BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. bagi hewan peliharaan di setiap daerah, seperti pet shop atau klinik hewan,

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini ada dua variabel yang akan diteliti, yaitu:

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian. ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Psikologi

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan yang signifikan antara kualitas

BAB III METODE PENELITIAN A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertempat di SDN Sukagalih Bandung yang berlokasi di Jalan Sukagalih No. 108, Bandung.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Desain Penelitian. penelitian antara dua kelompok penelitian.adapun yang dibandingkan adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. data dan mengkorelasikan variabel tanpa melakukan treatmen selama

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini beberapa variabel yang akan dikaji adalah :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tipe Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Pendekatan

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN. A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. b. Regulasi emosi. B. Definisi Operasional

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Hijabers Community Bandung.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. sampel tertentu, teknik pengambilan sampel biasanya dilakukan dengan cara random,

BAB III METODE PENELITIAN. menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dan keputusan pembelian. Peneliti mendeskripsikan skor brand image dan

HUBUNGAN ANTARA RASA BERSYUKUR DAN SUBJECTIVE WELL BEING PADA PENDUDUK MISKIN DI DAERAH JAKARTA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Desain Penelitian. menekankan analisis pada data-data numerikal (angka) yang diolah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel. fenomena atau gejala utama dan pada beberapa fenomena lain yang relevan.

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel. Setiap kegiatan penelitian tentu memusatkan perhatiannya pada beberapa

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN. A. Orientasi Kancah dan Persiapan. kecerdasan emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada siswa

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa MA Boarding School Amanatul

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. menekankan analisisnya dalam bentuk data numerikal (Sumarsono, Kedua variabel tersebut seabagai berikut :

BAB III METODE PENELITIAN. analisis (Hadi, 2000). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif.

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Subjective Well-being ditinjau dari faktor demografi pada petani sawit di Desa Rawa Bangun

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di wilayah Kota Bandung Jawa Barat.

BAB 3 METODE PENELITIAN. metode statistika (Azwar, 2010). Variabel penelit ian yang digunakan dalam

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel. Adapun variabel yang dimaksud, sebagai berikut: : Stereotip daya tarik fisik dan kesepian

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. analisis variabel (data) untuk mengetahui perbedaan di antara dua kelompok data

BAB III METODE PENELITIAN. peneliti memperoleh jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penelitiannya.

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang banyak

BAB III METODE PENELITIAN. terhadap data serta penampilan dari hasilnya.

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif korelasional.

BAB IV PEMBAHASAN. Tabel 8 Distribusi sampel penelitian berdasarkan Usia Usia Jumlah (N) Persentase (%) TOTAL

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. berkaitan dengan variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2013)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN. terhubungdengan internet seperti Smartphone dan I-phone serta berbagai macam

Bab 3 Desain Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. B. Definisi Operasional

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN SUBJECTIVE WELL- BEING PADA GURU SEKOLAH DASAR

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Penelitian ini terdiri atas tiga variabel, yaitu dua variabel bebas dan satu

BAB III METODE PENELITIAN. A. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling. 1. Berusia dewasa madya antara tahun.

METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bandar

BAB III METODE PENELITIAN. terorganisasi untuk menyelidiki suatu masalah ertentu dengan maksud

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. menekankan analisanya pada data-data numerical (angka) yang di olah dengan

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 2.

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. variabel keaktifan bertanya dengan berpikir kreatif siswa. dan berpikir kreatif sebagai variabel dependen (terikat).

BAB III METODE PENELITIAN. numerik dan diolah dengan metode statistika serta dilakukan pada

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain

Total 202 orang 100 %

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini dijelaskan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, penelitian dilaksanakan melalui

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. untuk mencari hubungan antar variabel. Variabel-variabel dalam penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. 2. Perilaku prososial. B. Definisi Operasional

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. yang menekankan analisisnya pada data-data numerik dan diolah dengan metode

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan fokus telaahan dalam penelitian ini yakni mendeskripsikan

Hubungan Kesepian Dengan Keterbukaan Diri Pengguna Online Dating Pada Dewasa Awal yang Mencari Pasangan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV PELAKSANAAN, HASIL PENELITIAN, DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. penelitian. Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru tahun

BAB IV HASIL PENELITIAN. hasil perhitungan distribusi frekuensi yang telah dilakukan. Tabel 4.1 Demografi Responden. Demografi Jumlah %

BAB III METODE PENELITIAN. mambandingkan prasangka sosial terhadap etnis Tionghoa oleh mahasiswa etnis

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. yaitu dukungan sosial teman sebaya sebagai variabel bebas (X) dan kebahagiaan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN III.1 Identifikasi Variabel Penelitian Variabel-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Variabel I : Pet Attachment 2. Variabel II : Well-being III.2 Definisi Operasional III.2.1 Pet Attachment Pet attachment merupakan hubungan yang dekat yang dimiliki pemilik dengan hewan peliharaannya yang bertahan lama untuk memperoleh dan mempertahankan rasa aman, yang dapat dilihat dari seringnya individu menghabiskan waktu dengan hewan peliharaannya, perilaku individu dalam menunjukkan afeksinya terhadap hewan peliharaannya, memperlakukan hewan peliharaannya selayaknya manusia pada umumnya, serta mau bertanggungjawab secara perilaku terhadap hewan peliharaannya untuk meningkatkan kesejahteraan hewan peliharaannya. Petunjuk tinggi rendahnya pet attachment pemilik hewan peliharaan adalah skor total yang diperoleh dari hasil pengolahan data alat ukur. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi pet attachment yang dimiliki Universitas Sumatera Utara 26

individu. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah pet attachment yang dimiliki individu. III.2.2 Well-being Well-being merupakan perasaan puas yang dimiliki individu terhadap kehidupan dan dirinya sendiri yang terdiri dari memiliki perasaan baik mengenai dirinya secara keseluruhan serta perasaan memiliki makna, pencapaian dan hubungan yang positif dengan orang lain. Petunjuk tinggi rendahnya well-being individu pemilik hewan peliharaan adalah skor total yang diperoleh dari hasil pengolahan data alat ukur. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi well-being yang dimiliki individu. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah well-being yang dimiliki individu. III.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel III.3.1 Populasi Menurut Hadi (2000), populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama. Adapun kriteria populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu memiliki setidaknya satu (1) hewan peliharaan, yaitu anjing atau kucing. Penelitian ini menggunakan subjek yang memiliki anjing atau kucing dikarenakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur pet attachment yaitu The Lexington Universitas Sumatera Utara 27

Attachment to Pets Scale (LAPS) hanya disesuaikan bagi pemilik anjing atau kucing. III.3.2 Sampel dan Metode Pengambilan Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang digunakan untuk menentukan sifat-sifat serta ciri-ciri yang dikendalikan dari populasi (Hadi, 2000). Metode yang digunakan untuk mengambil sampel dalam penelitian ini adalah metode non-probability sampling. Jenis nonprobability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah incidental sampling. Kelemahan dari metode pengambilan sampel ini adalah keterbatasan untuk melakukan generalisasi karena sampel tidak cukup merepresentasikan populasi secara keseluruhan. Jumlah sampel dinyatakan cukup berdasarkan keputusan peneliti yang juga telah didiskusikan dengan dosen pembimbing. Total subjek yang diperoleh untuk penelitian ini adalah sebanyak 323 orang, dengan pertimbangan bahwa jumlah tersebut sudah cukup mampu mewakili populasi penelitian. III.4 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam kegiatan penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkap fakta mengenai variabel yang diteliti (Hadi, 2000). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penggunaan alat ukur psikologis berbentuk kuesioner sebagai instrumen penelitian. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur yang telah Universitas Sumatera Utara 28

diterjemahkan yaitu Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS) dan The PERMA Profiler. III.4.1 Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS) Alat ukur yang akan digunakan untuk mengukur pet attachment dalam penelitian ini adalah Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS). LAPS merupakan alat ukur yang paling umum digunakan untuk mengukur kelekatan emosional pemilik hewan dengan hewan peliharaannya, dikarenakan alat ukur ini memiliki reliabilitas yang tinggi (Karen, 2010). Alat ukur ini sesuai untuk pemelihara anjing dan kucing (Ramirez et al., 2014). Alat ukur ini memiliki 23 buah aitem berbentuk pernyataan dan menggunakan empat pilihan respon yaitu sangat setuju, agak setuju, agak tidak setuju, dan sangat setuju. Pemberian skor untuk setiap respon dimulai dengan 0 untuk respon Sangat Tidak Setuju, 1 untuk respon Agak Tidak Setuju, 2 untuk respon Agak Setuju, dan 3 untuk respon Sangat Setuju. LAPS mengukur tiga aspek yaitu general attachment, people substituting dan animal rights. Ketiga aspek ini merefleksikan pet attachment (Johnson, T., Garrity, T. & Stallones, L., 1992). Adapun aspek-aspek tersebut adalah: a. General Attachment General attachment menggambarkan kelekatan yang dimiliki oleh pemilik hewan peliharaan terhadap hewan Universitas Sumatera Utara 29

peliharaannya secara umum. Individu yang memiliki skor tinggi pada aspek ini merasakan emosi positif ketika berada di dekat hewan peliharaannya, sering menghabiskan waktu dengan hewan peliharaannya dan merasa bahwa hewan peliharaannya mengerti perasaan yang dimilikinya. b. People Substituting Aspek ini menggambarkan peran yang dimiliki hewan peliharaan di dalam kehidupan pemiliknya. Individu yang memiliki skor tinggi pada aspek ini menganggap hewan peliharaannya memiliki peran utama yang mampu berfungsi sebagai pengganti peran manusia lain di dalam kehidupannya, yaitu seperti sebagai salah satu anggota keluarga yang memberikan rasa kasih sayang (Sable, 1995). Hal ini dapat dilihat dalam perilaku yang ditunjukkan oleh pemilik hewan peliharaan terhadap hewan peliharaannya, seperti membelai, menyentuh, memeluk, tidur di samping satu sama lain, bahkan berbicara yang pada umumnya ditunjukkan oleh sesama manusia. c. Animal Rights/Animal Welfare Aspek ini menggambarkan status hewan peliharaan di dalam rumah pemiliknya, yang diungkapkan melalui Universitas Sumatera Utara 30

pengetahuan dan pandangan individu mengenai hak dan kesejahteraan hewan peliharaannya. Individu yang memiliki skor tinggi pada aspek ini menganggap hewan peliharaannya memiliki hak yang sama dengan manusia dan merasa bertanggungjawab secara penuh untuk mengurus dan merawat hewan peliharaannya. Tabel III.1 Blueprint Alat Ukur LAPS Dimensi General Attachment People substituting Animal rights/ animal welfare Indikator a. Merasakan emosi positif ketika berada di dekat hewan peliharaan b. Sering menghabiskan waktu dengan hewan peliharaan c. Merasa hewan peliharaan mengerti perasaannya a. Merasa hewan peliharaan sebagai salah satu anggota keluarga/teman b. Sering menunjukkan rasa sayang kepada hewan peliharaan c. Memperlakukan hewan peliharaan seperti manusia a. Memiliki rasa kepedulian terhadap hewan peliharaan b. Merasa bertanggungjawab terhadap hewan peliharaan c. Merasa hewan peliharaan memiliki hak yang sama dengan manusia Nomor Aitem Fav j, k, l, m, o, q, r, s, v, w a, b, d, e, f, g, i Unfav Jumlah Aitem u 11-7 c, n, t, p h 5 Tabel III.1 menunjukkan blueprint dari alat ukur LAPS yang berisikan aitem favorable dan unfavorable dengan total jumlah aitem sebanyak 23 aitem. Universitas Sumatera Utara 31

III.4.2 The PERMA Profiler Alat ukur yang akan digunakan untuk mengukur well-being pada penelitian ini adalah The PERMA Profiler yang dikembangkan oleh Butler dan Kern (2016). Konsep well-being yang dikemukan oleh Seligman bersifat multidimensional, sehingga Butler dan Kern (2016) membuat alat ukur The PERMA Profiler yang bersifat multidimensional pula. Alat ukur ini memiliki 23 buah aitem pertanyaan dan menggunakan tiga jenis pilihan respon. Masing-masing jenis pilihan respon memiliki rentang nilai dari 0 sampai dengan 10. Adapun jenis rentang yang digunakan dalam alat ukur ini adalah Tidak Pernah - Selalu, Sangat Buruk Sangat Baik, dan Tidak Sama Sekali Sepenuhnya. Alat ukur ini mengukur kelima dimensi well-being yang dikemukakan oleh Seligman (2011) ditambah dengan tiga aitem yang mengukur emosi negatif (negative emotion), tiga aitem yang mengukur kesehatan (health), satu aitem yang mengukur loneliness dan satu aitem yang mengukur overall well-being. Delapan tambahan aitem tersebut berfungsi sebagai aitem pengisi dan juga berfungsi menyediakan informasi tambahan yang relevan mengenai well-being (Butler & Kern, 2016). a. Positive and Negative Emotions (P dan N) Emosi merupakan bagian yang penting dari well-being. Emosi memiliki rentang dari sangat negatif sampai pada sangat positif. Pada emosi positif secara umum perasaan yang akan diukur Universitas Sumatera Utara 32

adalah perasaan senang dan puas, sementara pada emosi negatif perasaan yang akan diukur adalah sedih, cemas dan marah. b. Engagement (E) Engagement mengarah kepada keterlibatan, ketertarikan dan menyatu dengan suatu kegiatan atau aktivitas. Tingkat engagement yang tinggi disebut dengan flow, yaitu ketika individu benar-benar menyatu dengan suatu aktivitas dan merasa tidak terkait dengan waktu. c. Relationships (R) Relationships mengarah kepada perasaan dicintai, didukung, dan dihargai oleh orang lain. Memiliki hubungan positif dengan orang lain dapat membuat individu merasa lebih baik. d. Meaning (M) Meaning berarti merasa memiliki tujuan di dalam hidup, merasa hidup itu berharga atau merasa memiliki hubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita seperti kepercayaan religius. e. Accomplishment (A) Pencapaian dapat bersifat objektif, seperti menerima sebuah penghargaan, tetapi merasa mahir dalam sesuatu juga berperan penting untuk dimensi ini. Skala ini mengukur perasaan subjektif dari pencapaian, seperti merasa mampu untuk Universitas Sumatera Utara 33

menyelesaikan tugas dan mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan. f. Health (H) Skala ini mengukur perasaan sehat secara subjektif, seperti merasa baik dan sehat setiap hari. Walaupun tidak termasuk ke dalam model PERMA, kesehatan fisik menjadi salah satu hal yang penting untuk well-being. Tabel III.2 Blueprint Alat Ukur PERMA Profiler Dimensi Indikator Aitem Positive Emotion Engagement Relationships Meaning a. Merasa senang dan puas terhadap kehidupan b. Merasa positif dalam menjalani kehidupan a. Merasa memiliki kegiatan yang sangat didalami b. Merasa bersemangat dalam melakukan suatu kegiatan a. Merasa memiliki hubungan yang baik dengan orang lain b. Merasa didukung dan dicintai oleh orang lain a. Merasa memiliki tujuan dalm hidup b. Merasa kehidupan memiliki makna Jumlah Aitem P1, P2, P3 3 E1, E2, E3 3 R1, R2, R3 3 M1, M2, M3 3 Accomplishment Health a. Merasa memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu b. Merasa telah mencapai suatu tujuan a. Merasa puas dengan kesehatan tubuh b. Merasa sehat secara umum A1, A2, A3 3 H1, H2, H3 3 Negative Emotion Merasa cemas, sedih dan marah N1, N2, N3 3 Loneliness Merasa sepi dalam kehidupan secara umum Lon 1 Happiness Merasa bahagia dalam hidupnya Hap 1 Universitas Sumatera Utara 34

Tabel III.2 merupakan blueprint dari alat ukur The PERMA Profiler yang berisikan delapan dimensi dengan jumlah total 23 aitem. III.5 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur III.5.1 Validitas Alat Ukur Validitas alat ukur melihat apakah alat ukur yang digunakan dapat menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya. Alat ukur dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut menghasilkan data yang relevan dengan tujuan pengukuran. Sebaliknya, alat ukur yang tidak menghasilkan data yang sesuai dengan tujuan pengukurannya dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki tingkat validitas rendah (Azwar, 2013). Penelitian ini menggunakan alat ukur yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Penerjemahan konten alat ukur dilakukan oleh ahli lembaga bahasa untuk menjaga validitas isi (content validity). Kemudian alat ukur tersebut kembali dievaluasi dan diberikan professional judgement oleh dosen pembimbing untuk memperkuat validitas alat ukur. III.5.2 Reliabilitas Alat Ukur Menurut Azwar (2013), reliabilitas dicapai apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama. Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah koefisien alpha (α), yang diperoleh dengan menghitung koefisien tersebut melalui bantuan Universitas Sumatera Utara 35

program komputasi setelah menyajikan alat ukur kepada sekelompok responden. Alat ukur untuk mengukur pet attachment, yaitu LAPS, sebelum diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia memiliki tingkat reliabilitas yang memuaskan yaitu sebesar.928. Tabel III.3 Tingkat reliabilitas PERMA Profiler (per dimensi) (Butler & Kern, 2016) P E R M A Overall NE H Cronbach s α.89.72.84.91.78.94.75.92 Untuk alat ukur yang mengukur well-being, yaitu The PERMA Profiler, tingkat reliabilitas per dimensinya juga memuaskan yaitu dapat dilihat pada tabel III.3. III.5.3 Hasil Uji Coba Alat Ukur Uji coba alat ukur dilakukan dengan melibatkan 106 orang yang memiliki hewan peliharaan. Alat ukur dibagikan kepada subjek dengan membagikan link alat ukur melalui Google Form. Setelah data terkumpul peneliti mengolah data hasil uji coba untuk melihat reliabilitas dan daya beda aitem alat ukur LAPS dan The PERMA Profiler. Peneliti menggunakan daya diskriminasi aitem minimal r.20 (Azwar, 2013). Setelah dianalisa secara statistik, diperoleh koefisien reliabilitas alpha Cronbach sebesar.957 untuk alat ukur LAPS, sedangkan untuk alat ukur The PERMA Profiler koefisien reliabilitasnya adalah sebagai berikut. Universitas Sumatera Utara 36

Tabel III.4 Tingkat reliabilitas PERMA Profiler (per dimensi) pada alat ukur hasil uji coba P E R M A Overall NE H Cronbach s α.67.27.59.79.68.85.62.79 Berdasarkan daya diskriminasi aitem, seluruh aitem (23 aitem) dalam alat ukur LAPS memiliki daya beda aitem di atas.30. Sedangkan untuk alat ukur The PERMA Profiler dari total 23 aitem, terdapat satu aitem yang memiliki daya beda aitem di bawah.20. Berdasarkan pertimbangan professional judgement aitem tersebut tetap dipakai di dalam alat ukur dengan sedikit perubahan susunan kata di dalam aitem. Dalam alat ukur The PERMA Profiler juga terdapat satu aitem, yaitu aitem loneliness, yang tidak dapat dianalisis menggunakan program SPSS karena berupa single item yang tidak termasuk ke dalam salah satu dimensi pada variabel well-being. Dikarenakan aitem tersebut hanya berfungsi sebagai filler questions (pertanyaan tambahan) pada alat ukur (Butler & Kern, 2016) dan berdasarkan pertimbangan professional judgement, aitem tersebut tidak dipakai kembali ke dalam instrumen penelitian ini. III.6 Prosedur Pelaksanaan Penelitian III.6.1 Persiapan Penelitian Persiapan penelitian dilakukan dengan mempersiapkan alat ukur penelitian yaitu Lexington Pet Attachment To Pets Scale (LAPS) dan The PERMA Profiler berkaitan dengan izin penggunaan alat ukur serta perubahan bahasa alat ukur. Universitas Sumatera Utara 37

1. Menerjemahkan Alat Ukur Setelah memperoleh izin dari pembuat alat ukur, peneliti meminta bantuan kepada lembaga yang ahli dalam bidang linguistik untuk menerjemahkan kedua alat ukur, LAPS dan The PERMA Profiler, ke dalam Bahasa Indonesia. Aitem yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kemudian dianalisa kembali oleh peneliti dan bertanya kepada dosen pembimbing, agar konten alat ukur menggunakan kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar dan lebih mudah dimengerti. 2. Uji Coba Alat Ukur Alat ukur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kemudian disusun kembali ke dalam bentuk alat ukur yang dapat diakses secara online. Link atau tautan untuk mengakses alat ukur tersebut kemudian dibagikan oleh peneliti kepada beberapa orang subjek yang sesuai dengan kriteria subjek penelitian. Jumlah subjek yang menjadi subjek uji coba alat ukur ini adalah sebanyak 106 orang. 3. Revisi Alat Ukur Setelah dilakukan analisa statistik terhadap aitem-aitem yang diperoleh pada uji coba alat ukur, maka dilakukan beberapa perbaikan pada alat ukur. Beberapa perbaikan yang dilakukan adalah menghapus satu aitem yang tidak dapat dianalisis melalui Universitas Sumatera Utara 38

program komputasi SPSS dan memperbaiki susunan kata dalam beberapa aitem dan pertanyaan. Alat ukur hasil perbaikan tersebut kemudian digunakan untuk memperoleh data yang akan digunakan untuk penelitian ini. III.6.2 Pelaksanaan Penelitian Alat ukur yang telah diperbaiki kembali dipersiapkan untuk diberikan kepada individu yang memiliki hewan peliharaan. Dalam pelaksanaannya peneliti memberikan alat ukur secara online kepada subjek dengan membagikan tautan alat ukur melalui Google Form pada tanggal 8 April 2017 sampai dengan tanggal 1 Mei 2017. Berdasarkan keputusan peneliti disertai dengan pertimbangan dosen pembimbing, jumlah subjek yang diperoleh pada penelitian ini adalah sebanyak 323 orang dengan pertimbangan bahwa jumlah tersebut sudah mampu mewakili populasi penelitian. III.6.3 Pengolahan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian diolah dengan bantuan program komputasi. Model analisis statistika yang digunakan untuk mengukur derajat hubungan (tambahin kategori hubungan) dalam penelitian ini adalah Pearson Product Moment. Dalam menguji data untuk penelitian ini dilakukan uji asumsi terlebih dahulu yaitu uji normalitas dan uji linearitas. Universitas Sumatera Utara 39

1. Uji Normalitas Tujuan dari uji normalitas ini adalah untuk mengetahui apakah distribusi pada penelitian variabel dependen (well-being) dan independen (pet attachment) telah menyebar secara normal. Normalitas sebaran akan dianalisis dengan menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov Test. 2. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah data variabel well-being berkorelasi secara linear terhadap data variabel pet attachment. Uji linearitas hubungan akan dilakukan dengan menggunakan test for linearity. Universitas Sumatera Utara 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IV.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian Penelitian ini melibatkan 323 orang subjek yang memiliki hewan peliharaan. Berikut ini merupakan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan usia, jenis kelamin, jenis peliharaan yang dimiliki, dan jangka waktu memiliki hewan peliharaan. IV.1.1 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia berikut ini. Sebaran subjek penelitian berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel Tabel IV.1 Penyebaran Subjek Berdasarkan Usia Rentang Usia Jumlah (N) Persentase (%) 15 20 tahun 77 23.84 21 26 tahun 225 69.66 27 32 tahun 15 4.64 33 38 tahun 2 0.62 39 tahun 4 1.24 Total 323 100 Berdasarkan tabel IV.1, subjek penelitian terbagi ke dalam tiga rentang usia. Subjek yang berusia 15-20 tahun dalam penelitian ini sebanyak 77 orang (23.84%), subjek yang berusia 21-26 tahun sebanyak Universitas Sumatera Utara 41

225 orang (69.66%), subjek yang berusia 27-32 tahun berjumlah 15 orang (4.64%), subjek yang berusia 33-38 tahun sebanyak 2 orang (0.62%), dan subjek yang berusia 39 tahun ke atas sebanyak 4 orang (1.24%). IV.1.2 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Penyebaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel IV.2 Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah (N) Persentase (%) Laki-laki 99 30.65 Perempuan 224 69.35 Total 323 100 Dari tabel IV.2 dapat dilihat bahwa jumlah subjek berjenis kelamin perempuan lebih banyak (69.35%) dibandingkan dengan jumlah subjek berjenis kelamin laki-laki (30.65%). IV.1.3 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Peliharaan yang Dimiliki Penyebaran subjek berdasarkan jenis peliharaan yang dimiliki dapat dilihat pada tabel sebagai berikut. Universitas Sumatera Utara 42

Tabel IV.3 Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Hewan Peliharaan Jenis Hewan Peliharaan Jumlah (N) Persentase (%) Anjing 93 28.79 Kucing 230 71.21 Total 323 100 Dari Tabel IV.3 di atas dapat dilihat bahwa jumlah subjek yang memiliki hewan peliharaan kucing lebih banyak (71.21%) dibandingkan dengan subjek yang memiliki hewan peliharaan anjing (28.79%). IV.1.4 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jangka Waktu Memiliki Hewan Peliharaan Berikut ini merupakan tabel yang berisi penyebaran subjek berdasarkan jangka waktu memiliki hewan peliharaan. Tabel IV.4 Penyebaran Subjek Berdasarkan Jangka Waktu Memiliki Hewan Peliharaan Jangka Waktu Jumlah (N) Persentase (%) 1 bulan 3.93 2 bulan 1 tahun 81 25.08 2 12 tahun 213 65.94 13 23 tahun 23 7.12 24 tahun 3.93 Total 323 100 Universitas Sumatera Utara 43

Berdasarkan tabel IV.4, dapat dilihat bahwa jumlah subjek yang memiliki hewan peliharaan selama sama dengan atau kurang dari satu bulan berjumlah 3 orang (.93%), selama 2 bulan sampai dengan 1 tahun berjumlah 81 orang (25.08%), selama 2 sampai dengan 12 tahun sebanyak 213 orang (65.94%), selama 13 sampai dengan 23 tahun berjumlah 23 orang (7.12%), dan subjek yang memiliki hewan peliharaan selama lebih atau sama dengan 24 tahun berjumlah 3 orang (.93%). IV.2 Hasil Penelitian IV.2.1 Hasil Uji Asumsi a. Uji Normalitas Berikut adalah hasil dari pengujian data secara statistik untuk melihat apakah data pada penelitian terdistribusi normal. Tabel IV.5 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Variabel Z p Keterangan Pet Attachment.889.408 Sebaran Data Normal Well-being.857.455 Sebaran Data Normal Berdasarkan nilai signifikansi yang diperoleh melalui uji Kolmogorov-Smirnov dapat disimpulkan bahwa untuk data pet attachment terdistribusi normal (p >.05) dan untuk data wellbeing juga terdistribusi normal (p >.05). Universitas Sumatera Utara 44

b. Uji Linearitas Tabel IV.6 Hasil Uji Linearitas F Sig. Keterangan Linearity 13.830.000 Linear Berdasarkan Tabel IV.6 di atas dapat dilihat bahwa variabel pet attachment dan well-being memiliki hubungan yang linear, karena nilai signifikansi yang ditunjukkan sebesar.000 (<.05). IV.2.2 Hasil Uji Hipotesis Penelitian Metode pengujian data yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah uji korelasi Pearson Product Moment. Adapun hipotesis yang diuji pada penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara pet attachment dengan well-being pada individu yang memiliki hewan peliharaan. a. H0 : Tidak ada hubungan positif yang signifikan antara pet attachment dengan well-being pada individu yang memiliki hewan peliharaan. b. Ha : Terdapat hubungan positif yang signifikan antara pet attachment dengan well-being pada individu yang memiliki hewan peliharaan. Universitas Sumatera Utara 45

berikut ini. Hasil uji korelasi antara kedua variabel dapat dilihat pada tabel Tabel IV.7 Hasil Uji Korelasi Pearson Product Moment r Sig. (Satu Arah) Keterangan.202.000 Hubungan positif signifikan Dari Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi Pearson (r) antara pet attachment dengan well-being adalah sebesar.702 dengan tingkat signifikansi.000 (<.05) yang bersifat satu arah (onetailed). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa H0 ditolak, yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara pet attachment dengan well-being pada individu yang memiliki hewan peliharaan. IV.3 Perbandingan Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik IV.3.1 Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Pet Attachment Hasil perhitungan mean hipotetik dan mean empirik dari variabel pet attachment dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel IV.8 Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik Pet Attachment Variabel Pet Attachment Nilai Hipotetik Nilai Empirik Min Max Mean SD Min Max Mean SD 0 69 34.5 11.5 30 69 48.99 8.04 Universitas Sumatera Utara 46

Dari Tabel IV.8 dapat dilihat bahwa secara rata-rata pet attachment yang dimiliki oleh subjek penelitian (Xemp.= 48.99) lebih tinggi dari perkiraan alat ukur (Xhip.= 34.5), yang berarti tingkat pet attachment yang dimiliki subjek pada penelitian ini lebih tinggi daripada tingkat pet attachment yang dimiliki individu pada umumnya. IV.3.2 Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Well-being Berikut ini merupakan hasil perhitungan mean hipotetik dan mean empirik dari variabel well-being. Tabel IV.9 Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik Well-being Variabel Nilai Hipotetik Nilai Empirik Min Max Mean SD Min Max Mean SD Well-being 0 10 5 1.66 4.38 9.63 7.19 1.00 Hasil perhitungan pada tabel IV.9 menunjukkan bahwa secara ratarata tingkat well-being yang dimiliki oleh subjek penelitian ini (Xemp.= 7.19) lebih tinggi dari nilai yang diperkirakan alat ukur (Xhip.= 5), yang berarti tingkat well-being yang dimiliki subjek pada penelitian ini lebih tinggi daripada tingkat well-being yang dimiliki individu pada umumnya. IV.4 Kategorisasi Data Penelitian Berdasarkan data penelitian yang telah diperoleh dapat dilakukan pengelompokan atau kategorisasi yang mengacu pada beberapa kriteria. Kriteria Universitas Sumatera Utara 47

kategori variabel pet attachment yang digunakan dalam penelitian ini dibagi dua yaitu lemah dan kuat, sedangkan variabel well-being dibagi menjadi lima kategori yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. IV.4.1 Kategorisasi Data Pet Attachment Berdasarkan deskripsi nilai hipotetik yang dapat dilihat pada tabel IV.8 di halaman sebelumnya, maka diperoleh norma sebagai berikut. Tabel IV.10 Kategorisasi Data Pet Attachment Norma Kategorisasi N (%) Kategori X 34,5 307 (95.05%) Kuat X < 34,5 16 (4.95%) Lemah Dari tabel IV.10 dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek penelitian masuk ke dalam kategori pet attachment yang kuat (95.05%), yang berarti sebagian besar subjek penelitian memiliki kelekatan yang kuat dengan hewan peliharaannya. Beberapa subjek lainnya (4.95%) berada pada kategori pet attachment yang lemah. IV.4.2 Kategorisasi Data Well-being Berdasarkan deskripsi nilai hipotetik yang dapat dilihat pada tabel IV.9 di halaman sebelumnya, maka diperoleh norma kategorisasi jenjang sebagai berikut. Universitas Sumatera Utara 48

Tabel IV.11 Kategorisasi Data Well-being Norma Kategorisasi N (%) Kategori X > 7.50 118 (36.53%) Sangat Tinggi 5.83 < X 7.50 171 (52.94%) Tinggi 4.17 < X 5.83 34 (10.53%) Sedang 2.50 < X 4.17 0 (0%) Rendah X 2.50 0 (0%) Sangat Rendah Dari tabel IV.11 dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek penelitian masuk ke dalam kategori well-being yang tinggi (52.94%) dan sebagian besar subjek lainnya masuk ke dalam kategori well-being yang sangat tinggi (36.53%). Beberapa subjek lainnya (10.53%) berada pada kategori well-being yang sedang. Tidak ada subjek penelitian yang masuk ke dalam kategori rendah ataupun sangat rendah. IV.5 Pembahasan Hasil Penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara pet attachment dengan well-being pada individu yang memiliki hewan peliharaan. Hal ini berarti kuatnya tingkat pet attachment yang dimiliki oleh individu diikuti oleh tingginya well-being yang dimiliki oleh individu tersebut. Hasil penelitian ini didukung oleh McConnell et al. (2011) yang menyatakan bahwa adanya hewan peliharaan dapat meningkatkan well-being individu secara umum. Hewan peliharaan menjadi sumber dukungan sosial bagi mereka yang memiliki hubungan yang dekat dengan hewan peliharaan. Ketika Universitas Sumatera Utara 49

para pemilik hewan peliharaan merasa kesepian dan tidak dapat menemui orang terdekat, hewan peliharaan menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh dukungan sosial (McConnell et al., 2011). Koefisien korelasi yang ditemukan antara pet attachment dengan wellbeing pada penelitian ini termasuk dalam kategori lemah (r =.202). Hal ini dapat diasumsikan terjadi karena beberapa hal. Well-being merupakan variabel yang dipengaruhi beberapa faktor yang bersifat internal pada individu, salah satunya adalah kepribadian yang paling mampu menjelaskan perbedaan tingkat well-being antar individu (Huppert, 2009). Individu dengan kepribadian ekstrovert atau introvert dapat memiliki tingkat well-being yang berbeda dikarenakan sifat yang mereka miliki berbeda pula. Hal ini dapat mengakibatkan hubungan antara pet attachment dengan well-being tidak terlalu kuat. Selain faktor kepribadian yang bersifat internal pada subjek, faktor budaya juga diasumsikan ikut memberikan pengaruh pada hasil penelitian ini. Berdasarkan data penelitian, terdapat beberapa subjek yang memiliki tingkat wellbeing yang cukup tinggi tetapi tidak memiliki pet attachment yang tinggi. Hal ini diasumsikan terjadi karena perbedaan budaya. Berbeda dengan budaya Barat, di Indonesia hewan peliharaan masih cenderung dilihat dengan fungsi praktisnya yaitu sebagai penjaga rumah ataupun pemburu tikus. Hal ini menyebabkan beberapa individu tidak merasa dekat dengan hewan peliharaannya tetapi masih mampu memiliki tingkat well-being yang tinggi, sehingga tingkat korelasi pada hasil penelitian ini dikategorikan lemah. Universitas Sumatera Utara 50

Hal lainnya yang dapat diasumsikan sebagai penyebab tingkat korelasi yang lemah tersebut adalah usia subjek penelitian. Secara umum, subjek pada penelitian ini sebagian besar berada pada rentang 21 sampai dengan 26 tahun. Berdasarkan hasil penelitian Stallones et al. (1990), individu yang berusia 21 sampai dengan 34 tahun beresiko kurang memiliki dukungan sosial dari sesamanya ketika mereka memiliki pet attachment yang kuat. Tidak memiliki dukungan sosial dari sesama manusia dapat menurunkan tingkat well-being individu, secara fisik maupun emosional (Stallones et al., 1990). Hal ini dapat menjelaskan mengapa beberapa subjek dapat memiliki tingkat pet attachment yang tinggi tetapi memilki well-being yang rendah. Berdasarkan kategorisasi hasil penelitian dapat dilihat bahwa tingkat pet attachment yang dimiliki sebagian besar subjek (N = 95.05%) pada penelitian ini berada pada kategori kuat. Hal ini diasumsikan terjadi karena subjek pada penelitian ini sebagian besar (N = 65.94%) memiliki hewan peliharaan selama 2 sampai dengan 12 tahun, dimana pemilik hewan peliharaan yang memiliki hewan peliharaannya lebih dari tiga tahun dilaporkan memiliki tingkat pet attachment yang lebih tinggi (Smolkovic et al., 2012). Universitas Sumatera Utara 51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil data dan analisis data penelitian, diperoleh kesimpulan yaitu terdapat hubungan positif yang signifikan antara pet attachment dengan well-being pada individu yang memiliki hewan peliharaan. Ditemukan bahwa semakin tinggi tingkat pet attachment maka semakin tinggi pula tingkat wellbeing yang dimiliki oleh individu. Sebaliknya, semakin rendah tingkat pet attachment maka semakin rendan pula tingkat well-being individu. Hasil penelitian juga menunjukkan tingkat korelasi antara variabel pet attachment dengan well-being termasuk ke dalam kategori korelasi yang lemah. Hal ini diasumsikan terjadi karena beberapa faktor yang ikut mempengaruhi kedua variabel dalam penelitian, yaitu kepribadian, budaya, dan rentang usia subjek penelitian. V.2 Saran 1. Saran Metodologis a. Penelitian ini menggunakan populasi yang cukup luas. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengambil sampel penelitian yang lebih banyak sehingga dapat meningkatkan kemampuan penelitian untuk melakukan generalisasi. b. Peneliti lain yang tertarik untuk melanjutkan penelitian ini disarankan menggunakan alat ukur yang mampu mengukur pet Universitas Sumatera Utara 52

attachment terhadap jenis peliharaan yang lebih bervariasi, dikarenakan terdapat beberapa orang yang memelihara hewan lain selain anjing atau kucing. c. Bagi peneliti lain yang tertarik untuk meneliti mengenai wellbeing, dapat mengkaitkan lebih lanjut mengenai faktor yang ikut mempengaruhi well-being pada individu, yaitu kepribadian, budaya ataupun usia. 2. Saran Praktis a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi tambahan bagi peneliti lain yang meneliti mengenai variabel pet attachment ataupun well-being. b. Hasil penelitian ini dapat menjadi saran bagi para pemilik hewan peliharaan yang tidak dekat dengan hewan peliharaannya untuk menjadi dekat dengan hewan peliharaannya agar mereka memperoleh manfaat positif yang sebenarnya dapat diberikan oleh hewan peliharaan mereka. c. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi orang yang memiliki hewan peliharaan maupun yang tidak memiliki hewan peliharaan bahwa hewan peliharaan tidak hanya bermanfaat sebagai penjaga rumah ataupun pengusir tikus, tetapi juga bermanfaat untuk membuat pemiliknya merasa sejahtera atau memiliki hidup yang lebih baik. Universitas Sumatera Utara 53