Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia"

Transkripsi

1 Kerangka Kerja PABU 39 Artikel 3 Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia Suwardjono Fakultas Ekonomi 1 UGM Artikel ini telah dimuat di majalah Akuntansi edisi Februari 1991 Dalam artikel Laporan Audit Standar yang Tidak Standar (Artikel 2 dalam kumpulan artikel), penulis membahas makna generally accepted accounting principles (GAAP) sebagaimana digunakan di Amerika. GAAP sebenarnya lebih menggambarkan pengertian sebagai suatu konsep atau kerangka kerja (framework) 2 daripada sebagai suatu buku atau dokumen. Penulis mengemukakan bahwa padan kata yang tepat untuk GAAP sebagai suatu konsep atau kerangka kerja tersebut adalah prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Karena GAAP lahir dan berkembang di Amerika, istilah tersebut cenderung bersifat lingkungan dan historis Amerika sehingga kalau istilah tersebut tidak diberi pewatas tempat maka artinya adalah GAAP atau PABU Amerika. Konsep dan kerangka yang sama di Indonesia dengan demikian mestinya disebut PABU-Indonesia (PABUI). PABUI akan merupakan suatu kerangka kerja yang menjadi pedoman penyusunan laporan keuangan dan sekaligus merupakan kerangka kerja untuk menentukan kewajaran penyajian laporan keuangan. Untuk melengkapi gagasan yang telah dipaparkan dalam artikel tersebut, dalam artikel ini, penulis mencoba untuk menyajikan suatu kerangka kerja PABUI yang direkayasa dan dikembangkan atas dasar penalaran yang digunakan untuk menyusun kerangka kerja PABU Amerika. 1 Sejak tahun 2007 menjadi Fakultas Ekonomika dan Busines (FEB). Di sini, bisnis ditulis busines. 2 Pengertian GAAP-Indonesia sebagai suatu kerangka kerja disebutkan dalam buku Norma Pemeriksaan Akuntan (1986), Bab VIII pasal 5. Anton M. Moeliono mengusulkan kata rerangka sebagai padan kata framework untuk membedakannya dengan kerangka sebagai padan kata skeleton. Lihat Anton M. Moeliono, Santun Bahasa (Jakarta: PT Gramedia, 1986), hal Dalam artikel ini, penulis menggunakan istilah kerangka kerja atau kerangka acuan sebagai padan kata framework tersebut. Dalam beberapa tulisan yang lain, penulis menggunakan istilah rerangka. Suwardjono1992

2 40 Artikel 3 Beberapa Pengertian yang Rancu Ada tiga istilah penting yang masing-masing mempunyai pengertian yang sangat berbeda tetapi dirancukan pemakaiannya. Kerancuan ini terjadi tidak hanya di dalam praktik tetapi juga di kalangan akademik termasuk dalam forum-forum ilmiah seperti seminar atau lokakarya. Buku-buku teks akuntansi pun sering tidak menjelaskan makna ketiga istilah tersebut dan perbedaannya. Istilah tersebut adalah prinsip akuntansi (accounting principles), standar akuntansi (accounting standards) dan prinsip akuntansi berterima umum (generally accepted accounting principles). Gambar 1 di bawah ini menjelaskan pengertian dan hubungan ketiga istilah tersebut. Gambar 1 Prinsip-prinsip akuntansi: (semua konsep, ketentuan, prosedur, metode, dan teknik yang tersedia secara teoretis maupun praktis) dipilih yang sesuai dengan tujuan pelaporan keuangan oleh badan penyusun standar (yang berwenang) dalam lingkungan tertentu Standar akuntansi (accounting standards) ketentuan lain yang tidak diatur dalam standar akuntansi yang dapat berupa praktik pelaporan yang sehat (sound accounting practices) termasuk peraturan pemerintah atau ketentuan badan autoritatif lainnya Prinsip akuntansi berterima umum (generally accepted accounting principles) Penentuan prinsip yang akan dipilih sebagai standar atau penentuan praktik pelaporan yang dianggap sehat tentu saja didasarkan atas suatu rerangka konseptual (conceptual framework) yang telah disepakati. Rerangka konseptual ini akan berfungsi semacam konstitusi. Prinsip, metode, atau prosedur akan dianggap lebih baik dari yang lain kalau prinsip, metode dan prosedur tersebut lebih menjamin tercapainya tujuan yang ingin dicapai dalam akuntansi sebagaimana dituangkan dalam rerangka konseptual tersebut. Dengan kata lain, tanpa rerangka konseptual, badan penyusun standar tidak dapat memilih mana prinsip yang

3 Kerangka Kerja PABU 41 akan dijadikan standar dan praktisi juga tidak dapat menentukan mana prinsip yang harus dipakai kalau belum ada standar yang secara spesifik menggariskan prinsip yang harus digunakan. Dalam Artikel 2, penulis menunjukkan bahwa istilah prinsip akuntansi Indonesia (sering disingkat PAI) sebagaimana digunakan sekarang tidak tepat benar sebagai padan kata GAAP-Indonesia karena rancu dengan istilah PAI sebagai nama buku yang sebenarnya tidak tepat disebut demikian (kalau ditilik dari isi buku tersebut). Akibatnya, banyak pihak di kalangan akuntansi yang tidak dapat membedakan tiga pengertian penting (yang sangat berbeda antara satu dan lainnya) dan hubungannya yaitu prinsip akuntansi Indonesia sebagai suatu kerangka kerja (yang mestinya disebut PABU Indonesia), standar akuntansi, dan Prinsip Akuntansi Indonesia sebagai nama buku. Akibat lebih lanjut adalah banyak orang mempunyai pemahaman yang keliru bahwa buku PAI merupakan GAAP yang berlaku di Indonesia. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengatasi kerancuan tersebut adalah istilah prinsip akuntansi Indonesia sebagai suatu kerangka kerja dipertegas menjadi prinsip akuntansi berterima umum Indonesia dan buku PAI dikembangkan menjadi suatu kerangka acuan atau rerangka konseptual (conceptual framework) pelaporan keuangan Indonesia sebagaimana akan dijelaskan pada bagian lain dalam artikel ini. Arti Penting PABU Dalam suatu struktur akuntansi yang melandasi praktik akuntansi dalam suatu lingkungan (negara) tertentu, perlu adanya suatu acuan untuk dijadikan dasar dalam menyusun laporan keuangan dan menginterpretasi laporan keuangan tersebut. Dengan adanya acuan tersebut maka komunikasi antara penyaji dan pembaca laporan akan menjadi lancar dan efektif. Pedoman atau acuan tersebut mempunyai peran yang penting karena akuntansi menganggap bahwa pihak pemakai adalah pihak yang terpisah dari pihak yang menyusun dan menyajikan laporan keuangan. Oleh karena itu, kedua pihak tersebut harus mempunyai kesepakatan mengenai apa yang dapat dianggap sebagai pedoman. Kesepakatan dapat terjadi dalam bentuk ketentuan resmi yang disebut standar akuntansi yang dikeluarkan oleh badan yang berwenang. Kesepakatan dapat juga terjadi dalam bentuk prinsip-prinsip, prosedur-prosedur, metode-metode dan kebiasaan-kebiasaan pelaporan yang diakui eksistensinya oleh profesi dan dianggap berterima sebagai pedoman walaupun semuanya tidak dituangkan dalam bentuk standar atau pengumuman/penerbitan resmi (pronouncements) lainnya. Karena tidak setiap kesepakatan dituangkan dalam bentuk ketentuan resmi dan dianggap bahwa semua pihak memakluminya (menjadi tacit agreement di kalangan profesi) maka perlu ada suatu konsep atau kerangka yang membatasi kesepakatan-kesepakatan mana saja yang dapat dianggap berterima sehingga laporan keuangan yang disusun atas dasar kesepakatan tersebut tidak akan menyesatkan. PABU merupakan kerangka yang membatasi pemilihan prinsip, prosedur, metode dan kebiasaan pelaporan yang dianggap tidak menyesatkan sebagai dasar penyajian laporan keuangan. Tentu saja, standar akuntansi akan merupakan sumber prinsip akuntansi Suwardjono1992

4 42 Artikel 3 yang paling tinggi otoritasnya karena secara sengaja (melalui prosedur resmi dan saksama) suatu prinsip dipilih dan dinyatakan sebagai pedoman utama oleh badan yang berwenang. Gambar 2 melukiskan struktur akuntansi dalam menyediakan informasi untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan. Gambar 2 Tujuan pelaporan tercapai Sistem Informasi Akuntansi Manajemen didapatkan kesamaan interpretasi terhadap pesan informasi Laporan Keuangan Auditor Laporan Audit Investor Kreditor Pemerintah Pelangganan Masyarakat umum menyusun dan menyajikan berdasarkan mengaudit apakah laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai mengartikan dan menganalisis berdasarkan Prinsip akuntansi berterima umum termasuk standar Kalau subjek yang berkewajiban menyampaikan laporan telah menyajikan laporan keuangannya sesuai dengan PABU tersebut maka diharapkan bahwa pemakai akan dapat menilai dan melakukan keputusan atas dasar analisis laporan keuangan tersebut tanpa ada keragu-raguan mengenai arti dan makna informasi yang dituangkan dalam laporan keuangan tersebut. Ini berarti bahwa komunikasi yang efektif terjadi antara penyaji dan yang dituju laporan. Tentu saja, keefektifan komunikasi akan terjadi kalau pembaca menggunakan kerangka kerja PABU yang sama untuk menginterpretasi laporan keuangan. Akan tetapi, karena pemakai tidak terlibat secara langsung dalam penyusunan laporan keuangan masalahnya adalah siapakah yang menjamin bahwa penyusun telah menyajikan laporannya sesuai dengan PABU. Di sinilah peran pihak ketiga (auditor independen atau akuntan publik) diperlukan untuk menentukan kesesuaian tersebut. Dengan demikian, bagi auditor, PABU juga merupakan pedoman untuk menentukan kewajaran penyajian laporan keuangan. Arti penting PABU terefleksi dalam ungkapan...menyajikan secara wajar... sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum yang terdapat dalam paragraf opini dalam laporan audit standar.

5 Kerangka Kerja PABU 43 Kerangka Kerja PABU di Amerika Dalam melakukan audit, keputusan yang harus dipertimbangkan oleh auditor adalah apakah suatu prinsip, prosedur atau metode yang digunakan oleh subjek pelaporan masuk dalam kerangka kerja PABU. Pendapat auditor mengenai apakah seperangkat laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan (aliran kas) sesuai dengan PABU harus didasarkan atas kebijaksanaan/pertimgangan (judgment) auditor apakah: (a) prinsip-prinsip akuntansi yang dipilih dan diaplikasi mempunyai keberterimaan umum; (b) prinsip-prinsip akuntansi tersebut tepat untuk kondisi perusahaan bersangkutan; (c) laporan keuangan termasuk penjelasannya memuat informasi yang cukup mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi penggunaan, pemahaman dan interpretasinya; (d )informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasi dan diringkas dengan cukup layak dalam arti tidak terlalu rinci tetapi juga tidak terlalu ringkas; dan (e) laporan keuangan menggambarkan kejadian atau transaksi yang melandasinya dengan cara tertentu yang dapat menunjukkan posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan dalam batasbatas penyajian yang terterima (acceptable) dalam arti bahwa penyajian tersebut layak dan praktis untuk dilaksanakan dalam penyusunan laporan keuangan. 3 Auditor dapat menjawab masalah (a) sampai dengan (e) dengan sebaik-baiknya kalau ada kriteria yang jelas untuk dijadikan dasar pertimbangannya. Tanpa adanya suatu kriteria yang jelas maka auditor akan mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri mengenai kewajaran laporan keuangan dan apa yang dinyatakan wajar oleh auditor yang satu mungkin akan menjadi tidak wajar menurut auditor yang lain yang menggunakan kriteria yang berbeda. Bila terdapat standar akuntansi yang mengatur secara tegas perlakuan akuntansi tertentu maka tugas auditor adalah menentukan apakah perlakuan akuntansi yang terefleksi dalam laporan keuangan sesuai dengan standar tersebut. Akan tetapi, tidak semua prinsip atau perlakuan akuntansi dinyatakan secara tegas dalam bentuk standar akuntansi sementara itu banyak prinsip yang dapat dipilih. Hal ini mengharuskan auditor untuk menentukan apakah perlakuan akuntansi (prinsip yang dipilih perusahaan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan) masih dalam batas-batas tertentu untuk dapat dikatakan wajar. Dalam keadaan seperti ini, auditor akan 3 AICPA, Codification of Statements on Auditing Standards (New York: AICPA, 1986), SAS No. 5, Professional Standards, AU Bandingkan dengan IAI, Norma Pemeriksaan Akuntan (Jakarta: PT Temprint, 1986), hal. 64 (Bab VIII, pasal 6). Suwardjono1992

6 44 Artikel 3 menemui kesulitan untuk menentukan apakah prinsip yang tidak diatur dalam suatu standar dapat dikatakan berterima umum dan tepat untuk dasar perlakuan akuntansi. Oleh karena itu, profesi akuntansi dan pemakai jasa akuntansi harus menyepakati adanya suatu kerangka kerja prinsip akuntansi berterima umum (a body of generally accepted accounting principles) dan para auditor (akuntan publik) dianggap mempunyai keahlian teknis yang berkaitan dengan prinsip akuntansi tersebut dan mempunyai keahlian untuk menentukan keberterimaan umum suatu prinsip sebagai dasar penyajian suatu kejadian atau transaksi. Kerangka kerja PABU tidak lain adalah seperangkat ketentuan-ketentuan atau sumber-sumber acuan (baik berupa pernyataan resmi atau lainnya) yang menjadi pedoman untuk memilih prinsip-prinsip akuntansi yang dapat dijadikan dasar perlakuan akuntansi dan para akuntan (profesi) mengakui keandalan dan eksistensi prinsip tersebut sebagai suatu dasar perlakuan akuntansi. Para akuntan mengakui validitas suatu prinsip akuntansi karena badan berwenang menetapkan standar untuk menggunakan prinsip tersebut atau karena suatu prinsip akuntansi secara teoretis dapat mengungkapkan suatu kejadian atau transaksi ekonomik dengan cukup baik (layak). Di Amerika, sumber-sumber acuan yang merupakan kerangka kerja PABU adalah sebagai berikut: 4 (a) Pengumuman atau penerbitan resmi (pronouncements) oleh badan otoritatif yang ditunjuk oleh AICPA Council untuk menetapkan prinsip akuntansi. Termasuk dalam kategori ini adalah: FASB Statements of Financial Accounting Standards FASB Interpretations Accounting Principles Board Opinions AICPA Accounting Research Bulletins Statements and Interpretations of Governmental Accounting Standards Board (GASB) (b) Pengumuman atau penerbitan resmi oleh badan atau lembaga yang anggotanya terdiri atas akuntan ahli yang pembuatannya mengikuti suatu prosedur berdasarkan proses yang saksama dengan maksud untuk menetapkan prinsip akuntansi atau memerikan (describing) praktik akuntansi yang ada yang berterima umum. Termasuk dalam kategori ini adalah: AICPA Industry Audit Guides and Accounting Guides AICPA Statements of Position Technical Bulletins issued by the FASB or GASB 4 AICPA, Ibid., AU s.d. AU Section dalam Statement tersebut telah diganti dengan diterbitkannya SAS No. 58 (1987). Kutipan ini telah menggambarkan perubahan tersebut.

7 Kerangka Kerja PABU 45 (c) Praktik akuntansi atau penerbitan resmi mengenai perlakuan akuntansi yang telah dikenal secara luas sebagai berterima umum karena praktik atau penerbitan tersebut merupakan praktik yang banyak digunakan dalam industri tertentu atau merupakan aplikasi pengumuman resmi berterima umum pada kondisi khusus dan aplikasi tersebut telah dikenal secara luas. Termasuk dalam kategori ini adalah: AICPA Interpretations Praktik-praktik akuntansi yang telah dikenal secara luas dan banyak digunakan dalam industri tertentu (d) Sumber atau literatur akuntansi lainnya. Termasuk dalam kategori ini adalah: APB Statements AICPA Issues Papers AcSEC Practice Bulletins Minutes of the FASB Emerging Issues Task Force FASB Statements of Financial Accounting Concepts (SFAC) Concepts Statements of the GASB International Accounting Standards Committee Statements of International Accounting Standards Penerbitan/pengumuman resmi oleh asosiasi profesional atau badan pemerintah, dan buku teks dan artikel akuntansi Sumber-sumber acuan di atas secara keseluruhan membentuk kerangka kerja PABU berdasarkan urutan keotoritatifannya. Sumber yang disebutkan paling dahulu merupakan sumber yang paling otoritatif. Gambar 3 di halaman berikut merupakan kerangka kerja PABU tersebut yang dilukiskan Rubin sebagai suatu bangunan rumah bertingkat yang disebut The House of GAAP. 5 Gambar ini sama dengan Gambar 2 dalam Artikel 1. Sekali lagi, GAAP merupakan suatu kerangka kerja (framework) dan bukan suatu nama buku atau dokument tertentu. Keautoritatifan suatu sumber digambarkan dalam bentuk tingkat (floor) bangunan rumah tersebut, tingkat paling bawah dan paling kiri dalam tiap tingkat adalah sumber yang paling otoritatif. Agar kuat, bangunan tersebut harus didirikan di atas fondasi yang dalam hal ini berupa konsep dasar akuntansi. The House of GAAP tersebut merupakan landasan operasional bagi penyusun laporan keuangan maupun bagi auditor (akuntan publik) dalam mengaudit laporan keuangan. Kerangka kerja seperti dilukiskan Rubin akan sangat berguna bagi auditor untuk menentukan kelayakan suatu prinsip akuntansi sebagai dasar perlakuan akuntansi. Sumber pertama yang harus diacu auditor adalah sumber pada tingkat pertama, khususnya pernyataan standar akuntansi. Standar akuntansi 5 Steven Rubin, The House of GAAP, Journal of Accountancy (June 1984), hlm Suwardjono1992

8 46 Artikel 3 (termasuk sumber lain pada tingkat pertama) menetapkan secara tegas prinsip akuntansi manakah yang harus diterapkan untuk suatu kejadian atau transaksi tertentu sehingga akuntan dan auditor tidak ragu-ragu lagi mengenai validitas prinsip akuntansi tersebut. Karena pemilihan prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam suatu standar telah dipertimbangkan dengan saksama dengan memperhatikan berbagai pendapat dan pandangan maka dapat diharapkan bahwa kepatuhan terhadap standar akuntansi tersebut akan menghasilkan laporan keuangan yang tidak menyesatkan. Untuk menetapkan kewajaran penyajian, tugas auditor adalah mengevaluasi dan menetapkan apakah prinsip akuntansi yang dianut untuk perlakuan akuntansi dalam suatu laporan keuangan ditentukan secara tegas dalam sumber-sumber pada tingkat pertama. Gambar 3 The House of GAAP Fourth floor APB Statements AICPA issues papers Other professional pronouncements FASB concepts statements Textbooks and articles Third floor FASB technical bulletins AICPA accounting interpretations Prevalent industry practices Second floor AICPA industry audit guides AICPA industry accounting guides AICPA statements of position First floor FASB statements FASB interpretations APB opinions AICPA accounting research bulletins Foundation Includes the going concern assumption, substance over form, neutrality, the accrual basis, concervatism, materiality. Sumber: Steven Rubin, The House of GAAP. Journal of Accountancy (June 1984), hlm. 124 Kalau prinsip akuntansi sebagai dasar perlakuan akuntansi terhadap suatu kejadian atau transaksi tidak ditetapkan secara khusus dalam bentuk pengumuman/ketentuan resmi yang terdapat pada tingkat pertama, auditor dapat memper-

9 Kerangka Kerja PABU 47 timbangkan dan mengevaluasi apakah prinsip akuntansi (perlakuan akuntansi) ditentukan secara khusus dalam sumber-sumber pada tingkat kedua atau ketiga. Kalau dua sumber atau lebih mengatur/menetapkan prinsip akuntansi yang berbeda untuk kejadian atau transaksi yang sama, auditor harus memilih dan dapat menjelaskan bahwa prinsip akuntansi tersebut berterima umum. Kalau terdapat konflik antara sumber-sumber dalam kategori tingkat kedua atau ketiga, auditor harus mempertimbangkan perlakuan yang paling menggambarkan substansi kejadian atau transaksi bersangkutan. Kalau sumber-sumber yang telah disebutkan di atas tidak menentukan secara tegas prinsip akuntansi yang harus dianut, auditor dapat mempertimbangkan sumber-sumber lain (tingkat keempat) bergantung pada relevansinya terhadap kondisi yang dihadapi auditor. Kelayakan sumber-sumber ini sebagai sumber prinsip akuntansi bergantung pada relevansi prinsip terhadap masalah yang dihadapi auditor, kekhususan/kejelasan pedoman yang diberikan, dan tingkat pengakuan umum terhadap otoritas penerbit atau pengarang. SFAC, misalnya, pada umumnya dipandang lebih otoritatif dan berpengaruh dibandingkan dengan buku teks atau artikel akuntansi. Dua Pelajaran Penting Ada dua hal menarik yang dapat dijadikan pelajaran dari kerangka kerja PABU di atas. Pertama, sumber-sumber yang menjadi acuan yang membentuk PABU di Amerika berjumlah cukup banyak dan berasal dari berbagai badan. Dari sejarah perkembangan akuntansi di Amerika, sebelum ada badan penyusun standar, AICPA banyak mengeluarkan penerbitan yang dianggap dapat dijadikan sumber prinsip akuntansi. Karena dirasakan perlunya standar, dibentuklah APB yang ada dibawah AICPA untuk merumuskan standar akuntansi. Penerbitan APB sering dianggap bias dan menguntungkan auditor dan kliennya karena tidak ada wakil dari pemakai laporan yang duduk dalam keanggotaan APB. Kemudian badan tersebut diganti dengan FASB yang dipandang lebih netral dan tidak berada di bawah AICPA. Sebelum ada standar atau pengumuman resmi yang mengganti penerbitan badan sebelumnya maka penerbitan badan-badan yang sebelumnya telah ada tetap berlaku sehingga terdapat beberapa macam standar yang sama-sama berlaku. Badan penyusun standar di Indonesia adalah Komite Prinsip Akuntansi Indonesia yang berada di bawah IAI (semacam AICPA). Hal yang diharapkan adalah bahwa pengalaman yang tidak dikehendaki seperti di Amerika tidak perlu dialami oleh Indonesia. Artinya, sebelum telanjur banyak standar dan pengumuman resmi lain diterbitkan, kalau ada indikasi bahwa standar yang sekarang beredar mengandung bias maka mungkin sejak dini perlu dipikirkan adanya badan penyusun standar yang netral dari pengaruh IAI. Namun demikian perlu dicatat bahwa penyusunan standar akuntansi memang tidak pernah netral dan bebas dari pengaruh politik. Akuntansi akan kehilangan keefektifannya sebagai alat kalau segalanya ditentukan atas dasar pure logic tanpa memperhatikan dampak sosial dan ekonomik informasi yang dihasilkannya. Masih menjadi masalah apakah perekayasaan informasi akuntansi harus Suwardjono1992

10 48 Artikel 3 netral terhadap kepentingan pemerintah atau harus mendukung/menopang kepentingan pemerintah atau negara. 6 Kedua, dari sudut perekayasaan akuntansi keuangan, SFAC mestinya menjadi landasan konseptual dari seluruh standar atau sumber yang ada sehingga letaknya ada di bawah sumber tingkat pertama. Akan tetapi, dalam The House of GAAP di atas, SFAC justru terletak paling atas dan ke kanan yang berarti dianggap kurang autoritatif. Hal ini terjadi juga karena sejarah perkembangan standar di Amerika. Setelah banyak standar diterbitkan, ternyata terdapat inkonsistensi antara standar yang satu dan lainnya dan bahkan dalam banyak hal terjadi konflik konsep yang melandasi standar. Inkonsistensi dan konflik terjadi justru dalam standar yang diterbitkan oleh badan yang sama (APB atau FASB). Oleh karena itu, timbullah gagasan untuk menciptakan suatu kerangka acuan konseptual (conceptual framework) yang dapat dijadikan pengarah dalam penyusunan standar akuntansi. Pada tahun 1973, FASB membuat projek untuk menyusun kerangka acuan ini yang dikenal dengan Conceptual Framework Project. Baru pada bulan Desember 1985, projek tersebut menghasilkan lima pernyataan konsep yang saling berkaitan (disebut Statement of Financial Accounting Concepts) yaitu SFAC No. 1 sampai No. 6 (SFAC No. 6 merupakan pengganti SFAC No. 3). Namun demikian, FASB menegaskan bahwa SFAC bukan merupakan standar baru yang mengganti standar yang telah ada. SFAC lebih merupakan suatu konsep (kerangka acuan) yang nantinya mendasari penerbitan standar baru. Kalau terjadi inkonsistensi antara prinsip akuntansi yang diatur dalam standar yang telah ada dengan prinsip akuntansi yang diturunkan dari SFAC, standar yang ada tetap berlaku tanpa perubahan apapun. FASB sendiri memandang bahwa SFAC merupakan tools for solving problems dan diharapkan di masa mendatang standar akuntansi akan menjadi lebih konsisten dan menuju ke pencapaian tujuan pelaporan keuangan. Jadi, seandainya SFAC telah disusun sejak dini sebelum banyak standar yang diterbitkan maka SAFC akan merupakan bagian dari fondasi dalam kerangka kerja PABU (The House of GAAP). Memetik pelajaran dari sejarah SFAC di atas, tentunya pengembangan akuntansi di Indonesia tidak perlu mengalami masalah atau kesalahan yang sama. Untuk memiliki suatu kerangka acuan konseptual barangkali kita tidak harus menunggu sampai banyak standar yang diterbitkan dan timbul inkonsistensi dan konflik antarstandar termasuk kerancuan istilah. Mengamati tingkat yang dicapai oleh perkembangan akuntansi di Indonesia sampai saat ini, barangkali tidak terlalu berlebihan untuk dikatakan bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan lebih dahulu suatu kerangka acuan konseptual Indonesia. Penulis mengusulkan nama Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia (KAPFI) atau Rerangka Konseptual Pelaporan Finansial Indonesia (RKPFI). 7 Kerangka 6 Lihat pembahasan mengenai hal ini dalam David Solomons, The Politicization of Accounting, Journal of Accountancy (November 1978), hlm Gagasan mengenai arti pentingnya KAPFI telah penulis sampaikan pada Kongres ISEI ke XI tanggal Agustus 1990 di Bandung dalam suatu makalah berjudul Perekayasaan Informasi Akuntansi Untuk Alokasi Sumber Daya Ekonomik Secara Efisien Melalui Pasar Modal. Makalah tersebut disajikan kembali menjadi Artikel 1 dalam buku ini.

11 Kerangka Kerja PABU 49 tersebut berguna sebagai landasan konseptual badan penyusun standar agar standar-standar yang dihasilkan nantinya konsisten dan mengarah ke pencapaian tujuan pelaporan keuangan yang jelas. Kerangka tersebut dapat juga dijadikan acuan bagi akuntan dan praktisi untuk mengevaluasi kelayakan suatu prinsip akuntansi. Kerangka Kerja PABU Indonesia Dengan kerangka pikir yang sama dengan apa yang telah dibahas di muka dan dengan mempertimbangkan faktor lingkungan di Indonesia, penulis mencoba untuk menggambarkan kerangka kerja PABUI yang dapat menjadi acuan baik bagi penyusun laporan keuangan maupun bagi auditor untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan. Gambar 4 di halaman berikut menunjukkan gagasan penulis tentang kerangka kerja tersebut. Gambar ini beserta penjelasannya sama dengan Gambar 3 di Artikel 1. Fondasi kerangka kerja PABUI adalah Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan ideologi. Segala ketentuan yang berlaku atau diberlakukan di Indonesia tentunya tidak boleh bertentangan dengan ideologi negara. Di atas landasan tersebut akan terletak landasan konseptual yang akan menjadi pengarah praktik dan pengembangan akuntansi di Indonesia. Landasan ini akan terdiri atas Konsep Dasar dan Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia. Penyusunan landasan ini merupakan tugas yang cukup berat dan serius mengingat ketidakjelasan dalam landasan konseptual ini akan menjadikan praktik akuntansi tidak terarah dan tidak membawa manfaat dalam pencapaian tujuan pelaporan keuangan yang pada gilirannya juga tidak akan bermanfaat sebagai sarana untuk mencapai tujuan negara. Landasan konseptual ini akhirnya harus dijabarkan dan dioperasionalkan dalam bentuk aturan atau ketentuan pelaksanaan Tingkat 1 yang menjadi acuan utama para praktisi (pengusaha, manajemen, akuntan dan auditor) dalam pelaporan keuangan. Penjabaran ini tentunya akan dilakukan oleh suatu badan yang netral yang sengaja dibentuk untuk tujuan tersebut. Bila suatu prinsip akuntansi tidak ditentukan secara tegas dalam sumber di Tingkat 1 dan juga tidak dinyatakan secara tegas dalam KAPFI maka para praktisi dapat mengacu ke sumber pada Tingkat 2 atau Tingkat 3 dengan mempertimbangkan kesesuaian konsep yang melandasinya dengan konsep yang terdapat dalam KAPFI. Dengan demikian praktik yang terjadi masih tetap menuju ke pencapaian tujuan yang terdapat dalam KAPFI. Berikut ini adalah adalah gambaran yang lebih rinci mengenai isi komponen yang membentuk Kerangka Kerja PABUI di atas.! Konsep Dasar. Sebagai landasan konseptual bagi beroperasinya akuntansi, konsep dasar ini merupakan abstraksi atau konseptualisasi faktor lingkungan politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya yang mempengaruhi akuntansi atau dipandang harus mempengaruhi akuntansi di Indonesia. Konsep dasar ini dapat ditentukan kalau tujuan pelaporan keuangan di Indonesia dapat diidentifikasi dan dispesifikasi secara jelas dan tegas. Konsep dasar ini dapat masuk dan dijadikan satu dengan KAPFI. Suwardjono1992

12 50 Artikel 3 Gambar 4 Kerangka Kerja Prinsip Akuntansi Berterima Umum Indonesia Tingkat 3 Praktik, konvensi, dan kebiasaan akuntansi/pelaporan yang sehat Buku teks/ajar, artikel, dan pendapat ahli Landasan Operasional/ Praktik Tingkat 2 Buletin Teknis Peraturan Pemerintah untuk Industri Pedoman atau Praktik Akuntansi Industri Simpulan Riset Akuntansi Tingkat 1 Pernyataan Standar Interpretasi Landasan Konseptual Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia Konsep Dasar (Sebagai konseptualisasi faktor lingkungan akuntansi Indonesia) Landasan Ideologi/Konstitusional Pancasila dan UUD 1945! Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia. Kerangka ini merupakan hasil perekayasaan untuk menentukan informasi yang harus dihasilkan oleh akuntansi dan simbol-simbol serta pengukurannya yang digunakan untuk merepresentasi kondisi fisik (faktor ekonomik) sehingga informasi akuntansi yang dihasilkan serta cara pelaporannya akan mempunyai peran yang nyata dalam rangka mencapai tujuan ekonomik negara. 8 Berdasarkan kerangka acuan konseptual Amerika sebagai model, kerangka acuan ini akan memuat pernyataan: Tujuan Pelaporan Finansial Indonesia Karakteristik Kualitatif Informasi Finansial Elemen-elemen Laporan Finansial Pengukuran dan Pengakuan Elemen Laporan Finansial 8 Untuk mempelajari secara lebih rinci proses perekayasaan akuntansi, lihat Suwardjono, Seri Teori Akuntansi: Perekayasaan Akuntansi Keuangan (Yogyakarta: BPFE, 1989), hlm Lihat juga Artikel 10 dalam kumpulan artikel ini.

13 Kerangka Kerja PABU 51 KAPFI di atas mencakup kerangka untuk akuntansi komersial maupun akuntansi nonprofit termasuk pemerintah. Dengan demikian, laporan audit terhadap laporan keuangan organisasi nonprofit dan pemerintah akan tetap dapat menggunakan frasa... sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum Indonesia... untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan tersebut.! Pernyataan Standar. Merupakan penjabaran secara operasional KAPFI dalam bentuk pengumuman atau penerbitan resmi (oleh badan yang berwenang) yang berisi pedoman tentang prinsip-prinsip akuntansi apa saja yang boleh digunakan untuk memperlakukan (pengukuran, penilaian, pengakuan, penyajian dan pengungkapan) suatu kejadian atau peristiwa atau elemen laporan keuangan. Sebagai acuan praktik atau kode tertentu. Pembuatan standar ini dilakukan melalui prosedur resmi yang saksama sehingga hasilnya dapat diandalkan.! Interpretasi. Bila ada hal-hal (misalnya pasal atau ungkapan) yang terdapat dalam suatu standar yang menimbulkan banyak interpretasi bagi pemakainya, badan penyusun standar dapat menerbitkan pengumuman resmi berupa Interpretasi yang berisi klarifikasi mengenai hal yang bersifat meragukan tersebut. Interpretasi ini tidak mengganti standar yang telah diterbitkan tetapi sekadar menjelaskan.! Buletin Teknis. Karena standar hanya memuat ketentuan-ketentuan pokok, hal-hal yang bersifat teknis pencatatan biasanya diserahkan kepada praktisi untuk menentukan sendiri berdasarkan pertimbangan profesionalnya. Buletin ini dapat berisi petunjuk teknis yang diberikan oleh penyusun standar atau badan otoritatif lainnya untuk tujuan menjawab pertanyaan dari praktisi atau untuk tujuan memberi contoh pelaksanaan teknis yang dianggap bermanfaat.! Peraturan Pemerintah. Banyak peraturan pemerintah yang mempengaruhi atau bahkan harus dijalankan dalam kaitannya dengan penyusunan laporan keuangan dan penyampaian informasi suatu industri tertentu. Misalnya peraturan pemerintah mengenai BUMN, asuransi, dan perbankan; demikian juga, Keppres tentang Pelaksanaan APBN dan Undang-Undang Perbendaharaan Negara untuk pengauditan unit pemerintah. Karena harus dipenuhi dalam pelaporan keuangan, sumber-sumber tersebut jelas merupakan bagian dari kerangka kerja PABUI.! Pedoman/Praktik Akuntansi Industri. Karena kebutuhan atau karena kepraktisan, dalam industri tertentu berkembang praktik akuntansi yang banyak digunakan dalam industri tersebut. Untuk kepentingan industri, badan yang berwenang dalam suatu industri tidak jarang mengeluarkan pedoman akuntansi tertentu yang khusus berlaku dalam industri tersebut. Karena pedoman tersebut berlaku umum dalam industri dan sudah dikenal secara luas maka sumber ini jelas merupakan bagian dari kerangka kerja PABUI. Misalnya saja pedoman akuntansi Suwardjono1992

14 52 Artikel 3 tansi (accounting manuals) untuk industri pabrik gula, pedoman akuntansi untuk industri perbankan, dan pedoman akuntansi untuk suatu unit pemerintah.! Simpulan Riset Akuntansi. Temuan para ahli mengenai perlakuan akuntansi yang dianggap baik dan informatif dapat dijadikan basis untuk mengungkapkan informasi keuangan dan dapat dijadikan basis untuk menentukan kelayakan perlakuan akuntansi tertentu yang mungkin kejadiannya sangat khusus. Sumber ini juga menjadi bagian dari kerangka kerja PABUI. Tentu saja auditor harus menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk menentukan kelayakan perlakuan yang disarankan dalam sumber ini dalam kaitannya dengan kondisi yang dihadapi auditor.! Praktik Akuntansi Yang Sehat. Praktik, konvensi, dan kebiasaan akuntansi/pelaporan yang dianggap sehat dapat juga dijadikan acuan untuk menentukan kelayakan perlakuan akuntansi tertentu.! Sumber Lain. Dalam hal kejadian yang sangat khusus atau yang masih baru dalam dunia akuntansi (misalnya masalah off-balance sheet financing) yang perlakuannya tidak dapat dicari dalam berbagai sumber sebelumnya, akuntan dapat mendasarkan diri pada prinsip-prinsip akuntansi (termasuk metode dan teknik) yang dibahas dalam buku teks atau yang disarankan para ahli. Tentu saja kelayakan perlakuan harus dinilai atas dasar konsep yang terdapat dalam KAPFI. Dengan kerangka kerja PABU seperti di atas, auditor akan mempunyai pedoman yang jelas untuk menyatakan kewajaran suatu laporan keuangan dan apa yang dikatakan wajar oleh auditor yang satu akan wajar pula oleh auditor yang lain karena adanya kesamaan sumber dan pengertian mengenai tolok ukurnya. Dengan kerangka itu pula tidak perlu terjadi variasi penyebutan kriteria kewajaran karena para auditor bekerja dengan kriteria dan sumber yang sama. Hal yang lebih penting lagi adalah tidak perlu terjadi bahwa laporan keuangan yang disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia (yang banyak diartikan sebagai buku PAI karena kerancuan istilah) ternyata menjadi tidak wajar kalau tolok ukurnya diperluas menjadi PABUI sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 4. Kasus Bank Duta yang menyangkut laporan audit untuk persyaratan go public barangkali merupakan pelajaran berharga yang perlu menjadi perhatian serius profesi akuntan publik untuk segera menegaskan dan menjelaskan atau mendeskripsi lingkup PABUI. Karena fiksasi fungsional terhadap buku PAI, jangan-jangan akuntan publik berani menerbitkan laporan audit dengan pendapat wajar tanpa kualifikasi tetapi kriteria kewajaran penyajiannya adalah buku PAI tersebut. Seperti telah disinggung dalam Artikel 2, kalau hal ini terjadi dan merupakan praktik umum yang benar-benar terjadi di Indonesia maka sebenarnya profesi telah melakukan malapraktik (malpractice) walaupun tanpa disadarinya. Dalam struktur pelaporan keuangan di Indonesia yang menggunakan kerangka kerja PABUI seperti diuraikan di atas, di manakah letak buku PAI? Kalau kita ingin menghindari kerancuan seperti ditunjukkan penulis dalam artikel sebelum-

15 Kerangka Kerja PABU 53 nya, maka istilah Prinsip Akuntansi Indonesia sebagai nama buku seperti yang sekarang digunakan tidak semestinya diteruskan lagi walaupun nama tersebut mempunyai nilai historis. Nama tersebut jelas akan kita kenang sebagai bagian dari sejarah perkembangan akuntansi di Indonesia. Bukan berarti konsep-konsep dan ketentuan-ketentuan yang termuat dalam buku tersebut tidak bermanfaat bahkan harus dimanfaatkan dan dikembangkan. Jerih payah dan upaya pihak yang telah berhasil memprakarsai dan menyusun buku tersebut jelas harus dihargai dan kita harus mengangkat topi untuk mereka. Untuk meningkatkan fungsinya dan juga untuk mempertegas kedudukan konsep-konsep dan pengertian-pengertian yang terkandung dalam buku tersebut, kandungan buku tersebut harus dimodifikasi dan dikembangkan untuk dapat menjadi bagian dari Kerangka Acuan Pelaporan Finansial Indonesia. Jadi, yang tidak dipakai adalah namanya bukan isinya. Mungkin ada orang yang bertanya: Mengapa nama PAI kok harus diganti segala, apakah buku tersebut sakit? Buku tersebut memang tidak sakit. Akan tetapi, ada suatu kepercayaan bahwa orang yang menyandang nama yang tidak cocok dengan keadaannya sering mengalami sakit-sakitan. Penutup dan Harapan Gagasan penulis mengenai pengembangan kerangka kerja PABUI di atas mudah-mudahan dapat mengatasi kerancuan yang sekarang ini dijumpai dalam praktik maupun dalam dunia pendidikan. Kerangka kerja PABUI merupakan acuan bagi pihak yang harus menyusun laporan keuangan untuk kepentingan pihak eksternal dan bersamaan dengan itu merupakan pula acuan bagi auditor untuk menentukan kewajaran laporan keuangan. Kesamaan pengertian dan persepsi mengenai acuan akan menjamin kelancaran komunikasi dalam akuntansi. Dalam usaha mengembangkan dan menjelaskan lingkup PABUI, harus ada usaha yang serius baik di tingkat profesi maupun akademik untuk menghilangkan fiksasi fungsional atau kerancuan bahwa buku PAI merupakan GAAP-Indonesia. Usaha tersebut mungkin terpaksa dilakukan dengan cara mengganti nama/istilah kalau hal tersebut memang merupakan cara yang terbaik, baik untuk masa sekarang maupun mendatang. Akuntansi dikembangkan bukan tanpa tujuan. Seandainya ada suatu tujuan maka tujuan tersebut harus dikaitkan dengan tujuan negara secara keseluruhan. Apa yang digambarkan penulis sebagai kerangka kerja PABUI merupakan suatu kemungkinan untuk membawa akuntansi di Indonesia merupakan suatu alat yang andal tidak hanya untuk kepentingan bisnis tetapi juga untuk pengendalian perekonomian negara secara keselurahan. Kemungkinan di atas juga merupakan tantangan bagi profesi dan pendidik untuk memikirkan wajah akuntansi Indonesia di masa mendatang. Tidak ada jeleknya mencontoh penalaran dan perekayasaan yang telah dilakukan negara lain asalkan faktor lingkungan tempat suatu struktur akuntansi akan diterapkan tetap dominan. Inilah hakikat suatu transfer teknologi dan bukan semata-mata transfer produk." Suwardjono1992

16 54 Artikel 3 Halaman ini sengaja kosong untuk catatan.

PRINSIP, STANDAR, DAN SISTEM AKUNTANSI SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR KOMERSIL Oleh: Jamason Sinaga, Ak.*

PRINSIP, STANDAR, DAN SISTEM AKUNTANSI SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR KOMERSIL Oleh: Jamason Sinaga, Ak.* PRINSIP, STANDAR, DAN SISTEM AKUNTANSI SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR KOMERSIL Oleh: Jamason Sinaga, Ak.* Prinsip, standar, dan sistem akuntansi sangat akrab dengan pihak-pihak yang berada dalam lingkungan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL LAMPIRAN III PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 71 TAHUN 2010 TANGGAL 22 OKTOBER 2010 PROSES PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT SA Seksi 312 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan

Lebih terperinci

SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (Oleh: Jamason Sinaga, Ak.*) 1. Pendahuluan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13

Lebih terperinci

MEMBEDAH STANDAR AUDIT INTERN PEMERINTAH INDONESIA. Muhadi Prabowo (muhadi.prabowo@gmail.com) Widyaiswara Madya Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

MEMBEDAH STANDAR AUDIT INTERN PEMERINTAH INDONESIA. Muhadi Prabowo (muhadi.prabowo@gmail.com) Widyaiswara Madya Sekolah Tinggi Akuntansi Negara MEMBEDAH STANDAR AUDIT INTERN PEMERINTAH INDONESIA Muhadi Prabowo (muhadi.prabowo@gmail.com) Widyaiswara Madya Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Abstrak Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SAIPI)

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit Standar Prof SA Seksi 3 1 2 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi

Lebih terperinci

Penerapan SA Berbasis ISA Secara Proporsional. Sesuai Ukuran dan Kompleksitas Suatu Entitas KOMITE ASISTENSI DAN IMPLEMENTASI STANDAR PROFESI

Penerapan SA Berbasis ISA Secara Proporsional. Sesuai Ukuran dan Kompleksitas Suatu Entitas KOMITE ASISTENSI DAN IMPLEMENTASI STANDAR PROFESI TANYA DAN JAWAB TJ 01 IAPI INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA Penerapan SA Berbasis ISA Secara Proporsional Sesuai Ukuran dan Kompleksitas Suatu Entitas KOMITE ASISTENSI DAN IMPLEMENTASI STANDAR PROFESI

Lebih terperinci

LAPORAN AUDI TOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDI TAN

LAPORAN AUDI TOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDI TAN SA Seksi 508 LAPORAN AUDI TOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDI TAN Sumber: PSA No. 29 Lihat SA Seksi 9508 untuk interpretasi Seksi ini PENDAHULUAN 01 Seksi ini berlaku untuk laporan auditor yang diterbitkan

Lebih terperinci

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia SAMBUTAN

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia SAMBUTAN Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia SAMBUTAN Standar Pemeriksaan merupakan patokan bagi para pemeriksa dalam melakukan tugas pemeriksaannya. Seiring dengan perkembangan teori pemeriksaan,

Lebih terperinci

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan?

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Oleh: Tarkosunaryo Paper ini bermaksud untuk menyajikan analisis penggunaan mata uang yang seharusnya digunakan oleh perusahaan dalam menyusun

Lebih terperinci

BAB II KUALITAS AUDIT, BATASAN WAKTU AUDIT DAN DUE PROFESSIONAL CARE. dikatakan berkualitas, jika memenuhi ketentuan atau standar

BAB II KUALITAS AUDIT, BATASAN WAKTU AUDIT DAN DUE PROFESSIONAL CARE. dikatakan berkualitas, jika memenuhi ketentuan atau standar BAB II KUALITAS AUDIT, BATASAN WAKTU AUDIT DAN DUE PROFESSIONAL CARE 2.1. Kualitas Audit Kualitas audit dapat diartikan sebagai bagus tidaknya suatu pemeriksaan yang telah dilakukan oleh auditor. Berdasarkan

Lebih terperinci

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN LAMPIRAN VI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 00 TANGGAL JUNI 00 STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 0 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN DAFTAR ISI Paragraf PENDAHULUAN-------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ikut sertanya pemerintah dalam ASEAN Free Trade Area (AFTA). Ikut sertanya

BAB 1 PENDAHULUAN. ikut sertanya pemerintah dalam ASEAN Free Trade Area (AFTA). Ikut sertanya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang menyongsong era globalisasi. Salah satu bentuk resmi partisipasi Indonesia dalam era tersebut adalah ikut

Lebih terperinci

BULETIN AKUNTANSI STAF BAPEPAM dan LK. BAS No. 9 : KEWAJIBAN AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN OLEH AKUNTAN.

BULETIN AKUNTANSI STAF BAPEPAM dan LK. BAS No. 9 : KEWAJIBAN AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN OLEH AKUNTAN. BULETIN AKUNTANSI STAF BAPEPAM dan LK BAS No. 9 : KEWAJIBAN AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN OLEH AKUNTAN. Ikhtisar: Interpretasi dalam Buletin Akuntansi Staf ini menyajikan pandangan staf mengenai kewajiban

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR TAHUN 0 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal ayat () Undang-Undang Nomor Tahun

Lebih terperinci

ESENSI Volume 13 No.2 Desember 2010

ESENSI Volume 13 No.2 Desember 2010 PERSEPSI MAHASISWA S1 AKUNTANSI TENTANGPENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAk) (Studi Kasus Mahasiswa Program S1 Akuntansi IBN) Albertus Karjono Institut Bisnis Nusantara Jl. D.I.Panjaitan Kav. 24 Jakarta

Lebih terperinci

PERIKATAN UNTUK MENERAPKAN PROSEDUR YANG DISEPAKATI ATAS UNSUR, AKUN, ATAU POS SUATU LAPORAN KEUANGAN

PERIKATAN UNTUK MENERAPKAN PROSEDUR YANG DISEPAKATI ATAS UNSUR, AKUN, ATAU POS SUATU LAPORAN KEUANGAN SA Seksi 622 PERIKATAN UNTUK MENERAPKAN PROSEDUR YANG DISEPAKATI ATAS UNSUR, AKUN, ATAU POS SUATU LAPORAN KEUANGAN Sumber: PSA No. 51 Lihat SA Seksi 9622 untuk Interpretasi Seksi Ini PENDAHULUAN DAN KETERTERAPAN

Lebih terperinci

PROSES KONFI RMASI. SA Seksi 330. Sumber: PSA No. 07 PENDAHULUAN DAN KETERTERAPAN

PROSES KONFI RMASI. SA Seksi 330. Sumber: PSA No. 07 PENDAHULUAN DAN KETERTERAPAN SA Seksi 330 PROSES KONFI RMASI Sumber: PSA No. 07 PENDAHULUAN DAN KETERTERAPAN 01 Seksi ini memberikan panduan tentang proses konfirmasi dalam audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang

Lebih terperinci

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa SA Se k si 3 3 4 PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Sumber: PSA No. 34 PEN DAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan tentang prosedur yang harus dipertimbangkan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 52 MATA UANG PELAPORAN

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 52 MATA UANG PELAPORAN 0 0 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. MATA UANG PELAPORAN Paragraf standar, yang dicetak dengan format tebal dan miring, harus dibaca dalam konteks paragraf penjelasan dan panduan implementasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERIKATAN AUDIT TAHUN PERTAMA SALDO AWAL

PERIKATAN AUDIT TAHUN PERTAMA SALDO AWAL SA Seksi 323 PERIKATAN AUDIT TAHUN PERTAMA SALDO AWAL Sumber: PSA No. 56 PENDAHULUAN 01 Standar pekerjaan lapangan ketiga berbunyi sebagai berikut: Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui

Lebih terperinci

FRAUD: BAGAIMANA MENDETEKSINYA? Amiruddin & Sri Sundari

FRAUD: BAGAIMANA MENDETEKSINYA? Amiruddin & Sri Sundari FRAUD: BAGAIMANA MENDETEKSINYA? Amiruddin & Sri Sundari Abstrak Fraud mencakup semua kejutan, trik, kelicikan dan penyamaran, serta setiap cara yang tidak adil di mana ada pihak lainnya yang tertipu. Fraud

Lebih terperinci

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS Peranan akuntansi sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan ekonomi dan keuangan semakin disadari oleh semua pihak yang berkepentingan. Bahkan organisasi pemerintah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

TEORI AKUNTANSI KONSEP AKUNTANSI PENDAPATAN

TEORI AKUNTANSI KONSEP AKUNTANSI PENDAPATAN TEORI AKUNTANSI KONSEP AKUNTANSI PENDAPATAN Sri Hartiyah a a Program Studi Akuntansi Universitas Sains Al Qur an (UNSIQ) Wonosobo a E-mail: hartyahsry@gmail.com INFO ARTIKEL Riwayat Artikel: Diterima :

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2011 tentang OJK. Pembentukan lembaga

I. PENDAHULUAN. dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2011 tentang OJK. Pembentukan lembaga I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan,

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL LAMPIRAN I STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL DAFTAR ISI LAMPIRAN I STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL. LAMPIRAN I. 0 KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI PEMERINTAHAN. LAMPIRAN I.0 PSAP

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN U M U M Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya merupakan pembangunan manusia

Lebih terperinci

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Pendahuluan 0 Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting

Lebih terperinci

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID UNTUK MENDAPATKAN AKUN BLACKBERRY ID, SERTA DAPAT MENGAKSES LAYANAN YANG MENSYARATKAN ANDA UNTUK MEMILIKI AKUN BLACKBERRY ID, ANDA HARUS (1) MENYELESAIKAN PROSES

Lebih terperinci

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto KONSEP DASAR ORGANISASI NIRLABA Oleh: Tri Purwanto Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Sekretariat

Lebih terperinci

PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK"

PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK PEDOMAN KAN 402-2007 PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK" Komite Akreditasi Nasional Adopsi dari IAF-GD5-2006 Issue 2 1 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA 1. Penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik Lembaga Pembiayaan Ekspor

Lebih terperinci

MATA UANG FUNGSIONAL SEBAGAI MATA UANG PELAPORAN DAN PENCATATAN SESUAI PSAK 52

MATA UANG FUNGSIONAL SEBAGAI MATA UANG PELAPORAN DAN PENCATATAN SESUAI PSAK 52 MATA UANG FUNGSIONAL SEBAGAI MATA UANG PELAPORAN DAN PENCATATAN SESUAI PSAK 52 Yuliawati Tan Fakultas Ekonomi Universitas Surabaya Abstract : For companies which use foreign currencies repetitively in

Lebih terperinci

JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DI DAERAH (JFP2UPD) DAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR (JFA)

JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DI DAERAH (JFP2UPD) DAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR (JFA) JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DI DAERAH (JFP2UPD) DAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR (JFA) Muhadi Prabowo (muhadi.prabowo@gmail.com) Widyaiswara Madya Sekolah Tinggi Akuntansi

Lebih terperinci

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Abstrak Pembelajaran di abad informasi menyebabkan terjadinya pergeseran fokus dari

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA JAKARTA 2008 PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR Proposal penelitian untuk menyusun skripsi atau tugas akhir terdiri atas komponen yang sama. Perbedaan di antara keduanya terletak pada kadar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejalan dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh pemerintah, diperlukan suatu sistem tata kelola pemerintahan

Lebih terperinci

STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR)

STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR) STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR) Direvisi: Oktober 2012 Halaman 1 DAFTAR ISI PENDAHULUAN... 4 STANDAR ATRIBUT... 7 1000 - Tujuan, Kewenangan, dan Tanggung Jawab... 7 1010

Lebih terperinci

DATA dan INFORMASI DATA INFORMASI

DATA dan INFORMASI DATA INFORMASI KONSEP INFORMASI 1 DATA dan INFORMASI DATA benda, kejadian,aktivitas, dan transaksi, yg tidak mempunyai makna atau tidak berpengaruh secara langsung kepada pemakai INFORMASI data yg telah diproses sedemikian

Lebih terperinci

Perjanjian BlackBerry ID

Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID atau "Perjanjian" merupakan suatu perjanjian hukum antara Research In Motion Limited, atau anak perusahaannya atau afiliasinya sebagaimana tertera dalam

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN TEORI Teori a set of interrelated constructs (variables), definitions and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaining

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

Strategic Governance Policy. Pendahuluan. Bab 1 PENDAHULUAN. Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 1

Strategic Governance Policy. Pendahuluan. Bab 1 PENDAHULUAN. Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 1 Bab 1 PENDAHULUAN Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 1 Bagian Kesatu PENDAHULUAN I.1. I.1.a. Latar Belakang dan Tujuan Penyusunan Strategic Governance Policy Latar Belakang

Lebih terperinci

KOREKSI KESALAHAN, PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI, DAN PERISTIWA LUAR BIASA

KOREKSI KESALAHAN, PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI, DAN PERISTIWA LUAR BIASA LAMPIRAN XII PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 0 TANGGAL 1 JUNI 0 STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. KOREKSI KESALAHAN, PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI, DAN PERISTIWA LUAR BIASA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat dan efisien,

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

ALUR PROSES KEUANGAN

ALUR PROSES KEUANGAN ALUR PROSES KEUANGAN Proses keuangan secara garis besar adalah : 1. Penganggaran/Perencanaan 2. Pencatatan 3. Pelaporan 4. Koreksi/Pemeriksaan Internal 5. Audit/Pemeriksaan Ekternal Penganggaran/Perencanaan

Lebih terperinci

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi :

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi : SEWA GUNA USAHA LITERATUR :! US GAAP : FASB s Statement of Financial Accounting Standards No. 13, Accounting for Leases! IAI : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30 (Revisi 2007), Sewa! IFRS

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

PSAK 5 : SEGMEN OPERASI IFRS 8 : Operating Segments. Presented by: Dwi Martani

PSAK 5 : SEGMEN OPERASI IFRS 8 : Operating Segments. Presented by: Dwi Martani PSAK 5 : SEGMEN OPERASI IFRS 8 : Operating Segments Presented by: Dwi Martani Agenda 1 Tujuan dan Ruang Lingkup 2 Kit Kriteriai Segmen 3 Pengungkapan segmen 4 Ilustrasi 2 Perspektif Pemakai Penyusunan

Lebih terperinci

PERMINTAAN TANGGAPAN ATAS DRAFT REVISI PERATURAN SURAT PERNYATAAN MANAJEMEN DALAM BIDANG AKUNTANSI

PERMINTAAN TANGGAPAN ATAS DRAFT REVISI PERATURAN SURAT PERNYATAAN MANAJEMEN DALAM BIDANG AKUNTANSI PERMINTAAN TANGGAPAN ATAS DRAFT REVISI PERATURAN SURAT PERNYATAAN MANAJEMEN DALAM BIDANG AKUNTANSI Draft Revisi Peraturan ini bertujuan untuk menyempurnakan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Peraturan

Lebih terperinci

REPRESENTASI MANAJEMEN

REPRESENTASI MANAJEMEN Representasi Manajemen SA Seksi 333 REPRESENTASI MANAJEMEN Sumber: PSA No. 17 PENDAHULUAN 01 Seksi ini mensyaratkan auditor untuk memperoleh representasi tertulis dari manajemen sebagai bagian dari audit

Lebih terperinci

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar.

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. PERHATIKAN data berikut. 200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. Benar. Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar, tepatnya mereka yang belum lama dan berlum berpengalaman

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan berbagai tindakan agar bisnisnya tetap dapat bertahan

BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan berbagai tindakan agar bisnisnya tetap dapat bertahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perekonomian dunia didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin maju telah membawa masyarakat kearah masyarakat informasi, dimana kebutuhan akan peralatan

Lebih terperinci

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN 1) JUDUL, Pernyataan mengenai maksud penulisan laporan penelitian 2) Nama dan tim peneliti 3) KATA PENGANTAR 4) ABSTRAK 5) DAFTAR ISI 6) DAFTAR TABEL 7) DAFTAR GAMBAR 8)

Lebih terperinci

3.1 Kerangka Berpikir. Isu corporate governance. muncul karena terjadi. seringkali dikenal dengan istilah agency. problem. Agency problem dalam

3.1 Kerangka Berpikir. Isu corporate governance. muncul karena terjadi. seringkali dikenal dengan istilah agency. problem. Agency problem dalam 1 BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir Isu corporate governance muncul karena terjadi pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian perusahaan, atau seringkali

Lebih terperinci

Petunjuk Penyusunan Pedoman Pelaksanaan Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah

Petunjuk Penyusunan Pedoman Pelaksanaan Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Petunjuk Penyusunan Pedoman Pelaksanaan Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Halaman 1 dari 10 Halaman PENDAHULUAN Pada tanggal 30 Januari 2003 Menteri Keuangan telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah I. PEMOHON Bernard Samuel Sumarauw. II. OBJEK PERMOHONAN Pengujian materiil Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan

Lebih terperinci

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS II. PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARISIS Tujuan Untuk menilai: kecukupan jumlah, komposisi, integritas dan kompetensi anggota Dewan

Lebih terperinci

PENERAPAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK-ETAP STUDY KASUS PADA HOME INDUSTRY OTAK-OTAK BANDENG MULYA SEMARANG. Fakultas Ekonomi dan Bisnis

PENERAPAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK-ETAP STUDY KASUS PADA HOME INDUSTRY OTAK-OTAK BANDENG MULYA SEMARANG. Fakultas Ekonomi dan Bisnis 1 PENERAPAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK-ETAP STUDY KASUS PADA HOME INDUSTRY OTAK-OTAK BANDENG MULYA SEMARANG Oleh : Delviana Sagala Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Dian Nuswantoro

Lebih terperinci

= Eksistensi KORPRI dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sejalan dengan amanat UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)

= Eksistensi KORPRI dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sejalan dengan amanat UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) Tema = Eksistensi KORPRI dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sejalan dengan amanat UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) KORPRI Cilacap, Dekat, Merekat, dengan Prioritas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang saat ini semakin pesat dirasa sangat penting bagi setiap perusahaan. kesuksesan dalam pencapaian setiap tujuan perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. yang saat ini semakin pesat dirasa sangat penting bagi setiap perusahaan. kesuksesan dalam pencapaian setiap tujuan perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam perkembangan dunia usaha yang saat ini semakin pesat dirasa sangat penting bagi setiap perusahaan. Kualitas sumber daya manusia

Lebih terperinci

ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK

ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK Mei 00 STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA SAK ETAP STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN Entitas tanpa Akuntabilitas Publik Hak cipta

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI l ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI P r o j e c t i t a i g D k a a n Arskal Salim Kolom Edisi 002, Agustus 2011 1 Islam di Antara Dua Model Demokrasi Perubahan setting politik pasca Orde Baru tanpa

Lebih terperinci

PSAK NO. 52 - MATA UANG PELAPORAN SEBUAH CONTOH PENERAPAN

PSAK NO. 52 - MATA UANG PELAPORAN SEBUAH CONTOH PENERAPAN 16 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 1, No. 1, Mei 1999 : 16-27 PSAK NO. 52 - MATA UANG PELAPORAN SEBUAH CONTOH PENERAPAN Y. Jogi Christiawan Dosen Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi Universitas Kristen

Lebih terperinci

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 125/PMK.01/2008 TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

sehingga tonggak-tonggak capaian dalam bentuk strategi dan program ke arah pencapaian visi dan misinya dicapai secara berkesinambungan.

sehingga tonggak-tonggak capaian dalam bentuk strategi dan program ke arah pencapaian visi dan misinya dicapai secara berkesinambungan. RINGKASAN EKSEKUTIF Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) secara resmi berdiri pada tanggal 15 Februari 1961 berdasar Akte Notaris R Kadiman Nomor 62 tahun 1962, dengan nama Universitas Prof. Dr. Moestopo

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 tentang Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun disetujui dalam Rapat Komite

Lebih terperinci

Prinsip-prinsip pertanggung Jawaban Kita

Prinsip-prinsip pertanggung Jawaban Kita Prinsip-prinsip pertanggung Jawaban Kita Prinsip-prinsip pertanggung Jawaban Kita Pesan dari Direktur Jean-Pascal Tricoire, Ketua Dewan Direksi dan CEO Perusahaan kita seringkali berinteraksi dengan para

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

ANALISIS PERUBAHAN OPINI LHP BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG

ANALISIS PERUBAHAN OPINI LHP BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG ANALISIS PERUBAHAN OPINI LHP BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG Hottua Sipahutar (hosinolan@gmail.com) Siti Khairani, SE.Ak. M.Si (siti.khairani@mdp.ac.id) Akuntansi

Lebih terperinci

7 Idem, Penjelasan umum alinea 9

7 Idem, Penjelasan umum alinea 9 !"#$%& #$%& UndangUndang mor 40 Tahun 2004 menentukan BPJS adalah Badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. 1 BPJS harus dibentuk dengan undangundang. 2 Mahkamah Konstitusi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG JABATAN NOTARIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG JABATAN NOTARIS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG JABATAN NOTARIS PERPADUAN NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini

Lebih terperinci

Pedoman KAN 403-2011 Penilaian Kesesuaian Ketentuan umum penggunaan tanda kesesuaian berbasis SNI dan/atau regulasi teknis

Pedoman KAN 403-2011 Penilaian Kesesuaian Ketentuan umum penggunaan tanda kesesuaian berbasis SNI dan/atau regulasi teknis Pedoman KAN 403-2011. Penilaian Kesesuaian Ketentuan umum penggunaan tanda kesesuaian berbasis SNI dan/atau regulasi teknis Komite Akreditasi Nasional Pedoman KAN 403-2011 Daftar isi Kata pengantar...ii

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 tentang Pengungkapan Pihak- Pihak yang Mempunyai

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 11/POJK.05/2014 TENTANG PEMERIKSAAN LANGSUNG LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 11/POJK.05/2014 TENTANG PEMERIKSAAN LANGSUNG LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 11/POJK.05/2014 TENTANG PEMERIKSAAN LANGSUNG LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci