KATA PENGANTAR. Disamping itu, buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karenanya masukan dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KATA PENGANTAR. Disamping itu, buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karenanya masukan dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan."

Transkripsi

1 DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEPERAWATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PELAYANAN MEDIK DEPARTEMEN KESEHATAN RI TAHUN 2006

2 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas perkenan-nya, buku Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini dapat diterbitkan. Buku Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini merupakan hasil revisi Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Penerapan Standar Asuhan Keperawatan pada Kasus di Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Ketergantungan Obat tahun Pelayanan Keperawatan Jiwa sebagai salah satu bentuk pelayanan professional, merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Di sisi lain yakni sebagai salah satu factor penetu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit, oleh karena itu kualitas pelayanan keperawatan jiwa perlu dipertahankan serta ditingkatkan seoptimal mungkin. Bertolak dari kerangka pikir inilah, maka keberadaan Standar Pelayanan Jiwa sangat diperlukan dan Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini berfungsi sebagai pedoman kerja bagi tenaga keperawatan serta sebagai tolok ukur mutu pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Oleh karena itu, Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa harus dilaksanakan oleh seluruh tenaga keperawatan sehingga pelayanan keperawatan jiwa dapat dipertanggung jawabkan secara professional. Terutama dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan persiapan program akreditasi RS, maka dalam pemberian asuhan keperawatan, seluruh tenaga keperawatan mutlak menerapkan Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa. Kepada semua pihak yang telah berperan serta dan memberikan bantuan pemikiran serta sumbang saran demi terwujudnya buku ini, kami sampaikan terima kasih. Disamping itu, buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karenanya masukan dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan. Jakarta, Desember 2006 Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Sekretaris, Dr. Mulya A. Hasjmy, Sp.B, M.Kes. NIP ii

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI i ii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Pengertian 2 C. Lingkup Pelayanan Keperawatan Jiwa 2 D. Sistematika Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa 2 BAB II BAB III STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN JIWA A. Standar I : Pengkajian Keperawatan 3 B. Standar II : Diagnosa Keperawatan 4 C. Standar III : Perencanaan 4 D. Standar IV : Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 5 E. Standar V : Evaluasi 6 STANDAR KINERJA PROFESIONAL A. Standar I : Kualitas Asuhan 7 B. Standar II : Penilaian Kinerja 8 C. Standar III : Pendidikan 8 D. Standar IV : Kolegialitas 9 E. Standar V : Etika 9 F. Standar VI : Kolaborasi 10 G. Standar VII : Penelitian 11 H. Standar VIII : Penggunaan Sumber Daya 11 BAB V PENUTUP 13 LAMPIRAN PEDOMAN ASUHAN KEPERAWATAN A. Asuhan Keperawatan Pasien Harga Diri Rendah B. Asuhan Keperawatan Pasien Isolasi Sosial C. Asuhan Keperawatan Pasien Halusinasi D. Asuhan Keperawatan Pasien Kurang Perawatan Diri E. Asuhan Keperawatan Pasien Waham F. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Perilaku Kekerasan G. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Bunuh Diri H. Asuhan Keperawatan Pasien Ketergantungan Napza PEDOMAN TINDAKAN KEPERAWATAN A. Konseling B. Aktivitas Perawatan Diri C. Terapi Lingkungan D. Pendidikan Kesehatan Jiwa E. Manajemen Kasus ii

4 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan dalam bidang informasi dan komunikasi serta teknologi memberi dampak adanya pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat hingga menimbulkan berbagai konflik dalam kehidupan. Kecenderungan meningkatnya masalah psikososial dan gangguan kesehatan jiwa dalam masyarakat akhir-akhir ini terlihat dengan jelas. Proyeksi WHO (tahun 2005) tentang pengaruh bencana tsunami terhadap korban adalah 12 bulan setelah peristiwa bencana sebanyak 30-50% korban akan mengalami distress psikososial sedang ke berat, 20-40% mengalami distress psikososial sedang, 15-20% mengalami gangguan jiwa sedang ke berat dan 3-4% gangguan jiwa berat. (angka gangguan akibat bom bali, gempa Yogya disertakan) Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI tahun 2004, menunjukkan bahwa dari 4576 sampel yang mengalami gangguan jiwa, sebanyak 0,7% terjadi pada kelompok usia tahun, tahun dan tahun. Masalah kesehatan jiwa saat ini merupakan ancaman, meskipun tidak menyebabkan kematian, secara langsung namun dapat menyebabkan kerugian karena pasien/klien tidak menjadi produktif bahkan seringkali tergantung pada keluarga atau masyarakat sekitar. Untuk menanggulangi kasus tersebut perlu pelayanan yang komprehensif dan optimal. Pelayanan keperawatan jiwa merupakan bagian pelayanan yang penting untuk mengurangi angka kejadian dan angka kesakitan kesehatan jiwa. Menyikapi hal tersebut, Direktorat Keperawatan Depkes RI pada tahun 1997 telah menyusun Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa yang dipergunakan sebagai pedoman bagi perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan jiwa agar masyarakat dapat menerima pelayanan keperawatan jiwa yang aman. Standar pelayanan keperawatan jiwa merupakan salah satu komponen mutu pelayanan kesehatan yang merupakan indikator dari kondisi, perilaku dan elemen kunci sebagai tolok ukur pengukuran mutu pelayanan keperawatan. Perubahan akibat berkembangnya IPTEK kedokteran dan keperawatan serta perubahan kondisi rumah sakit jiwa, menuntut dilakukannya revisi terhadap Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa yang telah disusun tersebut.

5 B. PENGERTIAN Standar pelayanan keperawatan jiwa merupakan salah satu perangkat yang diperlukan oleh setiap tenaga perawat khususnya perawat di rumah sakit jiwa dan rumah sakit ketergantungan obat dalam memberikan pelayanan keperawatan jiwa. Standar praktik keperawatan adalah ekspektasi atau harapan-harapan minimal dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman, efektif dan etis. C. LINGKUP PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA Lingkup pelayanan keperawatan jiwa meliputi rentang antara sehat dan sakit, anak hingga lanjut usia, puskesmas dan rumah sakit, serta rumah dan tempat perawatan lain. Pelayanan keperawatan jiwa diberikan pada individu, keluarga maupun kelompok. Standar ini difokuskan pada rentang sakit yaitu pasien yang dirawat inap maupun rawat jalan di RS Jiwa dan RSKO yang mengalami gangguan jiwa dan masalah psikososial pada pasien usia anak hingga lanjut usia dalam konteks individu dan keluarga. D. SISTEMATIKA STANDAR PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA Berdasarkan batasan lingkup pelayanan keperawatan jiwa diatas, maka sistematika standar pelayanan keperawatan jiwa ini disusun sebagai berikut : I. Standar Praktik Keperawatan Jiwa A. Standar I : Pengkajian B. Standar II : Diagnosa Keperawatan C. Standar III : Perencanaan D. Standar IV : Pelaksanaan Tindakan Keperawatan E. Standar V : Evaluasi II. Standar Penampilan Profesional Perawat A. Standar I : Kualitas Asuhan B. Standar II : Penilaian Kinerja C. Standar III : Pendidikan D. Standar IV : Kolegialitas E. Standar V : Etika F. Standar VI : Kolaborasi G. Standar VII : Penelitian H. Standar VIII : Penggunaan Sumber Daya

6 III. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa A. Asuhan Keperawatan Pasien Harga Diri Rendah B. Asuhan Keperawatan Pasien Isolasi Sosial C. Asuhan Keperawatan Pasien Halusinasi D. Asuhan Keperawatan Pasien Kurang Perawatan Diri E. Asuhan Keperawatan Pasien Waham F. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Perilaku Kekerasan G. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Bunuh Diri H. Asuhan Keperawatan Pasien Ketergantungan Napza

7 BAB II STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA A. STANDAR I : PENGKAJIAN Pernyataan Perawat mengumpulkan data spesifik tentang kesehatan jiwa pasien yang diperoleh dari berbagai sumber data dengan menggunakan berbagai metode pengkajian. Rasional Pengkajian yang terfokus memudahkan perawat membuat keputusan klinik (diagnosa keperawatan) dan membuat perencanaan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Kriteria struktur 1. Ada kebijakan pemberlakuan/ SAK dan SOP 2. Adanya petunjuk teknis 3. Tersedianya format pengkajian Kriteria proses 1. Melakukan kontrak dengan pasien/keluarga/masyarakat 2. Mengkaji keluhan utama pasien dan data penunjang lain dengan berbagai metode pengkajian dan dari berbagai sumber 3. Mengelompokkan data yang diperoleh secara sistimatis 4. Memvalidasi data yang diperoleh dengan menggunakan berbagai metode validasi 5. Mendokumentasi seluruh data yang diperoleh dalam format pengkajian Kriteria hasil 1. Diperolehnya keluhan utama dan data dasar pasien; yang dikelompokkan dan didokumentasikan pada format pengkajian yang telah ditetapkan 2. Pasien dan keluarga berpartisipasi dalam proses pengumpulan data

8 B. STANDAR II : DIAGNOSA KEPERAWATAN Pernyataan Perawat menganalisa data hasil pengkajian untuk menegakkan diagnosa keperawatan jiwa. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan merupakan keputusan klinis perawat tentang respons individu, keluarga dan masyarakat terhadap masalah kesehatan jiwa yang aktual maupun resiko. Rasional Melalui diagnosis keperawatan yang ditegakkan, perawat memperlihatkan kemampuan melakukan justifikasi ilmiah dalam membuat keputusan klinik Kriteria struktur 1. Adanya daftar diagnosa keperawatan 2. Kebijakan SAK Kriteria proses 1. Menganalisa data pasien 2. Mengidentifikasi masalah keperawatan pasien 3. Mendokumentasikan masalah keperawatan pasien Kriteria hasil Diperoleh serangkaian masalah keperawatan yang aktual maupun resiko sesuai dengan kondisi pasien. C. STANDAR III: PERENCANAAN Pernyataan Perawat mengembangkan serangkaian langkah-langkah penyelesaian masalah kesehatan pasien dan keluarga yang terencana dan terorganisir dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lain. Perencanaan menggambarkan intervensi yang mengarah pada kriteria hasil yang diharapkan. Rasional Rencana tindakan keperawatan digunakan sebagai pedoman dalam melakukan tindakan keperawatan yang terapeutik, sistematis dan efektif untuk mencapai hasil yang diharapkan Kriteria struktur 1. Adanya kebijakan SAK 2. Adanya format rencana keperawatan

9 Kriteria proses 1. Memprioritaskan masalah keperawatan 2. Merumuskan tujuan keperawatan 3. Menetapkan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah pasien 4. Memvalidasi kesesuaian rencana keperawatan dengan kondisi pasien terkini 5. Mendokumentasikan rencana keperawatan Kriteria hasil Adanya dokumentasi rencana keperawatan yang berfokus pada kemampuan kognitif, afektif, psikomotor pasien dan keluarga D. STANDAR IV : PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Pernyataan Perawat melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan rencana keperawatan sesuai dengan kewenangan. Rasional Pelaksanaan tindakan keperawatan merupakan upaya mencegah munculnya masalah kesehatan jiwa, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan pasien. Kriteria struktur 1. Adanya kebijakan SAK dan SOP 2. Tersedia pedoman pelaksanaan tindakan Kriteria proses 1. Melakukan tindakan keperawatan mengacu pada strategi pelaksanaan dengan pendekatan hubungan terpeutik 2. Melibatkan pasien (keluarga) dan profesi lain dalam melaksanakan tindakan 3. Melakukan modifikasi tindakan berdasarkan perkembangan kesehatan pasien 4. Mendokumentasikan tindakan keperawatan Kriteria hasil Tindakan keperawatan dan respon pasien terdokumentasikan

10 E. STANDAR V : EVALUASI Pernyataan : Perawat melakukan evaluasi perkembangan kondisi kesehatan pasien untuk menilai pencapaian tujuan Rasional Evaluasi menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan keperawatan. Kriteria struktur Adanya SOP dan instrumen Kriteria proses 1. Menilai kesesuaian respons pasien dan kriteria hasil 2. Memodifikasi rencana keperawatan sesuai kebutuhan 3. Melibatkan pasien dan keluarga Kriteria hasil 1. Hasil evaluasi tindakan terdokumentasikan 2. Perubahan data pasien terdokumentasikan 3. Perubahan pada masalah keperawatan pasien terdokumentasikan 4. Modifikasi pada rencana keperawatan terdokumentasikan

11 BAB III STANDAR PENAMPILAN PROFESIONAL PERAWAT A. STANDAR I : KUALITAS ASUHAN Pernyataan Perawat mengevaluasi kualitas asuhan dan efektifitas praktek keperawatan kesehatan jiwa secara sistematis. Rasional Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tingkat kesejahteraan masyarakat menimbulkan dampak terhadap pelayanan kesehatan jiwa termasuk pelayanan keperawatan jiwa semakin meningkat. Perawat senantiasa meningkatkan kompetensi diri mengembangkan profesionalisme dan memperbaiki kualitas asuhan keperawatan. Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan penerapan standar asuhan keperawatan jiwa. 2. Adanya SOP sebagai pedoman kerja pelayanan dan asuhan keperawatan 3. Pendidikan minimum DIII Keperawatan 4. Adanya program pengembangan pendidikan keperawatan sesuai standar pengembangan tenaga keperawatan (formal dan non formal) 5. Adanya standar tenaga yang telah ditetapkan 6. Adanya sarana dan prasarana pelayanan keperawatan sesuai standar 7. Adanya tim pengendali mutu pelayanan. Kriteria Proses 1. Mengidentifikasi peluang untuk perubahan perbaikan 2. Mengumpulkan dan menganalisa data yang relevan 3. Membuat perencanaan 4. melaksanakan perubahan untuk meningkatkan kualitas asuhan Kriteria Hasil 1. Tersedia hasil pengendalian mutu pelayanan kesehatan umum : BOR meningkat ALOS menurun TOI meningkat 2. Tersedia data tentang : Pasien lari, pengikatan atau pengekangan fisik, scabies, kategori tingkat ketergantungan pasien : mandiri, bantuan, tergantung 3. Tersedia hasil penilaian kepuasan : (Pasien, Keluarga, Perawat, Tenaga kesehatan lain). 4. Tersedia hasil kinerja (Kepala ruangan, Ketua tim, Perawat pelaksana)

12 B. STANDAR II : PENILAIAN KINERJA Pernyataan Perawat mengevaluasi kinerjanya sesuai dengan standar praktik profesional dan peraturan yang berlaku. Rasional Penilaian kinerja perawat merupakan suatu cara untuk menjamin tercapainya standar praktek keperawatan. Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan penerapan standar penilaian kinerja 2. Adanya program supervisi 3. Adanya program peer review 4. Adanya instrumen self evaluasi Kriteria Proses 1. Melaksanakan supervisi 2. Melaksanakan peer review 3. Melaksanakan self evaluasi 4. Melaksanakan uji kompetensi Kriteria Hasil 1. Adanya laporan hasil supervisi 2. Adanya dokumen kegiatan peer review 3. Adanya dokumen self evaluasi 4. Adanya hasil uji kompetensi C. STANDAR III: PENDIDIKAN Pernyataan Perawat meningkatkan kompetensi secara terus menerus sesuai perkembangan IPTEK Rasional Komitmen untuk terus belajar melalui pendidikan formal dan non formal dalam meningkatkan profesionalisme Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan pengembangan SDM. 2. Adanya pengelolaan program pendidikan formal dan non formal 3. Adanya fasilitas pembelajaran (perpustakaan dan internet) Kriteria Proses 1. Melaksanakan in service training atau in house training 2. Mengirim perawat mengikuti program pelatihan, magang dan seminar 3. Mengirim perawat untuk mengikuti pendidikan formal.

13 Kriteria Hasil 1. Adanya dokumentasi program pengembangan staf formal dan non formal termasuk system seleksi 2. Adanya perawat yang telah mengikuti pendidikan formal dan non formal D. STANDAR IV: KOLEGALITAS Pernyataan Perawat berkontribusi dalam mengembangkan profesionalisme teman sejawat Rasional Perawat bertanggung jawab membagi pengetahuan, penelitian, dan informasi klinis dengan teman sejawat, untuk meningkatkan pertumbuhan profesi. Kriteria Struktur 1. Adanya program pertemuan rutin untuk berbagi ide dan keilmuan (siang klinik) secara formal 2. Adanya program pertemuan rutin perawat jiwa secara informal 3. Adanya program team building: saling menghargai, kohesiveness 4. Adanya program perilaku positif 5. Adanya program bimbingan berjenjang perawat 6. Adanya program bimbingan pada calon perawat atau mahasiswa Kriteria Proses 1. Melaksanakan kegiatan siang klinik 2. Melaksanakan pertemuan informal 3. Melaksanakan kegiatan team building 4. Melaksanakan bimbingan berjenjang sesuai tingkat pengetahuan, pengalaman dan latar belakang tertentu 5. Melaksanakan bimbingan pada calon perawat dan perawat pelaksana serta mahasiswa Kriteria Hasil 1. Adanya dokumen pelaksanaan pertemuan siang klinik 2. Adanya dokumen pelaksanaan pertemuan informal 3. Adanya dokumen pelaksanaan team building 4. Adanya dokumen penilaian perilaku positif 5. Adanya dokumen berbagi ilmu dan pengalaman 6. Adanya dokumen bimbingan pada calon perawat atau mahasiswa E. STANDAR V : ETIKA Pernyataan Keputusan dan tindakan perawat atas nama pasen ditentukan berdasarkan kode etik yang berlaku

14 Rasional Kepercayaan dan hak publik harus dilindungi melalui praktek keperawatan profesional yang didasari oleh pengembangan hubungan yang terapeutik dengan pasen. Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan pemberlakuan pedoman etik profesi perawat yang menyatu dengan dokumen kode etik Rumah Sakit 2. Adanya dokumentasi kode etik keperawatan 3. Adanya SOP penyelesaian masalah etik Kriteria Proses 1. Adanya penyelesaian masalah etik 2. Adanya pelaksanaan peer review untuk membicarakan masalah etik 3. Adanya penyelesaian masalah etik keperawatan Kriteria Hasil 1. Adanya dokumentasi penyelesaian masalah etik. 2. Adanya dokumentasi pelanggaran etik F. STANDAR VI: KOLABORASI Pernyataan Perawat berkolaborasi dengan pasien, teman dekat, dan petugas kesehatan dalam memberikan asuhan. Rasional Praktek keperawatan membutuhkan koordinasi, hubungan terus-menerus di antara konsumen dan pemberi pelayanan untuk menghasilkan pelayanan yang komprehensif terhadap pasien dan masyarakat. Melalui proses kolaborasi, perbedaan kemampuan dari petugas kesehatan digunakan untuk memecahkan masalah, berkomunikasi dan perencanaan, implementasi intervensi, dan evaluasi pelayanan kesehatan jiwa. Kriteria Struktur 1. Adanya program terkait dengan kolaborasi. 2. Adanya program case conference yang dilaksanakan secara rutin 3. Adanya SOP yang berkaitan dengan kolaborasi 4. Adanya perawat dengan kualifikasi PK II 5. Adanya ruangan dan fasilitas untuk conference Kriteria Proses 1. melakukan perencanaan dan pengambilan keputusan secara bersama dengan ahli professional 2. Melaksanakan pembahasan kasus secara bersama-sama 3. Melaksanakan visite dan rapat tim 4. Melakukan rujukan secara tepat

15 Kriteria Hasil 1. Adanya dokumen hasil konferensi 2. Adanya dokumen program terapi dokter melalui telepon dan visite 3. Tidak adannya overlap pemberian obat. G. STANDAR VII: PENELITIAN Pernyataan Perawat berkontribusi terhadap pengembangan keperawatan dan kesehatan jiwa melalui penelitian. Rasional Perawat bertanggung jawab berkontribusi terhadap masa depan perkembangan keilmuan kesehatan jiwa dengan berpartisipasi dalam penelitian. Melalui penelitian perawat dapat mengembangkan profesinya dengan memberikan pelayanan berdasarkan. Dengan menggunakan hasil penelitian/melakukan penelitian perawat mampu mengembangkan profesinya berdasarkan penemuan ilmiah ( evidence base practice) Perawat bertanggung jawab untuk berkontribusi untuk perkembangan lebih lanjut ilmu kesehatan jiwa melalui penelitian. Kriteria Struktur 1. Adanya program penelitian 2. Adanya pedoman penelitian 3. Adanya perawat dengan level PK IV dan PR I untuk melakukan penelitian 4. Adanya fasilitas untuk melaksanakan penelitian: internet, jurnal, literature, hasilhasil penelitian Kriteria Proses 1. Melakukan pertemuan membahas masalah klinis yang memerlukan penelitian 2. Melakukan pertemuan membahas proposal penelitian 3. Melakukan kegiatan penelitian keperawatan 4. Melakukan kegiatan diseminasi hasil penelitian (temu ilmiah, publikasi) 5. Melakukan kegitaan review hasil penelitian terkait kondisi klinik 6. Melakukan kegiatan pembahasan implementasi hasil penelitian di klinik Kriteria Hasil Adanya hasil penelitian yang dapat membantu, mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan H. STANDAR VIII: PENGGUNAAN SUMBER DAYA Pernyataan Perawat mempertimbangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan keamanan, efektifitas, efisiensi pembiayaan dalam perencabnaan dan pemberian asuhan kepada pasen

16 Rasional Pasien dijamin mendapat pelayanan kesehatan jiwa yang aman, berkualitas, efektif, dan terjangkau. Kriteria Struktur 1. Adanya dokumen anggaran keperawatan 2. Adanya dokumen standar manajemen sumber daya keperawatan 3. Adanya dokumen standar tenaga keperawatan 4. Adanya dokumen profil tenaga perawat 5. Adanya dokumen standar alat-alat kebutuhan pasien 6. Adanya dokumen SOP penggunaan dan pemeliharaan peralatan 7. Adanya dokumen program K3 Kriteria Proses 1. Melakukan pertemuan, perencanaan, penggunaan anggaran keperawatan perencanaan sumber daya keperawatan 2. Melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan sumber daya dan alat alat kebutuhan pasien 3. Melakukan pertemuan membahas hasil monitoring evaluasi sumber daya keperawatan, serta rencana tindak lanjut 4. Melaksanaan program K3,monitoring evaluasi dan rencana tindak lanjut Kriteria Hasil 1. Adanya dokumen hasil pertemuan, perencanaan penggunaan anggaran dan sumber daya keperawatan 2. Adanya dokumen hasi monitoring evaluasi penggunaan sumber daya keperawatan, alat kebutuhan pasien, pelaksanaan program K3 dan rencana tindak lanjut.

17 BAB IV PENUTUP Masalah kesehatan jiwa saat ini cenderung meningkat dimana Indonesia mengalami krisis dibidang ekonomi serta krisis sosial yang sangat dominan dalam kehidupan di masyarakat sehingga bertambah beratnya tekanan hidup, meskipun tidak secara langsung menyebabkan kematian, tetapi angka gangguan jiwa cenderung meningkat terus. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukan dari sample 4576, sebanyak 0,7% mengalami gangguan mental dan terjadi pada kelompok usia tahun sampai dengan tahun. Pelayanan keperawatan jiwa merupakan bagian dari pelayanan yang penting dalam rangka mengurangi masalah kesehatan jiwa. Oleh karena itu, Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Departemen Kesehatan RI telah menyusun Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa. Standar ini diharapkan dapat dipergunakan di tatanan pelayanan keperawatan khususnya rumah sakit jiwa baik pemerintah maupun swasta. Tujuan akhir dari standar ini adalah agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang professional serta menerima pelayanan keperawatan jiwa yang aman. Buku Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini merupakan penyempurnaan dari buku Keperawatan Jiwa yang disusun pada tahun 1998, sehingga standar ini dapat dijadikan panduan dalam memberikan asuhan keperawatan di tatanan pelayanan.

18 LAMPIRAN PEDOMAN ASUHAN KEPERAWATAN A. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN HARGA DIRI RENDAH I. Deskripsi Harga diri rendah adalah keadaan dimana individu memberi penilaian negatif terhadap diri dan kemampuannya dalam waktu lama secara terus menerus. II. Tanda dan gejala 1. Menyangkal penilaian positif dan membesarkan penilaian negatif dari orang lain tentang dirinya 2. Secara verbal sering mengatakan hal yang negatif tentang diri sendiri (merasa minder/malu) 3. Selalu menilai diri sendiri tidak mampu menghadapi suatu peristiwa 4. Mengekpresikan rasa bersalah secara terus menerus 5. Sering mengatakan tidak mampu melakukan sesuatu 6. Selalu ragu ragu untuk mencoba sesuatu yang baru 7. Sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan atau kegiatan lainnya 8. Sangat bergantung pada pendapat orang lain 9. Kontak mata kurang/tidak ada 10. Pandangan hidup yang pesimis, pasif dan hipoaktif, penurunan produktifitas 11. Selalu merasa ketidakpastian dalam hidupnya Apabila ditemukan minimal satu tanda dan gejala pada nomor 1 5, maka diagnosa keperawatan aktual dapat ditegakkan, sedangkan tanda dan gejala pada no 6 11 menunjukkan pasien berisiko mengalami penurunan harga diri III. Masalah keperawatan Masalah utama yang dapat ditegakkan adalah : gangguan konsep diri : harga diri rendah IV. Tindakan keperawatan pada pasien : a. Tujuan Tujuan intrvensi keperawatan yang dilakukan adalah pasien dapat a. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki b. Menilai kemampuan yang dapat digunakan c. Menetapkan / memilih kegiatan yang sesuai kemampuan d. Melatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai kemampuan e. Menyusun jadwal untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih

19 b. Tindakan Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan; sesuai perencanaan adalah: 1). Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien. a). Mendiskusikan adanya sejumlah kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien; baik fisik maupun psikososial b). Memberi pujian secara nyata dan hindarkan penilaian yang negatif. 2). Membantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan. a). Mendiskusikan dengan pasien kemampuan yang masih dapat digunakan saat ini. b). Membantu pasien menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri yang diungkapkan pasien. c). Memperlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif 3). Membantu pasien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih 4). Melatih kemampuan yang dipilih pasien a). Mendiskusikan dengan pasien langkah-langkah untuk melakukan kegiatan b). Memperagakan kegiatan yang dipilih c). Membantu dan mendukung pasien untuk melakukan kegiatan d). Memberikan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan pasien. 5). Membantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih a). Menganjurkan pasien melakukan kegiatan yang telah dilatih b). Bersama pasien memasukkan kegiatan yang telah dilatih dalam jadwal kegiatan harian c). Memberi pujian atas kegiatan yang dilakukan setiap hari sesuai jadwal d). Meningkatkan kegiatan sesuai dengan kegiatan yang telah dipilih 6). Memberikan kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan V. Tindakan keperawatan pada keluarga a. Tujuan, keluarga mampu: 1). Membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimilikinya 2). Memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih dimiliki pasien 3). Memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilan pasien 4). Menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien b. Tindakan 1) Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2) Menjelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang ada pada pasien 3) Mendiskusikan kemampuan yang dimiliki pasien 4) Menjelaskan cara-cara merawat pasien dengan harga diri rendah 5) Mendemontrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah

20 6) Menganjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan kegiatan sesuai jadwal 7) Menganjurkan keluarga untuk memberikan pujian pasien atas kemampuannya 8) Membantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah VI. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Terapi aktivitas kelompok untuk pasien harga diri rendah adalah TAK Stimulasi Persepsi yang terdiri dari: a. Sesi I : Mengidentifikasi hal positif diri b. Sesi II : Melatih pasien menggunakan aspek positif diri VII. Pertemuan Kelompok/Keluarga Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar. VIII. Evaluasi a. Kemampuan yang diharapkan dari pasien : 1). Pasien dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien 2). Pasien dapat membuat rencana kegiatan harian 3). Pasien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki kenyataan b. Kemampuan yang diharapkan dari keluarga : 1). Keluarga membantu pasien dalam melakukan aktivitas 2). Keluarga memberikan pujian pada pasien terhadap kemampuannya 3). melakukan aktivitas IX. Dokumentasi proses keperawatan a. Keluhan utama :.. b. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.. c. Konsep diri : Gambaran diri : Ideal diri : Harga diri : Identitas : Peran :

21 d. Alam perasaan [ ] Sedih [ ] Putus asa [ ] Ketakutan [ ] Gembira berlebihan Jelaskan :. Masalah keperawatan :. d. Interaksi selama wawancara [ ] Bermusuhan [ ] Tidak kooperatif [ ] Mudah tersinggung [ ] Kontak mata kurang [ ] Defensif [ ] Curiga Jelaskan :. Masalah keperawatan : e. Tingkat konsentrasi dan berhitung [ ] Mudah beralih [ ] Tidak mampu berkonsentrasi [ ] Tidak mampu berhitung sederhana Jelaskan :.. Masalah keperawatan : f. Istirahat dan tidur [ ] Tidur siang : lama.s/d [ ] Tidur malam : lama s/d. [ ] Kegiatan sebelum/sesudah tidur Jelaskan : Masalah keperawatan :.. B. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN ISOLASI SOSIAL I. Deskripsi Isolasi sosial adalah kesendirian yang dialami seseorang secara individual akibat persepsi individu terhadap lingkungan yang dirasakan mengancam keamanan dirinya secara fisik dan psikologis. Terjadi penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. II. Tanda dan gejala a. Tidak memiliki orang orang yang dekat dan mendukung (keluarga, teman, ) b. Menarik diri/menyendiri/menghindari kontak dengan orang lain c. Menarik diri dan asyik dengan dirinya sendiri d. Merasa hubungan dengan orang lain tidak berarti e. Merasa ditolak/kesepian f. Nada suara dan perilaku yang diperlihatkan menunjukkan permusuhan g. Kesulitan melakukan interaksi di lingkungan/tidakmampu terlibat dalam hubungan interpersonal h. Tidak ada kontak mata

22 i. Tidak berkomunikasi j. Memperlihatkan perilaku yang tidak diterima orang kebanyakan k. Melakukan tindakan yang tidak berguna berulang kali l. Melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya m. Sedih, afek tumpul n. Merasa bosan dan waktu berjalan lambat o. Merasa tidak dimengerti oleh orang lain/tidak aman di lingkungan Apabila ditemukan minimal satu dari tanda dan gejala nomor 1 8, maka dapat ditegakkan diagnosa keperawatan aktual, sedangkan tanda dan gejala berikutnya berisiko terjadinya masalah keperawatan III. Masalah keperawatan Masalah utama yang dapat ditegakkan adalah isolasi sosial IV. Tindakan keperawatan pada pasien a. Tujuan Tujuan tindakan keperawatan adalah pasien mampu 1). Membina hubungan saling percaya 2). Menyadari penyebab isolasi social 3). Berinteraksi dengan orang lain b. Tindakan 1). Membina Hubungan Saling Percaya a) Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien b) Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama dan nama panggilan, serta tanyakan nama dan nama panggilan pasien c) Menanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini d) Membuat kontrak : apa yang akan lakukan, berapa lama dan tempatnya di mana e) Menjelaskan bahwa informasi yang diperoleh akan dirahasiakan untuk kepentingan terapi f) Setiap saat menunjukkan sikap empati/peduli terhadap pasien g) Memenuhi kebutuhan dasar pasien bila memungkinkan 2) Mengenal penyebab isolasi sosial b). Menanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain c). Menanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain 3). Mengenal keuntungan berhubungan dengan orang lain a) Mendiskusikan keuntungan memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka 4). Mengenal kerugian tidak berhubungan a) Mendiskusikan kerugian mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain b) Menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik 5). Membantu pasien berinteraksi dengan orang lain secara bertahap a). Memberi kesempatan pasien mempraktekkan cara berinteraksi dengan orang lain

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)). BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI (DPD)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI (DPD) ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI (DPD) A. Latar Belakang Bencana tsunami yang terjadi beberapa waktu lalu di NAD Aceh menyebabkan terjadinya masalah kesehatan. Gangguan jiwa merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

RUMAH SAKIT KHUSUS DUREN SAWIT PROVINSI DKI JAKARTA BIDANG KEPERAWATAN

RUMAH SAKIT KHUSUS DUREN SAWIT PROVINSI DKI JAKARTA BIDANG KEPERAWATAN PROVINSI DKI JAKARTA BIDANG KEPERAWATAN VISI VISI DAN MISI BIDANG KEPERAWATAN Memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang profesional dengan pendekatan biopisiko-sosio-spritual (holistik dan komprehensif)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

Lebih terperinci

KETERAMPILAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAGI TUNANETRA

KETERAMPILAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAGI TUNANETRA KETERAMPILAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAGI TUNANETRA ACTIVITY OF DAILY LIVING SKILLS (ADL) Oleh: Ahmad Nawawi JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU ANAK DAN PENGELOLAAN PADA PERAWATAN GIGI DEPARTEMEN PEDODONSIA FKG USU

TINGKAH LAKU ANAK DAN PENGELOLAAN PADA PERAWATAN GIGI DEPARTEMEN PEDODONSIA FKG USU TINGKAH LAKU ANAK DAN PENGELOLAAN PADA PERAWATAN GIGI DEPARTEMEN PEDODONSIA FKG USU 15 BULAN 2,5 TAHUN (TODDLERHOOD) Daya tangkap : Terbatas Perhatian : Tidak tetap Aman, jika : didampingi ibu/orang dikenal

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal (abnormal behavior). Hal

BAB I PENDAHULUAN. mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal (abnormal behavior). Hal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama ini masyarakat menganggap bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan masalah orang-orang yang memiliki gangguan jiwa saja atau yang kerap disebut orang awam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999).

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan kepada peningkatan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan

Lebih terperinci

dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan

dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan Dasar Hukum Pengertian Akreditasi Maksud dan Tujuan Akreditasi Proses Akreditasi Undang-Undang Republik Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan 7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumah sakit merupakan suatu institusi di mana segenap lapisan masyarakat bisa datang untuk memperoleh upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Upaya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERSIAPAN BIDANG PELAYANAN KEPERAWATAN TERKAIT UU KEPERAWATAN DALAM STANDAR AKREDITASI RS VERSI 2012

PERSIAPAN BIDANG PELAYANAN KEPERAWATAN TERKAIT UU KEPERAWATAN DALAM STANDAR AKREDITASI RS VERSI 2012 PERSIAPAN BIDANG PELAYANAN KEPERAWATAN TERKAIT UU KEPERAWATAN DALAM STANDAR AKREDITASI RS VERSI 2012 I.DASAR HUKUM UU RI No. 29 Tahun 2004 Ttg Praktik Kedokteran UU RI No. 36 Tahun 2009 Ttg Kesehatan UU

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional KONSEP DASAR Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika

Lebih terperinci

Ayo Amati. Amati gambar ini. Kegiatan mana yang menggunakan kaki? Beri tanda pada kegiatan yang menggunakan kaki. Subtema 2: Tubuhku

Ayo Amati. Amati gambar ini. Kegiatan mana yang menggunakan kaki? Beri tanda pada kegiatan yang menggunakan kaki. Subtema 2: Tubuhku Ayo Amati Amati gambar ini. Kegiatan mana yang menggunakan kaki? Beri tanda pada kegiatan yang menggunakan kaki. Subtema 2: Tubuhku 55 Beri tanda pada kotak. 1. Menyebutkan nama-nama anggota tubuh. 2.

Lebih terperinci

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG OUTLINE PENDAHULUAN TENAGA KESEHATAN MENURUT UNDANG-UNDANG TUGAS & WEWENANG PERAWAT PENDELEGASIAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu bentuk sarana kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan, rujukan dan atau upaya penunjang,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara menjamin setiap orang hidup

Lebih terperinci

BAB VI LAPORAN IMPLEMENTASI

BAB VI LAPORAN IMPLEMENTASI BAB VI LAPORAN IMPLEMENTASI A. DISEMINASI ILMU TENTANG METODE TIM 1. Tahap persiapan Tahap persiapan untuk diseminasi ilmu tentang metode tim dimulai dengan pembuatan preplanning diseminasi ilmu. Diseminasi

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 Survei ini merupakan survey mengenai kesehatan dan hal-hal yang yang mempengaruhi kesehatan. Informasi yang anda berikan akan digunakan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 836/MENKES/SK/VI/2005 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN KINERJA PERAWAT DAN BIDAN

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 836/MENKES/SK/VI/2005 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN KINERJA PERAWAT DAN BIDAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 836/MENKES/SK/VI/2005 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN KINERJA PERAWAT DAN BIDAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pelayanan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Selamat datang di prasekolah

Selamat datang di prasekolah Welcome to preschool A parents guide to starting preschool Selamat datang di prasekolah Pedoman orang tua untuk memulai prasekolah INDONESIAN Menghadiri prasekolah Daftar Periksa Perkara prasekolah mungkin

Lebih terperinci

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha)

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) Tujuan Peserta mampu : 1. Menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip dasar manajemen kasus HIV/AIDS 2. Memahami fungsi/kegiatan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI NOMOR 9/SP/SETWAPRES/D-5/TUPEG/11/2011 BAGIAN KESATU PENDAHULUAN

Lebih terperinci

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***)

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***) EFEKTIVITAS COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY DAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOUR THERAPY TERHADAP GEJALA DAN KEMAMPUAN MENGONTROL EMOSI PADA KLIEN PERILAKU KEKERASAN I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan

Lebih terperinci

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 -2 Checklist Indikator PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 Diolah oleh: http://www.rumahinspirasi.com MORAL & NILAI AGAMA a. Dapat

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi ini masyarakat cenderung menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu. Pengukur mutu sebuah pelayanan dapat dilihat secara subjektif dan objektif.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI UNIT KEPERAWATAN. Oleh : Windy Rakhmawati, S.Kp, M.Kep.

PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI UNIT KEPERAWATAN. Oleh : Windy Rakhmawati, S.Kp, M.Kep. PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI UNIT KEPERAWATAN Oleh : Windy Rakhmawati, S.Kp, M.Kep. 1. Pendahuluan Sejalan dengan berkembangnya zaman, pelayanan kesehatan pun mengalami perkembangan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 DAFTAR INDUK DOKUMEN RSUD TUGUREJO PROVINSI JAWA TENGAH TU & HUMAS PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 1 No. 1 Tahun 2013 Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit RSUD Tugurejo

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA,

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk menjamin mutu, keamanan dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya akan dialami oleh seseorang bila berumur panjang. Di Indonesia istilah untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan dan membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Manusia sebagai makhluk sosial dalam bertingkah laku

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.749, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Wajib Lapor. Pecandu Narkotika. Tata Cara. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN

Lebih terperinci

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan Pengembangan Sumber Daya Sekolah Oleh: Ruswandi Hermawan Abstrak Sekolah memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuantujuan pendidikan. Sumber daya pendidikan di sekolah dapat dikelompokkan

Lebih terperinci

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal

Lebih terperinci

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12 SOP-6 PENELAAHAN MUTU Halaman 1 dari 12 Histori Tanggal Versi Pengkinian Oleh Catatan 00 Halaman 2 dari 12 KETENTUAN 1.1 Penelaahan Mutu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kerja oleh Penilai telah

Lebih terperinci

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy)

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) Apakah hipnoterapi Itu? Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari

Lebih terperinci

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt Press Release Implementasi Standar Akreditasi Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan & Keselamatan Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang, merupakan rumah sakit

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN PADA DINAS KEPENDUDUKAN DAN TAHUN 2013 6 DINAS KEPENDUDUKAN DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

DISIPLIN PADA ANAK SERI BACAAN ORANG TUA

DISIPLIN PADA ANAK SERI BACAAN ORANG TUA 30 SERI BACAAN ORANG TUA DISIPLIN PADA ANAK Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Milik Negara

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN 11 Februari 2009 Mari kita ubah SKK (Sikap, Konsentrasi dan Komitmen) Pertama : SIKAP Sikap merupakan kependekan dari SI = EMOSI; KA = TINDAKAN; P = PENDAPAT,

Lebih terperinci

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar pada Ibu Bersalin 1. Dukungan fisik dan psikologis 2. Kebutuhan makanan dan cairan 3. Kebutuhan eliminasi 4. Posisioning dan aktifitas

Lebih terperinci

Draft. Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarkat

Draft. Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarkat Draft Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarkat Lokakarya Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor Bogor, IICC 28 November 2014

Lebih terperinci

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 No. Urut 05 ASESMEN MANDIRI SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat 2013 Nomor Registrasi Pendaftaran

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Alat Evaluasi Diri Sekolah

Alat Evaluasi Diri Sekolah Alat Evaluasi Diri Sekolah Instrumen untuk Evaluasi Diri Sekolah Pedoman Penggunaan di Sekolah Daftar Isi Nomor Bagian Halaman 1. Standar Sarana dan Prasarana 8 1.1. Apakah sarana sekolah sudah memadai?

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA DAN IMPLEMENTASI - JABARAN KODE ETIK

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA DAN IMPLEMENTASI - JABARAN KODE ETIK KODE ETIK APOTEKER INDONESIA DAN IMPLEMENTASI - JABARAN KODE ETIK KODE ETIK APOTEKER INDONESIA MUKADIMAH Bahwasanya seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya serta dalam mengamalkan keahliannya

Lebih terperinci

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA I. VISI, MISI, DAN TUJUAN UNIVERSITAS A. VISI 1. Visi harus merupakan cita-cita bersama yang dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan

Lebih terperinci

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF BAGI KEPALA SEKOLAH

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF BAGI KEPALA SEKOLAH KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF BAGI KEPALA SEKOLAH OLEH A. MULIATI, AM Kepala sekolah dalam meningkatkan profesonalisme guru diakui sebagai salah satu faktor yang sangat penting dalam organisasi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 366/Kpts/OT.220/9/2005 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 366/Kpts/OT.220/9/2005 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 366/Kpts/OT.220/9/2005 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN INDEKS PENERAPAN NILAINILAI DASAR BUDAYA KERJA APARATUR NEGARA LINGKUP DEPARTEMEN PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 004/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 004/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 004/ PP.IAI/1418/VII/2014 Tentang PERATURAN ORGANISASI TENTANG PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP)

RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP) RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP) Judul Mata Ajar : Sistem Reproduksi 2 Kode MK : KEP 301 Beban Studi : 3 SKS (T:2 SKS, P: 1 SKS) PJMK : Anita Rahmawati, S.Kep.,Ns Periode : Semester 6 Tahun Ajaran

Lebih terperinci

ABV 3.1 KETRAMPILAN-KETRAMPILAN MIKRO DALAM KIP/KONSELING KB

ABV 3.1 KETRAMPILAN-KETRAMPILAN MIKRO DALAM KIP/KONSELING KB ABV 3.1 KETRAMPILAN-KETRAMPILAN MIKRO DALAM KIP/KONSELING KB ABV 3.2 TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan cara melakukan observasi dan memantapkan hubungan baik 2. Mempraktikkan ketrampilan mendengar aktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pahlawan tanpa tanda jasa sangat tepat diberikan kepada para Guru, karena merupakan profesi yang sangat mulia dan keberhasilan peserta didiknya tidak lepas dari jasa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan

Lebih terperinci

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN 1. Pesat tapi tidak merata. - Otot besar mendahului otot kecil. - Atur ruangan. - Koordinasi mata dengan tangan belum sempurna. - Belum dapat mengerjakan pekerjaan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL

Lebih terperinci

Indikator pelayanan rumah sakit By : Setiadi

Indikator pelayanan rumah sakit By : Setiadi Indikator pelayanan rumah sakit By : Setiadi Tugas elearning: Bacalah makalah ini dengan seksama dan jawab pertanyaan dengan baik pakai metode tulisan tangan sebagai tugas per individu dan dikumpulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati urutan tertinggi di ASEAN yaitu 228/100.000 kelahiran

Lebih terperinci

PELAYANAN GIZI RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN BAGIAN GIZI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH

PELAYANAN GIZI RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN BAGIAN GIZI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH PELAYANAN GIZI RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN BAGIAN GIZI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH Secara fungsi : melaksanakan 2 kegiatan pokok pelayanan gizi di RSIJ yaitu kegiatan asuhan gizi ranap dan rawat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada masyarakat. Penyelenggaraan fungsi rumah sakit sangat ditentukan. operasional prosedur dan standar profesinya.

BAB I PENDAHULUAN. kepada masyarakat. Penyelenggaraan fungsi rumah sakit sangat ditentukan. operasional prosedur dan standar profesinya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rumah sakit merupakan sebuah organisasi yang memiliki fungsi strategis khususnya dalam bidang kesehatan, maka dari itu rumah sakit dituntut untuk menyelenggarakan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 Zuraidah, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 - 0 - RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 Disiapkan, Disetujui, Disahkan, Ketua, Sarwono, SKM Eri Purwati, M.Si Giyatmo, S.Kep., Ns.

Lebih terperinci

Pesan Direktur Utama. Rekan-rekan BTPN,

Pesan Direktur Utama. Rekan-rekan BTPN, Pesan Direktur Utama Rekan-rekan BTPN, Bisnis perbankan hidup dan tumbuh dengan basis kepercayaan dari seluruh pemangku kepentingan. Oleh karena itu, manajemen yang profesional dan tata kelola perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas tentang: latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Di jaman

Lebih terperinci

PERSEPSI GURU TENTANG KINERJA KEPALA SMA NEGERI 10 CIPONDOH KOTA TANGERANG

PERSEPSI GURU TENTANG KINERJA KEPALA SMA NEGERI 10 CIPONDOH KOTA TANGERANG PERSEPSI GURU TENTANG KINERJA KEPALA SMA NEGERI 10 CIPONDOH KOTA TANGERANG SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Serjana Pendidikan (S.Pd)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Lebih terperinci

Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik

Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik PERSATUAN DOKTER MANAJEMEN MEDIK INDONESIA (PDMMI) June 29, 2012 Authored by: PDMMI Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROSEDURE (SOP)

PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROSEDURE (SOP) 1 PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROSEDURE (SOP) dr. AGUS DWI PITONO,M.KES Disampaiakn pada Pertemuan Penyusunan SOP Dinas Kesehatan Kota Bima 02 Maret 2015 2 ORGANISASI PEMERINTAH DASAR HUKUM: Peraturan

Lebih terperinci

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT 2.1 Pengertian Cuci Tangan Menurut Dr. Handrawan Nadesul, (2006) tangan adalah media utama bagi penularan kuman-kuman penyebab penyakit. Akibat kurangnya

Lebih terperinci

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni 1 MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT Henni Djuhaeni I. Pendahuluan Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu Ciri dari Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang

dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang 2 dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang digunakan dalam pelayanan medis tidak selalu mampu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di seluruh dunia pertumbuhan penduduk lansia umur 60 tahun ke atas sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Semakin meningkatnya usia

Lebih terperinci