BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di hutan hujan tropika yang berlokasi di PT. Austral Byna, Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu bulan Agustus - September 2008. 3.2. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Pita ukur untuk mengukur areal penelitian. 2. Phiband untuk mengukur diameter pohon. 3. Haga Hypsometer/Christen meter untuk mengukur tinggi pohon. 4. GPS untuk mengetahui letak dan ketinggian tempat pengukuran. 5. Clinometer untuk mengukur kemiringan. 6. Tali tambang untuk menandai jalur pengukuran dan pengamatan. 7. Alat-alat bantu lainnya seperti tally sheet serta alat tulis. 8. Software Microsoft Excel 2003 untuk mengolah data pengukuran. 9. Software SAS 10. Kamera untuk dokumentasi. 3.3. Metode Pengumpulan Data Pengukuran keterbukaan areal dilakukan dengan melakukan pengukuran didalam plot pengamatan, yang digunakan sebagai plot pengamatan yaitu adalah petak tebangan. Cara mengukur luasan areal yang terbuka akibat penebangan adalah dengan menggunakan pita ukur, sedangkan untuk pengukuran keterbukaan areal akibat penyaradan dilakukan dengan pengukuran langsung pada bekas jalan sarad dengan menggunakan pita ukur. Pengukuran kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan pemanenan hutan deilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap pohon yang rusak di sekitar pohon yang rebah yang dikelompokan berdasarkan kategori kerusakan pohon yaitu kerusakan ringan, sedang atau berat yang mengacu pada Elias (1993).
3.3.1. Pengumpulan data sekunder Pengumpulan data sekunder mencakup data potensi tegakan sebelum dilakukan kegiatan penebangan pada tiap RKT yang didapat dari Laporan Hasil Cruising (LHC), data kondisi umum perusahaan, peta kawasan pengusahaan hutan, peta pohon, peta topografi untuk menghitung kemiringan lereng dari petak tebagan yang akan diukur dan daftar nama pohon yang berada di kawasan pengusahaan hutan PT. Austral Byna. 3.3.2. Pengukuran luas areal yang terbuka 3.3.2.1. Pengukuran luas areal yang terbuka akibat penebangan Pengukuran luas areal yang terbuka akibat penebangan dapat diketahui dengan cara mengukur luas areal yang terbuka akibat penebangan satu batang pohon. Deangancara ini dapat diketahui berapa luasan yang terbuka apabila satu pohon ditebang. Parameter yang diukur adalah luasan tajuk yang terbuka akibat penebangan satu batang. Pengukuran luas areal yang terbuka akibat penebangan ini dilakukan dalam petak tebangan yang berukuran 1000 m x 1000 m atau seluas 100 ha. Pengukuran akan dilakukan terhadap luas keterbukaan setiap pohon yang telah direbahkan tersebut yang nantinya akan menggambarkan berapa luasan keterbukaan yang terjadi bila satu pohon direbahkan. Diameter pohon yang diukur adalah pohon dengan diameter 60 cm ke atas dengan pengelompokan berselang tiap 10 sentimeter yaitu 60 cm 70 cm, 71 cm 80 cm, 81 cm ke atas. Setiap kelas diameter akan diambil contoh pohonnya sebanyak 5 pohon. Dari lima pohon tersebut diambil dalam lokasi yang memiliki lereng lapangan 0-15%, 16%-25% dan 26% keatas. Jumlah pohon contoh yang diamati adalah sebanyak 45 batang pohon. Data yang diperlukan dalam pengukuran ini adalah : - Diameter pohon - Tinggi pohon - Kemiringan lapangan - Luasan areal yang terbuka setelah ditebang
3.3.2.2. Pengukuran luas areal yang terbuka akibat penyaradan, TPn dan jalan angkutan Luas areal yang terbuka akibat penyaradan adalah luas areal yang terbuka akibat jejak bulldozer atau bekas lintasan batang kayu yang disarad. Luas areal yang terbuka akibat penyaradan dapat ditentukan dengan mengukur panjang dan lebar jalan sarad berdasarkan besarnya nilai sample yang akan diambil, kemudian dihitung luas jalan sarad tersebut. Lokasi pengamatan yang diamati adalah pada petak areal kerja berukuran 1 Km x 1 Km atau 100 Ha. Perhitungan dilakukan pada seluruh daerah yang permukaan tanahnya terbuka akibat penyaradan maupun jalan angkutan dan TPn. Akan didapatkan luasan daerah yang terbuka dengan satuan luas meter persegi (m 2 ) dan kemudian setelah dilakukan perhitungan maka akan didapatkan luasan daerah yang terbuka per Hm. Perhitungan luas areal yang terbuka dilakukan dengan mencari luasan areal permukaan tanah yang terbuka akibat kegiatan penyaradan. Cara pengukurannya adalah dengan menggunakan pita ukur, diukur panjangnya (P) dan lebarnya (L) sehingga menjadi bentuk persegi. Daerah yang masuk dalam wilayah pengukuran adalah hanya bagian jalur penyaradan yang permukaan tanahnya terbuka. Bila ditemukan adanya percabangan, maka akan dicari luasan percabangan tersebut dengan membentuk percabangan tersebut menjadi bentuk segi tiga seperti terlihat di bawah. Bentuk segi tiga ini dimaksudkan untuk mempermudah pengukuran luasan keterbukaan areal sehingga mudah untuk diukur. Gambar 1 Pengukuran keterbukaan bekas jalan sarad
Parameter yang dihitung dalam pengukuran ini adalah jumlah luas areal yang terbuka akibat kegiatan penyaradan dan korelasinya terhadap jumlah tegakan yang hilang dan jumlah tegakan yang rusak akibat kegiatan penyaradan dalam lokasi pengamatan. Berdasarkan data tersebut, maka akan didapatkan berapa luas areal yang terbuka rata rata yang akan ditimbulkan oleh alat sarad (bulldozer) dan berapa jumlah rata rata tegakan yang hilang atau rusak akibat bulldozer tersebut. Data yang diperlukan dalam pengukuran ini adalah: - Lebar jalur sarad - Panjang jalur sarad - Kemiringan lapangan Dengan demikian luas areal yang terbuka akibat kegiatan pemanenan hutan dapat didapatkan dengan cara menjumlahkan luas areal yang terbuka akibat kegiatan penebangan, kegiatan penyaradan, luasan kawasan TPn dan jalan angkutan 3.3.3. Pengukuran kerusakan tegakan tinggal 3.3.3.1. Pengukuran kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan Pengukuran kerusakan tinggal ini dilakukan berdasarkan banyaknya jumlah pohon, tiang, dan pancang yang rusak akibat penebangan satu pohon. Faktor faktor yang mempengaruhi dari pengukuran ini adalah diameter pohon yang di tebang dan kemiringan lereng lapangan. Kategori dari diameter yang ditebang terbagi 3, yaitu diameter 60 70 cm, diameter 71 80 cm dan diameter 81 cm up, sedangkan pada kelas lereng terbagi 3, yaitu kemiringan lereng 0 15%, kemiringan lereng 15 25% dan kelerengan 26% keatas. Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mencari tahu pengaruh dari 2 faktor tersebut terhadap kerusakan tegakan tinggal apabila satu buah pohon ditebang. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kerusakan tegakan yang berada di sekitar pohon yang ditebang. Metode yang digunakan adalah mengamati dan mencatat pohon-pohon yang rusak disekitar pohon yang ditebang. Pohon yang ditebang yaitu pohon yang memiliki diameter lebih dari 60
cm. Data yang diperlukan dalam analisa pengukuran kerusakan tegakan tinggal ini adalah - Data pohon yang ditebang, meliputi informasi jumlah yang ditebang, jenis pohon, diameter pohon, tinggi pohon. - Jumlah dan jenis pohon yang rusak akibat penebangan. - Bentuk kerusakan pad ategakan disekitar pohon yang ditebang, yang akan dimasukan dalam kategori kerusakan yaitu ringan, sedang dan berat. - Presentase kerusakan, melalui perbandingan data jumlah pohon sebelum penebangan dengan sesudah penebangan. Dalam melakukan pengukuran, kriteria kerusakan tegakan tinggal yang digunakan adalah berdasarkan sistem TPTI, dimana pohon inti digolongkan rusak apabila mengalami kerusakan seperti patah, roboh, atau miring seperti dapat dilihat pada sub bab 3.4.2. 3.3.3.2. Pengukuran kerusakan tegakan tinggal akibat penyaradan Kerusakan tegakan tinggal yang terjadi akibat kegiatan penyaradan diindentifikasi dengan cara menghitung jumlah pohon yang rusak akibat dilalui oleh bulldozer sebagai alat sarad. Jumlah pohon yang rusak dihitung dalam jalur sarad pengamatan setiap 100 meter yang dibagi menjadi 5 bagian dengan panjang 20 meter. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam kegiatan pengukuran. Dalam setiap petak berukuran 100 hektar dilakukan pengukuran jalur sarad sebanyak 15 kali ulangan sehingga total panjang jalan sarad yang diamati kerusakannya adalah sepanjang 1500 meter. Parameter yang diukur adalah jumlah pohon, tiang dan pancang yang rusak akibat dilalui bulldozer saat dilakukannya penyaradan. Jumlah pohon yang rusak tersebut akan dihitung berapa besarnya diameter dan tinggi dari pohon tersebut, sehingga dapat diketahui berapa banyak volume kayu yang hilang dalam setiap hekto meternya.
3.4. Analisa Data 3.4.1. Analisa luas areal yang terbuka 3.4.1.1. Luas areal yang terbuka akibat penebangan Luas areal yang terbuka akibat penebangan dicatat ke dalam tally sheet dan diukur dengan cara menjumlahkan areal yang terbuka akibat penebengan pohon dalam plot pengamatan yang telah ditentukan, berdasarkan penjumlahan luas tajuk pohon yang ditebang dan luas tajuk pohon yang tumbang akibat aktivitas penebangan. Pengukuran ini dilakukan berdasarkan 2 faktor, yaitu faktor diameter pohon yang ditebang (faktor a) dan faktor kemiringan lereng (faktor b). Dalam melakukan pengukuran ini, dipilih masing masing 5 pohon pada faktor yang telah ditentukan. Pada faktor diameter pohon terbagi menjadi 3 buah kategori, yaitu diameter 60 70cm (a1), diameter 71-80 cm (a2) dan diameter 81 cm keatas (a3). Pada faktor kemiringan lereng terbagi dalam 3 kategori, yaitu kelas lereng 0 15% (b1), kelas lereng 16 25% (b2) dan kelas lereng 26% keatas (b3). Perlakuan yang diaplikasikan dua taraf, dimana pengulangan pengukuran dilakukan sebanyak 5 kali sehingga untuk penelitian diperlukan 3 x 3 x 5 = 45 pohon yang akan diamati, dapat dilihat pada tabel 2. 3.4.1.2. Pengaruh diameter dan lereng terhadap luas areal yang terbuka Faktor yang mempengaruhi besarnya keterbukaan areal adalah besaran diameter batang dan derajat lereng lapangan. Penelitian ini akan menentukan pengaruh diameter pohon dan kemiringan lereng lapangan terhadap keterbukaan areal. Rancangan percobaan yang digunakan dalam pengukuran luas luas areal yang terbuka akibat kegiatan penebangan ini adalah percobaan faktorial didalam rancangan acak lengkap dengan satuan contoh yaitu pohon yang ditebang dan 2 faktor perlakuan.
Tabel 2 Tabulasi data pengukuran keterbukaan areal akibat penebangan Diameter (cm) Kelas lereng (%) ulangan a1 (60-70) a2 (71-80) a3 (81 Up) 1 n1 a1b1 n1 a2b1 n1 a3b1 2 n2 a1b1 n2 a2b1 n2 a3b1 b1 (0-15) 3 n3 a1b1 n3 a2b1 n3 a3b1 4 n4 a1b1 n4 a2b1 n4 a3b1 5 n5 a1b1 n5 a2b1 n5 a3b1 1 n1 a1b2 n1 a2b2 n1 a3b2 2 n2 a1b2 n2 a2b2 n2 a3b2 b2 (16-25) 3 n3 a1b2 n3 a2b2 n3 a3b2 4 n4 a1b2 n4 a2b2 n4 a3b2 5 n5 a1b2 n5 a2b2 n5 a3b2 1 n1 a1b3 n1 a2b3 n1 a3b3 2 n2 a1b3 n2 a2b3 n2 a3b3 b3 (26 Up) 3 n3 a1b3 n3 a2b3 n3 a3b3 4 n4 a1b3 n4 a2b3 n4 a3b3 Keterengan : nx ai bj xn aibj 5 n5 a1b3 n5 a2b3 n5 a3b3 : Contoh pengamatan pada ulangan ke-x : Kelas diameter pohon : Kelas lereng : Luasan daerah yang terbuka saat ulangan ke-n pada tebangan pohon dengan diameter pada kelompok ai dan pada kelas kelerengan bi Model statistik yang digunakan adalah sebagai berikut (Matjik dan Sumartajaya, 2002): Y ijk = µ + i + j + ( ) ij + ijk Dimana : Y ijk = Nilai pengamatan pada suatu percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan taraf ke-i faktor a dan taraf ke-j dari faktor b. µ = Rataan umum
i j ( ) ij ijk i : 1, 2, 3,..., t ; j = 1, 2, 3,..., r dan k : 1, 2 = Pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor a = Pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor b = Pengaruh interaksi taraf ke-i faktor a dan tarf faktor b = Pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij Faktor a : Besarnya luas areal yang terbuka akibat kegiatan penebangan yang dipengaruhi oleh faktor diameter pohon yang ditebang. Kelas diameter terdiri dari a1 (50 59 cm), a2 (60 69 cm), a3 (70 cm up). Faktor b : Besarnya luas areal yang terbuka akibat kegiatan penebagan yang dipengaruhi oleh faktor kelerengan permukaan tanah. Kelerangan pada penelitian ini dibagi kedalam 3 kategori kelas lereng yang terdiri dari b1(0 15 %), b2(16 25%), b3(25% up). Untuk mengetahui perngaruh perlakuan faktor diameter pohon dan besarnya kelerengan tanah terhadap besarnya luas areal yang terbuka akibat kegiatan pemanenan ini, maka akan dilakukan analisis keragaman (ANOVA). Tabel 3 Tabel ANOVA keterbukaan areal akibat penebangan Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Nilai Harapan Kuadrat Tengah E(KY) a a-1 JKA KTA 2 + br ( 2 1 )/(a-1) b b-1 JKB KTB 2 + ar ( 2 1 )/(b-1) ab (a-1)(b-1) JKAB KTAB 2 + r ( 2 ij )/(a-1)(b-1) Galat ab(r-1) JKG KTG 2
Dimana: FK = Y2 abr JKT = a i=1 b i=1 r k=1 ijk 2 - FK JKA = Y2 ar FK JKB = Y2 br FK JKAB = JKP JKA JKB JKG = JKT - JKP Untuk membuktikan dugaan tersebut, maka model analisis dirumuskan seperti berikut (dalam melakukan pengujian analisis ini akan dilakukan dengan menggunakan program SPSS 11.0). Hipotesa : H 0 : Y f [D,K] : H i : Y = f [D,K] Dimana : Y = Luas keterbukaan permukaan tajuk, dinyatakan dalam m 2. D = Diameter pohon yang ditebang, dinyatakan dalam cm. K = Kelerengan tanah (topografi) dinyatakan dalam satuan persen. Kaedah Hipotesis. D,K : F hit F 0,95 Ho ditolak atau perlakuan memberikan pengaruh pada suatu selang kepercayaan. D,K : F hit < F 0,95 Ho diterima atau perlakuan tidak memberikan penngaruh pada suatu selang kepercayaan. Selanjutnya untuk mengetahui faktor yang berpengaruh, maka pengujian dilanjutkan dengan menggunakan uji jarak Duncan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang paling berpengaruh nyata terhadap luas areal yang terbuka akibat kegiatan penebangan. Pengaruh utama faktor A: Ho: 1 =...= 2 =0 (faktor A tidak berpengaruh) H 1 : paling sedikit ada satu i dimana 1 0
Pengaruh utama faktor B; Ho: 1 =...= 2 =0 (faktor B tidak berpengaruh) H 1 : paling sedikit ada satu j dimana 1 0 Pengaruh sederhana (interaksi) faktor A dengan faktor B: Ho: ( ) 11 = ( ) 12 =...= ( ) ab = 0 (interaksi faktor A dengan faktor B tidak berpengaruh) H 1 : paling sedikit ada sepasang (i,j) dimana ( ) ij 0 Dalam melakukan pengukuran terhadap keterbukaan ini, di lakukan juga pencatatan kerusakan tegakan tinggal yang diakibatkan oleh penebangan berdasarkan faktor yang telah ditentukan, yaitu faktor a dan faktor b. 3.4.1.3. Luas areal yang terbuka akibat penyaradan, TPn, dan jalan angkutan Luas areal yang terbuka akibat kegiatan penyaradan dicatat ke dalam tally sheet dan diukur dengan menjumlahkaan luasan permukaan tanah yang terbukan akibat jejak bulldozer atau bekas lintasan batang kayu yang disarad. Pengukuran dilakukan dengan menghitung luasan permukaan tersebut dengan mengalikan panjang dan lebarnya (P x L). Satuan contoh yang digunakan dalam pengukuran ini terdapat pada 4 lokasi yang berbeda yaitu pada petak kerja berukuran 1 Km x 1 Km atau 100 Ha yang dilaksanakan pada petak CU 52, CU 53, CW 50 dan CX 50 Parameter yang diukur adalah seluruh permukaan tanah yang terbuka akibat penyaradan, TPn maupun jalan angkutan. Hasil pengukuran luas keterbukaan ini akan mengasilkan data perhitungan dengan satuan luas m 2.
Tabel 4 Tabulasi luas keterbukaan akibat penyaradan Panjang jalan sarad Luas TPn Jalan Angkutan CU 52 CU 53 CX 50 CW 50.................................... 3.4.2. Analisa kerusakan tegakan tinggal 3.4.2.1. Tingkat kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan penebangan Data kerusakan ini diambil bersamaan dengan kegiatan pengukuran luas areal yang terbuka, dimana data kerusakan tersebut akan dikelompokan berdasarkan faktor yang telah ditentukan, yaitu faktor diameter pohon yang ditebang dan faktor topografi atau kelerengan tanah. Perlakuan yang diaplikasikan dua taraf, dimana pengulangan pengukuran dilakukan sebanyak 5 kali sehingga untuk penelitian diperlukan 3 x 3 x 5 = 45 pohon yang direbahkan untuk mengetahui jumlah kerusakannya. Bila di gambarkan dalam bentuk tabel akan seperti berikut:
Tabel 5 Tabulasi kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan Diameter (cm) Kelas lereng (%) ulangan a1 (60-70) a2 (71-80) a3 (81 Up) 1 n1 a1b1 n1 a2b1 n1 a3b1 2 n2 a1b1 n2 a2b1 n2 a3b1 b1 (0-15) 3 n3 a1b1 n3 a2b1 n3 a3b1 4 n4 a1b1 n4 a2b1 n4 a3b1 5 n5 a1b1 n5 a2b1 n5 a3b1 1 n1 a1b2 n1 a2b2 n1 a3b2 2 n2 a1b2 n2 a2b2 n2 a3b2 b2 (16-25) 3 n3 a1b2 n3 a2b2 n3 a3b2 4 n4 a1b2 n4 a2b2 n4 a3b2 5 n5 a1b2 n5 a2b2 n5 a3b2 1 n1 a1b3 n1 a2b3 n1 a3b3 2 n2 a1b3 n2 a2b3 n2 a3b3 b3 (26 Up) 3 n3 a1b3 n3 a2b3 n3 a3b3 4 n4 a1b3 n4 a2b3 n4 a3b3 Keterengan : nx ai bj xn aibj 5 n5 a1b3 n5 a2b3 n5 a3b3 : pengamatan pada ulangan ke-x : Kelas diameter pohon :Kelas kelerengan permukaan tanah. : Jumlah pohon, tiang dan pancang yang rusak saat ulangan ke-n pada tebangan pohon dengan diameter pada kelompok ai dan pada kelas kelerengan bi Menurut Elias (1993), berdasarkan populasi pohon dalam petak, kerusakan tegakan tinggal dapat dikelompokkan sebagai berikut: tingkat kerusakan ringan (<25%), tingkat kerusakan sedang (25-50%) dan tingkat kerusakan berat (>50%). Beberapa tingkat kerusakan yang terjadi pada indivudu pohon yaitu: 1. Tingkat kerusakan berat a. Patah batang. b. Pecah batang.
c. Roboh, tumbang atau miring sudut > 45 o dengan permukaan tanah. d. Rusak tajuk (>50% rusak tajuk), juga didasarkan atas banyaknya cabang pembentuk tajuk patah. e. Luka batang/rusak kulit (>1/2 keliling pohon atau 300-600 cm kulit mengalami kerusakan). f. Rusak banir/akar (>1/2 banir atau perakaran rusak/terpotong). 2. Tingkat kerusakan sedang a. Rusak tajuk (30-50% tajuk rusak atau 1/6 bagian tajuk mengalami kerusakan). b. Luka batang/rusak kulit (1/4-1/2 keliling pohon rusak atau 150-300 cm kulit rusak). c. Rusak banir/akar (1/4-1/2 banir/akar rusak atau terpotong). d. Condong atau miring (pohon miring membentuk sudut <45 o dengan tanah). 3. Tingkat kerusakan ringan a. Rusak tajuk (<30% tajuk rusak) b. Luka batang/rusak kulit (1/4-1/2 keliling dan panjang luka <1,5 m atau kerusakan sampai kambium dengan lebar lebih dari 5 cm, lebih kurang sepanjang garis sejajar sumbu longitudinal dari batang). c. Rusak banir/akar (<1/4 banir rusak atau perakaran terpotong). 3.4.2.2. Pengaruh diameter dan kelas lereng terhadap kerusakan tegakan tinggal. Untuk mengetahui peran dari besarnya diameter pohon dan lereng terhadap besarnya kerusakan tegakan tinggal, maka akan diuji dengan menggunakan analisis regresi liner dengan program SPSS 11.0. Model umum yang digunakan adalah: Model statistik yang akan digunakan adalah sebagai berikut (Matjik dan Sumartajaya, 2002): Y ijk = µ + i + j + ( ) ij + ijk
Dimana : Y ijk = Nilai pengamatan pada suatu percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan taraf ke-i faktor a dan taraf ke-j dari faktor b. µ = Rataan umum i j ( ) ij ijk i : 1, 2, 3,..., t ; j = 1, 2, 3,..., r dan k : 1, 2 = Pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor a = Pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor b = Pengaruh interaksi taraf ke-i faktor a dan tarf faktor b = Pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij Faktor a : Besarnya kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan penebangan yang dipengaruhi oleh faktor diameter pohon yang ditebang. Kelas diameter terdiri dari a1 (50 59 cm), a2 (60 69 cm), a3 (70 cm up). Faktor b : Besarnya kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan penebagan yang dipengaruhi oleh faktor kelerengan permukaan tanah. Kelerangan pada penelitian ini dibagi kedalam 3 kategori kelas lereng yang terdiri dari b1(0 15 %), b2(16 25%), b3(25% up). Untuk mengetahui perngaruh perlakuan faktor diameter pohon dan besarnya kemiringan lereng tanah terhadap besarnya kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan pemanenan ini, maka akan dilakukan analisis keragaman (ANOVA). Proses pengujian ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut:
Tabel 6 Tabel ANOVA kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Nilai Harapan Kuadrat Tengah E(KY) a a-1 JKA KTA 2 + br ( 2 1 )/(a-1) b b-1 JKB KTB 2 + ar ( 2 1 )/(b-1) ab (a-1)(b- 1) JKAB KTAB 2 + r ( 2 ij )/(a-1)(b- 1) Galat ab(r-1) JKG KTG 2 Dimana: FK = Y2 abr JKT = a i=1 b i=1 r k=1 ijk 2 - FK JKA = Y2 ar FK JKB = Y2 br FK JKAB = JKP JKA JKB JKG = JKT - JKP Untuk membuktikan dugaan tersebut, maka model analisis dirumuskan seperti berikut (dalam melakukan pengujian analisis ini akan dilakukan dengan menggunakan program SPSS 11.0). Kaedah Hipotesis Hipotesa : H i : Y = 0, diameter dan kelerengan tidak mempunyai kontribusi terhadap kerusakan tegakan tinggal. : H o : Y 0, diameter dan kelerengan mempunyai kontribusi terhadap kerusakan tegakan tinggal. D,K : F hit F 0,95 D,K : F hit < F 0,95 Ho ditolak atau perlakuan memberikan pengaruh pada suatu selang kepercayaan. Ho diterima atau perlakuan memberikan tidak memberikan penngaruh pada suatu selang kepercayaan..
Selanjutnya untuk mengetahui faktor yang berpengaruh, maka pengujian dilanjutkan dengan menggunakan uji jarak Duncan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang paling berpengaruh nyata terhadap luas areal yang terbuka akibat kegiatan penebangan. Pengaruh utama faktor A: Ho: 1 =...= 2 =0 (faktor A tidak berpengaruh) H 1 : paling sedikit ada satu i dimana 1 0 Pengaruh utama faktor B; Ho: 1 =...= 2 =0 (faktor B tidak berpengaruh) H 1 : paling sedikit ada satu j dimana 1 0 Pengaruh sederhana (interaksi) faktor A dengan faktor B: Ho: ( ) 11 = ( ) 12 =...= ( ) ab = 0 (interaksi faktor A dengan faktor B tidak berpengaruh) H 1 : paling sedikit ada sepasang (i,j) dimana ( ) ij 0 3.4.2.3. Kerusakan tegakan tinggal akibat penyaradan Jumlah kerusakan yang di dapatkan dihitung untuk mengetahui petak mana saja yang memiliki kerusakan tegakan tinggal paling tinggi serta rata rata kerusakan yang terjadi pada petak tebangan dan faktor faktor apa saja yang mempengaruhi. Pencatatan kerusakan tegakan tinggal dicatat dalam tabel seperti berikut. Tabel 7 Tabulasi kerusakan tegakan tinggal akibat penyaradan Trayek Sarad Pancang Tiang Pohon 1......... Jumlah kerusakan (Jumlah dan Volume) Jumlah kerusakan (Jumlah dan Volume) Jumlah kerusakan (Jumlah dan Volume) 15 Total.........