V. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku

Sumber : Tabel I-O Kota Tarakan Updating 2007, Data diolah

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013

III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III TAHUN 2014

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

V HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan

III. METODE PENELITIAN

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan masyarakat. Sektor pertanian di Indonesia terdiri dari beberapa sub

ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN KARO

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20

Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh :

TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN

GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2012

D a f t a r I s i. iii DAFTAR ISI. 2.8 Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2.9 Sektor Jasa-Jasa 85

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Distribusi Input dan Output Produksi

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2009

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008

I. PENDAHULUAN. Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara terletak pada

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

BPS PROVINSI MALUKU PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

ANALISA KETERKAITAN SEKTOR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN TABEL INPUT - OUTPUT

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

8.1. Keuangan Daerah APBD

DAMPAK SEKTOR PERTAMBANGAN TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH DI KABUPATEN LUWU TIMUR

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional merupakan cerminan keberhasilan pembangunan. perlu dilaksanakan demi kehidupan manusia yang layak.

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan bidang pertambangan merupakan bagian integral dari

I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun

II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional

I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)

ANALISIS INPUT-OUTPUT KOMODITAS KELAPA SAWIT DI INDONESIA

DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN PIDIE JAYA (Menurut Lapangan Usaha)

KATA PENGANTAR. Lubuklinggau, September 2014 WALIKOTA LUBUKLINGGAU H. SN. PRANA PUTRA SOHE

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

ANALISIS KONTRIBUSI SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PDRB KOTA MEDAN

Transkripsi:

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Hal-hal yang akan diuraikan dalam pembahasan dibagi dalam tiga bagian yakni bagian (1) penelaahan terhadap perekonomian Kabupaten Karo secara makro, yang dibahas adalah mengenai peran agribisnis hortikultura terhadap perekonomian wilayah, bagian (2) penelaahan secara mikro pada tiga kecamatan yang dipilih, hal yang dibahas adalah tingkat perkembangan subsistem-subsistem agribisnis hortikultura, kondisi dan kelengkapan sarana prasarana wilayah dan sistem agribisnis, dan tata niaga hortikultura, bagian (3) sintesis hasil analisis. 5.1. Penelaahan Makro 5. 1. 1. Peranan Hortikultura dalam Perekonomian Kabupaten Karo Peranan sektor hortikultura sayur-sayuran dan buah-buahan dalam perekonomian wilayah Kabupaten Karo dapat diketahui melalui analisis Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan analisis Input-Output (I-O). Analisis PDRB digunakan untuk mengetahui struktur perekonomian Kabupaten Karo tahun 2009 sedangkan analisis I-O digunakan untuk mengetahui keterkaitan sektoral dan multiplier effect. 5.1.1.1. Struktur Perekonomian Kabupaten Karo Salah satu indikator yang dapat menggambarkan perekonomian wilayah adalah PDRB. PDRB didefinisikan sebagai seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Tabel 13 menampilkan nilai PDRB sektor-sektor perekonomian menurut lapangan usaha Kabupaten Karo Tahun 2000-2009 berdasarkan harga konstan tahun 2000. Berdasarkan tabel tersebut tiga sektor penyumbang PDRB tertinggi berturut-turut adalah; sektor pertanian (63,87%), jasa-jasa (11,50%), perdagangan, hotel dan restoran (9,80%). Kontribusi PDRB ke tiga sektor tersebut mencapai 85,17% dari total PDRB. Sektor pertanian menempati peringkat tertinggi. Sektor ini merupakan agregat dari tujuh subsektor pertanian menurut klasifikasi 24 sektor perekonomian Kabupaten Karo, yaitu: (1) tanaman bahan makanan lainnya; (2) sayur-sayuran; (3) buah-buahan (4) tanaman perkebunan; (5) perternakan dan hasil-hasilnya; (6)

63 Kehutanan dan (7) perikanan. Seluruh sektor tersebut sangat erat kaitannya dengan sektor-sektor primer dalam perekonomian. Agregasi dilakukan untuk menyesuaikan sektor-sektor perekonomian penyusun PDRB dengan sektor-sektor dalam Tabel I-O. Adapun enam sektor lainnya yang memberikan sumbangan paling rendah terhadap PDRB adalah sekor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan, sektor bangunan, sektor industri, sektor pertambangan dan penggalian dan sektor listrik, gas dan air bersih. Tabel 13 Produk Domestik Regional Kabupaten Karo Tahun 2009. Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Jutaan Rupiah) Tahun 2009 *) Rata-Rata (%) No. Lapangan Usaha 1. Pertanian 2.030.151,507 63,887 2. Pertambangan dan Penggalian 7.909,467 0,249 3. Industri 89.941,069 2,830 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 4.444,863 0,140 5. Bangunan 172.274,533 5,421 6. Perdagangan, Hotel dan 9,803 311.507,531 Restoran 7. Pengangkutan dan 5,227 166.113,542 Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan dan 0,939 29.851,784 Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa 365.521,707 11,503 PDRB Kabupaten Karo 3.177.716,003 100 Keterangan : *) = Angka Sementara Sumber : BPS Kabupaten Karo 2009 (data diolah) Kecenderungan perubahan struktur ekonomi Kabupaten Karo antara tahun 2000 hingga 2009 ditampilkan pada Tabel 14. Berdasarkan tabel tersebut, sektor pertanian memiliki tingkat pertumbuhan PDRB rata-rata sebesar 4,11 %/tahun (peringkat ke-9). Sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan PDRB rata-rata di atas 5,00%/tahun berjumlah 7 sektor dari 9 sektor perekonomian yang ada di Kabupaten Karo, yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa.

64 Tabel 14 Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Karo atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha (%) No. Lapangan Usaha Pertumbuhan (%) 2005 2006 2007 2008 r) 2009 *) Ratarata 1. Pertanian 3,14 3,98 4,29 4,48 4,67 4,11 2. Pertambangan dan 23,93 3,26 3,23 12,80 10,99 10,84 Penggalian 3. Industri 11,70 8,31 3,55 3,83 1,13 5,70 4. Listrik, Gas dan Air 7,17 0,82 6,00 4,33 4,43 4,55 Bersih 5. Bangunan 6,23 7,92 4,77 5,30 4,86 5,82 6. Perdagangan, Hotel 6,88 6,18 6,15 6,49 6,00 6,34 dan Restoran 7. Pengangkutan dan 18,00 5,74 3,04 5,06 2,96 6,96 Komunikasi 8. Keuangan, 3,69 6,45 15,32 6,29 5,73 7,50 Persewaan dan Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa 8,25 7,08 9,37 7,38 8,78 8,17 Rata-rata 5,35 4,96 5,13 5,12 5,17 6,665 Keterangan: : r) = Angka Perbaikan *) = Angka Sementara Sumber : PDRB Kabupaten Karo menurut lapangan usaha tahun 2009. Sektor pertanian menempati peringkat pertama berdasarkan kontribusinya dalam pembentukan PDRB dan menempati peringkat ke- 9 berdasarkan pertumbuhan PDRB rata-rata tahunan (4,11 %/tahun). Tren pertumbuhan PDRB sektor pertanian sejak tahun 2005 terus meningkat sampai pada tahun 2009, namun pertumbuhannya tidak melebihi pertumbuhan sektor-sektor lainnya, pertumbuhan PDRB pertanian secara rata-rata tahunan relatif stabil. Berdasarkan analisis struktur output diketahui bahwa dari output total sebesar Rp 4.256.211,599 juta, sebanyak 25,34% (Rp 1.078.495,596 juta) merupakan permintaan antara dan sisanya 74,66% (Rp 3.177.716,003) adalah permintaan akhir (Tabel 15). Besarnya permintaan antara dibandingkan permintaan akhir menggambarkan besarnya permintaan yang terjadi antar sektor ekonomi. Semakin besar persentase permintaan antara suatu wilayah, maka semakin besar keterkaitan ekonomi domestik. Dengan demikian semakin kecil kemungkinan kebocoran wilayah yang terjadi. Struktur Tabel I-O dengan nilai output total yang ada lebih banyak dialokasikan sebagai permintaan antara

65 daripada permintaan akhir menunjukkan bahwa output yang ada cenderung ditransaksikan antar sektor dalam proses produksi daripada digunakan untuk konsumsi secara langsung (baik masyarakat maupun belanja pemerintah). Nilai Tambah Bruto (NTB) adalah balas jasa pemakaian faktor-faktor produksi yang terdiri atas komponen upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung. NTB sering juga disebut sebagai input primer yang merupakan selisih antara total input dan input antara. Berdasarkan struktur NTB, sebanyak 53,05% dari NTB merupakan surplus usaha (Rp 1.685.910,309 juta), 31,15 % merupakan upah dan gaji (Rp 989.926,592juta), 11,40% merupakan penyusutan (Rp 362.194,714 juta) dan 4,40 % adalah pajak tak langsung (Rp 139.684,390 juta). Komponen surplus usaha yang besar menunjukkan besarnya surplus atau keuntungan yang diperoleh dari investasi di wilayah tersebut. Tabel 15 Struktur perekonomian Kabupaten Karo berdasarkan Tabel I-O tahun 2009 (24 x 24 sektor) Jumlah Persentase No. Uraian (Juta Rupiah) (%) Struktur Input Jumlah Input Antara 1.078.495,596 1 2 Jumlah Input Primer/Nilai Tambah Bruto 3.177.716,003 100,00 - Upah dan Gaji 989.926,592 31,15 - Surplus Usaha 1.685.910,309 53,05 - Penyusutan 362.194,714 11,40 - Pajak Tak Langsung 139.684,390 4,40 Struktur Output 3 Jumlah Permintaan Antara 1.078.495,596 25,34 4 Jumlah Permintaan Akhir 3.177.716,003 74,66 5 Total Output 4.256.211,599 100,00 Kondisi ideal bagi pengembangan wilayah berdasarkan struktur NTB, seharusnya menempatkan proporsi komponen upah dan gaji lebih besar dari komponen-komponen lain, karena dapat dinikmati oleh masyarakat secara langsung. Namun demikian, proporsi komponen surplus usaha yang lebih besar dibandingkan komponen upah gaji masih tetap baik apabila keuntungan tersebut diinvestasikan lagi di daerah dimana keuntungan atau surplus usaha diperoleh. Hal ini dimungkinkan terutama apabila pemilik modal atau investor merupakan pengusaha lokal dibandingkan investor dari luar wilayah. Oleh karena itu investasi yang baik selain dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya lokal

66 yang ada, juga memberikan pengaruh positif bagi wilayah secara keseluruhan, serta mampu mengurangi kemungkinan terjadinya kebocoran wilayah. Besarnya permintaan dari input antara menggambarkan permintaan yang terjadi antar sektor ekonomi. Secara umum komponen permintaan akhir seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan stok menggambarkan transaksi domestik, sedangkan ekspor menggambarkan kegiatan transaksi antar wilayah. Struktur Tabel I-O Kabupaten Karo tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 1. Semakin besar nilai (persentase) permintaan antara suatu wilayah maka semakin besar keterkaitan ekonomi domestik atau dengan kata lain semakin kecil kemungkinan kebocoran wilayah yang terjadi. Berdasarkan tampilan output total setiap sektor pada Tabel I-O, lima sektor yang memiliki kontribusi terbesar berturut-turut adalah: tanaman bahan makanan lainnya, pengangkutan, perdagangan besar dan eceran, pemerintahan umum, dan tanaman perkebunan. Sektor sayur-sayuran memberikan kontribusi sebesar Rp 180.702,023 juta atau sebesar 4,246 % dari pembentukan output total seluruh sektor perekonomian sebesar Rp 4.256.211,599 juta. Sektor buah-buahan memberikan kontribusi sebesar Rp 55.715,643 juta atau sebesar 1,309 % dari pembentukan output total seluruh sektor perekonomian. Kontribusi paling tinggi diberikan oleh sektor tanaman bahan makanan lainnya lainnya sebesar Rp 1.503.960,453 juta atau 35,336 % sedangkan sektor perikanan menempati urutan terakhir dengan output total sebesar 0,098 % (Tabel 16). Berdasarkan nilai kontribusi terhadap PDRB dan output total yang terbentuk, terlihat bahwa dari 10 sektor penyumbang PDRB tertinggi, 9 diantaranya juga memberikan output total dalam peringkat 10 besar. Hal ini berarti bahwa besarnya sumbangan terhadap PDRB ditentukan oleh besarnya output total. Sektor-sektor dengan peranan yang besar baik dalam PDRB maupun output total dapat dikelompokkan sebagai sektor kunci atau key sectors (BPS 2000). Sektor sayur-sayuran menempati peringkat ke delapan dan sektor buahbuahan pada sektor ke sepuluh, baik dalam kontribusi terhadap PDRB maupun output total, oleh karena itu sektor sayur-sayuran dan buah-buahan tergolong sebagai sektor utama dalam perekonomian di Kabupaten Karo. Sektor-sektor yang

67 merupakan sektor kunci selain sektor sayur-sayuran dan buah-buahan antara lain: sektor tanaman bahan makanan lainnya, pengangkutan, perdagangan besar dan eceran, pemerintahan umum, tanaman perkebunan, konstruksi, peternakan dan hasil-hasilnya,serta sektor industri bukan migas. Berdasarkan tabel input-output, sektor tanaman bahan makanan lainnya memiliki konstribusi terbesar 35,336% diikuti sektor pengangkutan (14,296%). Output sektor sayur-sayuran dan buah-buahan masih lebih rendah bila dibandingkan dengan sektor tanaman bahan makanan lainnya lainnya. Total persentase konstribusi tanaman bahan makanan lainnya di dalam sektor pertanian masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan sektor pertanian lainnya. Tabel 16. Output total berdasarkan Tabel I-O Kabupaten Karo Tahun 2009 No. Sektor Perekonomian Output Total Persentase (Juta rupiah) (%) 1 Tanaman bahan makanan lainnya 1.503.960,453 35,336 2 Pengangkutan 608.448,440 14,296 3 Perdagangan Besar dan Eceran 461.573,538 10,845 4 Pemerintahan Umum 292.040.000 6,862 5 Tanaman Perkebunan 291.973,032 6,860 6 Konstruksi 204.210,237 4,798 7 Peternakan dan Hasil-hasilnya 190.119,092 4,467 8 Sayur-sayuran 180.702,023 4,246 9 Industri bukan migas 179.882,138 4,226 10 Buah-buahan 55.715,643 1,309 11 Jasa Perorangan & Rumah Tangga 49.558,734 1,164 12 Restoran 41.652,710 0,979 13 Bank 39.302,267 0,923 14 Swasta 37.467,551 0,880 15 Komunikasi 32.400,453 0,761 16 Real estate 20.007,538 0,470 17 Hotel 19.877,050 0,467 18 Minyak dan gas bumi 10.204,196 0,240 19 Listrik dan gas 8.630,173 0,203 20 Jasa Perusahaan 7.573,300 0,178 21 Kehutanan 6.354,012 0,149 22 Penggalian 6.049,730 0,142 23 Air bersih 4.332,485 0,102 24 Perikanan 4.176,804 0,098 Jumlah 4.256.211,599 100,00

68 5.1.1.2. Keterkaitan Sektoral Salah satu keunggulan analisis I-O adalah dapat mengetahui keterkaitan sektoral, baik keterkaitan ke belakang (backward linkage) maupun keterkaitan ke depan (forward linkage). Dengan analisis tersebut dapat diketahui tingkat hubungan atau keterkaitan teknis antar sektor perekonomian. Keunggulan suatu sektor dapat dilihat dari tingkat kekuatan antar sektor tersebut dengan sektor lainnya (Daryanto dan Hafizrianda 2010; Rustiadi et al. 2009). Sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang yang kuat ditandai dengan angka keterkaitan yang tinggi. Hal ini berarti peningkatan output sektor tersebut dapat menarik aktivitas sektor-sektor di belakangnya (hulu). Sedangkan sektor yang mempunyai keterkaitan ke depan yang kuat berarti mampu mendorong aktivitas sektor-sektor perekonomian yang ada di hilirnya (BPS 2000a). Roda perekonomian dapat bersinergi dengan baik dengan adanya keterkaitan. Makin kuat keterkaitan antar sektor, makin kecil ketergantungan sektor tersebut pada impor, sekaligus memperkecil kebocoran wilayah yang mengalir ke wilayah lainnya, sehingga nilai tambah yang dihasilkan dapat dinikmati oleh masyarakat di wilayahnya sendiri. Analisis keterkaitan antar sektor pada dasarnya melihat dampak output dan kenyataan bahwa sektor-sektor dalam perekonomian tersebut saling mempengaruhi (Rustiadi et al. 2009). Keterkaitan langsung ke depan dan keterkaitan langsung ke belakang dianalisis dengan menggunakan matriks koefisien, sedangkan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dianalisis dengan menggunakan matriks kebalikan Leontief terbuka. Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan akhir. Pada Gambar 6 ditampilkan keterkaitan langsung ke depan atau Direct Forward Linkage (DFL) sektor-sektor perekonomian yang berhubungan dengan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan. Sektor sayuran memiliki nilai DFL sebesar 0,281 dan sektor buahbuahan memiliki nilai DFL sebesar 0,099.

69 Hotel Kehutanan Jasa Perorangan dan Rumahtangga Perikanan Restoran Buah-buahan Bank Tanaman Bahan Makanan Tanaman Perkebunan Peternakan dan Hasil-hasilnya Jasa Swasta Sayur-sayuran Industri Bukan Migas Perdagangan Besar & Eceran 0,011 0,017 0,025 0,043 0,096 0,099 0,135 0,150 0,156 0,198 0,234 0,281 0,592 1,191 Direct Forward Linkage 0.0000 0.2000 0.4000 0.6000 0.8000 1.0000 1.2000 1.4000 Gambar 6. Keterkaitan Langsung Ke Depan Keterkaitan langsung ke belakang atau Direct Backward Linkage (DBL) menunjukkan akibat dari suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan akhir. Keterkaitan langsung ke belakang sektor-sektor perekonomian ditampilkan pada Gambar 7. Nilai DBL di atas rata-rata adalah yang memiliki nilai indeks 1. Berdasarkan gambar tersebut, hampir semua sektor memiliki nilai DBL <1, hal ini menunjukkan bahwa semua sektor memiliki nilai di bawah ratarata. Sektor sayur sayuran memiliki nilai DBL sebesar 0,830 dan sektor buahbuahan memiliki nilai DBL sebesar 0,133.

70 Tanaman Perkebunan Kehutanan Perdagangan Besar & Eceran Tanaman Bahan Makanan Jasa Perorangan dan Rumahtangga Perikanan Buah-buahan Bank Peternakan dan Hasil-hasilnya Hotel Jasa Swasta Industri Bukan Migas Restoran Sayur-sayuran 0,067 0,085 0,101 0,104 0,105 0,123 0,132 0,133 0,206 0,226 0,238 0,366 0,373 0,830 Direct Backward Linkage 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Gambar 7. Keterkaitan Langsung ke Belakang Sektor sayur-sayuran memiliki nilai DFL sebesar 0,281 yang lebih kecil dibandingkan nilai DBL (0,830) dan sektor buah-buahan memiliki nilai DFL sebesar 0,099 lebih kecil dibandingkan dengan nilai DBL 0,133. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut lebih banyak menghasilkan output yang dapat digunakan oleh sektornya sendiri sebagai input secara langsung dibandingkan penggunaan output dari sektor tersebut untuk digunakan sebagai input untuk sektor-sektor lainnya. Nilai DBL sektor sektor sayur-sayuran dan buah-buahan yang rendah menunjukkan bahwa sektor tersebut menggunakan input dari sektor-sektor lain dengan jumlah yang rendah. Sebaliknya output sektor sayur-sayuran dan buahbuahan justru digunakan sebagai input oleh sektor-sektor lain, terutama oleh sektor industri non migas khususnya sektor pengolahan. Sektor-sektor yang memiliki keterkaitan dengan sektor sayur-sayuran ditampilkan pada Gambar 8 dan 9. Sektor sayuran memiliki keterkaitan ke depan dengan tujuh sektor, termasuk dengan sektornya sendiri. Keterkaitan tertinggi adalah dengan sektor sayur-sayuran itu sendiri (0,233) diikuti sektor restoran (0,030), dan berikutnya sektor peternakan dan hasil-hasilnya (0,007).

71 Industri Bukan Migas Jasa Perorangan dan Rumahtangga Hotel Jasa Swasta Peternakan dan Hasil hasilnya Restoran 0,0001 0,002 0,003 0,003 0,007 0,030 Keterkaitan Ke depan Sektor Sayur sayuran Terhadap Sektor lain Sayur sayuran 0,233 0.00000 0.05000 0.10000 0.15000 0.20000 0.25000 Gambar 8.Keterkaitan ke Depan Sektor Sayur-sayuran Dengan Sektor-sektor Lain. Tanaman Perkebunan 0.00050 Peternakan dan Hasil-hasilnya 0,001 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 0,001 Jasa Swasta 0,001 Bank Restoran Perdagangan Besar & Eceran 0,008 0,018 0,188 Keterkaitan Ke Belakang Sektor Sayur-sayuran Terhadap Sektor Lain Sayur-sayuran 0,233 Industri Bukan Migas 0,295 0.00000 0.10000 0.20000 0.30000 0.40000 Gambar 9. Keterkaitan Ke Belakang Sektor Sayur-sayuran Dengan Sektor-sektor Lain. Sektor sayur-sayuran memiliki keterkaitan ke belakang dengan sektor-sektor sebagai berikut: (1) sektor industri bukan migas, (2) sektor sayur-sayuran, (3) sektor perdagangan besar dan eceran, (4) sektor restoran, (5) bank, (6) jasa swasta, (7) Jasa perorangan dan rumah tangga, (8) peternakan dan hasil-hasilnya, dan (9) tanaman perkebunan. Tiga sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang tertinggi dengan sektor sayur-sayuran berturut-turut adalah sektor industri bukan migas, sektor sayur-sayuran itu sendiri dan sektor perdagangan besar dan eceran, Sektorsektor yang memiliki keterkaitan dengan sektor buah-buahan ditampilkan pada Gambar 10 dan 11. Sektor buah-buahan memiliki keterkaitan ke depan dengan

72 delapan sektor, termasuk dengan sektornya sendiri. Keterkaitan tertinggi adalah dengan sektor buah-buahan itu sendiri (0,062) diikuti sektor restoran (0,025), dan berikutnya sektor jasa swasta(0,003). Perdagangan Besar & Eceran Peternakan dan Hasil-hasilnya Jasa Perorangan dan Rumahtangga Restoran Hotel Jasa Swasta 0,0001 0,001 0,002 0,002 0,003 0,003 Keterkaitan ke depan Sektor Buahbuahan terhadap sektor lain Industri Bukan Migas 0,025 Buah-buahan 0,062 0.00000 0.01000 0.02000 0.03000 0.04000 0.05000 0.06000 0.07000 Gambar 10. Keterkaitan ke Depan Sektor Buah-buahan dengan sektor-sektor lain. Jasa Swasta Hotel Peternakan dan Hasil-hasilnya Jasa Perorangan Dan Rumah Tangga Restoran 0,0001 0,0001 0,0002 0,0003 0,003 Keterkaitan Ke Belakang Sektor Buahbuahan Dengan Sektor Lain Perdagangan Besar & Eceran 0,048 Buah-buahan 0,062 0.00000 0.01000 0.02000 0.03000 0.04000 0.05000 0.06000 0.07000 Gambar 11. Keterkaitan Ke Belakang Sektor Buah-buahan dengan sektor-sektor lain. Sektor Buah-buahan memiliki keterkaitan ke belakang dengan sektor-sektor sebagai berikut: (1) sektor buah-buahan, (2) perdagangan besar dan eceran, (3) restoran, (4) jasa perorangan dan rumah tangga, (5) peternakan dan hasil-hasilnya, (6) hotel,dan (7) jasa swasta.

73 Selanjutnya untuk mengetahui sektor yang mempunyai kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor hulu atau hilir baik melalui mekanisme transaksi pasar output maupun pasar input dapat dianalisis menggunakan daya penyebaran dan derajat kepekaan. Daya penyebaran adalah jumlah dampak akibat perubahan permintaan akhir suatu sektor terhadap output seluruh sektor ekonomi, sedangkan derajat kepekaan merupakan jumlah dampak terhadap suatu sektor sebagai akibat perubahan seluruh sektor perekonomian. Untuk membandingkan dampak yang terjadi pada setiap sektor, maka daya penyebaran ataupun derajat kepekaan harus dinormalkan dengan cara membagi rata-rata dampak suatu sektor dengan rata-rata dampak seluruh sektor. Dari proses tersebut diperoleh indeks daya penyebaran (IDP) dan indeks derajat kepekaan (IDK). Nilai IDP lebih dari satu menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya atau meningkatkan output sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor tersebut. Nilai IDP sektor sayur-sayuran sebesar 1,227. Sedangkan nilai yang kurang dari satu menunjukkan bahwa sektor tersebut kurang mampu dalam menarik sektor hulunya. Berdasarkan nilai IDP, sektor buah-buahan yang bernilai kurang dari satu (0,584) dikelompokkan sebagai sektor yang kurang mampu menarik sektorsektor hulunya. Artinya setiap kenaikan 1 unit output sektor buah-buahan hanya mengakibatkan penggunaan sektor-sektor lain sebagai input sebesar 0,584 unit (Gambar 12).

74 Tanaman Perkebunan Tanaman Bahan Makanan Perikanan Buah-buahan Kehutanan Jasa Perorangan dan Rumahtangga Perdagangan Besar & Eceran Peternakan dan Hasil-hasilnya Bank Jasa Swasta Industri Bukan Migas Restoran Hotel Sayur-sayuran 0,545 0,560 0,580 0,584 0,592 0,600 0,618 0,635 0,683 0,706 0,750 0,802 0,871 1,227 Indeks Penyebaran 0 0.5 1 1.5 Gambar 12. Nilai Indeks Daya Penyebaran sektor-sektor perekonomian. Nilai IDK suatu sektor yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki kemampuan untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor hilir yang memakai input dari sektor tersebut. Pada Gambar 13 terlihat bahwa sektor sayur-sayuran dan buah-buahan memiliki IDK kurang dari satu yaitu nilai IDK sayur-sayuran 0,689 dan nilai IDK buah-buahan 0,556. Hal ini berarti kenaikan 1 unit permintaan akhir sektor sayur-sayuran akan menyebabkan naiknya output sektor-sektor lain termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 0,689 unit dan kenaikan 1 unit permintaan akhir sektor buah-buahan akan menyebabkan naiknya output sektor-sektor lain termasuk sektornya sendiri secara keseluruhan sebesar 0,556 unit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sektor sayur-sayuran dan buah-buahan kurang memiliki kemampuan untuk mendorong sektor-sektor hilir yang menggunakan outputnya sebagai input produksi. Oleh karena itu sektor sayur-sayuran dan buah-buahan tidak akan mudah terpengaruh bila terjadi perubahan pada sektor-sektor yang menggunakan output sektor sayursayuran dan buah-buahan sebagai input produksinya. Sektor-sektor perekonomian yang memiliki nilai IDK lebih dari satu yaitu sektor perdagangan besar dan eceran.

75 Kehutanan Hotel Jasa Perorangan dan Rumahtangga Perikanan Buah-buahan Tanaman Bahan Makanan Restoran Bank Peternakan dan Hasil-hasilnya Tanaman Perkebunan Jasa Swasta Sayur-sayuran Industri Bukan Migas Perdagangan Besar & Eceran 0,512 0,513 0,529 0,530 0,556 0,608 0,611 0,613 0,628 0,631 0,656 0,670 0,920 1,331 Indeks Kepekaan 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 Gambar 13. Nilai Indeks Derajat Kepekaan sektor-sektor perekonomian. Berdasarkan IDP dan IDK, sektor-sektor perekonomian dikelompokkan dalam 4 kelompok sebagai berikut: - Kelompok I adalah sektor-sektor yang mempunyai IDP dan IDK di atas ratarata (>1) - Kelompok II adalah sektor-sektor yang mempunyai IDP di atas rata-rata (>1) dan IDK di bawah rata-rata (<1) - Kelompok III adalah sektor-sektor yang mempunyai IDP di bawah rata-rata (<1) dan IDK di atas rata-rata (>1) - Kelompok IV adalah sektor-sektor yang mempunyai IDP dan IDK di bawah rata-rata (<1) Tabel 17 memperlihatkan pengelompokan sektor-sektor perekonomian Kabupaten Karo berdasarkan nilai IDP dan IDK. Sektor sayur-sayuran menempati kuadran ke-2 karena memiliki IDP di atas rata-rata (>1) dan IDK di bawah rata-rata (<1) dan sektor buah-buahan menempati kuadran ke-4 dalam pengelompokan tersebut, karena memiliki nilai IDP dan IDK kurang dari satu. Sektor yang mempunyai IDP tinggi memberikan indikasi bahwa sektor tersebut mempunyai pengaruh terhadap sektor lain, sebaliknya sektor yang

76 mempunyai IDK yang tinggi berarti sektor tersebut akan cepat terpengaruh bila terjadi perubahan pada sektor lainnya. Tabel 17 Pengelompokan sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Karo berdasarkan nilai IDP dan IDK IDP>1 IDP<1 IDK>1-17. Pengangkutan IDK<1 2. Sayur-sayuran 18.Komunikasi 1.Tanaman Bahan Makanan lainnya 3.Buah-buahan 4.Tanaman Perkebunan 5.Peternakan dan hasil-hasilnya 6.Kehutanan 7. Perikanan 8. Minyak dan gas bumi 9.Penggalian 10.Industri bukan migas 11. Listrik dan gas 12.Air bersih 13. Konstruksi 14. Perdagangan besar dan ecera 15. Restoran 16.Hotel 19.Bank 20.Real estate 21. Jasa Perusahaan 22.Pemerintahan umum 23.Swasta 24.Jasa perorangan dan rumah tangga Dari kajian tersebut terlihat bahwa sektor-sektor perekonomian dominan menempati kuadran ke-empat. Hal ini dapat dinyatakan bahwa sektor-sektor penunjang perekonomian di Kabupaten Karo relatif rapuh. Sektor-sektor perekonomian hanya berkembang untuk dirinya sendirinya, rentan untuk

77 dieksplorasi wilayah sekitarnya dan belum mampu mengambil manfaat dari wilayah sekitarnya. Namun jika dilihat dari struktur tenaga kerja yang diserap oleh semua sektor beserta nilai output yang diberikan oleh masing-masing sektor maka sektorsektor tersebut memberikan pengaruh yang nyata/ penting. (Tabel 18). Alokasi tenaga kerja berdasarkan sektor ekonomi terlampir pada Lampiran 10. Tabel 18 Penyerapan Tenaga Kerja Pada Masing-Masing Sektor beserta Output. No Sektor Perkonomian Sub Sektor Perekonomian Output Total (Juta rupiah) Persentase Tenaga Kerja (%) 1 Pertanian Tanaman bahan makanan lainnya 1.503.960,453 49,64 Sayur-sayuran 180.702,023 Tanaman Perkebunan 291.973,032 Peternakan dan Hasilhasilnya 190.119,092 Buah-buahan 55.715,643 Perikanan 4.176,804 Kehutanan 6.354,012 2 Perdagangan,hotel Perdagangan Besar dan 461.573,538 19,25 & Restoran Eceran Hotel 19.877,050 Restoran 41.652,710 3 Jasa-Jasa Pemerintahan Umum 292.040.000 11,81 Jasa Perorangan & 49.558,734 Rumah Tangga Jasa Perusahaan 7.573,300 4 Pertambangan Penggalian 6.049,730 0,24 Minyak dan gas bumi 10.204,196 5 Bangunan Konstruksi 204.210,237 3,75 Real estate 20.007,538 6 Industri Pengolahan Industri bukan migas 179.882,138 7,08 7 Listrik, Gas,dan Air Bersih 8 Keuangan, Persewaan 9 Pengangkutan & Komunikasi Listrik dan gas 8.630,173 0,33 Air bersih 4.332,485 Bank 39.302,267 1,30 Swasta 37.467,551 Komunikasi 32.400,453 6,60 Jumlah 4.256.211,599 100,00 Persentase penyerapan tenaga kerja terbesar berada pada sektor pertanian yang mencakup subsektor tanaman bahan makanan lainnya, sayur-sayuran,

78 tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya, buah-buahan, perikanan dan kehutanan dan sektor ini juga memberikan output yang paling besar. Dapat disimpulkan bahwa dampak pembangunan di sektor pertanian terjadi secara langsung (direct impact) dan tidak langsung (indirect impact). Dampak tidak langsung menunjukkan bahwa pembangunan di sektor pertanian akan memiliki pengaruh terhadap kenaikan output, value added, kegiatan produksi di sektorsektor lainnya, dan pendapatan masyarakat, jika pembangunan di sektor ini berjalan melalui proses dan kegiatan yang sinergis dengan sektor -sektor lainnya. Demikian juga bila dilihat dari Indeks Pembangunan manusia (IPM). IPM merupakan indikator komposit tungal yang walaupun tidak mengukur semua dimensi dari pembangunan manusia, tetapi mengukur tiga dimensi pokok pembangunan manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar penduduk. Ketiga kemampuan itu adalah mengukur peluang hidup ataupun harapan hidup, pengetahuan dan keterampilan, serta akses terhadap sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai hidup layak. Jika dilihat dari komponen IPM maka nilai IPM Kabupaten Karo menunjukkan nilai yang relatif baik. Nilai IPM dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19 Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumatera Utara Tahun 2004. No Kabupaten Harapan Melek Ratarata riil Perkapita Pengeluaran IPM Rangking Hidup Huruf lama Sekolah 1 Karo 72,8 97,6 9,5 615,9 71,9 1 2 Dairi 66,8 96,7 8,3 614,1 68,1 5 3 Simalungun 67,6 96,4 8,0 615,2 68,9 3 4 Toba 65,6 97,1 9,0 633,5 71,4 2 Samosir 5 Tapanuli 66,1 97,0 8,7 608,6 67,8 6 Utara 6 Samosir 64,23 96,5 8,0 631,4 68,2 4 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2004.

79 5.1.2. Multiplier Effect Analisis multiplier effect dari sektor-sektor perekonomian wilayah Kabupaten Karo berdasarkan Tabel I-O tahun 2009 terdiri atas multiplier output, NTB, dan pendapatan (income). Nilai multiplier tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. 5.1.2.1 Multiplier Effect Output Dalam model I-O, output memiliki hubungan timbal balik dengan permintaan akhir, artinya; jumlah output yang dapat diproduksi tergantung jumlah permintaan akhirnya. Namun demikian, dalam keadaan tertentu, output justru yang menentukan besarnya permintaan akhir (BPS 2000a). Berdasarkan analisis diperoleh multiplier effect output sektor sayur-sayuran 2,727 dan sektor buah-buahan memiliki multiplier effect output dengan nilai 1,167. Hal ini berarti apabila permintaan akhir sektor sayur-sayuran meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap perekonomian wilayah (output) meningkat 2,727 milyar rupiah. Nilai multiplier effect output per sektor ditampilkan pada Gambar 14. Perikanan Kehutanan Jasa Swasta Jasa Perorangan dan Rumahtangga Tanaman Perkebunan Tanaman Bahan Makanan Hotel Buah buahan Perdagangan Besar & Eceran Bank Peternakan dan Hasil hasilnya Restoran Sayur sayuran 1,010 1,020 1,022 1,070 1,083 1,105 1,139 1,167 1,194 1,208 1,217 1,272 Multiplier Effect Output 2,727 0.00000 1.00000 2.00000 3.00000 Gambar 14. Nilai multiplier effect terhadap output sektor-sektor perekonomian. Dibandingkan dengan sektor-sektor lain dalam sektor-sektor perekonomian multiplier effect output sektor sayur-sayuran berada pada urutan ke tiga namun untuk sektor buah-buahan berada di urutan ke tiga belas. Multiplier effect output sektor sayur-sayuran memberikan pengaruh dalam pembentukan output total,

80 melalui skenario peningkatan final demand, khususnya konsumsi rumah tangga sebesar 10%, akan dicapai peningkatan output total sebesar 4,7405 % atau sebesar Rp. 14.260.662,2 juta. Multiplier effect output sektor buah-buahan juga memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan output total, melalui skenario peningkatan final demand, khususnya konsumsi rumah tangga sebesar 10%, akan dicapai peningkatan output total sebesar 2,045 % atau sebesar Rp. 6.166.448,36 juta. Sektor tanaman bahan makanan lainnya merupakan sektor yang mengalami peningkatan paling tinggi (40,7413%) diikuti oleh sektor pengangkutan (19,868%) dan perdagangan besar dan eceran (10,00%). Skenario peningkatan final demand melalui belanja pemerintah mendapatkan peningkatan output total sebesar 9,053 % untuk tiap kenaikan 10% atau Rp 38.266.288,2 juta. Sektor yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah sektor pemerintahan umum (58,497%), sektor tanaman bahan makanan lainnya (11,541%) dan sektor tanaman perkebunan (7,493%). Sedangkan sektor sayur-sayuran mengalami peningkatan sebesar 0,5334% dan sektor buah-buahan mengalami peningkatan sebesar 0,204% Skenario peningkatan final demand melalui investasi (pembentukan modal tetap bruto) sebesar 10% mampu meningkatkan output total sebesar Rp 84.997.443,33 juta (20,110%). Peningkatan yang paling tinggi dicapai oleh sektor tanaman bahan makanan lainnya (5,192%), konstruksi (4,284%) dan tanaman perkebunan(3,936%). Sektor sayur-sayuran berada pada peringkat ke-15 dengan peningkatan 0,047% dan sektor buah-buahan mengalami peningkatan sebesar 0,016% berada pada peringkat ke -21. Peningkatan final demand sebesar 10% melalui skenario ekspor barang dan jasa mampu meningkatkan output total sebesar Rp 39.028.553 juta (9,233%). Sektor yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah tanaman makanan (45,545%), tanaman perkebunan (21,864%) dan sektor perdagangan besar dan eceran (17,870%). Sektor sayur-sayuran dengan peningkatan 13,216% menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor perekonomian dan sektor buah-buahan dengan peningkatan 0,635% menempati urutan ke-11 dari seluruh sektor perekonomian. Dengan demikian, sektor sayur-sayuran dan buah-buahan masih

81 memiliki prospek penting untuk dikembangkan bagi peningkatan perekonomian wilayah Kabupaten Karo. 5.1.2.2 Multiplier Effect Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto (NTB) adalah input primer yang merupakan bagian dari input secara keseluruhan. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan tabel I-O, maka hubungan antara NTB dengan output bersifat linier. Artinya peningkatan atau penurunan output akan diikuti secara proporsional oleh kenaikan dan penurunan NTB. Dampak NTB sektor-sektor perekonomian berdasarkan urutan dari yang tertinggi hingga terendah ditampilkan pada Tabel 20. Tabel 20 Peringkat dampak sektor-sektor perekonomian terhadap NTB No. Sektor Perekonomian Dampak terhadap NTB 1 Komunikasi 8,2894 2 Listrik dan gas 2,2443 3 Sayur-sayuran 2,1122 4 Real estate 1,6647 5 Industri bukan migas 1,6647 6 Restoran 1,4994 7 Konstruksi 1,4153 8 Hotel 1,3032 9 Swasta 1,2959 10 Pengangkutan 1,2943 11 Bank 1,2830 12 Jasa Perusahaan 1,2623 13 Penggalian 1,1958 14 Minyak dan gas bumi 1,1872 15 Peternakan dan hasil-hasilnya 1,1797 16 Air bersih 1,1712 17 Perdagangan besar dan eceran 1,1540 18 Perikanan 1,1379 19 Kehutanan 1,1270 20 Buah-buahan 1,1249 21 Jasa Perorangan dan Rumah Tangga 1,1055 22 Tanaman bahan makanan lainnya 1,0989 23 Tanaman Perkebunan 1,0640 24 Pemerintahan Umum 1,0000

82 Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa sektor sayur-sayuran memiliki nilai dampak terhadap NTB sebesar 2,112 yang berarti bahwa apabila permintaan akhir sektor sayur-sayuran meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap NTB akan meningkat 2,112 milyar rupiah dan sektor buah-buahan memiliki nilai dampak terhadap NTB sebesar 1,125 yang berarti bahwa apabila permintaan akhir sektor buah-buahan meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap NTB akan meningkat 1,125 milyar rupiah. Sektor-sektor yang memiliki dampak NTB paling tinggi adalah sektor komunikasi (8,289) dan sektor listrik dan gas (2,244). Tingginya nilai dampak sektor komunikasi dikarenakan kuatnya keterkaitan sektor tersebut dengan sektor-sektor perekonomian lain di Kabupaten Karo. 5.1.2.3 Multiplier Effect Pendapatan Berdasarkan analisis multiplier effect terhadap pendapatan sektor-sektor perekonomian, diperoleh lima sektor yang memiliki nilai tertinggi, yaitu: peternakan dan hasil-hasilnya, komunikasi, real estate, minyak dan gas bumi, dan sektor sayur-sayuran. Sektor sayur-memiliki nilai 2,906, artinya apabila permintaan akhir sektor sayur-sayuran meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap pendapatan wilayah akan meningkat 2,906 milyar rupiah dan untuk sektor buah-buahan memiliki nilai 1,188 artinya apabila permintaan akhir sektor buah-buahan meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap pendapatan wilayah akan meningkat 1,188 milyar rupiah (Gambar 15). Tanaman Perkebunan Tanaman Bahan Makanan Kehutanan Bank Buah-buahan Perikanan Hotel Perdagangan Besar & Eceran Industri Bukan Migas Restoran Swasta Jasa Perorangan dan Rumahtangga Sayur-sayuran Peternakan dan Hasil-hasilnya 1,060 1,120 1,170 1,171 1,188 1,227 1,238 1,276 1,403 1,538 1,583 1,779 2,906 3,138 Multiplier Pendapatan 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Gambar 15. Nilai multiplier effect pendapatan sektor-sektor perekonomian.

83 5.1.3 Hasil Sintesa PerekonomianKabupaten Karo Secara Makro Berdasarkan seluruh indikator keterkaitan dan multiplier effect melalui analisis I-O di atas diketahui bahwa sektor sayur-sayuran dan buah-buahan tidak tergolong sebagai sektor strategis. Menurut Rustiadi et al. (2009) sektor strategis adalah sektor yang memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang besar serta mampu menciptakan angka pengganda (multiplier) yang besar dalam perekonomian. Indikator tersebut kontradiktif dengan besarnya potensi sayursayuran dan buah-buahan yang dimiliki serta sumbangan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan terhadap PDRB. Potensi produksi yang belum termanfaatkan serta pangsa pasar yang besar menjadi modal untuk menjadikan sektor-sektor tersebut sebagai sektor unggulan. Dilihat dari nilai PDRB Kabupaten Karo, sub sektor Hortikultura dan Tanaman Pangan yang dikelompokkan dalam Sektor Bahan Makanan berkontribusi sebesar 97,24 % terhadap nilai total sumbangan PDRB dari sektor Pertanian, atau sekitar 77,90 % terhadap nilai PDRB Kabupaten Karo. Penyerapan tenaga kerja pada subsektor hortikultura (49,64%), termasuk dalam kategori sedang sampai tinggi, dengan basis di perdesaan, karena itu pengembangan subsektor ini telah berkontribusi secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di perdesaan. Upaya pengembangan yang dapat dilakukan dalam mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain dalam internal wilayah Kabupaten Karo. Keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain yang rendah terutama dikarenakan output sektor tersebut lebih banyak digunakan untuk memenuhi permintaan akhir dibandingkan ditransaksikan antar sektor perekonomian dalam proses produksi. Dari output total sektor sayur-sayuran sebesar Rp 1.800.702,023 juta, permintaan antara sektor sayur-sayuran hanya sebesar 25,118% (Rp 45.390,039 juta), sedangkan permintaan akhir mencapai 74,881% (Rp 135.311,984 juta). Output total sektor buah-buahan sebesar Rp 55715,643 juta, permintaan antara hanya sebesar 9,744 % (Rp. 5.428,860 juta), sedangkan permintaan akhir mencapai 90,256% (Rp 50.286,783 juta). Dilihat dari komposisi permintaan akhir (final demand) sektor sayur-sayuran, pengeluaran konsumsi rumah tangga menempati persentase paling besar yaitu 71,30% dan

84 sisanya adalah ekspor barang dan jasa 28,700 %. Komposisi permintaan akhir (final demand) sektor buah-buahan, pengeluaran konsumsi rumah tangga menempati persentase paling besar dengan angka 98,3867% dan sisanya adalah ekspor barang dan jasa 1,613%. Pengeluaran konsumsi pemerintah, investasi (pembentukan modal tetap bruto) dan perubahan stok tidak memiliki permintaan akhir dari sektor sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain nilai transaksi antar sektor yang rendah, jumlah sektor yang terkait dengan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan juga sedikit. Keterkaitan ke depan sektor sayur-sayuran hanya terkait dengan 8 sektor, yaitu: (1) sayur-sayuran, (2) peternakan dan hasil-hasilnya, (3) industri bukan migas, (4) restoran, (5) hotel, (6) swasta, (7) jasa perorangan dan rumah tangga dan (8) pengangkutan. Keterkaitan ke belakang, sektor sayur-sayuran terkait dengan 13 sektor, yaitu: (1) sayur-sayuran, (2) tanaman perkebunan, (3) peternakan dan hasil-hasilnya, (4) industri bukan migas, (5) konstruksi, (6) perdagangan besar dan eceran, (7) restoran, (8) pengangkutan, (9) komunikasi, (10) Bank, (11) real estate, (12) jasa perusahaan dan (13) jasa perorangan dan rumah tangga. Ke depan sektor buahbuahan hanya terkait dengan 8 sektor, yaitu: (1) buah-buahan, (2) peternakan dan hasil-hasilnya, (3) industri bukan migas, (4) perdagangan besar dan eceran, (5) restoran,(6) hotel, (7) swasta dan (8) jasa perorangan dan rumah tangga. Ke belakang, sektor buah-buahan terkait dengan 13 sektor, yaitu: (1) buah-buahan, (2) peternakan dan hasil-hasilnya, (3) konstruksi, (4) perdagangan besar dan eceran, (5) restoran, (6) hotel, (7) pengangkutan, (8) Komunikasi (9) Bank, (10) real estate, (11), jasa perusahaan (12) swasta dan (13) jasa perorangan dan rumah tangga. Peningkatan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik peningkatan keterkaitan ke belakang maupun ke depan. Peningkatan keterkaitan ke belakang sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor sayur-sayuran dan buahbuahan itu sendiri misalnya penggunaan benih lokal untuk kegiatan budidaya. Apalagi kebutuhan akan benih hortikultura semakin meningkat dan penyediaannya tampaknya sebagian berasal dari benih impor. Dan perkembangan industri perbenihan di Kabupaten Karo masih terbilang lambat. Kebanyakan

85 industri perbenihan masih dalam skala kecil atau masih dalam tingkat penangkar yang produksinya masih terbatas sehingga sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari luar. Ketergantungan akan benih impor akan menambah biaya produksi, ketergantungan ini juga memiliki resiko yang tinggi terhadap kelanjutan dan penyediaan benih. Untuk menjamin ketersediaan benih dengan harga yang terjangkau dan bisa tersedia setiap saat, maka perlu dilakukan pengembangan industri perbenihan yang modern di Kabupaten Karo. (Lampiran 4). Adapun keterkaitan ke depan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor industri non migas dapat ditingkatkan dengan menyuplai produk sayursayuran dan buah-buahan sebagai bahan baku pada industri pengolahan dengan jumlah cukup dan mutu yang baik. Efek berantai akan dirasakan pula melalui peningkatan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor restoran, sektor tanaman bahan makanan lainnya, sektor perdagangan besar dan eceran (komoditas dagangan) maupun sektor angkutan yang menunjang mobilitas barang. Saat ini kebanyakan industri pengolahan tidak berada di lokasi sentra, tetapi berada di ibukota provinsi. Contohnya komoditas markisa yang dihasilkan di Kabupaten Karo pabrik pengolahannya sebagian besar berada di kota Medan. Di Kabupaten Karo sendiri hanya terdapat 3 (tiga) industri pengolahan yaitu 2(dua) industri pengolahan markisa dan 1 (satu) pengolahan sayuran yang terdapat di Berastagi. (Kabupaten Karo dalam angka, 2009). Bila pabrik pengolahan markisa berada di dalam kawasan sentra maka akan meningkatkan keuntungan karena berkurangnya biaya transportasi serta limbah atau sisa-sisa produk tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk pertanian. Peningkatan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain juga akan meningkatkan multiplier effect terhadap output, nilai tambah bruto, serta pendapatan. Dengan demikian melalui upaya tersebut diharapkan sektor hortikultura dapat menjadi sektor unggulan sebagaimana halnya jika dilihat melalui sumbangan terhadap PDRB dan output total yang terbentuk selama ini. Penggolongan PDRB tanpa keterkaitan antar sektor hortikultura (sayursayuran dan buah-buahan) dengan industri pengolahan hasil dan perdagangan

86 pada hakekatnya memiliki kelemahan karena belum mencerminkan keterkaitan antar sektor ekonomi. Kenyataannya dalam perekonomian daerah di Indonesia sebagian besar kegiatan industri pengolahan adalah pengolahan hasil pertanian. Demikian juga sektor perdagangan, sebagian besar adalah perdagangan hasil pertanian primer maupun produk olahannya. Artinya kegiatan sektor pengolahan, perdagangan, pengangkutan merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan sektor pertanian di daerah yang disebut sebagai kegiatan sektor agribisnis. Secara diagram keseluruhan hasil sintesa diatas dapat dilihat pada Gambar 16. Keterkaitan Ke Belakang Sektor Tidak Langsung 4 5 6 7 8 9 Langsung 1 2 3 Pusat Pertumbuhan Sektor Hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan MP Keterkaitan Ke depan Langsung 10 11 12 Tidak Langsung 13 14 15 16 17 18 Gambar 16 Keterkaitan Sektor Hortikutura (Sayur-sayuran dan Buahbuahan) dalam Perekonomian Kabupaten Karo. Keterangan: 1-3 : sektor yang outputnya merupakan input bagi sektor hortikultura (sayursayuran dan buah-buahan) contohnya bibit, pupuk, alsintan. Dalam perekonomian Kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah :

87 sektor sayur-sayuran, buah-buahan (penyedia bibit), industri bukan migas (pupuk, alsintan), perdagangan besar dan eceran (penyedia saprodi). 4-9 : sektor hulu yang outputnya merupakan input bagi sektor 1-3. Dalam perekonomian Kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah sektor sayur-sayuran, buah-buahan, industri bukan migas, perdagangan besar dan eceran. 10-12: sektor yang inputnya berasal dari sektor hortikultura, contohnya pabrik pembuatan kripik kentang, pabrik pengolahan sirup, dll. Dalam perekonomian kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah industri non migas, jasa perorangan dan rumah tangga, restoran, hotel. 13-18 : sektor yang inputnya berasal dari sektor 10-12 contohnya industri pengolahan sirup, keuangan, dan lainnya. Dalam perekonomian Kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah Bank, industri non migas, perdagangan besar dan eceran, jasa perorangan dan rumah tangga, jasa swasta, hotel dan restoran. MP : Multiplier Effect. Dalam perekonomian kabupaten Karo multiplier effect pendapatan dari sektor sayur-memiliki nilai 2,9060 dan untuk sektor buah-buahan memiliki nilai 1,1879. Untuk multiplier effect output sektor sayur-sayuran 2,72714 dan sektor buah-buahan memiliki multiplier effect output dengan nilai 1,16726. Atas dasar pemikiran tersebut, terlihat bahwa sektor hortikultura diharapkan dapat menjadi sektor yang strategis akibat besaran sumbangan yang diberikannya dalam perekonomian Kabupaten Karo serta keterkaitan sektoral dan spasialnya. Perkembangan sektor tersebut memberikan dampak langsung dan tidak langsung yang cukup signifikan. Dampak tidak langsung akibat perkembangan sektor tersebut berpengaruh terhadap perkembangan sektor-sektor lainnya, dan secara spasial berpengaruh secara luas di wilayah sasaran. Ringkasan keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 21 dan Tabel 22.

88 Tabel 21 Ringkasan Sektor Sayur-Sayuran Uraian Peranan Keterkaitan Ke Belakang Keterkaitan Ke Depan Multiplier PDRB Tot. Output DBL IDP DFL IDK Out. Mult. NTB Mult. Pend. Mult. Nilai 135.311,984 180.702,023 0,830 1,222 0,281 0,682 2,727 2,112 2,906 Persen 4,25 4,24 - - - - - - - Rangking 8 8 2 1 5 3 3 3 5 Rendah Menarik Tidak Efek Pengganda Tinggi Keterangan sektor Hulu Mendorong Sektor Hilir Rendah Rendah namun berindikasi menjadi sektor unggulan Tabel 22 Ringkasan Sektor Buah-Buahan Uraian Peranan Keterkaitan Ke Belakang Keterkaitan Ke Depan Multiplier PDRB Tot. Output DBL IDP DFL IDK Out. Mult. NTB Mult. Pend. Mult. Nilai 50.286,83 55.715,643 0,132 1,583 0,096 0,556 1,167 1,124 1,187 Persen 1,58 1,30 - - - - - - - Rangking 10 10 8 11 9 10 13 20 18 Peranan Rendah Tidak Menarik Tidak Efek Pengganda Tinggi Keterangan sektor Hulu Mendorong Sektor Hilir Rendah Rendah namun berindikasi menjadi sektor unggulan 5.2. Penelaahan Secara Mikro 5.2.1 Tingkat Perkembangan Subsistem-subsistem Agribisnis Hortikultura Menurut Saragih (2001) agribisnis sebagai bentuk modern pertanian primer, mencakup empat subsistem yaitu : (1) Subsistem agribisnis hulu (Up-stream agribussiness) yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkan sarana produksi pertanian primer, (2) Subsistem usahatani (On farm agribussiness) disebut sebagai sektor pertanian primer, (3) Subsistem agribisnis hilir (Down stream agribussiness) yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan baik untuk siap diolah dan siap untuk dikonsumsi beserta kegiatan perdagangannya di pasar domestik dan internasional serta (4) Subsistem jasa layanan pendukung (Supporting agribussiness) seperti lembaga keuangan,

89 penyuluhan, penelitian pengembangan dan kebijakan pemerintah. Analisis sistem agribisnis dilakukan secara deskriptif terhadap subsistem hulu, usahatani, hilir, pemasaran dan jasa di ketiga wilayah fokus kajian yakni : Tiga Panah, Simpang Empat, dan Barus Jahe. Ketiga kecamatan ini dianggap dapat mewakili analisis sistem agribisnis yang berlangsung di Kabupaten Karo, di samping itu juga ketiga wilayah ini merupakan wilayah sentra komoditas hortikultura yang memberikan sumbangan besar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Karo. Komoditas yang merupakan unggulan dari ketiga kecamatan tersebut adalah jeruk, kentang, kubis, dan wortel. Sumbangan terhadap PDRB tahun 2009 berdasarkan harga berlaku tahun 2009 adalah sebagai berikut: kentang : Rp. 2.490 juta, kubis : Rp. 2.198 juta, wortel: Rp. 468 juta dan jeruk Rp. 10.961,38 juta. Sumbangan dari keempat komoditas ini terhadap nilai total PDRB hortikultura sebesar 20%. Kesesuaian lahan untuk keempat komoditas tersebut di tiga kecamatan dapat dilihat pada Lampiran 5. a. Subsistem Agribisnis Hulu (Up-stream agribussiness ) Subsistem agribisnis hulu adalah ragam kegiatan industri dan tata niaga/ perdagangan sarana produksi. Subsistem agribisnis hulu mencakup industri yang menghasilkan sarana produksi (input) pertanian, industri agro otomotif (mekanisasi pertanian), dan industri perbenihan. Pada prinsipnya, subsistem agribisnis hulu secara umum membangun industri jasa dan bersifat pendukung dalam pengembangan subsistem agribisnis usahatani maupun hilir. Manfaat yang diperoleh pengembangan sektor industri hulu adalah memberikan kemudahan bagi petani dalam mengelola agribisnis komoditi unggulan yang dikembangkannya. Berkembangnya subsistem agribisnis hulu menyebabkan pengelolaan subsistem usahatani menjadi lebih efisien dan dapat meningkatkan produktivitas/produksi komoditi yang dikembangkan (Departemen Pertanian, 2009). Ketersediaan kios sarana produksi Tiga Panah, Simpang Empat, dan Barus Jahe sudah cukup baik. KUD yang ada dapat dimanfaatkan oleh petani secara optimal. KUD juga berperan dalam akses permodalan bagi petani. Partisipasi petani di dalam KUD sudah terbilang cukup baik. Hal ini terlihat dari banyaknya anggota kelompok tani yang ada di wilayah tersebut yang menjadi anggota KUD. Kelembagaan yang ada seperti kelompok tani dan gabungan kelompok tani juga

90 berperan dalam pertukaran informasi cara budidaya dan pemasaran bahkan juga dimungkinkan adanya pertukaran sarana produksi di antara kelompok tani. Selain membeli di kios saprodi,beberapa petani juga mengolah sendiri pupuk yang digunakan dalam usaha budidaya khususnya pupuk organik seperti pupuk kandang. Jumlah Kelompok tani yang sudah dapat mengolah pupuk kandang sendiri dapat dilihat pada Tabel 27. Jumlah Kios yang menjual sarana produksi dan KUD dapat dilihat pada Tabel. 23. Tabel 23 Jumlah Kios Sarana Produksi dan KUD. No Kecamatan Kios KUD 1 Tiga Panah 27 5 2 Simpang Empat 48 1 3 Barus Jahe 30 4 Sumber : Kabupaten Karo Dalam Angka 2009. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa secara umum petani sudah dapat mengakses sarana produksi pertanian primer. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kinerja kelembagaan yang terlibat dalam kegiatan produksi dan perdagangan sarana produksi pertanian primer. Beberapa kelembagaan sudah dapat menyediakan sarana produksi bagi para anggotanya, tetapi terdapat juga kelembagaan yang belum dapat menyediakan sarana produksi pertanian primer. Beberapa petani memperoleh sarana produksi pertanian di kios saprodi dan KUD. Meskipun begitu, secara umum subsistem hulu di wilayah ini sudah terlihat lebih berkembang. Beberapa sarana produksi yang belum dapat diperoleh di masingmasing kecamatan biasanya dapat diperoleh di ibukota kabupaten yang jarak tempuhnya rata-rata 5-7 Km. b. Subsistem Usahatani atau Pertanian Primer (On farm agribussiness) Subsistem usahatani adalah subsistem pertanian dalam arti luas (produksi, operasi di lokasi usaha tani) yang menghasilkan produk primer. Subsistem usahatani berupa aktivitas pertanian skala ekonomi, baik secara individu maupun berkelompok dalam suatu kelembagaan. Jenis tanaman dan luas pertanaman yang diusahakan oleh kelompok tani di 3(tiga) kecamatan tertera pada Tabel 24 dan 25.

91 Tabel 24. Jenis Komoditas Yang Diusahakan No Komoditas Kecamatan Simpang Barus Jahe Tiga Panah Empat 1 Alpukat v v v 2 Jambu Biji v v 3 Jambu Air v 4 Jeruk v v v 5 Pisang v v v 6 Markisa v v v 7 Bawang Daun v v v 8 Kentang v v v 9 Kubis v v v 10 Sawi v v v 11 Wortel v v v 12 Cabai Merah v v v 13 Tomat v v 14 Buncis v v v 15 Kol Bunga v v v 16 Lobak v v 17 Cabe Rawit v 18 Terong v 19 Labu Siam v Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karo. Ket : v : diusahakan Jika diperhatikan pada Tabel 25 terlihat bahwa terdapat keragaan dalam luas pertanaman dan persentase lahan yang digunakan, hal ini juga tentunya akan berpengaruh produktivitas komoditas di masing-masing wilayah. Produktivitas tersebut juga dipengaruhi oleh perlakuan yang digunakan oleh petani di masing-masing kecamatan. Petani juga sudah mulai menyadari pentingnya melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan Good Agricultural Practices (GAP) atau norma budidaya dengan baik dan benar. Petani juga sudah dapat melaksanakan pengendalian hama penyakit tanaman sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Budidaya pertanian secara organik juga sudah dilakukan oleh beberapa petani, bahkan terdapat pula petani yang menanamnya di halaman rumah. Hal ini ditunjang dengan adanya sosialisasi penerapan GAP dan PHT dengan metode sekolah lapang. Jumlah kelompok tani dan kelompok tani yang sudah dapat menerapkan GAP dan PHT dapat dilihat pada Tabel 27.

92 Tabel 25. Luas Pertanaman Komoditas Hortikultura. No Komoditas Luas Pertanaman (Ha) Persentase Penggunaan lahan kering Untuk Pertanaman Komoditas Simpang Tiga Barus Simpang Tiga Barus Jahe Empat Panah Jahe Empat Panah 1 Alpukat 6,7 2,1 3,5 0,072 0,011 0,027 2 Jambu Biji 2 0 0,99 0,021 0 0,007 3 Jambu Air 4 0 0 0,043 0 0 4 Jeruk 2066,33 1186,6 2298 22,380 6,445 17,947 5 Pisang 1 4,1 70 0,010 0,022 0,547 6 Markisa 7,8 327,93 38,71 0,084 1,781 0,302 7 Bawang Daun 23 10 19 0,259 0,054 0,149 8 Kentang 347 96 90 3,758 0,521 0,702 9 Kubis 752 128 65 8,144 0,700 0,507 10 Sawi 587 228 130 6,357 1,238 1,015 11 Wortel 821 49 36 8,892 0,266 0,281 12 Cabai Merah 654 154 76 7,083 0,836 0,593 13 Tomat 152 52 0 1,646 0,282 0 14 Buncis 821 49 36 8,892 0,266 0,281 15 Kol Bunga 376 90 52 4,072 0.488 0,406 16 Lobak 134 16 0 1,451 0,086 0 17 Terong 0 15 0 0 0,081 0 18 Labu Siam 0 4 0 0 0,021 0 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karo (diolah) Keterangan: Luas Lahan Kering Kecamatan Tigapanah :18.410 Ha; Barusjahe : 12.804 Ha dan Simpang Empat : 9,233 Ha c. Subsistem Agribisnis Hilir (Down Stream Agribussiness) Subsistem industri hilir mencakup kegiatan pengolahan dan pemasaran, yang sering disebut agroindustri. Subsistem hilir merupakan kegiatan industri yang mengolah hasil hilir, yaitu kegiatan industri yang mengolah hasil pertanian menjadi produk olahan baik poduk antara (intermediate product), maupun produk akhir. Manfaat aktivitas subsistem agribisnis hilir adalah dapat meningkatkan nilai tambah, mempermudah pemasaran produk, meningkatkan daya saing produk, menambah pendapatan petani dan membuka peluang penyerapan tenaga kerja. Subsistem hilir sektor hortikultura mencakup kegiatan pasca panen dan pengolahan. Teknologi pasca panen hortikultura di ketiga kecamatan masih

93 bergerak pada tahap sortasi, grading dan packing dengan menggunakan alat tradisional yang masih sangat tradisional. d. Subsistem Jasa Layanan Pendukung (Supporting Agribussiness ) Subsistem jasa merupakan subsistem yang menyediakan jasa bagi subsistem agribisnis hulu,subsistem usahatani, dan subsistem agribisnis hilir. Subsistem jasa antara lain meliputi penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, akses modal, penelitian dan pengembangan. Kelompok tani yang ada di ketiga wilayah kecamatan cukup banyak. Jumlah kelembagaan kelompok tani yang ada di ketiga wilayah tersebut adalah sebagai berikut : Kecamatan Simpang Empat 223 kelompok tani, Kecamatan Tiga Panah 277 kelompok tani dan Kecamatan Barusjahe 217 kelompok tani. Kelembagaan kelompok tani dapat dilihat pada Tabel 27. Kelompok tani sebagai kelembagaan yang terdapat di masing-masing desa hendaknya dapat berperan dalam penentuan harga komoditas (peningkatan bargaining position). Kelompok tani juga berperan dalam penciptaan pemenuhan rantai pasokan dalam pasar, hal ini dapat terwujud jika kelompok tani memiliki kesepakatan dalam melakukan budidaya secara kontinu artinya kelompok tani dapat memberikan jaminan terhadap pasar akan ketersediaan komoditas yang mereka usahakan. Peningkatan posisi tawar dan peran dalam pemenuhan pasokan akan memberikan nilai tambah bagi petani (farmer share meningkat). Tabel 26. Pelaksanaan Subsistem Jasa Layanan Pendukung No Kecamatan Subsistem Jasa Layanan Pendukung Penyuluhan Pendidikan Akses Penelitian dan dan Modal Pengembangaan Pelatihan 1 Simpang Empat 2 Tiga Panah 3 Barus Jahe PPL Demplot BRI, KUD, Credit Union (CU) Penangkaran Benih / Pembibitan

94 Tabel 27. Kelembagaan Kelompok Tani No Kecamatan A B C D 1 Simpang Empat 223 7525 67 45 2 Tiga Panah 277 9088 84 55 3 Barus Jahe 217 6826 66 43 Sumber : Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Karo. Keterangan : A : Jumlah Kelompok Tani B : Jumlah Anggota (orang/petani) C : Jumlah Kelompok Tani Yang melakukan Penerapan GAP dan PHT D: Jumlah Kelompok Tani Yang melakukan Pengolahan Kompos/ Pupuk Organik 5.2.2. Kondisi dan Kelengkapan Sarana dan Prasarana Wilayah dan Sistem Agribisnis. 5.2.2.1 Kelengkapan Sarana dan Prasarana Wilayah Analisis mengenai kondisi dan kelengkapan sarana dan prasarana wilayah dilakukan dengan menganalisis kelengkapan sarana dan prasarana sistem permukiman. Dalam kajian ini pembagian hirarki wilayah dibagi dalam 3 kelompok kategori yakni hirarki untuk ketersediaan pasar, permodalan, dan infrastruktur umum (pelayanan pendidikan dan kesehatan) Wilayah dengan sarana dan prasarana terlengkap merupakan wilayah dengan hirarki tertinggi dan dianggap sebagai pusat wilayah. Selain itu sarana dan prasarana yang ada dapat diketahui mana yang lebih lengkap dan mana yang kurang lengkap. Ketersediaan sarana dan prasarana dasar, seperti kesehatan dan pendidikan juga dianalisis dalam kajian ini. Unit analisis dalam kelengkapan sarana dan prasarana permukiman adalah desa. Berdasarkan skalogram sistem permukiman yang diolah dengan menggunakan data Potensi Perdesaan (PODES) Kabupaten Karo Tahun 2008, adapun parameter yang digunakan adalah mengacu kepada Keputusan Menteri Permukiman dan PrasaranaWilayah No. 534/Kpts/M/2001 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimal Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum. Infrastruktur yang dianalisis adalah sarana pendidikan dan sarana kesehatan, seperti tertera pada Tabel 28.

95 Tabel 28. Pedoman Standar Pelayanan Minimal No Fasilitas Standar Pelayanan Minimal 1 Pasar Minimal tersedia 1 (satu) pasar untuk setiap 30.000 penduduk 2 TK Minimal tersedia 1 (satu) TK untuk setiap 1.000 penduduk 3 SD Minimal tersedia 1 (satu) SD untuk setiap 6.000 penduduk 4 SMP Minimal tersedia 1 (satu) SMP untuk setiap 25.000 penduduk 5 SMA Minimal tersedia 1 (satu) SMA untuk setiap 30.000 penduduk 6 Puskesmas Minimal tersedia 1 (satu) Puskesmas untuk setiap 120.000 penduduk Sumber : Kepmen Kimpraswil No. 534/Kpts/M/2001 Di tiga wilayah kajian terdapat 2 (dua) desa sebagai hiraki 1 (satu) di Kecamatan Simpang Empat yakni Desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti, di Kecamatan Tiga Panah terdapat juga terdapat 2 (dua) desa sebagai desa dengan hirarki 1 (satu) yakni desa Tiga Panah dan Ajijulu, untuk Kecamatan Barus Jahe desa yang menduduki hiraki 1(satu) adalah desa Sukajulu. Jumlah desa yang menjadi hirarki 1(satu), 2(dua), dan 3(tiga) serta persentase jumlah hirarki 1(satu), 2 (dua), dan 3 (tiga) terhadap jumlah keseluruhan desa di wilayah kajian masing-masing ditampilkan pada Tabel 29 dan Tabel 30. Tabel 29. Jumlah dan Persentase Desa Berdasarkan Hirarki Dengan 3 Kategori di Tiap Kecamatan Kajian. Kecamatan Hirarki Wilayah Jumlah Desa Persentase (%) Simpang Empat Hirarki 1 (satu) 2 3,45 Hirarki 2(dua) 6 10,34 Hirarki 3 (tiga) 9 15,52 Tiga Panah Hirarki 1 (satu) 2 3,45 Hirarki 2(dua) 2 3,45 Hirarki 3 (tiga) 18 31,03 Barus Jahe Hirarki 1 (satu) 1 1,72 Hirarki 2(dua) 2 3,45 Hirarki 3 (tiga) 16 27,59

96 Tabel 30 Jumlah dan Persentase Desa Berdasarkan Jumlah dan Persentase Hirarki Dengan Tiga Kategori. Hirarki Wilayah Jumlah Desa Persentase (%) Hirarki 1 (satu) 5 8,62 Hirarki 2(dua) 10 17,24 Hirarki 3 (tiga) 43 74,14 Berdasarkan Tabel 27 dan Tabel 28, besaran hirarki wilayah dengan hirarki terendah didominasi oleh hirarki 3 (tiga) sebesar 74,14 % dari angka tersebut 31,03% berada di kecamatan Tiga Panah. Di setiap kecamatan desa-desa dengan hirarki 3 (tiga) juga memiliki persentase tertinggi dibandingkan dengan desa-desa dengan hirarki 1 (satu) dan 2 (dua). Peta untuk masing-masing hirarki disajikan pada Gambar 17. Persentase jumlah desa hiraki 1 (satu), 2 (dua), dan 3 (tiga) terhadap jumlah desa di masing masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 31. Tabel 31. Jumlah dan Persentase Desa Terhadap Jumlah Desa di Tiap Kecamatan Dengan Tiga Kategori. Kecamatan Hirarki 1 (satu) Hirarki 2(dua) Hirarki 3 (tiga) Simpang Empat 11,77 35,29 52,94 Tiga Panah 9,09 9,09 81,83 Barus Jahe 5,26 10,54 84,21 Desa di Kecamatan Simpang Empat merupakan wilayah dengan persentase hirarki 1 (satu ) terbesar, tetapi desa yang memiliki jumlah fasilitas / infrastruktur terbanyak terdapat di desa Sukajulu Kecamatan Barus Jahe. Ndokum Siroga Surbakti Aji Julu Sukajulu Tiga Panah Gambar 17. Pemetaan Hirarki Kecamatan

97 Adapun kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur untuk pasar di tiap desa ditampilkan pada Tabel 32,data lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Tabel 32. Kebutuhan dan Ketersediaan Pasar No Kecamatan Status Pasar (Rata-rata Desa) 1 Simpang Empat - 2 Tiga Panah - 3 Barus Jahe + Keterangan : - : Membutuhkan infrastruktur Pasar +: Tersedia Jika dilihat dari Tabel 32, tiap-tiap desa di Kecamatan Tiga Panah dan Simpang Empat masih membutuhkan infrastruktur pasar. Namun berdasarkan kebutuhannya dapat dianggap sangat kecil sehingga dianggap pasar yang ada di ibukota kecamatannya sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar desa, tetapi untuk kecamatan Simpang Empat tidak diperoleh pasar permanen maupun yang non permanen. Jika dilihat dari kebutuhan per desa kebutuhan akan pasar juga relatif kecil. Hal-hal tersebut juga dapat di atasi karena jarak ke pasar terdekat dari masing-masing desa masih relatif dekat dan dapat diakses dengan mudah. Untuk Kecamatan Barus Jahe ketersediaan pasar secara rata-rata per desa sudah terpenuhi, gambaran pemenuhannya dapat dilihat Gambar 18. Kecamatan Barus Jahe Kecamatan Simpang Empat Kecamatan Tiga Panah Gambar 18. Status Ketersediaan Pasar Di Tiap-tiap Desa Di Ketiga Kecamatan

98 Sarana pendidikan terdiri dari TK, SD,SLTP dan SMU. Ketesediaan sarana pendidikan dan kebutuhannya ditampilkan pada Lampiran 7 dan 8. Ketersediaan sarana pendidikan bila dibandingkan dengan jumlah kebutuhan yang disyaratkan masih belum terpenuhi atau jumlahnya masih di bawah jumlah yang ditetapkan walaupun jumlah kebutuhan tersebut juga masih bernilai dibawah 1 (satu) yang berarti bahwa kebutuhan sarana tersebut masih dapat dipenuhi di wilayah yang berdekatan dengan masing-masing desa, apalagi jarak ke Kabanjahe sebagai ibukota kabupaten juga tidak terlalu jauh dari masing-masing kecamatan tersebut. Kebutuhan dan ketersediaan sarana pendidikan dapat dilihat pada Tabel 33. Tabel 33. Kebutuhan dan Ketersediaan Sarana Pendidikan No Kecamatan Status Kebutuhan dan Ketersediaan Sarana Pendiikan rata-rata Per Desa TK SD SLTP SMU 1 Simpang Empat - + + - 2 Tiga Panah - + + - 3 Barus Jahe - - - - Keterangan : - : dibutuhkan sarana pendidikan Kebutuhan dan ketersediaan Pelayanan kesehatan di tiap desa ditampilkan pada Lampiran 9. Jumlah Pelayanan Kesehatan yang tersedia bila dibandingkan dengan kebutuhannya sudah dapat terpenuhi dengan baik, bahkan jauh melampaui ketentuan standar yang ditetapkan. Bahkan di beberapa desa sudah terdapat Puskemas Pembantu, klinik dokter dan bidan sebagai pelayan kesehatan masyarakat. Puskesmas rata-rata hanya ditemui di masing-masing ibukota kecamatan. Kebutuhan dan ketersediaan sarana pendidikan dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34. Kebutuhan dan Ketersediaan Sarana Pelayanan Kesehatan No Kecamatan Status Kebutuhan dan Ketersediaan Rata-rata Sarana Pelayanan Kesehatan Per desa Fasilitas Kesehatan Para Medis 1 Simpang Empat + + 2 Tiga Panah + + 3 Barus Jahe + + Keterangan : + : tersedia Berdasarkan kelengkapan fasilitas yang ada di ketiga wilayah kecamatan, maka prasarana dasar pendidikan dan kesehatan sudah cukup berkembang. Untuk

99 fasilitas pendidikan dapat ditunjang dengan keberadaan sarana pendidikan di ibukota kecamatan dan ibukota kabupaten. Prasarana penunjang pasar juga sudah berkembang baik untuk toko grosir, eceran, dan warung. Berdasarkan kelengkapan jumlah fasiltas yang ada di ketiga wilayah tersebut yaitu dari fasilitas yang dianalisa, maka fasiltas yang terlengkap adalah fasilitas fasilitas umum bidang pelayanan kesehatan, pasar, KUD/Koperasi, sementara untuk fasilitas umum bidang pendidikan masih dibutuhkan. 5.2.2.2. Kelengkapan Sarana dan Prasarana Sistem Agribisnis Kelengkapan sarana dan prasarana sistem agribisnis dianalisis berdasarkan ketersediaan yang ditemukan di lapangan. Alsin hortikultura terbagi menjadi 4 (empat) kategori yakni: (1) alsin budidaya pertanian, (2) alsin pasca panen, (3) alsin pengolahan dan (4) alsin pemasaran. Alsin budidaya terdiri dari shading net, perangkap serangga,power sprayer, mesin babat, tarktor mini dan screen house. Alsin pasca panen antara lain adalah timbangan, tangga pemanenan buah, wrapping, packing house dan alat pengepress paking plastik. Alsin pengolahan terdiri dari alat perajang, alat pembuka, blender pengolahan hasil, dan lain-lain namun untuk ketiga wilayah tersebut alsin pengolahan tersebut belum tersedia. Alsin pemasaran adalah truck dan sorong roda dua. Berdasarkan sarana dan prasarana agribisnis yang tersedia di ketiga wilayah, kecuali alsin pengolahan, ketiga sarana dan prasarana tersebut menyebar secara merata di masing-masing kecamatan. Industri pengolahan belum berkembang. Banyak potensi hortikultura yang dapat dikembangkan menjadi olahan. Namun masih terdapat pola pikir bahwa bila dengan produk segar sudah dapat dijual, sehingga tidak perlu diolah menjadi produk olahan. Berdasarkan Tabel 35 terlihat bahwa Kecamatan Tiga Panah telah memiliki potensi untuk pengembangan agribisnis hortikultura dalam hal luas wilayah dalam usaha tani hortikultura dan fasilitas pasar. Untuk Kecamatan Simpang Empat berpotensi dalam luasan pengusahaan hortikultura. Industri pengolahan hortikultura masih dibutuhkan di tiga kecamatan tersebut.

100 Tabel 35 Ringkasan Kelengkapan Sarana Prasarana Wilayah dan Agribisnis Fasilitas Subsistem Agribisnis Hulu Usahatani Hilir Jasa Layanan Kecamatan Pasar Permo dalan Umum (% terhadap luas lahan kering) Simpang Empat Pasar Desa KUD -Kesehatan Kios 73,353 Pasca Kelompok (petani, -Pendidikan Saprodi, Panen Tani pengumpul) (SD-SLTP) KUD (penyuluhan, pelatihan) Tiga Panah Pasar Kecamatan (Petani, KUD -Kesehatan -Pendidikan (SD-SLTP) Kios Saprodi, KUD 13,098 Pasca Panen Kelompok Tani (penyuluhan, pelatihan) pengumpul, grosir, eceran) Barusjahe Pasar Desa (petani, pengumpul) KUD -Kesehatan -Pendidikan (SD-SLTP) Kios Saprodi, KUD 22,764 Pasca Panen Kelompok Tani (penyuluhan, pelatihan) 5.2.3. Tata Niaga Hortikultura Tantangan masa datang untuk mengantisipasi permintaan pasar adalah melalui pelaksanaan : (1) menciptakan teknologi yang mampu meningkatkan produksi pertanian, baik kualitas maupun kuantitasnya dan (2) menciptakan nilai tambah serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumberdaya. Pada sektor agribisnis hortikultura di kawasan sentra produksi hortikultura setiap kegiatan agribisnis mulai dari kegiatan pengadaan sarana produksi, kegiatan produksi, hingga kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil, serta kegiatan jasa penunjang umumnya dilakukan oleh pelaku agribisnis yang berbeda. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan struktur agribisnis menjadi tersekat-sekat dan kurang memiliki daya saing yaitu : (1) tidak ada keterkaitan fungsional yang harmonis antara setiap kegiatan atau pelaku agribisnis, (2) terbentuknya margin ganda sehingga ongkos produksi, pengolahan dan pemasaran hasil yang harus dibayar konsumen menjadi lebih mahal, sehingga sistem agribisnis berjalan tidak efisien, (3) tidak adanya kesetaraan posisi tawar antara petani dengan pelaku agribisnis lainnya, sehingga petani sulit mendapatkan harga pasar yang wajar.

101 Dalam agribisnis hortikultura ada beberapa kekhasan antara lain: (1) usahatani yang dilakukan lebih berorientasi pasar (tidak konsisten), (2) bersifat padat modal, (3) resiko harga relatif besar karena sifat komoditas yang cepat rusak dan (4) dalam jangka pendek harga relatif berfluktuasi. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Sudaryanto, et.al (1993) yang mengemukakan bahwa petani buah unggulan di sentra produksi pada saat panen raya berada pada posisi lemah. Lebih lanjut Rachman (1997) mengungkapkan rata-rata perubahan harga ditingkat produsen lebih rendah dari rata-rata perubahan harga ditingkat pengecer, sehingga dapat dikatakan bahwa efek transmisi harga berjalan tidak sempurna (Imperfect price transmission) Kelembagaan pemasaran yang berperan dalam memasarkan komoditas pertanian hortikultura dapat mencakup petani, pedagang pengumpul, pedagang perantara/grosir dan pedagang pengecer (Kuma at, 1992). Permasalahan yang timbul dalam sistem pemasaran hortikultura antara lain : kegiatan pemasaran yang belum berjalan efisien (Mubyarto, 1989). Artinya bahwa sistem pemasaran belum mampu menyampaikan hasil pertanian dari produsen kepada konsumen dengan biaya yang murah dan belum mampu mengadakan pembagian balas jasa yang adil dari keseluruhan harga konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan pemasaran komoditas pertanian tersebut. Pembagian yang adil dalam konteks tersebut adalah pembagian balas jasa fungsi-fungsi pemasaran sesuai kontribusi masing - masing kelembagaan pemasaran yang berperan. Menurut Saefudin dalam Nurmalinda, et al. (1997) ; Thomas, Nurmalinda, dan Adiyoga ( 1995) yang sangat penting menjadi perhatian ialah sistem tataniaga yang efisien, bagaimana masing-masing lembaga niaga yang terlibat memperoleh imbalan yang adil. Dengan demikian hubungan antara harga, produksi dan tataniaga mempunyai kaitan yang erat, dimana petani sebagai produsen dan lembaga tataniaga dengan fungsi tataniaga yang dilakukannya masing-masing mempunyai peranan yang menentukan dan saling mempengaruhi (Setyawati, et al. 1990). Hasil penelitian Gonarsyah (1992), menemukan bahwa yang menerima marjin keuntungan terbesar dalam pemasaran hortikultura dari pusat produksi

102 ke pusat konsumsi DKI Jakarta adalah pedagang grosir. Juga ditemukan bahwa, marjin keuntungan pemasaran yang diterima pedagang yang memasukkan buahnya ke PIKJ (Pasar Induk Kramat Jati) lebih rendah dari pedagang yang memasarkan langsung buahnya ke pasar-pasar eceran. Tata niaga hortikultura terbagi menjadi tata niaga untuk komoditas sayursayuran dan buah-buahan. Tata niaga untuk komoditas tersebut melibatkan pengumpul, bandar, pedagang, dan lain-lain sebelum akhirnya sampai ke konsumen. Tujuan pemasaran untuk komoditas tersebut lebih banyak dipasarkan ke pasar yang berada di luar wilayah produksi. Tata niaga hortikultura dianalisis berdasarkan nilai proporsi marjin harga dan proporsi marjin laba/ keuntungan. Proporsi marjin laba/ keuntungan sudah memperhitungkan biaya-biaya yang dikeluarkan, sedangkan proporsi marjin harga memperhitungkan harga jual suatu komoditas. Komoditas yang dianalisis dibatasi pada jenis-jenis tanaman hortikultura yang merupakan komoditas unggulan wilayah Tanah Karo. 5.2.3. 1.Tata Niaga Buah-buahan dan Sayur- Sayuran Tata niaga sebagai suatu keragaan dari semua usaha yang mencakup kegiatan dalam arus barang dan jasa, mulai dari titik usahatani sampai di tangan konsumen akhir, yaitu melihat segala sesuatu yang terjadi diantara petani dan kosumen. Pemasaran merupakan proses perdagangan, melalui proses ini produkproduk disesuaikan dengan pasar dan melalui proses ini terjadi pengalihan kepemilikan. Dalam pengangkutan komoditas pertanian dari petani ke konsumen akan mengalami berbagai macam resiko dan memerlukan penanganan yang memerlukan biaya dan hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan harga yang diterima oleh petani sebagai produsen dan harga yang diterima oleh masingmasing kelembagaan yang ada. Perbedaan harga ini disebut sebagai marjin pemasaran. Tinggi rendahnya biaya yang diperlukan ini berpengaruh terhadap besarnya marjin pemasaran dan harga yang diterima petani. Marjin dalam suatu pemasaran dapat menunjukkan baiknya sistem pemasaran tersebut berjalan. Pada tulisan ini akan diuraikan pemasaran pada berbagai bentuk kelembagaan pemasaran sayur-sayuran dan buah-buahan. Komoditas utama untuk buah-buahan yang diteliti adalah buah jeruk di Kabupaten Karo yang

103 merupakan salah satu sentra produksi jeruk di Sumatera Utara dan untuk sayuran komoditas yang diteliti adalah Kubis, Kentang dan Wortel. A. Tata Niaga Komoditas Jeruk Berdasarkan pantauan di wilayah penelitian pemasaran jeruk dilakukan petani secara sendiri-sendiri dengan mekanisme dan sistem pembayaran yang beragam. Belum muncul suatu lembaga yang mampu memperkuat posisi tawar petani. Apalagi pada saat panen, peran pedagang lebih dominan dalam menentukan klasifikasi buah, penetapan warna dan biaya transportasi yang berakibat tingkat harga jual petani jadi lebih rendah. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Karo bahwa dalam rangka mengatasi kondisi tersebut telah terbentuk lembaga Masyarakat Jeruk Indonesia komisariat Sumatera Utara. Salah satu misi yang diembannya adalah memperkuat kemampuan dan daya saing petani jeruk baik usahatani maupun pemasarannya. Di Kabupaten Karo ada beberapa pola petani dalam memasarkan produksi yaitu menjual sendiri ke pasar atau menjual kepada pedagang yang datang ke rumah/kebun. Pola pemasaran pertama, banyak dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kurang dari 100 pohon, lahan kurang dari 0.25 ha, atau lokasi lahan susah dijangkau kendaraan roda empat. Alasan ketidak seimbangan antara biaya panen dan angkut dibanding volume yang harus dijual mendorong petani melakukan penjualan langsung ke pasar. Pedagang pengumpul kerap keberatan jika membeli jeruk dalam jumlah sedikit di lokasi yang agak memencil. Pada pola pertama ini, tenaga untuk memetik, packing dan angkut dicari dan dibayar oleh petani sendiri. Jeruk yang dipanen, disusun ke dalam keranjang tanpa di-grading terlebih dahulu (kualitas campuran). Beragam teknik penyusunan yang dilakukan petani untuk menunjukkan kualitas jeruk cukup baik menjadi perhatian pembeli dalam menyepakati tingkat harga. Kapasitas tiap keranjang bisa mencapai berat 80-120 kg. Penjualan jeruk di pasar buah bisa langsung ke pedagang yang akan membawa dan menjual jeruk ke kota lain pedagang antar kabupaten/provinsi. Bisa juga menjualnya kepada pedagang perantara (pedagang yang mempunyai lapak/ tenda di pasar). Jeruk ini kemudian dijual kembali kepada pedagang besar.

104 Pola kedua, petani menjual produksi jeruk kepada pedagang yang mendatangi petani ke rumah atau ke kebun. Pembeli memberi penawaran harga setelah memeriksa dan memperkirakan produksi jeruk di kebun yang bisa dipanen. Setelah terjadi kesepakatan sistem dan harga antara petani sebagai penjual dengan pedagang, maka dilakukan pemanenan. Sebelum disusun ke dalam keranjang, jeruk di-grading menurut klasifikasi mutu seperti kelas A atau super (4-6 buah/kg), kelas AB (8 buah/kg), kelas B (12 buah/kg), kelas C (15 buah/kg), kelas D atau unyil (20 buah/kg) dan kelas guli/kelereng atau anak jeruk (24 buah/kg). Kecuali untuk kelas unyil dan guli/kelereng, setiap keranjang bermuatan 60-65 kg. Jeruk yang dibeli, diklasifikasi dan di-packing seperti dimaksud banyak dilakukan oleh pedagang pengumpul yang menjual/mengirim barang ke luar kabupaten bahkan keluar provinsi. Sementara k elas unyil dan guli/kelereng disusun lebih dari 70 kg per keranjang untuk dipasarkan ke Pasar Rengit Berastagi atau Pasar Buah Tiga Panah. Pasar Rengit beroperasi dua kali seminggu, hari Selasa dan Minggu, sedangkan Pasar Buah Tiga Panah beroperasi setiap hari setelah pukul 14.00 WIB. Pada pola pemasaran kedua ini, ada dua sistem perhitungan dalam penjualan. Pertama, sistem sekop yang berarti pedagang membeli seluruh jeruk yang layak panen tanpa melihat kelas mutu. Sementara yang kedua sistem sam-sam yang berarti pedagang membeli seluruh jeruk kelas D atau unyil ke atas. Dengan kata lain, kelas unyil dan guli tidak ikut dijual. Biasanya kedua kelas ini akan dijual petani kepada pengumpul di pasar buah. Kemampuan pedagang dalam memperkirakan produksi menurut volume total maupun volume antar kelas, sangat berpengaruh pada untung atau ruginya proses pemasaran. Pada sistem pemasaran di atas, umumnya tenaga kerja petik, sortir, grading, packing dan angkut, disediakan dan dibayar oleh pedagang/pembeli. Petani yang melakukan cara pemasaran ini umumnya petani yang memiliki jeruk produktif di atas 100 pohon atau lahan lebih dari 0.25 ha. Terkait dengan tempat transaksi, terlihat bahwa sebagian besar petani di wilayah penelitian melakukan transaksi di lokasi lahan petani, apakah di kebun atau rumah. Sisanya melakukan transaksi di lokasi pembeli, pasar buah atau

105 tempat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa cara pemasaran kedua lebih banyak terjadi di petani dibanding cara yang pertama. Terlepas dari cara pemasaran dan tempat transaksi yang dipilih petani, sistem pembayaran terhadap produksi jeruk yang dipasarkan juga sangat beragam. Sistem dimaksud meliputi pembayaran kontan/tunai, pembayaran tunda, sistem cicil, bahkan ada yang telah membayar sebagian di depan saat sebelum panen tiba. Sistem terakhir ini bisa disebut sebagai sistem ijon semu karena hampir menyerupai sistem ijon, namun harga jual jeruk ditentukan saat panen dan menurut harga pasar yang berlaku. Jika tidak terjadi kesepakatan, petani bisa menjual jeruknya kepada pembeli lain. Biasanya petani sudah meminjam uang kepada pedagang dan sepakat untuk di potong-bayar dengan penjualan jeruk kepada pedagang bersangkutan. Sedikitnya kondisi ini menjadi perangkap pedagang dalam memegang petani untuk kepastian perolehan barang dagangan. Secara berjenjang pelaku pemasaran jeruk meliputi petani, pedagang pengumpul, pedagang antar kabupaten /provinsi atau pengirim, grosir di Pasar Induk/lapak dan pengecer. Kegiatan pemasaran terpola dari hulu sampai hilir,namun pelakunya banyak yang double role. Misalnya, pedagang pengumpul merangkap pedagang pengirim, petani merangkap pedagang pengumpul sekaligus pengirim. Atau pedagang pengumpul merangkap pengirim dan grosir. Oleh karena itu, jalur pemasarannya bisa digolongkan sederhana. Dalam beberapa kasus pedagang pengumpul yang langsung membeli ke petani merupakan kaki tangan pedagang pengirim, pedagang grosir atau toke. Perbedaan ketiga pola pemasaran tersebut dapat dilihat pada Tabel 36. Tabel 36. Perbedaan Ketiga Jenis Pola Pemasaran Jeruk Pelaksanaan Pelaku Kegiatan Petik Sortir Grading Packing Pengang kutan Pola Pertama Petani v - v v Pedagang v Pola Kedua Petani Pedagang v v v v v Sistem ijon Petani v - v v Semu Pedagang v v Keterangan v : Pelaku Peminjaman Modal

106 Interaksi sesama petani diperkuat pengamatan terhadap kehidupan petani yang menanam jeruk terlebih dahulu, telah mendorong petani lain untuk berusahatani komoditas yang sama. Data menunjukkan perkembangan luas pertanaman jeruk yang cukup pesat dari sekitar 11.000Ha pada tahun 2001 menjadi 14.298,17 Ha pada tahun 2005. Namun pada tahun 2009 menurun sekitar 0,30% menjadi 12.123,90 Ha namun mengalami kenaikan produksi sebesar 1,23 % (Tabel 37). Sebagian adalah pengembangan dari lahan yang belum diusahakan, dan sebagian besar adalah perubahan usahatani dari tanaman lain menjadi tanaman jeruk. Hal ini mengindikasikan bahwa orientasi petani jeruk Tanah Karo sepenuhnya untuk komersial. Upaya berusahatani secara maksimal bertujuan meningkatkan produksi agar bisa dijual dan menghasilkan uang. Dari keseluruhan produksi, lebih kurang 97% dijual atau dipasarkan. Sisanya merupakan produksi yang dikonsumsi oleh petani dan keluarganya. Tabel 37. Luas Pertanaman dan Produksi Jeruk No Tahun Luas Pertanaman (Ha) Produksi (Ton) 1 2005 14.298,17 542.237,00 2 2006 14.304,45 588.706,00 3 2007 13.850,22 653.622,75 4 2008 12.160,57 408.912,00 5 2009 12.123,90 413.968,66 Sumber Dinas Pertanian Kabupaten Karo. Seperti layaknya komoditi buah lain, jeruk Tanah Karo dijual dalam bentuk segar. Hingga ke tingkat konsumen buah dijual dalam bentuk yang sama. Hingga saat ini belum ada penanganan pengolahan jeruk baik untuk sirup maupun jus. Meskipun demikian, pemikiran dan upaya ke arah sana sudah ada. Memperhatikan sistem penjualan yang umum berlaku,indikator pengukuran penjualan adalah berat atau dengan cara ditimbang. Penjualan pada tingkat produsen, saat petani menjual produksinya kepada pedagang yang datang langsung ke kebun, penentuan harga terkesan memakai sistem borongan. Tetapi harga total oleh petani maupun pedagang dihitung berdasarkan berat. Pedagang sendiri melakukan penawaran harga dengan mempertimbangkan berat dan prosentase kelas mutu. Memperhatikan kelembagaan pemasaran jeruk Tanah Karo maka secara sederhana rantai pemasaran bisa digambarkan sebagai berikut.

107 Daerah Produksi Petani Pedagang /Pengumpul Pengirim /grosir Pedagang antar kabupaten / provinsi Bandar di Pasar Induk Pedagang Pengecer Daerah Konsumen Pedagang Pengecer Pasar Modern Konsumen Gambar 19. Rantai Tata Niaga Jeruk Penyebaran marjin keuntungan jeruk tersebut ke pusat pasar konsumen dapat dikatakan tidak merata. Hal ini disebabkan karena perbedaan harga di tingkat produsen dan harga di tingkat konsumen yang terlalu besar. Harga yang berlaku diambil pada bulan September 2011. Harga dan marjin pemasaran jeruk dapat dilihat pada Tabel 38 dan Tabel 39. Tabel 38. Harga Jeruk Yang Diterima Pada Setiap Lembaga Pemasaran No Rantai Pemasaran Harga Yang Diterima (Rp) 1 Petani 3.500 2 Pedagang Pengumpul 5.500 3 Pengirim / Grosir 7.500 4 Pedagang Antar Kabupaten/ Provinsi 8.500 5 Bandar di Pasar Induk 8.500 6 Pedagang Pengecer 10.000 7 Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 12.000 8 Pasar Modern 11.500 9 Konsumen Pasar Modern 15.000

108 Tabel 39. Marjin Pemasaran Jeruk No Rantai Pemasaran Marjin (Rp) 1 Petani - Pedagang Pengumpul 2.000 2 Petani - Pengirim / Grosir 4.000 3 Petani - Pedagang Antar Kabupaten/ Provinsi 5.000 4 Pedagang Pengumpul - Pedagang Antar Kabupaten/ 3.000 Provinsi 5 Pengirim / Grosir - Bandar di Pasar Induk 1.000 6 Pedagang Antar Kabupaten/ Provinsi - Pedagang Pengecer 1.500 7 Bandar di Pasar Induk - Pedagang Pengecer 1.500 8 Bandar di Pasar Induk - Pasar Modern 3.000 9 Pedagang Pengecer - Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 2.000 10 Pasar Modern Konsumen Pasar Modern 3.500 Berdasarkan data konsumsi buah-buahan hasil Susenas tahun 2009 konsumsi perkapita buah-buahan segar sebesar 32,59 Kg/ kapita/tahun dan data produksi Jeruk Kabupaten Karo tahun 2009 sebesar 890.091 ton, jika dari hasil susenas tersebut diasumsikan bahwa 0,5 % adalah konsumsi untuk buah jeruk maka konsumsi buah jeruk sebesar 0,162Kg /tahun. Jumlah penduduk Kabupaten Karo tahun 2009 adalah 360.880 jiwa, sehingga total kebutuhan konsumsi jeruk sebesar 58,462 ton. Artinya bahwa ada kelebihan sebesar 890.032,53 ton yang setiap tahunnya keluar dalam bentuk segar dari kabupaten Karo ke wilayah lain. Berdasarkan hasil di lapangan terlihat bahwa hasil produksi jeruk di Kabupaten Karo semuanya di jual dalam bentuk segar (raw material) karena dalam rantai pemasaran tidak terlihat adanya hubungan ke bentuk industri pengolahan maka nilai tambah dari sektor ini dapat dikatakan sangat kecil terhadap wilayahnya. Hal ini memperbesar peluang terjadinya kebocoran wilayah. Dan hal ini juga didukung oleh pengolahan dari tabel struktur tabel Input-Output bahwa sektor buah-buahan ini belum memiliki nilai keterkaitan dengan sektor pengolahan artinya bahwa sektor ini belum mampu menjadi penggerak untuk tumbuhnya sektor perekonomian lainnya.

109 B. Tata Niaga Sayuran Pada penelitian ini contoh komoditas yang dihitung nilai marjin tata niaganya untuk setiap elemen rantai pasokan adalah Kubis, kentang dan wortel. Sayuran di ketiga wilayah dipasarkan ke beberapa pasar induk. Pengumpul dan pedagang besar/bandar merupakan warga Tanah Karo, meskipun mereka bukan merupakan warga asli dari wilayah penelitian ini. Sering terjadi bandar membeli sayuran dan menjualnya di los miliknya di pasar induk. Rantai tata niaga sayuran melibatkan petani, pengumpul kecil, pengumpul besar, bandar, pedagang tradisional, pengecer dan konsumen. Transaksi dilakukan oleh petani dengan pengumpul kecil, pengumpul besar dan bandar terjadi di dalam wilayah produksi. Saluran pemasaran sayuran kubis, kentang dan wortel dari pusat produksi ke pusat pasar melalui rantai pemasaran sebagai berikut : (1) Pola Pertama : petani menjual sayuran kepada pedagang pengumpul, selanjutnya dijual kepada pedagang besar/ bandar dengan perlakuan khusus, pedagang besar menjual kepada pedagang eceran di pusat pasar konsumen, kemudian pengecer menjualnya ke konsumen. (2) Pola kedua: petani menjual kepada pedagang pengumpul kemudian pedagang pengumpul menjual ke pedagang eceran dan pengecer menjualnya langsung ke konsumen. (3) Pola ketiga : petani menjual sayuran ke pedagang pengumpul, selanjutnya pengumpul langsung menjualnya ke konsumen di tempat-tempat yang telah disediakan. Secara umum rantai tata niaga yang terjadi dapat digambar pada Gambar 20.

110 Petani Pedagang Pengumpul Kecil Pedagang Pengumpul Besar Bandar Pasar Induk Grosir / Pedagang Besar Pedagang Antar Daerah Pasar Modern Pedagang Pasar Tradisonal Pengecer Konsumen Gambar 20. Rantai Tata Niaga Sayuran Secara Umum Proses yang dilakukan oleh petani hanya pencucian dan tanpa pengemasan. Pengumpul besar menerima hasil sayuran dari petani atau pengumpul kecil, melakukan proses penimbangan dan pembayaran secara tunai. Proses pengumpulan dilakukan di rumah pengumpul atau di tempat-tempat tertentu yang telah disepakati bersama. Pengumpul besar lainnya ada juga berasal dari luar wilayah produksi ini. Fungsi pemasaran yang dilakukan dalam hal ini adalah fungsi pertukaran yaitu penjualan dan pembelian, fungsi fisik yaitu pengangkutan dan fungsi fasilitas yaitu grading, standardisasi dan penanggung resiko. Marjin pemasaran

111 yang terjadi dari pusat produksi Kabupaten Karo ke pusat pasar menyebar tidak merata diantara lembaga-lembaga pemasaran. Sayuran yang diproduksi dan yang dianalisis di ketiga wilayah penelitian antara lain : a. Komoditas Kubis. Penyebaran marjin keuntungan sayuran kubis ke pusat pasar konsumen juga tidak merata. Hal ini disebabkan karena perbedaan harga di tingkat produsen dan harga di tingkat konsumen yang terlalu besar. Tabel 40 Harga Kubis Yang Diterima Pada Setiap Lembaga Pemasaran No Rantai Pemasaran Harga Yang Diterima (Rp) 1 Petani 862 2 Pedagang Pengumpul Kecil 900 3 Pedagang Pengumpul Besar 920 4 Bandar di Pasar Induk 1050 5 Grosir/ Pedagang Besar 1200 6 Pedagang Antar Daerah 1200 7 Pasar Tradisonal 1250 8 Pedagang Pengecer 1300 9 Pasar Modern 1500 10 Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 1400 11 Konsumen Pasar Modern 1700 Tabel 41 Marjin Pemasaran Kubis No Rantai Pemasaran Marjin (Rp) 1 Petani - Pedagang Pengumpul Kecil 38 2 Pedagang Pengumpul Kecil - Pedagang Pengumpul Besar 20 3 Pedagang Pengumpul Besar - Bandar di Pasar Induk 130 4 Bandar di Pasar Induk Grosir / pedagang besar 150 5 Bandar di Pasar Induk Pedagang Antar Daerah 150 6 Grosir / pedagang besar - Pasar Modern 300 7 Grosir / pedagang besar - Pasar tradisional 50 8 Pedagang Antar Daerah - Pasar Modern 300 9 Pedagang Antar Daerah- Pasar tradisional 50 10 Pasar tradisional - Pedagang Pengecer 50 11 Pedagang Pengecer - Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 100 12 Pasar Modern Konsumen Pasar Modern 200

112 b. Komoditi Kentang Tingginya harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir memberikan marjin keuntungan pemasaran kentang cukup besar untuk pemasaran dari pusat produksi ke pasar konsumen, sebaliknya rendahnya harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir kepada pedagang pengecer menyebabkan rendahnya marjin keuntungan pemasaran kentang dari pusat produksi ke pusat pasar konsumen. Tabel 42. Harga Kentang Yang Diterima Pada Setiap Lembaga Pemasaran No Rantai Pemasaran Harga Yang Diterima (Rp) 1 Petani 2250 2 Pedagang Pengumpul Kecil 2400 3 Pedagang Pengumpul Besar 2500 4 Bandar di Pasar Induk 2700 5 Grosir/ Pedagang Besar 2850 6 Pedagang Antar Daerah 3900 7 Pasar Tradisional 4000 8 Pedagang Pengecer 4100 9 Pasar Modern 5700 10 Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 4300 11 Konsumen Pasar Modern 6200 Tabel 43. Marjin Pemasaran Kentang No Rantai Pemasaran Marjin (Rp) 1 Petani - Pedagang Pengumpul Kecil 150 2 Pedagang Pengumpul Kecil - Pedagang Pengumpul Besar 100 3 Pedagang Pengumpul Besar - Bandar di Pasar Induk 200 4 Bandar di Pasar Induk Grosir / pedagang besar 150 5 Bandar di Pasar Induk Pedagang Antar Daerah 1.200 6 Grosir / pedagang besar - Pasar Modern 2.850 7 Grosir / pedagang besar - Pasar tradisional 1.150 8 Pedagang Antar Daerah - Pasar Modern 1.800 9 Pedagang Antar Daerah- Pasar tradisional 100 10 Pasar tradisional - Pedagang Pengecer 100 11 Pedagang Pengecer - Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 200 12 Pasar Modern Konsumen Pasar Modern 500 c. Komoditas Wortel Total marjin pemasaran pemasaran wortel dari pusat produksi ke konsumen sebesarrp. 1100,00 Marjin keuntungan pemasaran wortel yang diperoleh pedagang pengumpul sebesar 13,63 %, pedagang besar 59,09 % dan pedagang pengecer sebesar 27,27%. Dari hasil tersebut tampak bahwa

113 marjin keuntungan pemasaran yang lebih besar diterima oleh pedagang besar. Tabel 44. Harga Wortel Yang Diterima Pada Setiap Lembaga Pemasaran No Rantai Pemasaran Harga Yang Diterima (Rp) 1 Petani 850 2 Pedagang Pengumpul Kecil 900 3 Pedagang Pengumpul Besar 920 4 Bandar di Pasar Induk 1050 5 Grosir/ Pedagang Besar 1200 6 Pedagang Antar Daerah 1500 7 Pasar Tradisional 1700 8 Pedagang Pengecer 1800 9 Pasar Modern 2000 10 Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 2350 11 Konsumen Pasar Modern 2500 Tabel 45. Marjin Pemasaran Wortel No Rantai Pemasaran Marjin (Rp) 1 Petani - Pedagang Pengumpul Kecil 50 2 Pedagang Pengumpul Kecil - Pedagang Pengumpul Besar 20 3 Pedagang Pengumpul Besar - Bandar di Pasar Induk 130 4 Bandar di Pasar Induk Grosir / pedagang besar 150 5 Bandar di Pasar Induk Pedagang Antar Daerah 450 6 Grosir / pedagang besar - Pasar Modern 800 7 Grosir / pedagang besar - Pasar tradisional 500 8 Pedagang Antar Daerah - Pasar Modern 500 9 Pedagang Antar Daerah- Pasar tradisional 200 10 Pasar tradisional - Pedagang Pengecer 100 11 Pedagang Pengecer - Konsumen (Pasar tradisional/eceran) 550 12 Pasar Modern Konsumen Pasar Modern 500 Jika diperhatikan pada Tabel 40, 41, 42, 43, 44 dan 45 terlihat bahwa marjin yang ditimbulkan dari masing-masing komoditas pada setiap rantai pemasaran cukup beragam. Hal ini disebabkan karena semakin panjang rantai pemasaran maka resiko yang ditanggung terhadap komoditas sayuran juga semakin besar. Produksi komoditas sayuran dari Kabupaten Karo memiliki daerah konsumen yang relatif tersebar, kondisi demikian menyebabkan jarak pemasaran sayuran menjadi relatif jauh. Salah satu konsekuensinya adalah marjin pemaaran sayuran yang meliputi biaya sewa alat pengangkutan, biaya pengepakan, resiko kerusakan selama pengangkutan dan keuntungan pedagang yang akan relatif tinggi. Marjin pemasaran sayuran yang paling tinggi terjadi

114 pada komoditas kentang yakni pada rantai grosir ke pasar modern sebesar Rp. 2.850,00. Dalam nilai relatif harga konsumen, marjin pemasaran membentuk nilai yang diterima petani menjadi berbeda, hal ini disebabkan oleh : 1) Petani sayuran memilki posisi tawar yang relatif rendah dalam memasarkan hasil panennya. Kondisi demikian dapat terjadi akibat ketidak mampuan petani sayuran untuk menahan penjualannyadengan tujuan mendapatkan harga jual yang cukup tinggi. Ketidak mampuan petani tersebut dapat didorong oleh faktor komoditas sayuran umunya relatif lebih cepat busuk sedangkan di tingkat petani penerapan teknologi penyimpanan sayuran yang dapat memperlambat proses pembusukan masih sangat terbatas 2) Adanya kekuatan monopsoni/oligopsoni dalam pemasaran sayuran sehingga petani sayuran dihadapkan pada keterbatasa alternatif pemasaran. Tata niaga komoditas hortikultura khususnya sayuran untuk Supermarket, petani memiliki halangan. Petani Karo sudah ada yang mencoba memasuki pasar swalayan, namun karena rantai tata niaga yang terlalu panjang dan sarana penyimpanan serta pelayanan logistik yang kurang baik berakibat pada kurang terpenuhinya jumlah pasokan sesuai kebutuhan pasar swalayan. Hal ini membuat pola kemitraan antara petani dengan pasar swalayan masih sulit terlaksana. Namun demikian, ada beberapa petani yang berhasil menembus pasar tersebut meskipun hubungan dengan pasar swalayan masih tergantung pada produksi sesuai musim tanam, sehingga pola pemasaran ke swalayan tidak kontinu. Agar petani dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi maka perlu dilakukan perbaikan signifikan terhadap rantai-rantai penawaran domestik. Peningkatan nilai tambah seyogyanya sudah dapat dilakukan di tingkat petani/ kelompok tani, dengan peningkatan proses pasca panen, maka diharapkan juga dapat menjadi pertimbangan terbukanya akses ke pasar-pasar swalayan. Meskipun elemen tata niaga selain petani memperoleh marjin yang lebih banyak, tetapi terdapat perspektif lainnya yaitu resiko yang harus ditanggung oleh setiap elemen dalam tata naga. Sifat produk hortikultura yang mudah sekali rusak dan tidak tahan lama, mengakibatkan resiko kerusakan harus ditanggung oleh petani, pengumpul, bandar, pengecer dan bahkan konsumen.

115 Petani memiliki posisi yang rendah dalam penentuan harga. Produk yang dihasilkan petani harus dipanen sesuai waktu dan dijual segera untuk menghindari terjadinya kerusakan. Oleh karena itu, petani akan menjual berapapun harga yang ditetapkan oleh pengumpul/ bandar, meskipun harga yang ditetapkan tersebut rendah, bahkan terkadang mengakibatkan kerugian pada pihak petani. Petani memiliki posisi lemah dalam sistem agrbisnis. Ke hulu (ke penyedia saprodi) mereka lemah karena pengadaan sarana produksi pertanian dikuasai pihak lain yang belum tentu kondusif terhadap kebutuhan para petani. Ke hilir (ke industri pengolahan dan pemasaran) mereka juga lemah karena jalur pemasaran hasil dikuasai oleh pihak lain. Pada prinsipnya hanya petanilah yang harus dapat memperbaiki posisinya dalam pasar. Jika petani tidak dapat melakukannya sendiri dapat dilakukan secara kelompok sehingga diharapkan mampu menciptakan posisi tawar yang lebih baik. Petani juga membutuhkan pihak luar untuk meningkatkan posisi tawarnya atau dengan kata lain pola kemitraan masih dibutuhkan untuk mencapai dua tujuan pemberdayaan di atas. Kemitraan itu seharusnya ada pada tataran independen, yang berarti bahwa setiap pihak yang bermitra itu berada pada posisi yang sederajat, kemandirian serta saling menghormati keberadaan dan kebutuhan mitranya. Dalam posisi ini tidak ada pihak yang dominan. Dengan pola hubungan seperti ini, maka kemitraan itu akan menghasilkan sinergi. Jadi secara konseptual sungguh tidak mungkin tercipta pola hubungan yang interdependen jika salah satu pihak tampil dengan dominasinya sendiri-sendiri. Ketiadaan fasilitas/ sarana prasarana penyimpanan seperti cold storage, chiller mengakibatkan juga sayuran menjadi cepat rusak dan harus segera dijual. Penanganan pasca panen dengan tepat dan benar sangat dibutuhkan agar produk sayuran menjadi lebih tahan lama. Pengumpul merupakan elemen tata niaga dengan resiko terendah, karena hanya mengumpulkan produk dari petani di suatu tempat. Pengemasan dilakukan oleh pengumpul. Selang waktu yang dibutuhkan dari pengumpulan tidak melebihi waktu sehari, sehingga resikonya tidak terlalu besar. Bandar memiliki resiko yang lebih tinggi daripada pengumpul. Resiko bandar antara lain adalah resiko selama transportasi. Bandar menanggung biaya

116 transaksi seperti biaya transportasi dan pungutan- pungutan di jalan dan di pasar. Resiko lainnya yakni resiko kerusakan selama di perjalanan. Hal tersebut dipengaruhi oleh penanganan pasca panen dan teknik penyimpanan di dalam truk yang tidak tepat. Pedagang juga memiliki resiko. Sebagai rantai tata niaga di tingkat akhir sebelum sampai ke konsumen, bila penanganan sebelumnya kurang benar maka produk yang diterima merupakan produk dengan kualitas yang kurang baik. Hal ini berakibat pada resiko kerusakan yang lebih banyak. Dari setiap marjin yang dibentuk, share petani (besarnya kontribusi harga yang diterima) terlihat seperti pada Tabel 46. Tabel 46 Share Petani No Komoditas Pemasaran Share Petani (%) 1 Jeruk Konsumen Pasar Tradisional 30,43 Konsumen Pasar Modern 23,33 2 Kubis Konsumen Pasar Tradisional 61,57 Konsumen Pasar Modern 50,72 3 Kentang Konsumen Pasar Tradisional 52,32 Konsumen Pasar Modern 36,92 4 Wortel Konsumen Pasar Tradisional 36,17 Konsumen Pasar Modern 34,00 Jika dilihat pada Tabel 46 maka bagian yang diterima petani dalam pembentukan harga cukup besar. Dalam pemasaran hortikultura (jeruk, kubis, kentang dan wortel), transmisi harga dari tingkat konsumen kepada petani pada umumnya berbeda menurut komoditas dan dalam kajian ini berkisar antara 23,33 % sampai 61,57%. Variasi transmisi harga tersebut secara umum dipengaruhi oleh dua faktor yaitu : 1) Adanya kekuatan monopsoni/oligopsoni pada pedagang sehingga mereka memiliki kekuatan untuk mengendalikan harga beli dari petani atau harga di tingkat produsen. Adanya kekuatan monopsoni pada pedagang menyebabkan kenaikan harga yang terjadi di tingkat konsumen tidak selalu diteruskan kepada petani secara sempurna.

117 2) Rantai pemasaranyang semakin panjangyang memungkinkan terjadinya akumulasi bias transmisi harga yang semakin besar. Sama seperti komoditas buah-buahan, hasil Susenas tahun 2009 konsumsi perkapita sayur-sayuran segar sebesar 42,62 Kg/ kapita/tahun dan data produksi sayur-sayuran Kabupaten Karo tahun 2009 sebesar 2.703,08 ton,sumbangan produksi kentang, wortel dan kubis sebesar 787,59 ton (29,13%), jika dari hasil susenas tersebut diasumsikan bahwa 0,5 % adalah konsumsi untuk kentang, kubis dan wortel maka konsumsi ketiga komoditas tersebut sebesar 0,213 Kg /tahun. Jumlah penduduk Kabupaten Karo tahun 2009 adalah 360.880 jiwa, sehingga total kebutuhan konsumsi sebesar 76,867 ton/thn. Artinya bahwa ada kelebihan ketiga komoditas tersebut sebesar 710,723 ton yang setiap tahunnya keluar dalam bentuk segar dari Kabupaten Karo ke wilayah lain. Dari hasil kajian terlihat bahwa produksi sayuran di Kabupaten Karo semuanya juga masih di jual dalam bentuk segar (raw material) karena dalam rantai pemasaran tidak terlihat adanya hubungan ke bentuk industri pengolahan maka nilai tambah dari sektor ini dapat dikatakan sangat kecil terhadap wilayahnya, hal ini menujukkan bahwa semakin memperbesar peluang terjadinya kebocoran wilayah. Dan hal ini juga didukung oleh pengolahan dari tabel struktur tabel Input-output bahwa sektor sayur-sayuran ini belum memiliki nilai keterkaitan dengan sektor pengolahan artinya bahwa sektor ini belum mampu menjadi penggerak untuk tumbuhnya sektor perekonomian lainnya khususnya pengolahan. Gambaran aliran dan arahan wilayah industri pengolahan dapat dilihat pada Gambar 21.

118 Gambar 21 Aliran Komoditas Hortikultura Ke Luar Wilayah dan Arahan Lokasi Industri Pengolahan Hortikultura Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Karo dan Arahan Lokasi Industri Pengolahan Berastagi Kabanjahe Keterangan: Komoditas Hortikultura mengalir dari kabupaten Karo ke luar wilayahnya dalam bentuk segar. Industri pengolahan diarahkan di ibukota kabupaten Karo (Kabanjahe) dan Berastagi sebagai salah satu lokasi pasar induk kabupaten Karo.

119 5.3.Sintesis Hasil Analisis 5.3.1. Makro Peran hortikultura terhadap perekonomian wilayah dapat diketahui persentase PDRB sektor-sektor hortikultura terhadap total PDRB, persentase output total sektor-sektor hortikultura terhadap keseluruhan output total, keterkaitan sektor hortikultura dengan sektor-sektor lainnya dan nilai multiplier. Kontribusi PDRB sayur-sayuran dan buah-buahan masing masing terhadap sektor pertanian berturut-turut adalah adalah : 0,067% dan 0,025%, sementara untuk kontribusi total PDRB sayur-sayuran dan buah-buahan memberikan sumbangan sebesar : 0,04% dan 0,015%. Berdasarkan kontribusi output total, maka peran kedua sektor menunjukkan kontribusi yang rendah terhadap pembentukan output total. Dari hasil analisis Nilai keterkaitan ke depan (DFL) dan keterkaitan ke belakang (DBL) sektor-sektor hortikultura dengan sektor-sektor lainnya terlihat bahwa sektor sayur- sayuran dan buah-buahan memiliki nilai DFL yang lebih kecil dibandingkan nilai DBL. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan output kedua sektor tersebut lebih besar oleh sektornya sendiri dibandingkan dengan penggunaan oleh sektor lainnya. Nilai Indeks Penyebaran (IDP) sayur- sayuran lebih dari satu menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya atau meningkatkan output sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor tersebut. Sedangkan buah-buahan memiliki nilai yang kurang dari satu, menunjukkan bahwa sektor tersebut kurang mampu dalam menarik sektor hulunya. Nilai Indeks Kepekaan (IDK) sektor-sayur-sayuran dan buah-buahan kurang dari satu, menunjukkan bahwa sektor tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor hilir yang memakai input dari sektor tersebut. Hal ini berarti bahwa sektor sayur-sayuran dan buahbuahan kurang memiliki kemampuan untuk mendorong sektor-sektor hilir yang menggunakan outputnya sebagai input produksi. Berdasarkan hasil kajian terlihat bahwa ke dua sektor tersebut memiliki keterkaitan yang lemah dengan sektor hilirnya. Keterkaitan sektor hortikultura

120 dengan sektor hulunya lebih kuat bila dibandingkan dengan sektor hulunya. Hal ini dicirikan dengan lebih kuatnya keterkaitan sektor hortikultura dengan sektorsektor lain ke belakang dibandingkan dengan keterkaitan ke depan. Keterkaitan ke depan sektor sayuran dan buah-buahan dengan sektor pengolahan (industri bukan migas) sangat kecil yaitu 0,00087 untuk sektor sayursayuran dan 0,00235 untuk sektor buah-buahan. Berdasarkan analisis terhadap sistem agribisnis, maka industri pengolahan khusus untuk sektor tersebut masih relatif sedikit dan berada di luar wilayah produksi. Hal ini merupakan salah satu indikasi terjadinya kebocoran wilayah, apabila kegiatan pengolahan tersebut dilakukan di dalam wilayah maka tentu saja akan lebih bermanfaat bagi masyarakat di dalam wilayah dan juga bagi wilayah itu sendiri. Oleh karena itu, industri pengolahan yang dikembangkan dapat berupa industri skala kecil maupun menengah sehingga dapat dikelola oleh petani maupun kelompok tani. Industri skala kecil dan menengah dikembangkan dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja. Dengan pengembangan subsistem hilir dalam bentuk industri pengolahan skala kecil dan menengah oleh petani/kelompok tani diharapkan nilai tambah subsistem hilir dapat diperoleh oleh petani/kelompok tani. Keterkaitan yang terjadi antara sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor perdagangan besar dan eceran merupakan keterkaitan ke belakang, bukan merupakan keterkaitan ke depan. Transaksi antara elemen tataniaga juga terjadi di luar wilayah kabupaten Karo. Keterkaitan ke depan antara ke dua sektor ini dengan perdagangan besar dan eceran tidak ada. Bila dikoreksi dengan marjin tata niaga, maka pihak yang lebih banyak mendapatkan keuntungan dalam transaksi adalah pengumpul atau pedagang besar dan transaksi tersebut di dalam wilayah. Dalam analisis ini, nilai transaksi ekspor tidak dirinci dan hanya masuk dalam permintaan akhir. Kemungkinan tidak terkaitnya ke dua sektor tersebut dengan sektor perdagangan besar dan eceran adalah karena komoditas hortikultura lebih banyak di perdagangkan di luar wilayah. Bila hal ini terjadi, maka ada indikasi telah terjadinya kebocoran wilayah di dalam perdagangan. Keterkaitan ke belakang dengan sektor perdagangan besar dan eceran berhubungan dengan perdagangan input produksi sektor hortikultura. Hal ini

121 menunjukkan perkembangan di subsistem hulu. Subsistem hulu merupakan susbistem yang menyediakan sarana produksi pertanian primer bagi subsistem budidaya, baik industri maupun perdagangannya. Bila dihubungkan, maka keterkaitan sektor hortikultura ke belakang dengan sektor perdagangan besar dan eceran merupakan keterkaitan perdagangan sarana produksi pertanian primer. Sebagai contoh adalah keterkaitan dengan kios sarana produksi yang menyediakan sarana produksi pertanian primer untuk kegiatan budidaya seperti polybag, pupuk kimia, pestisida dan lain-lain. Keterkaitan lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitan yang terjadi di dalam masing-masing subsistem agribisnis itu sendiri. Sebagai contoh dalam subsistem budidaya menghasilkan limbah tanaman yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Perbanyakan tanaman juga dapat dilakukan dari bagian tanaman itu sendiri. Keterkaitan di dalam subsistem hulu dapat dilakukan melalui kegiatan produksi dan perdagangan dari sarana produksi pertanian primer yang dilakukan di dalam suatu kelembagaan, seperti kelompok tani. Kelompok tani dapat berperan dalam penyediaan sarana produksi, baik kegiatan produksi pupuk organik dari limbah tanaman yang ada, sedangkan kegiatan perdagangan dapat dilakukan melalui penjualan sarana produksi pertanian primer seperti benih, pupuk, pestisida, polybag dan lain-lain. Suatu sektor dengan keterkaitan ke depan dan belakang lebih besar dengan sektor-sektor lainnya, memiliki potensi kebocoran wilayah yang lebih kecil dibandingkan apabila sektor tersebut memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang lebih kecil dengan sektor-sektor lainnya. Efek pengganda dari sektor ini lebih tinggi bila keterkaitan menyebar dalam suatu perekonomian (Reis dan Rua, 2006). 5.3.2 Mikro Sistem agribisnis sebagai suatu sistem yang terdiri dari subsistem hulu, usahatani, hilir dan jasa layanan pendukung merupakan suatu sistem yang secara keseluruhan memerlukan keterkaitan antar subsistem-subsistem tersebut.

122 Keterkaitan antar subsistem tersebut dapat menggambarkan perekonomian di suatu wilayah. Keterkaitan antar subsistem tersebut didukung pula oleh kelengkapan sarana prasarana yang dimiliki oleh suatu wilayah baik sarana prasarana wilayah maupun sarana prasarana agribisnis itu sendiri. Kelengkapan sarana prasana tersebut juga dapat menggambarkan tingkat perkembangan wilayah. Dalam kajian ini kelengkapan sarana prasarana tersebut dikaji menggunakan data Potensi Desa (Podes) tahun 2008 dan kondisi lapang yang ditemui pada saat melakukan kajian. Sarana dan parasarana yang dikaji dikelompokkan dalam tiga kategori yakni permodalan, pasar dan umum. Sarana dan prasarana permodalan dan berperan juga dalam penyedia saprodi yang dikaji adalah KUD/ koperasi, sarana dan prasarana pasar yang dikaji adalah ketersediaan pasar di tiap-tiap kecamatan dan untuk kategori umum adalah pelayanan kesehatan dan pendidikan. Sarana prasarana permodalan dan pasar dikaji untuk menjawab perkembangan usaha agribisnis, sementara kategori umum dikaji untuk melihat kesiapan SDM dalam pelaksanaan agribisnis hortikultura. Wilayah dengan kelengkapan sarana prasarana yang tertinggi berdasarkan analisis skalogram dimasukkan dalam kelompok hirarki satu. Sarana produksi pertanian primer yang diperlukan oleh petani sudah dapat disediakan oleh kios saprodi dan beberapa Koperasi. Berdasarkan analisis skalogram dengan menggunakan data PODES diketahui bahwa kios sarana produksi yang ada di tiga kecamatan tersebut adalah koperasi yang berbentuk KUD. Perkembangan subsistem budidaya dicirikan oleh teknologi budidaya yang dilakukan petani. Petani juga sudah mulai menyadari adanya penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan pengendalian hama penyakit tanaman dengan menggunakan tenknik Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Perkembangan subsistem budidaya juga didukung dengan fasilitas budidaya yang baik seperti sudah mulai terlihat penggunaan mulsa dan screen house di beberapa pertanaman. Subsistem hilir merupakan subsistem yang memiliki nilai tambah besar dibandingkan dengan subsistem budidaya. Nilai tambah hortikultura merupakan nilai tambah yang diperoleh melalui penanganan pasca panen. Kebanyakan

123 produk hortikultura merupakan produk yang dijual dalam bentuk segar. Oleh karena itu keterkaitan dengan industri pengolahan tidaklah besar. Berdasarkan hasil deskripsi sistem agrbisnis, penanganan pada bagian hilir masih terbatas pada kegiatan sortasi dan packing belum menyentuh pada arah pengolahan, sehingga pada saat panen raya dan harga tidak terlalu tinggi ditambah lagi dengan upah tenaga kerja yang besar mengakibatkan banyak pertanaman yang tidak dipanen, petani membiarkan tanamannya begitu saja. Semestinya hal ini dapat diatasi jika sudah ada kegiatan pengolahan terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh petani. Aspek lain dari subsistem hilir adalah pemasaran. Produk hortikultura di Kabupaten Karo lebih banyak yang dipasarkan ke luar wilayah dibanding dengan pemasaran di dalam wilayah. Komoditas hortikultura yang dihasilkan kebanyakan dipasarkan secara segarke pasar di luar wilayah kabupaten Karo seperti Kota Medan, Jakarta, Pekan Baru dan wilayah di sekitarnya. Petani juga sudah dapat mengakses informasi mengenai teknologi budidaya dari luar. Peran penyuluh dalam subsistem jasa pendukung adalah sebagai pendamping, karena petani sudah terlihat lebih mandiri. Kelembagaan sebagai penunjang juga berkembang di ketiga kecamatan tersebut. Kelompok tani yang ada di ketiga kecamatan cukup banyak. Jumlah kelembagan kelompok tani yang ada di ketiga wilayah tersebut adalah sebagai berikut: Kecamatan Simpang Empat 223 kelompok tani, Kecamatan Tiga Panah 277 kelompok tani dan Kecamatan Barusjahe 217 kelompok tani. Berdasarkan kelengkapan sarana dan prasarana sistem pemukiman, desadesa di kecamatan Barus Jahe, Tiga Panah dan Simpang Empat sudah dapat memenuhi persyaratan sarana dan prasarana dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Untuk fasilitas pendidikan dapat ditunjang dengan keberadaan sarana pendidikan di ibukota kecamatan dan ibukota kabupaten. Prasarana penunjang pasar juga sudah berkembang baik untuk toko grosir, eceran, dan warung. Berdasarkan kelengkapan jumlah fasiltas yang ada di ketiga wilayah tersebut yaitu dari fasilitas yang dianalisa, maka fasilitas yang terlengkap adalah fasiltas pelayanan kesehatan, para medis, pasar, KUD/Koperasi, Industri rumah tangga. Hirarki wilayah dengan hirarki terendah didominasi oleh hirarki 3 (tiga)

124 sebesar 74,14 % dari angka tersebut 31,03% berada di kecamatan Tiga Panah. Di setiap kecamatan, desa-desa dengan hirarki 3 (tiga) juga memiliki persentase tertinggi dibandingkan dengan desa-desa dengan hirarki 1 (satu) dan 2 (dua). Berdasarkan persentase, di Kecamatan Simpang Empat desa dengan Hirarki 1(satu ) sebesar 11,775, Hiraki 2 (dua) sebesar 35,29% dan Hirarki 3 (tiga) sebesar 52,94 %, desa dengan hirarki 1 (satu) di Kecamatan Tiga Panah sebesar 9,09%, hiarki 2(dua) sebesar 9,09% dan hirarki 3 (tiga) sebesar 81,83%, di Kecamatan Barus Jahe untuk desa dengan hirarki 1 (satu),sebesar 5,26%, hirarki 2(dua) sebesar 10,54% dan hirarki 3 (tiga) sebesar 84,21%. Dari masing-masing kecamatan berdasarkan tiga kategori yang digunakan dalam analisis skalogram wilayah yang paling memiliki kesiapan dalam pengembangan agribisnis hortikultura adalah Kecamatan Simpang Empat meskipun Kecamatan tersebut berdasrkan data Podes tahun 2008 belum memiliki bangunan pasar yang permanen, namun dari kriteria permodalan dan SDM sudah dianggap lebih mampu dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya. Alsin hortikultura terbagi menjadi 4 (empat) kategori yakni: (1) alsin budidaya pertanian, (2) alsin pasca panen, (3) alsin pengolahan dan (4) alsin pemasaran. Alsin budidaya terdiri dari shading net, perangkap serangga,power sprayer, mesin babat, tarktor mini dan screen house. Alsin pasca panen antara lain adalah timbangan, tangga pemanenan buah, wrapping, packing house dan alat pengepress paking plastik. Alsin pengolahan terdiri dari alat perajang, alat pembuka, blender pengolahan hasil, dan lain-lain namun untuk ketiga wilayah tersebut alsin pengolahan tersebut belum tersedia. Alsin pemasaran adalah truck dan sorong roda dua. Berdasarkan sarana dan prasarana agribisnis yang tersedia di ketiga wilayah, kecuali alsin pengolahan, ketiga sarana dan prasarana tersebut menyebar secara merata di masing-masing kecamatan.industri pengolahan belum berkembang. Banyak potensi hortikultura yang dapat dikembangkan menjadi olahan. Namun masih terdapat pola pikir bahwa bila dengan produk segar sudah dapat dijual, tidak perlu diolah menjadi produk olahan. Untuk mengusahakan agar nilai tambah lebih banyak tinggal di tingkat petani, maka fasilitas penyimpanan yang ada diharapkan tidak hanya melayani

125 jasa penyimpanan saja, tetapi terkait dengan dengan kegiatan lainnya seperti sortasi, grading, packing dan packaging, pengolahan, maupun perdagangan. Kegiatan-kegiatan peningkatan nilai tambah tersebut umumnya tidak jatuh ke petani bahkan ke pemerintah daerah. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat dikelola oleh petani, sehingga nilai tambah dapat dinikmati petani dan daerah untuk menggerakkan perekonomian daerah. Pada segmen pasar dan kualitas produk suatu agrbisnis hortikultura ditentukan oleh kemampuan agribisnis hortikutura tersebut dalam memproduksi dan memasarkan produk yang dihasilkan kepada konsumen dengan biaya serendah mungkin. Walaupun memiliki biaya produksi per unit cukup rendah, suatu agribisnis belum tentu berdaya saing tinggi jika biaya pemasaran yang dibutuhkan untuk menyampaikan produk kepada konsumen sangat tinggi. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan daya saing agribisnis seyogyanya tidak hanya ditempuh melalui peningkatan efisiensi produksi untuk menekan biaya produksi per unit produk, tetapi dilengkapi pula dengan upaya peningkatan efisiensi pemasaran dalam rangka menekan biaya pemasaran dari petani kpada konsumen. Produksi komoditas hortikultura pada umumnya terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu (sentra) sedangkan daerah konsumennya relatif tersebar. Kondisi demikian menyebabkan jarak pemasaran dari daerah produsen ke daerah konsumen relatif jauh. Salah satu konsekuensinya adalah marjin pemasaran hortikultura yang meliputi biaya sewa alat pengangkutan, biaya pengepakan, risiko kerusakan selama pengangkutan dan keuntungan pedagang relatif tinggi. Petani berperan sebagai penerima harga. Karenanya untuk mendapatkan harga yang lebih menguntungkan petani harus mampu memanfaatkan variasi harga yang terjadi di pasar baik menurut tempat, bentuk produk, waktu maupun kualitas produk. Hal ini berarti bahwa petani harus mampu mengatur pola penawarannya dengan mengatur kegiatan produksinya dan mengatur kegiatan pemasarannya yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.namun akibat berbagai faktor petani seringkali tidak mampu mengatur pola penawarannya pada pasar yang lebih menguntungkan, akibatnya share petani selalu lebih kecil dibandingkan dengan rantai pemasaran lainnya.

126 Rantai pemasaran hortikultura di Kabupaten Karo masih didominasi oleh pemasaran produk dalam bentuk segar. Belum terlihat adanya rantai pemasaran ke arah industri pengolahan. Petani masih tetap berada pada rantai produsen buah segar. Struktur agribisnis yang hanya memberikan subsistem agribisnis usahatani sebagai porsi ekonomi petani, sulit diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani. Dalam suatu sistem agribisnis, nilai tambah yang terbesar berada pada subsistem hulu dan hilir, sedangkan subsistem usahatani sangat kecil, sehingga petani yang berada pada subsistem ini akan selalu menerima pendapatan yang lebih rendah. Struktur agribisnis yang demikian menempatkan petani pada 2 (dua) kekuatan eksploitasi ekonomi, yaitu pada pasar faktor produksi, petani menghadapi kekuatan monopolistis, sedangkan pada pasar output petani menghadapi kekuatan monopsonistis. Oleh karena itu petani akan selalu dirugikan (Saragih, 2001b). Oleh karena itu, kelembagaan yang ada sebaiknya dikembangkan agar tidak hanya bergerak di tataran budidaya, tetapi bergerak ke arah pengembangan pasca panen, pengolahan dan pemasaran. Seperti yang terlihat dalam hasil kajian makro, bahwa di Kabupaten Karo belum terdapat suatu pola penghubung antara sektor sayur-sayuran dan buahbuahan dengan industri pengolahan. Demikian pula pala kajian mikro, pemasaran yang umumnya terjadi masih dalam bentuk pemasaran buah segar/ raw material. Hal ini mengindikasikan peluang terjadinya kebocoran wilayah, di mana dimungkinkan nilai tambah kedua sektor ini berada di luar Kabupaten Karo. Sehingga untuk meningkatkan harga yang diterima petani dan rantai pemasaran lainnya, serta untuk mencegah terjadinya kebocoran wilayah, selain dibutuhkan peningkatan efisiensi pemasaran dibutuhkan pula peningkatan daya saing agribisnis hortikultura. Hal tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi Kabupaten Karo. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan adanya keterkaitan antar kedua sektor ini dengan sektor industri pengolahan yang dapat memberikan nilai tambah kedua sektor tersebut.

127 5.4. Rekomendasi Kebijakan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka rekomendasi kebijakan yang disarankan adalah : 1. Dalam rangka meningkatkan akses petani dalam hal pemasaran hasil terhadap kelembagaan pemasaran seperti suplier dan pasar modern lainnya, maka diperlukan suatu penguatan kelembagaan kelompok tani yang mampu merencanakan produksi suatu komoditas secara kontinu dan pada gilirannya akan mampu meningkatkan pendapatan usaha tani. Bersamaan dengan itu dapat pula dibentuk koperasi pertanian atau penguatan kelembagaan lainnya di tingkat petani di tiap-tiap desa yang lebih efektif yang berfungsi menampung dan memasarkan komoditas petani dengan harga yang bersaing. Peran kelompok tani lebih kepada proses poduksi dan kolektivitas pemasaran, sedangkan peran koperasi atau kelembagaan ekonomi di tingkat petani lebih pada stabilisasi harga. 2. Mengingat Kabupaten Karo merupakan sentra produksi hortikultura maka sangat mendesak untuk mempermudah transportasi pengangkutan barang ke pusat-pusat konsumsi. Perbaikan sarana transportasi dengan pengamanan aliran barang-barang dan kutipan-kutipan yang sifatnya illegal. Sementara untuk kutipan legal yang ditentukan oleh daerah lintasan sebagai dampak otonomi perlu diatur dalam Undang-undang yang sifatnya lebih nasional dan perlakuan khusus bagi komoditas pertanian yang rawan rusak atau busuk. Terkait pemecahan masalah dalam hal transportasi komoditas ini diperlukan kerjasama lintas instansi yaitu instansi pertanian, perhubungan dan aparat penegak hukum. 3. Pemerintah Daerah dan Kementerian Pertanian tidak cukup hanya melakukan pengembangan sentra, tetapi perlu melakukan saling silang informasi antar sentra termasuk informasi pemantauan intensif mengenai perkembangan barang dan harga dari waktu ke waktu di pusat konsumsi. Informasi ini sangat berguna bagi petani untuk merencanakan penanaman dan pemanenan hasil pertaniannya agar tidak terjadi saat-saat over supply akibat panen serentak atau kekurangan barang akibat seluruh sentra masa

128 paceklik. Singkatnya, informasi pasar dan kondisi sentra lain yang memadai bagi petani mampu mensiasati terjadinya fluktuasi harga. 4. Menyusun dan menerapkan secara tegas kebijakan impor produk hortikultura dengan memperhatikan dan mengutamakan kemanan pasar produk domestik. Poin penting yang perlu diatur adalah bea masuk impor, waktu impor, dan kuantitas komoditas yang diimpor. Impor komoditas hortikultura dengan pengenaan tarif yang seimbang, dilakukan pada saat produksi dalam negeri rendah dan dengan jumlah yang terbatas merupakan dukungan kebijakan yang sangat membantu pemasaran poduksi hortikultura dalam negeri. Terkait dengan kebijakan ini, diperlukan kerjasama yang sinergi antara instansi Kementerian Pertanian dan Perdagangan. 5. Salah satu permasalahan penting terkait pengembangan komoditas hortikultura adalah bahwa sebagian besar nilai tambah kegiatan agribisnis hortikultura lebih banyak dinikmati oleh industri hulu dan hilir, bukan dinikmati oleh petani. Gejala demikian lebih kuat terjadi pada komoditas hortikultura akibat sifat usaha petani yang berorientasi pasar dan posisi tawar petani yang lemah. Hal ini berarti pengembangan komoditas hortikultura pada aspek produksi hanya akan memberikan manfaat lebih besar pada industri hulu dan hilir. Oleh karena itu, dalam pengembangan komoditas hortikultura sudah seyogyanya juga menekankan pada aspek pemasaran bukan pada aspek produksi saja. Pembenahan pada aspek-aspek tersebut dapat dilakukan dengan membangun sarana serta kelembagaan pemasaran yang dibutuhkan serta mengupayakan pemasaran komoditas hortikultura yang mengarah kepada stabilitas harga yang lebih baik dan petani mendapat bagian harga yang lebih baik. 6. Dalam rangka peningkatan kegiatan pasca panen di tingkat petani, maka diperlukan adanya sarana prasarana pasca panen dan sarana penyimpanan, selain itu juga sarana prasarana yang menujang distribusi pemasaran.