KERANGKA PEMIKIRAN Olahraga pendakian gunung termasuk dalam kategori aktivitas yang sangat berat (Soerjodibroto 1984). Untuk itu diperlukan kesegaran jasmani, daya tahan tubuh yang prima, dan keseimbangan asupan zat gizi serta elektrolit yang cukup. Asupan zat gizi yang diterima oleh tubuh dipengaruhi oleh faktor pola konsumsi dan tingkat kecukupan zat gizi. Kedua hal tersebut amat berkaitan erat dengan keragaman jenis asupan pangan yang dikonsumsi serta tingkat pengetahuan gizi seseorang. Pola konsumsi seseorang tercermin dari komposisi makanan yang dikonsumsinya, seperti perbandingan asupan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Pola konsumsi yang seimbang antar sumber zat gizi berpengaruh pada kompleksitas zat gizi yang diterima oleh tubuh. Tingkat kecukupan energi tercermin dari jumlah energi yang dikonsumsi oleh tubuh sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Hal ini tercermin dari total kalori yang berasal dari makanan, baik itu bersumber dari karbohidrat, protein, maupun lemak yang dipergunakan oleh tubuh sebagai sumber energi. Dengan pola konsumsi dan tingkat kecukupan zat gizi yang memadai, diharapkan dapat meningkatkan prestasi dalam olahraga ini serta memperkecil terjadinya cidera yang mungkin dialami selama berlangsungnya kegiatan olah raga ini. Menurut Antonio et al. (2008), pola konsumsi yang tepat berperan dalam meningkatkan kemampuan dan ketahanan otot serta meningkatkan resintesis glikogen selama masa olahraga.
Bagan Kerangka Pemikiran "# "##! "#! "## Keterangan : = variabel yang diteliti = variabel yang tidak diteliti Gambar 1. Bagan kerangka pemikiran pola konsumsi dan tingkat kecukupan energi para pendaki gunung di Taman Nasional Gede-Pangrango
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Desain penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional study dengan metode wawancara terstruktur yang mencoba untuk menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat mengenai pola konsumsi dan tingkat kecukupan energi olahragawan dibidang mountaineeing. Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang terletak di wilayah Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2009. Jumlah dan Cara Penarikan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah para pendaki gunung di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sampel penelitian ini diambil secara purposive dengan syarat sebagai berikut: usia antara 15-35 tahun, mendaki Gunung Gede, perjalanan pendakian melalui jalur Cibodas atau jalur Gunung Putri dan turun melalui jalur Cibodas, berjenis kelamin laki-laki, serta bersedia diwawancarai. Jumlah sampel yang terpilih adalah semua pendaki gunung yang memenuhi kriteria yang ditentukan. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 51 orang. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Data yang digunakan adalah data primer serta data sekunder. Data primer meliputi karakterisik responden (tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, frekuensi makan sehari-hari, makanan pokok sehari-hari, pengalaman mendaki dan pelatihan mountaineering yang pernah diikuti), jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi selama pendakian, serta pengetahuan gizi. Data karakteristik dan pengetahuan gizi didapatkan dengan cara wawancara, sedangkan jenis dan bahan makanan yang dikonsumsi selama pendakian didapatkan melalui metode recall. Wawancara dilakukan dengan bertanya langsung kepada responden, lalu informasi yang didapatkan diisikan ke dalam lembar kuisioner oleh enumerator. Kuisioner yang digunakan merupakan kuisioner tipe perorangan. Lembar pengetahuan gizi diisi sendiri oleh sampel. Data sekunder berupa profil mengenai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang didapatkan dari kantor pusat Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat.
Tabel 4 Cara pengumpulan data No Jenis data Variabel Cara pengumpulan data 1. Karakteristik responden 2. Konsumsi pangan 1. Usia 2. Berat badan 3. Tinggi badan 4. Pekerjaan 5. Frekuensi makan sehari-hari 6. Makanan pokok sehari-hari 7. Jumlah pendakian 8. Tingkat pendidikan 1. Jumlah pangan 2. Jenis pangan 3. Frekuensi makan 4. Suplemen makanan Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan pengisian kuisioner. Untuk BB dan TB dilakukan pengukuran secara langsung. Recall dilakukan selama pendakian (2 hari) 3. Pengetahuan Gizi Pertanyaan seputar gizi spesifik terkait dengan olahraga mountaineering Pengisian lembar pertanyaan Pengolahan dan Analisis Data Data primer yang telah didapatkan dianalisis secara statistik. Tahapan pengolahan data dimulai dari pengkodean (coding), pemasukan data (entry), pengecekan ulang (cleaning) dan selanjutnya dilakukan analisis. Tahapan pengkodean (coding) dilakukan dengan cara menyusun code-book sebagai panduan entri dan pengolahan data. Setelah dilakukan pengkodean (coding) kemudian data dimasukan ke dalam tabel yang telah ada (entry). Setelah itu, dilakukan pengecekan ulang (cleaning) untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Untuk tahapan analisis data diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell dan Statistical Program for Social Sciences (SPSS) versi 13.0. Data karakteristik sampel terdiri umur, berat badan, tinggi badan, pekerjaan, jumlah pendakian yang pernah dilakukan, serta tingkat pendidikan. Sampel yang diteliti hanya yang berjenis kelamin laki-laki. Kategori umur pendaki yang masuk dalam penelitian ini adalah pendaki yang berumur 15-35 tahun. Berat badan dan tinggi badan digunakan untuk menghitung IMT yang digunakan untuk menentukan status gizi. Tingkat pendidikan terbagi atas pendidikan formal (SD, SLTP, SMA, Perguruan Tinggi) serta pelatihan mengenai mountaineering (pernah atau tidaknya mengikuti pelatihan, lamanya masa pelatihan, serta jenis pelatihan yang diikuti) Data konsumsi pangan diketahui melalui metode recall yang dilakukan selama pendakian. Data konsumsi pangan yang telah didapatkan dikonversikan
ke dalam satuan energi (kkal), protein (g), dan lemak (g) merujuk pada Daftar Komposisi Bahan Makanan. Konversi dihitung dengan menggunakan rumus (Hardinsyah dan Briawan 1994) sebagai berikut: KG ij = (B j /100) x G ij x (BDD j /100) Keterangan: KG ij = kandungan zat gizi i dalam bahan makanan j B j = Berat makanan j yang dikonsumsi (g) G ij = Kandungan zat gizi dalam 100 gram BDD bahan makanan j BDD j = Bagian bahan makanan j yang dapat dimakan Tabel 5 Pengkategorian dan analisis variable penelitian No Jenis data Variabel Kategori Pengukuran 1. Karakteristik responden 1. Usia 2. Pekerjaan 3. Tinggi badan 4. Berat badan Sesuai dengan data Status gizi diukur menggunakan IMT dengan kategori 1. Kurus (IMT<18,5) 2. Normal (IMT 18,5-22,9) 3. At Risk (IMT 23-24,9) 4. Obes I (IMT 25-29,9) 5. Obes II (IMT >30,0) 2. Konsumsi pangan 3. Pengetahuan Gizi 5. Jumlah Pendakian 6. Tingkat pendidikan 1. Jumlah pangan 2. Jenis pangan 3. Frekuensi makan 4. Suplemen makanan Pertanyaan seputar gizi Sesuai dengan data 1. Pendidikan Formal 2. Pendidikan Mountaineering Tingkat kecukupan energi 1. Defisit tingkat berat (<70%) 2. Defisit tingkat sedang (70-79%) 3. Defisit tingkat ringan (80-89%) 4. Normal (90-119%) 5. Kelebihan (>120%) 1. 1 kali sehari 2. 2 kali sehari 3. 3 kali sehari 4. 4 kali sehari 5. 4 kali sehari 1. Mengkonsumsi 2. Tidak mengkonsumsi 1. Baik apabila nilai > 80 2. Cukup apabila nilai 60 sampai 80 3. Kurang apabila nilai < 60 Tingkat konsumsi gizi dihitung berdasarkan angka kecukupan zat gizi yang dianjurkan menurut umur dan berat badan sehat. Tingkat konsumsi energi dan protein diperoleh dengan menggunakan cut-off point Depkes (1996) yang dibedakan menjadi defisit tingkat berat (<70%), defisit tingkat sedang (70-79%), defisit tingkat ringan (80-89%), normal (90-119%), dan kelebihan (>120%) (Gibson 2005).
Status gizi para pendaki diukur dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan menggunakan cut-off point WHO (2000) yang diklasifikasikan menjadi kurus (IMT <18,5), normal (18,5-22,9), At Risk (IMT >23,0-24,9), Obes I (IMT 25,0-29,9), dan Obes II (IMT >30,0). Pengukuran dilakukan pada saat wawancara, yaitu pada saat tiba di pintu keluar Cibodas. Data yang telah didapatkan diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell dan Statistical Program for Social Sciences (SPSS) versi 13.0. Analisis yang dilakukan dengan program SPSS antara lain uji korelasi Spearman dan uji beda Wilcoxon. Definisi Operasional Sampel : Pendaki gunung di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Pendaki gunung : Pendaki gunung adalah orang yang mendaki Gunung Gede melalui jalur masuk Gunung Putri dan keluar melalui jalur Cibodas Konsumsi gizi adalah jumlah zat gizi yang dikonsumsi sebagai akibat dari konsumsi pangan. Frekuensi makan sehari adalah kebiasaan berapa kali jumlah makan contoh selama masa pedakian. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh contoh yang diakibatkan oleh konsumsi, absorpsi, dan penggunaan zat gizi yang ditentukan melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) dan dikelompokkan menjadi 5 kategori: kurus (IMT <18,5), normal (18,5-22,9), At Risk (IMT >23,0-24,9), Obes I (IMT 25,0-29,9), dan Obes II (IMT >30,0). Pengetahuan Gizi adalah tingkat pengetahuan seseorang tentang gizi dan aspek-aspek pengaruhnya. Hari I Pendakian adalah hari pendakian gunung menuju puncak Gunung Gede. Hari II Pendakian adalah hari menuruni gunung menuju pos Cibodas.