HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
Lampiran 1 Hasil Pengujian sampel susu menggunakan metode Breed dan uji. Breed (jumlah sel somatis/ml) No Kuartir IPB-1

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

Lampiran 1 Kuisioner Peternak Pemasok Susu Segar

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

METODE PENELITIAN. Metode Penelitian

Alat Pemerahan Peralatan dalam pemerahan maupun alat penampungan susu harus terbuat dari bahan yang anti karat, tahan lama, dan mudah dibersihkan. Bah

TINJAUAN PUSTAKA Sifat Umum Susu

KAJIAN KEPUSTAKAAN. menghasilkan susu. Terdapat beberapa bangsa sapi perah yaitu Ayrshire,

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mengkaji hubungan higiene dan sanitasi berbagai lingkungan peternakan dan

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman Online di

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Friesian Holstein (FH)

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu sumber protein yang baik dikonsumsi oleh

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. dan mineral yang tinggi dan sangat penting bagi manusia, baik dalam bentuk segar

Studi Sanitasi Dan Pemeriksaan Angka Kuman Pada Usapan Peralatan Makan Di Rumah Makan Kompleks Pasar Sentral Kota Gorontalo Tahun 2012

PENDAHULUAN. Latar Belakang. kelenjar susu mamalia. Susu memiliki banyak fungsi dan manfaat.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Limba U I Kec. Kota Selatan Kota Gorontalo. Pasar sental Kota Gorontalo

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESEHATAN AMBING DAN HIGIENE PEMERAHAN DI PETERNAKAN SAPI PERAH DESA PASIR BUNCIR KECAMATAN CARINGIN

HASIL DAN PEMBAHASAN. (1) Sebelah Utara: Kabupaten Purwakarta dan Subang. (2) Sebelah Timur: Kabupaten Sumedang dan Garut

KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Usaha Ternak Sapi Perah

Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): , Agustus 2016

MENGELOLA KOMPOSISI AIR SUSU

- 5 - BAB II PERSYARATAN TEKNIS HIGIENE DAN SANITASI

Susu merupakan bahan pangan yang memiliki nilai gizi tinggi karena. vitamin, mineral, dan enzim. Menurut Badan Standart Nasional (2000).

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Susu merupakan bahan makanan yang diperoleh dari hasil seleksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (Hayati et al., 2010). Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 5-10

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein Peternakan Sapi Perah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tercemar kapan dan dimana saja sepanjang penanganannya tidak memperhatikan

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. dijangkau dan terhubung dengan daerah-daerah lain di sekitarnya oleh jalur transportasi

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perkandangan merupakan segala aspek fisik yang berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN. dan telah lama dimanfaatkan sebagai sumber protein yang cukup penting bagi

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Yani dan Purwanto (2006) dan Atabany et al. (2008), sapi Fries Holland

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang pengaruh dipping puting sapi perah yang terindikasi

HIGIENE DAN SANITASI SARANA PP - IRT

BAB VII KANDANG DAN PERKANDANGAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. terletak di propinsi Jawa Barat. Batas wilayah kelurahan Cipageran yaitu :

I. PENDAHULUAN. diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Kompos Cacing Tanah (CASTING)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan

BAB I PENDAHULUAN. pembelahan daging ayam untuk mengeluarkan jeroan, dan proses pengeluaran

Sanitasi Penyedia Makanan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) Daun Belimbing Wuluh mengandung flavonoid, saponin dan tanin yang

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006

BAB I PENDAHULUAN. Sapi bali merupakan salah satu bangsa sapi asli Indonesia dan keturunan asli

TINJAUAN PUSTAKA. Susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang tinggi seperti protein, lemak, mineral dan beberapa vitamin lainnya

BAB I PENDAHULUAN. Ambing merupakan alat penghasil susu pada sapi yang dilengkapi suatu

BAB I PENDAHULUAN. Salmonella sp merupakan salah satu bakteri patogen yang dapat menimbulkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada waktu dimekarkan Kabupaten Bone Bolango hanya terdiri atas empat

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA POUCOWPANTS TEMAN SETIA PENELITI ILMU NUTRISI DALAM PENGUMPULAN FESES BIDANG KEGIATAN : PKM-KARSA CIPTA

BAB 1 PENDAHULUAN. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan hidup

TINJAUAN PUSTAKA. A. Sapi perah (Peranakan Friesian Holstein)

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar

BAB I PENDAHULUAN. Escherichia coli yang merupakan salah satu bakteri patogen. Strain E. coli yang

15 Penanganan telur yang dilakukan oleh para pedagang di pasar tradisional di Provinsi Jawa Barat tidak menyimpan telur dengan pendinginan. Semua peda

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan

BAB III METODE PENELITIAN

A. Wibowo, T.H. Suprayogi dan Sudjatmogo* Program Studi S-1 Peternakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro

PENGARUH PENGGUNAAN BENZALKONIUM KLORIDA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SUSU SAPI. Saeful Hidayat, Rival Ferdiansyah, Akhmad Depi Juniarto

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

BAB I PENDAHULUAN. dari protein, karbohidrat, lemak, dan mineral sehingga merupakan salah satu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sebelah Barat : berbatasan dengan Sungai Bulango. b. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kelurahan Ipilo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mineral. Susu adalah suatu cairan yang merupakan hasil pemerahan dari sapi atau

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sanitasi Dan Higiene Pada Tahap Penerimaan Bahan Baku.

METODE. Materi. Metode

DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan minuman sumber protein yang diperoleh dari hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN

1 KUISIONER GAMBARAN HYGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DAN PEMERIKSAAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. yang tergabung pada TPK Cibodas yang berada di Desa Cibodas, Kecamatan

BAB XII PEMERAHAN TERNAK RIMINANSIA

I. PENDAHULUAN. mengandung sejumlah mikroba yang bermanfaat, serta memiliki rasa dan bau

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian Keadaan umum daerah penelitian meliputi, keadaan administratif daerah,

BAB I PENDAHULUAN. baik sekali untuk diminum. Hasil olahan susu bisa juga berbentuk mentega, keju,

BAB I PENDAHULUAN. dan/atau kegiatan wajib melakukan pengolahan limbah hasil usaha dan/atau

Lampiran 1. Aspek Penilaian GMP dalam Restoran

BAB IX SANITASI PABRIK

MENERAPKAN HIGIENE SANITASI

BAB I PENDAHULUAN. 2012). Sapi berasal dari famili Bovida, seperti halnya bison, banteng, kerbau

Penyiapan Mesin Tetas

BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan oleh manusia biasanya dibuat melalui bertani, berkebun, ataupun

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel susu, air dan peralatan berasal dari tujuh peternak dari Kawasan Usaha Peternakan Rakyat (Kunak), yang berlokasi di Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor. Total sampel susu individu yang diperoleh sebanyak 54, sampel susu kandang dan air sebanyak 7, sampel TPS sebanyak 4. Sampel susu individu, susu kandang, sampel air, sampel swab peralatan yang terdiri dari ember, bibir milk can dan bagian dalam milk can diambil dari masing-masing peternak. Profil Peternak, Kondisi Kandang dan Higiene Pemerahan Profil Peternak Peternakan Kunak merupakan peternakan rakyat dengan metode pemeliharaan yang masih tradisional. Berdasarkan hasil kuisioner diperoleh profil peternak yang diperlihatkan pada Tabel 3. Tabel 3 Profil peternak di peternakan Kunak berdasarkan kuisioner Karakteristik Persentase (%) Jenis usaha sapi perah a. Usaha pokok 85.72 b. Usaha tambahan 14.28 Penyuluhan mengenai mastitis a. Ya 71.42 b. Tidak 28.58 Peternak di Kunak memiliki pengalaman beternak lebih dari 5 tahun. Sebanyak 85.72% peternak menjadikan usaha sapi perah sebagai usaha pokok dan 14.28% menjadikan sebagai usaha tambahan. Sebanyak 5 dari 7 peternak pernah mendapatkan penyuluhan atau pendidikan mengenai mastitis. Penyuluhan dan pendidikan kepada peternak diberikan dalam rangka peningkatan produksi dan kualitas susu, serta upaya pencegahan penyebaran penyakit. Peternak yang telah mendapatkan penyuluhan seharusnya memiliki pengetahuan mengenai mastitis dan penyebabnya, sehingga diharapkan cara pemerahan sapi perah lebih baik dibandingkan peternak yang belum pernah mendapatkan penyuluhan.

17 Kondisi Kandang Kandang merupakan bangunan sebagai tempat tinggal ternak yang ditujukan untuk melindungi ternak terhadap gangguan luar seperti terik matahari, hujan, angin, dan gangguan binatang lain, serta untuk memudahkan dalam pengelolaan (Ernawati et al. 2000). Sebagian besar lantai kandang di Kunak telah menggunakan semen. Lantai kandang yang sudah disemen, memudahkan dalam pembersihan kotoran sapi. Hasil kuisioner terkait kondisi kandang di peternakan Kunak dalam dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Kondisi kandang di peternakan Kunak berdasarkan kuisioner Karakteristik Persentase (%) Tingkat kepadatan ternak a. Padat 0 b. Tidak padat 100 Keadaan ventilasi kandang a. Terbuka 57.14 b. Dikelilingi tembok setinggi 0.5 meter 0 c. Dikelilingi tembok setinggi 1 meter 42.86 Tingkat kepadatan ternak di Kunak tergolong baik (ada tempat untuk berbaring sapi). Hal ini ditunjukkan dengan hasil kuisioner mencapai 100%. Adanya tempat untuk berbaring sapi, akan memberi kesempatan bagi ternak untuk bergerak. Kepadatan yang tinggi di suatu kandang akan memudahkan penyebaran penyakit. Berdasarkan hasil kuisioner 57.14% kandang menggunakan ventilasi terbuka, sedangkan sisanya sekitar 42.86%, dikelilingi oleh tembok 1 meter. Ventilasi terbuka akan menimbulkan adanya kontaminasi lingkungan di kandang lebih tinggi. Persyaratan kandang yang baik terdiri dari bahan bangunan kandang ekonomis, mudah didapat, tahan lama, awet, tidak menimbulkan panas dan memberikan kenyamanan terhadap ternak yang dipelihara; ventilasi yang cukup; tidak ada genangan air di dalam atau di luar kandang; serta kandang mudah dibersihkan. Lokasi kandang sebaiknya tidak menjadi satu dengan rumah tinggal peternak, berjarak minimal 10 meter; tidak berdekatan dengan bangunan umum; tersedia tempat penampungan kotoran dan limbah sisa pakan; serta tersedia air bersih. Arah bangunan kandang tunggal sebaiknya menghadap ke timur,

18 sedangkan bangunan kandang ganda membujur utara ke selatan. Hal ini dimaksudkan agar sinar matahari pagi dapat masuk ke dalam kandang untuk membantu pembentukan vitamin D sekaligus pembasmi bibit penyakit (Ernawati et al. 2000). Cara Pemerahan Peternakan Kunak termasuk peternakan rakyat yang tergolong masih tradisional. Manajemen pemerahan sapi perah berkaitan erat dengan kesehatan ambing. Hasil kuisioner terkait cara pemerahan disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Cara pemerahan di peternakan Kunak berdasarkan kuisioner Karakteristik Persentase (%) Membersihkan ambing sebelum diperah a. Dilap dengan kain 14.29 b. Dilap dengan tissue 0 c. Tidak dilap (hanya disiram 71.42 air) d. Disikat 14.29 Cara pemerahan a. Seluruh jari 42.86 b. Dua jari 28.57 c. Kombinasi 28.57 d. Mesin perah 0 Menggunakan bahan pelican 100 Teat dipping a. Ya 57.14 b. Tidak 42.86 Pemerah mencuci tangan 100 Sistem pemerahan di peternakan Kunak masih tergolong manual, yakni menggunakan tangan. Hasil yang diperoleh 42.86% peternak menggunakan seluruh jari, 28.57% menggunakan dua jari dan 28.57% kombinasi untuk memerah ambing. Kelemahan pemerahan dengan dua jari adalah mudah terjadi perlukaan pada ambing, ambing dan puting selalu basah, dan sumber kontaminasi karena ambing terus bergerak dan tertarik. Keuntungan pemerahan dengan seluruh jari adalah memerah lebih cepat, puting tidak tertarik, dan puting tidak terlalu basah sehingga kotoran jarang atau sedikit terikut dalam susu (Lukman et al. 2009).

19 Semua peternak memerah dua kali sehari yaitu pagi (pukul 04.00) dan sore (pukul 15.30), serta memandikan sapi dua kali sehari sebelum diperah. Berdasarkan pengamatan di lapangan, peternak hanya memandikan sapi dengan menyiram air pada tubuh ternak, tanpa membersihkan dengan sabun dan menyikatnya. Air yang menempel pada tubuh sapi dapat menjadi sumber kontaminasi susu segar pada saat pemerahan. Higiene pemerahan yang diterapkan oleh sebagian peternak meliputi membersihkan ambing sebelum pemerahan. Sebanyak 14.29% peternak membersihkan ambing sapi sebelum diperah dengan lap, 14.29% peternak menyikat ambing sapinya dan sebanyak 71.42% peternak membersihkan ambing sapi hanya dengan disiram air tanpa dikeringkan. Semua peternak menggunakan bahan pelicin saat memerah (100%). Bahan pelicin yang sering digunakan antara lain vaselin. Vaselin dapat menjadi sumber kontaminasi dalam susu segar. Hasil kuisioner menunjukkan 57.14% peternak melakukan teat dipping setelah pemerahan dan 42.86% tidak melakukan teat dipping setelah pemerahan. Teat dipping merupakan suatu tindakan yang dilakukan dengan mencelupkan puting sapi ke dalam desinfektan setelah pemerahan berakhir. Hal ini bertujuan untuk mencegah bakteri masuk setelah pemerahan. Perlakuan pencelupan puting akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang masuk melalui lubang puting, dengan cara merusak dinding sel mikroorganisme bagian luar dan membran sel sehingga desinfektan dapat masuk dalam sitoplasma sampai pada sel mikroorganisme, dengan demikian mikroorganisme tidak dapat berkembang biak hingg perkembangannya terhambat sampai akhirnya mikroorganisme tersebut mati, sehingga kontaminasi susu dapat dicegah sedini mungkin (Khasanah 2010). Tangan pemerah merupakan salah satu sumber kontaminasi mikroorganisme dalam susu, dengan ditemukannya mikroorganisme patogen seperti Staphylococcus aureus (S. aureus) dan Escherichia coli (E. coli). Kuku mengandung mikroorganisme patogen hingga 10 7 cfu/cm 2. S. aureus dapat ditemukan pada permukaan kulit yang lembab sebesar 10 3 10 6 cfu/cm 2. (Handayani & Purwanti 2010). Berdasarkan penelitian Sartika et al. (2005), usapan tangan pemerah susu di daerah Kukusan dan Batutulis diperoleh persentase sebesar 41.7% tercemar E.coli

20 0 157 :H 7. Pencemaran E.coli dapat berasal dari air di peternakan yang digunakan untuk mencuci tangan atau kebersihan pekerja setelah buang air besar tidak mencuci tangan dengan sabun. Mencuci tangan dengan sabun merupakan upaya untuk menekan kontaminasi mikroorganisme dalam susu pada saat pemerahan. Pemerahan yang baik dan benar akan mengurangi jumlah total mikroorganisme dalam susu. Pemerahan yang baik dilakukan dengan memperhatikan beberapa aspek, yaitu pemerahan dilakukan dalam interval yang teratur dan cepat, menggunakan prosedur sanitasi, efisien dalam penggunaan tenaga kerja. Pemerahan dimulai pada kuartir bagian depan sampai habis kemudian pada kedua kuartir bagian belakang (Putra 2009). Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum pemerahan dilakukan antara lain kandang terlebih dahulu dibersihkan dan menghindari mengerjakan aktifitas lain (Lukman et al. 2009). Menurut Akira (2009) dan Lukman et al. (2009), tahapan higiene pemerahan dengan tangan yaitu sanitasi peralatan sebelum pemerahan; kaki, lipatan paha, dan ekor sapi dibersihkan untuk menghindari kontaminasi mikroorganisme; ambing dicuci dengan air hangat selama 15 30 detik; ambing dikeringkan dengan menggunakan lap yang bersih dan kering kemudian ambing diberikan larutan pembersih seperti larutan Chlor dan ambing dilap dengan kain yang kering. Tangan pemerah harus dicuci dengan sabun dan disikat hingga bersih. Wadah tempat susu diletakkan di atas lantai di antara kedua kaki dan membentuk sudut 45 o dengan puting susu. Puting susu diberikan sanitaiser (teat dipping) dan peralatan pemerahan harus dibersihkan setelah pemerahan selesai. Jumlah Total Mikroorganisme Sampel Susu Individu dan Susu Kandang Susu individu adalah susu yang diperoleh dari masing masing individu produktif yang terdapat dalam kandang. Susu kandang merupakan susu yang diperoleh dari seluruh individu ternak produktif yang telah dicampur dalam milk can. Data rataan sampel susu individu dan sampel susu kandang dari 7 kandang disajikan pada Tabel 6.

21 Tabel 6 Rataan jumlah total mikroorganisme dalam sampel susu individu dan susu kandang Jumlah total mikroorganisme (cfu/ml) Peternakan Susu individu Susu kandang A 1.6 x 10 4 8.3 x 10 4 B 6.9 x 10 3 6.4 x 10 5 C 4.9 x 10 4 3.5 x 10 5 D 3.7 x 10 4 6.5 x 10 4 E 1.3 x 10 4 2.4 x 10 4 F 9.4 x 10 3 7.4 x 10 5 G 9.8 x 10 3 8.6 x 10 4 Rataan 2.0 x 10 4 2.8 x 10 5 Secara umum rataan jumlah total mikroorganisme dalam susu kandang mengalami peningkatan dibandingkan rataan jumlah total mikroorganisme dalam susu individu. Rataan jumlah total mikroorganisme dalam sampel susu individu dengan sampel susu kandang (Gambar 1) menunjukkan perbedaan nyata. Hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi yang signifikan (p<0.05) yaitu sebesar 0.03. 1000000 100000 Jumlah total mikroorganisme (cfu/ml) 10000 1000 100 10 1 A B C D E F G Susu individu Peternakan Susu kandang Gambar 1 Rataan jumlah total mikroorganisme dalam sampel susu individu dan sampel susu kandang.

22 Peningkatan jumlah total mikroorganisme dapat dipengaruhi oleh peralatan yang tidak dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan, pemerah yang tidak mencuci tangan, ambing sapi yang tidak dibersihkan atau dicuci sebelum diperah. Berdasarkan kuisioner sebanyak 14.29% peternak membersihkan ambing sapi sebelum diperah dengan lap, 14.29% peternak menyikat ambing sapinya dan sebanyak 71.42% peternak membersihkan ambing sapi hanya dengan disiram air tanpa dikeringkan. Air yang masih menempel di ambing sapi dapat jatuh dan menjadi sumber kontaminasi dalam susu segar. Jumlah total mikroorganisme dalam susu individu berasal dari kulit hewan, tangan pemerah, kandang sapi dan peralatan pemerahan (Khan et al. 2008). Jumlah total mikroorganisme dalam sampel susu kandang yang tinggi dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari hewan itu sendiri, yaitu mikroorganisme berasal dari ambing sapi. Faktor eksternal terkait dengan cara pemerahan, sanitasi peralatan dan air, tangan dan baju pemerah serta lingkungan sekitar. Menurut Lukman et al. (2009), jumlah total mikroorganisme dalam susu segar akan meningkat melalui kontaminasi peralatan susu (ember, lap, milk can, atau saringan) sampai dengan lebih dari 10 6 cfu/ml. Dari hasil kuisioner pemerah mencuci tangan tanpa menggunakan sabun sebelum pemerahan sebanyak 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa adanya praktik higiene personal saat pemerahan yang tidak baik. Kontaminasi mikroorganisme dalam susu segar berasal dari tiga sumber utama yaitu dari dalam ambing, pada saat penanganan susu dan peralatan pemerahan. Kesehatan dan kebersihan sapi merupakan aspek yang mempengaruhi tingkat kontaminasi mikroorganisme dalam susu (Rysanek et al. 2009). Peralatan pemerahan seperti ember dan milk can hanya dibersihkan menggunakan air tanpa menggunakan sabun dan desinfektan, sehingga lemak susu yang masih melekat di peralatan pemerahan merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme untuk berkembang biak. Jumlah Total Mikroorganisme Sampel Susu Tempat Pengumpul Susu (TPS) Susu dari seluruh peternak di Kunak, dikumpulkan pada tempat penampung susu (TPS) sebelum dikirim ke industri pengolah susu (IPS). Pengambilan sampel

23 susu dari TPS dilakukan sebanyak 4 kali dengan waktu yang berbeda. Hasil jumlah total mikroorganisme dalam susu TPS disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 Jumlah total mikroorganisme dalam sampel susu TPS Pengambilan Jumlah total mikroorganisme (cfu/ml) 1 3.9 x 10 5 2 4.2 x 10 5 3 5.2 x 10 5 4 5.8 x 10 6 Rataan 1.8 x 10 6 Berdasarkan hasil pengujian terlihat adanya peningkatan rataan jumlah total mikroorganisme dari susu kandang ke susu TPS. Rataan jumlah total mikroorganisme dalam susu TPS pada penelitian ini lebih tinggi dari penelitian sebelumnya, dimana jumlah total mikroorganisme dalam susu TPS di peternakan Kunak sebesar 1.7 x 10 6 cfu/ml (Liban 2010). Tingginya jumlah total mikroorganisme dari sampel susu TPS dapat dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain susu disimpan pada suhu kamar dalam waktu yang lama (tidak langsung disetorkan ke TPS) karena menunggu mobil jemputan, distribusi dari kandang ke TPS yang tidak menggunakan rantai dingin, dan jauhnya distribusi susu dari kandang ke TPS. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjaga kualitas susu selama distribusi, antara lain tempat atau wadah susu harus bersih, susu tetap dalam keadaan dingin, dan waktu susu selama dalam suhu kamar harus sesingkat mungkin (Lukman et al. 2009). Susu yang didiamkan dalam waktu tertentu akan menunjukkan peningkatan jumlah total mikroorganisme yang lebih tinggi. Menurut Dinas Peternakan Jawa Timur (2009) dan Giffel (2003), susu yang didiamkan selama 3 jam tanpa pendinginan dapat menyebabkan susu menjadi rusak. Suhu dan lamanya waktu penyimpanan dapat menjadi faktor predisposisi peningkatan jumlah total mikroorganisme dalam susu segar (Rysanek et al. 2009). Jumlah Total Mikroorganisme dalam Air Sampel air diambil dari 7 kandang menggunakan spoit. Data jumlah total mikroorganisme pada air terdapat pada Tabel 8.

24 Tabel 8 Jumlah total mikroorganisme dalam air Jumlah total mikroorganisme (cfu/ml) Peternakan Air A 2.9 x 10 3 B 8.4 x 10 2 C 1.5 x 10 3 D 1.2 x 10 3 E 7.0 x 10 4 F 1.4 x 10 4 G 5.4 x 10 2 Rataan 1.3 x 10 4 Rataan jumlah total mikroorganisme dalam sampel air dari 7 kandang sebesar 1.3 x 10 4 cfu/ml. Penelitian Handayani dan Purwanti (2010) diperoleh rataan mikroba aerob dalam air di peternakan sapi perah Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin sebesar 7.4 x 10 4 cfu/ml. Menurut SNI No. 01 3553 2006, angka lempeng total akhir cemaran mikroba adalah 1.0 x 10 5 cfu/ml. Mikroorganisme dalam air dapat mengkontaminasi susu pada saat memandikan sapi dan membersihkan peralatan pemerahan, sehingga jumlah total mikroorganisme dalam air merupakan faktor predisposisi meningkatnya jumlah total mikroorganisme dalam susu. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang standar air bersih, air bersih harus memiliki kriteria sifat fisik yang terdiri dari bau dan rasa yang negatif, artinya air bersih tidak berbau dan tidak berasa. Sumber air yang cocok untuk sebuah peternakan terdiri dari 3 aspek yaitu nilai ph, salinitas dan kandungan klorida. Nilai ph berkisar antara 6.50 8.50. Salinitas adalah jumlah mineral dalam air, termasuk natrium, kalsium, magnesium, klorida, sulfat dan karbonat (Curran & Robson 2007). Sumber air yang digunakan pada masing-masing peternakan berasal dari dua sumber yaitu air PAM dan air sungai. Ketersediaan air di peternakan Kunak juga bervariasi, sebanyak 85.71% peternakan menyediakan air secara terus menerus dan sisanya 14.29% ketersediaan air di kandang secara periodik.

25 Gambaran Koloni Mikroorganisme dari Swab Peralatan Pemerahan pada Media Agar Darah Total sampel swab peralatan pemerahan yaitu 21. Swab peralatan pemerahan diambil dari ember, bibir milk can dan bagian dalam milk can. Biakan swab peralatan pemerahan menunjukkan jumlah mikroorganisme (Gambar 2) pada rangking 1 sekitar 2 000/ml, rangking 2 sekitar 4 000/ml, rangking 3 sekitar 6 000/ml, rangking 4 sekitar 12 000/ml, rangking 5 sekitar 17 500/ml dan rangking 6 (carpet-like) sekitar 38 000/ml (Akira 2009) Gambar 2 Gambaran koloni mikroorganisme dari swab peralatan menurut Akira (2009). Persentase kebersihan peralatan pemerahan disajikan pada Tabel 9. Persentase kebersihan peralatan ember rangking 2, 3 dan 6 (14.28%), rangking 4 dan 5 (28.58%). Kebersihan milk can bagian bibir diperoleh persentase rangking tertinggi pada rangking ke-5 (71.44%) dan sisanya pada rangking 3 dan 4 (14.28%). Kebersihan bagian dalam milk can, didapatkan rangking 5 sebesar 42.84%, dan rangking 4 dan 6 sebesar 28.58%. Gambaran koloni mikroorganisme dari kebersihan peralatan pemerahan di peternakan Kunak terlihat pada Gambar 3.

26 Tabel 9 Persentase kebersihan peralatan pemerahan Peralatan pemerahan (%) Ranking Bibir milk Dalam milk Ember can can 1 0 0 0 2 14.28 0 0 3 14.28 14.28 0 4 28.58 14.28 28.58 5 28.58 71.44 42.84 6 14.28 0 28.58 Total 100 100 100 (a) (b) Gambar 3 Gambaran koloni mikroorganisme dari swab peralatan pemerahan di peternakan Kunak pada media agar darah domba 5% (a) rangking 4; (b) rangking 5. Kebersihan peralatan merupakan faktor predisposisi dari peningkatan jumlah total mikroorganisme dalam susu. Wadah untuk menampung susu tidak boleh terbuat dari bahan seng, kayu, bahan yang mudah berkarat, logam dengan kandungan timbal (Pb) lebih dari 1%, dan bahan yang dilapisi cat (Lukman et al. 2009). Persyaratan tersebut menjaga agar susu dalam kondisi baik (tidak terjadi kerusakan), sehingga kualitas susu baik. Berikut adalah gambar persentase rangking kebersihan peralatan pemerahan dalam diagram; ember (Gambar 4), bibir milk can (Gambar 5), dan bagian dalam milk can (Gambar 6).

27 14.28% 14.28% 14.28% 28.58% 28.58% 2 3 4 5 6 Gambar 4 Persentase rangking kebersihan ember. Persentase kebersihan terbesar dari ember terdapat pada rangking 4 dan 5. Umumnya ember yang digunakan pada masing-masing kandang tidak dibersihkan dengan benar sebelum dan sesudah digunakan, hanya dibilas menggunakan air. Ember digunakan untuk menampung air, bahkan ember digunakan juga untuk menampung susu. Gambar 5 Persentase rangking kebersihan bibir milk can. Persentase kebersihan bibir milk can terbesar yaitu pada rangking 5 (71.44%). Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (1998), tempat penampung susu (milk can) dengan mulut sempit baik untuk menampung susu sewaktu diperah. Penggunaan milk can dengan mulut sempit dapat mengurangi jumlah mikroorganisme dalam susu.

28 28.58% 28.58% 42.84% 4 5 6 Gambar 6 Persentase rangking kebersihan bagian dalam milk can. Persentase kebersihan terbesar dari ketiga peralatan pemerahan (ember, bibir milk can, dan bagian dalam milk can) pada rangking 5. Hal ini disebabkan peralatan pemerahan tersebut tidak dicuci dengan benar, hanya dibilas menggunakan air yang ada di kandang, sehingga lemak tidak larut dan menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme Berdasarkan hasil pengujian terlihat bahwa air mengandung mikroorganisme dalam jumlah yang cukup tinggi. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (1998) pencucian peralatan misalnya ember, milk can, botol dan lain-lain sebaiknya dengan menggunakan air panas dan larutan chlor. Hal ini dapat melarutkan lemak susu yang menempel pada alat alat tersebut. Peralatan yang tidak bersih dalam penanganan susu mengakibatkan susu banyak mengandung mikroorganisme. Menurut Isnaeny (2009), pemanasan merupakan proses yang relatif sederhana, baik peralatan atau cara pengolahan susu.