan bangunan berupa batu, kerikil,

Lebih terperinci

07: DIAGRAM BESI BESI KARBIDA

07: DIAGRAM BESI BESI KARBIDA 07: DIAGRAM BESI BESI KARBIDA 7.1. Diagram Besi Karbon Kegunaan baja sangat bergantung dari pada sifat sifat baja yang sangat bervariasi yang diperoleh dari pemaduan dan penerapan proses perlakuan panas.

Lebih terperinci

Keramik. Ikatan atom pada keramik. Sifat-sifat bahan keramik 04/10/2016. Lukhi mulia s

Keramik. Ikatan atom pada keramik. Sifat-sifat bahan keramik 04/10/2016. Lukhi mulia s Ikatan atom pada keramik Keramik Lukhi mulia s O Ikatan ion O Ikatan kovalen O Ikatan logam O Ikatan dipol O Ikatan antar atom dan sifat-sifat kristal 1 3 1438 1438 3 3 Pendahuluan O Keramik merupakan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo BAB IV PEMBAHASAN Pada bagian ini penulis akan membahas hasil percobaan serta beberapa parameter yang mempengaruhi hasil percobaan. Parameter-parameter yang berpengaruh pada penelitian ini antara lain

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat ini mendorong para peneliti untuk menciptakan dan mengembangkan suatu hal yang telah ada maupun menciptakan

Lebih terperinci

ANALISIS PENINGKATKAN KUALITAS SPROKET SEPEDA MOTOR BUATAN LOKAL DENGAN METODE KARBURASI

ANALISIS PENINGKATKAN KUALITAS SPROKET SEPEDA MOTOR BUATAN LOKAL DENGAN METODE KARBURASI ANALISIS PENINGKATKAN KUALITAS SPROKET SEPEDA MOTOR BUATAN LOKAL DENGAN METODE KARBURASI Abdul Karim Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Bandung E-mail : karimabdul57@gmail.com Abstrak Proses karburasi

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI

BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI Dari hasil percobaan dan uji sampel pada bab IV, yang pertama dilakukan adalah karakterisasi reaktor. Untuk mewakili salah satu parameter reaktor yaitu laju sintesis

Lebih terperinci

BAB XII KOMPOSIT. Gambar 1. Skematik bentuk geometrik komposit. BENTUK UKURAN KONSENTRASI DISTRIBUSI ORIENTASI

BAB XII KOMPOSIT. Gambar 1. Skematik bentuk geometrik komposit. BENTUK UKURAN KONSENTRASI DISTRIBUSI ORIENTASI BAB XII KOPOSIT Komposit adalah material multiphase yang yang dibuat oleh manusia. Phase-phase tersebut secara kimia adalah tidak sama dan dipisahkan oleh permukaan / interface yang jelas. Sebagian besar

Lebih terperinci

02 03 : CACAT KRISTAL LOGAM

02 03 : CACAT KRISTAL LOGAM 02 03 : CACAT KRISTAL LOGAM 2.1. Cacat Kristal Diperlukan berjuta-juta atom untuk membentuk satu kristal. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila terdapat cacat atau ketidakteraturan dalam tubuh kristal.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Pengaruh pemakaian cacahan..., Johanes Chandra, FT UI, 2008

BAB V PENUTUP. Pengaruh pemakaian cacahan..., Johanes Chandra, FT UI, 2008 BAB V PENUTUP 5.1. KESIMPULAN Dari penelitian mengenai pengaruh penambahan cacahan plastik polypropylene terhadap kuat tarik dan kuat lentur material beton, didapat kesimpulan sebagai berikut: 1. Penambahan

Lebih terperinci

BAB II STUDI LITERATUR

BAB II STUDI LITERATUR BAB II STUDI LITERATUR 2.1 LOGAM BUSA Logam busa atau material selular merupakan suatu material yang memiliki banyak struktur sel dan pori di dalamnya. Porositas dalam aplikasi keteknikan dapat menjadi

Lebih terperinci

TRANSFORMASI FASA PADA LOGAM

TRANSFORMASI FASA PADA LOGAM MATA KULIAH TRANSFORMASI FASA Pertemuan Ke-7 TRANSFORMASI FASA PADA LOGAM Nurun Nayiroh, M.Si Sebagian besar transformasi bahan padat tidak terjadi terus menerus sebab ada hambatan yang menghalangi jalannya

Lebih terperinci

KERUSAKAN REFRAKTORI

KERUSAKAN REFRAKTORI Dr.-Ing. Ir. Bambang Suharno Kerusakan Refraktori Refraktori memiliki peranan penting dlm proses temp. tinggi Akibat kondisi operasi yang tak terkendali service life refraktori tidak maksimum produksi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS 4.1 Analisis Hasil Pengujian TGA - DTA Gambar 4.1 memperlihatkan kuva DTA sampel yang telah di milling menggunakan high energy milling selama 6 jam. Hasil yang didapatkan

Lebih terperinci

PENGARUH KOMPOSISI KAOLIN TERHADAP DENSITAS DAN KEKUATAN BENDING PADA KOMPOSIT FLY ASH- KAOLIN

PENGARUH KOMPOSISI KAOLIN TERHADAP DENSITAS DAN KEKUATAN BENDING PADA KOMPOSIT FLY ASH- KAOLIN PENGARUH KOMPOSISI KAOLIN TERHADAP DENSITAS DAN KEKUATAN BENDING PADA KOMPOSIT FLY ASH- KAOLIN Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk

Lebih terperinci

04 05 : DEFORMASI DAN REKRISTALISASI

04 05 : DEFORMASI DAN REKRISTALISASI 04 05 : DEFORMASI DAN REKRISTALISASI 4.1. Deformasi 4.1.1 Pengertian Deformasi Elastis dan Deformasi Plastis Deformasi atau perubahan bentuk dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu deformasi elastis dan deformasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis material konduktor ionik MZP, dilakukan pada kondisi optimum agar dihasilkan material konduktor ionik yang memiliki kinerja maksimal, dalam hal ini memiliki nilai

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komposit Komposit merupakan salah satu jenis material teknik yang pada umumnya terdiri atas bahan penguat (reinforce) dan pengikat (matriks) (Callister, 2006). Komposit merupakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengujian Densitas Abu Vulkanik Milling 2 jam. Sampel Milling 2 Jam. Suhu C

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengujian Densitas Abu Vulkanik Milling 2 jam. Sampel Milling 2 Jam. Suhu C 38 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI HASIL 4.1.1 Hasil Pengujian Densitas Abu Vulkanik Milling 2 jam Pengujian untuk mengetahui densitas sampel pellet Abu vulkanik 9,5gr dan Al 2 O 3 5 gr dilakukan

Lebih terperinci

Kevin Yoga Pradana Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Wajan Berata, DEA

Kevin Yoga Pradana Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Wajan Berata, DEA PENGARUH VARIASI FRAKSI VOLUME, TEMPERATUR DAN WAKTU POST-CURING TERHADAP KARAKTERISTIK BENDING KOMPOSIT POLYESTER - PARTIKEL HOLLOW GLASS MICROSPHERES Kevin Yoga Pradana 2109 100 054 Dosen Pembimbing:

Lebih terperinci

Pengaruh Variasi Fraksi Volume, Temperatur, Waktu Curing dan Post-Curing Terhadap Karakteristik Tekan Komposit Polyester - Hollow Glass Microspheres

Pengaruh Variasi Fraksi Volume, Temperatur, Waktu Curing dan Post-Curing Terhadap Karakteristik Tekan Komposit Polyester - Hollow Glass Microspheres JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F 196 Pengaruh Variasi Fraksi Volume, Temperatur, Waktu Curing dan Post-Curing Terhadap Karakteristik Tekan Komposit Polyester

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISTIK BAHAN Tabel 4.1 Perbandingan karakteristik bahan. BAHAN FASA BENTUK PARTIKEL UKURAN GAMBAR SEM Tembaga padat dendritic

Lebih terperinci

PENGUJIAN MULUR (CREEP)

PENGUJIAN MULUR (CREEP) PENGUJIAN MULUR (CREEP) Definisi creep adalah aliran plastis yang dialami material pada tegangan tetap Meskipun sebagian besar pengujian dilakukan dengan kondisi beban tetap, tersedia peralatan yang mampu

Lebih terperinci

BAB V DIAGRAM FASE ISTILAH-ISTILAH

BAB V DIAGRAM FASE ISTILAH-ISTILAH BAB V DIAGRAM FASE ISTILAH-ISTILAH Komponen : adalah logam murni atau senyawa yang menyusun suatu logam paduan. Contoh : Cu - Zn (perunggu), komponennya adalah Cu dan Zn Solid solution (larutan padat)

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada bab ini mengungkapkan metode penelitian secara keseluruhan yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada bab ini mengungkapkan metode penelitian secara keseluruhan yang BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini mengungkapkan metode penelitian secara keseluruhan yang yang merupakan rangkaian proses penelitian yang telah dilakukan. Proses penelitian ini dibagi beberapa

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Beton pada umumnya adalah campuran antara agregat. kasar (batu pecah/alam), agregat halus (pasir), kemudian

BAB III LANDASAN TEORI. Beton pada umumnya adalah campuran antara agregat. kasar (batu pecah/alam), agregat halus (pasir), kemudian 11 BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Beton Beton pada umumnya adalah campuran antara agregat kasar (batu pecah/alam), agregat halus (pasir), kemudian direkatkan dengan semen Portland yang direaksikan dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 26 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, pembuatan soft magnetic menggunakan bahan serbuk besi dari material besi laminated dengan perlakuan bahan adalah dengan proses kalsinasi dan variasi

Lebih terperinci

Pengaruh Penambahan Aluminium (Al) Terhadap Sifat Hidrogenasi/Dehidrogenasi Paduan Mg 2-x Al x Ni Hasil Sintesa Reactive Ball Mill

Pengaruh Penambahan Aluminium (Al) Terhadap Sifat Hidrogenasi/Dehidrogenasi Paduan Mg 2-x Al x Ni Hasil Sintesa Reactive Ball Mill Pengaruh Penambahan Aluminium (Al) Terhadap Sifat Hidrogenasi/Dehidrogenasi Paduan Mg 2-x Al x Ni Hasil Sintesa Reactive Ball Mill I Wayan Yuda Semaradipta 2710100018 Dosen Pembimbing Hariyati Purwaningsih,

Lebih terperinci

Gambar 4.1. Hasil pengamatan struktur mikro.

Gambar 4.1. Hasil pengamatan struktur mikro. 38 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Struktur Mikro Struktur mikro yang dihasilkan pada Gambar 4.1 memiliki tiga bagian, titik 0 mm dan 5 mm dari sumbu las masuk pada daerah las, titik 10 mm dan 15 mm sudah

Lebih terperinci

4 Hasil dan pembahasan

4 Hasil dan pembahasan 4 Hasil dan pembahasan 4.1 Karakterisasi Awal Serbuk Bentonit Dalam penelitian ini, karakterisasi awal dilakukan terhadap serbuk bentonit. Karakterisasi dilakukan dengan teknik difraksi sinar-x. Difraktogram

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 28 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Material Beton II.1.1 Definisi Material Beton Beton adalah suatu campuran antara semen, air, agregat halus seperti pasir dan agregat kasar seperti batu pecah dan kerikil.

Lebih terperinci

Laju reaksi meningkat menjadi 2 kali laju reaksi semula pada setiap kenaikan suhu 15 o C. jika pada suhu 30 o C reaksi berlangsung 64 menit, maka

Laju reaksi meningkat menjadi 2 kali laju reaksi semula pada setiap kenaikan suhu 15 o C. jika pada suhu 30 o C reaksi berlangsung 64 menit, maka Laju reaksi meningkat menjadi 2 kali laju reaksi semula pada setiap kenaikan suhu 15 o C. jika pada suhu 30 o C reaksi berlangsung 64 menit, maka waktu reaksi berlangsung pada suhu 90 o C Susu dipasteurisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi di dunia akan terus meningkat. Hal ini berarti bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi di dunia akan terus meningkat. Hal ini berarti bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan energi di dunia akan terus meningkat. Hal ini berarti bahwa negara-negara di dunia selalu membutuhkan dan harus memproduksi energi dalam jumlah yang

Lebih terperinci

SINTERING SUHU RENDAH ATAS KOMPAKAN SERBUK HALUS U02 DENGAN V ARIASI KANDUNGAN PELUMAS Zn-STEARAT

SINTERING SUHU RENDAH ATAS KOMPAKAN SERBUK HALUS U02 DENGAN V ARIASI KANDUNGAN PELUMAS Zn-STEARAT Hasil-hasil Penelitian EBN Tahun 2009 ISSN 0854-5561 SINTERING SUHU RENDAH ATAS KOMPAKAN SERBUK HALUS U02 DENGAN V ARIASI KANDUNGAN PELUMAS Zn-STEARAT Taufik Usman ABSTRAK SINTERING SUHU RENDAH ATAS KOMPAKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Dengan meningkatnya perkembangan industri otomotif dan manufaktur di Indonesia, dan terbatasnya sumber energi mendorong para rekayasawan berusaha menurunkan berat mesin,

Lebih terperinci

Satuan Operasi dan Proses TIP FTP UB

Satuan Operasi dan Proses TIP FTP UB Satuan Operasi dan Proses TIP FTP UB Pasteurisasi susu, jus, dan lain sebagainya. Pendinginan buah dan sayuran Pembekuan daging Sterilisasi pada makanan kaleng Evaporasi Destilasi Pengeringan Dan lain

Lebih terperinci

BAB IV DATA HASIL PENELITIAN

BAB IV DATA HASIL PENELITIAN BAB IV DATA HASIL PENELITIAN 4.1 PEMBUATAN SAMPEL 4.1.1 Perhitungan berat komposit secara teori pada setiap cetakan Pada Bagian ini akan diberikan perhitungan berat secara teori dari sampel komposit pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pembuatan Spesimen Uji Dimensi benda kerja dari hasil pengecoran dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan keseluruhan dari benda kerja dapat dilihat pada gambar 4.2. Gambar

Lebih terperinci

PENGARUH PASIR TERHADAP PENINGKATAN RASIO REDAMAN PADA PERANGKAT KONTROL PASIF (238S)

PENGARUH PASIR TERHADAP PENINGKATAN RASIO REDAMAN PADA PERANGKAT KONTROL PASIF (238S) PENGARUH PASIR TERHADAP PENINGKATAN RASIO REDAMAN PADA PERANGKAT KONTROL PASIF (238S) Daniel Christianto 1, Yuskar Lase 2 dan Yeospitta 3 1 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Tarumanagara, Jl. S.Parman

Lebih terperinci

KEKUATAN BENDING KOMPOSIT CLAY DIPERKUAT DENGAN ALUMINA UNTUK APLIKASI FIRE BRICK

KEKUATAN BENDING KOMPOSIT CLAY DIPERKUAT DENGAN ALUMINA UNTUK APLIKASI FIRE BRICK KEKUATAN BENDING KOMPOSIT CLAY DIPERKUAT DENGAN ALUMINA UNTUK APLIKASI FIRE BRICK (1) Muhammad Sadat Hamzah, (2) Alimuddin Sam (1)(2) Jurusan Teknik Mesin Universitas Tadulako Jl. Soekarno Hatta Palu Email

Lebih terperinci

Tugas Sarjana Teknik Material 2008 Data dan Analisa

Tugas Sarjana Teknik Material 2008 Data dan Analisa berpengaruh pada surface tension juga menjadi limitasi terjadi pembentukan gas lanjutan. Gambar IV. 18 Penampang melintang produk, yang memperlihatkan sel porositas yang mengalami penggabugan dan pecahnya

Lebih terperinci

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Polimer. 2.2 Membran

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Polimer. 2.2 Membran 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Polimer Polimer (poly = banyak, meros = bagian) merupakan molekul besar yang terbentuk dari susunan unit ulang kimia yang terikat melalui ikatan kovalen. Unit ulang pada polimer,

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1. Teknologi Produksi Pelat Komposit Kanvas Rem Cakram 5.1.1. Peralatan produksi (kompaktor) komposit kanvas rem cakram Luaran yang ditargetkan pada peneitian Tahun 1 ini yaitu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komposit adalah kombinasi dari satu atau lebih material yang menghasilkan

I. PENDAHULUAN. Komposit adalah kombinasi dari satu atau lebih material yang menghasilkan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahan komposit merupakan salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan untuk pembuatan kampas rem. Dalam perkembangan teknologi komposit mengalami kemajuan yang sangat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Diameter Serat Diameter serat adalah diameter serat ijuk yang diukur setelah mengalami perlakuan alkali, karena pada dasarnya serat alam memiliki dimensi bentuk

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN BAB IV HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini, baja HSLA 0.03% Nb digunakan sebagai benda uji. Proses pemanasan dilakukan pada benda uji tersebut dengan temperatur 1200 0 C, yang didapat dari persamaan 2.1.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan material yang memiliki ketahanan terhadap temperatur tinggi merupakan salah satu topik menarik yang terus dikaji oleh peneliti. Contoh aplikasi penggunaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. logam dan nonlogam atau unsur logam dan nonlogam padat, gabungan dari unsur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. logam dan nonlogam atau unsur logam dan nonlogam padat, gabungan dari unsur BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keramik Keramik merupakan campuran padatan yang terdiri dari sebuah unsur logam dan nonlogam atau unsur logam dan nonlogam padat, gabungan dari unsur nonlogam dan unsur nonlogam

Lebih terperinci

PENGARUH VARIABEL KOMPAKSI TERHADAP MODULUS ELASTISITAS KOMPOSIT Al/SiC p DENGAN PERMUKAAN PARTIKEL SiC TERLAPISI ZnO

PENGARUH VARIABEL KOMPAKSI TERHADAP MODULUS ELASTISITAS KOMPOSIT Al/SiC p DENGAN PERMUKAAN PARTIKEL SiC TERLAPISI ZnO PENGARUH VARIABEL KOMPAKSI TERHADAP MODULUS ELASTISITAS KOMPOSIT Al/SiC p DENGAN PERMUKAAN PARTIKEL SiC TERLAPISI ZnO Fahmi 1109201707 Dosen Pembimbing Dr. Mochammad Zainuri, M.Si PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Pengujian Agregat. Hasil pengujian agregat ditunjukkan dalam Tabel 5.1.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Pengujian Agregat. Hasil pengujian agregat ditunjukkan dalam Tabel 5.1. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengujian Agregat Hasil pengujian agregat ditunjukkan dalam Tabel 5.1. Tabel 5.1 Hasil pengujian agregat kasar dan halus No Jenis Pengujian Satuan Hasil Spesifikasi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di Laboratorium Fisika Material FMIPA Unila, Laboratorium Kimia Instrumentasi

Lebih terperinci

1 BAB I BAB I PENDAHULUAN

1 BAB I BAB I PENDAHULUAN 1 BAB I BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Zirkonium dioksida (ZrO 2 ) atau yang disebut dengan zirkonia adalah bahan keramik maju yang penting karena memiliki kekuatannya yang tinggi dan titik lebur

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS Reaksi kimia yang terjadi selama perubahan dari larutan prekursor menjadi gel memiliki pengaruh yang berarti terhadap struktur dan homogenitas kimia dari gel. Permasalahan

Lebih terperinci

Sifat Sifat Material

Sifat Sifat Material Sifat Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam

Lebih terperinci

Galuh Intan Permata Sari

Galuh Intan Permata Sari PENGARUH MILLING TIME PADA PROSES MECHANICAL ALLOYING DALAM PEMBENTUKAN FASA INTERMETALIK γ-tial DENGAN MENGGUNAKAN HIGH ENERGY MILLING Dosen Pembimbing: 1. Hariyati Purwaningsih, S.Si, M.Si 2. Ir. Rochman

Lebih terperinci

Sidang Tugas Akhir (TM091486)

Sidang Tugas Akhir (TM091486) Sidang Tugas Akhir (TM091486) Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Soeharto, DEA Oleh : Budi Darmawan NRP 2105 100 160 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini dilakukan pembuatan keramik komposit CSZ-Ni dengan

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini dilakukan pembuatan keramik komposit CSZ-Ni dengan 20 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Desain Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan keramik komposit CSZ-Ni dengan menggunakan metode tape

Lebih terperinci