Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015

dokumen-dokumen yang mirip
PERBANDINGAN EFEK GROOMING PADA MENCIT YANG DIBERIKAN EPINEFRIN DAN ATROPIN DAN EFEK DIURESIS PADA MENCIT YANG DIBERIKAN PILOKARPIN DAN PROPRANOLOL

ANTAGONIS KOLINERGIK. Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS

OBAT-OBAT PARASIMPATIS (PARASIMPATOMIMETIK) Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

BAB 3 PENURUNAN KESADARAN

Tujuan Praktikum Menentukan ketajaman penglihatan dan bitnik buta, serta memeriksa buta warna

SISTEM SARAF OTONOM KELAS IIID FORMU14SI 014

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Uji pelarut DMSO terhadap kontraksi otot polos uterus

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH B. RUMUSAN MASALAH

PATOGENESIS PENYAKIT ASMA

BAB I PENDAHULUAN. 1. Apa Itu Mata? 2. Jelaskan Bagian-Bagian dari Mata beserta fungsinya! 3. Bagaimana Mata Bisa Bekerja?

PETIDIN, PROPOFOL, SULFAS ATROPIN, MIDAZOLAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Senyawa 1-(2,5-dihidroksifenil)-(3-piridin-2-il)-propenone

Alat optik adalah suatu alat yang bekerja berdasarkan prinsip cahaya yang. menggunakan cermin, lensa atau gabungan keduanya untuk melihat benda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MAKALAH RESEPTOR KOLINERGIK (MUSKARINIK & OBAT-OBATNYA) TUGAS MATAKULIAH FARMAKINETIK & FARMAKODINAMIK Dosen Pengampu : Zakky Cholisoh

Diagnosa banding MATA MERAH

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

Obat2 Sistem Saraf Otonom. I Dewa Gede Supartama, S. Farm., Apt

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

BAB III CARA PEMERIKSAAN

BAB I PENDAHULUAN. (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Undang-undang no 23 tahun 2012 telah dijelaskan mengenai definisi anak.

Mekanisme Kerja Otot

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh

BAB I PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bola mata terletak di dalam kavum orbitae yang cukup terlindung (Mashudi,

Materi 7 Pencernaan II

SISTEM KOORDINASI RITA WAHYUNINGSIH SMA NEGERI 5 MATARAM

TINJAUAN PENYAKIT. Uveitis anterior disebut sebagai iridosiklitis. Dibedakan dalam bentuk granulomatosa akut-kronis dan nongranulomatosa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

FARMAKOLOGI PRAKTIKUM IV MENENTUKAN LD 50 (LETHAL DOSE) SUPERMETRIN (SUTRIN 100 ec) PADA TIKUS

FARMAKOLOGI SISTEM SYARAF OTONOM. Rina Wijayanti, M. Sc., Apt Disampaikan dalam Kuliah Modul Farmakologi Prodi Farmasi FK UNISSULA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Jenis jenis otot. Cara kerja otot polos

OBAT YANG BEKERJA PADA SUSUNAN SARAF OTONOM DR. APRILITA RINA YANTI EFF., M.BIOMED PRODI RMIK-FIKES

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

Sistem Saraf Tepi (perifer)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

Pengertian farmakodinamika Dosis Efek samping Reaksi yang merugikan Efek toksik. Farmakodinamik - 2

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS SENYAWA STIMULAN SISTEM SARAF PUSAT. JULAEHA, M.P.H., Apt

PEDOMAN PRAKTIKUM. Nama : NIM : Kelompok : Kelas : Asisten :

Pengertian farmakodinamika Dosis Efek samping, reaksi yang merugikan dan efek toksik. Interaksi reseptor Mekanisme non-reseptor

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pencekungan cupping diskus optikus dan penyempitan lapang pandang yang

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad

PENDAHULUAN. Perut terisi makanan lambung diperintah untuk mencerna

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MEKANISME KERJA OTOT LURIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menempati ruang anterior dan posterior dalam mata. Humor akuos

kacamata lup mikroskop teropong 2. menerapkan prnsip kerja lup dalam menyelesaikan permasalahan yang berhubungan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

Atropin dtemukan terutama pada Atropa belladonna dan Datura stramonium.

LAPORAN KASUS GLAUKOMA KRONIK

BAB V OBAT-OBAT SYARAF OTONOM

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

UJI EFEK ANTIGLAUKOMA INFUS DAUN KITOLOD (Isotoma longiflora (L) C.Presl) TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN BERDASARKAN TEKANAN BOLA MATA

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR KIMIA MEDISINAL SEMESTER GANJIL PENGARUH ph DAN PKa TERHADAP IONISASI DAN KELARUTAN OBAT

OBAT-OBATAN DI MASYARAKAT

ENTROPION PADA KUCING

PENGARUH JARAK JANGKAUAN TANGAN TERHADAP WAKTU TIMBULNYA KELELAHAN OTOT PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Praktikum Manfaat Praktikum

ATROPIN OLEH: KELOMPOK V

HUBUNGAN PENGGUNAAN TEKHNIK BIRTHBALL DENGAN TINGKAT NYERI PADA IBU BERSALIN KALA I DI BPM UMU HANI YOGYAKARTA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat

Lampiran 1. Hasil Determinasi Tanaman

BAB VI OTOT A. RANGSANGAN TERHADAP SEDIAAN OTOT SARAF.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LEMBAR PENGESAHAN Laporan lengkap praktikum Struktur Hewan dengan judul Jaringan Otot yang disusun oleh: Nama : Lasinrang Aditia Nim : Kel

molekul yang kecil (< 500 Dalton), dan tidak menyebabkan iritasi kulit pada pemakaian topikal (Garala et al, 2009; Ansel, 1990).

Perbandingan keberhasilan monoterapi dengan multiterapi pada pasien glaukoma di RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun 2013

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sedikit. Pelarut etil asetat merupakan pelarut semi polar dengan indeks

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum pemberian agen

3.1.3 menganalisis pembentukan bayangan pada lup,kacamata, mikroskop dan teropong

Penelitian efek antidiare ekstrak daun salam (Eugenia polyantha) dengan metode transit intestinal oleh Hardoyo (2005), membuktikan

BIOLISTRIK PADA SISTEM SARAF A. Hasil

BAGIAN-BAGIAN MATA DAN SISTEM VISUAL KELENJAR LACRIMAL, AIR MATA, SISTEM PENGERINGAN LACRIMAL DENGAN PEMBULUH NASOLACRIMAL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Sumber : Tortora, 2009 Gambar 2.1. Anatomi Bola Mata

FARMAKOLOGI ANESTESI LOKAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGATURAN JANGKA PENDEK. perannya sebagian besar dilakukan oleh pembuluh darah itu sendiri dan hanya berpengaruh di daerah sekitarnya

Neuromuskulator. Laboratorium Fisiologi Veteriner PKH UB 2015

Sel melakukan kontak dengan lingkungannya menggunakan permukaan sel, meliputi: 1. Membran plasma, yakni protein dan lipid 2. Molekul-molekul membran

ALAT - ALAT OPTIK MATA

BAB I PENDAHULUAN. pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan

SISTEM SARAF & INDRA PADA MANUSIA

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. menggunakan uji One Way Anova. Rerata tekanan darah sistolik kelompok

(G Protein-coupled receptor) sebagai target aksi obat

HASIL PENELITIAN UJI EFIKASI OBAT HERBAL UNTUK MENINGKATKAN KADAR HEMOGLOBIN, JUMLAH TROMBOSIT DAN ERITROSIT DALAM HEWAN UJI TIKUS PUTIH JANTAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

15B08064_Kelas C TRI KURNIAWAN OPTIK GEOMETRI TRI KURNIAWAN STRUKTURISASI MATERI OPTIK GEOMETRI

PENGARUH OKSITOSIN TERHADAP KONTRAKSI OTOT POLOS UTERUS. Risma Aprinda Kristanti

EFEK EKSTRAK TANDUK RUSA SAMBAR (CERVUS UNICOLOR) TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS)

Transkripsi:

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI OBAT MIOTIKUM DAN MIDRIATIKUM ILMU PENYAKIT MATA LAPORAN PRAKTIKUM Oleh Latifatu Choirunisa NIM 132010101013 Cahya Kusumawardani NIM 132010101030 Ngurah Agung Reza Satria Nugraha Putra NIM 132010101031 Khrisnayu Indraswari NIM 132010101041 Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015 Pendahuluan

Secara umum dapat dikatakan bahwa sistem simpatis dan parasimpatis memperlihatkan fungsi antagonis. Bila yang satu menghambat suatu fungsi maka yang lain memacu fungsi tersebut. Contoh midriasis terjadi dibawah pengaruh saraf simpatis dan miosis dibawah pengaruh parasimpatis. Pada praktikum kali ini akan dilakukan percobaan mengenai efek midriasis dan miosis yang di dapat dari dua obat yaitu Tropicamide dan Pilocarpin. Tropicamide termasuk obat midriatik-sikloplegik, sedangkan Pilocarpin termasuk obat miotik. Midriatik merupakan golongan obat yang dapat memengaruhi dilatasi pupil bola mata sehingga ukuran pupil akan membesar (midriasis) dan melemahkan otot siliaris sehingga memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat (sikloplegik). Miotik merupakan golongan obat yang menyebabkan pupil mengecil (miosis) akibat kontraksis dari otot mata. Tropicamide dan Pilocarpin memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Tropicamide bekerja setelah diabsorbsi vaskuler lokal mata, kemudian masuk ke dalam otot sirkuler badan siliar dan iris sphincter muscle. Tropicamide mengandung senyawa yang berfungsi sebagai blokade reseptor ( DAG untuk menghambat camp, IP3 untuk menghambat Ca 2+ agar tidak keluar). Akibat blokade reseptor ini mengakibatkan gagalnya asetilkolin untuk berikatan dengan M4 sehingga AP tidak terjadi dan RS tidak terangsang. Oleh sebab itu tidak ada perlekatan antara aktin-miosin maka terjadilah midriasis dan sikloplegik. Sedangkan Pilocarpin bekerja setelah berikatan dengan reseptor nikotinik. Setelah berikatan akan terjadi reaksi second messenger oleh protein G, DAG dan IP3. Akibat terjadinya reaksi tersebut, vesikel-vesikel yang berisi asetilkolin akan pecah, asetilkolin keluar dan berikatan dengan reseptor muskarinik. Terjadilah potensial aksi, Ca 2+ akan dikeluarkan dan akan berikatan dengan actin filamen lalu terikat ke filamen miosin. Terjadilah miosis mata. Pilocarpin termasuk golongan obat agonis muskarinik (agonis kolinergik yang sifatnya menyerupai asetilkolin) yang dapat menurunkan kontraksi otot siliaris dan tekanan bola mata dengan cara membuka sistem saluran di dalam mata. Sehingga obat ini seering digunakan untuk pengobatan glaukoma, dimana sistem saluran tidak efektif karena kontraksi kejang pada otot siliaris. Sedangkan obat midriatikum yang termasuk golongan obat simpatomimetik dan antimuskarinik. Percobaan ini bertujuan untuk melihat efek antagonis dari obat dan melihat efek obat terhadap sistem saraf simpatis terutama pada mata. I. Alat dan Bahan Prosedur Praktikum dan Hasil

Penggaris (1) Pipet tetes (1) Lampu senter (1) Tropamid (1) Pilocarpine (1) Tikus (1) II. III. Langkah kerja: 1. Tiap kelompok mahasiswa bekerja dengan satu tikus. Catat diameter pupil mata tikus kanan maupun kiri 2. Tetesi mata kanan dengan 2 tetes pilocarpine, 5 menit kemudian bandingkan mata kanan dan mata kiri 3. Kemudian mata kiri ditetesi dengan 2 tetes tropicamide dan 15-20 kemudian bandingkan antara mata kanan dan mata kri 4. Buat data tabulasi ukuran diameter pupil mata yang ditetesi dengan masingmasing obat, dan buat kesimpulan Hasil kerja: Perlakuan Diameter Pipil (mm) Kanan Kiri Normal 2 1 Pilocarpine 1 - Tropicamide - 4 Reaksi pupil mata kanan dengan pemberian Pilocarpine Reaksi pupil mata kiri dengan pemberian Tropicamide Pembahasan Pada praktikum kali ini praktikan melakukan percobaan mengenai midriatik dan miotik. Pada percobaan ini, bertujuan untuk dapat melihat efek antagonis dari obat. Miotik adalah golongan obat yang dapat mempengaruhi kontraksi pupil mata sehingga ukuran pupil bola mata dapat mengecil (miosis). Midriatik merupakan golongan obat yang dapat mempengaruhi dilatasi pupil bola mata sehingga ukuran pupil bola mata akan membesar (midriasis). Untuk melihat efek ini maka praktikan menggunakan dua macam obat yaitu

tropicamide (efek midriasis) dan pilokarpin (efek miosis) dan hewan yang digunakan yaitu tikus. Langkah pertama dalam percobaan ini yaitu menentukan letak pupil bola mata tikus terhadap cahaya gelap dan terhadap cahaya terang dengan menggunakan senter sebagai sumber sinar. Hal ini bertujuan untuk melihat respon normal yang dimiliki oleh tikus. Kemudian pupil hewan uji diukur dengan menggunakan penggaris. Catat dan bandingkan ukuran pupil pada saat sebelum diberi cahaya dan setelah diberi cahaya. Setelah diamati keadaan pupil awal, lalu teteskan larutan obat pilocarpin HCl sebanyak 2 tetes diteteskan ke cairan konjungtival pada mata kanan tikus, dengan memegang matanya supaya terbuka dan ditunggu selama 5 menit.. Setelah itu diamati reaksi yang terjadi pada pupil mata tikus tadi, dengan cara dibandingkan keadaan pupil awal sebelum ditetesi dengan setelah di tetesi dengan cairan obat. Pada kelompok kami didapatkan hasil pengamatan pupil mata tikus mengecil setelah pemberian larutan pilokarpin yaitu 0,1 cm yang awalnya sebesar 0,2 cm. Hal ini adalah sesuai dengan teori, karena kerja pilokarpin sebagai obat golongan agonis muskarinik (agonis kolinergik yang sifatnya menyerupai asetilkolin), yang dapat menurunkan kontraksi otot siliaris dan tekanan intraokuler bola mata. Kemudian setelah pilokarpin bereaksi, teteskan larutan obat tropicamide sebanyak 2 tetes yang diteteskan pada cairan konjungtival di mata kiri tikus dengan cara yang sama seperti dilakukan diatas dan ditunggu selama 10-15 menit. Lalu diamati perubahan yang terjadi pada pupil mata tikus dengan bantuan senter. Pemberian tropicamide secara tetes mata pada tikus akan menghasilkan efek midriasis (membesarnya diameter pupil mata) bila diukur dengan penggaris, serta penurunan refleks mata terhadap cahaya. Setelah di ukur, pada kelompok kami di dapatkan hasil pengamatan pupil mata tikus membesar menjadi 0,4cm yang awalnya ukuran pupil pada mata kiri sebesar 0,2 cm. Hal ini sesuai dengan teori bahwa kerja tropicamide adalah menyekat semua aktivitas kolinergik mata. Pilokarpin(miotikum) merupakan senyawa kolinergik yang berguna untuk menurunkan tekanan intraokular yang menyebabkan tekanan darah di mata menjadi turun. Obat ini menyebabkan miosis dengan cara membuat otos siliaris berkontraksi sehingga mengangkat iris menjauh dari sudut filtrasi dan jalur cairan terbuka memudahkan keluarnya aqueous humor. Obat miotikum adalah obat yang menyebabkan miosis. Pengobatan glaukoma bertujuan untuk mengurangi tekanan di dalam mata dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada penglihatan. Obat miotikum bekerja dengan cara membuka sistem saluran di dalam mata, dimana sistem saluran tidak efektif karena kontraksi atau kejang pada otot di dalam mata yang dikenal dengan otot siliari. Pilokarpin bekerja sebagai reseptor agonis muskarinik pada sistem saraf parasimpatik.

Mekanisme kerja tropicamide(midriatikum) adalah memblokir asetikolin sehingga menghambat m. ciliare lensa mata dan m. konstriktor pupilla, sehingga menyebabkan midriasis dan sikloplegia (paralisis mekanisme akomodasi). Midriasis mengakibatkan fotofobia, sedangkan sikloplegia menyebabkan hilangnya kemampuan melihat jarak dekat. Obat midriatikum adalah obat yang digunakan untuk membesarkan pupil mata. Juga digunakan untuk siklopegia dengan melemahkan otot siliari sehingga memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat. Obat untuk midriatikum termasuk dari golongan obat simpatomimetik dan antimuskarinik, sedangkan obat untuk siklopegia hanya obat dari golongan antimuskarinik. Obat midriatikum-siklopegia yang tersedia di pasaran adalah Atropine, Homatropine dan Tropicamide dengan potensi dan waktu kerja yang berbeda begitu juga kegunaan secara klinisnya. Obat antimuskarinik memperlihatkan efek sentral terhadap susunan saraf pusat yaitu merangsang pada dosis kecil dan mendepresi pada dosis toksik. Kesimpulan Berdasarkan percobaan pada praktikum dapat disimpulkan bahwa obat midriatikum dan miotikum untuk penyakit mata memang sesuai dengan teori yang sudah ada sebelumnya. Obat midriatikum adalah obat yang digunakan untuk membesarkan pupil mata, digunakan untuk siklopegia dengan melemahkan otot siliaris sehingga memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat. Obat midriatikum termasuk dari golongan obat simpatomimetik dan antimuskarinik. Sedangkan obat miotikum adalah obat yang menyebabkan miosis dengan cara membuat otos siliaris berkontraksi sehingga mengangkat iris menjauh dari sudut filtrasi dan jalur cairan terbuka memudahkan keluarnya aqueous humor.

Daftar Pustaka Ilyas, S., Yulianti S. R.,. 2013. Ilmu Penyakit Mata Edisi Keempat. Badan Penerbit FK UI: Jakarta. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2012. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Badan Penerbit FK UI: Jakarta.