BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Prosedur Penelitian Persiapan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil percobaan menujukkan bahwa pemberian sludge limbah tapioka dan pupuk

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE

RESPON PERTUMBUHAN BIBIT SENGON BUTO PADA MEDIA TAILING PT ANTAM PONGKOR DENGAN PENAMBAHAN ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN BOKASHI PUPUK KANDANG

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Beberapa Sifat Kimia Tanah antara lain :

HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN PEMBERIAN KOMPOS BATANG PISANG DAN PUPUK NPK PADA PEMBIBITAN TANAMAN JATI

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman Jati. daun, luas daun, berat segar bibit, dan berat kering bibit dan disajikan pada tabel

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tajuk. bertambahnya tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk, berat kering tajuk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, April 2010, hlm ISSN

SIFAT KIMIA TANAH LANJUTAN SIFAT KIMIA TANAH

Pemanfaatan Arang Sekam untuk Memperbaiki Pertumbuhan Semai Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq) pada Media Subsoil

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. tanaman dan kelangsungan hidup mahluk hidup. Karakteristik unsur-unsur dalam

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN:

I. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN SEMAI JABON (Anthocephalus cadamba) PADA MEDIA BEKAS TAMBANG PASIR DENGAN PENAMBAHAN SUB SOIL DAN ARANG TEMPURUNG KELAPA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. tanpa mengurangi tingkat kesuburan tanah atau kelestariannya. Dalam usaha

II. TINJAUAN PUSTAKA. menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor

PENGUJIAN PUPUK TULANG AYAM SEBAGAI BAHAN AMELIORASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SORGHUM DAN SIFAT- SIFAT KIMIA TANAH PODZOLIK MERAH KUNING PEKANBARU

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung manis merupakan tanaman yang sangat responsif terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. dan bersifat irreversible (Anderson dan Beardall, 1991). Tanaman semasa

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah.

Pengaruh Vermikompos terhadap Perubahan Kemasaman (ph) dan P-tersedia Tanah ABSTRAK

Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi Etnik Toraja di Pulau Tarakan

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:

Transkripsi:

15 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi, diameter, berat kering total (BKT) dan nisbah pucuk akar (NPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian arang tempurung kelapa dan pemberian bokashi pupuk kandang berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% terhadap parameter tinggi, diameter, BKT dan NPA, sedangkan interaksi antara tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang hanya berpengaruh nyata untuk parameter tinggi namun tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga parameter yang lain. Hasil sidik ragam pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Rekapitulasi hasil sidik ragam berbagai perlakuan terhadap parameter pertumbuhan bibit E. cyclocarpum Parameter yang diamati Perlakuan Arang Bokashi Arang x Bokashi Tinggi * * * Diameter * * tn Berat Kering Total * * tn Nisbah Pucuk akar * * tn * = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95 %; tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata pada taraf uji 95% 4.1.1 Pertumbuhan Tinggi Hasil sidik ragam (Lampiran 1) menunjukkan bahwa pemberian arang tempurung kelapa, bokashi pupuk kandang dan interkasi antara arang tempurung kelapa dengan bokashi pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi bibit E. cyclocarpum pada selang kepercayaan 95%. Respon pertumbuhan tinggi bibit E. cyclocarpum akibat interaksi antara pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang dilakukan uji Duncan pengaruh kombinasi pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang dapat dilihat pada Tabel 7. Hasil uji Duncan pengaruh pemberian interaksi arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap pertumbuhan tinggi bibit sengon buto menunjukkan bahwa perlakuan pemberian arang tempurung kelapa dengan dosis

16 10% arang (A4) + 60 g bokashi (B3) memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap semua perlakuan, dengan rata-rata tinggi sebesar 20,60 cm atau tinggi bibit sengon buto meningkat 136,78% dibandingkan dengan kontrol. Tabel 7 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh kombinasi pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap tinggi bibit E. cyclocarpum Perlakuan Rata-rata tinggi (cm) Peningkatan (%) A0B0 8,70 hi - A0B1 8,70 hi 0,00 A0B2 9,17 gh 5,40 A0B3 11,23 efgh 29,08 A1B0 6,77 i -22,18 A1B1 13,83 def 58,97 A1B2 10,80 efgh 24,14 A1B3 10,67 efgh 22,64 A2B0 11,27 efgh 29,54 A2B1 9,63 gh 10,69 A2B2 10,47 fgh 20,34 A2B3 14,07 cde 61,72 A3B0 11,43 efgh 31,38 A3B1 12,53 defg 44,02 A3B2 15,57 bcd 78,97 A3B3 18,10 bc 108,05 A4B0 15,73 bcd 80,80 A4B1 11,57 efgh 32,99 A4B2 19,57 ab 124,94 A4B3 20,60 a 136,78 Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan pada selang kepercayaan 95% 4.1.2 Pertumbuhan Diameter Hasil sidik ragam (Lampiran 2) menunjukkan pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap diameter E. cyclocarpum pada selang kepercayaan 95%. Perlakuan pemberian arang tempurung kelapa, bokashi pupuk kandang memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter bibit, namun interaksi antara arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter bibit E. cyclocarpum. Hasil uji Duncan pengaruh tunggal pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap diameter bibit sengon buto (Tabel 8) menunjukkan bahwa perlakuan pemberian arang tempurung kelapa dengan dosis

17 10% (A4) dan 7,5% (A3) tidak berbeda nyata, namun memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kontrol, dengan rata-rata diameter terbesar, yaitu 0,179 cm atau mengalami peningkatan 20,79% dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan pemberian bokashi pupuk kandang dengan dosis 60 g (B3) dan 40 g (B2) tidak berbeda nyata, namun memberikan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol, dengan rata-rata diameter terbesar, yaitu 0,174 cm atau mengalami peningkatan sebesar 13,48% dibandingkan dengan kontrol. Tabel 8 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh tunggal pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap diameter bibit E. cyclocarpum Perlakuan Rata-rata diameter (cm) Peningkatan (%) Arang tempurung kelapa - A0 (0%) 0,148 b - - A1 (2,5%) 0,153 b 3,37 - A2 (5%) 0,164 ab 10,67 - A3 (7,5%) 0,177 a 19,10 - A4 (10%) 0,179 a 20,79 Bokashi pupuk kandang - B0 (0g) 0,153 b - - B1 (20g) 0,159 ab 3,91 - B2 (40g) 0,171 a 11,30 - B3 (60g) 0,174 a 13,48 Nilai yang diikuti huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata berdasar uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95% 4.1.3 Berat Kering Total (BKT) Hasil sidik ragam (Lampiran 3) menunjukkan pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap berat kering total (BKT) bibit E. cyclocarpum pada selang kepercayaan 95%. Perlakuan pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering total bibit E. cyclocarpum, sedangkan interaksi antara arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering total bibit E. cyclocarpum. Hasil uji Duncan terhadap perlakuan pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap beratkering total bibit E. cyclocarpum (Tabel 9) menunjukkan bahwa perlakuan pemberian arang tempurung kelapa

18 dengan dosis 10% (A4) memberikan pengaruh yang nyata terhadap perlakuan yang lain, dengan rata-rata berat kering total terbesar, yaitu 13,344 g atau mengalami peningkatan 32,91% dibandingkan dengan kontrol. Pemberian bokashi pupuk kandang dengan dosis 60 g (B3) dan dosis 40 g (B2) memberikan pengaruh yang nyata terhadap perlakuan yang lain, dengan rata-rata berat kering total terbesar, yaitu 13,032 g atau mengalami peningkatan sebesar 27,83% dibandingkan dengan kontrol. Tabel 9 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh tunggal pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap berat kering total bibit E. cyclocarpum Perlakuan Rata-rata BK toral (g) Peningkatan (%) Arang tempurung kelapa - A0 (0%) 10,112 c - - A1 (2,5%) 11,180 bc 10,56 - A2 (5%) 11,767 abc 16,40 - A3 (7,5%) 12,204 ab 20,75 - A4 (10%) 13,444 a 32,91 Bokashi pupuk kandang - B0 (0g) 10,195 b - - B1 (20g) 11,637 ab 14,14 - B2 (40g) 12,101 a 18,70 - B3 (60g) 13,032 a 27,83 Nilai yang diikuti huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata berdasar uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95% 4.1.4 Nisbah Pucuk Akar (NPA) Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 4) menunjukkan pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap NPA bibit E. cyclocarpum pada selang kepercayaan 95%. Perlakuan pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang memberikan pengaruh yang nyata terhadap NPA bibit E. cyclocarpum, sedangkan interaksi antara arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang tidak berpengaruh yang nyata terhadap NPA bibit E. cyclocarpum. Hasil uji Duncan terhadap perlakuan pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang (Tabel 10) menunjukkan bahwa nilai nisbah pucuk

19 akar pemberian arang 10% (A4) menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap perlakuan lain, dengan nilai rata-rata nilai NPA adalah 1,76 atau menurun 14,89% dibandingkan dengan kontrol dan nilai rata-rata NPA terbesar adalah kontrol yakni 2,07. Nilai rata-rata NPA pemberian bokashi 60 g juga berbeda nyata terhadap perlakuan yang lain, dengan nilai rata-rata nilai NPA adalah 1,73 atau menurun 15,82% dibandingkan dengan kontrol dan nilai rata-rata NPA terbesar adalah kontrol yakni 2,06. Tabel 10 Hasil uji Duncan pengaruh tunggal pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap nilai nisbah pucuk akar bibit E. cyclocarpum Perlakuan Rata-rata NPA Peningkatan (%) Arang tempurung kelapa - A0 (0%) 2,07 a - - A1 (2,5%) 1,93 ab -6,77 - A2 (5%) 1,86 ab -10,06 - A3 (7,5%) 1,84 b -11,03 - A4 (10%) 1,76 b -14,89 Bokashi pupuk kandang - B0 (0g) 2,06 a - - B1 (20g) 1,90 ab -7,59 - B2 (40g) 1,88 ab -8,32 - B3 (60g) 1,73 b -15,82 Nilai yang diikuti huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata berdasar uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95%

20 Gambar 1 Hasil akhir pertumbuhan bibit E.cyclocarpum pada media A) kontrol; B) ditambah arang; C) ditambah bokashi; D) ditambah kombinasi arang dan bokashi 4.2 Pembahasan Pertumbuhan adalah proses dalam kehidupan tanaman yang mengakibatkan perubahan ukuran tanaman semakin besar dan juga yang menentukan hasil tanaman (Sitompul dan Guritno 1995). Pertambahan ukuran tubuh tanaman secara keseluruhan merupakan hasil dari pertambahan ukuran bagian-bagian (organorgan) tanaman akibat dari pertambahan jaringan sel yang dihasilkan oleh pertambahan ukuran sel. Semua aktivitas metabolisme bermuara kepada pertumbuhan, air memegang peranan utama dalam pertumbuhan (lebih dari 80% komponen tumbuhan adalah air). Hal ini menunjukkan bahwa yang disebut pertumbuhan adalah pada dasarnya peningkatan kandungan air dalam sel (Fahmi 2010). Selain faktor genetis, pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan seperti media tumbuh dan ketersediaan unsur hara. unsur hara sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman (Supriyanto dan Fiona 2010). Menurut Dwijdoseputro (1984) suatu tanaman akan tumbuh subur apabila

21 segala unsur yang dibutuhkannya tersedia dan terdapat dalam bentuk yang sesuai untuk diserap tanaman. Menurut Gusmailina dan Pari (2002), pemanfaatan arang selain sebagai soil conditioning (pembangun kesuburan tanah), juga dapat mengatasi masalah lahan terutama lahan yang miskin hara. Selain itu, Komaryati et al. (2003) menambahkan jika penambahan arang pada media tumbuh akan menguntungkan karena dapat memperbaiki sifat tanah di antaranya adalah mengefektifkan pemupukan karena selain memperbaiki sifat fisik tanah (porositas, aerasi), arang juga berfungsi sebagai pengikat hara (ketika kelebihan hara) yang dapat digunakan tanaman ketika kekurangan hara, arang melepas hara secara perlahan sesuai kebutuhan tanaman (slow release). Dengan demikian tanaman terhindar dari keracunan dan kekurangan hara. Kandungan unsur hara pada setiap tanah berbeda seperti halnya pada tailing yang miskin unsur hara, maka diperlukan penambahan unsur hara (pemupukan) pada tanah tersebut untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Pengukuran tinggi tanaman merupakan pengukuran yang sering diamati sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang mudah dilihat (Sitompul dan Guritno 1995). Berdasarkan hasil penelitian, pemberian arang tempurung kelapa, bokashi pupuk kandung dan interaksi dari keduanya memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi bibit sengon buto pada taraf uji 95% (Tabel 6). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian arang dan bokashi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi. Dari hasil uji Duncan interaksi arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang (Tabel 7) menunjukkan pertumbuhan tinggi yang berbeda-beda pada setiap perlakuan. Namun, penambahan arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang dapat meningkatkan bibit E. cyclocarpum dan menghasilkan pengaruh yang nyata terhadap kontrol, terutama pada perlakuan A4B3 (pemberian kombinasi antara arang dengan dosis 10% dan bokashi dengan dosis 60 g). Perlakuan A4B3 memberikan pertumbuhan tinggi yang signifikan pada media tailing. Rendahnya ketersediaan unsur hara esensial pada media tailing dapat dianggap sebagai

22 penyebab utama terjadinya pertumbuhan bibit E. cyclocarpum yang berbeda-beda pada tiap perlakuan. Pertumbuhan diameter adalah salah satu faktor pertumbuhan yang sulit diukur. Pada saat usia muda, tanaman cenderung melakukan pertumbuhan yang cepat ke arah vertikal (Lewenusa 2009). Pertumbuhan diameter atau pertumbuhan ke arah samping disebut juga pertumbuhan sekunder. Dari hasil penelitian menunjukkan pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang dapat meningkatkan pertumbuhan diameter bibit E. cyclocarpum (Tabel 8). Sejalan dengan penambahan arang dan bokashi mengakibatkan pertumbuhan diameter bibit E. cyclocarpum meningkat dan berbeda nyata terhadap kontrol. Dapat dikatakan bahwa pemberian arang tempurung kelapa dengan dosis 1 an bo as i pupu an an en an osis 6 g (B3) mampu menyerap hara yang lebih baik, yang ditunjukkan oleh hasil uji Duncan yang tidak berbeda nyata. Berat kering total (BKT) diperoleh dari penambahan berat kering akar dan berat kering pucuk. Berat kering tanaman merupakan salah satu indikasi untuk mengetahui respon tanaman dalam memanfaatkan unsur hara yang tersedia dalam suatu media tumbuh pada kondisi tertentu (Gusmailina dan Pari 2002). Biomasaa kering secara langsung mencerminkan efisisensi interaksi proses fisiologis dengan lingkungannya, selain itu bahan kering tanaman dinilai debagai manifestasi dari semua proses dan peristiwa yang terjadi dalam pertumbuhan tanaman (Sitompul dan Guritno 1995). Menurut Irawan (2005), bahwa berat kering total semai merupakan indikator yang menunjukkan kemampuan semai untuk melakukan proses fisiologis dalam tanaman yang ditunjang oleh faktor lingkungan yang memadai, salah satu faktornya adalah tanaman melakukan serapan hara. BKT bibit berhubungan erat dengan pertumbuhan tinggi dan diameter. Bila tinggi dan diameter tanaman pesat, maka pertumbuhan biomassa tanaman besar maka BKT akan makin tinggi. Parameter BKT bibit dapat menunjukkan akumulasi kandungan unsur hara pada tanaman (Herianto dan Siregar 2004). Dari hasil pertumbuhan tinggi dan diameter bibit E. cyclocarpum menunjukkan bahwa pemberian arang dan bokashi memberikan hasil pertumbuhan tanaman juga makin tinggi.

23 Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan (Tabel 9) menunjukkan bahwa pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang dapat meningkatkan BKT bibit E. cyclocarpum. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan BKT tanaman sejalan dengan penambahan dosis dari arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang yang semakin besar. Pemberian arang tempurung kelapa dengan dosis 10% (A4) dan bokashi pupuk kandang dengan dosis 60 g (B3) menghasilkan nilai BKT tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa media tailing dengan penambahan arang 10% dan bokashi 60 g mampu menyerap hara yang lebih baik dan memiliki pertumbuhan fisiologis tertinggi. Nisbah Pucuk Akar (NPA) diperoleh berdasarkan perbandingan antara berat kering bagian pucuk tanaman dibagi dengan berat kering akar tanaman. Nilai ini memiliki peranan penting karena dengan perbandingan nilai antara pucuk dan akar yang seimbang, maka tanaman akan tumbuh baik apabila ditanam di lapangan. Berdasarkan hasil sidik ragam (Tabel 5) perlakuan pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang yang memberikan hasil yang berpengaruh nyata terhadap nilai NPA bibit E. cyclocarpum. Hasil uji lanjut Duncan (Tabel 10) menunjukkan nilai rata-rata NPA dengan perlakuan tanpa pemberian arang atau kontrol (A0) dan bokashi (B0) memberikan nilai rata-rata NPA tertinggi yakni 2,07 dan 2,06 dan yang paling rendah adalah pemberian arang 10% (A4) dan bokashi 60 g (B3) dengan nilai NPA 1,76 dan 1,73. NPA yang tinggi dengan produksi biomassa total yang besar pada tanah yang subur secara tidak langsung menunjukkan bahwa akar yang relatif sedikit cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang relatif besar dalam menyediakan air dan unsur hara. Tanaman yang kekurangan air dan unsur hara akan berusaha membentuk akar yang lebih banyak yang memungkinkan tanaman untuk meningkatkan serapan yang menghasilkan NPA yang rendah (Sitompul dan Guritno 1995). Semakin kecil nilai NPA berarti semakin siap bibit tersebut untuk dipindahkan ke lapangan dikarenakan telah tercukupinya junmlah akar yang akan digunakan dalam penyerapan air dan unsur hara. Namun, kecilnya NPA tanaman hasruslah memiliki batas karena dalam pertumbuhan tanaman harus memiliki

24 keseimbangan antara kemampuan akar dalam menyerap air dan mineral dan kemampuan pucuk dalam melakukan proses trasnpirasi (Wangi 2006). Duryea dan Brown (1984) dalam Ramadani (200 ) men ebut an ba a bibit i ata an bai ji a inter a nisba pu u a ar antara 1, dengan nilai bibit terbaik adalah mendekati angka terendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bibit E. cyclocarpum dari setiap perlakuan menunjukkan pertumbuhan yang baik. Perlakuan pemberian arang 10% dan bokashi 60 g merupakan bibit yang terbaik dengan nilai yang mendekati angka 1, dan diharapkan bibit dapat siap tanam di lapangan. Hasil analisis tanah dari hasil laboratorium disajikan pada Tabel 11. Menurut kriteria penilaian sifat kimia tanah (Tabel 12) menyatakan bahwa kandungan N dan P pada media tailing sangat rendah, sedangkan kandungan K pada tailing tergolong tinggi, kandungan Mg tergolong sedang dan untuk kandungan Ca pada media tailing sangat tinggi. Namun secara umum, sifat kimia tailing cenderung meningkat sejalan dengan penambahan arang dan bokashi, kecuali Ca yang cenderung menurun. Ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah sangat beragam. Penyerapan unsur hara dipengaruhi oleh jenis tanaman itu sendiri dan keadaan lingkungan. Tabel 11 Hasil analisis sifat kimia tanah pengaruh pemberian arang dan bokashi Sifat Tailing Tailing+ arang Perlakuan Tailing+ bokashi Tailing+ arang+ bokashi ph H20 7,10 7,40 7,20 7,30 KTK (me/100 g) 7,58 9,98 10,78 11,58 C-Org (%) 0,72 1,12 1,52 1,60 N-Total (%) 0,07 0,12 0,14 0,15 P Bray I (ppm) 5,70 6,10 7,80 7,90 K (me/100 g) 0,66 1,70 1,13 2,45 Ca (me/100 g) 28,58 28,14 29,11 27,92 Mg (me/100 g) 1,12 1,19 1,68 1,68

25 Tabel 12 Kriteria penilaian sifat-sifat kimia tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah 1983 dalam Hardjowigeno 1995) Sifat Sangat Sangat Rendah Sedang Tinggi Rendah Tinggi KTK (me/100 g) <5 5-16 17-24 25-40 >40 C-Org (%) <1 1,00-2,00 2,01-3,00 3,01-5,00 >5 N-Total (%) <0,1 0,10-0,20 0,21-0,5 0,51-0,75 >0,75 P Bray I (ppm) <10 10-15 16-25 26-35 >35 K (me/100 g) <0,2 0,2-0,3 0,4-0,5 0,6-1,0 >1,0 Ca (me/100 g) <2 2-5 6-10 11-20 >20 Mg (me/100 g) <0,4 0,4-1,0 1,1-2,0 2,1-8,0 >8,0 Sangat Masam Masam Agak Masam Netral Agak Alkalis Alkalis ph H 2 0 <4,5 4,5-5,5 5,6-6,5 6,6-7,5 7,6-8,5 >8,5 Unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) merupakan unsur-unsur makro. Menurut Siregar (2004) penambahan arang mampu meningkatkan ketersediaan N, P, K, Ca dan Mg, dan Purwani et al. (1998) pemberian bokashi mampu meningkatkan serapan hara N, P, K tertinggi dimana karena adanya EM4 yang dapat membantu dalam proses mineralisasi. Tanah dengan KTK yang tinggi mampu menyerap hara. Tailing adalah tanah dengan kandungan unsur hara esensial yang rendah, ph yang cenderung asam, KTK yang rendah. KTK tailing yang sangat rendah memungkinkan terjadinya percepatan pencucian terhadap hara, maka hara yang adapun akan hilang tercuci sebelum bisa dimanfaatkan oleh tanaman. Hasil analisis laboratorium, KTK pada media tailing yang didapat rendah dan ph yang didapat tergolong netral. ph tanah pada tailing yang netral disebabkan karena kandungan Ca yang sangat tinggi. Menurut Agusman et al. (2006), ion Ca yang tinggi dapat menetralisir penurunan ph tanah. Penambahan arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang dapat meningkatkan KTK dari tanah tailing sehingga mengindikasikan bahwa media tailing jika ditambah arang dan bokashi menyebabkan tanah mampu menyerap unsur hara dengan cukup baik. C-Organik menunjukkan kandungan bahan organik yang ada di dalam tanah. Bahan organik ini memiliki peranan yang sangat penting dalam tanah terutama pengaruhnya terhadap kesuburan tanah. Hardjowigeno (1995) menyebutkan, bahan organik tanah menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Hasil analsisis menunjukkan bahwa C-Organik

26 tanah tailing dengan campuran arang dan bokashi merupakan yang tertinggi, walaupun menurut Hardjowigeno (1995) masuk ke dalam kategori rendah. Dengan demikian, pemberian arang akan efektif penggunaannya jika dibarengi dengan penambahan pupuk (bokashi) guna meningkatkan pertumbuhan tanaman. Arang yang mampu menyerap, menyimpan dan memberikan unsur hara kepada akar tanaman jika unsur hara pada tanaman tidak tersedia, sehingga dengan menggunakan arang penyerapan hara menjadi efektif (Gusmailina et al. 2003). Seperti dijelaskan oleh Muslim (2003) yang menyatakan bahwa bibit yang batangnya tinggi, diameternya besar dan NPA rendah mempunyai daya hidup yang tinggi pada kondisi lapang yang kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa bibit sengon buto dengan penambahan arang dan bokashi diharapkan dapat diaplikasikan di lapangan. Gusmailina dan Pari (2002) mengatakan penambahan arang dengan dosis 10% menunjukkan pertumbuhan tanaman cabai merah tertinggi. Hasil penelitian lain menyebutkan, penambahan pupuk plus arang pada media tanaman anakan Shorea urophylla ternyata dapat meningkatkan laju pertumbuhan tanaman yakni 33,6% untuk tinggi dan 40% untuk diameter (Komaryati dan Gusmailina 2010).