ANALISA ENGINE OVERHEAT PADA UNIT KOMATSU BULLDOZER D155A-6

dokumen-dokumen yang mirip
COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan )

PENYEBAB PATAHNYA SHAFT WATER PUMP PADA COOLING SYSTEM HD PT. UNITED TRACTOR BATU KAJANG

SISTEM KERJA HIDROLIK PADA EXCAVATOR TIPE KOMATSU PC DI PT. UNITED TRACTORS TBK.

ANALISA KERUSAKAN MAIN PUMP EXCAVATOR KEIHATSU 921C

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N.

Politeknik Manufaktur Astra

BAB III PEMBAHASAN PENGARUH KERUSAKAN SPOOL DEMAND VALVE KOMATSU HD 465-7

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

PERENCANAAN PERAWATAN PREVENTIVE DAN CORRECTIVE PADA KOMPONEN SISTEM HIDROLIK EXCAVATOR KOMATSU PC200-8

ANALISA PENYEBAB KERUSAKAN KOMPONEN HEAT EXCHANGER PADA SISTEM PENDINGIN ENGINE MARINE 3306 CATERPILLAR

Aku berbakti pada Bangsaku,,,,karena Negaraku berjasa padaku. Pengertian Turbocharger

BAB I PENDAHULUAN. Kendaraan alat berat seperti Volvo Excavator CrawlerEC460B, adalah

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

TEST KEMAMPUAN AUTOMATIC TRANSMISSION

BAB II LANDASAN TEORI

PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN PERFORMA MESIN KOMATSU SA12V140-1 SETELAH PROSES REMANUFACTURING

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Temperatur Air Pendingin Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Motor Diesel Stasioner di Sebuah Huller

Air conditioner memelihara udara di dalam ruangan agar temperatur dan kelembabannya menyenangkan dengan cara :

TUGAS AKHIR ANALISA KERUSAKAN SISTEM HIDROLIK PADA CYLINDER HYDRAULIK DAN TRAVEL MOTOR PADA RUBBER CRAWLER CARRIER MOROOKA MST-600VD

CAR AIR CONDITIONER PT. HANINDO AUTOMOTIVE CONSULTANT

LUBRICATING SYSTEM. Fungsi Pelumas Pada Engine: 1. Sebagai Pelumas ( Lubricant )

BAB III DESKRIPSI ALAT UJI DAN PROSEDUR PENGUJIAN

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian Radiator

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

ANALISA TORQUE CONVERTER BULLDOZER SHANTUI SD16F

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS KERUSAKAN KATUP KETIKA OVERHAUL MESIN BULLDOZER CATERPILLAR D8R DIATAS JAM

BOILER FEED PUMP. b. Pompa air pengisi yang menggunakan turbin yaitu : - Tenaga turbin :

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. cutting turbocharger. Berikut adalah beberapa langkah yang dilakukan : Proses pengerjaan cutting Turbocharger

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak

BAB III CARA KERJA MESIN PERAKIT RADIATOR

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM)

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN

BAB II DASAR TEORI Sistem Pendingin. Sistem pendingin adalah suatu rangkaian untuk mengatasi terjadinya overheating

II. TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data

ANALISIS VARIASI TEKANAN PADA INJEKTOR TERHADAP PERFORMANCE (TORSI DAN DAYA ) PADA MOTOR DIESEL

BUKU PETUNJUK DWP 375A - 1 -

PROSES MAINTENANCE 500 JAM KERJA TERHADAP UNIT HYDRAULIC EXCAVATOR PC 200-8M0 Di PT. United Tractors Tbk.

ANALISIS PERPINDAHAN PANAS PADA GAS TURBINE CLOSED COOLING WATER HEAT EXCHANGER DI SEKTOR PEMBANGKITAN PLTGU CILEGON

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi bidang otomotif berkembang sangat pesat mendorong

COOLING WATER SYSTEM

PERAWATAN DAN PERBAIKAN SISTEM PENDINGIN MESIN MITSUBISHI GALANT 2500 CC

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PENGARUH VARIASI SUDU KIPAS RADIATOR TERHADAP PERFORMASI MESIN PENDINGIN PADA MOBIL TOYOTA K3-VI, 1300 CC. Mastur 1, Nugroho Aji

ANALISA PENYEBAB KERUSAKAN PADA DIFFERENTIAL HEAVY DUTY TRUCK HD 785-5

MODIFIKASI DESAIN DIMENSI SILINDER BUCKET PADA HYDRAULIC EXCAVATOR PC

ANALISIS TERJADINYA HIGH OIL CONSUMPTION PADA LUBRICATION SYSTEM PESAWAT BOEING PK-GGF

PROSES PERENCANAAN PERAWATAN POMPA LEAN AMINE[STUDI KASUS DI HESS (INDONESIA- PANGKAH)LTD]

ANALISA HIDROLIK SISTEM LIFTER PADA FARM TRACTOR FOTON FT 824

BAB 1. Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

OVH SUSPENSION I.STRUCTURE & FUNCTION. 1.Rear suspension cylinder

ANALISA PENYEBAB LOW SPEED ALL ATTACHMENT PADA UNIT EXCAVATOR PC 400LC - 8 HEX 401 DI PT. HASNUR RIUNG SINERGI SITE RANTAU TUGAS AKHIR

TUGAS AKHIR ANALISA MEKANISME SWING DEVICE PADA EXCAVATOR KEIHATSU 921 C

Session 4. Diesel Power Plant. 1. Siklus Otto dan Diesel 2. Prinsip PLTD 3. Proses PLTD 4. Komponen PLTD 5. Kelebihan dan Kekurangan PLTD

BAB II. LANDASAN TEORI

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

STANDAR LATIHAN KERJA DAFTAR MODUL

ANALISIS PERAMALAN SUKU CADANG HYDRAULIC OIL FILTER KOMATSU DI PT KOMATSU MARKETING AND SUPPORT INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Pompa viskositas tinggi digunakan untuk memindahkan cairan

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN STUDI PUSTAKA KONDISI MESIN DALAM KEADAAN BAIK KESIMPULAN. Gambar 3.1. Diagram alir metodologi pengujian

ANALISIS VARIASI MEDIA PENDINGINAN PADA RADIATOR TERHADAP KINERJA LAJU PEMBUANGAN PANAS DENGAN KONVEKSI PAKSA

TRAINING Operational, Maintenance & Trouble Air Cooled - Water Cooled Package

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur

BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK DAN LANDASAN TEORI

PENGARUH PERUBAHAN DIMENSI DIAMETER PULI POMPA AIR TERHADAP KERJA SISTEM PENDINGIN PADA MESIN KIJANG TIPE 5K 4 SILINDER

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS KINERJA SUATU MENARA PENDINGIN

BAB II LANDASAN TEORI

Session 10 Steam Turbine Instrumentation

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN STUDI PUSTAKA KONDISI MESIN DALAM KEADAAN BAIK

KERJA PRAKTEK BAB III PEMBAHASAN. 3. Sistem Kerja Dan Pemeliharaan Governor Pada Pesawat Dakota

MODUL POMPA AIR IRIGASI (Irrigation Pump)

BAB II LANDASAN TEORI

MODIFIKASI SALURAN OLI KE MEKANISME KATUP HUBUNGANNYA DENGAN PENURUNAN SUHU OLI MESIN PADA SEPEDA MOTOR 4 TAK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERHITUNGAN HEAT GENERATION MECHANICAL SEAL PADA POMPA SENTRIFUGAL 019P111A JENIS OVERHUNG DI PT. PERTAMINA (PERSERO) REFINERY UNIT IV CILACAP

BAB IV HASIL PENGAMATAN & ANALISA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM

Struktur dari Center Brake

ANALISA PENYEBAB TERJADINYA KERUSAKAN PADA DIFFERENTIEL PRESSURE SWITCH PC

PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR DENGAN RADIATOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MESIN BENSIN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Diagnosis Technicain - Automatic Transaxle. to Transaxle. Transaxle input shaft. Torque converter. Pump impeller. Transaxle input shaft.

STUDI PENGARUH PENDINGINAN OLI DENGAN SISTEM RADIATOR PADA SEPEDA MOTOR SUZUKI SHOGUN 110 CC

BAB III. PERAWATAN SISTEM PENDINGIN (Radiator) MESIN BUS DI PT SAFARI DHARMA SAKTI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

TUGAS AKHIR. Disusun oleh : ENDI SOFAN HADI NIM : D

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pompa adalah salah satu jenis mesin fluida yang berfungsi untuk

CYBER-TECHN. VOL 11 NO 02 (2017) ISSN PERAWATAN DAN PERBAIKAN SISTEM PENDINGIN MESIN RUSTON TIPE 16 RKC DI PUSAT LISTRIK SUKAHARJA KETAPANG

ANALISIS KERUSAKAN LINER PADA MUD PUMP IDECO T-800 TYPE TRIPLEX PUMP BERDASARKAN RELIABILITY, AVAILABILITY, DAN METODE FAULT TREE ANALYSIS DI PT.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. misalnya untuk mengisi ketel, mengisi bak penampung (reservoir) pertambangan, satu diantaranya untuk mengangkat minyak mentah

Transkripsi:

ANALISA ENGINE OVERHEAT PADA UNIT KOMATSU BULLDOZER D155A-6 Hendro Purwono 1*, Rasma 2 12 Program studi D-3 Teknik Otomotif dan Alat Berat, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat E-mail : hendro.purwono@ftumj.ac.id ABSTRAK Bulldozer D155A-6 dengan kode unit BD-06 merupakan salah satu unit untuk kegiatan produksi pertambangan batubara di PT Wahana Baratama Mining dengan tingkat unschedule breakdown yang termasuk lama diantara unit-unit produksi lainnya di perusahaan tersebut karena mengalami engine overheat. Tujuan dari analisa engine overheat adalah untuk mengetahui dan mengatasi akar masalah dalam rangka meningkatkan PA (Physical Availability) unit. Pendekatan ini dilakukan dengan observasi langsung di lapangan dan studi pustaka. Analisa masalah atau troubleshooting dilakukan dengan pendekatan 8 step troubleshooting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya engine overheat adalah ketidaktercapaian nilai putaran fan pada unit yang disebabkan oleh tidak idealnya internal leakage yang terjadi pada komponen fan motor, yaitu 5000 cc/ 30 detik, padahal standar yang ideal adalah maksimal 2000-3000 cc/ menit. Untuk mengurangi tingkat frekuensi unschedule breakdown dapat dilakukan dengan penggantian komponen sesuai rekomendasi, dalam hal ini untuk fan motor life time komponen ± HM 15000 sedangkan unit sudah mencapai HM 22382. Pelaksanaan penggantian komponen sesuai life time komponen ini diharapkan dapat meningkatkan PA unit dan keawetan dari unit sehingga unit unschedule breakdown karena permasalahan serupa dapat diminimalisir. Kata Kunci: engine overheat, unschedule breakdown, internal leakage, fan motor. ABSTRACT Bulldozer D155A-6 with unit code BD-06 is one of the units for coal production activities in PT Wahana Baratama Mining with unschedule breakdown rate which includes other production units in this company because the engine overheat. The purpose of overheat engine analysis is to know and immediately address the root of the problem in order to improve the PA (Physical Availability) unit. This approach is conducted by direct observation in the field and literature review. Problem analysis or troubleshooting is conducted with an 8 step troubleshooting approach. This research indicates that the cause of engine overheat is the unevenness of the fan rotation value on the unit due to the nonideally internal leakage that occurs in the motor fan component, which is 5000 cc / 30 sec, whereas the ideal standard is maximum 2000-3000 cc / min. To reduce the frequency level of unschedule breakdown can be done with the replacement of components as recommended, in this case for the motor fan life time component ± HM 15000 while the unit has reached HM 22382. Implementation of component replacements according to the life time of this component is expected to increase the PA unit and the durability of the unit so that the unschedule breakdown unit of similar problems can be minimized. Keywords: engine overheat, unschedule breakdown, internal leakage, fan motor. 1

LATAR BELAKANG Bulldozer adalah heavy equipment yang mempunyai traksi besar, berfungsi untuk melakukan pekerjaan menggali, menggusur, meratakan, dan dapat di operasikan pada medan berlumpur, berbatu, berbukit dan di daerah hutan. Mengingat vitalnya peran bulldozer, terutama pada perusahaan pertambangan yang bisa menjadi permasalahan adalah jika terjadi unscheduled breakdown pada unit sehingga dapat mengganggu produktivitas penambangan. Salah satu contoh penyebab terjadinya unscheduled breakdown yaitu kasus engine overheat yang terjadi pada salah satu customer PT. United Tractors site Sungai Danau yaitu PT Wahana Baratama Mining. PT Wahana Baratama Mining termasuk customer dengan populasi unit bulldozer yang cukup tinggi, hal ini di buktikan bahwa dari 100% populasi unit di perusahaan tersebut 40% adalah unit bulldozer dengan berbagai tipe seperti D375A-6, D155A-6, D375A-5 dan D375A-6R. Pada penelitian kali ini penulis hanya fokus kepada bulldozer tipe D155A-6, dimana unit tersebut mengalami trouble engine overheat. Engine overheat adalah suatu kondisi dimana temperatur mesin melampaui batas kerja yang di perbolehkan. Penyebab utama engine overheat adalah terjadinya ke abnormalan pada sistem pendingin engine tersebut. Tentunya hal tersebut harus segera di atasi dan dicari masalah utamanya agar tidak menyebar dan memicu kerusakan pada komponen-komponen penting lainnya yang ada di sistem pendingin (cooling system). Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat dijadikan landasan utama bagi penulis untuk melakukan analisa trouble engine overheat pada unit Komatsu Bulldozer D155A-6, untuk mendapatkan solusi dan improvement agar Physical Availability (PA) unit terjaga, permasalahan produktivitas, dan kerugian waktu serta biaya karena terjadi unscheduled breakdown yang di sebabkan oleh engine overheat pada unit D155A-6 ini dapat diminimalisir. LANDASAN TEORI Bulldozer merupakan heavy equipment untuk pekerjaan menggali, menggusur, mendorong tanah atau material dan menarik log atau portable camp yang dapat dioperasikan di medan berbatu, berbukit maupun tanah lumpur pada berbagai sektor pekerjaan seperti: mining, konstruksi, logging, forestry, dan perkebunan. Bulldozer D155A-6 yang merupakan produk Komatsu mempunyai pengertian kode sebagai berikut : D : Dozer yang berasal dari Komatsu 15 : menunjukan ukuran bulldozer 5 : mengindikasikan tipe penggerak toqrflow type A : mengindikasikan bentuk dasar dari bulldozer angle type 6 : mengindikasi berapa kali sudah dilakukan modifikasi Komponen-Komponen Pada Sistem Pendingin (Cooling System) 1. Water Pump Adalah suatu alat yang berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin ke sistem pendingin. Semua pompa air yang dipergunakan pada engine umumnya mempergunakan jenis sentrifugal pump. Water pump terdapat sebuah impeller, bila impeller tersebut berputar, maka akan mengalirkan air keluar dari dalam water pump dan kembali bersirkulasi ke sistem pendingin 2. Thermostat Berfungsi untuk mengatur aliran air pendingin ke radiator dengan cara membuka dan menutup valve secara otomatis sehingga temperatur air pendingin terjaga pada suhu kerja (70 o C - 90 o C). Selain itu, thermostat juga berfungsi untuk mencegah timbulnya overheat dan mempercepat tercapainya temperatur kerja engine pada saat mulai operasi. Jika temperatur engine naik, expander akan mengembang dan mendorong piston ke atas. Karena piston tersebut dijadikan satu dengan valve pada thermostat, maka saluran yang ke radiator yang semula tertutup akan terbuka sedikit sehingga air akan mengalir ke pompa maupun ke radiator. Besar kecilnya aliran air yang ke radiator maupun yang ke pompa, tergantung dari besar kecilnya valve 2

terbuka. Terbukanya valve tersebut berdasarkan kenaikan temperatur dari air pendingin, valve mulai terbuka pada temperatur 74.5 o C-78.5 o C dan terbuka penuh pada temperatur 90 o C 3. Radiator Berfungsi sebagai pendingin engine, air pendingin didinginkan dengan media udara luar. Udara dihembuskan ke radiator dengan sebuah fan yang diputar oleh engine melalui pulley atau dengan motor hydraulic. Di dalam upper tank terdapat buffle plate, berfungsi untuk memisahkan bubble yang terjadi didalam sistem atau radiator karena gelembung udara yang pecah apabila berkontak dengan komponen maka bisa menyebabkan kavitasi. Radiator terbagi menjadi 3 bagian, yaitu upper tank, radiator core dan lower tank. Upper tank adalah tempat kembalinya air pendingin dari sistem pendingin, radiator core adalah tempat dimana air pendingin didinginkan oleh udara luar sekaligus sebagai penghubung upper tank ke lower tank, dan lower tank adalah tempat keluarnya air pendingin untuk menuju ke wate rpump, di upper tank juga terdapat radiator cap dan buffle plate. Saat thermostat membuka, air pendingin mengalir melalui radiator upper tube ke bagian atas radiator yang telah mengambil panas engine, di dalam radiator situasinya dibalik, air pendingin melepas panas ke atmosfir. 4. Fan Pump Fungsinya adalah dengan bekerjanya engine speed dan torque akan disalurkan ke shaft pump. Pada dasarnya pump akan merubah speed (N) dan torque (T) menjadi tekanan oli dan besarnya aliran oli discharge disesuaikan dengan beban kerja atau load. Hal ini dapat dicapai dengan merubah besarnya aliran oli discharge dengan merubah swash plate angle pump. Strukturnya adalah front shaft mempunyai spline (11) sebagai penghubung dengan cylinder block (7) shaft (1) terhubung dengan front dan bearing (12), kemudian akhir piston (6) memiliki spherical berongga agar bisa bergerak fleksibel terhadap shoe (5), piston (6) dan shoe(5) membentuk bantalan spherical. Shoe (5) menjaga tekanan berlawanan plane (A) dari rocker cam (4) dan bergerak memutar, rocker cam (4) bergerak di sekitar ball (13).Piston (6) melakukan pergerakan secara relative dalam arah axial di dalam beberapa ruang cylinder block (7), cylinder block (7) menutup tekanan yang diberikan oli ke valve plate (8) dan melakukan putaran relative. Permukannya dirancang sedemikian rupa sehingga tekanan oli seimbang pada tingkat yang tepat. Oli di dalam setiap ruang cylinder dari cylinder block (7) menghisap dan menghasilkan flow discharge melalui valve plate (8). Saat cylinder block (7) berputar bersama dengan shaft (1), sehingga shoe (5) akan bergerak sliding mengitari flat surface A. Sedangkan rocker cam (4) memiringkan sekitar ball (13). Akibatnya, sudut (a) antara garis tengah X pada rocker cam (4) dan garis tengah cylinder block (7) akan berubah, sudut (a) yang terbentuk itulah yang disebut swash plate angle. 5. Hydraulic Fan Motor Fungsi hydraulic motor dapat disebut sebagai swash plate axial piston motor. Motor berfungsi untuk merubah tenaga kinetis flow oil (pressurized oil) yang dikirimkan dari hydraulic pump menjadi tenaga mekanis gerak putar (rotary motion).prinsip kerjanya ketika pressure oli dari pump yang mengalir melalui valve plate (7) akan masuk cylinder block (5). Oli hanya bisa mengalir pada salah satu sisi garis (Y-Y), yang menghubungkan Top Dead Center (TDC) dan Bottom Dead Center (BDC) langkah piston (4). Pressure oli yang dimasukkan ke salah satu sisi cylinder block (5) akan menekan beberapa piston (4) [4 atau 5 buah], untuk menghasilkan force (F1) (F1 = P x D 2 /4]. Force akan menekan thrust plate (2), dan karena thrust plate dipasang membentuk sudut (a ) terhadap output shaft (1), maka force akan terbagi menjadi (F2) and (F3). Radial component (F3) menghasilkan torque (T= F3 π) terhadap garis (Y Y) yang menghubungkan TDC dan BDC. Gabungan force semua torque [T = Σ (F3 π)] akan memutar cylinder block (5) 3

melalui piston. Karena cylinder block (5) dihubungkan dengan spline terhadap output shaft, maka output shaft akan berputar untuk meneruskan torque. a. Receiving Receiving dari customer kepada distributor di lengkapi hystorical data komponen serta data kelengkapan dan kekurangan komponen saat di berikan kepada pihak distributor. Tujuan dari kelengkapan data ini adalah agar tidak terjadi kesalah-pahaman atau kekeliruan di kemudian hari antara customer dan distributor. Pada penelitian ini unit Bulldozer D155A-6 mengalami trouble engine overheat di PT Wahana Baratama Mining site Sungai danau Data unit Unit model : D155A-6 Serial Number : 85327 Engine model : SAA6D140E-5 Owner : PT. Wahana Baratama Mining Date : 19 Februari 2017 Location : UT Sungai danau Gambar 1. Hydraulic Fan Motor METODE PENELITIAN Metode yang di terapkan dalam pengumpulan data dan informasi dalam penelitian adalah flow chart tahapan pemeriksaan sebagai berikut: START Trouble Engine Overheat pada Unit D155A-6 Pemeriksaan Awal dan Hasil Dugaan Sementara Visual Check HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah melakukan pemeriksaan secara visual dan langsung terhadap unit D155A-6 telah di dapatkan temuan berupa munculnya kode error B@BCNS yang mengindikasikan engine water overheat. Berikut pemeriksaan dari komponen-komponen sistem pendingin engine dan hasilnya. 1. Pemeriksaan Radiator Coolant Level Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa radiator coolant level di dapatkan hasil baik atau berada pada level yang disyaratkan dan menggunakan jenis coolant yang di rekomendasikan yaitu AF-NAC Analisa Kerusakan Replace Fan Motor FINISH 4

KESIMPULAN DAN SARAN Gambar 2. Radiator Coolant Level 2. Pemeriksaan Radiator Fin Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa radiator fin dalam keadaan bersih. Gambar 3. Radiator Fin 3. Pemeriksaan Fan Pressure dan Speed Hasil pemeriksaan dengan menggunakan alat tachometer dan pressure gauge menunjukkan bahwa fan speed dibawah standar yaitu: 739 rpm sementara standarnya 1100 rpm dan fan pressure nya pun dibawah standar yaitu: 60 kg/cm 2 sementara standarnya 160kg/cm 2 Gambar 5. Alat Ukur Fan Pressure dan Fan Speed Dari hasil pemeriksaan dapat di simpulkan bahwa putaran fan motor tidak tercapai karena internal leak melebihi dari standar yang di ijinkan. Semua pressure pengontrol fan pump dan pressure output dari fan pump dalam kondisi standar. Internal leak bisa terjadi karena keausan yang berlebihan di dalam komponen fan motor. 1. Engine overheat terjadi karena putaran fan yang tidak maksimal/standar yang di sebabkan oleh tidak tercapainya pressure pada komponen fan motor. 2. Penyebab putaran fan tidak standar dan pendinginan di cooling system jadi kurang maksimal karena life time komponen fan motor yang sudah setara dengan hours meter (hm) unit yaitu 223892 hours. Tentunya hal ini sudah tidak memenuhi syarat sehingga perlu dilakukan penggantian komponen karena tipe motor yang digunakan adalah piston pump yang biasanya direkomendasi untuk dilakukan penggantian sekitar hours meter (hm)± 14000, sedangkan hm unit di lapangan pada 223892, maka dilakukan Remove and Install component 3. Apabila melakukan proses measurement pastikan tool yang kita pakai masih dalam keadaan baik dan akurat, jika hasil measurement di dapat dari tool yang kurang akurat maka kemungkinan besar dapat terjadi salah vonis komponen yang merupakan sumber dari trouble engine overheat ini DAFTAR PUSTAKA 1. Basic BMC 1 DIESEL ENGINE PT. United Tractors Tbk. 2. Basic BMC 1 Product Knowladge PT. United Tractors Tbk 3. Basic BMC 2 Basic Maintenance PT. United Tractors Tbk. 4. Basic BMC 2 Bulldozer PT. United Tractors Tbk 5. On Job Training (OJT) 2 PT. United Tractors site Sungai Danau 6. Shop manual, KOMATSU engine D155A-6. United Tractors Tbk 7. Shop manual, KOMATSU engine SAA6D140E-5 PT.United Tractors Tbk. Shop manual, KOMATSU HD785-7. United Tractors Tbk. 5