V. GAMBARAN UMUM 5.1 Sejarah Perusahaan 5.2 Lokasi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. GAMBARAN UMUM 5.1 Sejarah Perusahaan 5.2 Lokasi"

Transkripsi

1 V. GAMBARAN UMUM 5.1 Sejarah Perusahaan Arifin Fish Farm merupakan suatu usaha budidaya ikan hias air tawar khususnya ikan Black Ghost, Ctenopoma acutirostre, dan Patin (Pangasius sutchi). Usaha yang telah berjalan sekitar sebelas tahun ini merupakan usaha perorangan yang dimiliki oleh Bapak Arifin sebagai pemilik sekaligus kepala perusahaan di Arifin Fish Farm. Pada awalnya Arifin Fish Farm berlokasi di Bandung dengan spesialisasi pada pembesaran ikan Patin (Pangasius sutchi). Usaha ini dimulai pada bulan Juni tahun 1997 dengan modal kerja sebesar Rp ,00 untuk menjalankan usaha dan dana cadangan sebesar Rp ,00 yang digunakan untuk mengantisipasi kegagalan usaha. Fasilitas usaha yang dimiliki saat itu berupa bak semen untuk pembesaran dengan ukuran 3 m x 1,5 m x 0,25 m yang berjumlah enam unit. Pengembangan usaha dilakukan pada awal tahun 1998 dengan melalukan pemindahan lokasi usaha ke Kota Bogor serta investasi yang dikeluarkan sebesar Rp ,00. Pada tahun 1999 Arifin Fish Farm melakukan diversifikasi usahanya dengan bangunan seluas 500 m 2 termasuk rumah tinggal merangkap kantor (160 m 2 ) ; mess karyawan (30 m 2 ) ; ruang pengepakan (30 m 2 ) ; gudang (30 m 2 ) ; sumur (3,14 m 2 x 60 mc 2 x cm 2 ) ; 7 unit bak penampungan air (6 m x 6 m x 6 m) ; tempat pemeliharaan ikan dengan luas lahan 250 m 2 termasuk didalamnya 24 bak semen yang digunakan untuk pembesaran ikan patin (180 cm x 100 cm x 45 cm) ; 116 rak dan akuarium digunakan untuk ikan blak ghoad dan ctenopoma (100 cm x 50 cm x 35 cm). 5.2 Lokasi Pemilihan lokasi di Kampung Tarikolot, No 001, RT/RW 001/004, Desa Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor dengan pertimbangan sumber pasokan air yang memadai, suhu udara yang sesuai untuk budidaya ikan, dekat dengan eksportir, dekat dengan pusat kota dan fasilitas transportasi yang mendukung untuk pemasaran ikan hias air tawar. Arifin Fish Farm tergabung dalam kelompok pembudidaya Batar Mina Sejahtera dan Bapak Arifin

2 Wangsadiredja selaku ketua kelompok pembudidaya ikan tersebut. Pada tahun 2008 kelompok pembudidaya Batar Mina Sejahtera pendapat juara pertama se- Jawa Barat dalam katagori kekompakan pembudidaya. 5.3 Struktur Organisasi Perusahaan Arifin Fish Farm menggunakan struktur organisasi berbentuk garis dan cukup sederhana. Bapak Arifin Wangsadiredja sebagai pemilik dan juga sebagai pimpinan serta manajer perusahaan yang membawahi bagian produksi dan pemasaran. Keuangan dipegang langsung oleh pemimpin perusahaan. Bagian produksi dan pemasaran dipegang oleh satu orang, yaitu Ibu Sri Handayani yang merupakan istri dari Bapak Arifn Wangsadiredja. Bagian produksi I, produksi II, dan produksi III berkewajiban untuk merencanakan, menjalankan, mengawasi dan melaporkan proses produksi. Arifin Fish Farm memiliki lima orang pegawai termasuk satu pimpinan dan pemiliki perusahaan. Pegawai Arifin Fish Farm terdiri dari dua pegawai perempuan dan tiga pegawai laki-laki. Struktur organisasi Arifin Fish Farm dapat dilihat pada Gambar 2. Pimpinan Perusahaan Kepala Produksi dan Pemasaran Produksi I Ctenopoma Produksi II Black Ghost Produksi III Patin Gambar 2. Struktur Organisasi Arifin Fish Farm Sumber Arifin Fish Farm (2009) Struktur organisasi garis memiliki keuntungan; yaitu memudahkan pengendalian kegiatan-kegiatan perusahaan dan mempermudahkan sistem pengupahaan, motivasi dan pengendalian yang sederhana dan informal.

3 Sedangkan kekurang dari struktur organisasi ini adalah sangat tergantung pada pimpinan perusahaan, sehingga pimpinan menanggung beban pekerjaan yang cukup besar dan kegiatan-kegiatan lebih terpusat pada operasi harian. Arifin Fish Farm dalam kegiatan pengeluaran dan penerimaan tidak melakukan pencatatan baik terhadap penerimaan maupun pengeluaran, sehingga tidak ketahui secara pasti penurunan atau peningkatan produksi tiap tahunnya. Biaya yang dikeluarkan, jumlah ikan hias yang dijual dan keuntungan yang diperoleh dari proses produksi juga tidak dilakukan pencatatan, sehingga perusahaan sulit untuk melakukan analisis tingkat keuntungan dari masing-masing jenis ikan hias yang diproduksi. Waktu kerja yang dimiliki oleh tenaga kerja Arifin Fish Farm adalah dari pukul WIB dengan satu jam waktu istirahat, dari pukul WIB sampai pukul WIB. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari antara lain pada pukul WIB, pukul WIB, dan pukul WIB. Masing-masing karyawan mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya, pukul WIB waktu yang digunakan untuk membersihkan akuarium dan bak dari kotoran ikan dan sisa-sisa pakan, kemudian pergantian air, pemberian pakan, pemberian obat jika ada ikan yang terserang penyakit, menyediakan sarana untuk persiapan pemijahaan dan mengontrol keadaan ikan, setelah jam istirahat karyawan memberian pakan ke dua, serta menyiapkan ikan kedalam akuarium khusus untuk ikan pesanan yang akan dikirim ke eksportir maupun ke pedagang pengumpul dan pukul WIB pemberian pakan ke tiga untuk ikan hias. Jika ada pemesanan ikan untuk dikirim, satu orang karyawan yang mengerjakannya untuk pengepakan walaupun karyawan tersebut punya tanggung jawab untuk membersihkan akuarium dan pemberian pakan itu bisa digantikan dengan karyawan lain setelah karyawan tersebut telah selesai mengerjakan pekerjaannya dan bisa membagi waktunya. Namun jika ada permintaan yang banyak maka jam kerja dapat ditambah, walaupun pada malam hari. Perusahaan tidak memberikan upah lembur, hal ini dikarenakan sudah dianggap sebagai kewajiban karyawan. Karyawan tidak mendapatkan hari libur kecuali hari raya atau meminta cuti.

4 Gaji yang diberikan pada pimpinan perusahaan adalah sebesar Rp ,00/bulan. Gaji yang diberikan pada bagian produksi dan pemasaran adalah sebesar Rp ,00/bulan. Sedangkan gaji karyawan yang diberikan adalah sebesar Rp ,00/bulan. Proyeksi gaji pada usaha ikan hias air tawar di Arifin Fish Farm dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Proyeksi Gaji pada Usaha Ikan Hias Air Tawar Di Arifin Fish Farm No Keterangan Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp/Tahun) 1 Gaji Pimpinan Bagian Produksi & Pemasaran Karyawan Jumlah Sumber : Data Arifin Fish Farm (2009) 5.4 Fasilitas Budidaya Ikan Hias Fasilitas merupakan fasilitas yang penting dalam kegiatan produksi. Fasilitas produksi yang digunakan dalam usaha budidaya ikan hias air tawar pada Arifin Fish Farm antara lain : bak semen, akuarium, bak pengampungan air, dan Wadah Penetesan artemia Peralatan Produksi 1. Blower Blower digunakan untuk memberikan oksigen atau aerasi pada air akuarium. Gelembung-gelembung udara dalam akuarium ini dihasilkan oleh blower. Blower yang digunakan oleh Arifin Fish Farm yaitu dua jenis dengan ukuruan 275 watt, dengan harga Rp ,00 per unit. Umur ekonomis 10 tahun. 2. Tabung Oksigen Tabung oksigen digunakan untuk menyimpan oksigen yang akan digunakan untuk proses pengepakan pada saat ikan dikirim ke pembeli, harga tabung oksigen dengan harga Rp ,00 per unit. Dengan umur ekonomis 10 tahun.

5 Gambar 3. Tabung Oksigen (O 2 ) Sumber : Arifin Fish Farm (2009) 3. Freezer Freezer digunakan untuk menyimpan pakan alami berupa cacing yang sudah dibekukan, harga freezer sebesar Rp ,00 per unit. Dengan umur ekonomis 10 tahun. 4. Generator Set Generator set berfungsi sebagai cadangan energi listrik ketika listrik dari PLN mati. Sumber energi utama yang digunakan untuk aktivitas produksi adalah energi listrik dari PLN. Energi listrik tersebut digunakan untuk kegiatan proses produksi, meliputi pengoperasiann pompa, blower, dan sekaligus sebagai penerangan, harga dari genset ini sebesar Rp ,00 per unit. Dengan umur ekonomis 10 tahun. Gambar 4. Genset Sumber : Arifin Fish Farm (2009) 5. Pompa Air Pompa air digunakan untuk mengalirkan air dari dalam sumur ke tempat penampungan air atau disebut dengan bak tandon serta mengalirkan air dari bak penampungan ke dalam akuarium, bak semen pemeliharaan ikan hias. Pompa air yang digunakan sebanyak 3 unit dengan hargaa Rp ,00 per unit. Dengan umur ekonomis 10 tahun

6 6. Centong Centong digunakan untuk proses penyortiran ikan hias pada waktu pengepakan (packing) sebanyak 4 buah, dengan harga per buah sebesar Rp 5.000,00, dan umur ekonomis 2 tahun. 7. Ember Ember memiliki beberapa fungsi antara lain digunakan untuk wadah pakan, pemanenan, dan penyortiran dengan harga ,00 per buah. Arifin Fish Farm memiliki ember sebanyak 5 buah. Umur ekonomis 2 tahun. 8. Serokan Serokan digunakan untuk menangkap ikan, mengambil kotoran, mengambil pakan alami, serta menampung sementara ikan hias, harga serokan ini sebesar Rp 7500,00 per unit dengan ukuran besar, sedangkan ukuran kecil dengan harga Rp 5000,00 per unit. Umur ekonomis 5 tahun. 9. Pakis Pakis digunakan untuk tempat telur. Tekstur permukaannya merupakan tempat yang baik untuk telur balck ghost degan harga Rp 2.000,00 per buah, AFF memiliki sebanyak 10 buah. Umur ekonomis 2 tahun. Gambar 5. Pakis Tempat Bertelur Ikan Black Ghost. Sumber : Arifin Fish Farm (2009). 10. Selang Aerasi Selang aerasi berfungsi untuk menyalurkan udara dari paralon ke akuarium atau bak. Selang aerasi dan selang air yang digunakan pada usaha ini adalah sebanyak 3 rol m dengan harga Rp per rol. Umur ekonomis 5 tahun. 11. Selang Air Selang air digunakan untuk mengisi air apabila akuarium baru dibersihkan dan airnya diganti, selain itu juga selang ini berfungsi untuk menyifon akuarium

7 dan bak. Selang yang digunakan pada usaha AFF ini sebanyak 3 rol, dengan harga Rp per rol. Umur ekonomis 5 tahun. 12. Paralon Paralon digunakan untuk mengaliskan udara dari blower dan menarik air dari dalam sumur. Paralon yang digunakan sebanyak 60 m dengan ukuran ½ inci. Harga paralon ini Rp ,00 per m, usaha ini memliki 60 meter. Umur ekonomis 5 tahun. 13. Sendok Plastik/ Sendok Bebek Sendok plastik digunakan untuk menyotir ikan pada saat ikan akan dimasukkan ke dalam plastik (packing) Sendok plastik sebanyak 1 lusin dengan harga Rp ,00 per lusin. Umur ekonomis 2 tahun. 14. Lampu Lampu digunakan sebagai penerangan ruang, jika kegiatan produksi dilakukan pada malam hari. Lampu yang digunakan sebanyak 4 buah dengan harga Rp ,00 per buah. Umur ekonomis 2 tahun Fasilitas Pendukung Fasilitas pendukung yang terdapat di Arifin Fish Farm antara lain : banguan, bak semen, mess karyawan, gudang tempat pakan, kamar mandi, dapur dan sumur. 5.5 Proses Produksi Proses produksi ikan hias air tawar pada Arifin Fish Farm melalui beberapa tahap mulai dari persiapan wadah sampai panen. Berikut adalah tahapan proses produksi ikan hias air tawar. 1) Persiapan Wadah Pemijahan adalah suatu proses pembuahan telur oleh sperma yang terjadi dalam media pemijahan. Kegiatan pemijahan meliputi persiapan wadah pemijahan yang terdiri dari pencucian wadah, pengisian air, pemasangan selang aerasi, serta untuk tempat bertelur berupa pakis. Wadah yang digunakan untuk pemijahan adalah akuarium dengan ukuran 100 cm x 45 cm x 40 cm sebanyak tujuh akuarium pada tahun pertama dan untuk wadah yang digunakan pemijahaan ikan patin serta pemeliharaan larva ikan patin penggunakan bak semen dengan ukuran

8 2 m x 2 m sebanyak tiga buah bak semen pada tahun pertama. Pembersihan wadah dilakukan terlebih dahulu sebelum digunakan dan langsung diisi air yang berasal dari bak penampungan dengan menggunakan pompa hingga tinggi air mencapai 60 cm, serta diberi aerasi. Wadah pemeliharaan bisa dilihat pada Gambar 6. a) Akuarium b) Bak Semen Gambar 6. Tempat Pemeliharaan Ikan Hias Air Tawar Arifin Fish Farm Tahun ) Pencucian Wadah Pencucian wadah dilakukan untuk membersihkan kotoran sisa-sisa pakan ikan dan membersihkan kuman-kuman penyakit yang menempel pada akuarium dan bak semen. Dengan cara menggosok bagian dalam akuarium dengan menggunakan busa spon dan dibilas dengan air bersih 3) ph Air (Derajat Keasaman) Ikan hias Black Ghost dapat hidup dengan air yang memiliki ph 6,5 ikan hias Ctenopoma memiliki ph 6,5 sampai 7 dan ikan Patin dengan ph 7. Bak penampung air tersebut berisi air yang diperoleh dari air sumur yang dipompa dengan jet pump. Air sumur mempunyai ph 6,6, air sumur tidak langsung dimasukkan dalam akuarium ataupun bak, air sumur diendapkan terlebih dahulu di bak panampungan dengan tujuan untuk menetralkan ph air. Suhu di lokasi perusahaan memiliki C, hal ini sangat cocok untuk kehidupan ikan hias air tawar. 4) Pengisian Air Pengisian air akuarium diisi dengan ketinggian 35 cm dengan ph 6,5 dan untuk ikan patin dapat hidup pada ph 7, maka cara pengisian akuarium adalah dengan memasukkan air sumur ke dalam bak kemudian air disirkulasi dengan

9 pompa untuk memasukakan air ke dalam akuarium dan bak semen. Setelah air diisikan ke dalam akuarium kemudian diberikan larutan methylene blue (MB). Tujuan dari pemberian methylene blue adalah untuk membutuh bakteri dan kuman yang ada dalam air. 5) Pemijahan Pemijahan dengan cara set atau pasangan dilakukan di akuarium, dapat diisi 7 ekor induk black ghoast dengan 3:4 (perbandingan 3 ekor induk jantan dan 4 ekor induk). Pemijahan ikan Patin dan Ctenopoma Perangsangan ovulasi merupakan kegiatan perangsangan yang dilakukan pada induk ikan yang sudah siap untuk dipijahkan. Tujuannya agar keluar telur dari kantung telur kemudian masukkan ke dalam saluran telur ke lubang urogenital dengan cara dirangsang dengan menggunakan hormon merk Ovaprim yang dilakukan dengan kawin suntik. Sebelum ikan induk betina disuntik sehari sebelumnya dilakukan seleksi induk dan tidak diberi pakan. Induk yang sudah diseleksi kemudian diberok selama satu hari. Tujuan dari pemberokan adalah untuk mengosongkan lambung ikan sehingga ikan akan mudah pada saat ovulasi karena tidak tertahan oleh lemak dan juga untuk mengurangi penurunan kualitas air pada media pemijahan. Setelah induk diberok selama satu hari, maka selanjutnya dilakukan penyuntikan. Pemijahan ikan ctenopoma 24 kali per tahun dalam penyuntikan sebanyak 0,2 ml per ekor untuk betina dan untuk jantan sebanyak 0,1, dengan jumlah ikan sebanyak 15 ekor betina dan 15 ekor jantan. Penggunaan Ovaprim dalam 1 tahun sebanyak 72 ml untuk penyuntikan induk betina, sehingga jumlah Ovaprim dalam tahun ke 1adalah 7,2 botol Ovaprim. Penggunaan Ovaprim untuk induk jantan 36 ml per tahun dengan jumlah 3,6 botol. Dalam 1 botol Ovaprim seberat 10 ml dengan harga Rp ,00 Jadi jumlah keseluruhan penggunaan Ovaprim sebanyak 10,8 botol dengan harga Rp ,00. Jumlah induk patin sebanyak 6 ekor betina dan 3 ekor jantan. Pemijahan ikan patin dilakukan sebanyak 28 kali per tahun. Penyuntikan betina 2,1 per ekor (ml) dan penyuntikan jantan 1,5 per ekor (ml) dengan penggunaan Ovaprim untuk betina sebanyak 352,8 ml per tahun, untuk jantan sebanyak 126 ml per tahun. Jumlah Ovaprim untuk induk betina tahun ke 1 adalah 35,28 botol, sedangkan

10 jumlah Ovaprim untuk jantan sebanyak 12,6 botol dengan jumlah keseluruhan yaitu 47,88 botol seharga Rp ,00 per tahun. Dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11 Pemakaian Ovaprim untuk ikan Ctenopoma dan Patin. 6) Pemindahan Induk ikan Setelah kegiatan pemijahan dilakukan induk ikan di pindahkan ke akuarium dan bak pemeliharaan induk. Akuarium pemeliharaan induk sebanyak 5 buah, 4 buah akuarium untuk pemeliharaan induk Black Ghost dan 1 buah akuarium untuk pemeliharaan induk Ctenopoma, sedangkan 1 buah bak pemeliharaan induk patin dengan ukuran bak 3 m x 2 m. Persiapan penetesan telur ikan black ghost dan ikan ctenopoma pada akuarium yang berukuran 100 cm x 45 cm x 40 cm dibersihkan terlebih dahulu dan dilakukan pengisian air setinggi 30 cm, serta diaerasi selama sehari, sedangkan untuk menetasan ikan patin dilakukan pada bak semen dengan ukuran 2 m x 2 m dengan tinggi air 60 cm. Pemanenan telur dilakukan dua jam setelah pemijahan dengan cara diserok dari akuarium pemijahan dan ditampung di baskom besar. Telur ditebar ke akuarium penetesan dan dilakukan sampling untuk mengetahui derajat pembuahan dan jumlah telur yang dihasilkan. Padat benih ikan sebanyak benih per akuarium dan akan menetas 3-4 hari. 7) Pemberian Pakan Pemberian pakan dilakukan saat larva ctenopoma berumur 3 s/d 5 hari berupa pakan Artemia 1 gram/akuarium frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari pada pukul pagi, pukul siang, dan pukul 18.00, dan larva umur 6 hari s/d 8 hari pemberian pakan Artemia menjadi 1,5 gram per akuarium. Pada larva umur 9 hari s/d 11 pemberian pakan berupa cacing sutera 2 gram per akuarium, pada umur 12 hari s/d 14 ditambah dengan berat pakan 3 gram per akuarium dan pada umur 15 hari s/d 18 menjadi 4 gram per akuarium. Untuk pemberian pakan ikan umur 18 s/d 21 hari 5 gram per akuarium, umur 22 s/d 25 hari menjadi 6 gram per akuarium dan umur 26 s/d 30 hari diberikan 7 gram cacing sutera. Meningkatnya pemberian pakan terjadi karena pertumbuhan ikan. Pemeliharaan ikan ctenopoma selama empat minggu dengan ukuran 1 ½ inci.

11 Pemberian pakan untuk larva black ghost langsung diberikan pakan cacing sutera frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari pada pukul pagi, pukul siang, dan pukul Larva umur 4 hari s/d 10 diberikan 4 gram per akuarium dan larva umur 11 s/d 15 hari menjadi 6 gram sedangkan pada umur 16 s/d 21 diberikan 9 gram. Lamanya pemeliharaan ikan black ghost tiga minggu dengan ukuran 1 ½ inci. Pemberian pakan dilakukan saat larva patin umur 3 s/d 6 hari berupa Artemia dengan berat pakan 3 gram per akuarium, setelah larva umur 7 hari s/d 10 pakan yang diberikan berupa cacing sutera dengan berat pemberian 4 gram per akuarium, umur 11 hari s/d 14 menjadi 5 gram per akuarium. Pada larva umur 14 s/d 17 diberikan 6 garm cacing sutera dan 18 s/d 21 ditambah menjadi 7 gram. Lamanya pemeliharaan patin adalah tiga minggu dengan ukuran 1 inci. 8) Penyediaan Pakan Alami Pakan alami yang digunakan Arifin Fish Farm adalah cacing sutera dan artemia sp, yaitu jenis pakan alami berupa zooplankton atau udang-udangan tingkat rendah yang hidup di air asin. Cacing sutera yang digunakan yaitu cacing sutera segar (hidup) dan cacing beku. Artemia yang dibutuhkan dalam usaha budidaya terutama dalam pembenihan ikan dan udang memiliki nutrisi alami yang sangat baik. Keunggulan lain dari artemia sebagai pakan yaitu dapat disediakan dalam jumlah yang cukup, tepat waktu, dan berkesinambungan melalui telur dorman atau kista yang dapat diawaetkan. Artemia sp diperlukan karena larva ikan hias air tawar memiliki bukaan mulut yang kecil, memiliki kandungan nutrisi dan gizi yang cukup serta mudah dalam penyediaanya. Media penetasan artemia sangat praktis, yaitu hanya dengan menetaskan telurnya ke dalam air asin dan diberikan aerasi. Air asin bisa berasal dari air laut maupun larutan garam dapur. Selanjutnya air asin berisi telur tersebut diberi aerasi selama jam hingga menetas untuk dijadikan pakan larva ikan hias air tawar. Media penetasan artemia sp dapat dilihat pada Gambar 7.

12 Gambar 7. Media Penetasan Artemia sp Sumber Arifin Fish Farm (2009) 9) Pemanenan Ikan Hias Air Tawar Arifin Fish Farm dalam kegiatan budidaya ikan hias air tawar produk yang dihasilkan adalah ikan Black Ghost ukuran 1 ½ inci dan patin ukuran 1 inci berumur tiga minggu sedangkan ikan Ctenopoma ukuran 1 ½ inci berumur empat minggu. Ikan hias air tawar sudah siap dipanen karena tergantung dengan permintaan pasar. Pemanenan dilakukan dengan cara membuang air sebanyak 80 persen dari volume awal, dengan tujuan untuk memudahkan penyerokan ikan. Selanjutnya ikan diserok dengan menggunakan serokan ukuran sedang, dan diletakkan dalam baskom yang telah diisi air, diatas baskom diberi kain kasa. Pemanenan dilakukan pada saat ikan akan dikirim ke eksportir dan pengumpul, sebelum dilakukan pengepakan ikan hias disortir kembali dengan menggunakan centong dilihat kelengkapan tubuh ikan dan sekaligus ukuran ikan. Adapun kriteria ikan yang dipasarkan adalah berukuran seragam, sehat, kelengkapan tubuh ikan dan warna ikan cerah. 10) Pengepakan dan Transportasi Pengepakan dan transportasi ikan di Arifin Fish Farm merupakan kegiatan akhir yang dilakukan. Ikan yang telah dipanen kemudian dimasukkan ke dalam baskom besar untuk dihitung. Cara penghitungan ikan yaitu dengan mempersiapkan baskom yang telah berisi ikan, kemudian ikan dihitung sebanyak 100 ekor selanjutnya dimasukan ke dalam plastik packing berukuran 40 cm x 60 cm diberi oksigen, serta diikat dengan karet. Proses pemberian oksigen pada saat packing ikan hias air tawar, dapat dilihat pada Gambar 8.

13 Gambar 8. Proses Pemberian Oksigen pada saat Packing Ikan Hias Air Tawar Sumber Arifin Fish Farm (2009). Pengangkutan ikan hias ini dilakukan pada pagi hari, karena pada saat pagi hari suhu relatif rendah sehingga dapat mengurangi stres pada ikan akibat fluktuasi suhu. Plastik yang telah berisi ikan kemudian diangkut ke eksportir Tofan Fish Farm yang berjarak 2 km dari perusahaan. Sistem pengangkutan yang dilakukan Arifin Fish Farm yaitu dengan menggunakan sepeda motor untuk pengangkutan jarak dekat dan mobil untuk pengangkutan jarak jauh.

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan Ben s Fish Farm mulai berdiri pada awal tahun 1996. Ben s Fish Farm merupakan suatu usaha pembenihan larva ikan yang bergerak dalam budidaya ikan konsumsi, terutama

Lebih terperinci

VI. ANALISIS ASPEK ASPEK NON FINANSIAL

VI. ANALISIS ASPEK ASPEK NON FINANSIAL VI. ANALISIS ASPEK ASPEK NON FINANSIAL 6.1 Analsis Aspek Pasar Dalam aspek pasar akan dikaji mengenai potensi pasar ikan hias air tawar dan bauran pemasaran yang dilakukan perusahaan menyangkut bauran

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI TAUFAN S FISH FARM

V. DESKRIPSI TAUFAN S FISH FARM V. DESKRIPSI TAUFAN S FISH FARM 5.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Taufan Fish Farm berlokasi di Jl. Raya Bogor Km. 7, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Taufan s Fish Farm merupakan perusahaan perseorangan

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus)

Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus) 1 Deskripsi METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus) Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan produksi massal benih ikan hias mandarin (Synchiropus splendidus),

Lebih terperinci

MODUL: PEMELIHARAAN LARVA SAMPAI UKURAN PASAR

MODUL: PEMELIHARAAN LARVA SAMPAI UKURAN PASAR BDI-T/21/21.3 BIDANG BUDIDAYA IKAN PROGRAM KEAHLIAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR BUDIDAYA IKAN HIAS JENIS TETRA MODUL: PEMELIHARAAN LARVA SAMPAI UKURAN PASAR DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada kelompok

Lebih terperinci

Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Disusun oleh: ADE SUNARMA

Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Disusun oleh: ADE SUNARMA Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Disusun oleh: ADE SUNARMA BBPBAT Sukabumi 2007 Daftar Isi 1. Penduluan... 1 2. Persyaratan Teknis... 2 2.1. Sumber Air... 2 2.2. Lokasi...

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan pengusahaan budidaya ikan bawal air tawar dilakukan untuk mengetahui apakah pengusahaan ikan bawal air tawar yang dilakukan Sabrina Fish Farm layak

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013.

BAB III BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013. BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013. 3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat-alat Penelitian

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Proses pengambilan data yang dilakukan peneliti dalam memperoleh data tentang gambaran umum perusahaan dilakukan dengan wawancara, kemudian dilanjutkan dengan pemberian file

Lebih terperinci

Lampiran 1. Pola Tanam Pengusahaan Pembenihan Ikan Lele Phyton Pada Usaha Gudang Lele. Periode 1 Periode 2 Periode 3. Periode 4.

Lampiran 1. Pola Tanam Pengusahaan Pembenihan Ikan Lele Phyton Pada Usaha Gudang Lele. Periode 1 Periode 2 Periode 3. Periode 4. LAMPIRAN Lampiran 1. Pola Tanam Pengusahaan Pembenihan Ikan Lele Phyton Pada Usaha Gudang Lele Periode 1 Periode 2 Periode 3 Periode 4 Periode 5 Kolam Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6 Bulan

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 7.1 Penggunaan Input Produksi Pembenihan Ikan Patin Secara umum input yang digunakan dalam pembenihan ikan patin di Kota Metro dapat dilihat pada Tabel berikut ini: Tabel

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemeliharaan Induk Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk terlebih dahulu di kolam pemeliharaan induk yang ada di BBII. Induk dipelihara

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, pada bulan Maret 2013 sampai dengan April 2013.

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar SNI : 01-6483.4-2000 Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar DAFTAR ISI Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan... 1 3 Definisi... 1

Lebih terperinci

Pematangan Gonad di kolam tanah

Pematangan Gonad di kolam tanah Budidaya ikan patin (Pangasius hypopthalmus) mulai berkemang pada tahun 1985. Tidak seperti ikan mas dan ikan nila, pembenihan Patin Siam agak sulit. Karena ikan ini tidak bisa memijah secara alami. Pemijahan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi.

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi. III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi. 3.2 Alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam

Lebih terperinci

PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer)

PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer) PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer) 1. PENDAHULUAN Kakap Putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak disukai masyarakat dan mempunyai niali ekonomis yang tinggi. Peningkatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Persiapan Kolam Pemijahan Kolam pemijahan dibuat terpisah dengan kolam penetasan dan perawatan larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga mudah

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai bulan Januari 2013 bertempat di Hatcery Kolam Percobaan Ciparanje

Lebih terperinci

VI. ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL

VI. ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL VI. ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL 6.1. Aspek Pasar Pasar merupakan suatu sekelompok orang yang diorganisasikan untuk melakukan tawar-manawar, sehingga dengan demikian terbentuk harga (Umar 2007).

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITITAN Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Januari 2011 sampai dengan Februari 2011 di Wisma Wageningan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

METODE PENELITIAN. Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitan ini dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai bulan Januari 2015 bertempat di Desa Toto Katon, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Riset Ikan Hias Depok. Penelitian berlangsung pada tanggal 15 Agustus hingga 5 Oktober 2012. Penelitian diawali

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan Program

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan Program 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Prospek bisnis ikan hias di Indonesia cukup cerah. Faktor pendukungnya adalah jenis ikan yang beragam, air cukup, lahan masih sangat luas dan iklimnya cocok.

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Jl. Peta No. 83, Bandung, Jawa Barat 40232, selama 20 hari pada bulan Maret April 2013. 3.2 Alat dan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budidaya Perikanan Usaha Ikan Hias Air Tawar Wadah dan Peralatan Pemeliharaan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budidaya Perikanan Usaha Ikan Hias Air Tawar Wadah dan Peralatan Pemeliharaan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budidaya Perikanan 2.1.1 Usaha Ikan Hias Air Tawar Berdasarkan habitatnya ikan hias dapat digolongan kedalam dua jenis ikan hias air tawar dan ikan hias air laut. Ikan hias mempunyai

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Hatchery Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran pada bulan April sampai Mei 2013. Tahapan yang

Lebih terperinci

VI. ANALISIS OPTIMALISASI PRODUKSI BENIH IKAN HIAS AIR TAWAR PADA TAUFAN S FISH FARM

VI. ANALISIS OPTIMALISASI PRODUKSI BENIH IKAN HIAS AIR TAWAR PADA TAUFAN S FISH FARM VI. ANALISIS OPTIMALISASI PRODUKSI BENIH IKAN HIAS AIR TAWAR PADA TAUFAN S FISH FARM 6.1 Perumusan Model Untuk merumuskan model interger programming, tahap awal yang dilakukan adalah merumuskan fungsi

Lebih terperinci

Lampiran 1b, Data laju pertumbuhan spesifik benih lele Sangkuriang dengan lama pemeliharaan 20 hari

Lampiran 1b, Data laju pertumbuhan spesifik benih lele Sangkuriang dengan lama pemeliharaan 20 hari LAMPIRAN 24 25 Lampiran 1. Data sampling bobot benih ikan lele dan analisis ragam pertumbuhan bobot harian Lampiran 1a, Data sampling bobot benih ikan lele tiap perlakuan setiap 5 hari 35 ekor/liter 40

Lebih terperinci

MODUL: PEMANENAN DAN PENGANGKUTAN

MODUL: PEMANENAN DAN PENGANGKUTAN BDI-T/21.21.4 BIDANG BUDIDAYA IKAN PROGRAM KEAHLIAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR BUDIDAYA IKAN HIAS JENIS TETRA MODUL: PEMANENAN DAN PENGANGKUTAN DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

MODUL: PEMANENAN DAN PENGEMASAN

MODUL: PEMANENAN DAN PENGEMASAN BDI-L/1/1.3 BIDANG BUDIDAYA IKAN PROGRAM KEAHLIAN BUDIDAYA IKAN AIR LAUT PENDEDERAN KERAPU: KERAPU BEBEK MODUL: PEMANENAN DAN PENGEMASAN DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Desa Pabuaran Desa Pabuaran berada di wilayah Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor provinsi Jawa Barat. Desa ini merupakan daerah dataran tinggi dengan tingkat

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin

BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin II. BAHAN DAN METODE 2.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini merupakan bagian dari subset penelitian faktorial untuk mendapatkan dosis PMSG dengan penambahan vitamin mix 200 mg/kg pakan yang dapat menginduksi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat. III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2013, di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat. B. Alat dan Bahan (1)

Lebih terperinci

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were.

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were. II. METODOLOGI 2.1 Materi Uji Sumber genetik yang digunakan adalah ikan nilem hijau dan ikan nilem were. Induk ikan nilem hijau diperoleh dari wilayah Bogor (Jawa Barat) berjumlah 11 ekor dengan bobot

Lebih terperinci

Pembenihan Jambal Siam (Pangasius sutchi )

Pembenihan Jambal Siam (Pangasius sutchi ) Pembenihan Jambal Siam (Pangasius sutchi ) Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta 1997 KATA PENGANTAR Penguasaan teknologi pembenihan Jambal Siam (pangasius sutchi) oleh petani

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM USAHA. Tabel 4. Penggunaan Lahan Pada Kecamatan Bekasi Utara Pada Tahun 2010

GAMBARAN UMUM USAHA. Tabel 4. Penggunaan Lahan Pada Kecamatan Bekasi Utara Pada Tahun 2010 V GAMBARAN UMUM USAHA 5.1. Gambaran Umum Wilayah 5.1.1. Letak dan Keadaan Alam Kecamatan Bekasi Utara merupakan salah satu kecamatan yang terletak di sebelah utara Kota Bekasi dengan luas wilayah sekitar

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 1 23 Agustus 2013, bertempat di Laboratorium Bioteknologi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Akuakultur Gedung IV Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran pada bulan April hingga

Lebih terperinci

AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT

AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT UNDERSTANDING POND AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT Soil Profile Soil Triangle Clear plastic liner tube & sediment removal tool Sediment Sampler Soil acidity tester Food web in Aquaculture

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Hias Air Tawar di Indonesia 1. Angelfish ( Pterophyllum Scalare 2. Blackghost ( Apteronotus Albifrons

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Hias Air Tawar di Indonesia 1. Angelfish ( Pterophyllum Scalare 2. Blackghost ( Apteronotus Albifrons II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Hias Air Tawar di Indonesia Indonesia kaya akan keanekaragaman spesies ikan hias. Indonesia memiliki 400 spesies ikan air tawar dari 1.100 jenis ikan hias air tawar yang ada

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli Benih ikan patin siam di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli Benih ikan patin siam di BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2011. Benih ikan patin siam di trasportasikan dari hatchery pembenihan Balai Benih Ikan Inovatif (BBII) Provinsi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 8 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 di Kolam Percobaan Babakan, Laboratorium Pengembangbiakkan dan Genetika Ikan

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE

II. BAHAN DAN METODE II. BAHAN DAN METODE 2.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juni 2012. Penelitian dilaksanakan di Ruang Penelitian, Hanggar 2, Balai Penelitian dan Pengembangan

Lebih terperinci

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS Usaha Pembenihan Ikan Bawal Di susun oleh: Nama : Lisman Prihadi NIM : 10.11.4493 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2010 / 2011 PENDAHULUAN Latar Belakang Ikan bawal merupakan salah satu

Lebih terperinci

II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Penentuan Betina dan Jantan Identifikasi Kematangan Gonad

II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Penentuan Betina dan Jantan Identifikasi Kematangan Gonad II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah belut sawah (Monopterus albus) yang diperoleh dari pengumpul ikan di wilayah Dramaga. Kegiatan penelitian terdiri

Lebih terperinci

MODUL: PEMIJAHAN DAN PEMANENAN TELUR

MODUL: PEMIJAHAN DAN PEMANENAN TELUR BDI-L/3/3.2 BIDANG BUDIDAYA IKAN PROGRAM KEAHLIAN BUDIDAYA IKAN AIR LAUT PENGELOLAAN INDUK KERAPU: KERAPU BEBEK MODUL: PEMIJAHAN DAN PEMANENAN TELUR DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

Bab 3. Budidaya pembenihan ikan konsumsi

Bab 3. Budidaya pembenihan ikan konsumsi Bab 3 Budidaya pembenihan ikan konsumsi Nama kelompok : dani andrean isna nur hanifa hadyan nandana maarif maulana nanak cito t putri rosita rendra fitra tania novita Pembenihan ikan konsumsi Jenis-jenis

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE

II. BAHAN DAN METODE II. BAHAN DAN METODE 2.1 Rancangan Percobaan Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) tiga perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan yaitu : 1) Perlakuan A dengan pergantian air

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011 bertempat di. Balai Budidaya Ikan Hias, Natar, Lampung Selatan.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011 bertempat di. Balai Budidaya Ikan Hias, Natar, Lampung Selatan. III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011 bertempat di Balai Budidaya Ikan Hias, Natar, Lampung Selatan. B. Alat dan Bahan Penelitian

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar SNI : 02-6730.3-2002 Standar Nasional Indonesia Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar Prakata Standar produksi benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

Lebih terperinci

PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING)

PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING) PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING) DISUSUN OLEH : TANBIYASKUR, S.Pi., M.Si MUSLIM, S.Pi., M.Si PROGRAM STUDI AKUAKULTUR FAKULTAS

Lebih terperinci

VI. ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL

VI. ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL VI. ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL 6.1. Aspek Pasar Pasar merupakan pertemuan antara permintaan dan penawaran dari suatu produk. Menurut Umar (2007), pasar merupakan suatu sekelompok orang yang diorganisasikan

Lebih terperinci

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga. Pendahuluan

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga. Pendahuluan Pendahuluan Pembenihan merupakan suatu tahap kegiatan dalam budidaya yang sangat menentukan kegiatan pemeliharaan selanjutnya dan bertujuan untuk menghasilkan benih. Benih yang dihasilkan dari proses pembenihan

Lebih terperinci

USAHA PEMBENIHAN IKAN (salah satu faktor penentu di dalam usaha budidaya ikan)

USAHA PEMBENIHAN IKAN (salah satu faktor penentu di dalam usaha budidaya ikan) USAHA PEMBENIHAN IKAN (salah satu faktor penentu di dalam usaha budidaya ikan) Melalui berbagai media komunikasi pemerintah selalu menganjurkan kepada masyarakat untuk makan ikan. Tujuannya adalah untuk

Lebih terperinci

Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar

Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia SNI 7311:2009 Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional SNI 7311:2009 Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii

Lebih terperinci

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M :

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M : LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS NAMA KELAS : IMADUDIN ATHIF : S1-SI-02 N.I.M : 11.12.5452 KELOMPOK : G STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Akuakultur Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele

Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele Oleh : Rangga Ongky Wibowo (10.11.4041) S1Ti 2G STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011/2012 Kata Pengantar... Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, atas limpahan

Lebih terperinci

NAMA KELOMPOK : PUTRI FEBRIANTANIA M ( ) R

NAMA KELOMPOK : PUTRI FEBRIANTANIA M ( ) R USAHA TELUR ASIN NAMA KELOMPOK : PUTRI FEBRIANTANIA M (0610963043) R. YISKA DEVIARANI S (0610963045) SHANTY MESURINGTYAS (0610963059) WIDIA NUR D (0610963067) YOLANDA KUMALASARI (0610963071) PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dari April 2010 sampai Januari 2011, di Laboratorium Pembenihan Ikan Ciparanje dan Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan

Lebih terperinci

Modul Praktikum Plankton Budidaya Daphnia sp. Tim Asisten Laboratorium Planktonologi FPIK UNPAD

Modul Praktikum Plankton Budidaya Daphnia sp. Tim Asisten Laboratorium Planktonologi FPIK UNPAD 2014 Modul Praktikum Plankton Budidaya Daphnia sp. Tim Asisten Laboratorium Planktonologi FPIK UNPAD I. Pendahuluan Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami kolam-kolam, sawah,

Lebih terperinci

PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF

PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF Pemijahan ikan lele semi intensif yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi

Lebih terperinci

MODUL: PEMIJAHAN INDUK IKAN TETRA

MODUL: PEMIJAHAN INDUK IKAN TETRA BDI-T/21/21.2 BIDANG BUDIDAYA IKAN PROGRAM KEAHLIAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR BUDIDAYA IKAN HIAS JENIS TETRA MODUL: PEMIJAHAN INDUK IKAN TETRA DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

MODUL: PEMELIHARAAN INDUK

MODUL: PEMELIHARAAN INDUK BDI L/3/3.1 BIDANG BUDIDAYA IKAN PROGRAM KEAHLIAN BUDIDAYA IKAN AIR LAUT PENGELOLAAN INDUK KERAPU: KERAPU BEBEK MODUL: PEMELIHARAAN INDUK DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN

Lebih terperinci

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga PENDAHULUAN Latar Belakang Udang windu merupakan salah satu komoditas ekspor non migas dalam sektor perikanan. Kegiatan produksi calon induk udang windu merupakan rangkaian proses domestifikasi dan pemuliaan

Lebih terperinci

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Benih Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Benih Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu nr. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Benih Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau pada tanggal 10 sampai dengan 28 Desember 2003.

Lebih terperinci

Penanganan induk udang windu, Penaeus monodon (Fabricius, 1798) di penampungan

Penanganan induk udang windu, Penaeus monodon (Fabricius, 1798) di penampungan Standar Nasional Indonesia Penanganan induk udang windu, Penaeus monodon (Fabricius, 1798) di penampungan ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup...

Lebih terperinci

Oleh: Tinggal Hermawan BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT AMBON DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN RI

Oleh: Tinggal Hermawan BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT AMBON DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN RI Oleh: Tinggal Hermawan BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT AMBON DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN RI (Amphiprion sp) (Chrysiptera cyanea) (Paracanthurus hepatus) (Pterapogon

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. bio.unsoed.ac.id

METODE PENELITIAN. bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih lobster air tawar yang merupakan hasil pemijahan dari satu set induk yang diperoleh dari tempat penjualan induk bersertifikat,

Lebih terperinci

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13 PEMBENIHAN : SEGALA KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM PEMATANGAN GONAD, PEMIJAHAN BUATAN DAN PEMBESARAN LARVA HASIL PENETASAN SEHINGGA MENGHASILAKAN BENIH YANG SIAP DITEBAR DI KOLAM, KERAMBA ATAU DI RESTOCKING

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Sejarah Yayasan Paguyuban Ikhlas Usaha jamur tiram putih di Yayasan Paguyuban Ikhlas didirikan oleh bapak Hariadi Anwar. Usaha jamur tiram putih ini merupakan salah

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Tahap Penelitian 2.2 Prosedur Kerja Penelitian Pendahuluan Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Tahap Penelitian 2.2 Prosedur Kerja Penelitian Pendahuluan Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan II. BAHAN DAN METODE 2.1 Tahap Penelitian Kegiatan penelitian ini terbagi dalam dua tahap yaitu tahap penelitian pendahuluan dan tahap utama. Penelitian pendahuluan meliputi hasil uji kapasitas serap zeolit,

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang, Jawa Barat. Penelitian

Lebih terperinci

Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii kini mengadopsi

Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii kini mengadopsi 1 Udang Galah Genjot Produksi Udang Galah Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii kini mengadopsi gaya rumah susun. Setiap 1 m² dapat diberi 30 bibit berukuran 1 cm. Hebatnya kelulusan hidup meningkat

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada tanggal 26 Maret - 25 April 2012 di Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada tanggal 26 Maret - 25 April 2012 di Laboratorium III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada tanggal 26 Maret - 25 April 2012 di Laboratorium Basah Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PEMIJAHAN, PENETASAN TELUR DAN PERAWATAN LARVA Pemijahan merupakan proses perkawinan antara induk jantan dengan induk betina. Pembuahan ikan dilakukan di luar tubuh. Masing-masing

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar SNI : 01-6133 - 1999 Standar Nasional Indonesia Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar Daftar Isi Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan...1 3 Definisi...1

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE

II. BAHAN DAN METODE II. BAHAN DAN METODE 2.1 Tahap Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pendahuluan dan utama. Metodologi penelitian sesuai dengan Supriyono, et al. (2010) yaitu tahap pendahuluan

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE 2. 1 Rancangan penelitian 2.2 Persiapan wadah 2.3 Penyediaan larva ikan patin

II. BAHAN DAN METODE 2. 1 Rancangan penelitian 2.2 Persiapan wadah 2.3 Penyediaan larva ikan patin II. BAHAN DAN METODE 2. 1 Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Rancangan perlakuan yang diberikan pada larva ikan

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Alat dan Bahan 2.2 Tahap Penelitian

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Alat dan Bahan 2.2 Tahap Penelitian II. BAHAN DAN METODE 2.1 Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah akuarium dengan dimensi 50 x 30 x 30 cm 3 untuk wadah pemeliharaan ikan, DO-meter, termometer, ph-meter, lakban, stoples bervolume 3 L,

Lebih terperinci

APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus)

APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus) APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus) Oleh Adi Hardiyanto, Marwa dan Narulitta Ely ABSTRAK Induk ikan mandarin memanfaatkan pakan untuk reproduksi. Salah satu

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 12 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan bulan November 2012 di Instalasi Penelitian Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, Bogor. Analisis hormon testosteron

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Percobaan 1. Pengaruh pemberian bahan aromatase inhibitor pada tiga genotipe ikan nila sampai tahap pendederan.

BAHAN DAN METODE. Percobaan 1. Pengaruh pemberian bahan aromatase inhibitor pada tiga genotipe ikan nila sampai tahap pendederan. 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika dan kolam percobaan pada Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Jl. Raya 2 Sukamandi,

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di LaboratoriumPembenihan Ikan Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran pada bulan Maret sampai

Lebih terperinci

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BUDIDAYA IKAN KOI Cyprinus carpio DI KELOMPOK PETANI KOI SUMBER HARAPAN, KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BUDIDAYA IKAN KOI Cyprinus carpio DI KELOMPOK PETANI KOI SUMBER HARAPAN, KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BUDIDAYA IKAN KOI Cyprinus carpio DI KELOMPOK PETANI KOI SUMBER HARAPAN, KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR BIDANG KEGIATAN: PKM AI Diusulkan oleh: Dwi Rian Antono C14051968 2005

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April 2013 sampai Mei 2013 dilaksanakan di Hatchery Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Jenis Kelamin Belut Belut sawah merupakan hermaprodit protogini, berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa pada ukuran panjang kurang dari 40 cm belut berada pada

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Hatchery Ciparanje Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Waktu pelaksanaan dimulai dari bulan

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar SNI : 01-6137 - 1999 Standar Nasional Indonesia Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar Daftar Isi Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan...1 3 Definisi...1

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar SNI : 01-6485.3-2000 Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar DAFTAR ISI Pendahuluan 1. Ruang Lingkup... 1 2. Acuan... 1 3. Definisi... 1 4. Istilah...

Lebih terperinci

Ima Yudha Perwira, S.Pi, MP, M.Sc (Aquatic)

Ima Yudha Perwira, S.Pi, MP, M.Sc (Aquatic) PROSES DAN INFRASTRUKTUR HATCHERY IKAN KERAPU (Epeinephelus, Cromileptes, dll) Ima Yudha Perwira, S.Pi, MP, M.Sc (Aquatic) IKAN KERAPU Ikan kerapu merupakan komoditas eksport yang bernilai ekonomis tinggi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2012, di Balai

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2012, di Balai III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2012, di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat. B. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

PRODUKSI BENIH UDANG VANAME (LITOPENAEUS VANNAMEI) KELAS BENIH SEBAR

PRODUKSI BENIH UDANG VANAME (LITOPENAEUS VANNAMEI) KELAS BENIH SEBAR PRODUKSI BENIH UDANG VANAME (LITOPENAEUS VANNAMEI) KELAS BENIH SEBAR Standar Nasional Indonesia Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada 2 Oktober sampai 10 November 2014,

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada 2 Oktober sampai 10 November 2014, III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 2 Oktober sampai 10 November 2014, bertempat di Laboratorium Budidaya Perikanan, Jurusan Budidaya Perairan Universitas

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2009 sampai dengan bulan September 2009 bertempat di Laboratorium Sistem Produksi dan Manajemen Akuakultur, Departemen

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 23 Februari sampai 11 Maret 2013, di Laboratorium Akuakultur dan untuk pengamatan selama endogenous

Lebih terperinci