BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III KEGIATAN RISET

APLIKASI VEHICLE ROUTING PROBLEM PADA PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI AIR MINERAL CLUB DI KOTA BALIKPAPAN (Studi Kasus: PT Tirta Makmur Perkasa Balikpapan)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. Alat transportasi merupakan salah satu faktor yang mendukung berjalannya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

Penentuan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Metode (1-0) Insertion Intra Route (Studi Kasus di PT X) *

BAB I PENDAHULUAN. Dengan menentukan rute distribusi secara optimal dapat membantu perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Penulis mengambil studi kasus pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 5 ANALISIS DATA. Kapasitas Kendaraan. Gambar 5.1. Influence Diagram

BAB I PENDAHULUAN. hingga ke luar pulau Jawa. Outlet-outlet inilah yang menjadi channel distribusi

BAB I PENDAHULUAN Tahun

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. mengacu kepada SDLC model waterfall berdasarkan referensi Ian Sommerville,

BAB III PEMBAHASAN. Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA

MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penggunaan teknologi dalam mendukung aktivitas perusahaan bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. konsumen adalah kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

OPTIMASI SISTEM DISTRIBUSI PADA DISTRIBUTOR SEPEDA DI PD. TRIJAYA SEMARANG

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Penentuan Rute untuk Pendistribusian BBM Menggunakan Algoritma Nearest neighbour (Studi Kasus di PT X)

USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN AIR GALON HANAANG MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR DAN LOCAL SEARCH *

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Pembentukan Rute Distribusi Menggunakan Algoritma Clarke & Wright Savings dan Algoritma Sequential Insertion *

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA

BAB I PENDAHULUAN. produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai

BAB II LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI ABSTRAK...

BAB III METODE PENELITIAN

USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN MINUMAN TEH KEMASAN BOTOL MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR DAN LOCAL SEARCH *

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB III LANDASAN TEORI

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB I PENDAHULUAN. pengiriman produk kepada pelanggan harus memiliki penentuan rute secara tepat,

4 PENYELESAIAN MASALAH DISTRIBUSI ROTI SARI ROTI

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR (Studi Kasus Pada PT. Graha Gas Niaga Klaten)

BAB II LANDASAN TEORI

Tugas Akhir. Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

UN SD 2011 Matematika

BAB I PENDAHULUAN. Radar Malang merupakan salah satu grup Radar terbesar di Jawa Pos.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Usulan Perbaikan Rute Distribusi Menggunakan Metode Clarke Wright Savings Algorithm (Studi Kasus : PT Pikiran Rakyat Bandung) *

Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Penentuan Rute Distribusi Es Balok Menggunakan Algoritma Nearest Neighbour dan Local Search (Studi Kasus di PT. X)*

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

USULAN RUTE DISTRIBUSI TABUNG GAS 12 KG MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR DAN ALGORITMATABU SEARCH DI PT. X BANDUNG *

BAB I PENDAHULUAN. yang berpengaruh dalam meningkatkan pelayanan konsumen adalah. meningkatkan daya saing perusahaan tersebut.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN PRODUK KARPET DENGAN MENGGUNAKAN METODE (1-0) INSERTION INTRA ROUTE *

BAB I PENDAHULUAN. adanya variasi produk serta pengiriman yang tepat waktu. Kebijakan yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. tempat tujuan berikutnya dari sebuah kendaraan pengangkut baik pengiriman melalui

BAB I PENDAHULUAN. Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta adalah dinas

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

PENYELESAIAN CAPACITATED VEHICLE ROUTING PROBLEM MENGGUNAKAN SAVING MATRIKS, SEQUENTIAL INSERTION, DAN NEAREST NEIGHBOUR DI VICTORIA RO

Manajemen Transportasi dan Distribusi. Diadopsi dari Pujawan N

RUTE PENDISTRIBUSIAN AIR MINERAL DALAM KEMASAN MENGGUNAKAN METODE NEAREST NEIGHBOUR DAN BRANCH AND BOUND DI PT. AGRONESIA BMC *

BAB I PENDAHULUAN. usaha produksi dan pendistribusian air minum isi ulang dalam kemasan (AMDK)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB IV Hasil Dan Pembahasan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

OPTIMALISASI RUTE DISTRIBUSI AIR MINUM QUELLE DENGAN ALGORITMA CLARKE & WRIGHT SAVING DAN MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM

PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI LPG DENGAN PENDEKATAN MODEL MATEMATIS

Penentuan Rute Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor dan Metode Sequential Insertion *

MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan

PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK OBAT MENGGUNAKAN METODE SEQUENTIAL INSERTION DAN CLARKE & WRIGHT SAVINGS (Studi Kasus di PT X Bandung)*

BAB I PENDAHULUAN. ekspedisi. Permasalahan distribusi tersebut mencakup kemudahan untuk

Penentuan Rute Kendaraan dalam Pendistribusian Beras Bersubsidi Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus Perum Bulog Sub Divre Cirebon) *

Penentuan Rute Kendaraan Proses Pendistribusian Beras Bersubsidi di Kota Pekanbaru

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Transkripsi:

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan Penelitian ini dilakukan di PT. Tirta Makmur Perkasa yang beralamat di Jalan Telaga Sari RT. 36 No. 4B Martadinata, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. PT. Tirta Makmur Perkasa merupakan perusahaan di bawah naungan Indofood Group yang bertugas mendistribusikan air mineral dalam kemasan dengan merk dagang CLUB di Kota Balikpapan dan sekitarnya. Awal berdirinya tahun 2008 bernama PT. Allesia International, di mana perusahaan tersebut bertugas memproduksi dan mendistribusikan air mineral CLUB untuk wilayah Balikpapan dan sekitarnya. Namun, per tanggal 27 Januari 2014, seiring dengan diambil alihnya perusahaan oleh Indofood Group, maka perusahaan dipecah menjadi dua perusahaan, di mana PT. Allesia International bertugas untuk memproduksi air mineral CLUB, sedangkan PT. Tirta Makmur Perkasa bertugas untuk mendistribusikan air mineral CLUB tersebut. Lokasi kedua perusahaan tersebut berdiri berdampingan dalam satu tempat. Visi dan misi dari PT. Tirta Makmur Perkasa pada intinya yaitu: Menjadikan CLUB menjadi merk AMDK nasional & internasional yang terpercaya. Logo dari merk CLUB seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini: Gambar 4.1 Logo merk CLUB 23

PT. Tirta Makmur Perkasa saat ini dipimpin oleh Bapak Arief Anggoro Nurutomo dengan jumlah karyawan sebanyak 62 orang, dengan struktur organisasi seperti pada Gambar 4.2 berikut: Branch Manager Mgr. Marketing Ka. Depo Balikpapan Mgr. HR/GA Ka. Kendaraan/ Distribusi Spv. Accounting Adm. Penjualan Admin Gudang Payroll Bagian Umum Driver Adm. Piutang/FA Adm. Pajak Sales Helper Gudang Kod. Pengaman Helper FI Purchasing Security Gambar 4.2 Struktur organisasi PT. Tirta Makmur Perkasa Perusahaan memiliki pelanggan sekitar 700 pelanggan, dengan pembagian pelanggan Horeka (Hotel, Restoran, dan Perkantoran) berjumlah sekitar 300 pelanggan, dan pelanggan Outlet (Retail, Toko, dan Minimarke t) berjumlah sekitar 400 outlet namun untuk saat ini jumlah outlet yang masih aktif berlangganan hanya berjumlah sekitar 300 outlet saja. Perusahaan mempunyai komitmen untuk mempoduksi produk yang baik dan halal secara konsisten dalam rangka memenuhi kebutuhan komitmen termasuk konsumen muslim, dimana seluruh produk akhir, bahan dan peralatan, serta sistem produksi yang telah diuji dan disertifikasi oleh LPOM MUI. Produk merk CLUB yang diproduksi dan dipasarkan adalah kemasan cup 240 ml, botol 330 ml, botol 600 ml, botol 1500 ml, dan galon 19 liter. 24

4.2 Pengumpulan Data Pada tahap pengumpulan data ini dilakukan pengambilan data-data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kasus permasalahan distribusi pengiriman air mineral CLUB di wilayah Kota Balikpapan pada PT. Tirta Makmur Perkasa dengan menggunakan metode saving heuristic dan metode sweep. Awalnya dilakukan pengukuran jarak dari depot ke seluruh outlet di Kota Balikpapan dan jarak sebaliknya maupun jarak antar outlet. Jarak diukur secara aktual dengan speedometer kendaraan. Pengumpulan data jarak untuk seluruh outlet dilakukan karena akan dijadikan sebagai database ketika setiap kali dilakukan penentuan rute distribusi air mineral CLUB dari depot ke outlet-outlet. 4.2.1 Data Outlet dan Permintaan Air Mineral CLUB Data outlet dan permintaan yang yang diperoleh dari PT. Tirta Makmur Perkasa untuk laporan hari Kamis tanggal 3 April 2014. Terdapat 28 outlet dengan lokasi yang tersebar di wilayah Kota Balikpapan dan jumlah permintaan yang berbeda-beda. Data outlet dan permintaan air mineral CLUB dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Data outlet dan permintaan No Kode Outlet Nama Outlet Permintaan Jarak (Km) 1 10435 Tk. Hidayat 30 Car. Cup 240 ml 19,5 2 10261 Tk. Rahayu 30 Car. Cup 240 ml 12,5 3 10417 Tk. Bu Yuni 5 Btl. Gallon 19 L 1 Car. Bottle 600 ml 15,2 1 Car. Bottle 1500 ml 4 10076 Tk. Cahaya Sidenreng 10 Car. Cup 240 ml 11,8 5 10253 Tk. Neva 30 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 1500 ml 15,1 6 10407 Tk. Babul Hasan 10 Car. Bottle 600 ml 17,2 7 10314 B-Mart 5 Car. Bottle 330 ml 10 Car. Bottle 600 ml 1,6 10 Car. Bottle 1500 ml 8 10249 Tk. Meymey 30 Car. Cup 240 ml 2,1 9 10619 Tk. Selly 10 Car. Cup 240 ml 2,9 10 10238 Tk. Karida 20 Btl. Gallon 19 L 7,8 11 10377 Tk. Minak Jinggo 10 Car. Cup 240 ml 1,3 12 10286 Tk. Sugus 20 Btl. Gallon 19 L 3,1 13 10655 Tk. Mario 30 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 600 ml 5,6 14 10231 Tk. Harum 10 Btl. Gallon 19 L 9,4 15 10550 Tk. Rani 30 Car. Cup 240 ml 9,2 16 10487 Tk. Sulis 10 Btl. Gallon 19 L 8,3 25

Tabel 4.1 Data outlet dan permintaan (lanjutan) No Kode Outlet Nama Outlet Permintaan Jarak (Km) 17 10533 Tk. Kevin 10 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 600 ml 8,5 10 Car. Bottle 1500 ml 18 10708 Tk. Ani 30 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 1500 ml 5,0 19 10773 Tk. Kembar 120 Car. Cup 240 ml 8,9 20 10043 Tk. Rindu 100 Car. Cup 240 ml 6,0 21 10560 Tk. Sidik 100 Btl. Gallon 19 L 100 Car. Cup 240 ml 4,6 22 10334 Nikmat Catering 75 Car. Cup 240 ml 5 Car. Bottle 600 ml 2,0 23 10661 Tk. Palapa 4 Btl. Gallon 19 L 1,2 24 10467 I-DC Mart 10 Btl. Gallon 19 L 30 Car. Cup 240 ml 10,7 25 10520 Tk. Feni 15 Car. Cup 240 ml 2 Car. Bottle 600 ml 12,3 3 Car. Bottle 1500 ml 26 10774 Tk. Mama Alwi 30 Car. Cup 240 ml 1,7 27 10008 Abiel 27 Cell 7 Car. Bottle 600 ml 4 Car. Bottle 1500 ml 6,3 28 10519 Tk. Fatimah 20 Car. Cup 240 ml 13,5 4.2.2 Data Jarak dan Letak Lokasi Pada penelitian ini, jarak yang diukur menggunakan jarak aktual. Pengukuran jarak dilakukan dengan bantuan argometer pada kendaraan. Jarak bolak-balik kendaraan dari depot ke outlet dan sebaliknya maupun jarak antar outlet tidak selalu sama, dikarenakan pada kondisi aktual terdapat jalan-jalan yang dapat dilewati maupun jalan yang tidak dapat dilewati. Acuan tersebut diperoleh dari hasil wawancara dengan supir kendaraan angkut (truk engkel) maupun wawancara dengan sales karena supir sangat mengetahui jalur jalan raya yang dilewati, sedangkan sales yang sangat mengetahui lokasi/letak dari masing-masing outlet yang menjadi pelanggan dari PT. Tirta Makmur Perkasa. Data jarak tersebut dapat dilihat seperti pada Lampiran 1. Selain data jarak, dilakukan pula pengumpulan data letak lokasi depot maupun outlet berdasarkan koordinat garis khayal bumi (garis bujur timur (BT) dan garis lintang selatan(ls)). Data koordinat untuk seluruh lokasi disajikan pada Tabel 4.2 berikut ini: 26

Tabel 4.2 Data lokasi berdasarkan garis khayal bumi Kode Lokasi Nama Lokasi Jarak (km) Koordinat-BT Koordinat-LS D0000 Depot 0,0 116,833 1,269 10435 Tk. Hidayat 19,5 116,966 1,222 10261 Tk. Rahayu 12,5 116,917 1,259 10417 Tk. Bu Yuni 15,2 116,937 1,246 10076 Tk. Cahaya Sidenreng 11,8 116,905 1,254 10253 Tk. Neva 15,1 116,937 1,247 10407 Tk. Babul Hasan 17,2 116,952 1,236 10314 B-Mart 1,6 116,839 1,275 10249 Tk. Meymey 2,1 116,841 1,275 10619 Tk. Selly 2,9 116,842 1,277 10238 Tk. Karida 7,8 116,873 1,240 10377 Tk. Minak Jinggo 1,3 116,838 1,264 10286 Tk. Sugus 3,1 116,839 1,277 10655 Tk. Mario 5,6 116,840 1,230 10231 Tk. Harum 9,4 116,860 1,226 10550 Tk. Rani 9,2 116,859 1,225 10487 Tk. Sulis 8,3 116,855 1,216 10533 Tk. Kevin 8,5 116,856 1,219 10708 Tk. Ani 5,0 116,825 1,241 10773 Tk. Kembar 8,9 116,859 1,223 10043 Tk. Rindu 6,0 116,821 1,235 10560 Tk. Sidik 4,6 116,834 1,235 10334 Nikmat Catering 2,0 116,843 1,266 10661 Tk. Palapa 1,2 116,840 1,269 10467 I-DC Mart 10,7 116,868 1,204 10520 Tk. Feni 12,3 116,884 1,202 10774 Tk. Mama Alwi 1,7 116,843 1,262 10008 Abiel 27 Cell 6,3 116,818 1,234 10519 Tk. Fatimah 13,5 116,884 1,198 Selain memperhitungkan jarak, proses pendistribusian pada penelitian ini juga mempertimbangkan waktu tempuh. Waktu tempuh adalah waktu yang dibutuhkan kendaraan dalam melakukan perjalanan distribusi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Waktu tempuh digunakan untuk menghitung waktu penyelesaian. Waktu tempuh ini berbanding lurus dengan jumlah jarak yang ditempuh. Waktu tempuh didapat dari jarak tempuh dibagi dengan kecepatan rata-rata kendaraan dan dikalikan dengan 60 menit. 27

4.2.3 Data Kendaraan Angkut Jumlah kendaraan yang dimiliki PT. Tirta Makmur Perkasa untuk pendistribusian air minum CLUB di Kota Balikpapan adalah 3 unit dengan jenis kendaraan berupa truk engkel roda empat dengan No.Pol: KT 8978 LB, KT 8765 AR, dan KT 9476 AK. Kapasitas muatan truk engkel per unitnya adalah maksimal 3 ton/unit (3000 kg/unit), dengan dimensi box sebesar 3,1 m x 1,7 m x 1,7 m, atau volumenya setara dengan 8,96 m 3. Kapasitas maksimum apabila seluruh muatan truk adalah produk jenis cup 240 ml, maka jumlah muatan yang dapat diangkut maksimum yaitu sekitar 249 unit karton jika seluruh muatan truk adalah produk jenis gallon 19 L, maka jumlah muatan yang dapat diangkut maksimum yaitu sebanyak 156 unit botol. Apabila kendaraan angkut membawa muatan yang berbeda-beda jenisnya, maka kapasitas maksum akan disesuaikan dengan batasan kapasitas maksimum muatan 3 ton (3000 kg) dan batasan volume box sebesar 8,96 m 3. Pemakaian bahan bakar solar untuk setiap kendaraan truk engkel yaitu sebesar 90 L, sehingga pemakaian bahan bakar per liternya adalah 6 km/liter, dengan kecepatan ratarata kendaraan adalah konstan 30 km/jam. Bahan bakar kendaraan yang digunakan adalah BBM jenis Solar HSD ( High Speed Diesel) non subsidi dengan harga per liter yaitu Rp 12.496,40. Kecepatan rata-rata kendaraan pada setiap pengiriman tersebut telah mempertimbangkan banyak muatan, jenis muatan, dan kemacetan di jalan. 4.2.4 Data Dimensi Kemasan Produk Produk air mineral CLUB dikemas dengan berbagai macam jenis, yaitu kemasan cup 240 ml, botol 330 ml, botol 600 ml, botol 1500 ml, dan gallon 19 L. Produk-produk tersebut dikemas dalam karton maupun botol. Dimensi kemasan tersebut berguna untuk menentukan jumlah unit produk yang dapat diangkut oleh kendaraaan angkut pada saat pemuatan produk yang untuk didistribusikan. Kemasan produk air mineral CLUB tersebut dimensinya berbeda-beda, yang dapat dilihat seperti pada Tabel 4.3 berikut: 28

Tabel 4.3 Data dimensi kemasan No Produk Unit Dimensi Unit (cm) Volume (m 3 ) Bruto (kg) 1 Cup 240 ml Karton 36 x 24 x 21 0,018 12,02 2 Botol 330 ml Karton 36 x 24 x 18 0,016 8,42 3 Botol 600 ml Karton 36 x 26 x 24 0,023 14,90 4 Botol 1500 ml Karton 36 x 26 x 33 0,031 18,50 5 Gallon 19 L Botol D27 x 49 0,089 19,20 6 Gallon kosong Botol D27 x 49 0,089 0,20 Apabila pada saat pendistribusian produk jenis gallon ke outlet-outlet, kendaraan angkut juga mengangkut gallon kosong dari outlet yang ditukar dengan gallon 19 L tersebut untuk kemudian gallon kosong tersebut dibawa kembali ke depot. Jumlah unit gallon kosong yang diangkut kembali ke depot selalu sama dengan jumlah unit gallon 19 L yang didistribusikan ke outlet. 4.2.5 Data Waktu Loading dan Unloading Waktu loading merupakan waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan mengangkut barang (karton dan galon) masuk ke dalam box mobil. Waktu unloading merupakan waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan mengangkut barang keluar dari box mobil. Waktu loading dan unloading untuk masing-masing unit produk dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut: Tabel 4.4 Data waktu loading dan unloading No Jenis Produk Unit Waktu Loading Waktu Unloading 1 Cup 240 ml Karton 4 unit/30 detik 4 unit/30 detik 2 Botol 330 ml Karton 4 unit/30 detik 4 unit/30 detik 3 Botol 600 ml Karton 3 unit/30 detik 3 unit/30 detik 4 Botol 1500 ml Karton 2 unit/30 detik 2 unit/30 detik 5 Gallon 19 L Botol 2 unit/30 detik 2 unit/30 detik 6 Gallon kosong Botol 4 unit/30 detik 4 unit/30 detik 4.2.6 Data Waktu Pelayanan dan Waktu Administrasi Waktu yang digunakan untuk pelayanan pendistribusian ke outlet adalah sama dengan waktu jam kerja supir, yaitu dari pukul 8.00 sampai dengan pukul 17.00, dengan istirahat selama 60 menit yaitu dari pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.00. Pada 29

waktu istirahat tersebut, gudang di depot ditutup sehingga tidak ada barang yang di loading ke dalam truk. Waktu administrasi meliputi waktu pendataan jumlah galon yang berpindah tangan baik pada saat di depot maupun di outlet. Waktu administrasi pada setiap lokasi yaitu selama 3 menit. 4.3 Pembentukan Rute Distribusi Pembentukan rute distribusi produk air mineral CLUB di wilayah Kota Balikpapan pada hari Kamis dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode sweep dan metode saving heuristic. 4.3.1 Pembentukan Rute dengan Metode Sweep Pada pembentukan rute distribusi dengan metode sweep ini dilakukan perhitungan dengan menggunakan 2 metode yaitu metode cluster first route second dan metode route first cluster second. Sebelum dilakukan perhitungan data dengan dua metode tersebut, terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data untuk pemetaan seluruh lokasi dalam sebuah koordinat cartesius. Koordinat cartesius ini disusun berdasarkan bantuan google maps dalam menentukan posisi wilayah lokasi tersebut. Koordinat-X akan mewakilkan garis bujur timur, sedangkan koordinat-y mewakilkan garis lintang selatan. Setelah diketahui lokasi depot maupun outlet-outlet berdasarkan garis khayal bumi, selanjutnya data koordinat garis khayal bumi tersebut dikonversikan ke dalam koordinat-x maupun koordinat-y, dengan lokasi depot (116,833 BT; 1,269 LS) sebagai titik pusat (0,0). Dengan menggunakan Persamaan 2.1 dan 2.2 makadilakukan perhitungan sebagai berikut: 1. Pengukuran koordinat-x lokasi outlet 10435 (Tk. Hidayat) yaitu: X 1 = BT 1 BT 0 = 116,966 116,833 = 0,133 30

2. Pengukuran koordinat-x lokasi outlet 10261 (Tk. Rahayu) yaitu: X 2 = BT 2 BT 0 = 116,917 116,833 = 0,084 3. Pengukuran koordinat-x lokasi outlet 10417 (Tk. Bu Yuni) yaitu: X 3 = BT 3 BT 0 = 116,937 116,833 = 0,104 4. Pengukuran koordinat-y lokasi outlet 10435 (Tk. Hidayat) yaitu: Y 1 = LS 0 LS 1 = 1,269 1,222 = 0,047 5. Pengukuran koordinat-y lokasi outlet 10261 (Tk. Rahayu) yaitu: Y 2 = LS 0 LS 2 = 1,269 1,259 = 0,010 6. Pengukuran koordinat-y lokasi outlet 10417 (Tk. Bu Yuni) yaitu: Y 3 = LS 0 LS 3 = 1,269 1,246 = 0,023 Perhitungan yang sama dilanjutkan untuk penentuan seluruh lokasi lainnya guna mengkonversikan letak lokasi ke dalam bentuk koordinat cartesius tersebut menggunakan Persamaan 2.1 dan Persamaan 2.2 yang disajikan pada Tabel 4.5 berikut ini: Tabel 4.5 Letak lokasi berdasarkan koordinat cartesius Kode Outlet Nama Outlet Jarak (Km) Koordinat-X Koordinat-Y D0000 Depot 0,0 0,000 0,000 10435 Tk. Hidayat 19,5 0,113 0,047 10261 Tk. Rahayu 12,5 0,084 0,010 10417 Tk. Bu Yuni 15,2 0,104 0,023 10076 Tk. Cahaya Sidenreng 11,8 0,072 0,015 31

Tabel 4.5 Letak lokasi berdasarkan koordinat cartesius (lanjutan) Kode Outlet Nama Outlet Jarak (Km) Koordinat-X Koordinat-Y 10253 Tk. Neva 15,1 0,104 0,022 10407 Tk. Babul Hasan 17,2 0,119 0,033 10314 B-Mart 1,6 0,006-0,005 10249 Tk. Meymey 2,1 0,008-0,005 10619 Tk. Selly 2,9 0,009-0,008 10238 Tk. Karida 7,8 0,040 0,029 10377 Tk. Minak Jinggo 1,3 0,006 0,006 10286 Tk. Sugus 3,1 0,006-0,008 10655 Tk. Mario 5,6 0,007 0,039 10231 Tk. Harum 9,4 0,027 0,044 10550 Tk. Rani 9,2 0,026 0,045 10487 Tk. Sulis 8,3 0,022 0,053 10533 Tk. Kevin 8,5 0,023 0,050 10708 Tk. Ani 5,0-0,008 0,029 10773 Tk. Kembar 8,9 0,026 0,047 10043 Tk. Rindu 6,0-0,011 0,035 10560 Tk. Sidik 4,6 0,001 0,034 10334 Nikmat Catering 2,0 0,010 0,003 10661 Tk. Palapa 1,2 0,007 0,001 10467 I-DC Mart 10,7 0,035 0,066 10520 Tk. Feni 12,3 0,051 0,068 10774 Tk. Mama Alwi 1,7 0,010 0,007 10008 Abiel 27 Cell 6,3-0,014 0,035 10519 Tk. Fatimah 13,5 0,052 0,071 Selanjutnya, letak seluruh lokasi berdasarkan Tabel 4.5 tersebut kemudian digambarkan ke dalam sebuah scatter diagram yang berfungsi untuk menunjukkan letak lokasi depot maupun seluruh outlet yaitu ditunjukkan pada Gambar 4.3 berikut ini: 32

33

Setelah dilakukan pemetaan untuk seluruh lokasi, baik depot maupun outlet-outlet ke dalam sebuah peta, kemudian dilakukan pembentukan rute berdasarkan metode cluster first route second dan metode route first cluster second berikut ini: 4.3.1.1 Metode Sweep Cluster First Route Second Proses penyusunan rute pada metode cluster first route second ini awalnya dilakukan dengan membentuk kelompok dengan cara menarik garis pada peta wilayah ke arah mana saja, dengan rotasi garis berlawanan arah jarum jam ataupun searah dengan jarum jam. Selanjutnya dalam tiap kelompok dilakukan penentuan rute pengiriman untuk masing-masing lokasi. Adapun pembentukan kluster dan penyusunan rute yang dilakukan untuk iterasi awal yaitu dapat dilihat pada Gambar 4.4. Klaster rute pengiriman yang terbentuk dari iterasi awal pengklasteran tersebut yaitu: 1. Klaster 1 (Rute biru): D0000 10708 10008 10043 10655 10560 D0000 2. Klaster 2 (Rute hijau): D0000 10487 10467 10519 10520 10533 10773 10550 10231 10377 D0000 3. Klaster 3 (Rute kuning): D0000 10774 10238 10407 10417 10253 10261 10435 10076 10334 10661 D0000 4. Klaster 4 (Rute coklat): D0000 10314 10249 10619 10286 D0000 Gambar pembentukan klaster dan gambar penyusunan rute iterasi awal yaitu dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut ini: 34

35

Setelah rute pengiriman telah disusun berdasarkan klaster, kemudian dilakukan uji kelayakan pada masing-masing klaster yang telah terbentuk tersebut dengan menggunakan batasan kapasitas kendaraan angkut dalam sekali pengiriman dengan kapasitas maksimal sebesar 3000 kg (3 ton). Adapun uji kelayakannya ditunjukkan pada Tabel 4.6 sebagai berikut: Klaster 1 2 3 4 Tabel 4.6 Iterasi pertama metode cluster first route second Jalur Rute Penambahan Muatan Jumlah Muatan (kg) (kg) Kelayakan D0000-10708-10008-10043- 545,6+178,3+1202+509,6 10655-10560-D0000 +3122 5557,5 Tidak layak D0000-10487-10467-10519- 192+552,6+240,4+265,6+ 10520-10533-10773-10550- 454,2+1442,4+360,6+192 3820,0 Tidak layak 10231-10377-D0000 +120,2 D0000-10774-10238-10407- 360,6+384+149+129,4+ 10417-10253 -10261-10435- 545,6+360,6+360,6+120,2 3462,8 Tidak layak 10076-10334-10661-D0000 +976+76,8 D0000-10314-10249-10619- 10286-D0000 376,1+360,6+120,2+384 1240,9 Layak Total Muatan (kg) 14081,2 Berdasarkan perhitungan iterasi pertama pada Tabel 4.6, dapat dilihat bahwa pada rute 1, rute 2, dan rute 3 mengalami muatan yang berlebih dalam sekali pengirimannya. Pada rute 1, jumlah muatan barang yang dikirim dalam 1 pengiriman menyebabkan kelebihan kapasitas yang disebabkan oleh outlet 10560 (Tk. Sidik), karena outlet 10560 tersebut jumlah permintaan barang yang dikirim melebihi kapasitas truk dalam sekali pengiriman, maka dari itu untuk pengiriman ke outlet 10560 akan dilakukan 2 kali pengiriman, sehingga setelah pengiriman pertama, truk akan kembali ke depot dan kembali lagi mengantar kiriman ke outlet 10560 lalu kembai lagi ke depot. Pada rute 2, jumlah muatan lebih besar 820 kg daripada batasan kapasitas kendaraan yaitu 3000 kg, sedangkan pada rute 3 jumlah muatan lebih besar 462,8 dari batasan kapasitas kendaraan. Pada rute 4 memenuhi kelayakan kapasitas namun jauh lebih kecil daripada batasan muatan maksimal. Oleh karena itu akan dilakukan perbaikan pengelompokkan dan penyusunan rute agar pembagian klaster tetap memenuhi syarat kelayakan kendaraan namun kapasitas kendaraan tetap dapat dimaksimalkan. 36

Pengklasteran lokasi untuk iterasi kedua dan perbaikan penyusunan rute iterasi kedua dapat dilihat pada Gambar 4.5. Dapat dilihat bahwa untuk pengklasteran pada iterasi kedua diperoleh 5 kelompok lokasi, sehingga akan terbentuk 5 klaster rute pengiriman. Klaster rute pengiriman yang terbentuk dari iterasi kedua pengklasteran tersebut yaitu: 1. Klaster 1 (Rute biru): D0000 10708 10043 10008 10560 10655 D0000 10560 D0000 2. Klaster 2 (Rute hijau): D0000 10519 10520 10467 10487 10533 D0000 3. Klaster 3 (Rute merah): D0000 10773 10550 10231 10238 10774 10377 D0000 4. Klaster 4 (Rute kuning): D0000 10661 10334 10076 10261 10235 10417 10407 10435 D0000 5. Rute 5 (Rute coklat): D0000 10314 10249 10619 10286 D0000 Gambar pembentukan klaster dan gambar penyusunan rute iterasi kedua yaitu dapat dilihat pada Gambar 4.5 berikut ini: 37

38

Setelah rute pengiriman iterasi kedua telah disusun berdasarkan klaster, kemudian dilakukan kembali uji kelayakan pada masing-masing klaster yang telah terbentuk tersebut dengan kapasitas maksimal sebesar 3000 kg (3 ton). Adapun uji kelayakan iterasi kedua ditunjukkan pada Tabel 4.7 sebagai berikut: Klaster 1 2 3 4 5 Tabel 4.7 Iterasi kedua metode cluster first route second Jalur Rute Penambahan Muatan Jumlah Muatan (kg) (kg) Kelayakan D0000-10708-10043-10008- 545,6+1202+178,3+540,9 10560-10655-D0000 +509,6 2976,4 Layak D0000-10560-D0000 2581,1 2581,1 Layak D0000-10519-10520-10467- 240,4+265,6+552,6+192+ 10487-10533-D0000 454,2 1704,8 Layak D0000-10773-10550-10231- 1442,4+360,6+192+384+ 10238-10774-10377-D0000 360,6+120,2 2859,8 Layak D0000-10661-10334-10076- 76,8+976+120,2+360,6+ 10261-10253-10417-10407- 545,6+129,4+149+360,6 10435-D0000 2718,2 Layak D0000-10314-10249-10619- 10286-D0000 376,1+360,6+120,2+384 1240,9 Layak Total Muatan (kg) 14081,2 Berdasarkan perhitungan iterasi kedua yang ditunjukkan pada Tabel 4.7, dapat dilihat bahwa pada seluruh rute sudah tidak mengalami muatan yang melebihi kapasitas, dengan pada rute 1 terjadi dua kali pengiriman untuk outlet 10560 (Tk. Sidik). Langkah selanjutnya adalah penentuan kunjungan pengiriman untuk masing-masing lokasi di setiap klaster. Penentuan urutan lokasi yang akan dikunjungi pada masingmasing klaster ini disusun berdasarkan jarak terdekat dari lokasi satu ke lokasi lainnya di dalam satu klaster tersebut. Perhitungan untuk penentuan urutan rute pengiriman pada rute 1, rute 2, rute 3, rute 4, dan rute 5 tersebut dapat dilihat pada Lampiran 2. Adapun hasil penentuan urutan rute pengiriman untuk seluruh rute pada masing-masing kluster yang dihasilkan berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut ini: 39

40

Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa rute yang dibentuk dengan menggunakan metode sweep cluster first route second ini menghasilkan sebanyak 5 klaster dengan 5 rute perjalanan, dimana apabila rute 4 dan rute 5 digabung ke dalam satu rute, ata dengan kata lain bahwa klaster 4 dan klaster 5 digabung menjadi 1 klaster, maka akan dihasilkan rute pengiriman sebanyak 4 rute, yaitu ada 1 kendaraan truk engkel yang melayani 2 rute dalam sehari, dan ada 2 kendaraan truk engkel yang masing-masing melayani 1 rute dalam sehari. Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep cluster first route second ini dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut ini: Klaster 1 2 3 4 Tabel 4.9 Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep cluster first route second Rute Pngiriman Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 16,7 118,32 2976,4 99,21 49,30 19,7 133,40 2859,8 95,33 55,58 42,5 176,33 2718,2 90,61 73,47 D0000-10708-10043-10008-10560-10655- D0000 D0000-10560- D0000 9,5 116,75 2581,1 86,04 48,65 D0000-10519-10520-10467-10487-10533- 28,9 123,05 1704,8 56,83 51,27 D0000 D0000-10773-10550-10231-10238-10774- 10377- D0000 D0000-10661-10334-10076-10261-10253- 10417-10407-10435- D0000 D0000-10314-10249-10619-10286- D0000 5,2 62,98 1240,9 41,36 26,24 Total 122,5 730,83 14081,2 469,38 304,51 Rata-rata 20,42 121,81 2346,9 78,23 50,75 Setelah seluruh penyusunan rute dilakukan, pada Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa didapatkan sebanyak 4 rute dengan 6 kali pengiriman dari depot ke outlet dan kembali ke depot lagi. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 122,5 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 730,83 menit atau setara dengan 12,18 jam (12 jam 11 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton. Selanjutnya dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode sweep route first cluster second. 41

4.3.1.2 Metode Sweep Route First Cluster Second Proses penyusunan rute pada metode route first cluster second ini awalnya dilakukan dengan membentuk rute terlebih dahulu, kemudian dilakukan pengelompokkan lokasi pengiriman ke dalam klaster. Pemetaan untuk wilayah lokasi pengiriman seperti metode sweep cluster first route second yaitu pada Gambar 4.3. Selanjutnya disusun sebuah rute yang dapat melayani seluruh lokasi pemberhentian dengan tujuan untuk meminimumkan jarak tempuh rute. Pembentukan rute ini awalnya dilakukan tanpa memperhatikan batasan kapasitas maupun waktu tempuh kendaraan. Permasalahan ini diselesaikan dengan metode nearest neighbour, dimana prinsipnya yaitu dengan melayani lokasi pengiriman (outlet) yang jaraknya paling dekat dengan outlet sebelumnya yang menjadi acuan. Perhitungan untuk pembentukan sebuah rute awal pada metode sweep route first cluster second ini dapat dilihat seperti pada Tabel 4.10 berikut ini: Tabel 4.10 Penentuan rute awal dengan metode sweep route first cluster second Iterasi Rute Outlet Terdekat Jarak (km) 1 D0000-10661 1,2 2 D0000-10661- 10314 0,8 3 D0000-10661-10314-10249 0,5 4 D0000-10661-10314-10249- 10619 1,0 5 D0000-10661-10314-10249-10619-10286 0,2 6 D0000-10661-10314-10249-10619-10286- 10377 1,8 7 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774 1,8 8 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334 0,5 9 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560 4,0 10 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560- 10655 1,7 11 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487 2,7 12 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487- 10533 0,6 13 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773 0,4 14 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773- 10550 0,3 15 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231 0,2 16 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10238 3,0 42

Tabel 4.10 Penentuan rute awal dengan metode sweep route first cluster second (lanjutan) Iterasi Rute Outlet Terdekat Jarak (km) 17 D000 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774-10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10076 4,8 10231-10238- 18 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10261 1,9 10238-10076- 19 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10253 2,6 10238-10076-10261-20 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10417 0,1 10238-10076-10261-10253- 21 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10407 2,2 10238-10076-10261-10253-10417-22 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10435 2,3 10238-10076-10261-10253-10417-10407- 23 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10467 18,9 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-24 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10520 2,4 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-10467- 25 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-10467- 10519 1,2 10520-26 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-10467- 10708 10,9 10520-10519- 27 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-10467- 10043 1,0 10520-10519-10708-28 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-10467- 10008 0,3 10520-10519-10708-10043- 29 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-10467- 10520-10519-10708-10043-10008- D0000 6,6 D0000-10661-10314-10249-10619-10286-10377-10774- 30 10334-10560-10655-10487-10533-10773-10550-10231- Total jarak 10238-10076-10261-10253-10417-10407-10435-10467- tempuh (km) 75,9 10520-10519-10708-10043-10008-D0000 Setelah dilakukan penyusunan sebuh rute pada Tabel 4.10 untuk pengiriman ke seluruh outlet tanpa memperhatikan batasan muatan dan waktu tempuh kendaraan, selanjutnya dilakukan pengklasteran sesuai dengan batasan kapasitas muatan kendaraan angkut serta 43

waktu tempuh maksimal dalam sekali pengiriman. Adapun pengklasterannya yaitu seperti yang disajikan pada Tabel 4.11 berikut ini: Klaster 1 2 3 4 Tabel 4.11 Pengklasteran wilayah berdasarkan metode route first cluster second Jalur Rute Penambahan Muatan Jumlah Muatan (kg) (kg) Kelayakan D0000-10661-10314-10249- 76,8+376,1+360,6+120,2+ 10619-10286-10377-10774- 384+120,2+360,6+976+ 2966,5 Layak 10334-10560-D0000 192 D0000-10560-D0000 2930 2930,0 Layak D0000-10655-10487-10533- 509,6+192+454,2+1442,4 10773-10550-D0000 +360,6 2958,8 Layak D0000-10231-10238-10076- 192+384+120,2+360,6+ 10261-10253-10417-10407- 545,6+129,4+149+360,6 10435-D0000 2241,4 Layak D0000-10708-10043-10008- 545,6+1202+178,3+552,6 10467-10520-10519-D0000 +265,6+240,4 2984,5 Layak Total Muatan (kg) 14081,2 Berdasarkan perhitungan pengklasteran wilayah pengiriman yang ditunjukkan pada Tabel 4.11, dapat dilihat bahwa diperoleh sebanyak 4 klaster dengan 5 jalur rute pengiriman, dimana pada klaster 1 terjadi dua kali pengiriman untuk outlet 10560 (Tk. Sidik), dan seluruh rute tersebut sudah tidak mengalami muatan yang melebihi kapasitas truk engkel. Langkah selanjutnya adalah dilakukan uji kelayakan berdasarkan waktu complete maksimal dalam sekali pengiriman. Perhitungan uji kelayakan waktu complete pada pengiriman pada rute 1, rute 2, rute 3, rute 4, dan rute 5 tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3. Adapun hasil penentuan urutan rute pengiriman yang terbentuk berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.12, sedangkan gambar pembentukan klaster berdasarkan penyusunan rute tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.6 berikut: 44

45

46

Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa rute yang dibentuk dengan menggunakan metode sweep route first cluster second ini menghasilkan sebanyak 4 klaster dengan 5 rute perjalanan, dimana ada klaster 1 terdapat 2 rute perjalanan, karena adanya 2 kali pengiriman untuk outlet 10560 (Tk. Sidik), sehingga akan ada 1 kendaraan truk engkel yang melayani 2 klaster dalam sehari, dan ada 2 kendaraan truk engkel yang masingmasing melayani 1 klaster dalam sehari. Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep route first cluster second ini dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut ini: Klaster 1 2 3 4 Tabel 4.13 Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep route first cluster second Rute Pengiriman Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 16,7 141,90 2966,5 98,88 59,13 D0000-10661-10314-10249-10619-10286- 10377-10774-10334-10560-D0000 D0000-10560- D0000 9,5 120,50 2930,0 97,67 50,21 D0000-10655-10487-10533-10773-10550- 19,1 125,87 2958,8 98,63 52,45 D0000 D0000-10231-10238-10076-10261-10253- 10417-10407-10435- D0000 D0000-10708-10043-10008-10467-10520- 10519-D0000 45,8 182,02 2241,4 74,71 75,84 33,1 157,95 2984,5 99,48 65,81 Total 124,2 728,24 14081,2 469,37 303,44 Rata-rata 20,98 145,65 2816,2 93,87 60,69 Setelah seluruh penyusunan rute dilakukan, pada Tabel 4.13 dapat dilihat bahwa didapatkan sebanyak 4 klaster dengan 5 kali pengiriman dari depot ke outlet dan kembali ke depot lagi. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 124,2 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 728,24 menit atau setara dengan 12,14 jam (12 jam 08 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton. 4.3.2 Pembentukan Rute dengan Metode Saving Heuristic Pada pembentukan rute distribusi dengan metode saving heuristic ini, data jarak yang disajikan pada Lampiran 1 berfungsi untuk melakukan perhitungan saving matriks. 47

Perhitungan nilai saving (penghematan) matriks ini dapat dilakukan dengan menggunakan Persamaan 2.3 berikut ini: 1. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet 10435 (Tk. Hidayat) dengan outlet 10261 (Tk. Rahayu) yaitu: S 12 = C o1 + C o2 C 12 = 19,5 + 12,5 7,8 = 24,2 2. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet 10435 (Tk. Hidayat) dengan outlet 10417 (Tk. Bu Yuni) yaitu: S 13 = C o1 + C o3 C 13 = 19,5 + 15,2 4,5 = 30,2 3. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet 10435 (Tk. Hidayat) dengan outlet 10076 (Tk. Cahaya Sidenreng) yaitu: S 14 = C o1 + C o4 C 14 = 19,5 + 11,8 9,3 = 22,0 4. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet 10261 (Tk. Rahayu) dengan outlet 10435 (Tk. Hidayat) yaitu: S 21 = C 1o + C 2o C 21 = 19,5 + 13,1 7,0 = 25,6 5. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet 10417 (Tk. Bu Yuni) dengan outlet 10435 (Tk. Hidayat) yaitu: S 21 = C 1o + C 3o C 31 = 19,5 + 15,2 4,5 = 30,2 6. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet 10076 (Tk. Cahaya Sidenreng) dengan outlet 10435 (Tk. Hidayat) yaitu: S 21 = C 1o + C 3o C 31 = 19,5 + 12,1 8,9 = 22,7 48

Perhitungan saving matriks tersebut dilakukan hingga seluruh jarak dari kombinasi dua outlet telah dihitung seluruhnya. Hasil perhitungan data saving matriks yang telah dihitung menggunakan Persamaan 2.3 yang disajikan pada Lampiran 4. Setelah melakukan penyusunan saving matriks dari masing-masing pasangan outlet berdasarkan Persamaan 2.3 seperti yang disajikan pada Lampiran 4, maka langkah berikutnya yaitu dilanjutkan dengan memilih pasangan outlet dengan nilai saving terbesar untuk dimasukkan ke dalam rute. Di awal dialokasikan bahwa tiap outlet memiliki rute yang berbeda. Outlet-outlet tersebut dapat digabungkan sampai pada batas kapasitas truk yang ada dan horison perencanaan yang berlaku. Pengecekan kelayakan kapasitas dan waktu terhadap pasangan outlet terpilih. Kelayakan kapasitas berdasarkan muatan truk maksimal yaitu 3000 kg (3 ton) per unit truk. Berat produk yang diangkut dikonversi menjadi kilogram (kg), dimana massa jenis air = 1 kg/liter, sehingga berat kotor produk (bruto) per unitnya yaitu berat bersih isi produk (netto) ditambah dengan berat kemasan, atau pada penelitian ini dilakukan penimbangan berat produk per unit per jenis kemasan (karton 240 ml, 330 ml, 600 ml, 1500 ml dan galon 19L serta galon kosong) secara langsung, sehingga dapat langsung diperoleh berat produk per unit per jenis kemasan. Kelayakan waktu yaitu selama 2 x 240 menit, yaitu sebelum dan setelah jam istirahat siang. Jika total muatan dan total waktu keseluruhan sudah melebihi kapasitas, maka tur selesai dan pengiriman ke pelanggan terakhir dibatalkan dan kembali memilih pasangan outlet dari nilai saving tersbesar untuk menyusun rute baru. Penentuan rute distribusi dengan metode saving heuristic dilakukan berdasarkan langkah-langkah tersebut. Penentuan rute untuk pendistribusian air mineral CLUB pada tanggal 3 April 2014 ini diawali dengan melakukan penyusunan rute 1. Penyusunan rute 1 ini diawali dengan mengkombinasikan pengiriman pada outlet 10435 (Tk. Hidayat) dengan outlet 10407 (Tk. Babul Hasan) karena memiliki nilai saving terbesar yaitu 34,4. Jumlah muatan yang diangkut untuk kedua outlet tersebut yaitu sebanyak 30 karton cup 240 ml dan 10 karton 600 ml atau sama dengan 509,6 kg. 49

Dilihat dari kelayakan kapasitas, rute penggabungan kedua outlet ini adalah layak karena 509,6 kg < 3000 kg. Jarak yang ditempuh untuk rute D0000-10435-10407- D0000 adalah sebesar 39 km dengan waktu tempuh perjalanan selama 78 unit. Pengecekan kelayakan pendistribusian tidak hanya disesuaikan dengan kapasitas, namun juga disesuaikan dengan waktu keseluruhan (waktu complete). Waktu untuk loading dan unloading barang di depot selama 5,42 menit, dan loading serta unloading barang di outlet adalah sebesar 5,42 menit, dengan total waktu administrasi untuk empat lokasi yaitu selama 12 menit, sehingga waktu complete untuk rute ini yaitu selama 100,84 menit. Dilihat kelayakan waktu untuk rute D0000-10435-10407-D0000 ini adalah layak karena 100,84 menit < 240 menit. Kelayakan kapasitas maupun waktu masih terpenuhi sehingga masih dapat dilakukan penambahan tujuan outlet di dalam rute 1 ini. Setelah dilakukan perhitungan dari iterasi 1 hingga iterasi kesepuluh pada rute 1 diperoleh bahwa alternatif rute D0000-10487-10008-10774-10377-10314-10661-10261-10417-10435-10407-10253-D0000 adalah alternatif rute yang memiliki kelayakan kapasitas dan kelayakan waktu dengan nilai saving jarak terbesar dengan nilai 2,2 diantara alternatif rute lain yang memenuhi syarat kelayakan. Jumlah muatan kendaraan pada rute 1 ini adalah sebanyak 2849,2 kg dengan waktu complete selama 232,84 menit. Selanjutnya masih dilakukan penambahan rute ke dalam rute 1 ini karena kapasitas kendaraan maupun batasan waktu pengiriman masih mencukupi. Pada rute 1 kemudian masih dilakukan penambahan lokasi lainnya, akan tetapi setiap penambahan lokasi lainnya pada rute ini ternyata mengakibatkan pelanggaran terhadap kelayakan kapasitas maupun waktu complete. Oleh karena itu, tidak ada lagi lokasi pengiriman yang dapat dikombinasikan pada rute D0000-10487-10008-10774-10377-10314-10661-10261-10417-10435-10407-10253-10619-D0000 ini, sehingga harus dibentuk rute baru lagi untuk melayani pengiriman-pengiriman pada outlet yang belum terlayani. Pada rute 1 terdapat 12 outlet yang terlayani, sehingga masih tersisa 16 outlet yang belum terlayani. Untuk seluruh proses perhitungan dari iterasi pertama sampai dengan iterasi kesepuluh pada rute 1 ini dapat dilihat pada Lampiran 5. 50

Selanjutnya, pembentukan rute baru untuk melayani outlet-outlet yang belum terlayani ini diawali dengan melakukan perhitungan iterasi pertama rute 2 dengan langkahlangkah sama seperti pada pembentukan rute 1. Setelah dilakukan proses perhitungan yang sama, dimana kapasitas muatan kendaraan beserta waktu complete dalam pengiriman adalah menjadi batasan dari setiap pembenrukan rute tersebut. Pembentukan rute tersebut terus dilakukan hingga seluruh outlet telah terlayani dan seluruh permintaan dari masing-masing outlet telah terdistribusi. Seluruh proses perhitungan setiap iterasi untuk seluruh rute dapat dilihat pada Lampiran 5. Secara keseluruhan, penyusunan rute distribusi air mineral CLUB untuk metode saving heuristic ini menghasilkan jumlah rute sebanyak 6 rute dengan 6 kali pengiriman, dimana masing-masing kendaraan melakukan perjalanan sebanyak 2 rute. Seluruh hasil perhitungan dengan menggunakan metode saving heuristic ini secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Hasil dari penentuan urutan rute pengiriman yang terbentuk berdasarkan hasil perhitungan dengan metode saving heuristic yang telah dilakukan yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.14, sedangkan gambar pemetaan pembentukan rute tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.7 berikut: 51

52

53

Berdasarkan Tabel 4.14, pada rute 5 untuk penggabungan kedua outlet (10773 dan 10560) pada rute yang sama tidak dapat dilakukan karena jumlah permintaan untuk outlet 10560 melebihi kapasitas muatan 1 unit truk, yaitu 3122 kg > 3000 kg. Penggabungan kedua rute tersebut dapat dilakukan apabila dilakukan pemecahan jumlah barang yang dikirim untuk outlet 10560 ke dalam dua unit truk yang datang secara bergantian ke outlet tersebut. Keputusan tersebut tidak melanggar aturan karena pada varian VRP with multiple trips and fixed fleet split delivery ini, satu kendaraan boleh melayani lebih dari satu rute dan satu pelanggan boleh dilayani/dikunjungi lebih dari satu kali dengan jumlah kendaraan yang dimiliki adalah tetap. Oleh karena itu, dilakukan penyusunan iterasi selanjutnya untuk rute 5 ini dapat diberlakukan sesuai dengan keputusan tersebut. Pemecahan jumlah pengiriman barang dari depot ke outlet 10560 (Tk. Sidik) ini yaitu dengan rincian sebanyak 100 karton cup 240 ml dikirim pada pengiriman rute 5, yaitu penggabungan pengiriman outlet 10773 dan outlet 10560, sedangkan untuk 100 botol gallon 19 L beserta pengangkutan kembali botol gallon kosong dari outlet tersebut ke depot dilakukan oleh truk lainnya pada rute 6. Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa rute yang dibentuk dengan menggunakan metode saving heuristic ini menghasilkan sebanyak 6 rute perjalanan, dimana masingmasing kendaraan truk engkel yang melayani 2 rute dalam sehari. Rekapitulasi penentuan rute dengan metode saving heuristic ini dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut ini: No. Rute 1 2 Tabel 4.15 Jalur Pengiriman D0000-10487-10008-10774-10377-10314- 10661-10261-10417-10435-10407-10253- 10619- D0000 D0000-10076-10533-10238-10519-10467- 10520-10655-10550- D0000 Rekapitulasi penentuan rute dengan metode saving heuristic Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 62,0 238,35 2969,4 98,98 99,32 58,9 220,38 2887,2 96,24 91,83 54

No. Rute Tabel 4.15 Jalur Pengiriman Rekapitulasi penentuan rute dengan metode saving heuristic (lanjutan) Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 3 D0000-10231-10334-10043-10708- D0000 30,2 143,82 2915,6 97,19 59,93 4 D0000-10249-10286- D0000 5,2 44,90 744,6 24,82 18,71 5 D0000-10773-10560- D0000 18,8 104,60 2644,4 88,15 43,58 6 D0000-10560- D0000 9,5 103,00 1920,0 64,00 42,92 Total 184,6 855,05 14081,2 469,38 355,75 Rata-rata 30,8 142,51 2346,9 78,23 59,29 Setelah seluruh penyusunan rute dilakukan, pada Tabel 4.35 dapat dilihat bahwa didapatkan sebanyak 4 rute dengan 6 kali pengiriman dari depot ke outlet dan kembali ke depot lagi. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 184,6 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 855,05 menit atau setara dengan 14,25 jam (14 jam 15 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton. 4.3.3 Penentuan Rute Berdasarkan Kebijakan Perusahaan Penentuan rute pengiriman barang dari depot ke outlet jika berdasarkan metode yang digunakan di perusahaan dilakukan berdasarkan area wilayah kecamatan dari setiap outlet. Perusahaan membagi wilayah distribusi air mineral CLUB di wilayah Kota Balikpapan menjadi 3 area, yaitu area 1 untuk wilayah kecamatan Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur, area 2 untuk wilayah kecamatan Balikpapan Tengah dan Balikpapan Kota, sedangkan area 3 untuk wilayah kecamatan Balikpapan Utara dan Balikpapan Barat. Perusahaan saat ini hanya menugaskan setiap truk engkel hanya melayani areanya masing-masing, namun dapat dimungkinkan kebijakan penetapan area untuk setiap unit kendaraan tersebut mengalami perubahan apabila ada kondisi lain yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Pada kondisi ini, penentuan rute yang terbentuk berdasarkan kebijakan perusahaan saat itu ditunjukkan pada Tabel 4.16 berikut ini: 55

Tabel 4.16 Area No.Pol Truk Jalur Rute 1 KT 8978 LB 2 KT 8765 AR 3 KT 9476 AK Jalur rute pengiriman berdasarkan kebijakan perusahaan Jarak Tempuh (km) Waktu Complete (menit) Jumlah Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu D0000-10076-10261-10253- 10417-10407-10435-D000 40,4 142,72 1665,4 55,51 59,47 D0000-10377-10661-10314- 10249-10619-10286-10774- 19,8 132,18 2182,5 72,75 55,08 10238-D0000 D0000-10334-D0000 4,0 37,42 976,0 32,53 15,59 D0000-10708-10043-10008- 10655-10560-D0000 17,2 113,07 2916,3 97,21 47,11 D0000-10560-D0000 9,5 93,00 2641,2 88,04 38,75 D0000-10487-10533-10773- 10550-10231-D0000 19,4 123,13 2641,2 88,04 51,30 D0000-10467-10520-10519- D0000 28,1 97,12 1058,6 35,29 40,47 Total 138,4 738,64 14081,2 469,37 307,77 Rata-rata 19,77 105,52 2011,6 67,05 43,97 Berdasarkan Tabel 4.16 dapat dilihat bahwa penentuan rute berdasarkan kebijakan perusahaan pada saat ini didapatkan sebanyak 7 rute pengiriman, dimana untuk truk KT 8978 LB yang melayani area 1 melakukan 1 rute pengiriman dari depot menuju 6 outlet di wilayah kecamatan Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur. Truk KT 8765 AR yang melayani area 2 melakukan 2 rute pengiriman dari depot menuju 9 outlet di wilayah kecamatan Balikpapan Tengah dan Balikpapan Kota. Truk KT 9476 AK yang melayani area 3 melakukan 4 rute pengiriman dari depot menuju 13 outlet di wilayah Balikpapan Barat dan Balikpapan Utara. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 138,4 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 738,64 menit atau setara dengan 12,31 jam (12 jam 19 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton. 4.3.4 Perbandingan Tiga Metode yang Digunakan Setelah dilakukan pengolahan data untuk mendapatkan penentuan rute pengiriman air mineral CLUB dari depot ke outlet-outlet di Kota Balikpapan dengan menggunakan metode saving heuristic, metode sweep cluster first route second dan metode sweep route first route second yang hasilnya kemudian dibandingkan dengan perhitungan data 56

berdasarkan kebijakan perusahaan, maka hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.17 berikut ini: Tabel 4.17 Perbandingan hasil perhitungan tiga metode No Metode Jarak Waktu Jumlah Utilitas Rata-rata Jumlah Tempuh Complete Muatan (%) Rute (km) (menit) (kg) Muatan Waktu 1 Sweep Cluster First Route Second 6 122,5 730,83 14081,2 78,23 50,75 2 Sweep Route First Cluster Second 5 124,2 728,24 14081,2 93,87 60,69 3 Saving Heuristic 6 184,6 855,05 14081,2 78,23 59,29 4 Kebijakan Perusahaan 7 138,4 738,64 14081,2 67,05 43,97 Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dan hasilnya disajikan oleh Tabel 4.17, maka ada dua pilihan yang dapat dijadikan metode terpilih untuk penentuan rute pengiriman ini. Pilihan pertama yaitu metode sweep cluster first route second karena memiliki total jarak terpendek dibandingkan dengan metode lainnya, dan jarak tempuh tersebut lebih singkat 15,9 km serta waktu pengiriman lebih singkat 7,81 menit jika dibandingkan dengan rute yang ditentukan berdasarkan kebijakan perusahaan, namun utilitas rata-rata muatan kendaraan dalam setiap kali pengiriman ini hanya sebesar 78,23%, artinya muatan yang diangkut masih jauh dari maksimal. Pilihan kedua yaitu metode sweep route cluster second karena memiliki total waktu complete yang paling singkat yaitu sebesar 728,24 menit, atau lebih singkat 2,59 menit daripada metode sweep cluster first route second, dan lebih singkat 10,40 menit dibandingkan dengan kebijakan perusahaan. Utilitas muatan kendaraan untuk setiap kali pengiriman pada metode sweep route cluster second ini juga yang paling tinggi yaitu sebesar 93,87%, artinya muatan yang diangkut oleh setiap truk dalam satu rute pengirian hampir selalu mencapai kapasitas maksimal, meskipun total jarak tempuh sebesar 124,2 km atau lebih besar 1,7 km dari metode sweep cluster first route second, namun jarak tersebut masih lebih pendek sebesar 14,2 km dari kebijakan perusahaan. Kedua hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk dipilih sebagai metode terpilih. 57

4.3.5 Perhitungan Biaya Bahan Bakar Kendaraan Biaya bahan bakar berbanding lurus dengan jumlah jarak tempuh yang dilalui oleh kendaraan pada saat pengiriman barang. Bahan bakar yang digunakan adalah BBM jenis Solar HSD ( High Speed Diesel) non-subsidi dengan harga per liternya yaitu Rp 12.496,40, dimana 1 liter solar ini kendaraan dapat menempuh jarak sejauh 6 km. Perhitungan biaya bahan bakar kendaraan untuk masing-masing metode yang digunakan yaitu disajikan pada Tabel 4.18 berikut ini: Tabel 4.18 Perbandingan perhitungan biaya bahan bakar kendaraan No Metode Jarak Pemakaian Biaya BBM Tempuh (km) BBM (liter) (Rp) 1 Sweep Cluster First Route Second 122,5 20,42 255.176,49 2 Sweep Route First Cluster Second 124,2 20,70 258.675,48 3 Saving Heuristic 184,6 30,77 384.427,57 4 Kebijakan Perusahaan 138,4 23,07 288.250,29 Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dan hasilnya disajikan oleh Tabel 4.18, maka diperoleh bahwa metode sweep cluster first route second memiliki jarak tempuh yang paling singkat sehingga menghasilkan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) solar yang paling minimum yaitu sebanyak 20,42 liter dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk harga BBM solar non-subsidi tersebut sebesar Rp 255.176,49. 4.4 Penentuan Metode Terpilih Berdasarkan perhitungan maupun perbandingan data yang telah dilakukan, maka metode terpilih untuk penentuan rute pendistribusian air mineral CLUB di PT. Tirta Makmur Perkasa di wilayah Kota Balikpapan apabila perusahaan ingin melihat dari total jarak yang dihasilkan dan biaya bahan bakar yang paling minimal adalah metode sweep cluter first route second. Metode ini terpilih karena memiliki jarak tempuh yang paling singkat untuk pengiriman barang dari depot ke outlet-outlet yang dituju. Jarak tempuh yang singkat ini memengaruhi jumlah pemakaian bahan bakar kendaraan yang semakin kecil. Jarak tempuh kendaraan jika menggunakan metode cluster first route second ini adalah sebesar 122,5 km, sehingga jumlah pemakaian bahan bakar kendaraan untuk menempuh jarak sejauh 122,5 km ini jika perliter solar mampu menempuh jarak 58

sejauh 6 km, maka jumlah solar yang dibutuhkan untuk pendistribusian ini adalah sebanyak 20,42 liter, dengan harga per liter solar non subsidi ini adalah sebesar Rp 12.496,40 maka jumlah biaya pemakaian bahan bakar solar yang harus dikeluarkan oleh perusahaan adalah sebesar Rp 255.176,49. Metode ini tetap dipilih meskipun memiliki total waktu tempuh yang lebih besar 2,57 menit daripada metode sweep route first cluster, namun karen keputusan pemilihan rute ini diputuskan berdasarkan jumlah pemakaian bahan bakar yang paling minimum, maka yang dipilih adalah metode sweep cluster first route class. Tingkat utilitas muatan (keterisian muatan) pada metode cluster first route second ini adalah sebesar 78,23% per rute per unit kendaraan. Artinya, setiap kali satu unit kendaraan melakukan satu rute pengiriman, satu unit kendaraan tersebut rata-rata mengangkut muatan sebanyak 2346,9 kg, atau lebih dari ¾ dari kapasitas muatan truk yang terisi. Metode sweep cluster route second ini juga secara sederhana sudah diterapkan oleh perusahaan, dimana kebijakan perusahaan saat ini adalah sudah membagi wilayah lokasi outlet-outlet yang ada di Kota Balikpapan menjadi 3 area, yaitu area 1, area 2, dan area 3. Hanya saja, perusahaan belum mempunyai metode untuk menetapkan outlet mana yang terlebih dahulu dikunjungi dan outlet mana yang dikunjungi paling terakhir. Metode terpilih selanjutnya adalah metode sweep route first cluster second. Metode ini dapat dipilih oleh perusahaan apabila perusahaan memprioritaskan waktu tempuh pengiriman dan utilitas muatan kendaraan. Waktu tempuh pengiriman dapat diprioritaskan perusahaan apabila perusahaan ingin melayani konsumen, dalam hal ini adalah outlet secara cepat sehingga tidak mengalami keterlambatan pengiriman dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Waktu tempuh pengiriman yang singkat pada metode sweep route first cluster second ini diperoleh karena tingkat utilitas kendaraan yang tinggi ketika membawa muatan dari depot ke outlet dalam satu rute pengiriman, yaitu sebesar 93,87% sehingga dalam sekali pengiriman, kendaraan dapat mengirim barang ke lebih banyak outlet dan mengurangi 59

waktu administrasi, karena semakin banyak rute bolak balik kendaraan dari depot ke outlet dan kembali lagi ke depot, maka waktu administrasi yang terpakai di setiap lokasi juga akan semakin besar. Karena pada metode sweep route first cluster second ini menghasilkan jumlah rute pengiriman yang paling sedikit, yaitu 5 rute pengiriman, maka menyebabkan jumlah waktu administrasi juga akan semakin berkurang karena jumlah kendaraan yang keluar dan masuk ke depot juga berkurang. Oleh sebab itu, meskipun jarak tempuh pada metode sweep route first cluster second ini sedikit lebih besar daripada metode sweep cluster first route second (lebih besar 1,7 km) namun karena tingkat keterisian muatan kendaraan yang tinggi (93,87%) maka jumlah rute keluar dan masuk ke depot juga berkurang, dan waktu administrasi pun menjadi berkurang, sehingga waktu total pengiriman juga berkurang, dimana metode ini menghasilkan waktu tempuh sebesar 728,24 menit. Sehingga apabila perusahaan menetapkan kriteria total waktu tempuh sebagai prioritas pembentukan rute pendistribusian, maka metode sweep route first cluster second ini merupakan metode yang layak untuk dipilih oleh perusahaan. Metode saving heuristic pada penelitian ini tidak disarankan untuk digunakan oleh perusahaan karena menghasilkan jarak tempuh yang sangat besar, sehingga menyebabkan waktu tempuh dan jumlah pemakaian bahan bakar yang paling besar pula, bahkan ketiga variabel itu lebih besar daripada penentuan rute berdasarkan kebijakan perusahaan, sehingga hasil perhitungan yang berasal dari metode saving heuristic pada kasus ini tidak disarankan untuk perusahaan. 4.5 Analisa Terhadap Rute yang Terbentuk Berdasarkan Metode Terpilih Pada metode terpilih, yaitu metode sweep cluster first route second maupun metode sweep route first cluster second ini masing-masing menghasilkan pembentukan rute yang berbeda-beda. Untuk pembentukan rute pada metode sweep cluster first route second ini menghasilkan rute sebanyak 6 rute di dalam 5 klaster. Karena pada setiap rute tersebut masih dapat memungkinkan penggabungan waktu pengiriman pada 240 menit pertama (08.00 12.00) maka beberapa rute dan beberapa klaster digabungkan ke 60

dalam 240 menit pertama, dengan tujuan agar outlet-outlet yang dalam hal ini berperan sebagai pelanggan dapat dilayani pengiriman barang secara cepat, dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan pengiriman barang dari depot ke outlet. Penggabungan rute maupun klaster dalam waktu pengantaran 240 menit pertama pada metode sweep cluster first route second ini dapat dilihat pada Tabel 4.19 berikut ini: Tabel 4.19 Klaster Rute No. Pol Truk 1 2 5 4 3 Analisis rute metode sweep cluster first route second Berat Muatan (kg) Waktu Complete (menit) KT 9476 AK 2976,4 118,32 D0000-10708-10043-10008-10560-10655- D0000 D0000-10560-D0000 KT 9476 AK 2581,1 116,75 D0000-10519-10520-10467-10487-10533- KT 8765 AR 1704,8 123,05 D0000 D0000-10314-10249-10619-10286-D0000 D0000-10661-10334-10076-10261-10253- 10417-10407-10435- D0000 D0000-10773-10550-10231-10238-10774- 10377-D0000 KT 8765 AR 1240,9 62,98 Sisa Waktu (menit) 4,93 53,97 KT 8978 LB 2718,2 176,334 63,67 KT 8978 LB 2859,8 133,40 106,60 Keputusan Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit kedua Berdasarkan analisis rute berdasarkan Tabel 4.19 dapat dilihat bahwa untuk rute 1 dan rute 2 pada klaster 1 dapat dilakukan pengiriman selama 240 menit pertama. Itu dikarenakan pada pengantaran kedua rute tersebut secara berkelanjutan di dalam jangka waktu 240 menit pertama layak dilakukan dimana masih didapatkan sisa waktu selama 4,93 menit sebelum pukul 12.00. Truk KT 9476 AK mulanya melakukan pengiriman untuk rute 1, setelah seluruh outlet pada rute 1 telah dilayani, truk segera kembali ke depot dan melakukan loading barang lalu kembali melakukan untuk melayani rute 2. Outlet 10560 dilayani secara 2 kali pengiriman karena jumlah berat muatan yang akan didistribusikan ke outlet 10560 (Tk. Sidik) tersebut jika dalam sekali pengiriman akan melebihi kapasitas maksimal truk engkel, yaitu 3122 kg > 3000 kg, sehingga perlu dilakukan dua kali proses pengiriman pada outlet tersebut. Keputusan tersebut tidak melanggar aturan karena pada varian VRP with multiple trips and fixed fleet split delivery ini, satu kendaraan boleh melayani lebih dari satu rute dan satu pelanggan 61

boleh dilayani/dikunjungi lebih dari satu kali dengan jumlah kendaraan yang dimiliki adalah tetap. Selanjutnya untuk truk KT 8765 AR juga melakukan dua kali pengiriman selama 240 menit pertama, dimana pertama kali truk tersebut melayani pengiriman untuk rute pada klaster 2, lalu setelah seluruh outlet di klaster 2 terlayani, truk kembali ke depot dan melakukan loading kembali kemudian segera melakukan pengiriman untuk rute pada klaster 5. Waktu pengiriman untuk rute di klaster 5 ini digabung ke dalam 240 menit pertama bersama rute pada klaster 2 karena kombinasi total waktu tempuh dari kedua rute pada kedua klaster ini adalah yang paling minimum, dengan total waktu sebesar 186,03 menit dan sisa waktu sebelum pukul 12.00 yaitu sebesar 53,97 menit. Adapun truk KT 8978 LB yang melayani pengiriman pada rute 3 dan 4 dimana kedua rute tersebut waktu pengirimannya tidak dapat digabung ke dalam 240 menit pertama, sehingga akan lebih baik jika truk KT 8978 LB pada 240 menit pertama melayani pengiriman rute klaster 4 karena terdapat jumlah outlet yang dilayani lebih banyak daripada rute klaster 3, yaitu 8 outlet berbanding 6 outlet. Kemudian apabila truk tersebut telah melayani rute klaster 4, truk kembali ke depot, dan loading muatan beserta pengirimannya dilakukan mulai pukul 13.00 setelah istirahat siang yaitu pada 240 menit kedua. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari metode sweep cluster first route second tersebut maka masing-masing truk melakukan 2 kali rute pengiriman, yaitu 2 truk melayani 2 rute pengiriman pada 240 menit pertama, dan 1 truk melayani pengiriman 1 rute pengiriman pada 240 menit pertama dan 1 rute pengiriman pada 240 menit kedua. Pada metode terpilih selanjutnya yaitu metode sweep route first cluster second menghasilkan rute sebanyak 5 rute pengiriman di dalam 4 klaster yang terbentuk. Pada metode ini tidak dapat dilakukan penggabungan waktu pengiriman untuk 240 menit pertama maupun 240 menit kedua seperti yang diterapkan pada metode sweep cluster first route second sebelumnya. Itu terjadi karena kombinasi total waktu tempuh untuk 2 rute selalu melebihi 240 menit (>240 menit), sehingga dari 5 rute yang terbentuk 62

menghasilkan waktu pengantaran yaitu ada 3 rute yang dilayani pada 240 menit pertama, dan ada 2 rute yang dilayani pada 240 menit kedua. Penentuan waktu pendistribusian pada metode sweep route first cluster second ini dapat dilihat pada Tabel 4.20 berikut ini: Tabel 4.20 Klaster Rute No. Pol Truk 1 2 3 4 D0000-10661-10314-10249-10619-10286- 10377-10774-10334-10560-D0000 Analisis rute metode sweep route first cluster second Berat Muatan (kg) Waktu Complete (menit) Sisa Waktu (menit) KT 9476 AK 2966,5 141,9 98,1 D0000-10560-D0000 KT 9476 AK 2930,0 120,5 119,5 D0000-10655-10487-10533-10773-10550- D0000 D0000-10231-10238-10076-10261-10253- 10417-10407-10435- D0000 D0000-10708-10043-10008-10467-10520- 10519-D0000 KT 8765 AR 2958,8 125,868 114,132 KT 8765 AR 2241,4 182,018 57,982 KT 8978 LB 2984,5 157,95 82,05 Keputusan Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit kedua Diantar pada 240 menit kedua Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit pertama Berdasarkan Tabel 4.20 dapat dilihat bahwa tidak ada rute yang waktu pengirimnannya dapat digabung ke dalam 240 menit pertama maupun ke dalam 240 menit kedua. Oleh karena itu, masing-masing truk melakukan pengiriman ke satu rute pada 240 menit pertama, dan setelah melayani seluruh outlet pada pengiriman di 240 menit pertama, seluruh truk kembali ke depot. Kegiatan loading kembali dilakukan setelah jam istirahat siang atau pada 240 menit kedua. Namun pada 2 rute pengiriman di 240 menit kedua ini hanya dilayani oleh dua truk saja yaitu truk KT 9476 AK dan KT 8765 AR, sedangkan satu unit truk lainnya yaitu KT 8978 LB hanya berada di depot saja pada saat 240 menit kedua karena pengiriman untuk seluruh outlet sudah terlayani. Pada 240 menit pertama, truk KT 9476 AK mulanya melakukan pengiriman untuk rute 1 di klaster 1, setelah seluruh outlet pada rute 1 telah dilayani, truk segera kembali ke depot. Truk tidak dapat kembali melakukan pengantaran barang untuk rute selanjutnya 63

karena waktu pengiriman yang dibutuhkan tidak mencukupi terhadap waktu pelayanan yang tersisa pada 240 menit pertama, sehingga truk ini baru dapat melakukan loading barang lalu kembali melakukan untuk melayani rute 2 pada 240 menit kedua, atau pada pukul 13.00 setelah waktu istirahat siang. Outlet 10560 dilayani secara 2 kali pengiriman karena jumlah berat muatan yang akan didistribusikan ke outlet 10560 (Tk. Sidik) tersebut jika dalam sekali pengiriman akan melebihi kapasitas maksimal truk engkel. Selanjutnya untuk truk KT 8765 AR juga melakukan dua kali pengiriman, dimana 1 rute pengiriman di klaster 3 pada 240 menit pertama dan 1 rute pengiriman di klaster 2 pada 240 menit kedua. Klaster 3 lebih dahulu dilayani karena jumlah outlet yang dilayani lebih banyak daripada jumlah outlet yang terdapat di rute pada klaster 2, sehingga pada 240 menit pertama, dimana pertama kali truk tersebut melayani pengiriman untuk rute pada klaster 3, lalu setelah seluruh outlet di klaster 3 terlayani, truk kembali ke depot. Truk kembali melakukan loading dan pengiriman untuk rute pada klaster 2 pada pukul 13.00, atau setelah waktu istirahat siang. Adapun truk KT 8978 LB hanya melayani pengiriman pada sebanyak 1 rute pada klaster 4 dimana seluruh outlet pada klaster 4 tersebut dilayani pada 240 menit pertama. Setelah itu truk kembali ke depot, dan pada 240 menit kedua, truk KT 8978 LB ini hanya berada di depot saja karena seluruh outlet sudah terlayani seluruhnya. 64