BAB 4 ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA"

Transkripsi

1 43 BAB 4 ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Data-data yang di peroleh dari perusahaan berasal dari departemen logistic dan purchasing. Adapun data-data yang di kumpulkan adalah data permintaan dari setiap cabang pada tahun 2008 bulan oktober sampai september, biaya angkut kesetiap cabang PT United Tractor, serta pengumpulan data melalui wawancara ke manajer atau orang yang bertanggung jawab pada departemen logistic dan beberapa staf departemen logistic serta mempelajari langsung permasalahan di lapangan. Dalam metode pengambilan sampel, sampel yang digunakan adalah sample yang dominan atau frekuensi permintaan akan produk sangat tinggi atau permintaan yang paling tinggi setiap bulannya serta permintaan produk yang mendesak. Banyaknya item yang dipilih cukup mewakili proses distribusi spare parts yang diterapkan dalam PT United Tractros yang dilakukan dengan menggunakan pengiriman udara (airfried). Untuk data biaya pengiriman, dalam penelitian ini akan menganalisa salah satu cara atau alat trasportasi yang digunakan perusahaan yaitu distribusi spare parts melaui pengiriman udara. Jadi biaya yang digunakan adalah biaya pengiriman melalui udara.

2 Pengolahan Data Transportasi Dalam melakukan proses distribusi suatu barang dari satu tempat ke tempat lain dibutuhkan suatu keputusan yang sangat penting yaitu penentuan jadwal dan rute pengiriman barang ke lokasi tujuan. Dalam penelitian ini, proses distribusi spare parts khususnya Bearing dan O-ring dilakukan dari perusahaan United Tractors yaitu diantara depo ke cabang, Depo ke Depo yang lain, dan cabang ke cabang lain yang tersebar di Indonesia. Tujuan dilakukannya penjadwalan dan penentuan rute pengiriman barang adalah untuk mengoptimumkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk melakukan proses pendistribusian spare parts Penjadwalan dan Penentuan Rute Pengiriman Seperti yang telah diketahui tujuan utama dari penjadwalan dan penentuan rute pengiriman adalah untuk mendapatkan biaya yang optimum yang dapat dikeluarkan suatu perusahaan untuk melakukan proses distribusi spare parts. Dalam sebuah perusahaan seorang manajer harus mampu menentukan atau memberikan keputusan tentang alat transportasi apa yang harus digunakan, kapan spare parts tersebut harus dikirim, ke cabang atau DEPO mana yang akan dituju serta rute mana yang harus ditempuh oleh satu alat transportasi dalam melakukan proses distribusi. Manajer juga harus memastikan tidak ada satupun alat transportasi yang melebihi muatan serta dapat memenuhi permintaan baik itu berupa kuantiti ataupun kwaliti serta waktu pengiriman harus tepat waktu.

3 45 Pada penelitian ini akan membahas tentang proses distribusi spare parts khususnya bearing dan o-ring pada bulan oktober untuk mempermudah pemecahan masalah penjadwalan dan penentuan rute kendaraan, ke setiap cabang ataupun depo di seluruh Indonesia maka terlebih dahulu daerah-daerah tujuan di-plot kedalam peta kemudian dibuatkan skala sumbu X dan sumbu Y dengan DC sebagai pusat koordinat (0,0). Dapat dilihat pada gambar 7 Menunjukan bentuk plot setiap cabang dan depo yang akan dituju untuk proses distribusi spare parts dalam peta dalam skala sumbu XY. Tabel 2 menampilkan lokasi DC dari setiap cabang dan DEPO dalam skala sumbu XY. Serta banyaknya permintaan untuk bulan oktober 2008 dimana penggunaan alat transportasi menggunakan pesawat terbang. Dengan mempertimbangkan bahwa jarak dua titik antar koordinat dalam sumbu XY berkolerasi dengan jarak nyata yang akan ditempuh alat transportasi serta jarak tempuh yang ditempuh oleh alat transportasi akan sangat mempengaruhi waktu pengiriman yang secara langsung berdampak pada tingkat pelayanan kepada pelanggan, maka total jarak tempuh harus dipertimbangkan untuk meminimumkan biaya yang timbul akibat proses transportasi. Dalam penelitian ini akan digunakan metode saving matrix untuk penjadwalan dan penentuan rute pengiriman spare parts.

4 Metode Saving Matrix Dalam metode ini langkah langkah yang dilakukan adalah pertama membuat peta lokasi dari DEPO yang dimiliki oleh PT. United Tractors dan lokasi cabang dari PT United Tractors sebagai customer dari DEPO PT UT. Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 7. Peta Lokasi DEPO dan Cabang PT.UT

5 47 Keterangan (Gambar 7) adalah sebagai berikut: Lokasi DEPO Lokasi cabang/ cusromer NO LOKASI NO LOKASI 1 Banda aceh 16 Balikpapan 2 Medan 17 Senakin 3 Padang 18 Samarinda 4 Pekanbaru 19 Ujung pandang 5 Jambi 20 Berau 6 Palembang 21 Bontang 7 Pangkalpinang 22 Palu 8 Bandar lampung 23 Tarakan 10 Pontianak 24 Ambon 11 Semarang Manado 12 Banjarmasin Adaro 26 Timika 14 Surabaya 27 Jayapura 15 Sangata Pada gambar 7 yaitu peta persebaran lokasi DEPO dan cabang untuk wilayah Indonesia memiliki skala gambar sebesar 1cm pada peta mewakili km untuk jarak sebenarnya.

6 48 Berdasarkan lokasi DEPO yang terdapat pada PT. United Tractor dapat ditentukan jarak dari setiap lokasi customer berdasarkan atas sumbu XY, dan jumlah permintaan bulan oktober DEPO JAKARTA Untuk DEPO PT United Tractors yang pertama adalah di Jakarta, dapat digambarkan pemetaannya sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 8. Lokasi DEPO Jakarta dan Lokasi Cabang PT.UT Pada gambar 8, merupakan hasil pengolahaan data yaitu loksai persebaran DEPO dan cabang PT United Tractors. Skala jarak yang di gunakan oleh sumbu XY adalah untuk jarak titik satu ke titik yang laian adalah 0,5cm = km untuk jarak nyata. Untuk penentuan nilai pada sumbu X dan Y terhadap lokasi cabang dan

7 49 DEPO dilakukan pembulatan yaitu menjadi satu bilangan bulat (tidak ada bilanga pecaha).depo Jakarta sebagai DC (Distribution Center)

8 50 Tabel 2. Jarak Lokasin DEPO Dan Cabang Dalam Dua Titk Koordinat Dalam Sumbu XY CUSTOMER Lokasi Koordinat Permintaan X Y box Kg CDC CUS 1 Banda aceh CUS 2 Medan CUS 3 Padang CUS 4 Pekanbaru CUS 5 Jambi CUS 6 Palembang CUS 7 Pangkalpinang CUS 8 Bandar lampung CUST 10 Pontianak CUST 11 Semarang CUST 12 Banjarmasin CUST 13 Adaro CUST 14 Surabaya CUST 15 Sangata CUST 16 Balikpapan CUST 17 Senakin CUST 18 Samarinda CUST 19 Ujung pandang CUST 20 Berau CUST 21 Bontang CUST 22 Palu CUST 23 Tarakan CUST 24 Ambon CUST 25 Manado CUST 26 Timika CUST 27 Jayapura Dengan pertimbangan bahwa jarak dua titik antar koordinat dalam sumbu XY berkolerasi dengan jarak nyata yang akan di tempuh oleh salah satu alat transportasi

9 51 yang akan digunakan, serta jarak tempuh alat transportasi akan sangat mempengaruhi jumlah biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan yang secara langsung berpengaruh pada seberapa besar biaya yang dapat di minimalkan kepada perusahaan, maka meminimumkan total jarak tempuh akan sangat berguna untuk meminimumkan biaya yang timbul akibat proses transportasi. Dalam penelitian kali ini akan digunakan metode Saving Matrix untuk penjadwalan dan penentuan rute transportasi. Langkah pertama metode Saving Matrix adalah membuat matriks jarak (distance matrix) yang terdapat pada Bab II, dan hasilnya akan ditampilkan dalam tabel 3 berikut. Matriks jarak ini selanjutnya akan digunakan untuk mengevaluasi matriks penghematan (Saving matrix). Pada langkah ini kita memerlukan jarak antara gudang kemasing-masing customer dan jarak customer kemasing-masing customer. Dengan mengetahui masing-masing koordinat dari customer maka dapat dilakukan perhitungan untuk menemukan jarak antara gudang kemasing-masing customer serta jarak antar customer yang satu dengan customer yang lain.

10 52 Tabel 3. Jarak Antara Gudang (DEPO) Kemasing-Masing Customer (Cabang) Untuk jarak antara customer 1 dengan distribution center (DC) dan customer 2 perhitungannya di uraikan sebagai berikut. Jarak antar dua koordinat yang lain dihitung sama seperti perhitungan sebagai berikut: Dist (A,B) = ((X A -X B ) 2 +(Y A -Y B ) 2 ) Dist (CUS 1,CUS 2) = ((X CUS 1 - X CUS 2 ) 2 +(Y CUS 1 -Y CUS 2 ) 2 ) Dist (DC,CUS 1) = ((0 (-11)) 2 +(0-(-13)) 2 ) = 17.0 Dist (DC,CUS 2) = ((0 (-8)) 2 +(0-(-11)) 2 ) = 13.6

11 53 Dist (CUS 1,CUS 2 )= ((-11 (-8)) 2 +(-13-(-11)) 2 ) = 3.6 Dist (CUS 1,CUS 3) = ((-11 (-6)) 2 +(-13-(-6)) 2 ) = 8.6 Dist (CUS 23,CUS 24) = ((10 (20)) 2 +(11-(3)) 2 ) = 12.8 Dist (CUS 24,CUS 25) = ((20 (17)) 2 +(3-(9)) 2 ) = 6.7 Keterangan: Dist = Distribusi CUS 1 = Customers 1 CUS 2 = Customers 2 CUS n = Customers n Pada proses distance matrix seluruh jarak dari setiap gudang dan setiap customer seluruhnya haruslah dihitung, dan hasil dari perhitungan ini akan digunakan untuk menentukan matriks penghematan (saving matrix) yang akan di kerjakan pada langkah berikutnya. Langkah kedua yaitu matriks penghematan (saving matrix). Saving matrix merepresentasikan penghematan yang bisa direalisasikan dengan menggabungkan dua atau lebih pelanggan kedalam satu rute.

12 54 Sebelum Rute Digabung Setelah Rute Digabung Gambar 9. Sebelum Dan Sesudah Penggabungan Rute Perubahan yang terjadi dengan menggabungkan pelanggan 1 dan pelanggan 2 kedalam satu rute. Dengan menggunakan data hasil perhitungan distance matrix dapat dibuat penghematan jarak dengan menggabungkan dua trip menjadi satu trip. Misalnya jarak antara DC (Distribution Centers) ke customer1 kemudian kembali ke DC, dan DC ke customer 2 kemudian kembali ke DC, dapat di gabung menjadi DC ke customer1 lalu ke customer 2 kemudian kembali lagi ke DC. Untuk pembuatan saving matrix ini perhitungannya menggunakan rumus (2) yang terdapat pada Bab II yang hasilnya akan di tampilkan dalam Tabel 4. Selanjutnya pada proses saving matrix adalah menentukan kendaraan mana yang akan melayani customer yang mana.

13 55 Tabel 4. Tabel Penghematan Jarak Untuk penghematan jarak customer1 dan customer 2 perhitungannya adalah sebagai berikut. Penghematan jarak antar dua koordinat yang lain dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang sama. S(X,Y)=Dist(DC,X)+Dist(DC,Y)-Dist(X,Y) atau S(CUS 1, CUS 2) = Dist(DC,CUS1)+Dist(DC,CUS 2)-Dist(CUS 1,CUS 2) = = 27.0

14 56 S(CUS 2, CUS 3) = Dist(DC,CUS2)+Dist(DC,CUS 3)-Dist(CUS 2,CUS 2) Keterangan = = 16.7 S = Seving Matrix CUS 1 = Customers 1 CUS 2 = Customers 2 CUS n = Customers n Langkah selanjutnya penentuaan kendaraan terhadap customer. Tujuan dilakukannya penentuan kendaraan terhadap customer adalah untuk memaksimalkan penghemataan jarak, untuk itu diperlukan prosedur iterasi yang akan dilakukan dari matriks penghematan. Syarat utamanya adalah dua rute dapat digabung dalam satu rute feasible jika total pengiriman kedua rute tidak melebihi kapasitas alat transportasi yang digunakan. Pada perusahaan PT United Tractros, pihak ekspedisi pengiriman barang membatasi jumlah beban pengiriman sebanyak 6000 kg atau 600 box untuk satu alat transportasi. Langkah pertama dari prosedur iterasi adalah menggabungkan dua rute dengan penghematan tertinggi menjadi satu rute yang feasible. Prosedur ini dilakukan terus menerus sampai tidak ditemukan lagi kombinasi yang feasible. Untuk penelitian ini, seperti terlihat pada tabel penghematan tertinggi adalah 46.0 yang merupakan penggabungan rute pengiriman customer 26 dan customer 27. Pada proses iterasi ini memungkinkan dilakukan penggabungan karena

15 57 total pengiriman yang dilakukan adalah untuk customer 26 jumlah spare part yang di order adalah 345 dan customer 27 jumlah spare part yang di order adalah 1512 jadi total penjumlahan spare parts yang di order adalah = 1857 kg, masih dibawah batas kapasitas yang diijinkan yaitu 6000kg atau 600 box, sehingga dua customer tersebut dapat digabung dalam satu rute pengiriman, yaitu rute pengiriman pertama (RUTE 1) seperti terlihat pada tabel..dan selanjutnya penghematan yang sudah dilakukan (46.0) diabaikan dalam prosedur iterasi berikutnya. Tabel 5. Saving Matrix - Iterasi Pertama Sumber: Hasi Pengolahan Data

16 58 Penghematan tertinggi berikutnya adalah 40.4 yang merupakan penggabungan dari customer 26 dan customer 24. Proses penggabungan dapat dilakukan antara customer 26 dan customer 24 karena total pengiriman =1948kg, masih dibawah 6000kg atau 600box. Dalam hal ini customer 24 akan digabung dalam rute yang sama dengan customer 27 karena customer 27 sudah tergabung dengan customer 26 dan telah memiliki rute. Tabel 6. Saving Matrix- Iterasi Ke-Dua Penghematan tertinggi berikutnya adalah 40.4 yang merupakan gabungan dari customer 26 dan customer 24 lagi karena keduanya sudah memiliki rute jadi

17 59 tidak perlu dilakukan perhitungan lagi. Penghematan berikutnya yaitu 36.0 yang merupakan gabungan dari customer 27 dan customer 25 karena customer 27 sudah memiliki rute pengiriman maka untuk customer 25 akan di gabung dengan customer 27, customer 26 dan customer 24 jadi total pengiriman adala = 2820, karena masih di bawah batas maksimal beban yang di ijinkan maka customer 25 dapat digabung dengan customer 27, customer 26 dan customer 24. Proses penggabungan ini dilakun terus menerus sama tapi tidak ditemukan lagi kombinasi yang feasible dan sampai batas maksimal pengiriman yang di ijinkan oleh pihak ekspedisi. Tabel 7. Saving Matrix- Iterasi-Ke-Tiga

18 60 Setelah tidak ditemukan lagi kombinasi yang feasible dan kapasitas beban yang berlebihan, maka rute berikutnya akan menggunakan rute kendaraan kedua. Hal ini disebabkan karena berapa pun penambahan penghematan jarak yang akan dilakukan akan menyebabkan kelebihan beban muatan yang telah ditentukan oleh pihak ekspedisi. Untuk rute 1 alat transportasi yang digunakan sudah mengangkut sebanyak 5996 kg (599 box) dari kapasitas yang diijinkan adalah 6000kg atau 600 box. Untuk memenuhi kapasitas alat transportasi yang digunakan diperlukan = 4kg lagi, dalam hal ini semua customer yang masih belum terlayani mempunyai permintaan lebih dari jumlah tersebut yaitu 4kg. untuk rute kendaraan kedua, prosedur iterasi juga dilakukan sama seperti pada rute kendaraan pertama. Proses penambahan rute dilakukan sampai seluruh customer yang ada telah dilayani semua. Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan satu customer akan dilayani oleh satu alat transportasi dan begitu pula sebaliknya satu pesawat (alat transportasi) akan melayani beberapa customer, tetapi satu customer tidak dapat dilayani oleh dua atau lebih alat transportasi (kecuali situasi khusus atau kondisi mendesak).

19 61 Tabel 8. Saving Matrix Setelah Dilakukan Itersi Dari hasil iterasi,didapat lima rute pengiriman yaitu kelompok rute pertama [ CUS 1, CUS 3, CUS 20, CUS 23, CUS 24, CUS 25, CUS 26, CUS 27], untuk kelompok rute kedua [ CUS 17 ], untuk kelompok rute ketiga [ CUS 16, CUS 18], untuk rute ke empat [ CUS 12, CUS 13], dan untuk rute terakhir yaitu rute kelima [ CUS 2, CUS 3, CUS 4, CUS 5,CUS 6, CUS 7, CUS 8, CUS 10, CUS 11, CUS 14] yang masing-masing dilayani oleh satu alat transportasi. Langkah selanjutnya adalah

20 62 menentukan urutan-urutan kunjungan setiap customer dalam setiap rute yang telah di kelompokan tersebut. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tiga prosedur pengukuran yang selanjutnya dipilih urutan yang menghasilkan total jarak paling minimal. Ketiga prosedur tersebut adalah Nearest Insert, Nearet Neighbor, dan Sweep. Jarak antar customer didasarkan pada angka-angka dalam distance matrix pada (Tabel 3). 1. Nearest Insert a. Rute 1 Untuk alat transportasi dengan rute pertama melayani customer [ CUS 1, CUS 3, CUS 20, CUS 23, CUS 24, CUS 25, CUS 26, CUS 27] dapat dilihat dalam tabel dibawah ini. Tabel 9. Hasil Itersai Untuk Rute 1 CUS LOKASI RUTE CDC Banda aceh Padang Berau Tarakan Ambon Manado Timika Jayapura Untuk menentukan customer mana yang akan dikunjungi terlebih dahulu kemudian dari customer yang satu ke customer lainnya dilakukan perhitungan untuk menentukan jarak terpendek adalah sebagai berikut. Dimulai dari DC

21 63 kemudian untuk menentukan tujuan berikutnya di pilih jarak tempuh yang terdekat dengan DC yaitu customer CUS 3. Hasil jarak perjalanannya adalah DC menuju CUS 3 kemudian kembali ke DC. Tabel 9.1. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 1 DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS Setelah melakukan proses iterasi pertama untuk rute pertama, hasilnya yang ditampilkan pada tabel diatas kemudian menentukan rute jarak yang terpendek sebagai customer yang akan di kunjungi untuk pertama kali dalam rute pertama adalah CUS 3 yang memiliki jarak terdekat dari distribution center (CD) yaitu Pada langkah selanjutnya, penambahan customer CUS 1 pada tip (DC,CUS 3, CUS 1, DC) menghasilkan jarak 34.1, penambahan customer

22 64 CUS 20 menghasilkan jarak 37.5, penambahan jarak dari DC ke customer CUS 3 ke customer CUS 23 adalah 39,9, penambahan customer CUS 24 menghasilkan jarak 36.1, penambahan jarak customer CUS 25 memiliki jarak 41.9, penambahan jarak customer CUS 26 memiliki jarak43.5, penambahan jarak customer CUS 25 memiliki jarak49.1. Tabel 9.2. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 2 DC CUS 3 CUS DC CUS 3 CUS DC CUS 3 CUS DC CUS 3 CUS DC CUS 3 CUS DC CUS 3 CUS DC CUS 3 CUS Setelah hasil dari perhitungan jarak untuk iterasi ke-dua pada rute pertama ini, maka ditentukan lagi jarak yang terdekat pada iterasi kedua untuk menentukan pelanggan mana yang akan dikunjungi berikutnya pada proses distribusi ini setelah pelanggan CUS 3 setelah dikunjungi oleh suatu alat transportasi. Dalam iterasi ke-dua ini jarak terdekat adalah 34.1 yang merupakan rute dari DC, CUS3, CUS1, DC.

23 65 Selanjutnya penambahan customer CUS 20 pada trip (DC, CUS3, CUS1, DC) menghasilkan jarak perjalanan 61.5, penambahan customer CUS 23 menghasilkan jarak perjalanan 63.9, penambahan customer CUS 24 menghasilkan jarak perjalanan 72.2, penambahan customer CUS 25 menghasilkan jarak perjalanan 71.9, penambahan customer CUS 26 menghasilkan jarak perjalanan 87.4, penambahan customer CUS 27 menghasilkan jarak perjalanan Tabel 9.3. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 3 DC CUS 3 CUS 1 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS Setelah perhitungan iterasi ke-tiga pada rute pertama didapatkan, maka proses penentuan jarak terdekat berikutnya dilakukan untuk menentukan customer mana yang selanjutnya dikunjungi setelah customer CUS 3, dan CUS 1. Pada hasil iterasi ke-tiga rute pertama ditemukan jarak terpendek adalah 61.1, yang merupakan rute dari DC, CUS3, CUS1, CUS 20, DC.

24 66 Selanjutnya penambahan customer CUS 23 pada trip (DC, CUS3, CUS1, CUS20, DC) menghasilkan jarak perjalanan 63.9, penambahan customer CUS 24 menghasilkan jarak perjalanan 80.8, penambahan customer CUS 25 menghasilkan jarak perjalanan 74.8, penambahan customer CUS 26 menghasilkan jarak perjalanan 96.0, penambahan customer CUS 26 menghasilkan jarak perjalanan Hasil iterasi ke-empat adalah sebagai berikut: Tabel 9.4. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 4 D C CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS Pada iterasi ke-empat dilakukan proses yang sama seperti iterasi-iterasi sebelumnya yaitu menentukan jarak terpendek berikutnya. Pada iterasi keempat ini jarak terdekat adalah 63.9 yang merupakan rute dari DC, CUS3, CUS1, CUS20 CUS23, DC. Selanjutnya dilakukan iterasi ke-lima yaitu penambahan customer CUS 24 pada trip (DC,CUS3,CUS1, CUS20, CUS 23, DC) menghasilkan jarak perjalanan 82.0, penambahan customer CUS 25 menghasilkan jarak

25 67 perjalanan 75.5, penambahan customer CUS 26 menghasilkan jarak perjalanan 96.8, penambahan customer CUS 27 menghasilkan jarak perjalanan Hasil iterasi ke-lima adalah sebagai berikut: Tabel 9.5. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 5 DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS Proses selanjutnya menentukan jarak terpendek pada hasil iterasi ke-lima rute yang pertama. Pada iterasi ke lima ini jarak terdekat adalah 75.5 yang merupakan rute dari DC, CUS3, CUS1, CUS20 CUS23, CUS 25, DC. Selanjutnya dilakukan iterasi ke-enam yaitu penambahan customer CUS 24 pada trip (DC,CUS3,CUS1, CUS20, CUS 23, CUS 25, DC) menghasilkan jarak perjalanan 83.2, penambahan customer CUS 26 menghasilkan jarak perjalanan 92.5, penambahan customer CUS 26 menghasilkan jarak perjalanan Hasil iterasi ke-enam adalah sebagai berikut:

26 68 Tabel 9.6. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 6 DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS 25 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS 25 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS 25 CUS Pada iterasi ke-enam dilakukan proses yang sama seperti iterasi-iterasi sebelumnya yaitu menentukan jarak terpendek berikutnya. Pada iterasi keenam ini jarak terdekat adalah 83.2 yang merupakan rute dari DC, CUS3, CUS1, CUS20 CUS23, CUS 25, CUS 24, DC. Selanjutnya dilakukan iterasi ke-tujuh yaitu penambahan customer CUS 26 pada trip (DC, CUS3, CUS1, CUS20, CUS 23, CUS 25, CUS 24, DC) menghasilkan jarak perjalanan 99.2, penambahan customer CUS 27 menghasilkan jarak perjalanan Hasil iterasi ke-enam adalah sebagai berikut: Tabel 9.7. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 7 DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS 25 CUS 24 CUS DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS 25 CUS 24 CUS

27 69 Proses selanjutnya menentukan jarak terpendek pada hasil iterasi ke-tujuh rute yang pertama. Pada iterasi ke-tujuh ini jarak terdekat adalah 99.2 yang merupakan rute dari DC, CUS3, CUS1, CUS20, CUS23, CUS 25, CUS 24, CUS 26, DC. Pada iterasi ke-delapan, merupakan iterasi yang terakhir karena semua customer di lalui oleh alat transportasi untuk membawa permintaan spare parts kecuali customer CUS 27. Penambahan customer CUS 27 pada trip (DC, CUS3, CUS1, CUS20, CUS 23, CUS 25, CUS 24, CUS 26, DC) menghasilkan jarak perjalanan Tabel 9.8. Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 1 Iterasi 8 DC CUS 3 CUS 1 CUS 20 CUS 23 CUS 25 CUS 24 CUS 26 CUS Pada iterasi ini di temukan jarak optimal untuk rute satu sebesar 106.6, yang merupakan rute perjalanan mulai dari DC, CUS3, CUS1, CUS20, CUS 23, CUS 25, CUS 24, CUS 26, CUS 27, DC dengan total jarak tempuh b. Rute 2 Tabel 10. Hasil Itersai Untuk Rute 2 CDC CUS CUST LOKASI 19 CUS 19 Ujung pandang CUS 21 CUS 22 CUS 21 Bontang CUS 22 Palu

28 70 Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 2 Iterasi 1 DC CUS DC CUS DC CUS Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 2 Iterasi 2 DC CUS 19 CUS DC 19 CUS Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 2 Iterasi 3 DC CUS 19 CUS 21 CUS c. Rute 3 Pada rute ke-dua ini hanya memiliki satu pelanggan saja yang dilayani jadi proses iterasi yang digunakan hanya satu kali saja. Tabel 11. Hasil Itersai Untuk Rute 3 CUSTOMER LOKASI CDC CUS 17 CUS 17 Senakin

29 71 Proses iterasi pertama dalam rute kedua ini memiliki total jarak yaitu yang berarti satu alat transportasi melayani satu customer saja. Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 3 Iterasi 1 DC d. Rute 4 Tabel 12. Hasil Itersai Untuk Rute 4 RUTE 4 CUSTOMER LOKASI CDC Balikpapan Samarinda Proses iterasi dilakukan sebanyak dua kali yang pertama adalah Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 4 Iterasi 1 DC DC Karena hasil iterasi menunjukan jarak yang sama maka di pilih salah satu. Jarak yang terdekat dengan DC adalah 10.8.

30 72 Iterasi ke-dua adalah Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 4 Iterasi 2 DC Total jarak tempuh pada rut eke tiga ini adalah 21.6 e. Rute 5 Tabel 13. Hasil Itersai Untuk Rute 5 CUSTOMER LOKASI CDC Banjarmasin Adaro Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 5 Iterasi 1 DC DC Proses iterasi pertama menghasilkan jarak minimum sebesar 16.1 Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 5 Iterasi 2 CDC Proses iterasi kedua menghasilkan jarak total sebesar 17.5.

31 73 f. Rute 6 Tabel 14. Hasil Itersai Untuk Rute 6 CUS LOKASI CDC Medan Pekanbaru Jambi Palembang Pangkalpinang Bandar lampung Pontianak Semarang Surabaya

32 74 Langkah-langkah iterasi yang dilakukan sampai menemukan jarak tempuh yang optimum adalah Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 1 DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS DC CUS

33 75 Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 2 CDC CDC CDC CDC CDC CDC CDC CDC Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 3 CDC CDC CDC CDC CDC CDC CDC

34 76 Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 4 CDC CDC CDC CDC CDC CDC Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 5 CDC CDC CDC CDC CDC

35 77 Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 6 CDC CDC CDC CDC Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 7 CDC CDC CDC Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 8 CDC CDC Tabel Metode Nearest Insert Rute Kendaraan 6 Iterasi 9 CDC

36 78 2. Nearet Neighbor a. Rute 1 Dengan menggunakan metode Nearet Neighbor, rute pertama untuk pelayanan customer CUS 1, CUS 3, CUS 20, CUS 23, CUS 24, CUS 25, CUS 26, CUS 27] dapat dilihat dalam tabel dibawah ini. Tabel 15. Hasil Itersai Untuk Rute 1 CUS LOKASI RUTE CDC Banda aceh Padang Berau Tarakan Ambon Manado Timika Jayapura Dengan menggunakan hasil dari distance matrix dapat ditentukan customer mana yang harus dilalui oleh alat trasportasi terlebih dahulu, kemudian akan dilanjutkan ke customer lain sampai seluruh customer dapat terlayani dalam satu rute ini. Prinsip dasar dari metode Nearet Neighbor adalah memilih jalur yang sudah dikelompokan dalam satu rute yang memiliki jarak tempuh terkecil yang mempunyai jarak terdekat dengan distribution center (DC) kemudian dilanjutkan ke jarak pelanggan yang terdekat dengan pelanggan yang sudah di

37 79 lalui oleh alat transportasi, sampai seluruh customer dalam rute yang dikelompokan tersebut di layani semuanya. Tabel Metode Nearest Neighbor Rute Kendaraan 1 DC Untuk pelayanan customer dalam rute pertama ini dimulai dari distribution center sebagai tempat dimana barang itu akan mulai dikirim kemudian menuju lokasi customer yang jaraknya sangat dekat dengan DC tersebut. Jarak yang paling dekat dengan DC adalah CUS 3 yang memiliki jarak tempuh 8.5, kemudian dari CUS 3 ditentukan lagi jarak yang paling dekat dengan CUS 3 dan lokasi itu adalah pada CUS1 yang memiliki jarak tempuh 8.6, kemudian jarak yang paling dekat dengan CUS 1 adalah CUS 20 yang memiliki jarak tempuh 30.5, kemudian jarak terdekat dari CUS 20 adalah CUS 23 yang memiliki jarak tempuh 1.4, kemudian jarak yang paling dekat dengan CUS 23 adalah CUS 25 yang memiliki jarak tempuh 7.3, Kemudian jarak yang paling dekat dengan CUS 25 adalah CUS 24 yang memiliki jarak tempuh 6.7, kemudian jarak yang terdekat dengan CUS 24 adalah CUS 26 yang memiliki jarak tempuh 8.0, kemudian jarak yang paling dekat dengan CUS 26 adalah CUS 27 yang memiliki jarak tempuh 3.6, dan untuk CUS 27 jarak yang digunakan adalah jarak dari CUS 27 kembali ke DC jaraknya adalah setelah jarak dari masing-masing customer dalam rute

38 80 satu ini diketahui, selanjutnya semua jarak dari masing-masing customer dijumlahkan sehingga ditemukan jarak optimal. Dalam rute satu ini total jarak atau jarak yang paling optimal adalah Untuk rute-rute berikutnya dapat dilakukan prosedur yang sama dalam menentukan lokasi customer mana yang harus dikunjungi terlebih dahulu dan seberapa besar jarak optimal yang dapat ditempuh oleh sebuah alat transportasi untuk mendapatkan biaya pengiriman yang paling optimum. b. Rute2 Tabel 16. Hasil Itersai Untuk Rute 2 CUSTOMER LOKASI CDC CUS 19 CUS 21 CUS 22 CUS 19 Ujung pandang CUS 21 Bontang CUS 22 Palu Tabel Metode Nearest Neighbor Rute Kendaraan 2 DC c. Rute 3 Tabel 17. Hasil Itersai Untuk Rute 3 RUTE 3 CUSTOMER LOKASI CDC CUS 17 CUS 17 Senakin

39 81 Tabel Metode Nearest Neighbor Rute Kendaraan 3 d. Rute 4 DC Tabel 18. Hasil Itersai Untuk Rute 4 RUTE 4 CUSTOMER LOKASI CDC Balikpapan Samarinda Tabel Metode Nearest Neighbor Rute Kendaraan 4 e. Rute 5 DC Tabel 19. Hasil itersai untuk rute 5 CUSTOMER LOKASI CDC Banjarmasin Adaro Tabel Metode Nearest Neighbor Rute Kendaraan 5 CDC

40 82 f. Rute 6 Tabel 20. Hasil Itersai Untuk Rute 6 CUS LOKASI CDC Medan Pekanbaru Jambi Palembang Pangkalpinang Bandar lampung Pontianak Semarang Surabaya Tabel Metode Nearest Neighbor Rute Kendaraan 6 DC Sweep a. Rute 1 Dalam prosedur sweep, pertama-tama menentukan customer mana saja yang berada dalam satu rute yang telah di kelompokan melalui proses distance matrix.

41 83 Tabel 21. Hasil Itersai Untuk Rute 1 CUS LOKASI RUTE CDC Banda aceh Padang Berau Tarakan Ambon Manado Timika Jayapura Kemudian menentukan customer mana yang harus di kunjungi terlebih dahulu, kemudian customer mana yang harus dikunjungi setelah customer yang sudah di kunjungi sebelumnya, sampai semua customer dapat dilayani. Dalam mendapatkan jarak yang optimal maka prosedur menambahkan jarak dari setiap customer yang di jumpai adalah dengan alur searah jarum jam atau berlawanan jarum jam dengan DC sebagai titik awal. Tabel Metode Sweep Rute Kendaraan 1 DC Perhitungan penjumlahan customer diawali dari DC sebagai starting point, customer yang di jumpai secara berturut-turut dengan rute perjalanan searah jarum jam adalah CUS3, CUS1, CUS20, CUS 23, CUS 25, CUS 24, CUS 26, CUS 27, sehingga menghasilkan rute perjalanan adalah DC, CUS3,

42 84 CUS1, CUS20, CUS 23, CUS 25, CUS 24, CUS 26, CUS 27, DC. Kemudian dari setiap lokasi yang ada memiliki jarak masing-masing. Jarak dari masingmasing lokasi pelanggan ini di jumlahkan untuk mendapatkan jarak yang optimum. Total jarak pada rute pertama ini adalah b. Rute2 Tabel 22. Hasil Itersai Untuk Rute 2 CUSTOMER LOKASI CDC CUS 19 CUS 21 CUS 22 CUS 19 Ujung pandang CUS 21 Bontang CUS 22 Palu Tabel Metode Sweep Rute Kendaraan 2 c. Rute 3 DC Tabel 23. Hasil Itersai Untuk Rute 3 RUTE 3 CUSTOMER LOKASI CDC CUS 17 CUS 17 Senakin

43 85 Tabel Metode Sweep Rute Kendaraan 3 d. Rute 4 DC Tabel 24. Hasil Itersai Untuk Rute 4 RUTE 4 CUSTOMER LOKASI CDC Balikpapan Samarinda Tabel Metode Sweep Rute Kendaraan 4 e. Rute 5 DC Tabel 25. Hasil Itersai Untuk Rute 5 CUSTOMER LOKASI CDC Banjarmasin Adaro Tabel Metode Sweep Rute Kendaraan 5 DC

44 86 f. Rute 6 Tabel 26. Hasil Itersai Untuk Rute 6 CUS LOKASI CDC Medan Pekanbaru Jambi Palembang Pangkalpinang Bandar lampung Pontianak Semarang Surabaya Tabel Metode Sweep Rute Kendaraan 6 DC Urutan perjalanan suatu alat trasportasi untuk mendistribusikan sparepart dengan Distribution Center (DC) berlokasikan di Jakarta dengan menggunakan tiga metode yang beda adalah sebagai berikut:

45 87 Tabel 27. Hasil Urutan Lokasi Customer Yang Akan Dikunjungi Dengan Tiga Metode Yang Berbeda Jenis Prosedur Hasil Urutan Perjalanan Jarak Tempuh Rute 1 1, 3, 20, 23, 24, 25, 26, 27 Nearest Insert 3, 1, 20, 23, 24, 25, 26, Nearest Neighbor 3, 1, 20, 23, 24, 25, 26, Sweep 3, 1, 20, 23, 24, 25, 26, Rute 2 19, 21, 22 Nearest Insert 19, 21, Nearest Neighbor 19, 22, Sweep 91, 22, Rute 3 17 Nearest Insert Nearest Neighbor Sweep Rute 4 16, 18 Nearest Insert 16, Nearest Neighbor 16, Sweep 18, Rute 5 12, 13 Nearest Insert 12, Nearest Neighbor 12, Sweep 13, Rute 6 2, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 14 Nearest Insert 8, 11, 7, 6, 5, 4, 10, 14, Nearest Neighbor 7, 6, 5, 4, 8, 10, 14, 11, Sweep 14, 11, 8, 7, 6, 5, 4, 2, Dari hasil yang diperoleh dalam tabel diatas, maka dilakukan perbandingan mana yang memiliki jarak tempuh terkecil itulah yang akan digunakan.

46 88 Tabel 28. Penjadwalan Pengirimana Dengan Metode Saving Matrix Rute Lokasi Customer Jarak Tempuh Muatan Kendaraan 1 3, 1, 20, 23, 24, 25, 26, , 22, , , , 6, 5, 4, 8, 10, 14, 11, jumlah Tabel diatas merupakan hasil yang akan digunakan untuk penjadwalan pengiriman permintaan spare parts pada bulan oktober 2008 kepada setiap customer dengan menggunakan metode saving matrix.

47 89 Berdasarkan (Tabel 28.) dapat dibuatkan peta rute pengiriman yang di mulai dari Jakarta adalah sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 10. Peta Alur Distribusi Dari DEPO Jakarta Kesemua Customer (Cabang) Pada gambar 10, dapat terlihat bahwa rute perjalanan dimulai dari DEPO Jakarta sebagai DC (Distribution Center) kemudiaan melayani setiap cabang atau customer yang sesuai dengan rute yang telah di hitung dengan tiga metode Saving Matrix.

48 DEPO PEKANBARU Untuk DEPO PT United Tractors yang ke-dua adalah di Pekanbaru, dapat digambarkan pemetaannya sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 11. Lokasi DEPO Pekanbaru Dan Lokasi Cabang PT.UT Pada gambar 11, merupakan hasil pengolahaan data yaitu loksai persebaran DEPO dan cabang PT United Tractors. Skala jarak yang di gunakan oleh sumbu XY adalah untuk jarak titik satu ke titik yang laian adalah 0,5cm = km untuk jarak nyata. Untuk penentuan nilai pada sumbu X dan Y terhadap lokasi cabang dan DEPO dilakukan pembulatan yaitu menjadi satu bilangan bulat (tidak ada bilanga pecaha).depo Pekanbaru sebagai DC (Distribution Center).

49 91 Hasil perhitungan untuk DEPO Pekanbaru untuk menentukan jarak dari setiap customer berdasarkan pada sumbu XY adalah sebagai berikut. Tabel 29. Jarak Lokasi DEPO Dan Cabang Dalam Dua Titk Koordinat Pada Sumbu XY CUSTOMER Lokasi koordinat Permintaan X y box Kg CDC CUS 1 Banda aceh CUS 2 Medan CUS 3 Padang CUS 5 Jambi CUS 6 Palembang CUS 7 Pangkalpinang CUS 8 Bandar lampung CUS 10 Pontianak CUS 11 Semarang CUS 12 Banjarmasin CUS 13 Adaro CUS 14 Surabaya CUS 15 Sangata CUS 16 Balikpapan CUS 17 Senakin CUS 18 Samarinda CUS 19 Ujung pandang CUS 20 Berau CUS 21 Bontang CUS 22 Palu CUS 23 Tarakan CUS 24 Ambon CUS 25 Manado CUS 26 Timika CUS 27 Jayapura Sumber:Hasil Pengolahan Data

50 92 Langkah-langkah yang dilakukan pada metode Saving matrixsama dengan langkah-langkah yang dilakukan pada DEPO Pekanbaru. hasil perhitungan metode saving matrix pada DEPO Pekanbaru adalah sebagai berikut Untuk perhitungan distance matrix yang berdasarkan data jarak yang telah di tentukan berdasarkan pada sumbu XY hasilnya adalah Tabel 30. Jarak Antara Gudang (DEPO) Kemasing-Masing Customer (Cabang) Sumber:Hasil Pengolahan Data

51 93 Hasil perhitungan savging matrix berdasarkan data dari distance matrix adalah sebagai berikut: Tabel 31. Tabel Penghematan Jarak Sumber:Hasil Pengolahan Data

52 94 Selanjutnya adalah menentukan rute dari setiap customer yang berdasarkan pada data Saving Matrix. Hasil perhitungannya adalah sebagai berikut: Tabel 32. Saving Matrix Hasil Setelah Dilakukan Iterasi Sumber:Hasil Pengolahan Data

53 95 Dari hasil iterasi yang dilakukan berdasarkan tabel diatas dapat dikelompokan kedalam lima rute. Rute-rute tersebut adalah: a. Rute 1 : CUS 11, CUS 16, CUS 17, CUS 22, CUS 23, CUS 24, CUS 25, CUS 26, CUS 27. b. Rute 2 : CUS 1, CUS 2, CUS 5, CUS 6, CUS 7, CUS 8, CUS 10, CUS 14, CUS 20, CUS 21. c. Rute 3 : CUS 18. d. Rute 4 : CUS 15. e. Rute 5 : CUS 12, CUS 13. Urutan perjalanan suatu alat transportasi untuk mendistribusikan sparepart dengan Distribution Center (DC) berlokasikan di pekanbaru dengan menggunakan tiga metode (Nearest Insert, Nearest Neighbor, sweep) yang beda adalah sebagai berikut:

54 96 Tabel 33. Hasil Urutan-Urutan Lokasi Customer Yang Akan Dikunjungi Dengan Tiga Metode Yang Berbeda Jenis Prosedur Hasil Urutan Perjalanan Jarak Tempuh Rute 1 11, 16, 17, 22, 23, 24, 25, 26, 27 Nearest Insert 11, 17, 16, 23, 22, 25, 24, 26, Nearest Neighbor 11, 17, 16, 22, 23, 25, 24, 26, Sweep 27, 26, 24, 25, 22, 16,17, 11, Rute 2 1, 2, 5, 6, 7, 8, 10, 14, 20, 21 Nearest Insert 5, 6, 7, 8, 2, 1, 10, 20, 21, Nearest Neighbor 5, 6, 7, 8, 14, 10, 20, 21, 2, Sweep 21, 14, 8, 7, 6, 5, 1, 2, 10, Rute 3 3, 18 Nearest Insert 3, Nearest Neighbor 3, Sweep 18, Rute 4 15 Nearest Insert Nearest Neighbor Sweep Rute 5 12, 13 Nearest Insert 13, Nearest Neighbor 13, Sweep 13, Sumber:Hasil Pengolahan Data

55 97 Dari hasil yang diperoleh dalam tabel diatas, maka dilakukan perbandingan mana yang memiliki jarak tempuh terkecil itulah yang akan digunakan. Tabel 34. Penjadwalan Pengirimana Dengan Metode Saving Matrix Rute Lokasi Customer Jarak Tempuh Muatan Kendaraan 1 11, 17, 16, 22, 23, 25, 24, 26, , 6, 7, 8, 14, 10, 20, 21, 2, , , Jumlah Sumber:Hasil Pengolahan Data Tabel diatas merupakan hasil yang akan digunakan untuk penjadwalan pengiriman permintaan spare parts pada bulan oktober 2008 kepada setiap customer dengan menggunakan metode saving matrix.

56 98 Berdasarkan (Tabel 34.) dapat dibuatkan peta rute pengiriman yang di mulai dari balikpapan adalah sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 12. Peta Alur Distribusi Dari DEPO Pekanbaru Kesemua Customer (Cabang) Pada gambar 12, dapat terlihat bahwa rute perjalanan dimulai dari DEPO Pekanbaru sebagai DC (Distribution Center) kemudiaan melayani setiap cabang atau customer yang sesuai dengan rute yang telah di hitung dengan tiga metode Saving Matrix.

57 DEPO BANJARMASIN Untuk DEPO PT United Tractors yang ke-tiga adalah di Banjarmasin, dapat digambarkan pemetaannya sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 13. Lokasi DEPO Banjarmasin Dan Lokasi Cabang PT.UT Pada gambar 13, merupakan hasil pengolahaan data yaitu loksai persebaran DEPO dan cabang PT United Tractors. Skala jarak yang di gunakan oleh sumbu XY adalah untuk jarak titik satu ke titik yang laian adalah 0,5cm = km untuk jarak nyata. Untuk penentuan nilai pada sumbu X dan Y terhadap lokasi cabang dan DEPO dilakukan pembulatan yaitu menjadi satu bilangan bulat (tidak ada bilanga pecaha).depo Banjarmasin sebagai DC (Distribution Center).

58 100 Hasil perhitungan untuk DEPO Banjarmasin untuk menentukan jarak dari setiap customer berdasarkan pada sumbu XY adalah sebagai berikut: Table 35. Jarak Lokasi DEPO Dan Cabang Dalam Dua Titk Koordinat Pada Sumbu XY CUSTOMER Lokasi koordinat Permintaan X y box Kg CDC CUS 1 Banda aceh CUS 2 Medan CUS 3 Padang CUS 4 Pekanbaru CUS 5 Jambi CUS 6 Palembang CUS 7 Pangkalpinang CUS 8 Bandar lampung CUS 10 Pontianak CUS 11 Semarang CUS 13 Adaro CUS 14 Surabaya CUS 15 Sangata CUS 16 Balikpapan CUS 17 Senakin CUS 18 Samarinda CUS 19 Ujung pandang CUS 20 Berau CUS 21 Bontang CUS 22 Palu CUS 23 Tarakan CUS 24 Ambon CUS 25 Manado CUS 26 Timika CUS 27 Jayapura Sumber:Hasil Pengolahan Data

59 101 Langkah-langkah yang dilakukan pada metode Saving matrix sama dengan langkahlangkah yang dilakukan pada DEPO Banjarmasin. Hasil perhitungan metode saving matrix pada DEPO Banjarmasin adalah sebagai berikut Untuk perhitungan distance matrix yang berdasarkan data jarak yang telah di tentukan berdasarkan pada sumbu XY hasilnya adalah: Tabel 36. Saving Matrix Hasil Setelah Dilakukan Iterasi Sumber:Hasil Pengolahan Data

60 102 Hasil perhitungan savging matrix berdasarkan data dari distance matrix dan hasil penentuan rute dari setiap customer yang berdasarkan pada data seving matrix adalah sebagai berikut: Tabel 37. Jarak Antara Gudang (DEPO) Kemasing-Masing Customer (Cabang) Sumber:Hasil Pengolahan Data Urutan perjalanan suatu alat transportasi untuk mendistribusikan sparepart dengan Distribution Center (DC) berlokasikan di pekanbaru dengan menggunakan

61 103 tiga metode (Nearest Insert, Nearest Neighbor, sweep) yang beda adalah sebagai berikut: Tabel 38. Hasil Urutan Lokasi Customer Yang Akan Dikunjungi Dengan Tiga Metode Yang Berbeda Jenis Prosedur Hasil Urutan Perjalanan Jarak Tempuh Rute 1 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 1, 14, 24, 25, 26, 27 Nearest Insert 14,7,10,11,6,8,5,4,3,2,1,25,24,26,27, Nearest Neighbor 14,7,6,8,5,4,3,2,1,11,10,25,24,26, sweep 27,26,24,14,11,8,1,2,4,3,5,6,7,10, Rute 2 19, 20, 21, 22, 23 Nearest Insert 19,21,20,23, Nearest Neighbor 19,21,20,23, sweep 19,23,20,21, Rute 3 16, 18 Nearest Insert Nearest Neighbor 18, sweep 18, Rute 4 15, 17 Nearest Insert Nearest Neighbor 17, sweep 17, Rute 5 13 Nearest Insert Nearest Neighbor sweep Sumber:Hasil Pengolahan Data

62 104 Dari hasil yang diperoleh dalam tabel diatas, maka dilakukan perbandingan mana yang memiliki jarak tempuh terkecil itulah yang akan digunakan. Tabel 39. Penjadwalan Pengirimana Dengan Metode Saving Matrix Rute Lokasi Customer Jarak Tempuh Muatan Kendaraan 1 14,7,6,8,5,4,3,2,1,11,10,25,24,26, ,21,20,23, , , Jumlah Sumber:Hasil Pengolahan Data Tabel diatas merupakan hasil yang akan digunakan untuk penjadwalan pengiriman permintaan spare parts pada bulan oktober 2008 kepada setiap customer dengan menggunakan metode saving matrix.

63 105 Berdasarkan (Tabel 39.) dapat dibuatkan peta rute pengiriman yang di mulai dari Banjarmasin adalah sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 14. Peta Alur Distribusi Dari DEPO Banjarmasin Kesemua Customer (Cabang) Pada gambar 14, dapat terlihat bahwa rute perjalanan dimulai dari DEPO Banjarmasin sebagai DC (Distribution Center) kemudiaan melayani setiap cabang atau customer yang sesuai dengan rute yang telah di hitung dengan tiga metode Saving Matrix.

64 DEPO BALIKPAPAN Untuk DEPO PT United Tractors yang ke-empat adalah di Balikpapan, dapat digambarkan pemetaannya sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 15. Lokasi DEPO Balikpapan Dan Lokasi Cabang PT.UT Pada gambar 15, merupakan hasil pengolahaan data yaitu loksai persebaran DEPO dan cabang PT United Tractors. Skala jarak yang di gunakan oleh sumbu XY adalah untuk jarak titik satu ke titik yang laian adalah 0,5cm = km untuk jarak nyata. Untuk penentuan nilai pada sumbu X dan Y terhadap lokasi cabang dan DEPO dilakukan pembulatan yaitu menjadi satu bilangan bulat (tidak ada bilanga pecaha).depo Balikpapan sebagai DC (Distribution Center).

65 107 Hasil perhitungan untuk DEPO Balikpapan, untuk menentukan jarak dari setiap customer berdasarkan pada sumbu XY adalah sebagai berikut: CUSTOMER Lokasi koordinat Permintaan X y box Kg CDC CUS 1 Banda aceh CUS 2 Medan CUS 3 Padang CUS 4 Pekanbaru CUS 5 Jambi CUS 6 Palembang CUS 7 Pangkalpinang CUS 8 Bandar lampung CUS 10 Pontianak CUS 11 Semarang CUS 12 Banjarmasin CUS 13 Adaro CUS 14 Surabaya CUS 15 Sangata CUS 17 Senakin CUS 18 Samarinda CUS 19 Ujung pandang CUS 20 Berau CUS 21 Bontang CUS 22 Palu CUS 23 Tarakan CUS 24 Ambon CUS 25 Manado CUS 26 Timika CUS 27 Jayapura Sumber:Hasil Pengolahan Data

66 108 Langkah-langkah yang dilakukan sama dengan langkah-langkah yang dilakukan pada DEPO Balikpapan. hasil perhitungan metode saving matrix pada DEPO Balikpapan adalah sebagai berikut Untuk perhitungan distance matrix yang berdasarkan data jarak yang telah di tentukan berdasarkan pada sumbu XY hasilnya adalah: Tabel 41. Jarak Antara Gudang (DEPO) Kemasing-Masing Customer (Cabang) Sumber:Hasil Pengolahan Data

67 109 Hasil perhitungan savging matrix berdasarkan data dari distance matrix dan hasil penentuan rute dari setiap customer yang berdasarkan pada data saving matrix adalah sebagai berikut: Tabel 42. Saving Matrix Hasil Setelah Dilakukan Iterasi Sumber:Hasil Pengolahan Data Urutan perjalanan suatu alat transportasi untuk mendistribusikan sparepart dengan Distribution Center (DC) berlokasikan di pekanbaru dengan menggunakan

68 110 tiga metode (Nearest Insert, Nearest Neighbor, sweep) yang beda adalah sebagai berikut: Tabel 43. Hasil Urutan Lokasi Customer Yang Akan Dikunjungi Dengan Tiga Metode Yang Berbeda Jenis Prosedur Hasil Urutan Perjalanan Jarak Tempuh Rute 1 1,2,3,4,5,6,7,8,11,14,17,22,24,25,26,27 Nearest Insert 17,22,25,24,26,14,11,7,6,5,8,3,4,2,1, Nearest Neighbor 17,22,25,24,26,27,14,11,8,6,5,7,3,4,2, sweep 27,26,24,17,14,11,8,7,6,5,3,1,2,4,22, Rute 2 10,13,19 Nearest Insert 13,19, Nearest Neighbor 13,10, sweep 19,13, Rute 3 12,20,23 Nearest Insert 12,20, Nearest Neighbor 12,20, sweep 12,20, Rute 4 15,21 Nearest Insert 21, Nearest Neighbor 21, sweep 15, Rute 5 18 Nearest Insert Nearest Neighbor sweep Sumber:Hasil Pengolahan Data

69 111 Dari hasil yang diperoleh dalam tabel diatas, maka dilakukan perbandingan mana yang memiliki jarak tempuh terkecil itulah yang akan digunakan. Tabel 44. Penjadwalan Pengirimana Dengan Metode Saving Matrix Rute Lokasi Customer Jarak Tempuh Muatan Kendaraan 1 1,2,3,4,5,6,7,8,11,14,17,22,24,25,26, ,13, ,20, , Jumlah Sumber:Hasil Pengolahan Data Tabel diatas merupakan hasil yang akan digunakan untuk penjadwalan pengiriman permintaan spare parts pada bulan oktober 2008 kepada setiap customer dengan menggunakan metode saving matrix.

70 112 Berdasarkan (Tabel 45.) dapat dibuatkan peta rute pengiriman yang di mulai dari Balikpapan adalah sebagai berikut: Sumber:Hasil Pengolahan Data:Peta Diambil Dari Skala = 1cm : km. Gambar 16. Peta Alur Distribusi Dari DEPO Balikpapan Keemua Customer (Cabang) Pada gambar 16, dapat terlihat bahwa rute perjalanan dimulai dari DEPO Balikpapan sebagai DC (Distribution Center) kemudiaan melayani setiap cabang atau customer yang sesuai dengan rute yang telah di hitung dengan tiga metode Saving Matrix.

71 Perhitungan Biaya Berdasarkan hasil olahan data pada metode saving matrix, perusahaan dapat mengetahui seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk suatu proses distribusi. adalah 1. DEPO Jakarta

72 114 Tabel 45. Biaya Distribusi Untuk DEPO Jakarta CUS Lokasi DEMAND Rute 1 TOT DEMAND BIAYA/Kg TOT BIAYA 3 Padang Banda aceh Berau Tarakan Manado Ambon Timika Jayapura Rute 2 19 Ujung pandang Palu Bontang Rute 3 17 Senakin Rute 4 16 Balikpapan Samarinda Rute 5 12 Banjarmasin Adaro Rute 6 7 Pangkalpinang Palembang jambi Pekanbaru Bandar lampung Pontianak Surabaya Semarang Medan Total biaya untuk seluruh customer 361,586,270 Sumber:Hasil Pengolahan Data

73 DEPO Pekanbaru Tabel 46. Biaya Distribusi Untuk DEPO Pekanbaru CUS Lokasi DEMAND Rute 1 AVG DEMAND BIAYA/Kg TOT BIAYA 11 Semarang Senakin Balikpapan Palu Tarakan Manado Ambon Timika Jayapura Rute 2 5 jambi Palembang Pangkalpinang Bandar lampung Surabaya Pontianak Berau Bontang Medan Banda aceh Rute 3 3 Padang Samarinda Rute 4 15 Sangata Rute 6 13 Adaro Banjarmasin Total biaya untuk seluruh customer 385,160,400 Sumber:Hasil Pengolahan Data

74 DEPO Banjarmasin Tabel 48. Biaya Distribusi Untuk DEPO Banjarmasin CUS Lokasi DEMAND Rute 1 AVG DEMAND BIAYA/Kg TOT BIAYA 14 Surabaya Pangkalpinang Palembang Bandar lampung Jambi Pekanbaru Padang Medan Banda aceh Semarang Pontianak Manado Ambon Timika Jayapura Rute 2 19 Ujung pandang Bontang Berau Tarakan Palu Rute 3 18 Samarinda Balikpapan Rute 4 17 Senakin Sangata Rute 5 13 Adaro Total biaya untuk seluruh customer 343,662,350 Sumber:Hasil Pengolahan Data

75 DEPO Balikpapan Tabel 49. Biaya Distribusi Untuk DEPO Balikpapan CUS Lokasi DEMAND AVG DEMAND BIAYA/Kg TOT BIAYA Rute 1 17 Senakin Palu Manado Ambon Timika Jayapura Surabaya Semarang Bandar lampung Palembang Jambi Pangkalpinang Padang Pekanbaru Medan Banda aceh Rute 2 13 Adaro Pontianak Ujung pandang Rute 3 12 Banjarmasin Berau Tarakan Rute 4 21 Bontang Sangata Rute 5 18 Samarinda Total biaya untuk seluruh customer 277,910,900 Sumber:Hasil Pengolahan Data

76 Kondisi Aktual Di Perusahan Pada kondisi aktual di lapangan, proses pengiriman atau distribusi spare parts dilakukan dengan cara mengirim atau mendistribusikan spare parts langsung dari Distribution Center (DC) kemasing-masing cabang atau customer yang melakukan order ke DEPOJakarta. Adapun data-data proses pendistribusian spare parts yang dilakukan oleh PT. United Tractors adalah sebagai berikut: Tabel 50. Data-Data Permintaan Bearing dan O-ring Sumber:Data Perusahaan

77 119 Tabel 51. Data-Data Permintaan Bearing dan O-ring Sumber:Data Perusahaan

78 120 Tabel 52. Data-Data Total Permintaan Bearing dan O-ring dan biaya distribusi Sumber:Data Perusahaan Dari data-data tabel yang di peroleh dari perusahaan menyatakan bahwa permintaan akan probuk Bearing dan O-ring cukup tinggi dibuktikan dengan banyaknya frekuensi order yang dilakukan oleh cabang atau customer. Pada data ini juga tercantum besarnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan akibat proses

79 121 distribusi. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk proses distribusi ini adalah sebesar Rp 354,522, Analisis dan Pembahasan Setelah dilakukan penelitiaan dengan menggunakan metode saving mtrix dengan tiga metode yang berbeda, maka dari hasil pengolahaan data dapat di temukan jarak atau rute terpendek. Penjadwalan dan penentuaan rute pengiriman spare parts yang dilakukan oleh perusahaan saat ini masih kurang efisen karana rute dari setiap pengiriman masih memiliki jarak tempuh yang jauh sehingga menimbulkan biaya yang cukup besar. Tujuan dari penjadwalan dan penentuan rute kendaraan adalah untuk mengoptimalkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sehingga perusahaan dapat meminimumkan biaya yang timbul akibat suatu proses distribusi dengan cara mengurangi jarak tempuh suatu alat transportasi, mengurangi jumlah alat ransportasi yang digunakan, dan mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam suatu proses distribusi. Dalam penjadwalan dan penentuaan rute kendaraan yang digunakan, perusahaan harus dapat menentukan alat transpotasi mana yang akan melayani customer mana dan rute pengiriman searah atau letaknya yang saling berdekataan dapat digabung dengan merancang terlebih dahulu rute pengiriman yang harus ditempuh oleh masing-masing alat transportasi agar dapat menghemat jarak perjalanan dan secara langsung dapat mengurangi biaya untuk proses distribusi.

80 122 Perusahaan juga harus memperhatikan kondisi dari alat trasportasi yang digunakan agar proses distribusi yang dilakukan dapat berjalan sesua dengan apa yeng telah di jadwalkan, sehingga produk yang akan di kirim dapat sampai di tangan pelanggan tepat waktu dan tidak rusak. Selain penentuaan rute dan penjadwalan, letak dari DEPO juga dapat mengurangi jumlah biaya yang tibul akibat proses distribusi karena dengan semakin dekatnya lokasi DEPO dengan lokasi cabang atau customer maka biaya pengiriman barang yang timbul akibat proses distribusi dan dapat menimalkan baik deri segi waktu pengiriman barang dan biaya distibusi kesetiap pelanggan atau cabang. Dengan menggunakan metode saving matriks dan penentuan Lokasi DEPO, yaitu pada DEPO Balikpapan sebagai DC (Distribution Center) untuk produk Bearing dan O-ring, maka perusshaan dapt menghemat biaya distribusi sebesar: Jumlah Biaya Diminimalkan = Biaya Aktual Biaya Metode SavingMmatrix = 354,522, ,910,900 = 76,611,530 atau sebesar 21.6% dari biaya yang dikeluarkan perusahaan jika menggunakan prose distribusi yang dilakuan perusahaan sekarang dan dengan lokasi DEPO di jakarta. Dengan membantu memberikan usulan penjadwalan, penentuan rute serta penentuaan lokasi DEPO untuk produk Bearing dan O-ring maka perusahaan mendapat keuntungan berupa penghematan waktu pengiriman produk dan biaya pengirimana suatu produk.

81 123 Supply chain Management merupakan suatu rangkaiaan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pemenuhan permintaan pelanggan, digunakan untuk mengiterasi pemasok (supplier), perusahaan manufaktur (manufactures), pergudangan (warehouse), dan toko (stores). hubunganya sangat erat dengan transportasi pada penjadwalan dan penentuan rute pengiriman dengan metode Saving matrix karena dapt meminimumkan biaya dan waktu yang timbul akaibat suatu proses distribusi yang dilakukan loh perusahaan dengan tingkat pelayanan yang optimal.

ANALISIS OPTIMALISASI BIAYA DISTRIBUSI SPARE PARTS DI PT UNITED TRACTORS

ANALISIS OPTIMALISASI BIAYA DISTRIBUSI SPARE PARTS DI PT UNITED TRACTORS ANALISIS OPTIMALISASI BIAYA DISTRIBUSI SPARE PARTS DI PT UNITED TRACTORS TUGAS AKHIR Oleh Robertus Todang Patiung 1100891923 FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

Lebih terperinci

ANALISIS PERENCANAAN SISTEM TRANSPORTASI DAN PENYEDIAAN KOMPONEN LOKAL DENGAN METODE SAVING MATRIX UNTUK WILAYAH CIKARANG DI PT.

ANALISIS PERENCANAAN SISTEM TRANSPORTASI DAN PENYEDIAAN KOMPONEN LOKAL DENGAN METODE SAVING MATRIX UNTUK WILAYAH CIKARANG DI PT. ANALISIS PERENCANAAN SISTEM TRANSPORTASI DAN PENYEDIAAN KOMPONEN LOKAL DENGAN METODE SAVING MATRIX UNTUK WILAYAH CIKARANG DI PT. XYZ Umi Marfuah 1*, Anggi Oktaviani 1, Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

LIST PENGADILAN TINGGI YANG SUDAH KIRIM SOSIALISASI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 14:10)

LIST PENGADILAN TINGGI YANG SUDAH KIRIM SOSIALISASI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 14:10) 1 PT Banda Aceh - tgl 26 Januari 2017 via ) 2 PT Medan (Lengkap) 3 PT Padang (Lengkap) 4 PT Pekanbaru 5 PT Jambi - 6 PT Palembang (Lengkap) tgl 31 Januari 2017 via ) 7 PT Bangka Belitung 8 PT Bengkulu

Lebih terperinci

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 10 & 11: MANAJEMEN TRANSPORTASI & DISTRIBUSI

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 10 & 11: MANAJEMEN TRANSPORTASI & DISTRIBUSI MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 10 & 11: MANAJEMEN TRANSPORTASI & DISTRIBUSI By: Rini Halila Nasution, ST, MT PENDAHULUAN Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat

Lebih terperinci

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 16:00 WIB FIX)

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 16:00 WIB FIX) 1 PT Banda Aceh Lengkap 2 PT Medan Lengkap 3 PT Padang Lengkap 4 PT Pekanbaru Belum Lengkap - 5 PT Jambi Belum Lengkap - 6 PT Palembang Lengkap tgl 31 Januari 2017 via ) tgl 31 Januari 2017 via ) 7 PT

Lebih terperinci

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 1 FEBRUARI 2017)

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 1 FEBRUARI 2017) 1 PT Banda Aceh Lengkap 2 PT Medan Lengkap 3 PT Padang Lengkap 4 PT Pekanbaru Belum Lengkap - 5 PT Jambi Belum Lengkap - 6 PT Palembang Lengkap 7 PT Bangka Belitung Belum Lengkap - - 8 PT Bengkulu Belum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengiriman produk kepada pelanggan harus memiliki penentuan rute secara tepat,

BAB I PENDAHULUAN. pengiriman produk kepada pelanggan harus memiliki penentuan rute secara tepat, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Distribusi merupakan salah satu faktor penting bagi perusahaan untuk dapat melakukan pengiriman produk secara tepat kepada pelanggan. Ketepatan pengiriman produk kepada

Lebih terperinci

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 16 FEBRUARI 2017)

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 16 FEBRUARI 2017) 1 PT Banda Aceh Lengkap 2 PT Medan Lengkap 3 PT Padang Lengkap 4 PT Pekanbaru Lengkap Notulen dikirim tanggal 2 Februari 2017 jam 16:58 WIB 5 PT Jambi Belum Lengkap - 6 PT Palembang Lengkap 7 PT Bangka

Lebih terperinci

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG Hafidh Munawir, Agus Narima Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta

BAB I PENDAHULUAN. produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Tirta Sibayakindo merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta Sibayakindo memiliki rantai

Lebih terperinci

LIST PENGADILAN TINGGI YANG SUDAH KIRIM SOSIALISASI ( PER TANGGAL 27 JANUARI 2017 )

LIST PENGADILAN TINGGI YANG SUDAH KIRIM SOSIALISASI ( PER TANGGAL 27 JANUARI 2017 ) 1 PT Banda Aceh Email Informasi - 2 PT Medan Email Helpdesk - - - - - 3 PT Padang tgl 26 Januari 2017 via Email Berupa Pemberitahuan telah melakukan sosialisasi (Kekurangan sudah diberitahukan via Email

Lebih terperinci

Manajemen Transportasi dan Distribusi. Diadopsi dari Pujawan N

Manajemen Transportasi dan Distribusi. Diadopsi dari Pujawan N Manajemen Transportasi dan Distribusi Diadopsi dari Pujawan N Pendahuluan Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat

Lebih terperinci

MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX

MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX Supriyadi 1, Kholil Mawardi 2, Ahmad Nalhadi 3 Departemen Teknik Industri Universitas Serang Raya [email protected],

Lebih terperinci

SATUAN BIAYA UANG HARIAN LUAR DAERAH / DALAM DAERAH LUAR KOTA

SATUAN BIAYA UANG HARIAN LUAR DAERAH / DALAM DAERAH LUAR KOTA LAMPIRAN I BIAYA PERJALANAN DINAS DALAM DAERAH DAN LUAR DAERAH UNTUK GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR, PIMPINAN/ANGGOTA DPRD/PNS/TOKOH MASYARAKAT/ANGGOTA MASYARAKAT DAN PEGAWAI TIDAK TETAP SATUAN BIAYA UANG HARIAN

Lebih terperinci

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SURYA MEDIA PERDANA SURABAYA SKRIPSI Oleh : TRI PRASETYO NUGROHO

Lebih terperinci

UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS KELUAR DAERAH DAN DALAM DAERAH

UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS KELUAR DAERAH DAN DALAM DAERAH LAMPIRAN III TENTANG PERUBAHAN ATAS NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERJALANAN DINAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA NO. TUJUAN UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1995 TENTANG PEMBENTUKAN PENGADILAN TINGGI AGAMA DI BENGKULU, DI PALU, DI KENDARI, DAN DI KUPANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1995 TENTANG PEMBENTUKAN PENGADILAN TINGGI AGAMA DI BENGKULU, DI PALU, DI KENDARI, DAN DI KUPANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1995 TENTANG PEMBENTUKAN PENGADILAN TINGGI AGAMA DI BENGKULU, DI PALU, DI KENDARI, DAN DI KUPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI

MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI MANAJEMEN TRANPRTASI DAN DISTRIBUSI PENDAHULUAN Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat menentukan apakah produk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Peranan jaringan distribusi dan transportasi sangatlah vital dalam proses bisnis dunia industri. Jaringan distribusi dan transportasi ini memungkinkan produk berpindah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Transportasi Menurut Nasution (2004), Transportasi diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Proses pengangkutan merupakan gerakan

Lebih terperinci

BAB III KEGIATAN RISET

BAB III KEGIATAN RISET BAB III KEGIATAN RISET 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yaitu di PT. Tirta Makmur Perkasa, Jalan Telaga Sari RT. 36 No. 4B Martadinata, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. 3.2 Waktu Penelitian Waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Tirta Sibayakindo merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta Sibayakindo memiliki rantai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha 1.1.1 Bentuk Usaha PT. Muna Artha Sejahtera merupakan sebuah perusahaan swasta yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan bergerak dalam bidang

Lebih terperinci

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SURYA MEDIA PERDANA SURABAYA SKRIPSI Oleh : TRI PRASETYO NUGROHO

Lebih terperinci

Indeks Harga Konsumen di 66 Kota (2007=100),

Indeks Harga Konsumen di 66 Kota (2007=100), Umum Banda Aceh 216,59 246,43 278,90 295,67 112,07 139,01 172,41 190,86 109,37 115,47 119,06 124,90 127,19 Lhokseumawe 217,73 242,90 273,06 295,55 111,38 124,28 143,10 154,71 108,33 116,24 121,61 130,52

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena penurunan biaya transportasi dapat meningkatkan keuntungan. mengoptimalkan penggunaan kapasitas serta jumlah kendaraan.

BAB I PENDAHULUAN. karena penurunan biaya transportasi dapat meningkatkan keuntungan. mengoptimalkan penggunaan kapasitas serta jumlah kendaraan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam dunia bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu perusahaan karena penurunan biaya transportasi

Lebih terperinci

Manajemen Tranportasi dan Distribusi. Dosen : Moch Mizanul Achlaq

Manajemen Tranportasi dan Distribusi. Dosen : Moch Mizanul Achlaq Manajemen Tranportasi dan Distribusi Dosen : Moch Mizanul Achlaq Pendahuluan Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat

Lebih terperinci

2015, No Kepegawaian Negara Untuk Menetapkan Keputusan Penyesuaian dan Penetapan Kembali Pensiun Pokok Pensiunan Pegawai Negeri Sipil dan Janda

2015, No Kepegawaian Negara Untuk Menetapkan Keputusan Penyesuaian dan Penetapan Kembali Pensiun Pokok Pensiunan Pegawai Negeri Sipil dan Janda BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1381, 2015 BKN. Keputusan Penyesuaian. Penetapan Kembali. Pensiun Pokok. PNS. Janda/Duda. Format Nomor. Keputusan Kepala BKN. Pencabutan. Pencabutan. PERATURAN KEPALA

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Bab II dalam penelitian ini terdiri atas vehicle routing problem, teori lintasan dan sirkuit, metode saving matriks, matriks jarak, matriks penghematan, dan penentuan urutan konsumen.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR: PER-61/K/SU/2012 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR KEP-06.00.00-286/K/2001

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFFISIENSI PENDISTRIBUSIAN KORAN DENGAN MENENTUKAN JALUR DISTRIBUSI PALING OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX

PENINGKATAN EFFISIENSI PENDISTRIBUSIAN KORAN DENGAN MENENTUKAN JALUR DISTRIBUSI PALING OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX PENINGKATAN EFFISIENSI PENDISTRIBUSIAN KORAN DENGAN MENENTUKAN JALUR DISTRIBUSI PALING OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. HARIAN SURABAYA PAGI SKRIPSI Oleh : RIZAL SEXTOVIANTO 05 32010

Lebih terperinci

BAB 2. sebuah supply chain. Salah satu strategi yang bias di gunakan adalah supply chain.

BAB 2. sebuah supply chain. Salah satu strategi yang bias di gunakan adalah supply chain. 11 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Konsep Supply chain 2.1.1 Definisi Supply chain Setiap perusahaan yang ingin menang atau bertahan dalam persaingan harus memiliki strategi yang tepat. Strategi akan mengarahkan

Lebih terperinci

PATRANS CARGO PATRANS CARGO

PATRANS CARGO PATRANS CARGO FREIGHT FORWADING, LAND TRUCKING, AIR CARGO SERVICE PT. PELITA ABADI TRANS Profil PT. PELITA ABADI TRANS didirikan pada tanggal, 20 April 2012 dengan nama PT. PELITA ABADI TRANS sesuai dengan akte notaris

Lebih terperinci

UU 20/1992, PEMBENTUKAN PENGADILAN TINGGI AGAMA DI YOGYAKARTA, DI BANDAR LAMPUNG, DAN DI JAMBI

UU 20/1992, PEMBENTUKAN PENGADILAN TINGGI AGAMA DI YOGYAKARTA, DI BANDAR LAMPUNG, DAN DI JAMBI Copyright 2002 BPHN UU 20/1992, PEMBENTUKAN PENGADILAN TINGGI AGAMA DI YOGYAKARTA, DI BANDAR LAMPUNG, DAN DI JAMBI *8279 Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 20 TAHUN 1992

Lebih terperinci

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK OLIE DRUM UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT KAMADJAJA LOGISTICS SURABAYA

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK OLIE DRUM UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT KAMADJAJA LOGISTICS SURABAYA PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK OLIE DRUM UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT KAMADJAJA LOGISTICS SURABAYA SKRIPSI Oleh : ASTIEN ALIMUDIN NPM : 0732215011 JURUSAN

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Keputusan Presiden No. 2 Tahun 1997 Tentang : Pembentukan Pengadilan Tata Usaha Negara Banda Aceh, Pakanbaru, Jambi, Bengkulu, Palangkaraya, Palu, Kendari, Yogyakarta, Mataram, Dan Dili Oleh : PRESIDEN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Management Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan produk ke tangan pemakai akhir.

Lebih terperinci

PENJADWALAN DISTRIBUSI KARUNG DENGAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO) PK. ROSELLA BARU SURABAYA SKRIPSI

PENJADWALAN DISTRIBUSI KARUNG DENGAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO) PK. ROSELLA BARU SURABAYA SKRIPSI PENJADWALAN DISTRIBUSI KARUNG DENGAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO) PK. ROSELLA BARU SURABAYA SKRIPSI Oleh : CHRISTIAN HARI TRIONO 0632010063 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KETUJUH ATAS KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWASAN NOMOR: KEP-06.00.00-286/K/2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 19 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian 3.1.1 Obyek Penelitian Obyek penelitian ini dilakukan di PT. Karunia Alam Segar pada tahapan ini di lakukan observasi data dari perusahaan di mana untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perusahaan adalah suatu organisasi dimana sumber daya (input) dasar seperti bahan dan tenaga kerja dikelola serta diproses untuk menghasilkan barang atau jasa (output)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengantar Komputer 1.2 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengantar Komputer 1.2 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengantar Komputer Komputer merupakan suatu perangkat elektronik yang digunakan untuk mengolah data secara digital melalui program atau software yang ada di dalamnya. Komputer selalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan produk yang siap jual. Setelah menghasilkan produk yang siap jual, maka proses selanjutnya

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Distribusi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan produk dari pihak supplier ke pihak konsumen dalan suatu supply chain (Chopra, 2010, p86). Distribusi terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Transportasi adalah kegiatan manusia yang sangat penting dalam menunjang dan mewujudkan interaksi sosial serta ekonomi dari suatu wilayah kajian. Salah satu

Lebih terperinci

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI DAGING SAPI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MENGOPTIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV.

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI DAGING SAPI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MENGOPTIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI DAGING SAPI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MENGOPTIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SARI JAYA MANDIRI SKRIPSI Oleh : DEDI INDRA GUNAWAN 0632010087 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : S/D NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : S/D NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM RI DIREKTORAT JENDERAL IMIGRASI JL. H.R. RASUNA SAID KAV 8-9 KUNINGAN 021-5225034 021-5208531 LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-05-2012 S/D 31-05-2012

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM BASISDATA

BAB 3 ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM BASISDATA 88 BAB 3 ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM BASISDATA 3.1 Tentang Perusahaan 3.1.1 Sejarah Perusahaan PT. Dinamika Indonusa Prima berdiri pada tanggal 9 Desember 1974. Pada awal berdirinya, perusahaan ini bernama

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian Metodologi penelitian adalah seperangkat aturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh para pelaku disiplin. Metodologi juga merupakan analisis

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 62 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 66 TAHUN 2016

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekspedisi. Permasalahan distribusi tersebut mencakup kemudahan untuk

BAB I PENDAHULUAN. ekspedisi. Permasalahan distribusi tersebut mencakup kemudahan untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Distribusi suatu barang memegang peranan penting pada perusahaan ekspedisi. Permasalahan distribusi tersebut mencakup kemudahan untuk mendapatkan suatu produk kapan

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Pada bab ini akan diuraikan mengenai proses pengumpulan dan pengolahan data hingga terbentuk rute distribusi usulan serta perancangan alat bantu hitung yang

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.538,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 10/PER/M.KOMINFO/03/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 03 /PER/M.KOMINFO/03/2011

Lebih terperinci

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Pengawasan

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Pengawasan No.1864, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Perwakilan. Orta. Perubahan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan manufaktur semakin ketat. Hal ini mendorong perusahaan untuk mencari strategi yang tepat agar dapat

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL Yth. (Daftar terlampir) SURAT EDARAN Nomor SE- 7 /PB/2018 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENCAIRAN DANA DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENERIMAAN

Lebih terperinci

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI DAN PENJADWALAN DISTRIBUSI UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVINGS MATRIX

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI DAN PENJADWALAN DISTRIBUSI UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVINGS MATRIX PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI DAN PENJADWALAN DISTRIBUSI UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. CAHAYA SEJAHTERA SENTOSA BLITAR SKRIPSI Oleh : MONICA WINA NURANI 0532010228

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang

BAB I PENDAHULUAN. Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu perusahaan karena penurunan biaya transportasi dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam menjalankan usaha bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu perusahaan karena

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA, -1- SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG ORGANISASI

Lebih terperinci

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR Dian Kurniawati Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta [email protected] Agus

Lebih terperinci

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR (Studi Kasus Pada PT. Graha Gas Niaga Klaten)

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR (Studi Kasus Pada PT. Graha Gas Niaga Klaten) PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR (Studi Kasus Pada PT. Graha Gas Niaga Klaten) Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata II pada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 21 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dari penelitian ini ada di PT. Citra Cahaya Gasindo yaitu sebagai agen resmi tabung gas LPG 3 Kg yang berada di Jl. Raya Pematang Reba Pekan Heran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab 1 pendahuluan ini berisikan tentang apa-apa saja yang menjadi latar belakang permasalahan yang terjadi pada distribusi pengiriman produk pada distributor PT Coca Cola, posisi penelitian,

Lebih terperinci

Nomor : B. 1243/42.0/TU.330/X/ Oktober 2011 Lampiran : 1 (satu) berkas. Hal : Ralat Jadwal Apresiasi BUSKIPM TA. 2011

Nomor : B. 1243/42.0/TU.330/X/ Oktober 2011 Lampiran : 1 (satu) berkas. Hal : Ralat Jadwal Apresiasi BUSKIPM TA. 2011 Nomor : B. 1243/42.0/TU.330/X/2011 28 Oktober 2011 Lampiran : 1 (satu) berkas. Hal : Ralat Jadwal Apresiasi BUSKIPM TA. 2011 Yth.: Daftar Nama Terlampir Di Tempat. Menindaklanjuti surat kami Nomor: B.1215/42.0/TU.210/X/2011

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilaksanakan untuk memperoleh masukan mengenai objek yang akan diteliti. Pada penelitian perlu adanya rangkaian langkah-langkah yang

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metodologi penelitian berperan untuk membantu agar masalah dapat diselesaikan secara lebih terarah dan sistematis. Dalam metodologi penelitian, akan diuraikan

Lebih terperinci

2017, No Penyesuaian dan Penetapan Kembali Pensiun Pokok Pensiunan Hakim dan Janda/Dudanya, serta Orang Tua dari Hakim yang Tewas dan Tidak Men

2017, No Penyesuaian dan Penetapan Kembali Pensiun Pokok Pensiunan Hakim dan Janda/Dudanya, serta Orang Tua dari Hakim yang Tewas dan Tidak Men No.979, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BKN. Penetapan Format Nomor Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG PENETAPAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI . 01/01/82/Th XVI, 03 Januari 2017 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DESEMBER 20, KOTA TERNATE INFLASI SEBESAR 0,32 PERSEN Pada Desember 20, Ternate mengalami inflasi sebesar 0,32 persen dengan

Lebih terperinci

Program Studi Teknik Industri, Universitas Tarumanagara

Program Studi Teknik Industri, Universitas Tarumanagara USULAN PERBAIKAN RUTE PENDISTRIBUSIAN PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS BULLWHIP EFFECT, METODE NEAREST INSERT DAN NEAREST NEIGHBOR (STUDI KASUS DI PT. YNP) Iphov Kumala Sriwana 1, Ahmad 2 dan Audi Frisbert

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Yth. (Daftar terlampir) SURAT EDARAN NomorSE- 2./PB/2018 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENCAIRAN DANA DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 62 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 66 TAHUN 2016

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan operasional pendistribusian suatu produk dilakukan menyusun jadual dan menentukan rute. Penentuan rute merupakan keputusan pemilihan jalur terbaik sebagai upaya

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BADAN PUSAT STATISTIK No. 30/04/Th. XIX, 01 April 2016 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI MARET 2016 INFLASI 0,19 PERSEN Pada terjadi inflasi sebesar 0,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen ()

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BADAN PUSAT STATISTIK No. 22/03/Th. XIX, 01 Maret 2016 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI FEBRUARI 2016 DEFLASI 0,09 PERSEN Pada 2016 terjadi deflasi sebesar 0,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS DISTRIBUSI PRODUK DALAM RANTAI PASOK MENGGUNAKAN SAVING MATRIX METHOD DAN GENERALIZED ASSIGNMENT METHOD

EFEKTIVITAS DISTRIBUSI PRODUK DALAM RANTAI PASOK MENGGUNAKAN SAVING MATRIX METHOD DAN GENERALIZED ASSIGNMENT METHOD EFEKTIVITAS DISTRIBUSI PRODUK DALAM RANTAI PASOK MENGGUNAKAN SAVING MATRIX METHOD DAN GENERALIZED ASSIGNMENT METHOD Cyrilla Indri Parwati 1, Juviana Eny Jeronimo Neto 2 1,2 Institut Sains & Teknologi AKPRIND

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. Tirta Makmur Perkasa adalah perusahaan di bawah naungan Indofood yang bertugas mendistribusikan produk air mineral dalam kemasan dengan merk dagang CLUB di Kota

Lebih terperinci

NOMOR : 35 TAHUN 2015 TANGGAL : 9 SEPTEMBER zols BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA KEMBALI PENSIUN POKOK PENSIUNAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

NOMOR : 35 TAHUN 2015 TANGGAL : 9 SEPTEMBER zols BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA KEMBALI PENSIUN POKOK PENSIUNAN PEGAWAI NEGERI SIPIL BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA FORMAT NOMOR KEPUTUSAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA UNTUK MENETAPI(AN KEPUTUSAN PENYESUAIAN DAN PENETAPAN KEMBALI PENSIUN POKOK PENSIUNAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN JANDA/DUDANYA,

Lebih terperinci

C. BIAYA PERJALANAN DINAS. 1. Uang Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri

C. BIAYA PERJALANAN DINAS. 1. Uang Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri C. BIAYA PERJALANAN DINAS 1. Uang Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri a. Perjalanan Dinas Luar DIY dan dalam DIY lebih dari 8 Jam Besaran Dalam DIY No. Provinsi Satuan Uang Harian Lebih Dari 8 Diklat

Lebih terperinci

Penentuan Rute Optimal pada Pengangkutan Sampah di Kota Palembang dengan Menggunakan Metode Saving Matrix

Penentuan Rute Optimal pada Pengangkutan Sampah di Kota Palembang dengan Menggunakan Metode Saving Matrix Jurnal Penelitian Sains Volume 18 Nomor 3 September 2016 Penentuan Rute Optimal pada Pengangkutan Sampah di Kota Palembang dengan Menggunakan Metode Saving Matrix Indrawati, Ning Eliyati, dan Agus Lukowi

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Metode penelitian yang akan dilakukan di dalam penelitian ini yaitu dengan metode deskriptif eksploratif. Penelitian deskriptif eksploratif adalah

Lebih terperinci

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Ternate

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Ternate Perkembangan Indeks Harga Konsumen/ Ternate No. 58/11/82/Th. XVI, 01 November 2017 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI MALUKU UTARA Perkembangan Indeks Harga Konsumen/ Ternate Oktober 2017, Ternate mengalami

Lebih terperinci

DAFTAR KODE AWAL OPERATOR DI INDONESIA

DAFTAR KODE AWAL OPERATOR DI INDONESIA DAFTAR KODE AWAL OPERATOR DI INDONESIA JABODETABEK BANTEN (Jakarta, Bogor, Sukabumi, Karawang, Serang) TELKOMSEL 0811 - (Kartu Halo 10, 11 08111,08118,08119 0812 - (Kartu Halo, simpati 11, 12 081210,081211,081212,081213,081218,081219,08128,0

Lebih terperinci

PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI UNTUK MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI TEH WALINI READY TO DRINK DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA VIII (PERSERO) *

PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI UNTUK MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI TEH WALINI READY TO DRINK DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA VIII (PERSERO) * Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2015 PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI UNTUK MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI TEH WALINI READY

Lebih terperinci

Hasil Evaluasi Pelayanan Publik Tahun Jakarta 24 Januari 2018

Hasil Evaluasi Pelayanan Publik Tahun Jakarta 24 Januari 2018 Hasil Evaluasi Pelayanan Publik Tahun 2017 Jakarta 24 Januari 2018 Evaluasi Pelayanan Publik Tahun 2017 Evaluasi Pelayanan Publik Tahun 2017 Evaluasi Pelayanan Publik Tahun 2017 ASPEK KEMENTERIAN Evaluasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendistribusian suatu barang merupakan persoalan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik oleh pemerintah maupun oleh produsen. Dalam pelaksanaannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era sekarang proses distribusi yang efektif dan efisien menjadi salah satu faktor yang posisinya mulai sejajar dengan indikator-indikator yang lain dalam

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Konsep Supply Chain Supply Chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI No. 18/04/82/Th XVI, 03 April 2017 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI Maret 2017, KOTA TERNATE DEFLASI SEBESAR 0,31 PERSEN Pada Maret 2017, Kota Ternate mengalami deflasi sebesar 0,31 persen dengan

Lebih terperinci

KOTA BANDAR LAMPUNG, OKTOBER 2017 INFLASI 0,11

KOTA BANDAR LAMPUNG, OKTOBER 2017 INFLASI 0,11 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI LAMPUNG KOTA BANDAR LAMPUNG, OKTOBER INFLASI 0,11 Kelompok Bahan Makanan mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,44 persen pada Oktober Oktober, Kota Bandar Lampung mengalami

Lebih terperinci

MATERI PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN AQMS DI 45 KOTA

MATERI PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN AQMS DI 45 KOTA MATERI PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN AQMS DI 45 KOTA SUBDIREKTORAT PEMANTAUAN KUALITAS UDARA DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN NON INSTITUSI DIREKTORAT PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA KEMENTERIAN LINGKUNGAN

Lebih terperinci

USULAN MODEL DALAM MENENTUKAN RUTE DISTRIBUSI UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVING MATRIX DI PT. XYZ

USULAN MODEL DALAM MENENTUKAN RUTE DISTRIBUSI UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVING MATRIX DI PT. XYZ USULAN MODEL DALAM MENENTUKAN RUTE DISTRIBUSI UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE SAVING MATRIX DI PT. XYZ Ririn Rahmawati 1, Nazaruddin 2 & Rahmi M Sari 2 Departemen Teknik Industri, Fakultas

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI No. 30 / V / 1 Juli 2002 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI INFLASI BULAN JUNI 2002 SEBESAR 0,36 PERSEN Pada bulan Juni 2002 terjadi inflasi 0,36 persen. Dari 43 kota IHK tercatat 33 kota mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Semakin tingginya perkembangan industri membuat persaingan setiap pelaku industri semakin ketat dan meningkat tajam. Setiap pelaku industri harus mempunyai strategi

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Provinsi Kalimantan Timur Bulan Oktober 2017 No. 85/64/Th.XX, 1 November 2017 BERITA RESMI STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Perkembangan

Lebih terperinci

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI PADA RANTAI SUPPLY DENGAN METODE SAVING MATRIKS

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI PADA RANTAI SUPPLY DENGAN METODE SAVING MATRIKS Program Studi MMT-ITS, Surabaya Agustus 008 PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI PADA RANTAI SUPPLY DENGAN METODE SAVING MATRIKS Julianus Hutabarat Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi Nasional Malang

Lebih terperinci