VII. KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

MAKSIMALISASI PROFIT DALAM PERENCANAAN PRODUKSI

SOAL LATIHAN. Kerjakan soal-soal berikut ini dengan singkat dan jelas!

OPTIMALISASI JADWAL KUNJUNGAN EKSEKUTIF PEMASARAN DENGAN GOAL PROGRAMMING

Formulasi dengan Lindo. Dasar-dasar Optimasi. Hasil dengan Lindo 1. Hasil dengan Lindo 2. Interpretasi Hasil. Interpretasi Hasil.

Dasar-dasar Optimasi

Penerapan Pemrograman Dinamis dalam Perencanaan Produksi

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. dari UD. Wingko Babat Pak Moel sebagai berikut: a. Data permintaan wingko pada tahun 2016.

OPTIMALISASI JADWAL KUNJUNGAN EKSEKUTIF PEMASARAN DENGAN GOAL PROGRAMMING

PERANCANGAN SISTEM ALOKASI DAN PERENCANAAN PRODUKSI KEMAS BOTOL GELAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINIER PROGRAMMING

OPTIMALISASI PRODUKSI MENGGUNAKAN MODEL LINEAR PROGRAMMING (Studi Kasus : Usaha Kecil Menengah Kue Semprong)

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Pengumpulan Data

METODE SIMPLEKS DALAM PROGRAM LINIER

BAB LINEAR PROGRAMMING : METODE GRAFIK PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Teknik Riset Operasi. Oleh : A. AfrinaRamadhani H. Teknik Riset Operasi

Fungsi kendala tidak hanya dibentuk oleh pertidaksamaan tetapi juga oleh pertidaksamaan dan/atau persamaan =. Fungsi kendala dengan pertidaksamaan

III. METODE PENELITIAN

Metode Simpleks dengan Big M dan 2 Phase

Analisis Sensitifitas DALAM LINEAR PROGRAMING

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Usaha Kecil Menengah

Goal Programming (Programasi Tujuan Ganda)

ANALISIS SENSITIVITAS DAN PENAFSIRAN HASILNYA DI DALAM PEMROGRAMAN LINIER DENGAN PERANGKAT LUNAK MANAGEMENT SCIENTIST VERSI 6.0

Metode Simpleks Kasus Minimisasi

III. METODE PENELITIAN

PENENTUAN INTERVAL WAKTU PEMELIHARAAN PENCEGAHAN BERDASARKAN ALOKASI DAN OPTIMASI KEHANDALAN PADA PERALATAN SEKSI PENGGILINGAN E

Dualitas Dalam Model Linear Programing

Dualitas Dalam Model Linear Programing

LINDO. Lindo dapat digunakan sampai dengan 150 kendala dan 300 variabel

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

OPTIMALISASI USAHA AGROINDUSTRI TAHU DI KOTA PEKANBARU

PENENTUAN POLA PEMOTONGAN PELAT LEMBARAN UNTUK MEMINIMALKAN PELAT SISA PADA PT. X DENGAN METODE INTEGER LINEAR PROGRAMMING

BAB I PENDAHULUAN. apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan produk yang telah ditetapkan.

MINIMASI BIAYA PRODUKSI TEGEL MENGGUNAKAN PENDEKATAN LINIER PROGRAMMING DI PERUSAHAAN TEGEL CV. PENATARAN BLITAR

Pertemuan 2 Metode Simplex

PENERAPAN MODEL PROGRAM LINIER PRIMAL-DUAL DALAM MENGOPTIMALKAN PRODUKSI MINYAK GORENG PADA PT XYZ

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bagaimana cara menyelesaikan persoalan Linier Programming and Integer Programming dengan

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER

Optimasi Pengalokasian Produksi Barang Jadi dengan Menggunakan Solver Add-Ins. Ratna Puspita Indah STMIK Duta Bangsa Surakarta ABSTRAK

OPTIMASI PENUGASAN GURU PADA KEGIATAN PEMBELAJARAN DI SMKN 2 SURABAYA DENGAN MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE BIG M. Metode Simpleks, oleh Hotniar Siringoringo, 1

OPTIMASI PROFIT PADA PRODUKSI GULA SEMUT FORTIFIKASI VITAMIN A DENGAN TIGA TINGKATAN KUALITAS GRADE DI PT. XYZ

Teknik Riset Operasional Semester Genap Tahun Akademik 2015/2016 Teknik Informatiaka UIGM

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

Tabel 1. Soal Lapres. Benang Pewarna Harga Jual Permasalahan tersebut dimodelkan sebagai berikut : X2 = Sarung Anak

PENDISTRIBUSIAN PRODUK YANG OPTIMAL DENGAN METODE TRANSPORTASI

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004

PROGRAM LINEAR DENGAN METODE SIMPLEX

2. Metode MODI (Modified Distribution) / Faktor Pengali (Multiplier)

I. PENDAHULUAN. Menurut Saragih (2001), pengembangan sektor agribisnis pada. masa yang akan datang menghadapi sejumlah tantangan besar yang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENYELESAIAN MODEL LINEAR PROGRAMMING SECARA MATEMATIK (METODE SIMPLEKS)

IV. METODE PENELITIAN

Minimalisasi Biaya Pendistribusian Air pada Musim Kemarau di Kabupaten Soppeng dengan Menggunakan Metode Zero Suffix dan Danzing

BAB I PENDAHULUAN. besar dan mampu membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran.

Metode Simpleks M U H L I S T A H I R

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Model umum metode simpleks

JURNAL TEKNIK POMITS Vol.1, No. 1, (2013) 1-6 II. URAIAN PENELITIAN

kita menggunakan variabel semu untuk memulai pemecahan, dan meninggalkannya setelah misi terpenuhi

IV. METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Operations Management

PENERAPAN METODE BRANCH AND BOUND DALAM PENYELESAIAN MASALAH PADA INTEGER PROGRAMMING

PENJADWALAN PRODUKSI UNTUK PROSES PRODUKSI BUKU PAD DENGAN INTEGER PROGRAMMING

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA METODE PENELITIAN ANALISIS DAN PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA

MDH Gamal, Zaiful Bahri

PENERAPAN MODEL LINEAR GOAL PROGRAMMING UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI

Introduction to Management Science: Pengantar Program Linear: Formulasi Model dan Solusi Grafik

Optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) Sebagai Bahan Baku Produksi Crude Palm Oil dan Palm Kernel PT. Ukindo-Palm Oil Mill

LAMPIRAN A KUISIONER PEMBOBOTAN

Pengambilan Keputusan dalam keadaan ada kepastian. IRA PRASETYANINGRUM, S.Si,M.T

BAB IV. METODE SIMPLEKS

PEMILIHAN KONTRAKTOR PERBAIKAN ROTOR DI PEMBANGKIT LISTRIK PT XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN GOAL PROGRAMMING

BAB III METODE PENELITIAN. pada sayuran organik PT. Masada Organik Indonesia secara optimal. Penelitian

Riset Operasi Bobot: 3 SKS

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Maximize or Minimize Z = f (x,y) Subject to: g (x,y) = c

BAB II LANDASAN TEORI. A. Sistem Persamaan Linear dan Sistem Pertidaksamaan Linear

MENYELESAIKAN PERSOALAN TRANSPORTASI DENGAN KENDALA CAMPURAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

OPTIMASI PENGADAAN BAHAN BAKU SEGAR DI PT. X DENGAN METODE LINEAR PROGRAMMING

PERENCANAAN PRODUKSI DALAM MENCAPAI OPTIMALISASI BAURAN PEMASARAN MAKANAN OLAHAN TERHADAP STRATEGI PEMASARAN

DESKRIPSI MATA KULIAH : PROGRAM LINIER KODE MK : MT 307

BAB I PENDAHULUAN. secara hukum pada tanggal 23 April 1993 dengan nama PT. Citra Flour Mills.

BAB VI Program Linear Bilangan Bulat

APLIKASI GOAL PROGRAMMING UNTUK ANALISIS OPTIMASI PRODUK OLAHAN KAYU PINUS DARI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN SAMOSIR

MENGOPTIMALKAN PENJADWALAN SEKURITI DENGAN MODEL GOAL PROGRAMMING ABSTRACT ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN , hal 9. 1 Subagyo D., Asri M., Handoko H.T., Dasar-dasar Operation Research, BPFE, Yogyakarta,

Pemodelan dalam RO. Sesi XIV PEMODELAN. (Modeling)

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat dilihat dengan munculnya teknologi-teknologi baru yang lebih inovatif

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. dibandingkan dengan metode konvensional yang diterapkan Fungiyaki.

Transkripsi:

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan optimalisasi pada Mill MNO, maka kesimpulan yang dapat dijabarkan adalah sebagai berikut : 1. Dari hasil pencarian solusi terbaik dengan menggunakan aplikasi goal programming bagi kendala tujuan yang digunakan, yaitu : a. Rencana Target Produksi (RTP), b. minimisasi biaya listrik, c. minimisasi jam tenaga kerja dan d. minimisasi biaya air dapat dijabarkan kesimpulan sebagai berikut :. Hasil menunjukan bahwa tujuan pemenuhan rencana target produksi (RTP) sebaik tidak menjadi prioritas pertama karena adanya nilai yang yang melebihi atau adanya ketidaktercapaian target pemenuhan produksi yang melampaui batasan toleransi yang telah ditetapkan PPIC sebesar 10% sehingga pada formulasi ini tujuan pemenuhan RTP berada pada prioritas ketiga. Hal ini berdampak pada jumlah kapasitas gudang yang tidak dapat menampung kelebihan produksi yang dapat juga berdampak pada kualitas produk yang diproduksi karena akan terjadi penurunan kualitas produk dengan adanya batasan kadarluarsa produk. Pada minimisasi biaya listrik diformulasikan pada prioritas pertama, hal ini dikarenakan pada tujuan minimisasi biaya listrik tidak terjadi deviasi di atas maupun di bawah sasaran sehingga nilai yang dicapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh PPIC yang tidak melebihi batasan toleransi. Minimisasi jam tenaga kerja diberi prioritas kedua hal ini dikarenakan nilai ketidaktercapain yang terjadi pada minimisasi berada pada batasan yang tidak terlalu melampaui batasan nilai toleransi yang terlalu signifikan. Pada kelebihan jam tenaga kerja mengakibatkan adanya jam lembur yang harus ditambahkan pada pekerja sehingga dapat diartikan bahwa adanya sumberdaya yang harus ditambahkan pada setiap Mill yang membutuhkan sumberdaya. Minimisasi biaya air merupakan formulasi prioritas keempat yang memiliki nilai terlampau signifikan. Hal ini dimungkinkan adanya batasan nilai sisi kanan yang diberi manajemen terlalu kecil. Kelebihan biaya yang melampaui batsan toleransi menyebabkan adanya penambahan biaya yang dapat 94

berdampak pada biaya produksi produk tepung terigu sehingga perlu adanya revisi dari pihak PPIC untuk merencanakan nilai biaya air untuk bulan berikutnya yang menggunakan rencana yang sama dengan bulan Februari 2010. 2. Dari implementasi hasil kendala tujuan yang telah dianalisis dengan mengacu pada pihak PT. ISM Bogasari Flour Mills, maka kesimpulan yang dapat dijabarkan adalah sebagai berikut : Pada penentuan implementasi hasil dengan mengacu pada tujuan-tujuan yang ingin dicapai setelah hasil identifikasi dengan pengolahan data menggunakan goal programming dan hasil wawancara langsung dengan pihak PT. ISM Bogasari Flour Mills, maka kendala tujuan Rencana Target Produksi (RTP) untuk produk tepung terigu Piramida yang diasumsikan tidak efektif dan efisien untuk diproduksi karena melampai batasan nilai toleransi yang telah ditetapkan PPIC yaitu sebesar 10% dari hasil pengolahan dengan menggunakan goal programming. Sedangkan pada minimisasi jam tenaga kerja yang terjadi pada minggu pertama menggambarkan bahwa adanya kelebihan jam tenaga kerja yang menyebabkan penambahan jam lembur pekerja atau penambahan sumberdaya untuk memenuhi kelebihan jam tenaga kerja pada mill yang membutuhkan. Sedangkan pada minimisasi biaya air terjadi nilai kelebihan yang sangat signifikan hal ini dimungkinkan adanya batasan nilai sisi kanan yang diberi manajemen terlampau kecil. Sehingga berdampak pada penambahan biaya air yang dibutuhkan untuk proses produksi meningkat sangat signifikan yang melampaui batasan nilai toleransi yang telah ditetapkan PPIC. Pada hasil wawancara dengan PT. ISM Bogasari Flour Mills untuk ketidaktercapaian produksi dengan menggunakan olahan goal programming, maka tanggapan yang diberikan pihak PT. ISM Bogasari Flour Mills yaitu : a. adanya kemungkinan ketidaktercapaian produksi tetapi tidak keseluruhan dari produk tepung terigu Piramida, kemungkinan tersebut pada realitanya terjadi penurunan sebesar 9% dari rencana target produksi yang diinginkan pada bulan Februari 2010 serta adanya kelebihan jam tenaga kerja terjadi dikarenakan adanya kerusakan serta perawatan mesin yang dilakukan oleh Mill sehingga menyebabkan penambahan jam tenaga kerja pada minggu pertama. Pada nilai 95

biaya air yang terjadi kelebihan nilai biaya terjadi karena adanya nilai batasan rencana yang terlampau kecil sehingga mengakibatkan adanya kelebihan biaya yang sangat besar. Hal ini mengacu pada rencana target biaya air yang menggunakan rencana target pada sebelumnya. b. produksi tepung terigu Piramida tidak dapat dihentikan karena pada realita yang ada pangsa pasar untuk merek dagang Piramida saat ini masih sangat efektif dan efisien untuk diproduksi terutama untuk daerah-daerah tertentu seperti sebagaian wilayah Jawa Barat dan hamper keseluruhan wilayah Jawa Tengah. c. ketidaktercapaian pada kendala tujuan minimisasi jam tenaga kerja merupakan kendala yang harus disikapi dengan tindakan yang sesuai, hal ini disebabkan realita bahwa jam tenaga kerja lebih besar dari target yang direncanakan, dengan adanya analisis ini maka pihak PT. ISM Bogasari Flour Mills dapat merevisi kembali rencana target jam tenaga kerja dengan memperhatikan adanya kerusakan ataupun perawatan mesin. d. Pada kelebihan biaya air perlu adanya revisi pada pihak PPIC sehingga tidak mengacu pada rencana target pada bulan sebelumnya yang tidak sesuai dengan biaya air untuk bulan yang berlainan karena adanya perbedaan kondisi. 7.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang dipaparkan dari hasil pembahasan, maka dapat diberikan beberapa saran untuk lebih membangun PT. ISM Bogasari Flour Mills, yaitu sebagai berikut : 1. Perusahaan dapat mengembangkan decision maker untuk penentuan nilai batasan rencana target untuk tujuan yang ingin dibentuk. 2. Dalam penelitian ini model Goal Programming untuk melihat solusi terbaik dari tujuan yang ingin dicapai diterapkan pada model yang sederhana. Untuk peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan pengembangan solusi terbaik dengan mengacu pada Goal Programming yang lebih kompleks 3. Bagi peneliti selanjutnya sangat menarik jika dapat menambahkan penggunaan ssstem produksi dan operasi lainya sehingga terdapat terlihat hasil solusi terbaik dengan mengacu pada analisis dengan menggunakan goal programming. 96

DAFTAR PUSTAKA Assauri, S. 1993. Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi IV. Jakarta : Lembaga Penerbit FEUI. Buffa, Sarin. 1996. Manajemen Produksi & Operasi Modern, Edisi VIII. Jakarta : Binarupa Aksara. Jeremy F. Shapiro. Modeling The Supply Chain. Massachusetts Institute of Technology. USA. 2001 Maarif MS, Machfud M, Sukron. 1989. Teknik Optimasi Rekayasa Proses Pangan. Bogor : PAU Pangan dan Gizi IPB. Mulligan JG. 1989. Managerial Economic. Boston : Allyn and Bacon. Mulyono, Sri. 1991. Operation Research. Jakarta : Lembaga Penerbit FEUI. Nicholson W. 1999. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta : Rajawali Pers. Pappas, James L, Hirschey M. 1995. Ekonomi Manajerial, Jilid I. Jakarta :Binarupa Aksara. Pratiwi Indah. Evaluasi Bullwhip Effect pada Suplly Chain. Surabaya. 2002. Render B, Stair RM. 1994. Quantitative Analysis for Management, Fifth Edition. Boston : Allyn and Bacon. Situs PT. ISM Bogasari Flour Mills www.bogasari.com Taha HA. 1992. Operation Research : An Introduction, Fifth Edition. New York : Macmillan Publishing Company. Tandoko E. 2000. Optimalisasi Penggunaan Sumberdaya : Studi Kasus PT. Rimbun Loka Mitra, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Taylor III BW. 1993. Introduction To Management Science, Fifth Edition. Boston : Allyn and Bacon. Wijaya H. 2003. Optimalisasi Produksi Tepung Terigu : Studi Kasus PT. ISM Bogasari Flour Mills, Jakarta [Skripsi}. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Yenny. 2000. Manajemen Produksi Kertas di PT. Pindo Deli Pulp dan Paper Mill, Karawang, Jawa Barat : Aplikasi Goal Programming [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 97

Lampiran 1. : Prosedur Perhitungan Goal Programming Dengan Menggunakan LINDO 1. Buat model optimalisasi goal programming. 2. Minimisasi fungsi tujuan dengan prioritas utama. 3. Tambahkan constrain berupa variabel deviasi prioritas pertama yang nilainya didapat dari minimisasi prioritas pertama ke dalam model optimasi yang sudah ada, sehingga constrain bertambah. 4. Minimisasi fungsi tujuan dengan prioritas kedua 5. Tambahkan constrain berupa variabel deviasi prioritas kedua yang nilainya didapat dari minimisasi prioritas kedua ke dalam model optimasi yang sudah ada, sehingga model memuat variabel deviasi dari prioritas pertama dan kedua. 6. Minimisasi sampai didapat nilai variabel deviasi pada prioritas terakhir dengan langkah yang sama seperti langkah 4 dan 5. *Jika model pada penelitian ini ingin digunakan sebagai periode mingguan, maka kendala yang dimasukan ke dalammodel hanya variabel keputusan dan kendala minggu tertentu itu saja dengan cara pengolahan sama seperti yang telah dijelaskan dengan menggunakan LINDO. Membaca Hasil Goal Programming Dengan LINDO 1. Pada bangian objective function hanya hanya dibaca kolom variable dan value, sedangkan kolom reduce cost dapat diabaikan atau diacuhkan. 2. Kolom variable dan value menunjukan nilai dari variabel deviasional dan variabel keputusan. 3. Pada bagian Row, Slack or Surplus, Dual Prices menunjukan nilai sisi kanan atau sumberdaya yang tersisa atau perlu ditambah dalam tingkat optimal. 4. Dalam Goal Programming hanya dipakai nilai pada kolom Row dan Slack or Surplus, sedangkan Dual Prices dapat diacuhkan atau tidak dipakai. 5. Row menunjukan baris kendala atau constrain pada model optimasi yang dihitung, sedangkan Slack or surplus menunjukan nilai sumberdaya yang tersisa atau perlu ditambah.nilai posistif pada kolom Slack or Surplus menunjukan Slack atau sumberdaya mengalami kelebihan sumberdaya 98

atau ketersisaan. Nilai negatif pada kolom Slack or Surplus menunjukan Surplus atau jumlah sumberdaya yang perlu ditambah untuk berproduksi pada tingkat optimal. 99