Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia"

Transkripsi

1 Kerangka Kerja PABU 39 Artikel 3 Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia Suwardjono Fakultas Ekonomi 1 UGM Artikel ini telah dimuat di majalah Akuntansi edisi Februari 1991 Dalam artikel Laporan Audit Standar yang Tidak Standar (Artikel 2 dalam kumpulan artikel), penulis membahas makna generally accepted accounting principles (GAAP) sebagaimana digunakan di Amerika. GAAP sebenarnya lebih menggambarkan pengertian sebagai suatu konsep atau kerangka kerja (framework) 2 daripada sebagai suatu buku atau dokumen. Penulis mengemukakan bahwa padan kata yang tepat untuk GAAP sebagai suatu konsep atau kerangka kerja tersebut adalah prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Karena GAAP lahir dan berkembang di Amerika, istilah tersebut cenderung bersifat lingkungan dan historis Amerika sehingga kalau istilah tersebut tidak diberi pewatas tempat maka artinya adalah GAAP atau PABU Amerika. Konsep dan kerangka yang sama di Indonesia dengan demikian mestinya disebut PABU-Indonesia (PABUI). PABUI akan merupakan suatu kerangka kerja yang menjadi pedoman penyusunan laporan keuangan dan sekaligus merupakan kerangka kerja untuk menentukan kewajaran penyajian laporan keuangan. Untuk melengkapi gagasan yang telah dipaparkan dalam artikel tersebut, dalam artikel ini, penulis mencoba untuk menyajikan suatu kerangka kerja PABUI yang direkayasa dan dikembangkan atas dasar penalaran yang digunakan untuk menyusun kerangka kerja PABU Amerika. 1 Sejak tahun 2007 menjadi Fakultas Ekonomika dan Busines (FEB). Di sini, bisnis ditulis busines. 2 Pengertian GAAP-Indonesia sebagai suatu kerangka kerja disebutkan dalam buku Norma Pemeriksaan Akuntan (1986), Bab VIII pasal 5. Anton M. Moeliono mengusulkan kata rerangka sebagai padan kata framework untuk membedakannya dengan kerangka sebagai padan kata skeleton. Lihat Anton M. Moeliono, Santun Bahasa (Jakarta: PT Gramedia, 1986), hal Dalam artikel ini, penulis menggunakan istilah kerangka kerja atau kerangka acuan sebagai padan kata framework tersebut. Dalam beberapa tulisan yang lain, penulis menggunakan istilah rerangka. Suwardjono1992

2 40 Artikel 3 Beberapa Pengertian yang Rancu Ada tiga istilah penting yang masing-masing mempunyai pengertian yang sangat berbeda tetapi dirancukan pemakaiannya. Kerancuan ini terjadi tidak hanya di dalam praktik tetapi juga di kalangan akademik termasuk dalam forum-forum ilmiah seperti seminar atau lokakarya. Buku-buku teks akuntansi pun sering tidak menjelaskan makna ketiga istilah tersebut dan perbedaannya. Istilah tersebut adalah prinsip akuntansi (accounting principles), standar akuntansi (accounting standards) dan prinsip akuntansi berterima umum (generally accepted accounting principles). Gambar 1 di bawah ini menjelaskan pengertian dan hubungan ketiga istilah tersebut. Gambar 1 Prinsip-prinsip akuntansi: (semua konsep, ketentuan, prosedur, metode, dan teknik yang tersedia secara teoretis maupun praktis) dipilih yang sesuai dengan tujuan pelaporan keuangan oleh badan penyusun standar (yang berwenang) dalam lingkungan tertentu Standar akuntansi (accounting standards) ketentuan lain yang tidak diatur dalam standar akuntansi yang dapat berupa praktik pelaporan yang sehat (sound accounting practices) termasuk peraturan pemerintah atau ketentuan badan autoritatif lainnya Prinsip akuntansi berterima umum (generally accepted accounting principles) Penentuan prinsip yang akan dipilih sebagai standar atau penentuan praktik pelaporan yang dianggap sehat tentu saja didasarkan atas suatu rerangka konseptual (conceptual framework) yang telah disepakati. Rerangka konseptual ini akan berfungsi semacam konstitusi. Prinsip, metode, atau prosedur akan dianggap lebih baik dari yang lain kalau prinsip, metode dan prosedur tersebut lebih menjamin tercapainya tujuan yang ingin dicapai dalam akuntansi sebagaimana dituangkan dalam rerangka konseptual tersebut. Dengan kata lain, tanpa rerangka konseptual, badan penyusun standar tidak dapat memilih mana prinsip yang

3 Kerangka Kerja PABU 41 akan dijadikan standar dan praktisi juga tidak dapat menentukan mana prinsip yang harus dipakai kalau belum ada standar yang secara spesifik menggariskan prinsip yang harus digunakan. Dalam Artikel 2, penulis menunjukkan bahwa istilah prinsip akuntansi Indonesia (sering disingkat PAI) sebagaimana digunakan sekarang tidak tepat benar sebagai padan kata GAAP-Indonesia karena rancu dengan istilah PAI sebagai nama buku yang sebenarnya tidak tepat disebut demikian (kalau ditilik dari isi buku tersebut). Akibatnya, banyak pihak di kalangan akuntansi yang tidak dapat membedakan tiga pengertian penting (yang sangat berbeda antara satu dan lainnya) dan hubungannya yaitu prinsip akuntansi Indonesia sebagai suatu kerangka kerja (yang mestinya disebut PABU Indonesia), standar akuntansi, dan Prinsip Akuntansi Indonesia sebagai nama buku. Akibat lebih lanjut adalah banyak orang mempunyai pemahaman yang keliru bahwa buku PAI merupakan GAAP yang berlaku di Indonesia. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengatasi kerancuan tersebut adalah istilah prinsip akuntansi Indonesia sebagai suatu kerangka kerja dipertegas menjadi prinsip akuntansi berterima umum Indonesia dan buku PAI dikembangkan menjadi suatu kerangka acuan atau rerangka konseptual (conceptual framework) pelaporan keuangan Indonesia sebagaimana akan dijelaskan pada bagian lain dalam artikel ini. Arti Penting PABU Dalam suatu struktur akuntansi yang melandasi praktik akuntansi dalam suatu lingkungan (negara) tertentu, perlu adanya suatu acuan untuk dijadikan dasar dalam menyusun laporan keuangan dan menginterpretasi laporan keuangan tersebut. Dengan adanya acuan tersebut maka komunikasi antara penyaji dan pembaca laporan akan menjadi lancar dan efektif. Pedoman atau acuan tersebut mempunyai peran yang penting karena akuntansi menganggap bahwa pihak pemakai adalah pihak yang terpisah dari pihak yang menyusun dan menyajikan laporan keuangan. Oleh karena itu, kedua pihak tersebut harus mempunyai kesepakatan mengenai apa yang dapat dianggap sebagai pedoman. Kesepakatan dapat terjadi dalam bentuk ketentuan resmi yang disebut standar akuntansi yang dikeluarkan oleh badan yang berwenang. Kesepakatan dapat juga terjadi dalam bentuk prinsip-prinsip, prosedur-prosedur, metode-metode dan kebiasaan-kebiasaan pelaporan yang diakui eksistensinya oleh profesi dan dianggap berterima sebagai pedoman walaupun semuanya tidak dituangkan dalam bentuk standar atau pengumuman/penerbitan resmi (pronouncements) lainnya. Karena tidak setiap kesepakatan dituangkan dalam bentuk ketentuan resmi dan dianggap bahwa semua pihak memakluminya (menjadi tacit agreement di kalangan profesi) maka perlu ada suatu konsep atau kerangka yang membatasi kesepakatan-kesepakatan mana saja yang dapat dianggap berterima sehingga laporan keuangan yang disusun atas dasar kesepakatan tersebut tidak akan menyesatkan. PABU merupakan kerangka yang membatasi pemilihan prinsip, prosedur, metode dan kebiasaan pelaporan yang dianggap tidak menyesatkan sebagai dasar penyajian laporan keuangan. Tentu saja, standar akuntansi akan merupakan sumber prinsip akuntansi Suwardjono1992

4 42 Artikel 3 yang paling tinggi otoritasnya karena secara sengaja (melalui prosedur resmi dan saksama) suatu prinsip dipilih dan dinyatakan sebagai pedoman utama oleh badan yang berwenang. Gambar 2 melukiskan struktur akuntansi dalam menyediakan informasi untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan. Gambar 2 Tujuan pelaporan tercapai Sistem Informasi Akuntansi Manajemen didapatkan kesamaan interpretasi terhadap pesan informasi Laporan Keuangan Auditor Laporan Audit Investor Kreditor Pemerintah Pelangganan Masyarakat umum menyusun dan menyajikan berdasarkan mengaudit apakah laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai mengartikan dan menganalisis berdasarkan Prinsip akuntansi berterima umum termasuk standar Kalau subjek yang berkewajiban menyampaikan laporan telah menyajikan laporan keuangannya sesuai dengan PABU tersebut maka diharapkan bahwa pemakai akan dapat menilai dan melakukan keputusan atas dasar analisis laporan keuangan tersebut tanpa ada keragu-raguan mengenai arti dan makna informasi yang dituangkan dalam laporan keuangan tersebut. Ini berarti bahwa komunikasi yang efektif terjadi antara penyaji dan yang dituju laporan. Tentu saja, keefektifan komunikasi akan terjadi kalau pembaca menggunakan kerangka kerja PABU yang sama untuk menginterpretasi laporan keuangan. Akan tetapi, karena pemakai tidak terlibat secara langsung dalam penyusunan laporan keuangan masalahnya adalah siapakah yang menjamin bahwa penyusun telah menyajikan laporannya sesuai dengan PABU. Di sinilah peran pihak ketiga (auditor independen atau akuntan publik) diperlukan untuk menentukan kesesuaian tersebut. Dengan demikian, bagi auditor, PABU juga merupakan pedoman untuk menentukan kewajaran penyajian laporan keuangan. Arti penting PABU terefleksi dalam ungkapan...menyajikan secara wajar... sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum yang terdapat dalam paragraf opini dalam laporan audit standar.

5 Kerangka Kerja PABU 43 Kerangka Kerja PABU di Amerika Dalam melakukan audit, keputusan yang harus dipertimbangkan oleh auditor adalah apakah suatu prinsip, prosedur atau metode yang digunakan oleh subjek pelaporan masuk dalam kerangka kerja PABU. Pendapat auditor mengenai apakah seperangkat laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan (aliran kas) sesuai dengan PABU harus didasarkan atas kebijaksanaan/pertimgangan (judgment) auditor apakah: (a) prinsip-prinsip akuntansi yang dipilih dan diaplikasi mempunyai keberterimaan umum; (b) prinsip-prinsip akuntansi tersebut tepat untuk kondisi perusahaan bersangkutan; (c) laporan keuangan termasuk penjelasannya memuat informasi yang cukup mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi penggunaan, pemahaman dan interpretasinya; (d )informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasi dan diringkas dengan cukup layak dalam arti tidak terlalu rinci tetapi juga tidak terlalu ringkas; dan (e) laporan keuangan menggambarkan kejadian atau transaksi yang melandasinya dengan cara tertentu yang dapat menunjukkan posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan dalam batasbatas penyajian yang terterima (acceptable) dalam arti bahwa penyajian tersebut layak dan praktis untuk dilaksanakan dalam penyusunan laporan keuangan. 3 Auditor dapat menjawab masalah (a) sampai dengan (e) dengan sebaik-baiknya kalau ada kriteria yang jelas untuk dijadikan dasar pertimbangannya. Tanpa adanya suatu kriteria yang jelas maka auditor akan mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri mengenai kewajaran laporan keuangan dan apa yang dinyatakan wajar oleh auditor yang satu mungkin akan menjadi tidak wajar menurut auditor yang lain yang menggunakan kriteria yang berbeda. Bila terdapat standar akuntansi yang mengatur secara tegas perlakuan akuntansi tertentu maka tugas auditor adalah menentukan apakah perlakuan akuntansi yang terefleksi dalam laporan keuangan sesuai dengan standar tersebut. Akan tetapi, tidak semua prinsip atau perlakuan akuntansi dinyatakan secara tegas dalam bentuk standar akuntansi sementara itu banyak prinsip yang dapat dipilih. Hal ini mengharuskan auditor untuk menentukan apakah perlakuan akuntansi (prinsip yang dipilih perusahaan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan) masih dalam batas-batas tertentu untuk dapat dikatakan wajar. Dalam keadaan seperti ini, auditor akan 3 AICPA, Codification of Statements on Auditing Standards (New York: AICPA, 1986), SAS No. 5, Professional Standards, AU Bandingkan dengan IAI, Norma Pemeriksaan Akuntan (Jakarta: PT Temprint, 1986), hal. 64 (Bab VIII, pasal 6). Suwardjono1992

6 44 Artikel 3 menemui kesulitan untuk menentukan apakah prinsip yang tidak diatur dalam suatu standar dapat dikatakan berterima umum dan tepat untuk dasar perlakuan akuntansi. Oleh karena itu, profesi akuntansi dan pemakai jasa akuntansi harus menyepakati adanya suatu kerangka kerja prinsip akuntansi berterima umum (a body of generally accepted accounting principles) dan para auditor (akuntan publik) dianggap mempunyai keahlian teknis yang berkaitan dengan prinsip akuntansi tersebut dan mempunyai keahlian untuk menentukan keberterimaan umum suatu prinsip sebagai dasar penyajian suatu kejadian atau transaksi. Kerangka kerja PABU tidak lain adalah seperangkat ketentuan-ketentuan atau sumber-sumber acuan (baik berupa pernyataan resmi atau lainnya) yang menjadi pedoman untuk memilih prinsip-prinsip akuntansi yang dapat dijadikan dasar perlakuan akuntansi dan para akuntan (profesi) mengakui keandalan dan eksistensi prinsip tersebut sebagai suatu dasar perlakuan akuntansi. Para akuntan mengakui validitas suatu prinsip akuntansi karena badan berwenang menetapkan standar untuk menggunakan prinsip tersebut atau karena suatu prinsip akuntansi secara teoretis dapat mengungkapkan suatu kejadian atau transaksi ekonomik dengan cukup baik (layak). Di Amerika, sumber-sumber acuan yang merupakan kerangka kerja PABU adalah sebagai berikut: 4 (a) Pengumuman atau penerbitan resmi (pronouncements) oleh badan otoritatif yang ditunjuk oleh AICPA Council untuk menetapkan prinsip akuntansi. Termasuk dalam kategori ini adalah: FASB Statements of Financial Accounting Standards FASB Interpretations Accounting Principles Board Opinions AICPA Accounting Research Bulletins Statements and Interpretations of Governmental Accounting Standards Board (GASB) (b) Pengumuman atau penerbitan resmi oleh badan atau lembaga yang anggotanya terdiri atas akuntan ahli yang pembuatannya mengikuti suatu prosedur berdasarkan proses yang saksama dengan maksud untuk menetapkan prinsip akuntansi atau memerikan (describing) praktik akuntansi yang ada yang berterima umum. Termasuk dalam kategori ini adalah: AICPA Industry Audit Guides and Accounting Guides AICPA Statements of Position Technical Bulletins issued by the FASB or GASB 4 AICPA, Ibid., AU s.d. AU Section dalam Statement tersebut telah diganti dengan diterbitkannya SAS No. 58 (1987). Kutipan ini telah menggambarkan perubahan tersebut.

7 Kerangka Kerja PABU 45 (c) Praktik akuntansi atau penerbitan resmi mengenai perlakuan akuntansi yang telah dikenal secara luas sebagai berterima umum karena praktik atau penerbitan tersebut merupakan praktik yang banyak digunakan dalam industri tertentu atau merupakan aplikasi pengumuman resmi berterima umum pada kondisi khusus dan aplikasi tersebut telah dikenal secara luas. Termasuk dalam kategori ini adalah: AICPA Interpretations Praktik-praktik akuntansi yang telah dikenal secara luas dan banyak digunakan dalam industri tertentu (d) Sumber atau literatur akuntansi lainnya. Termasuk dalam kategori ini adalah: APB Statements AICPA Issues Papers AcSEC Practice Bulletins Minutes of the FASB Emerging Issues Task Force FASB Statements of Financial Accounting Concepts (SFAC) Concepts Statements of the GASB International Accounting Standards Committee Statements of International Accounting Standards Penerbitan/pengumuman resmi oleh asosiasi profesional atau badan pemerintah, dan buku teks dan artikel akuntansi Sumber-sumber acuan di atas secara keseluruhan membentuk kerangka kerja PABU berdasarkan urutan keotoritatifannya. Sumber yang disebutkan paling dahulu merupakan sumber yang paling otoritatif. Gambar 3 di halaman berikut merupakan kerangka kerja PABU tersebut yang dilukiskan Rubin sebagai suatu bangunan rumah bertingkat yang disebut The House of GAAP. 5 Gambar ini sama dengan Gambar 2 dalam Artikel 1. Sekali lagi, GAAP merupakan suatu kerangka kerja (framework) dan bukan suatu nama buku atau dokument tertentu. Keautoritatifan suatu sumber digambarkan dalam bentuk tingkat (floor) bangunan rumah tersebut, tingkat paling bawah dan paling kiri dalam tiap tingkat adalah sumber yang paling otoritatif. Agar kuat, bangunan tersebut harus didirikan di atas fondasi yang dalam hal ini berupa konsep dasar akuntansi. The House of GAAP tersebut merupakan landasan operasional bagi penyusun laporan keuangan maupun bagi auditor (akuntan publik) dalam mengaudit laporan keuangan. Kerangka kerja seperti dilukiskan Rubin akan sangat berguna bagi auditor untuk menentukan kelayakan suatu prinsip akuntansi sebagai dasar perlakuan akuntansi. Sumber pertama yang harus diacu auditor adalah sumber pada tingkat pertama, khususnya pernyataan standar akuntansi. Standar akuntansi 5 Steven Rubin, The House of GAAP, Journal of Accountancy (June 1984), hlm Suwardjono1992

8 46 Artikel 3 (termasuk sumber lain pada tingkat pertama) menetapkan secara tegas prinsip akuntansi manakah yang harus diterapkan untuk suatu kejadian atau transaksi tertentu sehingga akuntan dan auditor tidak ragu-ragu lagi mengenai validitas prinsip akuntansi tersebut. Karena pemilihan prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam suatu standar telah dipertimbangkan dengan saksama dengan memperhatikan berbagai pendapat dan pandangan maka dapat diharapkan bahwa kepatuhan terhadap standar akuntansi tersebut akan menghasilkan laporan keuangan yang tidak menyesatkan. Untuk menetapkan kewajaran penyajian, tugas auditor adalah mengevaluasi dan menetapkan apakah prinsip akuntansi yang dianut untuk perlakuan akuntansi dalam suatu laporan keuangan ditentukan secara tegas dalam sumber-sumber pada tingkat pertama. Gambar 3 The House of GAAP Fourth floor APB Statements AICPA issues papers Other professional pronouncements FASB concepts statements Textbooks and articles Third floor FASB technical bulletins AICPA accounting interpretations Prevalent industry practices Second floor AICPA industry audit guides AICPA industry accounting guides AICPA statements of position First floor FASB statements FASB interpretations APB opinions AICPA accounting research bulletins Foundation Includes the going concern assumption, substance over form, neutrality, the accrual basis, concervatism, materiality. Sumber: Steven Rubin, The House of GAAP. Journal of Accountancy (June 1984), hlm. 124 Kalau prinsip akuntansi sebagai dasar perlakuan akuntansi terhadap suatu kejadian atau transaksi tidak ditetapkan secara khusus dalam bentuk pengumuman/ketentuan resmi yang terdapat pada tingkat pertama, auditor dapat memper-

9 Kerangka Kerja PABU 47 timbangkan dan mengevaluasi apakah prinsip akuntansi (perlakuan akuntansi) ditentukan secara khusus dalam sumber-sumber pada tingkat kedua atau ketiga. Kalau dua sumber atau lebih mengatur/menetapkan prinsip akuntansi yang berbeda untuk kejadian atau transaksi yang sama, auditor harus memilih dan dapat menjelaskan bahwa prinsip akuntansi tersebut berterima umum. Kalau terdapat konflik antara sumber-sumber dalam kategori tingkat kedua atau ketiga, auditor harus mempertimbangkan perlakuan yang paling menggambarkan substansi kejadian atau transaksi bersangkutan. Kalau sumber-sumber yang telah disebutkan di atas tidak menentukan secara tegas prinsip akuntansi yang harus dianut, auditor dapat mempertimbangkan sumber-sumber lain (tingkat keempat) bergantung pada relevansinya terhadap kondisi yang dihadapi auditor. Kelayakan sumber-sumber ini sebagai sumber prinsip akuntansi bergantung pada relevansi prinsip terhadap masalah yang dihadapi auditor, kekhususan/kejelasan pedoman yang diberikan, dan tingkat pengakuan umum terhadap otoritas penerbit atau pengarang. SFAC, misalnya, pada umumnya dipandang lebih otoritatif dan berpengaruh dibandingkan dengan buku teks atau artikel akuntansi. Dua Pelajaran Penting Ada dua hal menarik yang dapat dijadikan pelajaran dari kerangka kerja PABU di atas. Pertama, sumber-sumber yang menjadi acuan yang membentuk PABU di Amerika berjumlah cukup banyak dan berasal dari berbagai badan. Dari sejarah perkembangan akuntansi di Amerika, sebelum ada badan penyusun standar, AICPA banyak mengeluarkan penerbitan yang dianggap dapat dijadikan sumber prinsip akuntansi. Karena dirasakan perlunya standar, dibentuklah APB yang ada dibawah AICPA untuk merumuskan standar akuntansi. Penerbitan APB sering dianggap bias dan menguntungkan auditor dan kliennya karena tidak ada wakil dari pemakai laporan yang duduk dalam keanggotaan APB. Kemudian badan tersebut diganti dengan FASB yang dipandang lebih netral dan tidak berada di bawah AICPA. Sebelum ada standar atau pengumuman resmi yang mengganti penerbitan badan sebelumnya maka penerbitan badan-badan yang sebelumnya telah ada tetap berlaku sehingga terdapat beberapa macam standar yang sama-sama berlaku. Badan penyusun standar di Indonesia adalah Komite Prinsip Akuntansi Indonesia yang berada di bawah IAI (semacam AICPA). Hal yang diharapkan adalah bahwa pengalaman yang tidak dikehendaki seperti di Amerika tidak perlu dialami oleh Indonesia. Artinya, sebelum telanjur banyak standar dan pengumuman resmi lain diterbitkan, kalau ada indikasi bahwa standar yang sekarang beredar mengandung bias maka mungkin sejak dini perlu dipikirkan adanya badan penyusun standar yang netral dari pengaruh IAI. Namun demikian perlu dicatat bahwa penyusunan standar akuntansi memang tidak pernah netral dan bebas dari pengaruh politik. Akuntansi akan kehilangan keefektifannya sebagai alat kalau segalanya ditentukan atas dasar pure logic tanpa memperhatikan dampak sosial dan ekonomik informasi yang dihasilkannya. Masih menjadi masalah apakah perekayasaan informasi akuntansi harus Suwardjono1992

10 48 Artikel 3 netral terhadap kepentingan pemerintah atau harus mendukung/menopang kepentingan pemerintah atau negara. 6 Kedua, dari sudut perekayasaan akuntansi keuangan, SFAC mestinya menjadi landasan konseptual dari seluruh standar atau sumber yang ada sehingga letaknya ada di bawah sumber tingkat pertama. Akan tetapi, dalam The House of GAAP di atas, SFAC justru terletak paling atas dan ke kanan yang berarti dianggap kurang autoritatif. Hal ini terjadi juga karena sejarah perkembangan standar di Amerika. Setelah banyak standar diterbitkan, ternyata terdapat inkonsistensi antara standar yang satu dan lainnya dan bahkan dalam banyak hal terjadi konflik konsep yang melandasi standar. Inkonsistensi dan konflik terjadi justru dalam standar yang diterbitkan oleh badan yang sama (APB atau FASB). Oleh karena itu, timbullah gagasan untuk menciptakan suatu kerangka acuan konseptual (conceptual framework) yang dapat dijadikan pengarah dalam penyusunan standar akuntansi. Pada tahun 1973, FASB membuat projek untuk menyusun kerangka acuan ini yang dikenal dengan Conceptual Framework Project. Baru pada bulan Desember 1985, projek tersebut menghasilkan lima pernyataan konsep yang saling berkaitan (disebut Statement of Financial Accounting Concepts) yaitu SFAC No. 1 sampai No. 6 (SFAC No. 6 merupakan pengganti SFAC No. 3). Namun demikian, FASB menegaskan bahwa SFAC bukan merupakan standar baru yang mengganti standar yang telah ada. SFAC lebih merupakan suatu konsep (kerangka acuan) yang nantinya mendasari penerbitan standar baru. Kalau terjadi inkonsistensi antara prinsip akuntansi yang diatur dalam standar yang telah ada dengan prinsip akuntansi yang diturunkan dari SFAC, standar yang ada tetap berlaku tanpa perubahan apapun. FASB sendiri memandang bahwa SFAC merupakan tools for solving problems dan diharapkan di masa mendatang standar akuntansi akan menjadi lebih konsisten dan menuju ke pencapaian tujuan pelaporan keuangan. Jadi, seandainya SFAC telah disusun sejak dini sebelum banyak standar yang diterbitkan maka SAFC akan merupakan bagian dari fondasi dalam kerangka kerja PABU (The House of GAAP). Memetik pelajaran dari sejarah SFAC di atas, tentunya pengembangan akuntansi di Indonesia tidak perlu mengalami masalah atau kesalahan yang sama. Untuk memiliki suatu kerangka acuan konseptual barangkali kita tidak harus menunggu sampai banyak standar yang diterbitkan dan timbul inkonsistensi dan konflik antarstandar termasuk kerancuan istilah. Mengamati tingkat yang dicapai oleh perkembangan akuntansi di Indonesia sampai saat ini, barangkali tidak terlalu berlebihan untuk dikatakan bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan lebih dahulu suatu kerangka acuan konseptual Indonesia. Penulis mengusulkan nama Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia (KAPFI) atau Rerangka Konseptual Pelaporan Finansial Indonesia (RKPFI). 7 Kerangka 6 Lihat pembahasan mengenai hal ini dalam David Solomons, The Politicization of Accounting, Journal of Accountancy (November 1978), hlm Gagasan mengenai arti pentingnya KAPFI telah penulis sampaikan pada Kongres ISEI ke XI tanggal Agustus 1990 di Bandung dalam suatu makalah berjudul Perekayasaan Informasi Akuntansi Untuk Alokasi Sumber Daya Ekonomik Secara Efisien Melalui Pasar Modal. Makalah tersebut disajikan kembali menjadi Artikel 1 dalam buku ini.

11 Kerangka Kerja PABU 49 tersebut berguna sebagai landasan konseptual badan penyusun standar agar standar-standar yang dihasilkan nantinya konsisten dan mengarah ke pencapaian tujuan pelaporan keuangan yang jelas. Kerangka tersebut dapat juga dijadikan acuan bagi akuntan dan praktisi untuk mengevaluasi kelayakan suatu prinsip akuntansi. Kerangka Kerja PABU Indonesia Dengan kerangka pikir yang sama dengan apa yang telah dibahas di muka dan dengan mempertimbangkan faktor lingkungan di Indonesia, penulis mencoba untuk menggambarkan kerangka kerja PABUI yang dapat menjadi acuan baik bagi penyusun laporan keuangan maupun bagi auditor untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan. Gambar 4 di halaman berikut menunjukkan gagasan penulis tentang kerangka kerja tersebut. Gambar ini beserta penjelasannya sama dengan Gambar 3 di Artikel 1. Fondasi kerangka kerja PABUI adalah Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan ideologi. Segala ketentuan yang berlaku atau diberlakukan di Indonesia tentunya tidak boleh bertentangan dengan ideologi negara. Di atas landasan tersebut akan terletak landasan konseptual yang akan menjadi pengarah praktik dan pengembangan akuntansi di Indonesia. Landasan ini akan terdiri atas Konsep Dasar dan Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia. Penyusunan landasan ini merupakan tugas yang cukup berat dan serius mengingat ketidakjelasan dalam landasan konseptual ini akan menjadikan praktik akuntansi tidak terarah dan tidak membawa manfaat dalam pencapaian tujuan pelaporan keuangan yang pada gilirannya juga tidak akan bermanfaat sebagai sarana untuk mencapai tujuan negara. Landasan konseptual ini akhirnya harus dijabarkan dan dioperasionalkan dalam bentuk aturan atau ketentuan pelaksanaan Tingkat 1 yang menjadi acuan utama para praktisi (pengusaha, manajemen, akuntan dan auditor) dalam pelaporan keuangan. Penjabaran ini tentunya akan dilakukan oleh suatu badan yang netral yang sengaja dibentuk untuk tujuan tersebut. Bila suatu prinsip akuntansi tidak ditentukan secara tegas dalam sumber di Tingkat 1 dan juga tidak dinyatakan secara tegas dalam KAPFI maka para praktisi dapat mengacu ke sumber pada Tingkat 2 atau Tingkat 3 dengan mempertimbangkan kesesuaian konsep yang melandasinya dengan konsep yang terdapat dalam KAPFI. Dengan demikian praktik yang terjadi masih tetap menuju ke pencapaian tujuan yang terdapat dalam KAPFI. Berikut ini adalah adalah gambaran yang lebih rinci mengenai isi komponen yang membentuk Kerangka Kerja PABUI di atas.! Konsep Dasar. Sebagai landasan konseptual bagi beroperasinya akuntansi, konsep dasar ini merupakan abstraksi atau konseptualisasi faktor lingkungan politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya yang mempengaruhi akuntansi atau dipandang harus mempengaruhi akuntansi di Indonesia. Konsep dasar ini dapat ditentukan kalau tujuan pelaporan keuangan di Indonesia dapat diidentifikasi dan dispesifikasi secara jelas dan tegas. Konsep dasar ini dapat masuk dan dijadikan satu dengan KAPFI. Suwardjono1992

12 50 Artikel 3 Gambar 4 Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia Tingkat 3 Praktik, konvensi, dan kebiasaan akuntansi/pelaporan yang sehat Buku teks/ajar, artikel, dan pendapat ahli Landasan Operasional/ Praktik Tingkat 2 Buletin Teknis Peraturan Pemerintah untuk Industri Pedoman atau Praktik Akuntansi Industri Simpulan Riset Akuntansi Tingkat 1 Pernyataan Standar Interpretasi Landasan Konseptual Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia Konsep Dasar (Sebagai konseptualisasi faktor lingkungan akuntansi Indonesia) Landasan Ideologi/Konstitusional Pancasila dan UUD 1945! Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia. Kerangka ini merupakan hasil perekayasaan untuk menentukan informasi yang harus dihasilkan oleh akuntansi dan simbol-simbol serta pengukurannya yang digunakan untuk merepresentasi kondisi fisik (faktor ekonomik) sehingga informasi akuntansi yang dihasilkan serta cara pelaporannya akan mempunyai peran yang nyata dalam rangka mencapai tujuan ekonomik negara. 8 Berdasarkan kerangka acuan konseptual Amerika sebagai model, kerangka acuan ini akan memuat pernyataan: Tujuan Pelaporan Finansial Indonesia Karakteristik Kualitatif Informasi Finansial Elemen-elemen Laporan Finansial Pengukuran dan Pengakuan Elemen Laporan Finansial 8 Untuk mempelajari secara lebih rinci proses perekayasaan akuntansi, lihat Suwardjono, Seri Teori Akuntansi: Perekayasaan Akuntansi Keuangan (Yogyakarta: BPFE, 1989), hlm Lihat juga Artikel 10 dalam kumpulan artikel ini.

13 Kerangka Kerja PABU 51 KAPFI di atas mencakup kerangka untuk akuntansi komersial maupun akuntansi nonprofit termasuk pemerintah. Dengan demikian, laporan audit terhadap laporan keuangan organisasi nonprofit dan pemerintah akan tetap dapat menggunakan frasa... sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum Indonesia... untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan tersebut.! Pernyataan Standar. Merupakan penjabaran secara operasional KAPFI dalam bentuk pengumuman atau penerbitan resmi (oleh badan yang berwenang) yang berisi pedoman tentang prinsip-prinsip akuntansi apa saja yang boleh digunakan untuk memperlakukan (pengukuran, penilaian, pengakuan, penyajian dan pengungkapan) suatu kejadian atau peristiwa atau elemen laporan keuangan. Sebagai acuan praktik atau kode tertentu. Pembuatan standar ini dilakukan melalui prosedur resmi yang saksama sehingga hasilnya dapat diandalkan.! Interpretasi. Bila ada hal-hal (misalnya pasal atau ungkapan) yang terdapat dalam suatu standar yang menimbulkan banyak interpretasi bagi pemakainya, badan penyusun standar dapat menerbitkan pengumuman resmi berupa Interpretasi yang berisi klarifikasi mengenai hal yang bersifat meragukan tersebut. Interpretasi ini tidak mengganti standar yang telah diterbitkan tetapi sekadar menjelaskan.! Buletin Teknis. Karena standar hanya memuat ketentuan-ketentuan pokok, hal-hal yang bersifat teknis pencatatan biasanya diserahkan kepada praktisi untuk menentukan sendiri berdasarkan pertimbangan profesionalnya. Buletin ini dapat berisi petunjuk teknis yang diberikan oleh penyusun standar atau badan otoritatif lainnya untuk tujuan menjawab pertanyaan dari praktisi atau untuk tujuan memberi contoh pelaksanaan teknis yang dianggap bermanfaat.! Peraturan Pemerintah. Banyak peraturan pemerintah yang mempengaruhi atau bahkan harus dijalankan dalam kaitannya dengan penyusunan laporan keuangan dan penyampaian informasi suatu industri tertentu. Misalnya peraturan pemerintah mengenai BUMN, asuransi, dan perbankan; demikian juga, Keppres tentang Pelaksanaan APBN dan Undang-Undang Perbendaharaan Negara untuk pengauditan unit pemerintah. Karena harus dipenuhi dalam pelaporan keuangan, sumber-sumber tersebut jelas merupakan bagian dari kerangka kerja PABUI.! Pedoman/Praktik Akuntansi Industri. Karena kebutuhan atau karena kepraktisan, dalam industri tertentu berkembang praktik akuntansi yang banyak digunakan dalam industri tersebut. Untuk kepentingan industri, badan yang berwenang dalam suatu industri tidak jarang mengeluarkan pedoman akuntansi tertentu yang khusus berlaku dalam industri tersebut. Karena pedoman tersebut berlaku umum dalam industri dan sudah dikenal secara luas maka sumber ini jelas merupakan bagian dari kerangka kerja PABUI. Misalnya saja pedoman akuntansi Suwardjono1992

14 52 Artikel 3 tansi (accounting manuals) untuk industri pabrik gula, pedoman akuntansi untuk industri perbankan, dan pedoman akuntansi untuk suatu unit pemerintah.! Simpulan Riset Akuntansi. Temuan para ahli mengenai perlakuan akuntansi yang dianggap baik dan informatif dapat dijadikan basis untuk mengungkapkan informasi keuangan dan dapat dijadikan basis untuk menentukan kelayakan perlakuan akuntansi tertentu yang mungkin kejadiannya sangat khusus. Sumber ini juga menjadi bagian dari kerangka kerja PABUI. Tentu saja auditor harus menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk menentukan kelayakan perlakuan yang disarankan dalam sumber ini dalam kaitannya dengan kondisi yang dihadapi auditor.! Praktik Akuntansi Yang Sehat. Praktik, konvensi, dan kebiasaan akuntansi/pelaporan yang dianggap sehat dapat juga dijadikan acuan untuk menentukan kelayakan perlakuan akuntansi tertentu.! Sumber Lain. Dalam hal kejadian yang sangat khusus atau yang masih baru dalam dunia akuntansi (misalnya masalah off-balance sheet financing) yang perlakuannya tidak dapat dicari dalam berbagai sumber sebelumnya, akuntan dapat mendasarkan diri pada prinsip-prinsip akuntansi (termasuk metode dan teknik) yang dibahas dalam buku teks atau yang disarankan para ahli. Tentu saja kelayakan perlakuan harus dinilai atas dasar konsep yang terdapat dalam KAPFI. Dengan kerangka kerja PABU seperti di atas, auditor akan mempunyai pedoman yang jelas untuk menyatakan kewajaran suatu laporan keuangan dan apa yang dikatakan wajar oleh auditor yang satu akan wajar pula oleh auditor yang lain karena adanya kesamaan sumber dan pengertian mengenai tolok ukurnya. Dengan kerangka itu pula tidak perlu terjadi variasi penyebutan kriteria kewajaran karena para auditor bekerja dengan kriteria dan sumber yang sama. Hal yang lebih penting lagi adalah tidak perlu terjadi bahwa laporan keuangan yang disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia (yang banyak diartikan sebagai buku PAI karena kerancuan istilah) ternyata menjadi tidak wajar kalau tolok ukurnya diperluas menjadi PABUI sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 4. Kasus Bank Duta yang menyangkut laporan audit untuk persyaratan go public barangkali merupakan pelajaran berharga yang perlu menjadi perhatian serius profesi akuntan publik untuk segera menegaskan dan menjelaskan atau mendeskripsi lingkup PABUI. Karena fiksasi fungsional terhadap buku PAI, jangan-jangan akuntan publik berani menerbitkan laporan audit dengan pendapat wajar tanpa kualifikasi tetapi kriteria kewajaran penyajiannya adalah buku PAI tersebut. Seperti telah disinggung dalam Artikel 2, kalau hal ini terjadi dan merupakan praktik umum yang benar-benar terjadi di Indonesia maka sebenarnya profesi telah melakukan malapraktik (malpractice) walaupun tanpa disadarinya. Dalam struktur pelaporan keuangan di Indonesia yang menggunakan kerangka kerja PABUI seperti diuraikan di atas, di manakah letak buku PAI? Kalau kita ingin menghindari kerancuan seperti ditunjukkan penulis dalam artikel sebelum-

15 Kerangka Kerja PABU 53 nya, maka istilah Prinsip Akuntansi Indonesia sebagai nama buku seperti yang sekarang digunakan tidak semestinya diteruskan lagi walaupun nama tersebut mempunyai nilai historis. Nama tersebut jelas akan kita kenang sebagai bagian dari sejarah perkembangan akuntansi di Indonesia. Bukan berarti konsep-konsep dan ketentuan-ketentuan yang termuat dalam buku tersebut tidak bermanfaat bahkan harus dimanfaatkan dan dikembangkan. Jerih payah dan upaya pihak yang telah berhasil memprakarsai dan menyusun buku tersebut jelas harus dihargai dan kita harus mengangkat topi untuk mereka. Untuk meningkatkan fungsinya dan juga untuk mempertegas kedudukan konsep-konsep dan pengertian-pengertian yang terkandung dalam buku tersebut, kandungan buku tersebut harus dimodifikasi dan dikembangkan untuk dapat menjadi bagian dari Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia. Jadi, yang tidak dipakai adalah namanya bukan isinya. Mungkin ada orang yang bertanya: Mengapa nama PAI kok harus diganti segala, apakah buku tersebut sakit? Buku tersebut memang tidak sakit. Akan tetapi, ada suatu kepercayaan bahwa orang yang menyandang nama yang tidak cocok dengan keadaannya sering mengalami sakit-sakitan. Penutup dan Harapan Gagasan penulis mengenai pengembangan kerangka kerja PABUI di atas mudah-mudahan dapat mengatasi kerancuan yang sekarang ini dijumpai dalam praktik maupun dalam dunia pendidikan. Kerangka kerja PABUI merupakan acuan bagi pihak yang harus menyusun laporan keuangan untuk kepentingan pihak eksternal dan bersamaan dengan itu merupakan pula acuan bagi auditor untuk menentukan kewajaran laporan keuangan. Kesamaan pengertian dan persepsi mengenai acuan akan menjamin kelancaran komunikasi dalam akuntansi. Dalam usaha mengembangkan dan menjelaskan lingkup PABUI, harus ada usaha yang serius baik di tingkat profesi maupun akademik untuk menghilangkan fiksasi fungsional atau kerancuan bahwa buku PAI merupakan GAAP-Indonesia. Usaha tersebut mungkin terpaksa dilakukan dengan cara mengganti nama/istilah kalau hal tersebut memang merupakan cara yang terbaik, baik untuk masa sekarang maupun mendatang. Akuntansi dikembangkan bukan tanpa tujuan. Seandainya ada suatu tujuan maka tujuan tersebut harus dikaitkan dengan tujuan negara secara keseluruhan. Apa yang digambarkan penulis sebagai kerangka kerja PABUI merupakan suatu kemungkinan untuk membawa akuntansi di Indonesia merupakan suatu alat yang andal tidak hanya untuk kepentingan bisnis tetapi juga untuk pengendalian perekonomian negara secara keselurahan. Kemungkinan di atas juga merupakan tantangan bagi profesi dan pendidik untuk memikirkan wajah akuntansi Indonesia di masa mendatang. Tidak ada jeleknya mencontoh penalaran dan perekayasaan yang telah dilakukan negara lain asalkan faktor lingkungan tempat suatu struktur akuntansi akan diterapkan tetap dominan. Inilah hakikat suatu transfer teknologi dan bukan semata-mata transfer produk." Suwardjono1992

16 54 Artikel 3 Halaman ini sengaja kosong untuk catatan.

Bidang Pengetahuan dan Profesi Akuntansi

Bidang Pengetahuan dan Profesi Akuntansi Bab 2 Bidang Pengetahuan dan Profesi Akuntansi Transi 1 Tujuan Pembelajaran Mencapai kemampuan dan kompetensi peserta untuk: Menjelaskan tujuan pelaporan keuangan Menjelaskan arti penting PABU Membedakan

Lebih terperinci

Teori Akuntansi dan Perumusannya

Teori Akuntansi dan Perumusannya Teori Akuntansi dan Perumusannya MATERI: Teori Akuntansi Badan Penyusun Standar Akuntansi Sifat Teori Akuntansi Metode Perumusan Teori Akuntansi Pendekatan dalam Perumusan Teori Akuntansi Tingkatan Teori

Lebih terperinci

Perekayasaan Informasi Akuntansi untuk Alokasi Sumber Daya Ekonomik Secara Efisien Melalui Pasar Modal

Perekayasaan Informasi Akuntansi untuk Alokasi Sumber Daya Ekonomik Secara Efisien Melalui Pasar Modal Perekayasaan Informasi Akuntansi 1 Artikel 1 Perekayasaan Informasi Akuntansi untuk Alokasi Sumber Daya Ekonomik Secara Efisien Melalui Pasar Modal Suwardjono Fakultas Ekonomi 1 UGM Artikel ini adalah

Lebih terperinci

AKUNTANSI KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

AKUNTANSI KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN AKUNTANSI KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN Dari segi fungsinya akuntansi merupakan: Suatu aktivitas penyediaan jasa Akuntansi memberikan informasi keuangan kepada pihak yang berkepentingan (Stakeholders),

Lebih terperinci

Titik Chomariyati F BAB I PENDAHULUAN. kualitas pendidikannya, hal ini terjadi karena akuntan merupakan produk dari

Titik Chomariyati F BAB I PENDAHULUAN. kualitas pendidikannya, hal ini terjadi karena akuntan merupakan produk dari The perceptions of accounting lecturers and accounting university students towards the Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) in Indonesia and Financial Accounting Standards (FAS) in Indonesia

Lebih terperinci

BAB I AKUNTANSI KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

BAB I AKUNTANSI KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN BAB I AKUNTANSI KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN A. PENGERTIAN AKUNTANSI Menurut Horngern (2000), akuntansi didefinisikan sebagai proses pencatatan, pengukuran dan penyampaian-penyampaian informasi

Lebih terperinci

PRINSIP, STANDAR, DAN SISTEM AKUNTANSI SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR KOMERSIL Oleh: Jamason Sinaga, Ak.*

PRINSIP, STANDAR, DAN SISTEM AKUNTANSI SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR KOMERSIL Oleh: Jamason Sinaga, Ak.* PRINSIP, STANDAR, DAN SISTEM AKUNTANSI SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR KOMERSIL Oleh: Jamason Sinaga, Ak.* Prinsip, standar, dan sistem akuntansi sangat akrab dengan pihak-pihak yang berada dalam lingkungan

Lebih terperinci

Laporan Audit Standar yang Tidak Standar

Laporan Audit Standar yang Tidak Standar Laporan Audit Standar yang Tidak Standar 23 Artikel 2 Laporan Audit Standar yang Tidak Standar Suwardjono Fakultas Ekonomi 1 UGM Artikel ini telah dimuat dalam majalah Akuntansi edisi Agustus 1990. Laporan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap awal dan pertengahan tahun halaman-halaman surat kabar sering

BAB I PENDAHULUAN. Setiap awal dan pertengahan tahun halaman-halaman surat kabar sering BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setiap awal dan pertengahan tahun halaman-halaman surat kabar sering dihiasi angka-angka laporan keuangan dari berbagai perusahaan. Dari angkaangka tersebut

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Akuntansi merupakan bahasa universal untuk bisnis karena akuntansi digunakan hampir di seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia sehingga akuntansi menjadi

Lebih terperinci

CONCEPTUAL FRAMEWORK (ACCOUNTING THEORY)

CONCEPTUAL FRAMEWORK (ACCOUNTING THEORY) CONCEPTUAL FRAMEWORK (ACCOUNTING THEORY) PENGERTIAN (1) Menurut FASB: a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to consistent standards and that prescribes

Lebih terperinci

C H A P T E R 1 FINANCIAL REPORTING AND ACCOUNTING STANDARDS (PELAPORAN KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI)

C H A P T E R 1 FINANCIAL REPORTING AND ACCOUNTING STANDARDS (PELAPORAN KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI) Dosen : Christian Ramos Kurniawan C H A P T E R 1 FINANCIAL REPORTING AND ACCOUNTING STANDARDS (PELAPORAN KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI) 1-1 Referensi : Donald E Kieso, Jerry J Weygandt, Terry D Warfield,

Lebih terperinci

BAB I AKUNTANSI SEBAGAI SISTEM INFORMASI. Diktat Akuntansi XI IPS

BAB I AKUNTANSI SEBAGAI SISTEM INFORMASI. Diktat Akuntansi XI IPS BAB I AKUNTANSI SEBAGAI SISTEM INFORMASI A. Definisi Akuntansi Akuntansi sering disebut sebagai bahasa dunia usaha atau the language of business. Dari segi bahasa disebut to account yang berarti menghitung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan globalisasi perekonomian Indonesia pada umumnya menyebabkan peningkatan pesat tuntutan masyarakat atas mutu dan jenis jasa profesi akuntan publik sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan bebas yang dilakukan oleh perekonomian nasional dan internasional sehingga

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan bebas yang dilakukan oleh perekonomian nasional dan internasional sehingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di era globalisasi yang kiat membuat perekonomian di Indonesia semakin signifikan mengalami perkembangan ini, mendorong semakin berkembangnya pula perdagangan bebas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Banyak perusahaan yang berskala kecil atau besar memiliki perhatian besar dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Banyak perusahaan yang berskala kecil atau besar memiliki perhatian besar dalam BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bidang keuangan merupakan bidang yang sangat penting dalam perusahaan. Banyak perusahaan yang berskala kecil atau besar memiliki perhatian besar dalam bidang keuangannya,

Lebih terperinci

PERBEDAAN STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA DAN GOVERNMENT AUDIT STANDARDS BAGIAN PENDAHULUAN

PERBEDAAN STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA DAN GOVERNMENT AUDIT STANDARDS BAGIAN PENDAHULUAN PERBEDAAN STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA DAN GOVERNMENT AUDIT STANDARDS BAGIAN PENDAHULUAN No Hal Standar Pemeriksaan Keuangan Negara Government Audit Standards 1. Tujuan disusunnya Untuk menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan ekonomi. Laporan keuangan yang disusun dengan tujuan ini

BAB I PENDAHULUAN. keputusan ekonomi. Laporan keuangan yang disusun dengan tujuan ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Standar akuntansi keuangan mengenai kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan paragraf 12 menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan

Lebih terperinci

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN TUJUAN LAPORAN KEUANGAN MATERI Perumusan Tujuan Akuntansi Tujuan Akuntansi atau Laporan Keuangan Kerangka Konseptual untuk Akuntansi Keuangan Konsep Dasar Laporan Keuangan Perbedaan Pelaporan dan Laporan

Lebih terperinci

Tiga karakteristik identifikasi, pengukuran dan komunikasi informasi keuangan mengenai kesatuan ekonomi kepada pihak yang berkepentingan

Tiga karakteristik identifikasi, pengukuran dan komunikasi informasi keuangan mengenai kesatuan ekonomi kepada pihak yang berkepentingan BAB 1 Apa itu AKUNTANSI? Akuntansi adalah seni yg menurut kepercayaan luas pertama kali ditemukan oleh Fra Luca Bartolomeo de Pacioli, seorang ahli matematika Italia dan friar Franciscan di abad ke 16

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. keuangan suatu entitas yang akan digunakan oleh stakeholder sebagai salah

BAB I PENDAHULUAN UKDW. keuangan suatu entitas yang akan digunakan oleh stakeholder sebagai salah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Akuntansi merupakan suatu sistem yang digunakan untuk menghasilkan laporan keuangan sebagai salah satu output utama. Akuntansi berfungsi untuk mengindetifikasi,

Lebih terperinci

PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL

PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL Halaman 1 dari 5 1. TUJUAN Tujuan utama dari Piagam Audit Internal ( Piagam ) ini adalah untuk menguraikan kewenangan dan cakupan dari fungsi Audit Internal di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan dilaksanakan oleh seorang auditor yang sifatnya sebagai jasa pelayanan.

BAB I PENDAHULUAN. dan dilaksanakan oleh seorang auditor yang sifatnya sebagai jasa pelayanan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Audit adalah jasa profesi yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik dan dilaksanakan oleh seorang auditor yang sifatnya sebagai jasa pelayanan. Standar Profesi

Lebih terperinci

ETIKA PROFESI FAKLULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK MESIN UNIVERSITAS GUNADARMA. Disusun Oleh : : Eko Aprianto Nugroho NPM :

ETIKA PROFESI FAKLULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK MESIN UNIVERSITAS GUNADARMA. Disusun Oleh : : Eko Aprianto Nugroho NPM : ETIKA PROFESI Disusun Oleh : Nama : Eko Aprianto Nugroho NPM : 21409668 Kelas : SMTM01-06 FAKLULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK MESIN UNIVERSITAS GUNADARMA 2011 ETIKA PROFESI AKUNTANSI I. Pengertian

Lebih terperinci

Pengertian Standar Akuntansi

Pengertian Standar Akuntansi STANDAR AKUNTANSI MATERI Pengertian Standar Akuntansi Pertimbangan dalan penetapan Standar Akuntansi. Politisasi dalam penetapan Standar Akuntansi Prosedur penentuan Standar Akuntansi FASB Pendekatan penentuan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laporan keuangan menyediakan berbagai informasi yang diperlukan sebagai saran dalam pengambilan keputusan baik oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan. Menurut

Lebih terperinci

BAB 3 LAPORAN AUDIT Laporan Audit Bentuk Baku Judul Laporan Alamat Laporan Audit Paragraf Pendahuluan Paragraf Scope Paragraf Pendapat Nama KAP

BAB 3 LAPORAN AUDIT Laporan Audit Bentuk Baku Judul Laporan Alamat Laporan Audit Paragraf Pendahuluan Paragraf Scope Paragraf Pendapat Nama KAP BAB 3 LAPORAN AUDIT Laporan merupakan hal yang esensial dalam penugasan audit dan assurance karena laporan berfungsi mengkomunikasikan temuan-temuan auditor. Para pengguna laporan keuangan menyandarkan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Akuntansi dikenal sebagai bahasa bisnis. Dalam hal bisnis, terdapat

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Akuntansi dikenal sebagai bahasa bisnis. Dalam hal bisnis, terdapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akuntansi dikenal sebagai bahasa bisnis. Dalam hal bisnis, terdapat kebutuhan sebuah bahasa sebagai penghubung antara pengirim dan penerima informasi untuk memperoleh

Lebih terperinci

JURNAL STIE SEMARANG, VOL 4, NO 2, Edisi Juni 2012 (ISSN : 2252_7826) JENIS-JENIS PENDAPAT AUDITOR (OPINI AUDITOR)

JURNAL STIE SEMARANG, VOL 4, NO 2, Edisi Juni 2012 (ISSN : 2252_7826) JENIS-JENIS PENDAPAT AUDITOR (OPINI AUDITOR) JENIS-JENIS PENDAPAT AUDITOR (OPINI AUDITOR) Sri Wiranti Setiyanti Dosen Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Semarang Abstraksi Opini audit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan laporan audit. Opini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik,

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fenomena yang terjadi dalam perkembangan sektor publik di Indonesia dewasa ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik, baik di

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL LAMPIRAN III PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 71 TAHUN 2010 TANGGAL 22 OKTOBER 2010 PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

Gambaran Umum dan Konsep Dasar Analisis Laporan Keuangan

Gambaran Umum dan Konsep Dasar Analisis Laporan Keuangan Modul 1 Gambaran Umum dan Konsep Dasar Analisis Laporan Keuangan Dr. Amilin, M.Si.,Ak. A PENDAHULUAN nalisis yang dilakukan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. profesi akuntan publik, masyarakat mengharapkan penilaian bebas dan tidak

BAB I PENDAHULUAN. profesi akuntan publik, masyarakat mengharapkan penilaian bebas dan tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik, masyarakat mengharapkan penilaian bebas dan tidak memihak terhadap informasi

Lebih terperinci

Standar Profesional: Struktur, Penamaan, dan Kodifikasi

Standar Profesional: Struktur, Penamaan, dan Kodifikasi Standar Profesional 55 Artikel 4 Standar Profesional: Struktur, Penamaan, dan Kodifikasi Suwardjono Fakultas Ekonomi 1 UGM Artikel ini telah dimuat di Jurnal Akuntansi & Manajemen, Edisi IV, April 1991

Lebih terperinci

Kompetensi Dasar 5.1 Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi

Kompetensi Dasar 5.1 Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi Kompetensi Dasar 5.1 Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi A. Akuntansi sebagai Sistem Informasi Akuntansi sering disebut sebagai bahasa bisnis karena akuntansi dapat memberikan informasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. publik menjadi kritikan karena diasumsikan memberikan informasi yang salah, hal

BAB I PENDAHULUAN. publik menjadi kritikan karena diasumsikan memberikan informasi yang salah, hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini telah banyak terjadi kasus hukum yang melibatkan entitas bisnis, terutama dalam manipulasi akuntansi. Hal tersebut menyebabkan profesi akuntan publik menjadi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. akuntan. Ada beberapa pengertian auditing atau pemeriksaan akuntan menurut

BAB II LANDASAN TEORI. akuntan. Ada beberapa pengertian auditing atau pemeriksaan akuntan menurut 6 BAB II LANDASAN TEORI A. AUDITING 1. Definisi Auditing Kata auditing diambil dari bahasa latin yaitu Audire yang berarti mendengar dan dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah pemeriksaan akuntan.

Lebih terperinci

BAB 5 STANDAR AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK. Prof. Indra Bastian, Ph.D, MBA, Akt

BAB 5 STANDAR AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK. Prof. Indra Bastian, Ph.D, MBA, Akt BAB 5 STANDAR AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Prof., Ph.D, MBA, Akt TINJAUAN BAB 5.1. Definisi Standar Akuntansi Sektor Publik 5.2. Lingkup Standar Akuntansi Sektor Publik 5.3. Ragam dan Hubungan antar Standar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pengambilan keputusan. Selain itu laporan keuangan juga berfungsi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. dalam pengambilan keputusan. Selain itu laporan keuangan juga berfungsi sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Laporan keuangan merupakan proses akhir dari proses akuntansi yang berfungsi sebagai media untuk memberikan informasi kepada calon investor, calon kreditor,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia sendiri telah memiliki peraturan-peraturan yang mengatur

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia sendiri telah memiliki peraturan-peraturan yang mengatur BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di saat ini, kebutuhan informasi keuangan mulai dirasakan semakin meningkat. Seiring dengan peningkatan informasi keuangan tersebut, maka peran dari seorang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor publik merupakan organisasi yang kompleks. Kompleksitas sektor publik tersebut menyebabkan kebutuhan informasi untuk perencanaan dan pengendalian manajemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah (Mahmudi, 2011). Laporan keuangan dalam lingkungan sektor publik

BAB I PENDAHULUAN. daerah (Mahmudi, 2011). Laporan keuangan dalam lingkungan sektor publik 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan keuangan daerah pada dasarnya merupakan asersi atau pernyataan dari pihak manajemen pemerintah daerah yang menginformasikan kepada pihak lain, yaitu pemangku

Lebih terperinci

PENGANTAR STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PENGANTAR STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TANGGAL : 13 JUNI 2005 PENGANTAR STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PENGANTAR STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN Pengantar ini menguraikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah jasa auditor. Profesi akuntan publik bertanggungjawab untuk menaikkan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah jasa auditor. Profesi akuntan publik bertanggungjawab untuk menaikkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Auditor adalah salah satu profesi yang disoroti oleh masyarakat luas. Hal yang menjadi sorotan masyarakat adalah jasa auditor. Profesi akuntan publik bertanggungjawab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kebutuhan jasa profesional akuntan publik sebagai pihak yang dianggap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kebutuhan jasa profesional akuntan publik sebagai pihak yang dianggap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan jasa profesional akuntan publik sebagai pihak yang dianggap independen, menuntut profesi akuntan publik untuk meningkatkan kinerjanya agar dapat menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kantor Akuntan Publik atas auditor internal di sebuah perusahaan.

BAB I PENDAHULUAN. Kantor Akuntan Publik atas auditor internal di sebuah perusahaan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Profesi auditor mengalami banayak kemajuan dan mulai banyak dibutuhkan baik di instansi pemerintah maupun di sektor swasta di Indonesia. Auditor di instansi

Lebih terperinci

Pelaporan Keuangan. Modul 1 PENDAHULUAN

Pelaporan Keuangan. Modul 1 PENDAHULUAN Modul 1 Pelaporan Keuangan Drs. Sugiarto, M.Acc., M.B.A., Akt. M PENDAHULUAN odul ini merupakan modul pertama dari sembilan modul yang akan membahas tentang pelaporan keuangan (financial reporting), laporan

Lebih terperinci

SA Seksi 534 PELAPORAN ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG DISUSUN UNTUK DIGUNAKAN DI NEGARA LAIN. Sumber: PSA No. 71 PENDAHULUAN

SA Seksi 534 PELAPORAN ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG DISUSUN UNTUK DIGUNAKAN DI NEGARA LAIN. Sumber: PSA No. 71 PENDAHULUAN SA Seksi 534 PELAPORAN ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG DISUSUN UNTUK DIGUNAKAN DI NEGARA LAIN Sumber: PSA No. 71 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor independen yang berpraktik di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Perusahaan dalam mempertanggung jawabkan aktivitas bisnisnya dan menilai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Perusahaan dalam mempertanggung jawabkan aktivitas bisnisnya dan menilai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perusahaan dalam mempertanggung jawabkan aktivitas bisnisnya dan menilai kinerja organisasi diharuskan untuk menyampaikan laporan keuangan yang disusun sesuai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi, sistem informasi dan

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi, sistem informasi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi, sistem informasi dan komunikasi, telah ikut mendorong perkembangan ekonomi menuju penyatuan sistem ekonomi

Lebih terperinci

METODOLOGI PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI

METODOLOGI PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI METODOLOGI PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI Pengertian: Metodologi diartikan sebagai perumusan dan penentuan metode yang digunakan dalam penelitian ilmiah. Metode adalah cara yang sistematik dalam rangka menemukan

Lebih terperinci

KD 5.1. Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi

KD 5.1. Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi KD 5.1 Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi Akuntansi sebagai Sistem Informasi Akuntansi sering disebut sebagai bahasa bisnis karena akuntansi dapat memberikan informasi penting mengenai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah mendapat pernyataan wajar dari auditor. Dalam melaksanakan proses

BAB I PENDAHULUAN. telah mendapat pernyataan wajar dari auditor. Dalam melaksanakan proses BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap perusahaan pasti akan melaporkan dan menerbitkan laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak tersebut

Lebih terperinci

Elemen Dasar Akuntansi

Elemen Dasar Akuntansi Elemen Dasar Akuntansi 1. Accounting entity (Organisasi usaha) Yang menjadi fokus perhatian akuntansi adalah entity tertentu yang harus jelas terpisah dari badan atau entity yang lain. Sistem akuntansi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mungkin dapat tertutupi hanya dengan mengandalkan sumber daya internal. Salah

BAB I PENDAHULUAN. mungkin dapat tertutupi hanya dengan mengandalkan sumber daya internal. Salah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era gobalisasi ini, keadaan perekonomian di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Hal ini mendorong perekonomian nasional dan internasional semakin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berkepentingan (Margaretta dan Soeprianto 2012). Keberhasilan. tingkat kepercayaan investor dalam berinvestasi.

BAB 1 PENDAHULUAN. berkepentingan (Margaretta dan Soeprianto 2012). Keberhasilan. tingkat kepercayaan investor dalam berinvestasi. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Laporan keuangan merupakan sebuah media yang dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi antara pihak manajemen dengan para pihak berkepentingan (Margaretta

Lebih terperinci

UNSUR TINDAKAN PELANGGARAN HUKUM OLEH KLIEN

UNSUR TINDAKAN PELANGGARAN HUKUM OLEH KLIEN SA Seksi 317 UNSUR TINDAKAN PELANGGARAN HUKUM OLEH KLIEN Sumber: PSA No. 31 PENDAHULUAN 01 Seksi mengatur sifat dan lingkup pertimbangan yang harus dilakukan oleh auditor independen dalam melaksanakan

Lebih terperinci

S t I c e S t I c e S k o u s e n. Financial Reporting. Chapter 1. Intermediate Accounting 16E. Tujuan Pembelajaran

S t I c e S t I c e S k o u s e n. Financial Reporting. Chapter 1. Intermediate Accounting 16E. Tujuan Pembelajaran S t I c e S t I c e S k o u s e n Financial Reporting Chapter 1 Intermediate Accounting 16E Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan tujuan pelaporan keuangan dan mengidentifikasi laporan keuangan primer. 2.

Lebih terperinci

Bab I. Pengauditan dan Profesi Akuntan Publik. Dosen Pengampu: Dhyah Setyorini, M.Si.

Bab I. Pengauditan dan Profesi Akuntan Publik. Dosen Pengampu: Dhyah Setyorini, M.Si. Bab I Pengauditan dan Profesi Akuntan Publik Referensi: Jusup, Al. Haryono (2001). Pengauditan. Buku 1. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN Dosen Pengampu: Dhyah Setyorini, M.Si. 1 Jenis Jasa Pengauditan

Lebih terperinci

PENGANTAR. Komite Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah

PENGANTAR. Komite Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah PENGANTAR Komite Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah 30 Oktober 2002 Kata Pengantar Terselenggaranya sistem manajemen keuangan yang sehat merupakan salah satu kunci perwujudan good governance.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kode etik profesi. Snoeyenbos et al. (1983) telah menggambarkan ini sebagai

BAB I PENDAHULUAN. kode etik profesi. Snoeyenbos et al. (1983) telah menggambarkan ini sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Profesionalitas seorang akuntan publik ditandai dengan keahlian mereka yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan, komitmen untuk belajar seumur hidup, pelayanan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Negara maka akan semakin kompleks masalah bisnis yang terjadi. Oleh karena itu

BAB 1 PENDAHULUAN. Negara maka akan semakin kompleks masalah bisnis yang terjadi. Oleh karena itu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan profesi akuntan publik atau auditor tidak terlepas dari perkembangan perekonomian suatu Negara. Semakin maju perekonomian suatu Negara maka akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terus beroperasi secara berkesinambungan untuk suatu masa yang tidak tertentu

BAB I PENDAHULUAN. terus beroperasi secara berkesinambungan untuk suatu masa yang tidak tertentu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam ilmu akuntansi, perusahaan merupakan suatu entitas ekonomi yang berdiri sendiri yang berbeda dari pemiliknya. Entitas ekonomi ini dianggap akan terus

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Akuntan publik adalah seorang praktisi dan gelar profesional yang diberikan kepada akuntan di Indonesia yang telah mendapatkan izin dari Menteri keuangan

Lebih terperinci

BAB 1. Pendahuluan. untuk pengambilan keputusan oleh berbagai macam pihak berkepentingan seperti

BAB 1. Pendahuluan. untuk pengambilan keputusan oleh berbagai macam pihak berkepentingan seperti BAB 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Laporan keuangan pada sebuah perusahaan disusun untuk tujuan tertentu. Menurut FASB, tujuan pelaporan keuangan adalah untuk membantu membuat keputusan, menilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profesionalisme menjadi syarat utama bagi orang yang bekerja sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profesionalisme menjadi syarat utama bagi orang yang bekerja sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesionalisme menjadi syarat utama bagi orang yang bekerja sebagai auditor eksternal. Gambaran seseorang yang profesional dalam profesi dicerminkan ke dalam

Lebih terperinci

Satuan Acara Perkuliahan

Satuan Acara Perkuliahan Satuan Acara Perkuliahan Kode / Nama Mata Kuliah : EG12153 / Teori Akuntansi Revisi ke : 1 Satuan Kredit Semester : 3 SKS Tanggal revisi : 7 Agustus 2010 Jumlah Jam kuliah dalam seminggu : 150 jam. Tanggal

Lebih terperinci

PENGARUH KUALITAS AUDITOR, INDEPENDENSI DAN OPINI AUDITOR TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN

PENGARUH KUALITAS AUDITOR, INDEPENDENSI DAN OPINI AUDITOR TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN PENGARUH KUALITAS AUDITOR, INDEPENDENSI DAN OPINI AUDITOR TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN SKRIPSI Dimaksud Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa. Keuangan pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa. Keuangan pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) bertugas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dimana pengacara dalam melaksanakan keahliannya akan memperoleh fee dari klien

BAB 1 PENDAHULUAN. dimana pengacara dalam melaksanakan keahliannya akan memperoleh fee dari klien BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Profesi akuntan publik dalam melaksanakan audit mempunyai posisi yang unik dibandingkan profesi yang lainnya, sebagai contoh misalnya profesi pengacara, dimana

Lebih terperinci

Elemen Dasar Akuntansi

Elemen Dasar Akuntansi Elemen Dasar Akuntansi 1. Accounting entity (Organisasi usaha) Yang menjadi fokus perhatian akuntansi adalah entity tertentu yang harus jelas terpisah dari badan atau entity yang lain. Sistem akuntansi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (going concern) usahanya melalui asumsi going concern. Tujuan dari keberadaan

BAB I PENDAHULUAN. (going concern) usahanya melalui asumsi going concern. Tujuan dari keberadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Keberadaan entitas bisnis merupakan ciri dari sebuah lingkungan ekonomi, yang dalam jangka panjang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup (going

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertujuan untuk dapat survive melainkan harus mampu memiliki keunggulan bersaing

BAB I PENDAHULUAN. bertujuan untuk dapat survive melainkan harus mampu memiliki keunggulan bersaing BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persaingan global pada saat ini mengharuskan perusahaan berfikir tidak hanya bertujuan untuk dapat survive melainkan harus mampu memiliki keunggulan bersaing

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Profesi akuntan publik atau merupakan profesi kepercayaan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Profesi akuntan publik atau merupakan profesi kepercayaan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Profesi akuntan publik atau merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dengan adanya profesi tersebut, masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas dan tidak

Lebih terperinci

BAHAN AJAR PEMERIKSAAN AKUNTAN 1. Oleh: Erni Suryandari F, SE., M.Si

BAHAN AJAR PEMERIKSAAN AKUNTAN 1. Oleh: Erni Suryandari F, SE., M.Si BAHAN AJAR PEMERIKSAAN AKUNTAN 1 Oleh: Erni Suryandari F, SE., M.Si FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TAHUN 2016 BAB I PROFESI AKUNTAN PUBLIK Timbul dan Berkembangnya Profesi Akuntan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Salah satu sumber informasi dari pihak eksternal dalam menilai kinerja

I. PENDAHULUAN. Salah satu sumber informasi dari pihak eksternal dalam menilai kinerja I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sumber informasi dari pihak eksternal dalam menilai kinerja perusahaan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan

Lebih terperinci

SA Seksi 508 LAPORAN AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDITAN. Sumber: PSA No. 29. Lihat SA Seksi 9508 untuk interprestasi Seksi ini PENDAHULUAN

SA Seksi 508 LAPORAN AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDITAN. Sumber: PSA No. 29. Lihat SA Seksi 9508 untuk interprestasi Seksi ini PENDAHULUAN SA Seksi 508 LAPORAN AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDITAN Sumber: PSA No. 29 Lihat SA Seksi 9508 untuk interprestasi Seksi ini PENDAHULUAN 01 Seksi ini berlaku untuk laporan auditor yang diterbitkan berkaitan

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DENGAN MANAJEMEN

KOMUNIKASI DENGAN MANAJEMEN SA Seksi 360 KOMUNIKASI DENGAN MANAJEMEN Sumber : PSA No. 68 PENDAHULUAN 01 Beberapa pernyataan standar auditing telah memberikan panduan tentang hubungan antara auditor dengan manajemen. Seksi ini menguraikan,

Lebih terperinci

Dimanakah Akuntansi? Pengertian Akuntansi Akuntansi Sebagai Bahasa Bisnis Persamaan Dasar Akuntansi Matematika Akuntansi? Perusahaan PABU Mengapa

Dimanakah Akuntansi? Pengertian Akuntansi Akuntansi Sebagai Bahasa Bisnis Persamaan Dasar Akuntansi Matematika Akuntansi? Perusahaan PABU Mengapa Dimanakah Akuntansi? Pengertian Akuntansi Akuntansi Sebagai Bahasa Bisnis Persamaan Dasar Akuntansi Matematika Akuntansi? Perusahaan PABU Mengapa PABU penting? Apa Saja Profesi Akuntansi? 2 ATM (anjungan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Disamping itu bank adalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Disamping itu bank adalah BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Bank Bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Disamping itu bank adalah badan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang kebutuhan yang beralasan dari laporan keuangan. Tingkat materialitas salah

BAB I PENDAHULUAN. tentang kebutuhan yang beralasan dari laporan keuangan. Tingkat materialitas salah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Mulyadi (2002:150) tingkat materialitas salah saji laporan keuangan adalah suatu masalah kebijakan profesional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kinerja perusahaan dalam suatu periode tertentu. Tujuan dari laporan keuangan

BAB I PENDAHULUAN. kinerja perusahaan dalam suatu periode tertentu. Tujuan dari laporan keuangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan keuangan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban manajemen perusahaan terhadap pemilik perusahaan dan entitas lainnya yang ikut menggunakan laporan keuangan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tidak lama lagi, ASEAN Economic Community (AEC) akan segera

BAB I PENDAHULUAN. Tidak lama lagi, ASEAN Economic Community (AEC) akan segera BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tidak lama lagi, ASEAN Economic Community (AEC) akan segera dilaksanakan. Indonesia akan ikut serta dalam integrasi ekonomi regional ASEAN untuk membentuk pasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentunya terlibat dalam kasus hukum, pada kenyataannya banyak. perusahaan yang membuat laporan keuangan tanpa menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. tentunya terlibat dalam kasus hukum, pada kenyataannya banyak. perusahaan yang membuat laporan keuangan tanpa menggunakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini banyak sekali terjadi kasus manipulasi akuntansi yang tentunya terlibat dalam kasus hukum, pada kenyataannya banyak perusahaan yang membuat laporan keuangan

Lebih terperinci

2. Kerangka Teoritis 2.1. Laporan Keuangan Pemerintah Peranan dan Tujuan Pelaporan Keuangan

2. Kerangka Teoritis 2.1. Laporan Keuangan Pemerintah Peranan dan Tujuan Pelaporan Keuangan 2. Kerangka Teoritis 2.1. Laporan Keuangan Pemerintah 2.1.1. Peranan dan Tujuan Pelaporan Keuangan Laporan keuangan merupakan catatan informasi keuangan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memahami dan meyakini isi dan makna suatu statemen keuangan secara

BAB I PENDAHULUAN. memahami dan meyakini isi dan makna suatu statemen keuangan secara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perekonomian dan lingkungan bisnis yang semakin kompleks mengakibatkan perusahaan dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang andal sebagai bahan prediksi

Lebih terperinci

Bab 1 Pengertian dan Fungsi Akuntansi

Bab 1 Pengertian dan Fungsi Akuntansi Definisi Operasional Pengertian dan Fungsi Sebagai seperangkat pengetahuan: mempelajari perekayasaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan dalam suatu lingkungan ekonomi. Sebagai proses: pengidentifikasian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan yang didirikan, baik besar maupun kecil pada umumnya mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh laba. Laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Segala bentuk kegiatan dan keputusan investasi di pasar modal akan

BAB I PENDAHULUAN. Segala bentuk kegiatan dan keputusan investasi di pasar modal akan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Segala bentuk kegiatan dan keputusan investasi di pasar modal akan berpengaruh terhadap pasar dan akan menimbulkan reaksi pasar. Orang yang melakukan kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masih ada pihak lain yang membutuhkan informasi laporan keuangan seperti

BAB I PENDAHULUAN. masih ada pihak lain yang membutuhkan informasi laporan keuangan seperti BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen perusahaan berisi informasi penting yang akan digunakan berbagai pihak. Selain pihak internal perusahaan, masih ada

Lebih terperinci

Menyongsong Berlakunya Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang Baru

Menyongsong Berlakunya Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang Baru Edisi: V/Mei 2009 Menyongsong Berlakunya Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang Baru Oleh : Syarief Basir, Ak, CPA, MBA Setelah melalui serangkaian proses yang relatif panjang dan lama, akhirnya pada Agustus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan perlu dijaga dan hal itu

BAB I PENDAHULUAN. Kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan perlu dijaga dan hal itu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan perlu dijaga dan hal itu sepenuhnya tergantung pada praktek professional yang dijalankan oleh para akuntan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (BEI) diwajibkan untuk menyampaikan laporan tahunan ( annual report) kepada

BAB I PENDAHULUAN. (BEI) diwajibkan untuk menyampaikan laporan tahunan ( annual report) kepada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal memberikan kontribusi tersendiri bagi pembangunan perekonomian. Kontribusi dari pasar modal itu adalah sebagai penghubung antara pemodal dengan perusahaan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Laporan keuangan digunakan manajemen untuk mempertanggung jawabkan kinerjanya dalam mengelola sumber daya perusahaan. Selain itu, laporan keuangan juga merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. laporan itu telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi

BAB I PENDAHULUAN. laporan itu telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam suatu audit atas laporan keuangan historis, manajemen menegaskan bahwa laporan itu telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. likuid dan efisien. Pasar modal dikatakan likuid jika penjual dapat menjual dan

BAB I PENDAHULUAN. likuid dan efisien. Pasar modal dikatakan likuid jika penjual dapat menjual dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada umumnya, pasar modal merupakan tempat bertemu antara pembeli dan penjual dengan risiko untung dan rugi. Selain itu, pasar modal juga merupakan suatu usaha

Lebih terperinci

Standar yang digunakan untuk mengevaluasi informasi akuntansi antara lain : 1. Relevance 2. Verifiability 3. Freedom from bias 4.

Standar yang digunakan untuk mengevaluasi informasi akuntansi antara lain : 1. Relevance 2. Verifiability 3. Freedom from bias 4. Ringkasan Materi CHAPTER 6 The Search for Objectives Pada bab ini akan dibahas secara kronologis mengenai perkembangan tujuan (objectives) dan standar yang didasarkan pada beberapa hal. Tittle Published

Lebih terperinci

Presentation Outline

Presentation Outline Chapter 3 Laporan Audit (Audit Report) 1 Presentation Outline I. Laporan Auditor Bentuk Baku II. Kondisi yang Memerlukan Paragraf Penjelas (Explanatory Paragraph) atau Modifikasi Kalimat (Modified Report

Lebih terperinci

ARUM KUSUMAWATI B

ARUM KUSUMAWATI B PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR TERHADAP TINGKAT MATERIALITAS DALAM PROSES PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN (Studi Empiris Pada KAP di Wilayah Surakarta dan Yogykarta) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas

Lebih terperinci

SURAT UNTUK PENJAMIN EMISI DAN PIHAK TERTENTU LAIN YANG MEMINTA

SURAT UNTUK PENJAMIN EMISI DAN PIHAK TERTENTU LAIN YANG MEMINTA SA Seksi 634 SURAT UNTUK PENJAMIN EMISI DAN PIHAK TERTENTU LAIN YANG MEMINTA Sumber: PSA No. 54 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi akuntan dalam melaksanakan dan melaporkan hasil perikatan

Lebih terperinci