The Inconvenient Duchess
Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). (2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
The Inconvenient Duchess Christine Merrill Penerbit PT Elex Media Komputindo
Originally published as The Inconvenient Duchess 2016 Christine Merrill Translation by Elex Media Komputindo as Inconvenient Duchess 2017 All rights reserved including the right of reproduction in whole or in part in any form. This edition is published by arrangement with Harlequin Books S.A. Alih bahasa: Prima Sari Woro Dewanti Hak Cipta Terjemahan Indonesia Penerbit PT Elex Media Komputindo Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang Diterbitkan pertama kali pada tahun 2017 oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta 717031420 ISBN: 978-602-04-4460-4 Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan
Bab Satu T entunya kau tahu bahwa aku sedang sekarat. Ibu nya meng ulurkan jemari yang ramping dari bawah selimut dan me nepuk-nepuk tangan yang diulurkannya pada wanita itu. Marcus Radwell, Duke of Haughleigh keempat, tetap me masang wajah datar, sambil berusaha memikirkan jawab an yang tepat. Tidak. Nada bicaranya tetap netral. Kita pasti akan melakukan pembicaraan ini lagi saat Natal setelah kau pulih dari penyakitmu saat ini. Hanya kau yang menggunakan sifat keras kepala seba gai cara untuk menghiburku saat aku sekarat. Dan hanya kau yang berpura-pura ada di ambang kematian dengan melodrama ala teater di Drury Lane. Ia membiar kan kata-kata itu tak terucap dan berusaha untuk bersikap san tun, namun menatap gusar pada penataan kamar yang dilaku kan dengan cermat. Wanita itu telah memilih tirai-tirai beludru berwarna merah anggur dan penerangan remang-remang untuk mempertegas warna kulitnya yang memang sudah pucat. 1
Aroma bunga lili yang membuat mual di atas lemari rias membuat udara di ruangan itu terasa ken tal dengan suasana pemakaman. Tidak, Putraku. Kita tidak akan melakukan pem - bi ca raan ini lagi. Hal-hal yang ingin kukatakan padamu harus dibicarakan hari ini juga. Aku tidak me mi liki kekuatan untuk mengatakannya dua kali dan pastinya aku tidak akan ada di sini saat Natal untuk memaksakan sebuah janji lagi darimu. Ibu nya mem buat gerakan isyarat ke arah gelas air di sam ping tem pat tidur. Ia mengisi gelas tersebut dan meng ang sur kan nya pada wanita itu, sambil menopang tubuh sang ibu sementara wanita itu minum. Tidak memiliki kekuatan? Tapi suara ibunya ter dengar cukup mantap. Sakit parah yang baru terjadi ini kemung kinan tidak lebih sungguhan daripada yang terakhir. Atau yang sebelumnya. Ia menatap wajah wanita itu tajam-tajam, berusaha mencari se ma cam petunjuk kebenaran. Rambut ibunya masih seperti awan pirang halus di atas bantal, tapi wajahnya terli hat keabu-abuan di balik warna kulit sebe ning porselen yang selalu memberi sang ibu sebuah aura kerapuhan yang palsu. Kalau kau terlalu lemah mung kin nanti. Mungkin nanti kondisiku akan terlalu lemah untuk mengatakannya, dan kau tidak harus men de ngarnya. Usaha yang bagus, tapi aku berharap lebih baik. Dan aku juga berharap lebih baik darimu, Ibu. Kupikir aku sudah menegaskan, pada kunjungan terakhirku saat kau sekarat, kata tersebut kental dengan sindiran yang tak mampu lagi disembunyikannya, bahwa aku sudah muak berperan sebagai orang bodoh 2
dalam drama-drama kecil yang bersikeras kau atur ini. Bila kau menginginkan sesuatu dariku, seti dak nya kau bisa baik-baik menyatakannya de ngan terus terang dalam sepucuk surat. Agar kau bisa menolakku melalui surat dan kau tidak perlu pulang ke rumah? Rumah? Memangnya di mana itu? Ini rumahmu. Bukan milikku. Tawa ibunya terdengar muram dan diakhiri de ngan ba tuk yang parau. Naluri lama membuat Marcus menggapai pada wanita itu sebelum ia tersadar dan membiarkan tangan nya terjatuh kembali ke sisi tubuhnya. Batuk ibunya ber henti dengan tiba-tiba, seolah sikapnya yang tidak menun juk kan rasa sim pati itu telah membuat wanita tersebut ber pikir ulang tentang strateginya. Ini adalah rumahmu, Your Grace, entah kau memilih untuk menempatinya atau tidak. Jadi, jika kekhawatiran akan kesehatan ibunya tidak akan menggugahnya, mungkin perasaan bersalah atas rumah nya yang selama ini telah ia abaikan bisa berhasil? Ia meng ang kat bahu. Tangan ibunya terlihat gemetar saat wanita itu membuat gerakan isyarat ke arah meja kecil dan ia meraih botol air un tuk mengisi kembali gelas tadi. Bukan. Kotak yang di atas meja. Ia menyerahkan kotak bertakhtakan hiasan yang dimak sud pada ibunya. Wanita itu meraba-raba untuk mencari pe nutup kotak, membukanya, dan menge luarkan setumpuk surat, lalu menepuk-nepuk benda itu. Karena waktunya sema kin sempit, aku telah berusaha menebus kesalahan-kesalah anku di masa lalu. Untuk 3
memperbaiki kekeliruan-kekeliruanku dengan sebisa mungkin. Untuk menemukan kedamaian. Untuk memohon ampunan kepada Tuhan sebelum peng hakiman-nya yang tak terelakkan, tambah Marcus dalam hati dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Dan baru-baru ini, aku menerima sepucuk surat dari teman masa mudaku. Seorang teman sekolah yang telah menerima perlakuan buruk. Ia bisa menebak perlakuan buruk dari siapa. Jika ibunya ingin memperbaiki kesalahan sesuai kronologis, sebaiknya wanita itu segera melakukannya. Sekalipun ibunya hidup dua puluh tahun lagi, seperti dugaannya, ada cukup banyak kekeliruan di masa lalu wanita itu untuk mengisi waktu yang tersisa. Ada masalah keuangan, seperti yang sering terjadi. Ayah wanita ini meninggal dalam keadaan miskin. Ia terpaksa pulang dan harus hidup sebatang kara di dunia ini. Selama dua belas tahun terakhir, ia telah menjadi wali dari seorang gadis belia. Tidak. Suara Marcus bergema dalam ruangan yang hening itu. Kau sudah berkata tidak, padahal aku belum menanyakan apa pun. Tapi, kau pasti akan bertanya. Aku menduga, si gadis belia itu ternyata sudah cukup umur untuk menikah dan berasal dari keluarga baik-baik. Pembicaraan ini akan mem bahas tentang penerus keturunan. Pertanyaan itu sudah pasti akan kau ajukan dan jawabannya adalah tidak. Aku ingin melihatmu berumah tangga sebelum aku mati. 4
Itu mungkin saja. Aku yakin kita punya banyak waktu. Ibunya terus bicara seolah tidak pernah ada interupsi. Aku membiarkanmu menunggu, dengan asumsi bahwa kau akan menentukan pilihan pada waktu yang menurutmu tepat. Tapi, aku tidak punya waktu. Tidak ada waktu untuk membiarkanmu mengurus segala sesuatunya. Tentunya tidak ada waktu untuk mem biarkanmu berkubang dalam kese dihan atas kehilangan dan kesalahan yang terjadi sepu luh tahun lalu. Marcus menahan bantahan pedas yang nyaris meluncur dari lidahnya. Setidaknya ibunya memang benar dalam hal ini. Ia tidak perlu membuka kembali bagiannya dalam sebuah perdebatan lama. Kau benar. Gadis itu memang sudah cukup umur untuk menikah, tapi kemungkinan yang ia miliki untuk itu sangat kecil. Ia hanya seorang anak yatim piatu. Tanah milik keluarganya digadaikan dan sudah lenyap. Ia nyaris tak punya harapan untuk memiliki seorang pasangan dan Lady Cecily merasa putus asa mengenai peluang gadis itu untuk menikah. Dia takut gadis yang menjadi tanggung jawab nya itu ditakdirkan hidup sebagai pelayan dan tidak ingin gadis lain mengalami nasib seperti dirinya. Dia telah meng hubungiku, ber harap aku mungkin bisa membantu. Dan kau menawarkan diriku sebagai tumbal untuk memperbaiki kesalahan yang kau lakukan empat puluh tahun lalu. Aku memberinya harapan. Kenapa tidak? Aku me mi liki seorang putra yang berumur tiga puluh lima tahun dan tidak bermasalah. Seorang putra yang tidak 5