BAB I PENDAHULUAN BAB II

dokumen-dokumen yang mirip
SAMPLING AUDIT DIKLAT PENJENJANGAN AUDITOR KETUA TIM KODE MA : 2.110

BAB 10. Variable Sampling untuk Pengujian Substantif

Bab 10 Sampling Audit dalam Pengujian Pengendalian

AUDIT II Modul ke: AUDIT SAMPLING UNTUK TEST OF CONTROL & SUBSTANTIF TEST OF TRANSACTION. Afly Yessie, SE, Msi. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS

AUDIT & ATESTASI SA 530 SAMPLING AUDIT

Sampling (kamus) : Kelompok orang/barang yg dipilih untuk mewakili kelompok yang lebih besar Barang contoh yg ditawarkan untuk dicoba.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SAMPLING AUDIT UNTUK PENGUJIAN TERINCI ATAS SALDO

Standar Audit SA 530. Sampling Audit

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PUSAT PEMBINAAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR JAKARTA --- JANUARI 2007 MATA AJARAN

audit dapat memberikan bukti audit yang cukup untuk mencapai keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.

SAMPLING AUDIT. Sumber: PSA No. 26 PENDAHULUAN

SAMPLING AUDIT. SA Seksi 350. Sumber: PSA No. 26

Pengauditan 1. Bab 11 Sampling Audit dalam Pengujian Substantif. Dosen: Dhyah Setyorini, M.Si.

RINGKASAN BOYNTON BAB 13 SAMPLING AUDIT DALA PENGUJIAN SUBSTANTIF

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dan sistem informasi dewasa ini menuntut perusahaan-perusahaan

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

Audit 2 - Sururi Halaman 1

BAB II LANDASAN TEORI

Chapter 15 AUDIT SAMPLING. Outline Presentasi

Risiko bahwa auditor tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya

STANDAR AUDITING. SA Seksi 200 : Standar Umum. SA Seksi 300 : Standar Pekerjaan Lapangan. SA Seksi 400 : Standar Pelaporan Pertama, Kedua, & Ketiga

Mengapa Kita Perlu Melakukan Sampling?

SUMMARY Pengauditan 2 Sampling and Materiality

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

DAFTAR PERTANYAAN AUDIT INTERNAL. (Variabel Independen)

BAB 1 INTRODUKSI. pihak-pihak yang berkepentingan. Delapan prinsip etika dalam Kode etik Ikatan

Bab 9 Risiko Deteksi & Rancangan Pengujian Substantif

PELAKSANAAN PENUGASAN

BAB II LANDASAN TEORI

`EFEKTIVITAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PADA PENGUJIAN PENGENDALIAN: KAJIAN KONSEPTUAL AUDIT LAPORAN KEUANGAN Oleh: Amalia Ilmiani

PERTIMBANGAN AUDITOR ATAS FUNGSI AUDIT INTERN DALAM AUDIT LAPORAN KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap badan usaha baik yang bertujuan untuk memaksimalkan laba

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Standar audit Sa 500. Bukti audit

Standar Audit SA 500. Bukti Audit

PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT MATERIALITAS LAPORAN KEUANGAN. Annisa Lucia Kirana

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum auditing adalah suatu proses sistemik untuk memperoleh dan

BAB IV HASIL KEGIATAN MAGANG Gambaran Umum KAP Bayudi Watu Semarang Kantor Akuntan Publik Bayudi Watu dan Rekan merupakan sebuah perusahaan yang

Ch.8. Mempertimbangkan Pengendalian Internal

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KUALITAS AUDIT, AKUNTABILITAS DAN PENGETAHUAN. dan standar pengendalian mutu.

PROSES KONFI RMASI. SA Seksi 330. Sumber: PSA No. 07 PENDAHULUAN DAN KETERTERAPAN

Akuntansi Publik Drs. Ketut Muliartha RM & Rekan ABSTRAK

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

SAMPLING AUDIT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI

KATA PENGANTAR. penulis mengharapkan adanya masukan dan kritik serta saran yang membangun

Konsep Materialitas Dalam Audit Atas Laporan keuangan

Bab VIII Penetapan Risiko Pengendalian dan Pengujian Pengendalian

BAB I PENDAHULUAN. dan dilaksanakan oleh seorang auditor yang sifatnya sebagai jasa pelayanan.

BAB II LANDASAN TEORI

AUDIT I Developing the overhall audit plan and audit program EKONOMI DAN BISNIS AKUNTANSI

PEMAHAMAN PENGENDALIAN INTERN

a. Pemisahan tugas yang terbatas; atau b. Dominasi oleh manajemen senior atau pemilik terhadap semua aspek pokok bisnis.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL

BAB VIII AUDIT SIKLUS INVESTASI INSTRUMEN KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi perkembangan yang semakin maju, persaingan antara Rumah

AUDIT EVIDENCE. MAKALAH Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah. Akuntansi Pemeriksaan I. Dosen Pengajar : Martha Tona,SE.MSA.

BAB II LANDASAN TEORI. Alvin A. Arens, at all (2011:4) menjelaskan bahwa: orang yang kompeten dan independen.

Pengertian Audit. ( Pertemuan ke-2) Antariksa Budileksmana Antariksa Budileksmana Prodi Akuntansi UMY 2-1

SA Seksi 508 LAPORAN AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDITAN. Sumber: PSA No. 29. Lihat SA Seksi 9508 untuk interprestasi Seksi ini PENDAHULUAN

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan

Metode Penelitian Bisnis

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut American Accounting Association (AAA) Siti Kurnia Rahayu

Hanif Fakhrurroja, MT

Standar Audit SA 610. Penggunaan Pekerjaan Auditor Internal

BAB I PENDAHULUAN. Institusi keuangan telah menjadi financial supermarket dengan jaringan

Sampling Stratifikasi Dapat Mengurangi Tingkat Risiko Deteksi Dalam Audit Yang Dilaksanakan Oleh APIP. Abstraksi

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya pertumbuhan profesi auditor berbanding sejajar dengan

Makalah. Tugas E-Learning Administrasi Bisnis Tentang. Internal Control Yang Meliputi :

BAB I PENDAHULUAN. tidaknya pengaruh dari lingkungan etika, pengalaman auditor dan kompleksitas

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian, pangsa pasar perusahaan. Secara umum ada tiga bentuk laporan

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan cara atau metode yang benar dalam penelitian tersebut.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang


INTERNATIONAL STANDARD ON AUDITING 610 PENGGUNAAN PEKERJAAN AUDITOR INTERNAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ESTIMASI. Arna Fariza PENDAHULUAN

Tinjauan Konseptual Perencanaan Standar Pelaksanaan Tahapan Perencanaan Audit Keuangan Hubungan Asersi Manajemen dengan Tujuan Audit Terinci

BAB II LANDASAN TEORI

Bab 2 LANDASAN TEORI

(ESTIMASI/ PENAKSIRAN)

BAB 3 METODE PENELITIAN

Pengauditan dan Kepengawasan Koperasi*

Tutut Dewi Astuti, SE, M.Si, Ak, CA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MATERIALITAS DAN RISIKO 1

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN Dalam setiap pelaksanaan audit baik keuangan maupun operasional, auditor selalu dihadapkan dengan banyaknya bukti-bukti transaksi yang harus diaudit dengan waktu audit yang sangat terbatas. Sesuai dengan tanggung jawab profesionalnya, auditor berkepentingan dengan keabsahan simpulan dan pendapatnya terhadap keseluruhan isi laporan dan/atau kegiatan yang diauditnya. Mengingat tanggung jawab ini, maka auditor hanya akan dapat menerbitkan laporan yang sepenuhnya benar, jika dia memeriksa seluruh bukti transaksi. Namun demikian, hal ini tidak mungkin dilakukan. Pertama, dari segi waktu dan biaya hal ini akan memerlukansumberdaya yang sangat besar. Kedua, dari segi konsep, audit memang tidakdirancang untuk memberikan jaminan mutlak bahwa hasil audit 100% sesuaidengan kondisinya. Oleh karena itu, auditor harus merancang cara untuk mengatasi hal tersebut. Cara yang dapat dilakukan auditor adalah hanya memeriksa sebagian bukti yang ditentukan dengan cara seksama, sehingga bisa untuk mengambil kesimpulan secara menyeluruh. Hal ini dapat dilakukan dengan metode sampling audit. Dengan cara demikian maka audit dapat dilakukan dengan biaya dan waktu yang rasional. Jadi digunakannya metode pengujian dengan sampling audit diharapkan auditordapat memperoleh hasil pengujian yang objektif dengan waktu dan biaya yang minimal, sehingga pekerjaan audit bisa efektif dan efisien. BAB II 1

PEMBAHASAN 2.1 Konsep Dasar Sampling Audit SA 350.01 mendefinisikan sampling audit sebagai penerapan prosedur audit terhadap unsur-unsur suatu saldo rekening atau kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo rekening atau kelompok transaksi tersebut. Sampling audit sangat banyak dipakai dalam prosedur pencocokkan ke dokumen (vouching), konfirmasi, dan penelusuran (tracing), tetapi biasanya tidak digunakan dalam pengajuan pertanyaan, observasi, dan prosedur analitis. 2.2 Resiko Sampling dan Resiko NonSampling Dalam sampling audit, resiko terbagi menjadi 2, yaitu resiko sampling dan resiko non sampling. 2.2.1 Resiko Sampling Risiko sampling adalah kemungkinan bahwa suatu sampling yang telah diambil dengan benar tidak mewakili populasi. Tipe risiko sampling yang bisa terjadi dalam melaksanakan pengujian pengendalian dan pengujian substantif : Pengujian Pengendalian - Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah, yaitu risiko menetukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur pengendalian yang sesungguhnya. - Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, yaitu risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu tinggi dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur pengendalian yang sesungguhnya. 2

Pengujian Substantif - Risiko keliru menerima yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo rekening telah salah saji secara material. - Risiko keliru menolak yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo rekening tidak berisi salah sajis secara material. Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu rendah dan risiko keliru menerima, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko beta adalah berkaitan dengan efektivitas audit. Sebaliknya, risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu tinggi dan risiko keliru menolak, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko alpha adalah berkaitan dengan efisiesnsi audit. 2.2.2 Resiko Nonsampling Risiko nonsampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling. Risiko nonsampling tidak bisa diukur secara sistematis. Namun demikian, dengan perencanaan dan supervisi yang tepat dan berlandaskan pada standar kualitas mutu, risiko nonsampling dapat ditangani pada tingkat yang minimal atau tidak berarti lagi. Sumber risiko sampling meliputi : 1) Kesalahan manusia. 2) Ketidaktepatan penerapan prosedur audit terhadap tujuan audit. 3) Kesalahan dalam menafsirkan hasil sampel. Kesalahan karena mengandalkan pada informasi yang keliru yang diterima dari pihak lain. 2.3 Teknik-teknik Sampling Teknik sampling dalam audit dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: menggunakan Metode Statistik atau disebut "sampling statistik" dan Tanpa Menggunakan Metode Statistik 3

atau disebut "sampling non statistik". Perbedaan antar keduanya dapat dirumuskan sebagai berikut Metode Sampling Sampling Statistik Sampling Non Statistik Analisis Menggunakan Tidak menggunakan rumus/ rumus/formula statistik, formula statistik, sehingga sehingga judgment yang judgment yang akan akan digunakan harus dikuantifikasi lebih dahulu digunakan tidak perlu dikuantifikasi sesuai kebutuhan formula Pemilihan Sampel Harus acak (random) Boleh acak, boleh pula tidak Kedua pendekatan ini dapat digunakan dalam audit, karena tidak ada satu pihakpun yang dapat menjamin bahwa salah satu di antara keduanya lebih baik dari yang lain. Namun, dibandingkan dengan sampling non statistik, sampling statistik lebih mudah dipertanggungjawabkan, karena formulanya sudah baku dan diterima oleh kalangan akademisi secara umum. Sesuai dengan sifat datanya, sampling terdiri atas dua jenis: Sampling Atribut dan Sampling Variabel. Sampling Atribut adalah metode sampling yang meneliti sifat non angka (kualitatif) dari data, sedangkan Sampling Variabel adalah metode sampling yang meneliti sifat angka (kuantitatif) dari data. Dalam audit, sampling atribut biasanya digunakan pada pengujian pengendalian, sedangkan sampling variabel biasanya digunakan pada pengujian substantif. Metode yang digunakan pada sampling atribut biasanya mencakup metode sampling atribut (attribute sampling), metode sampling penemuan (discovery/explanatory sampling), dan metode sampling penerimaan (acceptance sampling). Sedangkan metode yang biasanya digunakan pada sampling variabel mencakup metode sampling variabel sederhana (classical variable sampling atau mean per unit estimation) dan metode sampling satuan mata uang (monetary unit sampling atau probability proportional to size sampling). 2.3.1 Metode Sampling Statistik 4

Metode sampling statistik yang lazim digunakan pada pengujian pengendalian adalah sampling atribut, yaitu metode sampling yang meneliti sifat non angka dari data, karena pada pengujian pengendalian fokus perhatian auditor adalah pada jejak-jejak pengendalian yang terdapat pada data/dokumen yang diuji, seperti paraf, tanda tangan, nomor urut pracetak, bentuk formulir, dan sebagainya, yang juga bersifat non angka, seperti unsur-unsur yang menjadi perhatian pada sampling atribut. 2.3.2 Metode Sampling Non Satatistik Pada sampling non statistik, unit sampel dan evaluasi hasil samplingnya dilakukan berdasarkan judgement, tanpa menggunakan formula/rumus yang baku. Pemilihan sampelnya boleh dilakukan secara acak dan non acak. 2.4 Tahapan Sampling Audit Pada makalah ini, langkah-langkah sampling dibagi dalam enam tahap: 1. Menyusun Rencana Audit. Kegiatan sampling audit diawali dengan penyusunan rencana audit. Pada tahap ini ditetapkan: a. Jenis pengujian yang akan dilakukan, karena berpengaruh pada jenissampling yang akan digunakan. Pada pengujian pengendalian biasanya digunakan sampling atribut, dan pada pengujian substantif digunakan sampling variabel. b. Tujuan pengujian, pada pengujian pengendalian untuk meneliti derajat keandalan pengendalian, sedangkan pengujian substantif tujuannya meneliti kewajaran nilai informasi kuantitatif yang diteliti. c. Populasi yang akan diteliti, disesuaikan dengan jenis dan tujuan pengujian yang akan dilakukan. d. Asumsi-asumsi yang akan digunakan dalam penelitian, terutama yangdiperlukan untuk menentukan unit sampel dan membuat simpulanhasil audit, seperti tingkat keandalan, toleransi kesalahan, dan sebagainya. 2. Menetapkan Jumlah/Unit Sampel 5

Tahap berikutnya adalah menetapkan unit sampel. Jika digunakan metode sampling statistik, unit sampel ditetapkan dengan menggunakan rumus/formula statistik sesuai dengan jenis sampling yang dilakukan. Pada tahap ini hasilnya berupa pernyataan mengenai jumlah unit sampel yang harus diuji pada populasi yang menjadi objek penelitian. 3. Memilih Sampel Setelah diketahui jumlah sampel yang harus diuji, langkah selanjutnya adalah memilih sampel dari populasi yang diteliti. Jika menggunakan sampling statistik, pemilihan sampelnya harus dilakukan secara acak (random). 4. Menguji Sampel Melalui tahap pemilihan sampel, peneliti mendapat sajian sampel yang harus diteliti. Selanjutnya, auditor menerapkan prosedur audit atas sampel tersebut. Hasilnya, auditor akan memperoleh informasi mengenai keadaan sampel tersebut. 5. Mengestimasi Keadaan Populasi Selanjutnya, berdasarkan keadaan sampel yang telah diuji, auditor melakukan evaluasi hasil sampling untuk membuat estimasi mengenai keadaan populasi. 6. Membuat Simpulan Hasil Audit Berdasarkan estimasi (perkiraan) keadaan populasi di atas, auditor membuat simpulan hasil audit. Biasanya simpulan hasil audit ditetapkan dengan memperhatikan/ membandingkan derajat kesalahan dalam populasi dengan batas kesalahan yang dapat ditolerir oleh auditor. Jika kesalahan dalam populasi masih dalam batas toleransi, berarti populasi dapat dipercaya. Sebaliknya, jika kesalahan dalam populasi melebihi batas toleransi, populasi tidak dapat dipercaya. 2.5 Perancangan Sampel Atribut Untuk Pengujian Pengendalian Sampling atribut dalam pengujian pengendalian digunakan hanya apabila ada alur bukti dokumen dalam pelaksanaan prosedur pengendalian. Tahapan-tahapan dalam rencana sampling statistik untuk pengujian pengendalian adalah : 6

1. Menentukan tujuan audit. 2. Merumuskan populasi dan unit sampling. 3. Menetapkan atribut-atribut. 4. Menetukan ukuran sampel. 5. Menentukan metoda pemilihan sampel. 6. Melaksanakan rencana sampling. 7. Mengevaluasi hasil sampel. 2.6 Memilih Unit Sampel Pemilihan unit sampel menyangkut dua aspek sebagai berikut: Cara memilih unit sampel - Secara acak (random) - Secara non acak Perlakuan terhadap anggota populasi - Dengan pengembalian (with replacement) - Tanpa pengembalian (without replacement) Berikut ini diuraikan cara pemilihan sampel dengan memperhatikan kedua ketentuan diatas, cara memilih dan perlakuan terhadap anggota populasi. 1. Pemilihan Sampel Secara Acak Pemilihan sampel secara acak (random) adalah metode pemilihan sampel tanpa dipengaruhi oleh pertimbangan subjektif auditornya. Pemilihan acak tersebut dilakukan untuk menjamin objektivitas hasil sampling. Pemilihan sampel secara acak diyakini lebih objektif dibandingkan pemilihan sampel non acak. Ada dua jenis pemilihan sampel acak yang umum dikenal, yaitu pemilihan sampel acak sederhana dan acak sistematis (simple random sampling dan systematic random sampling). 7

a. Pemilihan Sampel Acak Sederhana Pada metode ini, sampel dipilih langsung dari populasi tanpa memanipulasinya lebih dahulu. Untuk mendapatkan sampel, biasanya digunakan alat bantu berupa tabel angka acak. b. Pemilihan Sampel Acak Sistematis Pada metode ini, pertama, tentukan interval yaitu jarak antara sampel pertama dengan sampel berikutnya. 2. Pemilihan Sampel Non Acak Pemilihan sampel non acak yang umum digunakan juga ada dua, yaitu haphazard sampling dan block sampling. a. haphazard sampling Metode ini mirip dengan simple random sampling, tetapi pemilihan sampelnya dilakukan sendiri oleh auditornya, tanpa menggunakan alat bantu. Misal, auditor mengambil langsung dengan tangan sendiri, tanpa memperhatikan jumlah, letak, sifat, dan kondisi dari bukti yang menjadi populasinya. b. block sampling Metode ini mirip dengan systematic random sampling, yaitu populasi dikelompokkan lebih dahulu ke dalam beberapa kelompok yang disebut blok, kemudian sampel diambil dari masing-masing blok. 2.7 Menentukan Ukuran Sampling Faktor dalam menentukan ukuran sampel : 1. Risiko penetapan risiko pengendalian terlalu rendah. Dalam sampling atribut, risiko penetapan risiko pengendalian terlalu rendah harus ditetapkan secara aksplisit. Contoh tingkat risiko yang disesuaikan dengan tingkat risiko yang direncanakan : Risiko pengendalian direncanakan Tingkat deviasi bias ditoleransi Rendah 5 Moderat 10 Tinggi 15 8

2. Tingkat deviasi bias ditoleransi. Tingkat deviasi bisa diterima adalah tingkat deviasi maksimum dari suatu pengendalian yang akan diterima oleh auditor dan masih menggunakan risiko pengendalian direncanakan. Pedoman untuk mengkuantifikasi suatu rentang tingkat deviasi yang bisa ditoleransi : Risiko pengendalian direncanakan Tingkat deviasi bias ditoleransi rentang (%) Rendah 2-7 Moderat 6-12 Tinggi 11-20 3. Tingkat deviasi populasi diharapkan. Auditor menggunakan satu atau lebih hal dibawah ini untuk menaksir tingkat deviasi populasi diharapkan untuk masing-masing pengendalian : - Tingkat deviasi sampel tahun lalu, disesuaikan dengan perimbanngan auditor untuk perubahan dalam efektivitas pengendalian tahun ini. - Estimasi semata-mata didasarkan pada penilaian auditor atas pengendalian tahun ini. - Tingkat tertentu yang diperoleh pada pendahuluan kurang lebih 50 unsur. Faktor Risiko penetapan risiko pengendalian terlalu rendah Tingkat deviasi bias ditoleransi Tingkat deviasi populasi diharapkan Hubungan terhadap ukuran sampel Terbalik Terbalik Langsung 9

Ukuran populasi 5000 unit keatas Tidak berpengaruh Lebih dari 5000 unit langsung BAB III KESIMPULAN Sampling Audit dapat diterapkan baik untuk melakukan pengujian pengendalian, maupun pengujian subtantif. Sampling audit banyak diterapkan auditor dalam prosedur pengujian yang berupa voucing, tracing, dan konfirmasi. Sampling dipergunakan kalau waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk memeriksa seluruh transaksi/kejadian dalam suatu populasi. Populasi adalah seluruh item yang harus diperiksa. Subset dari populasi disebut denganistilah sampel. Sampling dipergunakan untuk menginferensi karakteristik daripopulasi. Keuntungan dari sampling itu sendiri adalah: 1. Menghemat sumber daya: biaya,waktu, tenaga. 2. Kecepatan mendapatkan informasi (up date). 3. Ruang lingkup (cakupan) lebih luas. 4. Data/informasi yang diperoleh lebih teliti dan mendalam. 5. Pekerjaan lapangan lebih mudah disbanding cara sensus. 10

DAFTAR PUSTAKA Mulyadi. Auditing. Edisi ke-6 Jakarta: PT Salemba Empat, 2010. www.scrib.com pusdiklatwas.bpkp.go.id/filenya/namafile/.../sampling_final_09.pdf 11