Bab-5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab-5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING"

Transkripsi

1 Bab-5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 5.1. PRAKIRAAN DAMPAK PADA KEGIATAN HULU Komponen Geo-Fisik-Kimia Kualitas Udara A. Tahap Konstruksi 1. Mobilisasi dan demobilisasi peralatan Besarnya dampak yang diakibatkan kegiatan mobilisasi peralatan berat dan material diprakirakan negatif sedang (-2). Angka ini berasal dari kualitas lingkungan udara awal (RLA) = 4 dan pada saat ada kegiatan mobilisasi peralatan dan material, kualitas lingkungan udara = 2. Angka kualitas lingkungan udara = 2 diperoleh berdasarkan : Kegiatan mobilisasi peralatan dan material meliputi pengangkutan peralatan dan bahan bangunan. Peralatan berat yang akan digunakan untuk pembangunan bangunan utama dan penunjang antara lain backhoe, traktor, truk, trailer, bis, dan lain-lain. Kualitas udara ambien akan menurun antara lain karena meningkatnya kandungan beberapa parameter udara seperti SO 2, CO, NO 2, hidrokarbon (berasal dari emisi gas buang beberapa kendaraan berat yang beroperasi) serta peningkatan kadar debu ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-1

2 akibat mondar-mandirnya kendaraan pada jalan maupun lahan terbuka. Kegiatan ini akan berlangsung sementara dengan frekuensi mobilitas sedang, sehingga dampak diklasifikasikan sebagai dampak negatif sedang (-2). Angka ini diperoleh berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kep.Ka. BAPEDAL No. 107 Tahun 1997 diprakirakan antara , yang berarti apabila salah satu dari parameter kualitas udara ambien tersebut masuk pada indeks , berarti kualitas lingkungan = 2 (jelek). Tabel 5.1. Konversi ISPU Menjadi Skala Kualitas Lingkungan ISPU Kategori Skala Kualitas Lingkungan Kategori < 50 Baik 5 Sangat baik Sedang 4 Baik Tidak sehat 3 Sedang Sangat tidak sehat 2 Jelek >300 berbahaya 1 Sangat jelek Derajat kepentingan dampak kualitas udara diuraikan sebagai berikut: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak Mobilitas peralatan dan material akan mempunyai dampak negatif pada manusia, khususnya bagi penduduk di sepanjang jalur mobilisasi. Rata-rata permukiman penduduk berada di sepanjang jalur mobilisasi sehingga diprakirakan cukup banyak warga masyarakat yang terkena dampak kegiatan ini. Oleh karena itu kriteria ini penting (P). b) Luas wilayah penyebaran dampak Kegiatan pengangkutan alat dan bahan serta tenaga kerja untuk pengembangan lapangan akan menggunakan jasa angkutan laut dan darat ke lokasi rencana kegiatan pemipaan dan fasilitas produksi gas serta LNG. Kegiatan mobilisasi dan demobilisasi peralatan berat dan material yang sangat banyak yang diangkut dengan kendaraan berbadan besar dengan wilayah yang akan terkena dampak cukup luas. Oleh karena wilayah penyebaran dampak luas, maka kriteria ini penting (P). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-2

3 Jumlah kendaraan yang akan mondar mandir dan mobilitas kendaraan serta alat berat cukup banyak namun bersifat sementara. Oleh karena itu, kriteria dampak ini menjadi tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah penduduk sekitar jalur mobilisasi, flora dan fauna darat serta laut. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan selesai, kondisi akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). 2. Pembukaan dan pematangan lahan Besarnya dampak yang diakibatkan kegiatan pematangan lahan diprakirakan negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari kualitas lingkungan udara awal (RLA) = 4 dan pada saat ada kegiatan pematangan lahan, kualitas lingkungan udara diprakirakan = 3. Angka kualitas lingkungan udara = 3 diperoleh berdasarkan : Kegiatan pematangan lahan meliputi pengurugan dengan batuan keras dan tanah di beberapa tempat yang perlu diurug sebagai tempat pondasi bangunan gedung. Peralatan yang akan digunakan untuk pengurugan, antara lain backhoe, traktor, truk, bull dozer, dump truck, dan lain-lain, sehingga sangat potensial munculnya peningkatan kadar debu. Kualitas udara ambien akan menurun antara lain karena meningkatnya kandungan PM 10 (karena bertambahnya kandungan debu di udara sebagai akibat pengurugan). Kegiatan ini akan berlangsung sementara dan dampak terlokalisir di dalam lokasi proyek, sehingga kualitas udara diklasifikasikan dalam kondisi sedang. Indeks Standar Pencemar Udara saat ada kegiatan ini berdasarkan perhitungan diprakirakan antara yang berarti kondisi lingkungan sedang (skala 3). (berdasarkan perhitungan ISPU Kep.Ka. BAPEDAL No. 107 Tahun 1997). Dengan demikian kondisi kualitas udara yang semula baik (skala 4) dengan ISPU akan turun menjadi sedang (skala 3) dengan ISPU ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-3

4 Berikut ini diuraikan derajat tingkat kepentingan dampak lingkungan terhadap faktorfaktor penentu tingkat kepentingan dampak. a) Jumlah manusia terkena dampak Pembukaan dan pematangan lahan menyebabkan penurunan kualitas udara terutama meningkatnya kandungan debu dan PM 10 karena debu akan terbawa angin di sekitar lokasi kegiatan. Jumlah manusia yang akan terkena dampak kecil hanya yang berada di lokasi kegiatan karena lokasinya telah terlokalisir, maka kriteria dampaknya tidak penting (TP). Wilayah yang akan terkena dampak cukup luas namun lokasi telah terlokalisir. Kriteria ini termasuk tidak penting (TP). Dampak akan berlangsung sementara dan intensitasnya relatif kecil. Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan lain yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna darat di areal pematangan lahan yang cukup luas tersebut. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak bersifat kumulatif, karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tergolong tidak penting (TP). f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan pematangan lahan selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). 3. Konstruksi BS dan GPF Kegiatan konstruksi BS dan GPF meliputi pembangunan fondasi struktur dan perlengkapan fasilitas produksi dan persiapan pemboran serta pendirian bangunanbangunan dan pemasangan perlengkapannya. Prakiraan besaran dampak yang terjadi pada kualitas udara akibat kegiatan konstruksi BS dan GPF adalah negatif sedang (-2). Angka ini merupakan selisih antara kualitas lingkungan udara awal baik (skala 4) ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-4

5 dengan prakiraan kondisi kualitas udara saat kegiatan berlangsung adalah skala 2. Dasar pertimbangan skala lingkungan skala 2 diuraikan sebagai berikut : Luasan kegiatan konstruksi BS (3 lokasi) cukup luas, yaitu 45 Ha. Kualitas udara ambien diprakirakan akan mengalami penurunan antara lain karena meningkatnya kandungan seperti: PM 10 (karena bertambahnya kandungan debu di udara ambien), SO 2, CO, NO 2, hidrokarbon karena emisi gas buang beberapa kendaraan berat). Diprakirakan ISPU dengan adanya kegiatan ini berkisar antara , yang berarti kondisi lingkungan jelek (skala 2) Dengan demikian kondisi kualitas udara yang semula baik (skala 4) dengan ISPU akan turun menjadi jelek (skala 2) dengan ISPU Berikut ini diuraikan derajat tingkat kepentingan dampak lingkungan terhadap faktorfaktor penentu tingkat kepentingan dampak. a) Jumlah manusia terkena dampak Pada kegiatan konstruksi BS dan GPF ini dampak tidak mengenai manusia dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat tidak penting (TP), karena kegiatan konstruksi 3 BS menempati areal yang luas sekitar 45 Ha, tetapi telah terlokalisir. Dampak kegiatan konstruksi kompleks BS dan GPF akan dirasakan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya sejak saat pembangunan sampai beroperasi. Oleh karena itu maka kriteria ini penting (P). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak adalah biota laut. Dengan demikian dari segi komponen lingkungan terkena dampak adalah penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan konstruksi kompleks kilang LNG selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-5

6 4. Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara normal Kegiatan pemasangan pipa diprakirakan akan menurunkan kualitas udara. Dampak yang terjadi pada kegiatan ini adalah negatif kecil (-1). Angka ini merupakan silisih antara rona awal 4 dengan kondisi udara saat kegiatan berlangsung. Dasar pertimbangannya adalah: Kualitas udara ambien akan berkurang antara lain karena meningkatnya kandungan beberapa parameter, terutama PM 10 (bertambahnya kandungan debu di udara karena proses galian dan penimbunan tanah di sekitar galian). Selain itu juga disebabkan meningkatnya kandungan SO 2, CO, NO 2, dan hidrokarbon yang disebabkan karena emisi gas buang kendaraan berat yang digunakan untuk aktivitas penggalian dan pemasangan pipa. Indeks Standar Pencemara Udara pada saat kegiatan berdasarkan perhitungan diprakirakan antara , yang berarti skala kualitas lingkungan = 3 (sedang). Dengan demikian kondisi kualitas lingkungan awal yang semula baik (skala 4) dengan ISPU akan turun menjadi sedang (skala 3) dengan ISPU Berikut diuraikan derajat tingkat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia terkena dampak Penggelaran, penurunan dan penanaman pipa akan menyebabkan terganggunya aktivitas penduduk di sekitar SM Bakiriang namun jumlahnya banyak. Oleh karena itu kriteria dampaknya penting (P). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena lebar lahan yang dikenai jalur pipa sekitar 8 m dengan panjang kumulatif sekitar 35 km Dampak akan berlangsung sementara dan intensitasnya cukup kecil Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna di sepanjang jalur pemasangan pipa penyalur gas. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan ini selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-6

7 5. Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara Horisontal Directional Drilling Besarnya dampak yang diakibatkan kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara Horisontal Directional Drilling diprakirakan negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari kualitas lingkungan udara awal (RLA) baik (skala 4) dan pada saat ada kegiatan pemasangan pipa penyalur gas, kualitas lingkungan udara menjadi sedang (skala 3). Angka kualitas lingkungan udara = 3 diperoleh karena meningkatnya kadar debu akibat aktivitas penggelaran, penurunan dan penanaman pipa. Gas buang dari Mesin Diesel dan generator pembangkit listrik menyebabkan penurunan kualitas udara secara lokal.indeks standar pencemar udara saat ada kegiatan ini berdasar perhitungan diprakirakan antara (berdasar perhitungan ISPU, Kep. Ka.BAPEDAL No. 107 Tahun 1997). Dengan demikian kondisi kualitas lingkungan yang semula baik (skala 4) dengan ISPU akan turun menjadi sedang (skala 3) dengan ISPU Berikut ini diuraikan derajat tingkat kepentingan dampak lingkungan terhadap faktorfaktor penentu tingkat kepentingan dampak. a) Jumlah manusia terkena dampak Penggelaran, penurunan dan penanaman pipa akan menyebabkan terganggunya aktivitas penduduk di sekitar SM Bakiriang namun jumlahnya tidak banyak. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena lebar lahan yang dikenai jalur pipa sekitar 8 m dengan panjang kumulatif sekitar 35 km Dampak akan berlangsung sementara dan intensitasnya cukup kecil Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna di sepanjang jalur pemasangan pipa penyalur gas. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan ini selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-7

8 6. Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar Pantai SM Bakiriang Besarnya dampak yang diakibatkan kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar pantai SM Bakiriang diprakirakan negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari kualitas lingkungan udara awal (RLA) baik (skala 4) dan pada saat ada kegiatan pemasangan pipa penyalur gas, kualitas lingkungan udara menjadi sedang (skala 3). Angka kualitas lingkungan udara = 3 diperoleh karena meningkatnya kadar debu akibat aktivitas penggelaran, penurunan dan penanaman pipa. Gas buang dari Mesin Diesel dan generator pembangkit listrik menyebabkan penurunan kualitas udara secara lokal. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada saat kegiatan diprakirakan antara yang berarti kondisi lingkungan adalah sedang (skala 3). Dengan demikian kondisi lingkungan yang semula baik (skala 4) dengan ISPU akan mengalami penurunan menjadi kondisi lingkungan sedang (skala 3) dengan ISPU Berikut ini diuraikan derajat tingkat kepentingan dampak : a) Jumlah manusia terkena dampak Penggelaran, penurunan dan penanaman pipa akan menyebabkan terganggunya aktivitas nelayan di pantai namun jumlahnya tidak banyak. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena lebar lahan yang dikenai jalur pipa sekitar 8 m dengan panjang kumulatif lebih dari 35 km Dampak akan berlangsung sementara dan intensitasnya cukup kecil Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna di sepanjang jalur pemasangan pipa penyalur gas. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan ini selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-8

9 B. Tahap Operasi 1. Pemboran sumur pengembangan Prakiraan besaran dampak yang terjadi pada kualitas udara akibat kegiatan pengoperasian pembangkit utama dan pelengkapnya adalah negatif sedang (-2). Angka ini merupakan selisih antara kualitas lingkungan udara awal (skala 4) dengan skala kualitas udara saat kegiatan berlangsung (2). Kualitas udara ambien diprakirakan akan mengalami penurunan antara lain karena meningkatnya kandungan seperti: SO 2, CO dan NO 2. Diprakirakan saat ada kegiatan ini ISPU berkisar antara yang berarti kondisi kualitas lingkungan jelek (skala 2). Dengan demikian kondisi kualitas lingkungan udara yang semula baik (skala 4) dengan ISPU akan turun menjadi kondisi jelek (skala 2) dengan ISPU (sesuai Tabel 5.1). Berikut ini diuraikan derajat tingkat kepentingan dampak lingkungan terhadap faktorfaktor penentu tingkat kepentingan dampak. a) Jumlah manusia terkena dampak Pada kegiatan pemboran sumur pengembangan ini dampak tidak mengenai manusia dalam jumlah yang banyak, hal ini dikarenakan lokasi sumur berada di dalam hutan yang jauh dari pemukiman. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat tidak penting (TP), karena kegiatan pemboran sumur pengembangan berlangsung di lokasi pemboran yang sudah terlokalisir. Dampak kegiatan pemboran sumur pengembangan akan dirasakan selama operasi pemboran berlangsung. Oleh karena itu maka kriteria ini penting (P). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak hanya fauna di sekitar lokasi pemboran. Dengan demikian dari segi komponen lingkungan terkena dampak adalah tidak penting (TP). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan pemboran sumur pengembangan selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-9

10 2. Operasional fasilitas produksi gas (BS dan GPF) Besarnya dampak yang diakibatkan kegiatan operasional produksi di GPF diprakirakan negatif sedang (-2). Angka ini berasal dari kualitas lingkungan udara awal (RLA) baik (skala 4) dan pada saat ada kegiatan operasional produksi di GPF, kualitas lingkungan udara menjadi jelek (skala 2). Angka 2 diperoleh berdasarkan : Limbah yang mengandung gas dari emisi penggerak turbin, penggerak mesin dan flare stack akan menyebabkan penurunan kualitas udara di sekitarnya. Emisi dapat meningkat secara signifikan selama operasi tidak normal, namun jangka waktunya pendek. Indeks Standar Pencemar Udara pada saat kegiatan berlangsung diprakirakan antara yang berarti skala kualitas jelek (2). Dengan demikian kondisi kualitas lingkungan udara awal yang semula baik (skala 4) dengan ISPU akan turun menjadi jelek (skala 2) dengan ISPU (sesuai Tabel 5.1). Berdasarkan hasil pemodelan dengan tinggi stack 20 m konsentrasi maksimum penyebaran emisi terjadi pada jarak 1665 m dengan konsentrasi SO 2 = 0,00929 gr/m 3, NOx = 2,66 gr/m 3, dan CO = 0,3755 gr/m 3. Dari hasil pemodelan kondisi konsentrasi tersebut jauh berada di bawah baku mutu. Selengkapnya disajikan pada Lampiran 15. Berikut ini diuraikan derajat tingkat kepentingan dampak lingkungan terhadap faktor-faktor penentu tingkat kepentingan dampak. a) Jumlah manusia terkena dampak Pada tahap operasional produksi di GPF dihasilkan limbah yang mengandung gas dari emisi limbah dari penggerak turbin, penggerak mesin dan flare stack akan menyebabkan penurunan kualitas udara di sekitarnya dan berdampak terhadap manusia baik pekerja di GPF maupun penduduk sekitar operasional GPF. Oleh karena itu kriteria dampaknya penting (P). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena dampak kegiatan operasioanal produksi di GPF dapat tersebar pada areal yang cukup luas dengan radius ± 2 km. Dampak kegiatan pemboran sumur pengembangan akan dirasakan oleh selama operasioanal produksi di GPF berlangsung. Oleh karena itu maka kriteria ini penting (P). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-10

11 d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak adalah hanyalah flora dan fauna disekitar lokasi pemboran. Dengan demikian dari segi komponen lingkungan terkena dampak adalah tidak penting (TP). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan operasional produksi di GPF selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). C. Tahap Pasca Operasi 1. Penghentian operasi produksi gas Pada tahap pasca operasi, kegiatan operasi telah berhenti akan mempunyai dampak positif terhadap kualitas udara. Dari prakiraan dampak yang terjadi diperkirakan akan mempunyai besaran dampak yang semula skala kualitas lingkungan jelek (skala 2) akan mengalami perubahan menjadi sedang (skala 3) dengan ISPU (sesuai Tabel 5.1), sehingga besaran dampak menjadi positif kecil (+1). Berikut ini dijelaskan tentng derajat kepentingan dampk lingkungan kualitas udar akibat penghentian operasi gas. a) Jumlah manusia terkena dampak Pada tahap penghentian operasi gas akan hanya berdampak terhadap manusia yang bekerja di pabrik. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat tidak penting ( TP), karena kegiatan ini berlangsung di area yang cukup luas tetapi sudah terlokalisir. Dampak penghentian operasi gas akan dirasakan selamanya dan kualitas udara akan menjadi lebih baik. Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak adalah flora dan fauna di sekitar lokasi operasi gas yang cukup luas. Dengan demikian dari segi komponen lingkungan terkena dampak adalah penting (P). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-11

12 Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan operasional selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP) Kebisingan A. Tahap Konstruksi 1. Mobilisasi dan demobilisasi peralatan Kebisingan didefinisikan sebagai bunyi yang tidak dikehendaki atau bunyi pada tempat dan waktu yang salah (Canter dan Hill, 1979). Ada tiga jenis kebisingan, yaitu (1) sesaat pada suatu waktu, (2) sering pada beberapa tempat dan (3) terus menerus pada beberapa tempat. Skala kualitas lingkungan kebisingan menurut Canter dan Hill, 1979 adalah sebagai berikut. Tabel 5.2. Skala Kualitas Lingkungan Kebisingan Tingkat Kebisingan db(a) Skala Kualitas Lingkungan (1) (2) (3) Sangat baik (5) < 60 < 55 < 52 Baik (4) Sedang (3) Jelek (2) Sangat jelek (1) > 90 > 82 > 77 Keterangan : (1) sesaat pada suatu waktu (2) sering pada beberapa tempat (3) terus menerus pada beberapa tempat Kegiatan mobilisasi peralatan berat dan material meliputi pemindahan peralatan ke dan dari lokasi proyek, pengangkutan bahan bangunan, dll. Peningkatan lalu lintas kendaraan berat berpotensi meningkatkan kebisingan ke sekitar daerah proyek, dampak ini berlangsung sementara, sehingga besaran dampak pada kebisingan akibat kegiatan mobilisasi peralatan berat dan material diprakirakan negatif kecil (-1). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-12

13 Angka ini berasal dari pengurangan skala kualitas lingkungan awal baik (skala 4) terhadap prakiraan skala kualitas lingkungan pada saat ada kegiatan yaitu sedang (skala 3) dengan jenis kebisingan sering pada beberapa tempat. Prakiraan 3 berdasarkan : Kegiatan ini meliputi pengangkutan pemindahan peralatan ke lokasi proyek, pengangkutan bahan bangunan. Prakiraan kebisingan ini adalah 90 db(a), namun pemukiman terletak ± 25 meter dari jalan sehingga kebisingan yang diterima adalah 67 db(a), nilai tersebut adalah berada di skala kualitas lingkungan 3. (perhitungan ada pada Lampiran 12). Dengan demikian peningkatan kebisingan yang semula 55 db(a) yang berarti kondisi baik (skala 4) akan mengalami penurunan menjadi sedang (skala 3) dengan peningkatan kebisingan 67 db(a). (sesuai Tabel 5.2) Tingkat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak Mobilitas peralatan dan material mempunyai dampak meningkatkan kebisingan. Tingkat kebisingan pada jalur mobilisasi alat berat sekitar db(a). Menurut Owen (1995) kebisingan dump truck 100 db(a). Apabila digunakan perhitungan line source noise, tingkat kebisingan akan turun secara logaritmis. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). b) Luas wilayah penyebaran dampak Wilayah yang akan terkena dampak cukup luas meliputi desa-desa yang dilalui oleh mobilitas peralatan berat dan material ini. Oleh karena wilayah penyebaran dampak luas, maka kriteria ini penting (P). Jumlah kendaraan yang akan mondar mandir dan mobilitas kendaraan serta alat berat cukup banyak namun bersifat sementara. Oleh karena itu, kriteria dampak ini menjadi tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak selain manusia adalah fauna darat. Oleh karena itu kriteria ini penting (P). Dampak tidak akan terakumulasi karena tidak ada faktor yang menyebabkan terjadinya biomagnifikasi. Oleh karena itu kategori dampak tidak penting (TP). f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan selesai, kondisi akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-13

14 2. Pembukaan dan pematangan lahan Kegiatan pemukaan pematangan lahan meliputi pekerjaan penggalian, penimbunan, perataan lahan untuk lokasi BS dan jalur pipa. Karena lokasi BS berada sekitar ± 25 m dari permukiman, maka tidak akan menimbulkan dampak terhadap peningkatan kebisingan. Dampak yang terjadi adalah dari pemukaan dan pematangan lahan untuk lokasi pipa (trunkline pipe) yang berjarak 60 km dengan lebar 20 m atau seluas 120 ha dan akan melewati pemukiman dengan jarak terdekat ± 25 m. Kondisi lingkungan diprakirakan akan menurun dari kondisi baik (skala 4) menjadi sedang (skala 3), sehingga besaran dampak yang ditimbulkan adalah negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari prakiraan kebisingan yang ditimbulkan sekitar 85 db(a) dan dampak yang diterima di pemukiman terdekat sekitar 62 db(a), angka ini berada di skala 3 (sedang) (hasil perhitungan terlampir). Dengan demikian peningkatan kebisingan yang semula 55 db(a) yang berarti kondisi baik (skala 4) akan turun menjadi sedang (skala 3) dengan peningkatan kebisingan sebesar 62 db(a) (sesuai Tabel 5.2). Tingkat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia terkena dampak Pembukaan dan pematangan lahan akan menyebabkan peningkatan kebisingan di sekitar lokasi kegiatan. Lokasi kegiatan akan melewati beberapa area pemukiman sehingga dampak yang ditimbulkan adalah kriteria penting (P). Wilayah yang akan terkena dampak hanya di sekitar sepanjang jalur pipa (trunkline). Dengan demikian kriteria ini termasuk tidak penting (TP). Peningkatan kebisingan akibat pematangan lahan intensitasnya kecil dan dampak akan berlangsung sementara. Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan lain yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak hanya fauna darat di areal pemukaan lahan tersebut. Oleh karena itu kriteria dampak ini tidak penting (TP). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena tingkat kebisingan tidak akan menyebabkan syaraf manusia terkena dampak (tingkat kebisingan di area pematangan lahan tapak proyek sekitar db(a) tetapi tidak terus menerus. Akan terakumulasi apabila > 85 db(a) terus menerus selama 8 jam. Maka tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-14

15 f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan pematangan lahan selesai, tingkat kebisingan akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). 3. Kegiatan konstruksi BS dan GPF Kegiatan konstruksi BS dan GPF akan berlangsung sementara, diprakirakan akan meningkatkan kebisingan di lokasi proyek dan sekitarnya. Tingkat kebisingan yang diprakirakan timbul berkisar 61 db(a). Dengan demikian peningkatan kebisingan yang semula 55 db(a) yang berarti kondisi baik (skala 4) akan mengalami penurunan menjadi sedang (skala 3) dengan peningkatan kebisingan menjadi 61 db(a). Tingkat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia terkena dampak Pada kegiatan konstruksi GPF dan BS ini, jumlah manusia yang akan terkena dampak ini relatif banyak, terdiri dari pekerja konstruksi, penduduk terdekat dan mereka yang membuka peluang kerja dan berusaha di sektor informal. Oleh karena itu kriteria dampaknya penting (P). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena kegiatan konstruksi GPF dan BS menempati areal yang luas. Dampak kebisingan kegiatan konstruksi GPF dan BS akan dirasakan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya sejak saat pembangunan sampai beroperasi. Oleh karena itu maka kriteria ini penting (P). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna serta biota di areal konstruksi GPF dan BS. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena kebisingan tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan ini selesai, tingkat kebisingan akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-15

16 4. Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara normal Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara Normal Drilling berpotensi meningkatkan kebisingan ke sekitar daerah proyek akibat aktivitas penggelaran, penurunan dan penanaman pipa. Dampak ini berlangsung sementara, sehingga besaran dampak pada kebisingan akibat kegiatan ini diprakirakan negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari pengurangan skala kualitas lingkungan awal (RLA) baik (skala 4) terhadap prakiraan skala kualitas lingkungan pada saat ada kegiatan pemasangan pipa penyalur gas kebisingan sesaat akan menjadi sekitar 70 db(a). Angka tersebut termasuk skala kualitas lingkungan 3. Hasil perhitungan terlampir. Dengan demikian peningkatan kebisingan yang semula 55 db(a) yang berarti kondisi baik (skala 4) akan mengalami penurunan kondisi menjadi sedang (skala 3) yang peningkatan kebisingan menjadi 70 db(a). Tingkat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia terkena dampak Penggelaran, penurunan dan penanaman pipa akan menyebabkan terganggunya aktivitas penduduk di sekitar SM Bakiriang namun jumlahnya banyak. Oleh karena itu kriteria dampaknya penting (P). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena cukup luas sekitar 60 km. Dampak akan berlangsung sementara dan intensitasnya cukup kecil Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna di sepanjang jalur pemasangan pipa penyalur gas. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kualitas udara yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan ini selesai, kualitas udara akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-16

17 5. Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara Horisontal Directional Drilling Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara Horizontal Directional Drilling berpotensi meningkatkan kebisingan ke sekitar daerah proyek akibat aktivitas penggelaran, penurunan dan penanaman pipa. Dampak ini berlangsung sementara, sehingga besaran dampak pada kebisingan akibat kegiatan ini diprakirakan negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari pengurangan skala kualitas lingkungan awal (RLA) baik (skala 4) terhadap prakiraan skala kualitas lingkungan pada saat ada kegiatan pemasangan pipa penyalur. Perkiraan peningkatan kebisingan adalah sekitar 70 db(a), angka tersebut berada di skala kualitas lingkugnan 3. Dengan demikian peningkatan kebisingan yang semula 55 db(a) yang berarti kondisi baik (skala 4) mengalami penurunan menjadi kondisi sedang (skala 3) dengan peningkatan kebisingan menjadi 70 db(a). Hasil perhitungan terlampir. Tingkat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia terkena dampak Penggelaran, penurunan dan penanaman pipa akan menyebabkan terganggunya aktivitas penduduk di sekitar SM Bakiriang namun jumlahnya tidak banyak. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat tidak penting (TP), pipa menggunakan Horisontal Directional Drilling sehingga luas persebaran dampak kecil. Dampak akan berlangsung sementara dan intensitasnya cukup kecil Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna di sepanjang jalur pemasangan pipa penyalur gas. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kebisingan yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan ini selesai, kebisingan akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-17

18 6. Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar Pantai SM Bakiriang Kegiatan pemasangan pipa penyalur gas sejajar SM Bakiriang secara sejajar pantai SM Bakiriang berpotensi meningkatkan kebisingan ke sekitar daerah proyek akibat aktivitas penggelaran, penurunan dan penanaman pipa. Dampak ini berlangsung sementara, sehingga besaran dampak pada kebisingan akibat kegiatan ini diprakirakan negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari pengurangan skala kualitas lingkungan awal (RLA) baik (skala 4) terhadap prakiraan skala kualitas lingkungan pada saat ada kegiatan pemasangan pipa penyalur gas = 3. Peningkatan kebisingan diprakirakan sekitar 70 db(a), angka tersebut berada pada skala kualitas lingkungan 3. Dengan demikian peningkatan kebisingan yang semula 55 db(a) yang berarti kondisi baik (skala 4) mengalami penurunan menjadi kondisi sedang (skala 3) dengan peningkatan kebisingan menjadi 70 db(a). Hasil perhitungan terlampir. Tingkat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia terkena dampak Penggelaran, penurunan dan penanaman pipa akan menyebabkan terganggunya aktivitas nelayan di pantai namun jumlahnya tidak banyak. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena cukup luas sekitar 137 Ha. Dampak akan berlangsung sementara dan intensitasnya cukup kecil Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang terkena dampak adalah flora dan fauna terutama terumbu karang di sepanjang jalur pemasangan pipa penyalur gas. Oleh karena itu kriteria dampak ini penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kebisigan yang tersebar tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan ini selesai, kebisingan akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-18

19 B. Tahap Operasi 1. Operasi produksi di GPF Kegiatan operasi produksi di GPF menggunakan peralatan utama, seperti kompresor, genset dan pompa-pompa menggunakan mesin berbahan bakar gas berpotensi meningkatkan kebisingan ke sekitar area produksi, dampak ini berlangsung selama operasi produksi, sehingga besaran dampak pada kebisingan akibat kegiatan operasi produksi di GPF diprakirakan negatif kecil (-1). Angka ini berasal dari pengurangan skala kualitas lingkungan awal (RLA) baik (skala 4) terhadap prakiraan skala kualitas lingkungan pada saat ada kegiatan operasi produksi GPF = 3. Peningkatan kebisingan diprakirakan sekitar 65,04 db(a), angka ini berada pada skala kualitas lingkungan 3. Dengan demikian peningkatan kebisingan yang semula 55 db(a) yang berarti kondisi baik (skala 4) menjadi kondisi sedang (skala 3) dengan peningkatan kebisingan menjadi 65,04 db(a). Hasil perhitungan terlampir. Kepentingan dampaknya adalah sebagai berikut: a) Jumlah manusia terkena dampak Kebisingan pada tahap operasional produksi di GPF dari peralatan utama, seperti kompresor, genset dan pompa-pompa menggunakan mesin berbahan bakar gas, dan lain-lain terhadap hanya berdampak pada pekerja di GPF. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat tidak penting (TP), karena kegiatan operasioanal produksi di GPF berlangsung di lokasi yang sudah terlokalisir. Dampak kegiatan akan dirasakan oleh selama operasioanal produksi di GPF berlangsung. Oleh karena itu maka kriteria ini penting (P). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak adalah hanyalah flora dan fauna di sekitar lokasi operasional GPF. Dengan demikian dari segi komponen lingkungan terkena dampak adalah tidak penting (TP). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kebisingan tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan operasional produksi di GPF selesai, tingkat kebisingan akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-19

20 C. Tahap Pasca Operasi 1. Penghentian operasi produksi gas Pada tahap pasca operasi, kegiatan operasi telah berhenti akan mempunyai dampak positif terhadap kebisingan. Dari prakiraan dampak yang terjadi diperkirakan akan mempunyai besaran dampak yang semula skala kualitas lingkungan sedang (skala 3) akan mengalami perubahan kembali menjadi baik (skala 4), sehingga besaran dampak positif sedang (+1). Angka ini berasal dari kondisi saat operasi adalah 65,04 db(a) kondisi sedang (skala 3), menjadi seperti kondisi semula 55 db(a) yaitu baik (skala 4). Derajat kepentingan dampak: a) Jumlah manusia terkena dampak Kegiatan penghentian operasi gas akan berdampak positif terhadap pemukiman sekitar. Oleh karena itu kriteria dampaknya tidak penting (TP). Luas wilayah persebaran dampak bersifat penting (P), karena kegiatan ini berlangsung di area yang cukup luas. Dampak penghentian operasi gas akan dirasakan selamanya dan tingkat kebisingan akan menjadi lebih baik. Oleh karena itu maka kriteria ini tidak penting (TP). d) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak Komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak adalah flora dan fauna disekitar lokasi operasi gas yang cukup luas. Dengan demikian dari segi komponen lingkungan terkena dampak adalah penting (P). Dampak tidak akan mengalami kumulatif karena parameter kebisingan tidak akan mengalami bioakumulasi maupun biomagnifikasi. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). f) Berbalik tidak berbaliknya dampak Dampak akan berbalik, yaitu setelah kegiatan operasional kilang LNG selesai, tingkat kebisingan akan kembali seperti sediakala. Oleh karena itu kriteria ini tidak penting (TP). ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok V-20

Bab-4 RUANG LINGKUP STUDI

Bab-4 RUANG LINGKUP STUDI Bab-4 RUANG LINGKUP STUDI 4.1. DAMPAK PENTING YANG DITELAAH Pada dasarnya dampak penting yang ditelaah dalam dokumen ANDAL ini adalah sama dengan dampak-dampak hasil pelingkungan dampak hipotetis dan prioritas

Lebih terperinci

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan PERTAMINA EP -PPGM Tabel 8.1. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hulu (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Tujuan Hidup Rencana Frekuensi Institusi

Lebih terperinci

Bab-2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP

Bab-2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bab-2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP 2.1. BAGIAN HULU 2.1.1. Kualitas Udara A. Tahap Konstruksi Kualitas udara (SO 2, CO, dan debu ) Menurunnya kualitas udara. Emisi gas buang dan debu dari kegiatan

Lebih terperinci

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan Lampiran 1a. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hulu (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Tujuan Hidup Rencana Frekuensi Institusi 1. KUALITAS

Lebih terperinci

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus Lampiran 1b. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hilir (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) 1. KUALITAS UDARA Kualitas udara (SO 2, CO,dan debu)

Lebih terperinci

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia menyebutkan bahwa segala bentuk rencana usaha dan/atau kegiatan yang memberikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan diharuskan

Lebih terperinci

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus Tabel 8.2. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hilir (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Jenis Parameter Indikator 1. KUALITAS UDARA Kualitas

Lebih terperinci

Bab-6 EVALUASI DAMPAK PENTING

Bab-6 EVALUASI DAMPAK PENTING Bab-6 EVALUASI DAMPAK PENTING Pada uraian Bab V Prakiraan Dampak Penting, telah dijelaskan dampak-dampak yang mungkin terjadi akibat adanya pengembangan lapangan PPGM, baik bagian hulu maupun bagian hilir

Lebih terperinci

RKL Proyek Pengembangan Gas Matindok Hulu -2

RKL Proyek Pengembangan Gas Matindok Hulu -2 Lampiran 1a. Matriks Rencana Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hulu (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Tujuan Rencana Institusi 1. KUALITAS UDARA Penurunan kualitas

Lebih terperinci

Bab-3 RENCANA PENGELOLAAN

Bab-3 RENCANA PENGELOLAAN Bab-3 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 3.1. BAGIAN HULU 3.1.1. Kualitas Udara A. Tahap Konstruksi a) Parameter Lingkungan yang Dikelola Kualitas udara khususnya SO 2, CO 2, NOx, PM 10, H 2 S dan debu.

Lebih terperinci

DOKUMEN AMDAL : KA ANDAL DAN ANDAL (REVIEW)

DOKUMEN AMDAL : KA ANDAL DAN ANDAL (REVIEW) DOKUMEN AMDAL : KA ANDAL DAN ANDAL (REVIEW) DOKUMEN AMDAL Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana

Lebih terperinci

ABSTRAKSI DOKUMEN AMDAL

ABSTRAKSI DOKUMEN AMDAL ABSTRAKSI DOKUMEN AMDAL PEMRAKARSA NAMA DOKUMEN PT. ASIATIC PERSADA Kegiatan Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik Pengolahannya NO. PERSETUJUAN & TANGGAL Komisi Penilai AMDAL Propinsi Jambi Nomor:274/2003,

Lebih terperinci

Tabel Hasil Proses Pelingkupan

Tabel Hasil Proses Pelingkupan Tabel 2.50. Hasil Proses No. menimbulkan A. Tahap Pra 1. Sosialisasi Permen 17 tahun 2012 tentang Keterlibatan Masyarakat Dalam ProsesAMDAL dan Izin Lingkungan terkena Sosial Budaya Munculnya sikap Evaluasi

Lebih terperinci

Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kompleks kilang LNG dan Pelabuhan Khusus

Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kompleks kilang LNG dan Pelabuhan Khusus Lampiran 1b. Matriks Rencana Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hilir (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Tujuan Rencana Institusi 1. KUALITAS UDARA Penurunan kualitas

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Akhirnya diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran proses penyusunan laporan ini.

KATA PENGANTAR. Akhirnya diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran proses penyusunan laporan ini. KATA PENGANTAR Penekanan tentang pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan tercantum dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan pelaksanaannya dituangkan

Lebih terperinci

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT. PERTAMINA EP merencanakan akan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk merealisasikan kegiatan tersebut,

Lebih terperinci

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT PERTAMINA EP - PPGM Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT. PERTAMINA EP merencanakan akan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk merealisasikan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Penyusunan ANDAL, RKL dan RPL kegiatan ini mengacu Peraturan Menteri Negara Lingkungan

KATA PENGANTAR. Penyusunan ANDAL, RKL dan RPL kegiatan ini mengacu Peraturan Menteri Negara Lingkungan KATA PENGANTAR Penekanan tentang pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan tercantum dalam Undang-Undang No. 23 tahun1997 mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan pelaksanaannya dituangkan

Lebih terperinci

BAB VI RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL-RPL)

BAB VI RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL-RPL) BAB VI RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL-RPL) 6.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 6.1.1 Tahap Pra-Konstruksi 6.1.1.1 Komponen Sosial-Ekonomi-Budaya 6.1.1.1.1 Penguasaan Lahan

Lebih terperinci

Sungai berdasarkan keberadaan airnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Reid, 1961):

Sungai berdasarkan keberadaan airnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Reid, 1961): 44 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekologi Sungai Aspek ekologi adalah aspek yang merupakan kondisi seimbang yang unik dan memegang peranan penting dalam konservasi dan tata guna lahan serta pengembangan untuk

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 DAFTAR ISI A. SUMBER DAYA ALAM Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 Tabel SD-3 Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan

Lebih terperinci

: Pedoman Pembentukan Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah. KRITERIA FAKTOR TEKNIS BIDANG PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 40 Skor 70 Skor 100 Skor

: Pedoman Pembentukan Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah. KRITERIA FAKTOR TEKNIS BIDANG PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 40 Skor 70 Skor 100 Skor Lampiran II : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Tahun 2004. Tentang Tanggal : : Pedoman Pembentukan Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah. KRITERIA FAKTOR TEKNIS BIDANG PENGENDALIAN DAMPAK

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; Lampiran III : Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor : 21 Tahun 2012 Tanggal : 20 Desember 2012 Tentang : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2012 2032 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI

Lebih terperinci

UKL DAN UPL TPA SAMPAH TALANGAGUNG KECAMATAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG

UKL DAN UPL TPA SAMPAH TALANGAGUNG KECAMATAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan pada dasarnya adalah usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dengan jalan memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam yang dimiliki, namun disisi

Lebih terperinci

DAMPAK PEMBANGUNAN DAN PENANGANANNYA PADA SUMBERDAYA AIR

DAMPAK PEMBANGUNAN DAN PENANGANANNYA PADA SUMBERDAYA AIR ISBN 978-602-9092-54-7 P3AI UNLAM P 3 A I Penulis : Editor : Dr. rer. nat. Ir. H. Wahyuni Ilham, MP Cetakan ke 1, Desember 2012 Peringatan Dilarang memproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun

Lebih terperinci

Makalah Baku Mutu Lingkungan

Makalah Baku Mutu Lingkungan Makalah Baku Mutu Lingkungan 1.1 Latar Belakang Pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup seyogyanya menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor pembangunan agar tercipta keseimbangan dan kelestarian

Lebih terperinci

DAMPAK PEMBANGUNAN PADA KUALITAS UDARA

DAMPAK PEMBANGUNAN PADA KUALITAS UDARA DAMPAK PEMBANGUNAN PADA KUALITAS UDARA Dampak pencemaran udara debu dan lainnya Keluhan-keluhan tentang pencemaran di Jepang (Sumber: Komisi Koordinasi Sengketa Lingkungan) Sumber pencemaran udara Stasiun

Lebih terperinci

AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT.

AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT. AMDAL Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UULH = Undang-Undang Lingkungan Hidup no 23 Tahun 1997, yang paling baru adalah UU no 3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

PIL (Penyajian Informasi Lingkungan)

PIL (Penyajian Informasi Lingkungan) PIL (Penyajian Informasi Lingkungan) PIL adalah suatu telaah secara garis besar tentang rencana kegiatan yang akan dilakukan atau diusulkan yang kemungkinan menimbulkan dampak lingkungan dari kegiatan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Studi ini menyajikan analisis mengenai kualitas udara di Kota Tangerang pada beberapa periode analisis dengan pengembangan skenario sistem jaringan jalan dan variasi penerapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan suatu industri adalah merupakan pedang bermata dua. Disatu sisi kegiatan tersebut membuka kesempatan kerja, menambah

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. Jalan Raya Kasomalang merupakan jalan provinsi Jawa Barat yang

V. GAMBARAN UMUM. Jalan Raya Kasomalang merupakan jalan provinsi Jawa Barat yang V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Jalan Raya Kasomalang merupakan jalan provinsi Jawa Barat yang menghubungkan Kecamatan Jalan Cagak dengan Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang. Jalur

Lebih terperinci

Untuk mengatasi masalah pasokan listrik, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, yaitu :

Untuk mengatasi masalah pasokan listrik, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, yaitu : Untuk mengatasi masalah pasokan listrik, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, yaitu : Pertama, mengatasi masalah listrik dengan menggunakan bahan bakar minyak. Minyak bumi merupakan bahan bakar

Lebih terperinci

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah Menurut Penggunaan lahan Utama Tahun 2009 2011... 2 Tabel SD-1B. Topografi Kota Surabaya...

Lebih terperinci

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Dalam melaksanakan kegiatannya, manusia selalu membutuhkan air bahkan untuk beberapa kegiatan air merupakan sumber utama.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan suatu daerah yang sebagian wilayahnya merupakan lokasi kegiatan beberapa perusahaan skala nasional dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara telah mengalami

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengelolaan Lingkungan Berdasarkan ketentuan umum dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pengelolaan hidup adalah upaya

Lebih terperinci

REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN

REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN PENDAHULUAN Masalah utama yang timbul pada wilayah bekas tambang adalah perubahan lingkungan. Perubahan kimiawi berdampak terhadap air tanah dan air permukaan. Perubahan

Lebih terperinci

BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA DAFTAR TABEL Daftar Tabel... i BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA A. LAHAN DAN HUTAN Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan. l 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan mahluk termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resources), sehingga

I. PENDAHULUAN. sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resources), sehingga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sungai menjadi salah satu pemasok air terbesar untuk kebutuhan mahluk hidup yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Sungai adalah sumber daya alam yang bersifat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

Prosedur Pelaksanaan ANDAL

Prosedur Pelaksanaan ANDAL Prosedur Pelaksanaan ANDAL Canter (1977) membagi langkah-langkah dalam melakukan pelaksanaan ANDAL; o Dasar (Basic) o Rona Lingkungan (Description of Environmental Setting) o Pendugaan Dampak (Impact assesment)

Lebih terperinci

Kode Unit Kompetensi : SPL.KS Pelatihan Berbasis Kompetensi Pelaksana Lapangan Perkerasan Jalan Beton

Kode Unit Kompetensi : SPL.KS Pelatihan Berbasis Kompetensi Pelaksana Lapangan Perkerasan Jalan Beton KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI Kode Unit Kompetensi : SPL.KS21.226.00. Pelatihan Berbasis Kompetensi Pelaksana Lapangan Perkerasan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

Modul II: Analisis Dampak Sosial dan Lingkungan

Modul II: Analisis Dampak Sosial dan Lingkungan Modul II: Analisis Dampak Sosial dan Lingkungan Modul ini akan berisi prtunjuk tentang bagaimana cara menganalisa dampak sosial dan lingkungan yang akan terjadi akibat dari proses bisnis perusahaan yang

Lebih terperinci

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R Oleh : Andreas Untung Diananto L 2D 099 399 JURUSAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan berwawasan lingkungan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat dengan sesedikit mungkin memberikan dampak negatif pada lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan vital setiap makhluk hidup. Dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan vital setiap makhluk hidup. Dalam kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan vital setiap makhluk hidup. Dalam kehidupan manusia, air tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik saja, yaitu digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik yang saling terkait satu sama lain. di bumi ada dua yaitu ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Kedua

Lebih terperinci

2. IKLIM, KUALITAS UDARA DAN KEBISINGAN

2. IKLIM, KUALITAS UDARA DAN KEBISINGAN 1. ASPEK LEGAL Surat Keputusan Gubernur Banten No. 670.27/KEP.312 HUK/2007 tentang Pemberian Persetujuan Kegiatan Rencana Pembangunan PLTU 2 Banten Kapasitas 2 x (300 400) MW dan Jaringan Transmisi 150

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kabupaten Kolaka merupakan salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Tenggara yang berada di wilayah pesisir dan memiliki potensi sumberdaya pesisir laut sangat

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI BAB II 2.1. Tinjauan Umum Sungai Beringin merupakan salah satu sungai yang mengalir di wilayah Semarang Barat, mulai dari Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan dan bermuara di Kecamatan Tugu (mengalir

Lebih terperinci

Syarat Penentuan Lokasi TPA Sampah

Syarat Penentuan Lokasi TPA Sampah Syarat Penentuan Lokasi TPA Sampah 1. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-3241-1994, membagi kriteria pemilhan loasi TPA sampah menjadi tiga, yaitu: a. Kelayakan regional Kriteria yang digunakan

Lebih terperinci

RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN PLTU 2 BANTEN - LABUAN

RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN PLTU 2 BANTEN - LABUAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN PLTU 2 BANTEN - LABUAN DAMPAK PENTING YANG DIPANTAU I. Tahap Pra Konstruksi 1. Keresahan Masyarakat II. Tahap Konstruksi Ada tidaknya keluhan, pengaduan dan protes dari masyarakat

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT Sejahtera Alam Energy adalah salah satu perusahaan di bidang pengembangan energi panas bumi yang memiliki wilayah kerja panas bumi di Baturraden,

Lebih terperinci

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI II-1 BAB II 2.1 Kondisi Alam 2.1.1 Topografi Morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali secara umum di bagian hulu adalah daerah pegunungan dengan topografi bergelombang dan membentuk cekungan dibeberapa

Lebih terperinci

penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah (pasal 6 huruf d).

penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah (pasal 6 huruf d). TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 14 Informasi Geologi Untuk Penentuan Lokasi TPA UU No.18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah 1. Melaksanakan k pengelolaan l sampah dan memfasilitasi i penyediaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banjir sudah menjadi masalah umum yang dihadapi oleh negaranegara di dunia, seperti di negara tetangga Myanmar, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapore, Pakistan serta

Lebih terperinci

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 21 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Umum Fisik Wilayah Geomorfologi Wilayah pesisir Kabupaten Karawang sebagian besar daratannya terdiri dari dataran aluvial yang terbentuk karena banyaknya sungai

Lebih terperinci

Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan BAB 1 Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan BAB 1 Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bijih besi merupakan salah satu jenis cadangan sumber daya alam dan sekaligus komoditas alternatif bagi Pemerintah Kabupaten Kulon progo yang dapat memberikan kontribusi

Lebih terperinci

Geografi LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN II. K e l a s. xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013

Geografi LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN II. K e l a s. xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013 xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013 Geografi K e l a s XI LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga sebagai sarana transportasi, sebagai sarana

Lebih terperinci

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas.

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 0000 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Lebih terperinci

4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011

4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011 4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011 Pada pengujian periode I nilai NO 2 lebih tinggi dibandingkan dengan periode II dan III (Gambar 4.1). Tinggi atau rendahnya konsentrasi NO 2 sangat dipengaruhi oleh berbagai

Lebih terperinci

BBM dalam negeri. Proyek ini diharapkan akan beroperasi pada tahun 2009.

BBM dalam negeri. Proyek ini diharapkan akan beroperasi pada tahun 2009. Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dengan ditemukannya lapangan gas baru, PT. PERTAMINA EP merencanakan akan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Lebih terperinci

RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL)

RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA (RKL) PENGEMBANGAN PROYEK LAPANGAN UAP PUSAT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI KARAHA BODAS KABUPATEN KABUPATEN PROVINSI AKHIR NOVEMBER 2009 LAMPIRAN 1 RENCANA PENGEMBANGAN LAPANGAN UAP & PLTP PANAS BUMI

Lebih terperinci

BAB 3 TINJAUAN LINGKUNGAN

BAB 3 TINJAUAN LINGKUNGAN BAB 3 TINJAUAN LINGKUNGAN A. KARAKTERISTIK LINGKUNGAN DI SEKITAR LOKASI PROYEK 1. Teluk Kendari Kota Kendari memiliki area perairan teluk yang cukup luas. Kawasan teluk Kendari yang berada di ibu kota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sungai maupun pencemaran udara (Sunu, 2001). dan dapat menjadi media penyebaran penyakit (Agusnar, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. sungai maupun pencemaran udara (Sunu, 2001). dan dapat menjadi media penyebaran penyakit (Agusnar, 2007). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berkembangnya sektor industri dan pemanfaatan teknologinya tercipta produk-produk untuk dapat mencapai sasaran peningkatan kualitas lingkungan hidup. Dengan peralatan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Kata Pengantar Dan Persembahan... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI. Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Kata Pengantar Dan Persembahan... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Kata Pengantar Dan Persembahan... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... ABSTRAK... i ii iii vi iv xi xiii xiv BAB I PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air

BAB I PENDAHULUAN. banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. berhasil menguasai sebidang atau seluas tanah, mereka mengabaikan fungsi tanah,

TINJAUAN PUSTAKA. berhasil menguasai sebidang atau seluas tanah, mereka mengabaikan fungsi tanah, II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pertambangan Tanah merupakan salah satu faktor yang terpenting bagi kehidupan manusia. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa pada umumnya setelah manusia berhasil menguasai sebidang

Lebih terperinci

RKL-RPL RENCANA PEMBANGUNAN DAN PENGOPERASIAN PLTU TANJUNG JATI B UNIT 5 DAN 6 (2 X MW) DI KABUPATEN JEPARA, PROVINSI JAWA TENGAH

RKL-RPL RENCANA PEMBANGUNAN DAN PENGOPERASIAN PLTU TANJUNG JATI B UNIT 5 DAN 6 (2 X MW) DI KABUPATEN JEPARA, PROVINSI JAWA TENGAH BAB I PENDAHULUAN 1.1. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dan tujuan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) dari rencana kegiatan Pembangunan dan Pengoperasian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR :... TAHUN... TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI MINYAK SAWIT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR :... TAHUN... TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI MINYAK SAWIT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR :... TAHUN... TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI MINYAK SAWIT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa Industri Minyak Sawit berpotensi menghasilkan

Lebih terperinci

KESESUAIAN LOKASI PERUMAHAN

KESESUAIAN LOKASI PERUMAHAN KESESUAIAN LOKASI PERUMAHAN Kesesuaian lokasi perumahan di Wilayah Gedebage Kota Bandung didasarkan pada hasil evaluasi. Evaluasi kesesuaian lahan adalah suatu evaluasi yang akan memberikan gambaran tingkat

Lebih terperinci

2.3. RENCANA KEGIATAN YANG DIDUGA AKAN MENIMBULKAN DAMPAK

2.3. RENCANA KEGIATAN YANG DIDUGA AKAN MENIMBULKAN DAMPAK 2.3. RENCANA KEGIATAN YANG DIDUGA AKAN MENIMBULKAN DAMPAK Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok PPGM ini terdapat dua kegiatan yang terpisahkan yaitu kegiatan Bagian Hulu dan kegiatan Bagian Hilir.

Lebih terperinci

2015 ZONASI TINGKAT BAHAYA EROSI DI KECAMATAN PANUMBANGAN, KABUPATEN CIAMIS

2015 ZONASI TINGKAT BAHAYA EROSI DI KECAMATAN PANUMBANGAN, KABUPATEN CIAMIS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lahan merupakan tanah terbuka pada suatu daerah yang dapat menjadi salah satu faktor penentu kualitas lingkungan. Kondisi lahan pada suatu daerah akan mempengaruhi

Lebih terperinci

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR Peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia menyebutkan bahwa segala bentuk rencana usaha dan/atau kegiatan yang memberikan dampak besar dan penting terhadap

Lebih terperinci

LAPORAN LENGKAP PRAKTEK LAPANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)

LAPORAN LENGKAP PRAKTEK LAPANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) LAPORAN LENGKAP PRAKTEK LAPANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan pada Mata Kuliah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) OLEH: KELOMPOK I HERI

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan ekonomi yang hingga saat ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. air limbah. Air limbah domestik ini mengandung kotoran manusia, bahan sisa

BAB I PENDAHULUAN. air limbah. Air limbah domestik ini mengandung kotoran manusia, bahan sisa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekitar 80% air minum yang digunakan oleh manusia dibuang atau menjadi air limbah. Air limbah domestik ini mengandung kotoran manusia, bahan sisa pencucian barang

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1. TINJAUAN UMUM DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Pembagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara administratif yaitu sebagai berikut. a. Kota Yogyakarta b. Kabupaten Sleman

Lebih terperinci

Kerangka Acuan Kerja. Penyusunan AMDAL Pelabuhan Penyeberangan Desa Ketam Putih

Kerangka Acuan Kerja. Penyusunan AMDAL Pelabuhan Penyeberangan Desa Ketam Putih Kerangka Acuan Kerja Penyusunan AMDAL Pelabuhan Penyeberangan Desa Ketam Putih I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/PRT/M/2015 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/PRT/M/2015 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/PRT/M/2015 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN SUMBER DAYA AIR

PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN SUMBER DAYA AIR PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN SUMBER DAYA AIR KEGIATAN SUMBER DAYA AIR BIDANG JARINGAN SUMBER AIR. Perbaikan dan pengamanan sungai (termasuk muaranya). Pengamanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Umum Setiap manusia akan menimbulkan buangan baik cairan, padatan maupun

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Umum Setiap manusia akan menimbulkan buangan baik cairan, padatan maupun BAB I PENDAHULUAN I.1 Umum Setiap manusia akan menimbulkan buangan baik cairan, padatan maupun dalam bentuk gas. Buangan cair yang berasal dari masyarakat yang di kenal sebagai air buangan atau air limbah

Lebih terperinci

masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat. lingkungan tidak memenuhi syarat penghidupan bagi manusia.

masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat. lingkungan tidak memenuhi syarat penghidupan bagi manusia. 2.1 Pengertian Baku Mutu Lingkungan Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup,

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

b. Dampak Pencemaran oleh Nitrogen Oksida Gas Nitrogen Oksida memiliki 2 sifat yang berbeda dan keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan.

b. Dampak Pencemaran oleh Nitrogen Oksida Gas Nitrogen Oksida memiliki 2 sifat yang berbeda dan keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan. 1. Sejarah Perkembangan Timbulnya Pencemaran Kemajuan industri dan teknologi dimanfaatkan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sudah terbukti bahwa industri dan teknologi yang maju identik

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Analisis karakteristik DTA(Daerah Tangkapan Air ) Opak

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Analisis karakteristik DTA(Daerah Tangkapan Air ) Opak BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis karakteristik DTA(Daerah Tangkapan Air ) Opak 1. Luas DTA (Daerah Tangkapan Air) Opak Dari hasil pengukuran menggunakan aplikasi ArcGis 10.1 menunjukan bahwa luas

Lebih terperinci

Daftar Tabel. halaman. Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan

Daftar Tabel. halaman. Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan Daftar Tabel Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan halaman Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan... I - 1 Tabel SD-2. Luas Kawasan Hutan Menurut

Lebih terperinci

METODOLOGI AMDAL (EVALUASI DAMPAK)

METODOLOGI AMDAL (EVALUASI DAMPAK) METODOLOGI AMDAL (EVALUASI DAMPAK) AMDAL YANG BAIK antara lain harus : a. komprehensif; b. fleksibel pemakaiannya ; c. Dapat menunjukkan dampak-dampak yang akan terjadi d. Obyektif e. Dapat diterima ilmuwan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur unsur

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur unsur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai ia meninggal dunia. Hal ini disebabkan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 Kuisioner Tahap I (Mencari Peristiwa Risiko Tinggi)

LAMPIRAN 1 Kuisioner Tahap I (Mencari Peristiwa Risiko Tinggi) LAMPIRAN 1 Kuisioner Tahap I (Mencari Peristiwa Risiko Tinggi) 101 KUESIONER PENELITIAN IDENTIFIKASI RISIKO DALAM ASPEK PRASARANA LINGKUNGAN PERUMAHAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KINERJA BIAYA DEVELOPER

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

A M D A L (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN)

A M D A L (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN) A M D A L (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN) PENGERTIAN, MANFAAT DAN PROSES Dr. Elida Novita, S.TP, M.T Lab. Teknik Pengendalian dan Konservasi Lingkungan Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya

Lebih terperinci