MODEL DAN UNJUK KINERJA DINAMIS SISTEM SEL BAHAN BAKAR TIPE (PROTON EXCHANGE MEMBRANE FUEL CELL) PEMFC

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MODEL DAN UNJUK KINERJA DINAMIS SISTEM SEL BAHAN BAKAR TIPE (PROTON EXCHANGE MEMBRANE FUEL CELL) PEMFC"

Transkripsi

1 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman 1-16 MODEL DAN UNJUK KINERJA DINAMIS SISTEM SEL BAHAN BAKAR TIPE (PROTON EXCHANGE MEMBRANE FUEL CELL) PEMFC Ferdian Ronilaya 1 Abstrak Sekarang ini, masyarakat sedang lebih peduli terhadap isu pemanasan global dan oleh karenanya pemanfaatan energi terbarukan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Para ahli yakin bahwa akan ada banyak pusat-pusat pembangkit energi listrik terbarukan di masa depan. Salah satu energi baru dan terbarukan yang bersih dan terbarukan adalah sel bahan bakar (Amplett et. al, 2002). Fokus utama dari penelitian ini adalah memodelkan dan mensimulasikan sel bahan bakar terutama tipe PEMFC untuk memahami unjuk kinerja dinamisnya. Semua parameter PEMFC yang disajikan dalam penelitian ini di adopsi dari Srinivasan (Srinivasan, 2006). Penelitian ini juga memodelkan konverter jenis buck di mana konverter ini berfungsi untuk menurunkan tegangan output. Konverter tersebut juga dilengkapi dengan rangkaian kontrol untuk memperoleh tegangan output yang terkendali ketika beban naik atau turun. Simulasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Dymola. Berdasarkan simulasi yang telah dilaksanakan, dapat diketahui bahwa, sel bahan bakar tipe PEMFC memiliki respon dinamik yang sangat lambat pada saat start-up awal dan selama kondisi transien. Karakteristik ini disebabkan oleh laju aliran hidrogen (termasuk kompresor, katup -katup dan reformer) tidak dapat disesuaikan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan beban. Sehingga ketika permintaan daya beban berfluktuasi, sel bahan bakar hanya mampu mensuplai daya dengan besaran yang hampir konstan. Kata-kata kunci: Pemodelan, Simulasi, PEMFC, Dymola Abstract Currently, people are more aware with global warming and therefore renewable energy utilisation has undergone fast expansion. Experts believe that there will be greater use of renewable energy in the future. One of the renewable energy power generations that offer clean and sustainable fashion is fuel cells [2]. The main focus of this paper is to model and to simulate the Fuel Cell system, 1 Ferdian Ronilaya. Dosen Program Studi Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang

2 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN particularly PEMFCs (Proton Exchange Membrane Fuel Cells), for understanding its dynamic performance. All of the PEMFCs parameters in this paper are adopted from Srinivasan [1]. The buck converter is also utilised in order to decrease the output voltage. Such converter is also equipped with controller to obtain the controlled voltage when the load current increases or decreases. The simulations are performed by using Dymola software. From the simulation that has been performed, it is known that Fuel Cell has very slow dynamic response at initial start up and during transient condition when there is a load change. This behaviour is caused by the hydrogen flow rates (together with compressor, pump, valves and reformer) cannot be quickly adjusted to meet the load demand. Consequently, as power demand fluctuates, the fuel cell only capable to supply unfluctuating power. Keywords: Modelling, Simulation, PEMFCs, Dymola 1. PENDAHULUAN Sel bahan bakar pertama kali ditemukan oleh fisikawan asal Wales yang bernama Sir William Robert Grove pada tahuan Dia bereksperimen dengan cara mereaksikan oksigen dan hidrogen dengan bantuan suatu elektrolit. Hasil dari reaksi pencampuran itu adalah energi listrik dan air. Akan tetapi, energi listrik yang dihasilkan tersebut masih belum dapat diaplikasikan secara teknis. Hasil temuannya diistilahkan dengan sel bahan bakar ( fuel cell) oleh Ludwig Mond dan Charles Langer. Aplikasi sel bahan bakar pertama kali diperkenalkan oleh NASA pada tahuan Sekarang ini, isu yang paling penting bukanlah terletak pada teknologi sel bahan bakar, akan tetapi terletak pada faktor ekonomisnya (Chiu and Diong, 2004). Walaupun demikian, studi tentang model dan karakteristik dari berbagai macam tipe sel bahan bakar, khususnya tipe PEMFC, masih dibutuhkan dalam rangka memperoleh disain atau rancangan sel bahan bakar yang layak baik dari segi teknis maupun ekonomis. 2. KAJIAN PUSTAKA Srinivasan menyatakan bahwa penggunaan hidrogen dalam sel bahan bakar untuk produksi energi listrik memiliki beberapa keuntungan, antara lain (Srinivasan, 2006) : Sistem sel bahan bakar sederhana karena energi dapat dikonversi secara langsung, dari energi kimia ke energi listrik Sel bahan bakar memiliki efisiensi yang lebih tinggi dari mesin Carnot. Sel bahan bakar memiliki efisiensi yang cenderung konstan walupun beroperasi pada beban yang ringan

3 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman 1-16 Sel bahan bakar tidak menghasilkan polusi suara karena tidak ada komponen mesin berputar Sel bahan bakar ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca asalkan metode yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen berasal dari sumber energi yang bersih Sel bahan bakar dapat dikombinasikan dengan sistem CHP (Combine heat Power) Sel bahan bakar adalah sel elektrokimia yang mengubah energi kimia dari suatu bahan bakar ke energi listrik melalui suatu reaksi antara bahan bakar dan oksidan yang dipicu dan dipercepat oleh elektrolit dan katalis (Correa, et. al., 2004). Untuk sel bahan bakar hidrogen, hidrogen digunakan sebagai bahan bakar sedangkan udara/oksigen sebagai oksidan. Reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen tersebut di definisikan dengan persamaan kimia sebagai berikut (Srinivasan, 2006): Pada anoda : H 2 2H + + 2e - (1) Pada katoda : ½O 2 + 2H + + 2e - H 2 O (2) Total reaksi : H 2 + ½O 2 H 2 O (3) Reaksi tersebut berjalan secara spontan dan energi Gibb s yang dihasilkan reaksi itu adalah: G =- nfe r (4) Dimana: G : Energi Gibb s (J/mol) n : Jumlah mol dari elektron F : Konstanta Faraday (F = 96500) E r : Potensial reversible (V) Reaksi tersebut hanya mengeluarkan panas dan air sehingga dapat dikatakan bahwa sel bahan bakar bersih dan terbarukan. Berdasarkan Persamaan 4, potensial reversible, E r, nilainya sebanding dengan Energi Gibb s dan jumlah mole dari elektron (konsentrasi dari bahan bakar dan oksidan). Energi Gibb s dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Hubungan antara potensial reversible, suhu dan Energi Gibb s didefinisikan dengan Persamaan 5 dan 6 (Srinivasan, 2006). G E r (5) nf

4 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN G = H - T S (6) Di mana: H : Perubahan entalpi (J/mol) T : Suhu( o K) S : Perubahan entropi (J/K.mol) Karena perubahan entalpi dan suhu diabaikan, pada tekanan yang konstan, variasi Energi Gibb s dengan temperature didefinisikan sebagai berikut: G S (7) T Dengan mensubstitusikan Persamaan 7 ke Persamaan 6 dan 4, kita akan mendapatkan persamaan berikut: E r T S nf (8) Sementara itu, hubungan antara tekanan dan potensial dinyatakan dengan Persamaan 9. reversible E p E P 1 0 VdP (9) nf p P0 E p0 adalah potensial reversible potential pada kondisi standar, yaitu 1 atm sedangkan V adalah perubahan volume selama reaksi. Tabel 1 menunjukkan data termodinamik untuk beberapa reaksi sel bahan bakar yang telah dirangkum oleh Srinivasan (Srinivasan, 2006). G 0, H 0 and E 0 r mengacu pada nilai dalam kondisi standar, yaitu 1 atm and 25 o C. Tabel 1. Data Termodinamik Reaksi Sel Bahan Bakar (Srinivasan, 2006)

5 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman METODOLOGI 3.1 Pemodelan Sel Bahan Bakar Ada berbagai tipe model sel bahan bakar yang telah dikembangkan oleh para peneliti. Model-model itu dikategorikan ke dalam 3 model, yaitu kimia, eksperimen dan elektrik. Model kimia termasuk reaksi yang kompleks dan fenomena termodinamik tidak mudah untuk disimulasikan dengan bantuan program simulasi elektrik. Sementara itu, model eksperimental didasarkan pada hasil eksperimen dan berdasarkan ekspresi empiris (Njoya, et. al., 2009). Potensial dari sel bahan bakar tipe PEMFC didefinisikan dengan Persamaan 10 berikut ini (Srinivasan, 2006): E = E o blog (i) Ri mexp(ni) (10) E o = E r + blogi o (11) E : Tegangan sel bahan bakar (V) E o : Tegangan kondisi hubung buka (V) E r : Potensial reversible (V) b : Tafel slope i o : Exchange current density (A/cm 2 ) i : Arus beban (A) R : Resistansi internal dari sel bahan bakar m, n : parameter yang didapat dari hasil eksperimen yang nilainya dipengaruhi oleh mass transport dan over potential.

6 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN Pada sel bahan bakar tipe PEMFC, nilai dari parameter m dan n diperlihatkan pada Tabel 2. Nilai-nilai ini diadopsi dari Srinivasan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: Tekanan hydrogen dan oksigen pada anoda dan katoda adalah konstan, yaitu sebesar 3 atm. Temperature operasi dari selbahan bakar tipe PEMFC adalah 80 o C Hidrogen dan oksigen yang dialirkan ke kedua katoda adalah seragam. Bahan bakar dan oksidan dialirkan ke elektroda secara kontinyu. Gambar 1. Gambar Sel Bahan Bakar Tipe PEMFC Tabel 2. Parameter sel bahan bahan bakar yang digunakan dalam simulasi B 60 mv/decade R 0.2 cm 2 i o 10-4 A/cm 2 M 3 x 10-4 V N 3 cm 2 /A Dalam penelitian ini, sistem sel bahan bakar yang digunakan adalah H 2 /O 2 PEMFCs (Proton Exchange Membrane Fuel Cells) sesuai dengan Gambar 1. Suhu dan tekanan operasi dari sel bahan bakar ini pada umumnya adalah 80 o C dan 3 atm (Srinivasan, 2006) sehingga sesuai

7 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman 1-16 dengan Tabel 1, potensial reversible berdasarkan kondisi tersebut dapat dihitung sebagai berikut: Pada tekanan konstan (1 atm) dan suhu yang berubah (25 ke 80 o C) E E E E T (80 25) V rt r rt r Pada suhu konstan (80 o C) dan tekanan yang berubah ( (1 to 3 atm) 3 3 E E E E logp (log3 log1) 1.2 V r rt rp rt Dari persamaan 11, kita dapat menghitung tegangan hubung buka sebagai berikut: E o = log10-4 = 0.96 V /cell Untuk memperoleh tegangan dan arus output yang lebih besar, maka dalam penelitian ini dibutuhkan 180 stack yang dihubungkan seri dan 10 sel yang dihubungkan parallel sehingga persamaannya berubah menjadi berikut: i i i E 180 E o b log( ) R m exp( n ) (12) Karakteristik E-I berdasarkan Persamaan 11 ditunjukkan pada Gambar 2. rentang tegangan yang dipilih adalah V. Daya maksimum yang dapat diperoleh dari rentang tegangan tersebut adalah 1500 W. Perlu diketahui bahwa sel bahan bakar menghasilkan tegangan DC yang tidak terkontrol sehingga dibutuhkan converter DC-DC. Gambar 2. Karakteristik E-I dari sel bahan bakar tipe PEMFC

8 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN Pemodelan Konverter Buck Gambar 3 memperlihatkan sirkuit diagram dari konverter buck. Berdasarkan Gambar 3 tersebut, sistem kontrol umpan balik dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan berikut (Whittington dan Macpherson, 1997): Regulasi saluran yang baik, sehingga tegangan output yang konstan dapat diperoleh ketika tegangan input bervariasi Regulasi beban yang baik, sehingga tegangan output yang konstan dapat diperoleh ketika terjadi perubahan beban Jika terjadi perubahan input dan beban yang mendadak, sistem harus mempunyai respon transien yang bagus. Spesifikasi konverter buck Tegangan input : 169, 25 % Frekuensi switching : 50 khz Tegangan output : 120 V, 1 % Arus output : 12 A (max) dan 5 A (min) Lo Vin M D C Comparator Sawtooth voltage Compensator Vref Pemilihan induktor Gambar 3. Sirkuit diagram konverter buck Induktor Lo dapat dihitung dengan persamaan berikut (Whittington dan Macpherson, 1997):

9 Lo 1 2 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman V 1 Vo Rmax T (12) o 1 D min 1 2 I min f 1.2 Vin = 1 = 9.8 x 10-5 H = 98 H L o > H Dimana D adalah duty ratio dari MOSFET M yang didefinisikan dengan persamaan 13 berikut: D = V V o in t on (13) T Untuk operasi normal, nilai duty ratio-nya adalah: D = V V o in Pemilihan Kapasitor Kapasitor filter output digunakan untuk membatasi ripple dari tegangan. Nilai kapasitansi minimum dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan Vo T 1 D C V 8 L o ( min ) (14) Jika ripple tegangan yang diinginkan adalah 0.8 volt, maka kapasitansi C nya adalah: (1 0.59) C F Diagram blok dari konverter buck terkontrol ditunjukkan pada Gambar 3.

10 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN Gambar 4. Blok diagram konverter buck PID singkatan dari Proportional-Integral-Derivative. Peran dari PID adalah menghitung tegangan error, Ve, sebagai selisih antara tegangan ouput, Vo dan tegangan referensi, Vf dan kemudian PID ini akan mengurangi error dengan jalan mengkoreksi inputan. Fungsi transfer dari kontroler PID didefinisikan dengan Persamaan 15. C PID 1 ( s) K p (1 Td s) (15) T s i K p T i T d : gain dari kontroler : konstanta waktu integrator : konstanta waktu differentiator Untuk memperoleh nilai K p, T i and T d, penulis menggunakan metode tunning Ziegler-Nichols. Prosedur tunning dilaksanakan dengan adalah sebagai berikut ini (Goddwing, et. al, 2001): Setel plan (yaitu: konverter buck lup terbuka) untuk dikontrol oleh kontroler proporsional dengan gain yang sangat kecil Naikkan gain, K p, hingga system mulai berosilasi Catat gain kritis, K p = K c, dan periode osilasi, P c Sesuaikan parameter kontroler PID sehingga K p = 0.6K c, T i = 0.5P c dan T d = 0.125P c Dari langkah-langkah tersebut, diketahui bahwa gain kritis K c dan periode osilasi, P c, adalah and 3 ms sehingga berdasarkan persamaan 15 fungsi transfer dari kontroler PID didefinisikan sebagai berikut: C PID 1 4 ( s) 0.95 ( s) s

11 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman Implementasi model di software Dymola Model persamaan dari PEMFC H 2 /O 2 telah didefinisikan pada persamaan 10. Persamaan ini kemudian dapat dimodelkan dengan menggunakan softeare Dymola sebagaimana yang terlihat pada gambar 5. timer dan switch1 digunakan untuk memberikan nilai awal untuk fungsi log. Ketika t = 0, nilai input dari fungsi log adalah 1 sementara jika t > 0, nilai input dari fungsi tersebut sama dengan arus sel bahan bakar. Jika kita tidak memasukkan metode ini, hasil simulasi tidak akan memberikan hasil. Gambar 5. Model sel bahan bakar tipe PEMFC H 2 /O 2 Gambar 5 menunjukkan diagram rangkaian dari konverter buck lup tertutup. Tegangan referensi di-set sebesar 120 V. Karena frekuensi sistem konverter dipilih sebesar 50 khz, maka periode dari gelombang gigi gergaji di-set sebesar detik. Komparator dimodelkan dengan blok fungsi greater-equal. Output komparator akan true atau 1 hanya jika sinyal output dari blok PID lebih besar daritegangan gigi gergaji.

12 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN Gambar 6. Konverter buck lup tertutup Rangkaian untuk simulasi ditunjukkan pada Gambar 7. Saklar S, digunakan untuk mensimulasikan perubahan mendadak dari arus beban. Saklar S akan ON hanya jika setting waktu di dalam blok timer terlampaui.

13 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman 1-16 Gambar 7. Rangkaian simulasi 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam simulasi ini, beban dimodelkan dengan 2 resistor, yaitu resistor 1 ( (36 ) and 2 (14.4 ). Jika timer tidak mengirim sinyal ke saklar S, sel bahan bakar hanya mengirim energinya ke resistor 1 yang merepresentasikan beban 400 watt. Ketika saklar s tertutup, sel bahan bakar akan mengirim dayanya ke resistor 1 dan 2 yang mana merepresentasikan daya beban total sebesar 1400 watt. Gambar 8 menunjukkan hasil simulasi dari model yang telah dikembangkan. Sesuai dengan gambar tersebut, ketika arus sel bahan bakar naik dari 2.36 ke 10.5 amper, tegangan sel bahan bakar akan turun dari 171 volt ke 133 volt. Sifat ini memperlihatkan karakter yang sama dengan Gambar 1. Walaupun tegangan sel bahan bakar berubah, tegangan ouput dari converter buck tetap konstan karena adanya kontroler lup tertutup. Walaupun demikian, perlu diperhatikan bahwa, sel bahan bakar memilki respon dinamik yang sangat lambat. Hal ini dikarenakan aliran hydrogen (bahan bakar) tidak dapat disesuaikan secara cepat untuk memenuhi kebutuhan arus beban yang berubah secara mendadak (Srithorn, et. al, 2008). Simulasi yang dilakukan penulis memiliki karakteristik yang sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Chellappan sebagaimana yang terlihat pada Gambar 8 (Chellappan, et. al., 2008).

14 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN Gambar 8. Hasil simulasi Gambar 9. Hasil simulasi berdasarkan model yang dikembangkan Cellapan Berdasarkan hasil simulasi di atas, karena sel bahan bakar memiliki respon dinamik yang lambat, hal ini memberikan informasi bahwa ketika

15 Ferdian Ronilaya, Model Unjuk Kerja Dinamis, Halaman 1-16 kebutuhan beban berfluktuasi, sel bahan bakar cenderung untuk mengirimkan daya yang cenderung konstan. Hal ini berarti bahwa, sel bahan bakar hanya cocok untuk mensuplai beban rata-rata. Sehingga untuk aplikasi sistem daya, sel bahan bakar seharusnya dikombinasikan atau di-hibridisasi-kan dengan suplai daya yang lain yang memiliki respon dinamik yang lebih cepat, seperti Internal Combustion Engine (ICE) atau dengan menggunakan sistem Electrical Energy Storages System (ESS). 5. PENUTUP Sesuai dengan simulasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa ketika terjadi perubahan beban, sel bahan bakar PEMFC memiliki respon dinamik yang lambat pada saat star-up awal dan selama kondisi transien. Hal ini dikarenakan aliran hidrogen tidak dapat disesuaikan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan daya beban. Sehingga, ketika daya beban berfluktuasi, sel bahan bakar hanya mampu memsuplai daya yang cenderung flat. Dari sifat ini juga dapat disimpulkan bahwa sel bahan bakar hanya mampu untuk mensuplai daya dasar ( base load). Untuk aplikasi pada sistem daya listrik, sel bahan bakar harus dikombinasikan dengan sistem suplai daya yang lain yang memiliki respon dinamik yang lebih cepat. 6. DAFTAR PUSTAKA Srinivasan, S. Fuel Cells: from Fundamentals to Application (2006). New York: Springer Science. Amplett, J. C. Mann, R. F. Peppley, R. A. Roberge, P. R. Rodrigues, A. (2002). A Practical PEM Fuel Cell Model for Simulating Vehicle Power Sources Battery Conference on Applications and Advances, 1995., Proceedings of the Tenth Annual. Long Beach. USA: pp: Chiu, L. Y. Diong, B. M. (2004). An Improved Small Signal Model of The Dynamic Behaviour of PEM Fuel Cells Industry Applications Conference, th IAS Annual Meeting. Vol. 2. pp: Soltani, M. Bathaee, S. M. T. (2008). A New Dynamic Model Considering Effects of Temperature, Pressure and Internal Resistance for PEM Fuel Cell Power Module DRPT Conference, Nanjing, China. pp:

16 Jurnal ELTEK, Volume 09 Nomor 01, April 2011 ISSN Correa, J. M. Farret, F. A. Canha, L. N. Simoes, M. G. (2004) An Electrochemical-Based Fuel Cell Suitable for Electrical Engineering Automation Approach. IEEE Transaction on Industrial Electronics. Vol. 51. pp: Njoya, S. M. Tremblay, O. Dessaint, L. (2009) A Generic Fuel Cell Model for The Simulation of Fuel Power Systems. Power and Energy Society General Meeting. PES 09. IEEE. pp: 1-8 Whittington, H. W. Flyn, B. W. Macpherson, D. E. Switched Mode Power Supplies : Design and Construction 2nd ed. (1997). Taunton: Research Studies Press Ltd Goddwing, G. C. Graebe, S. F. Salgado, M. E. Control System Design (2001). New Jersey: Prentice Hall Inc. Srithorn, P., M. Aten, et al. (2008). Series Connection of Supercapacitor Modules for Energy Storage. The 3rd IET International Conference on Power Electronics, Machines and Drives. Dublin, The institution of engineering and Technology Chellappan, M. V. Todorovic, M. H. Enjeti, P. N. (2008). Fuel Cell Based Battery-less UPS System. Industry Applications Society Annual Meeting.

17

PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID

PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID Endra 1 ; Nazar Nazwan 2 ; Dwi Baskoro 3 ; Filian Demi Kusumah 4 1 Jurusan Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas

Lebih terperinci

Rancang Bangun AC - DC Half Wave Rectifier 3 Fasa dengan THD minimum dan Faktor Daya Mendekati Satu menggunakan Kontrol Switching PI Fuzzy

Rancang Bangun AC - DC Half Wave Rectifier 3 Fasa dengan THD minimum dan Faktor Daya Mendekati Satu menggunakan Kontrol Switching PI Fuzzy Rancang Bangun AC - DC Half Wave Rectifier 3 Fasa dengan THD minimum dan Faktor Daya Mendekati Satu menggunakan Kontrol Switching PI Fuzzy Ainur Rofiq N ¹, Irianto ², Cahyo Fahma S 3 1 Dosen Jurusan Teknik

Lebih terperinci

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO APLIKASI KARAKTERISTIK PENYEARAH SATU FASE TERKENDALI PULSE WIDTH MODULATION (PWM) PADA BEBAN RESISTIF Yuli Asmi Rahman * Abstract Rectifier is device to convert alternating

Lebih terperinci

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 6 NO. 2 September 2013

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 6 NO. 2 September 2013 APPLIKASI PERANGKAT LUNAK SIMULASI SEBAGAI ALAT BANTU UNTUK MEMPELAJARI RANGKAIAN KONVERTER DAYA Asnil 1 ABSTRACT Power Electronics is one of the most important fields of electrical engineering. Power

Lebih terperinci

BAB III PERUMUSAN MODEL MATEMATIS SEL BAHAN BAKAR MEMBRAN PERTUKARAN PROTON

BAB III PERUMUSAN MODEL MATEMATIS SEL BAHAN BAKAR MEMBRAN PERTUKARAN PROTON BAB III PERUMUSAN MODEL MATEMATIS SEL BAHAN BAKAR MEMBRAN PERTUKARAN PROTON 3.. Pendahuluan Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pemodelan matematis Sel Bahan Bakar Membran Pertukaran Proton (Proton Exchange

Lebih terperinci

SIMULASI PENGENDALI KECEPATAN MOTOR DC DENGAN PENYEARAH TERKENDALI SEMI KONVERTER BERBASIS MATLAB/SIMULINK

SIMULASI PENGENDALI KECEPATAN MOTOR DC DENGAN PENYEARAH TERKENDALI SEMI KONVERTER BERBASIS MATLAB/SIMULINK ISSN: 1693-6930 41 SIMULASI PENGENDALI KECEPATAN MOTOR DC DENGAN PENYEARAH TERKENDALI SEMI KONVERTER BERBASIS MATLAB/SIMULINK Ikhsan Hidayat Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Universitas

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM KELISTRIKAN BATERAI MOBIL LISTRIK DENGAN MENGGUNAKAN FUEL CELL

BAB III PERANCANGAN SISTEM KELISTRIKAN BATERAI MOBIL LISTRIK DENGAN MENGGUNAKAN FUEL CELL BAB III PERANCANGAN SISTEM KELISTRIKAN BATERAI MOBIL LISTRIK DENGAN MENGGUNAKAN FUEL CELL Tujuan dari penyusuan tugas akhir ini merancang baterai untuk memenuhi kebutuhan yang dipakai pada mobil listrik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari 2015. Perancangan dan pengerjaan perangkat keras (hardware) dan laporan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY (UPS) DENGAN ENERGI HYBRID (SUBJUDUL: HARDWARE) Abstrak

RANCANG BANGUN UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY (UPS) DENGAN ENERGI HYBRID (SUBJUDUL: HARDWARE) Abstrak RANCANG BANGUN UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY (UPS) DENGAN ENERGI HYBRID (SUBJUDUL: HARDWARE) Akhmad Zaky Fanani 1, Joke Pratilartiarso, 2 Moh.Zaenal Efendi 2 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Industri,

Lebih terperinci

SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam

SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam I. Tujuan 1. Mampu melakukan analisis kinerja sistem pengaturan posisi motor arus searah.. Mampu menerangkan pengaruh kecepatan

Lebih terperinci

Perancangan Battery Control Unit (BCU) Dengan Menggunakan Topologi Cuk Converter Pada Instalasi Tenaga Surya

Perancangan Battery Control Unit (BCU) Dengan Menggunakan Topologi Cuk Converter Pada Instalasi Tenaga Surya 1 Perancangan Battery Control Unit (BCU) Dengan Menggunakan Topologi Cuk Converter Pada Instalasi Tenaga Surya Annisa Triandini, Soeprapto, dan Mochammad Rif an Abstrak Energi matahari merupakan energi

Lebih terperinci

SKRIPSI PERFORMANSI POLYMER ELECTROLYTE MEMBRANE FUEL CELL DENGAN VARIASI JUMLAH SEL FUEL CELL DAN BESAR DAYA INPUT LISTRIK PADA ELEKTROLIZER

SKRIPSI PERFORMANSI POLYMER ELECTROLYTE MEMBRANE FUEL CELL DENGAN VARIASI JUMLAH SEL FUEL CELL DAN BESAR DAYA INPUT LISTRIK PADA ELEKTROLIZER 1 SKRIPSI PERFORMANSI POLYMER ELECTROLYTE MEMBRANE FUEL CELL DENGAN VARIASI JUMLAH SEL FUEL CELL DAN BESAR DAYA INPUT LISTRIK PADA ELEKTROLIZER OLEH RICHARD D. BUTARBUTAR NIM : 08043052 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TEKNOLOGI SEL BAHAN BAKAR

BAB II GAMBARAN UMUM TEKNOLOGI SEL BAHAN BAKAR BAB II GAMBARAN UMUM TEKNOLOGI SEL BAHAN BAKAR 2.1. Pendahuluan Sel Bahan Bakar adalah alat konversi elektrokimia yang secara kontinyu mengubah energi kimia dari bahan bakar dan oksidan menjadi energi

Lebih terperinci

ANALISIS INVERTER SATU FASA PADA KONFIGURASI MASTER-SLAVE

ANALISIS INVERTER SATU FASA PADA KONFIGURASI MASTER-SLAVE Analisis Inverter Satu Fasa (Noviarianto, dkk.) ANALISIS INVERTER SATU FASA PADA KONFIGURASI MASTER-SLAVE Noviarianto *, F. Danang Wijaya, Eka Firmansyah Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Biro Sensus, penduduk dunia telah terus meningkat dari 2,55.762.8654 orang pada tahun 1950 menjadi 7,095.2179,80 orang pada tahun 2013. Karena peningkatan populasi

Lebih terperinci

SIMULASI TCSC DAN MERS UNTUK KOMPENSASI REAKTIF SALURAN 3 FASE

SIMULASI TCSC DAN MERS UNTUK KOMPENSASI REAKTIF SALURAN 3 FASE SIMULASI TCSC DAN MERS UNTUK KOMPENSASI REAKTIF SALURAN 3 FASE YOHAN FAJAR SIDIK [34014], JOHAN AGUNG IRAWAN [34032] 1. Pendahuluan Saluran transmisi mengandung komponen induktans dan resistans. Komponen

Lebih terperinci

Desain dan Implementasi Catu Daya Searah Berarus Besar Bertegangan Kecil

Desain dan Implementasi Catu Daya Searah Berarus Besar Bertegangan Kecil Desain dan Implementasi Catu Daya Searah Berarus Besar Bertegangan Kecil Respati Noor 1) Leonardus Heru P 2) 1) Jurusan Teknik Elektro UNIKA Soegijapranata, Semarang 50234, email : reswi_83@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Perancangan Boost Converter Untuk Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Perancangan Boost Converter Untuk Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Perancangan Boost Converter Untuk Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Ahmad Fathurachman, Asep Najmurrokhman, Kusnandar Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Jenderal Achmad Yani Jl. Terusan

Lebih terperinci

MODUL KULIAH ELEKTRONIKA DAYA PENGANTAR ELEKTRONIKA DAYA

MODUL KULIAH ELEKTRONIKA DAYA PENGANTAR ELEKTRONIKA DAYA MODUL KULIAH ELEKTRONIKA DAYA PENGANTAR ELEKTRONIKA DAYA Oleh : Muhamad Ali, M.T JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2011 BAB I PENGANTAR ELEKTRONIKA DAYA

Lebih terperinci

INVERTER 15V DC-220V AC BERBASIS TENAGA SURYA UNTUK APLIKASI SINGLE POINT SMART GRID

INVERTER 15V DC-220V AC BERBASIS TENAGA SURYA UNTUK APLIKASI SINGLE POINT SMART GRID INVERTER 15V DC-220V AC BERBASIS TENAGA SURYA UNTUK APLIKASI SINGLE POINT SMART GRID Dian Sarita Widaringtyas. 1, Eka Maulana, ST., MT., M.Eng. 2, Nurussa adah, Ir. MT. 2 1 Mahasiswa Teknik Elektro Univ.

Lebih terperinci

RESPON SISTEM DITINJAU DARI PARAMETER KONTROLER PID PADA KONTROL POSISI MOTOR DC

RESPON SISTEM DITINJAU DARI PARAMETER KONTROLER PID PADA KONTROL POSISI MOTOR DC RESPON SISTEM DITINJAU DARI PARAMETER KONTROLER PID PADA KONTROL POSISI MOTOR DC Dwiana Hendrawati Prodi Teknik Konversi Energi Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, SH.,

Lebih terperinci

JURNAL TUGAS AKHIR DISAIN RANGKAIAN SNUBBER PADA SISTEM POWER SWITCHING MENGGUNAKAN MOSFET. Universitas Indonesia Depok

JURNAL TUGAS AKHIR DISAIN RANGKAIAN SNUBBER PADA SISTEM POWER SWITCHING MENGGUNAKAN MOSFET. Universitas Indonesia Depok JURNAL TUGAS AKHIR DISAIN RANGKAIAN SNUBBER PADA SISTEM POWER SWITCHING MENGGUNAKAN MOSFET Ananta Tiara 1), Dr. Ir. Feri Yusivar, M.Eng 2) 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro 2) Dosen Jurusan Teknik Elektro

Lebih terperinci

LAMPIRAN II PERHITUNGAN

LAMPIRAN II PERHITUNGAN LAMPIRAN II PERHITUNGAN 1. Menghitung jumlah KOH yang dibutuhkan Konsentrasi KOH Volume Elektrolit Berat Molekul KOH Maka, gram KOH gram KOH : 1.25 M : 12 Liter : 56. 11 gram = M x V x BM (Sumber : Kimia

Lebih terperinci

Alat Uji Baterai 12V, 60AH Secara Elektronis

Alat Uji Baterai 12V, 60AH Secara Elektronis Alat Uji Baterai 12V, 60AH Secara Elektronis Hanny H Tumbelaka, Johannes Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra e-mail: tumbeh@petra.ac.id Abstrak Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Gas HHO merupakan hasil dari pemecahan air murni ( H 2 O (l) ) dengan proses

BAB II LANDASAN TEORI. Gas HHO merupakan hasil dari pemecahan air murni ( H 2 O (l) ) dengan proses BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Gas HHO Gas HHO merupakan hasil dari pemecahan air murni ( H 2 O (l) ) dengan proses elektrolisis air. Elektrolisis air akan menghasilkan gas hidrogen dan gas oksigen, dengan

Lebih terperinci

Perancangan Simulator Panel Surya Menggunakan LabView

Perancangan Simulator Panel Surya Menggunakan LabView JURNAL TEKNK POMTS Vol. 1, No. 1, (12) 1-6 1 Perancangan Simulator Panel Surya Menggunakan LabView Duwi Astuti, Heri Suryoatmojo, ST. MT. Ph.D, dan Prof. Dr. r. Mochamad Ashari, M.Eng. Teknik Elektro,

Lebih terperinci

SWITCH MODE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN BOOST CONVERTER SEBAGAI PFC CONVERTER Surya Indrajati 1,Ir.Moh.Zaenal Effendi,MT. 2 1

SWITCH MODE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN BOOST CONVERTER SEBAGAI PFC CONVERTER Surya Indrajati 1,Ir.Moh.Zaenal Effendi,MT. 2 1 SWITCH MODE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN BOOST CONVERTER SEBAGAI PFC CONVERTER Surya Indrajati 1,Ir.Moh.Zaenal Effendi,MT. 2 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Industri, 2 Dosen PENS-ITS Politeknik Elektronika

Lebih terperinci

ANALISIS KONVERTER DC/DC TIPE BOOST UNTUK APLIKASI MOBIL LISTRIK

ANALISIS KONVERTER DC/DC TIPE BOOST UNTUK APLIKASI MOBIL LISTRIK PROS ID I NG 2 0 1 3 HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK ANALISIS KONVERTER DC/DC TIPE BOOST UNTUK APLIKASI MOBIL LISTRIK Faizal Arya Samman & Amsiah Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Lebih terperinci

Dwi Agustina Hery Indrawati

Dwi Agustina Hery Indrawati 1 OPTIMALISASI DAYA PADA INTERKONEKSI PHOTOVOLTAI (PV) DAN JARINGAN DISTRIBUSI MENGGUNAKAN MAXIMUM POWER POINT TRAKER (MPPT) METODE PENGUKURAN ARUS HUBUNG SINGKAT Dwi Agustina Hery Indrawati 2206100028

Lebih terperinci

Perencanaan dan Pembuatan Modul Inverter 3 Phase Sebagai Suplai Motor Induksi Pada Pengembangan Modul Praktikum Pengemudi Listrik (Sub Judul Hardware)

Perencanaan dan Pembuatan Modul Inverter 3 Phase Sebagai Suplai Motor Induksi Pada Pengembangan Modul Praktikum Pengemudi Listrik (Sub Judul Hardware) Perencanaan dan Pembuatan Modul Inverter 3 Phase Sebagai Suplai Motor Induksi Pada Pengembangan Modul Praktikum Pengemudi Listrik (Sub Judul Hardware) Mokhamad asrul afrizal 1, Ainur Rofiq 2, Gigih Prabowo

Lebih terperinci

PERCOBAAN 10 RANGKAIAN DIFFERENSIATOR DAN INTEGRATOR OP-AMP

PERCOBAAN 10 RANGKAIAN DIFFERENSIATOR DAN INTEGRATOR OP-AMP PERCOBAAN 0 RANGKAIAN DIFFERENSIATOR DAN INTEGRATOR OP-AMP 0. Tujuan : ) Mendemonstrasikan prinsip kerja dari suatu rangkaian diffrensiator dan integrator, dengan menggunakan op-amp 74. 2) Rangkaian differensiator

Lebih terperinci

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012 SISTEM KONVERTER DC Desain Rangkaian Elektronika Daya Oleh : Mochamad Ashari Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012 Diterbitkan oleh: ITS Press. Hak Cipta dilindungi Undang undang Dilarang

Lebih terperinci

Perancangan Inverter Sinusoida 1 Fasa dengan Aplikasi Pemrograman Rumus Parabola dan Segitiga Sebagai Pembangkit Pulsa PWM

Perancangan Inverter Sinusoida 1 Fasa dengan Aplikasi Pemrograman Rumus Parabola dan Segitiga Sebagai Pembangkit Pulsa PWM Perancangan Inverter Sinusoida 1 Fasa dengan Aplikasi Pemrograman Rumus Parabola dan Segitiga Sebagai Pembangkit Pulsa PWM Agus Rusdiyanto P2Telimek, LIPI riesdian@gmail.com Bambang Susanto P2Telimek,

Lebih terperinci

Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto

Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto Pengkondisian Sinyal Rudi Susanto Tujuan Perkuliahan Mahasiswa dapat menjelasakan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Mahasiswa dapat menerapkan penggunaan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Pendahuluan

Lebih terperinci

10/31/2013 Rahmayeni

10/31/2013 Rahmayeni Potensial Reduksi Energi bebas dapat dinyatakan dalam bentuk perbedaan potensial. Cara ini dapat digunakan dlm memperkirakan reaksi redoks Setengah reaksi redoks: 2H + (l) + 2e - H 2(g) Zn (s) Zn 2+ (l)

Lebih terperinci

Pemodelan Dinamik dan Simulasi dari Motor Induksi Tiga Fasa Berdaya Kecil

Pemodelan Dinamik dan Simulasi dari Motor Induksi Tiga Fasa Berdaya Kecil Pemodelan Dinamik dan Simulasi dari Motor Induksi Tiga Fasa Berdaya Kecil Nyein Nyein Soe*, Thet Thet Han Yee*, Soe Sandar Aung* *Electrical Power Engineering Department, Mandalay Technological University,

Lebih terperinci

Alexander et al., Perancangan Simulasi Unjuk Kerja Motor Induksi Tiga Fase... 1

Alexander et al., Perancangan Simulasi Unjuk Kerja Motor Induksi Tiga Fase... 1 Alexander et al., Perancangan Simulasi Unjuk Kerja Motor Induksi Tiga Fase... 1 PERANCANGAN SIMULASI UNJUK KERJA MOTOR INDUKSI TIGA FASE DENGAN SUMBER SATU FASE MENGGUNAKAN BOOST BUCK CONERTER REGULATOR

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : ELEKTRONIKA DASAR KODE : TSK-210 SKS/SEMESTER : 2/2 Pertemuan Pokok Bahasan & ke TIU 1 Pengenalan Komponen dan Teori Semikonduktor TIU : - Mahasiswa mengenal Jenis-jenis

Lebih terperinci

Strategi Pengendalian

Strategi Pengendalian Strategi Pengendalian Strategi apa yang dapat kita gunakan dalam pengendalian proses? Feedback (berumpan-balik) Feedforward (berumpan-maju) 1 Feedback control untuk kecepatan 1. Mengukur kecepatan aktual

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sensor/Tranduser Sensor adalah elemen yang menghasilkan suatu sinyal yang tergantung pada kuantitas yang diukur. Sedangkan tranduser adalah suatu piranti yang mengubah suatu sinyal

Lebih terperinci

Sistem Panel Surya Terhubung Grid melalui Single Stage Inverter

Sistem Panel Surya Terhubung Grid melalui Single Stage Inverter Sistem Panel Surya Terhubung Grid melalui Single Stage Inverter Muhammad Syafei Gozali ), Mochamad Ashari 2), Dedet C. Riawan 3) ) Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Batam, Batam 2946, syafei@polibatam.ac.id

Lebih terperinci

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 6 NO. 1 Maret 2013 PEMODELAN DAN SIMULASI SISTEM FISIS MENGGUNAKAN SIMULINK Hastuti 1 ABSTRACT Physical systems can be analyzed its performance through experiments and model of the physical systems. The physical systems

Lebih terperinci

PENERAPAN PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK SISTEM KONTROL UMPAN BALIK PADA BUCK CONVERTER SWITCHING POWER SUPPLY

PENERAPAN PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK SISTEM KONTROL UMPAN BALIK PADA BUCK CONVERTER SWITCHING POWER SUPPLY PENERAPAN PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK SISTEM KONTROL UMPAN BALIK PADA BUCK CONVERTER SWITCHING POWER SUPPLY Setya Ardhi Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknik Surabaya setyaardhi@stts.edu ABSTRAK

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM CATU DAYA OTOMATIS MENGGUNAKAN SOLAR CELL PADA ROBOT BERODA PENGIKUT GARIS

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM CATU DAYA OTOMATIS MENGGUNAKAN SOLAR CELL PADA ROBOT BERODA PENGIKUT GARIS PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM CATU DAYA OTOMATIS MENGGUNAKAN SOLAR CELL PADA ROBOT BERODA PENGIKUT GARIS DESIGN AND IMPLEMENTATION OF AUTOMATIC POWER SUPPLY SYSTEM USING SOLAR CELL ON WHEELED ROBOT

Lebih terperinci

Simulasi Aplikasi Kendali Multi-Model pada Plant Kolom Distilasi ABSTRAK

Simulasi Aplikasi Kendali Multi-Model pada Plant Kolom Distilasi ABSTRAK Simulasi Aplikasi Kendali Multi-Model pada Plant Kolom Distilasi Galih Aria Imandita / 0322146 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha Jl. Prof. Drg. Suria Sumantri 65, Bandung

Lebih terperinci

Identifikasi Self Tuning PID Kontroler Metode Backward Rectangular Pada Motor DC

Identifikasi Self Tuning PID Kontroler Metode Backward Rectangular Pada Motor DC Identifikasi Self Tuning PID Kontroler Metode Backward Rectangular Pada Motor DC Andhyka Vireza, M. Aziz Muslim, Goegoes Dwi N. 1 Abstrak Kontroler PID akan berjalan dengan baik jika mendapatkan tuning

Lebih terperinci

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER PERCOBAAN 10 ANALOG TO DIGITAL CONVERTER 10.1. TUJUAN : Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu Menjelaskan proses perubahan dari sistim analog ke digital Membuat rangkaian ADC dari

Lebih terperinci

Perhitungan Setting Rele OCR dan GFR pada Sistem Interkoneksi Diesel Generator di Perusahaan X

Perhitungan Setting Rele OCR dan GFR pada Sistem Interkoneksi Diesel Generator di Perusahaan X Jurnal Reka Elkomika 2337-439X Januari 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Teknik Elektro Itenas Vol.1 No.1 Perhitungan Setting Rele OCR dan GFR pada Sistem Interkoneksi Diesel Generator di

Lebih terperinci

STRATEGI KONTROL PADA KONVERTER DAYA DI SUMBER DAYA AKTIF HYBRID FUEL CELL / BATERAI

STRATEGI KONTROL PADA KONVERTER DAYA DI SUMBER DAYA AKTIF HYBRID FUEL CELL / BATERAI STRATEGI KONTROL PADA KONVERTER DAYA DI SUMBER DAYA AKTIF HYBRID FUEL CELL / BATERAI Yulianta Siregar 1), Zainal Abidin 2), Maickel Tuegeh 3), 1) Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya 2) Jurusan Teknik

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMEN OUTPUT DAYA PADA MOTOR STIRLING TD 295 TIPE GAMMA DENGAN MENGGUNAKAN STIRLING ENGINE CONTROL V

STUDI EKSPERIMEN OUTPUT DAYA PADA MOTOR STIRLING TD 295 TIPE GAMMA DENGAN MENGGUNAKAN STIRLING ENGINE CONTROL V STUDI EKSPERIMEN OUTPUT DAYA PADA MOTOR STIRLING TD 295 TIPE GAMMA DENGAN MENGGUNAKAN STIRLING ENGINE CONTROL V.1.5.0 2013 1 Widodo 1 Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Batam Parkway Street Batam Centre,

Lebih terperinci

Prawidyasari, et al., Pengendali Sistem Pembangkit Listrik Hibrida Tenaga Angin-PMSG dengan Fuel Cell

Prawidyasari, et al., Pengendali Sistem Pembangkit Listrik Hibrida Tenaga Angin-PMSG dengan Fuel Cell 1 PENGENDALI SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK HIBRIDA TENAGA ANGIN- PMSG DENGAN FUEL CELL MENGGUNAKAN FUZZY LOGIC CONTROLLER (CONTROL OF HYBRID POWER SYSTEM WIND POWER-PMSG AND FUEL CELL USING FUZZY LOGIC CONTROLLER)

Lebih terperinci

PERBAIKAN KARAKTERISTIK KONTROLLER TEMPERATUR PADA MODEL BOILER

PERBAIKAN KARAKTERISTIK KONTROLLER TEMPERATUR PADA MODEL BOILER PERBAIKAN KARAKTERISTIK KONTROLLER TEMPERATUR PADA MODEL BOILER Dwiana Hendrawati, Suwarti Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, SH., Tembalang, Semarang E-mail : d_hendrawati@yahoo.com

Lebih terperinci

SISTEM PENGATURAN BEBAN PADA MIKROHIDRO SEBAGAI ENERGI LISTRIK PEDESAAN

SISTEM PENGATURAN BEBAN PADA MIKROHIDRO SEBAGAI ENERGI LISTRIK PEDESAAN Prosiding SNaPP2012 : Sains, Teknologi, dan Kesehatan ISSN 2089-3582 SISTEM PENGATURAN BEBAN PADA MIKROHIDRO SEBAGAI ENERGI LISTRIK PEDESAAN 1 Ari Rahayuningtyas, 2 Teguh Santoso dan 3 Maulana Furqon 1,2,,3

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung (khususnya Laboratorium

Lebih terperinci

I. Tujuan Praktikum. kapasitor. muatan listrik pada kapasitor. 1. Mengetahui bentuk dan jenis Kapasitor.

I. Tujuan Praktikum. kapasitor. muatan listrik pada kapasitor. 1. Mengetahui bentuk dan jenis Kapasitor. SRI SUPATMI,S.KOM I. Tujuan Praktikum 1. Mengetahui bentuk dan jenis Kapasitor. 2.Mengetahui cara membaca nilai kapasitansi suatu kapasitor. 3.Memahami prinsip pengisian dan pengosongan muatan listrik

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. kontrol, diantaranya yaitu aksi kontrol proporsional, aksi kontrol integral dan aksi

BAB II DASAR TEORI. kontrol, diantaranya yaitu aksi kontrol proporsional, aksi kontrol integral dan aksi BAB II DASAR TEORI 2.1 Proporsional Integral Derivative (PID) Didalam suatu sistem kontrol kita mengenal adanya beberapa macam aksi kontrol, diantaranya yaitu aksi kontrol proporsional, aksi kontrol integral

Lebih terperinci

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 4 NO. 1 SEPTEMBER 2011

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 4 NO. 1 SEPTEMBER 2011 PERANCANGAN DAN PENALAAN PENGENDALI PROPORTIONAL INTEGRAL DERIVATIF MENGGUNAKAN SIMULINK Hastuti 1 ABSTRACT This paper describes how to design and to adjust parameters of the PID Controller in order to

Lebih terperinci

UJI KINERJA SMART GRID FUEL CELL TIPE PROTON EXCHANGE MEMBRANE (PEM) DENGAN PENAMBAHAN HIDROGEN

UJI KINERJA SMART GRID FUEL CELL TIPE PROTON EXCHANGE MEMBRANE (PEM) DENGAN PENAMBAHAN HIDROGEN Jurnal Ilmiah INOVASI, Vol.1 No.1 Hal -16, Edisi Januari April 2016, ISSN 14-5549 UJI KINERJA SMART GRID FUEL CELL TIPE PROTON EXCHANGE MEMBRANE (PEM) DENGAN PENAMBAHAN HIDROGEN Icmi Alif Safitri *, Bayu

Lebih terperinci

Pendahuluan. 1. Timer (IC NE 555)

Pendahuluan. 1. Timer (IC NE 555) Pada laporan ini akan menyajikan bagaimana efisien sebuah power supply untuk LED. Dengan menggunakan rangkaian buck converter diharapkan dapat memberikan tegangan dan arus pada beban akan menjadi stabil,

Lebih terperinci

FUZZY LOGIC UNTUK KONTROL MODUL PROSES KONTROL DAN TRANSDUSER TIPE DL2314 BERBASIS PLC

FUZZY LOGIC UNTUK KONTROL MODUL PROSES KONTROL DAN TRANSDUSER TIPE DL2314 BERBASIS PLC FUZZY LOGIC UNTUK KONTROL MODUL PROSES KONTROL DAN TRANSDUSER TIPE DL2314 BERBASIS PLC Afriadi Rahman #1, Agus Indra G, ST, M.Sc, #2, Dr. Rusminto Tjatur W, ST, #3, Legowo S, S.ST, M.Sc #4 # Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggerakan belt conveyor, pengangkat beban, ataupun sebagai mesin

BAB I PENDAHULUAN. menggerakan belt conveyor, pengangkat beban, ataupun sebagai mesin 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Motor DC atau motor arus searah yaitu motor yang sering digunakan di dunia industri, biasanya motor DC ini digunakan sebagai penggerak seperti untuk menggerakan

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN OUTPUT DAYA LISTRIK PANEL SURYA SISTEM TRACKING DENGAN SOLAR REFLECTOR

ANALISIS PERBANDINGAN OUTPUT DAYA LISTRIK PANEL SURYA SISTEM TRACKING DENGAN SOLAR REFLECTOR ANALISIS PERBANDINGAN OUTPUT DAYA LISTRIK PANEL SURYA SISTEM TRACKING DENGAN SOLAR REFLECTOR I B Kd Surya Negara 1, I Wayan Arta Wijaya 2, A A Gd Maharta Pemayun 3 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Fakultas

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi ( P )

LAPORAN AKHIR Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi ( P ) LAPORAN AKHIR Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi ( P ) OPTIMASI SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA ( STUDI KASUS: PARTIAL SHADING CONDITIONS) BERBASIS PENGONTROL MAXIMUM POWER POINT TRACKING ( MPPT

Lebih terperinci

PERANCANGAN INVERTER SEBAGAI SWITCH MOS PADA IC DAC

PERANCANGAN INVERTER SEBAGAI SWITCH MOS PADA IC DAC PERANCANGAN INVERTER SEBAGAI SWITCH MOS PADA IC DAC Veronica Ernita K. 1), Erma Triawati Ch 2) 1,2,3) Jurusan Teknik Elektro Universitas Gunadarma Jl. Margonda Raya No. 100, Depok 16424, Jawa Barat, Indonesia

Lebih terperinci

Kelebihan pada sinyal sistem digital Signal digital memiliki kelebihan dibanding signal analog; yang meliputi :

Kelebihan pada sinyal sistem digital Signal digital memiliki kelebihan dibanding signal analog; yang meliputi : A. Sinyal Analog dan Sinyal Digital 1. Sinyal analog Sinyal analog adalah signal yang berupa gelombang elektro magnetik dan bergerak atas dasar fekuensi. Frekuensi adalah jumlah getaran bolak balik sinyal

Lebih terperinci

Perancangan Prototipe Transmitter Beacon Black Box Locator Acoustic 37.5 khz Pingers

Perancangan Prototipe Transmitter Beacon Black Box Locator Acoustic 37.5 khz Pingers Jurnal ELKOMIKA Vol. 4 No. 2 Halaman 170-184 ISSN (p): 2338-8323 Juli - Desember 2016 ISSN (e): 2459-9638 Perancangan Prototipe Transmitter Beacon Black Box Locator Acoustic 37.5 khz Pingers RUSTAMAJI,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi listrik merupakan salah satu energi primer yang tidak dapat dilepaskan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB VIII SISTEM KENDALI

BAB VIII SISTEM KENDALI BAB VIII SISTEM KENDALI VIII.1 Struktur Sistem Kendali Sistem kendali proses dapat didefinisikan sebagai fungsi dan operasi yang perlu untuk mengubah bahan baik secara fisik maupun kimia. Kendali proses

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI TENAGA SURYA SEBAGAI CATU DAYA PADA SKUTER BERODA DUA SEIMBANG OTOMATIS UNIVERSITAS TELKOM

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI TENAGA SURYA SEBAGAI CATU DAYA PADA SKUTER BERODA DUA SEIMBANG OTOMATIS UNIVERSITAS TELKOM PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI TENAGA SURYA SEBAGAI CATU DAYA PADA SKUTER BERODA DUA SEIMBANG OTOMATIS UNIVERSITAS TELKOM (DESIGN AND IMPLEMENTATION OF SOLAR ENERGY AS POWER SUPPLY ON SELF BALANCED TWO-WHEELED

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR SISTEM C-V METER PENGUKUR KARAKTERISTIK KAPASITANSI-TEGANGAN

BAB II TEORI DASAR SISTEM C-V METER PENGUKUR KARAKTERISTIK KAPASITANSI-TEGANGAN BAB II TEORI DASAR SISTEM C-V METER PENGUKUR KARAKTERISTIK KAPASITANSI-TEGANGAN 2.1. C-V Meter Karakteristik kapasitansi-tegangan (C-V characteristic) biasa digunakan untuk mengetahui karakteristik suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumber energi tenaga angin, sumber energi tenaga air, hingga sumber energi tenaga

BAB I PENDAHULUAN. sumber energi tenaga angin, sumber energi tenaga air, hingga sumber energi tenaga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, penelitian mengenai sumber energi terbarukan sangat gencar dilakukan. Sumber-sumber energi terbarukan yang banyak dikembangkan antara lain sumber energi tenaga

Lebih terperinci

DISAIN SWITCHING POWER SUPPLIES

DISAIN SWITCHING POWER SUPPLIES Politeknik Negeri Bandung, 1 Oktober 2003 IAIN WITHING POWER UPPIE Rustamaji Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Nasional Jl. P.H. Mustofa 23 Bandung Tlp : (022)7272215 e-mail : rustamaji@itenas.ac.id

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA : STUDI PARAMETER TEKNOLOGI HYBRID KOLEKTOR SEL SURYA SEBAGAI TEKNOLOGI PENGERING HASIL PANEN ABSTRAK

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA : STUDI PARAMETER TEKNOLOGI HYBRID KOLEKTOR SEL SURYA SEBAGAI TEKNOLOGI PENGERING HASIL PANEN ABSTRAK PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA : STUDI PARAMETER TEKNOLOGI HYBRID KOLEKTOR SEL SURYA SEBAGAI TEKNOLOGI PENGERING HASIL PANEN Irnanda Priyadi Staf Pengajar Teknik Elektro Universitas Bengkulu ABSTRAK

Lebih terperinci

Analisa dan Pemodelan PWM AC-AC Konverter Satu Fasa Simetri

Analisa dan Pemodelan PWM AC-AC Konverter Satu Fasa Simetri 1 Analisa dan Pemodelan PWM AC-AC Konverter Satu Fasa Simetri Rizki Aulia Ratnani, Mochamad Ashari, Heri Suryoatmojo. Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

MODUL KULIAH SISTEM KENDALI TERDISTRIBUSI

MODUL KULIAH SISTEM KENDALI TERDISTRIBUSI MODUL KULIAH SISTEM KENDALI TERDISTRIBUSI KONSEP DASAR SISTEM KONTROL Oleh : Muhamad Ali, M.T JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2012 0 BAB I KONSEP DASAR

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Pendahuluan Bab ini akan membahas pembuatan seluruh perangkat yang ada pada Tugas Akhir tersebut. Secara garis besar dibagi atas dua bagian perangkat yaitu: 1.

Lebih terperinci

Pemodelan Fuzzy Logic Control untuk Pengendali PWM pada Buck Converter

Pemodelan Fuzzy Logic Control untuk Pengendali PWM pada Buck Converter Pemodelan Fuzzy Logic Control untuk Pengendali PWM pada Buck Converter Helmy Mukti Himawan 1, Onny Setyawati 2, Hadi Suyono 3 Abstract Recently the switching mode used in a buck converter is controlled

Lebih terperinci

ANALISIS RANGKAIAN GENERATOR IMPULS UNTUK MEMBANGKITKAN TEGANGAN IMPULS PETIR MENURUT BERBAGAI STANDAR

ANALISIS RANGKAIAN GENERATOR IMPULS UNTUK MEMBANGKITKAN TEGANGAN IMPULS PETIR MENURUT BERBAGAI STANDAR ANALISIS RANGKAIAN GENERATOR IMPULS UNTUK MEMBANGKITKAN TEGANGAN IMPULS PETIR MENURUT BERBAGAI STANDAR Wangto Ratta Halim, Syahrawardi Konsentrasi Teknik Energi Listrik, Departemen Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

KONTROL PROPORSIONAL INTEGRAL DERIVATIF (PID) UNTUK MOTOR DC MENGGUNAKAN PERSONAL COMPUTER

KONTROL PROPORSIONAL INTEGRAL DERIVATIF (PID) UNTUK MOTOR DC MENGGUNAKAN PERSONAL COMPUTER KONTROL PROPORSIONAL INTEGRAL DERIVATIF (PID) UNTUK MOTOR DC MENGGUNAKAN PERSONAL COMPUTER Erwin Susanto Departemen Teknik Elektro, Institut Teknologi Telkom Bandung Email: ews@ittelkom.ac.id ABSTRACT

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi merupakan suatu kebutuhan dasar bagi masyarakat modern. Tanpa energi, masyarakat akan sulit melakukan berbagai kegiatan. Pada era globalisasi seperti sekarang

Lebih terperinci

Studi Pengaruh Pemilihan Frekuensi Carrier dan Komponen Filter Terhadap Bentuk Gelombang Keluaran pada Inverter Satu Fasa

Studi Pengaruh Pemilihan Frekuensi Carrier dan Komponen Filter Terhadap Bentuk Gelombang Keluaran pada Inverter Satu Fasa Yogyakarta, 16 Oktober 2008 Studi Pengaruh Pemilihan Frekuensi Carrier dan Komponen Filter Terhadap Bentuk Gelombang Keluaran pada Inverter Satu Fasa Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Solar Cell Solar Cell atau panel surya adalah suatu komponen pembangkit listrik yang mampu mengkonversi sinar matahari menjadi arus listrik atas dasar efek fotovoltaik. untuk mendapatkan

Lebih terperinci

Makalah Seminar Kerja Praktek

Makalah Seminar Kerja Praktek Makalah Seminar Kerja Praktek OPERASI HMXT-200 GENERATOR SEBAGAI PENGHASIL HIDROGEN PADA H 2 PLANT PLTGU PT INDONESIA POWER UBP SEMARANG Adista Ayu Widiasanti (L2F009074), Dr. Ir. Hermawan, DEA. (196002231986021001)

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi PWM Sinyal PWM pada umumnya memiliki amplitudo dan frekuensi dasar yang tetap, namun, lebar pulsanya bervariasi. Lebar pulsa PWM berbanding lurus dengan amplitudo sinyal

Lebih terperinci

Analisa Performa SOFC Proton ElektrolitSistem Hibrid dengan Bahan Bakar Alternatif

Analisa Performa SOFC Proton ElektrolitSistem Hibrid dengan Bahan Bakar Alternatif Analisa Performa SOFC Proton ElektrolitSistem Hibrid dengan Bahan Bakar Alternatif Nizar Amir. 1), Reymond Purnomo. 2) Jurusan Teknik Mesin Program Magister dan Doktor FT UB, Malang 1) Jurusan Matematika

Lebih terperinci

Investigasi Terhadap Kemampuan 2 Tipe ADC

Investigasi Terhadap Kemampuan 2 Tipe ADC Jurnal Penelitian Sains Volume 12 Nomer 2(B) 12205 Investigasi Terhadap Kemampuan 2 Tipe ADC Assa idah dan Yulinar Adnan Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia Intisari:

Lebih terperinci

DAN TEGANGAN LISTRIK

DAN TEGANGAN LISTRIK 1 ARUS DAN TEGANGAN LISTRIK 1.1 Pengertian Arus Listrik (Electrical Current) Kita semua tentu paham bahwa arus listrik terjadi karena adanya aliran elektron dimana setiap elektron mempunyai muatan yang

Lebih terperinci

KAPASITOR (KONDENSATOR)

KAPASITOR (KONDENSATOR) 1 KAPASITOR (KONDENSATOR) Kapasitor (Kondensator) yang dalam rangkaian elektronika dilambangkan dengan huruf "C" adalah suatu komponen elektronika yang dapat menyimpan energi/muatan listrik di dalam medan

Lebih terperinci

Studi Gangguan Hubung Tanah Stator Generator Menggunakan Metoda Harmonik Ketiga di PT. Indonesia Power UP. Saguling

Studi Gangguan Hubung Tanah Stator Generator Menggunakan Metoda Harmonik Ketiga di PT. Indonesia Power UP. Saguling Jurnal Reka Elkomika 2337-439X Juli 2016 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Teknik Elektro Itenas Vol.4 No.2 Studi Gangguan Hubung Tanah Stator Generator Menggunakan Metoda Harmonik Ketiga di PT.

Lebih terperinci

SIMULATOR RESPON SISTEM UNTUK MENENTUKAN KONSTANTA KONTROLER PID PADA MEKANISME PENGENDALIAN TEKANAN

SIMULATOR RESPON SISTEM UNTUK MENENTUKAN KONSTANTA KONTROLER PID PADA MEKANISME PENGENDALIAN TEKANAN SIMULATOR RESPON SISTEM UNTUK MENENTUKAN KONSTANTA KONTROLER PID PADA MEKANISME PENGENDALIAN TEKANAN Dwiana Hendrawati Prodi Teknik Konversi Energi Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof.

Lebih terperinci

ABSTRAK PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA PEMBUATAN RANGKAIAN INVERTER DARI DC KE AC Rahmi Dewi, Usman Malik, Syahrol Jurusan Fisika, FMIPA, Universiatas Riau, Pekanbaru, Indonesia E-mail : drahmi2002@yahoo.com ABSTRAK Telah dilakukan penelitian

Lebih terperinci

Kontrol Kecepatan Motor DC Berbasis Logika Fuzzy (DC Motor Speed Control Based on Fuzzy Logic)

Kontrol Kecepatan Motor DC Berbasis Logika Fuzzy (DC Motor Speed Control Based on Fuzzy Logic) Terry Intan Nugroho., et al., Kontrol Kecepatan Motor DC Berbasis Logika 1 Kontrol Kecepatan Motor DC Berbasis Logika (DC Motor Speed Control Based on Logic) Terry Intan Nugroho, Bambang Sujanarko, Widyono

Lebih terperinci

SAAT ini semua peralatan elektronik seperti

SAAT ini semua peralatan elektronik seperti MOH. ZAENAL EFENDI, NOVIE AYUB W, DAN HARY OKTAVIANTO 31 Desain dan Implementasi AC-DC Double Series Flyback Power Factor Correction (PFC) Converter Moh. Zaenal Efendi, Novie Ayub W, dan Hary Oktavianto

Lebih terperinci

Komponen dan RL Dasar

Komponen dan RL Dasar Komponen dan RL Dasar Rangkaian Listrik 1 (TKE131205) Jurusan Teknik Elektro, Unsoed Iwan Setiawan Rangkaian Listrik 1 (TKE131205) Jurusan Teknik Elektro, Unsoed 1/91 Kuantitas.

Lebih terperinci

KAJIAN PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK DENGAN PEMASANGAN INVERTER PADA MOTOR FAN MENARA PENDINGIN RSG - GAS

KAJIAN PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK DENGAN PEMASANGAN INVERTER PADA MOTOR FAN MENARA PENDINGIN RSG - GAS KAJIAN PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK DENGAN PEMASANGAN INVERTER PADA MOTOR FAN MENARA PENDINGIN RSG - GAS Koes Indrakoesoema, Kiswanto, Muhammad Taufiq Pusat Reaktor Serba Guna BATAN Kawasan Puspiptek, Ged.

Lebih terperinci

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) Prepared by: anonymous

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) Prepared by: anonymous PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) Prepared by: anonymous Pendahuluan PLTG adalah pembangkit listrik yang menggunakan tenaga yang dihasilkan oleh hasil pembakaran bahan bakar dan udara bertekanan tinggi.

Lebih terperinci

BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL

BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL Pengkondisian sinyal merupakan suatu konversi sinyal menjadi bentuk yang lebih sesuai yang merupakan antarmuka dengan elemen-elemen lain dalam suatu kontrol proses.

Lebih terperinci

1. PRINSIP KERJA CATU DAYA LINEAR

1. PRINSIP KERJA CATU DAYA LINEAR 1. PRINSIP KERJA CATU DAYA LINEAR Perangkat elektronika mestinya dicatu oleh suplai arus searah DC (direct current) yang stabil agar dapat bekerja dengan baik. Baterai atau accu adalah sumber catu daya

Lebih terperinci

REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA. Putri Anjarsari, S.Si., M.Pd

REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA. Putri Anjarsari, S.Si., M.Pd REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA Putri Anjarsari, S.Si., M.Pd putri_anjarsari@uny.ac.id PENYETARAN REAKSI REDOKS Dalam menyetarakan reaksi redoks JUMLAH ATOM dan MUATAN harus sama Metode ½ Reaksi Langkah-langkah:

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGENDALI SWITCHING PADA KENDARAAN HYBRID RODA DUA

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGENDALI SWITCHING PADA KENDARAAN HYBRID RODA DUA PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGENDALI SWITCHING PADA KENDARAAN HYBRID RODA DUA Erny Listijorini 1 *, I.Nyoman Sutantra 2, Bambang Sampurno 3 Teknik Mesin, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Cilegon, Indonesia

Lebih terperinci