PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS OTAK (BRAIN BASED LEARNING) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA BIOLOGI PESERTA DIDIK KELAS VIII SMPN 7 MATARAM TAHUN AJARAN 2016/2017 ARTIKEL PENELITIAN Oleh: LIA SARI RAHMATIN NIM. E1A 012 020 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM 2017
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS MATARAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Jl. Majapahit No. 62 Mataram NTB 83125 Telp. (0370) 623873 PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING Skripsi yang disusun oleh: Lia Sari Rahmatin (E1A012020) dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Otak (Brain Based Learning) terhadap Hasil Belajar IPA Biologi Peserta Didik Kelas VIII SMPN 7 Mataram Tahun Ajaran 2016/2017, telah diperiksa dan diuji pada tanggal 24 Desember 2016. Dosen Pembimbing I, Mengetahui: Mataram, 23 Februari 2017 Dosen Pembimbing II, (Prof. Dr. H. Muhlis, M.Si.) (Afriana Azizah, M.Pd) NIP. 195902181984031002 NIP. 19770410200812 2 003)
1 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS OTAK (BRAIN BASED LEARNING) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA BIOLOGI PESERTA DIDIK KELAS VIII SMPN 7 MATARAM TAHUN AJARAN 2016/2017 Lia Sari Rahmatin 1), Muhlis 2), Afriana Azizah 3) 1) Maha Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Mataram 2)3) Dosen Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Mataram Jalan Majapahit No. 62, Mataram E-Mail: Liasipit06@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) terhadap hasil belajar IPA Biologi peserta didik kelas VIII SMPN 7 Mataram tahun ajaran 2016/2017. Jenis penelitian ini adalah: penelitian semu (quasi experiment). Desain penelitian yang digunakan yaitu: Pre-test and Post-test Group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu: seluruh peserta didik kelas VIII SMPN 7 Mataram tahun ajaran 2016/2017. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling dimana kelas VIII.1 dan kelas VIII.7 secara berurut terpilih sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: tes pilihan ganda untuk mengukur hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif. Hasil uji-t untuk data hasil belajar kognitif didapatkan bahwa: t hitung > t tabel (3,29 > 1,99), sehingga dapat disimpulkan bahwa: model pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) berpengaruh terhadap hasil belajar IPA Biologi peserta didik kelas VIII SMPN 7 Mataram tahun ajaran 2016/2017. Kata Kunci: Model Pembelajaran Berbasis Otak (Brain Based Learning), Hasil Belajar
2 THE INFLUENCE OF BRAIN BASED LEARNING MODEL TO THE STUDENT S ACHIEVMENT ON LEARNING BIOLOGY FOR THE SECOND GRADE STUDENTS OF SMPN 7 MATARAM IN THE ACADEMIC YEAR OF 2016/2017 Lia Sari Rahmatin 1), Muhlis 2), Afriana Azizah 3) 1) Student of Biology Education, FKIP, University of Mataram 2)3) Lecturer of Biology Education, FKIP, University of Mataram Street Majapahit No. 62, Mataram E-Mail: Liasipit06@gmail.com ABSTRACT The aim of this research is to know the influence of brain based learning model to the student s achievement on learning biology for the second grade students of SMPN 7 Mataram in the academic year of 2016/2017. This research is a quasi experiment research. The design was used in this research is pre-test and post-test group design. Population of this research were all the second grade students of SMPN 7 Mataram in the academic year of 2016/2017. The sample was determined by using purposive sampling in which VIII.1 and VIII.7 selected as the experimental and control classes respectively. The instrument that used for this research were multiple choice test to measure the student s learning achievement for cognitive domain. The result of t-test for cognitive domain showed that t count > t table (3,29 > 1,99). Furthermore, based on the t-test score, it can be concluded that the brain based learning model can significantly affect the student s achievement on learning biology for the second grade students of SMPN 7 Mataram in the academic year of 2016/2017. Key words: Brain Based learning Model, Learning Achievment.
3 PENDAHULUAN Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 19 mengamanatkan agar pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Hal ini menunjukan bahwa mengajar yang didesain guru harus berorientasi pada aktivitas peserta didik [1]. Berdasarkan landasan hukum tersebut diatas, maka diharapkan sistem pendidikan di Indonesia dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan agar tercapainya tujuan pendidikan yaitu: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu: yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan [2]. Tercapainya tujuan pendidikan Nasional tidak terlepas dari proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung disekolah. Pembelajaran memiliki dua aspek penting yaitu: aspek hasil belajar yakni perubahan perilaku pada diri peserta didik dan aspek proses belajar yakni sejumlah pengalaman intelektual, emosional, dan fisik pada diri peserta didik. Proses belajar merupakan aspek yang sangat penting guna memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik sehingga dapat dicapai pembelajaran yang bermakna [3]. Kecenderungan umum yang hadir diruang kelas sekolah kita adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang relatif hanya memfungsikan otak kecil semata, dimana proses pembelajaran yang terjadi bersifat teacher-centered dengan menjadikan peserta didik sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menghafal materi pembelajaran, mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman jika melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya. Kecenderungan seperti ini tentu akan membuat peserta didik tertekan dalam belajar atau dapat dikatakan peserta didik belajar apa yang diinginkan gurunya untuk dipelajari, bukan apa yang ingin mereka pelajari. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya sehingga peserta didik menjadi malas berpikir secara mandiri [4]. Biologi merupakan mata pelajaran yang termasuk dalam rumpun ilmu pengetahuan alam (IPA atau sains). Ilmu sains berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis. Pembelajaran Biologi di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam kehidupan seharihari. Sehubungan dengan itu, pembelajaran biologi menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran Biologi diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar [5]. Berdasarkan hal
4 tersebut, maka diharapkan pembelajaran IPA yang dilakukan tidak hanya sekedar proses transfer ilmu dari guru kepada peserta didik melainkan menjadikan pembelajaran lebih bermakna dengan membuat peserta didik aktif secara fisik maupun mental dalam belajar, sehingga pembelajaran yang terjadi tidak terlalu berorientasi pada guru (teachercentered) melainkan pada peserta didik (student-centered). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru ilmu pengetahuan alam (IPA) di SMP Negeri 7 Mataram pada bulan Januari tahun 2016 menunjukkan bahwa pembelajaran IPA yang dilakukan masih menekankan kepada pembelajaran yang bersifat teachercentered dengan metode pembelajaran yang paling sering digunakan guru adalah metode ceramah. Ketika dilakukan pembelajaran dengan metode ceramah, peserta didik terlihat kurang aktif dan kurang memperhatikan pelajaran yang berlangsung. Hal ini terlihat dari beberapa peserta didik yang bermain dan mengobrol dengan teman sebangkunya, menggambar di buku tulis, dan mengantuk. Hal ini tentu diakibatkan oleh pembelajaran yang dianggap kurang menarik bagi peserta didik. Jika situasi pembelajaran seperti ini terus dipertahankan, maka akan berdampak buruk terhadap hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas guru dalam menyusun dan menerapkan berbagai model ataupun metode pembelajaran yang bervariasi agar peserta didik lebih tertarik dalam belajar IPA. Seseorang akan belajar dengan segenap kemampuannya apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat didalamnya [4]. Oleh karenanya, penggunaan model ataupun metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi peserta didik akan membuat peserta didik senang terlibat didalam pembelajaran tersebut sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Salah satu alternatif yang dapat ditawarkan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning). Pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) adalah: belajar sesuai dengan cara otak dirancang secara alamiah untuk belajar [6]. Pembelajaran berbasis otak menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak peserta didik [4]. Model ini sangat sesuai untuk menarik perhatian peserta didik dalam belajar. Pada implementasinya, pembelajaran berbasis otak menawarkan tiga strategi utama dalam pembelajaran IPA yakni: 1) menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir peserta didik; 2) menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan; 3) dan menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi peserta didik, sehingga diharapkan hasil belajar peserta didik akan meningkat dengan menggunakan model pembelajaran berbasis otak [6]. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan suatu penelitian tentang: Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Otak (Brain Based Learning) Terhadap Hasil Belajar IPA Biologi Peserta Didik kelas VIII SMPN 7 Mataram Tahun Ajaran 2016/2017.
5 METODE Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif bersifat eksperimen semu (quasy experimental) karena tidak semua variabel luar yang dapat mempengaruhi penelitian bisa dikendalikan oleh peneliti [7]. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September tahun 2016 di SMPN 7 Mataram tahun ajaran 2016/2017. Populasi dalam penelitian ini adalah: seluruh peserta didik kelas VIII SMP Negeri 7 Mataram tahun ajaran 2016/2017 yang terbagi menjadi 13 kelas. Pengambilan jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara purposive sampling sehingga didapatkan Kelas VIII.1 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII.7 sebagai kelas kontrol. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah: model pembelajaran berbasis otak (brain based learning), sedangkan variabel terikatnya yaitu: hasil belajar IPA Biologi. Instrumen yang digunakan adalah lembar tes hasil belajar kognitif berupa soal pilihan ganda. Analisis uji hipotesis hasil belajar kognitif menggunakan uji t desain 4 [8]. HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil belajar yang diperoleh dalam penelitian ini berupa nilai Pre-test dan Post-test dari peserta didik kelompok eksperimen (kelas VIII.1) dan kelompok kontrol (kelas VIII.7). Data hasil pre-test untuk kelas kontrol memperoleh nilai tertinggi 64 dan nilai terendah 32 dengan nilai ratarata 49,11, sedangkan di kelas eksperimen diperoleh nilai pre-test tertinggi 72 dan nilai terendah 28 dengan nilai rata-rata 50,04. Data hasil post-test untuk kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran Brain Based Learning memperoleh nilai tertinggi 92 dan nilai terendah 40 dengan nilai rata-rata 73,87, sedangkan di kelas kontrol yang diberikan perlakuan dengan metode ceramah memperoleh nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 44 dengan nilai ratarata 65,11. 120 100 80 60 40 20 0 Skor Tertinggi Skor Rata- rata Terendah Pretest Skor Tertinggi Skor Rata- rata Terendah Posttest Kontrol Eksperimen Gambar 1 Diagram batang nilai pre-test dan post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol Berdasarkan nilai pre-test kelas kontrol dan kelas eksperimen menunjukkan bahwa: kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki kemampuan awal yang sama atau tidak berbeda secara signifikan. Rata-rata hasil pre-test peserta didik di kedua kelas dapat dikatakan berkategori rendah. Hal ini terjadi karena peserta didik diberikan soal tes tentang sistem gerak yang materinya belum pernah disampaikan dalam pembelajaran di kelas, sehingga nilai pre-test dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum diberikan perlakuan berupa: model pembelajaran berbasis otak (brain based learning) maupun metode ceramah. Berbeda
6 halnya setelah diberikan perlakuan pada kedua kelas menunjukkan bahwa: terjadi peningkatan hasil belajar kognitif pada kedua kelas. Rata-rata nilai post-test kelas eksperimen meningkat lebih signifikan dari kelas kontrol. sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis otak (brain based learning) efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif IPA Biologi peserta didik. Ditinjau dari perbandingan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol terhadap nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) mata pelajaran IPA di SMPN 7 Mataram diketahui bahwa persentase peserta didik yang lulus KKM setelah diberikan perlakuan pada kelas eksperimen yaitu: sebesar 72,3 %, sedangkan pada kelas kontrol peserta didik yang lulus yaitu: sebesar 25,5 %, sehingga, dapat dikatakan bahwa: persentase kelulusan peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Tabel 1 Perbandingan Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol dengan KKM Kelompok Eksperimen Kontrol Tes Jumlah Siswa Pretest 1 47 Posttest 34 Pretest 0 47 Posttest 12 Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 70 Belum Lulus Lulus 46 13 47 35 Prosentase Kelulusan 2,1 % 72,3 % 0 % 25,5 % Uji yang digunakan untuk melihat pengaruh model pembelajaran berbasis otak (brain based learning) terhadap hasil belajar peserta didik yakni: dengan menggunakan uji-t. Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu melakukan uji prasyarat hipotesis yang terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. Dari uji prasyarat hipotesis yang dilakukan diperoleh bahwa data terdistribusi normal dan bersifat homogen. Tabel 2 Uji Hipotesis Hasil Belajar Kelas Eksperimen Kontrol 3,29 1,99 Kesimpulan H a diterima Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, hasil uji hipotesis menunjukkan: nilai t hitung adalah: 3,29, pada taraf signifikan 5% diperoleh harga t tabel = 1,99, karena nilai t hitung > t tabel maka berlaku H 0 ditolak dan H a diterima. Sehingga, dapat nyatakan bahwa: model pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) berpengaruh terhadap hasil belajar IPA Biologi peserta didik. Hasil penelitian sejalan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait model pembelajaran brain based leaening yang menyatakan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran brain based leaening dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar kognitif peserta didik [9]; [10]; [11]; [12]. Hal ini dikarenakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis otak dapat menciptakan atmosfer pembelajaran yang berbeda jika dibandingkan dengan pembelajaran dengan metode ceramah yang diberikan
7 pada kelas kontrol. Tiga strategi utama yang dikembangkan dalam implementasi Brain Based Learning yakni: menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir peserta didik, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi peserta didik [6]. Ketiga strategi tersebut yang guru coba terapkan pada pembelajaran dikelas eksperimen. Pemberian soalsoal berupa LKPD, lembar refleksi, serta tanya jawab yang dilakukan pada peserta didik memicu terjadinya lingkungan pembelajaran yang menantang kemampuan berpikir peserta didik. Mengiringi kegiatan pembelajaran dengan musik-musik instrumental, dan melakukan peregangan otot dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik, sehingga peserta didik menyukai jalannya pembelajaran dan senang terlibat didalamnya. Seseorang akan belajar dengan segenap kemampuannya apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat didalamnya [4]. Melalui kegiatan mengobservasi dan diskusi kelompok, peserta didik dituntut untuk membangun pengetahuannya melalui proses belajar aktif yang dilakukan secara mandiri sehingga tercipta situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna (active learning). Berbeda halnya dengan metode ceramah yang diterapkan pada kelas kontrol, pembelajaran terkesan monoton dan peserta didik cenderung lebih pasif karena hanya mendengarkan penjelasan yang disampaikan guru. Sebagian peserta didik menjadi bosan dan tidak tertarik mengikuti jalannya pembelajaran. Peserta didik cenderung sebagai objek belajar sehingga peserta didik tidak mampu membangkitkan semua potensi yang dimilikinya secara optimal sehingga berdampak pada kurang maksimalnya hasil belajar yang didapatkan. Sintaks pembelajaran yang ditawarkan model pembelajaran Brain based learning dapat memicu peserta didik dalam mengoptimalkan potensi otaknya dengan baik dalam pembelajaran. Terdapat 7 tahap pembelajaran Brain based learning yakni: tahap pra-persiapan, tahap persiapan, tahap inisiasi dan akuisisi, tahap elaborasi, tahap inkubasi dan pembentukan memori, tahap verifikasi dan pengecekan keyakinan, dan tahap perayaan dan integrasi [6]. Salah satu poin yang lakukan pada tahap prapersiapan adalah: menampilkan peta konsep terkait materi yang diajarkan. Hal ini penting sebagai point of view bagi peserta didik untuk memberikan gambaran tentang apa yang akan dipelajari ketika proses pembelajaran. Pada tahap persiapan, guru memberikan apersepsi yang sangat penting bagi peserta didik untuk mengingat kembali materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Pada tahap inkubasi dan pembentukan memori, peserta didik diminta untuk melakukan peregangan otot, selain itu peserta didik juga diminta untuk menggali kembali pengetahuan yang didapatkan terkait materi yang diajarkan pada lembar
8 refleksi yang sudah disediakan sambil diperdengarkan musik instrumental. Tahapan-tahapan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan potensi otak peserta didik dalam belajar. Dengan demikian, hasil belajar peserta didik dapat meningkat. Untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran yang terjadi didalam kelas, maka dilakukan observasi oleh observer dengan mengecek kesesuaian sintaks kegiatan pembelajaran yang tercantum di dalam RPP dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik melalui lembar observasi keterlaksanaan RPP yang menunjukkan bahwa: semua kegiatan pembelajaran telah terlaksana dengan sangat baik. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: Harga (3,29 > 1,99) dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa: model pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) berpengaruh terhadap hasil belajar IPA Biologi peserta didik kelas VIII SMPN 7 Mataram tahun ajaran 2016/2017. Saran Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai referensi untuk meneliti efektifitas pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) pada pokok bahasan yang lain serta meneliti perbandingan model pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) dengan model pembelajaran lainnya. DAFTAR PUSTAKA [1] Republik Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.Sekretariat Negara. Jakarta. [2] Republik Indonesia. 1989. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sekretariat Negara. Jakarta [3] Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. [4] Mufidah, L. L. N. 2014. Brain Based Teaching and Learning. Yogyakarta. Teras. [5] Lamudin, 2013. Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam Peningkatan Aktivitas dan Penguasaan Materi Sistem Peredaran Darah Kelas XI Semester Ganjil SMAN 13 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013. Skripsi. Lampung: Universitas Lampung.
[6] Jensen, E. 2011. Brain-Based Learning: Pembelajaran Berbasis Otak: Paradigma Pengajaran Baru. Jakarta: PT Indeks [7] Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & B. Bandung: Alfabeta. [8] Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian.Jakarta: PT. Rineka Cipta [9] Mustiada, I. G. A., Agung, A. A. G., Antari, N. N. M. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran BBL (Brain Based Learning) Bermuatan Karakter Terhadap Hasil Belajar IPA. Singaraja: Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol. 2 No. 1 Tahun 2014). Belajar IPA antara Model Pembelajaran Brain Based Learning dan Group Investigation Pada Siswa Kelas IV SD. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha. [12] Yuda, G. P. I., Dantes, N., Sulastri, M. (2012). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Otak (Brain Based Learning) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri di Desa Sinabun. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha. [10] Witariani, P. E., Dantes, N., Tika, I. N. (2014). Pengaruh Model Brain Based Learning Berbantuan Media Visual Terhadap Hasil Belajar IPA Ditinjau Dari Sikap Ilmiah Siswa Kelas V SD Gugus I Kecamatan Banjar Tahun Pelajaran 2013/2014. e-journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014). [11] Windhari, G. A. E., Sedanayasa. G., Sumantri, M. (2012). Studi Komparasi Hasil