Mengenal lebih dekat GIS melalui Pelatihan GIS Dasar bagi Pokja REDD

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Mengenal lebih dekat GIS melalui Pelatihan GIS Dasar bagi Pokja REDD"

Transkripsi

1 Juli Agustus 2009 Volume 3 Edisi kali ini: Mengenal lebih dekat GIS melalui Pelatihan GIS Dasar bagi Pokja REDD Kajian Kebijakan dan Kelembagaan Program Karbon Hutan Field Survey Potensi Emisi Karbon Kabupaten Berau Presentasi TNC mengenai Program REDD Pelatihan Penginderaan Jauh Wall to wall Mapping Workshop Metodologi REDD: Pembelajaran dari Demonstration Activities Agenda ke depan 6 Mengenal lebih dekat GIS melalui Pelatihan GIS Dasar bagi Pokja REDD S istem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi berbasis komputer yang mampu digunakan untuk meng-input data spatial termasuk data citra satelit, untuk selanjutnya dianalisis, dimanipulasi, disimpan dan ditampilkan dalam bentuk informasi yang lebih jelas seperti peta, grafik maupun tabel. SIG memiliki 5 komponen utama yakni perangkat keras komputer (Monitor, CPU, input devices dan output devices), perangkat lunak (software), sumber data, manusianya sebagai operator SIG dan seperangkat metode yang digunakan. Ada banyak perangkat lunak SIG yang tersedia di pasaran. Salah satunya yang cukup dikenal adalah ArcGIS 9x produksi ESRI. Penguasaan perangkat lunak SIG adalah kunci penting dalam pemanfaatan SIG dalam lingkup yang lebih kecil khususnya dalam bidang kerja sehari-hari. Diperlukan minimal 3 tahap untuk menguasai aplikasi ini yakni tahap pengenalan (introduction), analisis hingga pembuatan geo-database. Pengetahuan dan keterampilan penggunaan aplikasi ini sangat penting bagi anggota-anggota Kelompok Kerja REDD Kabupaten Berau yang nantinya akan berfungsi dalam pengolahan dan pengambilan keputusan pada implementasi program karbon hutan Berau. Melalui pelatihan ini setiap peserta diharapkan akan mampu dan memiliki pemahaman konsep remote sensing (RS) dan GIS secara baik dan dapat diterapkan sesuai dengan peruntukannya serta mampu mempraktekkan penggunaan ArcGIS 9x dengan baik sesuai kebutuhannya masing-masing pada bidang kerjanya. Pelaksanaan kegiatan pelatihan ini dititikberatkan pada praktek (80%) sehingga dalam pelaksanaannya banyak berlatih dengan data dan informasi spatial yang ada. Pelatih memberikan gambaran tentang konsep dasar dari Remote Sensing dan Sistem Informasi Geografi pada hari pertama. Kemudian dilanjutkan dengan konsep bidang proyeksi permukaan bumi. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal Juli 2009 dengan diikuti oleh 12 orang peserta dari Dinas Kehutanan (6 orang); Dinas Pertambangan (1 orang); Dinas Tata Ruang dan Perumahan (1 orang); Dinas Perkebunaan (1 orang); PT Inhutani (1 orang); Yayasan Bestari (1 orang); TNC (1 orang); Sekretariat Pokja (1 orang) dengan 2 orang pelatih dari Yayasan Serasi Kelola Alam (SEKALA) yaitu Bagas dan Cicik. (Adji R)

2 Volume 3 Halaman 2 Kajian Kebijakan dan Kelembagaan Program Karbon Hutan Berau aska Conference of The Parties (COP) ke-13 UNFCCC di Bali pada akhir tahun 2007 yang lalu, Indonesia memutuskan untuk menjadi bagian dari pergerakan negara-negara berkembang yang berkomitmen dan beru- P paya untuk melindungi luasan dan kualitas hutannya bagi pengembangan suatu mekanisme insentif oleh negara -negara maju. Menyusul komitmen tersebut, Pemerintah Indonesia kemudian mengeluarkan sejumlah kebijakan seperti Pembentukan Dewan Nasional Perubahan Iklim melalui Peraturan Presiden No. 46 tahun 2008 dan Komisi REDD serta Penyelenggaraan Demonstration Activities Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. P.68/Menhut-II/2008 serta penetapan Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan dalam Kerangka REDD (Reducing Emission From Deforestation and Forest Degradation) dalam Kerangka Konvensi Perubahan Iklim. Pemerintah dan berbagai pihak yang memiliki program dan perhatian untuk isu-isu konservasi dan perlindungan hutan di Indonesia melihat betapa REDD merupakan suatu terobosan penting sekaligus memberi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas hutannya, dan adanya peluang memperoleh kompensasi bagi upaya-upaya pelestarian hutan. Namun disisi lain langkah-langkah bagi implementasi REDD tersebut juga membutuhkan berbagai perangkat pendukung terkait dengan isu-isu tertentu yang relevan seperti isu kebijakan, hukum, kelembagaan, keuangan dan mekanismenya, maupun menyangkut aspek-aspek teknis dan khusus di lapangan. IHSA juga mencatat misalnya bahwa REDD juga bersinggungan dengan sejumlah aspek seperti masyarakat, pembangunan, tata ruang, pertumbuhan penduduk, (potensi) tindak pidana maupun berbagai aspek perdata. Bahkan REDD, sekaligus menjadi sangat terkait dengan komitmen global sehingga dapat pula dikatakan ia memiliki dimensi internasional. The Nature Conservancy (TNC) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Berau bermaksud untuk menindaklanjuti komitmen Pemerintah RI tersebut dengan mengembangkan program REDD dalam suatu pilot project atau program karbon hutan dengan judul program Berau Forest Carbon Program yang selanjutnya disingkat BFCP. Dalam kaitan itu Institut Hukum Sumberdaya Alam (IHSA) kemudian turut bergabung untuk melakukan kajian dalam rangka menyusun basis kebijakan, hukum dan kelembagaan. Tujuan utama dari kajian ini adalah untuk memberikan usulan bentuk landasan hukum yang kuat berdasarkan hukum yang dikenal dan berlaku di wilayah Republik Indonesia serta model kelembagaan yang memadai bagi pelaksanaan BFCP yang akan dikembangkan di kawasan hutan lindung, hutan produksi maupun di kawasan perkebunan. Dalam melaksanakan kajian ini, IHSA juga bekerja sama dengan Universitas Balikpapan dalam sebuah tim. Tim ini kemudian melakukan diskusi intensif dengan berbagai pihak di Kabupaten Berau seperti Pemerintah Kabupaten, BKSDA Wilayah Berau serta dari kalangan swasta. Selain itu juga mengumpulkan berbagai dokumen terkait dengan kebijakan, tugas dan fungsi dari tiap lembaga baik pemerintah maupun lembaga lainnya sebagai bahan analisis. Proses ini dilakukan pada tanggal 27 Juli hingga 5 Agustus (diolah dari TOR Pengembangan Kerangka Hukum dan Kelembagaan Program Karbon Hutan di Berau dalam Konteks Tata Kelola Hutan yang Lestari/Iwied)

3 Volume 3 Halaman 3 Field Survey Potensi Emisi Karbon Kabupaten Berau S alah satu aspek penting dalam pengembangan program karbon hutan Berau adalah pengukuran emisi karbon pada beberapa tipe penggunaan lahan yang tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Berau. Tujuan pengukuran dan pengambilan data ini adalah untuk mengetahui potensi emisi karbon yang dihasilkan pada tiap penggunaan lahan, juga untuk mengetahui sejarah perubahan lahan yang akan berpengaruh pada perubahan emisi karbon serta untuk mengetahui penyebab utama perubahan-perubahan tersebut (sering disebut dengan driver factor ). Kegiatan pengambilan dan pengumpulan data dilakukan bekerja sama dengan World Agroforestry Center (WAC/ICRAF), Center for Social Forestry Unmul (CSF UNMUL) beserta The Nature Conservancy (TNC) yang dilaksanakan sejak tanggal 27 Juli 21 Agustus Lokasi pengambilan sampel ditentukan berdasarkan status, aksesibilitas dan topografi pada beberapa tipe penggunaan lahan. Objek penelitian di lapangan adalah mulai dari tumbuhan bawah seperti serasah, biomassa, nekromassa yang diambil samplenya masing-masing untuk dilakukan analisis lebih jauh di Laboratorium kemudian juga tumbuhan tingkat atas yang berupa pohon diambil data diameter pohon. Tipe-tipe lahan dan jenis-jenis pohon yang dijadikan sampel penelitian antara lain: Kebun kopi; Kebun kakao; Kebun kelapa; Kebun karet; Kebun sawit; Hutan Tanaman Industri (Sengon, Akasia, Jati dan Gmelina); Hutan Primer; Hutan Bekas Tebangan (Kerapatan rendah, sedang dan tinggi) serta Ladang (umur 1 tahun, 2 tahun dan 7 tahun). Berbagai tipe lahan tersebut terdapat di desa Bangun, Meraang, Batubatu, Gurimbang, Labanan, sedangkan untuk wilayah konsesi HPH terdapat di PT Sumalindo Lestari Jaya IV, PT Amindo Wana Persada, PT Tanjung Redeb Hutani dan perkebunan PT Dwi Wira Lestari. Tim WAC dan Unmul juga memberikan pelatihan pengukuran stok karbon kepada anggota Pokja REDD Berau pada tanggal 18 Agustus 2009 di Sekretariat dan Areal PT Inhutani 2 (bekas kantor BFMP). Dalam pelatihan ini dijelaskan metode yang digunakan dalam pengumpulan data serta ringkasan data awal yang telah dikumpulkan oleh tim lapangan. (Iwied)

4 Volume 3 Halaman 4 Presentasi TNC mengenai Program REDD kepada Menteri Kehutanan T he Nature Conservancy (TNC) bersama-sama dengan tim kerja Program Karbon Hutan Berau mendapatkan kesempatan melakukan presentasi kepada Menteri Kehutanan dan jajaran eselon I Departemen Kehutanan untuk menyampaikan kemajuan program REDD di Berau sekaligus mendiskusikan tantangan -tantangan yang ada, serta rekomendasi tindak lanjut yang diperlukan. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2009 bertempat di Departemen Kehutanan ini diawali dengan penjabaran mengenai organisasi TNC dan program kehutanan di TNC Indonesia termasuk penjelasan mengenai program REDD di Berau. TNC memandang REDD sebagai salah satu alat untuk mencapai Sustainable Natural Resource Management melalui peningkatan kapasitas institusi, perbaikan tata ruang dan penghitungan karbon di tingkat kabupaten. Hal ini terkait dengan pengelolaan sumber daya alam yang semuanya berujung pada pencapaian pembangunan yang berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi. Penjelasan mengenai program REDD di Berau mencakup alasan-alasan pemilihan Berau sebagai demonstrasi program REDD di TNC, struktur kerja dan mekanisme, kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, progres kegiatan yang sedang berlangsung serta rencana kegiatan yang akan datang. Ditekankan juga bahwa peran TNC lebih banyak sebagai fasilitator dan advisor dan sama sekali tidak mempunyai niat atau rencana untuk mendapatkan keuntungan atau bagian dari dana yang nantinya didapatkan melalui penjualan karbon. Selain TNC, Pemda Berau dan para mitra dalam program ini juga melakukan presentasi terkait dengan peran dan progres kegiatan mereka, serta penjelasan-penjelasan teknis. Para mitra tersebut adalah, Universitas Mulawarman, World Education, World Agroforestry Center (ICRAF) dan Institut Hukum Sumber Daya Alam (IHSA). Terdapat banyak masukan, saran dan juga beberapa pertanyaan baik dari Bapak Menteri maupun para peserta pertemuan. Beberapa hal penting yang dibahas pada pertemuan ini antara lain: Pemahaman tentang REDD: Dalam lingkup nasional, di Indonesia masih banyak terdapat pemahaman yang berbeda mengenai REDD terutama yang dimaksud dengan skema pendanaan REDD sebagai salah satu sarana pemberian insentif yang diberikan untuk mendanai kegiatan. Oleh karena itu, diperlukan penjelasan mengenai definisi REDD terutama kepada pemerintah daerah khususnya mengenai mekanisme pemberian insentif. Landasan hukum: TNC melalui mitranya IHSA mengusulkan pembuatan SK Khusus Penunjukkan untuk pelaksanaan model pengembangan REDD di Berau sebagai lokasi demonstration activity agar memudahkan proses pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. SK Khusus ini sebaiknya dibuat dengan melalui proses konsultasi dengan para pemangku kepentingan. Tata ruang: Masih banyak status quo pada tata ruang. Terdapat juga banyak perbedaan atau hal-hal yang belum terintegrasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Terdapat potensi leakage mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Kepastian kawasan baik di kawasan kehutanan dan non kehutanan juga menjadi sangat penting untuk menghindari permasalahan di depan ketika kita menetapkan kawasan tersebut sebagai area yang berpartisipasi untuk program REDD terutama terkait dengan pembagian insentif. Pendanaan: Saat ini masih terdapat ketidak jelasan mengenai sumber dana untuk pelaksanaan REDD. Pembentukan Indonesia Trust Fund sedang dalam proses dan secara prinsip telah disetujui. Mekanisme pemberian insentif atau keuntungan: Perlu kejelasan dalam bentuk regulasi mengenai mekanisme pemberian insentif jika REDD diimplementasikan. Yang perlu diperhatikan adalah insentif untuk negara, propinsi, kabupaten dan juga masyarakat. Tanpa keterlibatan masyarakat lokal, eksploitasi hutan masih akan dilakukan (oleh masyarakat lokal). Jadi yang harus diutamakan adalah benefit atau keuntungan untuk mereka. Masyarakat lokal harus mendapat bagian yang semestinya dari insentif yang diberikan. Dalam hal ini, pemerintah harus mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan insentif atau keuntungan. Kita harus menempatkan masyakarat sebagai prioritas utama. Tanpa mereka REDD tidak akan berhasil. (Alfan S.)

5 Volume 3 Halaman 5 Pelatihan Penginderaan Jauh Wall to wall Mapping Salah satu komitmen kerjasama yang dibangun oleh SEKALA dengan POKJA REDD Berau adalah adanya transfer pengetahuan terutama di bidang pengelolaan data spatial yang bisa diaplikasikan dalam kegiatan REDD di Berau. Sebagai lanjutan dari seri pelatihan yang dilakukan, kali ini dilaksanakan pelatihan Pemetaan Sejarah Perubahan Lahan Hutan dengan Penginderaan Jauh (Wall To Wall Mapping dengan Metode Decision Tree Data Mining) yang dilaksanakan pada tanggal Agustus 2009 di Sekretariat Sekala, Canggu, Bali. Kegiatan ini diikuti 13 peserta dari berbagai daerah terutama daerah yang menjalin hubungan kerjasama dengan Sekala baik dari instansi pemerintah maupun NGO. Dari Instansi Pemerintah terdapat perwakilan dari BAPPEDA Kab. Kapuas Hulu Prop. Kalbar, BPKH Wil. X Jayapura, DISHUT Kab. Berau Prop. Kaltim. Sedangkan Perwakilan dari NGO terdapat perwakilan KKI-Warsi Jambi, POKJA REDD Kab. Berau, PPSDAK Pancur Kasih Pontianak, WA TALA Lampung, Forest Watch Indonesia, Java Learning Center (Javlec), serta Fauna Flora International. Pelatihan yang dibuka langsung oleh Bapak Ketut Deddy selaku Direktur SEKALA ini menyampaikan beberapa metode yang efektif guna memantau perubahan hutan, laju kerusakan hutan (deforestasi dan degradasi hutan), dan atau sebaliknya memantau keberhasilan hutan tanaman dan pertumbuhan hutan (reforestasi). Program ini dapat juga digunakan secara luas pada bidang lain, misalnya penyusunan baseline skenario dalam REDD (Reduced Emissions from Avoided Deforestation and Degradation). Materi juga disampaikan oleh Matt Hansen yang secara khusus mejelaskan bagaimana sebuah citra dapat memberikan sebuah informasi per pixel berdasarkan pendekatan tree algoritma. Materi inti pelatihan ini adalah Mapping and monitoring Intact Forest Landscapes (IFL) yang disampaikan oleh Mark Broich dari The Geographic Information Science Center of Excellence (GIScCE) South Dakota State University. Pada tahap pelatihan peserta diharapkan dapat menyatukan persepsi tentang sebuah informasi dalam sebuah citra dan kemudian melakukan update IFL tahun 2000 dan 2005 yang dibuat Greenpeace dengan beberapa informasi penting yang perlu diperhatikan seperti jalur logging, jalan, pemukiman baru, pembukaan lahan baik untuk perkebunan maupun sektor kehutanan. Untuk jalur logging dan jalan ada perlakuan khusus yaitu buffer 1 km. Untuk hari 2-4 kami melaksanakan update IFL untuk Pulau Kalimantan yang dibagi dalam 3 kelompok, analisis data menggunakan program ArcGis 3.3. Materi tambahan lainnya adalah bagaimana menghilangkan awan pada sebuah citra karena prosesnya sangat lama serta membutuhkan space computer yang sangat tinggi terpaksa peserta hanya bisa melihat bagaimana prosesnya, akan tetapi metodenya atau logikanya bisa diserap peserta dimana pada setiap citra memiliki nilai (digital number) perpixelnya nanti pixel yang memiliki digital number sama dengan awan akan terhapus. Pada sesi terakhir panitia mengharapkan saran dan masukan terhadap pelaksanaan kegiatan ini, dan kemungkinan besar masih akan ada lagi pelatihan lanjutan mengenai pengelolaan data spatial. (Adji R.)

6 Workshop Metodologi REDD: Pembelajaran dari Demonstration Activities Informasi lebih lanjut mengenai REDD Program, kontak : Iwied Wahyulianto Koordinator Sekretariat POKJA REDD Kab. Berau Jln. Anggur No 265 Tanjung Redeb, Berau Telp/Fax ; Hamzah As-Saied Dinas Kehutanan Kab. Berau Jl. Pulau Sambit No 1 Tanjung Redeb Fakhrizal Nashr Berau Program Leader The Nature Conservancy JL. Cempaka No. 7 - RT 07/ RW 07 Berau Tel Hp.: Alfan Subekti REDD Field Manager The Nature Conservancy Jalan Polantas No. 5, Markoni, Balikpapan, 76112, Telp.: Fax.: Untuk mendapatkan kompensasi melalui skema REDD (reduced emissions from deforestation), Negara-Negara berkembang memerlukan metodologi yang efektif (diterima secara luas, kredible dan bersifat ilmiah) dalam pengukuran dan monitoring pelaksanaan REDD tersebut. Untuk mencapai tujuan ini harus disepakati bersama metodologi dalam menentukan baseline. Metodologi-metodologi ini harus dapat diterapkan secara efektif dalam melihat perubahan potensi karbon pada berbagai tipe tutupan hutan dan juga dapat diimplementasikan dengan melibatkan partisipasi masyarakat lokal. Pertanyaan kunci yang muncul adalah bagaimana memastikan kegiatan implementasi yang berhasil di tingkat proyek atau daerah (sub nasional) dan dilakukan pada tingkat nasional. Pembelajaran dari pengembangan demonstration activities yang dilakukan berbagai daerah sangatlah penting dalam rangka menyusun program bersama di tingkat nasional. Workshop ini digagas oleh Center for Climate Risk and Opportunity Management (CCROM) in Southeast Asia and Pasific bekerjasama dengan Center for International Forestry Research (CIFOR) bertempat di IPB Convention Center Bogor pada tanggal Agustus Kegiatan yang dihadiri dari berbagai utusan daerah seperti Aceh, Kaltim, Kalteng, Papua, Jambi; perwakilan dari lembaga-lembaga non pemerintah yang peduli pada isu perubahan iklim, Departemen Kehutanan dan kalangan akademisi ini juga sekaligus merupakan peresmian (launching) CCROM yang dipimpin oleh Bapak Rizaldi Boer. Dalam kegiatan ini disampaikan beragam pengalaman dari berbagai pihak sudah memulai program REDD di daerahnya masing-masing dengan pendekatan yang berbedabeda. Aceh menyampaikan pengalamannya dalam pengembangan program di kawasan hutan Ulu Masen; Papua dengan berbagai kawasan hutannya yang masih bagus bekerjasama dengan berbagai lembaga konservasi; juga ada pengalaman dari Latin yang dilakukan di Taman Nasional Meru Betiri. Sedangkan Untuk program karbon hutan Berau dipresentasikan oleh bapak Wahyudi Wardoyo dari The Nature Conservancy. Beliau menyampaikan berbagai tahapan program yang disusun bersama dan capaian sampai saat ini. (iwied) Agenda bulan September Pertemuan dan Diskusi dengan rombongan Agence France Development (AFD) dan CIRAD 2. Pertemuan pimpinan kelompok bersama dengan mitra dan konsultan 3. Pelatihan REDD Kaltim kerjasama TNC dengan GTZ Pokja REDD Updates merupakan lembar informasi internal bagi seluruh anggota Pokja REDD Kabupaten Berau yang diterbitkan oleh Sekretariat Pokja REDD Kabupaten Berau setiap akhir bulan untuk memberikan berbagai perkembangan program REDD di Kabupaten Berau Sekretariat menerima tulisan dari semua pihak yang ingin terlibat aktif dalam program REDD di Kabupaten Berau. Foto-foto: Sekretariat Pokja REDD Kabupaten Berau (halaman 1 dan 5); Tim IHSA (halaman 2) dan Tim CSF-Unmul (halaman 3)

Joint Working Group II

Joint Working Group II Volume 4 September Oktober 2009 Edisi kali ini: Joint Working Group II Joint Working Group II 1 Mengenal lebih dekat dengan REDD, apa dan bagaimana..? 2 FGD:Mempertajam 3 hasil kajian Pengembangan Kerangka

Lebih terperinci

dan Mekanisme Pendanaan REDD+ Komunikasi Publik dengan Tokoh Agama 15 Juni 2011

dan Mekanisme Pendanaan REDD+ Komunikasi Publik dengan Tokoh Agama 15 Juni 2011 Strategi Nasional, Pengembangan Kelembagaan, dan Mekanisme Pendanaan REDD+ Komunikasi Publik dengan Tokoh Agama 15 Juni 2011 Perhatian khusus terhadap hutan bukan hal baru 2007 2008 2009 Jan 2010 Mei 2010

Lebih terperinci

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF LEMBAR FAKTA 2014 GAMBARAN SEKILAS Praktek-Praktek REDD+ yang Menginspirasi MEMBANGUN DASAR KERANGKA PENGAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA Apa» Kemitraan dengan Ratah

Lebih terperinci

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF LEMBAR FAKTA 2014 GAMBARAN SEKILAS Praktik-Praktik REDD+ yang Menginspirasi MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT MELALUI PENGUKURAN KARBON PARTISIPATIF DI INDONESIA Apa» Pengukuran karbon

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEHUTANAN BADAN LITBANG KEHUTANAN PUSAT LITBANG PERUBAHAN IKLIM DAN KEBIJAKAN

KEMENTERIAN KEHUTANAN BADAN LITBANG KEHUTANAN PUSAT LITBANG PERUBAHAN IKLIM DAN KEBIJAKAN TROPICAL FOREST CONSERVATION FOR REDUCING EMISSIONS FROM DEFORESTATION AND FOREST DEGRADATION AND ENHANCING CARBON STOCKS IN MERU BETIRI NATIONAL PARK, INDONESIA ITTO PD 519/08 REV.1 (F) KEMENTERIAN KEHUTANAN

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Kabar dari Tim Pendamping Pengelolaan Hutan Bersama Hulu Sungai Malinau

Kabar dari Tim Pendamping Pengelolaan Hutan Bersama Hulu Sungai Malinau Kabar dari Tim Pendamping Pengelolaan Hutan Bersama Hulu Sungai Malinau No. 6, September 2001 Bapak-bapak dan ibu-ibu yang baik, Salam sejahtera, jumpa lagi dengan Tim Pendamping Pengelolaan Hutan Bersama.

Lebih terperinci

Kemitraan untuk REDD+ : Lokakarya Nasional bagi Pemerintah dan Masyarakat Sipil MEMAHAMI KONSEP REDD : ADDITIONALITY, LEAKAGE & PERMANENCE

Kemitraan untuk REDD+ : Lokakarya Nasional bagi Pemerintah dan Masyarakat Sipil MEMAHAMI KONSEP REDD : ADDITIONALITY, LEAKAGE & PERMANENCE Kemitraan untuk REDD+ : Lokakarya Nasional bagi Pemerintah dan Masyarakat Sipil MEMAHAMI KONSEP REDD : ADDITIONALITY, LEAKAGE & PERMANENCE Muhammad Ridwan 17 Maret 2010 Bahan disarikan dari beberapa tulisan

Lebih terperinci

Rekomendasi Kebijakan Penggunaan Toolkit untuk Optimalisasi Berbagai Manfaat REDD+

Rekomendasi Kebijakan Penggunaan Toolkit untuk Optimalisasi Berbagai Manfaat REDD+ Rekomendasi Kebijakan Penggunaan Toolkit untuk Optimalisasi Berbagai Manfaat REDD+ Dr. Henry Barus Konsultan UN-REDD untuk Optimalisasi Multiple Benefit REDD+ Disusun Berdasarkan Pengalaman dan Evaluasi

Lebih terperinci

Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan

Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan Iman Santosa T. (isantosa@dephut.go.id) Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumberdaya Hutan

Lebih terperinci

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan ISSN : 2085-787X Volume 5 No. 2 Tahun 2011 Transfer Fiskal antara Pemerintah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PROPOSAL KEGIATAN PELATIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN SERTIFIKASI PROFESI GEOMATIKA. YOGYAKARTA, Juni 2011

PROPOSAL KEGIATAN PELATIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN SERTIFIKASI PROFESI GEOMATIKA. YOGYAKARTA, Juni 2011 2011 Tropenbos International Indonesia Programme Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan bekerjasama dengan INSTIPER, LSP RINO, ESRI INDONESIA dan PT EXSOL INNOVINDO YOGYAKARTA, 13-22 Juni 2011 PROPOSAL

Lebih terperinci

Rangkuman Pertemuan Antara Perwakilan GCF dan Entitas-Entitas Eropa Dalam Rangka Mendukung REDD+ Barcelona, Spanyol - 14 Pebruari 2012

Rangkuman Pertemuan Antara Perwakilan GCF dan Entitas-Entitas Eropa Dalam Rangka Mendukung REDD+ Barcelona, Spanyol - 14 Pebruari 2012 Rangkuman Pertemuan Antara Perwakilan GCF dan Entitas-Entitas Eropa Dalam Rangka Mendukung REDD+ Barcelona, Spanyol - 14 Pebruari 2012 Pusat Ilmu Pengetahuan Hutan Catalonia (Forest Sciences Center of

Lebih terperinci

PENDEKATAN SERTIFIKASI YURISDIKSI UNTUK MENDORONG PRODUKSI MINYAK SAWIT BERKELANJUTAN

PENDEKATAN SERTIFIKASI YURISDIKSI UNTUK MENDORONG PRODUKSI MINYAK SAWIT BERKELANJUTAN PENDEKATAN SERTIFIKASI YURISDIKSI UNTUK MENDORONG PRODUKSI MINYAK SAWIT BERKELANJUTAN Di sela-sela pertemuan tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang ke-13 di Kuala Lumpur baru-baru ini,

Lebih terperinci

Kepastian Pembiayaan dalam keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia

Kepastian Pembiayaan dalam keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia ISSN : 2085-787X Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM Jl. Gunung Batu No.

Lebih terperinci

National Forest Monitoring System untuk mendukung REDD+ Indonesia

National Forest Monitoring System untuk mendukung REDD+ Indonesia National Forest Monitoring System untuk mendukung REDD+ Indonesia IMAN SANTOSA T. Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan Ditjen Planologi kehutanan Kementerian Kehutanan Workshop Sistem

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 68/Menhut-II/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 68/Menhut-II/2008 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 68/Menhut-II/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN DEMONSTRATION ACTIVITIES PENGURANGAN EMISI KARBON DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa

Lebih terperinci

PERAN DINAS KEHUTANAN SEBAGAI MITRA UTAMA DDPI KALTIM

PERAN DINAS KEHUTANAN SEBAGAI MITRA UTAMA DDPI KALTIM PERAN DINAS KEHUTANAN SEBAGAI MITRA UTAMA DDPI KALTIM Oleh DINAS KEHUTANAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DALAM ACARA PELATIHAN GCF YANG BERJUDUL PENGUATAN KERANGKA KERJA KELEMBAGAAN PROVINSI MENGENAI PERUBAHAN

Lebih terperinci

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG STRATEGI DAN RENCANA AKSI PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Papua Papua Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Papua Papua Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Papua Papua Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Papua Lukas Enembe Papua Governor Preface Lukas Enembe Salam sejahtera buat kita semua Puji Tuhan yang

Lebih terperinci

Pontianak, 1-2 Oktober Agenda Tentatif

Pontianak, 1-2 Oktober Agenda Tentatif Lokakarya Mendukung Mitigasi Perubahan Iklim: Kerjasama Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan Japan International Cooperation Agency Pontianak, 1-2 Oktober 2013 Agenda Tentatif

Lebih terperinci

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan.

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan. Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan ISSN : 2085-787X Policy Volume 4 No. 3 Tahun 2010 Melihat Demonstration Activity

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN LATAR BELAKANG

KERANGKA ACUAN LATAR BELAKANG KERANGKA ACUAN Mendengar proses penerapan Free, Prior, Informed And Consent atau (FPIC) pada area proyek Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus (REDD+) di Kalimantan Tengah LATAR

Lebih terperinci

CADANGAN, EMISI, DAN KONSERVASI KARBON PADA LAHAN GAMBUT

CADANGAN, EMISI, DAN KONSERVASI KARBON PADA LAHAN GAMBUT CADANGAN, EMISI, DAN KONSERVASI KARBON PADA LAHAN GAMBUT Fahmuddin Agus Balai Penelitian Tanah, Jln. Ir H Juanda No. 98, Bogor PENDAHULUAN Dalam perdebatan mengenai perubahan iklim, peran lahan gambut

Lebih terperinci

MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA

MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF LEMBAR FAKTA 2014 Praktek REDD+ yang Menginspirasi MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA RINGKASAN Apa Pengembangan kawasan konservasi masyarakat dan pengelolaan hutan berbasis

Lebih terperinci

KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM Peningkatan Kapasitas Akar Rumput untuk REDD+ di kawasan Asia Pasifik Maret 2012 RECOFTC - The Center for People and Forests adalah satusatunya organisasi nirlaba internasional

Lebih terperinci

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF LEMBAR FAKTA 2014 GAMBARAN SEKILAS Apa» Perencanaan dan pemetaan partisipatif penggunaan lahan membangun kesiapan REDD+ dan memperkuat kepemilikan lahan diantara masyarakat

Lebih terperinci

K E P U T U S A N KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEHUTANAN Nomor : SK. 19/Dik-2/2012 KURIKULUM DIKLAT FIELD SURVEY (PENGUKURAN KARBON)

K E P U T U S A N KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEHUTANAN Nomor : SK. 19/Dik-2/2012 KURIKULUM DIKLAT FIELD SURVEY (PENGUKURAN KARBON) KEMENTERIAN KEHUTANAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM KEHUTANAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEHUTANAN K E P U T U S A N KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEHUTANAN Nomor : SK. 19/Dik-2/2012

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna

I. PENDAHULUAN. manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan iklim adalah fenomena global yang disebabkan oleh kegiatan manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna lahan dan kehutanan. Kegiatan

Lebih terperinci

Belajar dari redd Studi komparatif global

Belajar dari redd Studi komparatif global Belajar dari redd Studi komparatif global Studi komparatif global REDD dalam kurun waktu beberapa tahun yang diupayakan CIFOR bertujuan menyediakan informasi bagi para pembuat kebijakan, praktisi dan penyandang

Lebih terperinci

Pertemuan Koordinasi GCF

Pertemuan Koordinasi GCF Didanai oleh Uni Eropa Pertemuan Koordinasi GCF Bali, 23-25 Juni 2014 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan pelopor global dalam hal komitmen negara berkembang untuk melakukan aksi mitigasi secara nasional

Lebih terperinci

Pelatihan untuk Pelatih Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ditingkat Akar Rumput Mengenai Perubahan Iklim dan REDD+

Pelatihan untuk Pelatih Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ditingkat Akar Rumput Mengenai Perubahan Iklim dan REDD+ Pelatihan untuk Pelatih Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ditingkat Akar Rumput Mengenai Perubahan Iklim dan REDD+ 2014 Biduk- Biduk, 13-14 November 2014 1. Daftar Isi... 2 2. Latar

Lebih terperinci

PENCEGAHANKEBAKARAN LAHAN DAN KEBUN. Deputi Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Solo, 27 Maret 2013

PENCEGAHANKEBAKARAN LAHAN DAN KEBUN. Deputi Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Solo, 27 Maret 2013 PENCEGAHANKEBAKARAN LAHAN DAN KEBUN Deputi Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Solo, 27 Maret 2013 OUTLINE I. PENDAHULUAN II. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KEBAKARAN LAHAN DAN KEBUN: anggaran atau

Lebih terperinci

2011 Kelompok Kerja REDD Berau

2011 Kelompok Kerja REDD Berau 2011 Kelompok Kerja REDD Berau Program Karbon Hutan Berau (PKHB) dilaksanakan atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Berau dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia,

Lebih terperinci

MEKANISME DISTRIBUSI PEMBAYARAN REDD : Studi Kasus Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan PUSLITSOSEK 2009

MEKANISME DISTRIBUSI PEMBAYARAN REDD : Studi Kasus Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan PUSLITSOSEK 2009 MEKANISME DISTRIBUSI PEMBAYARAN REDD : Studi Kasus Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan PUSLITSOSEK 2009 Pendahuluan Upaya-upaya mitigasi dan adaptasi disepakati secara global dalam kerjasama antar negara,

Lebih terperinci

method, [b] adjusted historical based method, dan [c] forward looking method.

method, [b] adjusted historical based method, dan [c] forward looking method. Berbagai Pilihan Metodologi dalam Perhitungan Tingkat Emisi Acuan (Reference Emission Level) untuk Provinsi Sulawesi Tengah By: Indrawan Suryadi 1 dihitung dalam suatu kurun waktu tertentu. Berbagai opsi

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Tengah Central Kalimantan Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Tengah Central Kalimantan Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Kalimantan Tengah entral Kalimantan Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang, SH entral Kalimantan Governor Preface

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN. Kerangka Acuan Kerja PEGAWAI TIDAK TETAP (51) BIDANG

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN. Kerangka Acuan Kerja PEGAWAI TIDAK TETAP (51) BIDANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN Kerangka Acuan Kerja PEGAWAI TIDAK TETAP (51) BIDANG KEHUTANAN TAHUN ANGGARAN 2015 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PTT (51) Bidang Kehutanan I. Pendahuluan Asisten

Lebih terperinci

STANDAR BAKU BIAYA MAKSIMUM MEKANISME HIBAH KHUSUS

STANDAR BAKU BIAYA MAKSIMUM MEKANISME HIBAH KHUSUS SERI PANDUAN PELAKSANAAN PROGRAM 9 STANDAR BAKU BIAYA MAKSIMUM MEKANISME HIBAH KHUSUS Jakarta, 30 Mei 2014 DAFTAR ISI Bab I Pendahuluan. 1 Bab II Ketentuan Biaya Baku Standar Maksimum. 3 2.1. Honorarium

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 100/Menhut-II/20142014 TENTANG PENUGASAN (MEDEBEWIN) SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEHUTANAN TAHUN 2015 KEPADA BUPATI

Lebih terperinci

PELUANG PENGELOLAAN HUTAN OLEH MUKIM DAN PENYIAPAN MASYARAKAT ADAT UNTUK MENGANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM

PELUANG PENGELOLAAN HUTAN OLEH MUKIM DAN PENYIAPAN MASYARAKAT ADAT UNTUK MENGANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM PELUANG PENGELOLAAN HUTAN OLEH MUKIM DAN PENYIAPAN MASYARAKAT ADAT UNTUK MENGANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM Oleh: Syaifuddin FFI Aceh Program Governor s Climate Forest Task Force Meeting 2010 Banda Aceh, 18-22

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN PERKEBUNAN BERKELANJUTAN DI KALIMANTAN TENGAH

PEMBANGUNAN PERKEBUNAN BERKELANJUTAN DI KALIMANTAN TENGAH PEMBANGUNAN PERKEBUNAN BERKELANJUTAN DI KALIMANTAN TENGAH Disampaikan pada FIELD TRIP THE FOREST DIALOGUE KE PT. WINDU NABATINDO LESTARI PUNDU, 17 MARET 2014 PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DINAS

Lebih terperinci

Land Use planning for low Emission development Strategy (LUWES)

Land Use planning for low Emission development Strategy (LUWES) Accountability and Local Level initiative for Reducing Emission From Deforestation and Degradation in Indonesia (ALLREDDI) MERENCANAKAN PEMBANGUNAN RENDAH EMISI DI KABUPATEN MERANGIN PROVINSI JAMBI Doni

Lebih terperinci

Petunjuk Pemakaian Permainan Bentang Alam

Petunjuk Pemakaian Permainan Bentang Alam Petunjuk Pemakaian Permainan Bentang Alam Permainan ini menghadirkan dinamika kompetisi lahan, kebijakan dan dan kelestarian bentang alam Landscape Game ini dikembangkan oleh Herry Purnomo dengan kontribusi

Lebih terperinci

Produksi minyak sawit berkelanjutanmelestarikan. masa depan hutan

Produksi minyak sawit berkelanjutanmelestarikan. masa depan hutan Produksi minyak sawit berkelanjutanmelestarikan masa depan hutan Menabur benih untuk masa depan yang lebih baik SNV menyadari besarnya dampak ekonomi dan lingkungan dari pembangunan sektor kelapa sawit

Lebih terperinci

Draft 10 November PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.30/Menhut-II/ /Menhut- II/ TENTANG

Draft 10 November PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.30/Menhut-II/ /Menhut- II/ TENTANG Draft 10 November 1 2008 Draft 19 April 2009 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.30/Menhut-II/200930 /Menhut- II/20092009 TENTANG TATA CARA PENGURANGAN EMISI DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI

Lebih terperinci

Menuju Pembangunan Hijau Kabupaten Kutai Barat: Tantangan Deforestasi dan Peluang Mengatasinya

Menuju Pembangunan Hijau Kabupaten Kutai Barat: Tantangan Deforestasi dan Peluang Mengatasinya Menuju Pembangunan Hijau Kabupaten Kutai Barat: Tantangan Deforestasi dan Peluang Mengatasinya Pengantar: - Pembangunan Hijau - Perkembangan REDD+ - Kerangka Studi Kutai Barat Pemicu Deforestasi: - Sumber

Lebih terperinci

Lembar Fakta. Membumikan Proyek Dunia. Melihat dari Dekat Demonstration Activity (DA) REDD+ A. Pendahuluan

Lembar Fakta. Membumikan Proyek Dunia. Melihat dari Dekat Demonstration Activity (DA) REDD+ A. Pendahuluan Membumikan Proyek Dunia Melihat dari Dekat Demonstration Activity (DA) REDD+ A. Pendahuluan Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menaruh perhatian yang sangat besar terhadap Indonesia terkait posisinya

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Barat West Kalimantan Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Barat West Kalimantan Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Kalimantan Barat West Kalimantan Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Kalimantan Barat ornelis M.H West Kalimantan Governor Preface ornelis M.H Puji

Lebih terperinci

Tahapan Persiapan Penyusunan RP4D Kabupaten merupakan kegiatan yang bersifat administratif dengan tujuan mempersiapkan pihak penyelenggaran kegiatan

Tahapan Persiapan Penyusunan RP4D Kabupaten merupakan kegiatan yang bersifat administratif dengan tujuan mempersiapkan pihak penyelenggaran kegiatan BAGIAN I Persiapan Penyusunan RP4D Kabupaten Tahapan Persiapan Penyusunan RP4D Kabupaten merupakan kegiatan yang bersifat administratif dengan tujuan mempersiapkan pihak penyelenggaran kegiatan Penyusunan

Lebih terperinci

Ketidakpastian Pasar Karbon

Ketidakpastian Pasar Karbon Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor; Telp.: 0251 8633944; Fax: 0251 8634924; Email:

Lebih terperinci

Mengarusutamakan Masyarakat Adat dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

Mengarusutamakan Masyarakat Adat dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Doc: AMAN Posisi Konstitusional Masyarakat Adat di Indonesia Komunitas-komunitas adat telah hidup dan berkembang selama ribuan tahun di Kepulauan Nusantara, kawasan yang sekarang menjadi Republik Indonesia.

Lebih terperinci

Temuan Foto Sampul: Lanskap di Kutai Barat (kiri), Desa Batu Majang di Kabupaten Kutai Barat (kanan) / Subekti Rahayu

Temuan Foto Sampul: Lanskap di Kutai Barat (kiri), Desa Batu Majang di Kabupaten Kutai Barat (kanan) / Subekti Rahayu BRIEF No. 36 Perancangan Aksi Mitigasi Untuk Mendukung Rencana Pembangunan Rendah Emisi di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur Indonesia adalah salah satu negara yang telah berkomitmen untuk mengurangi

Lebih terperinci

Indonesia dan CIFOR. Kemitraan untuk hutan dan masyarakat

Indonesia dan CIFOR. Kemitraan untuk hutan dan masyarakat Indonesia dan CIFOR Kemitraan untuk hutan dan masyarakat Indonesia dan CIFOR Kemitraan untuk hutan dan masyarakat Indonesia, yang memiliki hutan tropis yang sangat luas, merupakan rumah yang ideal bagi

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN Pangkal Pinang 16-17 April 2014 BAGIAN DATA DAN INFORMASI BIRO PERENCANAAN KEMENHUT email: datin_rocan@dephut.go.id PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

WWF Indonesia. Distinct Job Manual

WWF Indonesia. Distinct Job Manual Job Name : Forest officer Job Code : - Job Class : - Job Family : - Job Region : Central Kalimantan Superior : Sekamoza Coordinator Subordinate(s) : - Master Doc. : [Enter Master Document Number] This

Lebih terperinci

Menuju Skala Nasional, market-based REDD

Menuju Skala Nasional, market-based REDD HUTAN PRODUKSI DAN REDD: Pembelajaran dari Program Karbon Hutan Berau Wahjudi Wardojo, TNC 3 Desember 2009 Menuju Skala Nasional, market-based REDD 2010 2020 Skala dari Kredit Offset Sub-nasional Menuju

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN BERBAGAI JENIS PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Lebih terperinci

Pembangunan Kehutanan

Pembangunan Kehutanan KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Pembangunan Kehutanan Sokoguru Pembangunan Nasional Berkelanjutan Dr. Ir. Hadi Daryanto, DEA (Sekretaris Jenderal) Disampaikan dalam Seminar

Lebih terperinci

Perhitungan karbon untuk perbaikan faktor emisi dan serapan grk

Perhitungan karbon untuk perbaikan faktor emisi dan serapan grk Perhitungan karbon untuk perbaikan faktor emisi dan serapan grk Program : Pengelolaan Hutan Tanaman Judul RPI : Penelitian Pengembangan Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca Koordinator RPI : Ir. Ari Wibowo,

Lebih terperinci

Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi REDD+ Indonesia

Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi REDD+ Indonesia Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi REDD+ Indonesia Disampaikan dalam Lokakarya Peta Jalan Mempersiapkan dan Memberi Kerangka Hukum bagi REDD+ Jakarta, 28 November 2013 MRV (Measurement, Reporting, Verification)

Lebih terperinci

Proyek Kolaboratif Perencanaan Penggunaan Lahan (CoLUPSIA) dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maluku Tengah

Proyek Kolaboratif Perencanaan Penggunaan Lahan (CoLUPSIA) dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maluku Tengah Monitoring dan Tindak Lanjut: Proyek Kolaboratif Perencanaan Penggunaan Lahan (CoLUPSIA) dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maluku Tengah Ruang Sidang Komisi B, Gedung DPRD Kabupaten

Lebih terperinci

Implementasi Mekanisme REDD+

Implementasi Mekanisme REDD+ DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEMENTERIAN KEHUTANAN UN-REDD PROGRAMME INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEMENTERIAN KEHUTANAN UN-REDD Programme Indonesia Sekretariat: Gedung Manggala Wanabakti Ruang

Lebih terperinci

IMPLEMENTA IMPLEMENT S A I S IRENCANA RENCAN A AKSI AKSI NAS NA I S O I NA N L PENURU PENUR NA N N EMISI EMISI GAS RUMA M H H KACA

IMPLEMENTA IMPLEMENT S A I S IRENCANA RENCAN A AKSI AKSI NAS NA I S O I NA N L PENURU PENUR NA N N EMISI EMISI GAS RUMA M H H KACA IMPLEMENTASI RENCANA AKSI NASIONAL PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA Ir. Wahyuningsih Darajati, M.Sc Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Disampaikan ik dalam Diskusi

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, - 1 - PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P. 67/Menlhk-Setjen/2015 TENTANG PENUGASAN (MEDEBEWIN) SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Lebih terperinci

MENUJU PERDAGANGAN KARBON DARI KEGIATAN DA REDD+: PEMBELAJARAN DARI DA REDD+ DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI INDONESIA ITTO PD 519/08 REV.

MENUJU PERDAGANGAN KARBON DARI KEGIATAN DA REDD+: PEMBELAJARAN DARI DA REDD+ DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI INDONESIA ITTO PD 519/08 REV. MENUJU PERDAGANGAN KARBON DARI KEGIATAN DA REDD+: PEMBELAJARAN DARI DA REDD+ DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI INDONESIA ITTO PD 519/08 REV.1 (F) ARI WIBOWO ariwibowo61@yahoo.com KEMENTERIAN KEHUTANAN BADAN

Lebih terperinci

Pemuda Asia Tenggara sebagai Pemersatu untuk Dunia Kita Inginkan

Pemuda Asia Tenggara sebagai Pemersatu untuk Dunia Kita Inginkan 6th UNEP TUNZA Southeast Asia Youth Environment Network (SEAYEN) Meeting Youth Statement pertemuan Panel Tingkat Tinggi di Bali pada kemitraan / kerjasama global (25-27 Maret, 2013) 26 Maret 2013 Pemuda

Lebih terperinci

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM PROGRAM HUTAN DAN IKLIM LEMBAR FAKTA 2014 SELAYANG PANDANG Apa» Pelibatan masyarakat dalam pemetaan partisipatif penggunaan lahan sebagai dasar perencanaan pengelolaan penggunaan lahan, konservasi sumber

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PARIWISATA & PERKEBUNAN DI KABUPATEN KAPUAS HULU

PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PARIWISATA & PERKEBUNAN DI KABUPATEN KAPUAS HULU SIDa.F.47 PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PARIWISATA & PERKEBUNAN DI KABUPATEN KAPUAS HULU Ramos Hutapea, MEng BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI 2012 LATAR BELAKANG Kab. Kapuas Hulu memiliki berbagai

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU (PKHB) DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 3, 2015

FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU (PKHB) DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 3, 2015 Lampiran. FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU (PKHB) DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 3, 2015 Latar Belakang TFCA Kalimantan adalah kemitraan antara Pemerintah Amerika Serikat (USG), Pemerintah

Lebih terperinci

Waktu: April Tempat: Ruang Sonokeling, Manggala Wanabakti, Jalan Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270

Waktu: April Tempat: Ruang Sonokeling, Manggala Wanabakti, Jalan Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270 Lokakarya Percepatan Aksi Restorasi Hutan dan Bentang Lahan di Indonesia: Tantangan dan Kesempatan untuk Meningkatkan Ketahanan Ekologi dan Penghidupan Masyarakat Sebuah forum pemangku kepentingan restorasi

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : MUHAMMAD TAUFIQ

SKRIPSI. Oleh : MUHAMMAD TAUFIQ APLIKASI TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) UNTUK ESTIMASI KOEFISIEN LIMPASAN PERMUKAAN SUB DAS PADANG JANIAH DAN PADANG KARUAH PADA DAS BATANG KURANJI KECAMATAN PAUH KOTA PADANG

Lebih terperinci

Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau. Daddy Ruhiyat.

Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau. Daddy Ruhiyat. Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau Daddy Ruhiyat news Dokumen terkait persoalan Emisi Gas Rumah Kaca di Kalimantan Timur

Lebih terperinci

STATUS PEROLEHAN HAKI PUSPIJAK

STATUS PEROLEHAN HAKI PUSPIJAK STATUS PEROLEHAN HAKI PUSPIJAK PROGRES DAN POTENSI OUTLINE HAKI DARI SUDUT PANDANG PUSPIJAK PEROLEHAN HAKI PUSPIJAK IDENTIFIKASI POTENSI HAKI POTENSI PEROLEHAN HAKI 1 HAKI DARI SUDUT PANDANG PUSPIJAK LITBANG

Lebih terperinci

ISSN : X Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

ISSN : X Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan ISSN : 2085-787X Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Volume 5 No. 8 Tahun 2011 Strategi Penurunan Emisi Gas

Lebih terperinci

Muhammad Zahrul Muttaqin Badan Litbang Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Muhammad Zahrul Muttaqin Badan Litbang Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan + Muhammad Zahrul Muttaqin Badan Litbang Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Disampaikan pada Lokakarya Community of Practice : Penguatan Kerangka Kerja Kelembagaan Provinsi Mengenai Perubahan

Lebih terperinci

Mempersiapkan Program Pengurangan Emisi dalam Kerangka Skema Carbon Fund

Mempersiapkan Program Pengurangan Emisi dalam Kerangka Skema Carbon Fund Mempersiapkan Program Pengurangan Emisi dalam Kerangka Skema Carbon Fund TIM PENYUSUN ER-PIN FCPF CARBON FUND Puspijak Badan Litbang Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Usulan Awal Lokasi

Lebih terperinci

PENDEKATAN YURISDIKSI REDD+ DALAM FRAMEWORK NASIONAL DAN APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN OLEH DAERAH

PENDEKATAN YURISDIKSI REDD+ DALAM FRAMEWORK NASIONAL DAN APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN OLEH DAERAH PENDEKATAN YURISDIKSI REDD+ DALAM FRAMEWORK NASIONAL DAN APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN OLEH DAERAH REDD DAN MRV Rizaldi Boer Centre for Climate Risk and Opportunity Management in South East Asia and Pacific

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.7/Menhut-II/2010P. /Menhut-II/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.7/Menhut-II/2010P. /Menhut-II/2009 TENTANG Draft 10 November 2008 Draft 19 April 2009 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.7/Menhut-II/2010P. /Menhut-II/2009 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN (DEKONSENTRASI) BIDANG

Lebih terperinci

STRATEGI TINDAK LANJUT

STRATEGI TINDAK LANJUT VII. STRATEGI TINDAK LANJUT Pendahuluan Kampanye tahap pertama yang dilakukan di Kompleks hutan rawa gambut Sungai Putri baru saja berakhir Juli 2010 lalu. Beberapa capaian yang dicatat dari kampaye tersebut:

Lebih terperinci

(Reduced Impact Logging) di Kalimantan

(Reduced Impact Logging) di Kalimantan Pembalakan dengan Dampak Dikurangi (Reduced Impact Logging) di Kalimantan Timur: Sebuah Cara untuk Melestarikan Hutan dan Keuntungan Metode pembalakan dengan dampak dikurangi dapat mengurangi emisi CO

Lebih terperinci

GAR dan SMART melaksanakan proyek pilot konservasi hutan stok karbon tinggi

GAR dan SMART melaksanakan proyek pilot konservasi hutan stok karbon tinggi Untuk didistribusikan segera GAR dan SMART melaksanakan proyek pilot konservasi hutan stok karbon tinggi Proyek pilot akan menjadi katalis bagi proses pelibatan para pemangku kepentingan untuk mencari

Lebih terperinci

KERTAS KERJA PROYEK PERUBAHAN INSTANSIONAL BALAI BESAR PENELITIAN BIOTEKNOLOGI DAN PEMULIAAN TANAMAN HUTAN

KERTAS KERJA PROYEK PERUBAHAN INSTANSIONAL BALAI BESAR PENELITIAN BIOTEKNOLOGI DAN PEMULIAAN TANAMAN HUTAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PROVINSI JAWA TIMUR DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT II ANGKATAN XXXV TAHUN, 2015 KERTAS KERJA PROYEK PERUBAHAN INSTANSIONAL BALAI BESAR PENELITIAN BIOTEKNOLOGI DAN PEMULIAAN

Lebih terperinci

STRATEGI READINESS REDD INDONESIA ( )

STRATEGI READINESS REDD INDONESIA ( ) MINISTRY OF FORESTRY STRATEGI READINESS REDD INDONESIA (2009-2012) POKJA Perubahan Iklim Departemen Kehutanan Disampaikan pada acara Konsultasi Publik, Jakarta, 14 September 2009 MINISTRY OF FORESTRY PENGANTAR

Lebih terperinci

Deforestasi merupakan penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak

Deforestasi merupakan penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak Deforestasi merupakan penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali. Dilakukan dengan cara menebang, membakar, atau mengalihkan fungsi hutan menjadi pertambangan. Degradasi hutan merupakan

Lebih terperinci

Golden Agri Resources Memprakarsai Keterlibatan Industri untuk Konservasi Hutan

Golden Agri Resources Memprakarsai Keterlibatan Industri untuk Konservasi Hutan Untuk diterbitkan segera Siaran Pers Golden Agri Resources Memprakarsai Keterlibatan Industri untuk Konservasi Hutan Jakarta, Singapura, 9 Februari 2011 Golden Agri Resources Limited (GAR) dan anakanak

Lebih terperinci

RENCANA KERJA 2015 DAN PENELITIAN INTEGRATIF

RENCANA KERJA 2015 DAN PENELITIAN INTEGRATIF RENCANA KERJA 2015 DAN PENELITIAN INTEGRATIF 2015-2019 PUSLITBANG PERUBAHAN IKLIM DAN KEBIJAKAN Bogor, 7 Agustus 2014 OUTLINE Visi dan Misi Rencana Kerja 2015 RPI Kontribusi Sektor Kehutanan dalam Penanganan

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA

KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA Nama Organisasi Periode pekerjaan: Conservation International Indonesia Mei : Mendukung pencapaian visi dan misi CI Indonesia melalui

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI RAN-GRK DI SEKTOR KEHUTANAN

IMPLEMENTASI RAN-GRK DI SEKTOR KEHUTANAN IMPLEMENTASI RAN-GRK DI SEKTOR KEHUTANAN Jakarta, 29 Agustus 2013 RPJMN 2010-2014 11 Prioritas Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II 1. Reformasi birokrasi dan tata kelola 2. Pendidikan 3. Kesehatan 4.

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 2, 2014

FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 2, 2014 FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 2, 2014 Latar Belakang TFCA Kalimantan adalah kemitraan antara Pemerintah Amerika Serikat (USG), Pemerintah Indonesia

Lebih terperinci

Pendahuluan Daniel Murdiyarso

Pendahuluan Daniel Murdiyarso Pendahuluan Daniel Murdiyarso 1 Daftar isi dari presentasi ini: - Apakah toolbox itu? - Apakah IPN? - Apakah SWAMP? - Kenapa lahan gabut tropis penting? - Cakupan Toolbox IPN - Para penulis Toolbox IPN

Lebih terperinci

B U K U: REKALKULASI PENUTUPAN LAHAN INDONESIA TAHUN 2005

B U K U: REKALKULASI PENUTUPAN LAHAN INDONESIA TAHUN 2005 B U K U: REKALKULASI PENUTUPAN LAHAN INDONESIA TAHUN 2005 KATA PENGANTAR Assalamu alaikum wr.wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Papua Barat West Papua Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Papua Barat West Papua Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Papua Barat West Papua Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Papua Barat - Abraham Octavianus Atururi West Papua Governor Preface - Abraham Octavianus

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA RAPAT KOORDINASI PENANGANAN GANGGUAN USAHA PERKEBUNAN SERTA PENGENDALIAN KEBAKARAN KEBUN DAN LAHAN Hari

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA RAPAT KOORDINASI PENANGANAN GANGGUAN USAHA PERKEBUNAN SERTA PENGENDALIAN KEBAKARAN KEBUN DAN LAHAN Hari 1 SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA RAPAT KOORDINASI PENANGANAN GANGGUAN USAHA PERKEBUNAN SERTA PENGENDALIAN KEBAKARAN KEBUN DAN LAHAN Hari : Kamis Tanggal : 31 Juli 2008 Pukul : 09.00 Wib

Lebih terperinci