BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Peneliti menggunakan jenis PTK kolaboratif. PTK kolaboratif yaitu kerja sama antara peneliti dengan guru kelas. 3.1.2. Subjek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 01 Sugihan Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan dengan jumlah siswa 35 yang terdiri dari 21 siswa lakilaki dan 14 siswa perempuan. Peneliti sebagai pelaku tindakan dan siswa sebagai pembelajar. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga petani sehingga kebanyakan orang tua siswa kurang mampu untuk membelikan buku-buku penunjang untuk belajar. 3.1.3. Waktu Penelitian Peneliti merencanakan penelitian pada semester genap tahun ajaran 2011/ 2012 yaitu bulan Februari sampai bulan Maret 2012 dan diharapkan pada akhir bulan Maret 2012 penelitian ini dapat selesai seperti yang sudah direncanakan. 3.2. Variabel Penelitian Tugas pertama yang dihadapi dalam penelitian tindakan kelas ialah pemilihan dan perumusan masalah. Persoalan penelitian ialah persoalan tentang hubungan variabel-variabel. Dalam penelitian dikenal beberapa macam variabel. Menurut Prayitno (2008: 9), variabel dibedakan menjadi dua yaitu : a. Variabel Terikat (Variabel Dependen) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain yang sifatnya tidak dapat berdiri sendiri. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat dan hasil belajar. 22
23 a. Variabel Bebas (Variabel Independen) adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain yang sifatnya berdiri sendiri. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. 3.3. Rencana Tindakan Pelaksanaan tiap siklus dalam penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang terdiri dari dua siklus. Rancangan Kemmis & Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai. Model tersebut digambarkan sebagai berikut: Gambar 3.1. Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis & Taggart
24 3.3.1. Kegiatan Siklus 1 a. Rencana Tindakan 1) Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilakukan penelitian. 2) Menyusun perangkat pembelajaran, meliputi: a. Rencana pembelajaran siklus 1 b. Lembar Kerja Siswa c. Lembar Pengamatan d. Lembar Angket Minat e. Mempersiapkan alat peraga yang dipergunakan. b. Pelaksanaan Tindakan 1) Kegiatan Awal a. Sebagai apersepsi, peserta didik diingatkan kembali tentang kompetensi dasar berkaitan dengan materi yang dipelajari b. Memberi motivasi agar peserta didik tertarik untuk mengikuti pelajaran yaitu dengan mempelajari sumber daya alam kita dapat menjadi insinyur pertanian, insinyur pertambangan dan energi. c. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. 2) Kegiatan Inti a. Tahap Kooperatif a) Peserta didik dibagi dalam tujuh kelompok kecil yang anggotanya lima orang dan diberi nomor kepala A, B, C, D, E b) Kepada setiap kelompok dibagikan tugas yang tidak sama, masingmasing nomor kepala mendapat tugas yang berbeda c) Tugas disajikan dalam bentuk lembaran kegiatan peserta didik (LKS) yang dipersiapkan oleh peneliti. b. Tahap Ahli Peserta didik yang menerima wacana yang sama (yang berasal dari masing-masing kelompok kooperatif), membahas wacana atau tugas
25 dengan diskusi atau bekerja sama dan mempersiapkan diri untuk menyampaikan hasil diskusinya kepada masing-masing anggota kelompok kooperatif asal. c. Tahap Kooperatif Asal a) Setiap anggota kembali ke kelompok kooperatif masing-masing yang telah menjadi ahli dan mengajarkan atau menginformasikan hasil diskusi kelompok ahli secara bergiliran. b) Setiap kelompok menyusun laporan secara tertulis. c) Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas d) Guru melakukan tanya jawab yang berkaitan dengan masalah yang belum terpecahkan. 3) Kegiatan Penutup a. Memberi penekanan tentang konsep penting yang harus dikuasai peserta didik b. Membantu peserta didik menarik kesimpulan c. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan. c. Pengamatan Pada kegiatan ini peneliti melakukan pengamatan terhadap: 1) Kegiatan guru dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus 1. 2) Kemampuan guru dalam mengelola kelas. 3) Kegiatan peserta didik dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus 1. 4) Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. 5) Kemampuan guru dalam meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses diskusi kelompok 6) Keaktifan peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung. 7) Hasil belajar peserta didik dalam evaluasi pembelajaran siklus
26 d. Refleksi Hasil analisis yang dikumpulkan pada tahap perbaikan pembelajaran siklus 1, didiskusikan dengan guru kelas kemudian didiskripsikan. Hasilnya digunakan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan hasil pembelajaran siklus 1 dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang kemudian dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk melaksanakan tindakan untuk siklus selanjutnya guna mencapai hasil yang lebih baik. 3.3.2. Kegiatan Siklus 2 a. Rencana Tindakan 1) Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilakukan penelitian 2) Menyusun perangkat pembelajaran, meliputi: a. Rencana pembelajaran siklus 2 b. Lembar Kerja Siswa c. Lembar Pengamatan d. Lembar Angket Minat 3) Merencanakan pengelolaan kelas dengan baik 4) Mempersiapkan alat peraga yang dipergunakan b. Pelaksanaan Tindakan 1) Kegiatan Awal a. Sebagai apersepsi, peserta didik diingatkan kembali tentang kompetensi dasar berkaitan dengan materi yang dipelajari b. Memberi motivasi agar peserta didik tertarik untuk mengikuti pelajaran yaitu menunjukkan berbagai produk (kecap, perhiasan, buku, baju) c. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.
27 2) Kegiatan Inti a. Tahap Kooperatif a) Peserta didik dibagi dalam tujuh kelompok yang anggotanya lima orang dan diberi nomor kepala A, B, C, D, E b) Kepada setiap kelompok dibagikan tugas yang tidak sama, masingmasing nomor kepala mendapat tugas yang berbeda c) Tugas disajikan dalam bentuk lembaran kegiatan peserta didik (LKS) yang dipersiapkan oleh peneliti. b. Tahap Ahli Peserta didik yang menerima wacana yang sama (yang berasal dari masing-masing kelompok kooperatif), membahas wacana atau tugas dengan diskusi atau bekerja sama dan mempersiapkan diri untuk menyampaikan hasil diskusinya kepada masing-masing anggota kelompok kooperatif asal. c. Tahap Kooperatif Asal a) Setiap anggota kembali ke kelompok kooperatif masing-masing yang telah menjadi ahli dan mengajarkan atau menginformasikan hasil diskusi kelompok ahli secara bergiliran b) Setiap kelompok menyusun laporan secara tertulis. c) Guru melakukan tanya jawab yang berkaitan dengan masalah yang belum terpecahkan. d) Memberikan kuis untuk dijawab dalam kelompok. 3) Kegiatan Penutup a. Memberi penekanan tentang konsep penting yang harus dikuasai peserta didik b. Membantu peserta didik menarik kesimpulan c. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan.
28 c. Pengamatan Pada kegiatan ini peneliti melakukan pengamatan terhadap: 1) Kegiatan guru dalam pelaksanaan pembelajaran siklus 2 2) Kemampuan guru dalam mengelola kelas 3) Kegiatan peserta didik selama pelaksanaan pembelajaran siklus 2 4) Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw 5) Kemampuan guru dalam meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses diskusi kelompok 6) Keaktifan peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung. 7) Hasil belajar peserta didik dalam evaluasi pembelajaran siklus d. Refleksi Hasil analisis yang dikumpulkan pada tahap perbaikan pembelajaran siklus 2, didiskusikan dengan guru kelas kemudian didiskripsikan. Hasilnya digunakan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan hasil perbaikan pembelajaran siklus 2 dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang kemudian dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk melaksanakan tindakan untuk siklus selanjutnya guna mencapai hasil yang lebih baik. 3.4. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.4.1. Teknik Pengumpulan Data a. Tes Tes digunakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan proses belajar mengajar yang dilakukan pada akhir kegiatan tiap-tiap siklus (post tes) dengan memberikan sejumlah soal tes kepada subjek penelitian. Dalam pengumpulan data alat yang digunakan berupa soal test sesuai dengan materi. Kisi-kisi tes dapat dilihat di lampiran 5. b. Pengamatan Untuk mengetahui perkembangan kegiatan belajar siswa dilakukan teknik pengamatan. Observer bertugas untuk melakukan pengamatan dan penilaian melalui
29 pengisian lembar pengamatan siswa dan kegiatan mengajar guru pada setiap pertemuan. Observasi dilakukan di kelas IV SD Negeri 01 Sugihan oleh guru kelas V. Kisi-kisi lembar pengamatan dapat dilihat di lampiran 5. c. Angket Angket yang digunakan adalah angket minat. Angket yang digunakan disini merupakan angket tertutup, artinya angket yang pengisianya memberikan centang atau menyilang dari beberapa item yang telah ditentukan oleh peneliti. Kisi-kisi angket dapat dilihat di lampiran 5. 3.4.2. Instrumen Pengumpulan Data a. Butir soal tes Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan mengerjakan tes manfaat sumber daya alam dan kegiatan ekonomi penduduk. b. Lembar pengamatan Lembar pengamatan digunakan untuk mengamati cara guru mengajar dan perilaku siswa saat proses pembelajaran berlangsung sampai akhir pembelajaran. Hal yang diamati adalah aktivitas siswa dalam materi pemanfaatan sumber daya alam dan kegiatan ekonomi penduduk. c. Lembar Angket Minat Angket minat digunakan untuk mengetahui minat siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Angket yang digunakan berupa angket tertutup. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan perspepsinya. 3.5. Indikator Kinerja Indikator kinerja adalah penanda yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan berhasil tidaknya penelitian yang dilakukan. Untuk mengukur keberhasilan tiap-tiap siklus dalam penelitian tindakan kelas ini, tolok ukurnya adalah sebagai berikut:
30 a. Sistem belajar tuntas yaitu pencapaian nilai KKM 63. Keberhasilan belajar diukur apabila setiap siswa telah mencapai nilai 63 maka dikatakan berhasil tuntas dan apabila sebanyak 80% siswa telah mencapai nilai 63 maka dikatakan tuntas secara klasikal. b. Meningkatnya prosentase hasil angket minat belajar siswa dari sebelum tindakan ke sesudah tindakan dan telah mencapai kategori yang lebih baik. Dalam menghitung interval frekuensi minat digunakan rumus: Interval : 125 25 : = 20 5 Hasil ini akan menunjukkan kemampuan subyek penelitian terhadap kemampuan variabel yang diukur. Sedangkan indikator minat dapat diukur dengan mengunakan interval skala berikut ini: Tabel 3.1 Interval Indikator Minat Interval Skala Kategori Minat 25 45 Sangat Kurang Berminat 46 65 Kurang Berminat 66 85 Cukup Berminat 86 105 Berminat 106 125 Sangat Berminat 3.6. Uji Validitas dan Reliabilitas Instumen Menurut Sugiyono (2011: 121), instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas perlu dilakukan agar instrumen yang dipakai dalam penelitian memang benar-benar
31 mengukur kemampuan yang akan diukur. Menurut Muhidin (2007: 47), untuk menafsirkan hasil uji validitas, kriteria yang digunakan adalah: a. Jika nilai hitung r lebih besar (>) dari nilai tabel r maka item angket dinyatakan valid dan dapat dipergunakan, atau b. Jika nilai hitung r lebih kecil (<) dari nilai tabel r maka item angket dinyatakan tidak valid dan tidak dapat dipergunakan c. Nilai tabel r dapat dilihat pada a = 5% dan db = n-2 Menurut Sugiyono (2011: 121), instrumen yang reliabel adalah instrumen yang apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian harus diuji tingkat reliabilitasnya. Menurut George dan Mallery dalam Azwar (2005: 29), tingkat reliabilitas instrumen yang digunakan mengikuti ketentuan sebagai berikut: α 0,7 : tidak dapat diterima 0,7 < α 0,8 : dapat diterima 0,8 < α 0,9 : reliabilitas bagus α > 0,9 : reliabilitas memuaskan 3.6.1. Uji Validitas dan Reliabilitas Angket Minat Berdasarkan kriteria yang didefinisikan oleh Suparno yang kemudian dijabarkan dalam item-item spesifik, maka item-item variabel minat perlu diadakan uji validitasnya. Validitas dihitung dengan menggunakan penghitungan SPSS 16.0 for Windows. Uji coba instrumen dilakukan di SD N Sugihan 03 Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan dengan jumlah 26 siswa maka nilai tabel r adalah 0,388. Jadi instrument angket valid jika koefisien corrected item to total correlation> 0,388. Hasil uji validitas diketahui dari 32 item yang diuji validitasnya ada 25 item yang valid dan 7 item yang tidak valid. Instrumen angket minat setelah dikurangi item yang tidak valid diuji tingkat reliabilitasnya dengan Cronbach`s Alpha sebesar 0,954 dari 25 item yang diuji. Menurut George dan Mallery dalam Mawardi (2005: 62),
32 Cronbach`s Alpha 0,954 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang memuaskan. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian. 3.6.2. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes 3.6.2.1. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes Siklus 1 a. Uji Validitas Soal Siklus 1 (Pilihan Ganda) Uji coba instrumen dilakukan di SD N Polobogo 1 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang dengan jumlah 22 siswa maka nilai tabel r adalah 0,423. Hasil penghitungan validitas item pada instrumen soal tes siklus 1 dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Jadi instrumen soal valid jika koefisien corrected item to total correlation> 0,423. Hasil uji validitas diketahui dari 25 item yang diuji validitasnya ada 21 item yang valid dan 4 item yang tidak valid. Instrumen soal setelah dikurangi item yang tidak valid diuji tingkat reliabilitasnya dengan Cronbach`s Alpha sebesar 0,909 dari 21 item yang diuji. Menurut George dan Mallery dalam Mawardi (2005: 62), Cronbach`s Alpha 0,895 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang memuaskan. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian. b. Uji Validitas Soal Siklus 1 (Isian) Hasil uji validitas dari 15 item ada 12 item yang valid dan 3 item yang tidak valid. Instrumen soal setelah dikurangi item yang tidak valid diuji tingkat reliabilitasnya dengan Cronbach`s Alpha sebesar 0,880 dari 12 item yang diuji. Menurut George dan Mallery dalam Mawardi (2005: 62), Cronbach`s Alpha 0,871 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang bagus. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian. 3.6.2.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes Siklus 2 a. Uji Validitas Soal Siklus 2 (Pilihan Ganda) Uji coba instrumen dilakukan di SD N Sidorejo Lor 01 Salatiga dengan jumlah 28 siswa maka nilai tabel r adalah 0,374. Hasil penghitungan validitas item pada instrumen soal tes siklus 1 dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Jadi instrumen soal valid jika koefisien corrected item to total correlation> 0,374.
33 Hasil uji validitas diketahui dari 25 item yang diuji validitasnya ada 21 item yang valid dan 4 item yang tidak valid. Instrumen soal setelah dikurangi item yang tidak valid diuji tingkat reliabilitasnya dengan Cronbach`s Alpha sebesar 0,899 dari 21 item yang diuji. Menurut George dan Mallery dalam Mawardi (2005: 62), Cronbach`s Alpha 0,899 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang bagus. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian. b. Uji Validitas Soal Siklus 2 (Isian) Hasil uji validitas dari 15 item yang diuji validitasnya ada 10 item yang valid dan 5 item yang tidak valid. Instrumen soal setelah dikurangi item yang tidak valid diuji tingkat reliabilitasnya dengan Cronbach`s Alpha sebesar 0,851 dari 10 item yang diuji. Menurut George dan Mallery dalam Mawardi (2005: 62), Cronbach`s Alpha 0,841 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang bagus. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian. 3.7. Uji Taraf Kesukaran Asumsi yang digunakan untuk memperoleh kualitas soal yang baik, di samping memenuhi validitas dan reliabilitas, adalah adanya keseimbangan dari tingkat kesulitan soal tersebut. Keseimbangan yang dimaksudkan adalah adanya soalsoal yang termasuk mudah, sedang dan sukar secara proporsional. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan kriteria soal yang termasuk mudah, sedang dan sukar (Sudjana, 2011: 137). Untuk menentukan indeks kesukaran digunakan rumus sebagai berikut: I = Keterangan: I = Indeks kesulitan untuk setisp butir soal B = Banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal N = Jumlah siswa
34 Kriteria indeks kesulitan soal sebagai berikut: I = 0,00 0,30 = soal kategori sukar I = 0,31 070 = soal kategori sedang I = 0,71 1,00 = soal kategori mudah Tabel 3.2 Taraf Kesukaran Soal Siklus 1 Indeks Pilihan Ganda Isian Jumlah Kesukaran No Item Soal No Item Soal Jumlah Mudah 2,5,7,11,14,15,16,20 11 2,3,7 6 Sedang 1,3,4,6,8,9,10,13,17,18,19 8 1,4,5,6,8,10 3 Sukar 12 1 9 1 Jumlah 20 10 Berdasarkan tabel 3.2 dapat diketahui soal siklus 1 pilihan ganda untuk kategori mudah ada 11 soal, kategori sedang ada 8 soal, dan kategori sukar ada 1 soal dengan jumlah soal keseluruhan pilihan ganda ada 20 soal. Sedangkan soal isian untuk kategori mudah ada 6 soal, kategori sedang ada 3 soal, dan kategori sukar ada 1 soal dengan jumlah soal keseluruhan isian ada 10 soal. Jadi jumlah soal siklus 1 sebanyak 30 soal. Tabel 3.3 Taraf Kesukaran Soal Siklus 2 Indeks Pilihan Ganda Isian Jumlah Kesukaran No Item Soal No Item Soal Jumlah Mudah 2,4,9,11,12,13,16,19,20 9 1,4,5,6,8,10 6 Sedang 1,3,5,6,7,10,11,15,17,18 10 2,3,7 3 Sukar 8 1 9 1 Jumlah 20 10 Berdasarkan tabel 3.3 dapat diketahui soal siklus 2 pilihan ganda untuk kategori mudah ada 9 soal, kategori sedang ada 10 soal, dan kategori sukar ada 1 soal
35 dengan jumlah soal keseluruhan pilihan ganda ada 20 soal. Sedangkan soal isian untuk kategori mudah ada 6 soal, kategori sedang ada 3 soal, dan kategori sukar ada 1 soal dengan jumlah soal keseluruhan isian ada 10 soal. Jadi jumlah soal siklus 2 sebanyak 30 soal. 3.8. Teknik Analisis Data Agar data yang dikumpulkan menjadi bermakna dan dapat digunakan sebagai dasar penentu keberhasilan penelitian, data perlu diolah dan dianalisis. Data-data yang berupa angka (data kuantitatif) diolah untuk mencari rata-rata, data tertinggi, data terendah, jumlah anak yang tuntas dan tidak tuntas, serta prosentase ketuntasan pembelajarannya. Data kualitatif diolah dengan menghitung persentase dari data-data yang sejenis. Setelah itu, hasil pengolahan datanya diuji beda (komparasi) dengan membandingkan kondisi awal, kondisi pada/ setelah siklus 1 dan kondisi pada/ setelah siklus 2. Dari uji komparasi tadi bisa dilihat perubahan atau kemajuan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru maupun minat dan hasil tes yang diperlihatkan oleh peserta didik sebagai hasil pembelajaran yang dilakukan.