LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN"

Transkripsi

1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN (Berita Resmi Kabupaten Sleman) NOMOR: 1 TAHUN 2005 SERI : E PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG KABUPATEN SLEMAN TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelak-sanaan, dan pengawasan pembangunan daerah perlu disusun rencana pembangunan jangka panjang daerah; b. bahwa rencana pembangunan jangka panjang daerah merupakan kerangka dasar pengelolaan pembangunan daerah yang bersifat aspiratif terhadap kehendak masyarakat Kabupaten Sleman yang memuat visi, misi, dan arah kebijakan pembangunan daerah; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sleman Tahun Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Berita Negara tanggal 8 Agustus 1950); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara

2 Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004, Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang Penetapan Mulai Berlakunya Undang-undang 1950 Nomor 12, 13, 14 dan 15 Dari Hal Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten di Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Berita Negara tanggal 14 Agustus 1950). Dengan persetujuan bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SLEMAN, dan BUPATI SLEMAN, MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG KABUPATEN SLEMAN TAHUN Pasal 1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sleman Tahun adalah dokumen perencanaan daerah yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan daerah yang disusun berdasarkan potensi, permasalahan, kebutuhan, dan aspirasi masyarakat serta ditetapkan dalam kurun waktu 20 (dua puluh) tahun. Pasal 2 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sleman Tahun berkedudukan sebagai kerangka dasar pengelolaan pembangunan daerah yang 2

3 merupakan penjabaran dari kehendak masyarakat Kabupaten Sleman dengan memperhatikan arah rencana pembangunan jangka panjang nasional. Pasal 3 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sleman Tahun berfungsi sebagai arah dan pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan, dan pemberian pelayanan kepada masyarakat bagi semua pihak di Kabupaten Sleman. Pasal 4 Sistematika Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sleman Tahun disusun sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN BAB II POTENSI DAN PERMASALAHAN DAERAH BAB III DASAR FILISOFIS, VISI, MISI, DAN NILAI-NILAI BAB IV ARAH PEMBANGUNAN DAERAH BAB V PELAKSANAAN BAB VI PENUTUP Pasal 5 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sleman Tahun adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran Peraturan Daerah ini, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pasal 6 Pelaksanaan lebih lanjut Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sleman Tahun dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah.yang ditetapkan oleh Bupati. Pasal 7 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. 3

4 Ditetapkan di Sleman Pada tanggal 22 Nopember 2005 BUPATI SLEMAN, Cap/ttd IBNU SUBIYANTO Diundangkan di Sleman. Pada tanggal 24 Nopember 2005 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SLEMAN, Cap/ttd SUTRISNO LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2005 NOMOR 1 SERI E 4

5 LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR : 7 TAHUN 2005 TANGGAL : 22 NOPEMBER 2005 BAB I PENDAHULUAN A. PENGERTIAN Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah adalah dokumen perencanaan daerah yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan daerah. RPJP Daerah disusun berdasarkan potensi, permasalahan, kebutuhan, dan aspirasi masyarakat. RPJP Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah untuk jangka waktu 20 tahun. B. KEDUDUKAN DAN FUNGSI Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Kabupaten Sleman merupakan pedoman umum bagi aparatur pemerintah daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, organisasi politik, organisasi sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan tokoh masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Sleman dalam melaksanakan pembangunan daerah mulai tahun 2006 sampai dengan tahun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Kabupaten Sleman mempunyai kedudukan sebagai kerangka dasar pengelolaan pembangunan daerah yang merupakan penjabaran dari kehendak masyarakat Kebupaten Sleman dengan tetap memperhatikan arah Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Kabupaten Sleman berfungsi sebagai arah dan pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan, dan pemberian pelayanan kepada masyarakat bagi semua pihak di Kabupaten Sleman. C. MAKSUD DAN TUJUAN Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Sleman ditetapkan dengan maksud memberikan arah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan, dan pemberian pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Sleman. 5

6 RPJP Daerah Kabupaten Sleman bertujuan mewujudkan kehidupan yang lebih demokratis, berkeadilan sosial, melindungi hak asasi manusia, kesetaraan jender, menegakkan supremasi hukum dalam tatanan masyarakat yang beradab, berakhlak mulia, mandiri, bebas, maju, dan lebih sejahtera lahir batin untuk kurun waktu 20 tahun ke depan. D. LANDASAN Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Sleman disusun atas dasar: 1. Landasan idiil : Pancasila 2. Landasan konstitusional : UUD Landasan operasional : Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. E. RUANG LINGKUP Ruang lingkup Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Sleman mencakup aspek pembangunan di segala bidang kehidupan untuk jangka waktu 20 tahun, yang disusun dengan sistematika sebagai berikut: BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI PENDAHULUAN POTENSI DAN PERMASALAHAN DAERAH DASAR FILOSOFIS,VISI, MISI, DAN NILAI - NILAI ARAH PEMBANGUNAN DAERAH PELAKSANAAN PENUTUP 6

7 BAB II POTENSI DAN PERMASALAHAN DAERAH A. POTENSI DAERAH Pembangunan daerah merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan melalui pengembangan potensi yang dimiliki daerah. Potensi daerah merupakan modal dasar bagi daerah dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan visi daerah. 1. Lingkungan Strategis a. Letak wilayah Kabupaten Sleman terletak di antara bujur timur dan lintang selatan. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah; sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah; sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah; dan sebelah selatan berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunung Kidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. b. Luas wilayah Luas Kabupaten Sleman lebih kurang 574,82 km 2 atau sekitar 18% dari luas Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jarak wilayah Kabupaten Sleman terjauh dari utara ke selatan 32 km dan dari timur ke barat 35 km. c. Topografi, klimatologi, dan penggunaan lahan 1). Topografi Kondisi permukaan tanah Kabupaten Sleman di bagian selatan relatif datar, kecuali di bagian tenggara Kecamatan Prambanan dan sebagian wilayah di Kecamatan Gamping merupakan daerah perbukitan. Semakin ke utara kondisi permukaan tanah relatif miring dan di bagian utara sekitar Lereng Merapi relatif terjal. Sebagian besar (72,11%) wilayah Kabupaten Sleman mempunyai ketinggian antara 100 meter hingga meter di atas permukaan laut. Sisanya (27,89%) wilayah Sleman mempunyai ketinggian kurang dari 100 meter di atas permukaan laut. 7

8 2). Klimatologi Kondisi iklim di sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman termasuk tropis basah dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 2.206,6 mm/tahun sampai dengan mm/tahun. Berdasarkan kondisi iklim tersebut, maka lahan di wilayah Kabupaten Sleman sangat cocok untuk pengembangan pertanian. 3). Penggunaan lahan Hampir setengah dari luas wilayah Kabupaten Sleman, yaitu di bagian barat dan selatan, merupakan tanah pertanian yang subur dengan didukung oleh irigasi teknis. Pada tahun 2003, penggunaan lahan untuk persawahan mencapai ha (40,64%), tegalan ha (11,20%), pekarangan ha (32,76%), dan lain-lain ha (15,40%). Selama 5 tahun terakhir, luas lahan persawahan mengalami penyusutan rata-rata 0,41%/tahun, luas lahan tegalan bertambah rata-rata 0,25%/tahun, luas lahan pekarangan bertambah rata-rata 0,07%/tahun, dan luas lahan untuk lain-lain bertambah rata-rata 0,09%/tahun. d. Sumberdaya alam (SDA) Potensi SDA yang terdapat di Kabupaten Sleman meliputi SDA non-hayati yaitu air, lahan, udara, dan SDA hayati yang terdiri dari flora dan fauna. Hingga akhir tahun 2003, cadangan air bawah tanah secara statis mencapai m 3, sementara pemakaian air tanah per tahun sebanyak ,31 m 3 (3,29% dari cadangan air bawah tanah), dengan alokasi rata-rata per tahun untuk pemakaian domestik sebanyak ,24 m 3, hotel ,87 m 3, rumahtangga ,66 m 3, dan industri ,54 m 3. Sumberdaya lahan berupa hutan negara, hutan rakyat, dan hutan kota. Hutan negara seluas 1.728,91 ha (3,01% dari luas wilayah Sleman) terdiri dari 1.446,65 ha berupa hutan lindung, 118,61 ha taman wisata, dan 163,68 ha berupa cagar alam. Luas hutan rakyat ha (5,80% dari luas wilayah Sleman), sedangkan luas hutan kota 1,80 ha. Bahan galian di wilayah Kabupaten Sleman berupa bahan galian golongan C (BGCC) yang meliputi cadangan pasir ( m³), sirtu ( m³), andesit ( m³), tanah liat ( m³), kapur (2.500 m³), dan breksi batu apung ( m³). 8

9 e. Lingkungan hidup Perusahaan-perusahaan di Kabupaten Sleman masih ada yang belum memenuhi kewajibannya berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan hidup. Sampai dengan tahun 2004, dari 28 perusahaan yang termasuk dalam kelompok usaha wajib amdal, sebanyak 17 (60,71%) perusahaan telah memiliki dokumen amdal. Sedangkan dari 87 perusahaan yang termasuk dalam kelompok usaha wajib Upaya Pengelolaan Lingkungan-Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL), baru 70 (80,46%) perusahaan yang telah memiliki dokumen UKL-UPL. Perusahaan-perusahaan di Kabupaten Sleman juga berkewajiban membangun Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Namun, dari perusahaan yang termasuk ke dalam kelompok usaha wajib membangun IPAL, baru 80 (5,71%) perusahaan yang telah membangun IPAL. Sampai dengan tahun 2004, Kabupaten Sleman memiliki kelompok/individu peduli lingkungan, yakni 347 orang kader lingkungan. Kelompok/individu peduli lingkungan yang telah memperoleh penghargaan di bidang lingkungan baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional, terdiri atas 6 orang perintis lingkungan, 5 kelompok penyelamat lingkungan, 5 orang pengabdi lingkungan, dan 5 orang pembina lingkungan. Sarana pengelolaan sampah di Kabupaten Sleman berupa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terdapat di Piyungan Bantul (kerjasama Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta). Sarana pengelolaan sampah lainnya yang dimiliki Kabupaten Sleman adalah 7 Lokasi Daur Ulang Sampah (LDUS), 7 unit transfer depo, 34 unit container, dan 34 unit Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Sarana angkutan sampah terdiri dari 11 dump truck dengan kapasitas angkut 330 m³/hari, 6 unit armroll dengan kapasitas angkut 108 m³/hari, 2 unit pick up dengan kapasitas angkut 6 m³/hari, 1 unit wheel loader, dan 1 unit buldozer. Saat ini timbulan sampah di Kabupaten Sleman mencapai 1.613,40 m³/hari, dikelola oleh masyarakat sendiri sebanyak 74,43% atau 1.200,90 m³/hari, sedangkan sampah yang terangkut sebanyak 25,57% atau 412,5 m³/hari dengan rincian dibuang ke TPA 307 m³/hari dan diolah di LDUS sebanyak 105,5 m³/hari. Lokasi pembuangan sampah di luar TPA yang telah ditentukan, seperti bantaran sungai sebanyak 152 titik, dengan sumber yang paling dominan adalah masyarakat setempat 64%, pihak luar 27%, warung PKL setempat 7%, dan restoran/toko setempat 2%. 9

10 Cakupan pelayanan persampahan meliputi 17 kecamatan yang terdiri dari 48 perumahan/permukiman, 4 fasilitas kesehatan, 6 fasilitas pendidikan, 5 fasilitas kesehatan, 17 perusahaan swasta, dan 13 fasilitas umum. Adapun potensi flora dan fauna di kawasan cagar alam Plawangan Turgo terdapat 88 species flora dan 30 famili (96 species) fauna (meliputi mamalia, reptil, Ikan, serangga, burung). f. Karakteristik wilayah 1). Berdasarkan karakteristik sumberdaya yang dimiliki, Kabupaten Sleman terbagi menjadi 4 wilayah, yaitu: a). Kawasan lereng Gunung Merapi, dimulai dari jalan yang menghubungkan kota Kecamatan Tempel, Turi, Pakem, dan Cangkringan (ringbelt) ke utara sampai dengan puncak gunung Merapi. Di kawasan ini terdapat sumberdaya air dan ekowisata yang berorientasi pada kegiatan Gunung Merapi dan ekosistemnya, b). Wilayah Timur meliputi Kecamatan Prambanan, sebagian Kecamatan Kalasan dan Kecamatan Berbah. Di wilayah ini terdapat peninggalan purbakala (candi) sebagai pusat wisata budaya dan merupakan daerah lahan kering, serta sumber bahan batu putih. c). Wilayah Tengah merupakan wilayah aglomerasi kota Yogyakarta, meliputi Kecamatan Mlati, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Depok, dan Gamping. Wilayah ini merupakan pusat pendidikan, perdagangan, dan jasa. d). Wilayah Barat yang meliputi Kecamatan Godean, Minggir, Seyegan, dan Moyudan, merupakan daerah pertanian lahan basah yang tersedia cukup air dan sumber bahan baku untuk industri kerajinan mendong, bambu, serta gerabah. 2). Berdasar jalur lintas antardaerah, Kabupaten Sleman dilalui oleh jalur jalan nasional sebagai jalur ekonomi yang menghubungkan Kabupaten Sleman dengan kota-kota pelabuhan Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Jalur ini melewati wilayah Kecamatan Prambanan, Kalasan, Depok, Mlati, Tempel, dan Gamping. Wilayah Kecamatan Depok, Mlati, dan Gamping dilalui jalan lingkar (ringroad) sebagai jalan arteri primer di Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga kecamatan-kecamatan tersebut cepat berkembang. 2. Hukum, Penyelenggaraan Pemerintahan, dan Politik a. Hukum 10

11 Pembangunan hukum yang telah dilakukan belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh masih adanya warga masyarakat yang tidak mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, seperti pelanggaran atas pemanfaatan tanah, rendahnya disiplin berlalu lintas, penyalahgunaan ruangan publik untuk kepentingan individu, dan pembuangan sampah secara liar. b. Penyelenggaraan pemerintahan Pemerintah Kabupaten Sleman telah melakukan reformasi birokrasi untuk memenuhi perkembangan kebutuhan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan untuk mempermudah aparat pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Reformasi birokrasi juga bertujuan untuk menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan memperhatikan kebutuhan kecamatan (desa), sehingga kecamatan (desa) yang terdapat di Kabupaten Sleman masih merasa memperoleh manfaat berada dalam (orbit) Kabupaten Sleman. 1). Kelembagaan Sejak dilaksanakannya otonomi daerah berdasar Undang-Undang No. 22 Tahun 1999, sampai dengan tahun 2003 di Kabupaten Sleman telah dilakukan 2 kali penataan struktur organisasi. Pada tahap pertama, berdasarkan Perda No. 12 Tahun 2000, penataan kelembagaan yang dilakukan lebih mengetengahkan aspek penggabungan berbagai organisasi kecil yang mempunyai karakter pekerjaan sejenis menjadi suatu organisasi yang lebih besar dan kompak, dan mengakomodasi adanya penggabungan antara induk organisasi yang telah ada dengan berbagai instansi vertikal yang diserahkan oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah. Struktur organisasi Pemerintah Kabupaten Sleman hasil penataan tahap pertama terdiri dari 2 sekretariat, yakni Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD, 7 dinas, 4 badan, 3 kantor, dan 17 kecamatan. Penataan kelembagaan tahap kedua dilaksanakan berdasar Perda No. 12 Tahun Struktur organisasi Pemerintah Kabupaten Sleman terdiri dari 2 sekretariat, yakni Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD, 9 dinas, 5 badan, 1 RSUD (setingkat badan), 5 kantor, 1 balai (setingkat kantor), dan 17 kecamatan. Tujuan yang akan dicapai dalam penataan tahap kedua mewujudkan organisasi yang dapat 11

12 menyesuaikan kebutuhan dan tuntutan perubahan (organisasi yang fleksibel). Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan pengembangan kelembagaan secara terus menerus (continous improvement) agar dapat lebih mengoptimalkan fungsi alokasi dan distribusi aset, regulasi pembentuk sistem, dan pelayanan serta perlindungan masyarakat. 2). Aparatur Sumberdaya manusia (SDM) merupakan asset bagi suatu organisasi dan sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan mewujudkan tujuan organisasi. Oleh karena itu pemerintah Kabupaten Sleman selalu melakukan pengelolaan sumberdaya manusia (aparatur) yang dimiliki secara komprehensif dan berkesinambungan. Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Sleman per Desember 2003 sebanyak orang dengan latar belakang pendidikan SD 378 orang, SLTP 547 orang, SLTA orang, D1 212 orang, D orang, D3 792 orang, D4 27 orang, Sarjana Muda 861 orang, S orang, dan S2 100 orang. Berdasar kelompok umur, banyaknya pegawai yang berumur kurang dari 26 tahun ada 36 orang, tahun 253 orang, tahun 927 orang, tahun orang, tahun orang, tahun orang, tahun orang, dan lebih dari 55 tahun orang. c. Politik Kesadaran masyarakat dalam berpolitik telah diwujudkan dalam kegiatan pemilihan umum (pemilu) tahun 2004 yang diikuti oleh orang pemilih (81,07%) dari orang pemilih yang terdaftar. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum lebih dari 80% tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap politik sangat tinggi. Melalui pemilu tahun 2004, masyarakat Sleman telah memilih 45 orang wakil-wakilnya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dengan rincian: 10 orang dari PDIP, 7 orang dari PAN, 7 orang dari PKB, 6 orang dari Golkar, 4 orang dari PPP, 6 orang dari PKS, 3 orang dari Partai Demokrat, 1 orang dari PKPB, dan 1 orang dari PDS. Pemilihan presiden tahap pertama diikuti oleh orang dan tahap kedua diikuti orang pemilih 12

13 3. Ekonomi a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) PDRB atas dasar harga berlaku dari tahun 1999 sampai dengan 2003 mengalami kenaikan rata-rata 11,66% per tahun, yaitu dari Rp 3.175,309 milyar pada tahun 1999 menjadi Rp 5.451,102 milyar pada tahun Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mengalami kenaikan rata-rata 3,35% per tahun, yaitu dari Rp 1.403,780 milyar pada tahun 1999 menjadi Rp 1.654,682 milyar pada tahun b. Struktur Perekonomian Daerah Struktur ekonomi Kabupaten Sleman dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 menunjukkan perkembangan yang positif. Kegiatan ekonomi pada sektor sekunder dan tersier memberikan nilai tambah (value added) yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor primer. Adapun kontribusi sektor primer (pertanian dan pertambangan) dalam PDRB Kabupaten Sleman pada tahun 1999 sebesar 19,30% menjadi 16,93% pada tahun 2003, sektor sekunder (industri, listrik-gas-air bersih, dan bangunan) sebesar 24,36% pada tahun 1999 dan menjadi 29,37% pada tahun 2003, dan sektor tersier (perdagangan, pengangkutan, keuangan dan jasa) sebesar 56,34% pada tahun 1999 menjadi 53,69% pada tahun c. PDRB per kapita PDRB per kapita atas dasar harga berlaku selama 5 tahun meningkat ratarata 9,74% per tahun, yaitu dari Rp pada tahun 1999 menjadi Rp pada tahun PDRB per kapita atas dasar harga konstan meningkat rata-rata 1,57% per tahun, yatu dari Rp pada tahun 1999 menjadi Rp pada tahun d. Pertumbuhan ekonomi Selama periode tahun , pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sleman mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif setelah mengalami pertumbuhan negatif pada masa krisis, yaitu sebesar 1,93% pada tahun 1999, 3,63% pada tahun 2000, 4,00% pada tahun 2001, 4,74% pada tahun 2002, dan 4,80% pada tahun e. Keuangan daerah Selama periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2003, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sleman meningkat rata-rata 43,61% per tahun, yaitu dari Rp17,889 milyar pada tahun 2000 menjadi Rp52,979 milyar pada tahun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten 13

14 Sleman meningkat dari Rp118,533 milyar tahun 2000 menjadi Rp447,510 milyar tahun 2003 atau meningkat rata-rata 55,71% per tahun. Sumbersumber keuangan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Sampai dengan tahun 2004, pendapatan asli daerah baru memberi kontribusi sebesar 12,13% dari total anggaran, sehingga dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan masih sangat bergantung aliran dana dari pusat berupa dana perimbangan. f. Investasi Investasi di Kabupaten Sleman terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dan Non-Fasilitas. Nilai investasi tahun 2000 sebesar Rp1.800,90 milyar dengan unit usaha dan menyerap tenaga kerja sebanyak orang. Nilai investasi pada tahun 2003 meningkat menjadi Rp2.398,33 milyar dengan unit usaha dan menyerap tenaga kerja orang. Dengan demikian nilai investasi selama periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 mengalami peningkatan rata-rata 10,02% per tahun, Banyaknya unit usaha dalam periode yang sama meningkat rata-rata 1,70% per tahun dan penyerapan tenaga kerja meningkat rata-rata 5,12% per tahun. Kegiatan investasi di Kabupaten Sleman sebagian besar pada komoditas hasil pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, industri (pengemasan, pengolahan logam, kayu, dan pengolahan bahan galian golongan C), dan pariwisata (wisata alam, wisata agro, wisata candi, wisata museum, wisata budaya, wisata olah raga, dan wisata pendidikan). g. Prasarana dan sarana ekonomi 1). Sarana Jalan Pada akhir tahun 2003, panjang jalan kabupaten mencapai 1.085,13 km, meliputi 338,80 km dalam kondisi baik, 465,13 km dalam kondisi sedang, dan 281,20 km dalam kondisi rusak. Panjang jalan desa mencapai 2.764,13 km meliputi 150 km dengan kondisi sedang dan 2.614,13 km dengan kondisi rusak. Banyaknya jembatan ada 462 buah, meliputi jembatan dengan kondisi baik 197 buah, kondisi sedang 188 buah, dan kondisi rusak 77 buah. 2). Sarana Irigasi Sarana irigasi terdiri atas bendung sebanyak buah, embung sebanyak 2 buah, saluran pembawa sepanjang 299,80 km, bangunan 14

15 pelengkap sebanyak buah, saluran pembuang sepanjang km, dan tanggul banjir sepanjang 6,50 km. 3). Listrik Kebutuhan listrik masyarakat kabupaten Sleman berasal dari PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN). Daya terpasang KVA dengan total pelanggan sebanyak orang. Sebagian besar ruas jalan Kabupaten dan ruas jalan desa sudah dilengkapi dengan lampu penerangan jalan umum (LPJU). Sampai saat ini jumlah LPJU yang berijin dan biaya beban daya listriknya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah sebanyak buah, terdiri buah lampu jenis mercuri/natrium, buah lampu TL, dan 469 buah lampu pijar. 4). Pos dan telekomunikasi Sarana pelayanan pos dan giro sebanyak 25 buah, sedangkan sarana pelayanan telekomunikasi sebanyak SST terdiri dari pelayanan instansi pemerintah SST, pelayanan swasta perorangan SST, pelayanan telpon umum koin 372 buah, pelayanan telepon umum kartu (TUK) dan telepon pin 210, dan pelayanan wartel 657 buah. 5). Sarana perdagangan Sarana perdagangan di Kabupaten Sleman pada tahun 2003 terdiri dari 36 pasar pemerintah, 19 buah pasar desa, 52 mini market, 4 supermarket, 6 pasar hewan, dan 1 pasar buah. Pasar pemerintah di Kabupaten Sleman seluas m 2, ditempati oleh pedagang dan dilengkapi dengan kios, 454 los, dan bango. 6). Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) a). Koperasi Pada tahun 2000, jumlah koperasi di Kabupaten Sleman berjumlah 476 unit, meliputi kopersi produksi sebanyak 55 unit, koperasi konsumsi 387 unit, koperasi jasa 8 unit, koperasi simpan pinjam sebanyak 19 unit, dan koperasi pemasaran 7 unit, dengan anggota orang. Jumlah modal sendiri Rp23,05 milyar, simpanan sukarela Rp19,11 milyar, sisa hasil usaha (SHU) yang dibagi Rp4,91 milyar, dan volume usaha Rp109,62 milyar. 15

16 Pada tahun 2003, koperasi yang aktif di Kabupaten Sleman sebanyak 511 unit, meliputi koperasi produksi sebanyak 57 unit, koperasi konsumsi 417 unit, koperasi jasa 8 unit, koperasi simpan pinjam sebanyak 22 unit, dan koperasi pemasaran 7 unit, dengan anggota orang. Jumlah modal sendiri Rp36,94 milyar, simpanan sukarela Rp26,53 milyar, sisa hasil usaha (SHU) yang dibagi Rp7,51 milyar, dan volume usaha Rp154,37 milyar. Selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 terjadi penambahan jumlah koperasi sebesar 7,35%, penambahan jumlah anggota sebesar 1,39%, jumlah modal sendiri meningkat sebesar 60,23%, dan peningkatan volume usaha sebesar 40,82%. b). Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Sampai dengan tahun 2003, banyaknya UKM mencapai unit yang bergerak di berbagai bidang usaha, meliputi usaha perindustrian sebanyak unit dengan tenaga kerja orang, dan sebanyak unit bergerak di bidang perdagangan, jasa, dan lain-lain dengan tenaga kerja orang. 7). Lembaga keuangan Lembaga keuangan bank yang terdapat di Kabupaten Sleman pada tahun 2003 terdiri dari Kantor Cabang Bank BNI 46 sebanyak 1 buah dengan 7 buah kantor cabang pembantu dan 4 buah kantor kas, Kantor Cabang Bank Pembangunan Daerah sebanyak 1 buah dengan 4 buah kantor cabang pembantu dan 10 buah kantor kas, Kantor Cabang BRI sebanyak 1 buah dengan kantor kas 27 buah, Kantor Cabang Bank Danamon sebanyak 1 buah, Bank Mandiri 2 buah, Bank Panin 1 buah, Bank Bukopin 2 kantor cabang pembantu, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 36 buah, dan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) 12 buah. Selain itu, terdapat lembaga-lembaga keuangan non-bank, antara lain pegadaian, jasa asuransi, dan lembaga-lembaga keuangan tingkat desa seperti Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) 32 buah, Badan Usaha Kredit Pedesaan 17 buah, Badan Kredit Desa 22 buah, Usaha Ekonomi Desa (UED), Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP), dan Usaha Sosial dan Ekonomi Pedesaan (USEP). Keberadaan lembaga keuangan tersebut ternyata dapat membantu kelancaran kegiatan perekonomian masyarakat. 16

17 Simpanan masyarakat Kabupaten Sleman pada lembaga keuangan terdiri dari giro, deposito, dan tabungan. Simpanan masyarakat pada tahun 2000 berjumlah Rp970,85 milyar dan pada tahun 2003 menjadi Rp1.463,20 milyar atau meningkat rata-rata 10,80% per tahun. Secara rinci jumlah simpanan dalam giro sebesar Rp125,11 milyar tahun 2000 menjadi Rp212,04 milyar tahun 2003 atau meningkat rata-rata 14,10% per tahun, deposito sebesar Rp334,86 milyar tahun 2000 menjadi Rp346,51 milyar pada tahun 2003 atau meningkat rata-rata 0,86% per tahun, dan tabungan sebesar Rp510,88 milyar tahun 2000 menjadi Rp904,65 milyar tahun 2003 atau meningkat rata-rata 15,36% per tahun. Kredit yang disalurkan oleh lembaga keuangan kepada masyarakat Kabupaten Sleman pada tahun 2000 sebesar Rp276,82 milyar, menjadi Rp927,28 pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata 49,62% per tahun. Secara rinci, jumlah kredit menurut jenis penggunaannya adalah kredit modal kerja Rp112,57 milyar pada tahun 2000, menjadi Rp320,98 milyar pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata 41,80% per tahun, kredit investasi Rp45,97 milyar pada tahun 2000, menjadi Rp176,71 milyar tahun 2003, atau meningkat rata-rata 56,65% per tahun, dan kredit konsumsi Rp118,28 milyar pada tahun 2000, menjadi Rp429,59 milyar tahun 2003, atau meningkat rata-rata 53,71% per tahun. 8). Kepariwisataan Kekayaan alam dan keanekaragaman budaya dalam pembangunan kepariwisataan dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam, wisata budaya, dan wisata minat khusus. Wisata alam meliputi kawasan wisata Kaliurang, kawasan Kaliadem, dan kawasan wisata Agro Salak Pondoh Turi. Wisata budaya meliputi kawasan wisata candi, upacara adat, dan museum. Kawasan wisata candi meliputi 10 buah candi (Prambanan, Kalasan, Sari, Gebang, Banyunibo, Sambisari, Murangan, Barong, Ijo, Ratu Boko) dan 2 situs arkeologi (situs Watu Gudik dan Kedulan). Selain itu, masih terdapat 56 situs dan 3 tempat penampungan benda cagar budaya. Upacara adat yang terdapat di Kabupaten Sleman di antaranya Suran Kaliurang, Suran Mbah Demang, Suran Batok Bolu, Merti Bumi Tunggularum, Saparan Ki Ageng Wonolelo, Saparan Gamping, Merti Dusun Mbah Bregas, Tuk Sibeduk, Ki Ageng Tunggul Wulung, dan Labuhan Merapi. 17

18 Selain itu terdapat 7 museum dan monumen (Jogja Kembali, Dirgantara Mandala, Geologi dan Mineral UPN, Affandi, Nyoman Gunarsa, Ulen Sentalu, Pancasila Sakti). Wisata minat khusus meliputi wisata pedesaan di 9 desa budaya (Brayut, Tanjung, Sambi, Grogol, Mlangi, Candi Abang, Plempoh, Srowolan, Pajangan), 3 desa pertanian (Jamur, Garongan, Bokesan), 4 desa agro (Gabugan, Jambu, Trumpon, Kelor), desa fauna (Ketingan), 5 desa kerajinan (Sendari, Brajan, Gamplong, Sangubanyu, Malangan), dan 4 desa wisata alam (Kaliurang Timur, Turgo, Kinahreja, Tunggularum), wisata pendidikan di 5 perguruan tinggi negeri dan 28 perguruan tinggi swasta serta wisata olah raga dengan fasilitas 3 lapangan golf, 2 stadion, 9 kolam renang, dan jalur tracking di Lereng Merapi. Sarana pendukung pariwisata yang dapat berfungsi sebagai tempat MICE (Meeting, Incentive Tour, Conference, dan Exhibition), yaitu 14 hotel berbintang (1.723 kamar), 85 hotel non-bintang (1.290 kamar), dan 127 pondok wisata (564 kamar), 12 restoran (tipe talam gangsa 7 buah dan tipe talam seloka 5 buah), 98 rumah makan (kelas A 7 buah, kelas B 36 buah, dan kelas C 55 buah), 43 biro perjalanan wisata, 19 cabang biro perjalanan wisata, dan 4 agen perjalanan wisata. Sarana rekreasi dan hiburan umum meliputi 11 kafe, 8 balai pertemuan umum, teater terbuka, teater tertutup, dan panggung terbuka. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata di wilayah Kabupaten Sleman pada tahun 1998 mencapai orang, menjadi orang pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata 5,71% per tahun. 9). Air bersih Pemenuhan kebutuhan air bersih penduduk Kabupaten Sleman berasal dari 2 mata air dan 18 sumur bor, dan dilayani melalui 12 kantor cabang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), yaitu Kantor Cabang Sleman, Godean, Depok, Pakem, Ngemplak, Tambakrejo, Mlati, Sidomoyo, Nogotirto, Ngaglik, Berbah, dan Prambanan. Sampai dengan tahun 2004 banyaknya pelanggan sambungan rumah (SR) dengan cakupan pelayanan 13,11% dari jumlah penduduk. 4. Kondisi Sosial Budaya a. Kependudukan 18

19 Dalam kurun waktu 1999 sampai dengan 2003, banyaknya penduduk Kabupaten Sleman meningkat dari orang pada tahun 1999 menjadi orang pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata 1,35% per tahun. Banyaknya pendatang di Kabupaten Sleman selama 5 tahun terakhir orang dan banyaknya penduduk yang pindah orang, sehingga terjadi migrasi masuk neto sebanyak orang. Pertambahan penduduk alami selama 5 tahun sebesar orang. b. Kesehatan Derajad kesehatan merupakan pencerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan usia harapan hidup, angka kematian bayi (per kelahiran hidup), angka kematian ibu melahirkan (per persalinan), dan status gizi. Selama periode tahun , usia harapan hidup meningkat dari 71,50 tahun menjadi 72,84 tahun, angka kematian bayi (AKB) mengalami penurunan dari 11,25 per menjadi 8,47 per 1.000, angka kematian ibu (AKI) mengalami penurunan dari 84,60 per menjadi 76,19 per Proporsi penduduk dengan gizi lebih mengalami penurunan dari 1,71% menjadi 1,24%; gizi baik meningkat dari 85,92% menjadi 87,55%; gizi kurang menurun dari 11,47% menjadi 10,47%; dan gizi buruk menurun dari 0,90% menjadi 0,74%. c. Pendidikan Perkembangan pendidikan di Kabupaten Sleman dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). APK untuk SD 110,26% pada tahun 1999 menurun menjadi 109,17% pada tahun 2003, APK untuk SMP 97,02% pada tahun 1999 menurun menjadi 84,43% pada tahun 2003, APK untuk SMA/SMK 81,25% pada tahun 1999 menurun menjadi 74,28% pada tahun APM untuk SD 96,02% pada tahun 1999 menjadi 93,51% pada tahun 2003, untuk SMP 68,76% pada tahun 1999 menjadi 58,95% pada tahun 2003, dan untuk SMA/SMK 53,45% pada tahun 1999 menjadi 52,12% pada tahun Selama periode tahun 1999 sampai dengan tahun 2003, rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan dari 9,26 tahun pada tahun 1999 menjadi 10,25 tahun pada tahun 2003, sedangkan angka melek huruf mengalami 19

20 peningkatan dari 86,35% pada tahun 1999 menjadi 90,87% pada tahun Pada tahun 2003, di Kabupaten Sleman terdapat 5 perguruan tinggi negeri dengan jumlah mahasiswa orang dan 30 perguruan tinggi swasta dengan jumlah mahasiswa kurang lebih orang. d. Generasi muda dan olah raga Pembinaan generasi muda dilakukan melalui 13 organisasi kepemudaan tingkat Kabupaten dan 96 organisasi tingkat desa. Sarana pembinaan generasi muda yang tersedia di wilayah Kabupaten Sleman meliputi: 5 pondok pemuda, 1 buah youth center, 9 lokasi bumi perkemahan, 4 gelanggang mahasiswa, 3 padepokan, 1 sanggar kegiatan belajar (SKB), dan 75 gedung serbaguna. Pembinaan olah raga dilakukan melalui 18 organisasi cabang olah raga dan 20 kelompok olah raga masyarakat tingkat Kabupaten serta 25 kelompok olah raga masyarakat tingkat Kecamatan. Sarana pembinaan olah raga yang tersedia di wilayah Kabupaten Sleman meliputi: 99 lapangan sepak bola, 423 lapangan bola volley, 374 lapangan bulu tangkis, 456 buah meja tenis, 86 lapangan tenis, 53 lapangan bola basket, 3 lapangan sepak takraw, 1 lapangan tembak, 3 lapangan golf, 4 lapangan panahan, 1 ring tinju, 11 kolam renang, 4 lokasi panjat tebing. e. Ketenagakerjaan 1). Penduduk usia kerja Penduduk usia kerja (15-64 tahun) selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 2,67% per tahun, yaitu dari orang tahun 1999 menjadi orang tahun ). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu banyaknya angkatan kerja dari setiap 100 orang penduduk selama kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami perubahan yang bervariasi. Angka TPAK menurun rata-rata 0,40% per tahun dari 61,25 pada tahun 1999 menjadi 60,27 pada tahun ). Angka Beban Tanggungan Angka beban tanggungan menurun dari 44,46 pada tahun 1999 menjadi 39,45 pada tahun Hal ini berarti bahwa pada tahun 2003, setiap 100 orang penduduk Kabupaten Sleman yang berusia produktif 20

BAB IV VISI DAN MISI

BAB IV VISI DAN MISI BAB IV VISI DAN MISI A. DASAR FILOSOFIS Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah memerlukan satu filosofi pembangunan yang memiliki cakrawala yang luas dan mampu menjadi pedoman bagi daerah untuk

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA A. DASAR FILOSOFIS PERENCANAAN DAERAH Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 20 tahun dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemerintah

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN 5.1. DASAR FILOSOFIS Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah memerlukan satu filosofi pembangunan yang memiliki cakrawala yang luas dan mampu menjadi pedoman

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1. TINJAUAN UMUM DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Pembagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara administratif yaitu sebagai berikut. a. Kota Yogyakarta b. Kabupaten Sleman

Lebih terperinci

BAB II PROFIL DAERAH KABUPATEN SLEMAN & BADAN NARKOTIKA NASIONAL KABUPATEN SLEMAN

BAB II PROFIL DAERAH KABUPATEN SLEMAN & BADAN NARKOTIKA NASIONAL KABUPATEN SLEMAN BAB II PROFIL DAERAH KABUPATEN SLEMAN & BADAN NARKOTIKA NASIONAL KABUPATEN SLEMAN A. Profil Daerah Kabupaten Sleman 1. Letak dan Luas Wilayah a. Letak Wilayah Secara Geografis Kabupaten Sleman terletak

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2011-2015 Diperbanyak oleh: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

BAPPEDA KAB. LAMONGAN

BAPPEDA KAB. LAMONGAN BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1 Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Untuk Masing masing Misi Arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Lamongan tahun

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 VISI Dalam periode Tahun 2013-2018, Visi Pembangunan adalah Terwujudnya yang Sejahtera, Berkeadilan, Mandiri, Berwawasan Lingkungan dan Berakhlak Mulia. Sehingga

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. VISI PEMBANGUNAN Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2008 tentang

Lebih terperinci

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH 3.1. Visi Berdasarkan kondisi masyarakat dan modal dasar Kabupaten Solok saat ini, serta tantangan yang dihadapi dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang, maka

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 Oleh: BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KABUPATEN MALANG Malang, 30 Mei 2014 Pendahuluan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004

Lebih terperinci

BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Pada hakekatnya, Visi merupakan cara pandang jauh ke depan tentang cita-cita atau kondisi ideal yang diinginkan di masa depan dengan memperhatikan

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN

BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN 3.1 Data Lokasi Gambar 30 Peta Lokasi Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 62 1) Lokasi tapak berada di Kawasan Candi Prambanan tepatnya di Jalan Taman

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN BANYUMAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN BANYUMAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUMAS, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

BAB 6 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB 6 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB 6 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komprehensif tentang bagaiman pemerintah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien. Dengan

Lebih terperinci

BUPATI SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA TAHUN 2014

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Tabel IX-1 Indikator Kinerja Daerah Menurut Sasaran Strategis SASARAN INDIKATOR KINERJA Misi satu : Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang melalui peningkatkan

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi,

Rencana Pembangunan Jangka Menengah strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi, BAB VI. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien.

Lebih terperinci

BAB 7 KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

BAB 7 KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH BAB 7 KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH 7.1 Kebijakan Umum Perumusan arah kebijakan dan program pembangunan daerah bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kerangka Ekonomi Daerah dan Pembiayaan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi didefinisikan sebagai suatu kondisi ideal masa depan yang ingin dicapai dalam suatu periode perencanaan berdasarkan pada situasi dan kondisi saat ini.

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Development is not a static concept. It is continuously changing. Atau bisa

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA BAB IX PENETAPAN INDIKATOR Pada akhir tahun kedua pelaksanaan Tahun 2011-2015, terjadi dinamika dalam pencapaian target kinerja daerah, antara lain beberapa indikator telah tercapai jauh melampaui target

Lebih terperinci

MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017

MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 Prioritas Misi Prioritas Meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan wilayah 2 1 jalan dan jembatan Kondisi jalan provinsi mantap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Dasar Hukum pembentukan Kabupaten Sleman adalah Undang Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta JO PP Nomor 3 Tahun 1950 sebagaimana telah

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH 4.1 VISI KABUPATEN BENGKULU TENGAH

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH 4.1 VISI KABUPATEN BENGKULU TENGAH BAB IV VISI DAN MISI DAERAH 4.1 VISI KABUPATEN BENGKULU TENGAH Bengkulu Tengah yang Lebih Maju, Sejahtera, Demokratis, Berkeadilan, Damai dan Agamis 1. Maju, yang diukur dengan : (a) meningkatnya investasi;

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH ISTIMEWA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH ISTIMEWA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH ISTIMEWA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KELEMBAGAAN PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG NOMOR : 7 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG NOMOR : 7 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN DAERAH NOMOR : 7 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BAGIAN ORGANISASI SETDA TAHUN 2008 PEMERINTAH PERATURAN DAERAH NOMOR : 7 TAHUN 2008

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KAWASAN

BAB III TINJAUAN KAWASAN BAB III TINJAUAN KAWASAN 3.1. Tinjauan Wilayah D.I. Yogyakarta 3.1.1. Kondisi Geografis Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 110º.00-110º.50 Bujur Timur dan antara 7º.33-8 º.12 Lintang Selatan. Secara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Strategi dan Arah Kebijakan

Strategi dan Arah Kebijakan dan Dalam rangka pencapaian visi dan misi yang diuraikan dalam tujuan dan sasaran, penyusunan strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan. adalah langkah-langkah

Lebih terperinci

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Pembangunan Daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan

Lebih terperinci

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Tahun Anggaran 2010 DAFTAR TABEL

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Tahun Anggaran 2010 DAFTAR TABEL Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Tahun Anggaran 2010 DAFTAR TABEL Tabel 1.1. Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Sleman... 2 Tabel 1.2. Jumlah bangunan rumah tempat tinggal menurut kecamatan.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD

Lebih terperinci

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH A. VISI DAN MISI Penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten Wonosobo tahun 2012 merupakan periode tahun kedua dari implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Lebih terperinci

BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta Gambaran Umum Wilayah Sleman

BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta Gambaran Umum Wilayah Sleman BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA 3.1. Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta 3.1.1. Gambaran Umum Wilayah Sleman Luas Wilayah Kabupaten Sleman adalah 57.482 Ha atau

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi merupakan cara pandang ke depan tentang kemana Pemerintah Kabupaten Belitung akan dibawa, diarahkan dan apa yang diinginkan untuk dicapai dalam kurun

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS A. Permasalahan Pembangunan Dari kondisi umum daerah sebagaimana diuraikan pada Bab II, dapat diidentifikasi permasalahan daerah sebagai berikut : 1. Masih tingginya angka

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

SEKRETARIAT SUB BAGIAN KEUANGAN DAN ASET SUB BAGIAN PROGRAM EVALUASI DAN PELAPORAN BIDANG SEKOLAH MENENGAH UMUM

SEKRETARIAT SUB BAGIAN KEUANGAN DAN ASET SUB BAGIAN PROGRAM EVALUASI DAN PELAPORAN BIDANG SEKOLAH MENENGAH UMUM DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN MANOKWARI 1 LAMPIRAN I PERATURAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN TAMAN KANAK- KANAK SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SEKOLAH MENENGAH

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN A. Visi Mengacu kepada Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Semarang Tahun

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA PEMERINTAH PROVINSI PAPUA PERATURAN DAERAH KHUSUS PROVINSI PAPUA NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PEREKONOMIAN BERBASIS KERAKYATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI PAPUA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH 6.1. STRATEGI Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif utuk mewujudkan visi dan misi. Satu strategi dapat terhubung

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJM-D) KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2008-2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan merupakan upaya pemerintah daerah secara keseluruhan mengenai cara untuk mencapai visi dan melaksanakan misi, melalui penetapan kebijakan dan program

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (pilkada).

Lebih terperinci

VISI TERWUJUDNYA KABUPATEN MANOKWARI SELATAN YANG AMAN, DAMAI, MAJU DAN SEJAHTERA SERTA MAMPU BERDAYA SAING

VISI TERWUJUDNYA KABUPATEN MANOKWARI SELATAN YANG AMAN, DAMAI, MAJU DAN SEJAHTERA SERTA MAMPU BERDAYA SAING VISI DAN MISI MARKUS WARAN, ST DAN WEMPI WELLY RENGKUNG, SE CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN MANOKWARI SELATAN PILKADA 2015 ------------------------------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT

Lebih terperinci

Terwujudnya Pemerintahan yang Baik dan Bersih Menuju Masyarakat Maju dan Sejahtera

Terwujudnya Pemerintahan yang Baik dan Bersih Menuju Masyarakat Maju dan Sejahtera BAB - V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Visi Misi Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kabupaten Bengkulu Tengah merupakan rangkaian kegiatan pembangunan yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan,

Lebih terperinci

BAB VIII INDIKASI PROGRAM PRIORITAS

BAB VIII INDIKASI PROGRAM PRIORITAS BAB VIII INDIKASI PROGRAM PRIORITAS Pembangunan yang diprioritaskan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang mendesak yang memberikan dampak luas bagi masyarakat, sebagai berikut : 8.1. Indikasi Program

Lebih terperinci

REVISI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015

REVISI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 REVISI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintah yang efektif, transparan, akuntabel dan berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan : Tgk.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS IIV.1 Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Ngawi saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi lima tahun ke depan perlu mendapat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 5.1 Visi Otonomi daerah dengan desentralisasi kewenangan yang ada mengedepankan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berkontribusi pada pengembangan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATAKERJA DINAS DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun Anggaran 2014

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun Anggaran 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Sesuai amanat Pasal 70 ayat (4) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 bahwa Kepala Daerah wajib menyampaikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) kepada Menteri

Lebih terperinci

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH A. Visi dan Misi 1. Visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sleman 2005-2010 menetapkan visi yang merupakan cita-cita yang ingin dicapai, yaitu TERWUJUDNYA

Lebih terperinci

KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 LAMPIRAN PERJANJIAN KINERJA KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Lebih terperinci

2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun

2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun BAB 2 PERENCANAAN KINERJA 2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 Pemerintah Kabupaten Bogor telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) berdasarkan amanat dari Peraturan Daerah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH

ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH Pasal 45 Pasal 46 Pasal 47 Pasal 48 Pasal 49 Pasal 50 Pasal 51 Pasal 52 Pasal 53 Pasal 54 Pasal 55 Pasal 55 Pasal 56 Pasal 57 Pasal 58 Pasal 59 Pasal 60 Pasal 61 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR

Lebih terperinci

1. Mewujudkan tata pemerintahan yang amanah didukung oleh aparatur pemerintah yang profesional dan berkompeten. 2. Mewujudkan keamanan dan ketertiban

1. Mewujudkan tata pemerintahan yang amanah didukung oleh aparatur pemerintah yang profesional dan berkompeten. 2. Mewujudkan keamanan dan ketertiban 1. Mewujudkan tata pemerintahan yang amanah didukung oleh aparatur pemerintah yang profesional dan berkompeten. 2. Mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat serta kehidupan politik yang demokratis.

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN KINERJA BAB II PERENCANAAN KINERJA Pemerintah Kabupaten Demak Perencanaan strategik, sebagai bagian sistem akuntabilitas kinerja merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampu

Lebih terperinci

BAB 2 PERENCANAAN KINERJA. 2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun

BAB 2 PERENCANAAN KINERJA. 2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun BAB 2 PERENCANAAN KINERJA 2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 Pemerintah Kabupaten Bogor telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) berdasarkan amanat dari Peraturan Daerah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 821 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DINAS DAERAH KABUPATEN SERANG DITERBITKAN OLEH BAGIAN ORGANISASI

Lebih terperinci

BAB VI KEBIJAKAN UMUM

BAB VI KEBIJAKAN UMUM BAB VI KEBIJAKAN UMUM Visi sekaligus tujuan pembangunan jangka menengah Kota Semarang tahun 2005-2010 adalah SEMARANG KOTA METROPOLITAN YANG RELIGIUS BERBASIS PERDAGANGAN DAN JASA sebagai landasan bagi

Lebih terperinci

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5 VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Pembangunan di Kabupaten Murung Raya pada tahap ketiga RPJP Daerah atau RPJM Daerah tahun 2013-2018 menuntut perhatian lebih, tidak hanya untuk menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan

6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan BAB - VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Strategi adalah langkah-langkah berisikan program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi, yang dirumuskan dengan kriterianya

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang : a. bahwa keberadaan Lembaga Kemasyarakatan Desa dalam

Lebih terperinci

BAB 5. PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN

BAB 5. PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN BAB 5. PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN 5.1. Visi Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, guna

Lebih terperinci

TABEL 6.1 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

TABEL 6.1 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN TABEL 6.1 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi : Terwujudnya pemerintahan yang baik dan bersih menuju maju dan sejahtera Misi I : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang profesional, transparan, akuntabel

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Dasar Hukum pembentukan Kabupaten Sleman adalah Undang Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta JO PP Nomor 3 Tahun 1950 sebagaimana telah

Lebih terperinci

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG Misi untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman dan berkualitas tinggi merupakan prasyarat mutlak untuk dapat mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sumberdaya manusia yang

Lebih terperinci

V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN

V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Visi dan misi merupakan gambaran apa yang ingin dicapai Kota Surabaya pada akhir periode kepemimpinan walikota dan wakil walikota terpilih, yaitu: V.1

Lebih terperinci

TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT

TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Sebagaimana dijelaskan pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bahwa visi merupakan rumusan umum mengenai keadaan yang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 21 TAHUN 2006 T E N T A N G PEDOMAN PENYUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAHAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN KINERJA BAB II PERENCANAAN KINERJA Sebagai langkah awal untuk melakukan pengukuran kinerja Pemerintah Kota Depok, diperlukan perumusan suatu perencanaan strategik yang merupakan integrasi antara keahlian sumber

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN - 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG. PEDOMAN PENDIRIAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG. PEDOMAN PENDIRIAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes) PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENDIRIAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes) BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TANAH BUMBU TAHUN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN MUATAN LOKAL KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN 5.1. DASAR FILOSOFIS Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah memerlukan satu filosofi pembangunan yang memiliki cakrawala yang luas dan mampu menjadi pedoman

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGAWI, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTABARU,

Lebih terperinci

PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN

PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN 2010 2014 A. PENDAHULUAN Program Legislasi Nasional (Prolegnas) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

Lebih terperinci

BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. Visi dan Misi 1. Visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sleman 2010-2015 menetapkan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN 5.1 Visi 2014-2018 adalah : Visi pembangunan Kabupaten Bondowoso tahun 2014-2018 TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN

Lebih terperinci

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah BAB III AKUNTABILITAS KINERJA A. PENGUKURAN KINERJA Pengukuran kinerja digunakan untuk menilai kean dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran

Lebih terperinci

BAB III VISI, DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN

BAB III VISI, DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN BAB III VISI, DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2005-2025 3.1. Visi Ada beberapa unsur yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun visi dan misi daerah, yaitu mandat dan perubahan-perubahan yang terjadi

Lebih terperinci

RPJMD Kota Pekanbaru Tahun

RPJMD Kota Pekanbaru Tahun RPJMD Kota Pekanbaru Tahun 2012-2017 BAB V VISI, MISI, DAN V - 1 Revisi RPJMD Kota Pekanbaru Tahun 2012-2017 5.1. VISI Dalam rangka mewujudkan pembangunan jangka panjang sebagaimana tercantum di dalam

Lebih terperinci