Bab III Metodologi Penelitian

dokumen-dokumen yang mirip
Bab IV Data dan Pembahasan

USULAN PERANCANGAN ULANG INTERFACE PRODUK TELEPON GENGGAM DENGAN MEMPERHATIKAN KARAKTERISTIK PENGGUNA USIA LANJUT TESIS

Bab V Analisis Produk Awal dan Perancangan Ulang

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN

Bab II Studi Pustaka

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

PERANCANGAN ULANG REMOTE CONTROL YANG DISESUAIKAN DENGAN KARAKTERISTIK ORANG LANJUT USIA

UJI, UJI, DAN UJI ULANG

BAB III METODE PENELITIAN. A. Model Pengembangan

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS HASIL PENGUJIAN

User Centered Design & Task Analysis. Interaksi Manusia & Komputer (6)

Perancangan Ulang User Interface Mesin Parkir Meter Jakarta

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 10 Bandarlampung yang berlokasi di

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan dunia hiburan yang semakin meningkat seiring dengan

BAB IV METODE PENELITIAN

EVALUASI ANTARMUKA WEBSITE SMK MUHAMMADIYAH 2 SRAGEN MENGGUNAKAN METODE USABILITY TESTING

EVALUASI DAN PERANCANGAN LAUNCHER SMARTPHONE ANDROID UNTUK MEMUDAHKAN PENGGUNAAN SMARTPHONE BAGI KAUM LANSIA

Evaluasi dan Perancangan Ulang Aplikasi E-Commerce Shopee Berdasarkan Usability Testing

BAB III METODE PENELITIAN

Mengelola Proses Perancangan. Interaksi Manusia dan Komputer Sesi 3

DAFTAR ISI. Pernyataan... i Kata Pengantar... ii Abstrak... vi Daftar Isi... vii Daftar Gambar... x Daftar Tabel... xi Daftar Grafik...

BAB 2 FAKTOR MANUSIA - PENGELIHATAN - PENDENGARAN - SENTUHAN. Interaksi Manusia dan Komputer Faktor Manusia 8

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Shift Pagi Shift Sore Shift Malam

: Perlakuan (Pembelajaran dengan model pembelajaran M-APOS),

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN MASALAH

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN E-15

REKAYASA PERANGKAT LUNAK INTERFACE DESIGN. Defri Kurniawan M.Kom

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak sekali

BAB III METODOLOGI RISET

BAB III METODE PENELITIAN. berbasis augmented reality untuk menunjang promosi gedung Fakultas

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, yakni metode

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan atau Research &

BAB III METODE PENELITIAN

Profil Pemakai (Manusia)

BAB III METODE PENELITIAN

Managing Design Process. Ratna Wardani Pertemuan #6

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan generik sains pada

UKDW BAB I PENDAHULUAN

FAKTOR MANUSIA. Chalifa Chazar Modul :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMA KASIH

BAB III METODE PENELITIAN

EVALUASI USABILITY DALAM DESAIN INTERFACE

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif atau kualitataif dilakukan dengan mempertimbangkan pendekatan

BAB 3 METODE PENELITIAN

Hasil dan Pembahasan Pola Pembelajaran Murid SLB Sekarang Metode Penelitian

BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN

Manusia pemroses informasi 1. Informasi diterima dan ditanggapi dengan proses masukankeluaran

BAB III METODE PENELITIAN. kelompok eksperimen adalah siswa yang diberikan perlakuan (treatment) dengan


BAB I PENDAHULUAN. Kartu Tanda Penduduk elektronik atau electronic-ktp (e-ktp) adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. semu (quasi experimental) dengan disain nonequivalent control group design.

BAB I PENDAHULUAN. Semakin pesatnya perkembangan teknologi, membuat lahirnya perangkat

LAMPIRAN 1. ( Kuesioner Penelitian )

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi eksperimen. Menurut

Bab ini membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, batasan masalah, metodologi, dan sistematika pembahasan dari tugas akhir ini.

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengembangan berarti proses mengembangkan dari yang sederhana menjadi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 4 ANALISIS HASIL Gambaran umum responden. bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai identitas responden.

BAB III METODE PENELITIAN

BY: METTY VERASARI MENGENAL TIPE BELAJAR ANAK (AUDITORY, VISUAL, & KINESTETIK)

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk mempermudah pembahasan, terlebih dahulu akan diuraikan definisi

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. yang dapat menunjang berjalannya sistem agar berjalan secara optimal. Dimana

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODA PENELITIAN. Subjek penelitian ini adalah masyarakat baik pria maupun wanita di sekitar

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian eksperimen semu (quasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental, dimana

Transkripsi:

Bab III Metodologi Penelitian Tujuan penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui perbedaan signifikan antara pengguna usia muda dan lansia serta sekaligus mengidentifikasi kesulitan pengguna usia lanjut dalam menggunakan produk telepon genggam, sehingga pada akhirnya dapat ditentukan karakteristik dan rancangan interface telepon genggam yang ramah bagi lansia. Sehingga dalam bab ini akan diuraikan model dan tahapan penelitian yang dilakukan, metode yang digunakan dalam penelitian, dan teknik serta data yang dikumpulkan. III.1 Model Penelitian Model penelitian dibuat untuk memberikan gambaran ruang lingkup penelitian yang dilakukan. Model penelitian pada gambar III.1, terkait dengan konsepkonsep universal design, perancangan produk, usability testing, dan sensory testing Gambar III.1 Model penelitian 44

III.2 Tahapan Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam langkah-langkah penelitian sebagai berikut (secara diagramatis ditunjukkan pada gambar III.2): 1. Perumusan masalah dan penetapan tujuan penelitian Perumusan masalah merupakan dasar bagi penelitian ini secara keseluruhan. Perumusan masalah ini didasarkan pada hasil studi awal yang telah dibahas secara mendetail pada Bab I: Pendahuluan. Setelah masalah penelitian dirumuskan, langkah berikutnya adalah penentuan tujuan penelitian. Batasan dari penelitian ini secara terperinci dapat dilihat pada sub-bab I.5 dan tujuan penelitian dapat dilihat pada sub-bab I.3. 2. Studi Literatur dan Observasi Studi literatur dilakukan dengan cara membaca dan mempelajari literaturliteratur yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Informasi yang diperoleh akan digunakan sebagai dasar pemikiran teoritis dalam melihat dan membahas kenyataan yang ditemukan dari hasil penelitian di lapangan. Observasi dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari bagaimana keadaan objek penelitian yang sebenarnya serta mencoba menemukan masalah yang dapat diamati lebih lanjut. Pencarian gambaran awal permasalahan dilakukan dengan cara: melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti dan wawancara dengan objek yang diteliti maupun dengan pihakpihak yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 3. Penentuan Kriteria Perancangan Sebelum dilakukan pengumpulan dan pengolahan data, terlebih dahulu ditetapkan kriteria-kriteria (fitur) perancangan yang relevan dengan karakteristik para lansia. Penentuan kriteria perancangan ini merupakan tahapan yang penting karena nantinya dipakai sebagai acuan dalam melakukan perancangan. 45

4. Uji Kemampupakaian (Usability Testing), Uji Tactile, dan Uji Visual Pengujian adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi interaksi produk dengan penggunanya (lansia), sehingga diperlukan pengujian yang tepat agar interaksi produk dengan pengguna dapat diidentifikasikan dengan baik. Uji kemampupakaian dilakukan dalam penelitian ini karena dengan uji kemampupakaian, selain dapat dilihat seberapa mampu-pakai produk, juga dapat dilihat apakah para lansia dapat menggunakan produk sebagaimana seharusnya produk tersebut digunakan. Hal ini sesuai dengan apa yang direkomendasikan oleh Rubin (1994), Stanton (1998), dan Yun (2004), yaitu bahwa mampu tidaknya suatu produk digunakan oleh end-usernya dapat dilihat dengan melakukan uji kemampupakaian pada sampel yang mewakili end-user tersebut. Apabila hasil dari pengujian tersebut baik (mampu-pakai) bagi sampel yang diuji, maka dapat dianggap bahwa produk tersebut juga akan mampu pakai pada seluruh end-usernya. Metodologi usability testing yang digunakan mengacu pada metodologi yang dibuat oleh Rubin (1994). Tahapan uji kemampupakaian secara detil dijelaskan pada sub bab III.3. Uji tactile dan visual dipilih dalam penelitian ini selain pengujian yang lain, seperti uji auditory capacities dan uji kognitif, karena uji tactile dan visual mempunyai kaitan yang paling erat dengan interface produk telepon genggam. Pada produk telepon genggam dengan fungsi dasar (menerima telepon, memanggil, dan menulis pesan), yang merupakan kebutuhan lansia (bab I), tidak melibatkan perintah perintah auditory, sehingga uji auditory tidak diperlukan. Selain itu, produk telepon genggam Nokia 6585 merupakan produk telepon genggam yang tidak dilengkapi dengan fitur yang membutuhkan auditory capacities. Sedangkan pengujian kemampuan kognitif lansia sudah termasuk dalam pengujian kemampupakaian, yaitu pada saat lansia melakukan tugas-tugas pada pengujian kemampupakaian, dengan sendirinya terjadi proses kognitif (reaksi dan aksi berpikir), sehingga 46

tidak diperlukan pengujian kognitif secara khusus. Uji variabel fisik (seperti: dimensi tubuh, step height, dan lain-lain) tidak terkait dengan telepon genggam. Uji tactile dan uji visual dilakukan dalam penelitian ini mengacu pada metodologi usability testing yang dibuat oleh Kwahk dan Han (2002), yang telah dijelaskan pada bab II: Studi Pustaka. Disamping itu, seperti yang telah dijelaskan pada latar belakang penelitian, bahwa menurut Steenbekkers dan Beijsterveldt (1998), kemampuan sensori sesorang akan berada pada fase yang maksimal pada usia 20 30 tahun, dan setelah memasuki usia 65 tahun kemungkinan besar kemampuan sensorinya akan sangat jauh menurun. Hal senada juga direkomendasikan oleh Mortimer et.al. (2004), yaitu pada saat melakukan pengujian untuk melihat kemampuan taktil lansia dengan menggunakan sampel usia 18 35 tahun, maka mereka perlu menggunakan sarung tangan. Hal ini dimaksudkan agar kemampuan taktil mereka mendekati kemampuan lansia. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pengujian untuk melihat kemampuan sensory para lansia apakah berbeda secara signifikan dengan pengguna usia muda perlu dilakukan. Perbedaan signifikan tersebut akan menentukan arah perancangan selanjutnya, yaitu perancangan yang mempertimbangkan keterbatasan taktual dan visual lansia agar dapat menggunakan telepon genggam sebaik pengguna usia muda (20 30 tahun). 5. Perancangan Ulang dan Analisa Tahapan perancangan ulang diawali dengan melakukan evaluasi rancangan awal (produk saat ini). Evaluasi rancangan awal merupakan evaluasi terhadap produk ponsel sekarang. Evaluasi dilakukan berdasarkan hasil seluruh pengujian yang dilakukan sebelumnya. Hasil dari evaluasi ini akan dijadikan acuan dalam melakukan perancangan ulang. 47

Pembuatan rancangan ulang mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan karakteristik para lansia dan sisi ergonomis. Rancangan yang telah selesai akan diuji lewat prototipe dan wawancara kepada lansia untuk mengetahui apakah rancangan interface tersebut sudah memenuhi kriteria-kriteria yang dibutuhkan oleh para lansia. Pengujian dilakukan secara sederhana, yaitu dengan meminta lansia melakukan satu buah fungsi dalam pengujian telepon genggam sebelumnya. 6. Kesimpulan Tahap terakhir adalah pengambilan kesimpulan dari seluruh rangkaian penelitian yang telah dikerjakan. 48

Gambar III.2 Tahapan penelitian 49

III.3 Sampel Penelitian III.3.1 Penentuan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini, pengujian tactile dan visual dilakukan terhadap dua kelompok sampel. Sampel pertama diambil dari pria dan wanita berusia 65-75 tahun. Rentang usia ini merupakan usia lansia yang menjadi target perancangan. Sampel dipilih dari lansia yang masih mampu hidup secara independen dan setidaknya masih mampu melakukan pekerjaan sehari-hari yang sederhana. Sampel kelompok usia ini sebagian besar diambil di tiga buah Panti Sosial di kota Bandung, yaitu : Panti Sosial Tresna Werdha Senjarawi di Jalan Jeruk No. 7, Panti Werdha Pertiwi di Jalan Sancang 2, dan Panti Jompo Muhammadiyah di Jalan Gede Bage Selatan 14. Sampel pada rentang usia ini juga digunakan untuk melakukan uji kemampupakaian. Sampel kedua diambil dari pria dan wanita berusia 20-30 tahun. Pengambilan sampel untuk kelompok usia ini dilakukan di sekitar tempat tinggal penulis. Jumlah sampel yang diambil dari masing-masing kelompok adalah sebesar 15 (N=15). Jumlah sampel ini sudah sesuai dengan jumlah sampel untuk pengujian kemampupakaian yang dikemukan oleh Rubin (1994) dan Nielsen (1993) serta rules of thumb jumlah sampel yang dikemukan oleh Roscoe (dalam Sekaran, 2000) seperti yang telah dijelaskan pada Bab II: Studi Pustaka. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik nonprobability sampling yaitu purposive sampling, yaitu sampel diambil berdasarkan ciri-ciri yang sesuai dengan maksud penelitian. Teknik ini digunakan dengan alasan, bahwa penelitian difokuskan pada pengguna lansia, sehingga sampel yang sesuai adalah kelompok responden yang berusia 65 75 tahun (lansia). III.3.2 Profil Responden Profil responden yang dianggap mewakili pada penelitian ini adalah kelompok lanjut usia. Berikut adalah kriteria yang digunakan untuk mengelompokkan responden (Kwahk dan Han, 2002; Rubin, 1994): 50

1. Jenis kelamin. Kriteria jenis kelamin digunakan untuk membuat pengujian yang seimbang antara pria dan wanita, sehingga hasil rancangan tidak akan condong ke jenis kelamin tertentu. 2. Tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan akan menentukan apakah seseorang dapat menyesuaikan diri dengan peralatan yang menggunakan teknologi walaupun tidak tertutup kemungkinan digunakan oleh pengguna yang memiliki pendidikan di bawahnya. 3. Frekuensi penggunaan telepon Kriteria ini digunakan untuk melihat bagaimana interaksi mereka terhadap produk telepon (telepon genggam). 4. Tujuan dan perilaku penggunaan telepon genggam Kriteria ini dipakai untuk menilai fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh pengguna lansia terhadap produk telepon genggam. III.4 Pengujian Tactile dan Visual (Sensory Testing) Untuk menentukan bagaimana perancangan kriteria-kriteria agar sesuai dengan karakteristik para lansia, dilakukan pengujian terhadap variabel sensori, khususnya kemampuan tactile dan visual. Uji tactile meliputi uji pengenalan bentuk yang sama (tactile form recognition, equal shapes) dan uji pengenalan bentuk yang berbeda (tactile form recognition, different shapes). Pengujian visual dilakukan dengan uji near-reading visual acuity. Kedua pengujian tersebut lebih banyak dipakai untuk menilai dan menentukan rancangan interface produk. III.4.1 Penentuan Variabel Pengujian Untuk menentukan bagaimana perancangan agar sesuai dengan karakteristik para lansia, dilakukan pengujian terhadap variabel sensori, khususnya kemampuan tactile dan visual. Kedua variabel ini dipilih karena keduanya memiliki peranan penting dalam pengoperasian interface telepon genggam dan diperkirakan mengalami penurunan kemampuan seiring dengan pertambahan usia 51

(Steenbekkers dan Beijsterveldt, 1998). Sedangkan variabel dalam pengujian kemampupakaian adalah tugas-tugas yang dilakukan oleh lansia dengan menggunakann telepon genggam. a. Sistem tactile Indera peraba mempunyai fungsi yang luas. Sensasi sentuhan, tekanan, sakit, panas, dan dingin ditimbulkan oleh stimulasi pada kulit. Dalam interaksi manusia-produk, sentuhan penting untuk melokasikan, memanipulasi, dan mengidentifikasi subjek secara manual. Kemampuan tactile dibutuhkan untuk membedakan bentuk tombol dalam telepon genggam. Jika terjadi penurunan sensibilitas tactile, pengenalan bentuk tombol telepon genggam akan menjadi lebih sulit bagi para lansia. Maka dari itu, penting untuk mengetahui bagaimana dimensi dan bentuk tombol yang dapat dikenali dengan jelas oleh para lansia. b. Sistem visual Visual acuity didefinisikan sebagai kemampuan pembedaan oleh penglihatan antara bentuk-bentuk terkecil (dengan kekontrasan yang besar). Biasanya pengujian ini dilakukan pada jarak 5 atau 6 meter. Karena dikaitkan dengan interaksi manusia-produk, pengujian visual acuity dalam jarak dekat dianggap lebih relevan. Persepsi visual diperlukan dalam membaca dan memahami tulisan atau simbol dalam telepon genggam. Melalui pengujian yang dilakukan, ingin diketahui bagaimanakah ukuran teks pada telepon genggam yang memiliki readability yang baik bagi para lansia. III.4.2 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan untuk melakukan pengujian tactile dan pengujian visual antara lain adalah: 52

1. Pengujian Tactile Alat-alat pengujian yang digunakan untuk pengujian tactile: a. Dua buah set form yang sama Pengujian dilakukan dengan menggunakan dua buah set form yang sama. Tiap set form terdiri dari 3 macam bentuk dan 2 macam ukuran. Tiga buah bentuk yang ada dalam form ini didasari oleh bentuk dan ukuran tombol yang biasanya terdapat di telepon genggam (lingkaran, persegi, dan segitiga). Tiap bentuk memiliki dua macam ukuran yaitu 10 x 10 mm dan 5 x 5 mm. Ketinggian tiap bentuk adalah 1 mm. Bentuk dan ukuran form dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar III.3 Alat Pengujian Tactile Ukuran 5 x 5 mm pada form ini mewakili ukuran tombol terkecil pada telepon genggam secara umum. Perfomansi pengujian tactile pada ukuran 5 x 5 mm akan dibandingkan dengan perfomansi pengujian pada ukuran 10 x 10 mm untuk mengetahui apakah performansi kemampuan tactile seseorang menjadi lebih baik jika ukuran tombol diperbesar. Ukuran 10 x 10 mm ini dipilih berdasarakan rekomendasi Mortimer (2004), bahwa ukuran permukaan tombol keyboard atau keypad bagi para lansia minimal berukuran 1 cm². b. Stopwatch Stopwatch digunakan untuk mengukur waktu subjek dalam memberikan keputusan dalam mengenali bentuk yang sama dan bentuk yang berbeda. 53

c. Tabel untuk mencatat waktu dan jumlah kesalahan. Jumlah kesalahan dan waktu yang dibutuhkan untuk memberi keputusan dicatat secara terpisah pada tabel ini. Format tabel pencatatan ini dapat dilihat pada Lampiran A. 2. Pengujian Visual Alat-alat pengujian yang digunakan untuk pengujian visual: a. Sebuah versi teradaptasi dari Landolt-C chart Pengujian visual acuity dilakukan dengan menggunakan versi teradaptasi dari Landolt-C chart (Lampiran B). Chart ini dirancang untuk dibaca pada jarak 25-55 cm, yang diasumsikan sebagai jarak baca rata-rata lansia (Kooijman, et.al., 1994). Subjek diminta untuk menunjukkan bukaan C. Jumlah kesalahan yang terjadi dicatat. Ada tiga macam ukuran teks yang disediakan, yaitu 8 pt, 10 pt, dan 12 pt. Tiap ukuran teks memiliki ukuran ketinggian karakter seperti yang tercantum pada Tabel III.2: Tabel III.1 Ukuran Teks dan Tinggi Karakter Ukuran Teks Tinggi Karakter 8 pt 2 mm 10 pt 2,5 mm 12 pt 3 mm Teks dengan ukuran 8 pt mewakili ukuran teks yang ada dalam kebanyakan telepon genggam saat ini. Ukuran 10 pt dan 12 pt diujikan kepada orang tua untuk karena ukuran ini dianggap cukup besar dan masih dapat digunakan untuk sebuah telepon genggam dengan ukuran tombol keypad 1 cm 2. b. Tabel untuk mencatat jumlah kesalahan Jumlah kesalahan untuk tiap ukuran dicatat pada tabel ini. Dalam pengujian, subjek yang biasa menggunakan alat bantu penglihatan diminta untuk menggunakannya. Untuk setiap ukuran teks, subjek diminta untuk 54

menunjukkan bukaan C. Jumlah kesalahan untuk tiap ukuran dicatat pada tabel yang telah disediakan (lampiran A). III.5 Uji Kemampupakaian Uji kemampupakaian dilakukan untuk mengetahui performansi produk telepon genggam pada saat digunakan oleh lansia. Tahapan uji kemampupakaian dilakukan sebagai berikut: III.5.1 Perencanaan Uji Kemampupakaian Perencanaan pengujian ini merupakan dasar dari keseluruhan pengujian karena pada tahap ini disusun apa saja yang diperlukan dalam uji kemampupakaian melalui suatu format tertentu. Berikut ini adalah bagian-bagian yang dimasukkan kedalam perencanaan pengujian : a. Tujuan b. Riwayat atau profil pengguna c. Metode (perancangan uji): merupakan deskripsi detail mengenai bagaimana penelitian akan dilakukan dan bagaimana sesi pengujian akan dibuka, serta dapat juga menyediakan gambaran setiap aspek pengujian mulai dari waktu dimana partisipan datang sampai meninggalkan pengujian sehingga seseorang yang melakukan penelitian dapat mengetahui secara garis besar apa yang diharapkan. d. Daftar tugas: memuat pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan selama pengujian. e. Metode evaluasi: menyediakan data / pengukuran apa saja yang akan dikumpulkan dari pengujian. Data yang akan dikumpulkan terdiri dari dua jenis yaitu : Data performansi (pengukuran berdasarkan sikap atau tingkah laku partisipan), meliputi tingkat kesalahan dan waktu untuk melakukan tugas. Data preferensi (pengukuran berdasarkan opini atau pikiran partisipan), contoh : peringkat partisipan, jawaban terhadap pertanyaan, dan lain-lain. Pada penelitian ini, data preferensi digantikan dengan kriteria 55

perancangan universal untuk melihat apakah produk telepon genggam Nokia 6585 dapat digunakan dengan baik oleh lansia. III.5.2 Penentuan dan Pemilihan Partisipan Menurut Nielsen dan Landauer (1993), jumlah partisipan minimum yang direkomendasikan untuk uji kemampupakaian adalah 4 atau 5 orang karena 85% masalah sudah dapat terdeteksi dalam uji kemampupakaian dengan menggunakan 4 sampai 5 orang. Sedangkan jumlah partisipan maksimum yang direkomendasikan adalah 15 orang, jika menggunakan lebih dari itu maka hanya akan membuang waktu dan biaya karena masalah-masalah yang ditemukan semakin sedikit dan cenderung berulang-ulang atau sama. Hal yang sama juga dikemukakan Rubin (1994) yang mengatakan bahwa untuk eksperimen nyata sebaiknya menggunakan 10 sampai 12 orang sedangkan untuk studi informal dapat menggunakan partisipan 4 sampai 5 orang karena sudah dapat memenuhi lebih dari 80% defisiensi kemampupakaian produk. Sedangkan menurut Virzi (dalam Dumas dan Redish 1993), 80% masalah kemampupakaian dapat terdeteksi menggunakan 4 sampai 5 partisipan dan 90% masalah kemampupakaian dapat terdeteksi menggunakan 10 partisipan. Karena sejak awal tujuan penelitian telah diarahkan pada responden lansia, maka seperti yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, teknik pengumpulan data (partisipan) adalah dengan metode purposive sampling, yaitu sample dipilih berdasarkan usia yang sesuai, 65-75 tahun yang mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara normal. III.5.3 Lokasi Pengujian Lokasi pengujian dilakukan di rumah (panti) masing-masing responden. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan, bahwa responden lebih nyaman melakukan pengujian di tempat atau lokasi yang sudah tidak asing bagi mereka. 56

III.5.4 Persiapan Alat Pengujian Pada tahap ini, disiapkan material pengujian yang digunakan untuk persiapan pengujian dan berkomunikasi dengan partisipan. Beberapa contoh material pengujian yang digunakan adalah : a. Naskah Orientasi / Pengujian : berisi penjelasan tertulis dari peneliti mengenai apa saja yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan partisipan selama sesi pengujian. Berguna sebagai alat komunikasi untuk dibacakan pada partisipan. b. Skenario tugas : daftar tugas yang harus dilakukan partisipan secara berurutan ketika menggunakan produk misalnya membuat suatu masakan menggunakan suatu produk dimana skenario tugas berdasarkan pada resep masakan itu sendiri. Secara garis besar, isi daftar tugas dapat dilihat pada Tabel III.2 (Rubin, 1994) : Tabel III.2 Contoh Form Daftar Tugas Deskripsi Tugas Detil Tugas Tugas Req's : 1 SCC : MTC : Req's : 2 SCC : MTC : Req's : 3 SCC : MTC : Keterangan : Req s / Requirements : yang dibutuhkan dalam tugas. SCC / Successful Completion Criteria : kriteria penyelesaian berhasil. MTC / Maximum Time to Complete : waktu penyelesaian maksimum. Kriteria penyelesaian berhasil dapat membantu untuk mengukur dan mengamati setiap tahap yang harus dilakukan untuk menyelesaikan tugas. Sedangkan waktu penyelesaian dapat ditentukan berdasarkan studi kasus, wawancara, pengujian terdahulu, maupun dari pengguna atau peneliti itu sendiri sehingga cenderung bersifat subjektif. Oleh karena itu waktu tersebut dapat ditetapkan lebih lama dari waktu penyelesaian seharusnya (dinamakan waktu penyelesaian maksimum). c. Stopwatch dan lembar pengamatan 57

III.5.5 Melakukan Pengujian Pada tahap ini, pengujian dilakukan berdasarkan apa yang sudah disiapkan pada tahap-tahap sebelumnya. Metode pengujian yang ditetapkan dan tingkah laku peneliti sangat mempengaruhi partisipan ketika melakukan pengujian, oleh karenanya sedapat mungkin pengujian dapat dilakukan dalam kondisi yang memungkinkan responden dapat melakukan setiap tugas dengan nyaman, sehingga pada saat rekaman dalam bentuk video atau kamera dianggap mengganggu, maka dapat digantikan dengan catatan observasi (Rubin, 1994). III.5.6 Metode Pengujian Kemampupakaian Metode yang digunakan pada Uji kemampupakaian ini adalah think-aloud. Dengan metode ini, responden diminta untuk menyelesaikan tugas yang diberikan sambil berbicara mengenai tugas tersebut. Metode ini dipilih karena memungkinkan untuk mengetahui apa pendapat dan ekspresi respoden, selaian kemampuan melakukan tugas yang diberikan. Walaupun Hariandja (2005) menyarankan menggunakan metode co-discovery untuk respoden di Indonesia, karena metode think aloud tidak dapat mengeksplorasi banyak pendapat dari responden, namun karena metode co-discovery sulit untuk dilakukan pada produk telepon genggam, karena sifat produk yang individual, maka metode think aloud yang dipilih. Sedangkan metode lain yang digunakan dalam pengumpulan data untuk membantu pengujian adalah wawancara. Metode ini digunakan pada saat sebelum dan sesudah pengujian. Wawancara sebelum pengujian dilakukan untuk mengetahui data pribadi, pengalaman, dan perilaku terhadap produk. Wawancara setelah pengujian dilakukan untuk mengevaluasi kembali masalah atau pendapat responden mengenai produk. 58

III.5.7 Pembuatan Rekapitulasi Data Hasil Pengujian Ada empat kegiatan yang dilakukan yaitu : a. Mengumpulkan dan merangkum data: mengumpulkan data yang terkumpul kedalam suatu lampiran sehingga dapat terlihat pola yang terbentuk serta merangkum data kedalam suatu tabel tertentu. b. Menganalisis data: misalnya menganalisa waktu penyelesaian tugas, persentase jumlah tugas yang dapat diselesaikan dengan baik, mengidentifikasi tugas atau data mana yang tidak memenuhi kriteria, dan mengidentifikasi kesalahan dan kesulitan pengguna. Menurut Rubin (1994), persentase suatu produk cukup bersifat kemampupakaian untuk setiap kriteria adalah antara 50-70%. Jika dibawah itu maka dapat dikatakan produk bermasalah atau dengan kata lain tidak bersifat kemampupakaian sehingga perlu dikaji ulang. Akan tetapi, jika ingin mendapatkan tingkat kemampupakaian yang maksimal / tinggi dan sangat memfokuskan pada kemudahan pengguna lebih baik ditetapkan batasan 95%. c. Mengembangkan rekomendasi: informasi yang telah dianalisis selanjutnya dievaluasi dan dikembangkan sebagai rekomendasi untuk perancangan selanjutnya. III.6 Penentuan Kriteria Perancangan Kriteria-kriteria rancangan interface telepon genggam adalah (Yun et.al., 2004; Miyamoto, 2005; Mendat et.al., 2004; dan Mortimer et.al, 2004) : a. Bentuk tombol Kriteria bentuk tombol meliputi lekukan sisi sekeliling tombol, lekukan pada permukaan tekan tombol, dan ukuran tombol. Kriteria ini dirancang dengan mengacu pada hasil uji tactile. b. Teks Kriteria teks ini meliputi bentuk dan ukuran dari huruf, angka, dan simbol pada telepon genggam. Perancangan kriteria ini mengacu pada hasil pengujian visual. 59

c. Tombol Yang dimaksud dengan kriteria tombol adalah keberadaan tombol itu sendiri pada telepon genggam. Perancangan kriteria ini mengacu pada hasil uji tactile, visual, dan kemampupakaian. d. Display Kriteria display ini meliputi tampilan, teks, dan warna pada display telepon genggam serta ukuran display itu sendiri. Kriteria ini dirancang dengan mengacu pada hasil uji kemampupakaian. e. Fitur tambahan Fitur tambahan adalah kriteria yang ditambahkan pada rancangan dengan mengacu pada hasil wawancara dengan responden pada saat uji kemampupakaian. Kriteria tersebut diatas sesuai dengan rekomendasi Miyamoto (2005) yang membagi kriteria interface produk telepon genggam untuk tujuan universal design yaitu: 1. Visibility, meliputi kriteria : ukuran font, tipe font, dan symbol yang digunakan 2. Audibility, meliputi kriteria : kejelasan dan volume suara 3. Operationality, meliputi kriteria : ukuran tombol, posisi tombol, dan kemudahan diraba. III.7 Teknik Pengolahan Data Data hasil pengujian tactile dan visual akan diolah dengan menggunakan teknik statistik non parametrik Sign Test. Metode ini digunakan untuk menguji hipotesis perbedaan dua rata-rata dari data sampel yang sangat kecil (kurang dari 40), sehingga tidak dapat diuji pola distribusinya. Sehingga metode ini juga sesuai untuk digunakan pada penelitian ini karena sampel yang diambil hanya sejumlah 15 orang. Asumsi yang digunakan pada Sign Test ini adalah, data dianggap berdistribusi kontinyu, yaitu salah satunya diwakili dengan tipe data yang kontinyu juga (Montgomery dan Runger, 2003). Data hasil pengujian tactile dan 60

visual berupa data jumlah kesalahan, yang berarti masih berupa data diskrit, sehingga perlu dibuat menjadi data kontinyu dengan mengubah data tersebut menjadi data proporsi jumlah kesalahan. Pengujian dilakukan pada dua sampel yang saling independen. Populasi 1 mempunyai rata-rata μ 1 dan populasi 2 mempunyai rata-rata μ 2 sedangkan 2 2 variansi keduanya, σ 1 dan σ 2 tidak diketahui. Situasi ini bila populasi dianggap memiliki distribusi normal digambarkan pada gambar III.4. Gambar III.4 Dua Populasi Independen (Sumber: Montgomery dan Runger, 2003) Sign test yang dilakukan untuk membandingkan rata-rata dari dua populasi yang berbeda berdasarkan dua sample dalam jumlah yang sama, disebut dengan Sign Test for Paired Samples. Bila data sampel (X1j,X2j), j = 1,2,,n dikumpulkan dari dua populasi kontinyu, maka: Dj = X1j - X2j j = 1,2,,n Maka pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Penentuan parameter yang dibandingkan, misal jumlah kesalahan dari dua populasi umur yang berbeda 2. H0 : µ 1 = µ 2, atau ekuivalen dengan H0 = µ D = 0 3. H1 : µ 1 = µ 2, atau ekuivalen dengan H1 = µ D = 0 4. Tingkat kesalahan yang diinginkan, missal α = 5% 5. Tentukan nilai test statistic (r +, r - ) berdasarkan Tabel Critical value for the Sign Test (dapat dilihat pada Lampiran D). 6. Tolak H 0 jika min (r +, r - ) < rα 61

III.8 Evaluasi Usulan Rancangan Evaluasi terhadap rancangan ulang telepon genggam dilakukan dengan melakukan pengujian satu tugas yang telah diujikan sebelumnya pada uji kemampupakaian produk awal. Pada pengujian ini digunakan prototipe terfokus untuk dibandingkan dengan produk awal. Responden yang diuji adalah lansia yang sama pada proses pengujian sebelumnya. Pada tahap evaluasi rancangan ini, responden diminta untuk memberikan penilaian dan memilih rancangan yang diinginkan berdasarkan keluhan yang sebelumnya muncul berkaitan dengan interface produk telepon genggam. Jumlah kesalahan yang muncul juga menjadi indikator apakah usulan rancangan yang dibuat telah dapat mengakomodir keterbatasan lansia. 62