BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh para konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Kualitas yang baik

2. Pengawasan atas barang hasil yang telah diselesaikan. proses, tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pasar nasional negara lain. Dalam menjaga konsistensinya perusahaan

BAB 2 Landasan Teori 2.1 Total Quality Management

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

7 Basic Quality Tools. 14 Oktober 2016

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Kualitas Pengertian Kualitas Dimensi Kualitas

III. METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PENGERTIAN PENGENDALIAN KUALITAS

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. PT. Citra Tunas Baru Gramindo adalah sebuah perusahaan garmen yang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK DALAM UPAYA MENURUNKAN TINGKAT KEGAGALAN PRODUK JADI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN. Sampel merupakan sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan

BAB II LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI. 1.1 Latar Belakang Penelitian Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian Kerangka Pemikiran 6

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL. 1.1 Latar Belakang Penelitian Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian 05

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. beberapa pakar, di antaranya adalah Menurut stevenson (2014:4) manajemen

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

barang yang dihasilkan. Menurut para ahli, kualitas adalah :

BAB I PENDAHULUAN. yang pesat, baik industri dalam skala besar dan menengah, maupun dalam skala

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan kemajuan teknologi, pertumbuhan industri berkembang

Statistical Process Control

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. persaingan ketat antar industri khususnya industri rumahan atau home industry.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sebuah kegiatan usaha peranan manajemen sangatlah penting, karena

BAB III METODE PENELITIAN. dan juga produk jadi Crude Palm Oil (CPO) PT Kalimantan Sanggar Pusaka

Pendahuluan. Pengendalian Kualitas Statistika. Ayundyah Kesumawati. Prodi Statistika FMIPA-UII. September 30, 2015

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada era globalisasi ini semakin marak bemunculan perusahaan-perusahaan

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kualitas (Quality)

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan dalam bentuk apapun akan berorientasi pada pencarian laba

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Seminar Nasional IENACO 2014 ISSN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Kualitas Tenun Sarung Menggunakan Metode Statistical Quality Control Di PT. PTI Pekalongan

BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia pada tahun 1998 membuat

BAB IV METODE PENELITIAN. Perspektif pendekatan penelitian yang digunakan adalah dengan metode

BAB II LANDASAN TEORI

Sumber : PQM Consultant QC Tools Workshop module.

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Manajemen operasi merupakan salah satu dari tiga fungsi utama pada

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BAKERY BOX MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL PROCESS CONTROL (STUDI KASUS PT. X)

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Zaman sekarang ini terdapat persaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Metode Penelitian 3.3 Pengumpulan Data Pengumpulan data primer

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu peranan manajemen operasi bagi suatu perusahaan adalah membantu

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan manufaktur, sistem manajemen harus

management is defined as the design, operation, and improvement of the system that

BAB I PENDAHULUAN. Sistem kualitas begitu penting dan diperlukan dalam dunia usaha untuk dapat

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengendalian merupakan suatu proses dalam mengarahkan sekumpulan

ABSTRAK ABSTRAK. Kata Kunci : Pengendalian Kualitas, Peta kendali P, Histogram, Pareto, diagram sebab- akibat. vii. Universitas Kristen Maranatha

BAB 3 METODE PENELITIAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini perekonomian telah memasuki era globalisasi yang akan diwarnai

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan perekonomian Indonesia berada pada tingkat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Statistical Process Control

Pengendalian Kualitas Statistik. Lely Riawati

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan, baik perusahaan besar maupun kecil, pasti. membutuhkan manajemen operasi. Teknik manajemen operasi diterapkan di

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Daya saing dalam era globalisasi pada perusahaan dan industri yang

Pengendalian Mutu Statistik

BAB II LANDASAN TEORI. dihasilkan agar dapat memenuhi kebutuhan yang telah dispesifikasikan guna

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. Gramedia Cikarang yaitu dengan menggunakan metode DMAIC (Define,

BAB 2 LANDASAN TEORI

SKRIPSI. Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

MATERI V TEKNIK KENDALI MUTU. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.

BAB III LANDASAN TEORI

3. BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK GARAM PADA PT. SUSANTI MEGAH SURABAYA

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB II LANDASAN TEORI

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. PENGERTIAN PENGENDALIAN KUALITAS 2.1.1 Pengertian Pengendalian Kegiatan pengendalian dilaksanakan dengan cara memonitor keluaran (output), membandingkan dengan standart - standart, menafsirkan perbedaan - perbedaan dan mengambil tindakan untuk menyesuaikan kembali proses itu sehingga sama / sesuai dengan standar (Buffa 1999 : 109). Pengendalian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar kegiatan produksi dan operasi yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan apabila terjadi penyimpangan tersebut dapat dikoreksi sehingga apa yang diharapkan tercapai. 2.1.2 Pengertian Kualitas Dewasa ini semakin disadari akan pentingnya kualitas yang baik untuk menjaga keseimbangan kegiatan produksi dan pemasaran suatu produk. Hal ini timbul dari sikap konsumen yang menginginkan barang dengan kualitas yang terjamin dan semakin ketatnya persaingan antara perusahaan yang sejenis. Oleh karena itu pihak perusahaan perlu mengambil kebijaksanaan untuk menjaga kualitas 9

produknya agar diterima konsumen dan dapat bersaing dengan produk sejenis dari perusahaan lain serta dalam rangka menunjang program jangka panjang perusahaan yaitu mempertahankan pangsa pasar yang telah ada atau menambah pangsa pasar perusahaan. Adapun hal tersebut dapat dilakukan melalui pengendalian kualitas. Beberapa pengertian kualitas antara lain: 1. Kualitas merupakan suatu kondisi yang berhubungan dengan produk dan jasa manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan (Tjiptono, 2001 :4). 2. Kualitas merupakan totalitas bentuk dan karakteristik barang / jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk memutuskan kebutuhan - kebutuhan yang tampak jelas maupun yang tersembunyi (Render, 2001:92). 3. Kualitas merupakan jumlah dari atribut atau sifat-sifat sebagaimana dideskripsikan didalam produk produk yang bersangkutan (Ahyari,1990 : 238). 4. Kualitas adalah penentu dari keinginan pelanggan dan harapannya pada suatu tingkat harga tertentu yang menunjukkan nilai dari produk tersebut (Gaspersz,2001). Jadi dapat disimpulkan kualitas adalah totalitas bentuk, karakteristik dan atribut sebagaimana dideskripsikan di dalam produk (barang /jasa), proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan / kebutuhan konsumen. Istilah kualitas memang tidak terlepas dari manajemen kualitas yang mempelajari setiap area 10

dari management operasi, dari perencanaan lini produk dari fasilitas sampai penjadwalan. Selanjutnya ada beberapa dimensi kualitas untuk industri manufaktur dan jasa. Dimensi ini digunakan untuk melihat dari sisi manakah kualitas dinilai. Tentu saja perusahaan ada yang menggunakan salah satu dari sekian banyak dimensi kualitas yang ada. Dimensi kualitas menurut Garvin (dalam Gasperz, 1997: 3), mengidentifikasi delapan dimensi kualitas yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik kualitas barang, yaitu sebagai berikut : 1. Performa (performance) berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk. 2. Keistimewaan (features) merupakan aspek kedua dari performansi yang menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan dan pengembanganya. 3. Keandalan (reliability) berkaitan dengan kemungkinan suatu produk berfungsi secara berhasil dalam periode waktu tertentu dibawah kondisi tertentu. 4. Konformansi (conformance) berkaitan dengan tingkat kesesuain produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. 5. Daya tahan (durability) merupakan ukuran masa pakai suatu produk. 6. Kemampuan pelayanan (service ability) merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan/kesopanan, kompetensi, kemudahan, serta akurasi dalam perbaikan. 11

7. Estetika (aesthetics) merupakan karakteristik mengenai keindahan yang bersifat subjektif sehingga berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi atau pilihan individual. 8. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) bersifat subjektif, berkaitan dengan perasaan pelanggan dalam mengkonsumsi produk, seperti meningkatkan harga diri. 2.1.3 Pengertian Pengendalian Kualitas Pengendalian kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk / jasa bila diperlukan, mempertahankan kualitas produk / jasa yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah produk / jasa yang kurang baik. Terdapat beberapa definisi atau pengertian pengendalian kualitas, yaitu : 1. Menurut Feigenbaum. Pengendalian kualitas merupakan tindakan yang perlu dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan dengan jalan mengadakan pemerikasaan yang dimulai dari bahan mentah sampai bahan jadi sehingga sesuai dengan yang diinginkan. 2. Menurut Vincent Gasperzs. Pengendalian kualitas merupakan aktivitas teknik dan manajemen, dengan cara mengukur karakteristik kualitas dari ouput (barang dan atau jasa), 12

kemudian membandingkan hasil pengukuran itu dengan spesifikasi output yang diinginkan pelanggan, serta mengambil tindakan perbaikan yang tepat apabila ditemukan perbedaan antara performansi dan standar. 3. Menurut Soin Sarv Saingh. Pengendalian kualitas adalah usaha peningkatan kualitas secara berkesinambungan dari semua proses, produk, dan jasa, melalui partisipasi semua pihak terkait untuk meningkatkan kepuasan dan kesetiaan konsumen serta meningkatkan hasil usaha (bisnis). 4. Menurut Prof. Kaoru Ishikawa. Definisi pengendalian kualitas: To practice quality control is to develop, design, produce and service a quality product whict is most economical, most useful, and always satisfactory to customer. Artinya : Penetapan pengendalian kualitas adalah mengembangkan,merancang, barang atau jasa menjadi produk bermutu yang merupakan produk yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, paling bermanfaat, dan selalu dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Maka dapat disimpulkan yang dimaksud dengan pengendallian kualitas (Quality Control) adalah apakah kebijaksanaan dalam hasil mutu (Standar) dapat tercermin dari hasil akhir. Dengan kata lain qualiti control merupakan usaha untuk 13

mempertahankan mutu kualitas dari produk yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan pemimpin perusahaan. Ada banyak pengertian tentang pengendalian kualitas namun pada dasarnya adalah sama yaitu suatu system yang terdiri dari pemeriksaan, pengujian, analisa dan tindakan-tindakan yang harus diambil dengan memanfaatkan kombinasi seluruh peralatan dan teknik-teknik guna mengendalikan mutu produk/jasa dengan biaya yang minimum. Secara garis besar pengendalian kualitas dibagi kedalam tiga kegiatan pengawasan yang berbeda. 1. Pengawasan Bahan Baku. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga agar persediaan komponen dan bahan-bahan yang akan masuk kedalam proses sesuai dengan persyaratan selain itu juga bertujuan mencegah penggunaan bahan baku yang kurang sempurna atau kurang baik. 2. Pengawasan Selama Proses. Pengendalian Kualitas selama proses meliputi pemeriksaan produk tersebut mengalami berbagai fase pembuatan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya produk cacat dalam beberapa operasi pengerjaan tertentu. Kegiatan ini juga meliputi produk setengah jadi. 14

3. Pengawasan Produk Akhir. Walaupun telah dilakukan pengendalian kualitas selama proses hal ini tidak kalah pentingnya yaitu guna mencegah lolosnya produk hasil produksi yang tidak atau kurang baik keluar dari pabrik sehingga sampai ke tangan konsumen. 2.1.4 Konsep Kualitas (Quality Concept) Secara umum dapat dikatakan bahwa kualitas pada produk atau jasa itu akan dapat diwujudkan bila orientasi seluruh kegiatan perusahaan atau organisasi tersebut berorientasi terhadap kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Apabila dikatakan secara rinci, kualitas memiliki dua perspektif, perspektif produsen dan persfektif konsumen, dimana bila kedua perspektif itu digabungkan maka akan tercapai kesesuaian antara kedua sisi tersebut yang dikenal sebagai kesesuaian untuk digunakan oleh konsumen. 15

Arti Kualitas Pandangan Produsen Pandangan Konsumen Produksi Kualitas Kesesuian Kualitas Desain Pemasaran - Sesuai dengan Standar - Biaya - Karakteristik Kualitas - Harga Fitness for Costumer use Gambar 2.1 Dua Perspektif Kualitas. 16

2.2 TUJUAN PENGENDALIAN KUALITAS adalah: Secara terperinci dapat dikatakan bahwa tujuan dari pengendalian kualitas 1. Mengusahakan agar produk yang dihasilakn dapat memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. 2. Mengusahakan agar produk-produk yang rusak menjadi sekecil mungkin. Hal ini secara tidak langsung akan membantu dalam : a. Menekan biaya inspeksi serendah mungkin. b. Mengusahakan pemakaian bahan baku dan mesin-mesin seefisien mungkin. c. Menekan biaya produksi secara keseluruhan. 3. Menemukan tindakan korektif yang perlu dilakukan apabila produk tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. 4. Untuk merencanakan peningkatan prestasi produk yang diproduksi. 2.3 ANALISIS STATISTIK DALAM PENGENDALIAN KUALITAS Pengendalian mutu proses statistik yang dimaksud disisni adalah pengendalian mutu produk selama masih dalam proses. Dalam mengadakan pengendalian mutu tersebut dapat digambarkan batas atas (Upper Control Limit) dan batas bawah (Lowwer Control Limit) beserta garis tengahnya (Centre Line). 17

Pengendalian mutu proses statistik meliputi pengendalian mutu proses untuk data variable dan pengendalian mutu proses untuk data atribut. 1. Data Variable adalah data mengenai ketepatan pengukuran produk yang masih berada dalam proses dengan standar yang telah ditetapkan. Pengukuran ini meliputi pengukuran panjang, diameter, ketebalan, lebar dan sebagainya. 2. Data Atribut adalah data mengenai ketepatan pengukuran produk yang masih berada dalam proses dengan standar yang telah ditetapkan. Pengukuran ini meliputi cacat atau tidak, nyata atau tidak dan sebagainya. Metode dasar untuk dasar pengendalian kualitas adalah metode statistika yang berupa: a. Bagan Pengendalian (Control Chart). b. Inspeksi berdasarkan Sampling. Metode statistika tidak dapat dijalankan tanpa adanya data, dengan demikian data merupakan unsur yang penting didalam pelaksanaan pengendalian kualitas. Berdasarkan data ini maka kita akan memiliki landasan untuk menganalisis dan melakukan tindakan-tindakan tertentu. Fakta yang ada haruslah dapat dicari dan di tuangkan dalam bentuk data, karena itu data yang diperoleh harus teliti apakah : a. Dapat mengungkapkan fakta secara lengkap. b. Sudah sesuai dengan fakta yang sebenarnya. 18

Agar data yang diambil benar-benar mencerminkan kondisinya (fakta/ populasi) yang ada, maka proses pengambilan data harus dilaksanakan secara teliti. Kalau data tersebut harus diambil berdasarkan sampling data harus pula dilakukan berdasarkan metode statistik agar benar-benar bisa mewakili populasinya. Satu hal perlu dicacat pula ialah bahwa data yang telah dikumpulkan dianalisa dan disimpulkan harus relavan dengan permasalahan yang ada sehingga tindakan yang kemudian diambil dapat atau mampu menyelesaikan permasalahannya. 2.4 LANGKAH LANGKAH PENYELESAIAN MASALAH Untuk dapat memeberikan hasil yang maksimal sesuai prinsip pengendalian mutu terpadu, digunakan delapan langkah penyelesaian masalah, yaitu: 1. Menentukan prioritas masalah. 2. Mencari sebab-sebab yang mengakibatkan masalah. 3. Meneliti sebab-sebab yang paling berpengaruh 4. Menyusun langkah-langkah perbaikan. 5. Melaksanakan langkah-langkah perbaikan. 6. Meneliti hasil perbaikan yang dilakukan. 7. Mencegah terulangnya kembali masalah yang sama. 8. Menyelesaikan masalah selanjutnya yang belum terpecahkan. 19

Action Plan Check Do Gambar 2.2 Penerapan Delapan Langkah dalam Siklus PDCA 2.5 ALAT BANTU PEMECAHAN MASALAH Tujuh alat bantu yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah adalah : 2.5.1 Check Sheet (Lembar Pengamatan Data) Tujuan utama dari check Sheet adalah untuk memastikan bahwa data dikumpulkan secara seksama dan akurat oleh operator untuk pemecahan masalah. Check sheet merupakan suatu alat praktis untuk mengelompokkan data, berupa lembaran formulir yang sudah tercetak dengan kolom-kolom untuk diisi datadata. Berdasarkan tujuan pengumpulan data, fungsi check sheet dapat di kelompokkan 1. Menyajikan data yang berhubungan dengan distribusi proses produksi. 2. Menyajikan data yang berhubungan dengan cacat hasil produksi. 20

3. Menyajikan data yang berhubungan dengan lokasi cacat. 4. Menyajikan data yang berhubungan dengan penyebab cacat. 5. Menyajikan data yang berhubungan dengan konfirmasi pemeriksaan. Kreatifitas memegang peranan yang penting dalam mendesain check sheet, karena harus mudah digunakan dan harus berisi informasi tentang waktu dan lokasi kapanpun dibutuhkan. Langkah-langkah dalam pembuatan check sheet : 1. Identifikasi masalah, sesuai dengan tipe lembar periksa yang akan di pakai. 2. Menentukan kategori atau tipe kecacatan produk. 3. Merancang format dari check sheet. Semua baris dan kolom harus di beri nama, dan jarak yang cukup harus disediakan untuk data agar mudah pemasukan data. 4. Menyusun jadwal pengumpulan data jadwal meliputi siapa,dimana,dan kapan. 5. Mengumpulkan data. 6. Merangkum dan menganalisa check sheet. 7. Membuat check sheet dengan sederhana sehingga kesalahan yang di buat semakin sedikit. 2.5.2 Diagram Pencar (Scatter Diagram) Diagram pencar (Scatter Diagram) dipakai untuk melihat koreksi (hubungan) dari suatu factor penyebab yang berkesinambungan terhadap factor lain. 21

Dalam hal ini factor yang lain tersebut adalah merupakan karekteristik kualitas kerja. Cara membuat diagram tebar: a. Kumpulkan 50 sampai 100 pasang data yang akan diuji korelasinya. b. Gambarkan sumbu horizontal dan vertikal. Tunjukkan angka tertinggi pada sebagian atas sumbu vertical dan sebelah kanan sumbu horizontal biasanya menunjukkan akibat. c. Gambarkan data-data pada grafik dengan menggunakan sumbu horizontal dan vertical tersebut diatas. Bentuk-bentuk umum diagram tebar : y y y x x x Hubungan Positif Hubungan Negatif Tidak ada Hubungan Gambar 2.3 Diagram Pencar a. Korelasi Positif Pertambahan pada sumbu y tergantung pada pertambahan di sumbuh x, jika x dikendalikan, maka y akan terkendali pula. 22

b. Korelasi Negatif. Pertambahan pada x akan menyebabkan penurunan pada y, jika x dapat dikendalikan, maka y akan terkendali pula. c. Tidak ada korelasi. Antara x dan y tidak terlihat adanya korelasi. d. Kemungkinan ada korelasi positif Bila x bertambah y akan mengalami beberapa pertambahannya, tetapi pertambahan tersebut disebabkan pula oleh factor lain selain x. e. Kemungkinan ada korelasi negative Pertambahan pada x menyebabkan y cenderung turun. 2.5.3 Histogram Histogram adalah suatu grafik balok yang memperlihatkan suatu distribusi dari data terukur yang sudah diklasifikasikan sehingga dapat di ketahui sifat-sifat pendistribusi data dari suatu masalah yang ditinjau seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.4. Dengan mencantumkan suatu batas spesifikasi dari suatu hasil produksi yang ditinjau pada sebuah histogram yang diperoleh dari kumpulan data hasil 23

produksi tersebut, akan dapat diketahui jumlah hasil produksi yang berada di luar/ didalam batas spesifikasi yang ditentukan. Metode pembuatan Histogram : a. Misalkan jumlah data yang dihasilkan, N =100. b. Bagilah data secara kasar dalam beberapa group. Catat nilai terbesar dalam setiap group sebagai X 1 dan nilai terkecil sebagai Xs. Kemudian catat nilai X 1, terbesar dan Xs terkecil secara keseluruhan. c. Kisaran (R) dari semua data adalah: R= X 1 Xs,. Kisaran itu dapat dibagi dalam kelas-kelas dari jumlah dalam tiap kelas dapat diselidiki. Jumlah kelas (Jumlah balok histogram) ditunjukkan pada table 2.1 : Tabel 2.1 Jumlah Balok Histogram Jumlah Data(N) < 50 50 100 100-250 >250 Jumlah Kelas (K) 5 7 6 10 7 12 10-20 d. Interval kelas (h) adalah kisaran di bagi jumlah kelas. h = K R, dimana K adalah Jumlah kelas. Interval kelas ini alan di gunakan sebagai unit kenaikan histogram, dan harus dinyatakan dalam kelipatan bulat. 24

e. Batas kelas yang harus ditentukan untuk grafik balok, dimulai pada satu ujung kisaran. Selanjutnya data dalam kelas disusun satu demi satu dibuat table frequensi seperti d tunjukkan pada tabel 2.2 Tabel 2.2 Contoh Tabel Frekuensi. No. Kelas Batas Kelas Nilai Tengah Frequensi f. Kemudian pindahkan data-data tersebut ke dalam kertas grafik dan tandai batas kelas pada sumbu horizontal, sedangkan frekuensi pada sumbu vertikal. Setiap balok digambarkan sebagai sebuah kelas, ketebalan balok adalah interval kelas, nilai pusat kelas disebutkan nilai tengah Gambar 2.4 Diagram Histogram 25

2.5.4 Flow Chart ( Diagram Alir ) Secara ringkas dapat dikatakan bahwa diagram aliran merupakan gambaran menurut skala dari susunan lantai dan gedung, yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam peta aliran proses. Aktivitas yang berarti pergerakan suatu material atau orang dari suatu tempat ketempat berikutnya, dinyatakan dalam diagram tersebut. Arah aliran digambarkan oleh anak panah kecil pada aliran garis tersebut, berikut adalah manfaat dari flow chart : Untuk memahami proses Mengidentifikasi perbaikan yang mungkin dapat dilakukan Membantu pekerja untuk mengetahui, dimana posisi mereka di dalam proses Membangkitkan dukungan melalui partisipasi Frame shapping Frame welding Frame painting Engine block casting Engine assembly Final assembly Parts assembly Packaging Parts acquisition Parts finishing Shipping Parts painting Gambar 2.5 Flow Chart Perakitan Sepeda Motor 26

2.5.5 PETA KENDALI KONTROL Peta Kendali adalah sebuah grafik yang mencantumkan nilai rata-rata sebagai garis tengah (Center Line), Batas Kendali Atas (upper control limit = UCL), serta Batas Kendali Bawah (lower control limit = LCL). Manfaat peta kendali : 1. Untuk mengetahui apakah tiap titik dalam grafik ini adalah normal atau tidak normal. 2. Untuk mengetahui dan memeriksa apakah suatu proses berulang-ulang berada dalam keadaan stabil atau tidak. 3. Sebagai alat yang dapat mendeteksi kelainan yang terjadi dalam proses produksi. Peta kendali dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik data yang dikenal dengan : 1. Data variable (Variable Data), merupakan data kuantitatif yang dapat diukur/ dihitung dan dinyatakan dalam bilangan. Contoh dari data variable karakteristik kualitas adalah ketebalan produk, diameter, dan lain-lain, atau berupa ukuran seperti berat, panjang, lebar, tinggi dan volume. 2. Data Atribut (Atributes Data), merupakan data kualitatif yang tidak dapat diukur / dihitung dengan skala kuantitatif.. Contoh: banyaknya jenis cacat 27

pada suatu produk seperti tangkai penghubung mesin mobil yang bengkok, dan lain-lain. Tabel 2.3. Pengelompokkan Peta Kendali. Karakteristik Data Data Kontinu: Karakteristik Variabel Data Hitung: Karakteristik Atribut Jenis Peta Kendali Peta X-R Peta p dan np Peta u dan c 2.5.5.1 Peta Kendali X ( X -Chart) Peta ini akan menggambarkan variasi harga rata-rata (mean) dari suatu sampel lot data (data yang diklasifikasikan dalam kelompok-kelompok) yang ditarik dari suatu proses kerja. Pengelompokan data biasa dilakukan berdasarkan : - Hari atau satuan waktu lainnya dimana sampel diambil. - Kelompok atau grup-grup pekerja yang melakukan pekerjaan yang sama. Jumlah data dalam masing-masing kelompok ini dinyatakan dengan n, sedangkan jumlah sampel lots atau kelompok adalah k. Didalam pengelompokan data perlu diperhatikan data-data berikut : - Data yang diperoleh dengan kondisi teknis yang sama, dikelompokkan kedalam satu kelompok data. 28

- Jangan memasukkan data dari kelompok lain karena mungkin kondisi atau sifat kelompoknya mungkin berbeda (tidak homogeny). Variasi data akan diajukan dengan memperhatikan daerah sekitar garis sentral ( X atau grand mean), sedangkan batas-batas kontrol untuk peta X ini adalah : Batas Kontrol Atas (BKA) = X + A 2 R Batas Kontrol Bawah (BKB) = X - A 2 R Dimana A 2 adalah suatu factor yang harganya akan tergantung pada jumlah data yang diambil dalam masing-masing sampel lots (n) dan R adalah harga rata-rata dari selisih harga maksimum dan minimum dari data setiap sampel lots. Grafik 2.1 Peta Kendali X 29

2.5.5.2 Peta Kendali R (R - Chart) Peta ini akan menggambarkan variasi dari range sampel lots data yang ditarik dari suatu proses kerja. Variasi data juga akan ditunjukkan dengan memperhatikan daerah sekitar garis sentral yang dalam hal ini adalah harga range rata-rata, dan batas-batas control untuk peta R ini adalah: Batas Kontrol Atas (BKA) = D 4 R Batas Kontrol Bawah (BKB) = D 3 R sampel lot sizes (n). Seperti halnya dengan A 2, maka harga D 3 dan D 4 akan tergantung pada Grafik 2.2 Peta Kendali R 30

2.5.5.3 Peta Kendali p atau np Pengendali proporsi kesalahan (p-chart) dan banyaknya kesalahan (npchart) digunakan untuk mengetahui apakah cacat produk yang dihasilkan masih dalam batas yang disyaratkan. Untuk peta pengendali proporsi dan banyak digunakan bila kita memakai ukuran cacat berupa proporsi produk cacat dalam setiap sample yang diambil. Bila sample yang diambil untuk setiap kali melakukan observasi jumlahnya sama maka kita dapat menggunakan peta pengendali proporsi kesalahan (p-chart) maupun banyaknya kesalahan (np-chart). Namun bila sample yang diambil bervariasi untuk setiap kali melakukan observasi berubah-ubah jumlahnya atau memang perusahaan tersebut akan melakukan 100% inspeksi maka kita harus menggunakan peta pengendali proporsi (p-chart). Penggunaan sample yang besarnya bervariasi tersebut selain karena perusahaan menggunakan 100% inspeksi atau inspeksi total, juga dapat disebabkan karena kurangnya karyawan dan biaya. Perubahan dalam banyaknya sample yang diambil atau ukuran sub kelompok tersebut menyebabkan perubahan dalam batasbatas pengendali, meskipun garis pusatnya tetap. Untuk p-chart banyaknya sample yang bervariasi peta pengendali yang digunakan pasti hanya peta pengendali proporsi kesalahan (p-chart), bukan banyaknya kesalahan (np-chart). Namun peta pengendali proporsi kesalahan tersebut mempunyai tiga pilihan model, yaitu menggunakan peta pengendali harian/individu, 31

peta pengendali model rata-rata, dan peta pengendali dengan model yang dibuat menurut urutan banyaknya sample berdasarkan pertimbangan perusahaan. Peta Pengendali Model Rata-Rata : Garis Pusat (GP) p = (GP) p = n Sedangkan batas pengendali atas dan batas pengendali bawahnya adalah : Sample rata ratanya adalah : Dimana : xi = banyaknya kesalahan setiap sample pada setiap kali observasi n = sample rata rata g = banyaknya observasi n = banyaknya sample 32

Grafik 2.3 Peta Kendali - p Grafik 2.4 Peta Kendali np 33

2.5.5.4 Peta Kendali c atau u Peta pengendali ini digunakan untuk mengadakan pengujian terhadap kualitas proses produksi dengan mengetahui banyaknya kesalahan pada satu unit produk sebagai samplenya. Bedanya, untuk jumlah sample yang konstan dapat digunakan peta pengendali banyaknya kesalahan dalam satu unit produk yang sama atau peta pengendali c (c-chart) maupun peta pengendali u (u-chart). Tetapi apabila yang diambil bervariasi atau memang seluruh produk yang dihasilkan akan diuji, maka digunakan peta pengendali banyaknya kesalahan dalam satu unit produk yang berbeda atau peta pengendali u (u-chart). Grafik 2.5 Peta Kendali c 34

Grafik 2.6 Peta Kendali - u 2.5.6 Diagram Pareto Diagram ini diperkenalkan pertama kali oleh seorang ahli ekonomi dari Italia bernama VILFREDO PARETO (1848-1923). Diagram pareto ini merupakan suatu gambar yang mengurutkan klsifikasi data dari kiri ke kanan menurut urutan rangking tertinggi hingga terendah. Hal ini dapat membantu menemukan permasalahan yang paling (rangking tertinggi) sampai dengan masalah yang tidak harus segera diselesaikan (rangking terendah). Diagram pareto juga dapat mengidentifikasi masalah yang paling penting yang mempengaruhi usaha perbaikan kualitas dan memberikan petunjuk dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk menyelesaikan masalah (Mitra,1993). 35

Selain itu, Diagram Pareto juga dapat digunakan untuk membandingkan kondisi proses, misalnya ketidaksesuaian proses sebelum dan setelah diambil tindakan perbaikan terhadap proses tersebut. Penyusunan Diagram Pareto sangat sederhana, menurut Mitra (1993) dan Besterfield (1998), proses penyusunan Diagram Pareto meliputi enam langkah, yaitu : 1. Menentukan metode atau arti dari pengklasifikasian data, misalnya berdasarkan masalah, penyebab, jenis ketidak sesuaian, dan sebagainya. 2. Menentukan satuan yang digunakan untuk membuat urutan karakteristikkarakteritik tersebut, misalnya rupiah, frekuensi, unit, dan sebagainya. 3. Mengumpulkan data sesuai dengan interval waktu yang telah ditentukan. 4. Merangkum data dan dan membuat rangking kategori data tersebut dari yang terbesar hingga yang terkecil. 5. Menghitung frekuensi kumulatif atau persentase kumulatif yang digunakan. 6. Menggambar diagram batang, menunjukkan tingkat kepentingan relative masing-masing masalah. Kegunaan dari Diagram Pareto adalah : - Menunjukkan persoalan utama yang dominan dan perlu segera diatasi. - Menyatakan perbandingan masing-masing persoalan yang ada dan kumulatif secara keseluruhan. 36

- Menunjukkan tingkat perbaikan setelah tindakan koreksi dilakukan pada daerah yang terbatas. - Menunjukkan perbandingan masing-masing persoalan sebelum dan sesudah perbaikan. Diagram pareto memberikan petunjuk kepada kita masalah apa yang harus diselesaikan terlebih dahulu, dan menentukan atau mengetahui penyebab utama yang paling dominan dalam suatu masalah. Gambar 2.5 Diagram Pareto 37

2.5.7 Diagram Sebab Akibat (Fish-Bone Diagram) Diagram sebab-akibat dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun 1943, sehingga sering disebut dengan Diagram Ishikawa. Diagram sebab-akibat menggambarkan garis dan simbol-simbol yang menunjukkan hubungan antara akibat dan penyebab suatu masalah. Diagram tersebut memang digunakan untuk mengetahui akibat dari suatu masalah untuk selanjutnya diambil tindakan perbaikan dari akibat tersebut kemudian dicari beberapa kemungkinan penyebabnya. Penyebab masalah ini pun dapat dari berbagai sumber utama, misalnya metode kerja, bahan baku, manusia, lingkungan, dan seterusnya. Selanjutnya, dari sumber-sumber utama tersebut diturunkan menjadi beberapa sumber yang lebih kecil dan mendetail, misalnya dari metode kerja dapat diturunkan menjadi pelatihan, pengetahuan, kemampuan, karakteristik fisik, dan sebagainya. Untuk mencari berbagai penyebab dapat digunakan teknik brainstorming (sumbang saran) dari seluruh personil yang terlibat dalam proses yang sedang dianalisis. Manfaat diagram sebab-akibat antara lain : 1. Dapat menggunakan kondisi yang sesungguhnya untuk tujuan perbaikan kualitas produk atau jasa, lebih efisien dalam penggunaan sumber daya, dan dapat mengurangi biaya. 2. Dapat mengurangi dan menghilangkan kondisi yang menyebabkan ketidak sesuain produk atau jasa dan keluhan pelanggan. 38

3. Dapat membuat suatu standarisasi operasi yang mauapun yang direncanakan. 4. Dapat memberikan pendidikan dan pelatihan bagi pekerja dalam kegiatan pembuatan keputusan dan melakukan tindakan perbaikan. Langkah umum pembuatan diagram sebab akibat : a. Tuliskan karakteristik mutu yang akan diperbaiki dan di kendalikan, dimana untuk itu harus ditemukan penyebabnya. b. Tulislah karakteristik mutu pada sisi kanan. Gambarlah panah besar dari sisi kiri ke kanan (panah utama). c. Tulis faktor utama yang mungkin menyebabkan terjadinya karakteristik mutu tersebut dan mengarahkan panahnya masing-masing kepanah utama. d. Kemudian Tulis faktor rincian yang di anggap sebagai penyebab dari faktor utama tersebut. e. Periksa dan pastikan bahwa semua faktor rincian yang menjadi penyebab dari faktor utama telah masuk ke dalam diagram. 39

Gambar 2.6 Diagram Sebab Akibat ( Fish-Bone Diagram) 40