ANALISIS PENGARUH KEMASAN DAN CITRA MEREK TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN (Studi Kasus Pada The Body Shop di Pulau Jawa) SKRIPSI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PENGARUH KEMASAN DAN CITRA MEREK TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN (Studi Kasus Pada The Body Shop di Pulau Jawa) SKRIPSI"

Transkripsi

1 ANALISIS PENGARUH KEMASAN DAN CITRA MEREK TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN (Studi Kasus Pada The Body Shop di Pulau Jawa) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen Oleh: Ayuthia Putri Maharani NIM: PROGRAM STUDI MANAJEMEN JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2 i

2

3 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4 Motto dan Persembahan Untuk jadi maju memang banyak hambatan. Kecewa semenit dua menit boleh, tetapi setelah itu harus bangkit lagi. - Joko Widodo Perubahan tidak akan pernah terjadi jika kita terus menunggu waktu atau orang yang tepat. Kita adalah perubahan itu sendiri. - Barack Obama Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, tetapi keputusan untuk melakukan hal lain yang lebih penting dari rasa takut. - Ambrosse Redmoon Skripsi ini saya persembahakan untuk: Tuhan Yesus Kristus Kedua orang tua saya (Rudy Kriswanto dan Henny Indra Hayani) dan adikku tercinta (Rr Adinda Aulia Rizthia) iv

5

6

7 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rahmat-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ANALISIS PENGARUH KEMASAN DAN CITRA MEREK TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN. Studi Kasus pada The Body Shop di Pulau Jawa. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulisan skripsi ini tidak akan terlaksana dan terselesaikan dengan baik tanpa bantuan, dukungan, serta kerjasama dari berbagai pihak yang dengan tulus dan rela mengorbankan waktu dan pikiran untuk membimbing penulis sampai penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Johanes Eka Priyatma, M. Sc., Ph.D selaku Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Bapak Albertus Yudi Yuniarto S.E., M.B.A selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma. 3. Bapak Dr. Lukas Purwanto, S.E., M.Si selaku Ketua Program Studi Manajemen. 4. Ibu Lucia Kurniawati S.pd.,M.S.M selaku dosen pembimbing I yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dengan kesungguhan hati. Terlebih segala pelajaran juga nasehat yang beliau berikan kepada saya untuk menyelesaikan skripsi ini. 5. Ibu Christina Heti Tri Rahmawati S.T.,M.Sc selaku dosen pembimbing II yang juga telah mengarahkan dan membimbing penulis sehingga skripsi ini menjadi lebih sempurna. 6. Bapak Dr. H. Herry Maridjo., M.Si., selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama perkuliahan. 7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan banyak ilmu dan pengalaman hidup. 8. Segenap karyawan Fakultas Ekonomi Univertas Sanata Dharma. 9. Papa Rudy Kriswanto dan Mama Henny Indra Hayani yang tidak pernah lelah memberikan perhatian dan kasih sayang serta memberikan dukungan dan doa kepada saya. Serta adik saya Rr. Adinda Aulia Rizthia yang selalu memberikan semangat dan membantu saya untuk menyelesaikan skripsi juga studi saya. 1. Sahabat-sahabat saya sejak SD, Fransiska Titis Suryani (Siska), Margaretha Finna Calista (Finna), dan Valentina Ayunita Garniati (Valen). Terima kasih atas dukungan dan doa kalian serta terima kasih untuk kalian yang telah menjadi sahabat saya selama ini. vii

8 vi

9 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS... v HALAMAN PERNYATAAN PERSUTUJUAN PUBLIKASI...vi HALAMAN KATA PENGANTAR... vii HALAMAN DAFTAR ISI... x HALAMAN DAFTAR TABEL... xii HALAMAN DAFTAR GAMBAR... xiii HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN xiv ABSTRAK......xv BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah C. Pembatasan Masalah D. Tujuan Penelitian E. Manfaat Penelitian BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori B. Hasil Penelitian Sebelumnya C. Kerangka Konseptual Penelitian D. Hipotesis Penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian B. Subjek dan Objek Penelitian ix

10 C. Waktu Penelitian D. Variabel Penelitian E. Definisi Operasional F. Populasi dan Sampel G. Teknik Pengambilan Sampel H. Teknik Pengumpulan Data...9 I. Teknik Pengujian Instrumen J. Teknik Analisis Data...51 BAB IV GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN A. Sejarah Singkat dan Logo Perusahaan B. The Body Shop Indonesia...69 C. Filosofi dan Misi Perusahaan... 7 D. Stuktur Organisasi Perusahaan E. Job Description F. Kondisi Bisnis Perusahaan BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengujian Instrumen B Analisis Statistik Deskriptif C. Uji Asumsi Klasik D. Analisis Regresi Berganda E. Uji Hipotesis F. Pembahasan...96 BAB VI KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN PENELITIAN A.Kesimpulan B. Saran C. Keterbatasan Penelitian DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x

11 DAFTAR TABEL Halaman Tabel III Tabel Skala Likert Tabel V Tabel Rangkuman Tes Validitas Kemasan, Citra Merek dan Minat Beli Tabel V Tabel Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Tabel V Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Domisili Tabel V Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel V.5 Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Tabel V.6 Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Perbulan Tabel V.7 Tabel Nilai rata-rata Persepsi Konsumen Terhadap Indikator & Variabel...88 Tabel V.8 Tabel Hasil Uji Normalitas Tabel V.9 Tabel Hasil Uji Multikolinearitas...9 Tabel V Tabel Hasil Uji Hateroskedastisitas...91 Tabel V1 Tabel Hasil Perhitungan Uji Regresi Berganda...92 Tabel V2 Tabel Hasil Perhitungan Uji F...94 Tabel V3 Tabel Hasil Perhitungan Uji t...95 Tabel V4 Tabel Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi...96 xi

12 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar I Gambar NIELSEN: Asia Pasific Beauty & Personal Care Value Sales Geographic Breakdown Gambar II Gambar Model Sederhana Proses Pemasaran Gambar IIGambar Kerangka Ekuitas Merek Berbasis Konsumen..8 Gambar II Gambar Kerangka Nilai Asosiasi Merek... 9 Gambar II.5 Gambar Kerangka Penelitian...8 Gambar IV Gambar Logo The Body Shop...67 Gambar IV Gambar Struktur Organisasi The Body Shop...72 Gambar IV Gambar Kekuatan Yang Mempengaruhi Persaingan Industri xii

13 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Kuesioner Lampiran 2 Tabel Tabulasi Kuesioner dan Deskripsi Rat-rata Kategori Variabel Lampiran 3 Hasil Olah Data SPSS xiii

14 ABSTRAK ANALISIS PENGARUH KEMASAN DAN CITRA MEREK TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN (Studi Kasus Pada The Body Shop di Pulau Jawa) Ayuthia Putri Maharani Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemasan dan citra merek The Body Shop terhadap minat beli konsumen di Pulau Jawa. Data diperoleh dengan kuesioner yang disebar secara online melalui google form. Sampel dalam penelitian ini sebanyak responden dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu nonprobability sampling karena populasi tidak diketahui. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi berganda, uji f (simultan), dan uji t (parsial). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kemasan dan citra merek secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa, (2) kemasan tidak berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa, (3) citra merek berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa. Implikasi dari penelitian ini, untuk mengembangkan citra merek The Body Shop yaitu dengan mengembangkan keunikkan dari The Body Shop sehingga pesaing tidak dapat memuaskan keinginan konsumen dan konsumen menjadi loyal terhadap merek The Body Shop. Kata kunci: Kemasan, Citra merek, Minat beli xiv

15 ABSTRACT ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF PACKAGING AND BRAND IMAGE ON CONSUMER BUYING INTEREST A Case Study at The Body Shop on Island of Java Ayuthia Putri Maharani Sanata Dharma University Yogyakarta 2 The purpose of this research was to find out the influence of packaging and brand image of The Body Shop toward consumer interest buying in Java. The data was obtained using online questionnaire distributed through google form. The research obtained respondses chosen by nonprobability sampling method, The analysis s method used for the testing hypothesis are multivariate regression, f-test (simultaneous) and t-test (partial). The result of this research shows that (1) packaging and brand image together influenced the consumer buying interest of The Body Shop in Java Island, (2) packaging had no influence on consumer buying interest of The Body Shop in Java Island, (3) brand image had an influence on consumer buying interest of The Body Shop in Java Island. The implication of this reasearch is to develop brand image of The Body Shop which develop the uniqueness of The Body Shop with the result that competitor will not be able to satisfy consumer s desire and consumer become loyal to The Body Shop brand. Keywords: Package, Brand Image, Interest Buying xv

16 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wanita merupakan mahluk yang identik dengan keindahan, wanita selalu ingin tampil cantik dalam berbagai keadaan dan selalu ingin menjadi pusat perhatian bagi sekelilingnya. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa wanita senang mempercantik diri dengan menggunakan berbagai macam kosmetik yang digunakan. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh produsen kosmetik. Perkembangan industri kecantikan saat ini semakin pesat. Indonesia menjadi salah satu negara yang masyarakatnya sangat memperhatikan kecantikan. Penduduk Indonesia yang mencapai 25 juta jiwa memberikan potensi yang sangat besar di industri kecantikan. Potensi tersebut muncul karena penduduk Indonesia yang didominasi oleh wanita yang ingin selalu terlihat cantik, dan kini pun diikuti oleh pria yang mulai ingin mengikuti wanita yaitu mempercantik diri mereka, dengan artian para pria tersebut mulai memperhatikan secara keseluruhan penampilan mereka setiap saat. Kondisi tersebut mulai dimanfaatkan oleh para produsen produk kecantikan di Indonesia (Kemenperin,213). Dan jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan akan menembus angka 271 jutaan pada tahun 22. Jumlah tersebut meningkat sekitar 4,8% dibandingkan total populasi penduduk Indonesia tahun 216. Sehingga dengan angka pertumbuhan yang 1

17 2 cukup besar itulah, maka Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial bagi perusahaan kospmetik. Meningkatnya daya beli masyarakat Indonesia sangat berpengaruh terhadap industri-industri bisnis di Indonesia untuk semakin berkembang. Salah satu industri yang sedang berkembang adalah industri kecantikan. Potensi industri kecantikan di Indonesia sangat menjanjikan. Menurut Kementrian Perindustrian, industri kecantikan di Indonesia meningkat dengan dorongan dari daya beli masyarakat Indonesia yang juga semakin meningkat terhadap produk-produk kecantikan. Kementrian perindustrian menyebutkan nilai industri ini ditaksir bisa mencapai Rp1 triliun (Kemenprin, 216). Euromonitor Internasional bahkan memprediksi laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound Annual Growth Rate), biasanya disingkat CAGR, untuk pasar kosmetik Indonesia dari berada diatas 9%. Salah satu pendorong kenaikan pasar kosmetik nasional adalah pertumbuhan masyarakat kelas menengah, sehingga permintaan kosmetik dari segmen ini turut terdongkrak. Produsen kosmetik nasional kini makin serius menanggapi pasar di segmen ini. Ada banyak produk kecantikan yang sedang berkembang saat ini, di antaranya adalah produk kosmetik, produk perawatan kulit, perawatan tubuh, dan juga produk body spa. Menurut analisis Spire Research and Consulting di Indonesia saat ini semakin banyak bermunculan beragam merek produk kecantikan, terutama produk perawatan kulit, perawatan tubuh, dan produk body spa. Hal tersebut kembali memberikan bukti

18 3 bahwa perkembangan industri kecantikan beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang sangat baik (Marketing, 21). Kesadaran masyarakat akan pentingnya perawatan tubuh terhadap diri sendiri kini juga semakin jelas terlihat. Makin banyaknya masyarakat yang mulai memperhatikan perawatan diri mereka dari mulai perawatan kulit, perawatan rambut dan perawatan tubuh lainnya membuat produk-produk kecantikan tubuh semakin banyak bermunculan di dunia, yang salah satunya adalah di Asia Pasifik. Gambar I NIELSEN: Asia Pasific Beauty & Personal Care Value Sales Geographic Breakdown 212 Sumber: Euromonitor International 213 yang dikutip dalam Afifi (212) Survey Nielsen (212) dalam Afifi (212) seperti tampak pada Gambar I. menjelaskan bahwa masyarakat di Asia Pasifik sudah sangat memperhatikan kecantikan dan juga perawatan terhadap diri mereka. Hal tersebut terlihat dari penjualan dan peningkatan value terhadap produk kecantikan dan perawatan setiap negara yang memiliki nilai yang cukup baik. Salah satu negara yang

19 4 memiliki pertumbuhan value yang cukup baik terhadap produk kecantikan dan perawatan diri adalah Indonesia. Pada data tersebut Indonesia adalah negara tertinggi ke-3 yang memiliki pertumbuhan value yang cukup baik terhadap kecantikan dan perawatan diri. Perkembangan industri kosmetik di Indonesia saat ini nyatanya lebih didominasi oleh produk impor. Seperti yang dikutip dari Indonesia Finance Today, penjualan produk lokal di tahun 213 diperkirakan tumbuh 15% dibanding tahun 212 menjadi Rp 11,2 triliun. Peningkatan tersebut lebih rendah dibanding pertumbuhan penjualan produk impor, yang diperkirakan sebesar 3%. Masih dari sumber yang sama, menurut Wiyanto, Ketua Bidang Perdagangan Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi), kenaikan penjualan produk impor yang lebih tinggi pada tahun 213 terjadi karena besarnya permintaan terhadap produk bermerek asing. Gaya hidup masyarakat Internasional merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya permintaan masyarakat Indonesia untuk menggunakan merek kosmetik asing agar mendapatkan prestise yang berlebih. Pertumbuhan penjualan kosmetik asing juga karena makin gencarnya upaya promosi yang dilakukan oleh agen penjual produk kosmetik impor. Menurut data yang penulis dapat dari (yang diakses pada tanggal 23 Oktober 217) membahas tentang penjualan kosmetik lokal tumbuh lebih rendah dibanding impor, data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih menggunakan produk impor dibanding

20 5 dengan produk lokal, khususnya dalam hal kosmetik. Hal ini tentunya memposisikan brand global di posisi terdepan dalam usaha menggaet pelanggan. Namun realitasnya, kemajuan zaman membuat para pelanggan lebih selektif dalam memilih produk. Terkadang kualitas bukan lagi menjadi pertimbangan utama dalam kegiatan seleksi barang. Melainkan dengan mempertimbangkan kemasan dan citra dari merek sebuah produk tersebut. Dari sekian banyaknya produk kosmetik impor yang beredar di pasar, salah satunya adalah produk The Body Shop yang terkenal dengan konsep produknya yang ramah lingkungan. The Body Shop merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri kecantikan dan berada dalam naungan PT Monica Hijaulestari. Secara singkat, The Body Shop merupakan perusahaan franchise yang berbasis di Inggris, dimana operasionalnya di Indonesia dipegang oleh PT Monica Hijaulestri. Pada tahun 215, The Body Shop telah sukses membuka 142 tokonya di Indonesia. Perkembangan bisnis The Body Shop pun mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 212, The Body Shop meraih peningkatan laba sebesar 9% hingga 77.5 juta Euro. Sedangkan hingga Desember 212, penjualan The Body Shop meningkat 4,9% dari tahun 211, kemudian total penjualan tumbuh 11,4%. The Body Shop mempunyai program komitmen yang disebut perkantoran hijau (green office) dimana kebijakan mengenai perilaku hijau (green behavior) diatur secara ketat. Upayanya adalah untuk mengurangi jumlah sampah, hemat energi, mendorong perilaku hijau (green behavior),

21 6 mengubah sampah makanan menjadi kompos, menambah lebih banyak lubang infiltrasi biopore. Dan hal yang paling penting adalah kebijakan No Styrofoam in The Office yang menunjukkan komitmen The Body Shop untuk melarang barang-barang yang sulit diolah dan sumber polusi yang berat. Produk kecantikan The Body Shop memiliki variasi produk diantaranya untuk perawatan rambut, wajah dan tubuh. Kelebihan dari produk The Body Shop yaitu memberikan suatu perawatan yang aman, sehat dan tanpa efek samping. Selain itu juga konsep perawatan yang diberikan menggunakan bahan-bahan alami. The Body Shop merupakan salah satu produk kecantikan yang menggunakan produk hijau kosmetik. Produk tersebut menjalankan kebijakan untuk selalu menggunakan bahan yang dapat di daur ulang dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Produk jenis ini dirasa sangat penting bagi konsumen karena penggunaan bahan alami memiliki efek samping yang lebih rendah dibanding dengan penggunaan bahan-bahan kimia. Konsumen produk The Body Shop kebanyakan wanita mulai dari kalangan remaja sampai dewasa. Beberapa contoh produk The Body Shop diantaranya, pembersih wajah, masker wajah, pelembab, perawatan mata, perawatan bibir, sabun pencuci muka, serum, deodorant, lotion, perawatan tangan dan kaki, sabun badan, scrub, perawatan kuku, shampoo, conditioner, perawatan rambut, hair styling, cologne, parfum wanita, parfum pria, lilin/aromaterapi, sikat badan, perawatan kuku, loofah ( yang diakses pada tanggal 23 Oktober 217).

22 7 Konsumen dapat membeli produk The Body Shop yang dijual di gerai-gerai The Body Shop atau bisa membeli secara online melalui website resmi The Body Shop. Produk tersebut menggunakan logo bertuliskan The Body Shop yang terlihat seperti di dalam lingkaran. Bentuk lingkaran tersebut menyerupai bentuk benih tanaman. Hal ini bisa berkaitan dengan konsep produk The Body Shop yang eco-friendly, dan bersahabat dengan alam. Untuk lebih meyakinkan konsumen akan setiap produk The Body Shop mempunyai label BPOM ( yang diakses pada tanggal 29 Oktober 217). Banyaknya variasi produk yang dikeluarkan The Body Shop merupakan strategi untuk menarik minat konsumen. Rangkaian produk yang lengkap dari perusahaan diharapkan bisa mewakili target segmen yang dibidiknya, baik remaja maupun orang dewasa yang peduli terhadap lingkungan. Prinsip The Body Shop berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan orang sekitar kita. Hal ini dibuktikan dengan adanya lima slogan besar The Body Shop yaitu: protect our planet, against animal testing, support community trade, activate self esteem, dan defend human right. The Body Shop mengajak kita bersama-sama untuk memperbaiki bumi yang sudah rusak ini. Berusaha meminimalkan dampak negatif setiap proses bisnisnya bagi lingkungan. Proses pemilihan bahan baku, produksi, pengemasan, distribusi, hingga sampai ke tangan pelanggan.

23 8 Konsumen The Body Shop umumnya adalah rata-rata berusia tahun, namun beberapa tahun terakhir tren konsumen ini telah bergeser. Kini kaum remaja juga mulai gemar membeli produk The Body Shop. Menurut Ratu Ommaya (PR and Values Manager The Body Shop), terjadi perubahan gaya hidup dikalangan remaja Indonesia saat ini. Dulu remaja hanya memakai bedak. Saat ini segala kosmetika dan wewangian juga dicoba. Maya juga mengatakan dengan adanya perubahan gaya hidup remaja Indonesia tersebut, saat ini range usia konsumen The Body Shop meluas dari tahun dan seiring dengan perubahan konsumen tersebut, demand terhadap produk juga meningkat tajam. Konsumen The Body Shop cenderung tertarik pada produk yang memiliki merek yang terpercaya, kualitas yang bagus, desain yang menarik, label yang dapat menerangkan komposisi secara lengkap dari produk, dan kemasan yang unik. Atribut produk tersebut dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen sebelum membeli. Selain itu, atribut produk berguna untuk membedakan dengan produk lain yang mempunyai kategori sama atau produk sejenis. Memberikan kesan emosional yang mendalam apabila seorang konsumen menggunakan produk tersebut. Dan para konsumen tersebut mempunyai kesadaran akan merek dari suatu produk yang sudah tertanam di dalam benak mereka. Daya tarik suatu produk tidak terlepas dari kemasannya. Kemasan merupakan pemicu karena ia langsung berhadapan dengan konsumen. Karena itu kemasan harus dapat mempengaruhi konsumen untuk memberikan

24 9 respon positif. Disini kemasan harus mampu menarik perhatian, menggambarkan keistimewaan produk, dan membujuk konsumen. Sebelum mencoba isinya, konsumen akan menangkap kesan yang dikomunikasikan oleh kemasan. Dengan demikian kemasan produk tersebut harus mampu beradu dengan kemasan produk lainnya. Menurut penelitian, dari seluruh kegiatan penginderaan manusia, 8% adalah penginderaan melalui penglihatan atau kasatmata (visual). Karena itulah, unsur-unsur grafis dari kemasan antara lain: warna, bentuk, merek, ilustrasi, huruf, dan tata letak merupakan unsurvisual yang mempunyai peran terbesar dalam proses penyampaian pesan secara kasatmata(visual communication). Pada produk The Body Shop sendiri memiliki berbagai macam bentuk kemasan. Misalnya saja produk Tea Tree Toner The Body Shop yang memiliki desain kemasan yang berbentuk botol kecil dengan warna botol hijau tua yang mencerminkan bahwa bahan utama pembuat produk tersebut berasal dari tanaman teh alami yang aman digunakan. Selain warna kemasannya menggambarkan bahwa bahan utama pembuat produk itu tanaman teh, alasan lain memakai warna hijau adalah menggambarkan kelembutan atau dingin bila memakai produk tersebut. Dari segi bentuk, kemasan Tea Tree Toner memiliki bentuk botol yang kecil dan mudah dibawa kemanapun. Menggunakan botol yang kecil juga menggambarkan bahwa produk digunakan tidak dalam volume yang banyak melainkan dengan volume yang sedikit atau sedang untuk digunakan sebagai

25 1 penyegar wajah dengan menuangkan cairan tersebut ke kapas dan mengusapnya kewajah. Maka dari itu aspek desain kemasan dalam kegiatan pemasaran merupakan salah satu pembentuk daya tarik terhadap suatu produk, sehingga dapat menjadi ciri khas pada merek suatu produk. Merek itu sendiri memiliki beberapa dimensi, salah satunya yaitu citra merek. Citra merek yang baik adalah salah satu aset bagi perusahaan yang harus dibangun dan dikelola dengan baik. Citra merek akan mempengaruhi persepsi konsumen, dimana masyarakat akan mempunyai kesan positif pada merek tersebut, sebab masyarakat saat ini sangat selektif dalam memilih merek apa yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Citra merek atau brand image ini juga merupakan seperangkat asosiasi unik yang terbentuk dalam benak konsumen sebagai hasil persepsi konsumen atas identitas sebuah merek. Jenis asosiasi ini dapat mencakup atribut dan manfaat yang dianggap mungkin mempengaruhi preferensi konsumen dalam membeli produk The Body Shop. Preferensi dapat terbentuk melalui suatu pola pikir konsumen yang didasarkan oleh beberapa alasan yang mana terdapat pengalaman yang diperoleh sebelumnya, maksudnya adalah konsumen merasakan kepuasan dalam membeli produk itu dan merasa kecocokan dalam mengkonsumsi produk yang dibelinya maka konsumen akan terus-menerus memakai atau menggunakan produk tersebut sehingga ketika harapan dari konsumen akan produk tersebut menjadi kenyataan. Selain pengalaman yang diperoleh sebelumnya, informasi yang

26 11 dicari dan didapatkan oleh konsumen terkait produk dengan merek baik dapat membantu dalam proses keputusan pembelian. Seperti sebelum konsumen membeli produk The Body Shop, mereka akan mencari informasi terlebih dahulu tentang citra merek tersebut. Karena The Body Shop dengan gencar mempromosikan bahwa produk mereka adalah produk yang terbuat dari bahan alami dan gambaran produk The Body Shop melekat pada istilah Go Green maka, citra merek tersebutlah yang tercipta apabila salah satu konsumen The Body Shop melihat ataupun mendengar produk The Body Shop. Kemasan dan citra merek yang unggul dari sebuah produk dapat merangsang timbulnya minat beli konsumen. Minat beli merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Minat beli dapat diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk persepsi. Minat beli ini menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benak konsumen dan menjadi suatu keinginan yang sangat kuat dan pada akhirnya ketika konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya itu. Minat beli juga merupakan perilaku konsumen yang menunjukkan sejauh mana komitmennya untuk melakukan pembelian, sehingga membangun minat beli konsumen menjadi hal penting karena dapat menarik konsumen untuk melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk yang pada akhirnya akan membawa keuntungan bagi perusahaan. Kedua atribut produk yang telah

27 12 disebutkan sebelumnya diatas yaitu kemasan dan citra merek memiliki hubungan positif terhadap minat beli. Melalui atribut produk, suatu produk dapat dikomunikasikan dan disampaikan kepada konsumen. Berdasarkan permasalahan yang telah disampaikan sebelumnya bahwa adanya keterkaitan yang serta antara atribut produk yang terdiri dari kemasan dan citra merek dengan minat beli konsumen. Sehingga saya tertarik melakukan penelitian dengan mengambil judul Analisis Pengaruh Kemasan dan Citra Merek Terhadap Minat Beli Konsumen (Studi Kasus Pada The Body Shop di Pulau Jawa). B. Rumusan Masalah 1. Apakah kemasan dan citra merek secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa? 2. Apakah kemasan berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa? 3. Apakah citra merek berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa? C. Pembatasan Masalah Agar Penelitian ini dapat dilakukan lebih fokus dan mendalam maka penulis memandang permasalahan penelitian yang diangkat perlu dibatasi variabelnya. Oleh sebab itu, penulis membatasi pokok permasalahan yang dibahas hanya berkaitan dengan Kemasan (desain grafis, struktur desain, informasi produk), Citra Merek (asosiasi merek, dukungan asosiasi, kekuatan asosiasi dan

28 13 keunikan asosiasi) dan Minat Beli (minat transaksional, minat referensial, minat preferensial dan minat eksploratif). Dan Penelitian ini dilakukan di Pulau Jawa. D. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dan mengamati pengaruh kemasan dan citra merek secara bersama-sama terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa. 2. Untuk mengetahui dan mengamati pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa. 3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh citra merek terhadap minat beli konsumen The Body Shop di pulau Jawa. E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Universitas Sanata Dharma Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dan menambah referensi kepustakaan yang dapat dimanfatkan oleh pihak-pihak yang melakukan penelitian sebelumnya. 2. Bagi Penulis Penelitian ini digunakan untuk memperdalam dan mengaplikasikan teori pemasaran yang sudah diperoleh, terutama tentang kemasan, citra merek dan minat beli konsumen.

29 14 3. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan bagi manajemen perusahaan dapat menggunakannya dan memberikan gambaran, masukan baik konsep maupun praktik pemasarannya.

30 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pemasaran 1 Pengertian Pemasaran Pemasaran sebagai disiplin ilmu, bidang kajian riset, dan salah satu praktik bisnis yang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pemasaran selama ini sering dikaitkan dengan penjualan dan periklanan. Pemasaran diharapkan memiliki keahlian dan merangsang permintaan akan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pemasaran merupakan aktivitas yang sangat penting bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya. Sekarang sudah banyak pesaing yang memiliki produk yang sejenis, perusahaan harus bisa menentukan strategi yang tepat agar perusahaan bisa terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Perusahaan harus melakukan inovasi produk agar produk yang dijual sesuai dengan kebutuhan para konsumen dan dapat memuaskan mereka. Menurut Kotler dan Keller (211:5) dalam buku Marketing Management edisi 13 pengertian pemasaran adalah: Mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Sedangkan menurut Maynard dan Beckman yang dikutip oleh Alma (211:1) dalam Islami (215) Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa adalah: Marketing embraces all business activities involved in the flow of goods and services drom physical production to consumption. 15

31 16 Sedangkan menurut Daryanto (211:1) mengemukakan pengertian pemasaran sebagai berikut: Suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok menempatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Menurut American Marketing Association (AMA) yang dikutip dalam Gadau (216), Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberi nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah suatu aktifitas dalam menyampaikan barang atau jasa kepada para konsumen, dimana kegiatan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Didalam pemasaran itu sendiri terdapat proses pemasaran yang terdiri dari lima proses: Gambar II Model sederhana proses pemasaran dalam buku Manajemen Pemasaran Principles of Marketing (Kotler, Philip dan Amstrong, Gary6.Prinsip-prinsip Pemasaran)

32 17 1 Bauran Pemasaran Dalam peranan strategisnya, pemasaran mencakup setiap usaha untuk mencapai kesesuaian antara perusahaan dengan lingkungannya dalam rangka mencari pemecahan atas masalah penentuan dua pertimbangan pokok. Pertama, bisnis apa yang digeluti perusahaan saat ini dan jenis bisnis apa yang dapat dimasuki di masa mendatang. Dan yang kedua, bagaimana bisnis yang telah dipilih tersebut dapat dijalankan dengan elemen-elemen bauran pemasaran untuk melayani pasar sasaran. Beberapa ahli pemasaran mengemukakan marketing mix sebagai berikut:menurut Kotler dan Armstrong (212:75), Marketing mix is the set of tactical marketing tools that the firm blends to produce the response it wants in the target market. Bauran pemasaran merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terusmenerus mencapai tujuan perusahaannya di pasar sasaran. Menurut Dharmesta dan Irawan dalam Islami (215) mendefinisikan bauran pemasaran sebagai berikut: Bauran pemasaran adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan, yakni: produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan sistem distribusi. Berdasarkan pengertian di atas, maka penulis dapat menjelaskan bahwa bauran pemasaran adalah suatu perangkat yang akan menentukan tingkat keberhasilan pemasaran bagi perusahaan, dan semua ini ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada segmen pasar atau konsumen yang dipilih.

33 Menurut Philip Kotler (211:1) bauran pemasaran dapat diklasifikasikan menjadi 4P (Product, Price, Place dan Promotion) yaitu: 1. Produk (Product) Produk merupakan sekumpulan nilai kepuasan yang kompleks. Nilai sebuah produk ditetapkan oleh pembeli berdasarkan manfaat yang akan mereka terima. Mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan pengembangan produk. 2. Harga (Price) Penentuan harga merupakan titik kritis dalam bauran pemasaran jasa karena menentukan pendapatan dari suatu usaha. Manajemen harus menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos angkut, dan berbagai variabel yang bersangkutan. 3. Tempat (Place) Place diartikan sebagai tempat pelayanan jasa. Lokasi pelayanan jasa digunakan untuk memasok jasa kepada pelanggan yang dituju. Tempat juga penting sebagai lingkungan dimana dan bagaimana jasa akan diserahkan, sebagai bagian dari nilai dan manfaat jasa. 4. Promosi (Promotion) Promosi adalah menginformasikan, menghubungi dan membujuk serta mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya.

34 19 1 Pengertian Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran dapat terjadi disebuah organisasi dalam hubungan dengan pasarnya dan juga untuk mempengaruhi tingkat, jangkauan, waktu dan komposisi permintaan dalam suatu cara sehingga membentuk organisasi untuk mencapai sasarannya. Manajemen pemasaran yang efektif biasanya mencakup perencanaan, strategi dari seluruh. Manajemen pemasaran mengatur semua keinginan pemasaran, karena itu manajemen pemasaran sangat penting bagi perusahaan. Proses pemasaran itu dimulai sebelum produk dihasilkan dan kegiatan pemasaran pun tidak berakhir pada penjualan saja tapi pasca penjualan pun manajemen pemasaran terus digunakan perusahaan guna mengetahui kepuasan konsumen terhadap produk yang dihasilkan perusahaan. Definisi manajemen pemasaran menurut Tjiptono dan Gregorius dalam Islami (215): Manajemen pemasaran merupakan sistem total aktivitas bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menetapkan harga, dan mendistribusikan produk, jasa dan gagasan yang mampu memuaskan keinginan pasar sasaran dalam rangka mencapai tujuan organisasional. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong (212:17) memberikan definsi konsep pemasaran sebagai berikut: Konsep pemasaran menyatakan bahwa kunci untuk meraih tujuan organisasi adalah menjadi efektif daripada pesaing dalam memadukan kegiatan pemasaran guna menetapkan dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran. Perusahaan melalui

35 2 konsep pemasaran akan berhasil bilamana berpujak pada tiga faktor dasar yang meliputi: a. Seluruh perencanaan dan kegiatan perusahaan haruslah berorientasi pada konsumen atau pasar. b. Volume penjualan yang menguntungkan dapat dicapai, melalui pemuasan kebutuhan konsumen. c. Seluruh kegiatan pemasaran haruslah dikoordinasikan dan diintegrasikan, agar dapat memberikan keputusan optimal kepada konsumen. 2. Desain Kemasan 2 Pengertian Kemasan (Packaging) Menurut Kotler dan Amstrong dalam Christy (215) mendefinisikan packaging involves designing and producing the container or wrapper for a product yang artinya adalah proses kemasan melibatkan kegiatan mendesain dan memproduksi, fungsi utama dari kemasan sendiri yaitu untuk melindungi produk agar produk tetap terjaga kualitasnya. Menurut Titik Wijayanti dalam Christy (215), kemasan mempunyai tujuan dan fungsi dalam pembuatan produk, yaitu: a. Memperindah produk dengan kemasan yang sesuai kategori produk. b. Memberikan keamanan produk agar tidak rusak saat dipajang ditoko. c. Memberikan keamanan produk pada saat pendistribusian produk. d. Memberikan informasi pada konsumen tentang produk itu sendiri dalam bentuk pelabelan. e. Merupakan hasil desain produk yang menunjukan produk tersebut.

36 21 Menurut Nilson & Ostrom (25) dalam Cahyorini & Rusfian (211), variabel desain kemasan terdiri dari tiga dimensi, yaitu: desain grafis, struktur desain, dan informasi produk. 1) Desain Grafis Desain grafis adalah dekorasi visual pada permukaan kemasan (Nilson & Ostrom,25) dalam Cahyorini & Rusfian (213), dan terdiri dari empat sub dimensi, yaitu: nama merek, warna, tipografi dan gambar. a) Nama Merek Asosiasi Pemasaran Amerika mendefinisikan merek (brand) sebagi nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikannya dari barang atau jasa dari satu penjual/kelompok penjual dan mendeferensiasikan dari para pesaing (Kotler & Keller dalam Christy, 215). b) Warna Literatur pemasaran mengungkapkan bahwa warna kemasan memiliki kemampuan untuk membangkitkan perasaan, perilaku emosi pada konsumen yang berbeda Asadhollahi & Give (27) dalam Mustikiwa & Marumbwa, (213). Warna memiliki potensi untuk menciptakan kesan yang mendalam dan tahan lama serta citra produk atau merek. Dalam kemasan produk, pemasar menggunakan warna untuk menarik perhatian konsumen yang dapat menciptakan perasaan positif atau

37 22 negatif tentang produk/brand tertentu. Asadhollahi & Give (27) dalam Mustikiwa & Marumbwa, (213) berpendapat bahwa warna kemasan mengkomunikasikan, menggambarkan, dan menampilkan fitur-fitur yang menyolok mata serta atribut intangible dari sebuah merek. Hal ini dengan demikian berarti bahwa warna membawa pesan khusus mengenai merek yang pada akhirnya menciptakan proposisi penjualan yang unik (unique selling proposition). c) Tipografi Typography (Tipografi) merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin. Tipografi dapat juga dikatakan visual language (Wijaya, 1999). d) Gambar Gambar (image) menurut Klimchuck & Krasovec (27) dalam Cahyorini & Rusfian, (213) termasuk foto, ilustrasi, simbolik/icon, dan karakter. Secara khusus gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan/menghiasi fakta yang mungkin cepat akan dilupakan atau diabaikan tidak digambarkan.

38 23 2) Struktur Desain Struktur desain berkaitan dengan fitur-fitur kemasan, dan terdiri dari tiga sub dimensi: bentuk, ukuran, dan material. a) Bentuk Bentuk mempengaruhi proteksi dan fungsi keamanan dalam menyentuh, menuangkan, dan menyimpan (Smith, 1993) dalam (Cahyorini & Rusfian, 211). Sedangkan menurut Nilsson & Ostrom (25) dalam Cahyorini & Rusfian (211) menyatakan bahwa bentuk yang lebih sederhana lebih menarik dari pada yang biasanya, dan persegi panjang lebih banyak disukai dari pada kotak. b) Ukuran Banyak kategori produk tersedia dalam beberapa ukuran produk. Menurut A. Shimp (23) yang diakses di books.google.co.id pada 22 Januari 2, Para produsen menawarkan wadah yang berbeda ukuran untuk memuaskan kebutuhan yang unik dari beragam segmen pasar, untuk mewakili situasi pemanfaatan yang berbeda, dan juga untuk memperoleh ruang panjang di gerai-gerai eceran (retail) c) Material Sejarah penggunaan bahan kemasan sudah berlangsung dengan sangat lama. Bahan kemasan pada mulanya menggunakan daun, kulit hewan, produk pecah belah, dan tas. Bahan kemasan

39 24 mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas produk (Smith, 1993) dalam (Cahyorini & Rusfian, 211). 3) Informasi Produk Salah satu fungsi kemasan adalah untuk mengkomunikasikan produk melalui informasi yang tertera. Informasi produk dapat membantu konsumen dalam mengambil keputusan pembelian dengan lebih hatihati (Silayoi & Speece dalam Cahyadi, 217). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa kemasan memiliki peranan cukup penting bagi suatu produk. Selain berfungsi sebagai pelindung produk, kemasan juga secara tidak langsung menggambarkan jati diri produk itu sendiri. Dimensi-dimensi dari kemasan memiliki peran masing-masing untuk menghasilkan kemasan yang baik dan menarik, karena semakin menarik kemasan tersebut semakin menarik perhatian para konsumen. 2 Indikator Desain Menurut Kotler (28) dalam Wicaksono (215) terdapat 7 (tujuh) desain produk, yaitu: a. Ciri-ciri Yakni karakteristik yang mendukung fungsi dasar produk. Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan beberapa cirri-ciri. Ciri-ciri produk merupakan alat kompetitif untuk produk perusahaan yang terdiferensiasi. Beberapa perusahaan sangat inovatif dalam penambahan ciri-ciri baru ke produknya. Satu dari faktor kunci

40 25 keberhasilan perusahaan Jepang adalah karena mereka secara terusmenerus meningkatkan ciri-ciri tertentu pada produk seperti arloji, mobil, kalkulator, dan lain-lain. Pengenalan ciri-ciri baru dinilai merupakan satu dari cara-cara yang sangat efektif dalam persaingan. b. Kinerja Kinerja mengacu kepada tingkat karakteristik utama produk pada saat beroperasi. Pembelian produk-produk mahal biasanya membandingkan kinerja (kenampakan/prestasi) dari merek-merek yang berbeda. Para pembeli biasanya rela membayar lebih untuk kinerja yang lebih baik sepanjang lebihnya harga tidak melebihi nilai yang dirasakan. c. Mutu Kesesuaian Penyesuaian adalah tingkat di mana desain produk dan karakteristik operasinya mendekati standar sasaran. Mutu kesesuaian adalah tingkat kesesuaian dan pemenuhan semua unit yang diproduksi terhadap spesifikasi sasaran yang dijanjikan. Hal ini disebut konformansi karena spesifikasinya. d. Daya Tahan (Durability) Daya tahan merupakan ukuran waktu operasi yang diharapkan dari produk tertentu. Sebagai contoh, Volvo mengiklankan mobilnya sebagai mobil yang mempunyai waktu pakai tertinggi untuk menjustifikasi harganya yang lebih tinggi. Pembeli bersedia membayar lebih untuk produk yang lebih tahan lama.

41 26 e. Daya Uji (Reliabilitas) Daya uji adalah ukuran kemungkinan bahwa suatu produk tidak akan berfungsi salah atau rusak dalam suatu periode waktu tertentu. Pembeli rela membayar lebih untuk produk-produk dengan reputasi reliabilitas yang lebih tinggi. Mereka ingin menghindari biaya karena kerusakan dan waktu untuk reparasi. f. Kemudahan Perbaikan (Repairability) Kemudahan perbaikan adalah suatu ukuran kemudahan perbaikan suatu produk yang mengalami kegagalan fungsi atau kerusakan-kerusakan. Kemudahan perbaikan ideal akan ada jika pemakai dapat memperbaiki produk tersebut dengan biaya murah atau tanpa biaya dan tanpa memakan waktu terlalu lama. g. Model (Style) Model menggambarkan seberapa jauh suatu produk tampak dan berkenan bagi konsumen. Model memberi keunggulan cirri kekhususan produk yang sulit untuk ditiru. Sebagai contoh, banyak pembeli mobil yang membayar lebih untuk mobil Jaguar karena penampilannya yang luar biasa walaupun Jaguar sendiri tidak begitu baik dari segi ketahanan uji (reliability).

42 27 3. Citra Merek 3 Pengertian Citra Merek Citra adalah konsep yang mudah dimengerti, tetapi sulit dijelaskan secara sistematis karena sifatnya abstrak (Simamora dalam buku Perilaku Konsumen, 213:327). Kotler dan Fox dalam Sutisna (22:83) mendefinisikan citra sebagai jumlah dari gambaran-gambaran, kesan-kesan, dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Rangkuti (24:43) mengemukakan bahwa citra merek adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk di benak konsumen. Menurut Aaker dalam Simamora yang dikutip oleh Mahendra (217), citra merek adalah seperangkat asosiasi unik yang ingin diciptakan atau dipelihara oleh pemasar. Asosiasi-asosiasi itu menyatakan apa sesungguhnya merek dan apa yang dijanjikan konsumen. Merek merupakan simbol dan indikator dari kualitas sebuah produk. Oleh karena itu, merek-merek produk yang sudah lama akan menjadi sebuah citra, bahkan simbol status bagi produk tersebut yang mampu meningkatkan citra pemakainya. Shimp et all (2) dalam Sangadji dan Sophia yang dikutip oleh Abdulloh (217) berpendapat: Citra merek (brand image) dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul dibenak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu.

43 28 Asosiasi tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek, sama halnya ketika kita berpikir mengenai orang lain. Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa citra merek dapat positif atau negatif, tergantung pada persepsi seseorang terhadap merek. Jika di gambarkan, pengetahuan konsumen atas merek akan tampak seperti berikut. KESADARAN AKAN MEREK Pengenalan terhadap merek Kemampuan untuk mengingat merek PENGETAHUAN AKAN MEREK Atribut Hal-hal yang tidak berhubungan dengan produk (contoh: harga, kemasan, pemakai, dan citra) Hal-hal yang berhubugnan dengan produk (contoh: warna, ukuran, desain) Jenis-jenis asosiasi fungsional CITRA MEREK Dukungan, kekuatan, dan keunikan Asosiasi Merek Manfaat Simbolis Evaluasi Keseluruhan (sikap) Pengalaman Gambar II Kerangka ekuitas merek berbasis konsumen (Sumber: A.Shimp, Terrence, 23) Berdasarkan Gambar II dapat diketahui bahwa komponen citra merek adalah jenisjenis asosiasi merek, dan dukungan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek dan keunikan asosiasi merek.

44 29 a. Asosiasi Merek (brand association) Menurut Aaker dalam Simamora yang dikutip oleh A, Katie (213), asosiasi merek adalah sekumpulan entitas yang bisa dihubungkan dengan suatu merek. Lebih lanjut, Aaker dalam Rangkuti (24) mendefinisikan asosiasi merek sebagai segala hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai sebuah merek. Asosiasi itu tidak hanya ada, namun juga mempunyai tingkat kekuatan. Asosiasi merupakan atribut yang ada di dalam merek dan akan lebih besar apabila pelanggan mempunyai banyak pengalaman berhubungan dengan merek tersebut. Berbagai asosiasi yang diingat oleh konsumen dapat dirangkai sehingga membentuk citra merek (brand image). Keuntungan asosiasi merek tampak pada gambar berikut. Membantu proses/penyusuna n informasi Diferensiasi/posis i Asosiasi merek Alasan untuk membeli Menciptakan sikap/perasaan positif Basis perluasan Gambar II Kerangka nilai asosiasi merek (sumber: Rangkuti, 24:43 dalam Nurdiansyah, 213)

45 3 Durianto (24) berpendapat bahwa asosiasi terhadap merek dibentuk oleh tiga hal, yaitu nilai yang dirasakan (perceived value), kepribadian merek (brand personality), dan asosiasi organisasi (organizational association). 1) Nilai yang dirasakan (perceived value) Nilai yang dirasakan diartikan sebagai persepsi kualitas yang dibagi dengan harga. Ada lima unsur pembentuk nilai yang dirasakan, yaitu kualitas produk, harga, kualitas layanan, faktor emosional, dan kemudahan. a) Kualitas produk Kualitas produk terdiri atas enam elemen, yaitu: (1) kinerja yang merupakan elemen kualitas produk yang berkaitan langsung dengan bagaimana suatu produk dapat menjalankan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan konsumen. (2) reliabilitas yang merupakan daya tahan produk selama dikonsumsi. (3) fitur yang merupakan fungsi-fungsi sekunder yang ditambahkan pada suatu produk, misalnya fitur kendali (remote control) pada televisi. (4) keawetan (durability) yang merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukan suatu pengukuran terhadap siklus produk, baik secara teknis maupun waktu. Produk dikatakan awet jika dapat bertahan dalam pemakaian yang berulang-ulang. (5) konsistensi yang merupakan elemen yang menunjukan seberapa jauh suatu produk bisa memenuhi standar atau spesifikasi tertentu. Produk yang mempunyai

46 31 konsistensi tinggi berarti sesuai dengan standar yang ditentukan. (6) desain yang merupakan aspek emosional untuk mempengaruhi kepuasan konsumen sehingga desain kemasan ataupun bentuk produk akan turut mempengaruhi persepsi kualitas produk tersebut. a) Harga Unsur harga memberikan pengaruh yang relatif. Ada sebagian konsumen yang sensitif terhadap harga, akan tetapi ada juga yang tidak begitu mempertimbangkan harga dalam pengambilan keputusan pembelian produk. b) Kualitas layanan Kualitas layanan sangat tergantung pada tiga hal, yaitu sistem, teknologi, dan manusia. Dimensi kualitas layanan sistem terdiri atas wujud fisik (tangible), reliabilitas, daya tanggap (responsiveness), kepastian (assurance), dan empati. c) Faktor emosional Dimensi emosional dibagi menjadi tiga faktor, yaitu estetika, nilai ekspresif diri (self-expressive value), dan kepribadian merek. Aspek estetika berkaitan dengan bentuk dan warna. Bentuk meliputi besar kecilnya produk, proporsi, dan kesimetrisan. Aspek ekspresif diri adalah bentuk kepuasan yang terjadi karena lingkungan sosial di sekitarnya. Aspek kepribadian merek berkaitan dengan karakter personal.

47 32 d) Kemudahan Konsumen cenderung merasa lebih puas jika mendapatkan produk atau pelayan secara relatif lebih mudah, nyaman, dan efisien. 2) Kepribadian merek (brand personality) Kepribadian merek berhubungan dengan ikatan emosi merek tersebut dengan manfaat merek itu sendiri sebagai dasar untuk diferensiasi merek dan hubungan pelanggan. Kepribadian merek akan melibatkan dimensi yang unik untuk sebuah merek. 3) Asosiasi organisasi (organization association) Dalam asosiasi organisasi konsumen akan mengaitkan sebuah produk dengan perusahaan yang memproduksinya. Asosiasi organisasi akan menjadi faktor penting jika merek yang ada mirip dalam hal atribut dengan merek lainnya, atau jika organisasi merupakan hal yang penting untuk dilihat. b. Dukungan asosiasi merek Dukungan asosiasi merek merupakan respon konsumen terhadap atribut, manfaat, serta keyakinan dari suatu merek produk berdasarkan penilaian mereka atas produk. Atribut disini tidak berkaitan dengan fungsi produk, tetapi berkaitan dengan citra merek. Dukungan asosiasi merek tersebut ditunjukkan dengan persepsi konsumen terhadap produk yang menganggap bahwa produk yang dikonsumsi itu baik dan bermanfaat bagi konsumen.

48 33 c. Kekuatan asosiasi merek Setelah mengkonsumsi sebuah produk, konsumen akan mengingat kesan yang ditangkap dari produk tersebut. Jika konsumen telah merasakan manfaatnya, ingatan konsumen terhadap produk tersebut akan lebih besar lagi daripada ketika konsumen belum menggunakannya. Itulah yang membuat ingatan konsumen semakin kuat terhadap asosiasi sebuah merek. Kekuatan asosiasi merek ditunjukkan dengan reputasi baik yang dimiliki produk tersebut dimata konsumen, produk tersebut dirasa memiliki manfaat ekspresi diri dan menambah rasa percaya diri konsumen. d. Keunikan asosiasi merek Jika sebuah produk memiliki ciri khas yang membedakannya dari produk lain, produk tersebut akan diingat oleh konsumen. Ingatan konsumen itu akan semakin kuat jika konsumen sudah merasakan manfaat dari sebuah produk dan merasa bahwa merek lain tidak akan bisa memuaskan keinginannya tersebut. 3.Indikator Citra Merek Menurut Biel dalam jurnal Sulistyari (212) menyebutkan bahwa terdapat indikator-indikator yang membentuk brand image, antara lain adalah: a. Citra Korporat Citra korporat merupakan citra yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Perusahaan sebagai organisasi berusaha membangun imagenya dengan tujuan tak lain agar nama perusahaan ini bagus, sehingga akan mempengaruhi segala hal mengenai apa yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

49 34 b. Citra Produk Citra konsumen terhadap suatu produk yang dapat berdampak positif maupun negatif yang berkaitan dengan keutuhan, keinginan, dan harapan konsumen. Image dari produk dapat mendukung terciptanya sebuah brand image atau citra dari merek tersebut. c. Citra Pemakai Citra pemakai dapat dibentuk langsung dari pengalaman dan kontak dengan penggunaan merek tersebut. Manfaat ini adalah nilai pribadi konsumen yang diletakkan terhadap atribut dari produk atau layanan yaitu apa yang konsumen pikir akan mereka dapatkan dari produk atau layanan tersebut. 4. Minat Beli 4. Pengertian Minat Beli Minat beli konsumen adalah sesuatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, dari sana timbul ketertarikan untuk mencoba produk tersebut sampai pada akhirnya timbul keinginan untuk membeli agar dapat memilikinya (Kotler dalam Wicaksono, 215). Sumarwan dalam Sudarwanto (214) berpendapat bahwa minat beli (intention to buy) adalah perilaku yang akan dilakukan oleh seseorang konsumen (likehood or tendency). Schiffman dan Kanuk (2) dalam Kristyatmoko dkk (213) mengemukakan bahwa dalam riset pemasaran dan konsumen, minat beli merupakan pernyataan maksud konsumen untuk membeli. Skala maksud pembeli digunakan untuk menilai kemungkinan

50 35 konsumen untuk membeli suatu produk atau berperilaku menurut cara tertentu. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa minat beli adalah suatu keinginan/kecenderungan konsumen untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu. Menurut Mangkunegara (1998) dalam Subagio (21) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan pembelian, yaitu faktor psikologis, faktor pribadi, dan faktor sosial. Faktor psikologis meliputi pengalaman belajar individu tentang kejadian masa lalu, serta pengaruh sikap dan keyakinan individu. Pengalaman belajar disini dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku akibat pengalaman belajar sebelumnya. Faktor pribadi termasuk ke dalam konsep diri. Konsep diri adalah cara kita melihat diri sendiri dan dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang upah yang kita pikirkan. Dalam hal ini, produsen perlu menciptakan situasi yang sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen. Faktor sosial mencakup faktor kelompok panutan (small reference group). Kelompok anutan adalah suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap, pendapat, norma, dan perilaku konsumen. Kelompok anutan ini merupakan kumpulan keluarga, kelompok atau orang tertentu. Dapat dikatakan bahwa minat beli merupakan keinginan untuk membeli yang timbul setelah konsumen merasa tertarik dan ingin memakai produk yang dilihatnya. Hal tersebut merupakan pernyataan mental daari

51 36 konsumen yang merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu. Hal ini sangat diperlukan oleh pemasar untuk mengetahui minat beli konsumen terhadap suatu produk, baik para pemasar maupun ahli ekonomi menggunakan variabel minat beli untuk memprediksi perilaku konsumen di masa yang akan datang. Menurut Lucas & Britt dalam Siburian (216), terdapat empat faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen, antara lain: a. Perhatian (attention) Adanya perhatian yang besar dari konsumen terhadap suatu produk (barang atau jasa). b. Ketertarikan (interest) Menunjukkan adanya pemusatan perhatian dan perasaan senang. c. Keinginan (desire) Adanya dorongan untuk ingin memiliki. d. Keyakinan (conviction) Adanya perasaan percaya diri individu terhadap kualitas, daya guna, dan keuntungan dari produk yang akan dibeli. 4 Indikator Minat Beli Menurut (212:113) dalam Wicaksono (215) minat beli dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut:

52 37 a. Minat transaksional Minat ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk membeli produk. b. Minat referensial Minat ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain. c. Minat preferensial Minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. d. Minat eksploratif Minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut. B. Hasil Penelitian Sebelumnya Penelitian yang dilakukan oleh Wicaksono (215) dengan judul Pengaruh Merek dan Desain Terhadap Minat Beli Konsumen Produk Sepeda Motor Honda CS One di Pekalongan bertujuan untuk mengetahui dan mengamati pengaruh merek dan desain Motor Honda CS Oneterhadap minat beli konsumen di Pekalongan. Sedangkan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengamati pengaruh kemasan The Body Shop di Pulau Jawa terhadap minat beli konsumen, untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh citra merek The Body Shop di Pulau Jawa terhadap minat beli konsumen, juga

53 38 untuk mengetahui dan mengamati pengaruh kemasan dan citra merek The Body Shop di Pulau Jawa secara bersama-sama terhadap minat beli konsumen. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, uji asumsi klasik (uji normalitas, uji heteroskesdastisitas, dan uji multikolinieritas), dan analisis regresi berganda. Pengujian dilakukan dengan uji t pengelohanan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS pada produk Sepeda Motor Honda CS One di Pekalongan diperoleh populasi sebanyak 116 orang dan diambil sampel penelitian sebesar 116 orang. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kemasan dan citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli. C. Kerangka Konseptual Penelitian Kerangka berfikir dalam penulisan ini dapat digambarkan secara sistematis sebagai berikut: H1 Kemasan (X1) Citra Merek (X2) H2 H3 Minat Beli (Y) Gambar II.5 Kerangka Konseptual Penelitian

54 39 Keterangan: 1. H3 berpengaruh secara simultan terhadap minat beli konsumen. 2. H1 & H2 berpengaruh secara parsial terhadap minat beli konsumen. D. Hipotesis Penelitian Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang masih harus dibuktikan kebenarannya melalui penelitian. (Sugiyono, 21:93). Hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1. Diketahui teori kemasan bahwa kemasan memiliki fungsi yang salah satunya adalah memperindah produk dengan kemasan yang sesuai kategori produk. Sehingga konsumen bisa mengingat suatu produk dengan melihat atau pernah melihat sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan teori citra merek yang mendefinisikan citra merek sebagai jumlah dari gambaran-gambaran, kesankesan, dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek. Selanjutnya setelah konsumen mengetahui kemasan produk dan menangkap gambaran dan kesan dari produk tersebut dapat memunculkan minat beli berdasarkan kemasan yang menarik maupun citra merek yang baik di mata konsumen. Maka berdasarkan penjabaran di atas dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H3: Kemasan dan citra merek secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa Ha3: Kemasan dan citra merek secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa

55 4 2. Diketahui teori kemasan yang mempunyai berbagai dimensi diantaranya adalah desain grafis yaitu dekorasi visual pada permukaan kemasan. Elemen desain grafis berisi nama merek, warna, tipografi dan gambar yang tidak hanya menjalankan fungsi masing-masing, tetapi empat elemen desain grafis tersebut juga dapat menarik perhatian minat beli konsumen yang merupakan pernyataan maksud konsumen untuk membeli. Maka berdasarkan penjabaran di atas dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H1: Kemasan tidak berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa Ha1: Kemasan berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa 3. Diketahui teori citra merek adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dibenak konsumen. Asosiasi merek yang terbentuk dalam benak konsumen diciptakan pemasar melalui simbol status bagi produk tersebut yang mampu meningkatkan citra pemakainya. Merek-merek produk yang sudah lama akan menjadi sebuah citra sehingga dapat memunculkan minat beli (intention to buy) terhadap suatu produk yang mempunyai citra baik dimata konsumen. Maka berdasarkan penjabaran di atas dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H2: Citra merek tidak berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa Ha2:Citra merek berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa

56 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan format kausalitas dan deskriptif. Penelitian kausalitas adalah penelitian untuk menguji kebenaran hubungan kausal (cause-and-effect), yaitu hubungan antara variabel independen (yang mempengaruhi) dengan variabel dependen (yang dipengaruhi). Pada dasarnya ini bertujuan untuk menguji kebenaran suatu hipotesis yang dilakukan melalui pengumpulan data di lapangan (Sugiyono, 29:57 dalam Gadau, 216). Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 29:13 dalam Gadau, 216). Sedangkan penelitian kuantitatif dengan menggunakan format deskriptif bertujuan untuk menjelaskan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat, yang menjadi obyek penelitian ini, berdasarkan apa yang terjadi. 41

57 42 B. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah target populasi yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 28). Subjek dalam penelitian ini adalah konsumen produk The Body Shop di Pulau Jawa. 2. Objek Penelitian Objek penelitian adalah sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian (Arikunto, 25). Objek dalam penelitian ini adalah tanggapan responden mengenai kemasan dan citra merek pada produk The Body Shop di Pulau Jawa. C. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2 dan lokasi penelitian dilakukan di Pulau Jawa. D. Variabel Penelitian 1. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 213:38 dalam Gadau, 216). Variabel yang digunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan menjadi dua, yang pertama adalah variabel independen (bebas), yaitu variabel yang menjelaskan

58 43 dan mempengaruhi variabel lain, dan yang kedua adalah variabel dependen (terikat), yaitu variabel yang dijelaskan dan dipengaruhi oleh variabel dependen. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat beli konsumen terhadap produk The Body Shop. b. Variabel bebas merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen pada produk The Body Shop, dalam penelitian ini adalah kemasan dan citra merek. 2. Definisi Variabel Penelitian a. Variabel Independen Variabel independen adalah variabel yang sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, dan antesenden. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel ini memengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 213: 39 dalam Gadau, 216). Variabel dalam penelitian ini adalah kemasan (X1) dan citra merek (X2). b. Variabel Dependen Variabel dependen sering disebut sebagai variabel output, kriteria, dan konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel

59 44 yang dipengaruhi atau menjadai akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 213:39 dalam Gadau, 216). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah minat beli (Y). 3. Pengukuran Variabel Penulis memperoleh langsung data-data yang dibutuhkan berdasarkan dari keterangan dan informasi yang diberikan kepada responden melalui kuesioner yang disebarkan dengan metode skor. Pemberian skor menggunakan skala Likert seperti dibawah ini: Tabel III Skala Likert (Sugiyono, 21) Keterangan Nilai Sangat Setuju (SS) 5 Setuju (S) 4 Netral (N) 3 Tidak Setuju (TS) 2 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 B. Definisi Operasional Definisi operasional merupakan penjelasan semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga dapat mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian.

60 45 1. Desain Kemasan (X1) a. Desain Grafis (X1,1) Desain grafis adalah dekorasi visual pada permukaan kemasan dan terdiri dari empat sub dimensi yaitu nama merek, warna, tipografi dan gambar. b. Struktur Desain (X1,2) Struktur desain berkaitan dengan fitur-fitur kemasan dan terdiri dari tiga sub dimensi yaitu bentuk, ukuran, dan material. c. Informasi Produk (X1,3) Salah satu fungsi kemasan adalah untuk mengkomunikasikan produk melalui informasi yang tertera. Informasi produk dapat membantu konsumen dalam mengambil keputusan pembelian dengan lebih hatihati. 2. Citra Merek (X2) a. Asosiasi Merek (X2,1) Asosiasi merek adalah sekumpulan entitas yang bisa dihubungkan dengan suatu merek. b. Dukungan Asosiasi (X2,2) Dukungan asosiasi merupakan respon konsumen terhadap atribut, manfaat, serta keyakinan dari suatu merek produk berdasarkan penilaian mereka atas produk.

61 46 c. Kekuatan Asosiasi (X2,3) Kekuatan asosiasi merupakan ingatan akan kesan yang ditangkap oleh konsumen setelah mengkonsumsi sebuah produk. d. Keunikan Asosiasi (X2,4) Keunikan asosiasi merupakan ciri khas yang membedakan dari produk lain sehingga produk tersebut akan diingat oleh konsumen. 3. Minat Beli (Y) a. Minat Transaksional (Y1) Minat transaksional adalah kecenderungan seseorang untuk membeli produk. b. Minat Referensial (Y2) Minat referensial adalah kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain. c. Minat Preferensial (Y3) Minat preferensial adalah minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki preferensial utama pada produk tersebut. d. Minat Eksploratif (Y4) Minat eksploratif adalah minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

62 47 C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Menurut Sugiyono (21:215) dalam Gadau (216:47) Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berdasarkan pengertian di atas, populasi dalam penelitian ini adalah konsumen The Body Shop di pulau Jawa. Dalam penelitian ini menggunakan populasi tidak terbatas karena sumber data yang diperoleh itu jumlah populasinya tidak dapat dihitung dan nama populasinya tidak diketahui. 2. Sampel Penelitian Menurut Sugiyono (21:73) dalam Gadau (216:48) Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Populasi dalam penekitian ini tidak diketahui. Maka peneliti menentukan sampel dengan menggunakan rumus Parameter Proporsi P (Gadau, 216). z 2 n 2 a / 2 pq e

63 48 Keterangan: n α 2 z a / 2pq : Ukuran sampel : Standar deviasi z : α =,5, maka 1, 96,5 e : error = 1% n 2 1,96 4(,1) 2 = 96,4 (dibulatkan menjadi 1) Sampel dalam penelitian ini ditetapkan minimal 1 responden yang menggunakan produk The Body Shop di pulau Jawa. Sehingga keseluruhan sampel yang diperoleh dan digunakan peneliti dalam penelitian ini sebanyak responden. Dengan asumsi semakin banyak sampel yang diteliti, maka hasil olah data yang dihasilkan semakin tajam. D. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling yaitu teknik purposive sampling karena populasi yang tidak terbatas. Teknik purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 21:2 dalam Gadau, 216:49). Kriteria pemilihan sampel tersebut adalah: 1. Konsumen The Body Shop (yang pernah memakai produk dalam tiga tahun terakhir maupun sedang memakai produk tersebut).

64 49 2. Konsumen yang berusia 17 tahun - 65 tahun. E. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik kuesioner online. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya (Gadau, 216). Kuesioner online yang peneliti lakukan adalah dengan menggunakan google form. F. Teknik Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas Menurut Arikunto (213:211) validitas adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kevaliditasan atau kesahihan suatu instrumen. Validitas menguji seberapa baik suatu instrumen yang dibangun untuk mengukur suatu konsep adalah benar-benar dapat mengukur konsep tersebut. Untuk mengukur validitas instrmen menggunakan rumus korelasi product moment (Karl Pearson dalam Gadau, 216) dengan rumus: r xy N XY ( X )( y) N X ( X ) N Y ( Y)

65 5 Keterangan: r xy X Y N : Koefisien korelasi antara variabel rhitung : Nilai dari tiap butir : Nilai total dari tiap butir : Jumlah sampel Dengan taraf signifikan (α) sebesar 5%, apabila rhitung lebih besar dari rtabel, maka kuesioner sebagai alat ukur dapat dikatakan valid. 2. Uji Reliabilitas Reliabilitas merupakan alat untuk mengukur sejauh mana alat ukur yang digunakan dapat dipercaya. Reliabilitas mengindikasikan konsistensi suatu instrument dalam mengukur suatu konsep dan membantu untuk mengakses the goodness suatu pengukuran data. Kata kunci dalam reliabilitas adalah keakuratan pengukuran. Suatu instrumen dikatakan sebagai alat ukur yang reliabel jika digunakan untuk mengukur sesuatu yang sejenis dapat memberikan hasil yang konsisten. Berikut adalah rumus uji reliabilitas menurut Sujarweni dan Endrayanto, 212 dalam Gadau, 216: r11 = k 1 k 1) ( t 2 b 2

66 51 Keterangan: r11 K : Reabilitas instrument : Banyaknya butir pertanyaan dan banyaknya soal 2 b : Jumlah varian butir 2 t : Varian total Kriteria pengujian adalah sebagai berikut: a. Jika nilai Cronbach,s Alpha (r11) >,6 maka item variabel dinyatakan reliabel. b. Jika nilai Cronbach,s Alpha (r11) <,6 maka item variabel dinyatakan tidak reliabel. G. Teknik Analisis Data Sebelum data dianalisis, terlebih dahhulu dilakukan pengolahan data. Setelah data terkumpul melalui kuesioner maka langkah selanjutnya adalah melakukan tabulasi, yaitu memberikan nilai (scorring) sesuai dengan sistem yang diterapkan. Scorring dilakukan dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu fenomena. Menurut Murti dan Salamah (25:6) Skala Likert didesain untuk menilai sejauh mana subjek setuju atau tidak setuju dengan pernyataan yang diajukan. Umunya, peneliti menggunakan lima poin

67 52 yaitu angka 1 untuk sangat tidak setuju, angka 2 untuk tidak setuju, angka 3 untuk ragu-ragu, angka 4 untuk setuju, dan angka 5 untuk sangat setuju. 1. Analisis Statistik Deskriptif Analisis data deskriptif adalah analisis yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum. Teknik analisis deskriptif dibagi menjadi dua tahap, yaitu: a. Deskripsi Responden Deskripsi responden berisi tentang perhitungan menjadi klasifikasi kuesioner secara umum. Seperti domisili, jenis kelamin, usia dan pendapatan perbulan. Deskripsi responden dilakukan dalam frekuensi dan persentase (%). b. Deskripsi Variabel Untuk menggambarkan atau mendapatkan gambaran tentang variabel, dimensi dan indikator melalui rata-rata (mean) pada variabel kemasan, citra merek dan minat beli. Prosedur yang digunakan sebagai berikut: 1) Menghitung nilai mean untuk setiap variabel/obyek/item 2) Membuat kategori nilai mean dengan pengkategorian skor yang telah dibuat. Dalam mengkategorikan masing-masing

68 53 Keterangan: variabel, langkah yang digunakan adalah dengan menggunakan interval kelas sesuai rumus Sturges: range c1 K C1 : interval Range : selisih antar batas atas dengan batas bawah K : banyaknya kelas Maka interval kelasnya: 5 1 C 5 1,8 Dengan interval sebesar,8 maka garis skala pengaruh kemasan dan citra merek terhadap minat beli dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Skor variabel 1, s/d 1,79 menunjukkan persepsi konsumen terhadap kemasan, citra merek, dan minat beli sangat rendah 2) Skor variabel 1,8 s/d 2,59 menunjukkan persepsi konsumen terhadap kemasan, citra merek, dan minat beli rendah 3) Skor variabel 2,6 s/d 3,39 menunjukkan persepsi konsumen terhadap kemasan, citra merek, dan minat beli sedang 4) Skor variabel 3,4 s/d 4,19 menunjukkan persepsi konsumen terhadap kemasan, citra merek, dan minat beli tinggi

69 54 5) Skor variabel 4,2 s/d 5, menunjukkan persepsi konsumen terhadap kemasan, citra merek, dan minat beli sangat tinggi 2. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi berganda yang berbasis ordinary least square. Untuk meyakikan bahwa persamaan regresi yang diperoleh adalah linier dan dapat dipergunakan (valid) untuk mencari peramalan, maka akan dilakukan pengjian asumsi normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 213). Persamaan regresi dikatakan baik jika mempunyai data variabel bebas dan data variabel terikat berdistribusi mendekati normal atau normal sama sekali. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menghubungkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Deteksi normalitas dapat dilakukan dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Dasar pengambilan keputusan dari uji normalitas adalah

70 55 1) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arag garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. 2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas. b. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik sharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesame variabel independen sama dengan nol. Menurut Santoso dan Pramono dalam Gadau (216:56) adapun pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah VIF di bawah 1 dan tolerance lebih dari,1. c. Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah terjadinya ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 26). Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas, dalam penelitian ini digunakan grafik plot antara nilai prediksi variabel

71 56 dependen (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang terjadi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot antara ZPRED dan SRESID dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi Y sesungguhnya) yang telah di studentized. Dasar analisisnya adalah: 1) Apabila terdapat pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. 2) Apabila terdapat pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan di bawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. 3. Analisis Regresi Berganda Regresi berganda merupakan metode analisis yang serbaguna dan powerful yang dapat digunakan untuk memodelkan efek

72 57 simultan dari variabel independen terhadap variabel dependen (Suhartanto, 214). Tujuan menggunakan analisis regresi berganda adalah untuk menguji hubungan antara dua atau lebih variabel independen (prediktor) dan satu variabel dependen metrik. Analisis regresi berganda dapat menyajikan suatu kombinasi dari dua tujuan dasar, yang pertama memprediksi variabel dependen berdasarkan variabel independen, dan yang kedua memahami hubungan antara variabel dependen dan independen. Dalam penelitian ini variabel bebas terdiri dari merek dan desain. Sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah minat beli konsumen. Persamaan yang digunakan adalah: Y b b1x 1 b2x 2 Keterangan: e Y b : Minat beli konsumen : Konstanta b1,b2 : Koefisien regresi berganda X 1 : Variabel desain kemasan X 2 e :Variabel citra merek :Standar error

73 58 4. Uji Hipotesis a. Uji F atau Anova (analysis of variance) Merupakan analisis komparatif untuk lebih dari dua variabel atau lebih dari dua rata-rata. Uji f digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh signifikan variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Bila Fhitung > Ftabel, maka secara bersamasama variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Sebaliknya bila Fhitung < Ftabel, maka secara bersama-sama variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (Sugiyono, 21 dalam Gadau, 216) 2 2 R / k R ( n k 1) F F 2 2 (1 R ) /( n k 1) k(1 R ) Keterangan: N : Ukuran sampel 2 R : Koefisien determinasi k : Banyaknya variabel bebas Dengan kriteria: H ditolak bila Fhitung > Ftabel, apabila Fhitung > Ftabel maka hipotesis alternatif diterima atau dengan kata lain H ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa variabel desain kemasan dan citra merek bersama-sama berpengaruh terhadap minat beli.

74 59 H diterima bila Fhitung < Ftabel, apabila Fhitung < Ftabel maka hipotesis alternatif ditolak atau dengan kata lain H diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa variabel desain kemasan secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap minat beli. b. Uji t Uji t atau uji koefisien regresi secara parsial digunakan untuk mengetahui apakah secara parsial variabel independen berpengaruh secara signifikan atau tidaknya terhadap variabel dependen ( Priyatno, 212). Adapun hipotesis yang dapat diajukan untuk uji t adalah sebagai berikut: Ho : β =, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas X terhadap variabel terikat Y. Ho : β, artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas X terhadap variabel terikat Y. Kriteria pengujian dengan SPSS: Apabila nilai signifikansi >,5, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Apabila nilai signifikansi <,5, maka Ho ditolak dan Ha diterima. c. Koefisien Determinasi / Goodness of Fit Test Dengan menggunakan koefisien determinasi parsial yang digunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi pengaruh dari

75 6 masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Besarnya kontribusi pengaruh variabel bebas secara parsial dapat dihitung dengan rumus x 1%. Besarnya koefisien korelasi (r) variabel bebas secara parsial dapat diketahui dari nilai partial correlation dari output SPSS. Semakin tinggi nilai koefisien korelasi (r) masing-masing variabel bebas maka semakin tinggi pula kontribusi pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat.

76 BAB IV GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN A. Sejarah Singkat dan Logo Perusahaan The Body Shop International plc adalah sebuah perusahaan kosmetik dan kecantikan global yang mendapatkan inspirasi dari alam dan menghasilkan produk - produk yang bersandar pada nilai - nilai etika. Pertama kali didirikan pada tahun 1976 oleh Dame Anita Roddick di Inggris, saat ini toko The Body Shop memiliki 3. toko yang tersebar di 66 negara ( yang diakses pada 6 Maret 2), dengan lebih dari 1,2 jenis produk yang menggunakan bahan - bahan alami dan bebas dari uji coba pada binatang. The Body Shop juga merupakan pioneer perusahaan kosmetik internasional yang menghimbau terhadap standar kosmetik untuk manusia dengan memberantas uji coba terhadap binatang. Pentingnya arti lingkungan yang disadari oleh masyarakat Eropa merupakan alasan utama kehadiran The Body Shop. Sejak awal berdirinya toko pertama mereka, The Body Shop selalu berkomitmen untuk mendukung perubahan lingkungan dan sosial menuju keadaan yang lebih baik melalui berbagai kegiatan kampanye didasari oleh semangat dan nilai - nilai (values) yang dianut dan mendarah daging dalam setiap aktivitas bisnisnya. Kedua hal inilah yang membuat The Body Shop berbeda dengan para pesaingnya. Semangat The Body Shop dalam menjalankan bisnisnya adalah we 61

77 62 believe business can be both profitable and responsible. Adapun nilainilai (values) inti dari The Body Shop terdiri dari: 1. Against Animal Testing Awal prinsip ini bermula dari Save The Whale tahun 1986 ketika Anita meluncurkan kampanye toko pertamanya. Saat itu The Body Shop dan Anita mendukung perjuangan Greenpeace dalam mengakhiri pembantaian ikan paus untuk produk komersial seperti minyak ikan paus yang digunakan dalam beberapa produk kosmetik. The Body Shop tidak pernah dan tidak akan pernah mengujicobakan bahan dasar maupun produk kepada binatang. Ia percaya bahwa binatang tidak perlu dikorbankan untuk kecantikan. Untuk itu The Body Shop menggunakan percobaan alternatif yang telah dikembangkan dalam melakukan penelitiannya. Salah satunya adalah eyete irritection dengan menggunakan protein tumbuhan pengganti mata kelinci untuk menganalisa kadar iritasi mata manusia, mengembangkan metode uji coba (skin patch) pada para relawan dengan cara yang aman dibawah pengawasan ketat University Hospital of Wales dan setiap pemasok bahan baku untuk kebutuhan kosmetika tidak diperkenankan mengujicobakannya pada binatang sejak 31 Desember 199. The Body Shop juga menginisiasi pengumpulan petisi untuk menolak percobaan pada hewan dengan mengumpulkan empat juta tanda tangan untuk disampaikan kepada Komisi Eropa, yang berimplikasi pada disahkannya

78 63 peraturan tentang larangan percobaan produk kosmetik pada hewan di seluruh Eropa, yang selesai dan disahkan pada tahun 24. Komitmen The Body Shop menentang percobaan pada hewan ini mengantarkan merek tersebut mendapat penghargaan Humane Cosmetics Standard oleh British Union for the Abolition of Vivisection (BUAV) pada tahun 1998 dan pada tahun yang sama memperoleh penghargaan Good Bussiness Award dari RSPCA untuk kedua kalinya. 2. Support Community Trade Community Trade merupakan program pemberdayaan komunitas termajinalkan dengan penerapan sistem perdagangan dan penerapan harga yang adil. The Body Shop membangun hubungan perdagangan yang saling menguntungkan dengan masyarakat melalui program Community Trade yang berawal dari Teddy Exports India tahun Dengan Community Trade The Body Shop melakukan perdagangan yang adil dan setara dengan berbagai komunitas di dunia. The Body Shop memperoleh bahan baku bermutu, mereka memperoleh kemandirian sosial ekonomi. Berbagai kelompok petani miskin dari berbagai belahan dunia seperti Mexico, Brazil, Peru, Mauritius, Ghana, Zambia, Inggris, Italia, India, Samoa, dan masih banyak lagi menjadi pemasok utama bahan baku The Body Shop. Community Trade memungkinkan para petani anggota dari komunitas tersebut mendapatkan

79 64 kehidupan layak yang berkesinambungan dan mengusahakan mereka untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Tidak hanya bermanfaat bagi para petani kecil, komitmen ini memungkinkan The Body Shop untuk mendapatkan bahan-bahan baku terbaik yang dibudidayakan secara tradisional, sehingga secara tidak langsung, Community Trade juga ikut melestarikan kebudayaan setempat dalam pengembangbiakan tanaman. The Body Shop juga mendesak kelompokkelompok petani termarjinalkan tersebut untuk mendatangani dukungan pada Ethical Trade Program, yang dirancang untuk meningkatkan kondisi dan hak-hak pekerja dalam proses pemasokan bahan baku untuk The Body Shop tersebut. Kesepakatan ini memungkinkan The Body Shop untuk memastikan bahwa tidak ada pemanfaatan anak dibawah umur sebagai pekerja, diskriminasi, ketidakadilan upah, lama kerja, dan situasi kerja yang tidak representatif. Salah satu contoh kegiatan yang pernah dilakukan adalah pada Januari 21 Anita mengunjungi 13 petani minyak wijen di Nacaragua yang menerima harga adil dan stabil untuk biji wijen yang mereka jual agar petani mampu membangun bisnis mereka yang berkelanjutan. 3. Active Self-Esteem Komitmen ini adalah tentang membuat pelanggan dan karyawan The Body Shop merasa bahagia dan bangga terhadap diri mereka masing-masing. Komitmen ini lahir dari adanya generalisasi definisi cantik yang diciptakan

80 65 oleh industri kosmetik dan fashion raksasa, sehingga membuat banyak wanita di dunia menderita untuk mengikuti kecantikan menurut definisi kaum kapitalis tersebut. The Body Shop mendorong setiap perempuan untuk menerima, menghargai dan menggali potensi diri. Feel good about yourself, respect yourself, look after your body and soul, and be proud of who and what you are merupakan pernyataan yang dilontarkan oleh Anita Roddick mengenai bagaimana setiap perempuan harus menghargai dirinya. Nilai ini didasarkan atas tanggung jawabnya terhadap para perempuan yang telah menjadi objek penderita dari berbagai ilusi dan impian yang ditawarkan oleh berbagai produk untuk tubuh dan wajah seperti supermodels. Pada kenyataannya dari 3 juta wanita hanya 8 wanita saja yang memiliki tubuh seperti supermodels. 4. Defend Human Rights Komitmen ini bertujuan untuk melindungi hak-hak asasi manusia, mulai dari ancaman Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), penyebaran infromasi mengenai bahaya dan pencegahan HIV/AIDS, hingga usaha penyadaran publik terkait maraknya human trafficking. Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar setiap manusia yang hidup di dunia yang masih dianggap sebagai isu yang terkait dengan politik. The Body Shop senantiasa selalu mendukung untuk ditegakkannya HAM tersebut melalui usaha-usaha perbaikan hidup masyarakat. Sejak tahun 1994, The Body Shop telah

81 66 membantu mengumpulkan dana dan menyadarkan dunia bahwa kasus KDRT makin mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia. Salah satu keberhasilan program ini adalah berhasil mengorganisir long march di Seoul, Korea Selatan, untuk mendesak pemerintah setempat memberikan dukungan lebih organisasi-organisasi perlindungan wanita di negara tersebut. Selain itu, di Indonesia hal ini difokuskan pada kampanye Stop Violence In The Home dan hak pendidikan bagi anak-anak usia sekolah melalui program anak asuh yang tersebar di Indonesia dimana para staff The Body Shop lah yang menjadi penanggungjawabnya. 5. Protect Our Planet Sebagai perusahaan global, The Body Shop memiliki komitmen untuk melawan perubahan iklim akibat pemanasan global. Berbagai usaha telah dilakukan The Body Shop, terutama pada tubuh perusahaannya sendiri. Seperti penghematan penggunaan energi pada gerai dan kantornya diseluruh dunia, dan bahkan mengusahakan penggunaan energi terbarukan dalam segala aktivitas perusahaan. The Body Shop menjalankan kebijaksanaan untuk selalu menggunakan bahan yang dapat didaur ulang dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. The Body Shop tercatat sebagai perusahaan pertama yang menggunakan botol plastik yang 1 persen mampu diurai tanah sehingga mengurangi dampak pencermaran lingkungan, dengan memanfaatkan botol berbahan PET (polyethylene terephtalate).

82 67 Hingga kini prinsip itu masih terus diterapkan dengan membuat sistem daur ulang sampah, kertas dan kemasan. Melalui hal itu The Body Shop dapat menghemat 7 ton plastik murni setiap tahunnya. Serta adanya pelarangan penggunaan bahan tidak ramah lingkungan, meminimalkan dampak negatif setiap proses bisnisnya bagi lingkungan dari proses pemilihan bahan baku, produksi, pengemasan, distribusi hingga ke tangan pelanggan. Kelima prinsip atau nilai yang menjadi dasar dilakukannya segala macam kegiatan kampanye yang ada dan kerja Marketing Communication The Body Shop untuk mengkomunikasikan keunggulan produknya yang tidak pernah dan tidak boleh terlepas dari kelima prinsip tersebut diatas. Saat ini The Body Shop berada di bawah kendali Natura & Co yang merupakan perusahaan kosmetik asal Brasil setelah sebelumnya di bawah kendali oleh L Oreal. Natura berhasil membeli The Body Shop dari seharga L Oreal sekitar 1 miliar euro atau 1,1 miliar dolar As. Kesepakatan tersebut mengubah Natura menjadi pemain global, membeli 3 toko The Body Shop di 66 negara dan. pekerja. L Oreal sendiri telah memiliki merek The Body Shop berusia 4 tahun ini sejak 26. ( )

83 68 Gambar IV Logo The Body Shop, sumber: 2 Sekilas, logo The Body Shop terlihat seperti berada dalam lingkaran. Namun bila diamati lagi, bentuk lingkaran tersebut menyerupai bentuk benih tanaman. Hal ini bisa berkaitan dengan konsep produk The Body Shop yang eco-friendly, dan bersahabat dengan alam. Benih juga merupakan awal mula dari suatu keliharan dan bertumbuh menjadi individu (pohon) yang berguna untuk lingkungan, sehingga dapat diartikan sebagai awal yang baru, dan tidak menimbulkan dampak negatif yang terlalu besar untuk lingkungan. Jenis tulisan yang digunakan oleh The Body Shop adalah Yoga Sans. Tidak banyak unsur dekoratif yang terdapat pada jenis tulisan. Makna yang terpancar dari jenis tulisannya ialah tegas, konsisten, dan serius. Warna yang digunakan oleh logo tersebut adalah darkgreen. Jika dikombinasikan dengan jenis tulisan, warna ini membuat logo terlihat lebih playfull sehingga terasa cocok untuk segala usia. Namun dikarenakan penggunaan warna yang mudah merata ke seluruh bagian logo, The Body Shop dapat mengganti warna logo untuk berbagai keperluan sesuai dengan warna latar

84 69 belakangnya. Sebagai contoh, produk dengan kemasan biru logonya berwarna putih, dan lain sebagainya. B. The Body Shop di Indonesia The Body Shop menggunakan sistem franchise dalam rangka memperluas jaringan usahanya, termasuk di Indonesia. The Body Shop untuk wilayah Indonesia beralamat di Jl. Profesor Dr. Satrio Blok A3 No. 5, Tanggerang. The Body Shop Indonesia pertama kali membuka tokonya di Pondok Indah Mall pada tanggal 12 Desember 1992 dan sampai saat ini terus memperbanyak gerainya di wilayah Indonesia. Berdirinya The Body Shop di Indonesia berawal dari kebiasan berpetualang Toha Azhary (Operation Director The Body Shop Indonesia) dan Suzy Hutomo (CEO The Body Shop Indonesia) untuk benchmarking dan menjajaki peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan. Mereka melihat bahwa The Body Shop sangat menarik dengan produk yang bagus, lengkap, natural dan sangat nyaman untuk dipakai. Selain itu, hal yang paling unik adalah nilai-nilai (values) yang dipegang teguh oleh merek The Body Shop dalam menjalankan usahanya yang diwujudkan melalui kepedulian dan tanggung jawab terhadap perubahan sosial dan lingkungan. Nilai-nilai (values) The Body Shop ini akhirnya dipandang sebagai value added yang sangat signifikan dalam meingkatkan gaya hidup konsumennya. Kesemuanya ini ditambah dengan pengalaman yang menyenangkan selama menjadi konsumen, membuat keduanya yakin bahwa The Body Shop akan diterima dengan baik oleh

85 7 konsumen di Indonesia dan memiliki peluang besar untuk mengembangkannya. Sebesar 95% produk The Body Shop yang dijual di Indonesia didatangkan langsung dari Inggris dan untuk produk skin care dari Jepang. Sedangkan beberapa produk aksesorisnya merupakan produk lokal yang berasal dari pengusaha kecil dan perorangan di Bandung, Salatiga, dan Baduy. Produk The Body Shop dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu Wellbeing, Makeup, Bath and Body, Skin Care, Men s, Home Fragrance, Fragrance, Hair, Accessories, dan Gifts. Produk-produk The Body Shop ini umumnya ditujukan untuk perempuan sehingga sebagian besar konsumen The Body Shop adalah perempuan. Namun ada juga rangkaian produk yang ditujukan untuk konsumen pria sehingga target konsumennya tidak hanya terbatas paada kaum wanita saja. Untuk program komunikasi pemasaran di dalam gerai, The Body Shop menggunakan poster, leaflet, visual merchandising serta penawaran khusus kepada konsumen. Sedangkan untuk komunikasi pemasaran di luar toko, The Body Shop melakukan public relations, iklan layanan masyarakat, dan pengiriman informasi ke pelanggan. The Body Shop sebagai salah satu perusahaan kosmetik paling berpengaruh di dunia selalu berpegang teguh pada filosofi serta misi mereka yang salah satunya adalah berusaha untuk melakukan perubahan sosial yang lebih baik. C. Filosofi dan Misi Perusahaan Menurut Anita bisnis memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang baik. Itulah mengapa misi dari The Body Shop dimulai dengan komitmen mendedikasikan

86 71 bisnis untuk mengejar perubahan sosial dan lingkungan. Kegiatan kampanye sosial dan lingkungan yang dilakukan The Body Shop bukan merupakan lip service namun kegiatan-kegiatan itu telah direalisasikan sejak tahun 1985 bersama dengan organisasi sosial lainnya seperti Greenpeace, Friends of The Earth, Human Right Watch, Amnesty International dan lain-lain. The Body Shop selalu berusaha untuk berbeda dengan perusahaan lain, terutama perusahaan kosmetika. Sejak Anita membuka toko pertamanya pada tahun1976, filosofinya tentang bisnis dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat lokal dan globa telah mengarahkan The Body Shop menjadi bisnis yang berbudaya unik. 1. Filosofi Perusahaan Menentang arus, berjalan berlawanan arah. Tidak memakai iklan mahal, tidak menjanjikan hal-hal muluk. Tidak ada produk yang diujicobakan pada binatang. Hanya minimal packaging dan produk yang memiliki dampak minimal terhadap lingkungan. 2. Misi Perusahaan Tidak hanya itu, The Body Shop mempunyai Mission Statement (misi) yang menjadikannya berbeda dan istimewa bila dibandingkan dengan produk kosmetika lainnya. Misi dari The Body Shop adalah: a. Mendedikasikan bisnis ini bagi perusahaan social dan lingkungan.

87 72 b. Secara kreatif menyeimbangkan kebutuhan financial dan nonfinancial ari para stakeholder yaitu karyawan, pelanggan, pemasok, franchise. c. Memastikan bahwa bisnis ini berkesinambungan secara ekologi: memenuhi kebutuhan saat ini tanpa merugikan kepentingan generasi mendatang. d. Berkontribusi pada masyarakat lokal, nasional dan internasional dengan menjalankan kode etik yang memastikan adanya kepedulian, kejujuran, keadilan, dan saling menghormati. e. Berkampanye bagi kelestarian lingkungan, manusia, hak sipil serta penentangan uji coba binatang dalam industri kosmetika. f. Selalu bekerja untuk mempersempit celah antara prinsip dan praktek dengan memasukkan semangat, kegembiraan dan kepedulian sebagai bagian dari hidup sehari-hari. Sampai saat ini misi tersebut masih terus dijalankan dan direalisasikan seoptimal mungkin D. Struktur Organisasi Perusahaan Berikut adalah struktur organisasi The Body Shop:

88 73 E. Job Description Gambar IV Struktur Organisasi The Body Shop Sumber: Gadau 216 Adapun job description secara umum dari masing-masing posisi yang terdapat dalam struktur organisasi perusahaan The Body Shop:

89 74 1. Chief Business Officer Merupakan orang yang bertanggung jawab untuk menentukan arah dan strategi-strategi perusahaan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. 2. Operations Director Merupakan orang yang memimpin seluruh kegiatan operasional yang berada di dalam perusahaan dengan mengimplementasikan arah dan strategi yang telah ditetapkan oleh Chief Business Officer untuk pencapaian sasaran perusahaan dalam jangka waktu 1-3 tahun ke depan. 3. Organizer & Process Development Manager Merupakan orang yang membantu suatu kelancaran di dalam sistem, proses, prosedur, dan juga pelaksana Operations Director. Selain itu tugasnya juga mengatur keseluruhan jadwal meeting, menyusun dan memperbaiki SOP, mengontrol schedule, dan membuat data pencapaian dalam suatu perencanaan. 4. L&G Support Manager Merupakan Orang yang bertanggung jawab atas peningkatan kualitas SDM karyawan di dalam perusahaan, salah satu caranya adalah dengan memberikan training yang dibutuhkan oleh organisasi tersebut.

90 75 5. Secretary Merupakan orang yang membantu seluruh kegiatan operasional untuk kelancaran di dalam suatu sistem, proses, dan prosedur yang dibutuhkan Operations Director dalam melakukan tugas-tugasnya. 6. General Manager Product Category Merupakan orang yang bertanggung jawab untuk memilih, menentukan, dan mengelola produk-produk yang memiliki kualitas terbaik agar dapat memberikan suatu konstribusi penjualan dan keuntungan bagi perusahaan. 7. Acting Marketing Communication Merupakan orang yang bertanggung jawab untuk membuat suatu strategi, program dan implementasi yang mengkomunikasikan produk-produk, serta juga memberitahukan brand atau merek kepada calon konsumen. 8. S&E Values and Customer Loyalty Manager Merupakan orang yang bertanggung jawab dalam menyusun suatu strategi program dan pelaksanaan dari kegiatan perusahaan dalam menciptakan suatu kepedulian terhadap isu-isu sosial yang sedang berkembang saat ini. Selain itu juga bertanggung jawab dalam pembuatan suatu strategi agar konsumen tersebut tetap loyal kepada perusahaan yang mengeluarkan produk tersebut.

91 76 9. Sales Force Development Manager Merupakan orang yang bertanggung jawab dalam pengadaan dan pengembangan suatu armada penjualan atau persediaan yang terdapat di tiaptiap toko tersebut dengan melakukan pelatihan dan pengembangan, evaluasi kompetensi perusahaan, sampai melakukan promosi untuk tiap-tiap produk. 1. Manager Retail Operations Merupakan orang yang bertanggung jawab dalam pengolahan serta perrencanaan atas seluruh kegiatan operasional yang terdapat pada toko-toko tersebut. Dengan melakukan suatu persiapan keperluan yang dibutuhkan oleh toko tersebut, sumber daya manusianya, pelaksanaan pelayanan kepada konsumen, pengolahan hasil penjualan yang didapat, juga pengelolaanpengelolaan pelaksanaan produk atau barang yang ada. F. Kondisi Bisnis Perusahaan Untuk mengenal lebih jauh kondisi persaingan industri kosmetik dan kecantikan di Indonesia, khususnya The Body Shop Indonesia, maka Peneliti akan menyajikannya dalam bentuk analisis lima kekurangan Porter. Analisis lima kekuatan Porter atau Porter s five forces analysis adalah suatu kerangka kerja untuk analisis industri dan pengembangan strategi bisnis yang dikembangkan oleh Michael Porter dari Sekolah Bisnis Universitas Harvard pada tahun Menurutnya ada lima kekuatan yang menentukan intensitas persaingan dalam suatu industri, yaitu (1)

92 77 anaman produk pengganti, (2) ancaman pesaing, (3) ancaman pendatang baru, (4) daya tawar pemasok, serta (5) daya tawar konsumen. Adapun analisis lima kekuatan Portert untuk perusahaan The Body Shop akan dijelaskan dibawah ini berserta dengan bagannya: Gambar IV Kekuatan Yang Mempengaruhi Persaingan Industri (Strategi Bersaing Porter 27 dalam Gadau 216) 1. Ancaman Pesaing Ancaman pesaing merupakan kekuatan yang paling hebat dari lima kekuatan kompetitif. Ancaman dari pesaing ini akan menyebabkan sering terjadinya perang harga, perang iklan, dan pengenalan produk baru. Strategi yang dijalankan oleh sebuah perusahaan dapat berhasil jika perusahaan itu dapat menghasilkan keunggulan kompetitif yang lebih baik daripada strategi yang dijalankan oleh perusahaan saingannya. Perubahan strategi suatu perusahaan bisa

93 78 ditanggapi oleh pesaingnya dengan langkah balasan, seperti penurunan harga, peningkatan kualitas, penambahan fitur, penyediaan layanan, perpanjangan garansi, dan peluncuran iklan secara intensif. Adapun pesaing utama The Body Shop merupakan perusahaan di bidang toiletries dan kosmetik, yaitu The Face Shop dan L Occitane. Perusahaanperusahaan ini merupakan perusahaan multinasional yang menawarkan produk yang terbuat dari bahan-bahan alami dan menggunakan kemasan yang dapat didaur ulang seperti The Body Shop. Perusahaan-perusahaan tersebut juga menjunjung tinggi nilai-nilai penting seperti meminimalisasi kerusakan lingkungan, tidak menguji coba produknya pada binatang, dan terus menerapkan tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat dan lingkungan. Persamaanpersamaan ini meskipun tujuannya sangat baik juga menjadi sebuah ancaman bagi The Body Shop karena nilai-nilai tersebut merupakan kunci yang selalu dipegang teguh oleh The Body Shop dan telah menjadi trademark perusahaan selama bertahun-tahun. Namun, bedanya adalah The Body Shop, selain mensosialisasikan nilai-nilai tersebut The Body Shop juga meluncurkan kampanye serta petisi untuk mendukung berbagai isu permasalahan di dunia. Mereka mengikutsertakan selebriti, konsumen, serta masyarakat luas untuk ikut menyuarakan permasalahan yang dibahas. Hal ini yang sangat membedakan The Body Shop dengan perusahaan kosmetik lainnya.

94 79 2. Ancaman Pendatang Baru Pasar produk kosmetik dan kecantikan membuka celah yang besar kepada para pendatang baru untuk memasuki pasarnya. Hal ini dikarenakan di Indonesia peluang dan permintaan terhadap produk kosmetik dan kecantikan cukup tinggi. The Body Shop perlu mewaspadai fakta ini karena banyak perusahaan lain yang menawarkan harga yang lebih murah atau setara dengan The Body Shop yang dapat menyebabkan berpindahnya konsumen ke merek lain. Adapun ancaman pendatang baru dalam pasar produk kosmetik antara lain Nature Republic dan Innisfree yang berasal dari Korea Selatan. Aloe Soothing Gel adalah salah satu produk best seller Nature Republic yang sedang diminati oleh masyarakat Indonesia. Nature Republic menawarkan harga yang terjangkau untuk produknya Aloe Soothing Gel yaitu Rp 98.. Nature Republic baru membuka gerai pertamanya pada tahun 2 di Indonesia, yang berlokasi di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat. Sedangkan produk best seller Innisfree adalah Green Tea Seed Serum. Innisfree membuka gerai pertamanya pada tahun 217 di Indonesia, yang berlokasi di Mall Central Park Jakarta dan Senayan City. Kedua brand ini juga menawarkan produk kecantikan yang terinspirasi oleh, dan dibuat dari bahan-bahan alami. Selain itu, Innisfree juga melakukan kampanye Green life dengan gerakan sederhana sapu tangan sebagai ganti tisu. The Body Shop perlu mewaspadai fakta ini karena beberapa perusahaan lain yang menawarkan

95 8 harga yang lebih murah yang dapat menyebabkan berpindahnya konsumen ke merek lain. 3. Ancaman Produk Pengganti Semua perusahaan dalam suatu industri bersaing dengan industri-industri yang menghasilkan produk pengganti. Produk pengganti membatasi laba potensial dari industri dengan menetapkan harga maksimum yang dapat diberikan oleh perusahaan dalam industri. Semakin menarik alternatif harga yang ditawarkan oleh produk pengganti, maka semakin ketat pembatasan laba industri. The Body Shop sebagai suatu perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik dan kecantikan memiliki banyak persaingan dari produk-produk pengganti, seperti produk kosmetik dan perawatan tubuh merek lokal. Salah satu produk pengganti merek lokal adalah Mustika Ratu. Mustika Ratu merupakan produk lokal yang menawarkan produk kecantikan dengan ramuan tradisional dari bahan alami yang aman dikonsumsi dan dengan harga terjangkau. 4. Daya Tawar Pemasok Dengan peluncuran Community Trade pada tahun 1987 oleh The Body Shop, perusahaan, customer, maupun supplier memperoleh banyak keuntungan. Dengan perdagangan yang adil, The Body Shop menawarkan kepada para supplier penghasilan yang stabil dan berjangka panjang. Melaluinya, The Body Shop dapat memperoleh bahan terbaik dari alam yang dikelola dan dipanen oleh petani lokal dengan keahlian tinggi. Dalam prosesnya, Community Trade

96 81 memungkinkan para supplier untuk memperoleh masa depan yang lebih baik bagi mereka sendiri maupun komunitasnya. The Body Shop meminta seluruh supplier mereka untuk menandatangani Code of Conduct yang mendukung program Ethical Trade, yang dikembangkan untuk memperbaiki kondisi bagi seluruh pekerja dalam rantau pasokan dan menghargai hak asasi mereka. Kesepakatan ini diberlakukan dan dimonitor secara ketat untuk menjamin bahwa standar yang terkait dengan pekerja anak, diskriminasi, gaji, jam kerja, serta kondisi kerja karyawan telah dipenuhi. 5. Daya Tawar Konsumen Pembeli bersaing dengan cara memaksa harga turun, tawar-menawar terhadap mutu yang lebih tinggi dan pelayanan yang lebih baik, serta berperan sebagai pesaing. Konsumen The Body Shop memiliki kecenderungan untuk membeli produk hanya ketika ada program penawaran khusus, misalnya program diskon, program buy two get one free, program produk yang dijual dalam paket, dan sebagainya.

97 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh kemasan The Body Shop terhadap minat beli, (2) pengaruh citra merek The Body Shop terhadap minat beli, (3) pengaruh kemasan dan citra merek The Body Shop terhadap minat beli. Subjek dalam penelitian ini yaitu konsumen The Body Shop yang berdomisili di Pulau Jawa yang berjumlah. A. Pengujian Instrumen 1. Validitas Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Data dikatakan valid apabila hasil uji rhitung > rtabel. Berdasarkan tabel V dapat diketahui bahwa seluruh butir pernyataan tentang kemasan (desain grafis, struktur desain, informasi produk), citra merek (asosiasi merek, dukungan asosiasi, kekuatan asosiasi merek, keunikan asosiasi merek) dan minat beli (minat transaksional, minat referensial, minat preferensial, minat eksploratif) semua item pernyataan mempunyai rhitung > rtabel sehingga seluruh butir pernyataan dikatakan valid. 82

98 83 Tabel V Rangkuman Tes Validitas Kemasan, Citra Merek dan Minat Beli Variabel Butir R(hitung) R(tabel) Status Kemasan Desain Grafis ,659,563,591,712,148,148,148,148 VALID VALID VALID VALID Struktur Desain 1 2 3,631,629,554,148,148,148 VALID VALID VALID Citra Merek Informasi Produk 1 2,669,628 Asosiasi Merek Dukungan Asosiasi 1 2,355,36,433,587,419,525,3,389,321,656,729,148,148,148,148,148,148,148,148,148,148,148,148,148 VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID Kekuatan Asosiasi Merek Keunikan Asosiasi Merek Minat Beli Sumber: Data Primer 2,679,57,483,148,148,148 VALID VALID VALID 1,599,148 VALID,296,148 VALID,249,148 VALID,31,148 VALID,453*,148 VALID

99 84 2. Reliabilitas Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis Cronbach Alpha. Suatu kuesioner dapat dikatakan reliabel apabila mempunyai alpha >,6. Hasil uji reliabilitas disajikan dalam tabel V. Dari tabel V. dapat diihat bahwa seluruh butir pernyataan tentang kemasan, citra merek dan minat beli mempunyai nilai alpha >,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa alat ukur tersebut dinyatakan reliabel. Tabel V Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Variabel Alpha Status Kemasan,754 RELIABEL Citra Merek,754 RELIABEL Minat Beli,88 RELIABEL Sumber: Data Primer 2 B. Analisis Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini meliputi: analisis karakteristik responden, analisis statistik deskriptif yang terdiri dari: nilai maksimal, minimal, mean, dan standar deviasi, serta kategorisasi jawaban responden. 1) Karakteristik Responden Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi: domisili, jenis kelamin, usia dan pendapatan perbulan responden. Deskripsi karakteritik responden disajikan sebagai berikut:

100 85 a) Domisili Deskripsi karakteristik responden berdasarkan domisili disajikan pada tabel di bawah ini: Tabel V Karakteristik Responden Berdasarkan Domisili Domisili Frekuensi Persentase (%) Provinsi Banten 16 8,9% Provinsi DKI Jakarta 16 8,9% Provinsi Jawa Barat 15 8,3% Provinsi DI Yogyakarta 96 53,3% Provinsi Jawa Tengah 17 9,4% Provinsi Jawa Timur 2 11,1% Jumlah 1, Sumber:Data primer 2 Tabel V menunjukkan bahwa responden yang berdomisili di Provinsi Banten sebanyak 16 orang (8,9%), responden yang berdomisili di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 16 orang (8,9%), responden yang berdomisili di Provinsi Jawa Barat sebanyak 15 orang (8,3%), responden yang berdomisili di Provinsi DI Yogyakarta sebanyak 96 orang (53,3%), responden yang berdomisili di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 17 orang (9,4%), responden yang berdomisili di Provinsi Jawa Timur sebanyak 2 orang (11,1%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berdomisili di Provinsi DI Yogyakarta yakni sebanyak 96 orang (53,3%). b) Jenis Kelamin Deskripsi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin disajikan pada tabel di bawah ini:

101 86 Tabel V Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Pria 39 21,7% Wanita ,3% Jumlah 1, Sumber: Data Primer 2 Tabel V menunjukkan bahwa responden dengan jenis kelamin Pria sebanyak 39 orang (21,7%) dan responden dengan jenis kelamin wanita sebanyak 141 orang (78,3%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden dengan jenis kelamin wanita yakni sebanyak 141 orang (78,3%). c) Usia Deskripsi karakteristik responden berdasarkan usia disajikan pada tabel berikut ini: Tabel V.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Persentase (%) tahun 162 9,% tahun 14 7,8% tahun 3 1,7% tahun 1,6% tahun Jumlah 1, Sumber: Data primer 2 Tabel V.5 menunjukkan bahwa responden yang berusia antara tahun yakni sebanyak 162 orang (9,%), responden yang berusia antara tahun yakni sebanyak 14 orang (7,8%), responden yang berusia antara tahun yakni sebanyak 3 orang (1,7%), responden yang berusia antara tahun sebanyak 1 orang (,6%), dan responden yang berusia tahun

102 87 tidak ada yang menggunakan produk The Body Shop. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berusia tahun yakni sebanyak 162 orang (9,%). d) Pendapatan Perbulan Deskripsi karakteristik responden berdasarkan penghasilan perbulan disajikan pada tabel berikut ini: Tabel V.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Perbulan Penghasilan Perbulan Frekuensi Persentase (%) >Rp ,% Rp Rp ,2% Rp Rp ,1% < Rp ,7% Jumlah 1, Sumber:Data primer 2 Tabel V.6 menunujukkan bahwa responden yang penghasilan perbulan >Rp 3.5. yakni sebanyak 27 orang (15,%), responden yang penghasilan perbulan Rp Rp 3.5. yakni sebanyak 22 orang (12,2%), responden yang penghasilan perbulan Rp Rp 2.5. sebanyak 56 orang (31,1%) dan responden yang penghasilan perbulan <Rp 1.5. sebanyak 75 orang (41,7%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden yaitu dengan penghasilan perbulan <Rp 1.5. sebanyak 75 orang (41,7%). 2) Deskripsi Kategori Indikator dan Variabel Deskripsi kategori indikator dan variabel menunjukkan persepsi konsumen terhadap kemasan, citra merek, dan minat beli konsumen The Body

103 88 Shop di Pulau Jawa. Data hasil penelitian kemudian dikategorikan ke dalam lima kelompok yaitu sangat rendah (skor variabel 1, s/d 1,79), rendah (skor variabel 1,8 s/d 2,59), sedang (skor variabel 2,6 s/d 3,39), tinggi (skor variabel 3,4 s/d 4,19) dan sangat tinggi (skor variabel 4,2 s/d 5,). Pengkategorikan tersebut didasarkan pada nilai rata-rata (mean) pada masing-masing variabel penelitian. Metode pengujian rata-rata skor dilakukan dengan menggunakan bantuan MS.Excel. Nilai rata-rata (mean) jawaban responden mengenai tiga variabel dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel V.7 Nilai rata-rata Persepsi Konsumen Terhadap Indikator dan Variabel Variabel Total Mean Indikator Nilai rata-rata indikator Kemasan 3,94 1 4,12 2 3,6 3 3,7 4 3,9 5 4,1 6 3,8 7 3,9 8 4,1 9 4,3 Citra Merek 3, , ,7 14 3,5 15 3,5 16 3,9 17 3,7 3,9 19 3, ,9 22 3,6 23 3,8 24 3,2 Minat Beli 3,5 25 3,5

104 89 Sumber: Data olah kuesioner, ,6 27 3, Berdasarkan tabel V.7 diperoleh nilai rata-rata (mean) tiga variabel yaitu kemasan, citra merek dan minat beli. Dari hasil tersebut diketahui bahwa dari responden, nilai rata-rata indikator dan variabel kemasan 3,95; citra merek 3,74; dan minat beli 3,58 menunjukkan bahwa nilai rata-rata keseluruhan variabel termasuk ke dalam interval skor 3,4 s/d 4,19 yang berarti bahwa pengaruh kemasan dan citra merek terhadap variabel minat beli adalah tinggi. C. Uji Asumsi Klasik Analisis Data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda. Sebelum melakukan analisis data untuk mencari pengaruh antar variabel yang dipakai dalam penelitian, dilakukan uji asumsi yaitu uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas. Pelaksanaan uji prasyarat dilakukan dengan SPSS 22 for Windows. 1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data variabel penelitian berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas menggunakan teknik analisis Kolmogorov-Smirnov dan untuk perhitungannya menggunakan program SPSS 22 for Windows. Hasil uji normalitas untuk variabel penelitian disajikan berikut ini.

105 9 Tabel V.8 Hasil Uji Normalitas Unstandardiz ed Residual N Normal Parameters Mean, Std. Deviation 2,16255 Most Extreme Diff Absolute,45 Positive,35 Negative -45 Tesy Statistic,45 Asymp. Sig. (2-tailed),2 Sumber:Data output SPSS 22 2 Hasil uji normalitas pada tabel V dapat diketahui bahwa semua variabel penelitian mempunyai nilai signifikansi lebih besar dari,5 (sig>,5) yaitu sebesar,2 sehingga dapat disimpulkan bahwa data penelitian berdistribusi normal. 2. Uji Multikolinieritas Uji multikolineritas dilakukan untuk mengetahui besarnya interkorelasi antar variabel bebas dalam penelitian ini. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat multikolinieritas dapat dilihat pada nilai tolerance dan VIF. Apabila nilai toleraansi diatas,1 dan nilai VIF dibawah 1 maka tidak terjadi multikolinieritas. Hasil uji multikolinieritas untuk model regresi pada penelitian ini disajikan pada tabel dibawah ini. Tabel V.9 Hasil Uji Multikolinieritas Dimensi Tolerance VIF Kesimpulan Kemasan,57 1,755 Tidak terjadi multikolinearitas Citra Merek,57 1,755 Tidak terjadi multikolinearitas Sumber:Data primer 2

106 91 Dari tabel V.9 terlihat bahwa semua variabel mempunyai nilai toleransi diatas,1 dan nilai VIF di bawah 1, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas. 3. Uji Heteroskedastisitas Pengujian heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual atau pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas dan untuk mengetahui adanya heteroskedastisitas dengan menggunakan uji Glejser. Jika variabel independen tidak signifikan secara statistik dan tidak mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut ini adalah hasil uji heteroskedastisitas terhadap model regresi pada penelitian ini Tabel V Hasil Uji Heteroskedastisitas. Dimensi Sig. Kesimpulan Kemasan,981 Tidak terjadi heteroskedastisitas Citra Merek,653 Tidak terjadi heteroskedastisitas Sumber:Data primer 2 Tabel V menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai signifikansi lebih besar dari,5 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas. D. Analisis Regresi Berganda Analisis hasil penelitian mengenai pengaruh kemasan dan citra merek The Body Shop terhadap minat beli studi kasus pada The Body Shop di Pulau Jawa dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis

107 92 kuantitatif digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dengan menggunakan model analisis regresi linear berganda, sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah pembuktian analisis kuantitatif. Pembuktian ini dimaksudkan untuk menguji variasi suatu model regresi yang digunakan dalam menerangkan pengaruh antara satu atau beberapa variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) dengan cara menguji kemaknaan dari koefisien regresinya. Adapun hasil olahan data dengan menggunakan program SPSS 22 (Statistical Package for Social Science 22) dapat dirangkum melalui tabel berikut: Tabel V1 Hasil Perhitungan Regresi Berganda Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (constant) -2,776 1,8-1,527,129 Kemasan,39,37,57 1,53,294 Citra,283,21,724 13,457, Sumber: Data output SPSS 22 2 Dari tabel V4, dapat diketahui persamaan regresi linear berganda sebagai berikut: Y = -2,776 +,39X1 +,283X2 Keterangan: Y = Minat Beli

108 93 X1 = Kemasan X2 = Citra Merek Model persamaan regressi yang dapat dituliskan dari hasil tersebut dalam bentuk persamaan regresi standardized adalah sebagai berikut: 1. Koefisien konstanta sebesar -2,776 menunjukkan bahwa tanpa adanya faktor variabel kemasan dan citra merek, minat beli tidak terjadi. 2. Koefisien regresi (β) X1 sebesar,39 memberikan arti bahwa kemasan (X1) berpengaruh positif terhadap minat belli konsumen untuk menggunakan produk The Body Shop (Y). 3. Koefisien regresi (β) X2 sebesar,283 memberikan arti bahwa citra merek (X2) berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen untuk menggunakan produk The Body Shop (Y). Berdasarkan persamaan dapat diketahui bahwa variabel bebas yang paling berpengaruh adalah variabel citra perusahaan dengan koefisien,724 dan yang berpengaruh paling rendah adalah variabel kemasan dengan koefisien,57. E. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian hipotesis ini terdiri dari uji hipotesis secara parsial dan uji hipotesis secara simultan. Adapun hasil dari pengujian tersebut juga akan dijelaskan.

109 94 1. Uji F atau Anova Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependennya. Hasil perhitungan uji F ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel V2 Hasil Perhitungan Uji F Model Sum of Square df Mean Square F Sig. 1 Regression 878, ,19 9,63, Residual 799, ,845 Total 1677, Sumber:Data Output SPSS 22, 2 Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai signifikansi (sig), jauh lebih kecil dari,5 maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi minat beli konsumen atau dapat dikatakan bahwa kemasan dan citra merek secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat beli konsumen. 2. Uji t Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing atau secara parsial variabel independen (kemasan dan citra merek) terhadap variabel dependen (minat beli). Sementara itu secara parsial pengaruh dari kedua variabel independen tersebut terhadap minat beli konsumen ditunjukkan pada tabel berikut:

110 95 Tabel V3 Hasil Perhitungan Uji t Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (constant) -2,776 1,8-1,527,129 Kemasan,39,37,57 1,53,294 Citra,283,21,724 13,457, Sumber:Output Spss 22, 2 Pengaruh masing-masing variabel kemasan dan citra merek terhadap minat beli konsumen dapat dilihat dari arah tanda dan tingkat signifikansi (probabilitas). a) Pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen Hasil pengujian parsial (uji t) antara variabel kemasan terhadap variabel minat beli konsumen menunjukkan nilai signifikansi sebesar,294 yang lebih besar dari,5. Hal ini menunjukkan bahwa kemasan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli. b) Pengaruh citra merek terhadap minat beli konsumen Hasil pengujian parsial (uji t) antara variabel citra merek terhadap variabel minat beli konsumen menunjukkan nilai signifikansi sebesar, yang lebih kecil dari,5. Hal ini menunjukkan bahwa citra merek berpengaruh signifikan terhadap minat beli. Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa variabel kemasan (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel minat beli (Y) dan variabel citra merek (X2) berpengaruh signifikan terhadap variabel minat beli (Y).

111 Koefisien Determinasi R Koefisien determinasi ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel terikatnya. Nilai koefisien determinasi untuk variabel bebas lebih dari 2 digunakan R Square, sebagai berikut: Tabel V4 Koefisien Determinasi Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the estimate 1,724,523,5 2,21 Sumber:Data Output SPSS 22, 2 Dari hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS 22 for Windows dapat diketahui bahwa koefisien korelasi (R) yang diperoleh sebesar,523. Hal ini berarti 52,3% minat beli dapat dijelaskan oleh variabel kemasan dan citra merek, sedangkan sisanya yaitu 47,7% minat beli konsumen dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. F. Pembahasan Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana kemasan dan citra merek berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa serta bagaimana kemasan dan citra merek secara bersama-sama dapat berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa. Berikut pembahasannya:

112 97 1. Analisis Regresi Berganda Berdasarkan perhitungan analisis regresi berganda antara kemasan dan citra merek terhadap minat beli diperoleh persamaan regresi Y = -2,776 +,39X1 +,283X2. Dari persamaan tersebut maka dapat diartikan bahwa tanpa adanya faktor variabel kemasan dan citra merek, minat beli tidak akan terjadi. Sehingga perusahaaan sebaiknya lebih memperhatikan kemasan dan citra merek agar dapat memunculkan minat beli konsumen. 2. Uji F atau Anova Berdasarkan hasil uji hipotesis f diatas, menunjukkan bahwa kedua dimensi yaitu kemasan dan citra merek secara bersama-sama dapat memunculkan minat beli konsumen. Ditunjukkan dengan nilai signifikansi (sig), yang lebih kecil dari,5 yang artinya H ditolak dan Ha diterima. Hal ini juga didukung dengan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebesar 78,3% adalah wanita, dengan rentang usia mayoritas tahun sebesar 9,%. Sehingga membuat golongan responden tersebut memperhatikan kualitas produk The Body Shop yang menarik perhatian mereka didukung dengan kemasan produk yang beragam bentuk sehingga dapat memunculkan keinginan mereka untuk membeli produk The Body Shop. 3. Uji t Berdasarkan hasil uji t diatas, menunjukkan nilai probabilitas sebesar,294 yang lebih besar dari,5 hal ini menunjukkan bahwa kemasan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan yang terdiri atas indikator desain grafis,

113 98 struktur desain dan informasi produk saja tidak efektif untuk dapat mempengaruhi konsumen agar memunculkan minat beli mereka. Hal ini dapat terjadi karena seorang konsumen yang akan membeli produk tidak hanya memperhatikan faktor kemasan saja yang terpenting, melainkan dengan mempertimbangkan faktor lain selain kemasan. Selain itu dilihat dari karakteristik responden berdasarkan penghasilan perbulan, mayoritas responden berpengahasilan perbulan < Rp Sehingga dapat dikatakan bahwa mayoritas responden yang berpenghasilan perbulan < Rp 1.5. cenderung tidak memperhatikan kemasan untuk dapat memunculkan minat beli. Karena kemasan hanya berupa bentuk fisik produk yang tidak memiliki manfaat berlebih untuk dapat membangkitkan minat beli konsumen. Untuk dapat memunculkan minat beli, golongan konsumen tersebut akan memperhatikan faktor lain selain kemasan. Yaitu kualitas produk yang aman untuk dikonsumsi, manfaat yang akan didapatkan bila menggunakan produk The Body Shop dan review produk yang pada saat ini dilakukan oleh beberapa beauty vlogger. Kemasan The Body Shop hanyalah nilai tambah selain faktor lain yang dipertimbangkan konsumen agar dapat memunculkan minat beli mereka. Hasil pengujian parsial (uji t) antara variabel citra merek terhadap variabel minat beli menunjukkan nilai probabilitas sebesar, yang lebih kecil dari,5 hal ini menunjukkan bahwa citra merek berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa citra merek terdiri dari asosiasi merek, dukungan asosiasi, kekuatan asosiasi merek,dan keunikan asosiasi merek efektif dapat

114 99 mempengaruhi konsumen untuk memunculkan minat beli konsumen terhadap produk The Body Shop.

115 BAB VI KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN PENELITIAN A. Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengamati pengaruh kemasan The Body Shop di Pulau Jawa terhadap minat beli konsumen; untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh citra merek The Body Shop di Pulau Jawa terhadap minat beli konsumen; untuk mengetahui dan mengamati pengaruh kemasan dan citra merek The Body Shop di Pulau Jawa secara bersama-sama terhadap minat beli konsumen. Adapun hasil yang didapatkan setelah menyelesaikan seluruh pengujian adalah sebagai berikut: 1. Kemasan dan citra merek secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa. 2. Kemasan tidak berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa. 3. Citra merek berpengaruh terhadap minat beli konsumen The Body Shop di Pulau Jawa. B. Saran Berdasarkan hasil analisis pada bab V yang dilakukan oleh peneliti, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti antara lain: 1

116 11 1. Bagi Perusahaan Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti pada bab sebelumnya tidak terbukti bahwa kemasan The Body Shop dapat mempengaruhi minat beli konsumen; terbukti bahwa citra merek The Body Shop dapat mempengaruhi minat beli konsumen; dan kemasan dan citra merek secara bersama-sama dapat mempengaruhi minat beli konsumen. Sehingga perusahaan diharapkan mengembangkan indikator citra merek The Body Shop. Dari beberapa indikator citra merek, salah satu indikator perlu diperhatikan dan lebih dikembangkan agar konsumen lebih mengetahui bahwa The Body Shop memiliki citra merek yang unik. Perusahaan harus lebih mengembangkan keunikkan dari The Body Shop agar merek pesaing tidak dapat memuaskan keinginan konsumen dan mengakibatkan konsumen menjadi loyal terhadap produk The Body Shop. 2. Bagi peneliti selanjutnya Para peneliti selanjutnya dapat memperhatikan dan mengembangkan faktorfaktor lainnya serta variabel lain seperti pengaruh beauty vlogger terhadap minat beli The Body Shop agar memperoleh hasil yang bervariatif dan dapat lebih luas lagi. Selain itu peneliti selanjutnya dapat memperbanyak bacaan teori agar pemikiran yang dihasilkan lebih luas sehingga penelitian ini tidak berhenti hanya sampai disini saja.

117 12 C. Keterbatasan Penelitian Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin, namun penulis sadar akan beberapa keterbatasan saat melakukan penelitian antara lain: 1. Persebaran kuesioner online yang tidak merata di Pulau Jawa sehingga kuesioner dominan diisi oleh responden yang berdomisili di Provinsi DI Yogyakarta. 2. Dalam mengolah data yang telah diperoleh membutuhkan waktu yang lama karena membutuhkan ketelitian dalam perhitungan data kuesioner yang diolah.

118 13 DAFTAR PUSTAKA Abdulloh, Iwan Faruk Pengaruh Citra Merek, Kualitas Produk, Harga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Beat. Vol 5, no.8 Afifi, Sameer12. Analisis Pengaruh Self Image Congruency, Healthy Lifestyle, dan Appearance Consciousness, Terhadap Behavioral Intention melalui Attitude Towards Brand. (Studi Pada Konsumen Avene Skin Care). A, Katie, A Haris Persepsi Brand Image (Citra Merek) Terhadap Keputusan Pembelian Tas Merek Eiger: Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam. Ansofino,dkk Buku Ajar Ekonometrika. Yogyakarta: Depublish. Arikunto. 25. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Sagung Seto. A, Shimp, Terence. 2. Periklanan Promosi: Aspek Tambahan Komunikasi. Pemasaran Terpadu, Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga. Basu Swasta, Dharmesta dan Irawan Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta. Penerbit Liberty. Bilson Simamora. 24. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Buchari, Alma Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung. Alfabeta. Cahyadi, Dian Studi Perancangan Alat Cetak Pembuat Kemasan Themoplastic Bagi IKM dengan Metode Vacum Forming. Cahyorini & Rustian The Effect of Packaging Design on Impulsive Buying. Journal of Administrative Science & Organization, Cenadi, Christine Suharto. Peranan Desain Kemasan Dalam Dunia Pemasaran, Vol (Januari), No: 92-13, Dosen Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra. Christy, Priscilla & J.Ellyawati Pengaruh Desain Kemasan (Packaging) Pada Impulsive Buying. Jurnal Ekonomi Manajemen, p1-14. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Daryanto Manajemen Pemasaran: Sari kuliah, Cetakan 1. Satu Nusa: Bandung. Durianto. 24. Kekuatan Merek Dalam Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit Andi.

119 14 Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra Service Quality and Satisfaction (ed 3). Yogyakarta. Penerbit Andi. Gadau, Matias16. Pengaruh Citra Merek (Brand Image) Terhadap Loyalitas konsumen. (Studi Kasus Pada Produk Body Mist The Body Shop di Ambarukmo Plaza), Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma. Ghozali, Imam Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS (Edisi ke 7). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Ghozali, Imam. 26. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS (Edisi ke 4). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Indonesia Finance Today13.Kemenprin: Indonesia Lahan Subur Industri Kosmetik (kemenperin.go.id) Intana, Lila13. Tren Konsumen The Body Shop di Indonesia Bergeser Islami, Zotpan Aditia15. Hubungan Kualitas Produk dan Penetapan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Telur Asin Mr.Zo Corporat di Bandung Kotler, Philip dan Gary Amstrong. 26. Prinsip-prinsip Pemasaran. Edisi 12. Jilid 1. Terjemahan: Bob Sabran M.M. Jakarta: Erlangga Kotler, Philip and Gary Armstrong Prinsip-prinsip Pemasaran, Edisi 13 Jilid 1. Jakarta: Erlangga Kotler, Philip and Kevin Lane Keller11. Manajemen Pemasaran,Edisi 13 Jilid 1 dan 2. Ahli Bahasa:Bab Sabran.Erlangga, Jakarta. Kristyatmoko, Yulius, Watis dan Andjarwati, Anik Lestari Pengaruh Persepsi Kualitas dan Harga Terhadap Minat Beli Tablet Samsung Galaxy Tab. Jurnal Ilmu Manajemen, Vol. No Mei 213, pp Klimchuck, M.S & Krasovec S.A. 27. Desain Kemasan Perencanaan Merek Produk yang Berhasil Mulai dari Konsep sampai Penjualan (Bob Sabran, Penerjemah). Jakarta: Erlangga. Lucas, D.B., & Britt, S.H Measuring Advertising Effectiveness. New York: McGraw-Hill. Muharam, Ashari Satrio11. Analisis Pengaruh Desain Kemasan Produk dan Daya Tarik Iklan Terhadap Brand Awareness dan Dampaknya Pada Minat Beli Konsumen. (Studi Pada Konsumen Susu Kental Manis Frisian Flag di Kota Semarang), Fakultas Ekonomi,Universitas Diponegoro, Semarang. Mustikiwa, Munyaradzi & John Marumbwa The Impact of Aesthetics Package Design Elements on Consumer Purchase Intention: A Case of

120 15 Locally Produced Diary Products in Southern Zimbabwe. IOSR Journal of Bussiness and Management, Volume 8, Issue 5 (Mar-Apr 213), Pp Naibaho, Agnes dan Ai Lili Yuliati17. Pengaruh Brand Personality Terhadap Minat Beli Produk Body Mist. (Studi pada The Body Shop di Trans Studio Mall Bandung), Vol1.(Juni).no: Nilson, Johan & Ostrom Tobias. 25. Packaging as a Brand Communication Vehicle. Thesis of Lulea University of Technology. Nurdiansyah, A Analisis Brand Equity (Ekuitas Merek) Sepeda Merek Polygon (Survei Pada Masyarakat Kota Malang). Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Malang. Priyatno, Dwi Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 2. Edisi Kesatu. Yogyakarta. Andi. Rangkuti, Freddy. 24. The Power of Brands. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sangadji, Etta Mamang & Sophia13.Perilaku Konsumen Pendekatan Praktis Disertai: Himpunan Jurnal Penelitian. Yogyakarta: CV Andi Offset. Sepriansyah, Wahyu Eki Studi Membangun Citra Merek Dalam Upaya Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan (Studi Kasus Pada Indihome PT.Telkom Indonesia Tbk. Silayoi & Speece. 24. Packaging and Purchase Decisions: An Exploratory Study on The Impact of Inbolvement Level and Time Pressure. British Food Jornal, Subagyo, Hamzah Denny, M.M. 21. Manajemen Sumber Daya Manusia, Untuk Perkuliahan Seminar Manajemen Sumber Daya Manusia. Fakultas Ekonomi Universitas Narotama. Surabaya. Siburian, AEY Pengaruh Kualitas Pelayanan, Fasilitas, dan Variasi Produk (Restoran) Terhadap Minat Beli Ulang Pelanggan (Studi Kasus di A to Z Bar Wine & Brasserie Semarang). Sudarwanto, Tri & Shinda Rosandi Pengaruh Citra Merek dan Desain Kemasan Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Produk Susu Ultra (Studi Pada Cafetaria Srikandi Fakultas Ekonomi Universitas Negri Surabaya). Sugiyono. 28. Metode Penelitian Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 21. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&d. Bandung: Alfabeta. Suhartanto, Dwi Metode Riset Pemasaran. Alfabeta cv. Sulistyari, Ikanita Novirina Analisis Pengaruh Citra Merek, Kualitas Produk, dan Harga Terhadap Minat Beli Produk Oriflame. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang.

121 16 Sumarwan, Ujang Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran. Bogor. Penerbit Ghalia Indonesia. Sutisna. 22. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Wicaksono, Satria Adhi 15. Pengaruh Merek dan Desain Terhadap Minat Beli Konsumen. (Studi Kasus Konsumen Sepada Motor Honda CS One pada Dealer 54 Motor Pekalongan), Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Univeristas Negri Semarang. Wijaya, Priscilla Tipografi dalam desain Komunikasi Visual. Winda, Mizwar.P17. Studi Pemasaran Kosmetik Aji, Wahyu16,Kemenprin: Potensi Industri Kosmetik di Indonesia Sangat Menjanjikan. yang diakses pada tanggal 23 Oktober 217 A, Shimp, Terence. 23. Periklanan dan Promosi. Edisi 5. Jilid 1. yang diakses pada 22 Januari 2 Diahnisa, Tiffany16. Green Business ala The Body Shop Indonesia. yang diakses pada tanggal 23 Oktober yang diakses pada tanggal 23 Oktober yang diakses pada tanggal 23 Oktober 217 http//:vionajessica.wordpress.com11 yang diakses pada tanggal 29 Oktober 217

122 17 LAMPIRAN 1 KUESIONER

123 KUESIONER PENELITIAN Responden yang terhormat: Perkenalkan saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Program Studi Manajemen yang sedang mengadakan penelitian tentang Analisis Pengaruh Kemasan dan Citra Merek Terhadap Minat Beli Konsumen (Studi Kasus Pada The Body Shop di Pulau Jawa). Kali ini, saya selaku peneliti meminta kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk membantu penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Berikut kuesioner yang saya ajukan, mohon kepada Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk memberikan jawaban yang sejujur-jujurnya dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Adapun jawaban yang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari berikan tidak berpengaruh pada diri Bapak/Ibu/Saudara/Saudari karena penelitian ini dilakukan

124 19 semata-mata untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Atas kesediaannya saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, Ayuthia Putri Maharani A. Data responden Sebelum menjawab pertanyaan dalam kuisioner ini, mohon Saudara mengisi data berikut terlebih dahulu. (Jawaban yang Saudara berikan akan diperlakukan secara rahasia). Lingkari atau beri tanda silang (X) untuk jawaban pilihan Saudara.

125 11 1. Domisili Jenis kelamin: a. Laki-laki b. Perempuan 3. Berapa usia anda saat ini: a tahun b tahun c tahun d tahun e tahun 4. Berapa pendapatan perbulan anda saat ini: a. > Rp.5. per bulan b. Rp 2.5. Rp 3.5. per bulan c. Rp 1.5. Rp 2.5. per bulan d. < Rp 1.5. per bulan B. Petunjuk pengisian kuesioner Responden dapat memberikan jawaban dengan memberikan tanda centang (V) pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia. Hanya satu

126 111 jawaban saja yang dimungkinkan untuk setiap pertanyaan. Pada masingmasing pertanyaan terdapat lima alternatif jawaban yang mengacu pada teknik skala Likert, yaitu: Sangat Setuju (SS) = 5 Setuju (S) = 4 Netral (N) = 3 Tidak Setuju (TS) = 2 Sangat Tidak Setuju (STS) = 1 Data responden dan semua informasi yang diberikan akan dijamin kerahasiaannya, oleh sebab itu dimohon untuk mengisi kuesioner dengan sebenarnya dan seobjektif mungkin. No Pernyataan STS TS N S SS a. Desain grafis 1. Saya mengetahui merek The Body Shop dengan melihat tanda dan simbol pada

127 112 produk. 2. Saya dapat membangkitkan perasaan dan perilaku emosi yang berbeda bila melihat warna kemasan produk The Body Shop. 3. Tatanan huruf yang tersebar pada kemasan produk The Body Shop menciptakan kesan tertentu. 4. Ilustrasi pada kemasan menarik perhatian dan memperjelas sajian ide yang ditunjukkan pada produk The Body Shop. No Pernyataan STS TS N S SS b. Struktur desain 1. Bentuk kemasan produk The Body Shop menarik perhatian saya. 2. Variasi ukuran produk The Body Shop memuaskan kebutuhan saya. No Pernyataan STS TS N S SS

128 Bahan kemasan produk The Body Shop mempengaruhi persepsi saya terhadap kualitas. c. Informasi produk 1. Informasi produk seperti nama produk, nama dagang, berat bersih, nomor pendaftaran serta nama dan alamat perusahaan tertera di dalam kemasan produk The Body Shop 2. Informasi produk seperti komposisi dan tanggal kadaluarsa pada kemasan dapat membantu saya dalam mempertimbangkan keputusan membeli produk. d. Asosiasi merek 1. The Body Shop memiliki kualitas produk yang dapat memenuhi kebutuhan saya. 2. Harga produk The Body Shop sudah sesuai dengan kualitas produk yang saya rasakan.

129 114 No Pernyataan STS TS N S SS 3. Kualitas layanan seperti sistem, teknologi dan manusia (karyawan) pada toko The Body Shop dapat mempengaruhi kepuasan saya saat berbelanja. 4. Bentuk dan warna produk The Body Shop menyentuh sisi emosional saya. 5. Kelompok sosial mengapresiasi setelah saya menggunakan produk The Body Shop. 6. Produk The Body Shop yang digunakan menggambarkan karakter personal saya. 7. Saya merasa puas dengan mendapatkan produk atau pelayanan The Body Shop yang mudah, nyaman, dan efisien. 8. Saya merasa nyaman menggunakan produk The Body Shop yang ramah lingkungan dibandingkan menggunakan produk merek lain. 9. Saya menggunakan produk The Body Shop karena latar belakang perusahaan The Body Shop mengutamakan zat-zat herbal yang ramah lingkungan pada semua produknya.

130 115 No Pernyataan STS TS N S SS e. Dukungan asosiasi merek 1. Dengan adanya berbagai aksesoris produk membuat saya yakin terhadap citra merek The Body Shop. 2. Persepsi saya terkait produk The Body Shop bahwa produk ini bermanfaat dan baik untuk dikonsumsi f. Kekuatan asosiasi merek 1. Saya mengingat kesan yang saya tangkap setelah memakai produk The Body Shop. 2. Saya dapat mengekspresikan diri setelah memakai produk The Body Shop. 3. Saya merasa percaya diri setelah memakai produk The Body Shop. g. Keunikan asosiasi merek 1. Saya merasakan manfaat dari produk The Body Shop sehingga merek lain tidak bisa memuaskan keinginan saya.

131 116 No Pernyataan STS TS N S SS h.minat beli 1. Saya selalu membeli produk The Body Shop yang saya inginkan. 2. Saya selalu mereferensikan produk The Body Shop pada orang lain. 3. Saya selalu membeli produk The Body Shop walaupun jenis produk yang saya beli dimiliki oleh merek lain. 4. Saya mencari informasi terlebih dahulu manfaat produk The Body Shop sebelum membelinya.

132 117 LAMPIRAN 2 TABULASI DAN DESKRIPSI RATA-RATA KATEGORI VARIABEL

133 1 Tabulasi Kuesioner dan Deskripsi Rata-rata Kategori Variabel dengan WPS Spreadsheets

134 119

135 12