Pelatihan untuk Pelatih Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ditingkat Akar Rumput Mengenai Perubahan Iklim dan REDD+

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pelatihan untuk Pelatih Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ditingkat Akar Rumput Mengenai Perubahan Iklim dan REDD+"

Transkripsi

1 Pelatihan untuk Pelatih Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ditingkat Akar Rumput Mengenai Perubahan Iklim dan REDD Biduk- Biduk, November 2014

2 1. Daftar Isi Latar Belakang Tujuan Peserta Proses Pembelajaran Temuan-temuan di Lapangan Identifikasi Masalah... 7 Lampiran 1. Kerangka Acuan... 8 Lampiran 2. Absensi Kegiatan Lampiran 3. Undangan Pemberitahuan Kegiatan Lampiran 4. Foto Kegiatan Page2

3 Kabupaten Berau yang terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur memiliki luas lahan 2,2 juta hektar dengan tutupan hutan sebanyak 75%. Pada tingkat lokal, Kabupaten Berau merupakan salah satu dari lima kabupaten di Indonesia yang telah berupaya mengembangkan model REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation atau Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan, konservasi, penyimpanan karbon, dan pengelolaan hutan lestari) pada skala Kabupaten. Model ini disebut dengan Program Karbon Hutan Berau (PKHB). Tujuan PKHB mencakup total hampir 2,2 juta hektar hutan selama periode lima tahun mulai tahun Pada tahun 2017, program bertujuan untuk membawa setidaknya ha hutan dibawah manajemen yang efektif, menghindari emisi setidaknya 10 juta ton CO 2, melindungi daerah aliran sungai dan habitat dari hampir 1500 orangutan, studi keanekaragaman hayati dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Semua itu bisa dicapai jika partisipasi masyarakat lokal dapat aktif dengan meningkatkan kesadaran dan membangun kapasitas masyarakat untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan salah satunya melalui kegiatan-kegiatan kampanye Perubahan Iklim dan saluran akses informasi serta media yang memadai bagi masyarakat. Perubahan Iklim dipahami sebagai suatu perubahan yang terjadi pada pola cuaca normal di seluruh dunia yang secara langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kegiatan manusia yang merubah komposisi atmosfir global selama jangka waktu yang panjang. Hutan dan area alami memainkan peran sangat penting dalam mempertahankan proses alami, dimana hutan merupakan salah satu penampung karbon terbesar sehingga membantu menjaga daur karbon dan proses alami lainnya berjalan dengan baik dan membantu mengurangi perubahan iklim. Namun keterbatasan informasi mengenai perubahan iklim dan peran hutan, serta terbatasnya kesempatan bagi praktisi di lapangan untuk membagikan pengalaman dan pembelajarannya, menjadi faktor rendahnya partisipasi aktif masyarakat dalam implementasi program REDD+ khususnya partisipasi perempuan dalam pembangunan kapasitas pengetahuan mengenai alam. Meningkatkan peran serta perempuan merupakan langkah yang perlu mendapat perhatian, dengan arus informasi yang begitu deras dan pembaharuan yang sedemikian cepat memerlukan keterlibatan seluruh komponen masyarakat termasuk partisipasi perempuan. Partisipasi aktif kaum perempuan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, terutama untuk memberikan penyadartauan dan pendidikan di tingkat keluarga mengenai dampak kerusakan dan pencemaran lingkungan, akan memberikan dampak baik untuk mendorong kebijakan di tingkat komunitas/kampung di dalam mengembangkan lingkungan yang lestari. Salah satu Page3

4 upaya penyadartahuan di kalangan kaum ibu atau perempuan adalah dengan melibatkan gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan gerakan nasional yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat, dengan perempuan sebagai penggeraknya, dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan lingkungan. Secara spesifik program kesembilan mengenai kelestarian lingkungan hidup dari 10 program pokok PKK daoat disinergikan dengan pelatihan penyadartahuan terkait perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim. Selain bertujuan untuk memberikan informasi dan penyadartahuan di kalangan masyarakat khususnya kaum ibu atau perempuan di daerahnya, juga dapat memberikan sebuah inisiatif penyadartahuan mengenai fenomena perubahan iklim untuk membangun ruang belajar bagi perempuan agar bisa menyampaikan pendapat dan aspirasinya terhadap kesadaran ditingkat akar rumput terkait perubahan iklim dan pengetahuan bagaimana hutan berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Menjembatani kebutuhan tersebut Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI) melalui dukungan The Regional Community Foresty Training Center For Asia and the Pacific (RECOFTC) mengadakan Pelatihan bagi tim PKK mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim. 1. Menambah pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim di kalangan perempuan 2. Terciptanya keberlanjutan program dalam bentuk fasilitasi penyadartahuan mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim di masingmasing kelompok PKK kampung. Peserta yang mengikuti pelatihan ini adalah empat orang perwakilan dari masing masing PKK dari enam kampung yang berada di Kecamatan Biduk-Biduk. Pada hari pertama peserta yang hadir dari PKK Kampung Tanjung Perepat, PKK Kampung Biduk-Biduk, PKK Kampung Giring-Giring, PKK Kampung Teluk Sulaiman, PKK Kampung Pantai Harapan dan juga perwakilan dari PKK Kecamatan Biduk-Biduk yang antara lain merupakan Ketua POKJA I, Ketua POKJA II, Ketua POKJA III, Ketua POKJA IV, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris dan anggota. Pada hari tersebut PKK Kampung Teluk Sumbang berhalangan hadir disebabkan oleh faktor cuaca dan jarak kampung yang jauh harus ditempuh dengan transportasi air sehingga peserta yang bersangkutan tidak bisa tiba di lokasi pelatihan pada hari pertama. Sementara itu Page4

5 pada hari kedua peserta yang hadir yaitu dari PKK enam kampung termasuk PKK Teluk Sumbang serta perwakilan dari PKK Kecamatan Biduk-Biduk. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, sebagai upaya untuk penyebaran informasi kepada masyarakat khususnya kaum perempuan dapat berperan dalam menghadapi perubahan iklim dan menumbuhkan pemahaman bagaimana hutan dapat berperan terhadap pengurangan dampak perubahan iklim. Pelatihan yang ditujukan kepada anggota PKK ini untuk mendukung salah satu program pokok PKK pada program ke sembilan mengenai kelestarian lingkungan hidup. Kegiatan pelatihan kepada kelompok PKK berlangsung selama dua hari. Dimana dalam pelatihan ini peserta mendapatkan pengetahuan mengenai perubahan iklim dan peranan hutan dalam pengurangan perubahan iklim. Pelatihan yang dimulai pukul dibuka oleh sambutan dari Ibu Syarifah Mahani selaku Wakil Ketua PKK Kecamatan Biduk-Biduk. Hari pertama pada sesi pertama diawali dengan perkenalan diri antara peserta dan fasilitator. Materi yang disampaikan pada sesi awal mengenai pengertian dan perbedaan iklim dan cuaca, pengertian perubahan iklim, penyebab perubahan iklim kemudian simulasi efek rumah kaca yang dipraktekkan oleh salah satu peserta. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembahasan materi mengenai pengertian efek rumah kaca, gas-gas rumah kaca dan sumbersumber gas rumah kaca. Setiap materi yang diberikan disampaikan dengan menggunakan persentasi slide. Pada akhir sesi pertama dilaksanakan pula focus group discussion (FGD) dimana peserta dikelompokkan berdasarkan kelompok PKK kampung masing-masing untuk mendiskusikan mengenai tanda-tanda perubahan cuaca dalam kurun waktu lama yang terjadi disekitar kampung serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi perubahan-perubahan tersebut yang dituangkan dalam bentuk gambar. Perwakilan setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada seluruh peserta. Pada sesi kedua setelah pemaparan materi terkait tanda-tanda perubahan iklim dan dampak perubahan iklim diadakan juga diskusi terfokus mengenai proyeksi masa depan terhadap perubahan iklim dengan metode yang sama. Hari kedua, diawali dengan mengajak peserta berkelompok secara acak untuk membuat mandala diri dengan menggambarkan simbol-simbol yang mencerminkan pengalaman hidup yang paling menyenangkan, buku terakhir yang dibaca, orang yang menginspirasi hidup dan apa yang dilakukan untuk memajukan perempuan Indonesia. Sesi pertama pelatihan kemudian dimulai dengan materi yang membahas tentang pengertian hutan, fungsi hutan, deforestasi dan degradasi hutan yang diawali dengan pertanyaan Apa itu Hutan?. Ada 3 orang peserta yang menyampaikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut masing-masing adalah Baharuddin dari PKK Kampung Biduk-Biduk, Sarkiah dari PKK Kampung Giring-Giring dan Samsiah dari PKK Page5

6 Kampung Pantai Harapan. Selanjutnya peserta mendapat penjelasan mengenai pengertian hutan, fungsi hutan, deforestasi dan degradasi hutan. Diakhir sesi pertama diadakan diskusi terfokus mengenai interaksi dan manfaat yang diperoleh dari keberadaan hutan di sekitar lingkungan masing-masing kampung. Materi pada sesi kedua membahas tentang hutan kawasan karst, hubungan hutan dengan perubahan iklim, fotosintesis, siklus karbon dan pembahasan mengenai REDD+. Setelah pemaparan materi dilanjutkan dengan penyampaian pendapat oleh setiap peserta atas pertanyaan Bagaimana perempuan berperan dalam pengurangan dampak perubahan iklim dan Inisiatif apa yang dapat dilakukan?. Peserta diskusi pada hari kedua yang didominasi oleh perempuan mulai bisa memahami dan menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyikapi perubahan iklim. Pertemuan ini menjadi sarana saling belajar yang aktif bagi kelompok PPK kampung di Kecamatan Biduk-biduk. Pelatihan ini membangun wawasan mengenai isu perubahan iklim dan peran hutan, termasuk diskusi yang dibangun untuk mulai membaca dan menggali kondisi lingkungan yang terjadi di masing-masing kampung mereka. Salah satu peserta menyampaikan kesannya bahwa kegiatan ini merupakan ajang sharing pengalaman dengan yang lain tanpa menggurui dan mengajari. Peserta lain mengatakan bahwa semua materi dan sesi yang sudah dilakukan semuanya menarik dan berkesan dimana pada saat melakukannya langsung terinspirasi. Dalam kegiatan ini, peserta diajak untuk mencoba menggali pengetahuan mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim melalui pre test dan post test yang diberikan di hari pertama sebelum masuk materi dan di hari terakhir setelah proses pemebelajaran usai. Pada tahap awal yaitu pre test sebagian besar menyatakan belum paham mengenai perubahan iklim dan REDD+, lalu setelah proses belajar selesai para peserta di berikan post test yang skala penilaiannya sama dengan lembar pre test, hasilnya sebagaian besar sudah mulai memahami dan beberapa sudah bisa menjelaskan kepada lingkungan di sekitarnya mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Selama proses pelatihan terlihat tumbuhnya kesadaran peserta terhadap fenomena dampak perubahan iklim yang terjadi di wilayah mereka. Dari kesadaran tersebut muncul kepedulian diantara setiap peserta dalam memunculkan pengelolaan lingkungan yang lestari di kampung mereka, baik yang telah mereka lakukan maupun perencanaan kedepan yang akan dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim tersebut. Begitupula dengan peran hutan yang mereka rasakan dalam kehidupan mereka meski lokasi mereka ada di pesisir, tidak dapat Page6

7 dipungkiri bahwa keberadaan hutan dibelakang kampung memberikan banyak nilai budaya dan manfaat bagi kesejahteraan hidup mereka selama ini. Seperti di Kampung Teluk Sulaiman hutan menjadi tempat yang dikeramatkan bagi masyarakat setempat, di Kampung Giring-Giring masyarakat mengambil rotan dari hutan untuk dijadikan kerajinan tangan, sementara di Tanjung Perepat masyarakat mengambil madu dari hutan sebagai hasil hutan yang bernilai ekonomi tinggi dan memanfaatkan buah pohon mangrove untuk dijadikan sirup. Peran perempuan dalam mengurangi dampak perubahan iklim tercermin melalui upayaupaya dan tindakan nyata yang dilakukan oleh mereka seperti kesadaran untuk memilah sampah, menanam pohon di pekarangan rumah, bergotong-royong membersihkan lingkungan dan mengadakan sosialisasi dikalangan perempuan mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Antusiasme pelatihan tidak hanya hadir diantara peserta namun juga disampaikan oleh Ketua PKK Kecamatan Biduk-Biduk, Ibu Devi Yanti pada saat penutupan pelatihan. Beliau memberikan apresiasi dan menyambut dengan baik kegiatan pelatihan yang diberikan untuk tim PKK didaerahnya, guna membangun pemahaman mengenai perubahan iklim dan REDD+ dan berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dengan baik. Keterbatasan waktu, tempat dan perubahan cuaca mendadak yang tiba-tiba hujan sebelum kegiatan dimulai menjadi kendala dalam pelaksanaan pelatihan karena membuat peserta hadir tidak tepat waktu sesuai dengan jadwal pelatihan yang telah disepakati dan menyebabkan perwakilan dari salah satu kampung tidak dapat mengikuti pelatihan ini dengan penuh waktu. Selama proses pelatihan berlangsung laki-laki dan perempuan berbaur mengikuti tahapan demi tahapan sampai akhir, namun ada beberapa peserta masih terlihat berkelompok dengan kampungnya masing-masing sehingga membuat proses pembelajaran diantara peserta kurang komunikatif dan partisipatif. Untuk mengatasi hal tersebut pada hari kedua dilakukan mandala diri dengan membentuk kelompok secara acak sehingga masing-masing peserta bisa berinteraksi dengan peserta lain diluar kelompoknya masing-masing. Fasilitator perlu mempersiapkan rencana belajar dengan matang sehingga proses pelatihan bisa berjalan dengan baik dan penuh antusias baik dari segi waktu maupun media belajar. Page7

8 Kerangka Acuan Pelatihan untuk Pelatih Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ditingkat Akar Rumput Mengenai Perubahan Iklim dan REDD+ Latar Belakang Kabupaten Berau di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur memiliki luas lahan 2,2 juta hektar dengan tutupan hutan sebanyak 75 %. Pada tingkat lokal, Kabupaten Berau merupakan salah satu dari lima kabupaten di Indonesia yang telah berupaya mengembangkan model REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation atau Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan, konservasi, penyimpanan karbon, dan pengelolaan hutan lestari) pada skala Kabupaten. Model ini disebut dengan Program Karbon Hutan Berau (PKHB). Tujuan PKHB mencakup total hampir 2,2 juta hektar hutan selama periode lima tahun mulai tahun Pada tahun 2017, program bertujuan untuk membawa setidaknya ha hutan dibawah manajemen yang efektif, menghindari emisi setidaknya 10 juta ton CO 2, melindungi daerah aliran sungai dan habitat dari hampir 1500 orangutan, studi keanekaragaman hayati dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Semua itu bisa dicapai jika partisipasi masyarakat lokal dapat aktif dengan meningkatkan kesadaran dan membangun kapasitas masyarakat untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan salah satunya melalui kegiatan-kegiatan kampanye Perubahan Iklim dan saluran akses informasi serta media yang memadai bagi masyarakat. Perubahan Iklim dipahami sebagai suatu perubahan yang terjadi pada pola cuaca normal di seluruh dunia yang secara langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kegiatan manusia yang merubah komposisi atmosfir global selama jangka waktu yang panjang. Hutan dan area alami memainkan peran sangat penting dalam mempertahankan proses alami, dimana hutan merupakan salah satu penampung karbon terbesar sehingga membantu menjaga daur karbon dan proses alami lainnya berjalan dengan baik dan membantu mengurangi perubahan iklim. Namun keterbatasan informasi mengenai perubahan iklim dan peran hutan, serta terbatasnya kesempatan bagi praktisi di lapangan untuk membagikan pengalaman dan pembelajarannya, menjadi faktor rendahnya partisipasi aktif masyarakat dalam implementasi program REDD+ khususnya partisipasi perempuan dalam pembangunan kapasitas pengetahuan mengenai alam. Page8

9 Meningkatkan peran serta perempuan merupakan langkah yang perlu mendapat perhatian, dengan arus informasi yang begitu deras dan pembaharuan yang sedemikian cepat memerlukan keterlibatan seluruh komponen masyarakat termasuk partisipasi perempuan. Partisipasi perempuan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, untuk mengawasi terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan akan memberikan dampak baik bagi keluarga dan lingkungannya termasuk sebagai penentu kebijakan di dalam mengembangkan lingkungan lestari di daerahnya. Salah satu upaya penyadartahuan di kalangan kaum ibu atau perempuan adalah dengan melibatkan gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan gerakan nasional yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat, dengan perempuan sebagai penggeraknya dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan lingkungan. Secara spesifik poin kesembilan mengenai kelestarian lingkungan hidup dari 10 program PKK bersinergi dengan pelatihan penyadartahuan terkait perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim. Selain bertujuan untuk memberikan informasi dan penyadartahuan di kalangan masyarakat khususnya kaum ibu atau perempuan di daerahnya, namun juga dapat memberikan sebuah inisiatif penyadartahuan mengenai isu perubahan iklim yang dapat diimplementasikan untuk membangun ruang belajar bagi perempuan untuk bisa menyampaikan pendapat dan aspirasinya terhadap kesadaran ditingkat akar rumput terkait perubahan iklim dan peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim. Menjembatani kebutuhan tersebut Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI) dengan dukungan The Regional Community Foresty Training Center For Asia and the Pacific (RECOFTC) akan mengadakan Pelatihan bagi tim PKK mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim. Tujuan 1. Menambah pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim di kalangan perempuan 2. Terciptanya keberlanjutan program dalam bentuk fasilitasi penyadartahuan mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim di masing - masing kelompok PKK kampung. Hasil yang diharapkan Dalam pelaksanaan penyadartahuan kelompok PKK mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim, hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan pengetahuan mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim di kalangan ibu-ibu PKK. Page9

10 2. Penyebaran informasi mengenai perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim di masyarakat khusunya para kaum ibu/perempuan. Metodologi Pelatihan akan dilaksanakan selama dua hari di kecamatan Biduk-biduk, dengan penekanan pada materi perubahan iklim dan peran hutan dalam pengurangan dampak perubahan iklim. Pelatihan ini dilakukan dengan metode psikologi positif (appreciative inquiry). Pada sesi akhir hari kedua, akan dilakukan diskusi bersama mengenai inisiatif pelaksanaan penyadartahuan masing-masing kelompok PKK disetiap kampung sesuaia dengan konteks dan potensi setempat. Waktu dan Tempat Pelatihan ini dilaksanakan pada : Hari,tanggal : Kamis Jum at, November 2014 Waktu Tempat : Pukul wita : Pendopo atau Ruang Rapat Kecamatan Biduk-Biduk Peserta Peserta pelatihan adalah perwakilan dari PKK Kampung Kecamatan Biduk-Biduk: 1. PKK Kampung Tanjung Prepat 2. PKK Kampung Biduk-biduk 3. PKK Kampung Giring-giring 4. PKK Kampung Teluk Sulaiman 5. PKK Kampung Teluk Sumbang 6. PKK Kampung Pantai Harapan Agenda Pelatihan akan dilaksanakan dengan agenda umum sebagai berikut. Waktu Hari Regestrasi Peserta Pembukaan : Page10

11 Pembacaan Do a Sambutan ketua PKK Kecamatan Penjelasan Alur Pelatihan : Perkenalan peserta Penjelasan desain pelatihan oleh Fasilitator Rehat Pagi Sesi 1 : Menjelaskan pengetahuan dasar mengenai iklim dan perubahan iklim Mengidentifikasi penyebab perubahan iklim dan efek rumah kaca Diskusi kelompok terfokus Ishoma Sesi 2 : Menjelaskan tanda-tanda dan dampak perubahan iklim Memahami proyeksi masa depan terhadap perubahan iklim Diskusi kelompok terfokus Waktu Hari Registrasi Overview proses hari pertama Sesi 1 : Peranan hutan dalam mitigasi perubahan iklim Pengetahuan dasar dan peran penting hutan dan siklus karbon global. Deforestasi dan degradasi hutan. Diskusi kelompok terfokus Ishoma Sesi 2 : Menggambarkan bagaimana hutan dapat berperan dalam pengurangan dampak perubahan iklim. Solusi dan peran perempuan dalam pengurangan dampak perubahan iklim. Diskusi inisiatif pelaksanaan penyadartahuan PKK di masingmasing kampung Penutup (Kesan & Pesan pertemuan diberikan oleh semua peserta) Page11

12 Page12

13 Page13

14 Page14

15 Page15

16 Page16

17 Page17

18 Page18

19 Page19

BAB I. PENDAHULUAN. Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Perubahan iklim global (global climate

BAB I. PENDAHULUAN. Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Perubahan iklim global (global climate BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelestarian lingkungan dekade ini sudah sangat terancam, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Perubahan iklim global (global climate change) yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di

I. PENDAHULUAN. hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di dunia,

Lebih terperinci

Deforestasi merupakan penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak

Deforestasi merupakan penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak Deforestasi merupakan penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali. Dilakukan dengan cara menebang, membakar, atau mengalihkan fungsi hutan menjadi pertambangan. Degradasi hutan merupakan

Lebih terperinci

KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM Peningkatan Kapasitas Akar Rumput untuk REDD+ di kawasan Asia Pasifik Maret 2012 RECOFTC - The Center for People and Forests adalah satusatunya organisasi nirlaba internasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia mempunyai luas hutan negara berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia mempunyai luas hutan negara berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai luas hutan negara berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakat (TGHK) 1 seluas 140,4 juta hektar terdiri atas kawasan hutan tetap seluas 113,8 juta hektar

Lebih terperinci

Ilmuwan mendesak penyelamatan lahan gambut dunia yang kaya karbon

Ilmuwan mendesak penyelamatan lahan gambut dunia yang kaya karbon Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: Nita Murjani n.murjani@cgiar.org Regional Communications for Asia Telp: +62 251 8622 070 ext 500, HP. 0815 5325 1001 Untuk segera dipublikasikan Ilmuwan

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN LATAR BELAKANG

KERANGKA ACUAN LATAR BELAKANG KERANGKA ACUAN Mendengar proses penerapan Free, Prior, Informed And Consent atau (FPIC) pada area proyek Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus (REDD+) di Kalimantan Tengah LATAR

Lebih terperinci

PELUANG IMPLEMENTASI REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) DI PROVINSI JAMBI

PELUANG IMPLEMENTASI REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) DI PROVINSI JAMBI PELUANG IMPLEMENTASI REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) DI PROVINSI JAMBI Oleh Ir. H. BUDIDAYA, M.For.Sc. (Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi) Disampaikan pada Focus Group

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Kalimantan Tengah pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 292 MtCO2e 1 yaitu

BAB 1. PENDAHULUAN. Kalimantan Tengah pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 292 MtCO2e 1 yaitu 1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam skenario BAU (Business As Usual) perdagangan karbon di indonesia, Kalimantan Tengah akan menjadi kontributor signifikan emisi gas rumah kaca di Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi prioritas dunia saat ini. Berbagai skema dirancang dan dilakukan

Lebih terperinci

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG STRATEGI DAN RENCANA AKSI PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. dan hutan tropis yang menghilang dengan kecepatan yang dramatis. Pada tahun

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. dan hutan tropis yang menghilang dengan kecepatan yang dramatis. Pada tahun I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan kebutuhan hidup manusia, tidak dapat dipungkiri bahwa tekanan terhadap perubahan lingkungan juga akan meningkat

Lebih terperinci

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

BAB II. PERENCANAAN KINERJA BAB II. PERENCANAAN KINERJA A. Rencana Strategis Organisasi Penyelenggaraan pembangunan kehutanan di Sumatera Selatan telah mengalami perubahan paradigma, yaitu dari pengelolaan yang berorientasi pada

Lebih terperinci

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA 4.1. Landasan Berfikir Pengembangan SRAP REDD+ Provinsi Papua Landasan berpikir untuk pengembangan Strategi dan Rencana Aksi (SRAP) REDD+ di Provinsi

Lebih terperinci

Menyelaraskan hutan dan kehutanan untuk pembangunan berkelanjutan. Center for International Forestry Research

Menyelaraskan hutan dan kehutanan untuk pembangunan berkelanjutan. Center for International Forestry Research Menyelaraskan hutan dan kehutanan untuk pembangunan berkelanjutan Center for International Forestry Research Siapakah kami Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

BAB I PENDAHULUAN. Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasca runtuhnya Uni Soviet sebagai salah satu negara adi kuasa, telah membawa agenda baru dalam tatanan studi hubungan internasional (Multazam, 2010). Agenda yang awalnya

Lebih terperinci

PERHUTANAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT YANG EFEKTIF

PERHUTANAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT YANG EFEKTIF Peran Penting Masyarakat dalam Tata Kelola Hutan dan REDD+ 3 Contoh lain di Bantaeng, dimana untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian, pemerintah kabupaten memberikan modal dan aset kepada desa

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. oleh pemerintah untuk di pertahankan keberadaan nya sebagai hutan tetap.

TINJAUAN PUSTAKA. oleh pemerintah untuk di pertahankan keberadaan nya sebagai hutan tetap. 4 TINJAUAN PUSTAKA Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang di tunjuk dan atau di tetapkan oleh pemerintah untuk di pertahankan keberadaan nya sebagai hutan tetap. Kawasan hutan perlu di tetapkan untuk

Lebih terperinci

SAMBUTAN BUPATI SLEMAN PADA PUNCAK ACARA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SE-DUNIA TINGKAT KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2014 TANGGAL : 27 JUNI 2014

SAMBUTAN BUPATI SLEMAN PADA PUNCAK ACARA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SE-DUNIA TINGKAT KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2014 TANGGAL : 27 JUNI 2014 1 SAMBUTAN BUPATI SLEMAN PADA PUNCAK ACARA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SE-DUNIA TINGKAT KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2014 TANGGAL : 27 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam konteks global emisi gas rumah kaca (GRK) cenderung meningkat setiap tahunnya. Sumber emisi GRK dunia berasal dari emisi energi (65%) dan non energi (35%). Emisi

Lebih terperinci

Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan.

Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan. BAB II. PERENCANAAN KINERJA A. Rencana Strategis Organisasi Penyelenggaraan pembangunan kehutanan di Sumatera Selatan telah mengalami perubahan paradigma, yaitu dari pengelolaan yang berorientasi pada

Lebih terperinci

Daftar Tanya Jawab Permintaan Pengajuan Konsep Proyek TFCA Kalimantan Siklus I 2013

Daftar Tanya Jawab Permintaan Pengajuan Konsep Proyek TFCA Kalimantan Siklus I 2013 Daftar Tanya Jawab Permintaan Pengajuan Konsep Proyek TFCA Kalimantan Siklus I 2013 1. Apakah TFCA Kalimantan? Tropical Forest Conservation Act (TFCA) merupakan program kerjasama antara Pemerintah Republik

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEHUTANAN BADAN LITBANG KEHUTANAN PUSAT LITBANG PERUBAHAN IKLIM DAN KEBIJAKAN

KEMENTERIAN KEHUTANAN BADAN LITBANG KEHUTANAN PUSAT LITBANG PERUBAHAN IKLIM DAN KEBIJAKAN TROPICAL FOREST CONSERVATION FOR REDUCING EMISSIONS FROM DEFORESTATION AND FOREST DEGRADATION AND ENHANCING CARBON STOCKS IN MERU BETIRI NATIONAL PARK, INDONESIA ITTO PD 519/08 REV.1 (F) KEMENTERIAN KEHUTANAN

Lebih terperinci

Laporan Kegiatan. Fasilitasi Perubahan Iklim dan Pemanasan Global di SD 001 Kampung Long Laai, Kecamatan Segah

Laporan Kegiatan. Fasilitasi Perubahan Iklim dan Pemanasan Global di SD 001 Kampung Long Laai, Kecamatan Segah Laporan Kegiatan Fasilitasi Perubahan Iklim dan Pemanasan Global di SD 001 Kampung Long Laai, Kecamatan Segah Laporan Kegiatan Fasilitasi Perubahan Iklim dan Pemanasan Global di SD 001 Kampung Long Laai,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ancaman perubahan iklim sangat menjadi perhatian masyarakat dibelahan dunia manapun. Ancaman dan isu-isu yang terkait mengenai perubahan iklim terimplikasi dalam Protokol

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Provinsi Papua dengan luas kawasan hutan 31.687.680 ha (RTRW Provinsi Papua, 2012), memiliki tingkat keragaman genetik, jenis maupun ekosistem hutan yang sangat tinggi.

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Barat West Kalimantan Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Barat West Kalimantan Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Kalimantan Barat West Kalimantan Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Kalimantan Barat ornelis M.H West Kalimantan Governor Preface ornelis M.H Puji

Lebih terperinci

2013, No Mengingat Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut; : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Rep

2013, No Mengingat Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut; : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Rep No.149, 2013 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN. Badan Pengelola. Penurunan. Emisi Gas Rumah Kaca. Kelembagaan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan konsentrasi karbon di atmosfer menjadi salah satu masalah lingkungan yang serius dapat mempengaruhi sistem kehidupan di bumi. Peningkatan gas rumah kaca (GRK)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. itu merupakan suatu anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Menurut UU RI No.

BAB I PENDAHULUAN. itu merupakan suatu anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Menurut UU RI No. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan kumpulan pohon pohon atau tumbuhan berkayu yang menempati suatu wilayah yang luas dan mampu menciptakan iklim yang berbeda dengan luarnya sehingga

Lebih terperinci

RENCANA RUNDOWN JADWAL MATRIKULASI PS S2 PWK FT UB Minggu Pertama

RENCANA RUNDOWN JADWAL MATRIKULASI PS S2 PWK FT UB Minggu Pertama RENCANA RUNDOWN JADWAL MATRIKULASI PS S2 PWK FT UB Minggu Pertama Hari/ Tanggal Waktu Materi Uraian Hari 1 Rabu (27 Juli 2016) 08.00-08.15 Registrasi Peserta 08.15 09.00 Pembukaan (pembacaan doa, penjelasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Hubert Forestier dan Truman Simanjuntak (1998, Hlm. 77), Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Hubert Forestier dan Truman Simanjuntak (1998, Hlm. 77), Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Hubert Forestier dan Truman Simanjuntak (1998, Hlm. 77), Indonesia merupakan Negara yang beriklim tropis yang merupakan keunggulan tersendiri dari Negara ini

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. mengkonversi hutan alam menjadi penggunaan lainnya, seperti hutan tanaman

PENDAHULUAN. mengkonversi hutan alam menjadi penggunaan lainnya, seperti hutan tanaman PENDAHULUAN Latar Belakang Terdegradasinya keadaan hutan menyebabkan usaha kehutanan secara ekonomis kurang menguntungkan dibandingkan usaha komoditi agribisnis lainnya, sehingga memicu kebijakan pemerintah

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN URUSAN WAJIB LINGKUNGAN HIDUP

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN URUSAN WAJIB LINGKUNGAN HIDUP BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN URUSAN WAJIB LINGKUNGAN HIDUP 4.1. Visi dan Misi 4.1.1. Visi Bertitik tolak dari dasar filosofi pembangunan daerah Daerah Istimewa Yogyakarta,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove bagi kelestarian sumberdaya perikanan dan lingkungan hidup memiliki fungsi yang sangat besar, yang meliputi fungsi fisik dan biologi. Secara fisik ekosistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan

BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropika yang terdiri dari 17.504 buah pulau (28 pulau besar dan 17.476 pulau kecil) dengan panjang garis pantai sekitar

Lebih terperinci

West Kalimantan Community Carbon Pools

West Kalimantan Community Carbon Pools Progress Kegiatan DA REDD+ Mendukung Target Penurunan Emisi GRK Kehutanan West Kalimantan Community Carbon Pools Fauna & Flora International Indonesia Programme Tujuan: Pengembangan proyek REDD+ pada areal

Lebih terperinci

Terms Of Reference Round Table Discussion 2 Rawa Tripa, penyangga kehidupan masyarakat Nagan Raya dan Aceh Barat Daya

Terms Of Reference Round Table Discussion 2 Rawa Tripa, penyangga kehidupan masyarakat Nagan Raya dan Aceh Barat Daya Terms Of Reference Round Table Discussion 2 Rawa Tripa, penyangga kehidupan masyarakat Nagan Raya dan Aceh Barat Daya Latar Belakang Tripa merupakan hutan rawa gambut yang luasnya sekitar 61.000 ha, terletak

Lebih terperinci

Sambutan Endah Murniningtyas Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Balikpapan, Februari 2012

Sambutan Endah Murniningtyas Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Balikpapan, Februari 2012 Sambutan Endah Murniningtyas Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Penyusunan

Lebih terperinci

DOKUMEN INFORMASI PROYEK (PID) TAHAP KONSEP. Proyek Persiapan Kesiapan Indonesia (Indonesia Readiness Preparation Project) Kawasan Regional EAP Sektor

DOKUMEN INFORMASI PROYEK (PID) TAHAP KONSEP. Proyek Persiapan Kesiapan Indonesia (Indonesia Readiness Preparation Project) Kawasan Regional EAP Sektor DOKUMEN INFORMASI PROYEK (PID) TAHAP KONSEP Laporan No.: Nama Proyek Proyek Persiapan Kesiapan Indonesia (Indonesia Readiness Preparation Project) Kawasan Regional EAP Sektor Lingkungan dan Pedesaan ID

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menyebabkan perubahan yang signifikan dalam iklim global. GRK adalah

I. PENDAHULUAN. menyebabkan perubahan yang signifikan dalam iklim global. GRK adalah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) sejak pertengahan abad ke 19 telah menyebabkan perubahan yang signifikan dalam iklim global. GRK adalah lapisan gas yang berperan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Pemanfaatan canal blocking untuk konservasi lahan gambut

Pemanfaatan canal blocking untuk konservasi lahan gambut SUMBER DAYA AIR Indonesia memiliki potensi lahan rawa (lowlands) yang sangat besar. Secara global Indonesia menempati urutan keempat dengan luas lahan rawa sekitar 33,4 juta ha setelah Kanada (170 juta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Secara keseluruhan daerah Lampung memiliki luas daratan ,80 km², kota

I. PENDAHULUAN. Secara keseluruhan daerah Lampung memiliki luas daratan ,80 km², kota 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Secara keseluruhan daerah Lampung memiliki luas daratan 34.623,80 km², kota Bandar Lampung merupakan Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung yang memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hutan merupakan pusat keragaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang. jenis tumbuh-tumbuhan berkayu lainnya. Kawasan hutan berperan

BAB I PENDAHULUAN. Hutan merupakan pusat keragaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang. jenis tumbuh-tumbuhan berkayu lainnya. Kawasan hutan berperan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hutan merupakan pusat keragaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang manfaat serta fungsinya belum banyak diketahui dan perlu banyak untuk dikaji. Hutan berisi

Lebih terperinci

BAB VII REFLEKSI PENDAMPINGAN BERBASIS ASET TENTANG PEDULI DARI POLUSI PENCEMARAN LINGKUNGAN

BAB VII REFLEKSI PENDAMPINGAN BERBASIS ASET TENTANG PEDULI DARI POLUSI PENCEMARAN LINGKUNGAN 88 BAB VII REFLEKSI PENDAMPINGAN BERBASIS ASET TENTANG PEDULI DARI POLUSI PENCEMARAN LINGKUNGAN Perubahan pola pikir dalam masyarakat menjadi suatu trend utama dalam suatu pendampingan. Upaya-upaya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Forest People Program (FPP) menemukan bahwa di negara dunia ketiga,

BAB I PENDAHULUAN. Forest People Program (FPP) menemukan bahwa di negara dunia ketiga, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Forest People Program (FPP) menemukan bahwa di negara dunia ketiga, banyak kebijakan dan program pembangunan yang mengarah pada diskriminasi terhadap masyarakat adat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki garis pantai yang terpanjang di dunia, lebih dari 81.000 KM garis pantai dan 17.508 pulau yang membentang

Lebih terperinci

V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE Berdasarkan tinjauan pustaka yang bersumber dari CIFOR dan LEI, maka yang termasuk dalam indikator-indikator ekosistem hutan mangrove berkelanjutan dilihat

Lebih terperinci

PERAN DINAS KEHUTANAN SEBAGAI MITRA UTAMA DDPI KALTIM

PERAN DINAS KEHUTANAN SEBAGAI MITRA UTAMA DDPI KALTIM PERAN DINAS KEHUTANAN SEBAGAI MITRA UTAMA DDPI KALTIM Oleh DINAS KEHUTANAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DALAM ACARA PELATIHAN GCF YANG BERJUDUL PENGUATAN KERANGKA KERJA KELEMBAGAAN PROVINSI MENGENAI PERUBAHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN Hutan berperan penting dalam menjaga kesetabilan iklim global, vegetasi hutan akan memfiksasi CO2 melalui proses fotosintesis. Jika hutan terganggu maka siklus CO2

Lebih terperinci

ALAM. Kawasan Suaka Alam: Kawasan Pelestarian Alam : 1. Cagar Alam. 2. Suaka Margasatwa

ALAM. Kawasan Suaka Alam: Kawasan Pelestarian Alam : 1. Cagar Alam. 2. Suaka Margasatwa UPAYA DEPARTEMEN KEHUTANAN DALAM ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM DEPARTEMEN KEHUTANAN FENOMENA PEMANASAN GLOBAL Planet in Peril ~ CNN Report + Kenaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi pertukaran materi

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Perubahan iklim telah menjadi isu penting dalam peradaban umat manusia saat ini. Hal ini disebabkan karena manusia sebagai aktor dalam pengendali lingkungan telah melupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beberapa ilmuwan dan orang awam dulu menganggap bahwa global warming hanya merupakan sebuah mitos yang dampaknya tidak akan berpengaruh pada kehidupan manusia. Namun,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. intensitas ultraviolet ke permukaan bumi yang dipengaruhi oleh menipisnya

BAB I PENDAHULUAN. intensitas ultraviolet ke permukaan bumi yang dipengaruhi oleh menipisnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan kehidupan paling signifikan saat ini adalah meningkatnya intensitas ultraviolet ke permukaan bumi yang dipengaruhi oleh menipisnya lapisan atmosfer.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tujuan Penulisan Laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Lingkungan dan Pembangunan (the United Nations Conference on Environment and Development UNCED) di Rio

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pergeseran konsep kepariwisataan dunia kepada pariwisata minat khusus atau yang salah satunya dikenal dengan bila diterapkan di alam, merupakan sebuah peluang besar

Lebih terperinci

BAB VI PROSPEK DAN TANTANGAN KEHUTANAN SULAWESI UTARA ( KEDEPAN)

BAB VI PROSPEK DAN TANTANGAN KEHUTANAN SULAWESI UTARA ( KEDEPAN) BAB VI PROSPEK DAN TANTANGAN KEHUTANAN SULAWESI UTARA (2014 - KEDEPAN) Gambar 33. Saluran Listrik Yang Berada di dalam Kawasan Hutan 70 Kiprah Kehutanan 50 Tahun Sulawesi Utara Foto : Johanes Wiharisno

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. asing. Indonesia telah menjadikan Jepang sebagai bagian penting dalam proses

BAB V KESIMPULAN. asing. Indonesia telah menjadikan Jepang sebagai bagian penting dalam proses BAB V KESIMPULAN Dinamika hubungan diplomatik Indonesia dengan Jepang telah mengalami berbagai perkembangan, mulai dari masa penjajahan, kerjasama ekonomi hingga bidang politik dan keamanan. Politik luar

Lebih terperinci

TERM OF REFERENCE KONGRES DAN LOKAKARYA JARINGAN MASYARAKAT GAMBUT RIAU PEKANBARU, MARET 2010

TERM OF REFERENCE KONGRES DAN LOKAKARYA JARINGAN MASYARAKAT GAMBUT RIAU PEKANBARU, MARET 2010 TERM OF REFERENCE KONGRES DAN LOKAKARYA JARINGAN MASYARAKAT GAMBUT RIAU PEKANBARU, 29 30 MARET 2010 I. Latar Belakang Propinsi Riau merupakan wilayah yang memiliki lahan gambut yang terluas disumatra 4,044

Lebih terperinci

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II Bab II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, setiap satuan kerja perangkat Daerah, SKPD harus menyusun Rencana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem unik dengan fungsi yang unik dalam

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem unik dengan fungsi yang unik dalam 2 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem unik dengan fungsi yang unik dalam lingkungan hidup. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan, di kawasan mangrove terjadi interaksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, termasuk di

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, termasuk di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, termasuk di dalamnya berupa sumberdaya hutan. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang tersimpan di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. guna tercapainya visi dan misi perusahaan. Didalam komunikasi ada terbagi

BAB I PENDAHULUAN. guna tercapainya visi dan misi perusahaan. Didalam komunikasi ada terbagi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka)

Lebih terperinci

BAB VI LAMPIRAN A. Tabulasi Focus Group Discussion di Desa Batu Tangkui Kecamatan Kahayan Hulu Utara

BAB VI LAMPIRAN A. Tabulasi Focus Group Discussion di Desa Batu Tangkui Kecamatan Kahayan Hulu Utara BAB VI LAMPIRAN A. Tabulasi Focus Group Discussion di Desa Batu Tangkui Kecamatan Kahayan Hulu Utara Pemilik Lahan Bukan Pemilik Lahan Perangkat Desa Pemahaman mengenai Program Belum mengetahui mengenai

Lebih terperinci

Pemerintah Republik Indonesia (Indonesia) dan Pemerintah Kerajaan Norwegia (Norwegia), (yang selanjutnya disebut sebagai "Para Peserta")

Pemerintah Republik Indonesia (Indonesia) dan Pemerintah Kerajaan Norwegia (Norwegia), (yang selanjutnya disebut sebagai Para Peserta) Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia ini dibuat oleh Center for Internasional Forestry Research (CIFOR) dan tidak bisa dianggap sebagai terjemahan resmi. CIFOR tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan

Lebih terperinci

kebijakan yang menyebutkan pengembangan masyarakat dan desa dalam kerangka desentralisasi pembangunan. Namun kenyataannya, masyarakat, desa dan

kebijakan yang menyebutkan pengembangan masyarakat dan desa dalam kerangka desentralisasi pembangunan. Namun kenyataannya, masyarakat, desa dan LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN FASILITASI DAN PENGEMBANGAN PUSAT PERTUMBUHAN TERPADU ANTAR DESA (PPTAD) DALAM RANGKA PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN BERBASIS MASYARAKAT (PKPBM) TAHUN 2012 KEGIATAN Fasilitasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya alam dan lingkungan hidup merupakan salah satu modal utama untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan nasional, yaitu pemanfaatan sumber daya yang sebesar-besarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan hutan. Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan hutan terluas di dunia

BAB I PENDAHULUAN. merupakan hutan. Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan hutan terluas di dunia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia, hutan merupakan vegetasi alami utama dan salah satu sumber daya alam yang sangat penting. Menurut UU No. 5 tahun 1967 hutan didefinisikan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Dengan kata lain manfaat

BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Dengan kata lain manfaat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia, baik yang berupa manfaat ekonomi secara langsung maupun fungsinya dalam menjaga daya dukung lingkungan. Hutan

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU (PKHB) DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 3, 2015

FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU (PKHB) DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 3, 2015 Lampiran. FOKUS PROGRAM TFCA KALIMANTAN DI KABUPATEN BERAU (PKHB) DALAM RANGKA PENDANAAN HIBAH SIKLUS 3, 2015 Latar Belakang TFCA Kalimantan adalah kemitraan antara Pemerintah Amerika Serikat (USG), Pemerintah

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. yang semakin kritis. Perilaku manusia dan pembangunan yang tidak

BAB I. Pendahuluan. yang semakin kritis. Perilaku manusia dan pembangunan yang tidak BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Usaha konservasi menjadi kian penting ditengah kondisi lingkungan yang semakin kritis. Perilaku manusia dan pembangunan yang tidak mengedepankan aspek lingkungan menjadi

Lebih terperinci

Konservasi Hutan Berbasis Masyarakat dan Mitigasi Perubahan Iklim di Bentang Alam Kerinci Seblat Konsorsium Perkumpulan WALESTRA (WALESTRA, ICS &

Konservasi Hutan Berbasis Masyarakat dan Mitigasi Perubahan Iklim di Bentang Alam Kerinci Seblat Konsorsium Perkumpulan WALESTRA (WALESTRA, ICS & Judul Pelaksana Fokus Area Konservasi Hutan Berbasis Masyarakat dan Mitigasi Perubahan Iklim di Bentang Alam Kerinci Seblat Konsorsium Perkumpulan WALESTRA (WALESTRA, ICS & CFES) Mitigasi Berbasis Lahan

Lebih terperinci

Pendahuluan Daniel Murdiyarso

Pendahuluan Daniel Murdiyarso Pendahuluan Daniel Murdiyarso 1 Daftar isi dari presentasi ini: - Apakah toolbox itu? - Apakah IPN? - Apakah SWAMP? - Kenapa lahan gabut tropis penting? - Cakupan Toolbox IPN - Para penulis Toolbox IPN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam penggunaan sumberdaya alam. Salah satu sumberdaya alam yang tidak terlepas

BAB I PENDAHULUAN. dalam penggunaan sumberdaya alam. Salah satu sumberdaya alam yang tidak terlepas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang terus menerus melakukan pembangunan nasional. Dalam mengahadapi era pembangunan global, pelaksanaan pembangunan ekonomi harus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk rawan

Lebih terperinci

Belajar dari redd Studi komparatif global

Belajar dari redd Studi komparatif global Belajar dari redd Studi komparatif global Studi komparatif global REDD dalam kurun waktu beberapa tahun yang diupayakan CIFOR bertujuan menyediakan informasi bagi para pembuat kebijakan, praktisi dan penyandang

Lebih terperinci

Pontianak, 1-2 Oktober Agenda Tentatif

Pontianak, 1-2 Oktober Agenda Tentatif Lokakarya Mendukung Mitigasi Perubahan Iklim: Kerjasama Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan Japan International Cooperation Agency Pontianak, 1-2 Oktober 2013 Agenda Tentatif

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang ± 81.000 km dan luas sekitar 3,1 juta km 2.

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN 31 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Metode Penentuan Lokasi Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive sampling) difokuskan pada kawasan yang berada di hulu sungai dan

Lebih terperinci

Rekomendasi Kebijakan Penggunaan Toolkit untuk Optimalisasi Berbagai Manfaat REDD+

Rekomendasi Kebijakan Penggunaan Toolkit untuk Optimalisasi Berbagai Manfaat REDD+ Rekomendasi Kebijakan Penggunaan Toolkit untuk Optimalisasi Berbagai Manfaat REDD+ Dr. Henry Barus Konsultan UN-REDD untuk Optimalisasi Multiple Benefit REDD+ Disusun Berdasarkan Pengalaman dan Evaluasi

Lebih terperinci

`BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH

`BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH `BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH URUSAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP (Urusan Bidang Lingkungan Hidup dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah (BAPEDAL) Aceh. 2. Realisasi Pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Raden Roby Maulidan, 2014 Kesiapan Warga Kampus UPI Menuju ECO-Campus

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Raden Roby Maulidan, 2014 Kesiapan Warga Kampus UPI Menuju ECO-Campus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini isu-isu tentang lingkungan menjadi salah satu suatu pusat perhatian seluruh Dunia, diantaranya isu global warming, krisis ketersedian sumber daya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap sumberdaya alam memiliki fungsi penting terhadap lingkungan. Sumberdaya alam berupa vegetasi pada suatu ekosistem hutan mangrove dapat berfungsi dalam menstabilkan

Lebih terperinci

STRATEGI TINDAK LANJUT

STRATEGI TINDAK LANJUT VII. STRATEGI TINDAK LANJUT Pendahuluan Kampanye tahap pertama yang dilakukan di Kompleks hutan rawa gambut Sungai Putri baru saja berakhir Juli 2010 lalu. Beberapa capaian yang dicatat dari kampaye tersebut:

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN AKSI PARTISIPATIF. Participatory Action Research (PAR). Metodologi tersebut dilakukan dengan

BAB III METODE PENELITIAN AKSI PARTISIPATIF. Participatory Action Research (PAR). Metodologi tersebut dilakukan dengan BAB III METODE PENELITIAN AKSI PARTISIPATIF A. Pendekatan Penelitian untuk Pemberdayaan Metode yang dipakai untuk pendampingan ini adalah metodologi Participatory Action Research (PAR). Metodologi tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagian hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagian hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Berdasarkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagian hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Berdasarkan luas, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke tiga setelah Brasil dan Republik Demokrasi

Lebih terperinci

D4 Penggunaan 2013 Wetlands Supplement to the 2006 IPCC Guidelines untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca di Indonesia.

D4 Penggunaan 2013 Wetlands Supplement to the 2006 IPCC Guidelines untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca di Indonesia. D4 Penggunaan 2013 Wetlands Supplement to the 2006 IPCC Guidelines untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca di Indonesia. 1 Pokok bahasan meliputi latar belakang penyusunan IPCC Supplement, apa saja yang menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang

BAB I PENDAHULUAN. Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan lingkungan. Kegiatan wisata alam itu sendiri dapat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. iklim global ini telah menyebabkan terjadinya bencana alam di berbagai belahan

II. TINJAUAN PUSTAKA. iklim global ini telah menyebabkan terjadinya bencana alam di berbagai belahan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pemanasan Global Pemanasan global diartikan sebagai kenaikan temperatur muka bumi yang disebabkan oleh efek rumah kaca dan berakibat pada perubahan iklim. Perubahan iklim global

Lebih terperinci

KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB)

KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB) KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB) Menimbang berbagai faktor utama yang menghambat pengelolaan hutan lindung secara efektif, maka pengelolaan hutan

Lebih terperinci

PERSEPSI DAN HARAPAN MASYARAKAT TERHADAP REDD DI HUTAN DESA KABUPATEN BANTAENG SULAWESI SELATAN

PERSEPSI DAN HARAPAN MASYARAKAT TERHADAP REDD DI HUTAN DESA KABUPATEN BANTAENG SULAWESI SELATAN Persepsi dan Harapan Masyarakat Terhadap REDD... Achmad Rizal H. Bisjoe dan Nurhaedah Muin PERSEPSI DAN HARAPAN MASYARAKAT TERHADAP REDD DI HUTAN DESA KABUPATEN BANTAENG SULAWESI SELATAN Achmad Rizal H.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah berlangsung sebelum legalitas hukum formal ditetapkan oleh pemerintah.

BAB I PENDAHULUAN. telah berlangsung sebelum legalitas hukum formal ditetapkan oleh pemerintah. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejarah pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal Indonesia di beberapa tempat telah berlangsung sebelum legalitas hukum formal ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Menurut Tomlinson(1986), mangrove merupakan sebutan umum yang digunakan

I. PENDAHULUAN. Menurut Tomlinson(1986), mangrove merupakan sebutan umum yang digunakan I. PENDAHULUAN Mangrove adalah tumbuhan yang khas berada di air payau pada tanah lumpur di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Menurut Tomlinson(1986), mangrove merupakan

Lebih terperinci

BAB V POTRET BURAM PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT WONOREJO. A. Profil Gerakan Perempuan dan Lingkungan Hidup di Wonorejo

BAB V POTRET BURAM PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT WONOREJO. A. Profil Gerakan Perempuan dan Lingkungan Hidup di Wonorejo BAB V POTRET BURAM PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT WONOREJO A. Profil Gerakan Perempuan dan Lingkungan Hidup di Wonorejo Kampung Wonorejo merupakan Kampung yang mempunyai masalah pada lingkungan hidup

Lebih terperinci