JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN USIA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan jaman, Laju pertumbuhan penduduk dan

Jurnal Sistem Informasi (Journal of Information Systems). 2/13 (2017), DOI:

BAB VIII TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI A. PANJANG JALAN

BAB IV METEDOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan ini menyebabkan kepadatan arus Lalu Lintas yang terjadi pada jam jam

BAB III METODE PENELITIAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Decision Rule Kecelakaan Lalu Lintas di Daerah Istimewa Yogyakarta Menggunakan Metode If Then Rule Pada Rough Set

PENENTUAN DAERAH RAWAN KECELAKAAN BERDASARKAN METODE EQUIVALENT ACCIDENT NUMBER DI KOTA BANDUNG

6 SISTEM EVALUASI 6.1 Data Responden Evaluasi Elemen Desain Kursi Rotan 6.2 Pengembangan Sistem Evaluasi Elemen Desain Kursi Rotan

Gambar Tahap-Tahap Penelitian

ATURAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA KECELAKAAN LALU LINTAS DI KABUPATEN SLEMAN MENGGUNAKAN ALGORITMA IF-THEN RULES PADA METODE ROUGH SET

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS ASSOCIATION RULES ALGORITMA APRIORI PENJUALAN KAOS TRAVELLING

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I. A. Latar Belakang

ASSOCIATION RULES PADA TEXT MINING

LAPORAN - POLISI. a. Tabrakan antara Sepeda Motor dengan Sepeda Motor b. Kendaraan slip / lepas kendali, dsb. Lepas Kendali

E-Journal Teknik Informatika Vol.8, No.1, April 2016

Data Mining. Tidak. Mulai. Data transaksi. Pembersihan data. Seleksi data. Transformasi data. Pemberian nilai minimum support

ANALISIS DATA KERAWANAN KECELAKAAN LALU LINTAS MENGGUNAKAN METODE K-MEANS (STUDI KASUS POLRES BANTUL)

BAB V HASIL PENELITIAN

ANALISA DATA PENJUALAN OBAT DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA APRIORI PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH H. ABDUL MANAN SIMATUPANG KISARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISA KONSISTENSI POLA PEMINJAMAN BUKU MENGGUNAKAN ALGORITMA FP-GROWTH (Studi Kasus: UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret)

LAPORAN - POLISI Nomor : LP / 25 / II / 2017 / Sat-Lantas / Res - Sigi

PERSYARATAN PRODUK. 1.1 Pendahuluan Latar Belakang Tujuan

BAB V IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM

BAB III METODE PENELITIAN. Acara Pemeriksaan (BAP) kecelakaan lalu lintas di Unit Laka Lantas Sat Lantas

ASSOCIATION RULES PADA TEXT MINING

NO ISI SURAT LAMPIRAN KETERANGAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. dan upper control limit rata-rata 111,32. semakin bertambah padat.

LAPORAN - POLISI. a. Tabrakan antara Sepeda Motor dengan Pejalan kaki b. Kendaraan slip / lepas kendali, dsb. -

LAPORAN - POLISI. c. Jenis kendaraan yang terlibat. 1. Mobil Pick Up Mitsubishi Colt T120 DN 8054 VQ.

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Kecelakaan. 1. Jumlah kecelakaan dan jumlah korban kecelakaan

Total 202 orang 100 %

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT RESORT SUMBAWA LAPORAN ANALISA DAN EVALUASI LANTAS POLRES SUMBAWA 2016

2.2 Data Mining. Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Cidera kecelakaan lalu lintas (Road Traffic Injury) merupakan hal yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Jalan sebagai prasarana

Analisis Tingkat Kecelakaan Lalu Lintas dengan Metode Association Rule Menggunakan Algoritma Apriori

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Lokasi kejadian kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Yogya-Magelang

Timor Setiyaningsih, Nur Syamsiah Teknik Informatika Universitas Darma Persada. Abstrak

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

I. KARAKTERISTIK WILAYAH

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas tentang konsep dasar dan teori-teori pendukung yang berhubungan dengan sistem yang akan dibangun.

STUDI RAWAN KECELAKAAN LALULINTAS DI JALAN SOEKARNO-HATTA ABSTRAK

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penggunaan Struktur FP-Tree dan Algoritma FP- Growth dalam Rekomendasi Promosi Produk pada Situs Belanja Online

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. penggunaan kendaraan, salah satunya berupa kendaraan bermotor. Semakin meningkatnya penggunaan alat transportasi maka akan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENERAPAN ALGORITMA APRIORI DALAM MEMPREDIKSI PERSEDIAAN BUKU PADA PERPUSTAKAAN SMA DWI TUNGGAL TANJUNG MORAWA

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kepolisian Republik Indonesia dalam menciptakan situasi keamanan dan

LAMPIRAN 1. Nominal. 1. Ya 2. Tidak. Nominal. 1. Ya 2. Tidak. 1. Ya 2. Tidak. Nominal. Nominal. 1. Ya 2. Tidak. Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN. usia, jenis kelamin, masa kerja, pengetahuan, tingkat pendidikan, ketersediaan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data

DESAIN APLIKASI UNTUK MENAMPILKAN INFORMASI TINGKAT KELULUSAN MAHASISWA. Oleh : Rita Prima Bendriyanti ABSTRAK

DATA MINING ANALISA POLA PEMBELIAN PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA APRIORI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data Karakteristik Rumah Tangga Responden

PENERAPAN ASSOCIATION RULE MINING PADA DATA NOMOR UNIK PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

ANATOMI DATA LAKA LANTAS TAHUN 2016 POLDA NTB FEBRUARI MARET APRIL DATA PT JASA RAHARJA NAMA DATA LAKA JANUARI

Abstrak. Data Mining, Algoritma Apriori, Algoritma FP-Growth, Mata Pelajaran, Pemrograman, Web Programming, Matematika, Bahasa Inggris.

BAB II LANDASAN TEORI. Anindita Dwi Respita,2015. a. Penelitian ini menjelaskan tentang tujuan : menggunakan metode market basket analysis.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. 1 Jenis Pekerjaan dan Pendapatan Responden

BAB III METODE PENELITIAN. informasi-informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN. sejalan dengan perkembangan sarana dan prasarana transportasi itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. meninggal dunia setiap tahunnya akibat kecelakaan lalu lintas, dengan jutaan lebih


BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan di dalam database. Data mining adalah proses yang menggunakan

Korelasi Faktor Penyebab Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga Menggunakan Data Mining Algoritma A Priori

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta. Lalu lintas di Yogyakarta sudah semakin padat dengan meningkatnya

Metodologi Algoritma A Priori. Metodologi dasar algoritma a priori analisis asosiasi terbagi menjadi dua tahap :

RANCANG BANGUN APLIKASI DATA MINING ANALISIS TINGKAT KELULUSAN MENGGUNAKAN ALGORITMA FP-GROWTH (Studi Kasus Di Politeknik Negeri Malang)

Lampiran 1 : Master Data

BAB I BAB I PENDAHULUAN

IMPLEMENTASI DATA MINING TERHADAP PENYUSUNAN LAYOUT MAKANAN PADA RUMAH MAKAN PADANG MURAH MERIAH

UJI CHI SQUARE. (Uji data kategorik)

PENERAPAN DATA MINING UNTUK MENGETAHUI POLA ASOSIASI ANTARA DATA MAHASISWA DAN TINGKAT KELULUSAN MENGGUNAKAN ALGORITMA FOLD-GROWTH

BAB I PENDAHULUAN. Manusia selalu melakukan perubahan dalam kehidupannya, hal ini

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masalah keselamatan lalu lintas jalan saat ini. sudah merupakan masalah global yang mendapat perhatian

INTEGRASI SISTEM DATA KECELAKAAN LALU LINTAS DI KABUPATEN JEMBER

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Transkripsi:

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Deskriptif JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN USIA 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Dewasa Usia lanjut Muda Remaja Gambar 5.1 Jumlah Kecelakaan Berdasarkan Usia Gambar diatas merupakan jumlah kecelakaan berdasarkan usia di Kabupaten Sleman, jumlah kecelakaan paling tinggi adalah usia dengan kategori muda sebesar 437, posisi kedua adalah usia dengan kategori dewasa sebesar 275, kemudian pada posisi ketiga adalah usia dengan kategori usia lanjut sebesar 106, untuk posisi keempat adalah usia dengan kategori remaja sebasar 48. 23

Axis Title 24 JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN WAKTU 600 500 400 300 200 100 0 Sepi Padat JUMLAH 533 333 Gambar 5.2 Jumlah Kecelakaan Berdasarkan Waktu Pada gambar 5.2 merupakan jumlah kecelakaan berdasarkan waktu, dari output diagram tersebut dapat diketahui bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas berdasarkan waktu kejadian yang paling tinggi adalah pada waktu sepi kendaraan sebesar 533. Sedangkan paling rendah pada waktu padat kendaraan yaitu 333. JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN JENIS KECELAKAAN JUMLAH 310 307 148 15 20 52 12 Depan Belakang Depan Depan Depan Laka Tunggal Tabrak Lari Tabrak Manusia Gambar 5.3 Jumlah Kecelakaan Berdasarkan Jenis Kecelakaan

25 Berdasarkan diagram pada gambar 5.3 jumlah kecelakaan berdasarkan jenis kecelakaan paling tinggi adalah jenis kecelakaan depan belakang sebesar 310, posisi kedua adalah jenis kecelakaan depan samping sebesar 307, selanjutnya posisi ketiga adalah jenis kecelakaan depan depan sebesar 148, pada posisi keempat adalah jenis kecelakaan tabrak lari sebesar 52, kemudian pada posisi kelima adalah jenis kecelakaan samping-samping sebesar 20, selanjutnya pada posisi keenam adalah jenis kecelakaan laka tunggal sebesar 15, sedangkan pada posisi paling rendah adalah jenis kecelakaan tabrak manusia sebesar 12. JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN JUMLAH 655 218 Laki-Laki Perempuan Gambar 5.4 Jumlah Kecelakaan Berdasarkan Jenis Kelamin Dari diagram pada gambar 5.4 menunjukan jumlah kecelakaan berdasarkan jenis kelamin, dari output diagram tersebut dapat diketahui bahwa jumlah kecelakaan paling tinggi adalah jenis kelamin laki-laki sebesar 655, sedangkan jumlah kecelakaan paling rendah adalah jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 218.

26 JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN PENGGUNA SIM 480 460 440 420 400 380 360 Ada Tidak JUMLAH Gambar 5.5 Jumlah Kecelakaan Berdasarkan Pengguna SIM Dari diagram pada gambar 5.5 merupakan jumlah kecelakaan berdasarkan pengguna SIM, dari output diagram tersebut dapat diketahui bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas paling tinggi adalah yang memiliki SIM atau ada SIM sebesar 465. Sedangkan jumlah kecelakaan lalu lintas yang paling rendah adalah tidak memiliki sim sebesar 401. 500 400 300 200 100 0 JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN PROFESI Gambar 5.6 Jumlah Kecelakaan Berdasarkan Profesi

27 Dari diagram pada gambar 5.6 menunjukan jumlah kecelakaan berdasarkan profesi, dari output diagram tersebut dapat diketahui bahwa jumlah kecelakaan berdasarkan profesi paling tinggi adalah profesi dengan kategori swasta yaitu sebesar 407. Sedangkan jumlah kecelakaan paling rendah adalah profesi dosen sebesar 2. JUMLAH KECELAKAAN BERDASARKAN TINGKAT LUKA 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 Luka Berat Luka Ringan Meninggal Dunia Gambar 5.7 Jumlah kecelakaan berdasarkan tingkat luka Dari diagram pada gambar 5.7 menunjukan jumlah kecelakaan berdasarkan tingkat luka, jumlah tersangka tingkat luka berat sebesar 4, jumlah tersangka tingkat luka ringan sebesar 782 sedangkan jumlah tersangka tingkat luka meninggal dunia sebesar 82. 5.2. Data Selection Data yang digunakan merupakan data yang bersumber dari rekapitulasi kecelakaan POLRES (Kepolisisan Resor) yang terjadi di lokasi Kabupaten Sleman dari bulan Januari-Agustus 2017. Berikut adalah contoh dari data kecelakaan lalu lintas:

28 Tabel 5.1 Data Selection Waktu/ Tgl TKP Tingkat Luka Umur Profesi SIM JK Jenis Kecelakaan Jl Jogja 07.00/ 01.01.17 Solo Km.13.5 Kalasan MD 26 Swasta A L Belakang Sleman Jl Wates 10.00/ 01.01.17 Km 7 Gamping MD 19 Mhs C P Sleman Jl 11.00/ 02.01.17 Magelang Km 13 Triharjo LR 24 Swasta - L Sleman 18.00/ 03.01.17 Jl LPMP Kalasan Sleman LR 34 Swasta - L Belakang Jl Tempel 10.00/ 03.01.17 Tunggul Turi LR 43 Tani - L Sleman

29 Table 5.1 adalah data pelaku kecelakaan lalu lintas. Pada data tersebut terdapat 8 variabel yaitu: waktu/tgl (menggambarkan jam dan tanggal terjadinya kecelakaan), tempat kejadian perkara / TKP (menggambarkan lokasi dimana terjadinya kecelakaan), tingkat luka (menggambarkan keadaan pelaku kecelakaan), umur (menggambarkan usia pelaku), profesi (menggambarkan pekerjaan dari pelaku kecelakaan), SIM (menggambarkan jenis surat izin yang dimiliki oleh pelaku kecelakaan), jenis kelamin (menggambarkan apakah pelaku memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan), jenis kecelakaan (menggambarkan peristiwa terjadinya sebuah kecelakaan). 5.3. Data Preprocessing 5.3.1. Data cleaning Bertujuan untuk membersihkan data dari duplikasi data, menghilangkan data yang tidak diperlukan, dan menghaluskan data. Sebagai contoh membuang TKP dari data kecelakaan. Karena dalam penelitian ini atribut tersebut tidak digunakan dalam penelitian. Selain membuang atribut-atribut yang tidak diperlukan. Kemudian proses penghalusan data dengan cara mempersingkat nama variable. Waktu/ Tgl Table 5.2 Contoh Hasil Data Cleaning Tingkat Jenis Umur Profesi SIM JK Luka Kecelakaan 07.00/ 01.01.17 MD 26 Swasta A L Belakang 10.00/ 01.01.17 MD 19 Mhs C P 11.00/ 02.01.17 LR 24 Swasta - L

30 18.00/ LR 34 Swasta - L 03.01.17 Belakang 5.3.2. Data reductions Dalam proses ini bertujuan untuk mengatasi ukuran data yang besar, misalnya terdapat item-item tertentu yang berjumlah besar dan perlu dikategorikan.pada penelitian ini terjadi pengkategorian data terutama pada waktu terjadinya kecelakaan dan SIM, terjadi pengurangan data dimana data yang tidak memiliki informasi yang cukup dihilangkan guna mendapatkan suatu informasi yang benar-benar valid. Table 5.3 Contoh Hasil Data Reductions Waktu Tingkat luka Umur Profesi SIM JK Jenis Kecelakaan Padat MD Muda Swasta Ada L Belakang Sepi MD Muda Mhs Ada P Sepi LR Muda Swasta Tidak L Padat LR Muda Swasta Tidak L Belakang Sepi LR Dewasa Tani Tidak L 5.4. Frequent Pattern Growth (FP-Growth) Pengujian ini menggunakan data kecelakaan lalu lintas bulan Januari-Agustus 2017. Data ini memiliki 868 baris data. Pengujian dilakukan sebanyak 9 kali dengan kombinasi nilai minimum support yang berbeda. Nilai confidence yang

31 dipilih adalah nilai 90%. Analisis ini dibantu dengan menggunakan software Weka 3.8. Berikut ini adalah hasil analisisnya seperti Tabel 5.4 Tabel 5.4 Hasil pengujian Min Conf= 90% Min Support (%) Min Confidence (%) Jumlah Aturan Asosiasi Lift Ratio terbesar 1 90 34 2 90 142 6,68 3 90 79 5,9 4 90 58 5,9 5 90 40 1,98 6 90 25 1,98 7 90 17 1,95 8 90 15 1,95 9 90 13 1,95 Adapun informasi yang diperoleh dari table 5.4 adalah: 1. Ketika minimum support 1% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 341 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesar 6,68. 2. Ketika minimum support 2% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 142 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesar 6,68. 3. Ketika minimum support 3% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 79 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesar 5,9. 4. Ketika minimum support 4% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 58 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesar 5,9.

32 5. Ketika minimum support 5% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 40 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesar 1,98. 6. Ketika minimum support 6% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 25 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesaar 1,98. 7. Ketika minimum support 7% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 17 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesaar 1,95. 8. Ketika minimum support 8% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 15 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesaar 1,95. 9. Ketika minimum support 9% dan minimum confidence 90% maka ditemukan sebanyak 13 aturan dengan lift ratio tertinggi sebesaar 1,95. Berdasarkan pengujian tabel 5.4 dapat diketahui bahwa pada saat minimum support nya 0,01 atau 1% dan minimum confidence 90% maka dapat dihasilkan nilai lift ratio yang tinggi. Berikut ini adalah aturan asosiasi yang dipilih berdasarkan nilai lift ratio tertinggi. Table 5.5 Daftar Aturan Asosiasi Rule Aturan Confidence Lift Ratio 1 Tdk ada SIM, waktu (padat), umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) 2 Tdk ada SIM, waktu (padat), jenis kecelakaan (tabrak lari) tingkat luka (LR) 3 Tdk ada SIM, jenis kecelakaan (depan belakang), umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) 4 Tdk ada SIM, jenis kecelakaan (depan samping), profesi (guru) tingkat luka (LR)

33 5 Tdk ada SIM, jenis kelamin (p), umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) 6 Tdk ada SIM, jenis kecelakaan (depan-depan), umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) Rule Aturan Confidence Lift Ratio 7 Tdk ada SIM, umur (lanjut usia), profesi (buruh) tingkat luka (LR) 8 Profesi (swasta), waktu (padat), jenis kecelakaan (tabrak lari) tingkat luka (LR) 9 Profesi (swasta), jenis kecelakaan (depan belakang), umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) 10 Profesi (swasta), jenis kelamin (perempuan), jenis kecelakaan (depan-depan) tingkat luka (LR) 11 Profesi (swasta), jenis kecelakaan (depan-depan),

34 umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) 12 Waktu (padat), jenis kecelakaan (depan belakang), umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) Adapun informasi yang diperoleh dari table 5.5 adalah: Pada aturan nomor 1 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana pelaku tidak mempunyai SIM, waktu terjadinya kecelakaan padat kendaraan, umur pelaku lanjut usia maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 2 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana pelaku tidak mempunyai SIM, waktu terjadinya kecelakaan padat kendaraan, jenis kecelakaan tabrak lari maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Tdk ada SIM, jenis kecelakaan (depan belakang), umur (lanjut usia) tingkat luka (LR) Pada aturan nomor 3 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana pelaku tidak mempunyai SIM, jenis kecelakaan depan belakang, umur pelaku lanjut usia maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 4 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana pelaku tidak mempunyai SIM, jenis kecelakaan depan samping, profesi adalah guru maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 5 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana pelaku tidak mempunyai SIM, jenis kelamin perempuan, umur pelaku lanjut usia

35 maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 6 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana pelaku tidak mempunyai SIM, jenis kecelakaan depan-depan, umur pelaku lanjut usia maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 7 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana pelaku tidak mempunyai SIM, umur pelaku lanjut usia, profesi adalah buruh maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 8 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana profesi pelaku swasta, waktu terjadinya kecelakaan padat kendaraan, jenis kecelakaan tabrak lari maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 9 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana profesi pelaku swasta, jenis kecelakaan depan belakang, umur pelaku lanjut usia maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 10 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana profesi pelaku swasta, jenis kelamin perempuan, jenis kecelakaan depan-depan maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 11 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana profesi pelaku swasta, jenis kecelakaan depan-depan, umur pelaku lanjut usia maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Pada aturan nomor 12 jika terjadi sebuah kecelakaan dimana waktu terjadinya kecelakaan adalah padat kendaraan, jenis kecelakaan depan

36 belakang, umur pelaku lanjut usia maka tingkat luka yaitu luka ringan dengan nilai support 0,01 atau 1% dengan nilai confidence 0,9 atau 90%. Dari banyaknya aturan asosiasi yang dihasilkan ditemukan 12 aturan asosiasi memiliki nilai confidence yang sama, ke 12 aturan assosiasi tersebut memiliki nilai lift ratio tertinggi sebesar 6,68, lebih tinggi nilai lift ratio, lebih besar kekuatan asosiasinya.