BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pendekatan saintifik berbasis Problem Based

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. April 2017 sampai dengan Senin, 22 Mei 2017 di SMP Negeri 1 Manisrenggo.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi experimen (experimen

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan adalah merupakan penelitian eksperimen semu.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperiment yang dilakukan di

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian eksperimen semu (quasi

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen karena pengambilan sampel

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengumpulan data penelitian, hasil analisis data dan pembahasannya. Dari uraian

BAB III METODE PENELITIAN

Tabel 18 Deskripsi Data Tes Awal

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experiment).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. analisis pretest-postest, uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis dengan

BAB III METODE PENELITIAN. eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Quasi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperiment yang dilakukan di

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. KH. Ahmad Dahlan 130, Kota Yogyakarta. Adapun mengenai pelaksanaan. Sabtu, 28 November 2015 tahun ajaran 2015/2016.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Analisis deskripsi dalam penelitian ini membahas mengenai deskripsi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kaliurang Km 17 Pakembinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Dikatakan kuasi eksperimen karena subjek penelitian tidak diacak sepenuhnya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Square merupakan model

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Deskripsi Lokasi, Populasi, dan Waktu Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. lain yang subjek penelitiannya adalah manusia (Sukardi, 2003:16). Tujuan

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kuasi

BAB III METODE PENELITIAN. semu (Quasi Experimental Research). Desain ini mempunyai kelompok kontrol

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

: Perlakuan (Pembelajaran dengan model pembelajaran M-APOS),

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. matematika dengan pendekatan saintifik melalui model kooperatif tipe NHT

BAB III METODE PENELITIAN. sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah Quasi Experimental Research (penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini akan membahas mengenai analisis data dari hasil pengolahan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sedangkan untuk data kuantitatif diperoleh dari hasil pretes dan postes kemampuan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

84 Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6 No 7 Tahun 2017

IMPLEMENTASI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA

III METODE PENELITIAN. digunakan adalah eksperimen semu. Eksperimen semu dilakukan karena keadaan

BAB III METODE PENELITIAN

DAFTAR ISI Imas Teti Rohaeti, 2013

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data nilai tes kemampuan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. antara kelas yang menggunakan LKS paperless dan kelas yang menggunakan LKS

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. semu. Metode eksperimen semu digunakan untuk mengetahui

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasiexperimental

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. keefektifan pembelajaran menggunakan model problem based learning dan model

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Bandarlampung Tahun Ajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa sebanyak 200

III. METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Tamansiswa

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Gambaran Umum SMP Negeri 14 Yogyakarta

BAB IV HASIL PENELITIAN. Pada bagian ini akan dibahas atau diuraikan hasil-hasil penelitian

Muhamad Soeleman Universitas Suryakancana Cianjur

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi-experimental

BAB III METODE PENELITIAN. kuasi eksperimen atau percobaan karena sesuai dengan tujuan penelitian yaitu

BAB III METODE PENELITIAN. Keterampilan laboratorium dan kemampuan generik sains sangat penting

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Depok pada hari Jum at 18 Maret 2016 sampai dengan Selasa, 29 April 2016. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII. Sampel yang diambil adalah kelas VII A sebagai kelas eksperimen dengan pembelajaran matematika menggunakan pendekatan kontekstual dan kelas VII C sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran matematika menggunakan pendekatan konvensional. Dalam penelitian ini proses pembelajaran dilakukan oleh peneliti berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun sesuai dengan pendekatan yang digunakan. Pada kelas eksperimen yang menggunakan pendekatan kontekstual, proses pembelajaran terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada fase awal meliputi pembukaan, apersepsi, dan motivasi. Kegiatan inti meliputi relating (mengaitkan), experiencing (mengalami), applying (mengaplikasikan), cooperating (kerjasama), dan transferring (mentransfer). Pada kegiatan akhir meliputi penarikan kesimpulan, refleksi dan pemberian PR. Proses pembelajaran pada kelas kontrol menggunakan pendekatan konvensional. Proses pembelajaran terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Kegiatan awal melipti pembukaan, apersepsi dan motivasi. Kegiatan inti meliputi eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Kegiatan akhir meliputi penarikan kesimpulan, refleksi dan pemberian PR. 71

Penelitian diawali dengan pemberian pretest yang terdiri dari tes pemahaman konsep matematika dan angket motivasi belajar siswa untuk mengetahui kemamuan pemahaman konsep matematika dan sikap awal siswa pada masing-masing kelas. Penelitian dilanjutkan dengan proses pembelajaran sebanyak 5 pertemuan. Setelah proses pembelajaran, penelitian diakhiri dengan pemberian posttest dengan intrumen yang sama dengan pretest untuk mengetahui efektivitas pembelajaran kelas eksperimen dan kelas kontrol. Selama proses proses pembelajaran, peneliti diobservasi oleh satu orang observer, yaitu mahasiswa Pendidikan Matematika. Lembar observasi keterlaksaan pembelajaran bertujuan untuk mengevaluasi setiap proses pembelajaran yang berlangsung. Secara keseluruhan, proses pembelajaran di kelas eksperimen dan kelas kontrol berjalan sesuai dengan rencana pelaksaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun. Hal ini didasarkan pada hasil rata-rata presentase lembar observasi keterlaksaan pembelajaran di dua kelas. Pada kelas eksperimen hasil rata-rata observasi keterlaksaan pembelajaran sebesar 80%. Sedangkan pada kelas kontrol sebesar 81%. 2. Deskripsi Data Penelitian Data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari nilai pretest, nilai posttest, skor awal angket, dan skor akhir angket dari dua kelas, yakni kelas kontrol dengan pendekatan konvensional dan kelas eksperimen dengan pendekatan kontekstual. a. Deskripsi Data Hasil Tes Kemampuan Pemahaman Konsep matematika 72

Data kemampuan pemahaman konsep matematika terdiri dari data pretest dan posttest. Pretest diberikan kepada kelompok eksperimen dan kontrol sebelum proses pembelajaran. Tujuan dari pretest adalah mengetahui kemampuan awal siswa terkait pemahaman konsep matematika pada materi yang diujikan. Posttest dilaksanakan di dua kelas setelah proses pembelajaran selesai. Tujuan diberikannya posttest adalah mengetahui kemampuan pemahaman konsep matematika setelah diberikan perlakuan. Nilai maksimum dari soal pretest dan posttest adalah 100. Hasil tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6. Data pretest, posttest dan skor gain tes pemhaman konsep matematika Kelas Konvensional Kelas Kontekstual Deskripsi Skor Skor Pretest Posttest Pretest Posttest Gain Gain Rata-rata 0,46 0,49 Nilai Maksimum Ideal 100 100-100 100 - Nilai maksimum 0,87 0,96 Nilai minimum 49 0,12 0 Standar Deviasi 0,19 0,27 Varians 0,03 0,07 Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa nilai rata-rata pretest maupun posttest dari kedua kelas tidak jauh berbeda. Standar deviasi pada kedua kelompok, juga relatif sama. Untuk mengetahui apakah secara umum rata-rata dan standar deviasi di sekolah tersebut sama atau berbeda, maka harus dilakukan uji hipotesis. Hasil pretest dan posttest dapat dilihat pada Lampiran 5.1 dan 5.2. b. Deskripsi Data Motivasi Belajar Data motivasi belajar siswa terdiri dari data skor awal dan skor akhir. Skor awal diperoleh dari hasil skor angket yang diberikan pada kelompok eksperimen 73

dan kontrol sebelum perlakuan. Angket awal bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi awal sebelum pembelajaran. Angket akhir diberikan pada kedua kelas setelah perlakuan. Angket akhir bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi siswa setelah diberi perlakuan baik kelas kontekstual maupun kelas konvensional. Nilai maksimum dari angket awal dan angket akhir adalah 150. Skor angket motivasi belajar siswa pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 7. Data skor awal dan skor akhir motivasi belajar siswa Deskripsi Kelas Konvensional Kelas Kontekstual Awal Akhir Awal Akhir Rata-rata Nilai Maksimum Ideal 150 150 150 150 Nilai maksimum Nilai minimum 74 Standar Deviasi 1 Varians Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa skor awal dan skor akhir angket dari kedua kelas tidak jauh berbeda. Standar deviasi pada kedua kelompok, juga relatif sama. Untuk mengetahui apakah secara umum rata-rata dan standar deviasi di sekolah tersebut sama atau berbeda, maka harus dilakukan uji hipotesis. Hasil skor awal dan skor akhir dapat dilihat pada Lampiran 5.3 dan 5.4. 3. Keefektifan Pendekatan Kontekstual dan Konvensional a. Hasil Uji Asumsi 1) Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data sampel berasal dari populasi data yang berdistribusi normal. Analisis normalitas dilakukan terhadap skor dua variabel pengukuran yaitu pemahaman konsep matematika dan motivasi belajar siswa. Hasil uji normalitas adalah sebagai berikut. 74

Tabel 8. Hasil uji normalitas Nilai Aspek Kelas Data signifikasi Pemahaman Konsep matematika Motivasi Belajar Hasil Konvensional Sebelum 0,197 Normal Sesudah 0,159 Normal Skor Gain 0,497 Normal Kontekstual Sebelum 0,054 Normal Sesudah 0,200 Normal Skor Gain 0,466 Normal Konvensional Sebelum 0,200 Normal Sesudah 0,085 Normal Kontekstual Sebelum 0,200 Normal Sesudah 0,200 Normal Berdasarkan Tabel 8, diketahui bahwa nilai signifikasi lebih dari 0,05, maka hasil pengukuran pemahaman konsep matematika dan motivasi belajar berdistribusi normal. Hasil analisis uji normalitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.5. 2) Uji Homogenitas Uji homogenitas data bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelas (kelas konvensional dan kelas kontekstual) berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama. Analisis homogenitas dilakukan terhadap skor dua variabel pengukuran yaitu pemahaman konsep matematika dan motivasi belajar. Hasil uji homogenitas adalah sebagai berikut. Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas Kelas Konvensional dan Kontekstual Aspek Data Nilai signifikasi Hasil Pemahaman Sebelum 0,811 Homogen konsep Sesudah 0,770 Homogen matematika Skor gain 0,100 Homogen Motivasi belajar Sebelum 0,910 Homogen Sesudah 0,965 Homogen 75

Berdasarkan Tabel 9, diketahui bahwa nilai signifikasi lebih dari 0,05, maka varians data hasil pengukuran pemahaman konsep matematika dan motivasi belajar homogen. Hasil analisis uji normalitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.8. b. Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep Matematika dan Motivasi Belajar Siswa SMP Setelah dilakukan pengujian prasyarat analisis, selanjutnya dilakukan pengujuan hipotesis. Hasil pretest siswa kedua kelas menunjukan bahwa sampel berdistribusi normal dan homogen, maka uji hipotesis dilakukan dengan statistik parametrik. Sebelum menguji hipotesis, kita harus melakukan uji beda rata-rata pada kedua kelas terhadap data sebelum perlakuan. Pengujian dilakukan mengunakan independent sample t-test. Tes ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel terikat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemahaman konsep matematika siswa dalam bentuk pretest dan motivasi belajar siswa dalam bentuk skor awal motivasi belajar. Hasil uji beda rata-rata sebelum perlakuan adalah sebagai berikut. Tabel 10. Hasil Uji Beda Rata-rata Sebelum Perlakuan Kelompok Variabel Rata-rata Sig Hasil Pemahaman konsep Konvensional Tidak ada 0,154 matematika Kontekstual perbedaan Motivasi belajar Konvensional Tidak ada 0,233 Kontekstual perbedaan Berdasarkan hasil perhitungan SPSS diperoleh signifikasi sebesar 0,154 (lebih dari 0,05) untuk variabel pemahaman konsep matematika. Ini menunjukan bahwa H 0 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata antara kelas konvensional dan kelas kontekstual terhadap 76

pemahaman konsep matematika, artinya kemampuan awal kedua kelompok pada aspek prestasi belajar matematika relatif sama. Oleh karena itu, untuk menguji hipotesis (1) keefektifan pendekatan kontekstual terhadap pemhaman konsep matematika dan hipotesis (3) keefektifan pembelajaran konvensional terhadap pemahaman konsep matematika digunakan data posttest di kedua kelas untuk diuji keefektifannya. Selain itu dari Tabel 10 kita bisa melihat bahwa signifikasi aspek motivasi belajar sebesar 0,233 (lebih dari 0,05). Ini menunjukan bahwa H 0 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata antara kelas konvensional dan kelas kontekstual terhadap motivasi belajar, artinya kemampuan awal kedua kelompok pada aspek motivasi belajar sama. Oleh karena itu, untuk menguji hipotesis (2) keefektifan pendekatan kontekstual terhadap motivasi belajar siswa dan (4) keefektifan pendekatan konvensional terhadap motivasi belajar siswa digunakan data skor akhir motivasi belajar di kedua kelas untuk diuji keefektifannya. 1) Pengujian Hipotesis Pertama Penguian hipotesis pertama menggunakan uji beda satu sampel (one sample t-test) yang bertujuan untuk mengetahui efektif tidaknya pendekatan kontekstual terhadap pemahaman konsep matematika. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut. H 0 : H 1 : Hasil analisis dengan one sample t-test untuk pemahaman konsep matematika disajikan pada tabel 11 sebagai berikut. 77

Tabel 11. Hasil Uji one sample t-test Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep matematika Kelas Variabel T Df Sig Pemahaman konsep -2,555 27 0,017 Kontekstual matematika Tabel 11 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji one sample t-test yang diperoleh untuk kelas kontekstual untuk variabel pemahaman konsep matematika sebesar 0,017 (signifikasi 2 arah). Untuk pengujian hipotesis pertama menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signikasi menjadi 0,008 < 0,05. Jika kriteria pengujian didasarkan pada hasil nilai sig maka H0 ditolak yang berarti efektif, namun jika dilihat dari nilai t hitung yaitu -2,555 nilai t berada pada daerah kiri yang berarti. Ini berarti bahwa pendekatan kontekstual tidak efektif terhadap pemahaman konsep matematika. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 1 dengan nilai KKM yang tidak efektif, dilakukan pengujian hipotesis 1 menggunakan skor gain ternormalisasi. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut. H 0 : H 1 : Hasil analisis dengan one sample t-test untuk pemahaman konsep matematika disajikan pada tabel 12 sebagai berikut. Tabel 12. Hasil Uji one sample t-test Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep Matematika dengan Data Skor Gain Kelas Variabel T Df Sig Pemahaman konsep 8,940 27 0,000 Kontekstual matematika 78

Tabel 12 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji one sample t-test yang diperoleh untuk kelas kontekstual untuk variabel pemahaman konsep matematika sebesar 0,000(signifikasi 2 arah). Untuk pengujian hipotesis pertama menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signikasi menjadi 0,000 < 0,05. Ini berarti bahwa pendekatan kontekstual efektif terhadap pemahaman konsep matematika. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. 2) Pengujian Hipotesis Kedua Pengujian hipotesis kedua menggunakan uji beda satu sampel (one sample t-test) yang bertujuan untuk mengetahui efektif tidaknya pendekatan kontekstual terhadap motivasi belajar siswa. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut H 0 : H 1 : Hasil analisis dengan one sample t-test untuk motivasi belajar siswa disajikan pada Tabel 13 Tabel 13. Hasil Uji one sample t-test Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas Variabel T Df Sig Kontekstual Motivasi Belajar 2,356 27 0,026 Tabel 12 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji one sampel t-test yang diperoleh untuk kelas kontekstual untuk variabel motivasi belajar siswa sebesar 0,0026 (siginifikansi 2 arah). Untuk penjgujian hipoteis kedua menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signifikansi menjadi 0,013 < 0,05. Ini berarti bahwa pendekatan kontekstual efektif terhadap motivasi belajar siswa. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. 79

c. Keefektifan Pendekatan Konvensional terhadap Pemahaman Konsep Matematika dan Motivasi Belajar Siswa SMP 1) Pengujian Hipotesis Ketiga Pengujian hipotesis ketiga menggunakan uji beda satu sampel (one sample t-test) yang bertujuan untuk mengetahui efektif tidaknya pembelajaran konvensional pemahaman konsep matematika. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut: H 0 : H 1 : Hasil analisis dengan one sample t-test untuk pemahaman konsep matematika disajikan pada tabel 14. Tabel 14. Hasil Uji one sample t-test Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep matematika Kelas Variabel T Df Sig Konvensional Konsep -3,936 27 0,001 Tabel 14 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji one sample t-test yang diperoleh untuk kelas kontekstual untuk variabel pemahaman konsep matematika sebesar 0,001 (signifikasi 2 arah). Untuk pengujian hipotesis pertama menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signikasi menjadi 0,0005 < 0,05. Jika kriteria pengujian didasarkan pada hasil nilai sig maka H 0 ditolak yang berarti efektif, namun jika dilihat dari nilai t hitung yaitu -3,936 nilai t berada pada daerah kiri yang berarti. Ini berarti bahwa pendekatan kontekstual tidak efektif terhadap pemahaman konsep matematika. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. 80

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 3 dengan nilai KKM yang tidak efektif, dilakukan pengujian hipotesis 3 menggunakan skor gain ternormalisasi. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut. H 0 : H 1 : Hasil analisis dengan one sample t-test untuk pemahaman konsep matematika disajikan pada tabel 15 sebagai berikut. Tabel 15. Hasil Uji one sample t-test Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep matematika Kelas Variabel T Df Sig Pemahaman konsep 11,611 27 0,000 Kontekstual matematika Tabel 15 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji one sample t-test yang diperoleh untuk kelas kontekstual untuk variabel pemahaman konsep matematika sebesar 0,000 (signifikasi 2 arah). Untuk pengujian hipotesis pertama menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signikasi menjadi 0,000 < 0,05. Ini berarti bahwa pendekatan kontekstual efektif terhadap pemahaman konsep matematika. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. 2) Pengujian Hipotesis Keempat Pengujian hipotesis keempat menggunakan uji beda satu sampel (one sample t-test) yang bertujuan untuk mengetahui efektif tidaknya pembelajaran dengann pendekatan konvensional terhadap motivasi belajar siswa. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut H 0 : H 1 : 81

Hasil analisis dengan one sample t-test untuk motivasi belajar disajikan pada tabel 16. Tabel 16. Hasil Uji one sample t-test Keefektifan Pembelajaran Konvensional Ditinjau dari Motivasi Belajar Kelas Variabel T Df Sig Konvensional Motivasi 1,884 27 0,070 Tabel 16 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji one sampel t-test yang diperoleh untuk kelas konvensional untuk variabel motivasi belajar siswa sebesar 0,070 (siginifikansi 2 arah). Untuk penjgujian hipoteis kedua menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signifikansi menjadi 0,035 < 0,05. Nilai signifikasi ini lebih dari 0,05. Ini berarti bahwa pembelajaran konvensional efektif ditinjau dari motivasi belajar. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. 4. Perbandingan Keefektifan Pendekatan Kontekstual dan Konvensional ditinjau dari Pemahaman Konsep Matematika dan Motivasi Belajar Siswa SMP 1) Pengujian Hipotesis Kelima Pengujian hipotesis kelima menggunakan independent sample t-test yang bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif antara pembelajaran kontekstual dan konvensional ditinjau dari pemahaman konsep. Secara statistik, hipotesis dapat disimbolkan sebagai berikut. H 0 : H 1 : Hasil analisis dengan independent sample t-test untuk motivasi belajar disajikan pada tabel 17. 82

Tabel 17. Hasil Uji independent sample t-test Perbandingan Keefektifan Pembelajaran Kontekstual dan Konvensional Ditinjau dari Pemahaman Konsep Matematika Variabel T Df Sig Pemahaman konsep 0,485 54 0,630 Tabel 17 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji independent sample t-test yang diperoleh untuk mengetauhi perbedaan keefektifan antara kedua pendekatan ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa sebesar 0,630 (siginifikansi 2 arah). Untuk penjgujian hipoteis kelima menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signifikansi menjadi 0,315 > 0,05. Nilai signifikasi ini lebih dari 0,05. Karena H 0 diterima maka pendekatan kontekstual tidak lebih efektif daripada pendekatan konvensional jika ditinjau dari pemahaman konsep matematika Ini berarti bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan konvensional sama efektifnya ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. 2) Pengujian Hipotesis Keenam Pengujian hipotesis kelima menggunakan independent sample t-test yang bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif antara pembelajaran kontekstual dan konvensional ditinjau dari pemahaman konsep. Secara statistik, hipotesis dapat disimbolkan sebagai berikut. H 0 : H 1 : Hasil analisis dengan independet sample t-test untuk motivasi belajar disajikan pada tabel 16. Tabel 18. Hasil Uji independent sample t-test Perbandingan Keefektifan Pembelajaran Kontekstual dan Konvensional Ditinjau dari Motivasi Belajar 83

Variabel T Df Sig Motivasi 0,544 54 0,589 Tabel 16 menunjukkan bahwa signifikasi hasil uji independent sample t-test yang diperoleh untuk mengetauhi perbedaan keefektifan antara kedua pendekatan ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa sebesar 0,589 (siginifikansi 2 arah). Untuk penjgujian hipoteis kelima menggunakan uji t satu arah sehingga nilai signifikansi menjadi 0,294 < 0,05. Nilai signifikasi ini lebih dari 0,05. Karena H 0 diterima maka pendekatan kontekstual tidak lebih efektif daripada pendekatan konvensional jika ditinjau dari motivasi belajar siswa. Ini berarti bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan konvensional sama efektifnya ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5.10. B. Pembahasan Berdasarkan analisis data di atas, akan diuraikan pembahasan hasil penelitian sebagai berikut: 1. Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep Matematika Pembelajaran yang dilaksanakan dalam penelitian ini menerapkan pendekatan kontekstual pada kelas eksperimen yaitu kelas VII A. Pengujian keefektifan pembelajaran terhadap pemahaman konsep matematika didasarkan pada skor gain yang diperoleh dari hasil pretest dan posttest. Pembelajaran dikatakan efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika apabila skor gain lebih dari 0,4 yaitu terletak pada kategori minimal baik. 84

Berdasarkan pengujian deskriptif pada tabel 6 diketahui rata-rata skor gain tes pemahaman konsep matematika kelas eksperimen adalah 0,49. Skor gain ini efektif sesuai dengan kriteria efektif yang digunakan yaitu lebih besar dari 0,4. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika. Hasil ini diperkuat oleh pengujian analisis terhadap skor gain yang telah dilakukan dengan bantuan SPSS versi 23. Pengujian dengan SPSS menggunakan uji one sample t-test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 sehingga H 0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa. Peningkatan pemahaman konsep matematika siswa pada kelas eksperimen menunjukkan adanya pengaruh yang baik dari pembelajaran yang dilakukan. Adanya tahap relating atau pengaitan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa juga memilki pernanan penting dalam pembentukan konsep bagi siswa. Menurut Chapman 1976; 173 dalam pembentukan konsep, siswa sangat dipengaruhi oleh pengalaman sehari-hari. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya sehingga siswa dapat menerapkan konsep yang mereka temukan dalam konteks yang ada dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan pengertian pendekatan kontekstual oleh Wina Sanjaya (2005: 109), pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi 85

kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Hasil penelitian bahwa pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika relevan dengan penelitian yang telah dilakukan Dian Putri Safrine (2012) yang menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika. 2. Keefektifan Pendekatan Kontekstual terhadap Motivasi Belajar Pada penelitian ini, penerapan pendekatan kontekstual di kelas eksperimen juga ditinjau dari motivasi belajar siswa. Pengujian keefektifan pembelajaran terhadap motivasi belajar didasarkan pada skor akhir angket motivasi belajar siswa. Pembelajaran dikatakan efektif ditinjau dari motivasi belajar apabila rata-rata skor akhir angket lebih dari 102 yaitu terletak pada kategori minimal baik. Berdasarkan pengujian deskriptif pada tabel 7 diketahui rata-rata skor akhhir angket motivasi belajar siswa kelas eksperimen adalah 107. Skor ini efektif sesuai dengan kriteria efektif yang digunakan yaitu lebih besar dari 102. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa. Hasil ini diperkuat oleh pengujian analisis terhadap skor akhir angket yang telah dilakukan dengan bantuan SPSS. Pengujian dengan SPSS menggunakan uji one sample t-test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,013 sehingga H 0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa. 86

Motivasi belajar berperan penting dalam memperjelas tujuan belajar. Menurut Hamzah B. Uno 2008;28 peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Hal ini sesuai dengan salah satu karakteristik pembelajaran kontekstual yang diungkapkan Zainal Aqib (2013: 6) dalam penyusunan langkah pembelajaran kontekstual yang pertama yaitu mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Proses relating mengaitkan dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual juga berperan terhadap motivasi belajar siswa. Telah dijelaskan oleh Hamzah B. Uno (2008: 28) bahwa seorang siswa akan tertarik atau termotivasi untuk belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. Berdasarkan hal itu, tahap relating dapat membuat siswa memahami konteks yang sesuai dengan materi yang akan dipelajarinya. Pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa relevan dengan penelitian yang telah dilakukan Fitriyani (2009) yang menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Keefektifan Pendekatan Konvensional terhadap Pemahaman Konsep Matematika Pada penelitian ini selain menerapkan pendekatan kontekstual pada kelas eksperimen, peneliti juga menerapkan pembelajaran konvensional pada kelas VII C. Sama halnya dengan pembelajaran kelas eksperimen, pada kelas kontrol dilakukan pembelajaran sebanyak 5 kali pertemuan. Untuk variabel 87

terikat kelas kontrol sama dengan kelas eksperimen yaitu pemahaman konsep dan motivasi belajar siswa. Pengujian keefektifan pembelajaran terhadap pemahaman konsep matematika didasarkan pada skor gain yang diperoleh dari hasil pretest dan posttest. Pembelajaran dikatakan efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika apabila skor gain lebih dari 0,4 yaitu terletak pada kategori minimal baik. Berdasarkan pengujian deskriptif pada tabel 5 diketahui rata-rata skor gain tes pemahaman konsep matematika kelas eksperimen adalah 0,46. Secara deskriptif, skor gain ini efektif sesuai dengan kriteria efektif yang digunakan yaitu melebihi 0,4. Kita dapat mengambil kesimpulan secara deskriptif bahwa pendekatan konsvensional efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika. Hasil ini diperkuat oleh pengujian analisis terhadap skor akhir yang telah dilakukan dengan bantuan SPSS. Pengujian dengan SPSS menggunakan uji one sample t-test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 sehingga H 0 ditolak. Hasil pengujian analisis menunjukkan bahwa pendekatan konvensional efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa. Pendekatan konvensional dimulai dari guru menguraikan materi untuk dicatat oleh siswa, bertanya, guru menjawab, dan diakhiri dengan latihan sebagai umpan balik (Herminarto, 2002:65). Berdasarkan karakteristik pendekatan konvensional yang disebutkan pembelajaran konvensional akan membuat siswa yang memiliki motivasi dalam belajar memahami materi dengan baik. Setelah siswa dijelaskan oleh guru, dia akan mencatatnya. Catatan yang siswa miliki dapat digunakan untuk belajar dirumah. Selain itu 88

dalam pembelajaran dengan pendekatan konvensional, guru juga menjelaskan menggunakan contoh soal untuk lebih memahamkan siswa. Penggunaan contoh soal ini efektif jika diterapkan dalam bentuk soal yang cenderung sama. Pendekatan konvensional efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika relevan dengan penelitian yang telah dilakukan Dian Puteri Safrine (2012) yang menunjukkan bahwa pendekatan konvensional efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika. 4. Keefektifan Pendekatan Konvensional terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada penelitian ini, penerapan pendekatan konvensional di kelas kontrol juga ditinjau dari motivasi belajar siswa. Pengujian keefektifan pembelajaran terhadap motivasi belajar didasarkan pada skor akhir angket motivasi belajar siswa. Pembelajaran dikatakan efektif ditinjau dari motivasi belajar apabila rata-rata skor akhir angket lebih dari 102 yaitu terletak pada kategori minimal baik. Berdasarkan pengujian deskriptif pada tabel 7 diketahui rata-rata skor akhir angket motivasi belajar siswa kelas eksperimen adalah 105. Skor ini efektif sesuai dengan kriteria efektif yang digunakan yaitu lebih besar dari 102. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan konvensional efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa. Hasil ini diperkuat oleh pengujian analisis terhadap skor akhir angket yang telah dilakukan dengan bantuan SPSS. Pengujian dengan SPSS menggunakan uji one sample t-test menghasilkan 89

nilai signifikansi sebesar 0,070 sehingga H 0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan konvensional efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa. Pendekatan konvensional efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa relevan dengan penelitian yang telah dilakukan Fitriyani (2009) yang menunjukkan bahwa pendekatan konvensional efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. 5. Perbandingan Keefektifan Pendekatan Kontekstual dan Pendekatan Konvensional Ditinjau dari Pemahaman Konsep Matematika Setelah dilakukan pengujian hipotesis (1) pendekatan kontekstual efektif terhadap pemahaman konsep siswa dan (3) pendekatan konvensional efektif terhadap pemhaman konsep siswa, diketahui bahwa keduanya efektif. Setelah pengujian hipotesis keefektifan dilakukan, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis kelima yaitu manakah yang lebih efektif antara pendekatan kontekstual dan pembelajaran konvensional terhadap pemahaman konsep matematika. Hasil pengujian independent sample t-test menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,315 > 0,05, sehingga H 0 diterima. Karena H 0 diterima maka pendekatan kontekstual tidak lebih efektif daripada pendekatan konvensional jika ditinjau dari pemahaman konsep matematika. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelas kontekstual dan kelas konvensional ditinjau dari pemahaman konsep matematika. Namun, jika kita melihat dari tabel 5 diketahui bahwa rata-rata skor gain pemahaman konsep matematika kelas eksperimen adalah 0,49 dan kelas kontrol 0,46 kondisi ini membawa kepada kesimpulan bahwa pendekatan 90

kontekstual lebih efektif secara tidak signifikan terhadap pemahaman konsep matematika daripada konvensional. Hasil penelitian terhadap pemahaman konsep matematika yang belum signifikan ini diduga karena kurang optimalnya pelaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen. Penerapan pendekatan kontekstual pada kelas eksperimen masih kurang optimal. Hal ini disebabkan oleh kurangnya manajemen waktu pembelajaran yang kurang baik. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual membutuhkan waktu yang cenderung lebih lama daripada pendekatan konvensional. Namun, yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah kesamaan waktu yang digunakan untuk setiap kelasnya. Selain itu peneliti juga belum bisa menerapkan pedekatan kontekstual secara optimal untuk megajak siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Diterapkannya pendekatan kontekstual di kelas eksperimen membuat siswa harus beradaptasi dengan pembelajaran yang baru. Siswa pada kelas ekperimen diduga belum siap dengan adanya perubahan cara belajar selama menggunakan pendekatan kontekstual. Berdsarkan pengamatan observer selama pelaksanaan pembelajaran, siswa pada kelas kontrol dinilai lebih aktif selama mengikuti pembelajaran. Selain itu adanya waktu istirahat diantara jam pelajaran matematika sering dimanfaatkan siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. Sedangkan pada kelas eksperimen pembelajaran terfokus pada kelompok masing-masing. Terdapat beberapa kelompok yang aktif dan ada juga beberapa kelompok yang pasif. Keaktifan siswa pada setiap kelas juga 91

merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan pendekatan pembelajaran terhadap pemahaman konsep matematika. 6. Perbandingan Keefektifan Pendekatan Kontekstual dan Pendekatan Konvensional Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Hasil analis keefektifan pendekatan kontekstual dan konvensional terhadap motivasi belajar menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut efektif terhadap motivasi belajar siswa. Setelah pengujian hipotesis keefektifan dilakukan, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis keenam yaitu manakah yang lebih efektif antara pendekatan kontekstual dan pembelajaran konvensional terhadap motivasi belajar siswa. Sebelum menguji perbandingan keefektifannya, terlebih dulu dilakukan uji perbedaan rata-rata skor akhir motivasi belajar menggunakan independet sample t-test. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,294 > 0,05, sehingga H 0 diterima. Karena H 0 diterima maka pendekatan kontekstual tidak lebih efektif daripada pendekatan konvensional jika ditinjau dari motivasi belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelas kontekstual dan kelas konvensional ditinjau dari motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil tersebut, maka kita tidak dapat melanjutkan pengujian hipotesis mengenai perbandingan keefektifan dari kedua kelas. Namun, jika kita melihat dari tabel 5 diketahui bahwa rata-rata skor akhir motivasi belajar kelas eksperimen adalah 107,25 dan kelas kontrol 105,64 kondisi ini membawa kepada kesimpulan bahwa pendekatan kontekstual lebih efektif terhadap motivasi belajar daripada konvensional. 92