IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Indra Tedja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertambahan Tinggi Bibit Tanaman (cm) Hasil pengamatan terhadap pertambahan tinggi bibit kelapa sawit setelah dilakukan sidik ragam (lampiran 9) menunjukkan bahwa faktor petak utama pemberian air, faktor anak petak kompos sludge dan interaksinya berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi bibit tanaman. Data dari hasil uji lanjut BNT taraf 5 % dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rerata pertambahan tinggi (cm) bibit kelapa sawit umur 3-6 bulan dengan pemberian kompos sludge pada berbagai taraf pemberian air. Faktor Kompos Faktor Pemberian Air (liter/hari/bibit) Pengaruh Sludge (g) Al (0.5) A2(1.0) A3 (1.5) Kompos Sludge 0(S0) 8.80c 9.26c 9.60d 9.22d 50(SI) 10.26b 10.80b 12.13c 11.06c 100(S2) 10.33b 12.33a 14.66b 12.70b 150(S3) 11.80a 13.10a 15.96a 13.62a 200(S4) 10.73b 12.36a 15.43ab 12.58b Pengaruh Pemberian Air 10.38b 11.57ab 13.56a KKA = 1,53% KKB = 1,04% Ket. Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5%. Tabel 1 menunjukkan bahwa pada taraf Al perlakuan S3 memberikan pertumbuhan tinggi tanaman yang cepat dibandingkan dengan perlakuan SO, SI, S2 dan S4. Pada taraf A2 perlakuan S2, S3, S4 memiliki rerata perlakuan yang sama tetapi berbeda dengan perlakuan SO dan SI. Pada taraf A3 perlakuan S3 dan S4 memiliki pertumbuhan tinggi tanaman yang lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan S2, SI dan SO. Proses pertambahan tinggi bibit kelapa sawit didahului dengan terjadinya pembelahan sel atau peningkatan jumlah sel daun dan pembesaran ukuran. Pada proses ini membutuhkan sintesis protein, dan unsur nitrogen merupakan senyawa yang sangat penting dalam pembentukan asam amino, protein, klorofil dan berperan dalam pembentukan sel-sel baru. Tanaman tidak dapat melakukan metabolismenya
2 15 jika kekurangan nitrogen sehingga hams mengandung nitrogen dalam membentuk sel-sel baru (Nyakpa dkk, 1988). Nitrogen mempunyai peranan yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman dan khususnya pertumbuhan batang yang memacu pertumbuhan tinggi tanaman. Sarief (1985) menambahkan akibat adanya proses pembelahan sel yang akan berjalan dengan cepat dengan adanya ketersediaan nitrogen yang cukup. Perlakuan air 1,5 1 + kompos sludge 150 g/bibit (A3S3) memperlihatkan tinggi bibit yang lebih baik dibandingkan dengan semua perlakuan. Hal ini karena pemberian A3S3 telah berhasil menyediakan unsur N, P dan K yang diperlukan oleh tanaman untuk melaksanakan metabolismenya. Unsur N, P dan K tersebut diperoleh dari pemberian kompos sludge. Perlakuan air 0,5 1 + tanpa kompos sludge (AISO) mempakan perlakuan yang menghasilkan tinggi tanaman terendah, hal ini dikarenakan unsur hara kurang tersedia bagi bibit kelapa sawit. Hal ini diduga karena unsur hara nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) dari kompos sludge dapat diserap baik oleh akar tanaman, sehingga pertumbuhan bibit kelapa sawit tinggi tanaman dapat berlangsung dengan baik. Nitrogen (N) hams tersedia di dalam tanaman sebelum pembentukan sel-sel bam, karena itu pertumbuhan tidak dapat berlangsung tanpa nitrogen (N). Fosfat (P) sangat berpengamh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman, karena fosfat banyak terdapat di dalam sel tanamein, yaitu bempa unit-unit nukleotida. Nukleotida mempakan suatu ikatan yang mengandung (P), sebagai penyusun RNA, DNA yang berperan dalam perkembangan sel tanaman. Kalium (K) berperan sebagai katalisator berbagai reaksi enzimatik dan proses fisiologis dibutuhkan dalam mengatur ketersediaan air dalam sel tanaman, temtama mengatur tegangan turgor sel tanaman, selain itu kalium dibutuhkan dalam metabolisme karbohidrat dan nitrogen, dan sintesis protein (Nyakpa dkk, 1988). Lakitan (1996) menambahkan bahwa peranan air adalah sebagai pelamt berbagai senyawa molekul organik (unsur hara) dari dalam tanah ke dalam tanaman, transportasi fotosintat dari sumber {source) ke limbung (sink), menjaga turgiditas sel diantaranya dalam pembesaran sel dan membukanya stomata, sebagai penyusun
3 16 utama dari protoplasma serta pengatur suhu bagi tanaman. Apabila air yang tersedia bagi tanaman dalam jumlah sedikit maka transportasi unsur hara ke daun akan terhambat sehingga akan berdampak pada produksi yang dihasilkan. Pengaruh faktor petak utama jumlah air berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi bibit dimana pemberian air secara tetesan hingga mencapai 1,5 1/hari temyata memberikan efek positif Hal ini diduga karena air yang diberikan telah mampu untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Noorhadi dan Sudadi (2003) menyatakan pemberian air secara tetesan lebih efisien karena air yang diberikan secara berkesinambungan, sehingga air yang dibutuhkan tanaman lebih tersedia setiap waktu. Penggunaan air oleh tanaman tidak dapat dilepaskan oleh adanya pengamh suhu, kelembaban dan evaporasi. Diketahui suhu di dalam mmah kaca cukup tinggi sehingga transpirasi pada tanaman akan tinggi yang menyebabkan kehilangan air dalam jumlah yang cukup besar bagi tanaman. Salah satu keuntungan transpirasi bagi tanaman adalah mempercepat laju pengangkutan unsur hara dari akar tanaman ke daun, sehingga unsur hara yang tersedia bagi tanaman lebih cepat dimanfaatkan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Suhu udara yang tinggi akan menyebabkan kehilangan uap air (evapotranspirasi) yang tinggi pula. Peristiwa evapotranspirasi ditafsirkan sebagai kehilangan air total sebagai akibat evaporasi dan transpirasi dari permukaan tanah dan vegetasi (Asdak, 2004). Dalam penelitian ini, unsur utama untuk berlangsungnya evaporasi adalah tinggi rendahnya suhu rumah kaca dari radiasi matahari dan pemberian air terhadap tanaman dari ketersedian air. Lakitan (1996) menjelaskan bahwa defisit air terjadi apabila jumlah permintaan air oleh daun tidak sebanding dengan penyerapan air oleh akar dan kurangnya suplai air di daerah perakaran tanaman Pertambahan Jumlah Pelepah Tanaman (helai) Hasil sidik ragam tinggi tanaman yang disajikan pada lampiran 9 menunjukkan bahwa faktor petak utama pemberian air, faktor anak petak kompos sludge dan interaksinya berpengamh nyata terhadap jumlah pelepah bibit kelapa
4 17 sawit. Hasil analisis statistika yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5% disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rerata pertambahan jumlah pelepah (helai) bibit kelapa sawit umur 3-6 bulan dengan pemberian kompos sludge pada berbagai taraf pemberian air. Faktor Kompos Faktor Pemberian Air (liter/hari/bibit) Pengaruh Sludge (g) Al (0.5) A2 (1.0) A3 (1.5) Kompos Sludge 0(S0) 3.00b 3.33c 3.33b 3.22d 50 (SI) 3.33b 3.66c 4.33b 3.77d 100(S2) 3.66ab 4.33bc 6.66a 4.88bc 150 (S3) 4.33a 6.00a 7.33a 5.88a 200(S4) 4.66a 5.33ab 6.00a 5.33ab Pengaruh Pemberian Air 3.80b 4.53ab 5.53a KKA = 2,92% KKB = 2,69% Ket. Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5%. Tabel 2 menunjukkan bahwa pada taraf Al perlakuan S2, S3 dan S4 memiliki rata-rata pertumbuhan pelepah daun yang cepat dibandingkan dengan perlakuan SI dan SO. Pada taraf A2 perlakuan S3 dan S4 memiliki rerata pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan perlakuan S2, SI dan SO. Pada taraf A3 perlakuan S2, S3 dan S4 memiliki rerata pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan perlakuan SI dan SO. Pada faktor kompos sludge memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah daun bibit kelapa sawit. Hal ini disebabkan dengan meningkatkan bahan organik yang diberikan sehingga penyerapan unsur hara oleh tanaman akan meningkat. Hasil analisa kompos sludge dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat yaitu C-organik (8,04), N (4,04), dan C/N (1,99). Menurut Musnamar (2003), bahwa aplikasi kompos dengan C/N rasio yang rendah ke tanah akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Kompos siap digunakan biasanya memiliki C/N rasio mendekati C/N rasio tanah, yaitu dengan suhu hampir sama dengan suhu lingkungan. Perlakuan air 1,5 1 + kompos sludge 150 g/bibit (A3S3) memperlihatkan jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lain sedangkan
5 18 perlakuan air 0,5 1 + tanpa kompos sludge (AISO) merupakan perlakuan yang memperlihatkan jumlah daun paling sedikit dibandingkan dengan perlakuan lain. Sama halnya dengan parameter tinggi tanaman, jumlah daun merupakan parameter vegetatif tanaman yang erat kaitannya terhadap tingkat serapan unsur N, P dan K. Hal ini karena daun merupakan salah satu pusat kegiatan metabolisme yakni tempat terjadinya fotosintesis dan respirasi. Unsur hara nitrogen sangat berguna dalam pembentukan protein dan lemak serta dapat mempercepat pembentukan keseluruhan bagian tanaman. Menurut Suriatna (2002), nitrogen sangat berperan dalam membentuk protein dan lemak serta persenyawaan organik sehingga mempercepat pertumbuhan keseluruhan bagian tanaman (batang, akar dan daun). Selain itu diasumsikan bibit kelapa sawit mengakumulasi hasil fotosintesis {fotosintat) ke bagian vegetatif seperti batang, akar dan tinggi tanaman. Menurut Nyakpa, dkk (1988) proses pembentukan daun tidak terlepas dari peranan unsur hara seperti nitrogen dan fosfat yang terdapat pada medium tanam yang tersedia bagi tanaman dari pemberian kompos sludge. Kedua unsur hara ini berperan dalam pembentukan sel-sel baru dan komponen utama jjenyusunan senyawa organik dalam tanaman seperti asam amino, asam nukleat, klorofil, ADP dan ATP. Apabila tanaman mengalami defisiensi kedua unsur hara tersebut maka metabolisme tanaman akan terganggu sehingga proses pembentukan daun menjadi terhambat. Ketersediaan energi ATP akan meningkatkan serapan K oleh tanaman, dimana serapan unsur K mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan serapan N dan P pada jaringan tanaman. Unsur K memiliki peranan penting dalam transfor unsur hara dan mentranslokasi asimilat dari daun ke seluruh jaringan tanaman sehingga pertumbuhan tanaman tersebut akan berlangsung maksimal. Pemberian faktor air memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah daun bibit kelapa sawit. Hal ini diduga transpirasi di rumah kaca cukup tinggi menyebabkan kehilangan air dalam jumlah cukup besar bagi tanaman yaitu mempercepat laju pengangkutan unsur hara dari akar tanaman ke daun, sehingga
6 19 unsur hara yang tersedia bagi tanaman lebih cepat dimanfaatkan oleh tanaman untuk proses fotosintesa. Suhu udara secara langsung mempengaruhi suhu tanah, sehingga menyebabkan kehilangan uap air {evapotranspirasi) yang tinggi. Besar kecilnya laju tranpirasi secara tidak langsung ditentukan oleh suhu oleh radiasi matahari melalui membuka dan menutupnya stomata daun. Faktor yang dominan yang mempengaruhi evapotranspirasi potensial adalah radiasi matahari dan suhu, kelembapan atmosfer dan angin, dan secara umum besamya evapotranspirasi potensial akan meningkat ketika suhu, radiasi matahari, kelembapan, dan kecepatan angin bertambah besar (Asdak, 2004). Selain itu, pemberian air dan kompos sludge memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah daun bibit kelapa sawit karena adanya keseimbangan antara kedua perlakuan. Pada kondisi tersebut agregat tanah menjadi lebih baik dari pemberian kompos sludge. Kompos sludge mampu meningkatkan daya simpan air pada koloid tanah dan mensuplai unsur hara, sehingga pemberian kompos sludge dan air telah mencukupi kebutuhan tanaman. Dengan kondisi air yang tidak berlebihan, sirkulasi udara dalam tanah menjadi lebih baik sehingga dengan aerasi yang baik didalam tanah akan mempermudah akar dalam menyerap unsur hara Pertambahan Lilit Bonggol Tanaman (cm) Hasil pengamatan terhadap pertambahan lilit bonggol bibit kelapa sawit setelah disidik ragam (lampiran 9) menunjukkan bahwa faktor petak utama pemberian air, faktor anak petak kompos sludge dan interaksinya berpengaruh nyata terhadap parameter lilit bonggol tanaman. Data dari hasil uji lanjut BNT taraf 5 % dapat dilihat pada Tabel 3.
7 20 Tabel 3. Rerata pertambahan lilit bonggol (cm) bibit kelapa sawit umur 3-6 bulan dengan pemberian kompos sludge pada berbagai taraf pemberian air. Faktor Kompos Faktor Pemberian Air (liter/hari/bibit) Pengaruh Sludge (g) Al (0.5) A2(1.0) A3 (1.5) Kompos Sludge 0(S0) 0.77d 0.84c 0.84c 0.82c 50(SI) 0.88c 1.12b 1.24b 1.08b 100(S2) 1.09b 1.32a 1.49a 1.30a 150 (S3) 1.20a 1.34a 1.56a 1.37a 200(S4) 1.13ab 1.31a 1.46a 1.30a Pengaruh Pemberian Air 1.01b 1.19ab 1.32a KKA = 2,07% KKB = 1,17% Ket. Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5%. Tabel 3 menunjukkan bahwa pada taraf Al perlakuan S3 dan S4 memberikan pertumbuhan lilit bonggol yang cepat berbeda dengan perlakuan S2, SI dan SO. Pada taraf A2 perlakuan S2, S3 dan S4 memberikan pertumbuhan lilit bonggol yang cepat berbeda dengan perlakuan SI dan SO. Pada taraf A3 perlakuan S2, S3 dan S4 memberikan pertumbuhan lilit bonggol yang cepat berbeda dengan perlakuan SI dan SO. Untuk perlakuan kompos sludge memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap lilit bonggol tanaman. EM-4 sebagai dekomposer berfungsi sebagai perombak bahan organik sludge pada tanah, sehingga mampu menurunkan C/N tanah. Perombakan yang terjadi menyebabkan unsur hara dari kompos sludge menjadi tersedia untuk bibit kelapa sawit. Unsur hara yang sangat berperan dalam pembesaran lingkar bonggol adalah nitrogen (N) dan kalium (K). Ditambahkan Prihmantoro (1996), bahwa nitrogen berfungsi dalam merangsang pertumbuhan tanaman terutama batang dan daun, kalium berfungsi mempercepat pertumbuhan meristem pada batang tanaman. Perlakuan air 0,5 1 + kompos sludge 150 g/bibit (A3S3) merupakan perlakuan terbaik yang memperlihatkan diameter bonggol terlebar dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini karena pemberian kompos sludge 150 g/bibit dapat mendekomposisi tanah sehingga unsur hara N, P dan K tersedia diserap bibit kelapa sawit dalam pembentukan bonggol. Unsur hara yang tersedia dalam jumlah yang
8 21 cukup untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit menyebabkan kegiatan metabolisme dari tanaman meningkat demikian juga akumulasi asimilat pada daerah batang (bonggol). Jumin (1987) menjelaskan batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya tanaman muda, dengan adanya unsur hara dapat mendorong laju fotosintesis dalam menghasilkan fotosintat, sehingga membantu dalam pembentukan bonggol batang. Pembesaran bonggol bibit kelapa sawit dipengaruhi oleh tersedianya unsur hara nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) bagi tanaman. Unsur K lebih banyak dibutuhkan dalam pembesaran bonggol kelapa sawit, terutama sebagai unsur yang mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain. Dengan tersedianya unsur K, maka pembentukan karbohidrat akan berjalan dengan baik dan translokasi pati ke bonggol bibit sawit akan semakin lancar, sehingga akan terbentuk bonggol bibit kelapa sawit yang baik. Bonggol akan menopang bibit sawit dan memperlancar proses translokasi hara dari akar ke tajuk. Menurut Leiwkabessy (1988), bahwa unsur kalium sangat berperan dalam meningkatkan diameter bonggol tanaman, khususnya dalam peranannya sebagai jaringan yang menghubungkan antara akar dan daun pada proses transportasi unsur hara dari akar ke daun. Selain ketersediaan unsur hara, faktor pemberian air mempengaruhi pembentukan lilit bonggol batang yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap lilit bonggol tanaman. Menurut Jumin (2002) air sangat berfungsi dalam pengangkutan atau transportasi unsur hara dari akar ke jaringan tanaman, sebagai pelarut garam-garaman dan mineral, serta yang terpenting air merupakan penyusun dari jaringan tanaman. Menurut Nyakpa, dkk (1988) suhu secara langsung mempengaruhi fotosintesa, respirasi, absorpsi air dan unsur hara serta transpirasi. Suhu udara yang tinggi akan mengakibatkan kehilangan air dalam jumlah yang tinggi, sehingga menyebabkan tanaman akan kehilangan air dalam jumlah yang besar dan tanaman akan menjadi layu. Pengaruh suhu terhadap fotosintesa akan meningkat dengan tingginya suhu. Umumnya respirasi menjeidi lambat pada suhu rendah dan meningkat jika suhu tinggi. Absorpsi air oleh akar tanaman juga dipengaruhi oleh suhu dimana
9 22 absorpsi air oleh akar akan meningkat dengan tingginya suhu dan sebaliknya. Suhu yang mempengaruhi absorpsi unsur hara tanaman akan terhambat absorpsi haranya jika suhu tanah rendah. Transpirasi atau kehilangan uap air melalui stomata daun juga dipengaruhi oleh suhu. Jumlah tranpirasi rendah pada suhu rendan dan meningkat jika suhu tinggi. Defisit air terjadi apabila jumlah permintaan air oleh daun tidak sebanding dengan penyerapan air oleh akar dan kurangnya suplai air di daerah perakaran tanaman (Lakitan, 1996) Rasio Tajuk Akar Hasil sidik ragam rasio tajuk akar yang disajikan pada lampiran 9 menunjukkan faktor anak petak kompos sludge, faktor petak utama pemberian air dan interaksinya berpengaruh tidak nyata terhadap parameter rasio tajuk akar. Hasil rerata rasio tajuk akar disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Rerata rasio tajuk akar (g) bibit kelapa sawit umur 3-6 bulan dengan pemberian kompos sludge pada berbagai taraf pemberian air. Faktor Kompos Faktor Pemberian Air (liter/hari/bibit) Pengaruh Sludge (g) Al (0.5) A2(1.0) A3 (1.5) Kompos Sludge 0(S0) (SI) (S2) (S3) (S4) Pengaruh Pemberian Air KKA = 1,20% KKB = 1,46% Berdasarkan hasil uji lanjut BNT (Tabel 4) dapat dilihat beihwa pemberian air dan kompos sludge tidak memberikan pengaruh nyata terhadap rasio tajuk akar bibit kelapa sawit. Menurut Gardner (1991), proses pertumbuhan dan perkembangan dikendalikan oleh genotipe dan lingkungan, tingkat pengaruhnya tergantung pada karakteristik tanaman tersebut. Menurut Lakitan (2000), tanaman dicirikan dengan penambahan berat kering dan ketersediaan unsur hara yang cukup dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman melalui fotosintesis yang dapat meningkatkan jumlah klorofil yang mendukung
10 23 peningkatan berat kering tanaman. Berat kering tanaman mencerminkan status nutrisi tanaman, dan berat kering tanaman merupakan indikator yang menentukan baik tidaknya suatu tanaman dan sangat erat kaitannya dengan ketersedian hara (Prawiratna dkk, 1981). Perlakuan air 1,5 1 + kompos sludge loog/bibit (A3S2) merupakan perlakuan yang memperlihatkan rasio tajuk akar terberat dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini dikarenakan perlakuan A3S2 telah mencukupi kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam melakukan metabolisme terhadap rasio tajuk akar. Unsur hara yang dihasilkan berasal dari proses dekomposisi bahan organik oleh kompos sludge dapat menyumbang unsur hara bagi tanah. Tetapi perlakuan pemberian air dan kompos sludge tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter rasio tajuk akar bibit kelapa sawit. Peningkatan laju pembentukan biomassa pada bagian tajuk ini berhubungan dengan laju pembentukan fotosintat yang dihasilkan sebagai pengganti dan penyedia substrat yang hilang akibat pembelahan sel, sehingga alokasi substrat lebih besar digunakan pada bagian tajuk dibanding bagian akar. Dugaan ini sejalan dengan Sitompul dan Bambang (1995) yang menyatakan bahwa translokasi substrat khususnya karbohidrat akan digunakan sebagian besamya untuk pemeliharaan integritas (keutuhan fungsi) organ bersangkutan, sebagian lagi dikonversikan ke bagian yang lain dan sisanya disimpan sebagai cadangan. Lakitan (1996) menambahkan alokasi fotosintat yang besar terdapat pada bagian yang masih aktif melakukan fotosintesis yang diperlihatkan dengan adanya pertambahan luas dan panjang daun, tujuannya agar terjadi efisiensi pembentukan dan penggunaan hasil fotosintesis. Faktor petak utama pemberian air menunjukkan perbedaan yang tidak nyata terhadap rasio tajuk akar. Bahkan peningkatan jumlah air yang diberikan tidak mendukung terjadinya peningkatan total biomassa. Hal ini disebabkan karena air yang diberikan diduga telah mencukupi kebutuhan tanaman. Selain itu peningkatan pemberian air mengakibatkan jumlah akar yang terbentuk lebih sedikit sehingga
11 24 terjadi penurunan total biomassa yang terbentuk. Nyakpa (1988) menyatakan bahwa perkembangan akar selain dipengaruhi oleh sifat genetik juga dipengaruhi oleh ketersediaan air dan nutrisi. Noorhadi dan Sudadi (2003) menambahkan dalam keadaan air dan hara yang mencukupi hingga mencapai titik jenuh tanaman cenderung membentuk sistem perakaran yang lebih sedikit dan lebih dangkal. Sitompul dan Bambang (1995) menambahkan bahwa tanaman yang mempunyai nisbah tajuk dengan akar yang tinggi dengan produksi biomassa total yang besar pada kondisi lingkungan yang sesuai secara tidak langsung menunjukkan bahwa akar yang relatif sedikit cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang relatif besar dalam penyediaan air dan unsur hara. Peningkatan pemberian air secara tetesan hingga mencapai 1,5 1/hari temyata tidak lagi memberikan efek positif terhadap parameter rasio tajuk akar. Hal ini diduga karena air yang diberikan dalam jumlah yang banyak menyebabkan kondisi medium menjadi jenuh sehingga akan mempengamhi daya jelajah dan sistem penyerapan hara oleh akar. Nyakpa (1988) menyatakan bahwa dalam kondisi jenuh air pertumbuhan tanaman akan menjadi lebih lambat karena terhambatnya perkembangan akar sebagai akibat kurangnya oksigen di dalam tanah.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang telah diperoleh terhadap tinggi tanaman cabai setelah dilakukan analisis sidik ragam (lampiran 7.a) menunjukkan bahwa pemberian pupuk
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang mudah untuk diamati dan sering digunakan sebagai parameter untuk mengukur pengaruh dari lingkungan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Bibit (cm) Hasil pengamatan terhadap parameter tinggi bibit setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit memberikan
I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun
16 1. Tinggi Tanaman (cm) I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam tinggi tanaman ( lampiran 6 ) menunjukkan perlakuan kombinasi limbah cair industri tempe dan urea memberikan pengaruh
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertambahan Tinggi Bibit (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan bahwa interaksi pupuk kompos TKS dengan pupuk majemuk memberikan pengaruh yang tidak nyata
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi tanaman (cm) Hasil pengamatan yang diperoleh terhadap tinggi tanaman jagung manis setelah dilakukan sidik ragam (Lampiran 9.a) menunjukkan bahwa pemberian kompos sampah
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Bibit (cm) Dari hasil sidik ragam (lampiran 4a) dapat dilihat bahwa pemberian berbagai perbandingan media tanam yang berbeda menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa
1. Tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil Uji
HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap yaitu pengambilan Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap pengambilan Bio-slurry dilakukan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (lampiran 7.1) menunjukkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.a. Parameter Utama 4.a.l. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (lampiran 7.1) menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen (kombinasi kascing dan pupuk
rv. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (Lampiran 6 ) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kascing dengan berbagai sumber berbeda nyata terhadap tinggi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Peneiitian 4.1.1. C/N Tanah 4.1.1.1. C/N Tanah Masa Inkubasi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN viride dan dregs juga faktor tunggal waktu aplikasi dregs berpengaruh tidak nyata sedangkan faktor tunggal
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman Jati. daun, luas daun, berat segar bibit, dan berat kering bibit dan disajikan pada tabel
16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Jati Tanaman selama masa hidupnya menghasilkan biomassa yang digunakan untuk membentuk bagian-bagian tubuhnya. Perubahan akumulasi biomassa akan terjadi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman Dari (tabel 1) rerata tinggi tanaman menunjukkan tidak ada interaksi antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan pemangkasan menunjukan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan
14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan kemajuan ini belum bias penulis selesaikan dengan sempurna. Adapun beberapa hasil dan pembahasan yang berhasil
TIGA PILAR UTAMA TUMBUHAN LINGKUNGAN TANAH
EKOFISIOLOGI TIGA PILAR UTAMA TUMBUHAN TANAH LINGKUNGAN Pengaruh salinitas pada pertumbuhan semai Eucalyptus sp. Gas-gas atmosfer, debu, CO2, H2O, polutan Suhu udara Intensitas cahaya, lama penyinaran
I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi
I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi tanaman dan jumlah anakan menunjukkan tidak ada beda nyata antar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. ph Tanah Data hasil pengamatan ph tanah gambut sebelum inkubasi, setelah inkubasi, dan setelah panen (Lampiran 4) menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan ph tanah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan Umum Penelitian Pada penelitian ini semua jenis tanaman legum yang akan diamati (Desmodium sp, Indigofera sp, L. leucocephala dan S. scabra) ditanam dengan menggunakan anakan/pols
HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil pengomposan dengan cacing ( vermikompos ) Hasil analisis vermikompos dengan berbagai bahan disajikan dalam tabel 2. Tabel 1. Hasil analisis vermikompos kadar kadar C kadar
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. dalam siklus kehidupan tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam siklus kehidupan tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Pertumbuhan tanaman buncis Setelah dilakukan penyiraman dengan volume penyiraman 121 ml (setengah kapasitas lapang), 242 ml (satu kapasitas lapang), dan 363 ml
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
11 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Berdasarkan analisis sidik ragam parameter tinggi tanaman pada lampiran 5a hingga 5h menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi pupuk daun, waktu aplikasi
I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman pangan utama sebagian besar penduduk
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman pangan utama sebagian besar penduduk Indonesia. Produksi padi nasional mencapai 68.061.715 ton/tahun masih belum mencukupi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Mengembangkan dan membudidayakan tanaman tomat membutuhkan faktor yang mendukung seperti pemupukan, pengairan, pembumbunan tanah, dan lain-lain. Pemberian
Hasil dari tabel sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan beda. nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5 % (lampiran 8) Hasil rerata tinggi tanaman
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Vegetatif Parameter pertumbuhan tanaman terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman. 1. Tinggi tanaman (cm) Hasil
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Limbah Cair Tahu pada Tinggi Tanaman
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman 4.1.1 Pengaruh Limbah Cair Tahu pada Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil Uji Duncan taraf 5%, menunjukkan bahwa limbah cair tahu memberikan pengaruh beda nyata
HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan dan pemberian berbagai macam pupuk hijau (azolla, gamal, dan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini terdiri dari dua kegiatan yaitu pengujian kadar lengas tanah regosol untuk mengetahui kapasitas lapang kemudian dilakukan penyiraman pada media tanam untuk mempertahankan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman. Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Tinggi Tanaman Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia pertumbuhan yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman
HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah Varietas Biru Lancor (Allium
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian tentang Aplikasi Night soil + Zeolit Guna Meningkatkan Kualitas Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah Varietas Biru Lancor (Allium ascalonicum) di Tanah Pasir Pantai
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap jenis makhluk hidup termasuk tanaman. Proses ini berlangsung
I. PENDAHULUAN. Keinginan untuk berswasembada kedelai telah beberapa kali dicanangkan, namun
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Keinginan untuk berswasembada kedelai telah beberapa kali dicanangkan, namun belum dibarengi dengan program operasional yang memadai. Melalui program revitalisasi
Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan
IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam terhadap pertumbuhan jagung masing-masing menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Analisis Pendahuluan Kompos Kotoran Kelinci
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis Pendahuluan Kompos Kotoran Kelinci Analisis kompos kotoran kelinci dilakukan untuk mengetahui kandungan kompos dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan
JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU Hp
PERTUMBUHAN DAN SERAPAN NITROGEN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) PADA FASE MAIN-NURSERY DI BEBERAPA MEDIUM TUMBUH DENGAN EFEK SISA PUPUK ORGANIK Suyuti Dahlan 1, Armaini 2 dan Wardati 2 JURUSAN
PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera)
PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) ABSTRAK Noverita S.V. Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sisingamangaraja-XII Medan Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis Kompos Kulit Biji Kopi Pengomposan kulit biji kopi dilakukan selama 30 hari, proses pembuatan kompos ini berlangsung secara aerob karena pada saat pembuatan memerlukan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam pengamatan tinggi tanaman berpengaruh nyata (Lampiran 7), setelah dilakukan uji lanjut didapatkan hasil seperti Tabel 1. Tabel 1. Rerata tinggi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
14 4.1. Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil analisis ragam dan uji BNT 5% tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1 dan Lampiran (5a 5e) pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari 2 MST hingga
HASIL DAN PEMBAHASAN. dan bersifat irreversible (Anderson dan Beardall, 1991). Tanaman semasa
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan adalah suatu penambahan sel yang disertai perbesaran sel yang diikuti oleh bertambahnya ukuran dan berat tanaman. Pertumbuhan berkaitan dengan proses pertambahan substansi
HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan
Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh
45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Tinggi Tanaman Tinggi tanaman caisin dilakukan dalam 5 kali pengamatan, yaitu (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. yang dihasilkan dari proses-proses biosintesis di dalam sel yang bersifat
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan adalah suatu penambahan sel yang disertai perbesaran sel yang di ikut oleh bertambahnya ukuran dan berat tanaman. Pertumbuhan berkaitan dengan proses pertambahan
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman Jagung Manis. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (Lampiran VI)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman A. Pertumbuhan Tanaman Jagung Manis Pertumbuhan vegetatif tanaman jagung manis meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun. Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman
HASIL DAN PEMBAHASAN. tanaman yang bersifat tak terbalikkan (irreversible) Bertambah besar ataupun
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan adalah perubahan secara kuantitatif selama siklus hidup tanaman yang bersifat tak terbalikkan (irreversible) Bertambah besar ataupun bertambah berat tanaman atau bagian
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tajuk. bertambahnya tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk, berat kering tajuk
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tajuk Indikator pertumbuhan tanaman dapat diketahui dengan bertambahnya volume dan juga berat suatu biomassa yang dihasilkan selama proses pertunbuhan tanaman.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (lampiran 9 a)
16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (lampiran 9 a) menunjukkan bahwa pengaruh utama mikoriza maupun interaksi antara mikoriza dan jenis
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Limbah Cair Budidaya Air Lele Dengan Pupuk Nitrogen. Terhadap Tinggi Tanaman, dan Jumlah Daun
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Limbah Cair Budidaya Air Lele Dengan Pupuk Nitrogen Terhadap Tinggi Tanaman, dan Jumlah Daun Dari hasil sidik ragam terhadap tinggi tanaman, dan jumlah daun menunjukkan
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Indikator pertumbuhan dan produksi bayam, antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut:
HASIL DAN PEMBAHASAN
14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berikut ini disampaikan hasil penelitian yang terdiri dari pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas adalah pengamatan yang datanya tidak diuji secara
I. HASIL DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id 21 I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perkecambahan Biji 1. Kecepatan Kecambah Viabilitas atau daya hidup biji biasanya dicerminkan oleh dua faktor yaitu daya kecambah dan kekuatan tumbuh. Hal
HASIL DAN PEMBAHASAN
14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan hasil analisis tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, tanah yang digunakan sebagai media tumbuh dikategorikan
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan nitrogen tanah bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Variasi kandungan nitrogen dalam tanah terjadi akibat perubahan topografi, di samping pengaruh iklim, jumlah
I. PENDAHULUAN. Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Nilai ekonominya yang
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Peubah yang diamati dalam penelitian ini ialah: tinggi bibit, diameter batang, berat basah pucuk, berat basah akar, berat kering pucuk, berak kering akar, nisbah
II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai varietas Grobogan memiliki umur polong berkisar 76 hari, bobot biji
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi dan Karakterisitik Benih Kedelai Kedelai varietas Grobogan memiliki umur polong berkisar 76 hari, bobot biji berkisar 18 g/ 100 biji. Warna kulit biji kuning muda dan
I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Pertumbuhan. Variabel pertumbuhan tanaman Kedelai Edamame terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun,
I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Pertumbuhan Variabel pertumbuhan tanaman Kedelai Edamame terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot segar akar, dan bobot
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan hasil sidik ragam
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan salah satu parameter pertumbuhan yang menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan
HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengamatan terhadap jumlah anakan rumput Gajah mini Pennisetum
HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Anakan Hasil pengamatan terhadap jumlah anakan rumput Gajah mini Pennisetum purpureum schumach (R 1 ), rumput Setaria spachelata (R 2 ), rumput Brachiaria brizantha (R 3 ),
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. jerami padi dan feses sapi perah dengan berbagai tingkat nisbah C/N disajikan pada
IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Nisbah C/N Campuran Feses Sapi Perah dan Jerami Padi terhadap Kandungan N Pupuk Organik Cair (POC) Kandungan unsur N pada pupuk organik cair hasil pengomposan
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kompos Ampas Aren. tanaman jagung manis. Analisis kompos ampas aren yang diamati yakni ph,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kompos Ampas Aren Analisis kompos merupakan salah satu metode yang perlu dilakukan untuk mengetahui kelayakan hasil pengomposan ampas aren dengan menggunakan berbagai konsentrasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi, berat basah, dan berat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Pertumbuhan Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi, berat basah, dan berat kering akhir tanaman. Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah.
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah. 1. Tinggi Tanaman Hasil pengamatan tinggi tanaman dan
I. PENDAHULUAN. Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) adalah tanaman serealia yang potensial
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) adalah tanaman serealia yang potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah marginal dan
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Kondisi ruangan laboratorium secara umum mendukung untuk pembuatan pupuk kompos karena mempunyai suhu yang tidak berubah signifikan setiap harinya serta terlindung
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi awal blotong dan sludge pada penelitian pendahuluan menghasilkan komponen yang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Karakteristik blotong dan sludge yang digunakan
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pengamatan Kompos Pelepah Daun Salak. (terkontrol) dengan hasil akhir berupa humus dan kompos (Simamora dan Salundik,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengamatan Kompos Pelepah Daun Salak Pengomposan merupakan proses perombakan (dekomposisi) dan stabilisasi bahan organik oleh mikroorganisme dalam keadaan lingkungan yang terkendali
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) Hasil pengamatan terhadap pertambahan tinggi tanaman setelah dianalisis menggiinakan sidik ragam (Lampiran 5.a) menunjukkan bahvvfa interaksi
HASIL DAN PEMBAHASAN
4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Analisis Variabel Pengamatan Pertumbuhan Kubis
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis Variabel Pengamatan Pertumbuhan Kubis Parameter yang diamati pada hasil pertumbuhan tanaman kubis terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, diameter
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Kandungan Unsur Hara Makro pada Serasah Daun Bambu. Unsur Hara Makro C N-total P 2 O 5 K 2 O Organik
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Unsur Hara Makro Serasah Daun Bambu Analisis unsur hara makro pada kedua sampel menunjukkan bahwa rasio C/N pada serasah daun bambu cukup tinggi yaitu mencapai
Pertambahan luas areal pertanaman kelapa sawit dari tahun ke tahun di karenakan
Kegiatan : II JUDUL : Respon Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Pada Berbagai Dosis Pupuk Urea dan Kascing di Pembibitan Main nursery". A. Latar Belakang Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis
II. TINJAUAN PUSTAKA. Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi
11 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Viabilitas Benih 2.1.1 Viabilitas benih Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi kecambah. Istilah lain untuk viabilitas benih adalah daya kecambah
HASIL DAN PEMBAHASAN. masing parameter akan disajikan secara berturut turut sebagai berikut : A. Tinggi Tanaman (cm)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter yang diamati pada masa pertumbuhan tanaman bawang merah meliputi : tinggi tanaman, berat segar tanaman, berat kering tanaman, jumlah umbi per rumpun, berat umbi per rumpun,
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kompos Kulit Buah Jarak Pagar. Kadar air, ph, C-Organik, Bahan Organik, N total. Berikut data hasil analisis
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kompos Kulit Buah Jarak Pagar Analisis kompos dilakukan untuk mengetahui dan memastikan bahwa kompos jarak pagar yang digunakan sebagai perlakuan dapat meningkatkan pertumbuhan
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Penelitian
2 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Penelitian Pada saat penelitian berlangsung suhu dan RH di dalam Screen house cukup fluktiatif yaitu bersuhu 26-38 o C dan berrh 79 95% pada pagi hari pukul 7.
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium dan vitamin B1 yang efektif bila dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada proses perbanyakan tanaman
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) berpengaruh nyata pada jumlah akar primer bibit tanaman nanas, tetapi tidak
PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE
PENDAHULUAN Tebu ialah tanaman yang memerlukan hara dalam jumlah yang tinggi untuk dapat tumbuh secara optimum. Di dalam ton hasil panen tebu terdapat,95 kg N; 0,30 0,82 kg P 2 O 5 dan,7 6,0 kg K 2 O yang
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Hasil Penelitian A. Tinggi Tanaman Hasil Analisis sidik ragam pada tinggi tanaman terung menunjukan bahwa perlakuan pupuk NPK Pelagi berpengaruh nyata terhadap pertambahan
12/04/2014. Pertemuan Ke-2
Pertemuan Ke-2 PERTUMBUHAN TANAMAN 1 PENGANTAR Pertumbuhanadalah proses pertambahan jumlah dan atau ukuran sel dan tidak dapat kembali kebentuk semula (irreversible), dapat diukur (dinyatakan dengan angka,
PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK LIMBAH CAIR BIOGAS DENGAN PUPUK KANDANG AYAM PADA BIBIT KELAPA SAWIT
PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK LIMBAH CAIR BIOGAS DENGAN PUPUK KANDANG AYAM PADA BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA GIVING OF BIOSLURRY FERTILIZER COMBINATION WITH CHICKEN MANURE
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman tumbuhtumbuhan,
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman tumbuhtumbuhan, diantaranya tanaman buah, tanaman hias dan tanaman sayur-sayuran. Keadaan
Gambar 5. Pertumbuhan Paspalum notatum Fluegge Setelah Ditanam
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Suhu rumah kaca berkisar antara C hingga 37 C, kondisi yang cukup baik bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Sarief (1985) kisaran maksimum pertumbuhan tanaman antara 15 C
