KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR

dokumen-dokumen yang mirip
KAJIAN JAWA TIMUR TRIWULAN III INDONESIA SURABAYA

KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR

KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR

KAJIAN EKONOMI REGIO ONAL JAWA TIMUR TRIWULAN II KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IV

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI REGIO ONAL JAWA TIMUR TRIWULAN III KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IV

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX

KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

L A M P I R A N. Kantor Bank Indonesia Ambon 1 PERTUMBUHAN TAHUNAN (Y.O.Y) PDRB SEKTORAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TIMUR TRIWULAN III KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI JAWA TIMUR

Kajian Ekonomi Regional Banten

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau

KAJIAN EKONOMI REGIO ONAL JAWA TIMUR TRIWULAN IV KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IV

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

Halaman ini sengaja dikosongkan.

No. Sektor No. Sektor No. Jenis Penggunaan

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN I-2013

Triwulan III Kajian Ekonomi Regional Banten

Grafik 1.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau (y o y) Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara ; **) angka sangat sementara

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TIMUR NOVEMBER 2017

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH FEBRUARI 2017

Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi...ii Daftar Tabel...iv Daftar Grafik... v Daftar Lampiran... vii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TIMUR AGUSTUS 2016 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI JAWA TIMUR

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2010 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2011 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

ii Triwulan I 2012

Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI 2017

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS

BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN II 2014

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan III 2015

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL

Transkripsi:

KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR TRIWULAN I 0 BANK INDONESIA SURABAYA

Penerbit : Bank Indonesia Surabaya Bidang Ekonomi Moneter Jl.Pahlawan No. SURABAYA Telp. : 000 psw. / Fax : 0 Email : kke_sby@bi.go.id Bahan soft copy dari kajian ini dapat di download pada web BI (http://www.bi.go.id)

Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia Misi Bank Indonesia : Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan sistem keuangan untuk mendukung pembangunan nasional yang berkesinambungan. Visi Bank Indonesia : Menjadi bank sentral yang kredibel secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilainilai strategis serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. Nilai Nilai Strategis : Kompetensi Intergritas Transparansi Akuntabilitas Kebersamaan. Visi dan Misi Kantor Bank Indonesia Surabaya Misi Kantor Bank Indonesia Surabaya : Mendukung pencapaian kebijakan Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran secara efisien dan optimal serta memberikan saran kepada Pemda dan lembaga terkait lainnya di daerah dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi daerah. Visi Kantor Bank Indonesia Surabaya : Menjadi kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugastugas Bank Indonesia yang diberikan.

KATA PENGANTAR Pertamatama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahnya sehingga Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur Triwulan I 0 dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Kajian triwulanan ini disusun untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi stakeholders eksternal maupun internal yang berkaitan dengan perkembangan perekonomian, perbankan dan sistem pembayaran di Jawa Timur baik pada triwulan dimaksud maupun prospek ke depan. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I0 sebesar,% (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan triwulan IV0 yang sebesar,%, namun tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yang tercatat sebesar,0%. Dari sisi permintaan, pertumbuhan pada triwulan ini didorong oleh konsumsi masyarakat dan perdagangan luar negeri (eksporimpor). Dari sisi penawaran, sektor Pertanian dan Industri Pengolahan yang menjadi sektor pendorong pertumbuhan ekonomi Jatim, sementara Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya Sementara itu, tekanan inflasi IHK Kabupaten/Kota di Jawa Timur sebesar,% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat,% serta terhadap inflasi nasional yang tercatat,%. Meskipun sumbangan inflasi pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau masih mendominasi, namun sumber pendorong inflasi pada triwulan ini terutama berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok kesehatan serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Seiring dengan tren pertumbuhan ekonomi yang terus membaik, kinerja perbankan (bank umum dan BPR) juga menunjukkan peningkatan, khususnya didukung oleh kinerja penyaluran kredit dan total aset yang mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa periode sebelumnya. Peningkatan kinerja perbankan juga terlihat dari bertambahnya Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh perbankan di Jatim seiring dengan peningkatan aktivitas perekonomian serta dukungan upaya perbankan dalam menghimpun dana dari masyarakat, di tengah cukup banyaknya persaingan di Sektor Keuangan yang menawarkan instrumen0 instrumen simpanan/investasi dengan imbal hasil bersaing. Di sisi lain kondisi kesejahteraan masyarakat Jawa Timur yang tercermin pada kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan i

menunjukkan kondisi yang membaik dan ditandai dengan peningkatan penyerapan jumlah tenaga kerja. Berdasarkan perkembangan perekonomian dan perbankan pada triwulan ini serta dengan mempertimbangkan potensi dan prompt indikator baik dari sisi internal maupun eksternal, kami memperkirakan pada triwulan II0 tingkat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur akan berada pada dari rentang pertumbuhan,,%. Faktor pendorong pertumbuhan tersebut yaitu konsumsi rumah tangga, investasi swasta dan kegiatan perdagangan luar negeri. Adapun tingkat inflasi pada triwulan I0 diperkirakan masih menunjukkan peningkatan dan berada di kisaran,0%,% (yoy), sebagai konsekuensi dari tekanan volatile food dan administered prices. Analisa pada kajian ini menggambarkan perkembangan perekonomian daerah Provinsi Jawa Timur yang mengolah data dan informasi yang diperoleh dari berbagai pihak seperti perbankan dan instansi di lingkungan pemerintah daerah, BUMN maupun swasta. Atas seluruh bantuan tersebut kami mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang sebesarbesarnya. Harapan kami, hubungan kemitraan yang terjalin selama ini dapat lebih ditingkatkan di masa yang akan datang. Kami juga mengharapkan masukan dan saran untuk lebih meningkatkan kualitas kajian sehingga dapat memberikan kemanfaatan yang optimal. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah selalu memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kita semua dalam memberikan kontribusi yang terbaik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Surabaya, Mei 0 BANK INDONESIA SURABAYA Mohamad Ishak Pemimpin ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN RINGKASAN EKSEKUTIF INDIKATOR MAKRO EKONOMI JAWA TIMUR INDIKATOR PERBANKAN JAWA TIMUR i ii v vi xi xii xvii xviii BAB PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL. KONDISI UMUM. SISI PERMINTAAN a. Konsumsi b. Investasi c. Ekspor Impor. SISI PENAWARAN a. Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran b. Sektor Industri Pengolahan c. Pertanian d. Keuangan, Persewaan dan Jasa e. Bangunan f. Transportasi dan Komunikasi 0 Boks ANALISIS DAMPAK TSUNAMI JEPANG PADA KINERJA EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA TIMUR BAB PERKEMBANGAN INFLASI. UMUM. INFLASI TRIWULANAN (qtq). INFLASI TAHUNAN (yoy). INFLASI MENURUT KOTA. DISAGREGASI INFLASI Boks "KERJASAMA BANK INDONESIA SURABAYA & PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO DALAM PENGEMBANGAN KLASTER SAPI POTONG"

BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN. PERKEMBANGAN KINERJA BANK UMUM 0... ASET DAN AKTIVA PRODUKTIF... DANA PIHAK KETIGA (DPK)... KREDIT... KREDIT USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (KMKM). STABILITAS SISTEM PERBANKAN... RISIKO KREDIT... RISIKO LIKUIDITAS. PERBANKAN SYARIAH. BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR). BANK BERKANTOR PUSAT DI SURABAYA 0 BAB PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH. UMUM. REALISASI PENDAPATAN DAERAH. REALISASI BELANJA DAERAH BAB SISTEM PEMBAYARAN. TRANSAKSI KEUANGAN SECARA TUNAI a. Aliran Uang Masuk/Keluar (Inflow/Outflow) b. Uang Kartal Tidak Layak Edar. TRANSAKSI KEUANGAN SECARA NON TUNAI a. Transaksi RTGS (Real Time Gross Settlement) b. Transaksi Kliring. PENEMUAN UANG PALSU DI PERBANKAN JAWA TIMUR BAB KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. UMUM. KETENAGAKERJAAN.. DATA KETENAGAKERJAAN JAWA TIMUR.. SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA (SKDU). KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PEDESAAN.. KESEJAHTERAAN PETANI.. KESEJAHTERAAN NELAYAN 0

BAB PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA. PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR. PERKIRAAN INFLASI JATIM 0

DAFTAR TABEL Tabel. Inflasi Kumulatif (ytd) Kota di Jawa Timur Tabel. Inflasi & Sumbangan Inflasi Di Jawa Timur (qtq) Tabel. Luas Panen,Produktifitas dan Produksi Padi Tabel. Inflasi Jawa Timur (yoy) Per Kelompok Barang Tabel. Sumbangan Inflasi Jawa timur (yoy) Per Kelompok Barang Tabel. Inflasi Kuartalan (qtq) dan Tahunan (yoy) Kota Di Jatim Tabel. Inflasi Kota DI Jatim Per Kelompok Barang & Jasa Triwulan I 0 (yoy) Tabel. Sumbangan Inflasi kota Di Jatim Per Kelompok Barang & Jasa Triwulan I 0 (yoy) Tabel. Perkembangan Indikator Perbankan ( Bank Umum & BPR ) di Jawa Timur Tabel. Perkembangan Indikator Bank Umum di Jawa Timur 0 Tabel. Perkembangan NPL per Kelompok Bank Tabel. Perkembangan NPL Kredit per Sektor Tabel. Perkembangan Indikator Bank Berkantor Pusat Di Surabaya Tabel. Realisasi Pendapatan APBD Prop.Jatim Triwulan I 0 Tabel. Realisasi Pendapatan APBD Prov.Jatim Tahun 00 0 (Rp juta) Tabel. Realisasi Belanja APBD Prov.Jatim Trwulan I 0 (Rp juta) Tabel. Realisasi Anggaran APBD Prov.Jatim Tahun 00 0 0 Tabel. Perkembangan Arus Uang Tunai (inflowoutflow) KBI Rp Milyar Tabel. Perputaran Kliring dan Tolakan Cek,Bilyet Giro TW I 0 Tabel. Kondisi Ketenagakerjaan di Jawa Timur (000) Tabel. Perkembangan Penggunaan Tenaga Kerja (SBT) Tahun 000

DAFTAR GAMBAR Gambar. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Gambar. Struktur Perekonomian Prov.Jawa Timur Gambar. Sisi Permintaan PDRB Prov.Jawa timur Gambar. Sisi Permintaan PDRB Prov.Jawa timur Gambar. Indeks Penjualan Eceran Gambar. Konsumsi Listrik Rumah Tangga Gambar. Penjualan Mobil Baru DI Jawa Timur Gambar. Penjualan Motor Baru DI Jawa Timur Gambar. Kredit Konsumsi Gambar. Dana Simpanan Perbankan Perorangan Gambar. Survei Konsumen Kondisi Saat Ini Gambar. Survei Konsumen Ekspektasi Masyarakat Gambar. Perkembangan Jumlah Proyek Investasi Gambar. Perkembangan Nilai Investasi Gambar. Perkembangan PMTB Gambar. Perkembangan Kredit Investasi Gambar. Perkembangan Volume Penjualan Semen Gambar. Perkembangan Penjualan Truk Gambar. Perkembangan Impor Barang Modal Gambar.0 Perkembangan Nilai Ekspor Gambar. Perkembangan Volume Impor Gambar. Pertumbuhan Volume Ekspor Gambar. Pertumbuhan Volume Impor Gambar. Nilai Impor per Jenis Barang Gambar. Pertumbuhan Impor per Jenis Barang Gambar. Neraca Perdagangan Luar Negeri Gambar. Neraca Perdagangan Kumulatif Gambar. Statistik Kontainer di Tanjung Perak Gambar. Jumlah Ship Calls Gambar.0 Statistik Kontainer Internasional Gambar. Statistik Kontainer Domestik Gambar. Negara tujuan Ekspor Jawa Timur 0 Gambar. Perkembangan Ekspor Menurut Tujuan Gambar. Komoditas Ekspor ke Amerika Serikat 0 Gambar. Perkembangan Ekspor Jatim ke Amerika Serikat Gambar. Pertumbuhan Tiga Sektor Utama Gambar. Pertumbuhan Sektor Pendukung Gambar. Pertumbuhan Sektor Pendukung

Gambar. Utilisasi Kapasitas Produksi Gambar.0 Utilisasi Kapasitas Produksi Sektoral Gambar. Indeks Realisasi Usaha Gambar. Indeks Realisasi Usaha Sektoral Gambar. Jumlah Kapal Singgah di Pel.Tanjung Perak Gambar. Kontainer Load dan Unload di Tanjung Perak Gambar. Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang di Jatim Gambar. Lama Tinggal Tamu di Hotel Berbintang Jatim Gambar. Jumlah Wisatawan Asing Melalui Bandara Juanda Gambar. Konsumsi Listrik Golongan Bisnis Gambar. Perkembangan Kredit PHR Gambar.0 Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Gambar. Indeks Realisasi Usaha Sektoral Gambar. Perkembangan Nilai Impor Barang Bahan Baku Gambar. Perkembnagan Pertumbuhan Gambar. Konsumsi Listrik Golongan Industri Gambar. Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan Gambar. Luas Lahan Tanam dan Panen Padi di Jawa Timur Gambar. Luas Lahan Tanam dan Panen Jagung di Jawa Timur Gambar. Luas Lahan Puso d Jawa Timur Gambar. Perkembangan Kredit Sektor Pertanian Gambar.0 Pertumbuhan Kredit dan DPK Perbankan Jawa timur Gambar. Perkembangan NIM Perbankan Jawa timur Gambar. Perkembangan Fee Based Income Gambar. Perkembangan Interest Based Income Gambar. Volume Penjualan Semen di Jawa timur 0 Gambar. Perkembangan Kredit Sektor Konstruksi 0 Gambar. Perkembangan Kredit Properti 0 Gambar. Perkembangan Kredit Properti per Jenis 0 Gambar. Arus Penumpang di Tanjung Perak Gambar. Arus Barang di Tanjung Perak Gambar.0 Penumpang Domestik di Bandara Juanda Gambar. Penumpang Internasional di Bandara Juanda Gambar. Perkembangan Kredit Angkutan & Komunikasi Gambar. Inflasi Jawa Timur & Nasional (yoy) Gambar. Perkembangan Inflasi Jawa Timur Gambar. Inflasi di Kawasan Jawa (yoy) Gambar. Inflasi Volatile Food di Kawasan Jawa (yoy) Gambar. Inflasi Inti di Kawasan Jawa (yoy) Gambar. Inflasi Administered Price di Kawasan Jawa (yoy)

Gambar. Inflasi (qtq) Triwulanan Jawa Timur Gambar. Inflasi Triwulanan (qtq) Kelompok Bahan Makanan Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Gula Pasir 0 Gambar. Perkembangan Harga Bulanan Gula Pasir di Dunia 0 Gambar. Inflasi Sub Kelompok Bahan Makanan di Jawa Timur Gambar. Pergerakan Harga Beras di Pasar Internasional Gambar. Peta Prakiraan Awal Musim Kemarau di Jawa Timur Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Komoditas Bumbubumbuan Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Komoditas Sayursayuran Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Daging Ayam & Daging Sapi Gambar. Perkembangan Harga Pakan Ayam (jagung) di Pasar Internasional Gambar. Pergerakan Harga Emas Dunia Januari 0 Maret 0 Gambar. Pergerakan Harga Komoditas Emas Perhiasan di Surabaya Gambar.0 Persentase Sumbangan Inflasi PerKelompok Barang Triwulan I0 Pergerakan Inflasi Tiga Komoditas penyumbang inflasi (yoy) tertinggi di Gambar. Jawa Timur Gambar. Perkembangan Harga CPO di Pasar Dunia Gambar. Perkembangan Harga Kedelai di Pasar Dunia Gambar. Perkembangan Harga Gandum di Pasar Dunia Gambar. Perkembangan Harga Minyak Mentah di Pasar Dunia Gambar. Laju Inflasi Jatim per komponen (mtm) Gambar. Laju Inflasi Jatim per komponen (yoy) Gambar. Perkembangan Inflasi Volatile Food Gambar. Perkembangan Inflasi Adm. Price Gambar.0 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Gambar. Perkembangan Capacity Ultilization Gambar. Perkembangan LDR 0 Gambar. Perkembangan LDR per Kelompok Bank 0 Gambar. Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (yoy) Gambar. Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (qtq) Gambar. Perkembangan Total Aset Bank Umum Gambar. Proporsi Aktiva Produktif Gambar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (qtq) Gambar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (yoy) Gambar. Perkembangan DPK per Jenis Simpanan (Rp juta) Gambar. Komposisi DPK Bank Umum (%) Gambar. Perbandingan Suku Bunga Simpanan BI Rate Gambar. Pertumbuhan Kredit (yoy) Gambar. Pertumbuhan Kredit (qtq)

Gambar. Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan Gambar. Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan Kelompok Bank Gambar. Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan (qtq) Gambar. Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan (yoy) Gambar. Proporsi Kredit Sektoral Gambar. Perkembangan Kredit Sektoral Gambar.0 Undisbursed Loans Gambar. Perbandingan Suku Bunga Kredit BI Rate Gambar. Perkembangan Kredit UMKM Gambar. Proporsi Kredit UMKM Berdasarkan Skala Usaha Gambar. Besar Provinsi Penyalur KUR 0 Gambar. Perkembangan Penyaluran KUR di Jatim 0 Gambar. Perkembangan NPL Bank Umum Gambar. Perkembangan NPL per Jenis Penggunaan Gambar. Money Position Perbankan di Jawa Timur Gambar. Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (qtq) Gambar.0 Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (yoy) Gambar. Proporsi DPK Perbankan Syariah di Jatim Gambar. Pertumbuhan DPK Perbankan Syariah Gambar. Pertumbuhan Pembiayaan Syariah per Jenis Penggunaan Gambar. Pangsa Pembiayaan Syariah per Jenis Penggunaan Gambar. Non Performance Financing ( NPF ) Perbankan Syariah Jatim Gambar. Financing to Deposit Ratio ( FDR ) Perbankan Syariah Jatim Gambar. Perkembangan Indikator BPR (yoy) Gambar. Perkembangan Indikator BPR (qtq) Gambar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (% yoy) Gambar.0 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (% qtq) Gambar. Pertumbuhan Kredit BPR per Jenis Penggunaan (yoy) 0 Gambar. Proporsi Kredit BPR per Jenis Penggunaan 0 Gambar. Perkembangan LDR & NPL BPR 0 Gambar. Pertumbuhan Indikator Bank ber KP di Surabaya (qtq) Gambar. Pertumbuhan Indikator Bank ber KP di Surabaya (yoy) Gambar. Gambar. Proporsi DPK per Jenis Simpanan pada Bank ber KP di Surabaya (Mar 0) Pertumbuhan DPK per Jenis Simpanan pada Bank Ber KP di Surabaya (qtq) Gambar. Perkembangan Kredit per Jenis Simpanan pada Bank Ber KP di Surabaya (qtq) Gambar. Proporsi Kredit per Jenis Penggunaan Bank ber KP di Surabaya Gambar.0 Perkembangan LDR Bank ber KP di Surabaya Gambar. Dana Pemerintah Provinsi/Kab/Kota Jatim di Perbankan

Gambar. Perkembangan Arus Uang Tunai (InflowOutflow) Gambar. Perkembangan Net Inflow Gambar. Inflow, Outflow dan Netflow Gabungan Gambar. Pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (PTTB) Gambar. Perkembangan Transaksi Non Tunai Di Jawa Timur Gambar. Perkembangan Transaksi RTGS Di Jawa Timur Gambar. Kota dengan aktivitas transaksi Outgoing RTGS Terbesar 0 Gambar. Kota dengan aktivitas transaksi Incoming RTGS Terbesar 0 Gambar. Perkembangan Transaksi Kliring Di Jawa Timur Gambar. Tolakan Transaksi Kliring Di Jawa Timur Gambar. Rasio Tolakan dalam Perputaran Kliring Di Jawa Timur Gambar. Statistik Uang Palsu yang ditemukan Gambar. Statistik Uang Palsu yang ditemukan (lembar) Gambar. Statistik Uang Palsu Yang Ditemukan (nilai) Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Sisi Sektoral Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Gambar. Komposisi Tenaga Kerja Formal Gambar. Komposisi Bidang Tenaga Kerja Informal Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Tiga Sektor Utama Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral Gambar. NTP Nasional & Jawa Timur 0 Gambar. NTP dan Pertumbuhan (Nasional & Jatim) 0 Gambar. It Serta Pertumbuhan Nasional & Jatim 0 Gambar. Ib dan Pertumbuhan Nasional & Jatim 0 Gambar. NTN Nasional & Jawa Timur Gambar. NTN Serta Pertumbuhan (Nasional & Jatim) Gambar. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Gambar. Indeks Ekspetasi Penghasilan Gambar. Estimasi Realisasi Usaha 0 0 Gambar. Estimasi Penggunaan Tenaga Kerja 0 0 Gambar. Ekspektasi Harga bulan y.a.d Gambar. Ekspektasi Harga bulan y.a.d

LAMPIRAN INDIKATOR MAKRO EKONOMI JAWA TIMUR INDIKATOR 00 0 0 II V I II V Tw.I INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK) JAWA TIMUR,,,,0,,,0 Kota Surabaya,,0,,,,,00 Kota Malang,,,,,,, Kota Kediri,,,,,,,0 Kota Jember,,, 0,0,,, Kota Probolinggo,, 0,, 0,,, Kota Madiun 0,,,,,,0 0,00 Kota Sumenep,,,,,,,0 LAJU INFLASI TAHUNAN (YOY) JAWA TIMUR,,0,0,,,, Kota Surabaya,,,,,,,0 Kota Malang,,,0,,,0, Kota Kediri,,,0,,,0, Kota Jember,0,,,,0,0, Kota Probolinggo,,,,,,, Kota Madiun,,,,,,,0 Kota Sumenep,,,00,,,, PDRB Harga Konstan (Milliar Rp)........0...... Pertanian..0............ Pertambangan dan Penggalian..0.......0.0.0..0. Industri Pengolahan...0.0 0.....0.0...0. Listrik, gas, dan air bersih....0.0.0.....0...0 Bangunan...0.....0..0..0.. Perdagangan, Hotel dan Restoran.....0...0.....0. Pengangkutan dan komunikasi..0.0........... Keuangan, persewaan, dan jasa......0.0....... Jasa.....0......0..0. Pertumbuhan PDRB (yoy),,,,,,, Nilai Ekspor Non migas (USD Juta)..0..... Volume Ekspor Non migas (ribu ton).0.00..........0.. Nilai Impor Non migas (USD juta)..0.0.0.0..0 Volume Impor Non Migas (ribu ton)..0..00.0....0...00.. xii

A. Perbankan Bank Umum : 00 0 0 II V I II V Total Asset (Rp. Triliun).0.0......0 0.0...0 0, DPK (Rp. Triliun).00.....0.0.0 0...0. 0, Tabungan (Rp. Triliun).0..0.00....0..0 0...0. Giro (Rp. Triliun)........00...0.0.. Deposito (Rp. Triliun)..00.......... 0.. Kredit (Rp. Triliun) Bank Pelapor.. 0000..0..0...... Modal Kerja.............00.0 Investasi.0...0..0...0.0..0.. Konsumsi..00 0..0...0..0.0....0 Non Performing Loan (NPLGross),%,%,0%,%,0%,%,% Loan to Deposit Ratio LDR (%),0%,%,%,%,%,%,% Kredit UMKM (Triliun Rp)Bank Pelapor...... 0.....0... NPL MKM Gross (%),0%,%,%,%,0%,%,0% Bank Berkantor Pusat di Surabaya Total Asset (Rp. Triliun).0.0..........0.0. DPK (Rp. Triliun)....0...0. 0.... 0..0 Tabungan (Rp. Triliun)...00.0...0..0..... Giro (Rp. Triliun).......00......00.0 Deposito (Rp. Triliun).......0....0... Kredit (Rp. Triliun).0.0...0.......0.. Kredit Modal Kerja.....0.....0....0 Kredit Investasi.0...0.0.00...0.0..0.. Kredit Konsumsi.......00...0.... Non Performing Loan (NPLGross) 0,% 0,% 0,% 0,% 0,% 0,% 0,% Loan to Deposit Ratio LDR (%),%,%,%,0%,%,% 0,% BPR : LAMPIRAN INDIKATOR PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN JAWA TIMUR INDIKATOR Total Asset (Rp. Triliun)........0.. DPK (Rp. Triliun).....00....0.0 0,0 Tabungan (Rp. Triliun) 0...0.000...0 00, 0 Deposito (Rp. Triliun).0..0...0...0., Kredit (Rp. Triliun).0......0... 00,.. Modal Kerja..0.0.0.....0.,..00 Investasi..... 0,00. Konsumsi...0.....,0..0 Non Performing Loan (NPLGross),%,%,0%,%,%,%,% Loan to Deposit Ratio (LDR) %,% 0,% 0,%,%,%,%,% SYARIAH : Total Asset (Rp. Triliun)...0.0..0.0....... DPK (Rp. Triliun)..........00.... Tabungan (Rp. Triliun)........0...0. Giro (Rp. Triliun).0.0....... Deposito (Rp. Triliun).0.0...0.....0...0. Pembiayaan (Rp. Triliun).............0. Modal Kerja........0...... Investasi.0.0..... Konsumsi..........0..0..0 Non Performance Financing (NPF) %,,,0,,,00, Financing to Deposit Ratio (FDR) %,,,,,,, B. SISTEM PEMBAYARAN INDIKATOR 00 0 0 II V I II V Inflow (Rp. Triliun),,,,,0,, Outflow (Rp. Triliun),,,,0,,, Pemusnahan Uang (Rp Triliun),,0,,,,,0 Nominal Transaksi RTGS,,,,,,, Volume Transaksi RTGS....0...0 Nominal Kliring Kredit (Rp. Triliun),0,,,,0, 0,0 Volume Kliring Kredit (juta lembar),,,,,,, Tolakan Kliring (Rp. Juta). 0...... Tolakan Kliring (lembar)..... 0..0 xiii

Ringkasan Eksekutif

Bab PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL.. KONDISI UMUM Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I0 sebesar,% (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan triwulan IV0 sebesar,%, namun tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar,0%. Dari sisi permintaan, pertumbuhan pada triwulan ini didorong oleh konsumsi masyarakat dan perdagangan luar negeri (eksporimpor) dengan kondisi net ekspor. Sementara itu, masih seperti polapola sebelumnya, realisasi anggaran pemerintah masih minim di awal tahun. Dari sisi penawaran, sektor Pertanian dan Industri Pengolahan merupakan sektor pendorong pertumbuhan ekonomi Jatim, sementara sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sektor lainnya yang menyumbang pertumbuhan pada triwulan ini, adalah sektor Pertambangan serta sektor Angkutan dan Komunikasi. Gambar. Gambar. % y o y Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi,,,,0,,,, Jawa Timur Indonesia,,,,,,,,,,,0,0,,,,,,,0,00 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0% 0% 0% 0% 0% 0% Struktur Perekonomian Prov. Jawa Timur Listrik Gas Air Bersih Tambang Bangunan Keuangan Angkut & Kom Jasa Pertanian I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I Industri 00 00 00 0 0 00 00 00 0 0 PHR Sumber: BPS Jatim Sumber: BPS Jatim.. SISI PERMINTAAN Dari sisi permintaan, pertumbuhan pada triwulan ini didorong oleh konsumsi masyarakat dan perdagangan luar negeri (eksporimpor) dengan kondisi net ekspor. Selanjutnya, masih seperti polapola sebelumnya, realisasi anggaran pemerintah daerah masih minim di awal tahun dan didominasi oleh realisasi belanja pegawai baik belanja langsung maupun tidak langsung. Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 0 0 0 0 0 0 0 Gambar. Sisi Permintaan PDRB Prov.Jawa Timur Kons Rumah Tangga Kons Pemerintah gkons Rumah Tangga (rhs) gkonsumsi Pemerintah (rhs) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I % 0% % % % 0% 0 Gambar. Sisi Permintaan PDRB Prov.Jawa Timur Net Ekspor Net Ekspor Antar Pulau 00% gnet Ekspor (rhs) gnet Ekspor Antar Pulau 0% 00% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 000% 00 00 00 0 0 000% 000% 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jatim Sumber: BPS Jatim 000% a. Konsumsi Meskipun pertumbuhan investasi di Jawa Timur pada triwulan I0 mengalami penurunan, namun membaiknya pertumbuhan konsumsi masyarakat dari,% (yoy) menjadi sebesar,%, turut mempengaruhi pada pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang hanya mengalami sedikit perlambatan pada triwulan ini. Pertumbuhan konsumsi tersebut dikonfirmasi peningkatan pada beberapa indikator konsumsi seperti hasil Survei Penjualan Eceran, jumlah konsumsi listrik rumah tangga serta penjualan kendaraan baru. Selain itu, adanya momentum Tahun Baru, Perayaan Imlek dan hari besar keagamaan pada triwulan ini turut memicu peningkatan konsumsi masyarakat. Lancarnya pelaksanaan Pilkada di Kab.Tuban turut pula mendukung kegiatan ekonomi terutama terkait distribusi dan kegiatan perdagangan di daerah sekitarnya. Kegiatan konsumsi masyarakat diindikasikan pula dengan membaiknya indeks omset riil selama triwulan I0 dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan peningkatan tertinggi terjadi pada kelompok peralatan mamin & tembakau, pakaian dan alat tulis. Indikator lain yang menjelaskan penguatan konsumsi masyarakat adalah peningkatan penjualan motor baru di Jawa Timur, sedangkan penjualan mobil relatif stabil terkait pemberlakuan pajak tambahan bagi pemilik kendaraan lebih dari satu. Selain itu, tingkat konsumsi listrik rumah tangga pun relatif stabil. Sesuai dengan karakternya, penjualan mobil dan motor merupakan cermin keyakinan konsumen atas kebutuhan konsumsi untuk jangka panjang karena sifat barangnya yang relatif mahal (big ticket items) dan tahan lama (durable goods). Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Gambar. Indeks Penjualan Eceran 0 Indeks Omset Riil Peralatan RT 0 Mamin & Tembakau Pakaian 0 Alat Tulis 0 0 0 0 0 0 * 00 00 00 0 0 Sumber: Survei Penjualan Eceran BI Surabaya 0 0 0 0 0 0 Konsumsi listrik RT Sumber: PLN Distribusi Jatim Gambar. Konsumsi Listrik Rumah Tangga KwH per pelanggan RT 00 00 00 0 0 00 00 00 00 00 00 00 0 0.000.000 Gambar. Penjualan Mobil Baru di Jawa Timur Penjualan Mobil g Penjualan Mobil (yoy) 0% 0% 0.000 0.000 Gambar. Penjualan Motor Baru di Jawa Timur g Penjualan Sepeda Motor g Penjualan Sepeda Motor(yoy) 0% 00%.000.000.000 0% 0% 0% 0% 0.000 0.000 0.000 0% 0% 0% 0%.000 0% 0.000 0% 0 Sumber: Dispenda Jatim 00 00 00 0 0 0% 0 Sumber: Dispenda Jatim 00 00 00 0 0 0% Sementara itu, pertumbuhan simpanan perorangan sebagai salah satu sumber pembiayaan konsumsi masyarakat masih sama dengan polapola triwulan sebelumnya yaitu masih relatif rendah. Namun secara keseluruhan pertumbuhannya mengalami perbaikan dibandingkan di akhir tahun. Sumber pembiayaan eksternal lainnya yang penting bagi masyarakat adalah kredit konsumsi perbankan yang selama triwulan I0 sedikit melambat, sesuai dengan karakter realisasi kredit di awal tahun, namun lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I0. Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 0.000.000.000.000 0.000.000.000.000 0.000.000.000.000 0.000.000.000.000.000.000.000.000 Gambar. Kredit Konsum msi Kredit Konsumsi 0% gkredit Konsumsi (rhs) % 0% % 0% % % % 0% Gambar. I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I Perkembangan Jumlah h Proyek Investasi 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan, diolah 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0, (0,) Gamb bar. Dana Simpanan Pe erbankan Perorangan gdpk Perorangan ggiro Perorangan gtab Perorangan gdep Perorangan 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan, diolah Selain itu nilai Indeks Keyakinan Konsumen yang tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi dan Kondisi Ekonomi Indonesia bulan yang akan datang pada gambar. dan gambar. mengalami peningkatan. Hingga triwulan I0, nilai kedua indeks ini masih berada di atas 0 yang mencerminkan optimisme (nilai indeks yang diatas 00 berarti lebih banyak responden yang merasa optimis daripada pesimis terhadap kondisi ekonomi saat ini). Gambar. Survei Konsumen Kondisi Saat Ini Gamb bar. Survei Konsumen Ekspektasi Masyarakat a Sumber: Survei Konsumen BI Surabaya Sumber: Survei Konsumen BI Surabaya b. Investasi Pada triwulan I0, kegiatan investasi di Jawa Timur mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari,0% (yoy) menjadi,0%. Menurunnya kinerja ini disebabkan oleh penurunan nilai realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA), sedangkan nilai Penanamann Modal Dalam Negeri (PMDN) relatif stabil. Tercatat selama triwulan I0, realisasi investasi PMA di Jawa Timur merupakan terbesar ketiga di Indonesia senilai US$ juta untuk proyek, Triwulan I 0 0 0 Jumlah Proyek PMA Perubahan Jumlah Proyek PMA Jumlah Proyek PMDN Perubahan Jumlah Proyek PMDN 00%

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 0 0 mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya dengan nilai investasi sebesar US$ 00 juta ( proyek). Akibatnya, Jawa Timur tidak termasuk dalam lima besar provinsi penerima investasi PMA tertinggi di Indonesia. Sementara itu, tingkat realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jawa Timur pada triwulan ini menjadi provinsi penerima investasi PMDN tertinggi di Indonesia, dengan nilai sebesar Rp., triliun untuk proyek, mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya senilai Rp., triliun dengan proyek. Nilai realisasi investasi di Jawa Timur diperkirakan terus mengalami peningkatan mengingat potensi sektor pertambangan dan pariwisata Jatim yang masih cukup prospektif untuk dikembangkan. Hal tersebut didukung pula adanya fasilitas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang telah mendapat penghargaan sebagai Penyelenggara Terbaik Pertama PTSP di Indonesia, bersaing dengan 0 PTSP di bidang penanaman modal lainnya. Gambar. Perkembangan Jumlah Proyek Investasi Jumlah Proyek PMA Jumlah Proyek PMDN Perubahan Jumlah Proyek PMA Perubahan Jumlah Proyek PMDN Gambar. Perkembangan Nilai Investasi.000 Nilai Proyek PMA (USD million) Nilai Proyek PMDN (Rp miliar) 00% g Nilai Proyek PMA g Nilai Proyek PMDN 00 00% 00% 00 00 00% 0 00% 00 00% 0 0% 00 00 00% 0 00 00% 0% 00 0 0% 0% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 00 0 0 Sumber: BPM Jawa Timur I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I Sumber: 00 BPM Jawa 00 Timur 00 0 0 Sumber: BPM Jawa Timur 00% Gambar. Perkembangan PMTB PMTB gpmtb (rhs) % 0%.000.000 0.000.000 Gambar. Perkembangan Kredit Investasi Kredit Investasi gkredit Investasi (rhs) 0% % 0% 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I % % % 0%.000.000.000.000.000.000 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I % 0% % % % 0% 00 00 00 0 0 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur Sumber: Laporan Bulanan Perbankan, diolah Indikator lainnya mengindikasikan hal yang sama, yaitu pada tingkat penjualan semen dan truk baru. Sementara itu, kinerja kredit investasi mengalami Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kepercayaan dunia usaha pada kondisi perekonomian Jawa Timur telah membaik, meskipun secara keseluruhan kinerja investasi di Jawa Timur pada triwulan ini mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, pasca penghapusan tarif impor barang modal (semula 0%), turut pula mempengaruhi kinerja impor barang modal ke Jawa Timur yang cenderung stagnan dibandingkan triwulan IV0. Hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi kinerja sektorsektor yang membutuhkan impor barang modal, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Gambar. Gambar r. 00.000 00.000 00.000 00.000 00.000 Perkembangan Volume Penjualan Semen Vol Penjualan Semen gpenjualan Semen 0% 0% 0% % 0% %.00.000.00.000 Perkembangan Penjualan Truk Penjualan Truk g Penjualan Truk (yoy) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0.000 0 * 0% 0% 00 0 0% 0% 0% 00 00 00 0 0 Sumber: Asosiasi Semen Indonesia 00 00 00 0 0 Sumber: Dipenda Prov.Jawa Timur,0 Gambar. Perkembangan Impor Barang Modal gtotal Impor gcapital Goods,, % 0, y o y 0, 0,0 0, 0, * * * 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia c. EksporImpor Terus membaiknya kinerja ekspor luar negeri Jawa Timur setelah melampaui kondisi sebelum krisis global, masih terus dipertahankan pada triwulan ini yang mengalami pertumbuhan sebesar,% (yoy), meskipun sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (,0%). Kinerja ekspor Jawa Timur turut Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa komoditas dunia, seperti tembaga dan kopi, meskipun volumenya sedikit mengalami penurunan. Melanjutkan strategi ekspor pada triwulan sebelumnya, strategi diversifikasi produk ekspor juga telah membuahkan hasil, selain mulai dikenalnya produk buahbuahan tropis, Jawa Timur juga mulai meningkatkan ekspor kimia organik dan komoditas lemak dan minyak hewan. Di sisi lain, kondisi impor Jawa Timur mengalami penurunan, sehingga meningkatkan nilai net ekspor pada triwulan ini. Tercatat impor Jatim tumbuh sebesar,% (yoy), mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar,0%. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya ketiga jenis barang impor dengan penurunan tertinggi yaitu pada jenis barang modal, diikuti oleh barang konsumsi dan barang bahan baku. Berdasarkan jenisnya, nilai impor tertinggi masih berupa impor bahan baku, diikuti oleh impor barang modal dan konsumsi. Dominasi impor bahan baku ke Jatim hingga triwulan I0 masih relatif sama dengan triwulan IV0, yaitu berada pada kisaran 0% %, yang sebelumnya berada pada kisaran 0%. Hal ini dipicu oleh meningkatnya nilai impor barang modal hingga mencapai kisaran 0%, meningkat sebesar % dibandingkan pada periode sebelumnya. Sedangkan, impor barang konsumsi relatif tetap berada pada kisaran % %. Dengan demikian, komposisi impor Jatim hingga triwulan I0 lebih dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat terkait kegiatan ekspor impor dibandingkan dengan kebijakan pemberlakuan ACFTA. Secara keseluruhan, pada triwulan ini Jawa Timur mencatat surplus neraca perdagangan luar negeri (trade balance) sebesar Rp, triliun, mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tercatat sebesar Rp., triliun. Nilai ini terus membaik pasca menurunnya nilai surplus perdagangan luar negeri Jatim di triwulan I0. Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL.00.00.000 00 00 Gambar.0 Perkembangan Nilai Ekspor Nilai Ekspor g Nilai Ekspor 0% 0% 0% 0% 0% % 0%.00.00.000 00 00 Gambar. Perkembangan Nilai Impor Nilai Impor g Nilai Impor 0% 0% 0% 0% 0% 0% 00 00 % 0% 0% 00 00 0% 0% 0% 0% * * * * * * 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Gambar. Pertumbuhan Volume Ekspor Gambar. Pertumbuhan Volume Impor.000 00 Volume Ekspor g Volume Ekspor 0% 0%.00 Volume Impor g Volume Impor 0% 0% 00 0%.000 0% 00 00 00 00 0% 0% % 0% %.00.000 0% 0% 0% 0% 00 0% 0% 00 0% 00 0% 0 0% 0% * * * 0% * * * 0% 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia.00.00.000 00 00 00 00 0 Gambar. Nilai Impor per Jenis Barang Consumption Goods Intermediate Goods Capital Goods * * * 00 00 00 0 0 % y o y,0,, 0, 0, 0,0 0, 0, Gambar. Pertumbuhan Impor per Jenis Barang gtotal Impor gcapital Goods gintermediate Goods gconsumption Goods * * * 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 00 00 00 00 0 (0) (00) Gambar. Neraca Perdagangan Luar Negeri Gambar. Neraca Perdagangan Kumulatif (00) (00) Gambar. Jumlah Ship Calls 0.000 0.000 Total kontainer gtotal Kontrainer (RHS) 0% 0% 0% 0 0 Jumlah Ship Calls 0.000 0% 0% 0 TEUS 0.000 0.000 % 0% % % 0 0 0.000 0% 0% 0 0 0% 0 Net Ekspor * * * 00 00 00 0 0 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% Cumulative Net Ekspor * * * 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia 0% 0% Sumber: Bank Indonesia Relatif stabilnya ekspor luar negeri Jatim pada triwulan I0 dapat tercermin pula pada indikator jumlah kontainer dan ship calls pada perusahaan petikemas terkemuka di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang menunjukkan nilai relatif sama dengan triwulan sebelumnya. Permasalahan pipa gas yang masih menjadi penghambat proses bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak masih belum menemui solusi hingga awal tahun 0, karena rumitnya proses birokrasi di pemerintah pusat. Dengan semakin membesarnya kegiatan perdagangan luar negeri Jatim, pipa gas dimaksud perlu dicarikan solusi agar tidak memotong Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). Gambar. Statistik Kontainer di Tanjung Perak Sumber: 00 PT X, Tanjung 00 Perak 00 0 0 00 Sumber: PT X, Tanjung 00 Perak 00 0 0 Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 0.000 0.000 0.000 Gambar.0 Statistik Kontainer Internasional 0.000.000 Discharged Load Total 0.000 0.000 0.000 0.000.000 0.000 0.000 0.000 Impor Ekspor.000.000.000 Total Gambar. Statistik Kontainer Domestik 00 00 00 0 0 Sumber: PT X, Tanjung Perak 00 00 00 0 0 Sumber: PT X, Tanjung Perak Berdasarkan negara tujuan, ekspor luar negeri Jawa Timur pada triwulan I 0 hampir seluruhnya menunjukkan nilai yang stabil, khususnya pada negara tujuan utama, yaitu Jepang, Malaysia, Amerika dan Cina. Momentum tahun baru dan Perayaan Imlek di beberapa negara turut mendukung stabilnya kinerja ekspor luar negeri Jawa Timur pada triwulan ini dibandingkan periode sebelumnya. Komposisi ekspor Jatim masih didominasi oleh enam negara, yaitu Jepang (%), Amerika Serikat (%), Malaysia (%), Cina (%), Singapura (%) dan Thailand (%). Ekspor keenam negara ini mencapai 0% total nilai ekspor Jawa Timur. Setelah sempat menurun akibat krisis global, nilai ekspor Jawa Timur ke negaranegara partner dagang utama ini kembali pulih sejak Maret 0 dan terus mengalami peningkatan. Gambar. Negara Tujuan Ekspor Jawa Timur 0 00.000.000 Gambar. Perkembangan Ekspor menurut Tujuan JAPAN USA MALAYSIA RRC THAILAND SINGAPORE Japan % 0.000.000 00.000.000 Others % USA % 0.000.000 China Spore % % Thailand % Malaysia % 0.000.000 0.000.000 0 * * * 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Mencermati kinerja ekspor Jatim ke Amerika Serikat yang terus meningkat pasca krisis global tahun 00 didominasi oleh produk furnitur, alumunium, Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL perikanan dan makanan olahan. Khusus kinerja produk furnitur dan alumunium dan makanan olahan telah melampaui posisi ekspor sebelum krisis global, sedangkan produk fresh seafood dan olahan plastik sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Gempa dan tsunami yang melanda Jepang di awal bulan Maret 0 diperkirakan turut mempengaruhi kinerja eksporimpor Jawa Timur, yang pada akhirnya berpengaruh pula pada tingkat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan III0. Gambar. Gambar. % % Komoditas Ekspor ke Amerika Serikat 0 % 0% Furniture,bedding,lamps illum.signs Fish,crustaceans,moluscs, oth.invert Prep. of meat,fish,crust., molluscs Alumunium and articles thereof.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 Perkembangan Ekspor Jatim ke Amerika Serikat Paper and paperboard.000.000 % % Plastics and articles thereof.000.000 (.000.000) * * * Others 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia.. SISI PENAWARAN Dari sisi penawaran, struktur perekonomian Jawa Timur pada triwulan I0 masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu Perdagangan, Hotel & Restoran (PHR), Industri Pengolahan, dan Pertanian. Kombinasi ketiganya memberi sumbangan hingga sekitar % terhadap PDRB Jawa Timur. Gambar. Gambar. 0 0 Pertumbuhan Tiga Sektor Utama PHR Industri Pertanian gphr (rhs) gindustri (rhs) gpertanian (rhs) % % % % Pertumbuhan Sektor Pendukung Jasa Angkut & Kom Keuangan gjasa (rhs) gangkut & Kom (rhs) gkeuangan (rhs) 0% % 0% % 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0% % % 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I % % 0% 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Gambar. Pertumbuhan Sektor Pendukung Bangunan Tambang Listrik Gas Air Bersih gbangunan (rhs) gtambang (rhs) glistrik Gas Air Bersih (rhs) 0% % 0% % 0% 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur 0% Ketiga sektor utama tersebut masih menjadi sektor pendorong pertumbuhan ekonomi Jatim. Kinerja sektor Pertanian dan sektor Industri Pengolahan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sedangkan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) mengalami penurunan. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini juga didukung oleh pertumbuhan sektor lainnya, yaitu sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta sektor Pertambangan. Membaiknya kinerja kedua sektor tersebut sebagai pendukung sektor utama, menunjukkan membaiknya proses bisnis usaha dari hulu hingga hilir, seiring makin beragamnya kebutuhan masyarakat saat ini. Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia Surabaya, tingkat utilisasi kapasitas produksi di Jawa Timur tercatat mengalami sedikit penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari,% menjadi,%, disebabkan adanya penambahan kapasitas terpasang guna memenuhi permintaan seasonal di triwulan mendatang. Membaiknya konsumsi masyarakat yang direspon dengan peningkatan kinerja sektoral Jatim diindikasikan pula oleh hasil Survei Liaison Bank Indonesia Surabaya, yang memiliki ekspektasi optimis pada perekonomian Jatim. Berbagai rencana penambahan kapasitas maupun investasi baru menjadi bagian dari rencana usaha para pebisnis di Jatim guna merespon permintaan dalam dan luar negeri yang terus meningkat. Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Gambar. Gambar.0 0 0 0,, Utilisasi Kapasitas Produksi,, 0,0,, 0,,,,,, 0,,, 0 0 0 Utilisasi Kapasitas Produksi Sektoral Total Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik Gas Air Bersih 0,, 0 0 0 0 0 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 00 00 0 0 Sumber: SKDU BI Surabaya 00 00 00 00 0 0 Sumber: SKDU BI Surabaya Adanya perlambatan nilai realisasi investasi dunia usaha pada triwulan ini dibandingkan triwulan sebelumnya juga dikonfirmasi oleh angka indeks hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) terhadap pelaku usaha di Jawa Timur yang menunjukkan perlambatan realisasi usaha dari, menjadi,. Secara sektoral, perbaikan realisasi usaha di Jawa Timur yang tertinggi terjadi pada Sektor Industri pengolahan, diikuti oleh sektor Pertanian dan PHR. Kondisi ini terkonfirmasi dari kinerja sektoral Jatim pada triwulan ini, yang mengalami perlambatan pada dua sektor dominan, yaitu sektor Pertanian dan PHR. Gambar. Gambar. 0 0 0,0,, Indeks Realisasi Usaha,,,,,,,, 0,,,, Indeks Realisasi Usaha Sektoral Pertanian Industri Pengolahan PHR,, 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0,,, 00 00 00 00 0 0, 0 0, 0, I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0, 00 00 00 0 0,0,0 0 0, Indeks Realisasi Usaha Sumber: SKDU BI Surabaya Sumber: SKDU BI Surabaya a. Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran Kinerja sektor Perdagangan, Hotel & Restoran (PHR) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari,% menjadi,%, seiring berkurangnya kegiatan transaksi perdagangan dan pariwisata pada triwulan ini. Namun demikian, sektor ini masih mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi dipengaruhi oleh momentum Tahun Baru, Perayaan Imlek dan beberapa hari raya Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL keagamaan, turut mendorong kegiatan perdagangan dalam dan luar negeri, serta kegiatan berwisata domestik. Perlambatan kinerja sektor ini juga diindikasikan oleh indikator aktivitas perdagangan berupa jumlah kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak yang mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Meskipun aktivitas load dan unload kapal transaksi perdagangan internasional mengalami peningkatan, namun terjadi perlambatan untuk perdagangan antar pulau. Disisi lain, konsumsi masyarakat dan kinerja transaksi perdagangan luar negeri Jawa Timur mengalami perbaikan, namun melambatnya kinerja perdagangan antar pulau turut mempengaruhi kinerja sektor perdagangan Jawa Timur. Gambar. Gambar. 0 Jumlah Kapal Singgah di Pel Tanjung Perak 0.000 Kontainer Load dan Unload di Tanjung Perak 0 Jumlah Ship Calls 0.000 0.000 0 0.000 0 0 0.000 0.000 Jml kontainer unload (TEUs) Jml kontainer load (TEUs) 0.000 0 0 Sumber: PT X, Tanjung Perak 00 00 00 0 0 Sumber: 00PT X, Tanjung 00 Perak 00 0 0 Selanjutnya, Subsektor Hotel pada triwulan ini menunjukkan perlambatan pertumbuhan yaitu dari,% menjadi,0%, sejalan dengan minimnya momentum liburan di triwulan ini dibandingkan periode sebelumnya yang tercermin dari penurunan tingkat hunian hotel berbintang di Jatim. Namun pertumbuhan sub sektor hotel tersebut masih menunjukkan angka pertumbuhan yang cukup tinggi, dikonfirmasi dari peningkatan lama tinggal bagi tamu asing (gambar.) melihat objek wisata favorit mancanegara (Gunung Bromo). Selain itu, tingginya pemanfaatan hotel di Kota Surabaya dan sekitarnya untuk urusan bisnis dan kegiatan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) pun turut mempengaruhi kinerja sektor perhotelan pada triwulan ini yang turut pula mempengaruhi peningkatan kinerja sub sektor restoran yang tumbuh dari,% menjadi,%. Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 0 0 Gambar. Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang di Jatim Gambar. Lama Tinggal Tamu di Hotel Berbintang Jatim Asing Indonesia TOTAL 0 0 0 TPK Hotel Berbintang Jatim (%) 0 0 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur 0.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 0 Jumlah Wisman Melalui Juanda Gambar. Jumlah Wisatawan Asing melalui Bandara Juanda 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur 0 0 0 0 00 0 0 0 0 0 0 Gambar. Konsumsi Listrik Golongan Bisnis Konsumsi Listrik Bisnis Sumber: PLN Distribusi Jawa Timur Pertumbuhan 00 00 00 0 0 0% % 0% % % % 0% % % Dari sisi pembiayaan, kinerja kredit pada sektor PHR mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan data di lapangan, sebagian besar permodalan sektor PHR berasal dari modal sendiri (subsektor perdagangan dan restoran) dan PMA (untuk subsektor hotel)..000.000 0.000.000.000.000 0.000.000.000.000 0.000.000.000.000.000.000.000.000 Gambar. Perkembangan Kredit PHR Kredit PHR gkredit PHR (rhs) % 0% % 0% % % % 0% % I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 00 0 0 Sumber: BI, Laporan Bulanan Perbankan Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL b. Sektor Industri Pengolahan Membaiknya konsumsi masyarakat Jawa Timur yang diiringi dengan peningkatan permintaan ekspor ke luar negeri, turut mempengaruhi kinerja sektor Industri Pengolahan yang relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya. Tercatat, sektor ini mampu tumbuh sebesar,% (yoy). Namun adanya hambatan kebijakan pemerintah pusat yang mempengaruhi tarif masuk impor barang modal dikhawatirkan berdampak pada kinerja sektor ini di masa mendatang, karena sudah cukup tingginya utilisasi kapasitas terpasang industri di Jawa Timur pada saat ini. 0 Gambar.0 Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan I0 II0 Tw.IV0 0 Gambar. Indeks Realisasi Usaha Sektoral Pertanian Industri Pengolahan PHR 0 0,, 0 0 0 Mamin Sumber: BPS Prov.Jawa Timur Tembakau Tekstil Kayu Kertas Percetakan Kimia Karet & Plastik arang Galian Bukan Logam Logam Dasar Kendaraan Bermotor Furniture 0 0, 0, I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 00 0 0,0,0 Sumber: SKDU BI Surabaya Gambar. Perkembangan Nilai Impor Barang Bahan Baku.00 Consumption Goods Intermediate Goods Capital Goods.00.000 00 00 00 00 0 * * * Sumber: 00 Bank Indonesia 00 00 0 0 % y o y,0,, 0, 0, 0,0 0, 0, Gambar. Perkembangan Pertumbuhan gtotal Impor gcapital Goods gintermediate Goods gconsumption Goods * * * Sumber: Bank Indonesia 00 00 00 0 0 Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsumsi Listrik Golongan Industri Konsumsi Listrik Industri Pertumbuhan Gambar. 00 00 00 0 0 Sumber: PLN Distribusi Jawa Timur 0% % % % 0% % % % Gambar. Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan Kredit Industri Pengolahan 0.000.000 gkredit Industri Pengolahan (rhs).000.000 0.000.000.000.000 0.000.000.000.000 0.000.000.000.000.000.000.000.000 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan 0% 0% 0% 0% 0% % 0% c. Pertanian Kinerja Sektor Pertanian mengalami perbaikan yaitu meningkat dari,0% menjadi,%. Membaiknya kinerja subsektor tanaman bahan makanan dan peternakan pada triwulan ini turut mempengaruhi kinerja sektor pertanian. Tibanya musim panen pada berbagai jenis tanaman bahan makanan, seperti padi dan jagung, serta menurunnya jumlah tanaman puso seiring menurunnya wilayah yang terkena banjir pada akhirnya meningkatkan kinerja subsektor tanaman bahan makanan pada triwulan ini. 00.000 00.000 00.000 00.000 00.000 0.000 Gambar. Luas Lahan Tanam dan Panen Padi di Jawa Timur Luas Panen Padi 00 00 00 0 0 Sumber: Dinas Pertanian Prov. Jawa Timur Luas Tanam Padi 0.000 00.000 0.000 00.000 0.000 00.000 0.000 0.000 0.000 Gambar. Luas Lahan Tanam dan Panen Jagung di Jawa Timur Luas Panen Jagung Luas Tanam Jagung 00 00 00 0 0 Sumber: Dinas Pertanian Prov. Jawa Timur Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Gambar. Luas Lahan Puso di Jawa Timur Gambar. Perkembangan Kredit Sektor Pertanian.000 0.000.000.000.000 Luas Puso Padi Luas Puso Jagung.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 Kredit Pertanian gkredit Pertanian (rhs) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0% 0% 0% 0% 0% % 0% % 0% 0% 0% 0% Sumber: Dinas Pertanian Prov.Jawa Timur 00 00 00 0 0 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan d. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Pada triwulan I0, kinerja Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu tumbuh sebesar,% (yoy). Kondisi ini didukung oleh adanya perbaikan pada subsektor keuangan, khususnya perbankan di Jawa Timur, yang ditunjukkan dengan membaiknya realisasi kredit perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) seiring membaiknya perekonomian Jawa Timur. Sementara itu, pendapatan fee based income, interest based income dan Net Interest Margin (NIM) pertumbuhannya relatif stabil. Kinerja lembaga keuangan non bank diperkirakan mengalami peningkatan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat pada produk dengan akses yang lebih mudah. Kinerja subsektor lainnya yaitu subsektor penyewaan mengalami perbaikan dibandingkan triwulan IV0. Seiring meningkatnya kegiatan bisnis di Jawa Timur, yang turut mempengaruhi pada kenaikan biaya sewa bangunan komersial dan residensial, khususnya di Kota Surabaya. Subsektor ini diperkirakan turut mendukung kinerja subsektor keuangan, penyewaan dan jasa perusahaan dengan komposisi lebih dari 0%. Sementara itu, kinerja bank dan lembaga keuangan non bank masingmasing menyumbang % dan %. Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Gambar.0 Pertumbuhan Kredit dan DPK Perbankan Jawa Timur 0% gdana Pihak Ketiga gkredit % 0% % 0% % % % 0%.00.000.00.000.00.000.00.000.000.000 00.000 00.000 00.000 00.000 Gambar. Perkembangan NIM Perbankan Jawa Timur Nilai Net Interest Margin (NIM) gnet Interest Margin (NIM) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan 00.000 00.000 Gambar. Perkembangan FeeBased Income Fee Based Income g.fee Based Income 0% 0% 0%.000.000.000.000 Gambar. Perkembangan InterestBased Income Interest Based Income g.interest Based Income 0% 0% 00.000 0%.000.000 0% 00.000 0% %.000.000 0% 00.000 0%.000.000 % 0.000 % 0%.000.000 0% 0% % 00 00 00 00 0 0 00 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan Sumber: Laporan Bulanan Perbankan e. Bangunan Perlambatan kinerja sektor bangunan pada triwulan I0 dari,0% (yoy) menjadi,%, diindikasikan berasal dari melambatnya kinerja subsektor perumahan residensial di Jawa Timur. Kondisi ini dikonfirmasi oleh indikator volume penjualan semen di Jawa Timur yang mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari sisi pembiayaan, tingkat penyaluran kredit konstruksi mengalami peningkatan. Sedangkan pertumbuhan kredit properti mengalami perlambatan, dengan nominal tertinggi berasal dari pembelian rumah segmen menengah ke bawah (tipe < 0). Fenomena ini mengindikasikan membaiknya pendapatan masyarakat terutama kelompok menengah ke bawah, selain adanya program subsidi bunga dari pemerintah sehingga ratarata suku bunga kredit properti untuk rumah tipe < 0 berada di kisaran satu digit. Suku bunga kredit perbankan masih menjadi faktor penting dalam penjualan properti Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL residensial di Jawa Timur karena sekitar 0% rumah dibeli dengan memanfaatkan kredit perbankan. 00.000 00.000 00.000 00.000 00.000 0.000 0 Gambar. Volume Penjualan Semen di d Jawa Timur Vol Penjualan Semen 0% 0% 0% % 0% % 0% 0% Gambar. Perkembangan Kredit Sektor Konstruksi gpenjualan Semen * 00 00 00 0 0 Sumber: Asosisasi Semen Indonesia.000.000.00.000.000.000.00.000.000.000.00.000.000.000.00.000.000.000 00.000 Kredit Konstruksi gkredit Konstruksi (rhs) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0% 0% 0% 0% 0% % 0% % 0% 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan.000.000 0.000.000 Gambar. Perkembangan Kredit Properti Kredit Properti gkredit Properti (rhs) 0% 0% 0%.000.000 0.000.000 Gambar. Perkembangan Kredit Properti per Jenis rukan/ruko > type 0 < type 0 Investasi Modal Kerja.000.000 0%.000.000.000.000.000.000 0% 0% %.000.000.000.000 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 00 0 0 00 00 00 0 0 Sumber: Laporan Bulanan Perbankan Sumber: Laporan Bulanan Perbankan f. Transportasi dan Komunikasi Meningkatnya kebutuhan komunikasi seiring membaiknya perekonomian masyarakat Jawa Timur turut pula mempengaruhi kinerja sektor transportasi dan komunikasi yang mengalami peningkatan pada triwulan ini, dengan pertumbuhan sebesar,%, meningkat dari sebelumnya berada pada level,%. Selain mempengaruhi tingkat hunian hotel, kegiatan wisata dan bisnis masyarakat Jatim pada triwulan ini, turut pula mempengaruhi kinerja subsektor transportasi. Selain itu, angka penjualan kendaraan yang relatif stabil pun turut menjaga kestabilan kinerja subsektor ini. Salah satu indikator sektor angkutan, yaitu arus penumpang dan jumlah volume barang mengindikasikan hal yang sama. Triwulan I 0 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Gambar. Gambar. Arus Penumpang di Tanjung Perak Arus Barang di Tanjung Perak 0 0 Jml Penumpang (000 orang) g Jml Penumpang 0% 0% 00 00 Vol Barang (000 ton) g Jml Barang 0% 0% 0% 0 0% 0 0% 00 0% 0 0 0% 0% 00 00 0% 0% 0% 0 0% 00 0% 0% 0 0% 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Prov. Jawa Timur 0% 0 Sumber: BPS Prov. Jawa Timur Selain itu, kinerja angkutan udara dalam perekonomian Jawa Timur juga relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya, bahkan menunjukkan adanya peningkatan pada kelompok penumpang internasional. Pengaruh momentum Tahun Baru di awal tahun dimanfaatkan dengan baik khususnya oleh wisatawan internasional, meskipun salah satu obyek wisata favorit yaitu Gunung Bromo ditutup hingga awal Maret 0. Hasil ini konsisten dengan stabilnya lama tinggal tamu asing di hotelhotel berbintang Jawa Timur pada triwulan ini. Gambar.0 Gambar. 00 00 00 00 00 0 Penumpang Domestik di Bandara Juanda Jml Penumpang Domestik g Jml Penumpang Domestik 0% 0% 0% 0% % 0% % 0% 0 0 0 0 0 0 Penumpang Internasional di Bandara Juanda Jml Penumpang Intl gpenumpang Intl 0% 0% 0% 0% % 0% % 0% 0% 0 0% 0 0% 00 00 00 0 0 0% 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Prov. Jawa Timur 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Prov. Jawa Timur Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Gambar. Perkembangan Kredit Angkutan & Komunikasi.000.000.00.000.000.000.00.000.000.000.00.000.000.000.00.000.000.000 00.000 Kredit Angkutan & Komunikasi gkredit Angkutan & Komunikasi (rhs) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 0% 0% 0% 0% 0% % 0% 00 00 00 0 0 Sumber: BI, Laporan Bulanan Perbankan Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL BOKS ANALISIS DAMPAK TSUNAMI JEPANG PADA KINERJA EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA TIMUR Sebagai negara tujuan ekspor terbesar Provinsi Jawa Timur (Jatim), bencana tsunami yang melanda Jepang pada tanggal Maret 0, dikhawatirkan turut mempengaruhi kinerja perdagangan luar negeri Jatim, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja PDRB Jatim baik jangka panjang maupun jangka pendek. Dugaan adanya perlambatan ekonomi Jepang sebagai akibat rusaknya infrastruktur dan industri di Jepang turut menimbulkan kekhawatiran. Ekspor Jawa Timur Jepang Berdasarkan klasifikasi HS digit dan ISIC, ekspor terbesar kelompok komoditas Jatim ke Jepang adalah hasil olahan tembaga sebesar 0% di tahun 0. Diikuti oleh suku cadang mesin elektrik, kertas/karton, hasil olahan kayu, suku cadang otomotif serta hasil olahan laut. Ekspor ini didominasi oleh produk hasil olahan industri manufaktur Jatim yang menjadi komponen produksi bagi industri di Jepang. Sehingga dalam jangka pendek kemungkinan akan terjadi penurunan ekspor yang cukup besar, kecuali para eksportir telah melakukan kontrak jangka panjang dengan importir Jepang. Grafik. Lima Negara Tujuan Ekspor NonMigas Utama Jawa Timur Nilai (USD) Grafik. Proporsi Komoditas Ekspor Terbesar Jawa Timur ke Jepang Tahun 0 Berdasarkan Negara Tujuan Impor Jawa Timur Jepang Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Untuk impor, Jepang merupakan negara pemasok terbesar ketiga setelah Singapura dan Cina, dengan porsi sebesar,% di tahun 0. Komoditas impor terbesar dari Jepang adalah kelompok mesin barang modal, yang diikuti oleh baja, bahanbahan kimia, barang plastik dan karet serta elektronik. Dengan melihat besaran proporsi dan jenisnya, diperkirakan penurunan supply barang impor akibat perlambatan ekonomi Jepang tidak akan membawa dampak terlalu besar. Jenis barang ini juga masih dapat mencari barang Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL substitusinya dari Cina, sehingga diharapkan pasokan dalam negeri tidak mengalami gangguan yang dikhawatirkan akan menyebabkan kenaikan harga. Grafik. Impor NonMigas Jawa Timur Nilai (USD) Berdasarkan Negara Pemasok Grafik. Proporsi Komoditas Impor Barang Asal Jepang ke Jawa Timur Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Yang menjadi kekhawatiran adalah jenis mesin industri berteknologi tinggi sulit didapat dengan spesifikasi teknologi dan harga sama. Dikhawatirkan hal ini dapat menghambat proses produksi terutama jika terjadi peningkatan permintaan domestik yang tidak dapat dipenuhi menyebabkan inflasi di Jatim. Dampak terhadap PDRB Jawa Timur Ratarata proporsi ekspor (gross) terhadap PDRB Jatim selama dan tahun terakhir adalah sebesar,% dan,0%. Berdasarkan skema transmisi (gambar ), perlambatan ekonomi Jepang akan berdampak kepada penurunan ekspor Indonesia. Jawa Timur sebagai provinsi eksportir ke Jepang terbesar kedua, tentu akan mengalami penurunan nilai ekspor. Selanjutnya, penurunan ekspor ini, dengan asumsi cateris paribus, akan turut menurunkan PDRB Jatim. Gambar Skema Transmisi Dampak Penurunan Ekspor Indonesia ke Jepang Terhadap PDRB Jawa Timur Penurunan Ekspor Indonesia ke Jepang Penurunan Ekspor Jawa Timur Proporsi Ekspor Terhadap PDRB Jawa Timur Potensi Penurunan PDRB Jawa Timur Simulasi dampak penurunan ekpor Jatim ke Jepang sebesar,%, yang mengakibatkan menurunnya PDRB Jatim sebesar 0,% dengan asumsi semua ekspor kecuali tembaga turun sebesar,% (ekspor tembaga diperkirakan tidak terganggu karena telah memiliki kontrak jangka panjang). Untuk komoditas suku cadang mesin elektronik, suku cadang kendaraan, kertas/karton dan kayu mengalami penurunan. Khusus ekspor hasil olahan ikan, diasumsikan mengalami peningkatan, karena adanya preferensi Jepang untuk Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL mengkonsumsi makanan impor akibat kekhawatiran imbasan radiasi nuklir terhadap makanan produksi dalam negeri. Untuk simulasi penurunan impor sebesar % diperkirakan dapat meningkatkan PDRB Jawa Timur sebanyak 0.0% Asumsi penurunan impor (%) pada mesin (barang modal) dan elektronik, karena Sendai (daerah yang mengalami kerusakan terparah) merupakan daerah industri Jepang, khususnya industri elektronik. Selanjutnya, berdasarkan simulasi (tabel ), penurunan ekspor sebesar.% dan impor sebesar % akan menurunkan PDRB Jawa Timur sebanyak 0.%. Secara menyeluruh, pengaruh penurunan ekspor dan impor tidak akan berdampak terlalu besar terhadap pencapaian target pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar.%. Tabel. Simulasi Dampak Penurunan Ekspor Impor Jawa Timur dari Jepang Terhadap PDRB Jawa Timur I II III Penurunan Ekspor.%.%.% Penurunan Impor.0%.0%.0% Perubahan PDRB Ekspor 0.0% 0.% 0.% Impor 0.0% 0.0% 0.0% Net Impact 0.00% 0.0% 0.% Sumber: Bank Indonesia Investasi Jepang di Jawa Timur Sebagai salah satu investor terbesar di Jatim, tercatat outstanding debt pemerintah Jawa Timur terhadap Jepang sebesar JPY, Miliar, yang merupakan.% dari total hutang luar negeri Jatim. Sedangkan commited debt dari Jepang yang sudah ditandatangani pada tanggal Maret 00 dan belum direalisasikan adalah sebesar JPY,0 Miliar. Rencana penggunaan pinjaman tersebut adalah untuk pembangunan bendungan di Wonogiri. Salah satu dampak bencana tsunami yang harus diwaspadai adalah volatilitas nilai tukar Yen di pasar Internasional, karena hutang tersebut dalam bentuk Yen. Kesimpulan Dampak guncangan terhadap perekonomian Jepang terhadap perekonomian Jawa Timur secara langsung, diperkirakan tidak terlalu besar dan hanya bersifat sementara. Dalam jangka pendek ( bulan) terdapat potensi penurunan ekspor. Untuk jangka menengah ( bulan) potensi penurunan ekspor sangat tergantung kepada perkembangan kondisi PLTN Fukushima. Dalam jangka panjang, terdapat potensi peningkatan ekspor Jatim, khususnya bahan baku industri, karena dalam masa pemulihan ekonomi, Jepang akan mendorong pertumbuhan industri untuk kembali ke titik optimal. Triwulan I 0

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Sedangkan untuk ekspor produk primer seperti kayu dan udang, jangka waktu penurunannya akan lebih singkat karena Jepang akan tetap membutuhkannya meskipun dalam masa krisis. Untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar lagi terhadap kinerja ekspor Jawa Timur, diharapkan para eksportir dapat mulai melakukan diversifikasi pasar terhadap negaranegara Asia yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi, seperti Cina dan India. Triwulan I 0

Bab PERKEMBANGAN INFLASI JAWA TIMUR

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI PERKEMBANGAN INFLASI. UMUM Pada triwulan I0, tekanan inflasi IHK Kabupaten/Kota di Jawa Timur sebesar,% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat,% serta terhadap inflasi nasional yang tercatat,%. Meskipun sumbangan inflasi pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau masih mendominasi, namun sumber pendorong inflasi pada triwulan ini terutama berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok kesehatan serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan..00.00.00.00.00.00.00.00.00.00 0.00 Gambar. Inflasi Jawa Timur & Nasional (yoy) Sumber : BPS, data diolah Nasional Jatim 00 0 0.00.00.00.00.00.00.00 Sumber : BPS, data diolah Gambar. Perkembangan Inflasi Jawa Timur yoy qtq mtm 00 0 0 Dibandingkan inflasi beberapa wilayah di kawasan Jawa, pergerakan inflasi Jawa Timur cenderung lebih tinggi, terutama pada inflasi volatile food dan inflasi inti. Hal ini disebabkan oleh tingginya fluktuasi harga bahan makanan yang pada akhirnya mendorong ekspektasi inflasi masyarakat di Jawa Timur..00.00.00.00.00.00.00.00 0.00 Gambar. Inflasi di Kawasan Jawa (yoy) Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I 0 0 Sumber : BPS, data diolah Jabar Jatim Jateng DIY Banten Gambar. Inflasi Volatile Food di Kawasan Jawa (yoy).00.00.00.00.00 0.00.00 Jan Feb Jatim Jateng Banten Tw.I Sumber : BPS, data diolah Apr Jabar DIY JAWA May Tw.II Jul Aug Tw.III Oct Nov Tw.IV Jan Feb 0 0 Tw.I Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI.00.00 Gambar. Inflasi Inti di Kawasan Jawa (yoy) Jatim Jabar Jateng DIY Banten JAWA.00 0.00 Gambar. Inflasi Administered Price di Kawasan Jawa (yoy) Jatim Jabar Jateng DIY Banten JAWA.00.00.00.00.00.00.00 0.00 Jan Feb Tw.I Apr May Sumber : BPS, data diolah Tw.II Jul Aug Tw.III Oct Nov Tw.IV Jan Feb Tw.I 0 0 0.00 Jan Feb Tw.I Apr May Tw.II Jul Aug Tw.III Oct Nov Tw.IV Jan Feb Tw.I 0 0 Sumber : BPS, data diolah Inflasi Jawa Timur secara kumulatif hingga bulan Maret 0 sebesar 0,%, dimana inflasi kumulatif tertinggi terdapat di Surabaya (,%) dan Probolinggo (,0%). Sementara inflasi kumulatif terendah terdapat di Kediri (0,%). Tabel. Inflasi Kumulatif (ytd) Kota di Jawa Timur WILAYAH 0 0 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Nasional 0.... 0.0 Jatim 0..0.. 0. Surabaya 0..... Malang 0....0 0. Kediri 0..0.. 0. Jember 0.0... 0.0 Sumenep 0.... 0. Probolinggo 0.....0 Madiun 0.... 0. Sumber: BPS Provinsi Jatim, data diolah. INFLASI TRIWULANAN (qtq) Secara triwulanan, Jawa Timur mencatat inflasi sebesar 0,%, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai,%. Penurunan inflasi tersebut didorong oleh menurunnya inflasi pada kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau, serta kelompok sandang, namun sedikit tertahan oleh tingginya inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga, serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI Gambar. Inflasi (qtq) Triwulanan Jawa Timur Gambar. Inflasi Triwulanan Kelompok Bahan Makanan.00.00.00.00.00.00.00 0.00.00.00 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I 0 0 Sumber: BPS Provinsi Jatim, data diolah bhn mknn mknn jadi perumahan sandang kesehatan pendidikn transport Tembakau dan Minuman Beralkohol Minuman yang Tidak Beralkohol Makanan Jadi Tw.I 0 Tw.I 0.00 0.00.00.00.00.00 Sumber: BPS Provinsi Jatim, data diolah Su Berdasarkan kelompok barang, inflasi triwulanan terbesar terjadi pada kelompok kesehatan (,%) diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (,0%), serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan (,0%). Sementara itu berdasarkan sumbangannya, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau serta kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar mendominasi dengan sumbangan mencapai 0,%. Faktor yang mendorong inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau adalah tingginya harga pada tembakau & rokok pada beberapa wilayah di Jawa Timur yaitu Jember (,0%), Kediri (,%) dan Surabaya (,%). Tabel. Inflasi & Sumbangan Inflasi di Jawa Timur (qtq) KELOMPOK inflasi (qtq) 0 0 sumbangan (qtq) 0 0 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I UMUM 0..0.0. 0. 0..0.0. 0. BAHAN MAKANAN.0..0. 0. 0. 0..0 0.0 0. MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU. 0..00..0 0. 0.0 0. 0. 0. PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 0. 0.. 0..0 0. 0. 0. 0. 0. SANDANG.. 0...0 0.0 0. 0.0 0. 0.0 KESEHATAN 0. 0. 0. 0.. 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 0.0 0.0.0 0. 0. 0.00 0.00 0. 0.0 0.0 TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA KEUANGAN 0.0 0.. 0..0 0.0 0.0 0. 0. 0. Sumber: BPS Provinsi Jatim, data diolah Pada kelompok makanan jadi, minuman dan tembakau pada triwulan ini mengalami inflasi sebesar,0% (qtq) dan menyumbang inflasi sebesar 0,% (qtq), mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya yang menyumbang 0,%. Berdasarkan sub kelompok, inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok tembakau & Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI minuman beralkohol (,%), sub kelompok makanan jadi (,%) dan sub kelompok minuman yang tidak beralkohol (0,%). Inflasi yang terjadi pada sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol terutama didorong oleh kenaikan harga rokok kretek filter. Sedangkan pada sub kelompok minuman tidak beralkohol didorong oleh peningkatan harga gula pasir pada awal triwulan (gambar.). Belum masuknya musim giling tebu serta anomali iklim yang terjadi mempengaruhi produktivitas dan tingkat rendemen tebu yang berdampak mundurnya musim giling tebu dibandingkan tahun lalu (hingga mencapai ± minggu) serta ketidaklancaran manajemen panen atau tebangangkut. Disamping itu, juga dipengaruhi oleh peningkatan harga gula di pasar internasional yang disebabkan penurunan produksi gula di sejumlah negara penghasil seperti Australia, Brazil dan India. Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Gula pasir,00,00,00,00,0,000,00,00,00,00 gula pasir M I M II M III M IV M I M II M III M IV M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V M I M II Oct 0 Nov 0 Dec 0 Jan 0 Feb 0 Mar 0 Sumber: Survey Pemantauan Harga, data diolah Gambar. Perkembangan Harga Bulanan Gula pasir di Dunia USD/oz 0.00.00 0.00.00 0.00.00.00.00 00 0 0 Sumber: Bloomberg Meskipun menurun, sumbangan inflasi pada kelompok bahan makanan masih relatif besar, yaitu mencapai 0,%. Tingkat inflasi yang masih tinggi terutama terjadi pada sub kelompok bumbubumbuan (,%), sub kelompok sayursayuran (,%) serta sub kelompok lemak dan minyak (,0%). Sementara itu, pergerakan harga kelompok padipadian, umbiumbian dan hasilnya masih meningkat meskipun tidak sebesar triwulan sebelumnya. Komoditas beras yang memiliki bobot dominan terhadap total bahan makanan selama triwulan laporan bergerak cukup stabil dan lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Triwulan I Tahun 0 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI.00 0.00 Gambar. Inflasi Sub Kelompok Bahan Makanan di Jawa Timur padipadian ikan diawetkan sayuran daging & hasilnya telur, susu bumbubumbuan USD/mt 0.00 00.00 Gambar. Pergerakan Harga Beras Di Pasar Internasional.00 0.00.00 00.00.00 0.00 0.00.00 Tw.I0 Tw.II0 Tw.III 0 Tw.IV0 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I 00.00.00 00 0 0.00 Sumber: BPS Provinsi Jatim, data diolah Sumber : bloomberg Di sisi lain, harga beras di pasar internasional masih bergerak naik sejak September 0 (gambar.) berpotensi mempengaruhi pergerakan harga beras di Jawa Timur, meskipun pasokan/supply relatif cukup memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun perlu tetap diwaspadai terjadinya penurunan hasil produksi/panen seiring dengan penurunan luas panen. Faktor cuaca/musim yang cenderung sering berubah dengan tingkat curah hujan yang cukup tinggi turut mempengaruhi jumlah dan kualitas panen. Tabel. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Uraian 00 00 0 0 (ASEM) (ARAM I) Luas Panen (ha) Jawa Timur,,,0,0,,,,0 Jawa,,0,0,0,,,, Luar Jawa,,,,,,,, Indonesia,,,,,,,, Produktivitas (ku/ha) Jawa Timur.0...0 Jawa....0 Luar Jawa.... Indonesia.. 0. 0. Produksi (ton) Jawa Timur,,,,0,,,,0 Jawa,,,0,,,,, Luar Jawa,,,, 0,0,0 0,, Indonesia 0,,,,0,,,0, *) Badan Pusat Statistik Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI Gambar. Peta Prakiraan Awal Musim Kemarau di Jawa Timur Sumber : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Komoditas bahan makanan lainnya yang memiliki fluktuasi harga cukup tinggi adalah produk bumbubumbuan dan sayursayuran serta pada triwulan I0, perkembangan harga komoditas menunjukkan penurunan, seiring pulihnya pasokan yang tersedia. Penurunan terbesar terdapat pada harga komoditas cabe rawit, cabe merah, dan tomat. 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000,000 M I Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Komoditas BumbuBumbuan M II cabe merah cabe rawit bawang merah bawang putih M III M IV M V M I M II M III M IV M V Dec 0 Jan 0 Feb 0 Mar 0 Sumber : Survei Pemantauan Harga M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000 M I M II Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Komoditas SayurSayuran tomat wortel kentang kacang panjang kangkung bayam sawi hijau M III M IV M V M I M II M III M IV M V Dec 0 Jan 0 Feb 0 Mar 0 Sumber : Survei Pemantauan Harga M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V Di sisi lain, komoditas daging ayam dan daging sapi yang sempat mengalami kenaikan harga cukup tinggi pada triwulan III0, saat ini mulai stabil. Secara triwulanan, inflasi sub kelompok daging & hasilhasilnya menurun dan tercatat sebesar 0,% (qtq). Penurunan ini didorong oleh mulai meningkatnya pasokan daging ayam dan daging sapi di Jawa Timur seiring konsumsi masyarakat yang kembali normal. Meskipun demikian, terdapat potensi kenaikan harga daging dan telur ayam ke depan, yang dipengaruhi oleh tren peningkatan harga jagung di pasar internasional. Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI 0,000,000 0,000,000,000,000 Gambar. Perkembangan Harga Mingguan Daging Ayam & Daging Sapi daging sapi (right axis) daging ayam (left axis) M I M II M III M IV M I M II M III M IV M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V M I M II Oct 0 Nov 0 Dec 0 Jan 0 Feb 0 Mar 0 Sumber: Survey Pemantauan Harga, data diolah,00,000,00,000,00,000,00,000 0,00 Gambar. Perkembangan Harga Pakan Ayam (Jagung) di Pasar Internasional USD/bushel.00.0.00.0.00.0.00.0.00.0.00 00 0 0 Sumber: International Monetary Fund Sementara itu, kelompok sandang tercatat mengalami inflasi yang cukup tinggi. Setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kenaikan sebesar,%, pada tiwulan ini naik sebesar,0%. Hal ini terutama masih disebabkan oleh meningkatnya kenaikan harga emas perhiasan di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, sejalan peningkatan harga emas dunia. Tekanan inflasi dari komoditas emas perhiasan dikonfirmasi dengan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) di beberapa kota di Jawa Timur yang menunjukkan tren peningkatan harga emas ke level ±Rp.. USD/oz,00.00,00.00,00.00,00.00,0.00,000.00 00.00 00.00 Gambar. Pergerakan Harga Emas Dunia Januari 0 Maret 0 00 0 0 Sumber: Survey Pemantauan Harga, data diolah Gambar. Pergerakan Harga Komoditas Emas Perhiasan di Surabaya,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000,000 0,000 00,000 emas perhiasan M I M II M III M IV M I M II M III M IV M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V M I M II M III M IV M V M I M II Oct 0 Nov 0 Dec 0 Jan 0 Feb 0 Mar 0 Sumber: Survey Pemantauan Harga, data diolah. INFLASI TAHUNAN (yoy) Inflasi tahunan (yoy) kabupaten/kota di Jawa Timur sebesar,%, didominasi oleh kelompok bahan makanan dengan tingkat inflasi sebesar,% diikuti oleh kelompok sandang (,%). Secara umum terjadi peningkatan inflasi Jawa Timur dibandingkan triwulan sebelumnya, yang ditunjukkan oleh kenaikan tingkat inflasi tahunan kelompok barang & jasa, yaitu kelompok kesehatan, kelompok Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar, kelompok sandang, kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga, dan kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan. Komoditi 00 0 0 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I UMUM....0.0.... BAHAN MAKANAN.0......0.. MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU......... PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BAHAN BAKAR...0..0..0.. SANDANG.......0.. KESEHATAN.....0.... PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA......0... TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA KEUANGAN... 0.. 0.... Sumber: BPS, data diolah Selanjutnya berdasarkan sumbangannya, inflasi pada triwulan I0 terutama masih berasal dari kelompok bahan makanan, yang disusul kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar. Tabel. Sumbangan Inflasi Jawa Timur (yoy) Per Kelompok Barang Komoditi 00 0 0 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I UMUM....0.0.... BAHAN MAKANAN.0.0 0.0 0. 0..0.0.. MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU......0.0.0.0 PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB.0.0 0. 0. 0.0 0. 0. 0. 0. SANDANG 0.0 0. 0. 0.0 0.0 0. 0. 0. 0. KESEHATAN 0. 0. 0. 0. 0.0 0.0 0.0 0.0 0. PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.0 0. 0. Sumber: BPS, data diolah Tabel. Inflasi Jawa Timur (yoy) Per Kelompok Barang Gambar. Persentase Sumbangan Inflasi PerKelompok Barang Triwulan I0 Gambar. Pergerakan Inflasi Tiga komoditas penyumbang inflasi (yoy) tertinggi di Jawa Timur TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN, REKREASI DAN JASA K OLAH RAGA % % KESEHATAN % SANDANG % BAHAN MAKANAN %.00.00.00.00.00.00 bhn mkanan mknn jadi perumhn, air, listrik.00.00.00 PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB % MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU % 0.00 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I 00 0 0 Sumber : BPS (data diolah) Sumber : BPS, (data diolah) Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI Perkembangan (tiga) kelompok utama penyumbang inflasi terbesar di Jawa Timur menunjukkan terjadinya penurunan yang signifikan terutama pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau. Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar menunjukkan peningkatan. Penurunan inflasi pada kelompok bahan makanan terutama akibat penurunan harga komoditas bumbubumbuan, sayursayuran, serta padipadian. Hal ini sejalan dengan tingkat harga beberapa komoditas di pasar internasional (gambar. s.d gambar.) yang juga bergerak lebih rendah hingga akhir triwulan I0. USD/Barel,00 Gambar. Perkembangan Harga CPO di Pasar Dunia USD/Bushel Gambar. Perkembangan Harga Kedelai di Pasar Dunia,00,0,000 00 00 00 00 00 0 0 Sumber: Bloomberg 0 0 Sumber: Bloomberg USD/Bushel Gambar.0 Perkembangan Harga Gandum di Pasar Dunia Sumber: Bloomberg 0 0 USD/Barel 0 0 0 0 0 0 0 0 Gambar. Perkembangan Harga Minyak Mentah di Pasar Dunia Sumber: Bloomberg 0 0. INFLASI MENURUT KOTA Inflasi di kota di Jawa Timur yang masuk perhitungan inflasi nasional (Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Sumenep, Probolinggo dan Madiun) pada triwulan I0 menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat inflasi tahunan (yoy) selama triwulan laporan yang tertinggi terjadi di Kota Surabaya (%), sementara inflasi terendah terjadi di Kediri (,%). Sedangkan bila dilihat ratarata Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI inflasi bulanan, selama triwulan I0 inflasi tertinggi terjadi di Surabaya (0,%) dan inflasi terendah terjadi di Kediri (0,0%). Kabupaten/Kota inflasi (qtq) 0 0 inflasi (yoy) 0 0 ratarata bulanan (mtm) 0 0 Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Jawa Timur 0..0.0. 0..0.... 0. 0.. 0. 0. Surabaya.0..0......00.00 0. 0..0 0. 0. Malang. 0..00. 0..0...0. 0. 0. 0. 0. 0. Kediri 0. 0... 0..0.... 0. 0. 0. 0. 0.0 Jember.. 0.. 0.0.0..0.. 0.00 0. 0. 0. 0. Sumenep 0. 0. 0. 0. 0..00.... 0. 0.. 0. 0.0 Probolinggo 0.0 0.0.0 0..0..... 0. 0.0. 0. 0.0 Madiun 0.0 0...0 0...... 0. 0. 0. 0. 0. Sumber : BPS, data diolah. Tabel. Inflasi Kuartalan (qtq) dan Tahunan (yoy) Kota di Jawa Timur Berdasarkan kelompok barang, kelompok bahan makanan masih menjadi penyumbang inflasi tahunan tertinggi di Kabupaten/Kota di Jawa Timur, namun relatif lebih rendah dibandingkan triwulan lalu. Faktor pendorong inflasi terutama berasal dari kenaikan harga daging, ikan, telur, susu & hasil olahannya, bumbubumbuan dan lemak. Inflasi tertinggi pada kelompok bahan makanan ini tercatat di Jember (,%). Tabel. Inflasi Kota di Jawa Timur per Kelompok Barang & Jasa Triwulan I0 (yoy) Komoditi Jatim Surabaya Malang Kediri Jember Sumenep Prob Madiun Umum..00...... Bahan Makanan......0.. Mknn Jadi, Minmn, Rokok & Tembakau........ Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar......0.. Sandang........ Kesehatan.....0.0 0.. Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga....0...0. Transportasi, Komunikasi & Jasa Keu..... 0... Sumber : BPS, data diolah. Komoditi Jatim Surabaya Malang Kediri Jember Sumenep Prob Madiun Umum..00...... Bahan Makanan........ Mknn Jadi, Minmn, Rokok & Tembakau.0 0...0 0. 0. 0. 0. Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 0.. 0. 0. 0..0.0. Sandang 0. 0. 0. 0. 0.0 0. 0.0 0.0 Kesehatan 0. 0. 0. 0. 0. 0.0 0.0 0.0 Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. Transportasi, Komunikasi & Jasa Keuangan 0. 0.0 0. 0. 0. 0.0. 0. Sumber : BPS, data diolah. Tabel. Sumbangan Inflasi Kota di Jawa Timur Per Kelompok Barang & Jasa Triwulan I0 (yoy) Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI. DISAGREGASI INFLASI Dilihat dari komponennya, tekanan inflasi volatile food (bahan makanan yang harganya fluktuatif) cenderung berkurang selama triwulan I0. Adapun tekanan inflasi administered price dan inflasi inti menunjukkan peningkatan..00.00.00.00.00.00.00 Gambar. Laju Inflasi Jatim per Komponen (mtm) Umum Adm Price Volatile food Core Inflation.00 0.00.00.00.00 Gambar. Laju Inflasi Jatim per Komponen (yoy) umum Adm Price Volatile food Core Inflation 0.00.00.00.00 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sept Oct Nov Dec Jan Feb Mar Sumber : BPS, data diolah. 00 0 0 0.00.00 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sept Oct Nov Dec Jan Feb Mar Sumber : BPS, data diolah. 00 0 0 Secara bulanan, inflasi volatile food mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga mencatat deflasi pada bulan Februari dan Maret. Selanjutnya secara tahunan, inflasi volatile food di bulan Maret tercatat sebesar,% (yoy), lebih rendah bila dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar,%..00 0.00.00.00.00 0.00.00 Gambar. Perkembangan Inflasi Volatile Food Volatile Food (mtm) Volatile Food (yoy) Jan0 Feb0 Mar0 Apr0 May0 Jun0 Jul0 Aug0 Sep0 Oct0 Nov0 Dec0 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Sumber : BPS, data diolah..00.00.00.00.00.00.00.00 0.00.00.00.00 Gambar. Perkembangan Inflasi Adm. Price Administered Price (mtm) Administered Price (yoy) Jan0 Feb0 Mar0 Apr0 May0 Jun0 Jul0 Aug0 Sep0 Oct0 Nov0 Dec0 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Sumber : BPS, data diolah. Tren inflasi volatile food ini dipengaruhi oleh mulai stabilnya harga pada beberapa komoditas utama bahan makanan yang mempunyai bobot cukup tinggi dalam menyumbang inflasi seperti beras, sayursayuran dan buahbuahan serta beberapa kebutuhan pokok lainnya. Sementara itu, inflasi yang berasal dari administered price menunjukkan adanya sedikit peningkatan. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan harga kendaraan bermotor yang terjadi di beberapa wilayah di Jawa Timur. Triwulan I Tahun 0

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI Di sisi lain, inflasi yang disebabkan oleh faktor fundamental yang biasa disebut inflasi inti tercatat sebesar,% (yoy) sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (,%yoy). Peningkatan ini dipengaruhi oleh dorongan dari sisi ekspektasi masyarakat yang cenderung meningkat. Sementara itu, perkembangan sisi supply relatif stabil dan mampu memenuhi permintaan masyarakat, yang tercermin pada penggunaan kapasitas produksi (capacity utilization) di Jawa Timur pada triwulan laporan yang diperkirakan meningkat. Peningkatan penggunaan kapasitas produksi ini mengindikasi terjadinya pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur sebagai hasil produksi sektor ekonomi dan direspon oleh sisi permintaan masyarakat. Selanjutnya, analisis terhadap sumbersumber penyebab inflasi inti yang lain menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD relatif stabil dengan tren menguat dibandingkan triwulan sebelumnya, sehingga tidak terdapat tekanan yang berarti pada sisi imported inflation. Gambar. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Gambar. Perkembangan Capacity Utilization.00 0.00.00.00.00.00 0.00.00.00.00.00 I II V I II V I II V Sumber : BI, data diolah 00 00 0 Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha, BI Surabaya Triwulan I Tahun 0

Bab PERKEMBANGAN PERBANKAN

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN PERKEMBANGAN PERBANKAN Ekspansi pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur (Jatim) yang masih berlangsung diiring pula dengan perkembangan kinerja perbankan yang meningkat. Perbaikan kinerja terjadi pada Bank Umum (konvensional & syariah) maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yang khususnya didukung oleh kinerja penyaluran kredit dan total aset yang mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Sementara itu, meskipun tidak tumbuh setinggi kedua indikator utama lainnya, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh perbankan di Jatim mulai menunjukkan pertumbuhan tahunan yang meningkat. Hal ini seiring dengan peningkatan aktivitas perekonomian serta dukungan upaya perbankan dalam menghimpun dana masyarakat, ditengah cukup banyaknya persaingan di sektor keuangan yang menawaran instrumeninstrumen simpanan/investasi dengan imbal hasil bersaing. Tabel. Perkembangan Indikator Perbankan (Bank Umum & BPR) di Jawa Timur INDIKATOR 0 0 I II V Total Asset..00...0.....0 Pertumbuhan (yoy%),,,,, Pertumbuhan (qtq%) 0,,,,,00 Dana Pihak Ketiga.... 0...0. 0.. Pertumbuhan (yoy%),,,,,0 Pertumbuhan (qtq%) 0,,,, 0, Kredit Umum......0...0. Pertumbuhan (yoy%), 0,0 0,,, Pertumbuhan (qtq%),,,,0, LDR (%),,0,,0%, NPL Gross (%),0,,0,, Sumber: Laporan Bank Umum & BPR BI Surabaya, data diolah Total aset bank Umum dan BPR sampai dengan akhir 0 tumbuh,% (yoy) sehingga mencapai Rp., triliun. Penyaluran kredit tumbuh,% (yoy) dengan baki debet sebesar Rp.,0 triliun, lebih tinggi dibandingkan kinerja di tahun sebelumnya yang hanya tumbuh dikisaran %. Sementara itu DPK yang berhasil dihimpun oleh Bank umum dan BPR tumbuh,0% (yoy) menjadi senilai Rp. 0, triliun. Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK pada periode ini, mendorong kenaikan Loan to Deposit ratio (LDR) dari,0% Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN menjadi,%. Namun demikian, peningkatan kredit ini juga diiringi oleh peningkatan rasio kredit bermasalah yang tercermin dari peningkatan Non Performing Loans (NPL) dari,% menjadi,%... PERKEMBANGAN KINERJA BANK UMUM Pelaksanaan fungsi intermediasi bank umum di Jatim pada awal tahun 0 secara umum berjalan dengan lancar dan menunjukkan perkembangan positif. Dibandingkan triwulan sebelumnya, kinerja pertumbuhan (qtq) total aset dan penyaluran kredit masih mampu tumbuh stabil dengan pencapaian kinerja pertumbuhan yang cukup tinggi, sedangkan kinerja penghimpunan DPK cenderung melambat. Sementara itu, jika dianalisa secara tahunan ketiga indikator utama bank umum tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV0 maupun periode yang sama di tahun 0. Sumber: Bank Indonesia, data diolah Tabel. Perkembangan Indikator Bank Umum di Jawa Timur INDIKATOR 0 0 I II V Total Asset,,00,,,0,,,,,0 Pertumbuhan (yoy%)..... Pertumbuhan (qtq%) 0.....00 Dana Pihak Ketiga,,,, 0,,,0, 0,, Pertumbuhan (yoy%).....0 Pertumbuhan (qtq%) 0.... 0. Total Kredit,,,,,,0,,,0, Pertumbuhan (yoy%). 0.0 0... Pertumbuhan (qtq%)....0. LDR (%)..0..0%. NPL Gross (%).0..0...00%.00%.00%.00%.00%.00%.00%.00% I Gambar. Perkembangan LDR Loan to Deposit Ratio (%) II V I II V I II V Gambar. Perkembangan LDR per Kelompok Bank.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% LDR (Umum) Bank Pemerintah Bank Swasta Bank Asing I II V I II V I II V 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah Triwulan I 0 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Pertumbuhan kredit secara triwulanan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK menyebabkan peningkatan Loan to Deposit Ratio (LDR) pada periode laporan, dari,% menjadi,%. Berdasarkan kelompok bank, rasio LDR tertinggi masih didominasi oleh kelompok Bank Pemerintah (0,%), sementara kelompok bank swasta dan bank asing cenderung memiliki rasio lebih rendah, yaitu,0% dan,%. Dalam rangka mendorong fungsi intermediasi perbankan, Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.//PBI/0 tanggal Oktober 0 menetapkan ketentuan mengenai perhitungan besaran Giro Wajib Minimum (GWM) yang dikaitkan dengan rasio LDR suatu Bank, kebijakan ini berlaku per Maret 0. Dalam ketentuan ini, besaran GWM Rupiah bank umum terdiri atas GWM primer (%), GWM sekunder (,%) dan GWM LDR yang merupakan tambahan GWM yang harus dialokasikan bank pada saat nilai LDR bank berada diluar range (batas atas dan batas bawah) yang telah ditetapkan (%0%). Secara makro LDR target adalah cerminan kebutuhan kredit yang diperlukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi, sedangkan secara mikro; LDR target ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan LDR Perbankan. Sehingga secara umum, penerapan GWM LDR bertujuan agar bank mengoptimalkan penyaluran kreditnya pada sektor riil, namun dengan tetap mengacu pada prinsip kehatihatian. Gambar. Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (yoy) Gambar. Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (qtq) 0.00.00 0.00.00.00.00 I II V I II V Kredit (yoy) DPK (yoy) Total Aset (yoy) I II V.00.00.00.00.00.00 (.00) I II V I II V I Kredit (qtq) DPK (qtq) Total Aset (qtq) II V 00 00 0 0 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah Sumber: Laporan Bank Umum BI Surabaya, data diolah Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN... ASET DAN AKTIVA PRODUKTIF Kinerja pertumbuhan total aset bank umum di Jatim pada 0 secara triwulanan (qtq) tumbuh stabil dikisaran %, namun secara tahunan (yoy) menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang periode laporan, total aset bank umum meningkat sebesar Rp., triliun atau tumbuh % (qtq) dan % (yoy) menjadi senilai Rp., triliun. Secara umum, pertumbuhan total aset yang terjadi didorong oleh meningkatnya pertumbuhan nilai aktiva produktif bank umum dari,% (qtq) menjadi,% (qtq), dengan didominasi oleh peningkatan pertumbuhan kredit yang berlangsung pada periode ini. 00,000,000 0,000,000 00,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 Gambar. Perkembangan Total Aset Bank Umum I Total Aset (Nominal)LHS Growth (%)RHS II V I II V I II V Gambar. Proporsi Aktiva Produktif.%.%.0% 0.% Penempatan pada Bank Indonesia Penempatan pada Bank lain Surat Berharga Kredit 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah Sumber: Bank Indonesia, data diolah Berdasarkan komponen pembentuknya, aktiva produktif bank umum di Jawa Timur didominasi oleh penyaluran kredit kepada masyarakat (,%), diikuti oleh Penempatan pada Bank lain (,0%) dan Penempatan pada Bank Indonesia (,%), sedangkan aktiva produktif lainnya yang berbentuk surat berharga mempunyai proporsi yang relatif kecil (0,%).... DANA PIHAK KETIGA (DPK) Setelah mencatat pertumbuhan yang cukup baik di akhir tahun 0, kinerja pertumbuhan DPK yang dihimpun oleh industri bank umum di Jatim pada periode 0 cenderung melambat. Sepanjang periode laporan, DPK Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN meningkat Rp., triliun atau tumbuh 0,% (qtq) dan,% (yoy) menjadi Rp.,0 triliun. Berdasarkan jenisnya, perlambatan ini didorong oleh minimnya pertumbuhan simpanan tabungan dan deposito pada triwulan laporan. Simpanan deposito hanya tumbuh 0,% (qtq), bahkan simpanan tabungan mencatat kontraksi sebesar 0,%(qtq). Namun demikian kedua jenis simpanan ini masih mendominasi DPK dengan proporsi yang cukup tinggi, yaitu masingmasing sebesar,% dan 0,%. Gambar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (qtq) Gambar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (yoy).00.00.00 (.00) GIRO TABUNGAN DEPOSITO I II V I II V I II V 00 00 0 0 (.00) Sumber: Bank Indonesia, data diolah 0.00.00 0.00.00 0.00.00.00.00 (.00) GIRO TABUNGAN DEPOSITO I II V I II V I II V 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah Di sisi lain, simpanan giro yang mempunya proporsi lebih rendah (,%) menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, baik secara triwulanan maupun tahunan. Hal ini khususnya seiring dengan peningkatan transaksi dunia usaha serta tidak lepas dari siklus tahunan peningkatan dana rekening giro untuk belanja pemerintah di bank umum terealisir di awal tahun. Gambar. Perkembangan DPK Per Jenis Simpanan (Rp. Juta),000,000 0,000,000,000,000 0,000,000,000,000 0,000,000,000,000 0,000,000,000,000 0,000,000,000,000 0,000,000,000,000 0,000,000,000,000 0,000,000 I Deposito Tabungan Giro II V I 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah II V I II V yang masih cukup tinggi dan belum % 0% % 0% % 0% % % % Gambar. Komposisi DPK Bank Umum (%) 0% Deposito Tabungan Giro 0.%.%.% Sumber: Bank Indonesia, data diolah 0 I0 II0 V0 0 I0.%.%.0% II0.% 0.%.% V0.%.%.% 0 0.%.%.% Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Sementara itu, terbatasnya pertumbuhan DPK yang berlangsung pada beberapa periode terakhir selain diyakini terkait dengan faktor tingkat suku bunga simpanan yang relatif rendah, juga dipengaruhi oleh cukup banyaknya pilihan instrumen simpanan sekaligus investasi diluar perbankan yang menawarkan return menarik, sehingga masyarakat mendapatkan banyak pilihan dalam penempatan dananya. Namun di sisi lain, rendahnya suku bunga ini diharapkan mampu menjadi salah satu pendorong penyaluran kredit kepada masyarakat, mengingat suku bunga DPK merupakan salah satu variabel pembentuk suku bunga kredit. Rendahnya suku bunga DPK diharapkan dapat mendorong efisiensi biaya bunga kredit, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan penyaluran kredit kepada masyarakat. Gambar. Perbandingkan Suku Bunga Simpanan BI Rate.00.0.00.0.00.0.00.0.00.0.00 Deposito Bi Rate Tabungan (Skala Kanan).0.00.0.00.0.00 I II V I II V I II V I II V 00 00 00 0 0... KREDIT Sumber: Bank Indonesia, data diolah Pertumbuhan penyaluran kredit oleh bank umum di Jatim pada triwulan laporan mencapai,% (yoy), ini merupakan angka pertumbuhan tertinggi setelah terjadinya krisis perekonomian global di tahun 00. Dengan angka pertumbuhan tersebut, maka outstanding/baki debet kredit yang disalurkan oleh bank umum di Jatim kepada masyarakat dan dunia usaha sampai dengan akhir 0 mencapai Rp., triliun. Kondisi perekonomian yang cukup stabil dan kondusif menjadi salah satu pendorong peningkatan permintaan kredit di Jatim, sehingga dari sisi perbankan kondisi ini dimanfaatkan sebagai momentum yang tepat untuk melakukan ekspansi kredit. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Gambar. Pertumbuhan Kredit (yoy) Gambar. Pertumbuhan Kredit (qtq) 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 I II V KreditNominal (Skala Kiri) Growth% yoy (Skala Kanan) I II V I II V.00 0.00.00 0.00.00.00.00 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 0,000,000 KreditNominal (Skala Kiri) I II V I II Growth % qtq (skala kanan) V I II V.00.00.00.00.00.00 (.00) 00 00 0 0 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah Sumber: Bank Indonesia, data diolah Berdasarkan jenisnya, kredit di Jatim masih di dominasi oleh kredit produktif yaitu kredit modal kerja yang mencapai Rp.,0 triliun atau sebesar,% dari total kredit secara keseluruhan, disusul oleh kredit konsumsi (,%) dan kredit investasi (,%). Pertumbuhan kredit paling tinggi pada periode ini terjadi pada kredit investasi yang tercatat sebesar,0% (qtq) atau,% (yoy), sementara kredit modal kerja dan konsumsi cenderung tumbuh stabil. Cukup besarnya alokasi penyaluran kredit untuk kegiatan produktif menjadi salah satu cerminan peran perbankan di Jatim dalam melaksanakan fungsi intermediasinya guna mendorong aktivitas dunia usaha, yang diharapkan dapat semakin memperbesar multiplier effect pada pertumbuhan perekonomian di Jatim. Gambar. Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan. Jenis Penggunaan Gambar. Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan Kelompok Bank.%.%.%.%.%.% Modal Kerja Investasi Konsumsi Sumber: Bank Indonesia, data diolah Bank Pemerintah Bank Swasta Bank Asing Sumber: Bank Indonesia, data diolah Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Gambar. Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan (qtq) Gambar. Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan (yoy) 0,00,00,00,00 Kredit Modal Kerja Kredit Investasi Kredit Konsumsi 0,00,00 0,00,00 0,00,00,00,00 Kredit Modal Kerja Kredit Investasi Kredit Konsumsi (,00) I II V I II V I II V I II V I II V I II V (,00) 00 00 0 0 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia, data diolah Sumber: Bank Indonesia, data diolah Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit bank umum paling besar disalurkan kepada sektorsektor yang mendominasi struktur perekonomian di Jatim, yaitu sektor Industri serta sektor Perdagangan Hotel dan restoran (PHR) dengan proporsi masingmasing sebesar,% dan,%. Sementara itu, dilihat dari angka pertumbuhannya, penyaluran kredit kepada sektor angkutan dan komunikasi, sektor PHR, sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi, masingmasing sebesar,%,,%, dan,% (yoy). Tingginya penyaluran kredit pada ketiga sektor ini turut mengkonfirmasi tingginya pertumbuhan masingmasing sektor tersebut pada perhitungan pertumbuhan ekonomi Jatim di 0. Gambar. Proporsi Kredit Sektoral Gambar. Perkembangan Kredit Sektoral (yoy).%.% 0.%.% Pertanian Pertambangan Industri Listrik,Gas 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Sektor PHR Sektor Pertanian Sektor Konstruksi Sektor Industri Pengolahan Sektor Angkutan/ Komunikasi.%.% 0.0%.% Konstruksi Perdagangan Angkut/Komnikasi Jasa & lain lain.00 (.00) (0.00) (0.00) (0.00) I II V I II V I II V 00 00 0 0 (0.00) Sumber: Bank Indonesia, data diolah Sumber: Bank Indonesia, data diolah Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Gambar.0 Undisbursed Loans Gambar. Perbandingkan Suku Bunga Kredit & BI rate.00%.00%.00%.00%.00%.00%.00% 0.00%.00% Undisbursed Loans (Total) Ul Kredit Investasi I UL Kredit Modal Kerja UL Kredit Konsumsi II V Investasi Konsumsi Modal Kerja Bi Rate (Skala Kanan).0.00.0.00.0.00.0.00.0.00 I II V I II V I II V I II V..0..00..0..00..0..00..0. Sumber: Bank Indonesia, data diolah 0 0 00 00 00 0 0 Sumber: Bank Sumber: Indonesia, Bank Indonesia, data diolah data diolah Tingginya pertumbuhan kredit pada periode ini juga diiringi dengan peningkatan jumlah kredit yang tidak terserap (undisbursed loans) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 0. Tercatat nilai undisbursed loan pada posisi akhir Tw.I0 sebesar,% dari total plafon kredit yang disediakan, atau sebesar Rp., triliun, kondisi ini cenderung meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dan periode yang sama tahun 0, dimana pada saat itu rasio undisbursed loans terhadap total kredit mesingmasing sebesar,% dan,0%. Berdasarkan jenisnya, undisbursed loan tertinggi terdapat pada kredit modal kerja yang mencapai,% dari plafon kredit yang telah disetujui oleh bank umum, sedangkan penyaluran kredit konsumsi dan investasi cenderung terserap lebih baik, sesuai dengan plafon yang telah disetujui. Sementara itu, kenaikan suku bunga acuan BI rate sebesar 0, bps (basis points) pada bulan Februari 0 direspon perbankan dengan menaikkan suku bunga kredit dengan kisaran yang beragam. Kenaikan suku bunga kredit tertinggi terjadi pada kredit konsumi, disusul oleh kredit modal kerja dengan tingkat kenaikan yang relatif lebih rendah, sedangkan suku bunga kredit investasi pada periode ini cukup stabil. Dalam rangka meningkatkan transparansi mengenai karakteristik produk perbankan (manfaat, biaya dan risiko), meningkatkan good governance dan mendorong persaingan yang sehat dalam industri perbankan melalui Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN terciptanya disiplin pasar (market discipline) yang lebih baik, Bank Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran No.//DPNP tanggal Februari 0 guna mewajibkan bankbank umum untuk melakukan transparansi informasi mengenai aspek perhitungan dan penetapan suku bunga untuk kredit, khususnya Suku Bunga Dasar Kredit/SBDK (prime lending rate). Ketentuan ini mulai diberlakukan kepada bank umum konvensional yang beraset diatas Rp. triliun per Maret 0. SBDK merupakan hasil perhitungan dari (tiga) komponen yaitu () harga pokok dana untuk kredit (HPDK), () biaya overhead yang dikeluarkan Bank dalam proses pemberian kredit, dan () marjin keuntungan (profit margin) yang ditetapkan untuk aktivitas perkreditan, namun didalamnya belum memperhitungkan komponen premi risiko individual nasabah Bank. SBDK tersebut dihitung secara per tahun dalam bentuk persentase (%), dan merupakan suku bunga terendah yang digunakan sebagai dasar bagi bank dalam penentuan suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur. Perhitungan SBDK yang wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia dan dipublikasikan kepada masyarakat mencakup (tiga) jenis kredit yaitu kredit korporasi, kredit ritel, dan kredit konsumsi (KPR dan Non KPR), tidak termasuk penyediaan dana melalui kartu kredit dan kredit tanpa agunan... Kredit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Sebagai upaya pemberdayaan perekonomian masyarakat yang bergerak di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), penyaluran kredit perbankan pada kelompok usaha ini menjadi hal penting yang perlu ditingkatkan guna memperkuat kemampuan ekspansi sektor usaha mikro kecil menengah, sehingga menjadi pendorong perekonomian Jawa Timur serta memperluas lapangan kerja. Terkait dengan hal ini, Bank Indonesia di wilayah Jawa Timur (Surabaya, Malang, Kediri, Jember) bersama Pemerintah Daerah berupaya untuk memfasilitasi serta menyusun kebijakan kebijakan yang mendorong peningkatan penyaluran kredit UMKM, seperti pendirian lembaga penjaminan kredit daerah (PT. Jamkrida Jatim), Pendirian APEX BPR, serta optimalisasi Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN keberadaan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) guna melakukan pendampingan kepada usaha mikro yang feasible untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan. Upaya lain yang dilakukan oleh Bank Indonesia Surabaya dalam mendorong perkembangan UMKM adalah melalui pengengembangan beberapa klaster komoditas potensial melalui pola kemitraan. Beberapa klaster yang telah dikembangkan antara lain klaster alas kaki di Kab. Mojokerto, klaster rumput laut di Kab. Sumenep Madura, dan yang saat ini sedang dikembangkan adalah klaster Sapi Potong di wilayah Kab. Bojonegoro. (Lihat Boks : Kerjasama Bank Indonesia Surabaya & Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Dalam Pengembangan Klaster Sapi Potong ) Gambar. Perkembangan Kredit UMKM Gambar. Proporsi Kredit UMKM Berdasarkan Skala Usaha 0,000,000 0,000,000 Total Kredit Kredit UMKM 0,000,000 0,000,000 0,000,000 Usaha Menengah;.00% Usaha Mikro;.% 0,000,000 0,000,000 Usaha Kecil;.% 0,000,000 0,000,000 I II V 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Sampai dengan akhir periode laporan, penyaluran total kredit UMKM di Jawa Timur mencapai Rp., triliun atau sebesar,% dari total kredit secara keseluruhan. Berdasarkan jenisnya, realisasi penyaluran kredit UMKM secara nominal didominasi oleh kelompok usaha kecil dan usaha menengah dengan baki debet masingmasing mencapai Rp., triliun (,%) dan Rp., triliun (%), sementara itu terkait dengan plafon kredit usaha mikro Mengacu pada kriteria UMKM pada UU No. 0 Tahun 00 tentang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang selanjutnya telah diakomodir dalam pedoman Laporan Bank Umum (LBU) terbaru (LBU 00), maka dilakukan perubahan data statistik kredit UMKM yang digunakan dalam Kajian Ekonomi Regional (KER) Jawa Timur 0 dan edisi selanjutnya. Sebelumnya statistik kredit UMKM yang digunakan mengacu pada besarnya plafon kredit yang disalurkan sehingga didalamnya termasuk data penggunaan kredit konsumsi. Data UMKM dalam LBU 00 (data baru) didasarkan pada kriteria skala usaha debitur (omzet dan aset usaha), sehingga didalamnya hanya mengakomodir data kredit yang digunakan oleh sektor usaha/ kredit produktif. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN yang relatif lebih rendah dibandingkan plafon kredit usaha kecil dan menengah, maka secara nominal baki debet kredit kepada kelompok usaha mikro cenderung lebih rendah, yaitu sebesar Rp.,0 triliun atau,% dari total kredit UMKM yang disalurkan. Namun demikian, jika dianalisa dari jumlah rekening/debiturnya, penyaluran kredit mikro masih mendominasi, dengan proporsi mencapai % dari total debitur kredit UMKM sebanayak.. debitur yang memperoleh kredit UMKM dari perbankan. KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) Keberadaan KUR yang bertujuan untuk memberikan akses pembiayaan bagi UMKM, khususnya usaha mikro yang feasible namun belum bankable dalam pelaksanaannya di Jawa Timur menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Perekonomian RI, realisasi penyaluran KUR oleh bank umum penyalur KUR di Jawa Timur (BRI, BNI, Mandiri, Mandiri Syariah, BTN dan Bukopin, Bank Jatim) sejak program ini diluncurkan di tahun 00 hingga 0 mencapai Rp.,0 triliun dengan.00 nasabah atau sebesar % dari realisasi KUR nasional. Kondisi ini membawa provinsi Jatim pada urutan pertama daerah penyaluran KUR secara nasional. Sampai dengan akhir periode laporan, outstanding/ baki debet KUR di Jatim tercatat sebesar Rp. triliun, dengan didominasi oleh penyaluran kredit kepada kelompok usaha mikro/ KUR Mikro (plafon s/d Rp. 0 juta) yang mencapai %, sementara selebihnya merupakan nasabah kategori KUR retail (Plafon diatas Rp. 0 juta). Gambar. Besar Provinsi Penyalur KUR Gambar. Perkembangan Penyaluran KUR di Jatim Provinsi lain;,% JAWA TIMUR;,00% JAWA BARAT;,%.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 Jumlah Debitur (skala kanan) Plafon KUR 00.000 00.000 00.000 00.000 00.000 00.000 00.000 0.000 SUMATERA UTARA;,% SULAWESI SELATAN;,% JAWA TENGAH;,% I II V I II V I II V 00 00 0 0 Sumber: Kementrian Koordinator Perekonomian Sumber: Kementrian Koordinator Perekonomian Triwulan I 0 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Penyaluran KUR yang merupakan koordinasi antara pemerintah dengan perbankan diharapkan menjadi salah satu langkah efektif pemberdayaan UMKM di Indonesia. Untuk itu, dalam rangka lebih mengoptimalkan kinerja penyaluran KUR yang sudah berlangsung dengan cukup baik di Jatim, Bank Indonesia Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama dengan Bank penyalur KUR di Jatim berupaya untuk terus melakukukaan sinergi guna merumuskan strategi peningkatan penyaluran KUR di Jatim. Disamping mengupayakan intensifikasi penyaluran KUR dengan melakukan pemasaran yang intens, KBI Surabaya bersama bank penyalur KUR di Jatim melakukan beberapa kegiatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai alternatif keberadaan pembiayaan kepada UMKM, seperti berbagai kredit program, KUR serta informasi lain mengenai produk kredit perbankan sehingga masyarakat dapat memperoleh gambaran mengenai akses pembiayaan untuk usahanya... STABILITAS SISTEM PERBANKAN Stabilitas industri perbankan yang tercermin dari berbagai risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan transaksi perbankan selama triwulan I0 cenderung menunjukkan tekanan, khususnya yang berasal dari risiko kredit dan risiko operasional. Sementara itu pengelolaan risiko likuditas masih menunjukkan kondisi yang cukup baik dan terjaga. Potensi tekanan risiko kredit pada periode ini tercermin dari peningkatan Non Performing Loans (NPL) Bank umum dan BPR dibandingkan periode sebelumnya. Selanjutnya, risiko lain yang patut diwaspadai adalah risiko operasional yang terkait dengan adanya beberapa kasus kejahatan perbankan yang dilakukan oleh oknum pegawai bank pada periode laporan. Kondisi ini wajib menjadi perhatian Bank Indonesia maupun bank umum dengan semakin mengoptimalkan fungsi pengawasan atas kegiatan operasional perbankan. Risiko operasinal ini terkait dengan mekanisme proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem dan atau kejadian kejadian yang mempengaruhi operasional bank. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Terkait dengan beberapa permasalahan perbankan tersebut, Bank Indonesia berupaya untuk terus mendorong terciptanya iklim perbankan yang kondusif melalui peningkatan kualitas pelayanan perbankan maupun perlindungan konsumen/nasabah sebagaimana yang telah diarahkan dalam pilar ke Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yaitu Peningkatan Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah yang terdiri atas : Transparansi Produk, Penyelesaian Pengaduan, Mediasi Perbankan, dan Edukasi Konsumen.... RISIKO KREDIT Tabel. Perkembangan NPL perkelompok Bank Kelompok Bank 00 0 0 I II V I II V NPL Bank Umum.%.%.%.%.0%.%.0%.%.% Bank Pemerintah.%.%.0%.%.%.%.%.%.% Bank Swasta.%.%.%.%.%.%.%.%.% Bank Asing.%.%.%.0%.%.%.0%.%.% Risiko kredit perbankan yang tercermin dari rasio kredit bermasalah terhadap total kredit atau Non Performing Loan (NPL) di Jawa Timur pada periode laporan menunjukkan peningkatan. NPL bank umum pada akhir triwulan I0 sebesar,%, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya (,%). Berdasarkan kelompok bank, NPL paling tinggi masih terjadi pada kelompok bank asing yang mencapai,%. Disusul oleh kelompok bank pemerintah dan bank swasta dengan rasio NPL masingmasing sebesar,% dan,%..0%.0%.0%.00%.0%.0%.0%.0%.00% Gambar. Perkembangan NPL Bank Umum I II V I Non Performing Loans (%) II V I II V.00%.00%.00%.00%.00%.00%.00% 0.00% Gambar. Perkembangan NPL per Jenis Penggunaan NPL Kredit Umum NPL Kredit Investasi NPL Kredit Modal Kerja NPL Kredit Konsumsi I II V I II V I II V 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Secara sektoral, penurunan kualitas kredit terjadi pada hampir seluruh sektor ekonomi, khususnya sektorsektor yang merupakan unggulan dalam perekonomian di Jatim, seperti sektor Industri, Sektor PHR dan sektor komunikasi & pengangkutan. Peningkatan NPL ditengah cukup berkembangnya kinerja ketiga sektor tersebut diharapkan tetap menjadi perhatian perbankan untuk lebih mengoptimalkan upaya pengendalian risiko kredit yang dihadapi melalui pelaksanaan prudential banking. Sementara itu, kualitas kredit sektor pertanian yang justru menunjukkan perbaikan, tibanya masa panen raya beberapa komoditas pertanian (khususnya beras & palawija) yang berlangsung pada triwulan ini diyakini mampu meningkatkan kemampuan ekonomi petani, sehingga berpengaruh dalam perbaikan kualitas pembayaran kredit pertanian. Tabel. Perkembangan NPL Kredit Per Sektor SEKTOR 00 0 0 I II V I II V NPL Per Sektor Pertanian.%.%.%.%.%.%.0%.%.% Pertambangan 0.%.%.%.% 0.%.% 0.%.%.% Industri.%.%.%.%.%.%.%.%.% Listrik, Gas 0.0% 0.0% 0.00% 0.00% 0.0% 0.00% 0.0% 0.% 0.% Konstruksi.%.%.%.%.%.%.0%.%.% Perdagangan/ Hotel.%.%.%.%.%.%.%.%.% Angkutan/ Komunikasi.%.%.0%.%.%.%.%.0%.% Sumber : LBU Bank Indonesia... RISIKO LIKUIDITAS Risiko likuiditas perbankan di Jatim pada triwulan I0 relatif terjaga, meskipun tetap perlu diperhatikan terjadinya peningkatan preferensi penempatan dana masyarakat pada instrumen simpanan jangka pendek perbankan seperti tabungan, dibandingkan dengan deposito yang mempunyai tenor jangka panjang. Kondisi ini mendorong perbankan di Jatim untuk berhatihati dalam pengelolaan aset serta melakukan mitigasi risiko melalui upaya peningkatan pertumbuhan penyaluran kredit jangka panjang (kredit investasi) guna mengurangi potensi mismatch likuiditas. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Gambar. Money Position Perbankan di Jawa Timur.%.%.% Kas Penempatan pada BI Penempatan pada Bank lain Sumber: Bank Indonesia Indikator likuiditas perbankan lainnya seperti Cash Ratio yang mencerminkan kemampuan perbankan untuk melunasi kewajiban kewajiban jangka pendek dengan aktiva likuid yang dimiliknya menunjukkan perbaikan. Tercatat cash ratio bank umum di Jatim meningkat dari,% menjadi,%. Sementara itu Money position atau jumlah aset likuid yang dimiliki perbankan di Jawa Timur menunjukkan peningkatan dari Rp., triliun di V0 menjadi Rp., triliun atau mencapai,% dari total DPK yang dihimpun oleh bank umum, dengan komposisi terbesar berupa kas sebesar Rp., triliun, disusul dengan penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia masing masing sebesar Rp., triliun dan Rp., triliun... PERBANKAN SYARIAH Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang terus menunjukkan perkembangan positif, serta masih terbukanya pasar perbankan syariah di provinsi ini menjadi salah satu pendorong perbankan syariah untuk melakukan ekspansi usahanya. Hal ini ditunjukkan oleh kinerja indikatorindikator utama yang mencatat pertumbuhan signifikan serta perkembangan kelembagaan yang tercermin dari penambahan jaringan kantor baru selama triwulan I0, sehingga secara keseluruhan mencapai jaringan kantor yang dimiliki oleh Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN (delapan) Bank Umum Syariah (BUS) dan (delapan) Unit Usaha Syariah (UUS) di seluruh wilayah Jawa Timur. Selama triwulan I0 total aset perbankan syariah di Jawa Timur meningkat dengan signifikan sebesar Rp.,0 triliun atau tumbuh,% (qtq) dan 0,% (yoy) menjadi senilai Rp., triliun. Tingginya peningkatan total aset pada periode ini tekait dengan cukup banyaknya penambahan jaringan kantor bank syariah selama triwulan laporan, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang cukup besar. Gambar. Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (qtq) Gambar.0 Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (yoy) 0.00.00 0.00.00.00.00 (.00) I Total Aset Dana Pihak Ketiga (DPK) Pembiayaan II V I II V I II V 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00.00 Total Aset Dana Pihak Ketiga Pembiayaan I II V I II V I II V 00 00 0 0 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Dana masyarakat yang disimpan pada bank syariah di Jatim selama triwulan laporan tumbuh,0% (qtq) atau,% (yoy) menjadi Rp. triliun. Berdasarkan komposisinya, peningkatan ini didorong oleh cukup tingginya pertumbuhan ketiga jenis simpanan yaitu deposito, tabungan dan giro yang masing masing secara triwulanan tumbuh diatas 0% (qtq). Secara tahunan, pertumbuhan tabungan dan deposito mendominasi dengan mencatat pertumbuhan masingmasing sebesar,% dan,% (yoy), sementara itu simpanan giro tumbuh lebih rendah (,%). Bank Umum Syariah (BUS) di Jawa Timur : Bank Muamalat, BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Mega Indonesia, Bank Bukopin Syariah, Bank Panin Syariah, BCA Syariah, dan BNI Syariah. Unit Usaha Syariah (UUS) di Jawa Timur : BTN Syariah, BII Syariah, HSBC Syariah, Bank Danamon Syariah, Bank Niaga Syariah, Bank Permata Syariah, OCBC NISP Syariah, dan Bank Jatim Syariah. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Gambar. Proporsi DPK Perbankan Syariah di Jawa Timur Gambar. Pertumbuhan DPK Perbankan Syariah GIRO;.0% 0.00 00.00 0.00 Tabungan (yoy) Deposito (yoy) Giro (yoy) DEPOSITO;.% TABUNGAN;.% 0.00 0.00 (0.00) I II V I II V I II V (0.00) 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Meskipun relatif melambat dibandingkan periode sebelumnya, pertumbuhan penyaluran pembiayaan oleh bank umum syariah masih dalam kisaran yang cukup tinggi. Selama 0 penyaluran pembiyaan tumbuh,0% (qtq) atau,% (yoy) dengan baki debet sebesar Rp., triliun. Berdasarkan jenisnya, penyaluran pembiayaan konsumsi masih mendominasi dengan tren yang cenderung meningkat dengan proporsi sebesar,% dari total pembiayaan, disusul oleh pembiayaan modal kerja (,%) dan pembiayaan investasi (,%). Gambar. Pertumbuhan Pembiayaan Syariah Per Jenis Penggunaan Gambar. Pangsa Pembiayaan Syariah Per Jenis Penggunaan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Modal Kerja Investasi Konsumsi Konsumsi;,% Modal Kerja;,% 0,00 Investasi;,% I II V I II V I II V 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Besarnya proporsi pembiayaan konsumsi dibandingkan kedua jenis pembiayaan lainnya terkait dengan ekspansi bank syariah kepada kebutuhan pembiayaan kepemilikan rumah/properti, serta kepemilikan kendaraan bermotor di Jatim. Sementara itu, meskipun mempunyai proporsi yang lebih rendah, penyaluran pembiayaan untuk modal kerja dan investasi yang merupakan jenis kredit produktif tetap menjadi perhatian bank syariah dalam mengalokasikan pembiayaannya. Hal ini tercermin dari tingginya penyaluran pembiayaan modal kerja dan investasi yang masingmasing tumbuh sebesar,% (yoy) dan,% (yoy). Kinerja penyaluran pembiayaan yang cukup baik juga diiringi dengan kualitas pembiayaan yang terjaga, tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF0 yang tercatat sebesar,%. Gambar. Non Performing Financing (NPF) Perbankan Syariah Jawa Timur Gambar. Financing to Deposits Ratio (FDR) Perbankan Syariah Jawa Timur,0%,00%,0%,00%,0%,00% 0,0% 0,00% Non Performing Finnancing (NPF) 0,00% 0,00%,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% Finnancing to Deposits Ratio (FDR) I II V I II V I II V I II V I II V I II V 00 00 0 0 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Disisi lain, Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) yang mencerminkan proprosi penyaluran pembiayaan dibandingkan dengan dana yang dihimpun pada triwulan I0 tercatat sebesar,% atau menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai,%. Penurunan ini disebabkan oleh lebih tingginya pertumbuhan DPK dibandingkan pembiayaan yang disalurkan pada triwulan laporan. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN.. BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) Indikator kinerja BPR di Jatim pada triwulan I0 menunjukkan kinerja yang beragam. Secara tahunan (yoy) perlambatan terjadi pada ketiga indikator utama, namun secara triwulanan (qtq) penyaluran kredit berhasil tumbuh cukup tinggi, khususnya setelah mencatat kontraksi/pertumbuhan negatif pada periode sebelumya. Gambar. Perkembangan Indikator BPR (yoy) Gambar. Perkembangan Indikator BPR (qtq) 0,00,00 0,00,00,00,00 I Total Aset Dana Pihak Ketiga Kredit II V I II V I II V,00,00,00,00,00 (,00) I Total Aset Dana Pihak Ketiga Kredit II V I II V I II V 00 00 0 0 (,00) (,00) 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Total aset BPR di Jawa Timur pada triwulan laporan meningkat sebesar Rp.0 milyar atau tumbuh,% (qtq) atau,% (yoy) menjadi senilai Rp., triliun, tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai,0% (qtq). Perlambatan ini salah satunya disebabkan oleh perlambatan kinerja penghimpunan DPK dari,% di V0 menjadi,0%. Hingga akhir triwulan I0 total dana masyarakat yang disimpan pada BPR di Jatim mencapai Rp., triliun. Berdasarkan jenisnya, penurunan pertumbuhan DPK paling besar terjadi pada simpanan tabungan. Setelah tumbuh signifikan di triwulan sebelumnya (,%qtq), DPK pada triwulan ini hanya meningkat,% (qtq) menjadi senilai Rp., triliun. Terbatas Semantara itu simpanan deposito masyarakat pada BPR di Jatim mencatat pertumbuhan sebesar,% atau mencapai Rp.,. Masih cukup baiknya pertumbuhan jenis simpanan deposito di BPR dibandingkan dengan jenis simpanan Tabungan, selain menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN juga terkait dengan besarnya suku bunga simpanan deposito BPR yang secara ratarata berada diatas level suku bunga deposito bank umum. Bagi sebagian masyarakat yang menganggap instrumen simpanan perbankan sebagai salah satu bentuk investasi tentunya memanfaatkan hal ini dalam mengalokasikan dana yang dimilikinya. Gambar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (% yoy) Gambar.0 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (%qtq) 0,00,00 0,00,00,00 Dana Pihak Ketiga Deposito Tabungan,00,00,00,00 Dana Pihak Ketiga Deposito Tabungan,00,00 I II V I II V I II V (,00) I II V I II V I II V 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia (,00) 00 00 0 0 Sumber: Bank Indonesia Sama halnya dengan kinerja DPK, pertumbuhan penyaluran kredit BPR yang sebagian besar merupakan kredit dalam skala Mikro, Kecil dan Menengah pada triwulan laporan cenderung melambat. Tercatat baki debet kredit yang disalurkan oleh BPR di Jawa Timur mencapai Rp., triliun, tumbuh,% (qtq) atau,% (yoy). Berdasarkan jenisnya, perlambatan terjadi pada kredit modal kerja dan kredit investasi, semantara kredit konsumsi tumbuh stabil. Jenis kredit modal kerja yang mempunyai proporsi terbesar (,0%) tumbuh,% (yoy) dengan baki debet sebesar Rp., triliun. Kredit konsumsi yang memegang porsi,% dari total kredit yang disalurkan tumbuh,0% (qtq) atau,% (yoy) dengan baki debet Rp., triliun, sedangkan kredit investasi yang mempunya porsi relatif lebih kecil (,%) pada periode ini terjadi penurunan sehingga mencatat kontraksi sebesar,0% (qtq) atau,% (yoy). Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Gambar. Pertumbuhan Kredit BPR perjenis Penggunaan (yoy) Gambar. Proporsi Kredit BPR Per Jenis Penggunaan,00 0,00,00 Kredit Modal Kerja Kredit Investasi Kredit Konsumsi Konsumsi;,% 0,00,00,00 Modal Kerja;,0%,00 (,00) I II V I II V I II V Investasi;,% 00 00 0 0 Gambar. Perkembangan LDR & NPL BPR 0,00%,00% 0,00%,00%,00%,00% Loan to Deposit Ration (LDR%) Non Performing Loan (NPL%)Skala Kanan,0%,00%,0%,00%,0%,00%,0%,00%,0%,00% I II V I II V I II V Sumber: 00 Bank Indonesia 00 0 0.. BANK BERKANTOR PUSAT DI SURABAYA Setelah mencatat penurunan kinerja pada periode sebelumnya, (enam) bank umum yang berkantor pusat di Surabaya pada triwulan laporan menunjukkan pertumbuhan positif. Keenam bank umum tersebut memiliki total aset sebesar Rp., triliun, meningkat,0% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan adanya pertumbuhan yang cukup signifikan pada triwulan ) Bank Berkantor Pusat di kota Surabaya : Bank Jatim, Bank Maspion, Bank Antardaerah (Bank Anda), Bank Anglomas Internasional (Bank Amin), Bank CNB dan Bank Prima Master. Triwulan I 0 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN ini, berpengaruh pada peningkatan proporsi total aset keenam bank tersebut terhadap total aset bank umum di Jatim dari,% menjadi,%. Tabel. Perkembangan Indikator Bank Berkantor Pusat di Surabaya (dalam juta Rupiah) INDIKATOR 0 0 I II V Total Asset........0.0. Pertumbuhan (yoy%),,0,,, Pertumbuhan (qtq%),,,,,0 Dana Pihak Ketiga...0. 0.... 0..0 Pertumbuhan (yoy%) (0,),,,, Pertumbuhan (qtq%),,,,0,0 Kredit Umum.0.......0.. Pertumbuhan (yoy%),,,,, Pertumbuhan (qtq%),,,,, LDR (%),%,0%,%,%,% NPL Gross (%) 0,% 0,% 0,% 0,% 0,%,00 0,00,00,00 Gambar. Pertumbuhan Indikator Bank BerKP di Surabaya (qtq),00 Total Aset Dana Pihak Ketiga (DPK) Kredit Gambar. Perumbuhan Indikator Bank BerKP di Surabaya (yoy) 0,00,00 0,00,00,00 Total Aset Dana Pihak Ketiga (DPK) Kredit,00 (,00) I II V I II V (,00) (,00) (0,00) 00 0 0 Sumber : Bank Indonesia (,00) I II V I II V 00 0 0 Sumber : Bank Indonesia Tingginya pertumbuhan aset didorong oleh peningkatan DPK yang cukup signifikan pada periode laporan, hal ini terkait dengan realisasi dropping dana pemerintah pusat ke daerah di awal tahun yang disimpan dalam rekening giro dan deposito milik pemerintah. Tercatat DPK yang dihimpun oleh bank berkantor pusat di Surabaya mencapai Rp.0, triliun, dan didominasi oleh simpanan dalam bentuk giro yang mencapai Rp., triliun (,%), disusul oleh simpanan deposito dan tabungan dengan nilai masingmasing sebesar Rp.,0 triliun dan Rp., triliun. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Gambar. Proporsi DPK Per Jenis Simpanan Pada Bank Ber KP di Surabaya (Mar0) Gambar. Pertumbuhan DPK Per Jenis Simpanan Pada Bank BerKP di Surabaya (qtq) 0,00 Giro Tabungan Deposito Tabungan;,% Giro;,% 0,00 0,00 0,00 Deposito;,%,00 (,00) (0,00) (0,00) I II V I II V 00 0 0 Sumber : Bank Indonesia (0,00) Sumber : Bank Indonesia Di sisi lain, total kredit yang dsalurkan oleh bank ber kantor pusat pada triwulan laporan menunjukkan pertumbuhan yang stabil, dengan ditopang oleh cukup tingginya penyaluran kredit konsumsi yang secara triwulanan mampu tumbuh,% (qtq). Sementara itu, sebagaimana yang terjadi pada periode sebelumnya, penyaluran kredit di sektor produktif yaitu kredit modal kerja dan kredit investasi masih mengalami penurunan, sehingga mengalami kontraksi masing masing sebesar 0,% (qtq) dan % (qtq). Meskipun cenderung menurun, komposisi kredit pada sektor produktif tersebut masih mendominasi dengan proporsi total sebesar,0%. Selanjutnya, kinerja penyaluran kredit yang cukup baik ini juga diiringi dengan kualitas kredit yang terjaga, ditunjukkan oleh rasio NPL yang cukup rendah (0,%) dan berada dibawah level NPL kredit secara umum di Jawa Timur. Gambar. Perkembangan Kredit Per Jenis Simpanan Pada Bank BerKP di Surabaya (qtq) Gambar.0 Proporsi Kredit Per Jenis Penggunaan Bank Ber KP di Surabaya 0,00 0,00 0,00 Kredit Modal Kerja Kredit Investasi Kredit Konsumsi Konsumsi;,% Modal Kerja;,%,00 Investasi;,% (,00) I II V I II V (0,00) 00 0 0 Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank Indonesia Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Fungsi intermediasi perbankan yang ditunjukkan oleh Loan to deposit Ratio pada triwulan I0 menunjukkan penurunan dari,% menjadi,%. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan pertumbuhan DPK yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit pada periode yang sama. Gambar. Perkembangan LDR Bank Berkantor Pusat di Surabaya,00% 0,00%,00% 0,00%,00% 0,00%,00% 0,00% Loan to Deposit Ratio (LDR) Non Performing Loan (NPL) Skala Kanan I II V I II V 00 0 0,00% 0,% 0,0% 0,% 0,0% 0,% 0,0% 0,% 0,0% 0,% 0,0% Sumber : Bank Indonesia Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN BOKS KERJASAMA BANK INDONESIA SURABAYA & PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO DALAM PENGEMBANGAN KLASTER SAPI POTONG PBI Surabaya, Mohamad Ishak bersama Bupati Bojonegoro, Suyoto, melakukan penandatanganan Kesepakatan Kerjasama Pengembangan Klaster Sapi Potong di Bojonegoro Sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan sektor riil dan UMKM, pada tanggal Maret 0 bertempat di Pendopo Kabupaten Bojonegoro dilaksanakan panandatanganan kerjasama (MOU) pengembangan klaster peternakan Sapi Potong antara Bank Indonesia Surabaya dengan Pemerintah Daerah Bojonegoro. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen sinergi yang dilakukan oleh Bank Indonesia Surabaya dengan Pemkab Bojonegoro guna meningkatkan kapasitas perekonomian daerah dengan pendekatan klaster. Program ini juga merupakan usaha Jawa Timur untuk meningkatkan supply daging sapi guna mendukung program swasembada daging nasional di tahun 0, sekaligus sebagai upaya pengendalian inflasi pada komoditas ini. Disamping didasarkan dari hasil identifikasi potensi ekonomi yang dilakukan oleh BI Surabaya, pemilihan Kabupaten Bojonegoro sebagai daerah pengembangan klaster sapi potong tidak lepas dari komitmen yang tinggi dari Pemkab Bojonegoro dalam pemberdayaan dan peningkatan perekonomian daerahnya, khususnya melalui pengembangan produk unggulan daerah. Sementara itu, bagi Pemda Bojonegoro program ini merupakan salah satu upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui peningkatan kinerja sektor agribisnis, termasuk peternakan yag merupakan salah satu sektor unggulan di kabupaten ini. Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro yang cukup tinggi pada beberapa tahun terakhir paling besar disumbang oleh kontribusi sektor pertambangan (gas & minyak bumi), sedangkan sektor pertanian dan peternakan yang 0% menyerap tenaga kerja lokal justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih rendah. Triwulan I 0

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN Program ini dilaksanakan di Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro dengan tujuan mewujudkan desa ini sebagai penghasil bibit sapi potong lokal yang berkualitas ( Breeding village center ). Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia Surabaya juga bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang untuk memberikan PBI Surabaya, Mohamad Ishak menyampaikan bantuan Sapi Pejantan kepada Dinas Peternakan Kabupaten Bojonegoro, untuk selanjutnya diserahkan kepada kelompok ternak di Desa Napis, Bojonegoro. pendampingan dan pelatihan teknis kepada peternak sapi potong di Desa Napis Bojonegoro. Pelaksanaan program ini direncanakan dalam beberapa tahapan, yaitu : Tahun ke Persiapan Penyamaan presepsi dan pemahaman tentang konsep klaster, pembentukan kelompok dan peningkatan pengetahuan (SDM) usaha peternakan, pakan, pemeliharaan, reproduksi dan pengolahan limbah (pupuk organik). Tahun ke Implementasi Formalisasi badan hukum kelompok, percontohan/kandang belajar, fasilitasi pembuatan pakan, kerjasama pemasaran dengan feedlot dan atau pedagang besar, akses pembiayaan. Tahun ke Penguatan Peningkatan profesionalisme pemeliharaan pembibitan dan penggemukan sapi potong, peningkatan pembiayaan, pematangan soliditas kelompok dan klaster menuju Village Breeding Center sapi lokal jenis PO (Peranakan Ongole). Melalui kegiatan pendampingan selama (tiga) tahun ini diharapkan akan terbentuk suatu kawasan pembibitan sapi lokal yang kuat secara mandiri dan mampu mengembangkan usaha kelompoknya dengan penambahan modal usaha melalui pembiayaan perbankan, sehingga pada akhirnya mampu menghasilkan produk unggulan yang berdaya saing guna meningkatkan perekonomian di daerah ini. ===**=== Triwulan I 0

Bab PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH.. UMUM Kinerja keuangan daerah Provinsi Jawa Timur yang tercermin dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di awal tahun 0 mengalami perbaikan dibandingkan triwulan I0. Meskipun realisasi pendapatan daerah mengalami penurunan, namun realisasi belanja daerah mengalami peningkatan. Realisasi terbesar dari pos pendapatan dan belanja pun tidak jauh berbeda dari tahuntahun sebelumnya, yaitu pendapatan pajak daerah dari pos pendapatan daerah dan belanja pegawai dari pos anggaran belanja... REALISASI PENDAPATAN DAERAH Pada triwulan I0, realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur mencapai Rp., triliun (,%), lebih rendah dibandingkan realisasi pada triwulan I0. Masih sama dengan polapola tahun sebelumnya, sumbangan pendapatan daerah tertinggi berasal dari pos Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang bersumber dari pajak daerah yaitu pajak kendaraan bermotor. Sedangkan nilai realisasi tertinggi berasal dari pos dana perimbangan, yaitu Dana Alokasi Umum (DAU), seiring tingginya nilai bagi hasil ke daerah di wilayah Provinsi Jawa Timur. No TABEL. REALISASI PENDAPATAN APBD PROP. JAWA TIMUR TRIWULAN I0 (Rp juta) Uraian Anggaran Perubahan Tahun 0 Realisasi 0 Anggaran Perubahan Tahun 0 Realisasi 0 % 0 % 0 PENDAPATAN DAERAH..,.0.,.0.00,0..,,%,%. PENDAPATAN ASLI DAERAH..,..,..0,..,,%,%.. Pajak Daerah..0,00..,.0.000,00.., 0,%,%.. Retribusi Daerah 0.,0.,.,., 0,%,%.. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang.,.,0 0,00% 0,00%.. LainLain Pendapatan Asli Daerah yang Sah.,.,..,.,,% 0,%. DANA PERIMBANGAN..00,0.0,..,.0,0,%,%.. Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak.0,.,0.,.,,%,%.. Dana Alokasi Umum.., 0.,..0,0.,,%,%.. Dana Alokasi Khusus.,0.0,.0,0 0,00% 0,00%. LAINLAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH.0,.,.00,00.,,%,%.. Pendapatan Hibah.00,00.,.00,00.,,%,%.. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus.0,.0, 0,00% 0,00% JUMLAH PENDAPATAN DAERAH (Rp juta)..,.0.,.0.00,0..,,%,% Sumber : Biro Keuangan Prov.Jatim Sumber pendapatan daerah Provinsi Jawa Timur yang terbesar berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil Triwulan I Tahun 0

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lainlain PAD yang sah. Sebagian besar PAD bersumber dari pajak daerah, terutama terkait dengan penjualan kendaraan bermotor dan bangunan yang relatif besar dan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Potensi PAD yang berasal dari pajak kendaraan bermotor pada tahun 0 semakin besar sejak diberlakukannya pengenaan pajak progresif pada pemilik kendaraan lebih dari satu. Tujuannya adalah untuk mengurangi perseorangan memiliki kendaraan bermotor lebih dari satu dan mencegah penyalahgunaan praktik leasing. Selain itu, meningkatnya pungutan bea cukai di tahun 0 juga menjadi potensi kenaikan PAD Provinsi Jawa Timur tahun 0. Sementara itu, PAD pada jenis retribusi daerah masih terbatas namun menyimpan potensi yang cukup besar jika terusmenerus dilakukan perbaikan pelayanan dan sistem penagihan, salah satunya retribusi parkir dengan memberlakukan sistem langganan. TAHUN TABEL. REALISASI PENDAPATAN APBD PROV.JAWA TIMUR TAHUN 00 0 (Rp juta) TOTAL PENERIMAAN DAERAH Sumber: Biro Keuangan Prov.Jatim % PENERIMAAN DANA PENERIMAAN ASLI DAERAH PERIMBANGAN PAD LAINYA PAJAK RETRIBUSI TOTAL PAD TW I.,,% 00.,.,.,.,., 00 TW II..,..0 0,% 0.,.,.0,.,., TW III..00,,%.,.,.0,.0, 0., TWIV.., 0,%.,.,00.,.0,., TW I..,,%.0,0.,.,., 0.0, 00 TW II..0,,%.,.,.,0.,.,.. TW III..,,%.,0., 0.,.0,., TWIV..0,,0% 0.,.0,., 0.,., TW I..,,%., 0., 00.,., 0., 00 TW II..,,%.,.0,.,0.0,.0.,..0 TW III.0.0,,0%.0,.0,.,0.,.0., TWIV..0,,%.,.,.,.,.00., TW I.0.0,,0%.,.,0.,0 0.0,.0.0, 00 TW II..0,,%.,0.,.0.,.,.0.0,..0 TW III.0.,,%., 0.0,..,.,..0, TWIV..0, 0,% 0.,.0,..,.0,.0.0, TW I..,,%.,.,.0.,.,..0, 00 TW II.0.,,% 0.0,0.,..,.,..0,..000 TW III..000,00 0,00% TWIV..,0,% TW I.0.,,%.0,.,..,.,.., 0 TW II..,,%..,.,..,.,..,.. TW III..,,%., (.,) 0.,0,., TWIV..,0,%.,.,..,.0,.., TW I..,,%.0,0.,..,.,.., 0 TW II 0,00%.0.00 TW III 0,00% TWIV 0,00% Triwulan I Tahun 0

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH.. REALISASI BELANJA DAERAH Pada triwulan I0, realisasi belanja pemerintah Provinsi Jawa Timur sedikit lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun dominasi belanja pegawai masih terjadi pada triwulan ini, serupa dengan tahuntahun sebelumnya. Sebagai bagian dari belanja tidak langsung dan belanja langsung, porsi belanja pegawai masih lebih tinggi dibandingkan belanja modal. Rendahnya porsi belanja modal pada APBD tingkat provinsi, telah diimbangi dengan belanja bagi hasil dan bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa, sesuai dengan ketentuan penentuan pos anggaran APBD tingkat provinsi di Indonesia. Porsi belanja modal pada umumnya lebih besar pada APBD tingkat kabupaten/kota. Selain itu, kebutuhan belanja modal untuk pembangunan infrastruktur di wilayah provinsi telah cukup banyak dialokasikan dari APBN melalui dinas/instansi terkait di daerah. Sementara itu, seperti pada tahun sebelumnya, alokasi pos APBD Provinsi Jawa Timur didasarkan pada berbagai program yang pro rakyat, seperti program peningkatan kinerja sektor pertanian, program pemberdayaan UMKM dan program pengentasan kemiskinan. Pada triwulan I0, realisasi belanja daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih berada di bawah target sebesar %. Tercatat realisasi belanja pada triwulan ini baru mencapai,%, meskipun lebih baik dibandingkan triwulan I0 yang hanya mencapai,%. Masih minimnya besaran realisasi APBD Provinsi Jawa Timur juga tercermin pada meningkatnya saldo dana pemerintah di perbankan pada triwulan ini dibandingkan akhir tahun 0 (lihat gambar.). GAMBAR. DANA PEMERINTAH PROV/KAB/KOTA JAWA TIMUR DI PERBANKAN.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 Tabungan Deposito Giro Sumber : KBI Surabaya, diolah 00 00 00 00 00 00 0 0 Sesuai dengan penggunaannya yang bersifat rutin, realisasi belanja terbesar triwulan ini adalah belanja pegawai baik pada pos belanja tidak langsung (,%) Triwulan I Tahun 0

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH dan langsung (,%), dengan total nilai sebesar Rp., milyar. Selanjutnya, tingginya realisasi belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota (,% atau sebesar Rp.,0 milyar) selaras dengan kebijakan pemerintah provinsi Jawa Timur dalam peningkatan sumber pendanaan keuangan kepada kabupaten/kota guna meningkatkan perekonomian di daerah. Sementara itu, realisasi belanja modal APBD Jatim dari total nilai belanja pemerintah pada triwulan ini masih sangat minim, yang baru mencapai,% atau sebesar Rp., milyar, meskipun masih lebih besar dibandingkan realisasi belanja modal pada triwulan I0. Disisi lain, belum terealisirnya realisasi belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa pada triwulan ini mengindikasikan belum selarasnya kinerja aparatur birokrasi pemerintah baik tingkat provinisi maupun kabupaten/kota dalam merealisasikan nilai bagi hasil, meskipun nilai realisasi bagi hasil tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur tahun 0 masih sangat minim (di bawah 0%). Guna meningkatkan tingkat realisasi pos anggaran ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan sosialisasi teknis penggunaan anggaran terutama untuk kebutuhan pengadaan barang dan jasa, yang masih menghambat proses realisasi anggaran di daerah karena kekhawatiran atas kesalahan prosedur dan dugaan kasus korupsi bagi aparat terkait. No TABEL. REALISASI BELANJA APBD PROV. JAWA TIMUR TRIWULAN I0 (Rp juta) Uraian Anggaran Perubahan Tahun 0 Realisasi 0 Anggaran Perubahan Tahun 0 % 0. BELANJA TIDAK LANGSUNG.., 0.,..0,0.,0,%,%.. Belanja Pegawai.., 0.,..00,.,,%,%.. Belanja Bunga,,.,,,%,0%.. Belanja Hibah 0., 0.,0.0,0.00,,%,%.. Belanja Bantuan Sosial.,.,00.,0,0,0% 0,% Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota...0.,.., 0,00% 0,00% dan pemerintahaan desa Belanja bantuan keuangan kepada...0.00,0.,00.0,.0,,0%,% provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahaan desa.. Belanja tidak terduga.0,.,., 0,00%,0%. BELANJA LANGSUNG..0,.,..,.,,%,%.. Belanja Pegawai.,.,.,.0,,%,%.. Belanja Barang dan Jasa.0.0,.0,.0., 0.,,0%,%.. Belanja Modal 0.0,., 00.,.,,%,% JUMLAH BELANJA DAERAH Sumber : Biro Keuangan Prov.Jatim Realisasi 0 % 0..0,.,0..,.,,%,% Triwulan I Tahun 0

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 00 00 00 00 00 0 0 TABEL. REALISASI ANGGARAN APBD PROV. JAWA TIMUR TAHUN 000 TAHUN PENGELUARAN TOTAL BELANJA % BELANJA MODAL TW I.,%. 0,% TW II.,0%.,% TW III.,%.,% TWIV...0.0,%.,% TW I.,%.0,% TW II.0. 0,%.,% TW III..,0%.,% TWIV....,% 0.,% TW I.,% 0,% TW II..0,%.,0% TW III..,0%.,0% TWIV..0.. 0,0%.,% TW I.,%.,% TW II.0.0,%.,% TW III..0 0,%.,% TWIV....,%.0,% TW I.00,% 0,0% TW II..,%.,% TW III.. 0,% TWIV...0. 0,0% TW I.,%.,% TW II.0. 0,%.,% TW III.00.0,%.,% TWIV....0,%.,% TW I.,%.,% TW II 0,00% 0,00% TW III 0,00% 0,00% TWIV.. 0,00% 0,00% Sumber : DJPK Dep.Keuangan & Biro Keuangan Prov.Jatim % Triwulan I Tahun 0 0

Bab SISTEM PEMBAYARAN

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Sepanjang triwulan I0 kegiatan sistem pembayaran di Jawa Timur secara umum berjalan lancar walaupun terjadi peningkatan net inflow yang cukup besar. Selanjutnya, kegiatan di bidang sistem pembayaran lainnya seperti pemusnahan uang (Pemberian Tanda Tidak Berharga/ PTTB) dapat berjalan dengan baik dan cenderung menunjukkan peningkatan.. TRANSAKSI KEUANGAN SECARA TUNAI Transaksi sistem pembayaran tunai di Bank Indonesia tercermin dari beberapa kegiatan, yaitu : aliran uang keluar dan masuk dari perbankan ke Bank Indonesia (outflow dan inflow), kegiatan pemusnahan uang tidak layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB), serta kegiatan penukaran uang pecahan kecil kepada masyarakat. a. Aliran Uang Masuk/Keluar (Inflow/Outflow) Sampai dengan akhir triwulan I tahun 0, aliran uang kartal yang masuk/ keluar dari Kantor Bank Indonesia (KBI) di wilayah Jawa Timur (KBI Surabaya, KBI Malang, KBI Kediri, dan KBI Jember) secara kumulatif menunjukkan posisi net inflow, dimana jumlah aliran uang yang masuk ke Bank Indonesia melalui perbankan (inflow) lebih besar dibandingkan jumlah aliran uang yang keluar dari Bank Indonesia (outflow). Secara umum, kondisi inflow dan outflow uang kartal melalui Bank Indonesia memiliki pola musiman/cyclical yang terlihat dari tingginya net inflow pada triwulan I Tahun 0, yang merupakan aliran kembalinya outflow uang kartal yang cukup tinggi di tahun sebelumnya. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh kegiatan konsumsi masyarakat pada liburan natal dan akhir tahun, kenaikan Tarif Dasar Listrik pada pertengahan tahun 0 dan awal tahun 0, kenaikan harga BBM Non Subsidi serta belanja pemerintah yang transaksinya menggunakan uang kartal. Selain itu meningkatnya beberapa harga komoditas dunia seperti tembaga dan kopi yang meningkatkan pertumbuhan kinerja ekspor Jawa Timur pada Triwulan I tahun 0 juga menjadi salah satu penyebab tingginya net inflow pada periode ini. Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Tingginya penggunaan uang kartal pada akhir tahun tersebut pada akhirnya berdampak pada peningkatan kegiatan pemusnahan uang tidak layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB). Tabel. Perkembangan Arus Uang Tunai (Inflow Outflow) Kantor Bank Indonesia Rp. Milyar Wilayah Transaksi 0 0 I II V KBI Surabaya Outflow,0.,.0,0.,.,000. Inflow,00.,.,.0,.,.0 Net Flow,. (.) (.),.,. KBI Kediri Outflow.,.,.,.. Inflow..,..,0. Net Flow.0 (.) (,0.) (.).00 KBI Malang Outflow.0.,.0.0.0 Inflow,0.0,.,0.0,.,. Net Flow,.0.. 0.,.0 KBI Jember Outflow 0..,0... Inflow,0..0,.. 0. Net Flow..... JAWA TIMUR Outflow,.,0.,.,.,.0 Inflow,.,.,.,.,. Net Flow,.0 (.) (.),.0,. Keterangan : Net Flow (+) : Net Inflow Net Flow () : Net outflow Transaksi inflow maupun outflow pada Kantor Bank Indonesia (KBI) di Jawa Timur pada 0 menunjukkan pergerakan sebagai berikut:. Outflow menurun sebesar,% dari Rp., triliun menjadi Rp, triliun, sedangkan inflow meningkat,% dari Rp, triliun menjadi Rp, triliun (qtq).. Penurunan outflow dan kenaikan inflow menyebabkan kenaikan net inflow yang sangat tajam yaitu, % atau hampr, kali lipat dari Rp, triliun menjadi Rp, triliun (qtq). Peningkatan beberapa harga komoditas dunia seperti tembaga dan kopi yang meningkatkan pertumbuhan kinerja ekspor Jawa Timur pada Triwulan I tahun 0 menjadi salah satu penyebab tingginya net inflow pada periode ini. Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN. Peningkatan net inflow tersebut diiringi dengan peningkatan kegiatan pemusnahan uang tidak layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) dari Rp, triliun menjadi Rp,0 triliun atau sebesar, %. Gambar. Perkembangan Arus Uang Tunai (Inflow Outflow) Gambar. Perkembangan Net Inflow Sumber : Bank Indonesia Surabaya Sumber : Bank Indonesia Surabaya b. Uang Kartal Tidak Layak Edar Terkait dengan perannya dalam mengeluarkan dan mengedarkan uang, Bank Indonesia berkewajiban memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi yang layak edar (clean money policy). Sebagai upaya untuk melaksanakan kewajiban tersebut, Bank Indonesia di Jawa Timur (Surabaya, Malang, Kediri dan Jember) secara rutin melaksanakan kegiatan pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE)/rusak dengan terlebih dulu melakukan Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB). Tercatat selama triwulan I 0 sebesar Rp., triliun uang kartal yang tidak layak edar dalam berbagai pecahan dimusnahkan. Kondisi ini meningkat drastis bila dibandingkan dengan jumlah yang dimusnahkan pada triwulan sebelumnya yang hanya sebesar Rp, triliun. Atas sejumlah UTLE yang dimusnahkan tersebut, selanjutnya akan digantikan dengan Uang Layak Edar (ULE) yang siap digunakan untuk kebutuhan transaksi keuangan di masyarakat. Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Gambar. Inflow, Outflow dan Netflow Gabungan Gambar. Pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (PTTB) Sumber : Bank Indonesia Surabaya Sumber : Bank Indonesia Surabaya Peningkatan net inflow yang diiringi dengan peningkatan kegiatan pemusnahan uang tidak layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) secara tidak langsung mencerminkan tingginya kegiatan konsumsi masyarakat yang menggunakan uang kartal, serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam memperlakukan uang kartal. Pemusnahan uang kartal berdampak pada besarnya biaya pencetakan uang baru yang harus dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk menggantikan uang yang dimusnahkan tersebut. Oleh sebab itu, Bank Indonesia terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya perlakuan yang tepat terhadap uang kartal. Diharapkan masyarakat dapat ikut berperan dalam menjaga kondisi fisik uang kartal yang dimiliki dengan menggunakan secara cermat dan tepat sehingga memperpanjang usia edar uang kartal.. TRANSAKSI KEUANGAN SECARA NON TUNAI Transaksi sistem pembayaran non tunai dalam kajian ini mencakup kegiatan transaksi non tunai masyarakat melalui perbankan yang menggunakan sistem BIReal Time Gross Settlement (BIRTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). BIRTGS merupakan sistem transfer dana elektronik antar Peserta dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN dan lebih ditujukan untuk transaksi pembayaran dengan nominal yang bernilai besar (diatas Rp. 0 juta). Secara umum transaksi melalui RTGS mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sementara itu, transaksi kliring secara historis data dari tahun ke tahun cenderung stabil dan mengalami sedikit penurunan. Gambar. Perkembangan Transaksi Non Tunai Di Jawa Timur Sumber : Bank Indonesia Surabaya a. Transaksi RTGS (Real Time Gross Settlement) Besar transaksi keuangan yang menggunakan sistem BIRTGS di Jawa Timur pada Triwulan I 0 cenderung menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, baik dari sisi nominal maupun dari sisi transaksi. Tercatat volume transaksi RTGS (outgoing) dari 0 kota di Jawa Timur pada akhir periode Triwulan I Tahun 0 sebanyak.0 transaksi atau menurun,% (qtq) dengan nilai nominal tercatat sebesar Rp, triliun Jika dibandingkan dengan kondisi yang sama di Triwulan I tahun sebelumnya (0), transaksi keuangan dengan menggunakan sistem BIRTGS di tahun 0 secara nominal menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dengan mencatat pertumbuhan sebesar,0% (yoy). Hal ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi di Jawa timur yang cukup baik pada triwulan I tahun 0 yang mencapai angka,% (yoy). Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Gambar. Perkembangan Transaksi RTGS di Jawa Timur Sumber : Bank Indonesia Surabaya Searah dengan perkembangan perekonomian di beberapa kota di Jawa Timur, besarnya transaksi RTGS di tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur menunjukkan masih terpusatnya kegiatan perekonomian pada wilayah wilayah tertentu. Berdasarkan asal kotanya, transaksi outgoing maupun incoming RTGS didominasi oleh beberapa kota/kabupaten dengan karakteristik perekonomian yang cukup menonjol. Kota Surabaya sebagai ibukota provinsi Jawa Timur mendominasi besarnya transaksi. Gambar. Kota dengan aktivitas Transaksi Outgoing RTGS Terbesar 0 Gambar. Kota dengan aktivitas Transaksi Incoming RTGS Terbesar 0 Sumber : Bank Indonesia Surabaya Sumber : Bank Indonesia Surabaya Tercatat transaksi RTGS pada triwulan I 0 dari kota Surabaya ke kota lainnya (outgoing) sebesar Rp, triliun dengan volume sebanyak. transaksi. Sementara itu transaksi RTGS masuk ke rekening perbankan di Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Surabaya (incoming) tercatat sebanyak. transaksi dengan nilai tercatat sebesar Rp.,0 triliun. Selanjutnya, kota lain di Jawa Timur yang memiliki transaksi RTGS cukup tinggi adalah kota Kediri, Malang, Gresik, Batu dan Sidoarjo. b. Transaksi Kliring Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) sebagai salah satu instrumen pembayaran non tunai di Jawa Timur diikuti oleh kantor bank umum peserta yang tersebar di kabupaten/kota. Kegiatan kliring dilaksanakan oleh (empat) Kantor Bank Indonesia di Jawa Timur yaitu KBI Surabaya, Malang, Kediri dan Jember. Tabel. Perputaran Kliring dan Tolakan Cek, Bilyet Giro 0 Jml Hari Kliring : Hari Jumlah Perputaran Kliring ( D ) Rata Perputaran Jumlah Penolakan Cek Rata Penolakan Cek Persentase Rata Penolakan Kota Kantor Kliring Sehari Dan Giro Kosong Dan BG Kosong Sehari Cek Dan BG Kosong Sehari Peserta Lembar Nominal Lembar Nominal Lembar Nominal Lembar Nominal Lembar Nominal (satuan) (juta Rp) (satuan) (juta Rp) (satuan) (juta Rp) (satuan) (juta Rp) (%) (%) Surabaya,,,,0,,0 0, 0,,.. Malang,,,0,,,,0 0.0. Kediri 0,,0,, 0 0,0.. Jember,,,0,,.. Jatim,,0 0,0,,,,0,,.. Sumber : Bank Indonesia Surabaya Gambar. Perkembangan Transaksi Kliring Di Jawa Timur Gambar. Tolakan Transaksi Kliring Di Jawa Timur Sumber : Bank Indonesia Surabaya Sumber : Bank Indonesia Surabaya Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Secara nominal, transaksi perputaran kliring di Jawa Timur yang berlangsung pada triwulan I 0 menunjukkan peningkatan. Tercatat sebanyak, juta warkat keuangan (cek, bilyet giro, nota kredit dan nota debet perbankan) ditransaksikan melalui kliring dengan nilai sebesar Rp.0,0 triliun, sehingga ratarata perputaran kliring harian tercatat sebesar Rp., milyar dengan ratarata harian perputaran warkat kliring sebanyak. lembar warkat perhari. Sementara itu, jumlah tolakan warkat kliring pada periode ini menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan IV0. Tercatat sebanyak.0 lembar warkat dengan nilai Rp., milyar, lebih tinggi dibandingkan tolakan warkat pada periode sebelumnya yang hanya sebanyak 0. lembar warkat, atau senilai Rp., milyar. Gambar. Rasio Tolakan dalam Perputaran Kliring di Jawa Timur Sumber : Bank Indonesia Surabaya. PENEMUAN UANG PALSU DI PERBANKAN JAWA TIMUR Penemuan uang palsu di Jawa Timur pada triwulan I 0 yang ditemukan melalui perbankan maupun berdasarkan laporan masyarakat secara umum menunjukkan peningkatan. Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Gambar. Statistik Uang Palsu yang ditemukan Sumber : Bank Indonesia Surabaya Tercatat sebanyak.0 lembar uang palsu dalam berbagai pecahan dengan nilai nominal sebesar Rp, juta, meningkat dibandingkan temuan uang palsu pada triwulan sebelumnya yang mencapai.0 lembar dengan nilai nominal sebesar Rp0, juta. Berdasarkan nilai nominal maupun jenis pecahannya, uang palsu dalam pecahan Rp.0.000, paling banyak ditemukan dibandingkan uang palsu dalam pecahanpecahan lainnya, dengan proporsi sebesar,% (berdasarkan lembar uang). Gambar. Statistik Uang Palsu yang ditemukan (lembar) Gambar. Statistik Uang Palsu yang ditemukan (nilai) Sumber : Bank Indonesia Surabaya Sumber : Bank Indonesia Surabaya Triwulan I Tahun 0

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Bank Indonesia bersama instansi berwenang terkait telah melakukan penanggulangan preventif maupun represif terhadap temuan uang palsu yang semakin meningkat. Penanggulangan secara preventif, dilaksanakan melalui upaya upaya memasyarakatkan pengetahuan mengenai ciriciri keaslian uang rupiah, meningkatkan unsur pengaman pada uang baru, serta meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait di dalam negeri maupun internasional. Sementara itu, upaya penanggulangan secara represif dilaksanakan oleh Kepolisian dengan menangkap dan menghukum pembuat maupun pengedar uang palsu sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. Triwulan I Tahun 0

Bab KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

BAB VI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT.. UMUM Seiring dengan terus membaiknya perekonomian Jawa Timur hingga akhir triwulan I0, perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat Jawa Timur yang tercermin dari kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan kembali menunjukkan perbaikan. Berdasarkan rilis data Ketenagakerjaan dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim) dan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Jawa Timur Triwulan I0 mengindikasikan adanya peningkatan penyerapan jumlah tenaga kerja. Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang menjadi salah satu indikator kesejahteraan masyarakat pedesaan menunjukkan adanya peningkatan. Panen raya yang sedang berlangsung dan mencapai puncaknya di akhir triwulan I0 mendorong peningkatan NTP pada periode ini. Sementara itu kenaikan NTN disebabkan oleh lebih tingginya kenaikan indeks harga yang diterima oleh nelayan dibandingkan dengan indeks harga yang harus dibayarkan... KETENAGAKERJAAN Perkembangan ketenagakerjaan di Jawa Timur menunjukkan kondisi yang semakin baik. Hal ini diindikasikan dengan kenaikan penyerapan tenaga kerja seiring dengan perbaikan kinerja dibeberapa sektor utama di Jatim yang berlangsung pada beberapa periode terakhir.... Data Ketenagakerjaan Jawa Timur Jumlah angkatan kerja di Jatim per Februari 0 sebanyak 0, Juta orang, meningkat dibandingkan data ketenagakerjaan di bulan Agustus 0 (, juta). Peningkatan ini menyebabkan menurunnya rasio penduduk yang menganggur dengan jumlah angkatan kerja yang biasa disebut dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Tercatat TPT pada periode laporan menurun dari,% menjadi sebesar,%. Triwulan I Tahun 0

BAB VI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Di sisi lain, perbaikan perekonomian Jatim yang sedang berlangsung diyakini juga menjadi pendorong peningkatan penyerapan tenaga kerja. Tercatat terjadi peningkatan jumlah penduduk yang bekerja, dari, juta menjadi,0 juta jiwa. Peningkatan kinerja di sektor pertanian yang cenderung padat karya diyakini menjadi salah satu pengurang angka pengangguran terbuka pada periode laporan. Tabel. Kondisi Ketenagakerjaan di Jawa Timur (00 0) (dalam ribuan) Kegiatan 00 00 0 0 Growth (%) Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb Feb'Agst' Agst' feb' Angkatan Kerja 0,, 0,,0 0,, 0,, 0,,0,,0 0,,.. Bekerja,,0,,,,,0,0,,0,,,0,0.. Menganggur,,,,,,,0,,0,0,,.0.0 TPAK.%.%.%.%.%.0%.% TPT.%.%.%.0%.%.%.% Sumber : BPS Jatim Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Sisi Sektoral 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% % 0% Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb 0,000.00,00.00,000.00,00.00,000.00,00.00,000.00 00 00 00 0 0 Lainnya *) Jasa Kemasyarakatan Transportasi Perdagangan Konstruksi Industri Pertanian Total Tenaga Kerja (Skala Kanan) Sumber: BPS Jawa Timur Struktur penyerapan tenaga kerja secara sektoral di Jatim pada triwulan laporan tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Sektor pertanian masih mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja, disusul oleh Sektor Perdagangan dan Sektor Industri Pengolahan. Dibandingkan posisi Februari 0, peningkatan jumlah tenaga kerja didorong oleh kenaikan jumlah tenaga kerja pada sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi. Kenaikan jumlah tenaga kerja pada kedua sektor ini seiring dengan membaiknya kinerja yang sedang berlangsung pada kedua sektor tersebut. Triwulan I Tahun 0

BAB VI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Gambar. Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Komposisi Tenaga Kerja Formal 0 Informal Formal G Formal G Informal % % Buruh/Karyawan g berusaha dibantu buruh tetap Berusaha dibantu buruh tetap g buruh/karyawan 0% %.0.............0..0..0 Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb % 0% % %...0...0... 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.0 Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb % % 0% % % % 0% 00 00 00 0 0 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur Sumber: BPS Jawa Timur Grafik. Komposisi Bidang Tenaga Kerja Informal Pekerja Tak Dibayar Pekerja Bebas di Pertanian Berusaha sendiri Pekerja Bebas Non Pertanian Berusaha dibantu buruh tdk tetap.0...... 0. 0. 0..00 0..0.0....0..... 0. 0.................0...0. Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb Aug Feb 00 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur Berdasarkan komposisinya, penyerapan tenaga kerja di Jatim masih didominasi oleh penyerapan tenaga kerja di sektor informal, dengan pertumbuhan yang cenderung meningkat pada triwulan laporan. Tingginya penyerapan tenaga kerja sektor informal menjadi perhatian pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. Berbagai kebijakan pemberdayaan perekonomian masyarakat dilaksanakan guna mendorong kapasitas masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Melalui (empat) strategi pembangunan, yaitu propoor, progender, progrowth dan projob, Triwulan I Tahun 0

BAB VI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Pemerintah provinsi Jatim menerapkan beberapa kebijakan antara lain cash transfer (Jamkesmas, RTLH, Raskin, bantuan hibah/sosial), pemberdayaan UMKM (kredit bunga murah, pembentukan PT.Jamkrida, peningkatan nilai tambah produksi, produksi sektor primer, dan lembaga keuangan mikro/kopwan). Sementara itu, perkembangan tenaga kerja di sektor formal cenderung stabil, dengan didominiasi oleh tenaga buruh/ karyawan yang mencapai % dari total tenaga kerja yang bekerja di sektor formal, sedangkan selebihnya merupakan tenaga kerja yang masuk dalam kategori berusaha dibantu buruh tetap (wirausaha).... Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Searah dengan indikator ketenagakerjaan dari BPS Jawa Timur, indikator ketenagakerjaan berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia di wilayah kerja Jawa Timur menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Total Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang dihitung dari penggunaan tenaga kerja pada sektor usaha di (sembilan) sektor ekonomi menunjukkan peningkatan dari 0. menjadi,. Secara spesifik peningkatan penggunaan tenaga kerja paling besar terjadi pada sektor pertanian, sektor bangunan, dan sektor keuangan, hal ini mengkonfirmasi terjadinya peningkatan pertumbuhan ekonomi ketiga sektor tersebut di triwulan I0. Tabel. Perkembangan Penggunaan Tenaga Kerja (SBT) Tahun 000 No SEKTOR 00 0 0 I II III IV I II III IV I REALISASI PERTANIAN.0...... 0.. PERTAMBANGAN 0. 0. 0.00..0 0.00.00 0.00 0.00 INDUSTRI PENGOLAHAN. 0.....0. 0.. LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH 0.00...0 0.0 0..0 0.00 0.0 BANGUNAN. 0.00 0.00 0. 0. 0. 0. 0.. PHR. 0..0.0..0.. 0. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI.. 0. 0.00. 0. 0. 0.0 0.0 KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN. 0. 0. 0.00 0. 0. 0..0. JASA JASA. 0.0..0 0. 0.0 0. 0. 0. TOTAL. 0.0..... 0.. Triwulan I Tahun 0

BAB VI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Gambar. Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan Tenaga Kerja Tiga Sektor Utama.... PERTANIAN INDUSTRI PENGOLAHAN PHR. Saldo bersih % 0 0.0.. I II III IV I II III IV I II III IV I 0. 0.. 00. 00 0 0. Penyerapan Tenaga Kerja (% SBT).0 Sumber: SKDU, KBI Surabaya Saldo bersih % 0.... 0. 0. 0. I II III IV I II. III. IV I II. III 0. IV I.0 00 00 0 0.. Sumber: SKDU, KBI Surabaya Gambar. Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral PERTAMBANGAN LGA BANGUNAN ANGKUTAN KEUANGAN JASA Saldo bersih % 0 I II III IV I II III IV I II III IV I 00 00 0 0 Sumber: SKDU, KBI Surabaya.. KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PEDESAAN Tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan di Jawa Timur pada triwulan I0 relatif membaik dibandingkan periode sebelumnya, khususnya didorong oleh perbaikan Nilai Tukar Petani (NTP). Sementara itu Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang mengindikasikan kondisi kesejahteraan nelayan menunjukkan kondisi yang stabil. Triwulan I Tahun 0

BAB VI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT... Kesejahteraan Petani Sampai dengan akhir triwulan I0, indikator kesejahteraan petani di Jawa Timur yang tercermin dari indikator Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan sedikit peningkatan. Namun demikian, NTP pada periode ini masih berada dibawah level nasional serta level normal = 0. Peningkatan NTP didorong oleh pertumbuhan indeks harga yang diterima petan (It) lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayarkan oleh petani (Ib). Tibanya masa panen raya yang mencapai puncaknya di bulan Maret 0 berpengaruh pada peningkatan indeks harga yang diterima oleh petani. Sementara tren penurunan harga (deflasi) yang terjadi pada kelompok bahan makanan diyakini menjadi pengurang besaran indeks harga yang dibayarkan oleh petani, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi seharihari. Gambar. Gambar. NTP Nasional & Jawa Timur NTP dan Pertumbuhan (Nasional & Jatim) NTP Nasional NTP Jatim Nasional Jatim g NTP Nasional g NTP Jatim % % 0 0 0% % % % % I II III IV I II III IV I II III IV I % Sumber: BPS Jawa Timur 00 0 0 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur Gambar. Gambar. It serta Pertumbuhan Nasional & Jatim Ib dan Pertumbuhan Nasional & Jatim 0 0 0 0 0 0 0 0 0 It Nasional It Jatim g It Nasional g It Jatim I II III IV I II III IV I II III IV I 00% 00% 00% 00% 00% 0% 00% 00% 00% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Ib Nasional Ib Jatim g Ib Nasional g Ib Jatim I II III IV I II III IV I II III IV I 00% 00% 00% 00% 00% 0% 0% 0% 00 00 0 0 00 00 0 0 Sumber: BPS Jawa Timur Sumber: BPS Jawa Timur Triwulan I Tahun 0 0

BAB VI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT... Kesejahteraan Nelayan Kesejahteraan nelayan yang tercermin pada Nilai Tukar Nelayan (NTN) Provinsi Jawa Timur pada triwulan I0 cenderung stabil, hal ini tercermin dari nilai NTN yang stabil di level 0. Jika dibandingkan dengan NTN nasional, kondisi kesejahteraan nelayan di Jawa Timur cenderung berada diatas level nasional. Mengingat nilainya yang selalu berada diatas level 0, kesejahteraan nelayan di Jatim dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan kesejahteraan petani (level NTP dibawah 0). Biaya operasional yang relatif lebih rendah, serta faktor risiko kegagalan yang tidak setinggi di sektor pertanian menjadi salah satu penyebab tingginya nilai NTN dibandingkan NTP. Sementara itu, berdasarkan komposisinya peningkatan indeks harga yang diterima nelayan pada periode ini disebabkan oleh kenaikan harga beberapa jenis ikan, seperti ikan tambang, ikan selar, dan ikan layang, sedangkan kenaikan indeks harga yang dibayar oleh nelayan dipicu oleh kenaikan indeks harga konsumsi rumah tangga yang didominasi oleh kelompok bahan makanan dan kelompok sandang. Gambar. Gambar. NTN Nasional & Jawa Timur NTN serta Pertumbuhan (Nasional & Jatim) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 NTN Nasional NTN Jatim I II III IV I II III IV I II III IV 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Nasional Jatim g NTN Nasional g NTN Jatim I II III IV I II III IV I II III IV % % % % % 0% % % % % % 00 00 0 00 00 0 Sumber: BPS Jawa Timur Sumber: BPS Jawa Timur Triwulan I Tahun 0

Bab PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

BAB VII PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA. PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR Pada triwulan II0, pertumbuhan ekonomi Jatim diproyeksikan tumbuh pada batas atas dari rentang pertumbuhan,%,%. Faktor pendorong pertumbuhan pada triwulan ini yaitu konsumsi rumah tangga, kegiatan investasi swasta dan perdagangan luar negeri. Untuk konsumsi masyarakat didorong oleh momentum libur sekolah dan cuti bersama, dengan dampak yang diperkirakan lebih besar dari momentum triwulan I0, sehingga konsumsi pada triwulan ini diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Perkiraan ini dikonfirmasi oleh hasil Survei Konsumen KBI Surabaya, yang menunjukkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Indeks Ekspektasi Penghasilan mengalami peningkatan. 0,00 0,00 Gambar. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Indeks Keyakinan Konsumen Indeks Ekspektasi Konsumen 0 0 0 Gambar ar. Indeks Ekspektasi Penghasilan 0,00 0 0,00 0 0 0,00 0 0,00 0 Indeks Penghasilan Saat Ini Ekspektasi Penghasilan 0 0,00 0 00 00 00 00 0 0 Sumber: Survei Konsumen BI Surabaya 00 Sumber: Survei 00Konsumen 00 BI Surabaya 00 0 0 Kinerja ekspor diperkirakan masih dalam tren perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring meningkatnya permintaan internasional dan terdiversifikasinya negara tujuan ekspor Jatim. Permintaan internasional pada triwulan II0 didominasi oleh kebutuhan konsumsi masyarakat internasional pada barang kebutuhan seharihari, seperti furniture, alas kaki dan makanan dan minuman olahan. Seiring dengan tren kenaikan ekspor, impor pun diperkirakan terus menguat. Sesuai dengan pola tahuntahun sebelumnya, pengeluaran pemerintah mulai mengalami peningkatan pada triwulan II, seiring telah dilaksanakannya tender beberapa proyek pemerintah dan yang merupakan kelanjutan dari periode Triwulan I Tahun 0

BAB VII PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA sebelumnya, seperti proyek infrastruktur Jalur Lintas Selatan (JLS) dan Jalan Tol Mojokerto. Ekspektasi pengusaha untuk merealisasikan rencana investasinya pada triwulan ini diperkirakan dapat berjalan dengan baik seiring meningkatnya perekonomian dalam dan luar negeri. Selain itu, meningkatnya minat investasi di beberapa titik potensi ekonomi Jatim seperti pertambangan dan pariwisata diharapkan dapat berkembang lebih baik. Di sisi penawaran, kinerja ketiga sektor utama diperkirakan mengalami peningkatan. Sektor pertanian diperkirakan mengalami peningkatan seiring berlalunya musim hujan dan tibanya musim panen beberapa jenis tanaman bahan makanan, seperti kedelai dan padi. Kinerja sektor industri dan PHR pun mengalami perbaikan seiring membaiknya konsumsi masyarakat Jawa Timur dan perdagangan Jawa Timur ke luar negeri. Sementara itu, sektor lainnya tumbuh stabil, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Kondisi sektoral pada triwulan II0 ini diindikasikan pula oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha KBI Surabaya yang menunjukkan optimisme pelaku usaha yang dituangkan dalam nilai indeks estimasi realisasi usaha dan penggunaan tenaga kerja sektoral. 0 0 Gambar. Estimasi Realisasi Usaha Tw.I0 0 TOTAL PERTANIAN INDUSTRI PENGOLAHAN PHR 0 Gambar. Estimasi si Penggunaan Tenaga Kerja Tw.I0 0 TOTAL PERTANIAN INDUSTRI PENGOLAHAN PHR 0 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II* 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II* 00 00 00 0 0 0 0 00 00 00 0 0 Sumber: SKDU BI Surabaya 0 Sumber: SKDU BI Surabaya. PERKIRAAN INFLASI JAWA TIMUR Inflasi Jawa Timur pada triwulan I0 diperkirakan cenderung melambat dibandingkan triwulan I0 dan berada di kisaran,0%,% (yoy). Dari sisi non fundamental, pergerakan harga pada kelompok bahan makanan (volatile food) selama Triwulan I Tahun 0 0

BAB VII PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA triwulan II0 diperkirakan mulai menunjukkan peningkatan dan berpotensi untuk berfluktuasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah mulai berakhirnya periode musim panen di sejumlah sentra produksi di Jawa Timur sehingga akan mempengaruhi ketersediaan pasokan beras. Dari sisi fundamental yang tercermin pada inflasi inti diperkirakan masih mengalami peningkatan di sepanjang triwulan I0. Meskipun dari faktor internal, sisi penawaran diperkirakan masih mampu merespon kenaikan sisi permintaan yang didukung oleh kapasitas produksi yang tersedia. Namun tingkat ekspektasi harga yang cenderung meningkat pada masyarakat menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong inflasi inti. Sementara dari faktor eksternal, tren penguatan nilai tukar rupiah dapat memitigasi tekanan inflasi dari jalur imported inflation yang cenderung meningkat (tercermin dari pertumbuhan ekonomi global yang mulai pulih namun masih belum stabil serta tren kenaikan harga komoditas global). Inflasi administered prices diperkirakan mengalami peningkatan yang didorong oleh rencana pemberlakuan beberapa kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan beberapa tarif, diantaranya tarif PDAM. Namun demikian, upaya yang telah disusun oleh Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya guna menciptakan kecukupan stok bahan pangan di Jawa Timur dan kelancaran pasokan serta distribusi diharapkan dapat mengendalikan ekspektasi inflasi masyarakat. Upaya ini diharapkan juga dapat mencegah potensi timbulnya kesenjangan permintaan dan penawaran (output gap) yang berakibat pada kenaikan harga yang berlebihan.. 0.00.00.00.00.00.00.00.00.00.00 Gambar. Ekspektasi Harga bulan y.a.d bln yad Ekspektasi Harga Konsumen Ekspektasi Harga Pengecer 00 00 0 Sumber: Survei Penjualan Eceran & Survei Konsumen BI Surabaya 00.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00.00 0.00 Gambar. Ekspektasi Harga bulan y.a.d bln yad Ekspektasi Harga Konsumen Ekspektasi Harga Pengecer 00 00 0 Sumber: Survei Penjualan Eceran & Survei Konsumen BI Surabaya Triwulan I Tahun 0