BAB I PENDAHULUAN. 86 desa sebagian besar berada pada kawasan rawan bencana baik. yang berasal dari Gunung Merapi, gempa bumi, banjir lahar maupun

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. 86 desa sebagian besar berada pada kawasan rawan bencana baik. yang berasal dari Gunung Merapi, gempa bumi, banjir lahar maupun"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Wilayah Kabupaten Sleman meliputi 17 kecamatan terdiri atas 86 desa sebagian besar berada pada kawasan rawan bencana baik yang berasal dari Gunung Merapi, gempa bumi, banjir lahar maupun oleh angin ribut. Kawasan rawan bencana Gunung Merapi meliputi 7 kecamatan, baik bahaya primer (erupsi Merapi) maupun sekunder (banjir lahar dingin). Gunung Merapi adalah salah satu gunung api yang teraktif di dunia. Periode ulang aktivitas erupsi berkisar antara 2 7 tahun. Aktivitas erupsi gunung Merapi dengan ciri khas mengeluarkan lava pijar dan awan panas, tanpa membentuk kaldera (kawah). Arah letusan Merapi selalu berubah-ubah. Sejak tahun 1961 arah letusan Merapi mengarah ke baratdaya menuju hulu Kali Batang dan Kali Senowo. Puncak letusan terjadi pada tanggal 8 Mei 1961 membuat bukaan kawah mengarah ke baratdaya dan memuntahkan material sebanyak 42,4 juta m 3. Letusan selanjutnya terjadi pada tahun 1967, 1968 dan 1969 arah letusan ke hulu Batang, Bebeng dan Krasak dengan jarak luncur 9-12 km. Selanjutnya letusan tahun 1984 terjadi tanggal 15 Juni 1984 yang disertai awan panas mengarah ke hulu Sungai Blongkeng, Putih, batang dan krasak. Material yang dimuntahkan sebesar 4,5 juta m3. Letusan terjadi kembali pada tahun 1986, 1992, 1994, 1997, 2001, dan Rencana kontijensi Kab Sleman

2 Letusan 1994 mengarah menuju ke hulu Kali Krasak, Bebeng dan Boyong dengan jarak luncur mencapai 5 km di hulu Kali Boyong. Erupsi Merapi yang disertai luncuran awan panas menelan korban manusia sebanyak 63 orang di Dsn Turgo Desa Purwobinangun Pakem, memporakporandakan harta benda masyarakat, fasilitas dan sarana serta prasarana umum, kawasan wisata, hutan lindung dan beban psikologis masyarakat yang masih dirasakan sampai sekarang. Sementara itu sejak aktivitas erupsi Merapi tahun 2006 bukaan kawah berubah ke arah tenggara dan timur, sehingga arah aliran lahar panas dan awan panas menuju ke hulu Kali Gendol dan Opak di wilayah Sleman serta Kali Woro di wilayah Klaten. Setelah runtuhnya geger boyo pasca erupsi 14 Juni 2006 yang selama ini berfungsi menahan aliran lahar panas maka ancaman bahaya luncuran lahar panas yang disertai awan panas menuju hulu Kali Gendol dan Kali Opak semakin besar, apalagi alur sungai Kali Gendol pada radius 6 km dari puncak sebagian besar sudah terisi endapan lahar panas Peristiwa tersebut menjadi pelajaran Pemerintah Kabupaten Sleman untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat yang lebih baik dengan menyusun kebijakan dalam mitigasi bencana. Kesiagaan bencana Pemerintah Kabupaten terhadap adanya ancaman bahaya Erupsi Gunung Merapi menjadi salah satu kerangka dasar penanggulangan bencana. Kerangka dasar penanggulangan bencana dengan paradigma pengurangan resiko bencana menjadi salah satu dasar penyusunan dokumen perencanaan kontijensi yang dapat digunakan sebagai Rencana kontijensi Kab Sleman

3 pedoman pada saat darurat bencana bagi semua pelaku penanggulangan bencana. Dengan demikian pada saat tanggap darurat bencana semua sumber daya yang ada di Kabupaten Sleman dapat dimobilisasi untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat yang terkena dampak bencana. B. PENGERTIAN RENCANA KONTIJENSI Kontinjensi adalah suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan akan segera terjadi, tetapi mungkin juga tidak akan terjadi. Rencana Kontinjens adalah suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan kontinjensi atau yang belum tentu tersebut. Suatu rencana kontinjensi mungkin tidak selalu pernah diaktifkan, jika keadaan yang diperkirakan tidak terjadi. Rencana kontinjensi lahir dari proses perencanaan kontinjensi. Proses perencanaan tersebut melibatkan sekelompok orang atau organisasi yang bekerjasama secara berkelanjutan untuk merumuskan dan mensepakati tujuan-tujuan bersama, mendefinisikan tanggung jawab dan tindakan-tindakan yang harus diambil oleh masing-masing pihak. Rencana kontijensi disusun dalam tingkat yang dibutuhkan. Perencanaan kontinjensi merupakan pra-syarat bagi tanggap darurat yang cepat dan efektif. Tanpa perencanaan kontinjensi sebelumnya, banyak waktu akan terbuang dalam beberapa hari pertama menanggapi keadaan darurat tersebut. Perencanaan kontinjensi akan Rencana kontijensi Kab Sleman

4 membangun kapasitas sebuah organisasi dan harus menjadi dasar bagi rencana operasi dan tanggap darurat. C. TUJUAN Dokumen rencana kontijensi ini disusun bertujuan sebagai pedoman penanganan bencana letusan G. Merapi pada saat tanggap darurat bencana yang cepat dan efektif serta sebagai dasar memobilisasi sumber daya para pemangku kepentingan (stake holder) yang mengambil peran dalam penyusunan kontijensi plan. D. SIFAT RENCANA KONTIJENSI Dokumen rencana kontijensi letusan G Merapi bersifat : 1. Partisipatif, disusun oleh multi sektor dan multi pihak 2. Dinamis dan selalu terbarukan E. RUANG LINGKUP Ruang lingkup cakupan luasan ancaman Erupsi Gunung Merapi dalam rencana kontijensi ini dibatasi oleh batas administrasi di wilayah Kabupaten Sleman yang meliputi 3 kecamatan (Cangkringan, Pakem, Turi), 7 Desa dan 23 Dusun. F. TAHAPAN PENYUSUNAN RENCANA KONTIJENSI Kegiatan penyusunan rencana kontijensi ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Penyamaan persepsi terhadap semua pelaku penanggulangan bencana Merapi tentang pentingnya kontingensi plan. Rencana kontijensi Kab Sleman

5 2. Pengumpulan data dan updating 3. Pengumpulan data dilakukan pada semua sektor penanganan bencana dan lintas administratif. 4. Verfikasi data 5. Analisa data sumberdaya yang ada dibandingkan proyeksi kebutuhan penanganan bencana saat tanggap darurat. 6. Penyusunan rancangan awal kontinjensi plan. 7. Penyusunan naskah akademis, pembahasan dan perumusan dokumen kontingensi plan yang disepakati. 8. Publik hearing/konsultasi public hasil rumusan kontingensi plan. 9. Penyebaran/disemenasi dokumen kontigensi plan kepada semua pelaku penanggulangan bencana (multi stake holder). G. Aktivasi Rencana Kontijensi Aktivasi rencana kontijensi dilaksanakan setelah terdapat tandatanda peringatan dini akan datangnya ancaman G. Merapi dari hasil kajian lembaga teknis BPPTK Yogyakarta pada saat status aktivitas Merapi SIAGA. Rencana kontijensi Kab Sleman

6 BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Karakteristik Wilayah Secara geografis wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai '03 sampai dengan '30 BT dan 7 34'51 LS. Di sebelah utara, berbatasan dengan Kabupaten Magelang, di sebelah timur berbatasan dengan dengan Kabupaten Klaten, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulonprogo, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Kota Yogyakarta. Luas Wilayah Kabupaten Sleman adalah 574,82 km 2 atau sekitar 18% dari luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang seluas 3.185,80 km U Km Skala 1 : Proyeksi : Transverse Mercator Sistem Grid : Grid Universal Transverse Mercator Zone : 49 South Equator LEGENDA : %[ Ibukota Kabupaten %a Ibukota Kecamatan Batas Propinsi Batas Kabupaten Batas Kecamatan Jalan Arteri satu jalur, dua jalur atau lebih Jalan Kolektor dan tonggak kilometer Jalan Kereta Api Kemiringan lereng 0-2 % Kemiringan lereng 2-8 % Kemiringan lereng 8-15 % Kemiringan lereng % Kemiringan lereng % Kemiringan lereng > 40 % DESA WONOKERTO DESA GIRIKERTO DESA KEPUHARJO DESA UMBULHARJO DESA MERDIKOREJO DESA HARGOBINANGUN DESA GLAGAHARJO DESA PURWOBINANGUN DESA LUMBUNGREJO DESA BANGUNKERTO %a %a DESA DONOKERTO DESA WUKIRSARI KECAMATAN TEMPEL KECAMATAN TURI DESA PAKEMBINANGUN DESA MARGOREJO DESA PONDOKREJO DESA ARGOMULYO KECAMATAN PAKEM %a %a DESA MOROREJO KECAMATAN CANGKRINGAN DESA CANDIBINANGUN DESA SUMBERREJO KECAMATAN SLEMAN DESA UMBULMARTANI %a DESA TRIMULYO DESA HARJOBINANGUN DESA TAMBAKREJO DESA CATURHARJO DESA DONOHARJO DESA SINDUMARTANI DESA TRIHARJO KECAMATAN NGEMPLAK DESA BANYUREJO DESA PANDOWOHARJO %a DESA BIMOMARTANI DESA MARGOAGUNG KABUPATEN SLEMAN DESA SUKOHARJO DESA WIDODOMARTANI DESA SENDANGSARI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DESA MARGOKATON DESA SUMBERADI DESA SINDUHARJO %[ DESA MARGOMULYO DESA TRIDADI DESA SARDONOHARJO KECAMATAN MINGGIR %a KECAMATAN NGAGLIK %a %a KECAMATAN SEYEGAN DESA SENDANGREJO DESA SENDANGAGUNG DESA SARIHARJO DESA TLOGOADI DESA MINOMARTANI DESA SELOMARTANI %a DESA SENDANGADI DESA MARGODADI KECAMATAN MLATI DESA WEDOMARTANI DESA TAMANMARTANI DESA SENDANGARUM DESA TIRTOADI DESA SENDANGMULYO KODYA YOGYAKARTA DESA MARGOLUWIH DESA CONDONGCATUR DESA SUMBERAGUNG DESA TRIHANGGO KECAMATAN GODEAN DESA SIDOMOYO DESA SUMBERARUM DESA SIDOREJO DESA SIDOAGUNG DESA SINDUADI %a DESA SIDOLUHUR %a DESA SIDOKARTO DESA NOGOTIRTO KECAMATAN DEPOK KECAMATAN MOYUDAN DESA SIDOARUM %a DESA CATURTUNGGAL DESA SIDOMULYO DESA BANYURADEN DESA SUMBERSARI KECAMATAN GAMPING %a DESA SUMBERRAHAYU DESA AMBARKETAWANG DESA BALECATUR DESA TITOMARTANI %a DESA PURWOMARTANI DESA BOKOHARJO %a KECAMATAN KALASAN DESA MAGUWOHARJO DESA SAMBIREJO DESA KALITIRTO DESA MADUREJO KECAMATAN BERBAH KECAMATAN PRAMBANAN %a DESA SUMBERHARJO DESA TEGALTIRTO DESA GAYAMHARJO DESA SENDANGTIRTO DESA JOGOTIRTO DESA WUKIRHARJO Gambar 1. Wilayah Kabupaten Sleman Rencana kontijensi Kab Sleman

7 Topografi Kabupaten Sleman keadaan tanahnya di bagian selatan relatif datar kecuali daerah perbukitan di bagian tenggara dan sebagian bagian barat daya. Semakin ke utara relatif miring dan di bagian utara terdapat Gunung Merapi dengan lereng relatif terjal. Ketinggian Kabupaten Sleman berkisar antara ±100 meter sampai dengan ±2.500 meter di atas permukaan laut Wilayah Sleman terdiri atas 17 kecamatan, 86 desa. Sebanyak 4 kecamatan masuk kawasan rawan bencana Erupsi Gunung Merapi, yaitu Pakem, Cangkringan, Turi, dan Tempel, dan untuk kawasan rawan bencana banjir lahar dingin selain 4 kecamatan tersebut ditambah kec.ngaglik, Ngemplak, dan Kalasan. Gambar 2. Luncuran Awan Panas di kawasan Kalidem ( radius 7 km dari puncak), Dinas P3BA, 2006 Rencana kontijensi Kab Sleman

8 Arah erupsi Gunung Merapi tahun 2006 sebagian besar menuju ke selatan dan tenggara dikawasan Kabupaten Sleman, sebagian mengarah ke barat daya kawasan Magelang, arah timur di kawasan Klaten dan arah utara di kawasan Boyolali. Erupsi Merapi tahun 2006 puncaknya terjadi pada tanggal 14 Juni 2006 dengan jarak luncur 7 km kearah alur kali Gendol dan kali Opak dan memimbulkan korban jiwa 2 orang,. Aliran lahar panas (piroklastik) hasil erupsi Merapi memiliki perilaku yang unik, yaitu tidak selalu mengikuti alur sungai sebagaimana aliran biasa, tetapi pergerakan material lahar panas erupsi Merapi yang menuju ke arah Kali Gendol keluar dari alur sungai. Sebenarnya palung kali Gendol masih mampu menampung material aliran lahar panas meskipun demikian akibat fenomena aliran material, kawasan Wisata Kaliadem dan Bunker Kaliadem yang selama ini dianggap aman, ternyata tertimbun material lahar panas yang cukup besar diperkirakan mencapai volume m 3. Manajemen erupsi Gunung Merapi dipandang sebagai sistem paling baku dibanding manajemen bencana yang lain karena karakteristik letusannya sebagian besar dapat diprediksi oleh kerapatan jaringan alat pengukur, program-program pra bencana yang sudah berjalan, sarana prasarana penanggulangan bencana yang memadai. Pertimbangan tersebut membuat erupsi gunung merapi dapat dibuat rencana kontijensi. Rencana kontijensi Kab Sleman

9 Rencana kontijensi Kab Sleman

10 Gambar 3. Kawasan Wisata Kaliadem sebelum erupsi Gunung Merapi 2006 Gambar 4. Kawasan Wisata Kaliadem setelah erupsi Gunung merapi 2006 B. Kawasan Rawan Bencana (KRB) Kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Merapi berdasarkan Sistim Informasi Penanggulangan Bencana (SIPBA) Kabupaten Sleman yang telah disusun oleh Dinas P3BA bersama Pusat Studi Bencana UGM pada tahun Rencana kontijensi Kab Sleman

11 2004 dikelompokkan menjadi KRB III, KRB II dan KRB I, sebagaimana digambarkan Gambar 5. B.1. Kawasan Rawan Bencana (KRB) - III Kawasan rawan bencana III adalah kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lava pijar (guguran/lontaran material pijar), gas beracun, meliputi tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Pakem dan Kecamatan Turi. Desa dan dusun wilayah Kecamatan Cangkringan yang termasuk KRB III yaitu Desa Glagaharjo meliputi dusun Kali Tengah Lor dan Kali Tengah Kidul, Desa Kepuharjo meliputi Dusun Kaliadem sedangkan Desa Umbulharjo meliputi Dusun Pelemsari/Kinahrejo, dan Pangukrejo. Sedangkan Kecamatan Pakem meliputi Desa Purwobinangun yaitu Dusun Turgo dan Desa Hargobinangun meliputi satu dusun yaitu Kaliurang Barat. Kecamatan Turi meliputi Desa Girikerto tepatnya di dusun Tritis/Ngandong dan Desa Wonokerto di dusun Tunggularum. B.2. Kawasan Rawan Bencana (KRB)- II Kawasan rawan bencana II yang berpotensi terlanda aliran awan panas, gas racun, guguran batu (pijar) dan aliran lahar, terdiri atas 7 wilayah desa di 3 kecamatan. KRB II di Kecamatan Cangkringan meliputi Desa Glagaharjo (Dusun Srunen, Singlar,Ngancar, Besalen), Desa Kepuharjo (Dusun Jambu, Petung, Kopeng, Batur, Pagerjurang, Kepuh, Manggong), Desa Umbulharjo (Dusun Gondang, Gambretan, Balong, Plosorejo, Karanggeneng, Plosokerep,Pentingsari) Rencana kontijensi Kab Sleman

12 Gambar 5. Peta rawan bahaya Erupsi Gunung Merapi Wilayah desa dan dusun KRB II di Kecamatan Pakem meliputi Desa Hargobinangun (Dusun Kaliurang Barat & Timur, Ngipiksari, Boyong), Desa Purwobinangun (Dusun Ngepring, Kemiri, Jamblangan, Glondong). Desa dan dusun pada KRB II di Kecamatan Turi meliputi Desa Girikerto (Dusun Nganggring, Keloposawit, Kemirikebo, Sokorejo), Desa Wonokerto (Dusun Gondoarum, Sempu, Ledoklempong, Manggungsari). B.3. Kawasan Rawan Bencana (KRB) I Kawasan rawan bencana I adalah kawasan yang rawan terhadap lahar/banjir dan kemungkinan dapat terkena perluasan awan panas, meliputi : Sepanjang aliran sungai Gendol dan Opak, sungai Boyong disebelah hilir disebut sungai Code, sungai Krasak dan Sungai Kuning. C. MITIGASI PENANGGULANGAN BENCANA ALAM Sistem penanggulangan bencana alam di Sleman memadukan mitigasi (penjinakan) fisik dan mitigasi non fisik. Mitigasi fisik adalah pengurangan Rencana kontijensi Kab Sleman

13 resiko bencana dengan struktur bangunan tertentu yang dapat melindungi masyarakat dari ancaman bahaya alam. Pada umumnya mitigasi fisik berupa struktur pelindung kawasan pemukiman, struktur penahan di alur sungai, maupun perangkat early warning sistem. Mitigasi non fisik adalah upaya peningkatan kapasitas lembaga dan masyarakat agar memiliki sumber daya lebih sehingga selalu siap siaga dan waspada terhadap kejadian bencana alam. Pada umumnya mitigasi non fisik dilakukan dalam bentuk pelatihan-pelatihan, pembuatan dokumen kebencanaan. C.1. Mitigasi Fisik Penanggulangan bencana alam, diupayakan dengan mitigasi fisik berupa bangunan teknis, dengan harapan dapat menurunkan resiko kerugian akibat kejadian bencana. Sarana prasarana penanggulangan bencana alam yang dikelola oleh Dinas P3BA Sleman disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Mitigasi fisik penanggulangan bencana di Kabupaten Sleman No Sarana/Prasarana Jumlah Satuan Lokasi 1 Bunker 2 Buah Tunggularum, Kaliurang 2 Barak Pengungsian 17 Buah 3 Jalan Evakuasi 117,3 Km Kec. Tempel, Ngaglik,Turi, Pakem, Cangkringan, Ngemplak Kec. Cangkringan, Pakem, Turi, Ngemplak,Kalasan, Tempel 4 EWS Awan panas 3 5 EWS bajir lahar dingin Sumber: Dinas P3BA, 2008 Rencana kontijensi Kab Sleman Unit sirine Unit sirine 1 Master control (pakem), Wara-Gumuk Bol, Kinahrejo 1 Master control (Pakem), Kaliadem, Manggong, Bronggang, Jambon, Turgo, Kalireso, Kemiri

14 C.2. Mitigasi Non fisik Upaya penanggulangan bencana yang sudah dilakukan melalui mitigasi fisik, tidak akan berhasil baik tanpa diimbangi oleh mitigasi non fisik. Dinas P3BA membuat program mitigasi non fisik untuk penanganan bencana alam seperti tersebut pada Tabel 2. Tabel 2. Mitigasi non fisik penanggulangan bencana di Kabupaten Sleman Program no mitigasi non fisik 1 Sosialisasi 20 pertemuan /tahun 2 Gladi Lapang 1 gladi /tahun 3 Pelatihan SAR 1 latihan /tahun 4 Dokumen Perencanaan Penanganan Bencana 5 Pelatihan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana alam Sumber : Dinas P3BA, 2008 Volume Lokasi Hasil 1 dokumen /tahun kecamatan kawasan rawan bencana kecamatan kawasan rawan bencana kecamatan kawasan rawan bencana Dinas P3BA 2 kelas/tahun Dinas P3BA Pengetahuan masy. Tentang bencana semakin terbuka Meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan Meningkatkan kemampuan assessor, evakuator dalam menolong masy. Rawan bencana Hazard Map, Protap, Renop Pengetahuan masy. tentang bencana semakin komprehensif dan dapat mentransfer ilmu kepada orang lain. Rencana kontijensi Kab Sleman

15 BAB III SIMULASI 1. SKENARIO KEJADIAN Kabupaten Sleman menetapkan beberapa kawasan rawan bencana yaitu KRB III, KRB II, dan KRB I, tetapi pada rencana kontijensi ini kawasan yang akan dijadikan simulasi adalah kawasan yang terancam awan panas dengan skenario luncuran awan panas sejauh 12 km di alur sungai Gendol, dan 7 8 km untuk alur sungai Kuning, Boyong, Bedog, dan Krasak. Kawasan yang diskenariokan pada simulasi rencana kontijensi pada dokumen ini meliputi 3 Kecamatan, 7 desa dan 23 dusun, adapun perinciannya disajikan pada Tabel 3 berikut dibawah ini. Tabel 3. Kawasan terancam awan panas berdasarkan skenario Radius Kecamatan Desa Dusun Kalitengah Lor Glagaharjo Kalitengah Kidul Singlar Srunen 12 km Kaliadem Petung di alur Sungai Cangkringan Manggong Kepuharjo Kopeng Gendol Jambu Batur Kepuh Umbulharjo Pelemsari Pangukrejo Kaliurang Barat 7-8 km Sungai Boyong Hargobinangun Kaliurang Timur Boyong dan Ngipiksari Pakem Turgo Kuning Purwobinangun Kemiri Ngepring 7-8 km Sungai Wonokerto Tunggularum Turi Ngandong/Tritis Girikerto Bedog Kemirikebo 1

16 Pada skenario kejadian ini disimulasikan kemungkinan bencana erupsi Gunung Merapi berdasarkan letusan tahun Masa pengungsian yang dimulai oleh status siaga sampai dengan puncak erupsi dan kembali pada status waspada terjadi selama 4 bulan. Sebagai dampak dari bencana Erupsi Gunung Merapi kerusakan yang ditimbulkan adalah timbulnya pengungsian penduduk kawasan rawan bencana yang diskenariokan adalah orang selama 4 bulan. Skenario kejadian tersebut juga didasari analisa resiko letusan oleh BPPTK-Vulkanologi yang memperkirakan kejadian awan panas jika bukaan kawah mengarah ke selatan, seperti peta di bawah ini. Gambar 6. Peta Prakiraan arah letusan G. Merapi (BPPTK, 2006) 1

17 2. SIMULASI KEJADIAN Skenario yang ditetapkan menjadi awal gambaran untuk membuat simulasi kejadian. Pada dasarnya simulasi dapat ditentukan mulai dari tingkat minimal, medium, sampai dengan tingkat maksimal. Pemkab Sleman membuat rencana kontijensi ini dengan kerangka kebijakan maksimal. Berdasarkan skenario yang ditetapkan, kerusakan dan kerugian yang diperkirakan terjadi akan berdampak pada: a. Penduduk Dari hasil skenario diatas diperkirakan gambaran kondisi penduduk saat terjadi erupsi Gunung merapi terjadi gelombang pengungsian yang fluktuatif setiap harinya selama 4 bulan. Berdasarkan pengalaman tahun 2006 bahwa kisaran pengungsi yang berada di barak adalah 30% yang kebanyakan terdiri dari lansia, ibu-ibu, anak-anak dan difabel. Kebanyakan laki-laki dewasa tetap melakukan aktifitas mencari nafkah dan melakukan pengamanan di kampungnya, tetapi pada tabel perkiraan dampak, disepakati bahwa penduduk di 23 dusun (tabel 3) 100% menjadi pengungsi. Gambaran data penduduk pada kawasan terancam awan panas dan perkiraan dampak letusan Gunung Merapi pada penduduk tersaji pada tabel di bawah ini. 1

18 Tabel 4. Data penduduk di kawasan rawan awan panas letusan Gunung Merapi NO KEC DESA DUSUN CANGKRINGAN GLAGAHARJO KEPUHARJO UMBULHARJO JIWA KELOMPOK RENTAN KK PRIA WANITA JML BUMIL BAYI BALITA ANAK-ANAK LANSIA DIFABEL DEWASA KERENTANANJUMLAH POTENSI USIA TH/SMP L P JML L P JML L P JML L P JML L P JML L P JML L P JML KALITENGAH LOR KALITENGAH KIDUL SINGLAR SRUNEN JUMLAH KALIADEM PETUNG MANGGONG KOPENG JAMBU BATUR KEPUH JUMLAH PELEMSARI PANGUKREJO JUMLAH JUMLAH (CANGKRINGAN) KALIURANG BARAT PAKEM TURI HARGOBINANGUN PURWOBINANGUN GIRIKERTO TOWONOKER BOYONG KALIURANG TIMUR NGIPIKSARI JUMLAH TURGO KEMIRI NGEPRING JUMLAH (PAKEM) JUMLAH NGANDONG/Tritis KEMIRIKEBO JUMLAH TUNGGULARUM JUMLAH JUMLAH (TURI) JUMLAH PENDUDUK terancam awan panas JUMLAH POTENSI 1

19 TABEL PERKIRAAN DAMPAK LETUSAN GUNUNG MERAPI TERHADAP PENDUDUK JIWA KK PRIA WANITA JML BUMIL KELOMPOK RENTAN BAYI BALITA ANAK-ANAK LANSIA DIFABEL JUMLAH KELP RENTAN DEWASA POTENSI USIA TH/SMP L P JML L P JML L P JML L P JML L P JML L P JML L P JML JUMLAH POTENSI JUMLAH PENDUDUK TERANCAM AWAN PANAS PAKEM JUMLAH PENDUDUK TERANCAM AWAN PANAS CANGKRINGAN JUMLAH PENDUDUK TERANCAM AWAN PANAS TURI JUMLAH PENDUDUK terancam awan panas % MENINGGAL JUMLAH PENDUDUK MENINGGAL PAKEM JUMLAH PENDUDUK MENINGGAL CANGKRINGAN JUMLAH PENDUDUK MENINGGAL - TURI JUMLAH PENDUDUK MENINGGAL % SAKIT (ISPA, DIARE, SAKIT MATA) JUMLAH PENDUDUK SAKIT PAKEM JUMLAH PENDUDUK SAKIT CANGKRINGAN JUMLAH PENDUDUK SAKIT TURI JUMLAH PENDUDUK SAKIT %MENGUNGSI JUMLAH PENDUDUK MENGUNGSI PAKEM JUMLAH PENDUDUK MENGUNGSI CANGKRINGAN JUMLAH PENDUDUK MENGUNGSI TURI JUMLAH PENDUDUK MENGUNGSI

20 1

21 b. Sarana dan Prasarana Bencana Erupsi Gunung Merapi diperkirakan juga akan mengancan fasilitas atau prasarana serta aset yang berada di wilayah kawasan rawan bahaya c. Ekonomi Dari sektor ekonomi diperkirakan bencana erupsi Gunung merapi yang terjadi selama 2 bulan akan mempunyai dampak berupa : KERUSAKAN KEGIATAN EKONOMI KELUMPUHAN Kecamatan pakem 2 Kegiatan perekonomian 2 bulan (Tlogoputri &Kaliurang) Kecamatan turi 1 kegiatan ekonomi masy. 2bulan (desa wisata) Kecamatan Cangkringan 1 Kegiatan ekonomi masy. ( lava tour Kaliadem) 2 bulan d. Pemerintahan Dampak bencana yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap pemerintahan, terutama terganggunya fungsi administrasi karena sebagian besar aparat pemerintah menyelenggarakan tanggap darurat dan lokasi kantor untuk pengungsian. 1

22 e. Lingkungan Dampak bencana juga diperkirakan akan berpengaruh terhadap lingkungan berupa Hutan, kebun, peternakan dan Pertanian. Berikut skenario yang ditimbulkan: 1

23 BAB IV KEBIJAKAN DAN STRATEGI Dalam rencana kontijensi bencana Erupsi Gunung merapi Pemerintah Kabupaten Sleman mengambil beberapa kebijakan yang merupakan penetapan landasan kegiatan untuk mencapai penanggulanagan bencana yang efektif dan strategi untuk dikoordinasikan ke segenap jajaran yang terkait, dengan perincian sebagai berikut : a. Kebijakan 1. Minimalisasi korban meninggal ( road to zero victim) 2. Penanganan bencana alam berbasiskan komunitas masyarakat. 3. Titik berat kegiatan penanganan bencana banyak dilakukan pada fase pra bencana (pengurangan resiko bencana) 4. Memadukan mitigasi fisik dan mitigasi non fisik. 5. Memberikan perlindungan perhatian khususnya kelompok rentan, serta memenuhi kebutuhan dasar secara realistis. 6. Memberikan penyelamatan dan perlindungan kepada masyarakat sesuai skala prioritas tanpa diskriminasi 7. Memberdayakan segenap potensi yang ada dan menghindari terjadinya ego sektor 2

24 8. Melakukan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat dan anatar negara dalam menggalang bantuan, dengan tetap memperhatikan etika kebangsaan b. Strategi 1. Membentuk Posko Utama di Pakem sebagai fungsi manajemen dan koordinasi penanganan bencana. 2. Memenuhi pelayanan logistik dengan mendirikan posko-posko, tenda pengungsian dilengkapi dapur umum dengan tetap memperhatikan kelompok rentan. 3. Memenuhi pelayanan kesehatan dengan menyelenggarakan posko kesehatan di setiap barak pengungsian dan balai kesehatan lain. 4. Memenuhi pelayanan sarana-prasarana kehidupan (transport, tempat tinggal sementara, sanitasi) di barak/tenda pengungsian (MCK, air bersih), dengan tetap memperhatikan kelompok rentan. 5. Mengidentifkasi jenis-jenis bantuan, menghimpun bantuan serta mendistribuikannya 6. Memberikan informasi yang jelas kepada pihak yang membutuhkan 7. Memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal dan nilai-nilai kebajikan dalam penanganan bencana 8. Evakuasi korban, meninggal dunia dan yang masih hidup melalui relawan, tim SAR, LSM, dll 2

25 9. Penanganan Pengungsi (tenda, logistik, sarana dan prasarana lainnya), lembaga terkait 10. Mengidentifikasi negara-negara yang memungkinkan memberikan bantuan secara sukarela 11. Menyebarluaskan informasi tentang bencana yang terjadi melalui, media cetak, elektronik dan telematika 2

26 BAB V PERENCANAAN SEKTORAL Perencanaan sektoral ditujukan untuk mencapai penanganan bencana alam yang dapat melindungi segenap masyarakat. Perencanaan sektoral dilakukan sebagai fungsi manajemen penanganan bencana yang telah melakukan evaluasi terhadap tingkatan ancaman yang terjadi, prinsip evakuasi pengungsian untuk perlindungan masyarakat sementara, dan akan menata kembali kehidupan setelah pasca bencana. Perencanaan sektoral terdiri atas: 1. Sektor manajemen dan koordinasi 2. Sektor kesehatan 3. Sektor sarana prasarana 4. Sektor logistik 1. Sektor Manajemen dan Koordinasi a. Situasi Bencana erupsi Gunung Merapi, diperkirakan akan membuat keadaan dan situasi daerah tidak terkendali sehingga memerlukan penanganana bencana alam yang efisien dan terpadu. Dalam simulasi dampak diperkirakan terjadi gelombang pengungsian sebanyak orang yang terdiri atas 4144 kelompok rentan dan 8516 kelompok usia produktif. Beberapa mekanisme penanggulangan harus diperhitungkan, karena adanya sistem yang tidak berfungsi akibat bencana. Oleh karena itu harus ada upaya untuk mengendalikan, mengatur dan mengkoordinasikan semua kegiatan penanggulangan. 22

27 Sektor manajemen selaku wadah koordinasi pelaksana penanggulangan bencana di Kabupaten dan sistim POSKO yang dilakukan dari tingkat kabupaten sampai dengan tingkat kelurahan. Sektor manajemen dan koordinasi melakukan tindakan berdasarkan Prosedur Tetap Erupsi Gunung Merapi yang telah ditetapkan dalam Keputusan Bupati Sleman No.83/kep.KDH/A/2006 tentang Mekanisme Penanganan Bencana Gunungapi Merapi a. Sasaran Mengadakan koordinasi dengan seluruh instansi terkait Terkendalinya penanganan bencana Terkendalinya pelaksanaan evakuasi mandiri secara efektif dan efisien sehingga dicapai: a. Terselamatkannya dan terevakuasinya korban bencana sejumlah orang. b. Terevakuasinya serta teridentifikasinya korban yang meninggal dunia. c. Terkoordinasikannya kegiatan pencarian dan penyelamatan korban yang hilang. Terkendalinya sistim keamanan lingkungan kawasan rawan bencana Terkendalinya logistik pengungsi Terkendalinya upaya penanganan kesehatan pengungsi Terkoordinirnya upaya penanggulangan bencana dan bantuan yang mengalir Terdatanya kerugian dan korban akibat bencana 23

28 c. Kegiatan NO KEGIATAN PELAKU WAKTU 1 2 Mendirikan Posko Aktivasi manajemen dan koordinasi DINAS P3BA DINAS P3BA, TNI,POLRI,POL PP,Kesehatan, Telematika, Kimpraswil,Nakersos Setelah adanya tanda-tanda bencana Jika terjadi tandatanda bencana 3 Mengkoordinasikan kegiatan sektoral untuk 4 Membuat laporan menyeluruh 5 Memberikan arah kelaksanaan DINAS P3BA, TNI,POLRI,POL PP,Kesehatan, Telematika, Kimpraswil,Nakersos DINAS P3BA, TNI,POLRI,POL PP,Kesehatan, Telematika, Kimpraswil,Nakersos BUPATI, SEKDA, ASISTEN, DINAS P3BA, TNI,POLRI,POL PP,Kesehatan, Telematika, Kimpraswil,Nakersos Setiap hari Setiap hari Setiap hari 6 Menerima dan menyampaikan DINAS P3BA, TNI,POLRI,POL PP,Kesehatan, Telematika, Kimpraswil,Nakersos Setiap saat informasi terbaru 24

29 d. Proyeksi Kebutuhan JUMLAH KETERANGAN NO JENIS SATUAN YANG PERSEDIAAN LOKASI KEKURANGAN/ DIBUTUHKA KECUKUPAN KEBUTUHAN N FUNGSI 100 KODIM PMI Sleman 573 POLRES 125 Pol PP dan Tibmas 70 SAR kaliurang 90 Dinas P3BA 351 Linmas/Pamong Pakem Cangkringan 105 Linmas/Pamong 180 Linmas/Pamong Turi 34 Kec. Cangkringan 34 kec. Pakem Manajemen, 1 Personil/relawan orang 34 Kec. Turi Asesor, 1266 terlatih =1:10 48 Tagana cukup evakuator, 88 pengamanan, Pasag Merapi 150 Komunitas Lereng Merapi 0 Kappala 30 Dinas kimpraswilhub 20 Dinas nakersos KB 20 Cakra 10 ORARI Pakem 70 SKSB 85 Pramuka 1050 Aktivis Pramuka 15 Telematika 3360 Jumlah 5 Dinas P3BA 5 Dinas Pol PP dan Tibmas 3 kec. Rawan bencana 14 kec. lain 1 Bappeda 3 Sekretariat Transportasi 2 Mobil unit BPKKD 54 manajemen/ 5 Dinkes Sleman relawan 2 Dinas Kimpraswilhub 3 KODIM SAR kaliurang 2 telematika 46 jumlah 23 Polres Sleman 20 Dinas P3BA 3 Sepeda Motor unit Dinas Pol PP Transportasi 50 KODIM 0732 cukup manajemen/ 5 Telematika relawan 10 Kelurahan rawan bencana 50 milik pribadi 168 jumlah 4 Repeater unit 1 Telematika CUKUP komunikasi 1 Dinas P3BA 25

30 5 Rig HT unit 6 HT unit RASIO 1 REPETAER 80 HT 1 Rakom Kec. 1 Dinas Pol PP 1 SKSB/Jambu 5 jumlah 2 Posko Pakem 2 Posko bayu 17 Kecamatan 21 Jumlah 20 Dinas P3BA 8 DinasPol PP dan Tibmas 19 Dinas Kimpraswilhub 4 Dinas Nakersos 18 Kec. Cangkringan 17 Kec. Pakem 15 Kec. Turi 10 Kec. Tempel 11 Kec. Prambanan 15 Telematika 8 PMI Sleman 43 kec. Lain 20 KODIM Polres 4 Dinkes Sleman 24 Puskesmas 1 kwarcab Sleman 1 RS Panti Nugroho 30 KLM 19 SKSB 31 Milik Masy Turi - KRB III,II 46 Milik Masy Pakem - KRB III,II 23 Milik Masy Cangkringan- KRB III,II CUKUP Cukup; dengan catatan bahwa harus ada pembagian saluran frekuensi komunikasi komunikasi 31 SAR kaliurang 433 jumlah 7 megaphone unit 5 5 Dinas P3BA Cukup komunikasi 8 Computer unit 8 Cukup manajemen 8 Dinas P3BA 9 Senter Besar unit 4 4 Dinas P3BA Cukup sarpras 10 internet unit 1 1 Dinas P3BA Cukup sarpras 11 Papan data unit 1 1 Dinas P3BA Cukup sarpras 12 Peta unit 5 5 Dinas P3BA Cukup sarpras 13 Filing Cabinet unit 2 2 Dinas P3BA Cukup sarpras 14 Kamera unit 2 2 Dinas P3BA Cukup sarpras 15 line 9 kantor bupati komunikasi Telepon -fax (PABX dan PSTN) 4 Muspida 10 Sekretariat Daerah 28 Bagian sekretariat 5 Sekretariat DPRD 18 DPRD 9 Dinas Kimpraswilhub 9 Dinas P3BA 14 Dinas Pertanian - Kehutanan 16 Dinas P2KPM 7 Dinas Kesehatan 26

31 14 Dinas pendidikan 18 Dinas Nakersos KB 12 Dinas Pol PP dan Tibmas 8 Dinas Budpar 8 Bappeda 7 Bawasda 19 BPKKD 6 BPPD 18 BKD 4 RSUD Murangan 31 Milik Masy Pakem - KRB III,II 10 milik masy Turi - KRB III,II 1 SAR kaliurang 285 Jumlah 2. Sektor Kesehatan Apabila terjadi bencana erupsi Gunung Merapi, diperkirakan akan terdapat penduduk yang menderita luka bakar, penyakit ISPA, Conjuctivitis, Diare, diperkirakan jumlah pasien 10% dari jumlah pengungsi, yaitu sekitar 1266 orang. Di samping korban, bencana juga akan mengakibatkan prasarana dan sarana pelayanan kesehatan yang hancur atau rusak, sehingga pelayanan kesehatan tidak dapat dilakukan secara optimal. b. Sasaran Terlaksananya pelayanan kesehatan bagi korban Terlaksananya pelayanan kesehatan bagi pengungsi Terlaksananya rujukan kesehatan secara optimal c. Kegiatan NO. KEGIATAN PELAKSANA WAKTU 27

32 1 Menyiapkan Tim Kesehatan a. Tim reaksi cepat pelayanan kesehatan b. Tim penilaian cepat kesehatan Dinkes Kab. RSUD, PMI Hari pertama kejadian 2 Menyiapakan paket obat, bahan habis pakai dan alat kesehatan Dinkes Kab., RSUD s.d.a 3 Membentuk pos kesehatan Mengaktifkan Puskesmas dan pos pelayanan kesehatan barak selama 24 jam Menyiapkan ambulance Menyiapkan rumah sakit lapangan Pelayanan rujukan Dinkes, PMI, RSUD Dinkes Kab Dinkes Kab., RSUD RSUD Dinkes Kab., RSUD Hari kedua dan ketiga Hari pertama kejadian s.d.a s.d.a s.d.a + Pos PPPK Turi + Pos PPPK Pakem + + Pos PPPK Cangkringan + + RSUD Sleman + + RS Swasta Wilayah Sleman + + RS Panti Nugroho + + RS Sardjito + RS Ghrasia + + Gudang Penerimaan bantuan Obat,Alkes,PMTdi Ex BKKBN (Pj.Suprihanto, B.Sc) c. Proyeksi Kebutuhan Gambar 6. Alur Pelayanan Kesehatan 28

BUPATI SLEMAN PERATURAN BUPATI SLEMAN NOMOR 11 TAHUN 2007 TENTANG PENGEMBANGAN PERUMAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN,

BUPATI SLEMAN PERATURAN BUPATI SLEMAN NOMOR 11 TAHUN 2007 TENTANG PENGEMBANGAN PERUMAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, BUPATI SLEMAN PERATURAN BUPATI SLEMAN NOMOR 11 TAHUN 2007 TENTANG PENGEMBANGAN PERUMAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang : a. bahwa perkembangan perumahan di wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

Bab 3 Skenario Pembangunan Sanitasi

Bab 3 Skenario Pembangunan Sanitasi Bab 3 Skenario Pembangunan Sanitasi 3.1 Visi dan Misi Pembangunan Sanitasi Berdasarkan pengalaman pembangunan sanitasi selama ini, maka Pemerintah Kabupaten Sleman memandang bahwa peran masyarakat sebagai

Lebih terperinci

BAB IV DATA DAN INFORMASI PEMBANGUNAN. Buku Profil BPBD Kabupaten Sleman Tahun

BAB IV DATA DAN INFORMASI PEMBANGUNAN. Buku Profil BPBD Kabupaten Sleman Tahun BAB IV DATA DAN INFORMASI PEMBANGUNAN Buku Profil BPBD Kabupaten Sleman 45 4.1. Data dan Informasi Hasil Pembangunan Kabupaten Sleman termasuk daerah yang rawan bencana karena terdapat Gunung Merapi dan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2011-2031 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang:

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2011-2031 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang:

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SLEMAN dan BUPATI SLEMAN MEMUTUSKAN:

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SLEMAN dan BUPATI SLEMAN MEMUTUSKAN: PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2011-2031 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana terukur. Upaya pencapaian

Lebih terperinci

PANDUAN LOMBA PEMBUATAN FILM DOKUMENTER BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

PANDUAN LOMBA PEMBUATAN FILM DOKUMENTER BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014 PANDUAN LOMBA PEMBUATAN FILM DOKUMENTER BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014 A. Bentuk Kegiatan Lomba Pembuatan Film Dokumenter Bidang Lingkungan Hidup ( tema bebas) untuk siswa SMA,SMK dan MA di Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Merapi ditingkatkan dari normal menjadi waspada, dan selanjutnya di tingkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Merapi ditingkatkan dari normal menjadi waspada, dan selanjutnya di tingkatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Menurut Gema Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (2011:14), Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang paling aktif di dunia. Erupsi

Lebih terperinci

MIGRASI SEDIMEN AKIBAT PICUAN HUJAN ( KASUS KALI GENDOL GUNUNG MERAPI YOGYAKARTA )

MIGRASI SEDIMEN AKIBAT PICUAN HUJAN ( KASUS KALI GENDOL GUNUNG MERAPI YOGYAKARTA ) 1 MIGRASI SEDIMEN AKIBAT PICUAN HUJAN ( KASUS KALI GENDOL GUNUNG MERAPI YOGYAKARTA ) Tiny Mananoma Mahasiswa S3 Program Studi Teknik Sipil, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Djoko

Lebih terperinci

DAFTAR NAMA DAN ALAMAT SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI SE KAB. SLEMAN

DAFTAR NAMA DAN ALAMAT SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI SE KAB. SLEMAN DAFTAR NAMA DAN ALAMAT SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI SE KAB. SLEMAN No NSS Nama Ins. Pend. Alamat Desa/ Kelurahan Kecamatan Kab/ Kota Kd. Pos Telp. 1 101040216010 SD N Jagamangsan 1 Bercak Jogotirto Berbah

Lebih terperinci

BUKU SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

BUKU SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL BUKU SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KELAS VI SEMESTER 2 CARA- CARA PENANGGULANGAN BENCANA ALAM A. CARA- CARA MENGHADAPI BENCANA ALAM 1. Menghadapi Peristiwa Gempa Bumi Berikut adalah upaya yang dapat dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan di antara dua

BAB I PENDAHULUAN pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan di antara dua BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki lebih dari 17.480 pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan di antara dua

Lebih terperinci

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Program : Pelayanan Administrasi Perkantoran

Program : Pelayanan Administrasi Perkantoran BELANJA LANGSUNG NO URUSAN PROGRAM / KEGIATAN 1 Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri 1. Program : Pelayanan Administrasi Perkantoran 01. Penyediaan Jasa Administrasi Keuangan 02. Penyediaan Makanan

Lebih terperinci

BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta Gambaran Umum Wilayah Sleman

BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta Gambaran Umum Wilayah Sleman BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA 3.1. Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta 3.1.1. Gambaran Umum Wilayah Sleman Luas Wilayah Kabupaten Sleman adalah 57.482 Ha atau

Lebih terperinci

Penataan Ruang Berbasis Multipihak Pasca Erupsi Merapi

Penataan Ruang Berbasis Multipihak Pasca Erupsi Merapi Penataan Ruang Berbasis Multipihak Pasca Erupsi Merapi Analisa Kritsis Tata Ruang Pasca Erupsi Merapi Suparlan S.Sos.I WALHI-Yogyakarta Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Pendahuluan Ruang wadah yang meliputi

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN LOKASI

BAB III TINJAUAN LOKASI BAB III TINJAUAN LOKASI Perencanaan dan perancangan sebuah bangunan sangat dipengaruhi oleh letak lokasi bangunan. Bangunan rumah sakit khusus paru di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pendekatan Healing

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI UNTUK MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2015

PELAKSANAAN KEGIATAN DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI UNTUK MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2015 PELAKSANAAN KEGIATAN DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI UNTUK MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2015 No Program No Kegiatan 1 Program Pengawasan obat dan makanan 1 Peningkatan pengawasan keamanan pangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan wilayah yang mempunyai keunikan dan keistimewaan yang khas di dunia. Dengan jumlah pulau lebih dari 17.000

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008, Indonesia adalah negara yang memiliki potensi bencana sangat tinggi dan bervariasi

Lebih terperinci

PENGELOLAAN BANTUAN LOGISTIK PADA STATUS KEADAAN DARURAT BENCANA

PENGELOLAAN BANTUAN LOGISTIK PADA STATUS KEADAAN DARURAT BENCANA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN BANTUAN LOGISTIK PADA STATUS KEADAAN DARURAT BENCANA BADAN NASIONAL

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH Rencana Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman pada tahun 7 yang diusulkan melalui Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sleman

Lebih terperinci

Review upaya PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA KEKERINGAN DIPROVINSI NTB 2014

Review upaya PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA KEKERINGAN DIPROVINSI NTB 2014 Review upaya PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA KEKERINGAN DIPROVINSI NTB 2014 DINAS KESEHATAN PROVINSI NTB PENINGKATAN UPAYA PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN, KUTA-BALI 25-28 NOVEMBER 2014

Lebih terperinci

B U P A T I T A N A H L A U T PERATURAN BUPATI TANAH LAUT NOMOR 26 TAHUN 2013 TENTANG

B U P A T I T A N A H L A U T PERATURAN BUPATI TANAH LAUT NOMOR 26 TAHUN 2013 TENTANG S A L I N A N B U P A T I T A N A H L A U T PERATURAN BUPATI TANAH LAUT NOMOR 26 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENGANGGARAN, PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN, PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN SERTA MONITORING

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG . BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DI PROVINSI

Lebih terperinci

INOY TRISNAINI, SKM., M.KL FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA BENCANA PERAN KADER KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

INOY TRISNAINI, SKM., M.KL FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA BENCANA PERAN KADER KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA BENCANA PERAN KADER KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Bencana ialah peristiwa atau rangkaian peristiwa yg mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yg disebabkan, baik

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan

Lebih terperinci

MITIGASI BENCANA BENCANA :

MITIGASI BENCANA BENCANA : MITIGASI BENCANA BENCANA : suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang

Lebih terperinci

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang PENGANTAR MITIGASI BENCANA Definisi Bencana (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam

Lebih terperinci

POKOK DOA BENCANA ALAM TSUNAMI, GUNUNG MELETUS DAN BANJIR DI INDONESIA

POKOK DOA BENCANA ALAM TSUNAMI, GUNUNG MELETUS DAN BANJIR DI INDONESIA POKOK DOA BENCANA ALAM TSUNAMI, GUNUNG MELETUS DAN BANJIR DI INDONESIA Bapak/Ibu/Sdr/i terkasih dalam Tuhan, Indonesia sedang mengalami bencana alam yg bertubi-tubi melanda negeri tercinta ini. Sebagai

Lebih terperinci

MANAJEMEN BENCANA PENGERTIAN - PENGERTIAN. Definisi Bencana (disaster) DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MANAJEMEN BENCANA PENGERTIAN - PENGERTIAN. Definisi Bencana (disaster) DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PENGERTIAN - PENGERTIAN ( DIREKTUR MANAJEMEN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA ) DIREKTORAT JENDERAL PEMERINTAHAN UMUM Definisi Bencana (disaster) Suatu peristiwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tinggi. Secara historis, Indonesia merupakan Negara dengan tingkat

BAB I PENDAHULUAN. tinggi. Secara historis, Indonesia merupakan Negara dengan tingkat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia adalah Negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Kekayaan dari flora dan faunanya, serta kekayaan dari hasil tambangnya. Hamparan bumi Indonesia

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI PADA PENANGANAN KEDARURATAN DI KABUPATEN BADUNG

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI PADA PENANGANAN KEDARURATAN DI KABUPATEN BADUNG BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI PADA PENANGANAN KEDARURATAN DI KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, termasuk bencana alam. Bencana alam merupakan fenomena alam yang dapat mengakibatkan terjadinya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Kesehatan Lingkungan & Bencana PERTEMUAN 7

Kesehatan Lingkungan & Bencana PERTEMUAN 7 Kesehatan Lingkungan & Bencana PERTEMUAN 7 Kebutuhan air bersih dan sanitasi Penggunaan Dana Siap Pakai untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi meliputi : Pengadaan air bersih, baik pengadaan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2083, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2083, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2083, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PEMANFAATAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR, Menimbang : a. bahwa kondisi geografis

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011 BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNSI PELAKSANA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BLITAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN 1 PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

NOMOR : 18 TAHUN 2009 BAB I P E N D A H U L U A N

NOMOR : 18 TAHUN 2009 BAB I P E N D A H U L U A N LAMPIRAN : PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR : 18 TAHUN 2009 TANGGAL : 31 DESEMBER 2009 BAB I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Indonesia merupakan daerah rawan bencana

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS Rencana Belanja Daerah, Pemerintah Kabupaten Sleman pada tahun 2016 yang diusulkan melalui Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten diperkirakan

Lebih terperinci

Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan

Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Yogyakarta, 21 September 2012 BAPPEDA DIY Latar Belakang UU No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Seluruh

Lebih terperinci

PENILAIAN RISIKO PPMK-DEPKES

PENILAIAN RISIKO PPMK-DEPKES PENILAIAN RISIKO BENCANA PPMK-DEPKES Kenapa perlu Penilaian risiko? Menyusun prioritas risiko bencana yg mungkin terjadi Definisi Operasional Risiko (Risk) Besarnya kemungkinan bencana akan terjadi Penilaian

Lebih terperinci

BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA

BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Vulnerability. (Kerentanan) Praktikum Lapangan Gunung Merapi Mata Kuliah Mitigasi Bencana

Vulnerability. (Kerentanan) Praktikum Lapangan Gunung Merapi Mata Kuliah Mitigasi Bencana Vulnerability (Kerentanan) Praktikum Lapangan Gunung Merapi Mata Kuliah Mitigasi Bencana Aria Gumilar Rachmat Arie Prabowo M. Kurniawan Rama Irawan Program Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup Program

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI UNTUK MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2016

PELAKSANAAN KEGIATAN DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI UNTUK MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2016 PELAKSANAAN KEGIATAN DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI UNTUK MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2016 1 Pengawasan Obat dan Makanan Peningkatan pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya 2 Pengawasan

Lebih terperinci

Definisi Bencana (2) (ISDR, 2004)

Definisi Bencana (2) (ISDR, 2004) Definisi Bencana Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUMAJANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUMAJANG, BUPATI LUMAJANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUMAJANG, Menimbang : a. bahwa dalam menumbuhkan jiwa dan

Lebih terperinci

Tabel 7.3 CAPAIAN KINERJA PROGRAM INDIKATOR

Tabel 7.3 CAPAIAN KINERJA PROGRAM INDIKATOR Tabel 7.3 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Misi 3 RPJMD Kabupaten Sleman Tahun 2016-2021 Misi 3 : Meningkakan penguatan sistem ekonomi kerakyatan, aksesibilitas dan kemampuan ekonomi rakyat, penanggulangan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1224, 2013 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Penanggulangan. Bencana. Bantuan. Kesehatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2001 TENTANG

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2001 TENTANG PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG BADAN KESATUAN BANGSA PROPINSI

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG

PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG BERITA DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2006 PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN SATUAN PELAKSANA PENANGGULANGAN BENCANA DAN PENANGANAN PENGUNGSI (SATLAK PBP) KOTA SURAKARTA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGADA NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGADA NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGADA NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGADA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten mempunyai

Lebih terperinci

PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA

PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA 1 BEncANA O Dasar Hukum : Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana 2 Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam

Lebih terperinci

PERENCANAAN FASILITAS GUDANG PENYALUR LOGISTIK PADA BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI DI SLEMAN

PERENCANAAN FASILITAS GUDANG PENYALUR LOGISTIK PADA BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI DI SLEMAN PERENCANAAN FASILITAS GUDANG PENYALUR LOGISTIK PADA BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI DI SLEMAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Teknik Industri Oleh Laurent Sanjaya

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DAERAH BENCANA

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DAERAH BENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DAERAH BENCANA Disusun untuk memenuhi tugas Komunitas Dosen pengampu : M. Hasib Ardani, S.Kp., M.Kes. Disusun Oleh : Kelompok III Ana Rusfita 010501004 Arif Budi Wibowo 010501011

Lebih terperinci

Laporan Situasi. Gambaran Situasi. Tanah Longsor. Banjarnegara-Jawa Tengah. Informasi Kunci. Situation Report Desember 2014

Laporan Situasi. Gambaran Situasi. Tanah Longsor. Banjarnegara-Jawa Tengah. Informasi Kunci. Situation Report Desember 2014 Situation Report Tanah Longsor Banjarnegara-Jawa Tengah DISASTER MANAGEMENT CENTER DOMPET DHUAFA Laporan Situasi Informasi Kunci 12-16 Desember 2014 Longsor kembali landa wilayah Kabupaten Banjarnegara,

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI,TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB IV VISI, MISI,TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV VISI, MISI,TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 Visi dan Misi BPBD BPBD Kabupaten Bandung sebagai salah satu instansi dari Pemerintah Kabupaten, dalam menetapkan visinya tentu harus mengacu kepada

Lebih terperinci

Upaya-upaya dalam rangka menekan dampak akibat bencana sangat diperlukan pengaturan organisasi, tata laksana hubungan kerja, koordinasi dan komunikasi

Upaya-upaya dalam rangka menekan dampak akibat bencana sangat diperlukan pengaturan organisasi, tata laksana hubungan kerja, koordinasi dan komunikasi KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA DI DIY Oleh: dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, AAK Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY I. Pendahuluan. Indonesia merupakan negara super market disaster, yang dapat berupa

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN DISTRIBUSI BANTUAN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

DINAS PENGENDALIAN PERTANAHAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN

DINAS PENGENDALIAN PERTANAHAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN DINAS PENGENDALIAN PERTANAHAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN 1 D A F T A R I S I DAFTAR ISI... i DAFTAR GAMBAR... iii DAFTAR TABEL... iv BAB I. PENDAHULUAN... 1-1 1.1. Latar Belakang... 1-1 1.2. Maksud Dan Tujuan...

Lebih terperinci

Pedoman Assesment Tanggap Darurat Bencana

Pedoman Assesment Tanggap Darurat Bencana Pedoman Assesment Tanggap Darurat Bencana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengambilan keputusan yang efektif dan efisien dalam merespon bencana mutlak ditopang oleh informasi yang didapat oleh pihak

Lebih terperinci

a. Perumusan kebijakan teknis bidang penanggulangan bencana b. Pelaksanaan tugas bidang penanggulangan bencana

a. Perumusan kebijakan teknis bidang penanggulangan bencana b. Pelaksanaan tugas bidang penanggulangan bencana BAB II KONDISI UMUM A. STRUKTUR ORGANISASI DAN KELEMBAGAAN Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman merupakan salah satu perangkat daerah yang dibentuk sesuai dengan Peraturan Daerah

Lebih terperinci

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 01 TAHUN 2011 TENTANG

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 01 TAHUN 2011 TENTANG W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 01 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN KOORDINASI PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH (BKPBD) KOTA YOGYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

REVIEW JARINGAN TRAYEK ANGKUDES DI KABUPATEN SLEMAN: UPAYA MENUJU PEMERATAAN PELAYANAN BERTRANSPORTASI

REVIEW JARINGAN TRAYEK ANGKUDES DI KABUPATEN SLEMAN: UPAYA MENUJU PEMERATAAN PELAYANAN BERTRANSPORTASI REVIEW JARINGAN TRAYEK ANGKUDES DI KABUPATEN SLEMAN: UPAYA MENUJU PEMERATAAN PELAYANAN BERTRANSPORTASI Tri Jayanti Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada Bulaksumur E-9,

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PACITAN,

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PACITAN, BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PACITAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa wilayah Kabupaten Pacitan

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA SALINAN

WALIKOTA SURABAYA SALINAN SALINAN WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 49 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENANGGULANGAN BENCANA SAAT TANGGAP DARURAT DI KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA SINGKAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SINGKAWANG,

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN

BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN 3.1 Data Lokasi Gambar 30 Peta Lokasi Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 62 1) Lokasi tapak berada di Kawasan Candi Prambanan tepatnya di Jalan Taman

Lebih terperinci

PROSEDUR OPERASI STANDAR

PROSEDUR OPERASI STANDAR Pemerintah Kabupaten Aceh Besar DOKUMEN RESMI PROSEDUR OPERASI STANDAR UNTUK PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI PROSEDUR PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI DAFTAR

Lebih terperinci

GUBERNUR PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA

GUBERNUR PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA GUBERNUR PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

No.1119, 2014 KEMENHAN. Krisis Kesehatan. Penanganan. Penanggulangan Bencana. Pedoman.

No.1119, 2014 KEMENHAN. Krisis Kesehatan. Penanganan. Penanggulangan Bencana. Pedoman. No.1119, 2014 KEMENHAN. Krisis Kesehatan. Penanganan. Penanggulangan Bencana. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN KRISIS KESEHATAN DALAM

Lebih terperinci

Matrik Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan Indikatif SKPD BPBD Provinsi Banten Tahun 2014

Matrik Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan Indikatif SKPD BPBD Provinsi Banten Tahun 2014 Matrik Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan Indikatif SKPD BPBD Provinsi Banten SKPD : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode

Lebih terperinci

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat BUPATI GARUT, :

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG KESEHATAN

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG KESEHATAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG KESEHATAN PENGERTIAN BENCANA Peristiwa atau rangkaian peristiwa yg mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyrakat yg disebabkan, baik oleh faktor alam

Lebih terperinci

RENCANA UMUM PENGADAAN. Melalui Swakelola. Pelaksanaan Pekerjaan 03/02/ /11/ /02/ /12/ /01/ /12/2016

RENCANA UMUM PENGADAAN. Melalui Swakelola. Pelaksanaan Pekerjaan 03/02/ /11/ /02/ /12/ /01/ /12/2016 RENCANA MM PENGADAAN Melalui Swakelola K/L/D/I SATAN KERJA : KABPATEN SLEMAN : BADAN PENANGGLANGAN BENCANA DAERAH TAHN ANGGARAN : 2016 1 Pemantauan dan Penyebarluasan Informasi Potensi Alam 2 Penguatan

Lebih terperinci

BADAN GEOLOGI - ESDM

BADAN GEOLOGI - ESDM Studi Kasus Merapi 2006 : Peranan Pengukuran Deformasi dalam Prediksi Erupsi A. Ratdomopurbo Kepala BPPTK-PVMBG Sosialisasi Bidang Geologi -----------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA 9 Oktober 2013 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR, Nomor 7 Seri A Menimbang

Lebih terperinci

DAFTAR INFORMASI PUBLIK SESUAI KEPUTUSAN BUPATI. TANAH DATAR NOMOR 065/377/Dishubkominfo-2014

DAFTAR INFORMASI PUBLIK SESUAI KEPUTUSAN BUPATI. TANAH DATAR NOMOR 065/377/Dishubkominfo-2014 DAFTAR INFORMASI PUBLIK SESUAI KEPUTUSAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 065/377/Dishubkominfo-2014 I. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala 1. Informasi tentang Profil SKPD a. Nama SKPD

Lebih terperinci

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 VISI DAN MISI SKPD Visi BPBD Kabupaten Lamandau tidak terlepas dari kondisi lingkungan internal dan eksternal serta kedudukan, tugas dan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 297 / KPTS / M / 2013 TENTANG SATUAN TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 297 / KPTS / M / 2013 TENTANG SATUAN TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN UMUM KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 297 / KPTS / M / 2013 TENTANG SATUAN TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR KELAYAKAN SISTEM EVAKUASI KAWASAN RAWAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI DI KABUPATEN SLEMAN

TUGAS AKHIR KELAYAKAN SISTEM EVAKUASI KAWASAN RAWAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI DI KABUPATEN SLEMAN TUGAS AKHIR KELAYAKAN SISTEM EVAKUASI KAWASAN RAWAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI DI KABUPATEN SLEMAN (Studi Kasus : KRB Gunung Merapi Kabupaten Sleman DIY) Diajukan Sebagai Syarat untuk Mencapai Jenjang

Lebih terperinci

DAFTAR USULAN KEGIATAN PEMBANGUNAN MUSRENBANG KABUPATEN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN ANGGARAN 2014

DAFTAR USULAN KEGIATAN PEMBANGUNAN MUSRENBANG KABUPATEN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN ANGGARAN 2014 DAFTAR USULAN KEGIATAN PEMBANGUNAN MUSRENBANG KABATEN PEMERINTAH KABATEN BANYUWANGI TAHUN ANGGARAN 2014 BIDANG : GABUNGAN Hal 1 / 8 00001 Program Pelayanan BLUD APBD Prop Dana 1 119010101 Penyediaan jasa

Lebih terperinci

EVALUASI PENYULUHAN STUDI KASUS SOSIALISASI BENCANA GUNUNGAPI TALANG, SUMATRA BARAT

EVALUASI PENYULUHAN STUDI KASUS SOSIALISASI BENCANA GUNUNGAPI TALANG, SUMATRA BARAT EVALUASI PENYULUHAN STUDI KASUS SOSIALISASI BENCANA GUNUNGAPI TALANG, SUMATRA BARAT SUPRIYATI ANDREASTUTI Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sari Sosialisasi bencana gunungapi kepada masyarakat

Lebih terperinci

WAKTU No. KEGIATAN INSTANSI Meletakkan. pengurangan risiko bencana

WAKTU No. KEGIATAN INSTANSI Meletakkan. pengurangan risiko bencana Lampiran II MATRIKS : RENCANA PROGRAM/ KEGIATAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA 2013-2015 DI KABUPATEN PIDIE JAYA PRIORITAS RENCANA KEBIJAKAN/ WAKTU No KEGIATAN INSTANSI AKSI PROGRAM 2013 2014 2015 1 2 3 5

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI

PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR ISI 1. PERATURAN KEPALA BADAN

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN SKPD Identifikasi permasalahan pada BPBD Kabupaten Lamandau berdasarkan tugas

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 72 Tahun : 2015

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 72 Tahun : 2015 BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 72 Tahun : 2015 PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 71 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PENENTUAN STATUS KEADAAN DARURAT

Lebih terperinci

POLA PENANGANAN BENCANA ALAM ( Perspektif Kepolisian )

POLA PENANGANAN BENCANA ALAM ( Perspektif Kepolisian ) 1 2 POLA PENANGANAN BENCANA ALAM ( Perspektif Kepolisian ) I. PENDAHULUAN Bencana alam merupakan suatu kejadian yang sifatnya kontijensi / tiba-tiba terjadi dan bahkan diluar dugaan / perkiraan manusia

Lebih terperinci

RENCANA KONTIJENSI PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR LAHAR HUJAN DESA JUMOYO DESA JUMOYO, KECAMATAN SALAM, KABUPATEN MAGELANG PROVINSI JAWA TENGAH

RENCANA KONTIJENSI PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR LAHAR HUJAN DESA JUMOYO DESA JUMOYO, KECAMATAN SALAM, KABUPATEN MAGELANG PROVINSI JAWA TENGAH RENCANA KONTIJENSI PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR LAHAR HUJAN DESA JUMOYO DESA JUMOYO, KECAMATAN SALAM, KABUPATEN MAGELANG PROVINSI JAWA TENGAH 2012 Kerjasama: KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan

Lebih terperinci

ACTION PLAN PENANGGULANGAN BENCANA ERUPSI MERAPI DI BIDANG KESEHATAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN SLEMAN

ACTION PLAN PENANGGULANGAN BENCANA ERUPSI MERAPI DI BIDANG KESEHATAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN SLEMAN ACTION PLAN PENANGGULANGAN BENCANA ERUPSI MERAPI DI BIDANG KESEHATAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN SLEMAN DASAR PELAKSANAAN Peraturan Bupati Sleman Nomor 29 Tahun 2010 Tanggal 26 Oktober 2010 TENTANG KOMANDO

Lebih terperinci

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa untuk meminimalisasi

Lebih terperinci