PEMBAGIAN TUGAS KELOMPOK AHLI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEMBAGIAN TUGAS KELOMPOK AHLI"

Transkripsi

1 PEMBAGIAN TUGAS KELOMPOK AHLI RENCANA PEMBELAJARAN I AHLI TOPIK TPK NO. JML TPK I Rantai Makanan 2,3,4,5 4 II - Rantai makanan dan tingkat trofik 6,7 2 - Aliran energi III Piramida ekologi 8,9,10,11 4 TPK Kelompok Asal: 1 RENCANA PEMBELAJARAN II AHLI TOPIK TPK NO. JML TPK I Siklus Nitrogen 2,3,4, 3 II Siklus CO2 dan O2 5,6,7 3 III Suksesi 10,11,12 3 TPK Kelompok Asal: 1 RENCANA PEMBELAJARAN III AHLI TOPIK TPK NO. JML TPK I Ekosistem Darat 2,3,4 3 II Ekosistem Air Tawar 5,6,7,8,9 5 III Ekosistem Air Laut dan Biosfer 10,11,14,15 5 TPK Kelompok Asal: 1

2 RENCANA PELAJARAN (RP 03) Satuan Pendidikan : Madrasah Aliyah Mata Pelajaran : Biologi Pokok Bahasan : Aksi Interaksi Sub Pokok Bahasan : Hubungan antara komunitas dengan Lingkungannya membentuk berbagai macam ekosistem. Kelas : I Semester : 2 Alokasi Waktu : 3 x 45 menit I. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Siswa memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem melalui perencaan, pengamatan, dan diskusi. II. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) A. Tujuan Produk Setelah kegiatan belajar mengajar siswa dapat: 1. Menuliskan ciri-ciri bioma. 2. Menuliskan vegetasi utama suatu bioma. 3. Menuliskan hewan utama penghuni suatu bioma. 4. Menjelaskan pengelompokan organisme air tawar berdasarkan kebiasaan hidup. 5. Membedakan empat pembagian tempat pada danau. 6. Menjelaskan pembagian ekosistem air laut berdasarkan kedalamannya. 7. Menjelaskan pembagian ekosistem air laut berdasarkan wilayah permukaan secara horizontal. 8. Memerikan ciri-ciri ekosistem pantai. 9. Membedakan ekosistem estuari dan ekosistem terumbu. 10. Menjelaskan kedudukan organisme dalam biosfer. B. Tujuan Proses 1. Menyusun diagram pembagian ekosistem di muka bumi. C. Tujuan Afektif 1. mengajukan pertanyaan 2. menjawab pertanyaan

3 3. menyampaikan ide/pendapat 4. mendengarkan secara aktif 5. berada dalam tugas D. Tujuan Sosial 1. menghormati pebedaan individu. 2. menunjukkan penghargaan dan simpati 3. melakukan kompromi 4. menghargai pendapat III. Sumber Pembelajaran 1. Buku Siswa 2. Buku-buku lain yang relevan 3. LKS 03 IV. Pengelolaan Pembelajaran 1. Model : Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 2. Metode : Ceramah, Tanya jawab, dan diskusi. 3. Alat Peraga : Transparansi V. Kegiatan Belajar Mengajar A. Pendahuluan Fase 1: Menyajikan rencana dan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa (10 menit) 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini tentang macammacam ekosistem yang meliputi tujuan produk, tujuan afektif, dan tujuan sosial dengan transparansi. 2. Guru memotivasi siswa dengan: (a) Menyatakan bahwa pada hari ini kita akan mempelajari subpokok bahasan Macam-macam Ekosistem dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. (b) Menanyakan kepada siswa apakah pernah melihat ekosistem padang rumput, ekosistem danau, ekosistem pantai, dan ekosistem terumbu karang, dan menanyakan vegetasi apa dan hewan apa yang ditemukan pada masing-masing ekosistem tersebut. (c) Menampilkan beberapa gambar contoh ekosistem melalui transparan dan menyatakan bahwa kita akan membahasnya semua pada hari ini. Tidak

4 B. Inti Fase 2: Menyajikan informasi (10 menit) 1. Guru mengingatkan kembali kepada siswa materi pelajaran yang terdahulu tentang pengertian ekosistem, dan komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem, dan menanyakan kembali kepada 2 orang siswa pengertian ekosistem dan contoh komoponen biotik dan abiotik penyusun ekosistem. 2. Guru mengaitkan pengetahuan awal siswa tentang komponen biotik dan abiotik ekosistem dengan subpokok bahasan Macam-macam Ekosistem. 3. Guru menyajikan informasi bahwa perbedaan komponen biotik dan abiotik penyusun suatu ekosistem menyebabkan perbedaan nama ekosistem tersebut. Memberikan contoh, misalnya ekosistem terumbu karang didominsi oleh karang (coral), ekosistem padang rumput didominasi oleh vegetasi rumput. 4. Guru menyajikan dengan charta diagram pembagian ekosistem di muka bumi. Tidak Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar (10 menit) 1. Guru mengingatkan kembali bahwa dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, siswa akan dibagi dalam kelompok asal dan kelompok ahli untuk bekerja secara kooperatif. 2. Guru membagi kelas ke dalam kelompok asal dan membagi tugas kelompok ahli, kemudian menganjurkan siswa untuk berada pada kelompok asal masing-masing sesuai yang telah ditentukan 3. Guru mengingatkan kembali siswa keterampilan kooperatif yang harus dilakukan selama pembelajaran dengan menampilkan transparansi yang berisi keterampilan-keterampilan kooperatif yang harus dilatihkan selama pembelajaran berlangsung. Tidak

5 Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar A. Membaca, menelaah, menginterpetasi: (10 menit) 1. Guru membagikan LKS 03 kepada seluruh siswa. 2. Guru memperjelas topik ahli yang ada pada LKS dengan menampilkan transparansi Pembagian Tugas Kelompok Ahli, yaitu: Topik ahli 1 : Ekosistem darat (Buku siswa Hal dan LKS 03-Topik 1) Topik ahli 2: Ekosistem air tawar (Buku siswa hal dan LKS 03-Topik 2) Topik ahli3: - Ekosistem air laut (Buku siswa hal dan LKS 03-Topik 3) 3. Guru menganjurkan siswa untuk memperhatikan dan memeriksa topik masing-masing pada BUKU SISWA dan LKS-03 dan menganjurkan untuk mulai membaca topik masing-masing. (Pada saat yang sama guru mengingatkan siswa, bahwa kalau ada hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyatakan kepada teman kelompok sebelum ditanyatakan kepada guru). B. Diskusi Kelompok Ahli: (30 menit) 1. Guru memberitahukan siswa untuk duduk (berada) pada kelompok ahli masing-masing. 2. Guru menganjurkan siswa untuk: (a) berdiskusi pada kelompok ahli sesuai dengan keahlian masing-masing, (b) mengerjakan LKS 03 dan (c) mengingatkan siswa untuk menggunakan keterampilan kooperatif dalam bekerja. C. Kelompok asal: (40 menit) 1. Guru menganjurkan siswa untuk kembali ke kelompok asal atau menempati bangku kelompok asal. 2. Guru memberikan kesempatan kepada anggota Kelompok Ahli dalam kelompok asal untuk bernegosiasi/kompromi siapa yang akan menjelaskan topik keahliannya di depan anggota kelompok asal. 3. Guru menganjurkan siswa untuk memulai kegiatan presentasi kelompok ahli di depan anggota kelompok asal masing-masing sambil membimbing dan mengingatkan siswa untuk menggunakan keterampilan koperatif.

6 Fase 5: Evaluasi (15 menit) Siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik. C. Penutup Fase 6: Memberikan Penghargaan (10 menit) 1. Guru merangkum materi pelajaran tentang macam-macam ekosistem dengan transparansi. 2. Guru mengumumkan kelompok berprestasi pada pertemuan sebelumnya dan memberikan hadiah dalam bentuk piagam penghargaan pada kelompok berprestasi. 3. Guru memberitahukan siswa bahwa penentuan kelompok yang akan memperoleh penghargaan untuk pertemuan hari ini akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. 4. Guru menugaskan kepada siswa untuk mengerjakan soalsoal latihan pada akhir pokok bahasan Tidak Tidak Tidak Tidak DAFTAR PUSTAKA Depdikbud, Garis-garis Besar Program Pengajaran Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia., Kurikulum Sekolah Menengah Umum: Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ibarat, T., Melani, K., & Bagod, S., Prestasi Biologi I. Bandung: Ganeca Exact. Lederer, R.J. (1985) Ecology and Field Biology. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. Pratiwi, D.A., Sri, M., Srikini, Suharno, & Bambang S., Buku Penuntun Biologi Untuk SMU Kelas I. Jakarta: Erlangga.

7 RENCANA PELAJARAN (RP 02) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Kelas Semester : 2 Alokasi Waktu : 3 x 45 menit : Madrasah Aliyah : Biologi : Aksi Interaksi : - Pola-pola interaksi yang melibatkan faktorfaktor biotik-abiotik. - Dalam interaksinya komunitas mengalami pertumbuhan yang dinamik hingga mencapai klimaks. : I I. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Siswa memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem melalui perencaan, pengamatan, dan diskusi. II. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) A. Tujuan Produk Setelah kegiatan belajar mengajar siswa dapat: 11. Menjelaskan pengertian siklus biogeokimia. 12. Menyebutkan bentuk-bentuk nitrogen dalam tanah yang dimanfaatkan oleh tumbuhan. 13. Menjelaskan bagaimana nitrogen dimanfaatkan oleh tumbuhan. 14. Menjelaskan sumber-sumber CO 2 di alam. 15. Menjelaskan pengertian suksesi. 16. Membedakan suksesi primer dengan suksesi sekunder. 17. Menuliskan contoh suksesi B. Tujuan Proses 1. Membuat skema siklus nitrogen yang terjadi pada suatu komunitas. 2. Membuat diagram siklus CO2 dan O2 yang terjadi pada suatu komunitas. 3. Meramalkan urutan komunitas suksesi yang terjadi pada suatu ekosistem. C. Tujuan Afektif

8 6. mengajukan pertanyaan 7. menjawab pertanyaan 8. menyampaikan ide/pendapat 9. menghargai pendapat 10. mendengarkan secara aktif 11. berada dalam tugas D. Tujuan Sosial 5. menghormati pebedaan individu. 6. menunjukkan penghargaan dan simpati 7. melakukan kompromi 8. menghargai pendapat III. Sumber Pembelajaran 4. Buku Siswa 5. Buku-buku lain yang relevan 6. LKS 02 IV. Pengelolaan Pembelajaran 1. Model : Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 2. Metode : Ceramah, Tanya jawab, dan diskusi. 3. Alat Peraga : Charta V. Kegiatan Belajar Mengajar A. Pendahuluan

9 Fase 1: Menyajikan rencana dan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa (10 menit) 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini tentang siklus biogeokimia dan suksesi yang meliputi tujuan produk, tujuan afektif, dan tujuan sosial dengan transparansi. 2. Guru memotivasi siswa dengan: (d) Menyatakan bahwa pada hari ini kita akan mempelajari tentang siklus biogeokimia dan suksesi dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. (e) Menanyakan kepada siswa apakah kita sekarang ini sedang terlibat dalam pengalihan materi (siklus biogeokimia) dalam ekosistem. Dan menanyakan kepada siswa apakah gunung Rinjani yang ada di Lombok pernah meletus seperti gunung Krakatau, dan bagaimana proses suksesinya sehingga menjadi komunitas klimaks seperti sekarang ini. B. Inti Fase 2: Menyajikan informasi (15 menit) 5. Guru mengingatkan kembali kepada siswa materi pelajaran yang terdahulu tentang rantai makanan dan jaring-jaringan makanan. 6. Guru mengaitkan pengetahuan sebelumnya terutama tentang rantai makanan dan jaring-jaring makanan, hubungannya dengan pengalihan materi (siklus biogeokimia). 7. Guru menyajikan informasi secara ringkas tentang siklus biogeokimia dan suksesi dengan menyatakan bahwa ekosistem dapat terbentuk melalui berbagai proses baik secara alami maupun buatan. Tidak

10 Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar (10 menit) 4. Guru mengingatkan kembali bahwa dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, siswa akan dibagi dalam kelompok asal dan kelompok ahli untuk bekerja secara kooperatif. 5. Guru membagi kelas ke dalam kelompok asal dan membagi tugas kelompok ahli, kemudian menganjurkan siswa untuk berada pada kelompok asal masing-masing sesuai yang telah ditentukan 7. Guru mengingatkan kembali siswa keterampilan kooperatif yang harus dilakukan selama pembelajaran dengan menampilkan transparansi yang berisi keterampilan-keterampilan kooperatif yang harus dilatihkan selama pembelajaran berlangsung. Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar A. Membaca, menelaah, menginterpetasi: (15 menit) 4. Guru membagikan LKS 03 kepada seluruh siswa. 5. Guru memperjelas topik ahli yang ada pada LKS dengan menampilkan transparansi Pembagian Tugas Kelompok Ahli, yaitu: Topik Ahli 1 : Siklus nitrogen (Buku siswa Hal dan LKS 02-Topik 1) Topik Ahli 2: Siklus CO 2 dan O 2 (Buku siswa hal dan LKS 02-Topik 2) Topik Ahli3: Suksesi (Buku siswa hal dan LKS 02-Topik 3) 6. Guru menganjurkan siswa untuk memperhatikan dan memeriksa topik masing-masing pada BUKU SISWA dan LKS-02 dan menganjurkan untuk mulai membaca topik masing-masing. (Pada saat yang sama guru mengingatkan siswa, bahwa kalau ada hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyatakan kepada teman kelompok sebelum ditanyatakan kepada guru).

11 B. Diskusi Kelompok Ahli: (25 menit) 1. Guru memberitahukan siswa untuk duduk (berada) pada kelompok ahli masing-masing. 2. Guru menganjurkan siswa untuk: (a) berdiskusi pada kelompok ahli sesuai dengan keahlian masing-masing, (b) mengerjakan LKS 02 dan mengingatkan siswa untuk bekerja secara kooperatif. C. Kelompok asal: (50 menit) 4. Guru menganjurkan siswa untuk kembali ke kelompok asal atau menempati bangku kelompok asal. 5. Guru memberikan kesempatan kepada anggota Kelompok Ahli dalam kelompok asal untuk bernegosiasi siapa yang akan menjelaskan topik keahliannya di depan anggota kelompok asal. 6. Guru menganjurkan siswa untuk memulai kegiatan presentasi kelompok ahli di depan anggota kelompok asal masing-masing sambil mengingatkan siswa untuk menggunakan keterampilan koperatif. Fase 5: Evaluasi (15 menit) Siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik. C. Penutup Fase 6: Memberikan Penghargaan (10 menit) 5. Guru merangkum materi pelajaran tentang Siklus Biogeokimia dan Suksesi dengan transparansi. 6. Guru mengumumkan kelompok berprestasi pada pertemuan sebelumnya dan memberikan hadiah dalam bentuk piagam penghargaan kepada kelompok berprestasi. 7. Guru memberitahukan siswa bahwa penentuan kelompok yang akan memperoleh penghargaan untuk pertemuan hari ini akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. 8. Guru menugaskan kepada siswa untuk mengerjakan soalsoal latihan pada akhir pokok bahasan dan membaca materi untuk pertemuan berikutnya. Tidak Tidak Tidak Tidak

12 DAFTAR PUSTAKA Depdikbud, Garis-garis Besar Program Pengajaran Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia., Kurikulum Sekolah Menengah Umum: Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ibarat, T., Melani, K., & Bagod, S., Prestasi Biologi I. Bandung: Ganeca Exact. Lederer, R.J. (1985) Ecology and Field Biology. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. Pratiwi, D.A., Sri, M., Srikini, Suharno, & Bambang S., Buku Penuntun Biologi Untuk SMU Kelas I. Jakarta: Erlangga.

13 RENCANA PELAJARAN (RP 01) Satuan Pendidikan : Madrasah Aliyah Mata Pelajaran : Biologi Pokok Bahasan : Aksi Interaksi Sub Pokok Bahasan : Pola-pola interaksi yang melibatkan faktorfaktor biotik-abiotik Kelas : I Semester : 2 Alokasi Waktu : 3 x 45 menit I. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Siswa memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem melalui perencanaan, pengamatan, dan diskusi. II. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) A. Tujuan Produk Setelah kegiatan belajar mengajar siswa dapat: 2. Menyebutkan 4 macam pola aksi interaksi. 3. Menentukan batasan organisme yang terlibat pada rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit. 4. Menyusun urutan tingkat trofik dalam suatu rantai makanan. 5. Menjelaskan pengertian aliran energi 6. Menjelaskan urutan pemindahan aliran energi dalam suatu ekosistem. 7. Menjelaskan piramida ekologi 8. Mendefinisikan pengertian biomassa. 9. Menjelaskan penyebab terjadinya penurunan energi yang tersedia pada piramida energi B. Tujuan Proses 2. Menggambarkan jaring-jaring makanan dalam suatu komunitas. 3. Meramalkan yang terjadi pada suatu komunitas jika salah satu mata rantai pada rantai makanan mengalami perubahan jumlah. C. Tujuan Afektif 2. mengajukan pertanyaan 3. menjawab pertanyaan 4. menyampaikan ide/pendapat

14 5. menghargai pendapat 6. mendengarkan secara aktif 7. berada dalam tugas D. Tujuan Sosial 9. menghormati pebedaan individu. 10. menunjukkan penghargaan dan simpati 11. melakukan kompromi 12. menghargai pendapat III. Sumber Pembelajaran 1. Buku Siswa 2. LKS 01a, LKS-01b 3. Buku-buku lain yang relevan 4. Lingkungan sekitar. IV. Pengelolaan Pembelajaran 1. Model : Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 2. Metode : Ceramah, Tanya jawab, dan diskusi. 3. Alat Peraga : Charta V. Kegiatan Belajar Mengajar A. Pendahuluan

15 Fase 1: Menyajikan rencana dan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa (10 menit) 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini tentang Pola-pola Aksi Interaksi yang meliputi tujuan produk, tujuan proses, tujuan afektif, tujuan sosial dengan transparansi. 2. Guru memotivasi siswa dengan: (f) Menyatakan bahwa pada hari ini kita akan mempelajari subpokok bahasan Pola-pola Aksi Interaksi dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. (g) Menanyakan kepada siswa Bisakah kita manusia atau makhluk hidup lain hidup sendiri tanpa membutuhkan makhluk hidup lain dan meminta dua orang untuk menjawab yang disertai dengan alasan atas jawabannya. (h) Menyuruh dua atau tiga orang siswa menceritakan kembali bagaimana hasil pengamatannya terhadap ekosistem sawah yang telah ditugaskan dengan LKS-01a. B. Inti Tidak Tidak Fase 2: Menyajikan informasi (10 menit) 1. Guru mengingatkan kembali siswa materi pelajaran yang terdahulu tentang komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem, dan menanyakan kembali kepada 2 orang siswa contoh komoponen biotik dan abiotik penyusun ekosistem. 2. Guru mengaitkan pokok bahasan Aksi Interaksi dengan pokok bahasan sebelumnya terutama mengenai komponen biotik dan abiotik penyusun ekosistem. 3. Mengulas inti hasil kegiatan siswa dalam LKS- 01a untuk menunjukkan dan memperjelas contoh pola akis interaksi dalam suatu komunitas. 4. Menyajikan secara umum materi tentang polapola interaksi antara komponen biotik dalam ekosistem dengan menggunakan charta. Tidak Tidak

16 Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar (10 menit) 6. Guru menyatakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, siswa akan dibagi dalam kelompok asal dan kelompok ahli untuk bekerja secara kooperatif. 7. Guru membagi kelas ke dalam kelompok asal dan membagi tugas kelompok ahli, kemudian menganjurkan siswa untuk berada pada kelompok asal masing-masing sesuai yang telah ditentukan 8. Guru mengingatkan siswa keterampilan kooperatif yang harus dilakukan selama pembelajaran dengan menampilkan transparansi yang berisi keterampilanketerampilan kooperatif yang harus dilatihkan selama pembelajaran berlangsung. Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar A. Membaca, menelaah, menginterpetasi: (10 menit) 1. Guru membagikan LKS-01b kepada seluruh siswa. 2. Guru memperjelas topik ahli yang ada pada LKS-01b dengan menampilkan transparansi Pembagian Tugas Kelompok Ahli, yaitu:

17 Topik ahli 1 : Rantai makanan (Buku siswa Hal. 3-5 dan LKS 01b-Topik 1) Topik ahli 2: - Rantai makanan dan tingkat trofik - Aliran energi (Buku siswa hal. 6-7 dan LKS 01b-Topik 2) Topik ahli3: Piramida ekologi (Buk u siswa hal. 7 9 dan LKS 01b-Topik 3) 3. Guru menganjurkan siswa untuk memperhatikan dan memeriksa topik masing-masing pada BUKU SISWA dan LKS-01b dan menganjurkan untuk mulai membaca topik masing-masing. (Pada saat yang sama guru mengingatkan siswa, bahwa kalau ada hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyatakan kepada teman kelompok sebelum ditanyatakan kepada guru). B. Diskusi kelompok ahli: (30 menit) 1. Guru memberitahukan siswa untuk duduk (berada) pada kelompok ahli masing-masing. 2. Guru menganjurkan siswa untuk: (a) berdiskusi pada kelompok ahli sesuai dengan keahlian masing-masing, (b) mengerjakan LKS 01b dan mengingatkan siswa untuk bekerja secara kooperatif. C. Kelompok asal: (40 menit) 7. Guru menganjurkan siswa untuk kembali ke kelompok asal atau menempati bangku kelompok asal. 8. Guru memberikan kesempatan kepada anggota kelompok ahli dalam kelompok asal untuk bernegosiasi siapa yang akan menjelaskan topik keahliannya di depan anggota kelompok asal. 9. Guru menganjurkan siswa untuk memulai kegiatan presentasi kelompok ahli di depan anggota kelompok asal masing-masing. Fase 5: Evaluasi (15 menit) Siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik.

18

19 C. Penutup Fase 6: Memberikan Penghargaan (10 menit) 9. Memberikan penghargaan kepada kelompok yang bekerja dengan sungguh-sungguh LKS pengamatan (LKS-01a). 10. Guru memberitahukan siswa bahwa penentuan kelompok yang akan memperoleh penghargaan untuk pertemuan hari ini akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. 11. Guru merangkum materi dengan transparansi 12. Guru menugaskan kepada siswa untuk mengerjakan soalsoal latihan pada akhir pokok bahasan dan membaca materi untuk pertemuan berikutnya. Tidak Tidak Tidak Tidak DAFTAR PUSTAKA Depdikbud, Garis-garis Besar Program Pengajaran Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia., Kurikulum Sekolah Menengah Umum: Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ibarat, T., Melani, K., & Bagod, S., Prestasi Biologi I. Bandung: Ganeca Exact. Lederer, R.J. (1985) Ecology and Field Biology. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. Pratiwi, D.A., Sri, M., Srikini, Suharno, & Bambang S., Buku Penuntun Biologi Untuk SMU Kelas I. Jakarta: Erlangga.

20 PEDOMAN PENGATURAN DAN PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW POKOK BAHASAN AKSI INTERAKSI A. Pengantar Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997). Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat Kelompok Asal dan Kelompok Ahli. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 2001). Kelompok Asal KLP I KLP II KLP III KLP IV KLP V KLP VI A A A B A B A A A B A B B C B C C C B C B C C C A A A A A A A A A B B B B B B B B B C C C C C C C C C Kelompok Ahli I Kelompok Ahli II Kelompok Ahli III Gambar 2.1: Ilustrasi Kelompok jigsaw Keterangan: Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masingmasing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada

21 kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling memberi tahu) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya di akhir pembelajaran, siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. B. Pengaturan Kelompok 1. Bagilah siswa ke dalam 6 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa. Catatan: Setiap kelompok harus terdiri dari siswa yang pandai, agak pandai, kurang pandai. Dan sedapat mungkin dari suku (asal) daerah yang berbeda. 2. Tentukan masing-masing anggota kelompok, siapa yang akan bertugas sebagai Ahli I untuk topik I, Ahli II untuk topik II, dan Ahli III untuk topik III. Catatan: - Jika kelompok asal terdiri dari 4 orang, maka ada 1 topik yang dipegang oleh 2 orang, dan 2 topik lainnya masing-masing 1 orang. - Jika kelompok asal terdiri dari 5 orang, maka ada 2 topik yang dipegang oleh 2 orang, dan 1 topik lainnya dipegang oleh 1 orang. - Jika kelompok asal terdiri dari 6 orang, maka setiap topik dipegang oleh masing-masing 2 orang. Daftar topik yang disarankan untuk ditangani oleh dua orang: Untuk RP 1: Piramida Ekologi untuk ahli III Untuk RP 2: Siklus Nitrogen untuk ahli I Untuk RP 3: Ekosistem Air Laut dan Biosfer untuk ahli III

22 3. Aturlah posisi duduk Kelompok Asal seperti pada gambar berikut. Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Meja guru Gambar 1: Model tempat duduk Six-Cluster Setting dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. (Dikutip dari Arends, 2001) 4. Tempat duduk Kelompok Ahli dapat mengikuti pola sebagai berikut. Kelompok Ahli I = Gabungan tempat duduk kelompok I dan kelompok IV. Kelompok Ahli II = Gabungan tempat duduk kelompok II dan kelompok V. Kelompok Ahli III = Gabungan tempat duduk kelompok III dan kelompok VI. C. Pelaksanaan Urutan langkah PBM yang berorientasi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada pokok bahasan Aksi Interaksi mengikuti sintaks pembelajaran sebagai berikut. Tabel 1: Langkah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw Fase Langkah M e n i t Fase 1 Menyajikan rencana dan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. (Ikuti cara-cara yang terdapat pada masing-masing RP1, RP2, dan RP3). k e.. 1 s / d 1

23 Fase 2 Fase 3 Menyajikan informasi (Ikuti cara-cara yang terdapat pada masing-masing RP1, RP2, dan RP3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Guru membagi kelas dalam 6 kelompok belajar, dimana tiap kelompok beranggotakan 4-6 orang dengan beragam tingkat kemampuannya. (Ikuti pengaturan tempat duduk kelompok asal seperti pada gambar 1 di atas). Guru mengingatkan siswa agar setiap kelompok menggunakan keterampilan kooperatif. Dan apabila ada yang mengalami kesulitan, tanyakan kepada teman atau guru s/d menit 2 6 s / d 3 5 Fase 4 Fase 5 Fase 6 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membaca, menelaah dan menginterpretasi: Guru memberikan topik-topik ahli kepada siswa dan siswa membaca materi tersebut, menelaah dan menginterpretasi gambar atau skema sesuai dengan topik masing-masing. (Topik ahli masing-masing RP dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini). Diskusi Kelompok Ahli - Guru mengatur siswa ke dalam kelompok ahli I, II, dan III sesuai dengan ketentuan B nomor 4 di atas. - Siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikan topik tersebut. Kelompok Asal: - Guru mengatur kembali siswa ke kelompok asal. - Ahli tiap topik kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan topik kepada anggota kelompoknya. Evaluasi - Guru memberikan kuis individu yang mencakup semua topik. (Berikan lembar kuis yang sudah dibuat untuk masing-masing RP). Memberikan Penghargaan - Penghitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok. Ini dilakukan bila waktu memungkinkan. Penghargaan bisa diberikan pada awar pertemuan berikutnya. (Petunjuk penskoran dan pemberian penghargaan dapat dilihat pada tabel 3 dan tabel 4 berikut). 36 s/d menit 51 s/d menit 76 s/d menit 11 1 s\ d s/ d m e n i t 1 0 m e n i

24 dilihat pada tabel 3 dan tabel 4 berikut). i t Tabel 2: Pembagian tugas topik ahli pada setiap pertemuan. AHLI RP 1 RP 2 RP 3 I Rantai Makanan Siklus Nitrogen Ekosistem Darat II - Rantai makanan dan Siklus CO 2 dan O 2 Ekosistem Air Tawar tingkat trofik. - Aliran energi. III Piramida ekologi Suksesi Ekosistem Air Laut dan Biosfer D. Ketentuan penskoran dan pemberian penghargaan: Setelah kuis akhir pembelajaran dilakukan, maka dilakukan perhitungan skor perkembangan individu dan skor kelompok. Skor individu setiap kelompok memberi sumbangan pada skor kelompok berdasarkan rentang skor yang diperoleh pada kuis sebelumnya dengan skor terakhir. Arends (1997) memberikan petunjuk perhitungan skor kelompok sebagaimana terlihat dalam Tabel berikut. Tabel 3: Konversi Skor Perkembangan Skor Kuis Individu 1. Lebih dari 10 poin di bawah skor awal poin sampai 1 poin di bawah skor awal 3. Skor awal sampai 10 poin di atasnya 4. Lebih dari 10 di atas skor awal 5. Nilai sempurna ( berdasarkan skor awal) Skor Perkembangan Skor awal = Skor total individu pada pretes untuk sejumlah soal yang berhubungan dengan RP yang bersangkutan (RP pada pertemuan yang sedang berlangsung). Skor akhir = Skor total individu yang diperolehnya setelah menyelesaikan soal kuis untuk RP yang bersangkutan (RP pada pertemuan yang sedang berlangsung). Untuk menentukan tingkat penghargaan yang diberikan untuk prestasi kelompok dapat dilihat dalam Tabel 4 berikut.

25 Tabel 4: Tingkat Penghargaan Kelompok Rata- rata kelompok Penghargaan Jenis penghargaan Good Team (tim yang bagus) Great Team (tim yang hebat) Super Team (tim yang super) Piagam Piagam Piagam

26 LEMBAR KEGIATAN SISWA ( L K S 01a ) Tujuan: Siswa memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem melalui perencanaan, pengamatan, dan diskusi. A. PETUNJUK UMUM 1. Bacalah uraian materi pokok bahasan Aksi Interaksi di bawah ini sebelum anda melakukan kegiatan. 2. Pada LKS ini terdapat dua kegiatan, yaitu kegiatan pengamatan dan kegiatan diskusi. 3. Catat hasil pengamatan dan diskusi kalian pada lembar kegiatan siswa ini. 4. Diskusikan dengan anggota kelompok (kelompok asal saat di dalam kelas) anda pertanyaan yang ada pada LKS ini. 5. Apabila ada isi uraian materi atau butir pertanyaan pada LKS yang belum dimengerti, terlebih dahulu ditanyakan kepada anggota kelompok sebelum ditanyakan kepada guru. B. URAIAN MATERI AKSI INTERAKSI Makhluk hidup dalam lingkungannya mempunyai keterkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, mari kita perhatikan sebuah ekosistem kolam. Di kolam hidup berbagai makhluk hidup, misalnya tumbuhan air, ikan, serta makhluk hidup lain di sekitar kolam, seperti ular, katak, dan burung elang. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ikan bergantung pada tumbuhan air, ular bergantung pada katak dan ikan, serta burung elang bergantung pada katak, ikan atau ular. Kebutuhan tersebut akan tetap terpenuhi selama kondisi faktor biotik dan abiotik di ekosistem tersebut terpeliharan. Dapatkah kalian mengamati ekosistem sawah dan mendiskusikan keterkaitan antar organisme di dalamnya?. Pada suatu ekosistem terdapat tiga tingkat rantai makanan. Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan dimakan. Dapatkah kalian menggambarkan rantai makanan yang terjadi pada ekosistem sawah?. Setiap tingkat dari rantai makanan dinamakan taraf trofik. Taraf trofik pertama diduduki oleh produsen yaitu organisme yang berklorofil. Organisme manakah yang disebut sebagai produsen pada ekosistem sawah?. Organisme taraf trofi kedua disebut konsumen primer, taraf trofi ketiga disebut konsumen sekunder, dan seterusnya. Konsumen primer yang memakan produsen disebut herbivora, konsumen sekunder yang memakan konsumen primer disebut karnivor, begitu pula untuk konsumen tersier termasuk dalam karnivora. Carilah komponen-komponen rantai makanan tersebut pada ekosistem sawah.

27 C. KEGIATAN Kegiatan 1: Mengamati dengan cermat komponen biotik yang terdapat pada ekosistem sawah. Petunjuk: 1. Catatlah sebanyak mungkin hasil pengamatan anda tentang jenis-jenis hewan dan tumbuhan (termasuk jamur dan lumut) yang anda temukan pada ekosistem sawah yang kalian amati. Tulislah nama hewan dan tumbuhan yang ditemukan dengan nama Indonesia atau jika mengetahui nama Indonesia, cukup dengan menulis nama daerahnya. Tabel 1: Nama tumbuhan dan hewan yang ditemukan pada ekosistem sawah No. Tumbuhan Hewan Kegiatan II: Mendiskusi hasil pengamatan dengan anggota Kelompok Asal. Petunjuk: Diskusikanlah pertanyaan di bawah ini berdasarkan hasil pengamatan kalian.

28 1. Jenis-jenis hewan apa saja yang biasa terdapat pada lokasi pengamatan kalian pada waktu-waktu tertentu, tetapi kalian temukan pada waktu melakukan pengamatan. Tuliskan hasil diskusi anda pada tabel berikut!. Tabel 2: Nama hewan yang biasa terdapat pada ekosistem sawah tetapi ditemukan pada saat pengamatan. No. Nama hewan Waktu biasanya ada (pagi, siang, sore, malam) 2. Dari sejumlah organisme yang anda catat pada Tabel 1 dan Tabel 2, organisme manakan yang disebut sebagai: a. Produsen: b. Konsumen tingkat I/Konsumen primer: c. Konsumen tingkat II/konsumen sekunder:

29 d. Konsumen tingkat III/konsumen tersier e. Organisme pengurai: 3. Jika dalam ekosistem yang kalian amati terjadi proses saling makan antar organisme yang satu dengan yang lain, ceritakan jenis organisme yang saling makan tersebut dengan melengkapi kalimat berikut ini. a..dimakan oleh dimakan oleh.... b... dimakan oleh..dimakan oleh.. c... dimakan oleh.. dimakan oleh.dimakan oleh.. d... dimakan oleh.. dimakan oleh.dimakan oleh.. 4. Dari cerita tersebut, buatlah diagram yang menunjukkan proses saling makan dan memakan dalam bentuk Rantai Makanan dan Jaring-jaring makanan. (Perhatikan: Anak panah mengarah dari organisme yang dimakan ke organisme pemakan). Gambar rantai makanan:

30 Gambar jaring-jaring makanan: 5. Manakah yang lebih banyak jumlahnya antara produsen dan konsumen I? Manakah yang lebih banyak jumlahnya antara konsumen tingkat I dan konsumen tingkat II? Manakah yang lebih banyak jumlahnya antara konsumen tingkat II dan konsumen III? Keterangan yang anda buat pada pertanyaan nomor 5, 6, dan 7 dapat anda pindahkan ke dalam bentuk Piramida Jumlah. Lengkapilah piramida jumlah berikut dengan menempatkan tingkat trofik organisme yang sesuai (produsen, konsumen I, konsumen II, dan konsumen III). Dan tulislah nama salah satu organisme yang mewakili produsen, konsumen I, konsumen II, dan konsumen III pada kotak piramida tersebut. Tingkat trofik

31 Gambar 1: Piramida jumlah DAFTAR PUSTAKA Depdikbud, Garis-garis Besar Program Pengajaran Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ibarat, T., Melani, K., & Bagod, S., Prestasi Biologi I. Bandung: Ganeca Exact. Lederer, R.J. (1985) Ecology and Field Biology. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. Pratiwi, D.A., Sri, M., Srikini, Suharno, & Bambang S., Buku Penuntun Biologi Untuk SMU Kelas I. Jakarta: Erlangga.

32 I. IDENTITAS Nama Kelompok Asal Kelompok Ahli : : : II. TUJUAN PEMBELAJARAN Siswa memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem melalui perencanaan, pengamatan, dan diskusi. III. PETUNJUK 1. Bacalah subtopik yang ada pada BUKU SISWA sesuai dengan kelompok ahli masing-masing, kemudian jawablah pertanyaan dalam LKS ini sesuai dengan topik keahliannya. 2. Pastikan bahwa jawaban yang ditulis untuk dibawa ke kelompok asal adalah hasil kesepakatan bersama pada kelompok ahli. 3. Pada bagian akhir LKS ini terdapat pertanyaan untuk dikerjakan bersama setelah kembali ke kelompok asal. Lakukan tukar pendapat untuk menjawab pertanyaan dengan berbekal pengetahuan yang diperoleh dari kelompok ahli masing-masing. Pastikan bahwa jawaban yang ditulis merupakan hasil kesepakatan bersama antara ahli pada kelompok asal. IV. PERTANYAAN KELOMPOK AHLI ( Bacalah BUKU SISWA halaman ) 1. Salah satu cara tumbuhan memperoleh nitrogen adalah dengan memanfaatkan langsung nitrogen yang tersedia di dalam tanah. Dalam bentuk apakah nitrogen tersedia dalam tanah?......

33 2. Buatlah skema bagaimana proses nitrogen berpindah dari hewan dan tumbuhan hingga terbentuk kembali amonia, ion nitrit, dan ion nitrat. 3. Jelaskan dengan skema salah satu proses pembentukan N 2 bebas udara dan cara tumbuhan memanfaatkannya! ( Bacalah BUKU SISWA halaman ) 1. Jelaskan sumber-sumber CO 2 di alam: Perhatikan gambar berikut a. Siklus apakah yang digambarkan pada diagram tersebut......

34 b. Organisme mana yang memberikan karbon dioksida? c. Organisme mana yang menggunakan oksigen? d. Organisme mana yang menggunakan karbon dioksida? e. Dari mana dan bagaimana oksigen dilepas ke lingkungan f. Dari mana dan bagaimana karbon dioksida dilepas ke lingkungan? (Bacalah BUKU SISWA halaman ) 1. Apa yang dimaksud dengan suksesi? Lengkapilah tabel berikut ini untuk membedakan suksesi primer dan suksesi sekunder No. Suksesi Primer Suksesi Sekunder 1. Komunitas asal

35 2. Sifat gangguan dan contoh gangguan penyebab suksesi 3. Contoh komunitas suksesi 3. Buatlah diagram prediksi urutan suksesi yang terjadi pada gunung Krakatau setelah mengalami letusan tahun 1883 terbentuknya ekosistem yang mantap seperti yang ada sekarang!.

36 I. IDENTITAS : Kelompok Asal : Kelompok Ahli : II. TUJUAN PEMBELAJARAN Siswa memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem melalui perencanaan, pengamatan, dan diskusi. III. PETUNJUK 1. Bacalah subtopik yang ada pada BUKU SISWA sesuai dengan kelompok ahli masingmasing, kemudian jawablah pertanyaan dalam LKS ini sesuai dengan topik keahliannya. 2. Pastikan bahwa jawaban yang ditulis untuk dibawa ke kelompok asal adalah hasil kesepakatan bersama pada kelompok ahli. 3. Pada bagian akhir LKS ini terdapat pertanyaan untuk dikerjakan bersama setelah kembali ke kelompok asal. Lakukan tukar pendapat untuk menjawab pertanyaan dengan berbekal pengetahuan yang diperoleh dari kelompok ahli masing-masing. Pastikan bahwa jawaban yang ditulis merupakan hasil kesepakatan bersama antara ahli pada kelompok asal. ( Bacalah BUKU SISWA halaman ) 1. Lengkapilah tabel berikut yang menunjukkan ciri-ciri bioma No. Bioma Ciri-ciri Vegetasi Hewan 1. Bioma gurun

37 2. Bioma Padang rumput 3. Bioma Hutan basah 4. Bioma Hutan gugur 5. Bioma taiga

38 No. Bioma Ciri-ciri Vegetasi Hewan 6. Bioma tundra

39 ( Bacalah BUKU SISWA halaman ) 1. Lengkapilah tabel berikut yang menunjukkan pengelompokan organisme air tawar berdasarkan kebiasaan hidupnya. No Organisme Kebisaan Contoh 1. Pla 2. Nekton 3. Neston 4. Perifiton 5. Bentos 2. Lengkapilah tabel berikut yang menunjukkan pembagian komunitas/daerah pada danau. No. Daerah Ciri-ciri Jenis organisme 1. Litoral 2. Limnetik 3. Profundal

40 4. Bentik ( Bacalah BUKU SISWA halaman ) 1. Jelaskan pengelompokan ekosistem air laut berdasarkan kedalaman Lengkapilah tabel berikut yang menunjukkan pengelompokan ekosistem air laut menurut wilayah permukaan secara horizontal. No. Daerah Ciri-ciri Jenis organisme 1. No. Daerah Ciri-ciri Jenis organisme

41 5. 3. Lengkapilah tabel berikut yang tentang ciri-ciri, komunitas tumbuhan dan hewan pada ekosistem pantai, ekosistem estuari, dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem Pantai Ekosistem Estuari Ekosistem Terumbu Ciri-ciri Komunitas Tumbuhan Komunitas Hewan

42 DAFTAR PUSTAKA Depdikbud, Garis-garis Besar Program Pengajaran Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia., Kurikulum Sekolah Menengah Umum: Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ibarat, T., Melani, K., & Bagod, S., Prestasi Biologi I. Bandung: Ganeca Exact. Lederer, R.J. (1985) Ecology and Field Biology. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. Pratiwi, D.A., Sri, M., Srikini, Suharno, & Bambang S., Buku Penuntun Biologi Untuk SMU Kelas I. Jakarta: Erlangga.

43 I. Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar, dan berilah tanda silang (X ) pada lembar jawaban yang telah disediakan. 1. Macam-macam pola aksi interaksi antara faktor biotik dan abiotik adalah.. a. rantai makanan, rantai energi, jaring-jaring makanan, dan siklus biogeokimia. b. rantai makanan, aliran energi, jaring-jaring makanan, dan siklus biokimia. c. rantai makanan, aliran energi, jaring-jaring makanan, dan siklus biogeokimia. d. rantai makanan, rantai energi, jaring-jaring makanan, dan siklus biokimia. e. rantai pemangsa, rantai parasit, aliran energi, dan jaring-jaring makanan. 2. Pemindahan materi dan energi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain disebut. a. rantai makanan d. rantai saprofit b. rantai pemangsa e. rantai detritus c. rantai parasit 3. Pernyataan yang benar di bawah ini mengenai batasan organisme yang terlibat dalam rantai pemangsa adalah. a. dimulai dari produsen, kemudian herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan karnivora sebagai konsumen II, dan berakhir pada konsumen III. b. dimulai dari herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan karnivora sebagai konsemen II, dan berakhir pada konsumen III. c. dimulai dari herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan karnivora sebagai konsemen II, dan berakhir pada organisme pengurai. d. dimulai dari produsen, kemudian herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan karnivora sebagai konsumen II, dan berakhir pada organisme pengurai. e. dimulai dari organisme pengurai, kemudian produsen, dilanjutkan dengan herbivora sebagai konsumen I, konsumen II, dan berakhir pada konsumen III. 4. Perhatikan gambar berikut, I II III Gambar tersebut menunjukkan rantai makanan a. rantai detritus d. rantai pemangsa b. rantai parasit e. rantai simbiotik c. rantai saprofit

44 5. Dari gambar soal nomor 4. Jika pada rantai makanan tersebut digambarkan ke dalam piramida biomassa, maka organisme yang menempati piramida biomassa dari dasar piramida ke puncak piramida berturut-turut adalah organisme yang berlabel. a. I, III, II. b. III, II, I. c. II, III, I. d. II, I, III. e. I, II, III. 6. Perhatikan kelompok organisme berikut: Kelompok I : burung bangau, kelelawar, kupu-kupu Kelompok II: harimau, singa Kelompok III: rumput, tumbuhan berbunga Kelompok IV: srigala, anjing, ular Urutan yang benar mengenai tingkat trofik adalah. a. I, II, III, IV d. III, II, I, IV b. II, I, III, IV e. IV, III, II, I c. III, I, IV, II 7. Rangkaian urutan perpindahan energi dari organisme satu ke organisme yang lain dalam ekosistem dan dimulai dari sinar matahari disebut.. a. siklus energi d. piramida energi b. aliran energi e. konversi energi c. daur energi 8. Urutan yang benar mengenai aliran energi yang yang terjadi dalam suatu ekosistem adalah.. a. sinar matahari pengurai konsumen primer konsumen tingkat tinggi produsen b. sinar matahari konsumen primer produsen konsumen tingkat tinggi pengurai. c. sinar matahari konsumen primer konsumen tingkat tinggi produsen pengurai. d. sinar matahari produsen konsumen primer konsumen tingkat tinggi pengurai e. sinar matahari konsumen tingkat tinggi konsumen primer pengurai 9. Piramida jumlah menggambarkan. a. jumlah berat kering seluruh organisme dalam suatu ekosistem b. jumlah organisme yang terdapat pada setiap tingkat trofik. c. jumlah berat kering suatu kelompok organisme dalam suatu ekosistem d. jumlah energi yang tersedia pada suatu kelompok organisme e. jumlah energi yang tersedia pada seluruh organisme 10. Ukuran materi hidup pada waktu dan habitat tertentu disebut. a. massa jenis d. piramida biomassa b. massa organisme e. biomassa c. piramida jumlah 11. Pada piramida energi terjadi penurunan sejumlah energi berturut-turut pada setiap tingkat trofik. Hal ini terjadi antara lain karena.. a. energi yang tersedia pada setiap tingkat trofik akan digunakan secara efisien oleh organisme. b. seluruh makanan yang tersedia pada setiap tingkat trofik akan dihabiskan oleh tingkat trofik di atasnya. c. semua makanan yang dimakan organisme akan dicerna dan dikeluarkan sebagai kotoran d. bahan makanan yang dicerna seluruhnya akan menjadi energi e. beberapa makanan yang dimakan bisa dicernakan dan akan dikeluarkan sebagai sampah (kotoran). 12. Siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik disebut siklus. a. materi d. biogeokimia b. energi e. CO 2 dan O 2 c. nitrogen 13. Bentuk-bentuk nitrogen dalam tanah yang dimanfaatkan oleh tumbuhan adalah..

45 a. amonium dan nitrit b. amonium dan ion nitrat c. asam amino dan ion nitrit d. asam amino dan ion nitrat e. amonium dan asam amino 14. Nitrogen yang dilepaskan ke udara melalui proses denitrifikasi dalam tanah akan digunakan lagi oleh tumbuhan dengan cara.. a. difiksasi secara langsung oleh akar tumbuhan b. dikondensasi pada bintil akar tumbuhan c. difiksasi oleh bakteri bintil akar pada akar polongan d. digunakan secara langsung oleh tumbuhan berbintil akar e. mengalami nitrifikasi oleh bakteri pada akar semua tumbuhan 15. Pembentukan nitrat dari amonia dalam tanah yang dibantu oleh bakteri, disebut proses a. nitrifikasi d. kalsifikasi b. denitrfikasi e. amonifikasi c. eutrofikasi 16. Kegiatan-kegiatan berikut yang dapat menambah konsentrasi karbondioksida di alam adalah. a. respirasi organisme, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan penguapan air laut b. pengurapan air laut, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap kendaraan bermotor. c. respirasi organisme, erupsi vulkanik, penguapan air laut, dan asap kendaraan bermotor, d. fotosintesis organisme, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap kendaraan bermotor. e. respirasi organisme, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap kendaraan bermotor. 17. Proses fotosintesis pada alga dan tumbuhan paku-pakuan akan menambah gas di udara. a. NO 2 d. CH 3 b. O 2 e. NH 4 c. CO Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan disebut a. evolusi d. homeostatis b. revolusi e. klimaks c. suksesi 19. Perbedaan antara suksesi primer dan suksesi sekunder terletak pada.. a. tingkat kerusakan atau gangguan pada komunitas awal. b. urutan komunitas yang ada selama proses suksesi. c. Komunitas klimaks yang terbentuk setelah suksesi. d. Jumlah komunitas yang terbentuk selama suksesi. e. jenis vegetasi perintis yang memulai suksesi. 20. Contoh ekosistem yang terbentuk dari suksesi primer adalah.. a. ekosistem danau buatan b. ekosistem danau alami c. ekosistem padang ilalang d. lahan bekas perladangan e. ekosistem pada gunung Rinjani. 21. Ciri-ciri bioma gurun adalah. a. curah hujan kurang lebih cm/th dan hujan turun teratur b. curah hujan cm/th dan hujan turun secara teratur. c. curah hujan cm/th dan hujan merata sepanjang tahun d. curah hujan rendah (25 cm/th), lahan gersang, dan penguapan tinggi e. curah hujan rendah (20 cm/th) dan suhu musim panas rendah

46 22. Suatu bioma dengan ciri-ciri: Curah hujan merata di sepanjang tahun, terdapat di daerah yang mengalami empat musim, jenis pohon sedikit dan terlalu rapat, dan hewannya antara lain rusa, beruang, dan burung pelatuk. Bioma yang mempunyai ciri tersebut merupakan bioma.. a. hutan basah b. padang rumput c. hutan gugur d. taiga e. tundra 23. Vegetasi utama bioma padang rumput adalah.. a. tumbuhan terna dan rumput b. tumbuhan menjalar dan herba c. kaktus dan rerumputan d. herba dan pepohonan e. semak dan tumbuhan basah 24. Hewan khas yang menghuni bioma tundra adalah a. hewan seperti rusa kutub,beruang kutub, dan insekta b. hewan seperti rodentia, ular, katak dan kadal c. bison, zebra, singa, dan anjing d. kera, burung, babi hutan, dan harimau e. rusa, beruang, bajing, dan burung pelatuk 25. Organisme air tawar yang biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerakan air disebut a. nekton d. perifiton b. plankton e. predator c. bentos 26. Kelompok organisme yang tergolong dalam bentos adalah a. ikan dan serangga b. ikan dan kerang c. cacing dan remis d. kerang dan cacing e. ikan dan remis 27. Suatu komunitas pada daerah danau mempunyai ciri-ciri sebagai berikut; 1. daerah dangkal 2. cahaya matahari menembus dengan optimal 3. air yang hangat berdekatan dengan tepi 4. tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang muncul ke atas Komunitas tersebut merupakan komunitas danau yang berada pada daerah a. limnetik d. litoral b. profundal e. fotik c. bentik 28. Daerah litoral merupakan daerah dengan kedalaman a. sampai 200 meter b. antara meter c. antara meter d. antara meter e. di atas meter

47 29. Perhatikan gambar berikut. A B C Daerah yang diberi label C merupakan daerah yang dapat kita temui komunitas. a. Zooplankton dan bakteri yang dapat melakukan fotosintetis b. Plankton dan bakteri yang bersimbisis dengan terumbu karang c. Lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya d. Berbagai macam alga hijau dan terumbu karang e. Ular laut dan alga hijau yang melekat pada substrat dasar 30. Bagian laut yang terdalam (dasar) dengan kedalaman lebih dari 6000 meter disebut a. Epipelagik d. abisal pelagik b. Mesopelagik e. hadalpelagik c. batiopelagik 31. Daerah yang banyak ditemukan phytoplankton dan zooplankton adalah daerah.. a. epipelagik d. abisalpelagik b. mesopelagik e. hadalpelagik c. batiopelagik 32. Perbedaan antara ekosistem estuari dan ekosistem terumbu karang adalah No Karakteristik Ek. estuari Ek. Terumbu a. Komunitas hewan Dominasi vertebrata Dominasi invertebrta b. Vegetasi Alga biru Alga hijau c. Salinitas Dipengaruhi siklus harian Dipengaruhi siklus mingguan d. Salinitas air Lebih tinggi Lebih rendah e. Salinitas air Lebih rendah Lebih tinggi 33. Di bawah ini adalah ciri-ciri ekosistem pada ekosistem air laut: 1. dipengaruhi siklus harian pasang surut 2. daerah paling atas terendam selamanya 3. organisme beradaptasi secara struktural untuk melekat pada substrat. 4. terdapat daerah termoklin 5. letaknya berbatasan langsung dengan darat, laut, dan daerah pasang surut. 6. mempunyai keanekaragaman komunitas yang tinggi. Yang merupakan ciri-ciri ekosistem pantai adalah a d b e

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

DAYA DUKUNG BUMI. Dr. Susiani Purbaningsih, DEA. Untuk digunakan di MPKT B Universitas Indonesia

DAYA DUKUNG BUMI. Dr. Susiani Purbaningsih, DEA. Untuk digunakan di MPKT B Universitas Indonesia DAYA DUKUNG BUMI Dr. Susiani Purbaningsih, DEA 1 BUMI Sering disebut planet air atau planet biru Posisi bumi di antara planet tata surya spesifik dan unik, sehingga di bumi ada kehidupan. Bumi merupakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunitas Tumbuhan Bawah Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupannya

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 Metro. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi waktu : SMA Negeri 1 Sukasada : Matematika : X/1 (Ganjil) : 2 x 4 menit (1 pertemuan) I. Standar Kompetensi

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis (Fisiologi Tumbuhan) Disusun oleh J U W I L D A 06091009027 Kelompok 6 Dosen Pembimbing : Dra. Tasmania Puspita, M.Si. Dra. Rahmi Susanti, M.Si. Ermayanti,

Lebih terperinci

ASAL MULA ASAL KEHIDUPAN DI BUMI

ASAL MULA ASAL KEHIDUPAN DI BUMI ASAL MULA KEHIDUPAN DI BUMI Hanya di bumi saja ada kehidupan, yaitu pada hidrosfer, atmosfer dan lithosfer biosfer. Hidrosfer meliputi : laut, lautan, danau, rawa, sungai yang merupakan tempat hidup organisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut :

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut : BENTUK DAN FUNGSI HUTAN KOTA 1. Bentuk Hutan Kota Pembangunan hutan kota dan pengembangannya ditentukan berdasarkan pada objek yang dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota tersebut. Berdasarkan

Lebih terperinci

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA MODUL: UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

BAB. III METODE PENELITIAN

BAB. III METODE PENELITIAN 18 BAB. III METODE PENELITIAN 3.1 Settingdan Karaktersistik Subjek Penelitian Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran PKn tentang Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah dilakukan

Lebih terperinci

BAB 5 PENGOLAHAN AIR LIMBAH DENGAN PROSES FILM MIKROBIOLOGIS (BIOFILM)

BAB 5 PENGOLAHAN AIR LIMBAH DENGAN PROSES FILM MIKROBIOLOGIS (BIOFILM) BAB 5 PENGOLAHAN AIR LIMBAH DENGAN PROSES FILM MIKROBIOLOGIS (BIOFILM) 90 5.1 Klasifikasi Proses Film Mikrobiologis (Biofilm) Proses pengolahan air limbah dengan sistem biofilm atau biofilter secara garis

Lebih terperinci

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com Windarini, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Media Manipulatif, 1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD DAN MEDIA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG

Lebih terperinci

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA SUPLEMEN UNIT 1 KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA Mintohari Suryanti Wahono Widodo PENDAHULUAN Dalam modul Pembelajaran IPA Unit 1, Anda telah mempelajari hakikat IPA dan pembelajarannya. Hakikat IPA terdiri

Lebih terperinci

PRODUK DAUR ULANG LIMBAH

PRODUK DAUR ULANG LIMBAH PERTEMUAN MINGGU KE 17 PRODUK DAUR ULANG LIMBAH Standar Kompetensi: 4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem. Kompetensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549.

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat, dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

Modul Matematika Segi Empat

Modul Matematika Segi Empat Modul Matematika Segi Empat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP-Standar Isi 2006) Berdasarkan Pendekatan Kontekstual Untuk Siswa SMP Kelas VII Semester 2 Penulis : Tutik Shahidayanti Pembimbing :

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation.

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Cover Page The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Author: Becking, Leontine Elisabeth Title: Marine lakes of Indonesia Date: 2012-12-04

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu Pengetahuan Alam Latihan Soal UN SMP/MTs Ilmu Pengetahuan Alam Latihan Soal Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Oleh Team Unsmp.com 1 Latihan Soal Disusun oleh : Team unsmp.com Soal UN mata pelajaran ini berjumlah sekitar

Lebih terperinci

OLEH : I MADE AGUS PURWANTA NPM:09.8.03.51.30.2.5. 0910

OLEH : I MADE AGUS PURWANTA NPM:09.8.03.51.30.2.5. 0910 IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK TALK WRITE (TTW) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII B SMP N 3 SUSUT PADA POKOK BAHASAN EKOSISTEM TAHUN AJARAN 2012/2013 OLEH : I MADE

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar,

Lebih terperinci

1. Dari pernyataan di bawah ini, maka pernyataan yang benar untuk menjelaskan grafik adalah

1. Dari pernyataan di bawah ini, maka pernyataan yang benar untuk menjelaskan grafik adalah 1. Dari pernyataan di bawah ini, maka pernyataan yang benar untuk menjelaskan grafik adalah A. Pertumbuhan populasi Paramecium caudatum menyebabkan populasi Paramecium aureliaberubah mendekati titik kepunahan

Lebih terperinci

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR PEGUNUNGAN udara bersih, bebas polusi air hujan mengandung CO 2, O 2, N 2, debu & partikel dr atmosfer AIR

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

Isu Lingkungan. Wahyu Surakusumah Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia

Isu Lingkungan. Wahyu Surakusumah Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia Isu Lingkungan Wahyu Surakusumah Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia Permasalahan lingkungan dapat dikategorikan masalah lingkungan lokal, nasional, regional dan global. Pengkategorian tersebut

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA A. Pendahuluan Keluarga cichlidae terdiri dari 600 jenis, salah satunya adalah ikan nila (Oreochromis sp). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat popouler

Lebih terperinci

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) Benteng, Selayar 22-24 Agustus 2006 TRANSPLANTASI KARANG Terumbu

Lebih terperinci

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014 Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia

Lebih terperinci

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI DAN PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI KELAS X KOMPETENSI INTI 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 1.1. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 PANDUAN MATERI SMA DAN MA G E O G R A F I PROGRAM STUDI IPS PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS KATA PENGANTAR Dalam rangka sosialisasi kebijakan dan

Lebih terperinci

II KONSEP ILMU PENYAKIT HUTAN

II KONSEP ILMU PENYAKIT HUTAN II KONSEP ILMU PENYAKIT HUTAN 1. Penyebab Penyakit Penyakit tanaman hutan dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor biotik (sesuatu yang hidup) maupun abiotik (sesuatu yang tidak hidup). Dalam pengertian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kimia adalah salah satu mata pelajaran yang semakin penting seiring berkembangnya ilmu dan teknologi sekarang ini, namun faktanya di lapangan menunjukkan bahwa pelajaran

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA MATERI POKOK REAKSI REDUKSI-OKSIDASI KELAS X-A SEMESTER 2 DI SMA AL-FALAH KETINTANG SURABAYA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA MATERI POKOK REAKSI REDUKSI-OKSIDASI KELAS X-A SEMESTER 2 DI SMA AL-FALAH KETINTANG SURABAYA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA MATERI POKOK REAKSI REDUKSI-OKSIDASI KELAS X-A SEMESTER 2 DI SMA AL-FALAH KETINTANG SURABAYA Afrida Trisnawati, Ismono ABSTRAK Pada kurikulum berbasis

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN BAGI PESERTA KOMPETISI DALAM TGC IN ACTION 2013

PETUNJUK PELAKSANAAN BAGI PESERTA KOMPETISI DALAM TGC IN ACTION 2013 PETUNJUK PELAKSANAAN BAGI PESERTA KOMPETISI DALAM TGC IN ACTION 2013 Deskripsi Kegiatan TGC In Action merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung pada bulan November 2013. Kegiatan ini bertema Lestarikan

Lebih terperinci

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota Johannes Parlindungan Disampaikan dalam Mata Kuliah Pengantar PWK Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

Chapter 1: Awal dari Mimpi itu Menjadi Nyata

Chapter 1: Awal dari Mimpi itu Menjadi Nyata Chapter 1: Awal dari Mimpi itu Menjadi Nyata Ada seorang kerabat yang bertanya-tanya padaku, apa yang sedang aku cari di dunia ini. Ia tanyakan mengapa begitu sering aku tinggalkan rumah untuk sebuah hal

Lebih terperinci

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN..

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. Kriiiing..kriiiing bel berbunyi, tanda jam pelajaran ke Sembilan sudah berbunyi, tanda masuk di dua jam terakhir. Aku berfikir

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP MASA DEPAN KEHIDUPAN MANUSIA

TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP MASA DEPAN KEHIDUPAN MANUSIA TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP MASA DEPAN KEHIDUPAN MANUSIA Suatu kelompok kerja NASA (1983) telah merumuskan permasalahan masa depan yang dihadapi umat manusia. Ada lima unsur permaslahan yang saling

Lebih terperinci

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN 8.1. Beberapa Konsep Dasar Ekonomi Lahan Lahan mempunyai tempat yang khusus dalam kelompok sumber daya, karena lahan diperlukan dalam semua aspek kehidupan manusia dan lahan juga

Lebih terperinci

Kebutuhan Air dalam Kehidupan Organisme. Kebutuhan Air dalam Kehidupan Manusia. Sumber Air dan Daur Hidrologik. Kualitas Air dan Pencemaran

Kebutuhan Air dalam Kehidupan Organisme. Kebutuhan Air dalam Kehidupan Manusia. Sumber Air dan Daur Hidrologik. Kualitas Air dan Pencemaran 1 2 3 4 5 Kebutuhan Air dalam Kehidupan Organisme Kebutuhan Air dalam Kehidupan Manusia Sumber Air dan Daur Hidrologik Kualitas Air dan Pencemaran Pengelolaan Air Bagi Tanaman Bagi Hewan terestrial Bagi

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

ANGKET TANGGAPAN/PENILAIAN AHLI DESAIN PEMBELAJARAN BUKU AJAR PEMBELAJARAN IPS

ANGKET TANGGAPAN/PENILAIAN AHLI DESAIN PEMBELAJARAN BUKU AJAR PEMBELAJARAN IPS FORMAT B: UJI AHLI DESAIN PEMBELAJARAN ANGKET TANGGAPAN/PENILAIAN AHLI DESAIN PEMBELAJARAN Petunjuk pengisian: BUKU AJAR PEMBELAJARAN IPS A. Berilah tnda silang (x) pada alternatif jawaban yang dianggap

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Perlu Inovasi Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Pertanian

Perlu Inovasi Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Pertanian Perlu Inovasi Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Pertanian Oleh : Prihasto Setyanto Banyak pihak menulis tentang emisi gas rumah kaca (GRK), pemanasan global dan perubahan iklim di media

Lebih terperinci

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom.

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Suka menulis kreatif Menonjol dalam kelas seni di sekolah Mengarang kisah

Lebih terperinci

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Warsito Adnan MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN 2 untuk Kelas II SD dan MI Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas

Lebih terperinci

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan.

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan. green gauge AECI menyadari bahwa beroperasi pada berbagai sektor yang luas memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan dan oleh karena itu ikut berkontribusi terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karenanya

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

pelajaran 9 energi tahukah kamu apa itu energi 119

pelajaran 9 energi tahukah kamu apa itu energi 119 pelajaran 9 energi benda yang bergerak butuh energi benda yang bunyi butuh energi benda yang bersinar butuh energi energi diperlukan dalam hidup tahukah kamu apa itu energi energi 119 energi menulis puisi

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1)

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) H. SufyaniPrabawant, M. Ed. Bahan Belajar Mandiri 5 PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) Pendahuluan Bahan belajar mandiri ini menyajikan pembelajaran bangun-bangun ruang dan dibagi menjadi dua kegiatan belajar.

Lebih terperinci

MENENTUKAN BESARAN PADA GERAK LURUS DAN PENERAPANNYA

MENENTUKAN BESARAN PADA GERAK LURUS DAN PENERAPANNYA MENENTUKAN BESARAN PADA GERAK LURUS DAN PENERAPANNYA Identitas Mata Pelajaran Sekolah : SMP N 8 Padang Kelas : VIII Semester : 1 Pelajaran / Materi : IPA / Gerak Lurus Alokasi Waktu : 2 x 40 menit KELOMPOK

Lebih terperinci

ANALISIS TEMPAT KERJA

ANALISIS TEMPAT KERJA II. ANALISIS TEMPAT KERJA Untuk dapat membuat rencana kerja yang realistis, rapi, dan teratur, sebelum menjatuhkan pilihan jenis alat yang akan digunakan, perlu dipelajari dan penelitian kondisi lapangan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. MULAI. Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN

PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. MULAI. Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. ALUR PROSES /FLOWCHART PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN MULAI Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran Menetapkan rombongan belajar. Menetapkan

Lebih terperinci

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG)

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) PETUNJUK 1. Kumpulkan dokumen perangkat dari guru sebelum pengamatan, cacatan hasil pengamatan selama dan sesudah, serta cacatan kemajuan dan hasil belajar peserta

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK

Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK Identitas suatu bangsa dapat dilihat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH OLEH: RIDHO ELSY FAUZI NIM. 10.21.0462 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami.

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang butuh akan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diharapkan akan membawa manusia semakin baik. Hanya saja ilmu pengetahuan tidak akan diperoleh

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL Siapa yang tak kenal ikan lele, ikan ini hidup di air tawar dan sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Ikan ini banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak

Lebih terperinci

Makalah Ilmiah Seminar Kenaikan Pangkat dari asisten ahli ke lektor, Indralaya 26 Mei 2005

Makalah Ilmiah Seminar Kenaikan Pangkat dari asisten ahli ke lektor, Indralaya 26 Mei 2005 Rencana Pelajaran pada Topik Pengenalan Insekta dengan Pendekatan Model Pengajaran Langsung Pada Pelajaran Sains Biologi SMP 1) Oleh : Riyanto 2) Ringkasan Tulisan ini mencoba memaparkan secara singkat

Lebih terperinci

Amati gambar di bawah dengan teliti!

Amati gambar di bawah dengan teliti! Ayo mengenal kewajiban yang sama di sekolah! Setiap hari Dayu pergi ke sekolah. Dayu belajar dengan teman-teman. Semua siswa belajar dengan tanggung jawab. Mereka memiliki kewajiban yang sama di sekolah.

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

Bagaimana Cara Guru Memudahkan Siswanya Mengingat Pelajaran?

Bagaimana Cara Guru Memudahkan Siswanya Mengingat Pelajaran? Bagaimana Cara Guru Memudahkan Siswanya Mengingat Pelajaran? Fadjar Shadiq, M.App.Sc (fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com) Merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa para

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV

Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV Materi Pembelajaran Ringkasan Materi: Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV Berikut ini adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk Sekolah Dasar kelas IV yaitu tentang bagian-bagian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) 8 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) Strategi Pemecahan Masalah bidang studi Matematika ini ditujukan untuk para pengajar bidang studi Matematika sebagai alternatif

Lebih terperinci

Informasi bagi keluarga dan teman-teman para Mahasiswa dan Mahasiswi baru di Universitas Flinders

Informasi bagi keluarga dan teman-teman para Mahasiswa dan Mahasiswi baru di Universitas Flinders Informasi bagi keluarga dan teman-teman para Mahasiswa dan Mahasiswi baru di Universitas Flinders Informasi di bawah ini sangat bermanfaat jika anda belum pernah sekolah sendiri di universitas atau anda

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dibidang kehutanan saat ini terus ditingkatkan dan diarahkan untuk menjamin kelangsungan tersedianya hasil hutan, demi kepentingan pembangunan industri, perluasan

Lebih terperinci