BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 PENJELASAN ISTILAH

BAB III METODE PENELITIAN. Untuk memperoleh data lapangan guna. penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Perjamuan kudus merupakan perintah Tuhan sendiri, seperti terdapat dalam Matius 26:26-29, Mar

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 Majelis Agung GKJW, Tata dan Pranata GKJW, Pranata tentang jabatan-jabatan khusu, Bab II-V, Malang,

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin

UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Bab I Pendahuluan UKDW

@UKDW BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi baik itu organisasi profit. maupun non profit memiliki kebijakan mutasi.

PERATURAN BANUA NIHA KERISO PROTESTAN NOMOR: 07/BPMS-BNKP/2008 tentang PELAYAN BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE BNKP

UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENGORGANISASIAN BAGIAN PERTAMA GEREJA. Pasal 1 LOGO, MARS, DAN HYMNE

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1.LATAR BELAKANG

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V PENUTUP. Pada bagian ini akan di paparkan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah

PARA PENDETA DAN PARA PELAYAN JEMAAT LAINNYA PELAJARAN 9

BAB I PENDAHULUAN. 1 Dengan sengaja ditulis Calvinis, bukan Kalvinis, karena istilah ini berasal dari nama Johannes Calvin.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN

BAB V KESIMPULAN. Di dalam Alkitab, setidaknya terdapat tiga peristiwa duka dimana Yesus

Dalam rangka mewujudkan kehidupan bergereja yang lebih baik, GKJ Krapyak mempunyai strategi pelayanan kemajelisan sebagai berikut :

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB V. Penutup: Refleksi, Kesimpulan dan Saran

BAB I PENDAHULUAN. 1 Dra.Ny.Singgih D.Gunarsa, Psikologi Untuk Keluarga, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988 hal. 82

TATA GEREJA PEMBUKAAN

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar belakang

BAB V PENUTUP. diberikan saran penulis berupa usulan dan saran bagi GMIT serta pendeta weekend.

TATA DASAR TATA DASAR

BAB I PENDAHULUAN. hidup dalam komunitas sebagai anggota gereja (Gereja sebagai Institusi). 1

3. Sistem Rekrutmen Pengerja Gereja (vikaris) Gereja Kristen Sumba

BAB I PENDAHULUAN. memanggil mereka di dalam dan melalui Yesus Kristus. 1 Ada tiga komponen. gelap kepada terang, dari dosa kepada kebenaran.

BAB II MANAJEMEN ASSET GEREJA. Manajemen adalah bagaimana mencapai tujuan organisasi dengan

Panduan Administrasi. Kompleks Istana Mekar Wangi Taman Mekar Agung III No. 16 Bandung Telp ; Website:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1

BAB V PENUTUP. budaya Jawa terhadap liturgi GKJ adalah ada kesulitan besar pada tata

BAB I PENDAHULUAN. kemandirian dalam bidang daya dan kemandirian dalam bidang dana. 1 Kemandirian dalam

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB IV ANALISA PEMAHAMAN MENGENAI BENTUK-BENTUK PELAYANAN KOMISI DOA DI JEMAAT GPIB BETHESDA SIDOARJO SESUAI DENGAN

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, 1999, hlm 30

UKDW BAB I PENDAHULUAN

Bekerja Dengan Para Pemimpin

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG

PETUNJUK TEKNIS PENYUSUNAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan. Pelayanan kepada anak dan remaja di gereja adalah suatu bidang

BAB I

Gereja Menyediakan Persekutuan

TATA GEREJA (TATA DASAR, TATA LAKSANA, DAN TATA ATURAN TAMBAHAN) SERTA PENGAKUAN-PENGAKUAN IMAN GEREJA KRISTEN IMMANUEL

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum

BAB I Pendahuluan UKDW

BAB I. A. Latar belakang permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sejarah misi terdahulu di Indonesia yang dikerjakan oleh Zending Belanda, orang

BAB I PENDAHULUAN. dianutnya. Setiap orang memilih satu agama dengan bermacam-macam alasan, antara

Bab I Pendahuluan Bdk. Pranata Tentang Sakramen dalam Tata dan Pranata GKJW, (Malang: Majelis Agung GKJW, 1996), hlm.

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Pendidikan Agama Kristen Protestan

TATA GEREJA Gereja Kristen Immanuel Edisi SR XX TATA GEREJA. Gereja Kristen Immanuel. Edisi SR XX. Sinode Gereja Kristen Immanuel

BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI

Pendeta merupakan jabatan penting dalam gereja Kristen. Jabatan pendeta sampai saat ini

BAB I PENDAHULUAN. kepada semua orang agar merasakan dan mengalami sukacita, karena itu pelayan-pelayan

BAB I P E N D A H U L U A N. menghargai orang yang menderita itu. Salah satunya dengan memanfaatkan metodemetode konseling dari ilmu psikologi.

1 Wawancara dengan bpk sumarsono dan remaja di panti asuhan Yakobus

BAB I PENDAHULUAN. 1 M.M. Srisetyati Haryadi, PengantarAgronomi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002, p

KEPUTUSAN PIMPINAN PUSAT GKPS Nomor: 99/SK-1-PP/2013 tentang TATA GEREJA dan PERATURAN RUMAH TANGGA GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN (GKPS)

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai mahluk religius (homo religious), manusia memiliki

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Oikumenikal dan Evangelikal.

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi saat ini, banyak orang. yang menulis dan meneliti tentang sumber daya

BAB V : KEPEMIMPINAN GEREJAWI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang

BAB I PENDAHULUAN. sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi Tuhan dalam konsep Tritunggal.

PENGARUH PEMBINAAN ROHANI TERHADAP KEAKTIFAN KAUM MUDA DALAM PELAYANAN DI GEREJA KRISTEN HOLISTIK JEMAAT SERENITY MAKASSAR SKRIPSI

BAB V PENUTUP. Bab ini menyajikan kesimpulan dari hasil. penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan yang. diambil kemudian menjadi dasar penyusunan

Pdt Gerry CJ Takaria

BAB I PENDAHULUAN 1. PERMASALAHAN

I.1. PERMASALAHAN I.1.1.

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan. Gereja merupakan sebuah wadah yang seharusnya aktif untuk dapat

MANFAAT PENELITIAN UNTUK PERKEMBANGAN GEREJA Hary Purwanto STT Simpson Ungaran

Bab I PENDAHULUAN. Perubahan tersebut juga berimbas kepada Gereja. Menurut Tata Gereja GKJ, Gereja adalah

UKDW. Bab I. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. menaklukkan Jayakarta dan memberinya nama Batavia 1. Batavia dijadikan sebagai

UKDW. Bab I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi mempunyai tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Permasalahan. A.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dengan keberadaannya. Dari ajaran resmi yang dituangkan di dalam Pokok-

Bab 1 PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tana Toraja merupakan salah satu daerah yang memiliki penduduk mayoritas beragama Kristen. Oleh karena itu bukan hal yang mengherankan lagi jikalau kita menjumpai gedung-gedung gereja mulai dari kota sampai ke pelosok-pelosok daerah. Kekristenan di Toraja pertama kali diperkenalkan oleh seorang Zendeling dari Nederlandse Hervormde Kerk (NHK) bernama van de Loosdrecht. 1 Awalnya anggota-anggota zending ini ditolak masyarakat Toraja karena masyarakat Toraja masih sangat kental dengan kebudayaannya. Kebudayaan yang sudah berakar dalam kehidupan masyarakat Toraja ini sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat sehingga Injil sulit diterima oleh masyarakat Toraja. Namun pada akhirnya Injil bisa mulai diterima oleh masyarakat Toraja karena van de Loosdrecht berusaha mengkontekstualisasikan injil dengan kebudayaan yang sudah berakar di masyarakat Toraja. Ketika kekristenan mulai berkembang dan banyak jiwa-jiwa yang menyerahkan dirinya untuk dibaptis, maka para Zending membentuk suatu perkumpulan orang-orang Kristen yang dilembagakan menjadi Gereja Toraja. Perkumpulan ini dimaksudkan agar orang-orang Kristen pertama mampu mengelola hal-hal yang menyangkut bidang kerohanian, keuangan dan organisasi secara mandiri, kemandirian ini dalam rangka membina persekutuan, kesaksian dan pelayanan bagi jemaat setempat. 2 Upaya-upaya yang dilakukan oleh Zending ini mengacu pada proses untuk memampukan jemaat mengelola segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan dari perkumpulan tersebut. Kemandirian perkumpulan ini dibawahi oleh sebuah institusi Sinode Gereja Toraja, dimana institusi tersebut berfungsi untuk mengurus pelbagai kebutuhan yang diperlukan oleh gereja-gereja yang sudah didewasakan. Sejak awal kemandirian jemaat Toraja sampai sekarang, persoalan yang masih menjadi pergumulan gereja-gereja adalah kurangnya tenaga pelayan (SDM) yang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. 3 Kurangnya tenaga Pelayan (SDM) masih menjadi fenomena dalam Gereja Toraja sekarang ini. Dimana masih ada gereja-gereja yang belum memiliki tenaga pelayan yang memadai. Fenomena ketiadaan pendeta ini terjadi dipelbagai Gereja Toraja, salah satunya adalah di Gereja Toraja 1 Th. van den End, Sumber-Sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja 1901-1961, Jakarta, BPK Gunung Mulia, (1994), hlm.19 2 Th. van den End, Sumber-Sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja 1901-1961, Jakarta, BPK Gunung Mulia, (1994), hlm. 23

2 (klasis Sesean) yang terdiri dari 17 gereja dewasa tetapi hanya memiliki 6 pendeta dalam satu klasis. 4 Padahal idealnya adalah gereja yang sudah mandiri (didewasakan) harus memiliki seorang pemimpin minimal satu orang yang dapat dipercaya untuk memegang jabatan kependetaan. Karena dalam kehidupan bergereja sendiri ada tiga jabatan sebagai struktur dasar gereja yaitu: pendeta, penatua dan diaken yang dijadikan sebagai pusat tata jemaat. Dari ketiga jabatan ini yang belum dapat dipenuhi oleh sebagian Gereja Toraja khususnya di daerah pedesaan adalah jabatan seorang pendeta. 5 Ketiadaan jabatan seorang pendeta dalam satu gereja akan menimbulkan masalah dalam struktur gereja. Masalah struktur gereja yang tidak lengkap karena ketiadaan pendeta ini belum dapat teratasi dengan baik. Padahal gereja merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk membina dan membimbing pertumbuhan iman jemaat. Dalam pembinaan dan pembimbingan kepada jemaat, peran seorang pendeta dalam keterpanggilannya untuk melaksanakan fungsifungsi pastoralnya sangat diperlukan. Fungsi-fungsi ini sudah termasuk memimpin kebaktian, berkhotbah, melayani sakramen, melayani kelompok dan individu-individu serta sebagai perwakilan Allah dalam jemaat. Maka dari itu Peranan pendeta dipelbagai gereja tentu sangat berharga karena selain sebagai pelayan firman, juga berperan sebagai penilik di gereja tempat dimana pendeta tersebut melayani. Saat ini peranan pendeta di Gereja Toraja sangat diperlukan melihat kondisi keimanan warga jemaat banyak mengalami kemerosotan. Kemerosotan ini dapat dilihat dari perilaku warga jemaat yang banyak terseret ke dalam arus negatif globalisasi dan modernisasi seperti terlibat narkoba, premanisme dan sex bebas dikalangan generasi muda, berbagai bentuk perjudian dan foya-foya, kurang berempati terhadap kondisi masyarakat yang berkembang di sekelilingnya. 6 Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masyarakat Toraja ini bukan hanya karena pengaruh negatif globalisasi dan modernisme tetapi pengaruh dari budaya dan adat-istiadat yang harus dilestarikan oleh orang-orang Toraja secara turun temurun. Karena sebelum adanya globalisasi dan modernisme, masyarakat Toraja sudah mengenal dan melakukan berbagai bentuk perjudian dan foya-foya (pemborosan) yang merupakan bagian dari proses adat. Kondisi jemaat yang demikan sangat membutuhkan sosok pendeta yang bisa membina, menggembalakan dan menyadarkan mereka. 4 Laporan badan pekerja sidang sinode AM XXII Gereja Toraja, (2006), hlm. 156 5 Laporan badan pekerja sidang sinode AM XXII Gereja Toraja, (2006), hlm. 152-159 6 Laporan badan pekerja sidang sinode AM XXII Gereja Toraja, (2006), bidang materi

3 Menurut Calvin gereja merupakan mata rantai penghubung antara orang-orang percaya dan Kristus. Oleh karena itu dibutuhkan pelayan-pelayan yang sudah diberikan Anugerah (kharisma) untuk melayani. Calvin mencoba menjelaskan tugas gereja yang sesungguhnya dengan mengatakan bahwa Allah menetapkan pelayan-pelayan, melalui para pelayan gerejawi, Allah yang memerintah gereja-nya. Dalam hal penugasan bagi orang-orang yang dipercaya untuk memegang jabatan gerejawi diantaranya pendeta, penatua dan diaken, diharapkan mampu menjalankan perannya masing-masing, bertanggung jawab dengan keteraturan gereja dan menjaga persekutuan gereja agar tidak terpecah. Dengan tidak bermaksud mengecilkan peranan dari jabatan penatua dan diaken, peranan pendeta dalam jemaat sangat penting dan berharga dalam pengembangan spiritual jemaat. Oleh karena itu pendeta yang sudah memiliki kharisma dalam jemaat ditugaskan untuk mengajar, memimpin, menggembalakan dan membina jemaat, demi untuk keteraturan dan ketertiban dalam pelayanan gerejawi. Adanya pemisahan jabatan dalam gereja karena setiap orang diberikan oleh Allah karunia (kharisma) untuk melayani. 7 Calvin juga memiliki pendapat yang demikian dengan mengatakan bahwa adalah tugas setiap orang untuk melayani Allah dengan sepenuh hati dan melakukan pekerjaannya di bidang yang Allah telah menempatkannya. 8 Fenomena ketiadaan pendeta di 11 gereja dari 17 gereja yang terdapat di klasis Sesean, membuat pendeta-pendeta yang berada di klasis Sesean berusaha mengatasinya dengan membagi wilayah pelayanan dengan 6 orang pendeta yang melayani didaerah tersebut. Jadi ada sebagian gereja yang hanya mendapat kunjungan pendeta bila ada hari-hari besar gereja atau tugas kotbah. Padahal sesungguhnya jabatan pendeta bukan hanya hadir dalam gereja pada hari-hari tertentu saja tetapi tugas pendeta Gereja Toraja adalah seperti yang ditetapkan dalam tata gereja Toraja pasal 13 yaitu: 9 Melayani pemberitaan firman Tuhan. Melayani sakramen, melayani katekisasi, meneguhkan pejabatpejabat khusus, meneguhkan dan melaksanakan pemberkatan nikah anggota-anggota jemaat, bersamasama dengan penatua dan syamas memelihara, melayani dan memerintah/memimpin jemaat berdasarkan firman Tuhan serta menjalankan disiplin gerejawi, memberitakan injil ke dalam dan ke luar jemaat, mengunjungi anggota jemaat, memegang teguh rahasia jabatan. Tata gereja yang dibuat ini dimaksudkan untuk menciptakan keteraturan dalam kehidupan bergereja dan para pelayan khususnya pendeta dapat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya 7 Andar Ismail, Awam dan Pendeta Mitra Membina Gereja, Jakarta, BPK Gunung Mulia, (2003), hlm. 7 8 Andar Ismail, Awam dan Pendeta Mitra Membina Gereja, Jakarta, BPK Gunung Mulia, (2003), hlm. 13 9 Tata Gereja Toraja pasal 13

4 dengan jelas. Melihat tata gereja di atas, dengan jelas menyatakan bahwa tugas dari pendeta bukan hanya melayani khotbah dan sakramen tetapi pendeta diharapkan dapat berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan warga jemaat. Tata gereja yang sudah ada ini akan menjadi pedoman bagi pendeta ketika berada di gereja untuk melaksanakan tugas pelayanannya. Kehadiran seorang pendeta akan sangat mendukung aktivitas kerohanian warga jemaat karena selain menyampaikan firman Tuhan, pendeta juga dapat mengkomunikasikan injil lewat pembinaan spiritual warga jemaat. Pendeta harus memiliki kualitas pelayanan yang baik, memiliki jiwa kepekaan yang tinggi dalam melihat kebutuhan-kebutuhan rohaniah warga jemaat. Dalam melaksanakan tugas kependetaannya, pendeta tersebut akan menghadapi segala bentuk ragam kebutuhan pastoral. Selain itu pendeta juga dibutuhkan untuk memimpin dan membantu warga jemaat dalam usaha mengorganisir suatu hidup gerejawi yang mandiri. B. RUMUSAN PERMASALAHAN Berdasarkan latar belakang permasalahan yang penulis sudah paparkan di atas maka ada beberapa pertanyaan yang akan diangkat penulis menjadi pokok permasalahan yaitu : 1. Sejauhmanakah tugas jabatan pendeta yang diatur dalam tata Gereja Toraja, harus diikuti oleh pendeta untuk menunaikan tugas dan tanggung jawabnya dalam pelayanannya di Gereja Toraja klasis Sesean? 2. Sejauhmanakah tugas pendeta dalam melaksanakan fungsi-fungsinya yang sudah dirumuskan dalam tata Gereja Toraja masih relevan dalam jemaat pedesaan khususnya di Gereja Toraja klasis Sesean? 3. Sejauhmanakah peranan pendeta dalam kenyataannya membina dan membimbing warga jemaat di Gereja Toraja klasis Sesean? C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui praktek pelaksanaan jabatan tugas pendeta di Gereja Toraja klasis Sesean. 2. Untuk mengetahui relevansi tugas pendeta dalam memenuhi kebutuhan di Gereja Toraja klasis Sesean khususnya dalam hal kerohanian. 3. Untuk mengetahui peran, kontribusi dan dampak yang diberikan oleh pendeta dalam pembinaan dan pengembangkan kehidupan rohaniah warga jemaat di Gereja Toraja klasis Sesean.

5 D. RUMUSAN JUDUL Berdasarkan dari permasalahan yang telah diuraikan di atas maka skripsi ini akan diberi judul: RELEVANSI TUGAS PENDETA DALAM JEMAAT PEDESAAN DI GEREJA TORAJA KLASIS SESEAN Jabatan pendeta merupakan salah satu bagian dari struktur gerejawi yang ada di Gereja Toraja. Dengan jabatan tersebut Sinode merumuskan beberapa tugas pendeta yang harus dilaksanakan oleh pendeta dalam pelayanan. Rumusan tugas pendeta ini akan penulis amati relevansi pelaksanaan tugasnya berkaitan dengan penugasan seorang pendeta dalam melayani lebih dari dua gereja. E. METODE PENELITIAN 1. Jenis penelitian Dalam pelaksanaan penelitian ini penulis akan menggunakan pendekatan kualitatif. Kualitatif yang sifatnya deskriptif, menguraikan dan mengeksplorasi fakta-fakta yang ada dan terjadi di Gereja Toraja klasis Sesean. Penelitian ini akan diarahkan untuk melihat, memandang dan merasakan langsung realitas kehidupan bergereja di jemaat Gereja Toraja klasis Sesean. Dalam penelitian ini penulis akan mengacu pada relevansi tugas pendeta dalam jemaat pedesaan Gereja Toraja klasis Sesean. Realitas fungsionalisasi peran dan tugas pendeta dalam tata Gereja Toraja, konsep dan penghayatan warga jemaat terhadap kehadiran seorang pendeta dalam gereja serta tinjauan dari relevansi tugas pendeta dalam hubungannya dengan pemahaman warga jemaat akan seorang pendeta. Penelitian ini penulis akan batasi hanya pada pendeta dan di Gereja Toraja klasis Sesean. Adapun keterlibatan dari Sinode Gereja Toraja dalam hal ini untuk mendapatkan data-data dan dokumen-dokumen Gereja Toraja. Dalam proses analisanya, penulis akan menggunakan analisa data secara induktif. Untuk pengambilan datanya penulis akan menggunakan metode pengamatan dan wawancara langsung dengan pendeta dan warga jemaat yang menjadi objek penelitiannya. 2. Metode pengumpulan data Wawancara Wawancara ini untuk mengumpulkan informasi-informasi dari orang-orang yang merasakan kejadian tersebut dan dapat berinteraksi langsung dengan kehidupan warga jemaat di klasis

6 Sesean. Dengan proses wawancara ini penulis berharap tidak hanya mendapatkan data dari fakta yang terlihat saja tetapi juga dapat melalui apa yang dirasakan dan didengar. Dalam melakukan wawancara ini peneliti akan menggunakan wawancara terstruktur, artinya pertanyaan-pertanyaan terbuka yang akan diajukan ini sudah dirumuskan dengan cermat. Wawancara terstruktur ini untuk memperoleh informasi yang relevan dengan masalah yang ada di Gereja Toraja klasis Sesean terkait dengan relevansi tugas pendeta. Pengamatan Dalam proses ini, peneliti akan terlibat langsung dalam kehidupan warga jemaat yang diteliti, termasuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh warga jemaat di Gereja Toraja klasis Sesean. Pengamatan ini untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dalam melihat dan mengamati sendiri kejadian yang sebenarnya. Seperti pelaksanaan tugas pendeta dalam gereja dan warga jemaat, partisispasi warga jemaat dalam mengikuti kegiatan gerejawi, hubungan antara pendeta dan warga jemaat serta melihat perkembangan dan pertumbuhan warga jemaat dan gereja. G. HIPOTESA Dari uraian yang penulis sudah paparkan pada latar balakang permasalahan maka penulis memberikan hipotesa yaitu: 1. Penulis melihat bahwa rumusan jabatan tugas pendeta yang diatur dalam tata Gereja Toraja khususnya pasal 13 tidak relevan untuk dilakukan seorang pendeta saja, dengan melihat kondisi warga jemaat pedesaan, karena rumusan tersebut memperlihatkan bahwa tugas pendeta dalam gereja harus merangkap segalanya (multifungsional) padahal pendeta harus melayani dibeberapa gereja. Fungsi-fungsi pendeta dalam gereja, harus menjadi seorang pemberita Injil, gembala, pengajar dan pelayan diakonia. Tentu saja tugas pendeta yang multifungsi ini tidak dapat dilakukan oleh pendeta secara holistik melihat begitu banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh pendeta. 2. Jabatan tugas pendeta secara teologis-praktis tidak lagi dapat berfungsi dengan baik di Gereja Toraja klasis Sesean karena tugas-tugas pendeta yang sudah menjadi ketetapan dalam tata Gereja Toraja pasal 13 tidak bisa menjangkau seluruh kebutuhan warga jemaat Sesean jika hanya dilakukan oleh pendeta.

7 G. SISTIMATIKA PENULISAN BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini penulis akan mengemukakan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, rumusan judul, metode penelitian, hipotesa dan sistimatika penulisan. BAB II REALITAS FUNGSIONALISASI PERAN DAN TUGAS PENDETA DALAM JEMAAT GEREJA TORAJA KLASIS SESEAN Bagian ini akan membahas tentang kenyataan yang dilaksanakan oleh pendeta di Gereja Toraja klasis Sesean berkaitan dengan peran dan tugasnya. Dimana peran dan tugas pendeta akan menjadi pedoman bagi penulis untuk melihat seberapa besar pengaruh yang dihadirkan oleh pendeta dalam memenuhi kebutuhan warga jemaat yang dilayaninya, yang akan didasarkan pada peran dan tugas pendeta dalam warga jemaat Sesean. BAB III KONSEP DAN PENGHAYATAN JEMAAT TERHADAP KEHADIRAN SEORANG PENDETA DALAM GEREJA Melalui bab ini penulis akan mengetahui bagaimana pandangan-pandangan warga jemaat dengan hadirnya seorang pendeta dalam melaksanakan pelayanan gerejawi. Apakah dengan kehadiran seorang pendeta ini memberikan kontribusi yang baik dalam kehidupan warga jemaat dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan warga jemaat baik dalam hal kerohanian maupun dalam bidang pastoral. BAB IV TINJAUAN MENGENAI RELEVANSI TUGAS PENDETA DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PEMAHAMAN JEMAAT AKAN SEORANG PENDETA Bagian ini akan menguraikan data-data yang telah didapatkan di lapangan mengenai relavansi tugas pendeta dalam warga jemaat pedesaan. Data ini akan diuraikan dan dieksplorasikan sehingga akan didapat masihkan relevan tugas pendeta yang sudah diatur dalam tata Gereja Toraja dengan kondisi warga jemaat yang ada di pedesaan.

8 BAB V KESIMPULAN Bab ini berisi tentang kesimpulan atas apa yang telah ditulis dalam bab II, III, IV, dan suatu sumbangan pemikiran berkaitan dengan masalah yang telah diuraikan dalam bab IV.