SISTEM PENGUKURAN KINERJA DENGAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEMS

dokumen-dokumen yang mirip
Yunia Dwie Nurcahyanie : Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Dengan Metode Integrated Performance Measurement System (IPMS)

PERANCANGAN DAN PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERFORMANCE PRISM DI PT KANGSEN KENKO INDONESIA CABANG SURABAYA

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. serius seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

PENINGKATAN KINERJA PERUSAHAAN KEMASAN PLASTIK DENGAN PENDEKATAN METODE PERFORMANCE PRISM DAN OBJECTIVE MATRIX

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

MODEL RANCANGAN PENGUKURAN KINERJA DENGAN PENDEKATAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM

ANALISIS SISTEM PENGUKURAN KINERJA DENGAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEMS PADA PT. X

BAB I PENDAHULUAN. urutan ke-2, Malaysia urutan ke-21, dan Thailand urutan ke-39. Salah satu cara untuk

PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA PADA BANK XYZ MENGGUNAKAN PENDEKATAN INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM

STUDI PENINGKATAN KUALITAS PENYELENGGARA PENDIDIKAN SEBAGAI UPAYA STRATEGI MENINGKATKAN MINAT CALON DIDIK

Form A Kuesioner Profil Usaha Tani Program Penelitian Pemberdayaan Agroindustri Nilam di Pedesaan dalam Sistem Klaster

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi saat ini, perkembangan perusahaan jasa dan

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Perancangan Key Performance Indicators (KPI) Menggunakan Metode Performance Prism (Studi Kasus di Batik Putra Bengawan)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perancangan Key Performance Indicators (KPI) Menggunakan Metode Balanced Scorecard di PT. Aston System Indonesia

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Utara, baik yang dikelola oleh BUMN seperti PTPN 2, PTPN 3, dan PTPN 4

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PENGUKURAN KINERJA DENGAN METODE INTEGRATED (I Made Suartika, et al)

PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM (IPMS) PADA PT. OMETRACO ARAYA SAMANTA

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PENGUKURAN KINERJA DENGAN METODE PERFORMANCE PRISM (Studi Kasus pada Hotel X)

VII. RANCANGAN SISTEM PENGEMBANGAN KLASTER AGROINDUSTRI AREN

PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN METODE BALANCED SCORECARD (BSC) DENGAN PEMBOBOTAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DI PT.

PERBANDINGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN

PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA DENGAN METODE PERFORMANCE PRISM (STUDI KASUS PADA PDAM TIRTA MOEDAL CABANG SEMARANG TENGAH)

e-proceeding of Engineering : Vol.5, No.1 Maret 2018 Page 1287

Peningkatan Kinerja Toyota Auto2000 Banyuwangi dengan Penilaian Kinerja Menggunakan Metode Integrated Performance Measurement Systems (IPMS)

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

BAB III METODOLOGI 3.1. Kerangka Pemikiran

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. PT INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk Bogasari Division sebagai salah

ANALISA STRATEGIS SI/TI: MENILAI DAN MEMAHAMI KONDISI SAAT INI. Titien S. Sukamto

Tidak terjadi perubahan kebijakan pada saat penelitian dilakukan RUANG LINGKUP PENELITIAN

MODEL KONSEPTUAL KELEMBAGAAN

PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN METODE BALANCED SCORECARD (BSC) DENGAN PEMBOBOTAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DI PT.

PERENCANAAN STRATEGIS E-GOVERNMENT BERDASARKAN INPRES NO. 3 TAHUN 2003 PADA KANTOR PUSAT DATA, ARSIP DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN FLORES TIMUR

Pengukuran Kinerja Perusahaan Dengan Metode Integrated Performance Measurement System (IPMS) Pada Industri Perbankan

Pengukuran Kinerja Program Studi Teknik Industri Universitas Trunojoyo

PERENCANAAN MASTER PLAN PENGEMBANGAN TI/SI MENGGUNAKAN STANDAR COBIT 4.0 (STUDI KASUS DI STIKOM)

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisikan latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan.

TESIS PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA PADA JURUSAN TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS X MENGGUNAKAN METODE PERFORMANCE PRISM

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

ABSTRAK. Kata kunci: pengukuran kinerja, stakeholder, kpi

8 BANGUNAN TEORI INTEGRASI AGROINDUSTRI

ANALISA KINERJA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN METODE BALANCE SCORECARD ( Study Kasus di PABRIK GULA X ) ABSTRAK

BAB IV DATA DAN ANALISIS

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

METODOLOGI PENELITIAN. Kerangka Pemikiran

PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA MENGGUNAKAN METODE PRISM PERFORMANCE (STUDI KASUS DI PT. POLOWIJO)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SKRIPSI. Disusun Oleh : DONNY BINCAR PARULIAN ARUAN NPM :

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bisnis telah memberikan dampak terhadap perubahan lingkungan. Dampak

BAB IV RUJUKAN RENCANA STRATEGIS HORTIKULTURA

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari. pembangunan Nasional yang bertujuan untuk mewujudkan

Volume 5, No. 2, Oktober 2012 ISSN:

Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Organisasi Non Profit (Studi Kasus pada UTDC PMI Surakarta)

PERANCANGAN PENGUKURAN KINERJA BISNIS UNIT. di PT. XYZ

A. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAAN

3 KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODE KAJIAN

MANAJEMEN PRODUKSI DAN OPERASI

5Kebijakan Terpadu. Perkembangan perekonomian Indonesia secara sektoral menunjukkan. Pengembangan Agribisnis. Pengertian Agribisnis

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

Key Performance Indicators Perusahaan

PENENTUAN PRODUK PROSPEKTIF UNTUK PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI KELAPA SECARA TERINTEGRASI

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. Pada bab ini akan dibahas tentang identifikasi dan analisis permasalahan,

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

PEMODELAN SISTEM. Pendekatan Sistem. Analisis Sistem

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

agribisnis untuk mencapai kesejahteraan wilayah pedesaan (prospherity oriented) (Bappeda Kabupaten Lampung Barat, 2002). Lebih lanjut Bappeda

BAB I PENDAHULUAN. bidang industri manufaktur yaitu pembuatan kaleng dengan system make to order.

PEMODELAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN UMKM INOVATIF

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Pengukuran Kinerja SCM

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang. peluang karena pasar komoditas akan semakin luas sejalan dengan

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

EVALUASI PROYEK DAN PERANCANGAN SISTEM PENILAIAN KINERJA PROYEK DENGAN METODE PERFORMANCE PRISM PADA PROYEK RUMAH SAKIT PT SEMEN PADANG TUGAS AKHIR

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki cadangan. lahan sangat luas berupa hutan konversi yang dapat dimanfaatkan sebagi

PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB

VI. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK NON FINANSIAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SEMINAR NASIONAL Dinamika Pembangunan Pertanian dan Pedesaan: Mencari Alternatif Arah Pengembangan Ekonomi Rakyat.

Transkripsi:

EMBRYO VOL. 8 NO. 2 DESEMBER 2011 ISSN 0216-0188 SISTEM PENGUKURAN KINERJA DENGAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEMS (Studi Kasus : Usahatani dan Industri Kecil Penyulingan dalam Klaster Agroindustri Minyak Nilam di Kabupaten Kuningan) Hendrastuti Program Studi Teknologi Industri Pertanian, SPs IPB Abstract To improve the Performance of farming and small industries patchouli oil refining in an agroengineering cluster system, an integrated performance measurement system given priority with Integrated Performance Measurement Sistem (IPMS). With IPMS, Key Performance Indicators (KPI) of farming and small industries patchouli oil refining in an agro-engineering cluster system based on stakeholder requirement with four steps: identify stakeholder requirements, external monitor, the objectives, and identify KPI. The result of Performance Measurement Sistem research is identify 16 KPI. Key Words : Patchouli oil, IPMS, Performance indicators, KPI. Pendahuluan Strategi pembangunan nasional seharusnya didasarkan pada keunggulan kompetitif yang dimiliki Indonesia. Salah satu cara mendapatkan keunggulan kompetitif adalah dengan mengembangkan sektor pertanian yang didukung oleh sumberdaya domestik dan memiliki peluang usaha. Dalam perumusan strategi serta implementasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat terutama masyarakat pedesaan, sektor pertanian masih merupakan tema sentral yang perlu mendapatkan perhatian dengan sangat serius dari para pemangku kepentingan (stakeholders) yang terkait. Pembangunan agroindustri di daerah-daerah dapat diwujudkan terutama melalui upaya pemihakan dan pemberdayaan masyarakat serta optimalisasi nilai tambah setiap komoditi pertanian pada tingkat produsen. Diharapkan peran agroindustri pedesaan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, kualitas sumberdaya manusia, dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam dan teknologi maju yang murah, sederhana, dan efektif disertai penataan dan pengembangan kelembagaan di pedesaan. Agroindustri minyak atsiri memiliki keunggulan komparatif dalam pengadaan bahan bakunya disamping teknologi pengolahannya yang cukup sederhana dan mudah dikembangkan. Pengembangan industri minyak atsiri bukan hanya meningkatkan kesejahteraan pengusaha agroindustri, akan tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan petani tanaman atsiri. Minyak nilam (patchouli oil) merupakan salah satu komoditas minyak atsiri Indonesia. Sebagian besar tanaman nilam diusahakan oleh petani di daerah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, dan Jawa Tengah (Ditjenbun, 1998). Saat ini pangsa pasar ekspor Indonesia untuk minyak nilam menguasai sekitar sekitar 80-90% ekspor dunia atau rata-rata 34% dari total ekspor (Departemen Perdagangan, 2007). Berdasarkan kajian-kajian pustaka yang telah dilakukan, terdapat permasalahan pokok yang harus dikaji yaitu bagaimana kinerja usahatani dan industri kecil penyulingan dalam klaster agroindustri minyak nilam. Diharapkan dengan adanya model pengukuran kinerja, usahatani dan industri kecil penyulingan dalam klaster agroindustri minyak nilam dapat lebih berkembang. Model Integrated Performance Measurement Sistem (IPMS) Pengukuran kinerja sebuah perusahaan atau organisasi merupakan kunci untuk menjadi efektif dan efisien. Jika tidak ada pengukuran berarti tidak bisa dikelola. Persoalan yang sering dihadapi berkaitan dengan implementasi sebuah sistem pengukuran kinerja adalah adanya kesalahpahaman perancang maupun praktisi dalam menerjemahkan beberapa komponen dasar yang meliputi ukuran kinerja 82

Sistem Pengukuran Kinerja... 82 87 (Hendrastuti) (performance measure), pengukuran kinerja (performance measurement) dan sistem pengukuran kinerja (performance measurement sistem). Ketidaktepatan ini dapat menimbulkan ketidak optimalan bahkan kesalahan dalam pengambilan keputusan (Peppard dan Rowland, 1995). Pengukuran kinerja adalah suatu strategi dan pendekatan terpadu untuk menghasilkan keberhasilan yang berkelanjutan pada suatu organisasi dengan peningkatan kinerja dari orang-orang yang bekerja di dalamnya dan dengan mengembangkan kapabilitas kontribusi baik secara tim maupun individu (Armstrong dan Baron, 1998). Sementara itu Fletcher dalam Armstrong (1998) memberikan alternatif lain tentang definisi pengukuran kinerja yaitu suatu pendekatan untuk menghasilkan visi dari suatu maksud dan tujuan dari organisasi, membantu setiap karyawan untuk mengerti dan menyadari kontribusi mereka dalam organisasi dan juga mengelola dan meningkatkan kinerja baik individu maupun organisasi. Integrated Performance Measurement Sistem (IPMS) merupakan sistem pengukuran kinerja yang dibuat di Centre for Strategic Manufacturing, University of Strathclyde, Glasgow (Suwignyo, 2000), dengan tujuan mendeskripsikan dalam arti yang tepat bentuk dari integrasi, efektif dan efisien sistem pengukuran kinerja, sehingga untuk mencapai tujuan tersebut maka dideskripsikan sebagai berikut: (1) Komponen pokok dari sistem pengukuran kinerja dan (2) Membuat garis arahan pengukuran kinerja terbaik yang sebaiknya digunakan. Moodel IPMS membagi level bisnis menjadi empat tingkatan yaitu (1) Bisnis Induk, (2) Unit Bisnis, (3) Proses Bisnis dan (4) Aktivitas. Tingkatan tersebut dapat berupa fisik dan logis yaitu suatu kondisi di mana tingkatan tidak bisa dilihat secara fisik dalam organisasi. Level bisnis induk menunjukkan bisnis secara keseluruhan yang bisa terdiri dari beberapa unut bisnis, dalam hal ini setiap unit bisnis diartikan sebagai satu unit yang merupakan bagian dari organisasi yang melayani sebagian segmen pasar dengan tuntutan pasar yang bersaing. Perbedaan kebutuhan pasar memisahkan satu unit bisnis dengan yang lain. Setiap unit bisnis selanjutnya dapat terdiri dari beberapa proses bisnis yang secara garis besar dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu: (1) Proses Inti, yaitu proses yang menunjukkan alasan dasar bagi keberadaan organisasi dan (2) Proses Pendukung, yaitu proses-proses lain yang ditambahkan dalam proses inti, sehingga dalam hal ini proses bisnis inti merupakan pemangku kepentingan (stakeholder) dari proses pendukung. Secara skematis pembagian level pada pendekatan IPMS dapat dilihat pada Gambar 1. Pada keempat level tersebut di atas selanjutnya diidentifikasi Indikator Kinerja Kunci (IKK) atau Key Performance Indicator (KPI) berdasarkan kebutuhan pemangku kepentingan, external monitor dan tujuan. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam bangunan model IPMS adalah sebagai berikut: (Bittici dalam Suwignyo, 1999) (1) Identifikasi kebutuhan dari masing-masing stakeholder (2) Membandingkan kemampuan bisnis dalam memenuhi kebutuhan stakeholder dengan bisnis lain yang sejenis (monitor eksternal) (3) Menetapkan tujuan-tujuan bisnis (4) Menentukan Indikator Kinerja Kunci (IKK) (5) Melakukan validasi IKK (6) Melakukan spesifikasi IKK Bisnis Induk Unit Bisnis Proses Bisnis Akltivitas Gambar 1. Pembagian Level Bisnis berdasarkan Pendekatan IPMS (Bittici, 1996) Kebutuhan Stakeholder Pada tiap-tiap level binis (organisasi) harus diketahui siapa saja stakeholder- nya atau pemangku kepentingan pada bisnis tersebut. Selanjutnya diidentifikasikan permintaan/keinginan mereka terhadap bisnis yang diistilahkan dengan Kebutuhan 83

EMBRYO VOL. 8 NO. 2 DESEMBER 2011 ISSN 0216-0188 Stakeholder. Stakeholder dapat meliputi; pemegang saham/pemilik, lingkungan sosial, pegawai/karyawan, pemerintah/instansi lain Tujuan (objectives) Penyusunan tujuan harus didasarkan pada keterlibatan dan prioritas perkembangan kebutuhan bersama dengan target dan skala waktu yang tepat. Tujuan seharusnya juga didasarkan pada pemikiran sejumlah masukan yaitu; permintaan stakeholder, kinerja bisnis pesaing, kesenjangan dan rencana pesaing, tingkat kinerja dimana organisasi mampu mencapainya dengan berbagai batasan yang ada (target realistis), tingkat kinerja dimana organisasi memiliki kemampuan untuk mencapainya dengan menghilangkan berbagai batasan yang ada (target potensial) (Suwignyo, 2000). Mengukur Kinerja Suatu bisnis (organisasi) seharusnya memiliki pengukuran kinerja yang benar-benar menunjukkan tingkat kinerja yang dicapai, serta mampu menunjukkan seberapa berhasil pencapaian tujuan pada tiap level. Pengukuran kinerja untuk setiap bisnis memiliki perbedaan, oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang baik dari bisnis agar diperoleh pengukuran kinerja yang benar. Untuk memperoleh ukuran kinerja atau IKK yang benar perlu dilakukan validasi terhadap IKK yang dibuat. Kemudian apabila IKK sudah valid, maka IKK dispesifikasikan untuk memudahkan proses pengukurannya. Proses spesifikasi IKK dilakukan antara lain untuk mengetahui deskripsi yang jelas tentang IKK, tujuan, keterkaitan dengan tujuan, target dan ambang batas, cara mengukur IKK, frekuensi pengukuran, siapa yang mengukur, dan apa yang mereka kerjakan. Metode Pengukuran Kinerja Kinerja Usahatani dan Industri Kecil Penyulingan dalam Agroindustri Minyak Nilam diukur dengan menggunakan metode Integrated Performance Management System (IPMS) dan Analytic Hierarchi Process (AHP). Perancangan Model Pengukuran Kinerja Perancangan model pengukuran kinerja usahatani dan industri kecil penyulingan dalam agroindustri minyak nilam dilakukan mengikuti beberapa tahapan yang sistematis. Penelitian yang dilakukan merujuk pada metode IPMS khususnya dalam hal identifikasi stakeholder dan penentuan Indikator Kinerja Kunci (IKK) yang dijadikan ukuran keberhasilan sebuah klaster agroindustri minyak nilam. a. Identifikasi Kebutuhan Stakeholder Informasi tentang kebutuhan Stakeholder sangat diperlukan dalam perancangan sistem pengukuran kinerja usaha tani dan industri kecil penyulingan pada klaster agroindustri minyak nilam. Stakeholder adalah seluruh elemen pemangku kepentingan yang terdiri dari pelaku industri baik inti maupun pendukung dan institusi terkait lainnya, termasuk di dalamnya adalah pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Berdasarkan pendekatan sistem dan pembagian level organisasi dapat diketahui stakeholder usaha tani dan industri kecil penyulingan adalah pihak-pihak yang terkait dengan klaster agroindustri minyak nilam seperti petani, pedagang/pengumpul nilam kering, petani-penyuling, industri kecil penyulingan, pedagang/pengumpul minyak nilam dan industri pendukung lainnya termasuk institusi/dinas terkait. Dari masing-masing stakeholder tersebut kemudian diidentifikasi kebutuhannya dan dilakukan seleksi untuk melihat adanya kesamaan kebutuhan dari masing-masing stakeholder. Pada penelitian ini identifikasi kebutuhan stakeholder dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang ditujukan pada sejumlah pakar dan pelaku. Pakar dalam konteks adalah individu yang mempunyai komitmen, kompetensi dan kapasitas secara substansi yang diharapkan dapat merepresentasikan pandangan/jawaban dari seluruh stakeholder usaha tani dan industri kecil penyulingan dalam klaster agroindustri minyak nilam. Hasil identifikasi kebutuhan stakeholder: 1. Ketenagakerjaan 2. Akseptabilitas sosial 3. Pertumbuhan usaha 4. Kelembagan 5. Kapasita produksi penyulingan 84

Sistem Pengukuran Kinerja... 82 87 (Hendrastuti) 6. Pendistribusian minyak nilam 7. Finansial 8. Akseptabilitas teknis 9. Penyerapan tenaga kerja 10. Kualitas SDM 11. Sarana peningkatan kualitas SDM 12. Pertumbuhan industri minyak nilam 13. Kontribusi terhadap devisa tahunan 14. Efektivitas fungsional 15. Keterwakilan industri 16. Pasokan nilam kering tahunan 17. Pasokan nilam per kali panen 18. Kapasitas penyulingan 19. Frekuensi penyulingan 20. Rendemen minyak nilam 21. Keuntungan industri tahunan 22. Harga jual minyak nilam 23. Penjualan minyak nilam tahunan 24. Keterlibatan masyarakat di industri 25. Program masyarakat 26. Tingkat komplain 27. Pertumbuhan luas lahan nilam 28. Pertumbuhan petani nilam 29. Pasokan bibit nilam tahunan 30. Jumlah pasokan pupuk 31. Produktivitas nilam kering 32. Luas lahan 33. Rata-rata keuntungan petani 34. Penjualan nilam kering tahunan 35. Harga jual nilam kering 36. Keterlambatan pasokan nilam kering 37. Proses produksi ramah lingkungan 38. Pemenuhan persyaratan lingkungan hidup 39. Jumlah SDM berpendidikan SD 40. Jumlah SDM berpendidikan SMP 41. Jumlah SDM berpendidikan SMU 42. Jumlah SDm berpendidikan > SMU 43. Jumlah balai pelatihan pertanian 44. Jumlah sekolah kejuruan pertanian 45. Kualitas sistem evaluasi 46. Mekanisme koordinasi 47. Jumlah kelompok tani nilam 48. Jumlah petani per kelompok 49. Jumlah pabrik penyulingan 50. Jumlah industri penyulingan b. Penetapan Tujuan (Objectives) Setelah kebutuhan stakeholder ditentukan, kemudian ditetapkan tujuannya. Dari hasil penelitian dapat ditentukan 5 tujuan sebagai upaya yang akan dilakukan industri kecil penyulingan minyak nilam dalam memenuhi keinginan dari stakeholder. Kelima tujuan yang dimaksud yaitu (1) keunggulan komparatif yang berkelanjutan, (2) pertumbuhan usahatani dan industri kecil penyulingan, (3) kemampuan berinovasi, (4) peningkatan kesejahteraan pelaku usaha, dan (5) rantai nilai yang kokoh c. Penetapan Indikator Kinerja Kunci Indikator Kinerja Kunci (IKK) ditetapkan sebagai ukuran untuk mengetahui tingkat pencapaian masing-masing tujuan. Dalam penelitian ini dari 50 Indikator Kinerja berhasil diidentifikasi sebanyak 16 IKK seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Daftar alternatif Indikator Kinerja Kunci Kriteria / Sub Kriteria Indikator Kinerja Kunci (IKK) Penyerapan Tenaga Kerja 1 Jumlah tenaga kerja (%) 2 Tingkat turn over tenaga kerja Kualitas SDM 1 Jumlah SDM berpendidikan SD (%) Sarana Peningkatan Kualitas SDM 2 Jumlah SDM berpendidikan SMP (%) 3 Jumlah SDM berpendidikan SMU (%) 4 Jumlah SDM berpendidikan > SMU (%) 1 Jumlah balai pelatihan industri nilam 2 Jumlah sekolah kejuruan pertanian Efektivitas Fungsional 1 Kualitas sistem evaluasi 2 Mekanisme koordinasi 85

EMBRYO VOL. 8 NO. 2 DESEMBER 2011 ISSN 0216-0188 Mekanisme koordinasi 1 Jumlah pertemuan 2 Prosentase kehadiran wakil petani Keterwakilan industri 1 Jumlah kelompok tani Pasokan nilam kering tahunan 2 Jumlah petani per kelompok 1 Jumlah pabrik penyulingan 2 Jumlah industri pendukung d. Validasi IKK Validasi IKK dilakukan setelah IKK yang teridentifikasi disusun dalam bentuk hirarki Sistem Perancangan Kinerja dengan level teratas kinerja Industri Kecil Penyulingan, level di bawahnya kriteria kinerja dilihat dari berbagai aspek dan level paling bawah adalah IKK. Proses validasi ini dilakukan dengan cara mengembalikan hirarki SPK tersebut kepada pengambil keputusan di industri kecil penyulingan untuk memberikan penilaian apakah IKK dan hirarki SPK yang ada sudah sesuai atau belum dalam arti valid atau perlu perbaikan. Berdasarkan proses validasi yang dilakukan ternyata IKK yang tersusun dinyatakan valid berdasarkan pendekatan sistem bisnis industri penyulingan minyak nilam. e. Spesifikasi IKK Proses spesifikasi IKK dilakukan untuk mengetahui deskripsi yang jelas tentang IKK, tujuan, keterkaitan dengan tujuan, target, formula/cara mengukur IKK, frekuensi pengukuran, frekuensi review, siapa yang mengukur, dan apa yang mereka kerjakan seperti pada Tabel 3. Tabel 3. Spesifikasi IKK IKK No. 1 Deskripsi Penyerapan tenaga kerja Tujuan Untuk memastikan jumlah tenaga kerja selalu meningkat dari waktu ke waktu sehingga Usaha Tani dan Industri Kecil Penyulingan dapat berkembang Terkait dengan Tujuan Pertumbuhan Usaha Tani dan Industri Kecil Penyulingan Cara mengukur Frekuensi Dengan kuesioner Setahun sekali pengukuran Frekuensi review Setahun sekali Siapa yang Tim evaluasi dan pengendalian mengukur Sumber data kinerja Data usaha tani nilam dan industri kecil penyulingan minyak nilam Siapa yang punya Usaha tani, industri kecil penyulingan, institusi/dinas terkait Kesimpulan 1. Tujuan dari sistem pengukuran kinerja usaha tani dan industri kecil penyulingan dalam klaster agroindustri minyak nilam dengan metode IPMS, yaitu: (1) keunggulan komparatif yang berkelanjutan, (2) pertumbuhan usaha tani dan industri kecil penyulingan, (3) kemampuan berinovasi, (4) peningkatan kesejahteraan pelaku usaha, dan (5) rantai nilai yang kokoh 2. Dengan metode ini dari empat puluh Indikator Kerja (IK) dapat diidentifikasi sebanyak enam belas IKK (Indikator Kinerja Kunci) 86

Sistem Pengukuran Kinerja... 82 87 (Hendrastuti) Saran 1. Sistem pengukuran kinerja ini dapat diimplementasikan pada agroindustri minyak atsiri lainnya agar kinerja agroindustri minyak atsiri dapat ditingkatkan 2. Dukungan dari institusi pemerintah/ Pemerintah Daerah sangat diperlukan agar kualitas SDM dapat meningkat Daftar Pustaka Armstrong M, Baron A. 1998. Developing Practice Performance Management. British: Institute of Personnel Development Bittici US, Carrie AS, Mc-Devitt L. 1996. Performance Measurement: A Business Process View. Proceeding of IFIP WG 5.7 Workshop on Modelling Techniques. Business Process and Bendhmarking. France Bittici US, Mendibil K, Nudurupati S, Garengo P, Turner T. 2006. Dynamics of Performance Measurement and Organizational Culture. International Journal of Operation and Production Management, 26(12): 1325-1350 Busi M, Bititci US. 2006. Collaborative performance management: present gaps and future research. International Journal of Productivity and Performance Management, 55(1):7-25 Departemen Perdagangan. 2007. Strategi Industri Nasional. Jakarta Dixon RW, Nanni AJ, Vollman TE. 1993. The Performance Challenge: Measuring Operations for World Class Competition. Dow Jones-Irwin, Homewood, II Garengo P, Biazzo S, Bititci US. 2005. Performance Measurement System in SME: A Review for a research agenda. Blackwell Publishing Ltd Marimin. 2005. Teknik dan Aplikasi Sistem Pakar dalam Teknologi Manajerial Bogor: IPB Press Neely A, GregoryM, Platts K. 1995. Performance Measurement System Design: A Literature Review and Research Agenda. International Journal of Operation Production Management, 15(4):80-116 Peppard and Rowland. 1995. The Essence of Business Process Re-Engineering. Prentice-Hall International Stenzel Cand J. 2003. From Cost to Performance Management, A Blueprint for Organizational Development. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc Susila WR. 1991. Verifikasi dan Validasi Model. Forum Statistik. Maret-Juni 87